Anda di halaman 1dari 19

KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK PERSPEKTIF

IMAM AL-GHAZALI DALAM KITAB “AYYUHAL WALAD”

PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Mengikuti Seminar Proposal Penelitian
Program Studi Pendidikan Agama Islam
Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Cipasung

Oleh :

NUR ALIMAH SAFITRI


NPM : 16.0187.1
NIRM : 002.14.2504.16

INSTITUT AGAMA ISLAM CIPASUNG


TASIKMALAYA
2019 M. / 1429 H.
A. Judul Proposal
Konsep Pendidikan Akhlak Perspektif Imam Al-Ghazali Dalam Kitab
“Ayyuhal Walad”

B. Latar Belakang Penelitian


Proposal ini dilatar belakangi adanya permasalahan yang selalu berulang
dalam pendidikan akhlak, yakni kurang teraplikasinya pendidikan yang telah
diberikan. Sehingga terjadi kemerosotan moral dan etika yang dapat
mempengaruhi kualitas mutu pendidikan suatu sekolah bahkan kualitas
generasi tunas bangsa. Pendidikan akhlak sangat penting dan paling sakral
untuk ditekankan.
Salah satu dari banyaknya faktor yang terjadinya krisis akhlak adalah
perkembangan IPTEK dan maraknya budaya barat yang makin memonopoli
ruang lingkup kehidupan masyarakat Indonesia terutama kepada peserta didik.
Hal tersebut telah menimbulkan keprihatinan terhadap pembentukan karakter
para tunas bangsa. Krisis akhlak yang meliputi moral dan etika yang
merupakan dasar untuk hidup bermasyarakat semakin langka dan dianggap
kurang penting. Etika semakin pudar di antara generasi muda bangsa dan
semakin menimbulkan keresahan.
Pendidikan merupakan persoalan penting bagi semua umat. Kebutuhan
manusia akan pendidikan merupakan suatu yang sangat mutlak dalam hidup
ini, dan manusia tidak bisa dipisahkan dari kegiatan pendidikan. Jika melihat
kualitas dan kondisi pendidikan di zaman sekarang ini serta persoalan yang
dihadapi oleh pendidikan maka, dapat dikatakan bahwa pendidikan agama
dijadikan pedoman untuk pembentukan akhlak dan merupakan benteng utama
dalam menjaga moralitas manusia.
Pendidikan akhlak tidak bisa dipisahkan dari ruang lingkup pendidikan
Islam. Sebab, pendidikan akhlak yang bertujuan untuk mencapai akhlak yang
sempurna merupakan puncak dari tujuan pelaksanaan pendidikan Islam itu
sendiri. Dengan kata lain, seorang muslim tidak dapat dikatakan sempurna
agamanya bila akhlak dalam kehidupannya tidak mencerminkan akhlak yang
baik. Karena, pada zaman milenial ini pendidikan akhlak membutuhkan
penyeimbang sebagai kecenderungan pola hidup yang semakin
memprihatinkan akibat degradasi moral, serta diperlukannya konsep tersendiri
untuk membenahi pola perilaku manusia saat ini yang sesuai dengan kaidah-
kaidah Islam yang dapat menghadapi serta menjawab tantangan zaman.
Adanya fenomena-fenomena seperti (1) meningkatnya kekerasan di
kalangan remaja contonya bullying; (2) penggunaan bahasa dan kata-kata
yang memburuk seperti mengucapkan kata kasar; (3) meningkatnya perilaku
merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas; (4)
semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk seperti, bersikap melawan
terhadap yang lebih tua; (5) menurunnya etos kerja; (6) semakin rendahnya
rasa hormat kepada orang tua dan guru; (8) rendahnya rasa tanggung jawab
inidividu dan warga negara; (9) membudayanya ketidakjujuran seperti,
mencontek saat ujian; (10) adanya saling curiga dan kebencian di antara
sesama. Hal ini merupakan bukti masih perlunya perbaikan karakter (ahlak)
generasi penerus bangsa.1
Konsep pendidikan akhlak perspektif Imam Al-Ghazali merupakan
konsep pendidikan yang peneliti ambil dari banyaknya konsep pendidikan
akhlak. Peneliti mengambil perspektif Imam Al-Ghazali karena peneliti
tertarik pada berbagai karya beliau yang sarat dengan kehidupan sufi dan
bernuansa filosofi. Memberikan seni tersendiri dalam pendidikan yang
diberikan lewat untaian kata-kata beliau.
Dari hasil penelaahan beberapa karya Imam Al-Ghazali, diketahui bahwa
pemikiran Imam Al-Ghazali terkait dengan konsep pendidikan akhlak untuk
mengatasi degradasi moral saat ini dapat dilakukan dengan membangun
kualitas pendidikan terutama dengan menanamkan nilai-nilai akhlak Islami
dalam keluarga, sekolah dan lingkungan. Selain itu, Imam Al-Ghazali juga
memaparkan mengenai langkah-langkah pendidikan akhlak untuk mengatasi
degradasi yang terdiri dari, pendidikan akhlak berlandaskan Al-Qur’an dan

