Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN (CONGENITAL HEART DISEASE)

A. Definisi Congenital heart disease (CHD) atau penyakit jantung congenital adalah kelainan jantung yang sudah ada sejak bayi lahir, jadi kelainan tersebut terjadi sebelum bayi lahir. Tetapi kelaianan jantung bawaan ini tidak selalu member! gejala segera setelah bayi lahir; tidak jarang kelainan tersebut baru ditemukan setelah pasien berumur beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun (Ngastiah) B. Etiologi Penyebab penyakit jantu ng congenital berkaitan dengan kelainan perkembangan embrionik, pada usia lima sampai delapan minggu, jantung dan pembuluh darah besar dibentuk. Gangguan perkembangan mungkin disebabkan oleh factor -faktor prenatal seperti infeksi ibu selama trimester perta ma. Agen penyebab lain adalah rubella, influenza atau chicken fox. Faktor-faktor prenatal seperti ibu yang menderita diabetes mellitus dengan ketergantungan pada insulin serta factor -faktor genetic juga berpengaruh untuk terjadinya penyakit jantung congeni tal. Selain factor orang tua, insiden kelainan jantung juga meningkat pada individu. Factor -faktor lingkungan seperti radiasi, gizi ibu yang jelek, kecanduan obat -obatan dan alcohol juga m empengaruhi perkembangan embrio (Haq, dkk, 2008) C. Tanda dan Gejala (Haq, dkk, 2008) 1. INFANTS : 1. Dyspnea 2. Kesulitan Bernafas 3. Nadi lebih dari 200x/menit 4. Infeksi pernafasan berulang 5. Gagal pertambahan berat badan 6. Murmur jantung 7. Cyanosis 8. Cerebrovasculer accident 2. ANAK ANAK : 1. Dyspnea

2. Perkembangan fisik yang buruk 3. Penurunan toleransi latihan 4. Infeksi pernafasan berulang 5. Murmur dan getaran jantung 6. Cyanosis 7. Pendek 8. Clubbing of fingers and toes (jari tangan dan kaki)

9. Peningkatan Tekanan Darah D. Klasifikasi 1. Terdapat berbagai cara penggolongan penyakit jantung congenital. 2. Penggolongan yang sangat sederhana adalah penggolongan yang dasarkan ada adanya sianosis serta askuiarisasi paru. 3. Penyakit Jantung bawaan (PJB) non sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah, misalnya defek septum (DSV), defek septum atri um (DSA), dan duktus arteriousus persisten (DAP) 4. PJB non sianotik dengan vaskularisasi paru normal. Pada penggolongan ini ermasuk stenosis aorta(SA),stenosis pulmonal (SP) dan koarktasio aorta 5. PJB sianotik dengan vaskularisasi paru berkurang. Pada pengg olongan ini yang paling banyak adalah tetralogi fallot (TF) 6. Pjb sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah, misalnya transposisi arteri besar (TAB) 1. Non sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah Terdapak detek pada septum ventrikel, atrium atau du ktus yang tetap terbuka menyebabkan adanya pirau (kebocoran) darah dari kiri ke kanan karena tekanan jantung dibagian kiri lebih tinggi daripada dibagian kanan. a. Defek septum ventrikel (DSV) / Ventricle Septal Defect (VSD) DSV terjadi bila sekat ventrikel tidak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya darah dari bilik kiri mengalir ke bilik kanan pada saat systole.

Manifestasi klinik Pada pemeriksaan selain didapat pertumbuhan terhambat, anak terlihat pucat,banyak keringat bercucuran, ujung -ujung jari hiperemik. Diameter dada bertambah, sering terlihat pembe njolan dada kiri. Tanda yang menojol adalah nafas pendek dan retraksi pada jugulum, intrakostal dan region epigastrium. Pada anak yang kurus terlihat impuls jantung yang hiperdinamik. Defek kecil asimtomatik, defek sedang hingga besar menimbulkan keluhan seperti kesulitan waktu minum atau makan karena cepat le lah atau sesak dan sering mengalami batuk serta infeksi saluran napas berulang. Ini menyebabkan pertumbuhan yang lambat. Pada pemeriksaan fisik biasanya terlihat takipneu, aktivitas ventrikel kiri meningkat, dapat teraba thrill sistolik, bunyi jantung II m engeras bila telah terjadi hipertensi pulmonal, terdengar bising pansistolik di SIC 3 -4 parasternal kiri yang menyebar sepanjang parasternal dan apeks. Pada pirau yang besar dapat terdengar bising middiastolik di apeks akibat aliran berlebihan, dapat ditem ukan gagal jantung kongestif. Bila telah terjadi penyakit vaskuler paru dan sindrom eisenmenger, penderita tampak sianosis , clubbing finger, bahkan mungkin disertai tanda gagal jantung kanan

