Anda di halaman 1dari 14

ALVEOLEKTOMI

MEITA SAHARA
40618049

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2020
A. GAMBARAN KLINIS ALVEOLEKTOMI

B. PERSIAPAN ALVEOLEKTOMI
1. Persiapan, meliputi persiapan mental, jasmani dan rohani
2. Kondisi pasien harus dalam kedaan sehat, tidak capek, serta tidak ada keluhan
nyeri.
3. Penerapan prinsip sterilisasi, instrumentasi

C. Prosedur Pembedahan :
1. Alat dan bahan yang telah disterilkan
Alat :
a. Alat standar g. Benang + jarum jahit
b. Handle blade h. Needle holder
c. Raspatorium i. Low speed ( mikromotor )
d. Bone file j. Bur tulang
e. Blade no 15 k. Knabel tang
f. Gunting bedah l. Pinset chirurgis

Bahan :
a. Pehacaine/Lidokain HCl e. Larutan saline/NaCl
b. Povidon iodine f. Aquades
c. Tampon, kasa, kapas
d. Alkohol 70%
2. Dudukan pasien di dental unit, operator menjelaskan kepada pasien tentang
prosedur perawatan secara singkat serta membimbing pasien dalam mengisi
inform consent.
3. Asepsis terhadap operator dan pasien
- Operator    : Mencuci tangan, membuka perhiasan dan aksesoris tangan yang
dipakai, memakai masker dan handscoon.
-  Pasien        : Asepsis intra oral dan ekstra oral, pada ekstraoral dengan
menggunakan alkohol diolesi melingkari bibir dengan searah jarum jam, dan dengan
menggunakan larutan antiseptik ( povidon iodine) pada daerah kerja.
4. Lakukan anastesi infiltrasi, kemudian lakukan pengecekan dengan
menggunakan ujung sonde apakah anastesi sudah berjalan atau belum.
5. Lakukan bleeding point pada daerah yang akan dilakukan insisi dengan
bentuk flap trapesium. Pada tahap ini akan dilakukan insisi untuk
membuat flap. Flap yang akan dibuat yakni dengan teknik  full
thickness ( mukoperiosteum) menggunakan scalpel. Insisi yang akan
digunakan pada kasus ini ialah insisi horizontal. Insisi dibuat pada daerah
labial yaitu pada daerah alveolar yang akan dikurangi. Insisi dibuat ±
sepanjang 1,5 cm. Prosedur ini dilakukan untuk memisahkan
mukoperiosteal flap dan tulang. Periosteal elevator / raspatorium
diletakkan sampai berkontak langsung dengan tulang melalui periosteum
garis insisi. Tujuan tahap ini ialah untuk mendapatkan lapang pandang
yang baik, jalan masuk alat yang cukup, dan trauma seminimal mungkin.
Beberapa prinsip yang mendasari desain flap mukoperiosteal yaitu:
- Menyediakan ruang yang cukup bagi daerah yang akan dioperasi
- Dasar flap harus lebar sehingga jaringan lunak mendapatkan suplai darah yang
cukup
setelah penutupan luka
- Untuk menghindari pendarahan full thickness mukoperiosteal flap harus
ditinggikan.
- Insisi harus didesain sedemikian rupa sehingga flap dapat menutupi tulang padat.
6. Buka perlekatan flap dengan menggunakan raspatorium dan dilakukan
identifikasi penonjolan tulang yang runcing yang akan diambil.
7. Buang penonjolan tulang alveolus yang runcing tersebut  dengan bur atau
dengan knabel tang. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan bur,
rongeur atau knabel tang. Pada saat pengambilan tulang dengan bur
(straight-lowspeed) harus diikuti dengan melakukan irigasi menggunakan
larutan saline. Bur diputar perlahan dan penggunaanya intermitten dengan
penekanan yang cukup. Setelah pengambilan tulang cukup, tulang
dihaluskan dengan menggunakan bone file.
8. Lakukan pengecekan kembali dengan menggunakan jari telunjuk apakah 
masih ada bagian alveolar yang tajam. Selanjutnya lakukan reposisi pada
flap kembali. Jika terdapat kelebihan jaringan (overlap) dapat dilakukan
pengurangan dengan gunting jaringan atau blade, setelah itu ratakan
jaringan lunak tersebut kembali ke tempatnya dengan jari telunjuk.
Sebelum dilakukan penjahitan, flap dibersihkan dengan menggunakan
aquades kembali agar sisa tulang terbuang serta diirigasi kembali dengan
povidon iodine.
Raba bagian tulang yang masih tajam dan dihaluskan dengan dengan menggunakan
bone file, setelah dihaluskan lakukan irigasi dengan larutan NaOCl 0,9 %

