Anda di halaman 1dari 57

Asuhan Keperawatan Pada By. Ny.

Yanti
Laporan Ini Dibuat untuk Memenuhi Tugas Praktek Klinik Anak

Dosen Pembimbing :

Ns. Ernawati

Disusun Oleh :

Famela Rizqi Amalia


(191145)

2D

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Husada

Jl. Mangga Besar Raya No. 137 – 139 No.13, Jakarta Pusat

Tahun Ajaran 2019/2020


LAPORAN PENDAHULUAN
BERAT BAYI LAHIR RENDAH

KONSEP TEORI
A. DEFINISI

BBLR adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram.

Dahulu bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2500 gram disebut

premature.untuk mendapatkan keseragaman pada kongres “European Perinatal

Medicine” II dilondon (1970) telah disusun definisi sebagai berikut :

a. Bayi kurang bulan : bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu

(259 hari)

b. Bayi cukup bulan : bayi dengan masalah kehamilan mulai 37 minggu

sampai dengan 42 minggu (259-293 hari)

c. Bayi lebih bulan : bayi dengan masalah kehamilan mulai 42 minggu atau

lebih (294 hari atau lebih).

Dengan pengertian diatas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi

menjadi 2 golongan : prematuritas dan dismaturitas.

1. Prematuritas murni adalah bayi yang lahir dengan masa kehamilan kurang

dari 37 minggu dan berat badan bayi sesuai dengan gestasi atau yang

disebut neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan (NKB-SMK).

2. Dismatur adalah berat badan kurang dari seharusnya untuk masa

gestasi/kehamilan akibat bayi mengalami retardasi intauteri dan merupakan


bayi yang terkecil untuk masa pertumbuhan (KMK) dismatur dapat terjadi

dalam preterem, term dan post term yang terbagi dalam:

 Neonates kurang bulan - kecil untuk masa kehamilan (NKB-KMK).

 Neonates cukup bulan - kecil untuk masa kehamilan (NCB-KMK).

 Neonates lebih bullan – kecil untuk masa kehamilan (NLB –

KMK).

B. ETIOLOGI

Penyebab BBLR terjadi karena beberapa faktor. Semakin muda usia kehamilan,

semakin besar resiko dapat terjadinya BBLR (Proverawati, Sulistyorini, 2010).

berikut ini adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan BBLR secara umum :

a. Factor ibu:

1. Penyakit: hal yang berhubungan dengan kehamilan seperti

toksemia, gravidaruum, pendarahan antepartum, trauma fisik dan

ppsikologis, infeksi akut, serta kelainan kardiovaskuler.

2. Usia ibu: angka kejadiian BBLR tertinggi ialah pada usia ibu

dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun.

3. Jarak antara kehamilan sebelumnya pendek yaitu kurang dari 1

tahun

4. Memiliki riwayat BBLR sebelumnya

5. Kondisi ibu saat hamil: peningkatan berat badan ibu yang tidak

adekuat dan ibu yang perokok.

b. Factor janin:
Beberapa faktor janin yang mempengaruhi kejadian bblr antara lain :

kehamilan ganda,ketuban pecah dini,cacat bawaan,kelainan

kromosom,infeksi (missal : Rubella dan Sifilis) dan

hidramnion/polihidramnion.

c. Factor ekonomi:

1. Kejadian tertinggi biasanya pada keadaan social ekonomi yang

rendah

2. Gizi yang kurang

d. Factor lingkungan:

1. Terkena radiasi

2. Terpapar zat racun

D. PATOFISIOLOGI

Salah satu patofisiologi dari BBLR yaitu asupan gizi yang kurang pada

ibu,ibu hamil yang kemudian secara otomatis juga menyebabkan berat badan lahir

rendah.apabila dilihat dari faktor kehamilan,salah satu etiologinya yaitu hamil

ganda yang mana pada dasarnya janin berkembang dan tumbuh lebih dari

satu,maka nutrisi atau gizi yang mereka peroleh dalam rahim tidak sama dengan

janin tunggal,yang mana pada hamil ganda gizi dan nutrisi yang didapat dari ibu

harus terbagi sehingga kadang salah satu dari janin pada hamil ganda juga

mengalami BBLR.

Kemudian jika dikaji dari faktor janin,salah satu etiologinya yaitu infeksi

dalam rahim yang mana dapat menggangu atau menghambat pertumbuhan janin
dalam rahim yang bisa mengakibatkan BBLR pada bayi.(Manggiasih dan

Jaya.2016).

Pathway

C. MANIFESTASI KLINIS

Menurut Poverawati,Sulistyorini (2010) manifestasi klinis yang dapat

ditemukan pada bayi degan berat badan lahir rendah adalah.

1. Berat Badan kurang dari 2500 gram

2. panjang Badan kurang dari 45 cm

3. lingkar dada kurang 30 cm dan linkar kepala kurang dari 33 cm


4. kepala lebih besar dari tubuh

5. Rambut lanugo masih banyak,jaringan lemak subkutan tipis atau sedikit

6. tulang rawan dan daun telinga belum cukup,sehingga elastisitas belum

sempurna.

7. Tumit mengkilap dan telapak kaki halus


8. Genetalia belum sempurna,pada bayi perempuan labia minora belum

tertutup oleh labia mayora, kalau pada bayi laki-laki Testis belum

turun kedalam skrutom,pigmentasi dan rugue pada skorutom kurang

9. Pergerakan kurang dan lemah,tangis lemah,pernapasan belum teratur,

dan sering mendapatkan apne.

