Anda di halaman 1dari 21

DOSEN : Bpk.

TASMONO

Mandra Supraba W PCE_07 / 30208002

SEJARAH SHALAT I.Sejarah Shalat


Peristiwa Isra dan Mi'raj
Isra dan Mi'raj merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam. Isra Mi'raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 11 kenabian. Artinya 11 tahun setelah Muhammad diangkat menjadi seorang Rasul. Jika Muhammad menjadi Nabi pada usia 40 tahun, berarti peristiwa Isra' Mi'raj itu terjadi pada saat Muhammad berusia kira-kira 51 tahun. Pada peristiwa Isra Mi'raj dapat dikatakan terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad SAW "diberangkatkan" oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa dengan menaiki buroq . Lalu dalam Mi'raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan shalat lima waktu. Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah shalat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih. Di dalam beberapa hadits sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan isra' dan mi'raj dengan menggunakan "buraq". Di dalam hadits hanya disebutkan bahwa buraq adalah 'binatang' berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Ini menunjukkan bahwa "kendaraan" yang membawa Nabi SAW dan Malaikat Jibril mempunyai kecepatan tinggi. Apakah buraq sesungguhnya? Tidak ada penjelasan yang lebih rinci. Cerita israiliyat yang menyatakan bahwa buraq itu seperti kuda bersayap berwajah wanita sama sekali tidak ada dasarnya. Sayangnya, gambaran ini sampai sekarang masih diikuti oleh sebagian masyarakat, terutama di desa-desa. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra' dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Setelah melakukan salat dua rakaat dan meminum susu yang ditawarkan Malaikat Jibril Nabi melanjutkan perjalanan mi'raj ke Sidratul Muntaha.

Nabi SAW dalam perjalanan mi'raj mula-mula memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi. Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir. Jibril juga mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib. Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku."

Kisah perjalanan Nabi Muhammad mengarungi angkasa raya yang disebut dengan istilah Isra dan Mi raj yang menceritakan awal diperintahkannya Sholat kepada Nabi Muhammad sebagaimana terdapat dalam beberapa hadis yang dianggap shahih atau valid oleh sejumlah ulama secara logika justru mengandung banyak ketidaksesuaian dengan fakta sejarah dan ayatayat al-Quran sendiri.

Menurut hadis, Isra dan Mi raj terjadi sewaktu Khadijah, istri pertama Rasulullah wafat, dimana peristiwa ini justru menjadi salah satu hiburan bagi Nabi yang baru ditinggalkan oleh sang istri tercinta dan juga paman beliau, Abu Thalib dimana tahun ini disebut dengan tahun duka cita atau aamul ilzan. Sementara sejarah juga mengatakan bahwa jauh sebelum terjadinya Isra dan Mi raj, Nabi Muhammad dipercaya telah melakukan Sholat berjemaah dengan Khadijjah sebagaimana yang pernah dilihat dan ditanyakan oleh Ali bin abu Thalib yang kala itu masih remaja. Logikanya perintah Sholat telah diterima oleh Nabi Muhammad bukan saat beliau Isra dan Mi raj namun jauh sebelum itu, apalagi secara obyektif ayat al-Qur an yang menceritakan mengenai peristiwa Mi raj sama sekali tidak menyinggung tentang adanya pemberian perintah Sholat kepada Nabi. Pada kedua surah tersebut hanya menekankan cerita perjalanan Nabi tersebut dalam rangka menunjukkan sebagian dari kebesaran Allah dialam semesta sekaligus merupakan kali kedua bagi Nabi melihat wujud asli dari malaikat Jibril setelah sebelumnya

pernah beliau saksikan saat pertama mendapat wahyu di gua Hira. Selain itu, diluar hadis Isra dan Mi raj yang menggambarkan Nabi memperoleh perintah Sholat pada peristiwa tersebut, Imam Muslim dalam musnadnya ada meriwayatkan sebuah hadis lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan cerita Mi raj namun disana menjelaskan bagaimana Nabi mempelajari Sholat dari malaikat Jibril. Dari Abu Mas ud r.a. katanya : Rasulullah Saw bersabda : turun Jibril, lalu dia menjadi imam bagiku Dan aku sholat bersamanya, kemudian aku sholat bersamanya, lalu aku sholat bersamanya dan aku sholat bersamanya dan aku sholat bersamanya Nabi menghitung dengan lima anak jarinya. (Hadis Riwayat Muslim)