Patifisiologi VSD Adanya lubang pada septum interventrikuler me mungkinkan terjadinya aliran dai ventrikel kiri ke ventrikel kanan, sehingga aliran darah yang ke paru bertambah. Presentasi klinis tergantung besarnya aliran pirau melewati lubang VSD serta besarnya tahanan pembuluh darah paru. Bila aliran pirau kecil umu mnya tidak menimbulkan keluhan. Dalam perjalanannya, beberapa tipe VSD dapat menutup spontan (tipe perimembran dan muskuler), terjadi hipertensi pulmonal, hipertrofi infundibulum, atau prolaps katup aorta yang dapat disertai regurgitasi (tipe subarterial dan perimembran)

Klasifikasi Besarnya defek bervariasi mulai dari ukuran milimeter (mm) sampai dengan centi meter (cm), yaitu dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu : a. VSD kecil : Diameter sekitar 1 5 mm, pertumbuhan anak dengan kadaan ini masih normal walaupun ada kecenderungan terjadi infeksi saluran pernafasan. b. VSD besar / sangat besar : Diameter lebih dari setengah dari ostium aorta, tekanan ventrikel kanan biasanya meninggi.

Pemeriksaan Penunjang (spesifik VSD) 1. Foto thorax : dapat ditemukan kardiomegali dengan LVH, vaskularisasi paru meningkat, bila terjadi penyakit vaskuler tampak pruned tree disertai penonjolan a. pulmonal. 2. Elektrokardiografi : LVH, LAH. 3. Ekokardiografi : dengan M -mode dapat diukur dimensi atrium kiri dan ventrikel kiri, dengan ekokardiografi 2 dimensi dapat dideteksi dengan tepat ukuran dan lokasi defek septum ventrikel, dengan defek doppler dan warna dapat dipastikan arah dan besarnya aliran yang melewati defek tersebut. 4. Kateterisasi jantung : dilakukan pada penderita de ngan hipertensi pulmonal, dapat mengukur rasio aliran ke paru dan sistemik serta mengukur tahanan paru; angiografi ventrikel kiri dilakukan untuk melihat jumlah dan lokasi VSD Penatalaksanaan
1. VSD kecil tidak perlu dirawat, pemantauan dilakukan di poliklinik kardiologi anak. 2. Berikan antibiotik seawal mungkin 3. Vasopresor atau vasodilator adalah obat obat yang dipakai untuk anak dengan

VSD dan gagal jantung misal dopamin ( intropin ) memiliki efek inotropik positif

pada miokard menyebabkan peningka tan curah jantung dan peningkatan tekanan sistolik serta tekanan nadi. Sedang isoproterenol ( isuprel ) memiliki efek inotropik posistif pada miokard menyebabkan peningkatan curah jantung dan kerja jantung.
4.

Bayi dengan gagal jantung kronik mungkin memerl ukan pembedahan lengkap atau paliatif dalam bentuk pengikatan / penyatuan arteri pulmonar. Pembedahan tidak ditunda sampai melewati usia prasekolah.

b. Defek septum atrium Kelainan septum atrium disebabkan dari suatu lubang pada foramen ovale atau pada septum atrium. Tekanan pada foramen ovale atau septum atrium,tekanan pada sisi kanan jantung meningkat.

Manifesfasi klinik Anak mungkin sering mengalami kelelahan dan infeksi saluran pernafasan atas. Mungkin ditemukan adanya murmur jantung. Pada foto rongent ditemukan adanya pembesaran jantung dan diagnosa dipastikan dengan kateterisasi jantung.

