Anda di halaman 1dari 9

Trauma Abdomen

Posted on 19 February 2011 by ArtikelBedah

PENDAHULUAN Respon tubuh manusia pada trauma Dalam penanggulangan pasien trauma dengan syok, masalah yang perlu diperhatikan adalah masalah ABC dan D sesuai dengan ATLS (Primary Survey). Pada kejadian trauma, ada dua hal penting yang terjadi pada tubuh manusia: 1. Biomekanik trauma Proses trauma-kecelakaan yang akan mengakibatkan benturan pada tubuh manusia dengan berdampak terjadinya cedera pada tubuh/organ. 2. Respon metabolik terhadap trauma Tubuh manusia melakukan reaksi terhadap trauma, yang merupakan aksi, dalam bentuk perubahan metabolisme dan bertujuan untuk mengatasi/menangani stress trauma yang diterima. BIOMEKANIK TRAUMA 1. Memahami dampak yang diakibatkan oleh trauma itusendiri. 2. Waspada terhadap jenis perlukaan yang ditimbulkan. 3. Membantu memprediksi organ yang mengalami cedera dan seberapa parah cedera yang terjadi. Mekanisme Trauma : 1. Primary collision a. Frontal b. Samping (T-bone) c. Belakang d. Terbalik (Roll-over) 2. Secondary collision Penumpang menabrak bagian dalam mobil atau sabuk pengaman. Arah dan besarnya gaya yang diterima penderita ini akan menentukan organ apa dan seberapa parah kerusakan yang terjadi pada organ tersebut. 3. Tertiary collision Pada keadaan ini organ tubuh penderita yang berada dalam suatu rongga

akan melaju sesuai arah tabrakan / gaya yang diterimanya (hukum Newton 3). Kemungkinan cedera yang dialami organ ini dapat beruba perlukaan langsung ataupun terlepas/robek dari alat penggantung/ pengikatnya pada rongga tersebut. 4. Subsidiary collision Tergantung pada posisi penumpang dalam mobil. Penumpang yang berada di kursi belakang akan terpental ke depan, atau barang-barang yang di belakang akan terlempar ke depan membentur penumpang sehingga akan terjadi kerusakan lebih lanjut pada penumpang tersebut. Pada suatu benturan denan arah gaya dari depan (frontal) dengan penderita tanpa sabuk pengaman, dapat dibagi menjadi beberapa fase: a. Fase 1: Bagian bawah penderita akan bergeser ke depan. Untuk penumpang yang duduk di depan atau pada sopir, lutut akan menabrak dashboard. b. Fase 2: Tubuh bagian atas penderita akan menyusul bergerak ke depan. Pada fase ini dada dan/atau perut akan menghantam setir sehingga harus diwaspadai kemungkinan cedera dada atau perut beserta organ di dalamnya. Pada penderita yang duduk pada kursi belakang tubunya akan menabrak kursi didepannya atau membentur penumpang yang duduk di kursi depan sehingga ada kemungkinan menambah parah cedera yang dialami penderita yang duduk di kursi depan. c. Fase 3: Tubuh penderita akan terdorong ke atas. Pada penumpang yang duduk di depan atau sopir maka kepala akan menghantam kaca depan menimbulkan cedera bulls eye injury atau menabrak bingkai kaca depan. Kemungkinan patah tulang leher tidak dapat dihindarkan pada fase ini. d. Fase 4: Penderita kembali ke posisinya semula. Pada fase ini harus hatihati kemungkinan terjadi patah tulang leher. Ini terjadi karena pada waktu gaya yang diterima oleh penderita sudah habis/berhenti sedangkan mobil masih bergerak sehingga kepala penderita berikut lehernya akan mengalami hiperekstensi (whiplash injury) jika kursinya tidak memakai sandaran kepala yang baik. Kemungkinan yang lebih para