Jika demikian adanya, bagaimana dengan kebenaran hadis yang dipercaya oleh banyak orang bahwa perintah Sholat baru diperoleh Nabi sewaktu isra dan mi raj ? Mungkin kedengarannya ekstrim, tetapi meragukan atau malah menolak keabsahan validitas hadis-hadis tersebut bukanlah perbuatan yang tercela apalagi berdosa, dalam hal ini kita tidak menolak dengan tanpa dasar yang jelas, para perawi hadis tetaplah manusia biasa seperti kita adanya, mereka juga bisa salah baik disengaja apalagi yang tanpa mereka sengaja atau sadari, adalah kewajiban kita untuk melakukan koreksi jika mendapatkan kesalahan pada riwayat hadis yang mereka lakukan tentunya dengan tetap menjaga kehormatannya dan berharap semoga Allah mengampuni kesalahannya. Beberapa kejanggalan variasi cerita Isra dan Mi raj diantaranya sebut saja kisah Nabi Muhammad dan Buraq ketika berhenti di Baitul maqdis dan melakukan sholat berjemaah didalam masjidil aqsha bersama arwah para Nabi sebelumnya, padahal sejarah mencatat bahwa masjid al-aqsha baru dibangun pada masa pemerintahan Khalifah umar bin khatab tahun 637 masehi saat penyerbuannya ke Palestina yang mana notabene saat itu Nabi Muhammad sendiri sudah cukup lama wafat, beliau wafat tahun 632 masehi. Cerita sholatnya Nabi Muhammad dan para arwah inipun patut mengundang pertanyaan, sebab Nabi sudah melakukan sholat (menurut hadis itu malah raka atnya berjumlah 2) sehingga pernyataan Nabi menerima perintah Sholat saat Mi raj sudah bertentangan padahal kisah ini terjadi detik-detik sebelum mi raj itu sendiri. Belum lagi cerita sholatnya para arwah Nabi pun rasanya tidak bisa kita terima dengan akal yang logis, masa kehidupan mereka telah berakhir sebelum kelahiran Nabi Muhammad dan mereka sendiri sudah menunaikan kewajiban masing-masing selaku Rasul Allah kepada umatnya, perlu apa lagi mereka yang jasadnya sudah terkubur didalam tanah itu melakukan sholat ? Setelah selesai sholat berjemaah, lalu satu persatu para arwah Nabi dan Rasul itu memberi kata sambutannya sungguh suatu hal yang terlalu mengada-ada, karena jumlah mereka ada ribuan yang berasal dari berbagai daerah dibelahan dunia ini, baik yang namanya tercantum dalam al-Quran ataupun tidak, berapa lama waktu yang habis diperlukan untuk mengadakan kata sambutan masing-masing para arwah ini ?

Jika dimaksudkan agar semua Nabi dan Rasul itu bertemu dan bersaksi mengenai kebenaran Muhammad, ini dibantah ole al-Quran sendiri yang menyatakan bahwa pada masa kehidupan mereka dan pengangkatan mereka selaku Nabi dan Rasu Allah telah mengambil perjanjian dari mereka mengenai akan datangnya seorang Rasul yang membenarkan ajaran merek sebelumnya lalu terdapat perintah tersirat agar mereka menyampaikan kepada umatnya masing-masing : Dan ketika Allah mengambil perjanjian terhadap para Nabi : Jika datang kepadamu Kitab dan Hikmah, lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa-apa yang ada tentang diri kamu, hendaklah kamu imani ia secara sebenarnya. ; Dia bertanya : Sudahkah kalian menyanggupi dan menerima perjanjian-Ku tersebut ? ; Mereka menjawab : Kami menyanggupinya ! ; Dia berkata : Saksikanlah ! dan Aku bersama kamu adalah dari golongan mereka yang menyaksikan ! - Qs. 3 ali imron: 81 Puncak kemustahilan cerita dari hadis-hadis mi raj adalah saat Nabi Muhammad diberitakan telah bolak balik dari Allah ke arwah Nabi Musa untuk penawaran jumlah sholat yang semula 50 kali menjadi 5 kali dalam sehari semalam, apakah sedemikian bodohnya Nabi Muhammad itu sehingga dia harus diberi saran berkali-kali oleh arwah Nabi Musa agar mau meminta keringanan kepada ALLAH sampai 9 kali pulang pergi ? Tidakkah kekurang ajaran arwah Nabi Musa dalam cerita tersebut dengan menganggap Allah juga tidak mengerti akan kelemahan dan keterbatasan umat Nabi Muhammad sebab tanpa dipikir dulu telah memberi beban kewajiban yang pasti tidak mampu dikerjakan oleh mereka sehingga arwah Nabi Musa itu harus turut campur memberi peringatan kepada Alla dan Nabi Muhammad lebih dari sekali saja sebagai suatu indikasi israiliyat (hadis buatan orang-orang Israel atau Yahudi ya sengaja dibuat untuk tetap memuliakan Nabi Musa diatas yang lain) ?Apakah hadis-hadis yang demikian ini masih akan diterima dan dipertahankan hanya untuk mempertahankan dalil turunnya perintah Sholat, sementara al-Qur an sendiri ya nilai kebenarannya sangat pasti justru tidak berbicara apa-apa tentang hal tersebut ?

Tidak diragukan bahwa Nabi Muhammad pernah melakukan Isra dan Mi raj karena hal ini ada didalam al-Quran dan bisa dianalisa secara ilmiah, tidak perlu diragukan pula bahwa Sholat merupakan salah satu kewajiban utama seorang muslim sebab inipun banyak sekali ayatnya didalam al-Quran dan hadis-hadis lain, bahkan sholat merupakan tradisi yang diwarisk oleh semua Nabi dan Rasul dalam semua jamannya. Hanya saja itu tidak berarti kaum muslimin bisa menerima semua riwayat hadis yang isinya secara jelas mempunyai pertentangan dengan al-Quran dan logika, sehingga akhirnya hanya aka menyerahkan akal pada kebodohan berpikir, padahal Allah sendiri mewajibkan manusia untuk berpikir dan berdzikir dida membaca ayat-ayat-Nya.

Sejarah Sholat Diwahyukan


1. Sejarah Solat Diwahyukan Solat adalah salah satu amalan agama samawi (yang diturunkan dari langit) semenjak sebelum kedatangan Islam lagi. Tetapi solat dalam agama-agama samawi sebelum Islam tidaklah diwajibkan secara khusus seperti solat fardhu lima waktu yang difardhukan dalam agama Islam. Jika dilihat dari sudut sejarah solat ini, sememangnya diwahyukan terus dari Allah s.w.t, kepada nabi-nabiNya termasuklah Nabi Muhammad s.a.w sebagai amalan hidup seorang Muslim

2. Bila Solat Difardukan Ibadat solat telah difardhukan oleh Allah dalam satu peristiwa agung dalam dalam sejarah kehidupan Rasullah s.a.w iaitu peristiwa Israk dan Mikraj. Peristiwa ini berlaku kira-kira beberapa tahun selepas Rasullah dilantik sebagai Rasul. Dalam peristiwa tersebut, Baginda telah dibawa oleh Malaikat Jibrail a.s mengadap Allah di Arsy untuk menerima perintah mengerjakan solat lima waktu. Bermula dari situlah, maka setiap orang Islam diwajibkan mengerjakan solat. Hukum mendirikan solat ini adalah fardhu ain keatas setiap individu Muslim. 3. Bagaimana orang terdahulu dari Nabi Muhammad bersolat. Menurut para pengkaji sejarah Islam, Kaedah orang-orang terdahulu sebelum umat Muhammad s.a.w mengerjakan solat tidaklah sama seperti solat-solat yang difardhukan kepada Nabi Muhammad dan umatnya. Ini kerana bentuk dan kaifiyat solat lima waktu hanya khusus kepada umat Muhammad. Bentuk solat yang dilakukan oleh Nabi Adam a.s dan juga Nabi Daud a.s adalah lebih mudah iaitu hanya dua rakaat sahaja dan tidak ditentukan secara khusus lima waktu sehari semalam "Solat tiang agama, maka sesiapa yang mendirikannya dia telah mendirikan agama (ad-din)dan sesiapa yang meninggalkannya maka sesungguhnya dia telah meruntuhkan agama(ad-Din)"

Perihal Kewajiban Sholat


1. Tanggungjawab setiap muslim. Solat merupakan rukun kedua daripada rukun-rukun Islam yang lima. Ini jelas sebagaimana diriwayatkan oleh Rasullah s.a.w dalam satu hadisnya yang bermaksud: "Agama Islam itu terbina di atas lima asas, iaitu mengucap dua kalimah syahadah, menunaikan solat, berpuasa dibulan Ramadhan, mengeluarkan zakat dan menunaikan ibadah haji bagi orang-orang yang mempunyai kemampuan". Solat juga adalah amalan asas bagi setiap penganut agama Islam. Terdapat juga ayat-ayat lain berkenaan tanggungjawab orang Islam, antaranya : " Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu." Surah Azd-Dzaariayat - Ayat 56 2. Perintah Bersholat Firman Allah : "Dan perintahkanlah keluargamu serta umatmu mengerjakan sembahyang, dan hendaklah engkau tekun bersabar menunaikannya." Surah Thaahaa - Ayat 132

