Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

HIRSCHPRUNG

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat penugasan Stase Keperawatan Anak

Disusun oleh :

Nadia Dwi Ningtiyas, S.Kep

4012230012

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES BINA PUTERA BANJAR
2022/2023
A. Definisi Hirschprung
Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel-sel
ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid Colon. Dan ketidakadaan ini
menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi
usus spontan (Cecily Betz & Sowden : 2012).
Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab
gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi
aterm dengan berat lahir < 3 Kg, lebih banyak laki - laki dari pada perempuan (Arief
Mansjoeer : 2010 ). Hirschprung adalah penyakit akibat tidak adanya sel- sel ganglion
di dalam usus yang terbentang ke arah proksimal mulai dari anus hingga jarak
tertentu. (Behrman & vaughan, 2011)
Hirschprung adalah aganglionosis ditandai dengan tidak terdapatnya neuron
mienterikus dalam sengmen kolon distal tepat disebelah proksimal sfingter ani
(Isselbacher,dkk, 2011). Penyakit hirschprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel
ganglion parasimpatis pada usus, dapat dari kolon sampai usus halus
( Ngastiyah,2019).
B. Etiologi
Penyebab dari Hirschprung yang sebenarnya tidak diketahui, tetapi
Hirschsprung atau Mega Colon diduga terjadi karena :
1. Faktor genetik dan lingkungan, sering terjadi pada anak dengan Down syndrom.
2. Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi,
kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus.
3. Kegagalan sel-sel krista naturalis untuk bermigrasi ke dalam dinding usus suatu
bagian saluran cerna bagian bawah termasuk kolon dan rektum. Akibatnya tidak
ada ganglion parasimpatis (aganglion) di daerah tersebut, sehingga menyebabkan
peristaltik usus menghilang sehingga profulsi feses dalam lumen terlambat serta
dapat menimbulkan terjadinya distensi dan penebalan dinding kolon di bagian
proksimal sehingga timbul gejala obstruktif usus akut, atau kronis tergantung
panjang usus yang mengalami aganglion.
C. Tanda dan Gejala

Gejala Penyakit Hirshprung menurut ( Betz Cecily & Sowden, 2012 ) :


1. Masa neonatal
a. Gagal mengeluarkan mekonium dalam 24-48 jam setelah lahir
b. Muntah berisi empedu
c. Enggan minum
d. Distensi abdomen
2. Masa bayi dan anak - anak
a. Konstipasi
b. Diare berulang
c. Tinja seperti pita dan berbau busuk
d. Distenssi abdomen
e. Adanya masa difecal dapat dipalpasi
f. Gagal tumbuh
g. Biasanya tampak kurang nutrisi dan anemi

D. Klasifikasi
Berdasarkan panjang segmen yang terkena, Hirschprung dapat dibagi menjadi
dua, yaitu :
1. Penyakit hirschprung segmen pendek
Segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid; ini merupakan 70% dari
kasus penyakit hirschsprung dan lebih sering ditemukan pada anak laki- laki
dibanding anak perempuan.
2. Penyakit hirschprung segmen panjang
Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh kolon atau usus
halus. Ditemukan sama banyak baik laki - laki maupun perempuan.
E. Patofisiologi
Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan
primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal.
Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus
besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga
pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum
tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang
menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian
proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon (Cecily Betz & Sowden,
2016).
Isi usus terdorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah
tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu
karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S
& Wilson, 2015 ). Aganglionic mega colon atau hirschprung dikarenakan tidak
adanya ganglion parasimpatik disubmukosa (meissher) dan mienterik (aurbach) tidak
ditemukan pada satu atau lebih bagian dari kolon menyebabkan peristaltik usus
abnormal.
Peristaltik usus abnormal menyebabkan konstipasi dan akumulasi sisa
pencernaan di kolon yang berakibat timbulnya dilatasi usus sehingga terjadi
megakolon dan pasien mengalami distensi abdomen. Aganglionosis mempengaruhi
dilatasi sfingter ani interna menjadi tidak berfungsi lagi, mengakibatkan pengeluaran
feses, gas dan cairan terhambat. Penumpukan sisa pencernaan yang semakin banyak
merupakan media utama berkembangnya bakteri. Iskemia saluran cerna berhubungan
dengan peristaltik yang abnormal mempermudah infeksi kuman ke lumen usus dan
terjadilah enterocolitis. Apabila tidak segera ditangani anak yang mengalami hal
tersebut dapat mengalami kematian (kirscher dikutip oleh Dona L.Wong, 2015).
F. Pathway
G. Komplikasi
Menurut Mansjoer (2010) menyebutkan komplikasi penyakit hirschprung adalah:
1. Obstruksi usus
2. Ketidakseimbangan cairan dan elektolit
3. Konstipasi
4. Pneumatosis usus, dan Abses peri kolon
Disebabkan oleh bakteri yang tumbuh berlainan pada daerah kolon yang iskemik
distensi berlebihan dindingnya.
5. Perforasi
Disebabkan aliran darah ke mukosa berkurang dalam waktu lama.
6. Septikemia
Disebabkan karena bakteri yang berkembang dan keluarnya endotoxin karena iskemia
kolon akibat distensi berlebihan pada dindinng usus.

