Anda di halaman 1dari 20

Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi ( orang tua habib anis solo )

Spoiler for isi: Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi ialah seorang ulama dan dai yang masyhur. Beliau merupakan anak bongsu kepada Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi pengarang maulid 'Simthud Durar' yang masyhur. Beliau juga pendiri Masjid ar-Riyadh di Kota Solo (Surakarta). Beliau dikenali sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan - santun serta ramah tamah terhadap sesiapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tetamu daripada berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian. Beliau meninggal dunia pada 20 Rabiulawal 1373H dan dimakamkan di Kota Surakarta. Tempat beliau selepas itu digantikan anakandanya Habib Anis bin Alwi bin Ali bin Muhammad Al-Habsyi.

DR. KH. Ikyan Badruzzaman Sekilas tentang Syekh Ahmad al-Tijani Syekh Ahmad al-Tijani, dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di `Ain Madi, sebuah desa di Al-Jazair. Secara geneologis Syekh Ahmad al-Tijani memiliki nasab sampai kepada Rasulullah saw. lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Mukhtar Ibn Ahmab Ibn Muhammad Ibn Salam Ibn Abi al-Id Ibn Salim Ibn Ahmad al-`Alawi Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas Ibn Abd Jabbar Ibn Idris Ibn Ishak Ibn Zainal Abidin Ibn Ahmad Ibn Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah Ibn Abdullah al-Kamil Ibn Hasan alMusana Ibn Hasan al-Sibti Ibn Ali Ibn Abi Thalib, dari Sayyidah Fatimah al-Zahra putri Rasuluullah saw. Beliau wafat pada hari Kamis, tanggal 17 Syawal tahun 1230

H., dan dimakamkan di kota Fez Maroko. Biografi Syekh Ahmad al-Tijani Fase menuntut Ilmu Sejak umur tujuh tahun Syekh Ahmad al-Tijani telah hafal al-Quran dan sejak kecil beliau telah mempelajari berbagai cabang ilmu seperti ilmu Usul, Fiqh, dan sastra. Dikatakan, sejak usia remaja, Syekh Ahmad al-Tijani telah menguasai dengan mahir berbagai cabang ilmu agama Islam, sehingga pada usia dibawah 20 tahun beliau telah mengajar dan memberi fatwa tentang berbagai masalah agama. Fase Menuntut Ilmu Tasawuf Pada usia 21 tahun, tepatnya pada tahun 1171 H. Syekh Ahmad al-Tijani pindah ke kota Fez Maroko. untuk memperdalam ilmu tasawuf. Selama di Fez beliau menekuni ilmu tasawuf melalui kitab Futuhat al-Makiyyah, di bawah bimbingan al-Tayyib Ibn Muhammad al-Yamhalidan Muhammad Ibn al-Hasan al-Wanjali. Al-Wanjali mengatakan kepada Syekh Ahmad al-Tijani : Engkau akan mencapai maqam kewalian sebagaimana maqam al-Syazili . Selanjutnya beliau menjumpai Syekh Abdullah Ibn Arabi al-Andusia, dan kepadanya dikatakan : ( . Allah yang membimbingmu); Kata-kata ini di ulang sampai tiga kali. Kemudian beliau berguru kepada Syekh Ahmad al-Tawwasi, dan mendapat bimbingan untuk persiapan masa lanjut. Ia menyarankan kepada Syekh Ahmad al-Tijani untuk berkhalwat (menyendiri) dan berzikir (zikr) sampai Allah memberi keterbukaan (futuh). Kemudian ia mengatakan : Engkau akan memperoleh kedudukan yang agung (maqam azim). Fase Pengidentifikasian Diri Ketika Syekh Ahmad al-Tijani memasuki usia 31 tahun, beliau mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt., melalui amalan beberapa thariqat. Thariqat pertama yang beliau amalkan adalah thariqat Qadiriyah, kemudian pindah mengamalkan thariqat Nasiriyah yang diambil dari Abi Abdillah Muhammad Ibn Abdillah, selanjutnya mengamalkan thariqat Ahmad al-Habib Ibn Muhammaddan kemudian mengamalkan thariqat Tawwasiyah. Setelah beliau mengamalkan beberapa thariqat tadi, kemudian beliau pindah ke Zawiyah (pesantren sufi) Syekh Abd al-Qadir Ibn Muhammad al-Abyadh. Pada tahun 1186 H. Beliau berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Ketika beliau tiba di Aljazair, beliau menjumpai Sayyid Ahmad Ibn Abd alRahman al-Azhari seorang tokoh thariqat Khalwatiah, dan beliau mendalami ajaran thariqat ini. Kemudian beliau berangkat ke Tunise dan menjumpai seorang Wali bernama Syekh Abd al-Samad al-Rahawi. Di kota ini beliau belajar thariqat sambil mengajar tasawuf. Diantara buku yang diajarkannya adalah kitab al-Hikam. Kemudian beliau pergi ke Mesir. Di negeri ini beliau menjumpai seorang sufi yang sangat terkenal pada waktu itu yakni Syekh Mahmud al-Kurdi, ia seorang tokoh thariqat khalwatiyah. Dari tokoh ini Syekh Ahmad al-Tijani menyempurnakan ajaran thariqat Kholwatiyahnya. Dalam perjumpaan pertama dengan Syekh Mahmud alKurdi, kepada Syekh ahmad al-Tijani dikatakan: ( ) Engkau kekasih Allah di dunia dan di akherat lalu ia Al-Tijani bertanya ( ) Dari mana pengetahuan ini ? Jawab Al-Kurdi ( ) Dari Allah.

Setelah beberapa hari Syekh Mahmud al-Kurdy bertanya kepada Syekh Ahmad : ( ) Apa cita-citamu ? Jawab Syekh Ahmad Al-Tijani ( ) Cita-cita saya menduduki maqam al-Qutbaniyah al-Udzma. Jawab al-Kurdi ( ) Bagimu lebih dari itu Berkata Syekh Ahmad Al-Tijani ( )Engkau yang menanggungnya ? Jawab al-Kurdi ( )Ya. Pada bulan Syawwal tahun 1187 H. Sampailah beliau ke Makkah pada waktu itu di Makkah ada seorang wali bernama Syekh al-Imam Abi al-Abbas Sayyid Muhammad Ibn Abdillah al-Hindi. Sewaktu Syekh Ahmad al-Tijani berkunjung kepadanya, ia mengungkapkan kepada Syekh Ahmad al-Tijani melalui surat lewat khadamnya yang berbunyi : Artinya : Engkau pewaris ilmuku, rahasia-rahasiaku, karunia-karuniaku dan cahaya-cahayaku Selesai melaksanakan ibadah haji, Syekh Ahmad al-Tijani terus berziarah ke makam Rasulullah saw., di Madinah. Di kota ini beliau menjumpai seorang wali Quthb Syekh Muhammad Ibn Abd al-Karim al-Saman. Dalam salah satu pertemuannya, dikatakan bahwa Syekh Ahmad al-Tijani akan mencapai maqam kewalian al-Quthb al-Jami. Pertemuan Syekh Ahmad al-Tijani dengan para wali sebagaimana disebutkan di atas, menunjukan hampir semua wali yang dikunjunginya melihat dan meyakini bahwa Syekh Ahmad al-Tijani akan mencapai maqam kewalian yang tinggi lebih dari apa yang dicita-citakannya. Pada tahun 1196 H., tepatnya ketika Syekh Ahmad al-Tijani berusia 46 tahun, beliau pergi ke pedalaman Aljazair, yaitu Abu Samghun, yang terletak di padang Sahara. Disitu beliau melakukan khalwat (kehidupan menyendiri). Di tempat inilah beliau mengalami pembukaan besar (al-Fath al-Akbar), beliau bertemu dengan Rasulullah saw., dalam keadaan jaga (yaqzhah). Selanjutnya Syekh Ahmad al-Tijani ditalqin (dibimbing) istighfar 100 kali dan shalawat 100 kali, selanjutnya Rasulullah saw. bersabda kepada Syekh Ahmad Al-Tijani : . . . Artinya : Tak ada karunia bagi seorang makhlukpun dari guru-guru thariqat atas kamu. Maka akulah wasithah (perantaramu) dan pemberi dan atau pembimbingmu dengan sebenar-benarnya (oleh karena itu), tinggalkanlah apa yang kamu telah ambil dari semua thariqat. Tekunilah thariqat ini tanpa khalwat dan tidak menjauh dari manusia sampai kamu mencapai kedudukan yang telah dijanjikannya padamu, dan kamu tetap di atas perihalmu ini tanpa kesempitan, tanpa susah-susah dan tidak banyak berpayah-payah, dan tinggalkanlah semua para Wali. Dua macam wirid sebagaiman telah disebutkan di atas, yaitu : Istighfar 100 kali dan Shalawat 100 kali berjalan selama 4 tahun dan pada tahun 1200 H., wirid itu disempurnakan Rasulullah saw., dengan ditambah Hailallah (la Ilaha Illa Allah) 100 kali. Pada bulan Muharram tahun 1214 H. Syekh Ahmad al-Tijani mencapai maqam kewalian yang pernah dicita-citakannya yakni maqam al-Quthbaniyyat al-Udhma. Dan pada tanggal 18 Safar pada tahun yang sama Syekh Ahmad al-Tijani mendapat karunia dari Allah swt., memperoleh maqam tertinggi kewalian ummat Nabi Muhammad yakni maqam al-Khatm wal-Katm atau al-Qutb al-Maktum dan Khatm al-