3. Dirikan sholat Firman Allah : " Dan dirikanlah kamu akan sembahyang dan rukuklah kamu semua (berjemaah) bersamasama orang yang ruku". Surah Al-Baqarah - Ayat 43 4.Sholat tiang agama. Rasullah s.a.w bersabda : "Solat itu adalah tiang agama (Islam). Maka sesiapa yang mendirikan solat, dia telah menegakkan agama. Dan sesiapa yang meninggalkan solat, bererti dia telah meruntuhkan agama". 5. Amalan asas bagi setiap Muslim. Solat juga adalah amalan asas bagi setiap penganut agama Islam. Rasullah s.a.w bersabda : "Yang membezakan di antara orang Islam dan kafir ialah solat".

Kedudukan Sholat Didalam Agama Islam


1. Shalat sebagai pondasi agama Islam. Suatu bangunan tidak akan berdiri dan tegak kecuali dengan adanya pondasi yang kokoh. Kedudukan shalat mendapatkan tempat yang tinggi setelah mengucapkan syahadatain sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Islam dibangun di atas lima dasar, yaitu: persaksian bahwa tiada Ilah yang berhak untuk diibadahi/disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah." (Muttafaqun alaihi) 2. Shalat adalah Induk ibadah dan keta'atan yang paling utama. Hal ini dikarenakan banyaknya nash-nash dari al-Qurn yang memerintahkannya, menjaganya dengan melaksanakannya tepat waktu dan menunaikannya dengan baik sebagaimana firman Allah Subhnahu wa Ta'la: "Peliharalah segala shalatmu dan peliharalah shalat wustha dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'." (QS. al-Baqarah: 238)

Dalam ayat yang lain Allah Ta'la berfirman: "Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'." (QS. al-Baqarah: 43) 3. Wasiat terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelang beliau shallallahu 'alaihi wa sallam wafat adalah shalat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Jagalah shalat, jagalah shalat dan berlaku baiklah terhadap budak-budak yang kamu miliki." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani) 4. Shalat adalah mata air yang berisi kesucian dan ampunan Allah Azza wa Jalla Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bagaimana pendapat kalian jika ada mata air yang mengalir di depan pintu salah seorang dari kalian, lalu ia mandi lima kali setiap hari, apakah masih tersisa kotoran di tubuhnya ? Mereka menjawab; tentu saja tidak ada kotoran yang tersisa, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata; seperti itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa." (Muttafaqun alaihi) 5. Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab pada Hari Kiamat Diriwayatkan dari Abdullah bin Qurt radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya dan jika buruk maka buruklah seluruh amalannya." (HR. Thabraani) 6. Shalat merupakan jaminan keamanan dari api neraka Hal ini diriwayatkan dari Abu Zuhair 'Ammarah bin Ruwaibah radhiyallahu 'anhu ia berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak akan masuk neraka seorang yang mengerjakan shalat sebelum terbit dan tenggelam matahari, yakni shalat Shubuh dan shalat Ashar." (HR. Muslim) 7. Shalat merupakan jalan untuk memperoleh keberuntungan dan kemenangan yang besar dalam menjalankan kehidupan dan juga merupakan obat dari keluh kesah yang dirasakan manusia dan sebaik-baik sarana untuk mencapai ketenangan jiwa. Hal ini dapat dilihat setelah mengkaji ayat-ayat al-Qurn dan hadits-hadits rasul yang menjelaskan hal yang demikian diantaranya firman Allah Subhnahu wa Ta'la: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mu'min (yaitu) orang-orang yang khusyu'

dalam shalatnya." (QS. al-Mu'minuun: 1-2) Dalam ayat yang lain Allah Ta'la berfirman: "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapatkan kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang menegakkan shalat, yang mereka itu mengerjakan shalat secara terus-menerus." (QS. alMa'aarij: 19-23) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Diantara perkara dunia yang aku senangi adalah wanita dan wangi-wangian dan kesejukan pandanganku terdapat dalam shalat." (HR. Ahmad, an-Nasa'I, al-Hakim dan al-Baihaqi) 8. Begitu pentingnya ibadah shalat ini maka syari'at Islam sangat menaruh perhatian kepadanya sehingga shalat wajib dikerjakan baik seseorang adalah Musafir atau seorang Muqim (tidak dalam keadaan safar), dalam keadaan aman atau dalam keadaan ketakutan seperti dalam suasana perang dimana Rasulullah tetap melaksanakan shalat dan dalam keadaan sakit ataupun sehat

9. Shalat adalah ibadah laksana pelita yang menerangi hidup seseorang. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Shalat adalah pelita." (HR. Muslim) 10. Shalat sebagai salah satu sifat orang yang bertaqwa sebagaimana firman Allah Subhnahu wa Ta'la: "Alif laam miim. Kitab (al-Qurn) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS. al-Baqarah: 13)

Berikut diterangkan asal-usul bagaimana setiap solat mulai dikerjakan :


Subuh: Manusia pertama yang mengerjakan solat subuh ialah Nabi Adam a.s. yaitu ketika baginda keluar dari syurga lalu diturunkan ke bumi. Perkara pertama yang dilihatnya ialah kegelapan dan baginda berasa takut yang amat sangat. Apabila fajar subuh telah keluar, Nabi Adam a.s.

pun bersembahyang dua rakaat. Rakaat pertama: Tanda bersyukur kerana baginda terlepas dari kegelapan malam. Rakaat kedua: Tanda bersyukur kerana siang telah menjelma. DZuhur: Manusia pertama yang mengerjakan solat Zohor ialah Nabi Ibrahim a.s. yaitu tatkala Allah SWT telah memerintahkan padanya agar menyembelih anaknya Nabi Ismail a.s.. Seruan itu datang pada waktu tergelincir matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim sebanyak empat rakaat. Rakaat pertama: Tanda bersyukur bagi penebusan. Rakaat kedua: Tanda bersyukur kerana dibukakan dukacitanya dan juga anaknya. Rakaat ketiga: Tanda bersyukur dan memohon akan keredhaan Allah SWT. Rakaat keempat: Tanda bersyukur kerana korbannya digantikan dengan tebusan kibas. Ashar: Manusia pertama yang mengerjakan solat Asar ialah Nabi Yunus a.s. tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah SWT dari perut ikan Nun. Ikan Nun telah memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai, sedang ketika itu telah masuk waktu Asar. Maka bersyukurlah Nabi Yunus lalu bersembahyang empat rakaat karena baginda telah diselamatkan oleh Allah SWT daripada 4 kegelapan iaitu: Rakaat pertama: Kelam dengan kesalahan. Rakaat kedua: Kelam dengan air laut. Rakaat ketiga: Kelam dengan malam. Rakaat keempat: Kelam dengan perut ikan Nun. Maghrib: Manusia pertama yang mengerjakan solat Maghrib ialah Nabi Isa a.s. yaitu ketika baginda dikeluarkan oleh Allah SWT dari kejahilan dan kebodohan kaumnya, sedang waktu itu telah terbenamnya matahari. Bersyukur Nabi Isa, lalu bersembahyang tiga rakaat karena diselamatkan dari kejahilan tersebut iaitu: Rakaat pertama: Untuk menafikan ketuhanan selain daripada Allah yang Maha Esa. Rakaat kedua: Untuk menafikan tuduhan dan juga tohmahan ke atas ibunya Siti Mariam yang telah dituduh melakukan perbuatan sumbang. Rakaat ketiga: Untuk meyakinkan kaumnya bahawa Tuhan itu hanya satu iaitu Allah SWT semata-mata, tiada dua atau tiganya.

Isya : Manusia pertama yang mengerjakan solat Isyak ialah Nabi Musa a.s.. Pada ketika itu, Nabi Musa telah tersesat mencari jalan keluar dari negeri Madyan, sedang dalam dadanya penuh dengan perasaan dukacita. Allah SWT menghilangkan semua perasaan dukacitanya itu pada waktu Isyak yang akhir. Lalu sembahyanglah Nabi Musa empat rakaat sebagai tanda bersyukur. Rakaat pertama: Tanda dukacita terhadap isterinya. Rakaat kedua: Tanda dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun. Rakaat ketiga: Tanda dukacita terhadap Firaun. Rakaat keempat: Tanda dukacita terhadap anak Firaun

II.Hukum Meninggalkan Shalat


Telah sepakat para ulama bahwa shalat fardhu lima waktu sehari semalam hukumnya adalah wajib atas setiap muslim dan muslimah yang sudah berakal, baligh dan suci dari hadats. Dan shalat merupakan ibadah badaniyah yang tidak boleh diwakilkan kepada siapapun, dan telah ijma' kaum muslimin bahwa orang yang menentang dan mengingkari kewajiban shalat lima waktu maka ia adalah kafir dan keluar dari agama Islam karena tetapnya kewajiban shalat ini dengan dalil-dalil yang qath'I (tegas) yaitu dari al-Qurn dan sunnah serta ijma'. Adapun siapa yang meninggalkannya karena malas dan menganggap enteng perkara ini tanpa mengingkari tetang kewajibannya maka orang tersebut dihukumi sebagai orang muslim yang Fasiq dan telah melakukan maksiyat dan dosa besar. Ancaman dan Hukuman Bagi yang Meninggalkannya 1. Hukuman di Akhirat Akan menyebabkan pelakunya masuk ke dalam Neraka Saqar sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Allah Subhnahu wa Ta'la "Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka Saqar? Mereka menjawab; Kami dahulu sewaktu hidup di dunia tidak termasuk orang-orang yang mendirikan shalat." (QS. alMuddatstsir: 42-43) Dalam ayat lain Allah Ta'la berfirman: "Celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai mengerjakannya." (QS. al-Maa'un: 4-5)

Dan di dalam ayat lainnya Allah Ta'la berfirman: "Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang jelek yang mereka menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsunya, maka kelak mereka akan mendapatkan azab yang berlipat ganda." (QS. Maryam: 59)

Syaikh Abdurrahman Natsir as-Sa'di rahimahullah di dalam perkataan beliau dalam menafsirkan ayat ini: "Apabila seorang muslim berani mengabaikan shalat yang merupakan tiang agama, timbangan atau tolak ukur keimanan dan keikhlasan kepada Rabbul'alamin, yang merupakan setinggi-tingginya dan seutama-utamanya amalan, maka tentunya ibadah yang lain lebih ia abaikan dan sia-siakan." Lalu Syaikh rahimahullah melanjutkan perkataannya; "Yang menyebabkan mereka meninggalkan ibadah tersebut adalah karena mereka mengikuti hawa nafsunya dan kehendaknya sehingga mereka lebih mendahulukannya daripada menjalankan hak-hak Allah Azza wa Jalla." Tentu hukuman yang pantas baginya adalah azab Allah. 2. Hukuman di Dunia Menurut mazhab Hanafiyah bahwa orangyang meninggalkan shalat karena malas dia telah fasiq dan hukumannya adalah ditahan, dipukul dengan pukulan yang keras hingga keluar darah, dimana hukuman ini berlanjut sampai ia mengerjakan shalat dan taubat atau mati di dalam penjara. Dan menurut pendapat sebagian besar para ulama; diminta untuk taubat selama 3 (tiga) hari seperti orang murtad dan jika tidak bertaubat maka ia dibunuh, dan pendapat ulama mazhab Syafi'i dibunuh sebagai had bukan karena kekufurannya karena menurut mereka bahwa mereka tidak dikafirkan namun dihukum seperti hukum Hudud yang lain (seperti had untuk pelaku zina, pencuri dan yang menuduh orang lain berzina)

Dalil-dalil yang menunjukkan tidak kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena malas 1. Firman Allah Subhnahu wa Ta'la di dalam al-Qurn "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. an-Nisaa': 48) 2. Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Lima shalat yang Allah wajibkan atas hamba-Nya, siapa yang melaksanakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikitpun, menunaikan haknya maka Allah akan memberikan untuknya janji yaitu surga dan barangsiapa yang tidak melaksanakannya maka tidak ada janji Allah baginya. Jika Allah menghendaki maka Allah akan mengazabnya dan jika Allah menghendaki Allah akan mengampuninya." (HR.

Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa'I, dan Ibnu Maajah) 3. Dalam hadits Muslim juga dijelaskan bahwa tidak kekalnya di dalam neraka bagi seseorang yang telah mengikrarkan syahadatnya; "Barangsiapa yang telah berikrar Laa ilaaha illallah dan mengingkari setiap sembahan selain Allah, maka haram hartanya dan darahnya dan perhitungannya diserahkan kepada Allah." (HR. Muslim) Dan dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akan keluar dari neraka bagi siapa yang mengatakan la ilaaha illallah sedangkan di dalam hatinya ada sebesar biji gandum dari kebaikan." (HR. Imam Bukhori) 4. Mengkafirkan orang yang tidak melaksanakan shalat adalah perkara yang sangat berat karena mempunyai konsekuensi yang berat dan susah untuk dilaksanakan. 5. Melihat kondisi rata-rata umat Islam sekarang ini bahwa rata-rata mereka meyakini wajibnya mengerjakan shalat fardhu lima waktu akan tetapi karena kemalasan dan kesibukannya dengan dunia maka menghukum mereka hanya sebatas fasiq bukan kafir yang akan mengeluarkan mereka dari agama Islam, dan wajib baginya untuk segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla terhadap dosa meninggalkan shalat fardhu karena perbuatan ini termasuk ke dalam dosa besar.

Contoh - Contoh Dalil Yang Menjelaskan Akibat Tidak Shalat :


Surat Maryam (19) : 59,60

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.

kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.

surat Al Maa uun (107) : 4,5

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

Surat Al Muddatsir (74) : 42,43

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"

Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,

III. Mandi Besar


1. Hukum mandi Bagi orang yang akan shalat, tidak sah sholatnya jika masih mempunyai hadats besar. Hadats yang disebabkan bersetubuh, keluar mani, haid, nifas dan melahirkan. Hadats besar dapat di hilangkan dengan mandi. Atau mandi wajib, atau mandi hadats besar. Hukm mandi ini adalah wajib. 2. Sebab sebab yang mewajibkan mandi. Hal hal yang menyebabkan seseorang wajib mandi ada 6, yaitu : a. bersetubuh ( walaupun tidak keluar air mani ) b. keluar air mani ( baik karena bersetubuh maupun karena mimpi atau sebab lainnya ). c. Mati yang bukan mati syahid ( orang yang mati syahid tidak wajib di mandikan ) d. Selesai haid ( mestruasi ), yaitu keluarnya darah dari rahim wanita setelah berusia 9 tahun setiap bulan sebagai bagian dari sirklus biologisnya. e. Selesai nifas, yaitu darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan. f. Wiladah ( melahirkan ) Catatan : Cirri ciri air mani adalah : 1. keluarnya dengan memancar ( tersendat sendat ) 2. saat keluar terasa lezat 3. baunya : a. jika masih basah seperti bau adonan roti, atau bau mayang korma b. jika sudah kering seperti bau putih telur.

3. Fardhu mandi Fardhu mandi ada 3, yaitu : a. Niat. Niat ini di baca di dalam hati pada saat mulai membasuh bagian manapun dari tubuh. Adapun lafal niat mandi adalah :

.
NAWAITUL GHUSLA LIRAF IL HADATSIL AKBARI FARDHAN LILLAAHI TA AALAA. Artinya : ( di baca dalam hati! ) aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena allah taala. b. membasuh seluruh tubuh dengan air sampai rata ( semua rambut dan kulitnya harus kena air ) c. menghilangkan najis jikad ada di badan. 4. Sunat mandi Sunat mandi ada 5, yaitu : a. membaca basmalah ( bismillaahir rahmaanir rahiim ) pada saat akan memulai mandi. b. berwudhu ( sebelum mandi ) seperti dudhu hendak sholat. c. Membasuh ( menggosok ) badan dengan tangan sampai 3 kali d. Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri. e. Muwalat,yaitu sambung menyambung dalam membasuh anggota badan. 5. Mandi sunat. Selain mandi wajib, ada beberapa mandi yang di sunatkan, yaitu : a. mandi ketika hendak sholat jum at b. mandi ketika hendak sholat idul fitri c. mandi ketika hendak sholat idul adha d. mandi setelah sembuh dari penyakit gila e. madni ketika hendak melaksanakan ihram haji atau umrah f. mandi setelah memandikan mayat g. mandi seorang kafir setelah masuk islam

h. dan lain lain.

6. Beberapa larangan bagi orang yang mempunyai hadats besar. a. larangan bagi orang yang sedang junub : 1. mendirikan sholat, baik sholat wajib mapun sholat sunat 2. mengerjakan thawaf, baik thawaf rukun haji maupun thawaf sunat. 3. menyentuh atau membawa Al-Qur an. 4. mebaca Al- Qur an 5. berhenti lama ( berdiam ) di mesjid B. larangan bagi orang yang sedang haid dan nifas 1. semua larangan bagi orang yang sedang junub ( 1 5 di atas ) berlaku pula bagi orang yang sedang haid nifas 2. di cerai ( di talak ) 3. berpuasa, baik puasa wajib maupun puasa sunat 4. bersetubuh 5. bersenang senang antara pusat dan lutut 6. menyebrangi mesjid jika khawatir mengotorinya dengan darah.