H. Data Fokus Pengkajian

1. Anamnesa
a. Informasi identitas/data dasar : Nama, umur, jenis kelamin, agama, alamat, tanggal
pengkajian, pemberi informasi.
b. Keluhan utama : Obstipasi merupakan tanda utama dan pada bayi baru lahir. Trias
yang sering ditemukan adalah mekonium yang lambat keluar (lebih dari 24 jam
setelah lahir), perut kembung dan muntah berwarna hijau. Gejala lain adalah
muntah dan diare.
c. Riwayat kesehatan sekarang : Yang diperhatikan adanya keluhan mekonium keluar
setelah 24 jam setelah lahir, distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal.
Tanyakan sudah berapa lama gejala dirasakan pasien dan tanyakan bagaimana
upaya klien mengatasi masalah tersebut.
d. Riwayat Nutrisi meliputi : Masukan diet anak dan pola makan anak.
e. Riwayat kesehatan keluarga : Tanyakan pada orang tua apakah ada anggota
keluarga yang lain yang menderita Hirschsprung.
f. Riwayat tumbuh kembang : Tanyakan sejak kapan, berapa lama klien merasakan
sudah BAB.
g. Riwayat kebiasaan sehari-hari : Kebutuhan nutrisi, istirahat dan aktifitas.
2. Pemeriksaan Fisik
1. Kulit
Warna kulit tubuh merah atau berwarna biru, pada bayi preterm terdapat lanugo
dan verniks.
2. Kepala
Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-ubun
besar cekung atau cembung.
3. Mata
Warna konjungtiva anemis/tidak anemis, tidak ada bleeding konjungtiva, warna
sclera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya.
4. Hidung
Terdapat pernafasan cuping hidung atau tidak , dan terdapat penumpukan
lendir/tidak.
5. Mulut
Bibir berwarna pucat atau merah, ada lendir atau tidak.
6. Telinga
Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan.
7. Sistem Gastrointestinal : Kaji pada bagian abdomen palpasi adanya nyeri,
auskultasi bising usus, adanya kembung pada abdomen, adanya distensi abdomen,
muntah (frekuensi dan karakteristik muntah).
Inspeksi : Tanda khas didapatkan adanya distensi abnormal. Pemeriksaan rectum
dan feses akan didapatkan adanya perubahan feses seperti berbau busuk.
Palpasi : Teraba dilatasi kolon abdominal.
Perkusi : Timpani akibat abdominal mengalami kembung.
Auskultasi : Pada fase awal didapatkan penurunan bising usus, dan berlanjut
dengan hilangnya bising usus.
8. Sistem Pernafasan : Kaji apakah ada kesulitan bernapas,
frekuensi pernapasan
9. Sistem kardiovaskuler : Kaji adanya kelainan bunyi jantung (mur-mur, gallop),
irama denyut nadi apikal, frekuensi denyut nadi / apikal.
10. Sistem integument : Kebersihan kulit mulai dari kepala maupun tubuh, warna
kulit, ada tidaknya edema kulit, dan elastisitas kulit.
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Radiologi
1. Foto polos abdomen tegak akan memperlihatkan usus-usus melebar atau terdapat
gambaran obstruksi usus rendah.
2. Barium Enema ditemukan :
a. Terdapat daerah transisi
b. Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian usus yang menyempit
c. Enterokolitis pada segmen yang melebar
d. Ada penyumbatan pada kolon
e. Terdapat retensi barium setelah 24-48 jam
b. Pemeriksaan colok dubur
Saat pemeriksaan ini, jari akan merasakan jepitan karena lumen rektum yang sempit,
pada saat ditarik akan diikuti dengan keluarnya udara dan mekonium (Feses) yang
menyemprot dan feses berbau busuk.
1. Biopsi isap
Ditemukan peningkatan aktivitas enzim asetilkolinenterase, merupakan tanda
khas penyakit hirsprung
2. Biopsi rectal
Tidak terdapat sel-sel ganglion
I. Analisa Data

