Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KASUS STROKE PADA PASIEN Tn. A DIRUANG ICU
RUMAH SAKIT PERMATA KUNINGAN

Disusun Oleh :
Lusy Marliana Azahra
CKR0190146

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
2022/2023
A. Definisi Stroke
Stroke merupakan kegawatdaruratan neurologi yang mendadak (akut) karena oklusi atau
hipoperfusi pada pembuluh darah otak,sehingga jika tidak segera diatasi makaakan terjadi
kematian sel dalam beberapa menit, kemudian akan menimbulkan defisit neurologis dan
menyebabkan kecacatan atau kematian (Misbach, 2011). Sedangkan menurut Irfan (2010)
stroke adalah gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak
yang dapat timbul secara mendadak dalam beberapa detik atau secara cepat dalam beberapa
jam dengan gejala atau tanda-tanda sesuai dengan daerah yang terganggu.
Definisi menurut WHO, Stroke adalah suatu keadaan dimana ditemukan tanda-tanda
klinis yang berkembang cepat berupa defisit neurologik fokal dan global, yang dapat
memberat dan berlangsung lama selama 24 jam atau lebih dan atau dapat menyebabkan
kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vascular. Menurut Padila (2015)
istilah stroke lebih dikenal daripada Cerebro Vaskuler Accident (CVA), kelainan ini terjadi
pada organ otak. Lebih tepatnya adalah ganguan pembuluh darah otak. Berupa penurunan
kualitas pembuluh darah otak yang menyebabkan angka kematian yang tinggi. Kejadian
sebagian besar dialami oleh kaum laki-laki dan usianya umumnya diatas 55 tahun.
Stroke iskemik/stroke non hemoragik biasanya juga dikenal sebagai infark serebral
karena penyumbatan arteri. Sekitar 80 persen dari stroke adalah iskemik, karena gangguan
pasokan darah. Biasanya disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah (arteri) di otak. Jika
arteri tersumbat, sel-sel otak tidak bisa mendapatkan oksigen dan nutrisi dan akhirnya akan
berhenti bekerja. Jika arteri tetap tersumbat lebih dari beberapa menit, sel-sel otak mungkin
mati (Silva, dkk. 2014). Seiring dengan perkembangan zaman, perubahan pola hidup
masyarakat stroke dapat menyerang di usia dibawah 55 tahun. Dapat diambil kesimpulan
bahwa stroke adalah penyakit sistem persyarafan yang mana pada pembuluh darah otak
mengalami penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak yang dapat mengakibatkan
kematian jika tidak segera ditangani.

B.Etiologi

Stroke biasanya diakibatkan dari salah satu dari empat kejadian :

a. Trombosis(bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher)

b. Embolisme serebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian
tubuh yang lain)
c. Iskemia (penurunan aliran darah ke area otak)

d. Hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam


jaringan otak atau ruang sekitar otak). Akibatnya adalah penghentian suplai darah ke otak,
yang menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan, berpikir, memori bicara,
atau sensasi. Trombosis serebral. Arteosklerosis serebral dan pelambatan sirkulasi serebral
adalah penyebab utama trombosis serebral, yang adalah penyebab paling umum stroke.

Penyebab stroke menurut Rendi dan Margareth (2015) :


a. Infark otak (80%)
1) Emboli
Emboli kardiogenik, fibrilasi atrium dan aritmia lain, thrombus mural dan ventrikel kiri,
penyakait katub mitral atau aorta, endokarditis (infeksi atau non infeksi).
2) Emboli paradoksal
Emboli arkus aorta, aterotrombotik (penyakit pembuluh darah sedang-besar), penyakit
eksrakanial, arteri karotis interna, arteri vertebralis.
3) Penyakit intracranial
Arteri karotis interna, arteri serebri interna, arteri basilaris, lakuner (oklusi arteri perforans
kecil).

b. Pendarahan intraserebral (15%)


Hipertensi, malformasi arteri-vena, angipati amiloid.
c. Pendarahan subaraknoid (5%)
d. Penyebab lain (dapat menimbulkan infark/pendarahan) Trobus sinus dura, diseksi arteri
karotis/vertebralis, vaskulitis sistem
saraf pusat, penyakit moya-moya (oklusi arteri besar intra cranial yang progresif), migren,
kondisi hiperkoagulasi, penyalahgunaan
obat, dan kelainan hematologist (anemia sel sabit, polisistema, atau leukemia), serta miksoma
atrium.
C.Patofisiologi Stroke

Patofisiologi stroke berbeda berdasarkan jenis stroke, iskemik dan hemorrhagik.