9. Kembalikan flap seperti semula kemudian suturing dengan interrupted


suture. Pada tahap ini dilakukan pengembalian flap dengan. Penjahitan
dimulai dari bagian mesial regio alveolar ridge labially maxillary terlebih
dahulu kemudian diikuti bagian yang lainnya. Akan dilakukan penjahitan
dengan metode terputus / interrupted suture. Diperkirakan 2 simpul yang
akan diperlukan untuk menutup flap. Jarum yang akan digunakan
berukuran 3-0 dan dengan bentuk melengkung serta benang dari bahan
non resorbable. Adapun penjahitan menggunakan teknik interrupted ialah
sebagai berikut:
 Penjahitan dimulai dengan meletakan jarum pada needle holder, yaitu pada
ujung needle holder.
 Jarum dimasukan ± 3mm dari tepi luka kearah flap, untuk mencegah robeknya
flap maka tepi luka dipenetrasi jarum satu persatu. Benang dibuat simpul yaitu
simpul surgical. Setelah jarum dimasukan dari tepi luka, terdapat bagian yang
pendek. Needle holder diletakkan diantara ujung-ujung benang.
 Bagian yang panjang diputar dua kali mengitari ujung needle holder .
Lingkaran-lingkaran tersebut diletakkan ditepi untuk membuat ikatan (simpul)
dan untuk menghindari kekusutan.
 Bagian yang pendek dari benang dijepit dengan ujung dari needle holder 
  Needle holder ditarik melalui lingkaran-lingkaran tadi dan ujung-ujung
dari benang sekarang berpindah tempat
 Simpul dikencangkan, putaran yang kedua pada simpul akan menjamin simpul
tidak akan berubah.
 Needle holder diletakkan lagi diantara dua benang dan bagian yang panjang
diputar dua kali disekitar beak dari needle holder, tanpa menarik seluruh
simpul.
 Bagian yang pendek dijepit lebih ujung dari needle holder dan ditarik melalui
lingkaran-lingkaran yang dibuat.
 Simpul dikencangkan dan dua ujung benang berpindah tempat lagi.

Hal yang perlu diketahui bahwa penjahitan tidak boleh mengakibatkan tarikan dari
tepi luka yang dapat mengakibatkan kerusakan aliran darah dengan akibat
lanjut berupa nekrosis jaringan. Ataupun benang jahitan dapat merobek mukosa dan
menyebabkan terbukanya lagi daerah pembedahan. Setelah itu berikan gigitan tampon
yang telah dibasahi povidone iodine. Instruksikan untuk menggigit tampon 30-60
menit. Tampon dapat diganti dengan tampon steril sampai beberapa kali.
10. Instruksi pasca bedah dan medikasi kemudian pasein dipulangkan dan
diberi obat. Adapun hal-hal yang wajib diinstruksikan pada pasien setelah
menjalani prosedur bedah adalah sebagai berikut :
 Terangkan  pada pasien bahwa proses penyembuhan bergantung dari
ketaatan pasien dalam melaksanakan instruksi pasca bedah. Terangkan pula ba
hwa kondisi yang biasa terjadi pasca pembedahan yakni rasa sakit,
perdarahan, dan pembengkakan.
 Instruksi meminum obat ---- instruksikan pasien  untuk rutin meminum obat yang
telah diresepkan
 Tidak menghisap-hisap daerah luka  instruksikan pasien agar tidak menghisap-
hisap daerah luka karena akan menghambat terjadinya
proses penyembuhan. Instruksikan pula untuk tidak sering membuang ludah m
aupun mengunyah permen karet
 Istirahat  setelah pembedahan, pasien harus beristirahat dan tidak
melakukan pekerjaan berat 1-2 hari.
 Rasa sakit  rasa sakit dan tidak nyaman mencapai puncaknya pada waktu
kembalinya sensasi. Untuk mengurangi rasa sakit tersebut, instruksikan untuk
meminum analgetik yang telah diresepkan setiap 4 jam bila perlu.
 Perdarahan  perdarahan ringan biasa terjadi pada 24 jam pertama.
Perdarahan paling baik dikontrol dengan menggunakan penekanan. Ingatkan p
asien untuk menggigit tampon / kasa.

 Pembengkakan  pembengkakan mencapai puncaknya kurang lebih 24 jam


sesudah pembedahan. Ini sering terjadi sampai 1 minggu. Bila
terjadi pembengkakan, pasien diinstruksikan untuk kompres dingin (kantung e
s) pada daerah wajah di dekat daerah yang dioperasi
 Makan dan minum  instruksikan pasien untuk makan makanan yang lunak-
lunak dan dingin (ice cream, pudding, yogurt, milk, cold soup, orange juice).
Hindari makanan keras dan makan satu sisi dahulu.
 Posisi Tidur  instruksikan pasien untuk tidur dengan kepala agak dinaikkan
yaitu dengan diganjal dengan 1 atau 2 bantal tambahan. Ini dapat
mengurangi / mengontrol pembengkakan.
 Oral Hygiene  lakukan sikat gigi seperti biasa namun tidak menyikat dengan
tekanan yang berlebih pada daerah yang dioperasi. Gunakan obat kumur
mengandung antiseptik selama 24 jam pertama hingga 3-4 hari kemudian.
 Medikasi  berikan antibiotik, analgesik-anti inflamasi, anti-perdarahan,
vitamin dan obat kumur antiseptik.

D. TAHAP KONTROL
1. Instruksikan pasien untuk kembali kontrol kondisi ekstra oral dan intra oral 3
hari postalveolektomi. Tanyakan apa ada keluhan pasca operasi.
2. Jahitan dibuka 1 minggu post alveolektomi. Dilakukan pemeriksaa kembali
dengan teliti meliputi penutupan luka dan keberadaan bekuan darah. Biasanya
pasien akan datang dengan kedaan OHIS yang buruk disebabkan kurangnya
pembersihan mekanis pada daerah tersebut karena adanya rasa sakit, sehingga
diinstruksikan untuk menggunakan obat kumur
3. Pasien diinstruksikan kembali untuk kontrol kedua 2 minggu post
alveolektomi. Anamnesa dan tanyakan apakah ada keluhan.
LANDASAN TEORI
A.  Pengertian Alveolektomi
Alveolectomy adalah pengurangan tulang soket dengan cara mengurangi plate
labial/bukal dari prosessus alveolar dengan pengambilan septum interdental dan
interadikuler. Atau Tindakan bedah radikal untuk mereduksi atau mengambil
procesus alveolus disertai dengan pengambilan septum interdental dan inter radikuler
sehingga bisa di laksanakan aposisi mukosa. Alveolektomi termasuk bagian dari
bedah preprostetik, yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk persiapan pemasangan
protesa. Tujuan dari bedah preprostetik ini adalah untuk mendapatkan protesa dengan
retensi, stabilitas, estetik, dan fungsi yang lebih baik. Tindakan pengurangan dan
perbaikan tulang alveolar yang menonjol atau tidak teratur untuk menghilangkan
undercut yang dapat mengganggu pemasangan protesa dilakukan dengan prinsip
mempertahankan tulang yang tersisa semaksimal mungkin. Seringkali seorang dokter
gigi menemukan sejumlah masalah dalam pembuatan protesa yang nyaman walaupun
kondisi tersebut dapat diperbaiki dengan prosedur bedah minor. Penonjolan tulang
atau tidak teratur dapat menyebabkan protesa tidak stabil yang dapat mempengaruhi
kondisi tulang dan jaringan lunak dibawahnya.

B. Tujuan alveolektomi adalah :


1. Membuang ridge alveolus yang tajam dan menonjol
2. Membuang tulang interseptal yang sakit sewaktu dilakukan gingivektomy
3. Untuk membuat kontur tulang yang memudahkan pasien dalam
melaksanakan pengendalian plak yang efektif.
4. Untuk membentuk kontur tulang yang sesuai dengan kontur jaringan
gingival setelah penymbuhan.

C. Indikasi dan Kontraindikasi


Indikasi
1. Indikasi dari prosedur alveolektomi jarang dilakukan tetapi biasanya pada
dilakukan pada kasus proyeksi anterior yang berlebih pada alveolar ridge
pada maxilla atau untuk pengurangan prosesus alveolaris yang mengalami
elongasi. Area yang berlebih tersebut dapat menimbulkan masalah dalam
estetik dan stabilitas gigi tiruan. Pembedahan ini paling banyak dilakukan
pada maloklusi kelas II divisi I.
2. Alveolektomi juga dilakukan untuk mengeluarkan pus dari suatu abses pada
gigi.
3. Alveolektomi diindikasikan juga untuk preparasi rahang untuk tujuan
prostetik yaitu untuk memperkuat stabilitas dan retensi gigi tiruan (Thoma,
1969).
4. Menghilangkan alveolar ridge yang runcing yang dapat menyebabkan :
neuralgia, protesa tidak stabil, protesa sakit pada waktu dipakai.
5. Menghilangkan tuberositas untuk mendapatkan protesa yang stabil dan
enak dipakai
6. Untuk eksisi eksostosis
Kontraindikasi
1. Pasien dengan penyakit sistemik
2. Periostitis
3. Periodontitis

D. Komplikasi

Setelah dilakukan tindakan  prosedur bedah biasanya akan muncul keluhan. Hal

ini wajar, salah satu keluhan yang mungkin terjadi adalah rasa ketidaknyamanan.
Rasa ini dapat terjadi sebagai akibat adanya rasa sakit yang dialami pasien.Untuk

menghilangkan rasa ketidaknyaman ini dapat diberikan obat penghilang rasa sakit.

Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi, yaitu sebagai berikuit;

a. Laserasi mukosa ( sobekan pada mukosa)

Laserasi gingiva terjadi karena ginggiva terjepit pada saat pencabutan, mukosa

sudut mulut luka karena terlalu lebar membuka mulut.

Penanganan : operator harus bekerja secara baik dan benar serta memperhatikan hal-

hal yang yang dapat menyebabkan komplikasi tersebut.

b. Lesi pada nervus

Nervus dapat terluka pada anastesi lokal karena memakai jarum yang tumpul

dan bisa juga terjadi bila waktu penyuntikkan ada sisa alkohol yang masuk kejaringan

dan sampai ke nervus sehingga dapat menyebabkan terjadi nekrose dan parastesi

Penanganan;anastesi lokal harus memakai jarum yanag tajam serta operator

memperhatikan alat dan daerah tempat dilakukan injeksi

c. Pendarahan

Biasa terjadi karena waktu tindakan pembedahan dilakukan banyaknya/ besarnya

pembuluh darah yang terkena.

Penanganan;

-  Secara tekanan Dengan menggunakan kain kasa atau tampon


-  Secara biologis  Bila pemakaian tampon padat atau kasa tidak

bisa menghentikan pendarahan maka dapat dipakai obat-obatan seperti

adrenalin

-  Pengikatan atau penjahitan  Bila pendarahan disebabkan karena

terputusnya pembuluh darah yang besar, maka pembuluh darah tersebut diikat

dengan menggunakan cat gut atau benang absorbel dan bila pendarahan

disebabkan karena terbukanya jahitan operasi maka kita melakukan penjahitan

kembali.

-  Hemostat Digunakan untuk menjepit pembuluh darah

d. Edema

Edema merupakan kelanjutan normal dari setiap pencabutan atau pembedahan

gigi, serta merupakan reaksi normal dari jaringan terhadap cidera. Edema adalah

reaksi individual yaitu trauma yang besarnya sama, tidak terlalu mengakibatkan

derajat pembengkakan yang sama baik pada pasein yang sama atau berbagai pasien.