No Data Etiologi Masalah


1 D.0077 Nyeri Akut Apanglionik saluran Nyeri akut D.0077
Tanda dan gejala mayor cerna
Subjektif : 
(Tidak tersedia) Peristaltic menurun
Objektif : 
1. Tampak meringis Proliferasi bakteri
2. Bersikap protektif (mis. 
waspada, posisi Pengeluaran endotoksin
menghindari nyeri) 
3. Gelisah inflamasi
4. Frekuensi nadi 
meningkat Prosedur operasi
5. Sulit tidur 
Tanda dan gejala minor Nyeri Akut
Subjektif :
(Tidak tersedia)
Objektif :
1. Tekanan darah
meningkat
2. pola napas berubah
3. nafsu makan berubah
4. proses berpikir
terganggu
5. Menarik diri
6. Berfokus pada diri
sendiri
Diaforesis
2. D.0005 Apanglionik saluran Pola Napas Tidak
Pola Napas Tidak Efektif cerna Efektif
Tanda dan gejala mayor 
Subjektif : Distensi abdomen
(Tidak tersedia) 
Objektif : Penekanan pada
1. Penggunaan otot bantu diafragma
pernapasan 
2. Fase ekspirasi Ekspansi paru menurun
memanjang 
3. Pola napas abnormal Pola nafas tidak efektif
(misal : takipnea,
bradipnea,
hiperventilasi,
kussmaul, cneyne-
stokes)
Tanda dan gejala minor
Subjektif :
(Tidak tersedia)
Objektif :
1. Pernapasan pursed-lip
2. Pernapasan cuping
hidung
3. Ventilasi semenit
menurun
4. Kapasitas vital menurun
5. Tekanan ekspansi
menurun
6. Tekanan inspirasi
menurun
7. Ekstruksi dada berubah.
3. D.0019 Defisit Nutrisi Apanglionik Saluran Defisit Nutrisi
Tanda dan gejala mayor cerna
Subjektif : 
(Tidak tersedia) Dilatasi usus
Objektif : 
1. Berat badan menurun Feses membusuk
minimal 10% dibawah produksi gas meningkat
rentang ideal 
Tanda dan gejala minor Mual muntah
Subjektif : 
1. Cepat kenyang setelah Anoreksia
makan 
2. Kram/nyeri abdomen Defisit Nutrisi
3. Nafsu makan menurun
Objektif :
1. Bising usus hiperaktif
2. Otot pengunyah lemah
3. Otot menelan lemah
4. Membrane mukosa
pucat
5. Sariawan
6. Serum albumin turun
7. Diare
4. Data Subyektif Apanglionik Saluran Resiko
cerna Ketidakseimbangan
(Tidak Tersedia)
 Cairan
Data Obyektif Dilatasi usus
1. kulit dan membran 
Feses membusuk
mukosa kering, produksi gas meningkat

2. suhu tubuh meningkat, Mual muntah

3. peningkatan nadi,
Drainase gaster
4. penurunan tekanan 
darah, dan kelemahan Resiko
Ketidakseimbangan
cairan

J. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri Akut
2. Pola Nafas Tidak Efektif
3. Defisit Nutrisi
4. Resiko Ketidakseimbangan Cairan
K. Perencanaan Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Intervensi


1. Nyeri akut D.0077 Tingkat nyeri : L: 08066 Manajemen Nyeri (I. 08238)
Setelah di lakukan tindakan Observasi
keperawatan selama 2 x 24 jam 1. lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
masalah nyeri dapat teratasi. nyeri
Ekspetasi : menurun 2. Identifikasi skala nyeri
Kriteria hasil : 3. Identifikasi respon nyeri non verbal
1. Keluhan nyeri menurun 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan
2. Gelisah menurun nyeri
3. Anoreksia menurun 5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
4. Pola tidur membaik 6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
8. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah
diberikan
9. Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik
1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa
nyeri (mis. TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik,
biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi
terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
2. Control lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis.
Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
3. Fasilitasi istirahat dan tidur
4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan
strategi meredakan nyeri
Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan memonitor nyri secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
5. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa
nyeri
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
2. Pola Napas Tidak Pola Napas : L: 01004 Manajemen Jalan Napas : I. 01011
Efektif D.0005 Setelah di lakukan tindakan Observasi
keperawatan selama 2 x 24 jam pola 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
napas adekuat. 2. Monitor bunyi napas tambahan (mis : gurgling, mengi,
Ekspetasi : membaik wheezing, ronkhi kering)
Kriteria hasil : 3. Monitor sputum (jumlah,warna,aroma)
1. Ventilasi semenit meningkat Terapeutik
2. Kapasitas vital meningkat 1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-
3. Tekanan ekspirasi meningkat lift (jaw trust jika curiga trauma servikal)
4. Tekanan inspirasi meningkat 2. Posisikan semi-fowler atau fowler
5. Pernapasan cuping hidung 3. Berikan minum hangat
menurun 4. Lakukan fisioterafi dada, jika perlu
6. Ekskrusi dada membaik 5. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill
6. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
2. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik,
jika perlu

3. Defisit Nutrisi Status Nutrisi I.03030 Manajemen Nutrisi I.03119


D.0019 Setelah di lakukan tindakan Observasi
keperawatan selama 2 x 24 jam nutrisi 1. Identifikasi status nutrisi
adekuat. 2. Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
Espektasi : Membaik 3. Identifikasi makanan yang disuai
Kriteria Hasil : 4. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutriet
1. Porsi makan yang dihabiskan 5. Monitor asupan makanan
2. Kekuatan otot pengunyah 6. Monitor berat badan
meningkat 7. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
3. Kekuatan otot menelan meningkat Terapeutik
4. Perasaan cepat kenyang menurun 1. Lakukan hygiene sebelum makan, jika perlu
5. Nyeri abdomen menurun 2. Fasilitasi menentukan pedoman diet
6. Diare menurun 3. Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
7. Berat badan membaik 4. Berikan makanan yang tinggi serat untuk mencegah kontipasi
8. Frekuensi makan membaik 5. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
6. Berikan makanan rendah protein
Edukasi
1. Anjurkan posisi duduk, jika mampu
2. Anjurkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan. Mia : pereda
nyeri, antimetic, jika perlu
2. Kolaborasi dengan ahli gizi menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrient yang dibutuhkan, jika perlu.
4 Resiko Keseimbangan Cairan Manajemen Cairan
Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan selama Observasi
Cairan 2x24 jam diharapkan dapat 1. Monitor status hidrasi
Mempertahankan keseimbangan cairan 2. Monitor berat badan harian
dan elektrolit dengan Kriteria Hasil : 3. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
1. Mukosa bibir lembap 4. Monitor status dinamik
2. Turgor kulit elastis Terapeutik
3. TTV dalam batas normal 1. Catat intake outputdan hidung balance cairan
4. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi 2. Berikan asupan cairan sesuai kebutuhan
5. Intake dan output cairan seimbang 3. Berikan terapi IV, sesuai program
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian diuretic, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA

PPNI (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi


dan Indikator Diagnostik, Edisi 1. Jakarta:DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi
dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta:DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi
dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta:DPP PPNI.

Anda mungkin juga menyukai