Muhammadiyy al-Malum. Dan setiap tanggal dan bulan tersebut murid-murid Syekh Ahmad al-Tijani, di Indonesia misalnya mensyukuri melalui peringatan Idul Khatmi Lil Qutbil Maktum Syekh Ahmad al-Tijani Ra. Seperti halnya kita berkumpul disini. Fase Pengembangan Dakwah Di Maroko, Syekh Ahmad al-Tijani dan Maulay Sulaiman (penguasa Maroko) bekerjasama dalam memerangi khurafat yang menimbulkan kebodohan, kejumudan, dan kemalasan, sampai beliau dilantik sebagai anggota Dewan Ulama. Dalam keadaan masyarakat yang demikian rusak baik secara moral maupun akidah Syekh Ahmad al-Tijani menyatakan bahwa : Pada umumnya masyarakat pada waktu itu melakukan ziarah kepada wali-wali Allah hanyalah untuk tujuan yang rusak (agrad fasidat) yakni hanya untuk mengharapkan kesenangan dan syahwat duniawi. Dalam posisi inilah Syekh Ahmad al-Tijani menetapkan batasan yang sangat ketat kepada murid-muridnya dalam melakukan ziarah kepada wali-wali Allah swt., hal ini dimaksudkan untuk memelihara kemurnian akidah dan kelurusan ibadah. Upaya Syekh Ahmad al-Tijani dalam melakukan dakwah-dakwah Islam, selain melaksanakan kerjasama dengan Maulay Sulaiman, beliau juga aktif memimpin Zawiyah di kota Fez Maroko, sampai wafatnya pada Hari Kamis tanggal 17 bulan Syawwal tahun 1230 H. Di Kota ini beliau sering dikunjungi orang-orang dari seluruh Maroko ataupun negara-negara tetangganya, dan membina orang yang berminat mendalami ajarannya, sampai melantiknya sebagai pemuka Thariqat Tijaniyah (muqaddam) di daerah masing-masing. Sampai saat menjelang wafatnya Syekh Ahmad al-Tijani tidak pernah lalai dalam melaksanakan tugas dakwahnya, beliau selalu aktif memberi petunjuk dan bimbingan kepada ummat Islam, terutama dalam membina dan mengarahkan murid beliau melalui Zawiyah yang beliau dirikan maupun melalui surat-surat yang beliau kirim keberbagai lapisan masyarakat (fukoro, masakin, agniya, pedagang, fuqaha dan umaro). Berikut sebagian kutipan surat dakwah syekh Ahmad al-Tijani: Saya berwasiat pada sendiri dan kalian semua dengan perkara yang telah diwasiatkan dan diperintahkan oleh Allah swt. Yaitu menjaga batas-batas agama, melaksanakan perintah ilahiyah dengan segenap kemampuan dan kekuatan. Sesungguhnya pada jaman sekarang, sendi-sendi pokok agama ilahi telah rapuh dan ambruk. Baik secara langsung dan global ataupun secara perlahan-lahan dan rinci. Manusia lebih banyak tenggelam dalam urusan yang mengkhawatirkan, secara ukhrawi dan duniawinya. Mereka tersesat tidak kembali dan tertidur pulas tidak terjaga. Hal ini dikarenakan berbagai persoalan yang telah memalingkan hati dari Allah swt., dan aturan-aturan (perintah dan larangannya). Pada masa dan waktu kini sudah tidak ada seorangpun yang peduli untuk mejalankan dan memenuhi perintah-perintah Allah dan persoalan-persoalan agama yang lainnya. Kecuali orang yang benar-benar marifat kepada-Nya paling tidak orang yang mendekati sifat tersebut. Wasiat ini dilatarbelakangi atas keprihatinan terhadap kemunduran ummat Islam,

baik secara akidah maupun ibadah. Sikap ini menunjukan kepedulian Syekh Ahmad al-Tijani sebagai shahibut thariqah terhadap problematika ummat Islam. Pada bagian lain dikatakan : Hendaklah kamu sekalian berusaha membiasakan bersedekah setiap hari jika mampu. Meskipun sekedar uang recehan ataupun sesuap makanan, disamping tetap menjaga pelaksaan perkara-perkara fardu yang di wajibkan dalam harta benda, seperti zakat. Sesungguhnya pertolongan Allah swt., lebih dekat kepada mereka yang selalu mengerjakan dan menjaga kewajibankewajiban yang bersifat umum/kemasyarakatan. Pada bagian lain Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan : Hendaknya kamu sekalian selalu menjaga silaturahim/menyambung tali persaudaraan dengan norma-norma yang dapat membuat hati menjadi lapang dan menimbulkan rasa kasih sayang. Meskipun hanya menyediakan waktu luang dan memberikan salam. Jauhilah sebab-sebab yang menjadikan kebencian dan permusuhan di antara sanak saudara, atau perpecahan orang tua dan segala hal yang menyulut api dendam dalam relung hati sanak saudara. Hendaklah menjauhi segala pembicaraan yang mengorek aib dan kekurangan sesama muslim. Mereka yang gemar melakukan itu, Allah swt., akan membuka aib/cacat kekurangannya dan mengoyak kekurangan-kekurangan generasi setelahnya. Wasiat ini menegaskan pentingnya membangun kepedulian sosial dan membangun keutuhan masyarakat, bangsa dan negara. Pada dasarnya, Syekh Ahmad al-Tijani tidak menginginkan seorang sufi yang hanya memusatkan perhatiannya pada kontemplasi dan zikir, dan mengabaikan masalah kemasyarakatan. Sufi, sebagaimana ditegaskan dalam pengamalan thariqat tijaniyah, harus senantiasa aktif berjuang bersama masyarakat. Demikianlah sekilas peran dakwah Syekh Ahmad al-Tijani. Lewat ajarannya, dapat dilihat bagaimana beliau memandang penting arti tampilnya seorang sufi/wali di tengah masyarakat, hal ini merupakan bentuk lain dari ketaatannya pada Allah dan Rasul-Nya. Pada masa modern ini, murid tarikat tijaniyah terus aktif melakukan dakwah Islam, di berbagai kawasan Afrika dan mereka mendirikan Zawiyah (Pesantren Sufi). Sampai sekarang mereka aktif mengembangkan dakwah Islam di Amerika, Perancis, dan Cina. Pada tahun 1987 , Syekh Idris al-Iraqi, (muqaddam zawiyah thariqat tijaniyah Fez, Maroko) berkunjung ke Indonesia, menurut pengakuannya sampai saat ini di Perancis, terdapat puluhan zawiyah (pesantren sufi) thariqat tijaniyah. Pada tahun 1985/1406 H., di Kota Fez, Maroko diselenggarakan muktamar thariqat tijaniyah dan dihadiri utusan dari 18 negara, seperti : Kerajaan Maroko, Pakistan, Tunisia, Mali, Mesir, Mauritania, Nigeria, Gana, Gambia, Gina, Pantai Gading, Sudan Senegal, Cina, Amerika Serikat, Perancis dan Indonesia. Utusan dari Indonesia adalah KH. Umar Baidhowi dan KH. Badri Masduqi. Pada pembukaan muktamar tersebut, Raja Hasan II (Raja Maroko) berkenan memberikan sambutan. Gambaran di atas menunjukan efektifitas metoda tarikat dalam pengembangan dakwah Islam. Demikianlah sekilas riwayat hidup Syekh Ahmad al-Tijani, semoga bermanfaat.

MAULANA SYEKH MUKHTAR RA Spoiler for isi: Begitu banyak tokoh islam yang kita kenal dan kita agung-agungkan selama ini, sangatlah rugi jika tokoh yang satu ini belum diletakkan pada posisi yang spesial di hati. Beliaulah Syekh Mukhtar Ra. yang lahir pada bulan Ramadlan, tepatnya malam Lailatul-Qadr tahun 1369 H. bertepatan dengan tanggal 13 Juli 1950 M. di sebuah negara yang dikenal dengan negri para nabi dan para wali serta kiblat kaum sufi, alias: Republik Arab Mesir. Jikalau masa kenabian telah berakhir dan masa kewalian masih terus menjelma, maka beliaulah seorang wali Allah itu Jikalau Rasul telah tiada dan pewarisnya akan tetap ada, maka beliaulah pewaris handal itu Jiakalu Tuhan hanya ditakuti oleh mereka yang ulama, maka beliaulah ulama terkemuka itu Jikalau zaman selalu membutuhkan imam, maka beliaulah imam zaman itu Jikalau umat selalu mengidamkan seorang penuntun dan penunjuk jalan, maka beliaulah tuntunan itu Jikalau Allah hanya memberikan yang terbaik kepada siapa yang Ia kehendaki dari hambahamba-Nya, maka beliaulah hamba pilihan itu Jikalau Allah mengutus setiap zaman seorang pembaharu, maka pada zaman ini beliaulah utusan itu Jikalau umat terpecah menjadi sekian golongan dan semua di neraka melainakn satu, maka beliaulah ketua golongan yang satu itu Jikalau kebenaran yang hakiki ada di tangan kaum sufi, maka beliaulah tuan kaum sufi itu Jikalau Tarekat Burhamiah adalah tarekat sufi terunggul sepanjang sejarah, maka beliaulah syekh tarekat itu Beliaulah Maulana Syekh Mukhtar Ra., sang mahaguru agung yang telah berhasil mencapai sukses di berbagai bidang, pertanian, peternakan, ekonomi, tekhnologi, peperangan, ketentaraan, politik dan lain sebagainya sehingga meraih berbagai gelar yang telah membuatnya menjadi milioner yang berjasa, baik bagi keluarga, agama, umat, bangsa, rakyat, masyarakat maupun dunia. Sorga beliau bertempat di sebuah daerah bernama Markaz Badr, propinsi Buhairah di Mesir, yang mana daerah tersebut dulunya bernama Ardlushshahabah yang sangat kering dan panas, dan akhirnya kini oleh beliau menjadi taman sorga yang sangat subur dan penuh kehijauan. Tanah-tanah beliau luasnya melebihi lima ratusan hektar yang dikelola dengan sempurna dan dimanfaatkan untuk menyuburkan air, dan menghijaukan bumi serta memelihara berbagai jenis

binatang, ikan, dan burung sehingga mendapat penghargaan tinggi dari mentri setempat ditambah dengan pelbagai penghargaan yang diraihnya dari luar negri setelah menunjukkan sebagian kebolehan yang beliau miliki. Beliau telah berkarir dengan baik di berbagai negara arab maupun luarnya, tak heran jika banyak yang berguru padanya, baik dalam bidang-bidang dunia maupun agama. Sawah-sawah beliau begitu banyak, luas dan subur, setiap sawah diberi nama oleh beliau dengan nama-nama para Ahlul-bait dan Aulia sehingga kesemuanya dinamakan dengan MazariulKiram (sawah-sawah milik orang-orang mulia). Disamping keistimewaan-keistimewaan yang beliau miliki itu, beliau-pun sempat mengikuti kegiatan-kegiatan spiritual yang diadakan oleh kaum sufi setempat untuk pemantapan jiwa disamping raga dan demi kesuksesan di akhirat disamping kesuksesan di dunia. Pada awalnya beliau memasuki Tarekat Rifaiah (didirikan oleh Syekh Ahmad al-Rifai Ra.) untuk bersuluk demi mencapai ridho-Nya, kemudian pindah ke Tarekat Ahmadiah (didirikan oleh Syekh Ahmad al-Badawi Ra.) dan akhirnya berguru pada seorang ulama dan wali Allah tertinggi pada waktu itu (setelah menemukannya), ialah Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani Ra. (Syekh Tarekat Burhamiah) asal Sudan. Allah memang maha berkehendak Ia telah menghendaki yang terbaik untuk hamba-Nya itu Maulana Syekh Mukhtar Ra. telah dipilih oleh-Nya sebagai seorang wali yang telah sampai kepada maqam-maqam tertinggi, maqam Ihsan, maqam Hakikat, maqam Makrifat billah, maqam Wali Mursyid, maqam Imam Zaman, maqam Warits Muhammadi, maqam al-Gauts dan maqam Musyahadah Ilahiah. Siapapun diberikan maqam-maqam dan derajat-derajat itu oleh Allah Wwt. maka ia adalah Waliyyullah tertinggi pada zamannya. Setelah Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani Ra. meninggal dunia pada tahun 1983 M., maka Maulana Syekh Mukhtar Ra. mulai duduk di atas kursi kemahaguruan, membimbing umat ke jalan yang benar, memimpin tarekat sufi terunggul itu, Tarekat Burhamiah Abna Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani, yang didirikan oleh salah seorang wali kutub bernama Syekh Ibrahim al-Dusqi Ra. yang meninggal dunia pada tahun 696 H. / 1296 M. Dengan izin dan rahmat Allah, Maulana Syekh Mukhtar Ra. menjadi seorang ulama yang sangat berjasa besar bagi umat islam, dengan segala keahlian yang beliau miliki dalam bidang-bidang agama (Aqidah, Fiqh, Tasawuf, Tafsir, Hadits, Sejarah islam dan lain-lain) begitu juga dalam bidang-bidang dunia seperti kimia, fisika, kedokteran, matematika, bahasa, sastra dan lain sebagainya. Semua itu tentunya adalah pemberian percuma dari yang Maha Esa, dan tiada mustahil jika Ia menghendakinya. Hanya saja, Tawadlu dan Khafa beliau sungguh tak tertandingi !! karenanya, tidak semua orang mudah dan cepat mempercayai keistimewaan yang beliau punya !! Murid-murid beliau hari demi hari semakin bertambah datang dari berbagai penjuru dunia (Malaysia, India, Saudi, Kuwait, Indonesia, Bosnia, Turki, Makdonia, Yogoslavia, Amerika, Syiria, Libiya, Oman dan lain sebagainya) hanya untuk berguru pada beliau dan bernaung di bawah naungan beliau dengan memasuki tarekat beliau dan bersuluk dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

Oleh karena ilmu dan hikmah yang beliau terima dari-Nya begitu luas, banyak dan tak terhingga, maka sebagian dari tanah-tanah milik beliau dimanfaatkan untuk membuat majlis talim dan majlis zikir serta aula untuk mengadakan seminar-seminar bermanfaat yang dihadiri oleh lautan manusia (murid-murid setia beliau). Pada majlis-majlis itu bersinarlah hikmah-hikmah yang beliau miliki. Beliau aktif menyampaikan ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu yang sungguh memberikan futuhat bagi siapa saja yang mau menerimanya. Ajaran-ajaran beliau (dari awal sampai akhir) tidak kontradiksi sedikitpun dengan ajaran-ajaran islam yang murni, walau sebagian besar dari ajaran-ajaran beliau bersifat baru dan belum pernah didengar sebelumnya, namun beliau mampu mendatangkan dalil-dalil yang kuat, ilmiah, logis dan naqli dari nash-nash yang sudah baku untuk membenarkan semua ajaran yang beliau bawa. Memanglah beliau tidak pernah sempat duduk di bangku al-Azhar atau universitas islam lainnya, tapi dengan berbondong-bondongnya para ulama Azhar dan ulama manapun lainnya menuntut ilmu dari beliau, merupakan salah satu tanda bahwa ilmu-ilmu beliau begitu luas dan banyak, kealiman beliau bersifat laduni dan kewalian beliau belum pernah dijangkau oleh siapapun wali yang ada. Lebih-lebih setelah menimbang dan memperhatikan bahwasanya negara Mesir adalah kiblat kaum sufi yang padanya berkembang banyak tarekat sufi dan mayoritas rakyatnya bertasawuf dan bertarekat, maka pemerintah Mesir telah menetapkan untuk mendirikan sebuah majlis formal yang bertanggung jawab mengkoordinir semua tarekat sufi yang ada dan berkembang di Mesir, sekaligus mengkoordinir kegiatan-kegiatan yang berlangsung serta segala aktivitas yang dilaksanakan oleh tarekat-tarekat sufi itu. Majlis tersebut dinamakan Majlis Ala Liththuruq Ashshufiyyah atau Majlis Shufi Ala (Majlis Sufi Tertinggi) yang diketuai oleh salah seorang ulama dan pembesar universitas al-Azhar sekaligus Syekh Tarekat Syennawiah: Syekh Hasan al-Syennawi. Majlis tersebut telah menetapkan bahwasanya Tarekat Burhamiah Abna Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani yang dipimpin oleh Maulana Syekh Mukhtar Ra. dan berkembang di Mesir dan di negara-negara lainnya adalah merupakan tarekat sufi yang telah terdaftar resmi dalam Majlis Sufi tersebut dan diakui membawa ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu yang benar dan tidak sesat. Lebih-lebih salah satu markaz tarekat ini terletak berdekatan dengan universitas al-Azhar Kairo (perguruan tinggi islam terbesar di dunia) dan juga berdekatan dengan maqam Imam al-Husain Ra. (cucu Rasulullah saw.). Pada tanggal 4 April 2005 M. dilangsungkan acara muktamar sufi pertama sedunia yang dihadiri oleh Syekh Hasan al-Syennawi (ketua Majlis Sufi Tertinggi di Mesir), Prof.Dr.Ahmad Umar Hasyim (mantan rektor al-Azhar), Dr.Mahmud Asyur (wakil al-Azhar) dan banyak lagi ulamaulama Azhar lainnya ikut menghadiri muktamar sufi tersebut, acara tersebut juga dihadiri oleh banyak ulama dari luar negri seperti India, Malaysia, Indonesia, Kuwait, Saudi, Turkia dan lainlain, sehingga muktamar sufi tersebut terkesan sangat besar karena dihadiri oleh ribuan bahkan jutaan manusia dari berbagai negara, berbagai tarekat sufi, berbagai organisasi maupun berbagai universitas islam khususnya al-Azhar. Yang lebih penting dari itu semua adalah: muktamar sufi tersebut berlangsung di markaz Tarekat Burhamiah Abna Syekh Muhammad Utsman Abduh alBurhani, di propinsi al-Buhairah Mesir. Sehingga Maulana Syekh Mukhtar Ra. mendapatkan penghargaan istimewa dari Majlis Sufi Tertinggi Mesir karena bersedia meminjamkan aulanya

untuk muktamar sufi tersebut dan besedia memberikan layanan terbaik kepada para ulama dan masyaikh yang hadir serta sanggup memberi makan siang yang lebih dari sederhana kepada seluruh hadirin yang jumlahnya berjuta-juta itu. Syekh Hasan al-Syennawi sebagai ketua Majlis Sufi Tertinggi di Mesir senantiasa mendampingi Maulana Syekh Mukhtar Ra. dan bertanya pada beliau tentang banyak hal yang berkaitan dengan aqidah, hukum-hukum islam, maupun metode tasawuf dan suluk. Demikian pula para dosen, ulama dan tokoh-tokoh yang ada di Mesir maupun di luarnya, mayoritas dari mereka berguru pada Maulana Syekh Mukhtar Ra. padahal beliau sendiri tidak pernah duduk di bangku al-Azhar maupun bangku perguruan-perguruan islam lainnya !! Selanjutnya setelah melalui berbagai perjuangan mulia, beliau berhasil menjadikan tarekat beliau sebagai tarekat sufi terbesar dan terbanyak pengikutnya, baik di Mesir maupun di seluruh dunia. Pada tanggal 10 Ramadlan 1426 H. di samping masjid Imam al-Husain Ra., Syekh Hasan alSyennawi sempat memuji Maulana Syekh Mukhtar Ra. di hadapan banyak orang dengan perkataannya: Saya berterima kasih kepada Syekh Mukhtar karena beliau adalah orang yang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan dan pendidikan tasawuf di Mesir maupun di luarnya, disebabkan karena ilmunya yang sangat banyak, luas dan bermanfaat. Disamping berdakwah dengan lisan dan dakwah bil-hal, Maulana Syekh Mukhtar Ra. dalam menyebarkan ilmu-ilmunya juga telah menulis banyak makalah dan artikel yang dimuat dalam berbagai media masa di Mesir seperti majalah Attashawwuf al-Islami, surat kabar ShautulUmmah, surat kabar al-Fajr, koran al-Ahram, koran al-Buhairah wal-Aqalim dan lain-lain. Metode beliau dalam berdakwah sangat indah, beliau menggunakan metode tasawuf modern yang sesuai zaman dan mengkhitab hati dengan penuh ketajaman dan kebijaksanaan serta mampu merubah kemunkaran dengan tangan, hati maupun lisan. Segala jenis ilmu yang beliau miliki adalah bersifat laduni, diterima secara langsung dari Allah Swt. dan itu tidaklah mustahil sebagaimana halnya para nabi dan para wali terdahulu dalam menerima ilmu-ilmu yang benar dan bermanfaat bagi umat. Tarekat yang beliau pimpin adalah salah satu dari sejumlah tarekat sufi yang mutabar dalam islam karena tarekat beliau (Tarekat Burhamiah) digagas oleh seorang wali Allah yang tidak diragukan lagi yaitu Syekh Ibrahim al-Dusuqi Ra. yang lahir di Mesir pada tahun 653 H. / 1255 M. Beliau adalah salah seorang dari keempat wali kutub yang masyhur : 1- Syekh Ahmad al-Rifai Ra. (pendiri Tarekat Rifaiah), 2- Syekh Abdul-Qadir al-Jailani Ra. (pendiri Tarekat Qadiriah), 3- Syekh Ahmad al-Badawi Ra. (pendiri Tarekat Ahmadiah), dan 4- Syekh Ibrahim al-Dusuqi Ra. (pendiri Tarekat Burhamiah). Keterangan tersebut dapat dirujuk pada :

1. Kitab al-Ayatuzzahirah fi Manaqibil-Auliya wal-Aqthabil-Arbaah oleh Syekh Mahmud alGhirbawi. 2. Kitab Qiladatul-Jawahir fi Zikril-Gautsirrifai wa Atbaihil-Akabir oleh Syekh Abul-Huda alShayyadi al-Khalidi Ra. 3. Kitab Farhatul-Ahbab fi Akhbaril-Arbaatil-Aqthab oleh Syekh Abul-Huda al-Shayyadi alKhalidi Ra. 4. dan lain-lain. Syekh Ibrahim al-Dusuqi Ra. diakui kealiman dan kewaliannya oleh seluruh ulama dan auliya yang ada sejak zaman dahulu kala sampai kiamat tiba, keramat-keramat beliau amat banyak dan nyata, ilmu-ilmu beliau sangat luas bagaikan samudra. Kitab-kitab yang menerangkan biografi beliau antara lain : 1. Syaikhul-Islam al-Dusuqi Quthbusysyariah wal-Haqiqah oleh Syekh Rajab al-Thayyib alJafari. 2. Alamul-Aqthab al-Haqiqi Sidi Ibrahim al-Dusuqi oleh Syekh Abdurrazzaq al-Kanj. 3. Lisanuttarif bihalil-Waliyyisysyarif oleh Syekh Jalaluddin al-Kurki Ra. 4. Abul-Ainain al-Dusuqi oleh Syekh Abdul-Al Kahil. 5. Jami Karamatil-Auliya oleh Syekh Yusuf al-Nabhani Ra. 6. al-Arif Billah Sidi Ibrahim al-Dusuqi oleh Syekh Sad al-Qadli. 7. Biharul-Wilayah al-Muhammadiah fi Manaqib Alamishshufiah oleh Syekh Jodah al-Mahdi. 8. Nailul-Khairat al-Malmusah oleh Syekh Said Abul-Asad. 9. Aththabaqatul-Kubra oleh Syekh Abdul-Wahhab al-Syarani Ra. 10. Assayyid Ibrahim al-Dusuqi oleh Syekh Ahmad Izzuddin. 11. Sidi Ibrahim al-Dusuqi oleh Syekh Abduttawwab Abdul-Aziz. 12. dan lain-lain. Setelah Syekh Ibrahim al-Dusuqi Ra. wafat pada tahun 696 H. / 1296 M. tarekat beliau dipimpin oleh adik beliau sendiri: Syekh Musa Abul-Imran Ra. kemudian diteruskan lagi oleh Syekh Ahmad Arabi al-Syarnubi Ra. kemudian Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani Ra. dan kini Tarekat Burhamiah diimami oleh Maulana Syekh Mukhtar Ra. Dengan demikian maka

silsilah Tarekat Burhamiah Abna Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani dapat dirincikan sebagai berikut : 1. Rasulullah Saw. 2. Imam Abu Bakr al-Shiddiq Ra. 3. Imam Umar bin al-Khattab Ra. 4. Imam Utsman bin Affan Ra. 5. Imam Ali bin Abi Thalib Ra. 6. Siti Fathimah al-Zahra Ra. 7. Imam al-Hasan Ra. 8. Imam al-Husain Ra. 9. Siti Zainab Ra. 10. Imam Ali Zainal-Abidin Ra. 11. Syekh Ahmad al-Rifai Ra. 12. Syekh Abdul-Qadir al-Jailani Ra. 13. Syekh Ahmad al-Badawi Ra. 14. Syekh Abdussalam bin Basyisy Ra. 15. Syekh Abul-Hasan al-Syazuli Ra. 16. Syekh Abdul-Aziz Abul-Majd Ra. 17. Siti Fathimah al-Syazuliah Ra. 18. Syekh Ibrahim al-Dusuqi Ra. 19. Syekh Musa Abul-Imran Ra. 20. Syekh Ahmad Arabi al-Syarnubi Ra. 21. Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani Ra. 22. Maulana Syekh Mukhtar Ra.

Adapun metode suluk dan zikir dalam tarekat ini, sungguh merupakan metode tasawuf dan suluk yang luar biasa, cocok untuk siapa saja, maklum tarekat papan atas yang mengepalai semua tarekat sufi yang ada. Tarekat Burhamiah tidak diragukan lagi sebagai tarekat induk sebagaimana ketiga tarekat induk sebelumnya (Rifaiah, Qadiriah dan Ahmadiah) yang menjadi gabungan antara semua tarekat terdahulu sampai kiamat tiba, semenjak zaman Rasul, Imam Abu Bakr dan Imam Ali, kemudian Imam al-Junaid, sampai munculnya Imam al-Mahdi. Disamping kehadiran Burhamiah untuk membasmi kejahilan, kebathilan, kekotoran jiwa, kesesatan, kebejatan, kekejian, kemunkaran, kejahatan, kekolotan dan kebekuan maupun keterbelakangan, Burhamiah juga mampu membawa rohani kepada yang termulia, menaklukkan makhluk-makhluk halus yang menggoda, mengusir Iblis yang durjana, memuliakan prilaku dan tata krama, dan menyelamatkan dari dunia sampai akhir masa, dengan menyuguhkan wirid-wirid ampuhnya dan amalan-amalan dahsyatnya. Seorang pelajar asal Malaysia bernama Muhammad Fadhil (kelahiran 1976) berguru pada seorang guru buta di Malaysia namun merupakan wali berkelas tinggi yang disegani umat pada masanya. Sebelum sang guru meninggal dunia, ia memberi wasiat kepada sang murid: Pergilah kamu ke Mesir, di sana kamu akan menemukan Imam Zaman, dan berpuasalah selama 40 hari berturut-turut agar kamu berhasil menemukannya !! Setelah tiba di Mesir dan berpuasa selama 40 hari, tepat pada hari ke-40 ia menjumpai salah seorang mursyid Tarekat Burhamiah bernama Syekh Shafwat di sebuah bis umum yang kemudian menujukinya kepada Maulana Syekh Mukhtar Ra. Setelah mendengarkan ilmu-ilmunya dan terpukau oleh kehebatannya, tanpa keraguan sedikitpun ia berkata: Inilah Imam Zaman itu !! Kini Syekh Muhamamd Fadhil menjadi mursyid utama dan khalifah terkemuka (Naib Am) Tarekat Burhamiah untuk negara kerajaan Malaysia. Sebagai penutup, kami menyeru kepada segenap umat islam (laki maupun perempuan, tua maupun muda) untuk sama-sama mencari dan menyebarkan kebenaran yang hakiki di bawah naungan Maulana Syekh Mukhtar Ra. dan bersama menikmati indahnya agama islam, indahnya Quran, indahnya cinta Rasul dan cinta Ahlul-Bait, indahnya tasawuf dan tarekat, indahnya wirid, hizib, zikir dan selawat, indahnya ilmu dan amal, serta indahnya hidup dan mati. Segala keindahan, kenikmatan, ketentraman, kebahagiaan, ketenangan dan kebenaran akan kita raih di bawah naungan beliau. Jangan ragu-ragu Segera hubungi kami !!

Abu al-Abbas al-Mursi (khalifah terbesar thariqah syadziliyah) Spoiler for isi: Nama dan Nasabnya : Wali Qutb kita ini adalah al-Imam Syihabuddin Abu al-Abbas, Ahmad bin Umar al-Anshory, alMursi radiallahu 'anhu. sebagian ahli sejarah ada yang mengatakan bahwa nasab beliau sampai pada sahabat Sa'ad bin Ubadah radiallahu 'anhu pemimpin suku Khazraj. Al-Mursi dilahirkan tahun 616 H (1219 M) di kota Marsiyyah, salah satu kota di Andalus Spanyol.

Masa kanak-kanak al-Mursi Al-Mursi melewatkan masa kecilnya yang penuh berkah di tanah kelahirannya itu. Lazimnya seorang alim dan pendidik, ayahnya mengirim al-Mursi kecil kepada salah satu waliyullah untuk membimbing menghapal Alquran dan mengajarinya ilmu-ilmu agama. Secepat kilat ia terlihat kehebatan dan kecerdasannya. Lebih dari itu ia yang masih sekecil itu telah memperoleh anugrah Allah berupa cahaya ilahi yang merasuk dalam kalbunya. Suatu ketika al-Mursi bercerita : "Ketika aku masih usia kanak-kanak aku mengaji pada seorang guru. Aku menorehkan coretan pada papan. Lalu guru tadi mengatakan :" seorang sufi tidak pantas menghitamkan yang putih". Seketika aku menjawab : "permasalahannya bukan seperti yang Tuan sangka. Tapi yang benar adalah seorang sufi tidak pantas menghitamkan putihnya lembaran hidup dengan noda dan dosa. Al-Mursi kecil juga mengatakan: "ketika aku masih kanak-kanak, di sebelah rumahku ada tukang penguak rahasia (peramal) lalu aku mendekatinya. Besoknya aku datang ke guruku yang termasuk waliyullah. Maka guruku itu mengatakan padaku satu syair: Wahai orang yang melihat peramal sembari terkesima. Dia sendiri sebetulnya peramal, kalau dia merasa. Masa muda Al-Mursi meneruskan hidupnya pada jalan cahaya ilahi sampai menginjak dewasa. Semakin hari semakin tambah ketakwaan dan keimanannya. Ayahnya melihatnya sebagai kebanggaan tersendiri. Maka dia dipercaya oleh ayahnya untuk mengelola perdagangannya bersama saudaranya Muhammad Jalaluddin. Dengan begitu, ia telah mengikuti jejak orang-orang saleh dalam hal menggabungkan antara ibadah dan mencari rizqi. Demi menjaga amanat ini ia rela berpindah-pindah tempat dari kota Marsiyah ke kota lainnya untuk berniaga, sambil hatinya berdetak mengingat Allah SWT. Pada tahun 640 H kedua orang tuanya bersama seluruh keluarga berkeinginan menunaikan ibadah haji. Tapi sayang, takdir berbicara lain. Sesampainya di pesisir Barnih, kapal mereka terkena gelombang. Banyak penumpang kapal yang meningal termasuk kedua orang tuanya. Singkat cerita al-Mursi muda dan saudaranya melanjutkan perjalannya ke Tunis untuk berdagang, meneruskan usaha ayahya. Pertemuan dengan al-Syadziliy Al-Mursi menceritakan perjumpaannya dengan Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzily sebagai berikut: "Ketika aku tiba di Tunis, waktu itu aku masih muda, aku mendengar akan kebesaran Syaikh Abu al-Hasan. Lalu ada seseorang yang mengajakku menghadap beliau. Maka aku jawab : "aku mau beristikharah dulu"! Setelah itu aku tertidur dan bermimpi melihat seorang lelaki yang mengenakan jubah (Burnus) hijau sambil duduk bersila. Di samping kanannya ada seorang laki-laki begitu juga di samping kirinya. Aku memandangi lelaki nan berwibawa itu. sejurus kemudian lelaki itu berkata : "aku telah menemukan penggantiku sekarang"! Di saat itulah aku terbangun. Selesai menunaikan sholat subuh, seseorang yang mengajakku mengunjungi Syaikh Abu alHasan datang lagi. Maka kami berdua pergi ke kediaman Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzili. Aku heran begitu melihatnya. Syekh yang ada di hadapanku inilah yang aku lihat dalam mimpi. Dan keherananku semakin menjadi ketika Syekh Abul Hasan berkata padaku: "Telah aku temukan penggantiku sekarang". Persis seperti dalam mimpiku. Selanjutnya beliau bilang : "siapa

namamu ?" Lalu aku sebutkan namaku. Dengan tenang dan penuh kewibawaan beliau berujar : "Engkau telah ditunjukkan padaku semenjak 20 tahun yang lalu!". Semenjak kejadian itu al-Mursi terus mendapatkan wejangan-wejangan dari gurunya Syaikh Abu al-Hasan ini. Mereka berdua membangun pondok (Zawiyyah) Zaghwan di daerah Tunis, di mana as-Syadzili menyebarkan ilmu kepada murid-murid-muridnya yang beraneka ragam latar belakang dan profesinya. Ada dari kalangan ulama', pedagang juga orang awam. Syaikh al-Syadzili sebetulnya sudah lama meninggalkan Tunis. Ia pergi ke Iskandariyah kemudian ke Mekkah. Kembalinya ke Tunis lagi ini membuat orang bertanya-tanya. Dalam hal ini dia menjawab : "Yang membuatku kembali lagi ke Tunis tidak lain adalah laki-laki muda ini (maksudnya Abul 'Abbas al-Mursi)". Setelah itu Al-Syadzily kembali lagi ke Iskandariah, karena ada perintah dari Nabi Muhammad SAW dalam mimpinya. Ada cerita dari al-Mursi tentang perjalanan ke Iskandariah ini : "Ketika aku menemani Syaikh dalam perjalanan menuju ke Iskandariah, aku merasa sangat susah sehingga aku tidak mampu menanggungnya. Lalu aku menghadap Syaikh. Ketika beliau melihat penderitaanku ini, beliau berkata: "Hai Ahmad!", aku menjawab: "Iya tuanku", Beliau berkata: "Allah telah menciptakan Adam alaihis salam dengan tangan-Nya, dan memerintahkan malaikat-Nya untuk bersujud padanya. Allah kemudian menempatkannya di dalam surga, lalu menurunkannya ke bumi,. Demi Allah Allah tidak menurunkannya ke bumi untuk mengurangi derajatnya, tapi justru untuk menyempurnakannya. Allah telah menggariskan penurunannya ke bumi sebelum Dia menciptakannya, sebagaimana firmannya "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".. (QS. 2:30). Allah tidak mengatakan di langit atau di surga. Maka turunnya Adam ke bumi adalah untuk memuliakannya bukan untuk merendahkannya, karena Adam menyembah Allah di surga dengan di beri tahu (Ta'rif) lalu diturunkan ke bumi supaya beribadah pada Allah dengan kewajiban (Taklif), ketika dia telah mendapatkan kedua ibadah tadi, maka pantaslah dia menyandang gelar pengganti (Khalifah). Engkau ini juga punya kemiripan dengan Adam. Mula-mula kamu ada di langit ruh, di surga pemberitahuan (Ta'rif) lalu engkau diturunkan ke bumi nafsu supaya engkau menyembah dengan kewajiban (Taklif). Ketika engkau telah sempurna dalam kedua ibadah itu pantaslah engkau menyandang gelar pengganti (Khalifah)". Begitulah Syaikh Al-Syadzili mengantarkan Al-Mursi menuju ke jalan Allah demi memenuhi hatinya dengan rahasia-rahasia ilahiyah supaya kelak bisa menggantikannya, bahkan bisa dikatakan supaya dia jadi Abu al-Hasan itu sendiri. Sebagaimana Al-Syadzili sendiri pernah mengatakan : "Wahai Abu al-Abbas demi Allah., aku tidak mengangkatmu sebagai teman kecuali supaya kamu itu adalah saya, dan saya adalah kamu. Wahai Abu al-Abbas.. demi Allah, apa yang ada dalam diri para wali itu ada dalam dirimu, tapi yang ada pada dirimu itu tidak ada dalam diri para wali lainnya". Persatuan antara keduanya ini di jelaskan oleh Ibn Atho'illah al-Askandari: "Suatu ketika Syaikh al-Syadzili ada di rumah Zaki al-Sarroj, sedang mengajar kitab al-Mawaqif karangan al-Nafari, lalu beliau bertanya: "Kemana Abu al-Abbas?" Ketika Syaikh al-Mursi datang, beliau berkata: "Wahai anakku bicaralah! Semoga Allah memberkahimu bicaralah ! jangan diam", maka Syaikh Abu al-Abbas mengatakan: "Lalu aku di beri lidah Syaikh mulai saat itu". Pada banyak kesempatan Syaikh al-Syadzili memuji ketinggian kedudukan Syaikh al-Mursi,

beliau mengatakan: "Inilah Abu al-Abbas, semenjak dia sampai pada ma'rifatullah tidak ada halangan antara dirinya dan Allah SWT. Kalau saja dia meminta untuk ditutupi, pasti permintaan itu tidak akan dikabulkan. Ketika ada perselisihan antara Syaikh al-Mursi dengan Syaikh Zakiyyuddin al-Aswani, Syaikh al-Syadzili bekata: "Wahai Zaki berpeganglah pada Abu al-Abbas, karena demi Allah, semua wali telah ditunjukkan oleh Allah akan diri Abu al-Abbas ini. Hai Zaki Abu al-Abbas itu seorang laki-laki yang sempurna". Hal yang sama juga terjadi ketika ada perselisihan antara Syaikh al-Mursi dengan Nadli bin Sulton. Syaikh al-Syadzily mengatakan: "Wahai Nadli tetaplah bersopan santun pada Abu alAbbas! Demi Allah, dia itu lebih tahu lorong-lorong langit, dibanding pengetahuanmu akan lorong-lorong kota Iskandariah"! As-Syadzili juga mengatakan: "Kalau aku mati, maka ambillah al-Mursi, karena dia adalah penggantiku, dia akan mempunyai kedudukan tinggi di hadapan kalian, dan dia adalah salah satu pintu Allah". Ilmu al-Mursi Imam Sya'roni menceritakan bahwa suatu ketika ada seseorang yang mengingkari keilmuan Syaikh al-Mursi. Orang tersebut mengatakan: "berbicara tentang ilmu yang ada itu hanya ilmu lahir, tetapi mereka, orang-orang sufi itu mengaku mengetahui hal-hal yang diingkari oleh syara'". Di kesempatan yang lain orang ini menghadiri majlis Syaikh al-Mursi. Tiba-tiba dia jadi bingung hilang kepintarannya. Seketika itu juga ia tidak mengingkari adanya ilmu batin. Dengan sadar dan penuh sesal ia berkata : "Laki-laki ini sungguh telah mengambil lautan ilmu Tuhan dan tangan Tuhan". Akhirnya dia menjadi salah satu murid dekat al-Mursi. Abu al-Abbas mengatakan : "Kami orang-orang sufi mengkaji dan mendalami bersama ulama' fiqih bidang spesialisai mereka, tapi mereka tidak pernah masuk dalam bidang spesialis kami". Rupanya kealiman al-Mursi tidak terbatas pada ilmu fiqh dan tasawuf. Ibnu Atho'illah menceritakan dari Syaikh Najmuddin al-Asfahani : Syaikh Abu al-Abbas berkata padaku: "Apa namanya ini dan itu dalam bahasa asing?" Tersirat dalam hatiku bahwa Syaikh ingin mengetahui bahasa ajam maka aku ambilkan kamus terjemah. Beliau bertanya: " Kitab apa ini?", Aku jawab : "Ini kitab kamusnya". Lalu Syaikh tersenyum dan berkata: " Tanyakan padaku apa saja, terseserah kamu, nanti aku jawab dengan bahasa arab, atau sebaliknya". Lalu aku bertanya dengan bahasa asing dan beliau menjawab dengan memakai bahasa Arab. Kemudian aku bertanya dengan bahasa Arab, beliau menjawab dengan bahasa asing. Beliau berkata: " Wahai Abdullah ketika aku bertanya seperti itu tidak lain adalah sekedar basa-basi bukan bertanya sesungguhnya. Bagi wali tidak ada yang sulit, bahasa apapun itu. Dalam penafsiran ayat "Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan. "(QS. 1:5), al-Mursi menafsiri sebagai berikut, "Hanya Engkaulah yang kami sembah maksudnya adalah Syariah, dan hanya kepada-Mulah kami memohon adalah Haqiqoh. Hanya Engkaulah yang kami sembah adalah Islam, dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan adalah Ihsan. Hanya Engkaulah yang kami sembah adalah Ibadah, dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan adalah Ubudiyyah. Hanya Engkaulah yang kami sembah adalah Farq, dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan adalah Jam'. Karomah Kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa menyebabkan ia banyak mempunyai

karomah, di antaranya: * Al-Mursi telah mengabarkan siapa penggantinya setelah ia meninggal. Orang itu adalah Syaikh Yaqut al-Arsyi yang lahir di negeri Habasyah. Suatu ketika ia meminta murid-muridnya agar membuat A'sidah (sejenis makanan). Iskandariah pada saat itu tengah musim panas. Karena heran ada seseorang yang bertanya : "Bukankah A'sidah itu untuk musim dingin ?". Dengan tenang al-Mursi menjawab : " A'sidah ini untuk saudara kalian Yaqut orang Habasyah. Dia akan datang kesini ". * Ada seseorang yang datang menghadap al-Mursi dengan membawa makanan syubhah (tidak jelas halal-haramnya) untuk mengujinya. Begitu melihat makanan itu al-Mursi langsung mengembalikannya pada orang tersebut sambil berkata: "Kalau al-Muhasibi hendak mengambil makanan syubhah otot tangannya bergetar, maka 60 otot tanganku akan bergetar" . * Pada suatu masa perang, penduduk Iskandariah semua mengangkat senjata untuk berjaga-jaga menghadapi serangan musuh. Demi melihat hal ini, Syaikh al-Mursi mengatakan: " Selama aku ada ditengah-tengah kalian, maka musuh tidak akan masuk". Dan memang musuh tidak masuk ke Iskandariah sampai Abu-al Abbas al-Mursi meninggal dunia.