Type ASD

(a)

(b)

(a) ASD sekundum,

(b) ASD primum

(c) ASD tipe sinus venosus Penatalaksanaan Kelainan tersebut dapat ditutup dengan dijahit atau dipasang suatu graft pembedahan jantung terbuka, dengan prognosis baik.

c. Duktus Arteriosus Persisten DAP adalah terdapatnya pembuluh darah fetal yang menghubungkan percabangan arteri pulmonalis sebelah kiri (left pul monary artery) ke aorta desendens tepat di sebelah distal arteri subklavikula kiri. DAP terjadi bila duktus tidak menutup bila bayi lahir. Penyebab DAP bermacam -macam, bisa karena infeksi rubella pada ibu dan prematuritas.

Manifestasi klinik Neonatus menunjukan tanda -tanda respiratory distress seperti mendengkur, tacipnea dan retraksi. Sejalan dengan pertumbuhan anak, maka anak akan mengalami dispnea, jantung membesar, hipertropi ventrikuler kiri akibat penyesuaian jantung terhadap penigkatan volume da rah, adanya tanda machinery type. Murmur jantung akibat aliran darah turbulen dari aorta melewati duktus menetap. Tekanan darah sistolik mungkin tinggi karena pembesaran ventrikel kiri. Penatalaksanaan Karena neonatus tidak toleransi terhadap pembedahan, k elainan biasanya diobati dengan aspirin atau idomethacin yang menyebabkan kontraksi otot lunak pada duktus arteriosus. Ketika anak berusia 1 -5 tahun, cukup kuat untuk dilakukan operasi.

2. Penyakit jantung bawaan non sianotik dengan vaskularisasi paru normal a. Stenosis aorta Pada kelainan ini striktura terjadi diatas atau dibawah katup aorta. Katupnya sendiri mungkin terkena atau retriksi atau tersumbat secara total aliran darah.

Manifestosi klinik Anak menjadi kelelahan dan pusing sewaktu cardiac ou tput menurun, tanda tanda ini lebih nampak apabila pemenuhan kebutuhan terhadap O2 tidak terpenuhi, hal ini menjadi serius dapat rnenyebabkan kematian, ini juga ditandai dengan adanya murmur sistolik yang terdengar pada batas kiri sternum, diagnosa ditegak an berdasarkan gambaran ECG yang menunjukan adanya hipertropi ventrikel kiri, dan dari kateterisasi jantung yang menunjukan striktura. Penatalaksanaan Stenosis dihilangkan dengan insisi pada katup yang dilakukan pada saat anak mampu dilakukan pembedahan tx.

b. Stenosis pulmonal Kelainan pada stenosis pulmonik, dijumpai adanya striktura pada katup, normal tetapi puncaknya menyatu.

Manifestasi klinik Tergantung pada kondisis stenosis. Anak dapat mengalami dyspne dan kelelahan, karena aliran darah ke paru-paru tidak adekuat untuk mencukupi kebutuhan O2 dari cardiac output yang meingkat. Dalam keadaan stenosis yang berat, darah kembali ke atrium kanan yang dapat rnenyebabkan kegagalan jantung kongesti. Stenosis ini didiagnosis berdasarkan murmur jantung sistolik, ECG dan kateterisai jantung.

Penatalaksanaan Stenosis dikoreksi dengan pembedahan pada katup yang dilakukan pada saat anak berusia 2 -3 tahun.

c. Koarktasio Aorta Kelaianan pada koartasi aorta, aorta berkontriksi dengan beberapa cara. Kontriksi mungkin proksimal atau distal terhadap duktus arteiosus. Kelaianan ini biasanya tidak segera diketahui, kecuali pada kontriksi berat. Untuk itu penting meiakukan skrening anak saat memeriksa kesehatannya, khususnya bila anak mengikuti kegiatan -kegiatan olah raga.

Manifestasi klinik Ditandai dengan adanya kenaikan tekanan darah, searah proksimal pada kelainan dan penurunan secara distal. Tekanan darah lebih tinggi pada lengan daripada kaki. Denyut nadi pada lengan terasa kuat, tetapi lemah pada popliteal dan femoral. Kadang -kadang dijumpai adanya murmur jantung lemah dengan frekuensi tinggi. Diagnosa ditegakkan dengan cartography. Penatalaksanaan Kelainan dapat dikoreksi dengan Balloon Angioplasty, pengangkatan bagian aorta yang berkontriksi atau anastomi bagian akhir, atau dengan cara memasukkan suatu graf.

3. Penyakit jantung bawaan sianotik dengan vaskularisai paru berkurang Tetralogi fallot Tetralogi fallot merupakan penyakit jantung yang umum, dan terdiri dari 4 kelainan yaitu: 1) stenosis pulmonal, 2 ) hipertropi ventrikel kanan, 3) kelainan septum ventrikuler, 4) kelainan aorta yang menerima dara h dari ventrikel dan aliran darah kanan ke kiri melalui kelainan septum ventrikel.

Gambar Tetralogy Of Fallot (Dimodifikasi dari: www.bristol-inquiry.org.uk ) Manifestasi klinik Bayi baru lahir dengan TF menampakan gejala yang nayata yaitu adanya cianosis, letargi dan lemah. Setain itu juga tampak tanda -tanda dyspne yang kemudian disertai jari -jari clubbing, bayi berukuran kecil dan berat badan kurang. Bersamaan dengan pertambahan usia, bayi diobservasi secara teratur, serta diusahakan untuk mencegah terjadinya dyspne. Bayi mudah mengalami infeksi saluran pernafasan atas. Diagnosa berdasarkan pada gejala -gejala klinis,

murmurjaniung, ecg foto rongent dan kateterisai jantung.

Penatalaksanaan

Pembedahan paliatif dilakukan pada usia awal anak -anak, untuk mernenuhi peningkatan kebutuhan oksigen dalam masa pertumbuhan. Pembedahan berikutnya pada masa usia sekolah, bertujuan untuk koreksi secara permanent. Dua pendekatan paliatif ad alah dengan cara Blalock -Tausing, dilakukan pada ananostomi ujung ke sisi sub ciavikula kanan atau arteri karotis menuju arteri pulmonalis kanan. Secara Waterson dikerjakan pada sisi ke sisi anastonosis dari aorta assenden, menuju arteri pulmonalis kanan, tindakan ini meningkatakan darah yang

teroksigenasi dan membebaskan gejala -gejala penyakit jantung sianosis.

4. Penyakit jantung bawaan sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah a. Transposisi arteri besar/ Transpotition Great artery (TGA) Apabila pembuluh pembuluh darah besar mengalami transposisi aorta, arteri aorta dan pulmonal secara anatomis akan terpengaruh. Anak tidak akan hidup kecuali ada suatu duktus ariosus menetap atau kelainan septum ventrikuler atau atrium, yang menyebabkan bercampurny a darah arteri -vena.

Pada TGA terjadi perubahan tempat kelu arnya posisi aorta dana.pulmonalis yakni aorta keluar dari ventrikel kanan dan terletak di sebelah anterior a.pulmonalis, sedangkan a.pulmonalis keluar dari ventrikel kiri , terletak posterior te rhadap aorta. Akibatnya aorta menerima darah v. Sistemik dari vena kava, atriumkanan, ventrikel kanan dan darah diteruskan ke sirkulasi sistemik. Sedang darah dari vena pulmonalis dialirkan ke atrium kiri, ventrikel kiri dan diteruskan ke a. Pulmonalis dan seterusnya ke paru. Dengan demikian maka kedua sirkulasi sistemik dan paru tersebut terpisah dan kehidupan hanya dapat berlangsung apabila ada komunikasi antara 2 sirkulasi ini. Pada neonatus percampuran darah terjadi melalui duktus arteriosus dan foramen ovale keatrium kanan. Pada umumnya percampuran melalui duktus dan foramen

ovale ini tidak adekuat, dan bila duktus arteriosus menutup maka tidak terdapat percampuran lagi di tempattersebut, keadaan ini sangat mengancam jiwa penderita. Manifesfasi klinik Transposisi pembuluh -pembuluh darah ini tergantung pada adanya kelainan atau stenosis. Stenosis kurang tampak apabila kelainan merupakan PDA atau ASD atau VSD, tetapi kegagalan jantung akan terjadi. Penatalaksanaan Pembedahan paliatif dilakukan agar terjad i percampuran darah. Pada saat prosedur, suatu kateter balon dimasukan ketika kateterisasi jantung, untuk memperbesar kelainan septum intra arterial. Pada cara Blalock Halen dibuat suatu kelainan septum atrium. Pada Edward vena pulmonale kanan. Cara Mustar d digunakan untuk koreksi yang permanent. Septum dihilangkandibuatkan sambungan sehingga darah yang teroksigenisasi dari vena pulmonale kembali ke ventrikel kanan untuk sirkulasi tubuh dan darah tidak teroksigenisasi kembali dari vena cava ke arteri pulmonale untuk keperluan sirkulasi paru -paru. Kemudian akibat kelaianan ini telah berkurang secara nyata dengan adanya koreksi dan paliatif. E. Komplikasi Pasien dengan penyakit jantung congenital teramcam mengalami berbagai komplikasi antara lain: 1. Gagal jantung kongestif 2. Renjatan kardiogenik, Henti Jantung 3. Aritmia 4. Endokarditis bakterialistis 5. Hipertensi 6. Hipertensi pulmonal 7. Tromboemboli dan abses otak

F. Pafofisiologi Kelainan jantung congenital menyebabkan dua perubahan hemodinamik utama. Shunting atau percampuran darah arteri dari vena serta perubahan aliran darah pulmonal dan tekanan darah. Nornalnya, tekanan pada jantung kanan lebih besar daripada sirkulasi pulmonal. Shunting terjadi apabila darah mengalir melalui lubang abnormal pada jantung sehat da ri daerah yang bertekanan lebih tinggi ke daerah yang bertekanan rendah, menyebabkan darah yang teroksigenisasi mengalirke dalam sirkulasi sistemik. Aliran darah pulmonal dan tekanan darah meningkat bila ada keterlambatan penipisan normal serabut otot luna k pada arteriola

pulmonal sewaktu lahir. Penebalan vascular meningkatkan resistensi sirkulasi pulmonal, aliran darah pulmonal dapat melampaui sirkulasi sis dan aliran darah bergerakdari kanan ke kiri. Perubahan pada aliran darah, percampuran darah vena dan arteri, serta

kenaikan tekanan pulmonal akan meningkatkan kerja jantung. Menifestasi dari penyakit jantug congenital yaitu adanya gagal jantung, perfusi tidak adekuat dan kongesti pulmonal. G. Pemeriksaan Penunjang 1. Gambaran ECG yang menunjukan adanya hip ertropi ventrikel kiri,kateterisasi jantung yang menunjukan striktura. 2. Diagnosa ditegakkan dengan cartography, 3. Cardiac iso enzim (CPK & CKMB) meningkat 4. Roentgen thorax untuk melihat atau evaluasi adanya cardiomegali dan infiltrate paru.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

Riwayat keperawatan: 1. Riwayat terjadinya infeksi pada ibu selama trimester pertama. Agen penyebab lain adalah rubella, influenza atau chicken pox. 2. Riwayat prenatal seperti ibu yang menderita diabetes mellitus dengan ketergantungan pada insulin. 3. Kepatuhan ibu menjaga kehamilan dengan baik, termasuk menjaga gizi ibu, dan tidak kecanduan obat -obatan dan alcohol, tidak merokok. 4. Proses kelahiran atau secara alami ataua adanya factor -faktor memperlama proses persalinan, penggunaan alat seperti vakum untuk membantu kelahiran atau ibu harus dilakukan SC. 5. Riwayat keturunan, dengan rnemperhatikan adanya anggota keluarga lain yang juga mengalami kelainan jantung, untuk mengkaji adanya factor genetic yang menunjang.

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang dilakukan sama dengan pengkajian fisik yang dilakukan terhadap pasien yang menderita penyakit jantung pada umumnya. Secara spesifik data yang dapat ditemukan dari hasil pengkajian fisik pada penyakit jantung congenital ini adalah:Bay i baru lahir berukuran kecil dan berat badan kurang.Anak terlihat pucat, banyak keringat bercucuran, ujung -ujung jari hiperemik.Diameter dada bertambah, sering terlihat pembonjolan dada kiri. .Tanda yang menojol adalah nafas pendek dan retraksi pada jugulu m, selaintrakostal dan region epigastrium.Pada anak yang kurus terlihat impuls jantung yang hiperdinarnik.Anak mungkin sering mengalami kelelahan dan infeksi saluran pernafasan atas Neonatus menunjukan tanda -tanda respiratory distress seperti mendengkur, tacipnea dan retraksi.Anak pusing, tanda -tanda ini lebih nampak apabila pemenuhan kebutuhan terhadap O2 tidak terpenuhi ditandai dengan adanya murmur sistolik yang terdengar pada batas kiri sternum, Adanya kenaikan tekanan darah. Tekanan darah lebih tinggi pada lengan dari pada kaki. Denyut nadi pada lengan terasa kuat, tetapi lemah pada popliteal dan femoral.

B. Diagnosa keperawatan dan intervensi 1. Penurunan Cardiac Output b.d (berhubungan dengan) penurunan

kontraktilftas jantung, perubahan tekanan jantun g. Tujuan : pasien dapat mentoleransi gejala -gejala yang ditimbulkan akibat penurunan curah jantung, dan setelah dilakukan tindakan keperawatan terjadi peningkatan curah jantung sehingga kekeadaan normal. Intervensi: 1. Monitor tanda-tanda vital

Rasional: permulaan terjadinya gangguan pada jantung akan ada perubahan


pada tanda-tanda vital seperti pernafasan menjadi cepat, peningkatan suhu, nadi meningkat, peningkatan tekanan darah, semuanya cepat dideteksi

untukpenangan lebijh lanjut. 2. Informasikan dan anjur kan tentang pentingnya istirahat yang adekuat

Rasional: istirahat yang adekuat dapat meminimalkan kerja dari jantung dan
dapat mempertahankan energi yang ada. 3. Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker sesuai indikasi.

Rasional : meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokord untuk


melawan efek hipoksia/iskemia 4. Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis

Rasional : pucat menunjukan adanya penurunan perfusi sekunder terhadap


ketidakadekuatan curah jantung, vasokonstriksi dan anemi. 5. Kaji perubahan pad a sensori, contoh letargi, bingung disorientasi cemas

Rasional: dapat menunjukan tidak adekuatnya perfusi serebral sekunder


terhadap penurunan curah jantung. 6. Secara kolaborasi berikan tindakan farmakologis berupa digitalis; digoxin

Rasional: mempengaruhi reabsorbsi natrium dan air, dan digoksin meningkatkan


kekuatan kontraksi miokard dan memperlambat frekuensi jantung dengan menurunkan konduksi dan memperlama periode refraktori pada hubungan AV untuk meningkatkan efisiensi curah jantung.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan menyusui dan makan Tujuan: anak dapat makan dan menyusu dan tidak terjadi penurunan berat badan selama terjadi perubahan status nutrisi tersebut Intervensi: 1. Anjurkan ibu untuk terus memberikan anak susu, w alaupun sedikit tetapi sering

Rasional: air susu akan mempertahankan kebutuhan nutrisi anak


2. Jika anak menunjukan kelemahan akibat ketidak adekuatannya nutrisi yang masuk maka pasang iv infuse

Rasional: infuse akan menambah kebutuhan nutria yang tidak dapat dipenuhi
melalui oral 3. Pada anak yang sudah tidak menyusui lagi maka berikan makanan dengan porsi sedikit tapi sering dengan diet sesuai instruksi

Rasional: meningkatan intake, dan mencegah kelemahan.


4. Observasi selama pemberian makan atau menyusui

Rasional: selama makan atau menyusui mungkin dapat terjadi anak sesak crtau
tersedak. 3. Nyeri; dada b.d Iskemia miokard Tujuan : Menyatakan nyeri hilang Intervensi: 1. Selidiki adanya keluhan nyeri, yang pada anak bisa ditunjukan dengan rewel atau sering menangis

Rasional: perbedaan gejala perlu untuk mengidentifikasi penyebab nyeri.Perilaku


dan tanda vital membantu menentukan derajat atau adanya ketidaknyamanan pasien. 2. Evaluasi respon terhadap obat/terapi yang diberikan

Rasional: penggunaan terapi obat dan dosis, catat nyeri yang tidak hilang atau
menurun dengan penggunaan nitrat. 3. Berikan lingkungan istirahat dan batasi aktivitas anak sesuai kebutuhan

Rasional: aktivitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen miokard. Contoh kerja


tiba-tiba, stress, makan banyak, terpaj'an dingin) dapat mencetuskan nyeri dada. 4. Anjurkan ibu untuk setalu memberikan ketenangan pada anak

Rasional: ketenangan anak akan mengurangi stress yang dapat memperberat


nyeri yang dirasakan.

4. Penigkatan volume cairan tubuh b.d kongestif vena, penurunan fungsf ginjal Tujuan : menunjukan keseimbangan masukan dan keluaran, berat badan stabil, tanda-tanda vital dalam rentang normal, tidak terjadinya edema. Intervensi: 1. Pantau pemasukan dan pengeluaran, catat keseimbangan cairan, timbang berat badan anak setiap hari

Rasiona!: penting pada pengkajian jantung dan fungsi ginjal dan keefektifan
terapi diuretic. Keseimbangan cairan berlanjut dan berat badan meningkat menujukan makin buruknya gagal jantung. 2. Kaji adanya edema periorbital, edema tangan dan ka ki, hepatomegali, rales, ronchi, penambahan berat badan

Rasional: menunjukan kelebihan cairan tubuh.


3. Secara kolaborasi berikan diuretic contoh furosemid sesuai indikasi

Rasional: menghambat reabsorsi natrium, yang menigkatkan eksresi cairan dan


menurukan kelebihan cairan total tubuh. Berikan batasan diet natrium sesuai indikasi

Rasional: menurunkan retensi natrium.


5. Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah perifer Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari perfusi jaringan

adekuat.
Intervensi : 1. Monitor perubahan tiba -tiba atau gangguan mental kontinu (camas, bingung, letargi, pinsan).

Rasional: Perfusi serebral secara langsung berhubungan dengan cu rah jantung,


dipengaruhi oleh elektrolit/variasi asam basa, hipoksia atau emboli sistemik. 2. Observasi adanya pucat, sianosis, belang, kulit dingin/lembab, catat kekuatan nadi perifer.

Rasional: Vasokonstriksi sistemik diakibatkan oleh penurunan curah jantun g


mungkin dibuktikan oleh penurunan perfusi kulit dan penurunan nadi. 3. Kaji tanda Homan (nyeri pada betis dengan posisi dorsofleksi), eritema, edema.

Rasional: Indikator adanya trombosis vena dalam.


4. Dorong latihan kaki aktif/pasif.

Rasional: Menurunkan stasis vena, meningkatkan aliran balik vena dan


menurunkan resiko tromboplebitis. 5. Pantau pernafasan.

Rasional: Pompa jantung gagal dapat mencetuskan distres pernafasan. Namun


dispnea tiba-tiba/berlanjut menunjukkan komplikasi tromboemboli paru. 6. Kaji fungsi GI, catat anoreksia, penurunan bising usus, mual/muntah, distensi abdomen, konstipasi.

Rasional: Penurunan aliran darah ke mesentrika dapat mengakibatkan disfungsi


GI, contoh kehilangan peristaltik. 7. Pantau masukan dan perubahan keluaran urine.

Rasional: Penurunan pemasukan/mual terus -menerus dapat mengakibatkan


penurunan volume sirkulasi, yang berdampak negatif pada perfusi dan organ.

6. Tidak efektif pola nafas b.d peningkatan resistensi vaskuler paru Tujuan ; tidak terjadi ketidakefektitan pola nafas. Intervensi: 1. Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman. Catat upaya pernafasan

Rasional: pengenalan dini dan pengobatan venilasi abnormal dapat mencegah


komplikasi. 2. Observasi penyimpangan dada, selidiki penurunan ekspansi paru atau ketidaksimetrisan gerakan dada

Rasional: udara atau cairan pada area pleural mencegah akspansi lengkap
(biasanya satu sisi) dan memerlukan pengkajian lanjut status ventilasi 3. Kaji ulang laporan foto dada dan pemeriksaan laboratorium GDA, hb sesuai indikasi

Rasional: pantau keefektifan terapi pernafasan dan atau catat terjadinya


komplikasi. 4. Minimalkan menangis atau aktifitas pada anak

Rasional: menangis akan menyebabkan pernafasan anak akan meningkatkan.