pada fase ini adalah jika penderita terpental keluar. Perlukaan organ intra abdomen dapat dibagi menjadi: 1. Perlukaan organ padat seperti hati, limpa, pankreas, ginjal. 2. Perlukaan organ berongga seperti lambung, , jejunum, kolon, buli-buli. Perlukaan organ-organ ini dapat terjadi melalui beberapa mekanisme: 1. Benturan langsung Misalnya hepar atau limpa yang menerima benturan langsung sehingga terjadi ruptur atau laserasi, tergantung besarnya gaya yang diterima organ ini. 2. Cedera akselerasi-deselerasi Cedera ini timbul akibat pada saat penderita telah berhenti melaju namun organ-organ intra abdomen masih melaju, sehingga terjadi robekan pada penggantungnya, misalnya saja robekan pada mesenterium, robekan pada pedikel limpa. 3. Efek kantong kertas (paper bag effect) Efek ini timbul jika kedua ujung organ berongga dalam kondisi tertutup dan mendapat tekanan dari luar sehingga tekanan didalam mengalami peningkatan secara mendadak yang jika melebihi kekuatan dinding akan terjadi robekan. Efek kantong kertas ini hanya terjadi pada organ usus atau paru 4. Perlukaan akibat memakai sabuk pengaman (seat belt) Sabuk pengaman yang baik adalah tipe lap-shoulder belt yang jika dipakai dengan benar yakni komponen panggul dari sabuk ini berada tepat di depan tulang panggul bukan di depan perut. Meskipun begitu perlukaan masih dapat terjadi yakni: a. Patah tulang selangka b. Patah tulang iga c. Perlukaan organ intra abdomen Penumpang yang duduk di belakang, bila tidak memakai sabuk pengaman dapat terlempar ke depan dan kepalanya akan membentur kursi di depannya sehingga bisa terjadi cedera servikal, selain itu penumpang di belakang akibat benturan dengan kursi di depannya akan mendorong kursi ke depan sehingga penumpang yang duduk di depan akan terjepit antara kursi dan sabuk

pengaman (jika memakai sabuk pengaman), atau terjepit antara kursi dengan setir (jika ia supir). Pada anak, bila posisi badan dan sabuk pengaman tidak sesuai maka dapat terjadi submarining, anak merosot ke bawah sehingga sabuk pengaman akan menjerat leher anak dan melukai leher atau terjadi dekapitasi. Harus lebih diwasapadai lagi pada anak yang duduk dipangku ibunya dan berada di kursi depan karena akan menerima gaya yang sangat besar dan anak menjadi pelindung bumper ibunya. 5. Perlukaan pada kantung udara (air bag) Kantung udara hanya ada pada mobil mewah dan hanya akan mengembang jika terjadi tabrakan dari arah frontal dan tidak akan mengembang pada tabrakan dari belakang atau samping. Kantung udara yang mengembang dapat menimbulkan perlukaan seperti patah tulang lengan bawah, perlukaan mata jika memakai kaca mata. Pada anak kecil kantung udara ini dapat menyebabkan kematian karena anak terbekap dalam kantung udara tersebut. RESPON METABOLIK TERHADAP TRAUMA Trauma pada tubuh manusia akan berdampak lokal maupun sistemik. Setiap stres, apapun rupanya akan menyebabkan timbulnya respons metabolik. Respons lokal dapat berupa inflamasi sedangkan secara umum merupakan proteksi tubuh seperti konversi cairan dan mengadakan energi yang ditujukan untuk reparasi. Resusitasi yang baik akan mengurangi respons tersebut tetapi tidak dapat menghilangkannya. Respons metabolik dimulai dengan reaksi katabolik yang bersifat akut lalu diikuti oleh proses metabolik penyembuhan dan perbaikan. Respons metabolik ini dibagi menjadi fase ebb dan fase flow. Pada fase ebb terjadi depresi aktivitas enzim dan depresi pemakaian oksigen, curah jantung menurun dibawah normal, suhu inti tubuh dapat menurun dan terjadi asidosis laktat. Sedangkan pada fase flow mempunyai dua fase: - Fase katabolik ditandai dengan terjadinya mobilisasi lemak dan protein berkaitan dengan meningkatnya eksresi nitrogen pada urin dan penurunan berat badan. - Fase anabolik ditandai dengan kembalinya persediaan lemak dan protein serta meningkatnya berat badan.