Usaha-usaha yang bisa mengontrol udema adalah termal (dingin), fisik (pemekanan),

dan obat-obatan. Obat yang sering digunakan adalah jenis steroid yang dibarikan

secara prenatal, oral atau tropical sebagai pembalut tulang alveolar.

f. Alveolitis ( dry socket )


Komplikasi yang paling sering, paling menakutkan dan paling sakit sesudah

pencabutan adalah dry socket atau alveolitis. Biasanya di mulai dari hari ke 3 sampai

ke 5. Keluhan utama yang dirasakan adalah rasa sakit yang sangat hebat sesudah

operasai. Pemeriksaan terlihat tulang alveolaris yang terbuka, terselimuti kotoran dan

dikelilingi berbagai tingkatan peradangan dari ginggiva. Akibat terjadinya dry socket

adalah hilangnya bekuan akibat lisis, mengelupas atau keduanya. Dry socket ini bisa

juga terjadi akibat adanya streptococcus, tetapi lisis mungkin bisa terjadi tanpa

keterlibatan bakteri. Diduga trauma berperan karena mengurangi vaskularisasi yaitu

pada tulang yang mengalami mineralisasi yang tingi pada pasien usia lanjut.

Penatalaksanaan : untuk perawatan persyarafan tindakan yang tenang, hati-hati dan

halus. Bagian yang mengalami dry socket diberi diirigasi dengan larutan saline yang

hangat, dan diperiksa. Palpasi dengan menggunakan aplikator kapas dapat membantu

dalam menentukan sensitivitas.

g. Infeksi

Didasarkan atas potensi  penyebaran dari infeksi  bakterium atau keduanya.

Pencabutan dan pembedahan yang mengalami infeksi akut yaitu perikoronitis atau

abses. Penatalaksanaannya adalah dengan memberikan obat antibiotik seperti

penisilin.

Ada beberapa tindakan postoperatif yang harus dilakukan


1.      Istirahat yang cukup.Istirahat yang cukup dapat mempercepat proses

penyembuhan luka.

2.      Untuk sementara pasien dianjurkan untuk tidak memakan - makanan

yang keras dan merangsang

3.      Pasien harus memakan - makanan yang lunak dan lembut terutama pada

hari pertama pasca pembedahan. Pasien tidak boleh memakan -makanan yang

panas karena dapat terjadinya pendarahan. Pasien baru boleh makan beberapa

jam setelah pembedahan agar tidak mengganggu dan jangan mengunyah pada

sisi yang dilakukan pembedahan.

4.      Banyak meminum air putih agar terhindar dari dehidrasi

5.      Pasien harus selalu menjaga kebersihan mulut, gigi disikat secara rutin

dan diiringi dengan penggunaan obat kumur.

6.      Untuk mengurangi rasa sakit pasien diberi obat analgetik

7.      Untuk mempercepat masa penyembuhan pasein diberikan vit c

8.      Pasien tidak boleh merokok, karena dapat meningkatkan insiden

terjadinya pendarahan dan dry socket.


DAFTAR PUSTAKA

Basa., S, dkk. 2010. Preprosthetic and oral soft tissue surgery. United Kingdom :
Willey-blackwell
Figueroa., R, Mogre., A. 2006. Pre-prosthetic Oral Surgery. Germany : Blackwell
Fragiskoss, D. 2007. Oral Surgery, 1st ed. Heidelberg : Springer
Ghosh. 2006. Preprosthetic Oral and maxillofacial Surgery in Donoff B,. Manual of
Oraland Maxillofacial Surgery. St. Louis Mosby
Ragiskos., D, Fragiskos. 2007. Oral Surgery.  Veldag Berlin Heidelberg : Springer
Sawair., F.A, Shayyab., M.H. 2009. Prevalence and clinical characteristics of tori and
jaw exostoses in a teaching hospital in Jordan. J Saudi Med;30(12)

Anda mungkin juga menyukai