1
https://radarmalang.id/urgensi-guru-profesional-dan-guru-berkarakter/. Di akses pada tanggal 02
-12-2019. Pada jam 13: 20.
Hadits, tujuan pendidikan akhlak, tahapan yang dicapai dalam pembentukan
akhlak, serta metode pembentuknya. Metode yang digunakan Imam Al-
Ghazali dala kitab Ayyuhal Walad adalah dengan metode keteladanan, metode
cerita atau kisah, dan metode pembiasaan. Pemikiran Imam Al-Ghazali
tentang konsep pendidikan akhlak sampai saat ini tetap relavan terbukti
dengan banyaknya pendidik yang masih menggunakan konsep beliau. Hanya
saja berbeda penyajian pemikiran dan kasus yang dihadapi.
Berdasarkan gambaran masalah tersebut, penulis tertarik untuk
mengadakan penelitian guna mengetahui lebih dalam tentang konsep
pendidikan akhlak yang lebih efektif dan efisien serta berhasil guna pada
generasi muda saat ini. Adapun judul penelitian yang akan dilakukan oleh
peneliti yaitu : “Konsep Pendidikan Akhlak Perspektif Imam Al-Ghazali
Dalam Kitab Ayyuhal Walad”.

C. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
Dewasa ini, dalam bidang pendidikan, kerusakan akhlak menyebabkan
orientasi pendidikan berubah menjadi sekedar untuk kepentingan
materialisme. Efeknya, pendidikan gagal melahirkan produk yang
memiliki karakteristik Islami yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dan pada realitasnya kerusakan akhlak menyebabkan kerusakan
diberbagai sendi kehidupan. Berkata Syauqi Bey dalam sya’irnya, “Hidup
dan bangunnya suatu bangsa tergantung pada akhlaknya, jika mereka tidak
lagi menjunjung tinggi norma-norma akhlakul karimah, maka bangsa itu
akan musnah bersamaan dengan keruntuhan akhlaknya.”2
Maraknya penggunaan teknologi, baik dalam dunia pendidikan, gaya
hidup serta permainan menjadi salah satu ajang merosotnya moral serta
etika peserta didik dalam menerapkan nilai-nilai keilmuan yang telah
didapat menjadi kebiasaan. Meskipun dalam 1x24 jam tidak mereka

2
https://aceh.tribunnews.com/amp/2017/02/09/revolusi-ahlak?page=2. Diakses pada tanggal 02-
12-2019. Pada jam 13:35.
pergunakan. Namun, dalam skala yang sedikit dan rutin, memberikan
pengaruh yang cukup untuk merubah kebiasaan ataupun kepribadian
seseorang.
2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka penulis membatasi
masalah ini pada pembahasan mengenai konsep pendidikan akhlak
perspektif Imam Al-Ghazali dalam kitab ayyuhal walad.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah tersebut di atas, agar penelitian ini
terarah dan mencapai tujuannya, maka penulis merumuskan permasalahan
sebagai berikut:
a. Bagaimana Konsep Pendidikan Akhlak dalam Pendidikan Islam?
b. Bagaimana Konsep Pendidikan Akhlak Perspektif Imam Al-
Ghazali dalam Kitab “Ayyuhal Walad”?
c. Bagaimana Implementasi Konsep Pendidikan Akhlak Perspektif
Imam Al-Ghazali dalam Kitab “Ayyuhal Walad yang Tepat untuk
diterapkan di Zaman Era Modernisasi dan Globalisasi?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk Mengetahui Konsep Pendidikan Akhlak dalam Pendidikan
Islam.
2. Untuk Mengetahui Konsep Pendidikan Akhlak Perspektif Imam
Al-Ghazali dalam Kitab “Ayyuhal Walad”.
3. Untuk Mengetahui Implementasi Konsep Pendidikan Akhlak
Perspektif Imam Al-Ghazali dalam Kitab “Ayyuhal Walad” yang
Tepat untuk diterapkan di Zaman Era Modernisasi dan Globalisasi.

E. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. SecaraTeoritis,
a. Sebagai rekomendasi dalam pengembangan pembentukan akhlak
dan pemahaman konsep pendidikan akhlak perspektif Imam Al-
Ghazali dalam kitab ayyuhal walad.
b. Untuk mengetahui relevansi konsep pendidikan akhlak perspektif
Imam Al-Ghazali dalam kitab ayyuhal walad dengan pendidikan
islam di zaman era modernisasi dan globalisasi.
2. Secara Praktis
a. Sebagai rujukan bagi pemerhati masalah pendidikan akhlak.
b. Menumbuhkembangkan pemahaman pendidikan akhlak dengan
penanaman atau pengamalan konsep pendidikan akhlak kepada
peserta didik supaya terbiasa untuk melakukan atau menjalankan
perintah agama.

F. Landasan Teoritik, Kerangka Pemikiran, dan Hasil Penelitian Yang


Relavan
1. Landasan Teoritik
a. Pendidikan Akhlak
1) Pengertian Pendidikan Akhlak
Pendidikan akhlak terdiri dari dua kata yaitu pendidikan dan
akhlak. Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan
memberikan awalan “pe” dan akhiran “an”, mengandung arti
“perbuatan” (hal, cara dan sebagainya). Kata pendidikan berasal
dari bahasa Yunani yaitu paedagogos yang berarti pergaulan
dengan anak-anak. Dalam paedagogos adanya seorang pelayan
atau bujang pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya
mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah.
Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya
membimbing, memimpin). Perkataan yang mulanya berarti
“rendah” (pelayan, bujang), sekarang dipakai untuk pekerjaan
mulia. Paedagog (pendidik atau ahli didik) ialah seseorang yang
tugasnya membimbing anak. Sedangkan pekerjaan membimbing
disebut paedagogi. Istilah ini kemudian diterjemahkan kedalam
bahasa Inggris dengan “education” yang berarti pengembangan
atau bimbingan.3
Abdurrahman An-Nahlawi mengatakan, jika kita merujuk
Kamus Bahasa Arab, kita akan menemukan tiga akar kata untuk
istilah Tarbiyah. Pertama, raba-yarbu yang artinya bertambah dan
berkembang. Hal ini sejalan dengan firman Allah (Q.S Al-Rum,
30:39)
ِ ‫َّاس فَاَل يربوا ِعْن َد‬ ِ ِ
‫اهلل‬ ْ ُ ْ َ ِ ‫َو َمآ اَٰتْيتُ ْم ِّم َن ِّربَا لَي ْربُ َواْ يِف ْٓي اَْم َوال الن‬
“Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta
manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan
Allah.”4
Kedua, rabiya yarba yang dibandingkan dengan khafiya-yakhfa’
yang berarti tumbuh dan berkembang. Ketiga, rabba-yarubbu yang
dibandingkan dengan madda-yamuddu yanag berarti memperbaiki,
mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga, dan memperhatikan.5
Sedangkan pendidikan, secara etimologi adalah proses
perubahan sikap dan tingkah laku seseorang melalui cara perbuatan
mendidik. Juga dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang dalam
membimbing dan memimpin anak menuju pertumbuhan dan
perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan
bertanggung jawab.6
Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional disebutkan bahwa, pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
3
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2015), h.30.
4
Hendra Endang dkk, Al-Qur’an Cordoba Special For Muslimah, (Bandung: Cordoba
Internasional Indonesia, 2018), h. 408.
5
Nata Abuddin, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 337.
6
Novan dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 23.
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.7
Akhlak ditinjau dari segi etimologi merupakan jama’ dari kata
“khuluqa” yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi
pekerti. Sedangkan, ditinjau dari segi terminology akhlak adalah
sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan
dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
Menurut Abuddin Nata, akhlak adalah perbuatan yang
dilakukan dengan mendalam dan tanpa pemikiran, namun
perbuatan itu telah mendarah daging dan melekat dalam jiwa,
sehingga saat melakukan perbuatan tidak lagi memerlukan
pertimbangan dan pemikiran.8
Imam Al-Ghazali mengemukakan definisi akhlak bahwa
akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari
padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak
memerlukan pertimbangan pikiran (terlebih dahulu)
Akhlak dalam konsep bahasa Indonesia semakna dengan
istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting
dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah saw. menegaskan dalam
sebuah hadits bahwa tujuan diutusnya beliau adalah untuk
memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.9