Pada fase flow ini terjadi keadaan hipermetabolik, curah jantung dan kebutuhan oksigen meningkat, demikian juga produksi glukosa meningkat, kadar asam laktat dapat kembali normal. MEKANISME TRAUMA ABDOMEN Trauma Tumpul Abdomen 1. Peningkatan tekanan intra-abdomen yang mendadak, memberikan tekanan untuk merusak organ padat (to burst injury of solid organs) seperti hepar dan limpa, atau rupture dari organ berongga seperti usus 2. Shearing forces, secara klasik dimulai dengan deselerasi secara cepat pada kecelakaan lalu lintas, hal ini dapat merobek pedikel vasculer seperti mesentrium, porta hepatis and hilus limpa 3. Compression injury organ viscera terperangkap antara dua kekuatan yang datang didinding anterior abdomen atau daerah thoraks dengan tulang lumbar (kolumna vertebralis) Trauma Penetrans Abdomen ( Stab Wound & Gunshot ) 1. Luka tusuk: daerah trauma, arah trauma, kekuatan tusukan, panjang dan ukuran tusukan 2. Luka tembak: lebih kompleks, energi kinetik proyektil, proyectil velocity 3. Untuk luka tembak: low velocity proyectil atau high velocity proyectil 4. Low velocity: robekan langsung dan crushing pada jaringan lokal 5. High velocity: chrusing pada jaringan lokal dan cavitasi (terowongan) Stab wound: Benda yang menusuk (pisau,tombak, panah, balok kayu, dsb) jangan dicabut di ruang emergensi karena ada efek tamponade terhadap perdarahan, tapi dilakukan dikamar bedah GunShot : Pintasan peluru tidak selalu lurus, bisa cedera organ akibat pantulan peluru Akibat Blast Effect, luas kerusakan dapat diluar dugaan Bom teroris: selain Blast effect, luka tembusan pecahan benda/logam kecil tidak terduga dan susah ditemukan Luka tembus akibat peluru umumnya harus laparotomi

MISS M = Mechanism of Injury I = Injury Sustained S = Signs & Symptoms T = Treatment KRITERIA CURIGA TRAUMA ABDOMEN : Hemodinamik tak stabil dengan penyebab tak diketahui Shock hipovolemik dg penyebab tak diketahui Trauma thoraks berat Trauma pelvik Gangguan kesadaran Base deficit yang jelas Hematuria Tanda-tanda objektif abdomen (nyeri tekan,dsb) Mekanismenya terjadi trauma berat Tanda cedera intra abdominal Abdomen yang makin distensi Kenaikan tekanan intraabdominal Rangsang peritoneal (involuntary guarding) Udara bebas PENANGANAN TRAUMA ABDOMEN Resusitasi awal harus menjamin jalan napas dan oxygen delivery yang baik Minute ventilation minimal 1,5-2 kali normal Perdarahan eksterna masif segera hentikan dulu, sebelum resusitasi agresif Penilaian Respon Resusitasi 1. Rapid Response 2. Transient Response 3. No Response > Tidak ada perbaikan tensi setelah diguyur 2000-3000 ml RL dalam waktu 10-15 menit berarti ada perdarahan masif Langsung Ke Kamar Bedah ! Pasang NGT Mungkin baru makan,Gelisah & kesakitan Aerofagia,Dilatasi akut gaster

Bahaya, Aspirasi, Venous return CO,Respirasi terganggu. Kontra indikasi : Fraktur maxilla tengah dgn fraktur basis kranii Pasang Kateter Monitor produksi urine, Apa ada hematuria Kontra indikasi : ruptur urethra DIAGNOSTIC PERITONEAL LAVAGE (DPL) Root and Collagnes 1965 Metode pemeriksaan ini cepat, murah, akurat, aman untuk menilai cedera intraperitonal trauma tumpul maupun trauma tembus abd. Indikasi DPL 1. Equivocal : Gejala klinik yg meragukan misalnya trauma jaringan lunak lokal disertai dgn trauma tulang yang gejala kliniknya saling mengaburkan. 2. Unreliable : Kesadaran pasien menurun setelah trauma kepala /intoksikasi. 3. Impractical : Mengantisipasi kemungkinan pasien membutuhkan pemeriksaan yang lama waktunya seperti angiografi atau anastesi umum yg lama untuk trauma lainnya. Kontra Indikasi : Absolute: indikasi yang jelas untuk tindakan laparotomi Relative: secara teknik sulit dilakukan seperti kegemukan, pembedahan abdominal sebelumnya, kehamilan lanjut Kelemahan DPL Tidak bisa evaluasi trauma diaphragma dan retroperitoneal. Komplikasi DPL Perdarahan sekunder pd injeksi anestesi lokal, insisi kulit atau jaringan bawah kulit yang akan memberikan false positif. Peritonitis akibat perforasi usus. Robek kandung kencing, Cidera pada struktur abdomen, Infeksi luka didaerah pencucian (komplikasi tertunda) TEHNIK DPL : 1. Teknik terbuka - Kurangi tekanan vesica urinaria dgn pemasangan kateter. Kurangi tekanan abd (lambung) dgn pemasangan gastric tube. - Siapkan ventral abd dgn desinfeksi. - Injeksikan anestesi lokal dgn lidocain dgn campuran epineprin untuk cegah