Stroke Iskemik

Infark serebri diawali dengan terjadinya penurunan Cerebral Blood Flow (CBF) yang


menyebabkan suplai oksigen ke otak akan berkurang. Nilai kritis CBF adalah 23 ml/100 gram
per menit, dengan nilai normal 50 ml/100 gram per menit. Penurunan CBF di bawah nilai
normal dapat menyebabkan infark. Suatu penelitian menyebutkan bahwa nilai CBF pada pasien
dengan infark adalah 4,8-8,4ml/100 gram per menit. Patofisiologi stroke iskemik dibagi
menjadi dua bagian: vaskular dan metabolisme. Iskemia terjadi disebabkan oleh oklusi vaskular.
Oklusi vaskular yang menyebabkan iskemia ini dapat disebabkan oleh emboli, thrombus, plak,
dan penyebab lainnya. Iskemia menyebabkan hipoksia dan akhirnya kematian jaringan otak.
Oklusi vaskular yang terjadi menyebabkan terjadinya tanda dan gejala pada stroke iskemik yang
muncul berdasarkan lokasi terjadinya iskemia. Sel-sel pada pada otak akan mati dalam hitungan
menit dari awal terjadinya oklusi. Hal ini berujung pada onset stroke yang tiba-tiba. Gangguan
metabolisme terjadi pada tingkat selular, berupa kerusakan pompa natrium-kalium yang
meningkatkan kadar natrium dalam sel. Hal ini menyebabkan air tertarik masuk ke dalam sel
dan berujung pada kematian sel akibat edema sitotoksik. Selain pompa natrium-kalium,
pertukaran natrium dan kalsium juga terganggu. Gangguan ini menyebabkan influks kalsium
yang melepaskan berbagai neurotransmiter dan pelepasan glutamat yang memperparah iskemia
serta mengaktivasi enzim degradatif. Kerusakan sawar darah otak juga terjadi, disebabkan oleh
kerusakan pembuluh darah oleh proses di atas, yang menyebabkan masuknya air ke dalam
rongga ekstraselular yang berujung pada edema. Hal ini terus berlanjut hingga tiga sampai 5 hari
dan sembuh beberapa minggu kemudian. Setelah beberapa jam, sitokin terbentuk dan terjadi
inflamasi. Akumulasi asam laktat pada jaringan otak bersifat neurotoksik dan

berperan dalam perluasan kerusakan sel. Hal ini terjadi apabila kadar glukosa
darah otak tinggi sehingga terjadi peningkatan glikolisis dalam keadaan iskemia.
Stroke iskemik dapat berubah menjadi stroke hemorrhagik. Perdarahan yang
terjadi tidak selalu menyebabkan defisit neurologis. Defisit neurologis terjadi
apabila perdarahan yang terjadi luas. Hal ini dapat disebabkan oleh rusaknya
sawar darah otak, sehingga sel darah merah terekstravasasi dari dinding kapiler
yang lemah.

Stroke Hemorrhagik

Stroke hemorrhagik dibagi menjadi perdarahan intraserebral dan perdarahan subaraknoid.


Perdarahan Intraserebral
Pada perdarahan intraserebral, perdarahan masuk ke dalam parenkim otak akibat pecahnya arteri
penetrans yang merupakan cabang dari pembuluh darah superficial dan berjalan tegak lurus
menuju parenkim otak yang di bagian distalnya berupa anyaman kapiler. Hal ini dapat
disebabkan oleh diathesis perdarahan dan penggunaan antikoagulan seperti heparin, hipertensi
kronis, serta aneurisma.
Masuknya darah ke dalam parenkim otak menyebabkan terjadinya penekanan pada berbagai
bagian otak seperti serebelum, batang otak, dan thalamus. Darah mendorong struktur otak dan
merembes ke sekitarnya bahkan dapat masuk ke dalam ventrikel atau ke rongga subaraknoid
yang akan bercampur dengan cairan serebrospinal dan merangsang meningen. Hal ini
menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial yang menimbulkan tanda dan gejala seperti
nyeri kepala hebat, papil edema, dan muntah proyektil.
Perdarahan Subaraknoid
Lokasi perdarahan umumnya terletak pada daerah ganglia basalis, pons, serebelum dan
thalamus. Perdarahan pada ganglia basalis sering meluas hingga mengenai kapsula interna dan
kadang-kadang ruptur ke dalam ventrikel lateral lalu menyebar melalui sistem ventrikuler ke
dalam rongga subaraknoid. Adanya perluasan intraventrikuler sering berakibat fatal.
D.Pathway

Iskemia

Defisit Peningkatan Tekanan


Neurologis intrakranial

Resiko Perfusi
Nyeri akut
Serebral Tidak Efektif

Gangguan Rasa
Nyaman
Suhu Tubuh
meningkat

Inveksi
Demam
virus/Baakteri

Hipertermi
E. Manifestasi Klinis ( Tanda dan Gejala )

1) Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh


2) Lumpuh pada salah satu sisi wajah
3) Tonus otot lemah atau kaku
4) Menurun atau hilangnya rasa
5) Gangguan lapang pandang
6) Gangguan bahasa
7) Gangguan persepsi
8) Gangguan status mental
9) Vertigo,mual,muntah,atau nyeri kepala.

F. Komplikasi

Setelah mengalami stroke pasien mungkin akan mengalami komplikasi,komplikasi ini


dapat dikelompokan berdasarkan :

1. Berhubungan dengan immobilisasi : infeksi pernafasan,nyeri pada daerah


tertekan,konstipasi dan thromboflebitis
2. Berhubungan dengan paralis : nyeri pada daerah punggung,dislokasi sendi,deformitas
dan terjatuh
3. Berhubungan dengan kerusakan otak : epilepsi dan sakit kepala
4. Hidrochepalus
Individu yang menderita stroke berat pada bagian otak yang mengontrol respon atau
kardiovaskuler dapat meninggal.

G. Pemeriksaan Penunjang

1. Angiografi serebral , menentukam penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan


atau obstruksi arteri.
2. Singel Photon Emission Computed Tomography (SPECT)
Untuk mendeteksi luas dan daerah abnormal dari otak,yang juga
mendeteksi,melokalisasi,dan mengukur stroke(sebelum nampak oleh pemindaian CT)
3. CT scan
Pemindaian ini memperlihatkan secara sfesifik letak edema,posisi hematoma,adanya
jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya secara pasti.
4. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Menggunakan gelombang magnetik untuk menentukan posisi dan besar terjadinya
perdarahan otak.
5. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan dampak dari
jaringan yang infark sehingga menurunnya implus listrik dalam jaringan otak
6. Pemeriksaan Laboratorium

H. Penatalaksanaan Medis

Tujuan intervensi adalah berusaha menstabilkan tanda tanda vital dengan melakukan tindakan
sebagai berikut :

a. Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendir yang
sering,oksigenasi,kalau perlu lakukan trakeostomi,membantu pernafasan
b. Mengendalikan tekanan darah berdasarkan kondisi pasien , termasuk untuk usaha
memperbaiki hipotensi dan hipertensi
c. Berusaha menentukan dan memperbaiki aritmia jantung.
d. Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat
e. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK.
I. Pengkajian Keperawatan
 Identitas klien
Meliputi nama,umur(kebanyakan terjadi pada usia lansia),jenis
kelamin,pendidikan,alamat,pekerjaan,agama,suku bangsa,tanggal dan jam MRS,nomor
register,diagnosa medis.
 Keluhan utama
Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan,bicara pelo,dan tidak dapat
berkomunikasi
 Riwayat penyakit sekarang
Biasanya terjadi nyeri kepala,mual,muntah bahkan kejang sampai tidak sadar,disamping
gejala kelumpuhan separuh badan atau gangguan fungsi otak yang lain
 Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi,diabetes militus,penyakit jantung,anemia,riwayat trauma
kepala,kontrasepsi oral yang lama,penggunaan obat obatan anti
koagulan,aspirin,vasodilator, obat obatan adiktif,kegemukan
 Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus.

J. Pemeriksaan Fisik

a. Kepala
Pasien pernah mengalami trauma kepala,adanya hemato atau riwayat operasi.
b. Mata
Penglihatan adanya kekaburan,akibat adanya gangguan nervus optikus (nervus II),
gangguan dalam mengangkat bola mata (nervus III),gangguan dalam memutar bola mata
(nervus IV), dan gangguan dalam menggerakan bola mata kelateral (nervus VI).
c. Hidung
Adanya gangguan penciuman karena terganggu pada nervus olfaktorius (nervus I)
d. Mulut
Adanya gangguan pengecapan akibat kerusakan nervus vagus ,adanya kesulitan dalam
menelan.
e. Dada
- Inspeksi : Bentuk simetris
- Palpasi : Tidak adanya massa dan benjolan
- Perkusi : Nyeri tidak ada bunyi jantung Lup dup
- Auskultasi : Nafas cepat dan dalam,adanya ronchi,suara jantung I dan II murmur
f. Abdomen
- Inspeksi : Bentuk simetris, pembesaran tidak ada
- Auskultasi : Bising usus agak lemah
- Perkusi : Nyeri tekan tidak ada, nyeri perut tidak ada
g. Ekstremitas
K. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons klien terhadap masalah
kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung actual maupun potensial.
Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respons klien individu, keluarga dan
komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).

Berikut adalah uraian dari masalah yang timbul bagi klien, diantaranya:

1. Resiko gangguan jaringan perfusi serebral tidak efektif


2. Gangguan mobilitas fisik

L.Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan merupakan bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan
dalam usaha membantu, meringankan, dan memecahkan masalah yang tertulis. Rencana
Keperawatan Menurut (PPNI, 2017)(PPNI, 2018b)(PPNI, 2018a).

No Standar Diagnosa Standar Luaran Standar Intervensi


Keperawatan Keperawatan Indonesia Keperawatan Indonesia
Indonesia ( SLKI) (SIKI)
( SDKI)
1. Resiko perfusi - Perfusi serebral -Manajemenpeningkatan tekanan
jaringan serebral Definisi : Keadekuatan aliran intrakarnial
tidak efektif darah serebral untuk (I.06194)
(D.0017) menunjang fungsi otak Definisi : Mengidentifikasi dan
(L.02014) mengelola peningkatan tekanan
Setelah dilakukan tindakan dalam rongga kranial.
keperawatan selama 3x24 jam Tindakan :
diharapkan perfusi serebral  Observasi
efektif dengan kriteria hasil :  Identifikasi penyebab
 Tingkat kesadaran peningkatan TIK
meningkat  Monitor MAP
 Perfusi serebral efektif  Monitir status
 Tekanan intrakarnial pernafasan
meningkat  Terapeutik
 Demam menurun  Minimalkan stimulus
dengan menyediakan
lingkungan yang
tenang
 Berikan posisi semi
fowler
 Cegah terjadinya
kejang
 Pertahankan suhu
tubuh normal
 Kolaborasi
 Kolaborasi dengan
dokter untuk
pemberian obat dan
teraphy
 Kolaborasi
pemberian sedasi
dan anti konvulsan
jika perlu
 Kolaborasi
pemberian diuretik
osmosis jika perlu
 Kolaborasi
pemberian pelunak
tinja jika perlu