10. Bayi lebih banyak tidur dari pada bangun,sehingga refleks menghisap

dan menelan belum sempurna

11. Suhu tubuh mudah berubah menjadi hipotermi

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Adapun beberapa periksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan
diagnosa BBLR adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan skor Ballard
2. Test kocok (shake test) dianjurkan untuk bayi kurang bulan
3. Kadar elektrolit dan analisa gas darah
4. Darah rutin, dan glukosa darah.
5. Foto rontgen dada diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan
kurang bulan dan mengalami sindrom gangguan napas.
6. USG kepala terutama pada bayi kehamilan < 35 minggu, dimulai pada umur 3
hari dan dilanjutkan sesuai hasil yang di dapat.
E. KOMPLIKASI
Menurut Mitayani (2013) Komplikasi yang dapat timbul pada bayi berat badan

lahir rendah adalah sebagai berikut :

1. Sindrom aspirasi mekonium (menyebabkan kesulitan bernapas pada


bayi)

2. Hipoglikemi simptomatik,terutama pada laki-laki

3. Penyakit membrane hialin : disebabkan karena surfaktan paru belum

sempurna/cukup,sehingga alveoli kolaps. Sesudah bayi mengadakan

inspirasi,tidak tertinggal udara residu dalam alveoli,sehingga selalu

dibutuhkan tenaga negatif yang tinggi untuk pernapasan berikutnya

4. Aspiksia neonatrum

5. Hiperbilirubinnemia : Bayi dismatur sering mendapatkan

hiperbilirubinemia,hal ini mungkin

disebabkan karena ganguan pertumbuhan hati

6. Angka kejadian

a. Amerika serikat : prematur murni (7,1% orang kulit putih dan 17,9

orang kulit berwarna) dan BBLR (6-16 %)

b. RSCM pada tahun 1986 sebesar 24% angka kematian perinatal

dan 73% disebabkan BBLR


F. PENATALAKSANAAN

Perawatan pada bayi dengan berat badan lahir rendah menurut Nurafif & Hardi (2016)

a. Pengaturan suhu
Untuk mencegah hipotermi, diperlukan lingkungan yang cukup hangat

danistirahat konsumsi O2 yang cukup. Bila dirawat dalam incubator maka suhunya untuk

bayi dengan BB 2 kg adalah 35 □ dan untuk bayi dengan BB 2-2,5 kg adalah 34□. Bila

tidak ada inkubator,pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan

meletakkan botol-botol hanyat yang dibungkus dengan handuk atau lampu petromak

didekat tidur bayi.bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok untuk memudahkan

pengawasan mengenai keadaan umum,warna kulit,pernafasan,kejang dan sebagainya

sehingga penyakit dapat dikenali sedini mungkin.

b. Pengaturan makanan/nutrisi

Prinsip utama pemberian makanan pada bayi prematur adalah sedikit demi

sedikit secara perlahan-lahan dan hati-hati.pemberian makanan dini berupa glukosa,ASI

atau PASI mengurangi resiko hipoglikemia,dehidrasi atau hiperbilirubinia.bayi yang

daya isapnya baik dan tanpa sakit berat dapat dicoba minum melalui mulut.umumnya

bayi dengan berat kurang dari 1500 gram memerlukan minum pertama dengan pipa

lambung karena belum adanya koordinasi antara gerakan menghisap dengan menelan.

Dianjurkan untuk minum pertama sebanyak 1 ml larutan steril untuk bayi dengan berat

kurang dari 1000 gram,2-4 ml untuk bayi dengan berat antara 1000-1500 gram dan 5-10

ml untuk bayi dengan berat lebih dari 1500 gram.


Apabila dengan pemberian makanan pertama bayi tidak mengalami

kesukaran,pemberian ASI/PASI dapat dilanjutkan dalam waktu 12-48 jam.

c. Mencegah infeksi
Bayi premature mudah terserang infeksi. Hal ini disebabkan karena daya tubuh
bayi terhdap infeksi kurang antibody relative belum terbentuk dan daya
fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik. Prosedur pencegahan
infeksi adalah sebagai berikut:
1. Mencuci tangan sampai kesiku dengan sabun dan air mengalir selama 2 menit
sebelum masuk keruangan rawat bayi.
2. Mencuci tangan dengan zat anti septic atau sabun sebelum dan sesudah
memegang seseorang bayi
3. Mengurangi kontaminasi pada makanan bayi dan semua benda yang
berhubungan dengan bayi
4. Membatasi jumlah bayi dalam satu ruangan
5. Melarang petugas yang menderita infeksi masuk ke ruang bayi.

A. ASUHAN KEPERAWATAN TEORI


I. PENGKAJIAN
A. Biodata Pasien
Data yang dikaji meliputi Nama, Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Alamat,
Penanggung
B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Keluhan utamanya adalah rasa nyeri akut atau kronik. Selain itu klien juga akan kesulitan
beraktivitas.
2. Riwayat Penyakit Sekarang

Untuk mengetahui lebih detail hal yang berhubungan dengan keluhan utama.
a. Munculnya keluhan

Tanggal munculnya keluhan, waktu munculnya keluhan (gradual/tiba-tiba),

presipitasi/ predisposisi (perubahan emosional, kelelahan, kehamilan, lingkungan,

toksin/allergen, infeksi).

b. karakteristik

Karakter (kualitas, kuantitas, konsistensi), loksai dan radiasi, timing (terus


menerus/intermiten, durasi setiap kalinya), hal-hal yang
meningkatkan/menghilangkan/mengurangi keluhan, gejala-gejala lain yang
berhubungan.

c. Masalah sejak muncul keluhan


Perkembangannya membaik, memburuk, atau tidak berubah.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Prenatal

Keluhan saat hamil, tempat ANC, kebutuhan nutrisi saat hamil, usia kehamilan

(preterm, aterm, post term), kesehatan saat hamil dan obat yang diminum.

b. Natal

Tindakan persalinan (normal atau Caesar), tempat bersalin, obat-obatan yang

digunakan.

c. Post natal

Kondisi kesehatan, apgar score, Berat badan lahir, Panjang badan lahir, anomaly

kongenital.

d. Penyakit waktu kecil

e. Pernah dirawat di rumah sakit

Penyakit yang diderita, respon emosional


f. Obat-obat yang digunakan (pernah/sedang digunakan)
Nama obat dan dosis, schedule, durasi, alasan penggunaan obat.
g. Allergi
Reaksi yang tidak bisa terhadap makanan, binatang, obat, tanaman, produk
rumah tangga, dll.
h. Imunisasi
Imunisasi yang pernah didapat, usia dan reaksi waktu imunisasi.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor
predisposisi terjadinya BBLR/tidak berhubungan dengan penyakit yang dideruta klien.
C. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
a. Yang mengasuh anak dan alasannya
b. Pembawaan anak secara umum (periang, pemalu, pendiam, dan kebiasaan
menghisap jari, membawa gombal, mengompol).
c. Lingkungan rumah (kebeersihan, keamanan, ancaman, keselamatan anak, ventilasi,
letak barang-barang).

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa yang muncul pada pasien dengan BBLR yaitu:

 Keidakefektifan pola nafas berhubungan dengan imaturitas otot-otot pernafasan

dan penurunan ekspansi paru atau kelelahan.

 Defisit nutrisi b.d reflek menghisap dan menelan yang belum sempurna.
 Ikterik neonates b.d usia kurang 7 hari
 Risiko infeksi ditandai oleh bayi terlahir prematuritis
III. INTERVENSI (RENCANA KEPERAWATAN)

1. Intervensi Keidakefektifan pola nafas berhubungan dengan imaturitas otot-otot

pernafasan dan penurunan ekspansi paru atau kelelahan:

 Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)..


 Monitor bunyi napas tambahan (ms. Gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kering).
 Monitor seputum (jumlah, warna, aroma).
 Lakukan penghisapan lender kurang dari 15 detik
 Berikan oksigen (CPAP)
 Kolaborrasi pemberian brokodilator, ekspektoran, mukolitik.
2. Intervensi Defisit nutrisi b.d reflek menghisap dan menelan yang belum sempurna.
 Identifikasi status nutrisi
 Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient.
 Sediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien
 Monitor adanya mual dan muntah
 Monitor berat badan
3. Intervensi Ikterik neonates b.d bayi lahir belum cukup bulan
 Identifikasi kebutuhan cairan sesuai dengan usia gestasi dan berat badan
 Monitor ikterik pada sclera dan kulit bayi
 Monitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali
 Monitor efek samping foto terapi (mis. Hipertermi, diare, rush pada kulit,
penurunan berat badan lebih dari 8-10%).
 Berikan penutup mata pada bayi
 Biarkan tubuh bayi terpapar sinar fototerapi secara berkelanjutan
 Ganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB
 Kolaborasi pemeriksaan darah vena bilirubin direk dan indirek.
4. Intervensi resiko infeksi ditandai oleh bayi lahir prematuritis
 Batasi jumlah pengunjung
 Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau lingkungan pasien
 Pertahankan teknik aseptic
 Atur suhu lingkungan yang sesuai

IV. IMPLEMENTASI (PELAKSANAAN KEPERAWATAN)


Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan dimana rencana
keperawatan dilaksanakan : melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah ditentukan,
pada tahap ini perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah
dicatat dalam rencana perawatan pasien. Agar implementasi perencanaan dapat tepat
waktu dan efektif terhadap biaya, pertama tama harus mengidentifikasi prioritas
perawatan pasien, kemudian bila perawatan telah dilaksanakan, memamtau dan mecatat
respons pasien terhadap setiap intervensi dan mengkomunikasikan informasi ini kepada
penyedia perawatan kesehatan lainnya, kemudian dengan mengunakan data, dapat
mengevaluasi dan merevisi rencana keperawatan dalam tahap proses keperawatan
berikutnya.
V. EVALUASI
Tahap evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang
diinginkan dan respons pasien terhadap dan keefektifan intervensi keperawatan
kemudian mengganti rencana perawatan jika diperlukan. Tahap akhir dari proses
keperawatan perawat mengevaluasi kemampuan pasien kearah pencapaian hasil.
DAFTAR PUSTAKA

Bulecheck, Gloria M, dkk. 2016. Nursing Internention Classificstion. Edisi keenam.

Yogyakarya: Mocomedia

Proverawati, Atikah & Ismawati, Cahyo. 2010. Berat Badan Lahir Rendah Dilengkapi Dengan Asuhan
Pada BBLR dan Pijat Bayi. Yogyakarta: Nuha Medika.

Herdman, T. Heather & Kamitsuru, Shigmen. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi &

Klasifikasi. Edisi10. Jakarta: EGC.

Hidayat,A Aziz Alimul.2012.Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analis Data. Edisi-

Pertama.Jakarta: Salemba Medika.

Kosim, M.Sholeh dkk. 2014. Buku Ajar Neonatologi. Edisi Pertama. Jakarta: Ikatan Dokter

Anak Indonesia.

Moorhead, Sue, dkk. 2016. Nursing Outcomes Classificstion. Edisi keenam. Yogyakarya :

Mocomedia.

Nursalam. 2013. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktis. Edisi 4.

Jakarta. : Salemba Medika.

Sudarti. 2010. Kelainan Dan Penyakit Pada Bayi Dan Anak.Yogyakarta :Nuha Medika

PPNI (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1.
Jakarta: DPP PPNI.

PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1.
Jakarta: DPP PPNI.

PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi
1. Jakarta: DPP PPNI.
Nama Mhs. : ……………………….

NIM : ……………………….

ASUHAN KEPERAWATAN NEONATUS

Tanggal Dirawat :

Tanggal Pengkajian :

A. PENGKAJIAN

1. Data Demografi :
Nama anak : By. Ny. Yanthi Maladewi

Jenis kelamin : _______laki-laki______perempuan ____ ambivalen

Tempat Tgl lahir : Jakarta, 17 Oktober 2021

Umur : 5 hari

Diagnosa medis : NKB-SMK, BBLR.

Data Orang Tua :

Nama Ibu : Ny. Yanthi Maladewi Nama Bapak : Tn. Heru Samsudin

Umur : 39 tahun Umur : 43 tahun

Agama : islam Agama : islam

Suku bangsa : padang Suku bangsa : jawa

Pendidikan : s1 hukum Pendidikan : sma

Pekerjaan : pedagang Pekerjaan : pedagang

Alamat : Kp. Manga gg. Ramadhon III Alamat : Kp. Manga gg. Ramadhon III
rt 11/rw 003 rt 11/rw 003
2. Resume :
By, Ny, Y lahir secara spontan (gestasi 32-33 minggu, G1P0A0) bayi tidak langsung menangis
saat lahir, dan ketuban ibu bercampur darah. BB: 1995 gram, PB: 40cm LK: 29cm, LD: 25cm
HR: 145x/menit RR: 60x/menit SpAo: 90%. Bayi dilakukan suction dan setelah disuction berisi
darah. Setelah itu bayi dapat merintih dan menangis.

3. Riwayat Persalinan :
Usia kehamilan 32 minggu

Apgar 2/3

BB 1995 gram PB 40 cm LK 29 cm LD 25 cm

Komplikasi persalinan :

 Tidak ada

 Mekonium

(  ) Lain-lain, partus premature dan sisa ketuban darah.

4. Riwayat Maternal :

Umur tahun Gravida : 1 Para : 0 Abortus : 0


Cara persalinan :

(  ) Spontan

 Tindakan …………………………………………….
a. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
Antenatal

1) Kesehatan ibu waktu hamil : Tidak Ya


a) Hiperemesis Gravidarum () £ ……………………..
b) Perdarahan pervagina () £ ……………………..
c) Anemia () £ ……………………..
d) Penyakit Infeksi () £ ……………………..
e) Pre Eklamsi / Eklamsi £ () ……………………..
f) Gangguan kesehatan () £ ……………………..
2) Pemeriksaan Kehamilan : Tidak Ya
a) Teratur £ () ……………………..
b) Diperiksa oleh £ £ dr. bram
c) Tempat pemeriksaan £ £ PKM tugu selatan
d) Hasil pemeriksaan £ £ adanya hipertensi
e) Imunisasi £ £ ……………………..
3) Riwayat Pengobatan selama Kehamilan :
……………………..……………………..……………………..…………..
……………..……………………..……………………..……………………..

Masa Natal

1) Usia kehamilan saat Kelahiran : 32 minggu


2) Cara persalinan
a) Normal () ..….…………..……………………..………
b) Tidak £ ..….…………..……………………..………
3) Ditolong oleh : dr. bram
4) Keadaan bayi saat lahir : bayi lahir tidak langsung menangis, retraksi (+), sianosis (+)
2) BB, PB, Lingkar kepala waktu lahir : BB: 1995 gram, PB: 40cm, LK: 29 cm, pukul 11.35
WIB
3) Pengobatan yang didapat : ……………………………………………..

Neonatal :

1) Cacat congenital : tidak ada


2) Ikterus : tidak ada
3) Kejang : tidak ada
4) Paralisis : tidak ada
5) Perdarahan : tidak ada
6) Trauma persalinan : tidak ada
7) Penurunan BB : tidak ada
8) Pemberian minum/ASI : 8x/hari per 3 jam sekali
9) Lain-lain : tidak ada
b. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
Apakah ada gangguan dalam proses tumbuh kembang bayi (Jelaskan)

……………………..……………………..……………………..…………..………

…..……………………..……………………..……………………..………………

c. Penyakit-penyakit yang pernah diderita


Adanya hipertensi pada ibu

d. Pernah dirawat di Rumah Sakit


Tidak ada

e. Obat-obat yang digunakan


Inj. Nek 1mg/ml

f. Tindakan (misalnya : operasi)


Hisap slym dari mulut hidung

g. Alergi
Tidak ada

h. Kecelakaan
……………………..……………………..……………………..…………..………

…..……………………..……………………..……………………..………………

i. Immunisasi
Vitamin K

j. Pola pemenuhan nutrisi :


a) ASI dan atau susu buatan :
(1). Lamanya pemberian : 10-15 menit

(2). Waktu pemberian : 8x/hari selama 3 jam sekali

(3). Jenis susu buatan : SGM BBLR

b). Masalah Nutrisi : ………………..……………………..……………

(1) Kemampuan menghisap : Kuat

(2) Kemampuan menelan : lemah

5. Pengkajian Fisik Neonatus :


Instruksi : Beri tanda () pada istilah yang tepat untuk data-data di bawah ini. Gambarkan semua
temuan abnormal secara objektif, gunakan kolom komentar bila perlu.

a. Refleks (cek jika ada dan normal)


Moro : kuat Menggenggam : kuat Mengisap : kuat Menelan: lemah

b. Tonus / aktifitas
1) Aktif () Tenang …….. Letargi …….. Kejang ……..
2) Menangis () Lemah …….. Melengking …….. Sulit menangis
……..
c. Kepala / leher
1) Fontanel anterior : Lunak () Tegas …….. Datar …….. Menonjol ……..
Cekung ……..
2) Sutura Sagitalis : Tepat () Terpisah …….. Menjauh
3) Gambaran wajah : Simetris () Asimetris ……..
4) Molding :
Caput succedaneum : ada

Cephalohematoma : tidak ada

d. Mata :Bersih () Sekresi ……..


e. THT :
1) Telinga : Normal () Abnormal ……..
2) Hidung bilateral : Obstruksi …….. Cuping hidung ……..
3) Palatum : Normal () Abnormal ……..
f. Abdomen :
4) Lunak () tegas …….. Datar …….. kembung
……..
5) Lingkar perut 25 cm
g. Thoraks :
1) Simetris () Asimetris ……..
2) Retraksi Inter costal : ringan

3) Klavikula: normal () Abnormal ……..

h. Paru-paru
1) Suara nafas sama kanan kiri : sama
2) Bunyi nafas terdengar disemua lapangan paru tidak terdengar ……..

Menurun ……..
6) Suara nafas bersih …….. rhonchi …….. rales …….. sekresi
7) Respirasi : spontan …….. cuping hidung …….. RR 60x/menit FIO2 90%
i. Jantung

1) Bunyi normal sinus rytm (NSR) …….. HR 145x/menit Murmur ……..


j. Ekstermitas
1) Gerakan semua ekstermitas: bebas
ROM terbatas …….. tidak dapat dikaji ……..

2) Kuat Lemah Tidak ada

Nadi perifer 145x/menit

Brakial kanan 60x/menit

Brakial kiri

Femoral kanan

Femoral kiri

k. Umbilikus :
Normal () abnormal : basah

Inflamasi …….. drainase ..……..

Jumlah pembuluh darah ………..

l. Panggul : Normal () tidak normal …….. tidak dikaji ……..


m. Genital :
1) Perempuan ……..

Lab. Mayor () Lab. Minora () fistula ……..

2) Laki-laki

Testis desenden / asenden ……..

Hipospadia / epipadia / normal ……..

Fistula ……..

n. Anus : Paten () Imperforata ……..


o. Spina : Normal …….. abnormal ……..
p. Kulit :
1) Warna : Pink () pucat …….. jaundice ……..

Batang tubuh sianosis …….. kuku …….. periorbital ……..


2) Rash / kemerahan : tidak ada

3) Tanda lahir ……..

q. Suhu :
2) Lingkungan
Penghangat radian …….. pengaturan suhu ……..Inkubator……..

Suhu ruang …….. Boks terbuka ……..

Suhu kulit ……………


6. Riwayat Sosial
a. Hubungan orang tua – bayi : (Bonding Atachment)
Ibu Ayah

ada Menyentuh Tidak ada

ada Memeluk Tidak ada

ada Berbicara Tidak ada

ada Berkunjung Tidak ada

ada Kontak mata Tidak ada

b. Orang terdekat yang dapat dihubungi : orang tua


c. Respon orang tua terhadap penyakit / hospitalisasi : ……..……..……..

d. Sistem pendukung / keluarga terdekat : keluarga


e. Anak lain : tidak ada

Jenis Kelamin anak Riwayat persalinan Riwayat Immunisasi


7. Pemeriksaan penunjang :
8. Penatalaksanaan medis dan Keperawatan :
 Memberikan tprece pp 25% peep + flow 8 sat 95%
 Memasang infus perifer ditangan kanan NaCl 20cc
 Terpasang OGT no.8
9. Data Fokus
Nama Klien / Umur : By. Ny. Yanthi / 0 bulan

No. Kamar / Ruang : kamar 3 / perina

Data Subyektif Data Obyektif

 Terlahir prematuritis  BB: 1995 gram, PB: 40cm LK: 29cm, LD:
 Ikterik pada bayi hari ke 3 25cm HR: 145x/menit RR: 60x/menit,
saturasi: 90%, S: 36,8 C.
 Lahir spontan dengan h: 32 minggu
 Reflek menelan bayi lemah
 Hasil bilirubin 17,42
 Kulit kuning seluruh tubuh

10. Analisa Data

Nama Klien / Umur : By. Ny. Yanthi / 0 bulan

No. Kamar / Ruang : kamar 3 / perina Cp.1-B

No. Data Masalah Etiologi

1. DS: Deficit nutrisi ketidak mampuan untuk


mengabsorpsi nutrient,
ketidakmampuan reflek
DO: hisap/menelan.
 BB: 1995 gram, PB:
40cm LK: 29cm, LD:
25cm.
 Reflek menelan bayi
lemah

DS:
 Ikterik pada bayi hari ke
3
2.
Ikterik neonates b.d usia kurang 7 hari
DO:
 Hasil bilirubin 17,42
 Kulit kuning seluruh
tubuh
3. Risiko infeksi Fr. Lahir belum cukup
DS: bulan
 Terlahir prematuritis

DO:
 Lahir spontan dengan h:
32 minggu
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama Klien / Umur : By. Ny. Yanthi / 0 bulan

No. Kamar / Ruang : kamar 3 / perina

Tanggal Tanggal Paraf dan


Ditemukan Nama jelas
No Diagnosa Keperawatan Teratasi
.

1. Deficit nutrisi b.d f ketidak mampuan untuk 17 OKT 2021


mengabsorpsi nutrient, ketidakmampuan
reflek hisap/menelan.

Ikterik neonates b.d usia kurang 7 hari


2. 20 OKT 2021

Risiko infeksi f.r Lahir belum cukup bulan


3. 17 OKT 2021

C. RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien / Umur : By. Ny. Yanthi / 0 bulan

No. Kamar / Ruang : kamar 3 / perina


TGL NO Diagnosa Tujuan dan Keiteria Rencana Tindakan Paraf &
Hasil Nama Jelas
Keperawatan

(PES)

17/10/ 1. Deficit nutrisi b.d Setelah diberikan  Identifikasi status nutrisi


2021 ketidak mampuan asuhan  Identifikasi kebutuhan
untuk mengabsorpsi keperawatan 3x24 kalori dan jenis nutrient. FAMELA
nutrient, jam diharapkan  Sediakan makanan yang
ketidakmampuan deficit nutrisi tepat sesuai kondisi
pasien
reflek hisap/menelan. membaik dengan  Monitor adanya mual
kriteria hasil : dan muntah
 Monitor berat badan
 Kekuatan otot
menelan baik
 Serum
albumin
membaik
 Berat badan
membaik
 Indeks massa
tubuh (IMT)
membaik

20/10/ 2. Ikterik neonates b.d Setelah diberikan  Monitor ikterik pada FAMELA
2021 usia kurang 7 hari asuhan sclera dan kulit bayi
keperawatan 3x24  Monitor suhu dan
jam diharapkan tanda-tanda vital setiap
ikterik neonates 4 jam sekali
membaik dengan  Monitor efek samping
kriteria hasil : foto terapi (mis.
Hipertermi, diare, rush
 Suhu kulit pada kulit, penurunan
membaik berat badan lebih dari
 Berat badan 8-10%).
meningkat  Berikan penutup mata
 Kulit kuning
pada bayi
menurun
 Biarkan tubuh bayi
terpapar sinar
fototerapi secara
berkelanjutan
 Ganti alas dan popok
bayi jika BAK/BAB
 Kolaborasi
pemeriksaan darah
vena bilirubin direk dan
indirek.

17/10/ 3. Resiko infeksi ditandai Setelah diberikan  Batasi jumlah FAMELA


2021 oleh pasien terlahir asuhan pengunjung
prematuritis keperawatan 3x24  Cuci tangan sebelum dan
jam diharapkan sesudah kontak dengan
pasien atau lingkungan
tingkat risiko
pasien
infeksi menurun
 Pertahankan teknik
dengan kriteria aseptic
 Atur suhu lingkungan
hasil : yang sesuai

 Kebersihan
tangan
meningkat
D. CATATAN KEPERAWATAN
Nama Klien / Umur : By. Ny. Yanthi / 0 bulan

No. Kamar / Ruang : kamar 3 / perina

Tgl./ No. Paraf dan


Tindakan Keperawatan dan Hasil
Waktu DK. Nama Jelas

19/10/2 1 (IMPLEMENTASI HARI PERTAMA)


021

11.25 Memonitor berat badan FAMELA


Hasil : BB: 1995 gram.

Mengidentifikasi status nutrisi


11.30
Hasil : BB/U = 1995/0 bulan (>3SD) sangat kurus/ berat bayi lahir
rendah

Mengidentifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient.


11.35
Hasil : 89 x 1995 – 100) + 175 = 168,83/hari dan jenis nutrisi
ASI.

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


11.45 lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

12.00 Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : pasien minum 8x/hari 20cc.

Memonitor adanya mual dan muntah


12.05 Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


12.06 lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali

14.00 Hasil :
SH: 37 C
ND: 2” detik
HR: 140x/menit
RR: 40x/menit

Mengatur suhu lingkungan yang sesuai


Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB


15.00
Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok
Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : pasien minum 8x/hari 20cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic


16.00 Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali

Hasil :
SH: 36,9 C
ND: 2” detik
HR: 148x/menit
RR: 44x/menit

Mengatur suhu lingkungan yang sesuai


17.00 Hasil : suhu incubator 36,5 C

Membatasi jumlah pengunjung

Hasil : hanya perawat dan dokter saja yang diruangan

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic


18.00 Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : pasien minum 8x/hari 20cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah FAMELA


Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau
lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic


20. 55 Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali

Hasil :
SH: 36 C
ND: 2” detik
HR: 143x/menit
RR: 43x/menit

Mengatur suhu lingkungan yang sesuai


Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB


21.00
Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok
Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : pasien minum 8x/hari 20cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien
Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : pasien minum 8x/hari 20cc.


00.00
Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

20/10/2 (IMPLEMENTASI HARI KEDUA)


021

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali

Hasil :
SH: 36 C
HR: 145x/menit
RR: 40x/menit

Mengatur suhu lingkungan yang sesuai


Hasil : suhu incubator 36,5 C

03.00
Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau
lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien


Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 20cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau FAMELA
lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


06.00
Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 20cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Memonitor berat badan


06.15
Hasil : BB: 1998 gram.

Mengidentifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient.

Hasil : 89 x 1998 – 100) + 175 = 169,97/hari dan jenis nutrisi


ASI.

Memonitor berat badan


Hasil : 1998 gram

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali

Hasil :
06.30 SH: 36,7 C
ND: 2” detik
HR: 142x/menit
RR: 44x/menit

Mengatur suhu lingkungan yang sesuai


Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


09.00
Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien
Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali

Hasil :
SH: 36,7 C
ND: 2” detik
HR: 147x/menit
09.20 RR: 46x/menit

Mengatur suhu lingkungan yang sesuai


Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

12.00 Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :

SH: 36,8 C
ND: 2” detik
13.00 HR: 148x/menit
RR: 47x/menit

Mengatur suhu lingkungan yang sesuai


Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

15.00 Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :

15.20 SH: 37 C
ND: 2” detik
HR: 142x/menit
RR: 41x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

Membatasi jumlah pengunjung

Hasil : hanya perawat dan dokter saja yang diruangan


17.00

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien
18.00
Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :

SH: 37 C
ND: 2” detik
HR: 147x/menit
RR: 43x/menit
18.15 Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C
Mengidentifikasi ikterik pada sclera dan kulit bayi:
Hasil : kulit bayi menguning

Mengkolaborasi pemeriksaan darah vena bilirubin direk dan


indirek.

Hasil : hasil lab bilirubin


Total bil.17,42.
19.00 Bil. Direk 0,61
Bil. Indirek 16,61

Memberikan penutup mata pada bayi


Hasil : penutup mata terpasang sebelum melakukan sinar
foto terapi

Membiarkan tubuh bayi terpapar sinar fototerapi secara


berkelanjutan
Hasil : bayi dibiarkan terpapar sinar fototerapi berkelanjutan

Memonitor efek samping foto terapi (mis. Hipertermi, diare,


rush pada kulit, penurunan berat badan lebih dari 8-10%).

Hasil : tidak ada rush


20.55
Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali
Hasil :
SH: 37 C
ND: 2” detik
HR: 145x/menit
RR: 42x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien


Mertahankan teknik aseptic

21.00 Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :
23.50
SH: 36 C
ND: 2” detik
HR: 140x/menit
RR: 42x/menit

Mengatur suhu lingkungan yang sesuai


Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

00.00 Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah


Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

(IMPLEMENTASI HARI KETIGA)

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


21/10/2
lingkungan pasien
021
Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien
03.00
Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :

SH: 36,9 C
ND: 2” detik
HR: 140x/menit
RR: 44x/menit
03.15
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

Memonitor berat badan

06.00 Hasil : BB: 1998 gram

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

06.05 Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :

SH: 36,8 C
ND: 2” detik
HR: 142x/menit
06.20 RR: 42x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C
Memberikan penutup mata pada bayi
Hasil : penutup mata terpasang sebelum melakukan sinar
07.00- foto terapi
08.00
Membiarkan tubuh bayi terpapar sinar fototerapi secara
berkelanjutan
Hasil : bayi dibiarkan terpapar sinar fototerapi berkelanjutan

Memonitor efek samping foto terapi (mis. Hipertermi, diare,


rush pada kulit, penurunan berat badan lebih dari 8-10%).

Hasil : tidak ada rush, akral hangat.

Memonitor ikterik pada sclera dan kulit bayi

Hasil: kulit bayi menguning sedikit memudar

08.30

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic


09.00
Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :
SH: 36,8 C
09.20 ND: 2” detik
HR: 148x/menit
RR: 46x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

Membatasi jumlah pengunjung

Hasil : hanya perawat dan dokter saja yang diruangan

11.30
Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau
lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB


12.00 Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok
Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :

12.30 SH: 37 C
ND: 2” detik
HR: 145x/menit
RR: 43x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

Memonitor ikterik pada sclera dan kulit bayi

Hasil: kulit bayi menguning sedikit memudar

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic


15.00
Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor ikterik pada sclera dan kulit bayi

Hasil: kulit bayi menguning sedikit memudar

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :
SH: 36,7 C
ND: 2” detik
HR: 145x/menit
15.15 RR: 45x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

18.00 Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :
SH: 36,9 C
ND: 2” detik
HR: 145x/menit
18.30
RR: 46x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien


Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

21.00 Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :
SH: 36,8 C
ND: 2” detik
HR: 145x/menit
RR: 45x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

21.20 Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau
lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien


Mertahankan teknik aseptic.

00.00 Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :
SH: 37 C
ND: 2” detik
HR: 143x/menit
RR: 40x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

00.10

(IMPLEMENTASI HARI KEEMPAT)

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien


22/10/2
021 Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah


03.00
Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :
SH: 36,9 C
ND: 2” detik
HR: 135x/menit
RR: 43x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C
03.20

Memonitor berat badan

Hasil : BB: 1998 gram


06.00

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


06.05
Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :
SH: 36,9 C
ND: 2” detik
HR: 137x/menit
RR: 43x/menit
06.20 Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C
Memberikan penutup mata pada bayi
Hasil : penutup mata terpasang sebelum melakukan sinar
foto terapi

Membiarkan tubuh bayi terpapar sinar fototerapi secara


berkelanjutan
Hasil : bayi dibiarkan terpapar sinar fototerapi berkelanjutan

Memonitor efek samping foto terapi (mis. Hipertermi, diare,


rush pada kulit, penurunan berat badan lebih dari 8-10%).
08.00-
08.30 Hasil : tidak ada rush

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :
SH: 36,8 C
ND: 2” detik
HR: 145x/menit
RR: 41x/menit
08.50
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

09.00 Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien
Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor ikterik pada sclera dan kulit bayi

Hasil: kulit bayi menguning sedikit memudar


10.00

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


12.00
Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :

SH: 37 C
ND: 2” detik
12.30 HR: 148x/menit
RR: 43x/menit

Mengatur suhu lingkungan yang sesuai


Hasil : suhu incubator 36,5 C

Memonitor ikterik pada sclera dan kulit bayi:


Hasil : kulit bayi menguning

Mengkolaborasi pemeriksaan darah vena bilirubin direk dan


13.00 indirek.

Hasil :
Hasil lab bilirubin
Bil. Total 15,80
Bil. Direk 05,54
Bil. Indirek 15,26

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

15.00 Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien
Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :

SH: 37 C
15.15 ND: 2” detik
HR: 148x/menit
RR: 43x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah


18.00
Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


18.15 Hasil :

SH: 36,7C
ND: 2” detik
HR: 143x/menit
RR: 43x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

21.00
Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau
lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sebelum kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic

Hasil : selalu mempertahankan teknik aseptic

Mengganti alas dan popok bayi jika BAK/BAB

Hasil : pasien BAK/BAB 10cc dan sudah diganti popok


Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien

Hasil : memberikan ASI/susu formula 8x/hari 25cc.

Memonitor adanya mual dan muntah

Hasil : tidak ada mual dan muntah

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau


lingkungan pasien

Hasil : cuci tangan sesudah kontak dengan pasien

Mertahankan teknik aseptic.

Memonitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali


Hasil :
21.20 SH: 36,8 C
ND: 2” detik
HR: 142x/menit
RR: 41x/menit
Mengatur suhu lingkungan yang sesuai
Hasil : suhu incubator 36,5 C

A. E V A L U A S I ( CATATAN PERKEMBANGAN )

No. Hari/Tgl./ Evaluasi Hasil (SOAP) Paraf dan


DK. Jam (Mengacu pada tujuan) Nama Jelas
1 19/10/2021 DX : deficit nutrisi
FAMELA
Evaluasi Hari Keempat
(Mengacu pada tujuan)
S : kondisi pasien stabil

O:

 BB: 1998 gram


 Minum ASI/susu formula 8x/hari 25cc
 Tidak ada muntah dan mual

A : deficit nutrisi teratasi sebagian


P:
 Menyediakan makanan yang tepat sesuai kondisi
pasien
 Memonitor adanya mual dan muntah

22/10/2021 DX : ikterik neonatus


2 Evaluasi Hari Keempat
(Mengacu Pada Tujuan)
S:
O:
TTV :
SH: 36,8 C
ND: 2” detik
HR: 142x/menit FAMELA
RR: 41x/menit
Tampak ikterik pada tubuh berkurang sedikit
Hasil lab bilirubin:
Bil. Total 15,80
Bil. Direk 05,54
Bil. Indirek 15,26
A : Masalah gangguan mobilitas fisik teratasi sebagian
P:

 Monitor ikterik pada sclera dan kulit bayi


 Monitor suhu dan tanda-tanda vital setiap 4 jam
sekali
 Monitor efek samping foto terapi
 Kolaborasi pemeriksaan darah vena bilirubin direk
dan indirek.

3 Rabu, 06/01/ DX : risiko infeksi


2021 Evaluasi Hari Keempat
17.00 (Mengacu Pada Tujuan)

S:

O:
Tampak pembatasan pengunjung
Cuci tangan
Sealu melakukan teknik aseptik
FAMELA
A : Masalah risiko infeksi sebagian teratasi
P:
 Batasi jumlah pengunjung
 Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
atau lingkungan pasien
 Pertahankan teknik aseptic
 Atur suhu lingkungan yang sesuai
TINDAKAN KEPERAWATAN YANG TEPAT DIBERIKAN

PEMBERIAN ASI DENGAN CUP

A. PENGERTIAN
Pemberian susu adalah pembemberian minum pada bayi dengan menggunakan sendok/cawan
baik ASI atau susu formula.
B. TUJUAN
 Memenuhi nutrisi pada bayi
 Meningkatkan gerakan lidah yang dibutuhkan dalam proses menyusui
C. PERSIAPAN ALAT
 Cup atau cawan/pipet/sendok
 ASI atau susu formula
 Pengalas
D. PROSEDUR
 Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan sesuai dengan SPO
 Tentukan terlebih dahulu kebutuhan nutrisinya
 Tuangkan ASI atau susu kedalam cup
 Siapkan tempat duduk yang nyaman untuk nanti menyusui
 Pasangkan pengalas pada dada bayi
 Berikan ASI atau susu secara perlahan dengan cara tempelkan tepi cawan/cup pada bibir
bayi, jangan dituang. Bayi kecil akan menjilat dengan lidahnya, sedangkan bayi yang
lebih besar akan menghisap dari pinggir cawan/cup
 Sendawakan bayi setelah minum susu
 Taruh bayi kembali di boxnya
 Raphkan alat-alat
 Observasi keadaan pasien
 Lakukan pendokumentasian di catatan keperawatans

Anda mungkin juga menyukai