kontaminasi darah dari kulit, 2 jari dibawah umbilikus sepanjang 5 cm. - Buat insisi vertikal dikulit dan jaringan bawah kulit sampai facia 3 cm. Klem tepi-tepi fascia, angkat dan buat jahitan tacbasak pd peritoneum dan insisi pd peritoneum 0,5 cm. - Masukkan kateter dialisis peritoneal kedalam rongga peritoneum. Setelah kateter dialisis masuk peritoneum, majukan kateter kedaerah pelvis. - Hubungkan kateter dialisis dengan sebuah syaring dan disedot. Bila aspirasi, darah (-) (gross blood) masukkan 1 liter NaCl hangat kedalam peritoneum melalui infus set di dalam kateter dialisis. - Guncang abdomen untuk menyalurkan cairan keseluruh rongga peritoneum dan meningkatkan pencampurannya dgn darah. Jika kondisi stabil, biarkan cairan selama 510 menit sebelum dialirkan keluar. periksa laboratorium untuk penghitungan RBC- Setelah cairan keluar 350cc, ambil 20 cc & WBC tanpa diputar. Test positif jika RBC > 100.000/mm3 dan WBC > 500/mm3. Ingat!!: Hasil negatif tidak berarti tidak ada cedera intra abdominal, bisa retroperitoneum, yaitu pankreas atau robekan diapragma. 2. Teknik tertutup (Seldinger teknik). 3. Teknik Semi open. Indikasi CT SCAN Abdomen: Pasien dengan keadaan umum yang stabil Delayed presentation gejala muncul lebih dari 24 jam setelah trauma Hasil DPL yang meragukan Kecurigaan trauma retroperitoneal seperti adanya hematuria tanpa trauma urethra atau buli-buli USG FAST ( UltraSonografi- Focused Abdomnial Sonography for Trauma): More operator dependent Peningkatan resolusi ultrasound, prosedur lebih cepat, non invasif, murah USG dapat dengan cepat menunjukan cairan bebas intraperitoneal dan trauma organ padat, mampu mengevaluasi daerah retroperitonium, USG kurang mampu untuk mengidentifikasi perforasi organ berongga.

KONSERVATIVE. Pada pasien hemodinamik stabil 60 70% trauma tumpul organ padat dapat ditangani secara non operatif, angka kesuksesan lebih dari 90% Screening pasien dengan CT scan 5 Kasus yang memerlukan tindakan Explorasi Laparotomi Emergency: 1. Peritonitis 2. ileus Obstruktif. 3. Luka Penetrans 4. Abdominal Compartemen Syndrome. 5. Perdarahan Aktif-Anemis.
KEUNTUNGAN Pem.Klinik Cepat, noninvasif DPL Cepat, tidak mahal Sensitive >90% deteksi darah Complikasi minimal Cepat, Noninvasif, Mudah, dapat USG-FAST dilakukan bed side Organ specific, informasi CT-SCAN retroperitoneal Penentuan Grading injury Estimasi jml perdaharan Dapat u/ Follow Up Serial LAPAROSKOPI Organ specific LAPAROTOMI Sangat spesifik KERUGIAN Tidak meyakinkan Invasif, terlalu sensitif, spesifiknya terbatas Miss retroperitoneal & diaphragma injury False (+) pada pelvic fracture Tergantung operator, tak berguna untuk trauma hollow viscus Pasien harus stabil, mahal Butuh jarak waktu ke ruang CT Scan Potensial alergi thd kontras Nyeri, perlu narkose umum Komplikasi, mahal

Artikel Terkait: