Anda di halaman 1dari 10

BAB II METODOLOGI

2.1 ASPEK BP 2.1.1 Alat dan Bahan  Alat y Alat tulis


y

Kamera

: untuk menulis dan mencatat hasil wawancara : untuk mendokumentasikan indikatorindikator aspek BP

 Bahan y Vegetasi lahan padi organik : sebagai objek yang diamati y Petani : sebagai narasumber yang diwawancara y Lembar wawancara : sebagai bahan untuk bertanya pada petani 2.1.2 Alur Kerja Praktikum Persiapan alat tulis dan lembar wawancara Petani Wawancara Pencatatan data Dokumentasi Mencatat hasil wawancara Pengamatan lingkungan sekitar secara sepintas Dokumentasi

Hasil

2.1.3

Penjelasan alur kerja praktikum Praktikum ini dilaksanakan di Desa Sumber Ngepoh. Kecamatan lawang pada hari Minggu tanggal 17 Mei 2011. Hal yang dilakukan pertama kali untuk praktikum ini yaitu menyiapkan alat tulis, lembar wawancara, dan kamera. Kemudian setelah nara sumber datang yaitu

2.1.4

2.1.5

Bapak Kemin. Langsung dilakukan kegiatan wawancara untuk mendapatkan informasi dari lembar wawancara yang ada. Pengamatan terhadap indicator kesehatan tanah Pengamatan terhadap indicator tanah ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar petani mengolah lahannya untuk menjaga kesehatan tanah. Untuk menjaga kesehatan tanah ini indicator utama yang diamati yaitu pemberian pupuk untuk menambah unsure hara yang kurang. Pemberian pupuk ini dapat bersifat organic ataupun kimia. Informasi ini didapatkan dari hasil wawancara dengan petani kemudian dianalisis agar dapat diketahui bagaimana perkembangan agroekosistemnya. Alur kerja indicator analisis agroekosistem Petani

Wawancara

Pengumpulan data dari aspek produktivitas, equitabilatas, stabilitas, dan sustainybilitas

Analisis 2.1.6 Pengamatan indicator kesehatan tanaman Untuk pengamatan indicator kesehatan tanaman yang dianalisis untuk dilihat perkembangan agroekosistemnya yaitu seberapa jauh penggunaan bahan-bahan organic untuk menjaga kesehatan tanah dan kesehatan tanaman, pola tanam yang diterapkan petani di lahannya, dan keadaan topografi lahan. Hal ini penting untuk diketahui agar dapat dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap system penanaman agar agroekosistem tetap dapat seimbang.

3.2.1 Analisis Pengelolaan Agroekosistem A. PRODUKTIFITAS Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua kelompok tani di Desa sumberngepoh Kecamatan Lawang yaitu Bapak Kemin Hardianto Dengan menggunakan system tanam monokultur (padi) rata-rata produktivitas tanaman perhektar adalah 8 ton. Produktivitas ini dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain intensitas hama dan penyakit serta kondisi iklim. Jika serangan hama dan penyakit dapat dikendalikan dan kondisi iklim mendukung, produktivitas rata-rata yang diperoleh adalah 8 ton. Hasil ini diperoleh dengan menggunakan system tanam SRI (System of Rice Intensification) dengan kebutuhan benih perhektar adalah 12,5 kg-15 kg dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm untuk varietas menthik wangi. Penanaman benih perlubang adalah 1 benih perlubang dengan jumlah anakan mencapai 65-70 buah. Dengan menggunakan varietas menthik wangi tanaman dapat dipanen pada umur 100 hari. Pemeliharaan yang dilakukan pada budidaya padi yang menuju pertanian organic pada umumnya sama dengan pemeliharaan pada padi pada umumnya. Beberapa hal yang membedakan adalah pada pemberian pupuk dan pengendalian hama penyakit yang ada. Pupuk yang digunakan adalah pupuk urea atau pondska dengan dosis 4 sampai 5 kwintal perhektar (pada awalnya). Pada musim tanam berikutnya penggunaan pupuk kimia dikurangi sebanyak 50 kg permusim tanam yang digantikan dengan 2 ton pupuk organic (pupuk kandang atau kompos). Dengan melakukan pengurangan 50kg pupuk organic tiap musim tanamn dan menggatinya dengan 2 ton pupuk organic diharapkan pertanian organic pada budidaya padi di daerah Sumber Ngepoh Pedukuhan Mbarek Kabupaten Lawang dapat terwujud. Hal lain yang membedakan dalam pemeliharaan adalah penggunaan pestisida nabati yang menggunakan bahan dasar trasi dan gadung sebagai bahan pengendali OPT yang lebih ramah lingkungan. Untuk system pengairan yang digunakan untuk mengairi lahan padi organic ini yaitu system irigasi teknis. Hal ini dikarenakan pengairan irigasi yang digunakan petani merupakan saluran irigasi yang sifatnya untuk