‫ت اِل ُمَتِّ َم‬ ِ ِ ِ


ُ ْ‫َع ْن َأيِب ْ ُهَر ْيَر َة قَ َال َر ُس ْو ُل اهلل صلى اهلل عليه وسلم امَّنَا بُعث‬
‫صالِ َح اْالَ ْخاَل ِق‬
َ

7
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
8
Nata Abuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), h. 5.
9
Faisal Mukarom dkk., Al-Qur’an Hadis, (Jakarta: Kementrian Agama, 2014), h. 52-53.
“Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah saw. bersabda:
“Bahwasannya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
baik”. (H.R. Ahmad) 10
Dari dua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
pendidikan akhlak merupakan upaya ke arah terwujudnya sikap
batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuatan-
perbuatan yang bernilai baik dari seseorang. Dalam pendidikan
akhlak ini kriteria benar dan salah untuk menilai perbuatan yang
muncul merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber
tertinggi ajaran Islam.
2) Tujuan Pendidikan Akhlak
Tujuan dari pendidikan akhlak dalam islam adalah untuk
membentuk manusia yang bermoral baik, keras kemauan, sopan
dalam bicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku perangai,
bersifat bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur dan
suci.11 Singkatnya, tujuan pendidikan akhlak adalah terbentuknya
karakter positif dalam perilaku peserta didik.
Pendidikan akhlak dalam Islam telah dimulai sejak anak
dilahirkan, bahkan sejak dalam kandungan. Perlu disadari bahwa
pendidikan akhlak itu terjadi melalui semua segi pengalaman
hidup, baik melalui pengelihatan, pendengaran dan pengalaman,
atau perlakuan yang diterima, atau melalui pendidikan dalam arti
yang luas. Pembentukan akhlak dilakukan setahap demi setahap
sesuai dengan irama pertumbuhan dan perkembangan, dengan
mengikuti proses yang alami.12
3) Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak
a) Akhlak terhadap Allah SWT.

10
Faisal Mukarom dkk., op. cit., h. 53.
11
Gunawan Heri, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2014), h. 217.
12
Gunawan Heri, op. cit., h. 217.
Ada dua dimensi dalam berakhlak kepada Allah SWT.
Pertama, akhlak kepada Allah karena bentuk ketaatan
(kewajiban kepada Allah). Kedua, akhlak kepada Allah
karena bentuk tawaddhu’ kepada Allah (keikhlasan dalam
melaksanakan perintah-Nya).

b) Akhlak terhadap Makhluk-Nya.