Shalat dan Sujud Syukur serta Doanya


Sebagai seorang muslim kita sangat dianjurkan agar selalu memanjatkan rasa syukur kepada Allah swt. Terutama ketika kita memperoleh nikmat dari-Nya atau diselamatkan dari suatu musibah. Adapun cara menyampaikan rasa syukur kepada-Nya Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa) telah mencontohkan kepada kita, antara lain melalui shalat, sujud dan doa.

Tentang mensyukuri nikmat Allah swt menegaskan di dalam firman-Nya: Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambahnya. Tetapi, jika kamu mengingkarinya sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Ibrahim: 7).

Shalat Syukur
Shalat syukur dilakukan dua rakaat, dengan niat menyampaikan rasa syukur kepada Allah swt. Caranya: Rakaat pertama: membaca surat Fatihah dan surat Al-Ikhlash. Rakaat kedua: membaca surat Fatihah dan surat Al-Kafirun. Dalam ruku dan sujud pada rakaat pertama, sesudah membaca tasbih, membaca:

Alhamdulilhi syukran syukran, wa hamdan hamdan Segala puji bagi Allah; terima kasih, terima kasih, dan segala pujian kusam-paikan kepada-Nya.

Dalam ruku dan sujud pada rakaat kedua, sesudah membaca tasbih, membaca:

Alhamdulillhil ladzistajba du - wa a thn mas-alat. Segala puji bagi Allah yang telah mengijabah doaku dan memberi permohonanku.

Sujud Syukur
Sujud syukur sangat dianjurkan dilakukan setiap sesudah wirid shalat-shalat wajib. Dan setiap kita mendapat nikmat dari Allah swt atau terhindar dari suatu musibah. Bacaan dalam sujud syukur: . .

. Subhnakallhumma Anta Rabb haq-qan haqq, sajadtu laka y Rabb ta- abbudan wa riqq. Allhumma inna amal dha fun fadha i l. Allhumma qin adzbaka yawma tub atsu ibduka wa tub alayya innaka Antat tawwbur Rahm. Maha Suci Engkau. Ya Allah, Engkaulah Tuhanku yang sebenarnya, aku sujud kepada-Mu ya Rabbi sebagai pengabdian dan penghambaan. Ya Allah, sungguh amalku lemah, maka lipat gandakan pahalanya bagiku. Ya Allah, selamatkan aku dari siksa-Mu pada hari hamba-hambaMu dibangkitkan, terimalah taubatku, sesunguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang.

Atau membaca (100 kali): Syukran syukran Terima kasih, terima kasih ya Allah Tata cara shalat dan sujud syukur ini dikutip dari kitab Mafatihul Jinan, kunci-kunci surga.

Doa Syukur
Doa syukur yang dicontohkan di dalam Al-Qur an:

.
Rabb awzi n an asykura ni matakal lat alayya wa al wlidayya, wa an a mala shlihan tardhhu, wa adkhiln birahmatika f ibdikash shlihn. Duhai Tuhanku, karuniakan padaku ilham agar aku selalu mensyukuri nikmat-Mu yang Kau anugrahkan padaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku selalu beramal shaleh yang Kau ridhai. Dengan rahmat-Mu masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. ( An-Naml/27: 19). Secara lebih khusus doa berikut ini oleh orang-orang yang telah mencapai usia 40 tahun: Allah swt berfirman: sehingga ketika ia telah dewasa dan mencapai usia empat puluh tahun, ia berdoa:

.
Rabb awzi n an asykura ni matakal lat alayya wa al wlidayya, wa an a mala shlihan tardhhu, wa ashlihl f dzurriyyat, inn tubtu ilayka wa inn minal muslimn. Duhai Tuhanku, karuniakan padaku ilham agar aku selalu mensyukuri nikmat-Mu yang Kau anugrahkan padaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku selalu beramal shaleh yang Kau ridhai. Karuniakan padaku kebaikan dalam keturunanku, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (Al-Ahqaf/46: 15).

IV.Doa Sujud Syukur (An Naml)

maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shaleh".

V.Pertanyaan
1. 2. 3. 4. 5. Kapan terjadinya peristiwa Isra Mi raj yang merupakan cikal bakal shalat wajib ? Bagaimana kedudukan shalat dalam Islam ? Bagaimana bunyi dari doa mandi besar ? Bagaimana bunyi dari doa sujud syukur ? Berikan salah satu contoh dalil Al Quran atau hadits yang menerangkan akibat dari meninggalkan shalat ?