Anda di halaman 1dari 7

Analisis Kebijakan

Penerapan Double Hull pada FSO/FPSO di Indonesia

M. Panji Maulana 4107100034

JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebijakan merupakan langkah yang diambil oleh pemerintah, organisasi, maupun individu dalam suatu sistem. Kebijakan diambil untuk menjadikan suatu sistem menjadi lebih baik. Kebijakan berbeda dengan hukum, kebijakan bersifat sebagai isi aturan untuk memperoleh hasil yang diinginkan sedangkan hukum hanya sebagai legalitas dari aturan tersebut agar aturan tersebut bersifat mengikat. Terdapat kebijakan yang didasarkan peraturan yang dibuat oleh IMO tentang double hull pada kapal tanker diatas 5000 DWT. Peraturan ini bertujuan untuk memproteksi lingkungan laut dari polusi yang disebabkan oleh kebocoran kapal yang menyebabkan minyak tumpah ke laut. Peraturan ini juga berlaku pada Floating Production, Storage and Offloading (FPSO). Adalah kapal yang dirancang untuk menerima minyak atau gas dari tempat penambangan sebagai tempat pemprosesan dan juga sebagai penyimpanan sebelum diangkut ke darat atau disalurkan melalui pipa-pipa.

1.2 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu : 1. 2. 3. Mengerti dan memahami alasan diberlakukannya kebijakan. Mengetahui pihak-pihak yang terlibat dalam kebijakan tersebut. Memahami dampak diberlakukannya kebijakan tersebut.

BAB II ISI

Kebijakan merupakan langkah yang diambil oleh pemerintah, organisasi, maupun individu dalam suatu sistem. Kebijakan diambil untuk menjadikan suatu sistem menjadi lebih baik. Kebijakan berbeda dengan hukum, kebijakan bersifat sebagai isi aturan untuk memperoleh hasil yang diinginkan sedangkan hukum hanya sebagai legalitas dari aturan tersebut agar aturan tersebut bersifat mengikat. Kebijakan yang akan dibahas adalah tentang kebijakan penerapan double hull pada Floating Production, Storage and Offloading (FPSO).

2.1 Kebijakan penerapan double hull pada FPSO


Sesuai MARPOL 73/78 Annex I terdapat aturan tentang double hull yaitu mewajibkan kapal tanker diatas 5000 DWT menggunakan kulit ganda. Aturan ini bertujuan untuk memproteksi lingkungan laut dari polusi yang disebabkan oleh minyak yang tumpah akibat kebocoran kapal. Aturan ini dilatarbelakangi akibat kebocoran kapal super tanker MV.VALDEZ pada tahun 1989 yang menyebabkan 11 juta liter minyak tumpah sehingga merusak ekosistem laut.

Gambar 1. Double hull tanker

Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) adalah kapal yang dirancang untuk menerima minyak atau gas dari tempat penambangan sebagai tempat pemprosesan dan juga sebagai penyimpanan sebelum diangkut ke darat atau disalurkan melalui pipa-pipa. Berbeda dengan Floating Storage and Offloading (FSO) yang hanya untuk tempat penyimpanan FSPO juga sebagai tempat pemprosesan. Minyak mentah

yang baru saja diambil dari offshore, tidak langsung dibawa ke darat tapi menuju FSPO terlebih dahulu untuk diproses dan disimpan yang nantinya akan disalurkan mel aui kapal-kapal tanker atau melalui pipa. Hal ini dimaksudkan agar tidak banyak menghabiskan banyak waktu. FSPO sendiri umumnya merupakan konversi dari kapal tanker karena peralatan yang digunakan hampir sama dengan kapal tanker namun terdapat modifikasi tertentu.

Gambar 2. Contoh Kapal FPSO

Pada umumnya, FPSO lebih banyak diam ditempat tidak seperti kapal lainnya. Namun dalam perundang-undangan, FPSO dikategorikan sebagai kapal karena termasuk dalam definisi kapal. Dari dasar ini FPSO yang notabene juga mengangkut minyak dalam jumlah besar juga akan terkena imbas dari aturan double hull seperti pada kapal tanker bermuatan 5000 DWT keatas agar memproteksi lingkungan laut dari polusi yang ditimbulkan oleh kebocoran kapal tanker. Peraturan ini diberlakukan oleh IMO sejak tanggal 22 Juli 2005. Setelah itu muncul kebijakan untuk kapal-kapal FPSO yang dibangun setelah aturan tersebut diberlakukan, kapal-kapal tersebut dianjurkan menggunakan double hull sedangkan untuk kapal yang dulunya kapal tanker dan dikonversikan menjadi FPSO masih diperbolehkan menggunakan single hull.

2.2 Pihak-Pihak yang terlibat dalam kebijakan ini


Dalam kebijakan ini melibatkan pihak IMO sebagai pembuat peraturan yang menyebabkan timbulnya kebijakan ini. IMO bertujuan untuk melindungi lingkungan laut

yang rawan tercemar bila terjadi kebocoran kapal tanker. Oleh karena itu, IMO mewajibkan kapal tanker diatas 5000 DWT menggunakan double hull. Disini pemerintah melalui Klas sebagai pengontrol penerapan aturan pada negaranya. Bila di negara Indonesia BKI-lah yang berperan dalam pengontrolan kapal bangunan baru maupun lama.

2.3 Dampak dari kebijakan ini


Semua kebijakan yang timbul pasti membawa dampak bagi beberapa pihak. Disini terdapat beberapa pihak yang mendapat dampak dari kebijakan penerapan double hull pada FPSO. Yang pertama Pemerintah, dampak bagi pemerintah dengan adanya kebijak ini an harus membuat pemerintah bertindak dengan menerapkan peraturan tersebut. Hal ini tidak lain untuk proteksi lingkungan di negara Indonesia. Seperti peraturan -peraturan lainnya ( SOLAS contohnya ) Pemerintah Indonesia terkesan kurang tanggap akan adanya peraturan tersebut walaupun dalam dunia internasional Indonesia meratifikasi peraturan tersebut. Hal ini menyebabkan kita tidak dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. BP migas pihak yang tidak dapat mengelak dari kebijakan ini karena BP migas lah aktor yang paling sering menggunakan kapal FPSO. BP migas mau tidak mau wajib mengikuti peraturan tersebut. Industri maritim (Galangan kapal) pun salah satu pihak yang mendapat dampak dari kebijakan ini, karena dalam pelaksanaan aturan ini harus dibutuhkan perubahan struktur kapal tersebut. Untuk kapal yang dibangun setelah peraturan tersebut diberlakukan maka galangan wajib membangun double hull pada kapal tersebut.

BAB III PENUTUP

Kebijakan double hull dilatarbelakangi akibat kebocoran kapal super tanker MV.VALDEZ pada tahun 1989 yang menyebabkan 11 juta liter minyak tumpah sehingga merusak ekosistem laut. Disini FSPO terkena imbas dari peraturan double hull. Dalam kebijakan ini melibatkankan pihak-pihak seperti IMO sebagai acuan peraturan double hull. Terdapat beberapa pihak yang mendapat dampak dari kebijakan penerapan double hull pada FPSO seperti BP migas dan galangan kapal.

DAFTAR PUSTAKA
http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Floating_Production_Storage_and_Offloading&a ction=edit http://robron.multiply.com/journal/item/37/BENCANA_VALDEZ_BENCANA_LINGKUNGAN_B ENCANA_KEMANUSIAAN.html Annex I of MARPOL 73/78 ; Regulations for the Prevention of Pollution by Oil