Akhlak terhadap makhluk-Nya antara lain meliputi akhlak
terhadap Rasulullah, orang tua (ayah dan ibu), guru, tetangga
dan masyarakat.
4) Metode Pendidikan Akhlak
a) Metode Kisah.
b) Metode Targhib dan Tarhib.
c) Metode Tuntutan.
d) Metode Keteladanan.
e) Metode Pembiasaan.
5) Materi Pendidikan Akhlak
Mengenai materi akhlak dapat dikelompokkan menjadi
beberapa kelompok, diantaranya yaitu:
a) Akhlak Mahmudah
Menurut Imam al-ghazali, berakhlak mulia dan terpuji
artinya menghilangkan semua adat kebiasaan yang tercela
yang sudah digariskan dalam agama Islam serta
menjauhkan diri dari perbuatan tercela tersebut. Kemudian
membiasakan adat kebiasaan yang baik, melakukannya dan
mencintainya.
b) Akhlak Madzmumah
Menurut Imam al-ghazali, akhlak madzmumah atau akhlak
tercela ini dikenal dengan sifat-sifat muhlikat, yakni segala
tingkah laku manusia yang dapat membawanya kepada
kebinasaan dan kehancuran diri, yang bertentangan dengan
fitrahnya untuk selalu mengarah kepada kebaikan.
b. Kitab Ayyuhal Walad
1) Latar Belakang Penulisan Kitab Ayyuhal Walad
Awal mulanya Imam Al-Ghazali menulis kitab ayyuhal walad
adalah karena salah seorang santrinya meminta dituliskan nasihat
dan petuah yang kelak dapat bermanfaat baginya dan menjadi
pedoman sepanjang hayatnya.
Pada muqoddimah kitab ayyuhal walad diceritakan bahwa
dahulu kala ada seorang santri Imam Al-Ghazali yang selalu
berkhidmat kepada beliau dan senantiasa menyibukkan dirinya
untuk menuntut ilmu sehingga memperoleh banyak pengetahuan
dan telah mencapai kesempurnaan jiwa. Suatu hari ia merenungkan
keadaan dirinya dan berkata:

‫ت ِر ْي َعا َن عُ ْم ِر ْي َعلَى َت َعلُّ ِم َها‬ ِ ِ ‫اِ ِ َقرْأت اَْنو‬


ُ ْ‫صَرف‬
َ ‫اعا م َن الْعُلُ ْوم َو‬
ً َ ُ َ ‫يّن‬
‫َأي َن ْو ِع َها َيْن َفعُيِن ْ َغ ًدا َو‬ ْ ‫َو مَج ْعِ َها َو اآْل َن َيْنبَغِ ْي يِل ْ َأ ْن‬
ُّ ‫َأعلَ َم‬
ِ ‫ال رسو ُل‬
‫اهلل‬ ْ ُ َ َ َ‫ِّسيَن ْ يِف ْ َقرْبِ ْي َو َأيُّ َها اَل َيْن َفعُيِن ْ َحىَّت اَْت ُر َكهُ َك َما ق‬
ُ ‫يَُؤ ن‬
)) ‫ك ِم ْن ِع ْل ٍم اَل َيْن َف ٌع‬
َ ِ‫ (( اللّ ُه َّم اَعُ ْوذُ ب‬: ‫صلَّى اهللُ َعلَْي ِه َو َسلَّ َم‬
َ
13

“Aku telah mengkaji berbagai macam ilmu, dan telah


melewatkan umurku yang berharga ini untuk mempelajari dan
menghafalnya. Sekarang sebaiknya aku mengetahui ilmu mana
yang akan bermanfaat untukku dan yang akan menemaniku
dalam kuburanku dan ilmu mana yang tidak bermanfaat
sehingga dapat aku tinggalkan. Seperti sabda Rasulullah
SAW.: “Ya Allah Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang
tidak bermanfaat”.
13
Abi Hamid Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, (Surabaya: Al-Haramain,
2006), h. 6.
Pikiran tersebut selalu mengusiknya, sehingga ia menulis surat
kepada gurunya dengan tujuan meminta fatwa, menanyakan
beberapa masalah dan memohon nasihat serta do’a.
Ia berkata bahwa walaupun di dalam karangan-karangan
gurunya terdapat jawaban atas permasalahannya, namun ia
berkehendak agar gurunya bekenan menuliskan yang ia butuhkan
dalam lembaran yang dapat ia jadikan sebagai pegangan yang akan
mengiringinya selama hidup dan mengamalkannya sepanjang
umurnya. Akhirnya Imam Al-Ghazali menuliskan Risalah ini
sebagai jawabannya.
2) Pemikiran Imam Al-Ghazali Dalam Kitab Ayyuhal Walad
Tentang Pendidikan Akhlak.
Pendidikan akhlak dalam kitab ayyuhal walad meliputi:
a) Niat yang benar.
b) Memanfaatkan waktu
c) Menghormati gurunya,
d) Mengamalkan ilmunya.
e) Akhlak dalam pergaulan (solidaritas).
f) Dermawan,
g) Tidak saling bermusuhan dengan siapapun.
h) Tidak berdebat.
i) Tidak bergaul dengan pejabat atau penguasa.
j) Tidak senang menyakiti atau mengganggu orang lain.
k) Saling mendo’akan yang baik.

2. Kerangka Pemikiran
Pendidikan merupakan masalah yang akan senantiasa menjadi
tantangan hidup kita sebagaimana diketahui, masalah pendidikan di setiap
zaman tidaklah sama. Masing-masing zaman memiliki tantangan
tersendiri. Sebagaimana pesan orang bijak, memahami masalah adalah
setengah dari jawaban. oleh karena itu memahami perkembangan
kehidupan di setiap zaman khususnya perkembangan pendidikan akan
membantu kita menentukan solusi pendidikan yang akan kita gulirkan.14
Pendidikan ahlak merupakan pendidikan yang berusaha membentuk
kepribadian manusia dengan menekankan pada pembiasaan, namun harus
melalui proses yang panjang dengan hasil yang tidak dapat diketahui
dengan segera.
Pembentukan ahlak dimulai dari pengisian qalb dengan Iman yang
harus dijiwai oleh ideologi tauhid dan pendidikannya harus bersumber dari
nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an, sunnah dan kebenaran yang
bersifat mutlak. Sehingga, pembentukan ahlak dapat dilaksanakan dengan
baik dan menghasilkan generasi bangsa cerdas yang berahlakul karimah.
Dalam hal ini kerangka pemikirannya diawali dengan konsep
pendidikan akhlak yang dibentuk melalui penanaman nilai-nilai akhlak
perspektif Imam Al-Ghazali yang terdapat dalam kitab ayyuhal walad.
Menggunakan metode kisah, targhib dan tarhib, keteladanan, tuntutan dan
pembiasaan. Yang nantinya akan menghasilkan revolusi akhlak.
Untuk lebih jelasnya bisa diperhatikan skema kerangka berfikir
berikut:

Konsep Pendidikan
Akhlak Metode Kisah

Pembentukan
Metode Targhib
Proses dan Tarhib
Penanaman nilai-nilai akhlak
perspektif Imam Al-Ghazali yang Metode
terdapat dalam kitab ayyuhal Keteladanan
walad.
Metode
Hasil Tuntutan

Revolusi Akhlak. Metode


14 Pembiaasaan
Zarman Wendi, Ternyata Mendidik Anak Cara Rasulullah Mudah & Efektif, (Jakarta: Kawan
Pustaka, 2017), h. 16.
Gambar 1: Skema kerangka berpikir
3. Hasil Penelitian yang Relavan
Penelitian dengan judul “Konsep Pendidikan Akhlak Perspektif Imam
Al-Ghazali dalam Kitab Ayyuhal Walad” sebelumnya peneliti lakukan
terlebih dahulu kajian-kajian terhadap beberapa literatur terutama hasil
penelitian yang ada relevansinya dengan judul penelitian yang penulis
akan lakukan. kajian-kajian tersebut diantaranya:
a. Penelitian yang dilakukan oleh Euis Dahlia pada tahun 2017
(Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Raden Intan Lampung),
dengan judul “Konsep Pendidikan Akhlak Perspektif Imam Al-
Ghazali”. kesimpulan dari skripsi tersebut menyatakan bahwa
konsep pendidikan akhlak menurut Imam Al-Ghazali yaitu guna
untuk meningkatkan kualitas moral serta untuk mengatasi
degradasi moral atau degradasi akhlak manusia yang semakin hari
semakin mengalami degradasi moral, dengan adanya konsep
pendidikan akhlak di era globalisasi ini mampu menjadi motivator
lembaga pendidikan, konsep pendidikan yang berlandaskan Al-
Qur’an dan Hadits harus muncul sebagai kekuatan moral, dan
memberikan stimulus.15
b. Skripsi karya Moh. Nawawi (2013) UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, dengan judul “Konsep Pendidikan Akhlak Anak
Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitab Ayyuhal Walad”.
Kesimpulan dari skripsi tersebut menyatakan bahwa konsep
pendidikan akhlak anak berpangkal pada empat hal, yaitu; (1)
pendidikan hendaklah berangkat dari titik awal tujuan pengutusan
Rasul, yakni menyempurnakan akhlak manusia; (2) pendidikan
juga harus memandang nilai kesempurnaan manusia untuk
mengoptimalkan poteni manusia; (3) pendidikan akhlak

15
Euis Dahlia “Konsep Pendidikan Ahlak Perspektif Imam Al-Ghazali” Tahun 2017, Skripsi,
(Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Raden Intan Lampung, 2013)
meniscayakan integritas pembelajaran, dan; (4) sifat pendidikan
akhlak juga harus menyentuh dimensi spiritual murid.16
c. Skripsi karya Putik Nur Rohmawati (2017) IAIN Salatiga dengan
judul “Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Ayyuhal Walad
Karya Imam Al-Gahazali”. Kesimpulan dari skripsi tersebut
menyatakan bahwa konsep pendidikan anak menurut Imam Al-
Ghazali dalam kitabnya ayyuhal walad berpangkal pada empat hal,
yaitu: (1) tujuan pendidikan menurut Imam Al-Ghazali adalah
menghilangkan sifat-sifat atau akhlak buruk dan menanamkan
akhlak yang baik pada diri anak, (2) syarat agar seorang syaikh
dapat menjadi wakil Rasulullah saw. ia harus seorang yang alim
dengan syarat-syarat tertentu, (3) inti ilmu adalah pengetahuan
yang membuat seseorang faham akan makna ketaatan dan ibadah
yang berlandaskan syari’at Islam, (4) metode yang digunakan
Imam Al-Ghazali dalam kitab ayyuhal walad adalah dengan
metode keteladanan, metode cerita atau kisah dan metode
pembiasaan.17

G. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan dan Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yakni suatu
pendekatan penelitian yang di tujukan untuk mendeskripsikan dan
menganalisis fenomena peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan,
pemikiran orang secara individual maupun kelompok.18
Adapun metode penelitian yang digunakan adalah penelitian historis
(Historical Research) yakni dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi,

16
Moh. Nawawi, “Konsep Pendidikan Ahlak Anak Menurut Al-Ghazali Dalam Kitab Ayyuhal
Walad” Tahun 2013, Skripsi, (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013)
17
Putik Nur Rohmawati , “Konsep Pendidikan Ahlak Dalam Kitab Ayyuhal Walad Karya Imam
Al-Gahazali”. Tahun 2017, Skripsi, (UIN Salatiga, 2017)
18
Syaodih, N, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 60.
memverifikasi serta mensistematisasikan bukti-bukti untuk menegakkan
fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.19
2. Jenis dan Sumber Data Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kepustakaan (library
research). Artinya, permasalahan dan pengumpulan data berasal dari
kajian pustakan. Yakni, dengan menggunakan bahan-bahan tertulis seperti
manuskrip, buku, kitab, majalah, surat kabar, dan dokumen lainnya.20
Data-data yang dikumpulkan berasal dari kitab ayyuhal walad karya Imam
Al-Ghazali sebagai data utama (primer) dan sumber-sumber lainnya yang
relavan dengan pembahasan sebagai data skunder, baik itu berupa buku,
artikel, makalah ataupun hasil-hasil penelitian yang ada. Hanya data yang
benar-benar terkait dengan topik penelitian penulis cantumkan dalam
kaitannya dengan penelitian ini. Jadi, tidak ada wawancara dengan tokoh
yang bersangkutan.
Adapun sumber data penelitian menggunakan dokumen/arsip berupa
buku atau kitab karya Imam Al-Ghazali . Dalam data ini, dicari data-data
pemikiran Al-Ghazali khususnya dalam bidang akhlak dengan
menggunakan data primer dan data skunder.
a. Sumber Data Primer
1) Kitab karya Al-Ghazali, Ayyuhal-Walad, penerbit Al-
Haramain. Surabaya, 2005.
b. Sumber Data Skunder
1) Imam Al-Ghazali, Majmu’ah Rasail, penerbit Diva Press.
2) Zarman, Ternyata Mendidik Anak Cara Rasulullah Mudah &
Efektif (rev.ed.), penerbit Kawan Pustaka. Jakarta, 2017
3) Mathilda, “Mengembangkan Kompetensi Etis di Lingkungan
Kita”, penerbit Grasindo. Jakarta, 2016
4) Ramayulis, “Ilmu Pendidikan Islam”, penerbit Kalam Mulia.
Jakarta, 2015

19
Nata Abuddin, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 174.
20
Nata Abuddin, op. cit., h. 173.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini
adalah teknik dokumentasi. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau
karya-karya monumental dari seseorang. Metode ini digunakan untuk
mengungkap biografi dan pemikiran Imam Al-Ghazali.
Teknik pengumpulan data ini juga menggunakan metode:
a. Reading,yaitu dengan membaca dan mempelajari literatur-literatur
ysng berkenaan dengan penelitian.
b. Writing, yaitu mencatat data yang berkenaan dengan penelitian.
c. Editing, pemeriksaan data secara cermat dari kelengkapan
referensi, arti dan makna, istilah-istilah atau ungkapan-ungkapan
dan semua catatan data yang telah dihimpun. Menggunakan aspek
identifikasi, analisis dan implementasi.
4. Instrument Penelitian
Penelitian ini berdesain deskriptif dengan pendekatan kualitatif, maka
peneliti akan lebih banyak menjadi instrument, karena dalam penelitian
kualitatif peneliti sebagai instrumen kunci key instrument.21
Peneliti kualitaif secara khusus mengumpulkan datanya sendiri secara
langsung melalui pengkajian dokumen. Peneliti tidak cenderung
menggunakan atau mengandalkan dan mendasarkan pada instrumen yang
dikembangkan oleh peneliti lain.
5. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data berupa
analisis isi atau dokumen. Analisis ini memusatkan kajian pada analisis
dan interpretasi bahan atau materi yang direkam (bahan cetak atau tertulis)
untuk mempelajari perilaku manusia.22

21
Setyosari, P, Metode Penelitian Pendidikan & Pengembangan. (Jakarta: Kencana: 2016), h. 61.
22
Setyosari, P. op. cit., h. 65.
Daftar Bacaan

A. Al-Qur’an dan Hadits


Hendra Endang dkk., 2018, Al-Qur’an Cordoba Special For Muslimah,
Bandung: Cordoba Internasional Indonesia.

B. Buku
Abi Hamid Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, 2006, Ayyuhal
Walad, Surabaya: Al-Haramain.
Faisal Mukarom dkk., 2014, Al-Qur’an Hadis, Jakarta: Kementrian
Agama.
Gunawan H., 2014, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran
Tokoh, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Jalaluddin, 2017, Filsafat Pendidikan Islam Dari Zaman Ke Zaman,
Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Nata A., 2008, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nata A., 2014, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers.
Novan dan Barnawi, 2012, Ilmu Pendidikan Islam, Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media.
Ramayulis, 2015, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Setyosari, P., 2016, Metode Penelitian Pendidikan & Pengembangan,
Jakarta: Kencana.
Syaodih N., 2005, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Zarman W., 2017, Ternyata Mendidik Anak Cara Rasulullah Mudah &
Efektif, Jakarta: Kawan Pustaka.

C. Dokumen/ Perundang-undangan
Euis Dahlia, 2017, Konsep Pendidikan Ahlak Perspektif Imam Al-Ghazali,
Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Raden Intan Lampung.
Moh. Nawawi, 2013, Konsep Pendidikan Ahlak Anak Menurut Al-Ghazali
Dalam Kitab Ayyuhal Walad”, Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Putik Nur Rohmawati, 2017, Konsep Pendidikan Ahlak Dalam Kitab
Ayyuhal Walad Karya Imam Al-Gahazali, Skripsi, UIN Salatiga.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional.

D. Sumber dari Internet


Amalia dan Munthalib, (2019, 17 September). Urgensi Guru Profesional
dan Guru Berkarakter, Radarmalang.id [online]. tersedia:
https://radarmalang.id/urgensi-guru-profesional-dan-guru-berkarakter/.
Diakses pada tanggal 02 -12-2019. Pada jam 13: 20.
http://eprints.walisongo.ac.id/534/. Diakses Pada Tanggal 28-05-2019.
Pada Jam 09:21.
https://id.wikipedia.org/wiki/Akhlak. Diakses Pada Tanggal 28-05-2019.
Pada Jam 09:27.
Yusuf M. (2017, 19 Januari). Revolusi Akhlak, Serambinews.com
[online]. tersedia: https://aceh.tribunnews.com/amp/2017/02/09/revolusi-
ahlak?page=2. Diakses pada tanggal 02-12-2019. Pada jam 13:35.

Anda mungkin juga menyukai