2. Hipertemi Termoregulasi Manajemen Hipertermia


( D.0130 ) ( L.14134) ( I.15506)
Definisi : Definisi :
Pengaturan suhu tubuh agar tetap Mengidentifikasi dan mengelola
berada pada rentang normal. peningkatan suhu tubuh akibat
Setelah] dilakukan tindakan disfungsi termoregulasi.
keperawatan 3x24 jam diharapkan  Tindakan Observasi
demam membaik(menurun),  Identifikasi penyebab
dengan kriteria hasil: hipertermia yaitu terpapar
 Perfusi jaringan stabil lingkungan
 Status cairan meningkat panas,dehidrasi,dll.
 Status kenyamanan  Tindakan terapetik
meningkat  sediakan lingkungn dingin
 status nutrisi meningkat  kipasi permukaan tubuh
Termogulasi membaik  berikan atau sediakan air
minum
 Tindakan edukasi
 Anjurkan tirah baring
 Tindakan kolaborasi
 Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian
obat/therapy
Regulasi Temperatur
(I.14578)
Definisi :
Mempertahankan suhu tubuh dalam
rentang normal.
Tindakan:
 Obesravi
 Monitor suhu tubuh anak
sampai stabil
 Monitor warna dan suhu
kulit
 Monitor dan catat tanda dan
gejala hipotermia atau
hipertermia
 Terapeutik
 Pasang alat pemantau
suhu jika perlu
 Tingkatkan asupan
cairan dan nutrisi yang
adekuat
 Gunakan alas
penghangat jika
diperlukan
 Gunakan matras
pendingin jika
diperlukan
 Edukasi
 Jelaskan cara
pencegahan hipotermia
atau hipertermia
 Jelaskan cara
penanganan tercepat saat
hipertermia atau
hipotermia
 Kolaborasi
Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian obat atau therapy

M.Implementasi

Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana


keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Rambe, 2020). Tindakan
keperawatan dapat dilaksanakan sebagian oleh pasien itu sendiri, oleh perawat secara
mandiri, atau dilakukan secara bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lainnya,
misalnya ahli gizi atau fisioterapy.Hal yang akan dilakukan sangat bergantung pada jenis
tindakan, padakemampuan/keterampilan dan keinginan pasien, serta tenaga perawat itu
sendiri.Dengan demikian, tampak bahwa pelaksanaan keperawatan bukan semata
matatugas perawat, tetapi melibatkan banyak pihak. Namun demikian, yang
memilikitanggung jawab secara keseluruhan adalah tenaga perawat.
N.Evaluasi

Evaluasi atau tahap penilaian merupakan tindakan perbandingan yang sistematis yang
terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah di tetepkan, di lakukan dengan
cara bersambungan dengan melibatkan klien, keluaraga, dan tenaga kesehatan. Tujuan
evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien untuk mencapai tujuan yang di sesuaikan
dengan kriteria hasil pada tahap perencanaan (Sri Wahyuni, 2016).
Evaluasi dapat di lakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP:
S: Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
O: Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
A: Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah
masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontraksi
dengan masalah yang ada
P: Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil Analisa pada respon klien

DAFTAR PUSTAKA

Kemenkes RI. (2019). Profil Kesehatan Indonesia 2018 [Indonesia Health Profile
2018].
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profilkesehatan-indonesia/Data-
dan-Informasi_Profil-Kesehatan-Indonesia2018.pdf

PPNI, Tim Pokja SDKI DPP. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). DPP PPNI.

Wanhari, M.A. (2008). Asuhan Keperawatan Stroke. Diakses : 29 Juli 2012.

http://askepsolok.blogspot.com/2008/08/stroke.html
Canadia Best Practice Recommendation For Stroke Care. (2013). Diunduh pada

tanggal 20 Juli 2017 dari http://www.strokebestpratice.ca/

Sitorus, R. J. (2008). Faktor-faktor resiko yangb mempengaruhi kejadian stroke pada

usia muda kurang dari 40 tahun (studi kasus di semarang). Jurnal

Epidemiologi. Diunduh pada tanggal 23 Juli 2017 dari

http://www.eprints.undip.ac.id/6482.pdf

Word Health Organization (WHO). (2014). Environmental health.diunduh pada 23

juli 2017 dari http://www.who.

Farida, I & Amalia, N. (2009). Mengantisipasi Stroke, Petunjuk Mudah, Lengkap, dan

Praktis Sehari-Hari. Yogyakarta: Bukubiru

Anda mungkin juga menyukai