DZUNNUN al-Misry (Sang wali yang haus hikmah) Spoiler for isi: Sufi agung yang memberikan kontribusi besar terhadap dunia pemahaman dan pengamalan hidup dan kehidupan secara mendalam antara makhluk dengan sang pencipta, makhluk dan sesama ini mempunyai nama lengkap al-Imam al-A'rif al-Sufy al-Wasil Abu al-Faidl Tsauban bin Ibrahim, dan terkenal dengan Dzunnun al-Misry. Kendati demikian besar nama yang disandangnya namun tidak ada catatan sejarah tentang kapan kelahirannya. Perjalanan menuju Mesir Waliyullah yang bangga dan dibanggakan oleh Mesir ini berasal dari Nubay (satu suku di selatan Mesir) kemudian menetap di kota Akhmim (sebuah kota di propinsi Suhaj). Kota Akhmin ini rupanya bukan tempat tinggal terakhirnya. Sebagaimana lazimnya para sufi, ia selalu menjelajah bumi mensyiarkan agama Allah mencari jati diri, menggapai cinta dan ma'rifatulah yang hakiki. Suatu ketika dalam perjalanan yang dilalui kekasih Allah ini, ia mendengar suara genderang berima rancak diiringi nyanyi-nyanyian dan siulan khas acara pesta. Karena ingin tahu apa yang terjadi ia bertanya pada orang di sampingnya : "ada apa ini?". Orang tersebut menjawab : Itu sebuah pesta perkimpoian. Mereka merayakannya dengan nyanyi-nyanyian dan tari-tarian yang diiringi musik ". Tidak jauh dari situ terdengar suara memilu seperti ratapan dan jeritan orang yang sedang dirundung duka. "Fenomena apa lagi ini ?" begitu pikir sang wali. Iapun bertanya pada orang tadi. Dengan santai orang tersebut menjawab : "Oh ya, itu jeritan orang yang salah satu anggota keluarganya meningal. Mereka biasa meratapinya dengan jeritan yang memekakkan telinga ". Di sana ada suka yang dimeriahkan dengan warna yang tiada tara. Di sini ada duka yang diratapi habis tak bersisa. Dengan suara lirih, ia mengadu : "Ya Allah aku tidak mampu mengatasi ini. Aku tidak sanggup berlama-lama tinggal di sini. Mereka diberi anugerah tidak pandai bersyukur. Di sisi lain mereka diberi cobaan tapi tidak bersabar ". Dan dengan hati yang pedih ia tinggalkan kota itu menuju ke Mesir (sekarang Kairo).

Perjalanan ke dunia tasawuf Banyak cara kalau Allah berkehendak menjadikan hambanya menjadi kekasihnya. Kadang berliku penuh onak dan duri. Kadang lurus bak jalan bebas hambatan. Kadang melewati genangan lumpur dan limbah dosa. Tak dikecualikan apa yang terjadi pada Dzunnun al-Misri. Bukan wali yang mengajaknya ke dunia tasawuf. Bukan pula seorang alim yang mewejangnya mencebur ke alam hakikat. Tapi seekor burung lemah tiada daya. Pengarang kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah bercerita bahwa Salim al-Maghriby menghadap Dzunnun dan bertanya "Wahai Abu al-Faidl !" begitu ia memanggil demi menghormatinya "Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah SWT ? ". "Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu". Begitu jawab al-Misri seperti sedang berteka-teki. Al-Maghriby semakin penasaran "Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakan padaku" lalu Dzunnun berkata : "Suatu ketika aku hendak keluar dari Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Coba bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya. Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji. Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkum berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad : "Cukup aku sekarang bertaubat dan total menyerahkan diri pada Allah SWT. Akupun terus bersimpuh di depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha Asih berkenan menerimaku". Perjalanan ruhaniah Ketika si kaya tak juga kenyang dengan bertumpuknya harta. Ketika politisi tak jua puas dengan indahnya kursi. Maka kaum sufipun selalu haus dengan kedekatan lebih dekat dengan Sang Kekasih sejati. Selalu ada kenyamanan yang berbeda. Selalu ada kebahagiaan yang tak sama. Maka demikianlah, Dzunnun al-Misri tidak puas dengan hikmah yang ia dapatkan dari burung kecil tak berdaya itu. Baginya semuanya adalah media hikmah. Batu, tumbuhan, wejangan para wali, hardikan pendosa, jeritan kemiskinan, rintihan orang hina semua adalah hikmah. Suatu malam, tatkala Dzunnun bersiap-siap menuju tempat untuk ber-munajat ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang nampaknya baru saja mengarungi samudera kegundahan menuju ke tepi pantai kesesatan. Dalam senyap laki-laki itu berdoa "Ya Allah Engkau mengetahui bahwa aku tahu ber-istighfar dari dosa tapi tetap melakukannya adalah dicerca. Sungguh aku telah meninggalkan istighfar, sementara aku tahu kelapangan rahmatmu. Tuhanku Engkaulah yang memberi keistimewaan pada hamba-hamba pilihan-Mu dengan kesucian ikhlas. Engkaulah Zat yang menjaga dan menyelamatkan hati para auliya' dari datangnya kebimbangan. Engkaulah yang menentramkan para wali, Engkau berikan kepada mereka kecukupan dengan adanya seseorang yang bertawakkal. Engkau jaga mereka dalam pembaringan mereka, Engkau mengetahui rahasia hati mereka. Rahasiaku telah terkuak di hadapan-Mu. Aku di hadapan-Mu adalah orang lara tiada asa ". Dengan khusyu' Dzunnun menyimak kata demi kata rintihan orang tersebut. Ketika dia kembali memasang telinga untuk mengambil hikmah di balik ratapan lelaki itu, suara itu perlahan menghilang sampai akhirnya hilang sama sekali di telan gulitanya sang malam namun menyisakan goresan yang mendalam di hati sang wali ini. Di saat yang lain ia bercerita pernah mendengar seorang ahli hikmah di lereng gunung

Muqottom. " Aku harus menemuinya " begitu ia bertekad kemudian. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan iapun bisa menemukan kediaman lelaki misterius. Selama 40 hari mereka bersama, merenungi hidup dan kehidupan, memaknai ibadah yang berkualitas dan saling tukar pengetahuan. Suatu ketika Dzunnun bertanya : "Apakah keselamatan itu?". Orang tersebut menjawab "Keselamatan ada dalam ketakwaan dan al-Muroqobah (mengevaluasi diri)". "Selain itu ?". pinta Dzunnun seperti kurang puas. "Menyingkirlah dari makhluk dan jangan merasa tentram bersama mereka!". "Selain itu ?" pinta Dzunnun lagi. "Ketahuilah Allah mempunyai hamba-hamba yang mencintai-Nya. Maka Allah memberikan segelas minuman kecintaan. Mereka itu adalah orang-orang yang merasa dahaga ketika minum, dan merasa segar ketika sedang haus". Lalu orang tersebut meninggalkan Dzunnun al-Misri dalam kedahagaan yang selalu mencari kesegaran cinta Ilahi. Kealiman Dzunnun al-Misri Betapa indahnya ketika ilmu berhiaskan tasawuf. Betapa mahalnya ketika tasawuf berlandaskan ilmu. Dan betapa agungnya Dzunnun al-Misri yang dalam dirinya tertata apik kedalaman ilmu dan keindahan tasawuf. Nalar siapa yang mampu membanyah hujjahnya. Hati mana yang mampu berpaling dari untaian mutiara hikmahnya. Dialah orang Mesir pertama yang berbicara tentang urutan-urutan al-Ahwal dan al-Maqomaat para wali Allah. Maslamah bin Qasim mengatakan "Dzunnun adalah seorang yang alim, zuhud wara', mampu memberikan fatwa dalam berbagai disiplin ilmu. Beliau termasuk perawi Hadits ". Hal senada diungkapkan Al-Hafidz Abu Nu'aim dalam Hilyah-nya dan al-Dzahabi dalam Tarikh-nya bahwasannya Dzunnun telah meriwayatkan hadits dari Imam Malik, Imam Laits, Ibn Luha'iah, Fudail ibn Iyadl, Ibn Uyainah, Muslim al-Khowwas dan lain-lain. Adapun orang yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah al-Hasan bin Mus'ab al-Nakha'i, Ahmad bin Sobah alFayyumy, al-Tho'i dan lain-lain. Imam Abu Abdurrahman al-Sulamy menyebutkan dalam Tobaqoh-nya bahwa Dzunnun telah meriwayatkan hadis Nabi dari Ibn Umar yang berbunyi " Dunia adalah penjara orang mu'min dan surga bagi orang kafir". Di samping lihai dalam ilmu-ilmu Syara', sufi Mesir ini terkenal dengan ilmu lain yang tidak digoreskan dalam lembaran kertas, dan datangnya tanpa sebab. Ilmu itu adalah ilmu Ladunni yang oleh Allah hanya khusus diberikan pada kekasih-kekasih-Nya saja. Karena demikian tinggi dan luasnya ilmu sang wali ini, suatu ketika ia memaparkan suatu masalah pada orang di sekitarnya dengan bahasa Isyarat dan Ahwal yang menawan. Seketika itu para ahli ilmu fiqih dan ilmu 'dhahir' timbul rasa iri dan dan tidak senang karena Dzunnun telah berani masuk dalam wilayah (ilmu fiqih) mereka. Lebih-lebih ternyata Dzunnun mempunyai kelebihan ilmu Robbany yang tidak mereka punyai. Tanpa pikir panjang mereka mengadukannya pada Khalifah al-Mutawakkil di Baghdad dengan tuduhan sebagai orang Zindiq yang memporakporandakan syari'at. Dengan tangan dirantai sufi besar ini dipanggil oleh Khalifah bersama murid-muridnya. "Benarkah engkau ini zahidnya negeri Mesir?". Tanya khalifah kemudian. "Begitulah mereka mengatakan". Salah satu pegawai raja menyela : " Amir al-Mu'minin senang mendengarkan perkataan orang yang zuhud, kalau engkau memang zuhud ayo bicaralah". Dzunnun menundukkan muka sebentar lalu berkata "Wahai amiirul mukminin. Sungguh Allah mempunyai hamba-hamba yang menyembahnya dengan cara yang rahasia, tulus hanya karena-

Nya. Kemudian Allah memuliakan mereka dengan balasan rasa syukur yang tulus pula. Mereka adalah orang-orang yang buku catatan amal baiknya kosong tanpa diisi oleh malaikat. Ketika buku tadi sampai ke hadirat Allah SWT, Allah akan mengisinya dengan rahasia yang diberikan langsung pada mereka. Badan mereka adalah duniawi, tapi hati adalah samawi.". Dzunnun meneruskan mauidzoh-nya sementara air mata Khalifah terus mengalir. Setelah selesai berceramah, hati Khalifah telah terpenuhi oleh rasa hormat yang mendalam terhadap Dzunnun. Dengan wibawa khalifah berkata pada orang-orang datang menghadiri mahkamah ini : "Kalau mereka ini orang-orang Zindiq maka tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini". Sejak saat itu Khalifah al-Mutawaakil ketika disebutkan padanya orang yang Wara' maka dia akan menangis dan berkata "Ketika disebut orang yang Wara' maka marilah kita menyebut Dzunnun". Pujian para ulama' terhadap Dzunnun Tidak ada maksud paparan berikut ini supaya Dzunnun al-Misri menjadi lebih terpuji. Sebab apa yang dia harapkan dari pujian makhluk sendiri ketika Yang Maha Sempurna sudah memujinya. Apa artinya sanjungan berjuta manusia dibanding belaian kasih Yang Maha Penyayang ?. Dan hanya dengan harapan semoga semua menjadi hikmah dan manfaat bagi semua paparan berikut ini hadir. Imam Qusyairy dalam kitab Risalah-nya mengatakan "Dzunnun adalah orang yang tinggi dalam ilmu ini (Tasawwuf) dan tidak ada bandingannya. Ia sempurna dalam Wara', Haal, dan adab". Tak kurang Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al-Jalak mengatakan "Saya telah menemui 600 guru dan aku tidak menemukan seperti keempat orang ini : Dzunnun al-Misry, ayahku, Abu Turob, dan Abu Abid al-Basry". Seperti berlomba memujinya sufi terbesar dan ternama Syaikh Muhiddin ibn Araby Sulton al-Arifin dalam hal ini mengatakan "Dzunnun telah menjadi Imam, bahkan Imam kita". Pujian dan penghormatan pada Dzunnun bukan hanya diungkapkan dengan kata-kata. Imam alMunawi dalam Tobaqoh-nya bercerita : Sahl al-Tustari (salah satu Imam tasawwuf yang besar) dalam beberapa tahun tidak duduk maupun berdiri bersandar pada mihrab. Ia juga seperti tidak berani berbicara. Suatu ketika ia menangis, bersandar dan bicara tentang makna-makna yang tinggi dan Isyaraat yang menakjubkan. Ketika ditanya tentang ini, ia menjawab "Dulu waktu Dzunnun al-Misri masih hidup, aku tidak berani berbicara tidak berani bersandar pada mihrab karena menghormati beliau. Sekarang beliau telah wafat, dan seseorang berkata padaku padaku : berbicaralah!! Engkau telah diberi izin". Cinta dan ma'rifat Suatu ketika Dzunnun ditanya seseorang : "Dengan apa Tuan mengetahui Tuhan?". "Aku mengetahui Tuhanku dengan Tuhanku ",jawab Dzunnun. "kalau tidak ada Tuhanku maka aku tidak akan tahu Tuhanku". Lebih jauh tentang ma'rifat ia memaparkan : "Orang yang paling tahu akan Allah adalah yang paling bingung tentang-Nya". "Ma'rifat bisa didapat dengan tiga cara: dengan melihat pada sesuatu bagaimana Dia mengaturnya, dengan melihat keputusan-keputusanNya, bagaimana Allah telah memastikannya. Dengan merenungkan makhluq, bagaimana Allah menjadikannya". Tentang cinta ia berkata : "Katakan pada orang yang memperlihatkan kecintaannya pada Allah, katakan supaya ia berhati-hati, jangan sampai merendah pada selain Allah!. Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah dia tidak punya kebutuhan pada selain Allah". "Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah mengikuti kekasih Allah Nabi Muhammad SAW dalam akhlak, perbuatan, perintah dan sunnah-sunnahnya". "Pangkal dari jalan (Islam) ini ada

pada empat perkara: cinta pada Yang Agung, benci kepada yang Fana, mengikuti pada Alquran yang diturunkan, dan takut akan tergelincir (dalam kesesatan)". Karomah Dzunnun al-Misri Imam al-Nabhani dalam kitabnya Jami' al-karamaat mengatakan: Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami: Suatu ketika aku menghadap pada Dzunnun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emas dan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku "engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam keadaan bergembira". Menjelang aku pamit beliau memberiku satu dirham. Dengan izin Allah uang yang hanya satu dirham itu bisa aku jadikan bekal sampai kota Balkh (kota di Iran). Suatu hari Abu Ja'far ada di samping Dzunnun. Lalu mereka berbicara tentang ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah. Dzunnun mengatakan "Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada ranjang tidur ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya". Maka ranjang itu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya. Imam Abdul Wahhab al-Sya'roni mengatakan: Suatu hari ada perempuan yang datang pada Dzunnun lalu berkata "Anakku telah dimangsa buaya". Ketika melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzunnun datang ke sungai Nil sambil berkata "Ya Allah keluarkan buaya itu". Lalu keluarlah buaya, Dzunnun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam keadaan hidup dan sehat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata "Maafkanlah aku, karena dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu. Sekarang aku bertaubat kepada Allah SWT". Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup waliyullah, sufi besar Dzun Nun al-Misri yang wafat pada tahun 245 H. semoga Allah me-ridlai-nya.