kepentingan bersama sehingga diperlukan teknis tertentu untuk mengatur system irigasi. Dengan menggunakan teknik budidaya yang mereka gunakan (SRI) dan pemeliharaan yang lebih ramah lingkungan (penggunaan pupuk organic dan pestisida nabati) serta kondisi alam yang mendukung produktitas rata-rata yang dicapai adalah 8 ton perhektar. Dan harga jual untuk beras organic ini sendiri yaitu rata-rata Rp 6.500/kg. Untuk harga pasaran rata-rata yaitu Rp 3,000,000/ton. Sehingga harga pasarannya yang didapat 8 x 3.000.000= Rp 24.000.000,00. Sehingga didapatkan prosentase produktivitasnya yaitu (

Masalah-masalah yang sering dihadapi di daerah ini tentang penanaman padi organic yaitu kurangnya modal petani sebagai modal awal penanaman untuk menanam padi. Selain itu juga masalah akibat adanya spekulasi harga jual dari pedagang tengkulak sehingga mengakibatkan rendahnya harga jual padi kepada petani.

B. SUSTAINABILITY & STABILITY Dengan menggunakan teknik budidaya yang menuju pertanian organic, keberlanjutan pertanian yang terdapat didaerah Sumber Ngepoh Pedukuhan Mbarek Kabupaten Lawang dapat dikatakan berlanjut. Keberlanjutan pertanian didaerah ini dapat ditinjau dari beberapa aspek yaitu keberlanjutan dari segi lingkungan, social dan ekonomi. Dari aspek lingkungan dapat dikatakan berkelanjutan karena pengguanan system budidaya menuju organic merupakan system budidaya yang ramah lingkungan. Penggunaan pupuk organic yang ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu dan dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sangat mendukung agar pertanian dapat mengelami keberlanjutan. Dengan menggunakan pupuk organic tanah menjadi tidak padat dan ekosistem yang ada di dalam tanah dapat terjaga keseimbangannya sehingga tanah dapat digunakan secara terus menerus (tidak mengalami degradasi). Kondisi tanah yang seperti

itu juga akan mendukung pertumbuhan tanaman. Tanaman akan tumbuh dengan baik karena tanah mampu menyuplai unsure hara yang dibutuhkan tanaman dan memberikan tempat yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Penggunaan pestisida nabati juga sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan suatu ekosistem. Penggunaan pestisida nabati tidak meninggalkan residu dan fauna yang bermanfaat seperti musuh alami tetap dapat hidup. Secara tidak sadar musuh alami yang ada dapat membantu kita dalam mengendalikan OPT yang ada. Dengan lingkungan yang stabil dan adanya interaksi yang ada antar komponen yang ada pada suatu ekosistem maka pertanian dalam daerah tersebut dapat berkelanjutan. Dari aspek social pada daerah tersebut juga mengalami keberlanjutan. Sebagai contoh dalam daerah tersebut terdapat beberapa warga yang bekerja sebagai peternak, petani membutuhkan kotoran ternak untuk dijadikan pupuk kandang. Dengan kondisi yang saling membutuhkan tersebut kondisi social yang ada dalam wilayah tersebut akan tetap terjaga. Contoh lain adalah adanya system pertanian bagi hasil, petani yang tidak memiliki sawah dapat menggarap sawah milik orang lain (atas perjanjian dari kedua belah pihak) dan pada saat panen petani membutuhkan tenaga kerja untuk membantu dalam hal pemanenan. Cara panen yang digunakan dalam daerah ini masih menggunakan system geblok (tradisional). Dengan adanya kerjasama antar peternak dan petunia, system bagi hasil dan penggunaan cara panen yang tradisional kondisi social dalam wilayah ini dapat dikatakan berkelanjutan. Dari segi ekonomi pertanian organic dikawasan ini dikatakan berlanjut jika pangan dan gizi yang seimbang dapat tersedia pada daerah itu sendiri dan hasil panen yang diperoleh dapat mencukupi kebutahan masyarakat yang ada pada daerah tersebut. Dengan kondisi lingkungan yang mendukung dan kondisi social yang mendukung perekonomian pada daerah tersebut akan mengalami keberlanjutan. Jika pertanian menuju organic dijalankan dengan maksimal dan didukung oleh kerjasama yang baik antar masyarakat dan antar pemerintah, perekonomian didaerah akan tetap berkelanjutan dan dapat mengalami peningkatan. Jika seluruh petani pada daerah tersebut menerapkan pertanian organic maka perekonomian di daerah tersebut akan semakin meningkat. Hal ini