7. Resiko terjadi ketidak efektifan bersihan jalan nafas b.d tidak adanya reflek batuk dan produksi sekret yang banyak Tujuan : Setelah dirawat tidak terjadi sumbatan jalan nafas, stridor ( -),

dyspnoe (-), sekret bersih 1. Auskultasi bunyi nafas tiap 2 jam

Rasional: Memantau keefektifan jalan nafas


2. Lakukan suction jika terdengar stridor/ ronchi sampai bersih.

Rasional: Jalan nafas bersih, sehingga mencegah hipoksia, dan tidak

terjadi infeksi nasokomial.


3. Pertahankan suhu humidifier 35 -37,5 derajat

Rasional: Membantu mengencerkan sekret


4. Monitor status hidrasi klien

Rasional: Mencegah sekret mengental


5. Lakukan Nebul/Penguapan pada anak

Rasional: Memudahkan pelepasan sekret

6. Lakukan fisiotherapi nafas

Rasional: Memudahkan pelepasan sekret


7. Kaji tanda-tanda vital sebelum dan setelah tindakan

Rasional: Deteksi dini adanya kelainan


8. Intoleran aktivitas b.d kelelahan Tujuan anak dapat melakukan aktivitas yang sesuai tanpa adanya kelemahan. Intervensi: 1. Kaji perkembangan tanda -tanda penigkatan tanda -tanda vital, seperti adanya sesak

Rasional:
kelelahan.

menunjukan

gangguan

pada

jantung

yang

kemudian

akan

menggunakan energi lebih sebagai kompensasi sehingga akhirnya anak menjadi

2. Bantu pasien dalam aktivitas yang tidak dapat dilakukannya

Rasional: teknik penghematan energi


3. Support dalam nutrisi

Rasiona!:

nutrisi

dapat

membantu

menigkatan

metabolisme

juga

akan

meningkatan produksi energi 9. Kurang pengetahuan ibu tentang keadaan anaknya b.d kurangnya infomasi Tujuan : ibu tidak mengalami kecemasan dan megetahui proses penyakit dan penatalaksanaan keperwatan yang dilakukan Intervensi: Berikan pendidikan kesehatan kepada ibu dan keluarga mengenai penyakit serta gejala dan penataksanaan yang akan dilakukan

Rasional: informasi akan meningkatan pengetahuan ibu sehingga cemas yang


dialami ibu melihat kondisi anaknya akan berkurang bahkan hilang.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges Marilyn E, Jane R Kenty:1998 Maternal/Newborn Care Plan: Guidelines for client

care E.a Davis Company: Philadelphia


Haq, Ahmad Iqqamatul , dkk.2008. Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Congenital

Heart Diseases (Chd). Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah :


Banjarmasin Madiyono, Bambang, dkk.2005. Penanganan Penyakit Jantung Pada Bayi Dan Anak . Balai Penerbit FKUI: Jakarta Mansjoer Arif:1999: Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid I: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta Mattson Susan:2000 Core Curriculum for Maternal -Newborn second edition : advision of Harcourt brace & company: Philadelphia Ngastiyah:1997 Perawatan Anak Sakit:penerbit buku kedokteran: Jakarta Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan :1993 Proses Keperawatan

Pada Pas/en Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler: Penerbit buku kedokteran


EGC: Jakarta

PATOFISIOLOGI VSD

Nutrisi ibu hamil tidak adekuat/factor keturunan (penyakit jantung)/infeksi trimester I / Ibu Diabetes mellitus/Radiasi/obat-obatan/Alkohol Nutrisi kurang dari kebutuhan

Kelainan Konginetal

Nutrisi tidak adekuat

Septal antar ventrikel gagal menutup Aliran balik dari ventrilel kiri ke kanan

Daya hisap menurun

Kelemahan

Penurunan Tekanan ventrikel kanan meningkat Aliran darah perifer dan Pulmonal Hypertension otak tidak adekuat Cardiac Output

Beban jantung kanan meningkat

Edema Paru Pucat/Akral dingin Media berkembangnya Kompensasi jantung : HR meningkat Otot bantu Infeksi pernafasan bekerja

Hipertrofi miokard

Bakteri

cardiomegali Peradangan Akumulasi sekret

Pola nafas tidak efektif

Jalan nafas tidak efektif