dikarenakan tingginya harga jual padi organic dipasaran dapat memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan padi anorganik. Sehingga jika di scoring untuk kecukupan dan ketersediaan pangan dan gizi seimbang scornya adalah 3 karena semua tersedia di tempat itu. Untuk pangan yang diproduksi dalam masyarakat nilainya 26-40% sehingga scornya adalah 5. Untuk pangan yang diperoleh daridari produsen pangan local di luar masyarakat yaitu 25% sehingga scornya adlah 1. Untuk pangan yang tumbuh secara organic besarnya 65% atau lebih sehingga scornya 5. Dan untuk pangan yang berasal dari tanaman indigeneous/ asli adalah 50% sehingga scornya adalah 5. Kemudian untuk produksi surplus pangan terdapat pada dalam wilayah sehingga scornya adalah 6. Untuk penggunaan rumah kaca pada produksi pangan tidak ada penggunaannya sehingga scornya adalah 0. Kelebihan pangan yang ada biasanya dijual oleh masyarakat sehingga scornya adalah 1.Untuk penggunaan bahan-bahan kimia di wilayah ini sangat diminalisir sehingga scornya adlah 1. Dan penggunaan benihnya yaitu berasal dari benih diserbukkan terbuka sehingga skornya adalah 6. Jika ditotal skornya adalah 31. Hal ini menunjukkan suatu awal yang baik kea rah keberlanjutan.

C. INDIKATOR KEMERATAAN Jika dilihat dari segi indikator kemerataan ekonomi penduduk di daerah Sumbermakmur 2 tersebut yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, maka pendapatan yang didapat oleh petani di dalam setiap musim tanam nya adalah sekitar Rp 1.000.000-Rp 5.000.000. Sehingga jika di scoring scornya adalah 2. Dan hasil panen yang didapat oleh petani yang ada disana berasal dari lahan sendiri dengan luas lahan yang dimiliki oleh setiap petani adalah

0,25 ha sehingga jika di scoring scornya 3 dan 1. Sehingga total skornya adalah 7. Setelah Sumbermakmur semua aspek pengelolaan agroekosistem di pada daerah daerah

2 ini disurvei didapatkan hasil bahwa

Sumbermakmur 2 ini sudah mampu menunjukkan suatu awal yang baik untuk

menuju kearah pertanian yang keberlanjutan dan mampu menciptakan keadaan agroekosistem yang saling berkesinambungan dengan ekosistem di sekitarnya.

PRODUKTIVITAS

OTONOMI

STABILITAS

EQUATIBILITAS

SUSTAINABILITAS

A. PRODUKTIVITAS Keuntungan perha = 3 juta Hasil penjualan per ha = 24 juta Produktivitas =


 

x 100% = 12,5 %

B. SUSTAINABILITY & STABILITY 31 % C. KEMERATAAN 60% D. OTONOMI x 100% = 26.9 %

3.2.3. Indicator pengelolaan kesehatan tanaman Suatu tanaman dikatakan sehat apabila tanaman itu tidak dirugikan oleh suatu faktor atau penyebab yang ikut campur tangan terhadap aktivitas dari sel-sel atau organ-organ tanaman yang normal, yang dampaknya terjadi penyimpangan dan merugikan pada tanaman tersebut. Tanaman sehat adalah identik dengan

tanaman yang tidak terserang hama atau penyakit. Sedangkan tanaman yang tidak sehat adalah apabila tanaman tersebut memiliki pertumbuhan yang tidak baik, batang tidak lurus, daun pucat ke-kuningkuningan dan terserang hama dan penyakit. Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama. Serangan hama tidak hanya dipengaruhi oleh faktor tanaman itu sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor jasad pengganggu, faktor lingkungan dan kadang faktor manusia juga memberikan pengaruh terhadap serangan hama melalui tindakan-tindakan dalam pengelolaan tanaman, misal penentuan jarak tanam, pencampuran jenis, penjarangan, penentuan jenis tanaman sela, pemaanfaatan mikroorganisme berguna dan penggunaan insektisida. Tanaman sehat memungkinkan untuk tidak diserang oleh hama jika tanaman tersebut

memiliki sifat ketahanan yang horisontal dan didukung oleh faktor-faktor lain, seperti tersedianya musuh alami (parasit, predator dan pathogen) dari hama dan kondisi lingkungan yang mendukung tidak berkembangnya hama. Pada budidaya padi yang menuju organic di daerah Sumber Ngepoh, Pedukuhan Mbareng Lawang beberapa upaya pengelolaan yang dilakukan untuk menjaga kesehatan tanaman adalah dengan penggunaan bibit unggul, penggunaan jarak tanam (menurut metode SRI) dan penggunaan pestisida nabati. Penggunaan bibit unggul diperoleh dari dinas pertanian. Dengan menggunakan bibit unggul diharapkan tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh dengan optimal dan tahan terhadap beberapa hama atau penyakit tertentu. Dengan ketahanan terhadap beberapa hama atau penyakit tersebut, tanaman dapat tumbuh dengan sehat jika kondisi lingkungan disekitar mendukung pertumbuhan tanaman. Penggunaan

jarak tanam yang sesuai dengan sistem SRI yaitu 30 x 30 cm bertujuan untuk meningkatkan jumlah anakan pada padi. Selain itu dengan jarak tanam tersebut petani akan lebih mudah dalam melakukan penyiangan. Penyiangan dilakukan dengan menghilangkan berbagai gulma yang ada disekitar tanaman. Gulma-gulma tersebut dapat menjadi sarang hama dan dapat menjadi kompetitor bagi tanaman budidaya. Dengan penggunaan jarak tanamn tersebut, penghilangan gulma dapat lebih maksimal, keberadaan hewan yang berpotensi sebagai hama dapat diminimalkan dan kompetisi antar tanaman dapat diminimalisir sehingga tanaman

dapat tumbuh lebih optimal dan lebih sehat. Pada penggunaan pestisida, petani didaerah ini menggunakan pestisida alami. Pestisida yang digunakan berasal dari lingkungan sekitar. Sebagai contoh untuk mengendalikan tikus, petani

menggunakan trasi dan gadung. Trasi ditujukan untuk merangsang hama (tikus) sedangkan gadung beracun digunakan untuk mematikan hama. Dengan menggunakan pestisida nabati, keseimbangan pada ekosistem tersebut masih terjaga. Penggunaan pestisida nabati lebih ramah lingkungan dan tidak menyebabkan resistensi dan resurgensi sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimal dan memiliki ketahanan terhadap serangan hama maupun penyakit lebih baik. Selain dari beberapa aspek diatas, kesehatan tanaman juga dipengaruhi oleh kondisi tanah yang ada pada daerah tersebut. Tanah yang tidak sehat menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak optimal. Kondisi tanah di daerah in i cukup baik. Hal ini dapat diketahui dari input yang diberikan yaitu berupa pupuk organic seperti pupuk kandang. Kondisi tanah yang dapat menyediakan kebutuhan tanaman seperti air, udara dan unsurhara dapat memaksimalkan pertumbuhan tanaman dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama maupun penyakit. Pada budidaya padi di Kelompok tani ini ditemukan beberapa hama dan penyakit seperti tikus dan blast. Keberadaan hama dan penyakit tersebut masih dalam ambang batas yang tidak merugikan secara ekonomi. Hal ini dikarenakan budidaya secara organic dengan input bahan organic dapat memilihara keseimbangan, stabilitas dan keberlanjutan dari ekosistem tersebut. Dengan kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap gangguan OPT sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimal dan sehat. DP: Wahyu Catur Adinugroho. 2008. TUGAS MATA KULIAH TEKNOLOGI

PERLINDUNGAN HUTAN (SVK 531) PERSEPSI MENGENAI TANAMAN

SEHAT. MAYOR SILVIKULTUR TROPIKASEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR