Anda di halaman 1dari 82

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA DESKRIPSI MATA KULIAH S2

I. Identitas Mata Kuliah Nama Mata Kuliah Nomor Kode Jumlah SKS Catur Wulan Program Studi Status Mata Kuliah Dosen II. Rasional Mata Kuliah Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional dan Daerah MP 614 3 SKS Pertama S2 Manajemen Pendidikan Konsentrasi Prof. Dr. Sanusi Uwes. Perencanaan pendidikan khususnya perencanaan pendidikan yang komprehensif, terkait erat dan mengikuti kegiatan perencana kota, masyarakat, transportasi, ekonomi, militer, industri, dan perencana pemerintahan. Keterkaitan tersebut, mendorong para pendidik untuk melihat, menguji kembali, dan merncanakan program pendidikan yang sedang berlangsung dan akibatnya dalam memecahkan masalah kehidupan. Reformulasi ini penting, lantaran kegagalan lembaga pendidikan berakibat terhadap kegagalan pelayanan pendidikan, proses pendidikan secara keseluruhan, serta kegagalan profesionalitas dan keterampilan para pendidik. Kegagalan beruntun demikian, pada akhirnya bertumpu pada perencanaan pendidikan. If you fail to plan, you are planning to fail. Kegagalan membuat rencana berarti merencanakan kegagalan. Kegagalan mengatasi masalah dan memanfaatkan peluang yang ada seharusnya mendorong pembuatan perencanaan pendidikan yang lebih baik, lebih komprehensif, dan lebih luas. Namun demikian, realitas empirik menunjukkan banyak lembaga pendidikan yang membuat perencanaan secara parsial, digunakan secara terbatas untuk tujuan-tujuan yang relatif pendek. Padahal idealnya perencanaan pendidikan bertujuan untuk menyempurnakan capaian kehidupan masyarakat yang semakin canggih (sophisticated) pada masa depan. Dalam kaitan inilah diperlukan studi perencanaan pendidikaan dengan metode yang menghasilkan kerangka tindakan yang efektif bagi mengatasi masalah-masalah kehidupan masyarakat pada masa depan. a.

Setelah selesai mengikuti mata kuliah ini, diharapkan mahasiswa memiliki keterampilan dalam : b. memahami makna dan jenis-jenis perencanaan pendidikan, hubungan perencanaan pendidikan dengan pembangunan nasional dan pembangunan daerah. c. memiliki keterampilan berpikir strategis dalam merancang, memproses dan melaksanakan tehnis perencanaan pendidikan berdasarkan pemikiran yang sistemik, yang terintegrasi ke dalamnya aspek-aspek keagamaan, sosial budaya, ekonomi, dan sosial politik, yang kemudian diterapkan pada berbagai model-model perencanaan. d. membuat perencanaan strategik pada lembaga pendidikan, baik lembaga milik public maupun privat. Need, need assessment, what has been, what is, what should be, plan, strategic, goals, objectives, targets, task, process, product, system, function analysis, methods-means analysis, mission analysis, system analysis, task analysis, performance requirement, resources and constraints, problem area, designing plants, evaluation plans, simulation, problem formulation, program preparation, monitoring, evaluation. Pertemuan Pertama : Kedudukan Perencanaan Pendidikan (Rendik), Definisi, Fungsi, Proses membuat, Sejarah dan Perbandingan Rendik (Kaufman:1-9; Sanusi Uwes:1-8, 20-27). Pertemuan Kedua : Pendekatan sistem terhadap pendidikan. Pertemuan Ketiga : Beberapa Pendekatan Dalam Perencanaan Pendidikan (FG,1987:18-27; SU, 2005: 78-91, Husen, Torsten and Postlethwaite, T. Neville, 1985:3923-3925) Pertemuan Keempat : Ruang lingkup masalah pendidikan (BT,1973:4-15), mempelajari realitas kehidupan sosial (what has been), mendeskripsikan realitas kini (what is) dan mimpi masa depan (what should be). (BT 1973:16-98;Depdikbud,1982:13-18). Pertemuan Kelima: pendidikan sebagai Proses Pendidikan (kaufman 10-27), . Pertemuan Keenam: Menentukan kebutuhan Pendidikan. (Kaufman28-51) Pertemuan Ketujuh: Mission analysis, mission objective, performance requirement, mission profile function Analysis, Task Analysis, Method-means Analysis (K:52-116) Pertemuan Kedelapan : Konsep dan Disain Perencanaan: Memahami Kecenderungan, Menetapkan Sasaran dan Tujuan, Merancang Perencanaan (BT, 1973:207-292) Pertemuan Kesembilan : Evaluasi dan spesifikasi perencanaan, dimulai dari simulasi perencanaan, menilai perencanaan, menseleksi perencanaan, (Banghart, 1973:293-340 Bab13-15). Pertemuan Kesepuluh: Spesifikasi Perencanaan, Masalah formulasi, pelaporan hasil (BT, 1973:341-364) Pertemuan Kesebelas : Implementasi Perencanaan: Program persiapan, Pengesahan Program, mengorganisasi bagian opersional (BT, 1973: 365-384). Pertemuan Keduabelas : Monitoring pelaksanaan perencanaan, mengevaluasi perencanaan, dan menyesuaikan mengubah dan redisain perencanaan (BT, 1973:385-450) Pertemuan Ketigabelas : Perencanaan pendidikan tinggi, dan perencanaan pendidikan vocational (SU, 99-117) Pertemuan Keempatbelas: Strategic Planning in Education: Some Concepts and Methods Gwang-Chol CHANG, dan Contoh Penelitian: Strategic Plan for Development by Pariyaporn Tungkunanan, Punnee Leekitchwatana, Narong Pimsarn and Siripun Chumnum Syarat kehadiran minimal 80% jumlah tatap muka.

Penilaian berasarkan kumulasi pelaksanaan tugas terstruktur 30 %; aktivitas kelas 20%; UTS 20%; dan UAS 30%. Pembelajaran memakai metode ceramah, diskusi, pembuatan makalah dan seminar kelas; Bentuk tugas berupa Chapter Report, Book Report, Field Observation, Presentasi. Media yang dibutuhkan: PC, LCD, atau OHP. 1. Bacal, Robert (2004) How to Manage Performance, Madison Wisconsin, McGrawHill; 2. Banghart, Frank W. and Trull, Albert;(1973), Educational Planning, New York, The Mcmillan Co. 3. Beeby, C.E. (1984), Perencanaan dan Administrator Pendidikan, Jakarta, Bhratara dan Unesco. 4. Depdiknas, (1982/83) Perencanaan Pendidikan, Jakarta, Dirjen Dikti. 5. ____________, (2006) Renstra DepDiknas Dan Perbandingan Kinerja Antar Propinsi, Jakarta. 6. Faludi, Andreas, (1984), Planning Theory, UK, Pergamon Press; 7. Husen, Torsten and Postlethwaite, T. Neville, (1985), The International Encyclopedia of Education, Research and Sytudy, Pergamon Pers Ltd, p.3923-3925. 8. Harvey L.J.(1974), Management By Objective In Higher Education: A guide to Implementation, Washington DC, McManis Associates, Inc. 9. Ivan D. Illich (1973), Deschooling Society (terj.) Great Britain, Penguin Books. 10. Kaufman, Roger A, (1972), Educational System Planning, New Jersey, Prentice-Hall; 11. Lembaga Pengkajian Manajemen Pemerintahan dan Otda (2006), Kumpulan Makalah Workshop Penyusunan Anggaran dan Pengelolaan Keuangan Daerah, Bandung. 12. Ryans, D G. (1968), System Analysis in Educational Planning, Santa Monica:SDC.S 13. uwarsono Muhammad, (2004), Manajemen Strategik, Konsep dan Kasus, Yogjakarta, UPP AMP YKPN. 14. Thomas, J.Alan, (1971), The Productive School, New York, John Wiley & sons. 15. Sanusi Uwes, (2005), Perencanaan Pendidikan Islam, Bandung, Pasca IAIN. 16. Stettinius, Wallace, at all (2005), How To Plan and Execute Strategy, New York, McGraw-Hill;

Ringkasan Materi Kuliah pertemuan Pertama : Pertemuan Pertama : Kedudukan Perencanaan Pendidikan; Definisi Perencanaan, Pendidikan, dan Perencanaan Pendidik an; Bentuk Kegiatan Perencanaan Pendidikan; Fungsi Perencanaan Pendidikan; Proses membuat rendik (Kaufman:1-9; Sanusi Uwes:1-8). A. Kedudukan dan Fungsi Perencanaan: Perencana pada kegiatan perencanaan

pendidikan merupakan tangan Tuhan melaksanakan takdirNya. Taqdir Tuhan pada manusia adalah jadi khalifah di muka bumi (QS 2:30), memakmurkan dunia (QS11:61), makhluk pencari tahu (2:31) dan mempersiapkan masa depan generasi pelanjutnya (QS59: 19). Untuk itu manusia diberi kewenangan menggunakan segala macam sumber daya (resources) secara efisien dan efektif (QS2:29; 17:26,27; 3:191), supaya manusia memiliki integritas pribadi yang bermartabat (iman), mempunyai integritas sosial (amal soleh), serta hidup dalam proses yang terus menerus berinteraksi dengan sesamanya menuju kebenaran hakiki (QS103:1-3). Posisi strategis perencana tersebut, menunjukkan strategisnya kedudukan perencanaan bagi manusia. Dalam hal perencanaan pendidikan, faktor peserta-didiklah yang akan diantarkan pada posisi taqdir tersebut, dan karena itu peserta didik berada pada posisi sentral, pusat penentu seluruh unsur yang terlibat dalam proses pendidikan. Dengan melihat posisi tersebut di atas, perencanaan memiliki fungsi yang sangat berfungsi, yakni sebagai (a) pengarah kegiatan atau pedoman bagi seluruh pekerjaan untuk mencapai tujuan pembangunan; (b) perkiraan kebutuhan tentang barang, orang, tempat, waktu, peluang, dan tantangan yang demikian ketidak pastian akan persiapan dapat diminimalisasi sesedikit mungkin; (c) upaya memilih opsi atau alternative cara kegiatan dan jenis, bentuk, ukuran, barang terbaik. Produk kegiatan ini adalah skala prioritas; dan (e) ada standar evaluasi atau pengawasan terhadap setiap kegiatan yang direncanakan. B. Definisi Perencanaan, Pendidikan, dan Perencana an pendidikan. Perencanaan, didefinisikan Kaufman (1972:8) sebagai a projection of what is to be concerned with

accomplished to reach valid and valued goals . Sasaran kerjanya

determining what is to be done diadakan sebelum memulai pekerjaan, untuk menentukan

where to go and identifying the requirement for getting there is the most effective and efficient manner possible . Koontz at all (1984:103) menegaskan tujuan dari planning is to facilitate the accomplishment of enterprise purpose and objective atau juga disebutkan

sebagai to make the future better than the past . Dalam perencanaan diperlukan imajinasi tentang masa depan lingkungan pendidikan dan komunitas manusia pada aspek-aspek nilai, tujuan, dan struktur sosial komunitas yang akan dijadikan sasaran perencanaan. Dalam kaitan inilah perencanaan merupakan proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang (Fakry Gaffar (1987:14).Dalam Udin dan Abin (2007:5) planning is trying to understand the present situations, to analyze it in formal way . Sementara menurut Harvey S Perloff and Benyamin Handler, "planning as blending of procedure and content", yang di dalamnya terliput saling hubungan antara penduduk, objek phisik, dan kekuatan lingkungan, sehingga dapat dikatakan bahwa "planning is concerned with the conservation of resources" juga di dalamnya "must include such characteristics as economics, politics, social factors, budgeting and patterns of living. Catatan lain tentang definisi ini adalah, Banghart and Trull membedakan perencanaan dengan rencana. 'Preparing to do' is called planning, and 'communicating what is to be done' is called a plan. Dengan melihat beberapa definisi dan kandungan yang tersirat di dalamnya, dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah keputusan menetapkan keadaan masa depan yang valid dan bermakna melalui formulasi kegiatan menentukan kebijaksanaan, prioritas, biaya, dan system yang baik, benar, argumentatif, sistimatis, yang diproyeksikan untuk mencapai tujuan pembangunan.

Pendidikan sebagai suatu proses adalah upaya pelayanan optimalisasi pengembangan potensi dasar manusia, baik dalam hal berketuhanan, kekhalifahan, berpikir, berilmu, dan bertindak bebas. Sementara sebagai suatu lembaga, pendidikan merupakan miniature dari sistem sosial yang melibatkan berbagai elemen sosial dalam suatu komunitas. Sebagai suatu proses kegiatan, pendidikan merupakan pelayanan jasa yang beragam dan berjenjang. Hasil yang diperoleh terdidik/murid sebagai penerima layanan, ditentukan oleh

pemberi layanan (sistem persekolahannya), dan murid tersebut sebagai penerima layanan, dan malah jadi faktor dominannya. Pendidik tidak dapat menjalankan fungsi mengajar melatih dan membimbing tanpa kehadiran dan kesiapan terdidik. Sebaliknya terdidik tetap dapat menjalankan fungsi belajar dan berlatih tanpa kehadiran pendidiknya, manakala memiliki kesiapan fisik maupun psikhis untuk kegiatan belajar. Terdidik adalah subjek yang dilayani, yakni manusia dengan sifat-sifat basyariyah (phisik), insan (psikhis) dan naas (sosial)nya, memiliki potensi dasar dengan kapasitas dan kecenderungan masing-masing yang berbeda-beda. Dia adalah manusia yang bersifat aktif, bergerak sejak awal kelahirannya. Dalam pada itu "ilmu dan sikap" sebagai bahan layanan pendidikan, bukanlah seperti tinta yang dituliskan pada kertas putih, tapi lebih sebagai biji-bijian yang ditaburkan pada tanah yang mengandung berbagai zat dan mineral, yang dapat menolak atau menerima bibit sesuai dengan cocok tidaknya keadaan benih tersebut. Terdidik juga bukanlah seperti kertas kosong yang menerima pasif segala perlakuan penulis, dan bukan pula merupakan kekuatan dinamik yang tidak berkorespondensi dengan lingkungannya. Terdidik adalah manusia yang bersifat dinamik namun juga "potensial" untuk dipengaruhi lingkungannya. Ia adalah manusia yang dapat bebas menentukan sikap dan tujuan hidup, tapi juga terikat oleh sikap dan tujuan hidup pilihannya justru dalam rangka menjaga kebebasannya. Perencanaan Pendidikan Education system Planning is the identification of all requirement for meeting identified, document needs. It includes the use of the tools associated with needs assessment and system analysis (Kaufman, 1972:25). Sementara menurut Beeby (1984:6) Perencanaan pendidikan adalah kegiatan memandang masa depan dalam menentukan kebijaksanaan, prioritas, biaya, dan system pendidikan yang diarahkan kepada kenyataan ekponomi dan politik, untuk pengembangan system itu sendiri, kebutuhan Negara dan murid-murid . Dalam pada itu Banghart dan Trull (p.333) berpendapat bahwa Educational Plan is a variation on the general systems approach to planning, involving the total activity systems of education and the community that influences the overall operation . Unsur penting dalam pembuatan perencanaan pendidikan, adalah hal-hal sebagai berikut.

(a) parameter dalam dan luar perencanaan, untuk ini diperlukan metoda analisis yang rasional dan sistematik; (b) identifikasi dan proyeksi masa depan sebagai tujuan. Hal ini berimplikasi terhadap perhitungan SDM, jumlah bangunan, kebutuhan dan sumber finansial yang disebar kepada periodisasi dana & waktu. (c) menegaskan hubungan antara pengembangaan sistem pendidikan dengan pengembangan masyarakat dan bangsa seluruhnya, Dalam kaitan inilah perencanaan pendidikaan berfungsi sebagai tools pembangunan untuk membangun manusia pembangunan; (d) Penyusunan rancangan yang link and match antara para lulusan dengan kebutuhan SDM baru, baik pada tingkat lokal, regional, nasional, atau malah global. . Bentuk Kegiatan Perencanaan Pendidikan. Perencanaan sebagai proyeksi tindakan ke depan untuk mencapai tujuan yang benar dan bermakna, meliputi berbagai kegiatan yakni 1.. mengidentifikasi dan mendokumentasi kebutuhan; 2. menyeleksi prioritas kegiatan; 3. membuat ciri2 rinci tiap kebutuhan tersaring; 4. mengidentifikasi syarat2 pencapaian kebutuhan tersaring, termasuk membuat spesifikasi pemecahan masalah yang mungkin timbul; 5. mengidentifikasi tahapan-tahapan hasil kegiatan serta menentukan cara pengawasannya; dan 6. mengidentifikasi strategi alternative (untungrugi) yang mungkin serta menyempurnakan tiap persyaratan untuk memenuhi tiap kebutuhan.(Kaufman, p.6). Dimensi. Seorang perencana perlu memahami sembilan dimensi (tingkat, ukuran, dan besaran) rendik supaya rendiknya komprehensif dan efisien Pertama, Signifikansi. Kepentingan masalah rendik tergantung tingkat signifikansi kepentingan masyarakat menentukan tujuan, garis besar, dan kriteria evaluasi pendidikan. Hal ini harus jelas supaya para pemerhati mudah mengobservasi keberhasilan atau kegagalan suatu kegiatan pendidikaan.

Kedua, fisibilitas(feasibility). Hal ini terkait dengan otoritas politik, peluang teknologi, estimasi pembiayaan, serta aspek lain berdasarkan pertimbangan yang realistik. Ketiga, Relevan (relevance), yakni kesesuaian dengan tujuan, peluang untuk diteraplaksanakan memecahkan masalah, disamping sebagai gambaran optimalisasi proses mencapai tujuan spesifik. Keempat, kepastian (definitiveness), yakni identifi kasi program berdasarkan pemikiran yang paling argumen tatif. Untuk memperolehnya dapat melalui simulasi, sehingga reel perencanaan bertumpu pada data yang dapat dipercaya. Kelima, Hemat (parsimoniousness), "should be outlined in the simplest manner". Perencana harus memilih solusi yang paling efisien. Keenam, sesuai (adaptability), yakni bersifat dinamik dalam perubahan sesuai dengan masukan informasi pada sistem yang dikembangkan. Ketujuh, masa depan (time). Pertama, waktu merupakan siklus alamiyah, kedua, kebutuhan untuk berubah sesuai dengan berlalunya waktu, ketiga, ada batas target waktu yang harus ditentukan dalam perencanaan, keempat, waktu juga mempengaruhi kemampuan menilai kebutuhan pendidikan terkait dengan kehidupan masa depan. Kedelapan, monitoring terkait kepada dua aspek. Pertama keperluan efektivitas ruang, waktu dan biaya, dan kedua, argumentatif untuk kelancaran kegiatan, dan penetapan prosedur. Kesembilan, Pokok bahasan yang jadi bahan rendik (Subject Matter), terdiri atas: (a) tujuan dan sasaran, yakni output proses pendidikan dari seluruh bahan ajar. (b) program dan pelayanan, yakni pengorganisaasian pembelajaran dan daya dukungnya. (c) Sumber Daya Insani (SDI), yakni upaya-upaya pengembangan kinerja, interaksi, spesialisasi, perilaku, kompetensi, pertumbuhan dan kepuasan/kebahagiaannya. (d) Sumber Daya Phisik, yakni penggunaan fasilitas, bentuk distribusi, cara memperolehnya, serta pemanfaatannya. (e) Pembiayaan, yakni pengeluaran, perolehan terkait penggunaan SDI dan SDPhisik. (f) Struktur pengorganisasian, yakni cara mengor ganisasi dan mengatur kegiatan dan pengawasan program dan aktivitas pendidikan,

dan (g) konteks social, yakni sumber-sumber yang harus terlibat dalam system pendidikan (Banghart and Trull, p.7-11).

Perencanaan Pendidikan berfungsi sebagai 1. Pengendali tujuan kegiatan, 2. Gambaran kehidupan masa depan; 3. tool of development masa yang akan datang, 4. Perpaduan tujuan pembangunan atau kelembagaan dengan realitas kemampuan lapangan, karena itu indikator bahwa suatu perencanaan itu bermutu baik, ialah manakala dapat dilaksanakan di lapangan, dan ke 5. Membangun manusia pembangunan. Disini akan terjadi sinergi system antara pembangunan dan pendidikan yakni manusia pembangunan sebagai produk pendidikan, dan proses pendidikannya sendiri sebagai produk pembangunan(K:1-9;SU:1-8).

ringkasan materi mkuliah Pertemuan Kedua: Pertemuan Keempat: Pendekatan sistem terhadap perenca-naan pendidikan

(Depdiknas,1982:19-25;K10-27)., Sistem sebagaimana didefinsikan Ryans (1968:5) merupakan any identifiable assemblage of element (object, person, activ-ities, information records, etc) which are interrelated by process or structure and which are presumed to function as an organizational entity in generating an observable (or some-times merely inferable) product (Diknas, 1982/83:19). Ber-dasarkan kaidah ini, pendekataan sistem dalam perencanaan, ada elemen yang saling berhubungan, baik lantaraan proses maupun lantaran didisain strukturnya, sehingga setiap fung-sinya merupakan satu kesatuan dan bekerjasama untuk meng-hasilkan suatu keluaran atau produk. Akibatnya seeorang pe-rencana harus memperhatikan variable dan kendala kritis, serta akibat interaksi antar berbagai variable dalam sistem. Dalam kaitan ini, Kaufman (1973:10) menegaskan bahwa pen-dekatan system merupakan cara mengidentifikasi kebutuhan, menseleksi masalah, menyusun identifikasi persyaratan solusi masalah, membat beberapa alternative solusi,

mengevaluasi hasil, merevisi persyaratan pada sebagaian atau seluruh system terkait dengan keterbatasan memenuhi kebutuhan. Dalam pendekatan sistem, pendidikan diposisikan sebagai proses manajemen, yakni prosedur memonitor kegiatan untuk memberikan penilaian perkembangan (kegiatan) dengaan teliti berdasarkan kriteria yang baku (criterion standard). Langkah pelaksanaannya adalah menetapkan hubungan antar subsistem, menetapkan kualifikasi subjek pelaksana system, menentukan mekanisme pengambilan keputusan, menentukan jenis dan jumlah upah atau insentif, memonitor proses kegiatan, mengukur kesesuaian hasil dengan rancangan yang telah ditetapkan, serta menyiapkan rancangan perbaikan bagi proses dan hasil yang tidak sesuai rancangan awal. Keuntungan memakai Pendekatan Sistem, menurut Tim Depdiknas (1982/83:22) adalah sebagai berikut. (1) Misi, (2) Setiap (3) Orientasi sasaran, program kegiatan dan selalu selalu tujuan dikaitkan dapat dengan dijabarkan sasaran kepada lebih dan hasil luas; tujuan; akhir;

diorientasikan

(4) Perencanaan dipandang sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan pendidikan; (5) SDM dan SDdana digunakan lebih efektif sesuai alokasi kontribusinya pada pencapaian tujuan; (6) Informasi untuk perencanaan dan pengambil an keputusan dapat dirancang dan dikelola secara terpadu, sehingga sasaran serta cara-cara pencapaiannya dapat lebih efektif dan efisien; (7) Semua upaya diarahkan pada sasaran, sehing ga pemborosan dapat ditekan seminimal mungkin. (8) Administrator dapat dinilai lebih objektif lantaran sasaran pekerjaan lebih jelas; (9) Administrator dapat mengembangkan kreativitas dalam batas-batas kewenangan yang telah ditetapkan, sepanjang jawab dapat mereka tetap berorientasi secara lebih pada jelas tujuan dan akhir.

(10)Pertanggungan

dirumuskan

opersional.

(11)Umpan balik dapat diperoleh pada semua tingkat otoritas dalam organisasi pendidikan, sehingga penyimpangan dalam yusaha pencapaian tujuan dapat cepat diidentifikasi;

(12)Komunikasi antar komponen dapat dibina dengan lebih baik sehingga kesalahpahaman dapat dikurangi;

(13)Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab dapat dilaksanakan secara lebih baik.

Jenis Sistem : Sistem terdiri atas dua jenis, yakni sistem terbuka dan sistem tertutup. Masingmasing memiliki karakristik sendiri. Karakteristik Sistem Terbuka. 1. Bersifat sinergis dengan lingkungan.

2. Feedback, perbaikan terus menerus berdasar hasil balikan dari seluruh rangkaian kegiatan sistem. 3. Cyclical, hal ini sebagai kelanjutan dari kegiatan korektif. Sistem bersifat mengulangi kegiatan sebelumnya atau repetitive.

4. Creative, pendektan system bersifat kreatif "the system approach must be creative one that focuses on goal first and methods second"

5. Negontropy. Sistem yang terbuka memiliki kekuatan penghalang dari kehancuran atau kemusnahan, manakala dipenuhi karakter dua di atas yakni kreatif dan repetitive. Dengan dua karakjter tersebut akan terjadi pertahanan dari dalam diri system (self defence). 6. Steady state, yakni kemapanan, keajegan, keseimbangan internal saat terjadi dinamika input-output. 7. Growth and expancy, yakni tumbuh dan semakin meluas, sebagai akibat lanjutan (nurturant effect) dari karakter sistem yang kreatif dan negontrophic.

8. Balance between maintenance (beli, pelihara, rekrutmen dst.nya untuk bertahan hidup) and adaptive activities (perencanaan dan pengembangan, yang menghitung reali tas lapangan secara jeli dan teliti supaya sistem tetap berta han hidup).

9. Equifinality. Dalam pendekatan sistem, terdapat kesamaan nilai dari ujung proses suatu kegiatan. Input dapat memiliki keragaman kualitas, namun karena diproses dengan perlakuan dan persyaratan yang sama, maka jenis dan kualitas outputpun, relative dalam level kualitas yang sama. (indicate to dynamic homeostatis, or the steady state).

Karakteristik Sistem Tertutup, yakni sama sekali tidak berhubungan dengan sistem yang lain, memiliki batasan yang jelas yang terpisah dari lingkungan tempat sistem berada (it does not have such interactions with environment).Dalam jangka waktu lama dan berkelanjutan, sesungguhnya system yang tertutup seperti mesin-pun tetap dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya.

Kepentingan

Pendekatan

Sistem

Dengan melihat berbagai karakteristik sistem, baik yang terbuka maupun yang tertutup, kita dapat melihat beberapa keuntungan membuat perencanaan dengan pendekatan system sebagai berikut.

(1) pendekatan sistem mengkonseptualisasi organisasi sebagai satu kesatuan, tidak terpisahpisah, (2) dan setiap karenanya bagian atau dan tidak dilihat dari bagian-bagiannya, sebagai suatu maka kesatuan; diidentifikasi dikelola; dari proses organisasinya; kegiatan.

anggota

bersikap

(3)terampil

mengidentifikasi

memahami

lingkungan;

kemudian yang

keterkaitannya (4) (5) memahami

kepada pentingnya stabilitas

sistem dan atau

perubahan dan

merekayasa

alternatif

masukan

Harvey, LJ menegaskan kepentingan pendekatan sistem dalam membuat perencanaan dalam pendidikan sebagai berikut.

(1) Lembaga-lembaga pendidikan telah semakin kompleks dan semakin sulit untuk dikelola dengan cara-cara tradisional yang kurang berorientasi pada tujuan, untuk menyelesaikan tugastugas sesuai dengan tuntutan perkem bangan pendidikan.

(2) Perubahan semakin cepat sementara seorang administrator tidak mungkin menangani segala bidang. Karena itu perlu pendekatan baru.

(3) Kebanyakan perencana pendidikan bersifat amatir. Mereka disiapkan untuk jadi guru atau petugas pendidikan lainnya. Dalam keadaan demikian pendekatan system sangat diperlukan. (4) Diperlukan penggunaan dana yang efisien dan efektif dalam menanggulangi kesalahan

perencanaan dan pengelolaan pendidikan. Karena itu pendekatan system sangat diperlukan. (5) Kepercayaan masyarakat terhadap organisasi pendidikan perlu ditingkatkan, melalui efisiensi dan efekyivitas kerja system pendidikan yang terencana.

Dengan melihat berbagai karakter system juga, kita dapat membuat catatan lain yakni bahwa bahwa system bukan segala-galanya. Keterkaitan dan ketergantungan antar unsure adalah satu hal, tapi keinginan perubahan yang drastis untuk membuat loncatan-loncatan baru adalah hal lain yang justru akan merubah konstruk dan konsep suatu organisasi yang sudah disistemkan. Sejalan dengan keterangan tentang sistem tersebut serta menyadari liputan kerja dalam kegiatan perencanaan yang cukup luas, maka pekerjaan perencanaan dengan pendekatan sistem akan jadi terdukung untuk menurunkan rincian kegiatan lainnya. Bentuk kegiatannya berawal dari mengidentifikasi kebutuhan, menyeleksi permasalah an, mengidentifikasi barang/ bahan/syarat pemecah an masalah, menginventarisasi berbagai kemungkinan pemecahan masalah, cara-cara melaksanakan kegiatan, menilai hasil kegiatan rancangan secara terus menerus, dan kesiapan untuk terus merevisi kebijakan yang salah, sehingga hasil akhir betulbetul dapat meminimalisasi kerugian yang mungkin ditimbulkan.

Tentu saja faktor waktu harus betul-betul dipertimbangkan. Jangan sampai terjadi, saking hatihatinya mengidentifikasi, menyeleksi, merevisi, dan menilai hasil sementara, lantas keputusan atau kebijakan membuat perencanaan malah tidak pernah selesai.

Dalam dunia pendidikan Islam, pendekatan sistem dalam perencanaan ini berarti proses kegiatan memecahkan permasalahan pendidikan ummat secara rational logis, dengan mengidentifikasi dan memecahkan kembali permasalahan penting pendidikan. Semuanya diorientasikan pada sasaran atau tujuan yang akan dijangkau. Intinya terletak pada bagaimana membuat cara /alat/konsep berpikir yang mampu memecahkan masalah pendidikan ummat Islam secara sistimatik dan objektif. Segera harus diberi catatan, bahwa cara/alat/konsep berpikir tersebut akan sangat bervariasi, terkait dengan tingkat jangkauan pekerjaannya. Jangkauan dalam bentuk sasaran kegiatan (purpose) berbeda dengan jangkauan tujuan akhir kegiatan (objective) dan tentu berbeda pula dengan tujuan komprehensif kegiatan yang dicapai melalui perencanaan strategi.

Thursday 3 July Friday 4 July 2008 Jeudi 3 juillet Vendredi 4 juillet 2008

Strategic Planning in Education: Some Concepts and Methods


Gwang-Chol CHANG
Working document Document de travail

International Institute for Educational Planning Institut international pour la planification de lducation DIRECTIONS IN EDUCATIONAL PLANNING: SYMPOSIUM TO HONOUR THE WORK OF FRANOISE CAILLODS LES ORIENTATIONS DE LA PLANIFICATION DE LDUCATION: SYMPOSIUM EN LHONNEUR DU TRAVAIL ACCOMPLI PAR FRANOISE CAILLODS
1

Strategic Planning in Education: Some Concepts and Methods Gwang-Chol CHANG1


1 Programme Specialist, Division for Education Strategies and Capacity Building, Education Sector, UNESCO Paris

Abstract In the context of national education development, the term of strategic planning is increasingly referred to. Countries and agencies have been engaged in planning and managing the development of education systems more and more strategically, due to various reasons, including the following: First, one may wish to plan all the activities deemed needed, but without necessarily achieving the expected results and ultimate goals. Secondly, more resources do not necessarily stand for better results. The way one uses these resources also matters. Thirdly, it has become difficult to plan everything one would wish to do. One ought to make choices through a balanced decision-making process. One cannot say that there is a perfect way to conduct strategic planning. However, what is generic to strategic planning and management are certain typical stages involving similar activities carried out in a similar sequence. Any management involves four basic stages: analysis, planning, implementation and evaluation. In the education sector, the management operations related to upstream, planning work consist of: (i) system analysis; (ii) policy formulation; (iii) action planning. Sector analysis consists of conducting data collection on and critical analysis of how the education system functions (internal dynamics) and examining various contextual factors (the environment of the system). Critical analysis of the educational system undertaken during the sector analysis leads to questions about what the education sector must do in order to address the major issues, challenges and opportunities. These questions include what overall results (strategic goals) the system should achieve and the overall methods (or strategies) to implement policies. Action planning is a process whereby one translates the policy directions into executable,

measurable and accountable actions. In a broader sense, action planning includes specifying objectives, outputs, strategies, responsibilities and timelines (what, what for, how, who and when). Keywords: Education Policies, Strategic Planning, Education Development Plan, Management Cycle, Monitoring and Evaluation, Education Policy Simulation, Resource Projections.
2

1. Introduction This article briefly describes the changing context of education planning at the country level, a few basic concepts and methods of the result-based planning and management, as well as some common steps taken by many countries to carry out strategic planning at national and sub-national level for educational development. Generally speaking, planning is a process whereby a direction is mapped and then the ways and means for following that direction are specified. There are many forms of planning with several types of activities involved in this process. A plan is the product of the planning process and can be defined as a set of decisions about what to do, why, and how to do it. A plan of action implies that: It has to serve as a reference for action, built on the consensus, agreed upon by all those concerned as well as by those contributing to its implementation; It is designed as an indicative, living framework, in such a way that allows for adjustments in light of new developments during implementation; It includes not only policy directions, but also information on the implementation strategies, actions and benchmarks for implementation, monitoring and evaluation, as well as the expenditure frameworks. More and more, education managers are constrained to think and plan more strategically, due to the reasons including: First, one may wish to plan and carry out all the activities that people deem necessary, but without achieving the ultimate goals and results. Furthermore, more resources do not necessarily stand for the best results. The way one uses these resources can lead to different levels of benefits and results. Thirdly, it has become more and more difficult to plan everything one would wish to do. One ought to make choices, often tough ones, through a balanced decision-making, tradeoffs across the education system and through a consensus building process. Over the recent years, the contexts in which education planning is conducted have evolved, some of which include: All education systems, in varying degree, are subject to rapid changes, most often driven by globalization, the marketization of some educational services, IT development, competitions, shift of traditional values and paradigms. The planning cycle has become shorter and more frequent. This involves the need for planning to be flexible and continuously adjusted to the changing demands of the society and individuals. There is a plethora of plans and programmes in many countries. Frequent changes of governments with differing agendas, numerous international and regional initiatives (e.g. MDG, EFA, ESD, etc.), the search for resources and results, and the multiplicity of partnerships, to name a few, lead to a diversity of the planning processes and subsequently numerous, and often fragmented development programmes. The high mobility of national cadres has often been at the expense of the education sector. In countries under difficult economic situations, the teaching and financial conditions

offered to the education sector have become more and more unattractive, often resulting in national cadres espousing the education profession as a last resort.
3

2. The Strategic Management Cycle 2.1. An Overview Like any other systems, education has inputs, processes, outputs and outcomes: Inputs to the education system include resources such as teachers, instructional materials, equipment, buildings, etc. These inputs go through a process (throughput) whereby they are mixed (input mix), combined and/or moved along to achieve results. Educational outputs are tangible results produced by processes in the system, such as enrolments, graduates and learning achievements. Another kind of result, which can be called outcome, is the benefits for the students, their families and/or the society as well. As a way of strategic management, education systems should be analyzed and thought out from the perspective of the input, process and output, as well as in terms of relevance, efficiency, effectiveness, impact and sustainability: for example, one will wonder whether the inputs to the education system are relevant for addressing the needs, to what extent the processes (utilization of resources) are efficiently driven and how well the anticipated outputs are effectively produced. Outcomes should be weighed in terms of their impact and sustainability. 2.2. The Strategic Management Cycle There are a variety of terminologies used in strategic management and a variety of approaches to carry it out. One cannot say that there is a single perfect way to conduct strategic planning. Each institution has its own particular interpretation of the approaches and activities in strategic management. However, what is generic to strategic management are certain typical stages involving similar activities carried out in a similar sequence. Any management involves four basic stages: analysis, planning, implementation and evaluation. More precisely, we can say that strategic management is a continuum of successive stages such as: critical analysis of a system, policy formulation and appraisal, action planning, management and monitoring, review and evaluation. Experience and lessons learnt from implementation, monitoring and evaluation provide feedback for adjusting the current programme or for the next cycle of policy formulation and action planning. Figure 1 outlines this cyclical pattern of strategic management: Any management cycle begins with analysis, whereby the current situation of a system and the critical issues pertaining to its status and functioning are first analysed. Findings and remedial options are then formulated and appraised, thus providing policy orientations. When the system is analysed and the future directions are traced, one can proceed with planning the necessary actions to correct or improve the situation. A plan can be long range (6 to 10 years), medium term (3 to 5 years) or short term (1 to 2 years). Operationalization consists of taking the necessary reform and institutional measures that are conducive to the smooth implementation of plans or programmes and before the actual execution starts, including:
4

Designing specific development projects or programmes and/or mobilizing resources required to implement the planned actions and activities.

Planning and management are subject to feedback-providing operations, i.e. monitoring, review and evaluation. Figure 1: The strategic management cycle In the education sector, the management operations related to upstream, planning work consist of: (i) system analysis; (ii) policy formulation; (iii) action planning. In the past, planners usually referred to the term long-range planning. More recently, they use the term strategic planning. Although many still use these terms interchangeably, strategic planning and long-range planning differ. Long-range planning is generally considered to mean the development of a plan aimed at achieving a policy or set of policies over a period of several years, with the assumption that the projection of (or extrapolation from) the past and current situation is sufficient to ensure the implementation of the future activities. In other words, long-range planning assumes that the environment is stable, while strategic planning assumes that a system must be responsive to a dynamic and changing environment. The term strategic planning is meant to capture strategic (comprehensive, holistic, thoughtful or fundamental) nature of this type of planning. With regard to operational and strategic planning, a narrow definition would be that strategic planning is done with involvement of high levels of management, while operational planning is done at lower levels. A wider, more holistic definition can be illustrated as in the following table. Operational planning Strategic planning Focus Routine activities Achieving goals Purpose Achieving the best use of available resources Planning the best courses of action Rewards Efficiency, stability Effectiveness, impact Information Present situation Future opportunities Problem solving Relies on past experience Finds new ways and alternatives
5

A strategic plan in the education sector is the physical product of the strategic planning process and embodies the guiding orientations on how to manage an education system within a larger national development perspective, which is evolving by nature and often involves constraints. 3. Three Stages of Strategic Planning 3.1. Sector Analysis Sector analysis is the first stage of sector development planning. Sector review, situation analysis, diagnosis, etc. are sometimes used interchangeably. Basically, sector analysis consists in conducting data collection on and critical analysis of the aspects relating to (and surrounding) the education sector. Planners and managers carefully examine both internal and external aspects of the education system. In other words, they: review how the system functions (internal dynamics) to meet peoples needs and economic demand; examine various driving forces behind the education system and external conditions (the environment of which education is a part), e.g. macro-economic and socio-demographic situations and developments. Planners and managers can look at the above aspects from the perspective of the systems strengths, weaknesses, lessons and opportunities regarding educational development. They also examine the relevance, efficiency and effectiveness of the inputs, processes and outputs

of the system in its current setting. This helps to identify critical issues, challenges and construct remedial actions and policy provisions. The main categories of aspects to be considered when conducting an education sector analysis (ESA) and/or when describing the diagnostic part of an education sector development plan are: (i) macro-economic and socio-demographic frameworks; (ii) access to and participation in education; (iii) equity; (iv) quality and relevance of education; (v) external efficiency; (vi) costs and financing of education; and (vii) managerial and institutional aspects. The aspects (ii), (iii), (iv), (v), (vi) and (vii) can be documented by sub-sector (pre-school, primary and secondary education, technical and vocational education, higher education, non formal education, etc.) 3.2. Policy Design Education sector policies represent the governments public commitment to the future orientation of the sector. A clearly formulated policy can play an important operational role as a reference for action. It can help to guide decisions and future actions in educational development, including the interventions of international and bilateral cooperation agencies, in a coherent way. It is important that policy promote the coordination and success of programmes and projects. The formulation of a good policy for education is a necessary step in promoting the emergence and effective implementation of action plans, programmes and projects. A policy is a set of the goal and purposes (specific objectives). Often, education policies are defined along the following threefold dimension:
6

access (access, participation, including gender and equity issues) quality (quality, internal efficiency, relevance and external effectiveness) management (governance, decentralization, resource management). These dimensions are addressed (i) either as a whole, by programme component or by subsector, (ii) with target indicators by time-range (medium or long-term) and with a few quantitative indicators. One cannot say that there is a perfect way of writing policies or of listing different policy aspects. An indicative, though not exhaustive, checklist is presented below as a way of providing specification of some of the fields requiring definition in an educational policy and the implementation strategies: access to and participation in education; equity and the reduction of disparities in terms of genders, regional, rural/urban and social disparities; quality and the relevance of education at different levels (basic education, general secondary education, technical and professional education, higher education, adult education, etc.); the place that the private sector and local groups occupy in the organization of education; regulation of student flows between (i) formal and non-formal education; (ii) public and private education; (iii) general secondary, technical, and professional education; (iv) short and longer higher education; (v) elementary and secondary, secondary and higher education, etc.; institutional aspects such as governance, management and planning, including the decentralization, de-concentration and centralization balance; partnership and communication between actors and partners, the level and form of participation and communication; cost control in recurrent and capital expenditure; and

policies and strategies to mobilize resources in connection with decentralization, the development of the private sector and partnership development. Particular emphasis should be placed on formulating quantified objectives such as enrolment, admission, and flow rates, pupils/teacher ratios, the supervision rate, the space utilization and the share of education in the national budget. For this purpose, simulation techniques and models have been used successfully to define policies that can then be quantified for consultation and the negotiation of trade-offs between stakeholders and development partners, on issues related to enrolment objectives, the organization of provision of different levels of education, and public, private, external financial contributions. 3.3. Action Planning A national policy should establish the framework for its implementation by giving the main goals and priorities, as well as the strategies to achieve them. It should be credible: that human and financial resources are available for carrying out the policy. Action planning is the preparation for implementation. An action plan aims to translate into operational terms the policy directions that education authorities intend to implement in a given time horizon. It is a tool for clarifying to some extent the goals and strategies in relation to the education policy, programming the activities required, establishing the timing, indicating the necessary resources, distributing institutional and administrative responsibilities, preparing the budgets, etc. It is important to consult and negotiate with the various development partners throughout the action planning stage if the country is to mobilise their support for plan implementation.
7

It is necessary to differentiate between an action plan/programme and an investment programme which often deals with the infrastructures and equipments to carry out the action plan and the recurrent expenditure incurred by such investments. The duration of an action programme, in general, is five years. One of the criteria of an action plan in order for a plan to be called action plan - is to go beyond mere policy statements and lists of activities to further define and prioritize the actions, activities, and required resources in a coherent manner. These actions and resource projections should be defined within a given macroeconomic framework using appropriate technical tools such as a simulation model. In general the education policy framework document concerns the whole of the education sector. The action plan, which is linked to this policy framework, should also be sector-wide. Sometimes, a policy statement may concern either a particular sub-sector (secondary technical and professional education, for example) or a cross-cutting theme (improvement of the quality of education, for example), this within an overall, sector-wide development framework. Different methodologies and techniques of action planning have been designed and used by different countries and agencies. Among them, two instruments are emerging as reference tools in developing action plans in the education sector: the Logical Framework Approach and simulation modelling. In reality, these two and other approaches are used, not in isolation but to complement each other, resulting in the preparation of a credible and coherent action plan for educational development. 4. Planning for Monitoring and Evaluation 4.1. Rationale We are all accountable for the work we do. We are accountable for the use of the resources that we are given. We are accountable to a variety of people, but foremost to the people and communities we serve, though we are also accountable to those who provide resources. We also need to learn lessons. We need a system that is reflective and analytical, examining performance both:

On an on-going day-by-day, month-by-month basis so that we can change direction and improve what we are doing; and On an occasional basis, perhaps annually or every three years, when we can examine our effectiveness and the changes that have occurred so that we can build lessons from such experience into our future plans. In response to these needs for accountability and feedback, three main questions should be addressed when preparing education development plans or programmes: What can enable us to judge and measure whether an objective or an expected result is achieved and an activity implemented? How can we assess the achievement of an activity, an output or an objective? What level of result are we going to assess? In general terms, monitoring and evaluation consists in measuring the status of an objective or activity against an expected target that allows judgement or comparison. This target is an indicator. This implies that one has to define at the stage of planning some indicators that can
8

enable measurement whether and how an output or an activity is delivered in comparison with the initial targets. Another question concerns how to assess the status of each level of the programme (activity, output, purpose and goal). Your boss might want you to produce results, no matter how you achieve them. However, you ought to care about the use of the means that you are given in order to attain the results expected by your boss. This can be done by regular monitoring of the achievement of your activities. On the other hand, you may need an external and objective point of view to assess the impact of your activities in meeting the purpose of your programme, which can be done by a more formal form of assessment, an evaluation. Figure 2: Relevance, efficiency, and effectiveness.
Effectiveness Efficiency Needs Objectives Resources Outputs & Outcomes
Hypothetical

Relevance Real Relevance

It is very important to plan M&E from the outset: e.g. when doing a strategic plan or planning a programme or a project. A system is needed that will help answer the questions of: Relevance: does the organization or project address identified needs? Efficiency: are we using the available resources wisely and well? Effectiveness: are the desired outputs being achieved? Is the organization or project delivering the results it set out to deliver? Impact: have the wider goals been achieved? What changes have occurred that have targeted individuals and/or communities? Sustainability: will the impact be sustainable? Will any structures and processes so established be sustained? It is important to note that credible indicators cannot be constructed without a reliable information system. Without the production of reliable statistics, the quality of monitoring and evaluation will be questionable at the stage of the plan implementation. In other words, one must start by establishing a reliable information system in order to ensure the quality of the monitoring and evaluation. 4.2. Three Classifications of Evaluation

Depending on the nature of a programme and the purpose of an evaluation, there are different classifications of evaluation. The first classification can be made depending on whos conducting the evaluation: internal (when the evaluation concerns a programme implemented entirely within an institution, is carried out by the persons belonging to the same institution as those managing the programme, sometimes in cooperation with the assistance of external evaluators);
9

self-evaluation (is a form of internal evaluation done by those who implement the programme); or external (when the evaluation concerns a programme whose implementation involves persons from outside the institution, often carried out by evaluators independent of the institution). The second classification is made depending on the use of evaluation. An evaluation can be: formative (because its main goal is generally to correct the course taken by a programme and its results are usually intended for those implementing it. Sometimes called mid-term evaluation because it is carried while the programme is still being implemented); summative (because it leads to conclusions about the value of the programme so that lessons can be learnt for the future. It is called end-of-programme evaluation); or ex-post (because it is conducted some time after the completion of the programme in order to draw conclusions on the impact and sustainability of the programme. It is another form of summative evaluation.) The following three types of evaluation form the third classification that is being widely used in programme evaluation. However, some flexibility is applied when conducting the types of evaluation described below in combination with those mentioned above. These three types are: monitoring, review and evaluation. Monitoring: It is not an evaluation per se, but is a process whereby the progress of activities is regularly and continuously observed and analysed in order to ensure that the expected result is achieved. It is done by regular collection and analysis of information for checking the performance of the programme activities. Monitoring is usually done internally by those who are responsible for the execution of activities (programme managers) in order to assess: whether and how inputs (resources) are being used; whether and how well planned activities are being carried out or completed; and whether outputs are being produced as planned. Monitoring focuses on efficiency, that is the use of resources. Major data and information sources for monitoring are: financial accounts and also internal documents such as mission reports, monthly/quarterly reports, training records, minutes of meetings, etc. Review, as for monitoring, is a task performed usually by those who are responsible for the activities, but it is a more substantial form of monitoring, carried out less frequently, e.g. annually or at the completion of a phase. Often called mid-term review, its results are designed for those who are implementing the activities as well as the providers of funds. Reviews can be used to adjust, improve or correct the course of programme activities. Review focuses, in particular, on effectiveness and relevance. It assesses whether the activities have delivered the expected outputs and the latter are producing the expected outcomes, in other words whether there is indication that the outputs are contributing to the purpose of the project or programme. Key data and information sources for review are typically both internal

and external documents, such as annual status reports, survey reports, national statistics (e.g. statistical yearbooks), consultants reports, etc. Evaluation in many organisations is a general term used to include review. Other organisations use it in the more restricted sense of a comprehensive examination of the
10

outputs of a programme, how it contributes to the purposes and goals of the programme. Evaluations are usually carried out both by insiders (those belonging to the same institution as the programme managers) and outsiders (external evaluators) in order to help decision makers and other stakeholders to learn lessons and apply them in future programmes. Evaluations focus, in particular, on impact and sustainability. Evaluations may take place: at the end of a project phase or at the completion of a project (terminal or summative evaluations) to assess immediate impact; and/or beyond the end of the project (ex-post evaluations) to assess the longer-term impact of the project and its sustainability. Key data and information sources for evaluation are both internal and external. They may include annual status reports, review reports, consultants reports, national and international statistics, impact assessment reports, etc.
5. Policy Simulation in Education Development Planning

In the context of strategic planning, computer-based policy simulation is widely used when preparing education sector development plans, as a tool for policy formulation, planning and resource projections. Since there are too many actors, interests and the interrelations between these in the education sector, it is necessary to have not only a reliable information system, but also an objective forecasting tool to facilitate policy consultations regarding financial constraints and their consequences on education and national development. Simulation is a tool par excellence for scenario planning. It is used to test the viability of an education development strategy and to propose alternatives that can help cope with dynamic and changing environments. Policy simulation makes use of computer modelling techniques to anticipate and assess the consequences of education policies. Since early 1980s, UNESCOs upstream support has given priority to policy analysis through computer simulation in response to countries increasing financial constraints, and to shifting international cooperation approaches and patterns from project to sector-wide policy support. UNESCO designed various education policy simulation models, with a view to supporting national education administrations in the design of medium and long-term education policy and strategies. These models have been conceived to provide methodological and technical support to education planners and specialists in their efforts for the formulation of credible education development plans and programmes. The simulation method is increasingly used in developing countries as a strategic planning and management tool allowing for policy-making, informed policy dialogue and resource negotiation for education development. The scenarios, produced through simulation as results of a long process of trial and error by taking into consideration the policy options and the technical feasibilities as well as the financial constraints, can feed into constructive policy and social consultations about the perspective of education development and help design a comprehensive financial framework. Policy simulation contributes to ensuring coherence in educational planning, a better understanding and consideration of the implications of the policy decisions, and holistic educational development, through the following process:

First, the simulation serves the formation of educational policies, which is complex by
11

nature. A simulation model can contribute useful information to evidence-based policy dialogue and consensus building. It is used as a tool for testing the feasibility of reform or development options of the sector. It allows, at the preliminary planning stage, to anticipate the pedagogical, physical and financial implications of the goals and policy options retained for long-term periods, thus contributing to designing feasible and coherent policies. Second, the simulation model provides indications on actions, inputs and resources required for educational development. It is used as a forecasting tool following the adoption of sector reform and/or development options. It makes it possible to determine the pedagogical, physical and financial implications of educational objectives. As a systemic forecasting tool, it helps in considering the dynamics of the educational system and the detection of the interrelations of a number of parameters which influence the operation and the improvement of educational services. Third, as early as the plans preparation phase, the simulation can make it possible to establish an upstream forecast of recurrent expenditures and investments for the education sector in accordance with policy orientations. Governments, as a result, can have advance information on the annual costs required to implement the reform and development plans, foresee the budgetary gaps in relation to the possibility of States financing in a given period, and identify the fields for which additional resources should be sought from the national private sector and/or from external partners. Conclusions Compared to other socio-economic sectors, and more than ever, education involves more complex and multidimensional problems. Governments are not able to meet the broad social demands without adopting restrictive measures within the education. In the dynamics of educational management of student flows, as well as that of public finance, they have to make difficult decisions to regulate the utilisation of resources, without in any way leading to serious disruptions and dysfunctions. Faced with economic and financial difficulties, the ministries of education are under pressure from financial services (be they national or international) to prove that the resources they were provided are being used effectively. These pressures have contributed to the introduction of new approaches to accountability-based programming and management. The bilateral and multilateral agencies are increasingly requiring programming of development actions to be more results-based. In aid-dependent countries, often in the face of the mitigated results of external support, development partners are going through sector-wide approaches in support of governments priorities and procedures. The guiding principles and commitments, as encapsulated in the Paris Declaration on Aid Effectiveness, include the following: Recipient countries to exercise effective leadership over their development policies, strategies, and to coordinate development actions; Donor countries to align their support with recipient countries' national development strategies, institutions, and procedures; Donor countries to ensure that their actions are more harmonized, transparent, and collectively effective; All countries to manage resources for results;
12

Donor and developing countries to be mutually accountable for development results. This overall context changes the way countries and agencies work in the preparation and implementation of development plans and programmes in the education sector. These plans should give the assurances that the educational policy will be achieved. In sum, planning has become more complex, especially in developing countries, involving much diversified and specialized skills and competences. Education managers are required to acquire not only the necessary technical capacities, but also the political negotiation and communication skills to effectively engage with finance ministries, external partners, and civil society organizations. The work ahead of education planners and managers has been, and is going to be more demanding and challenging. Mastering the concepts and methods of strategic planning is an enabling, though not sufficient, factor in order to cope with the educational demands and challenges faced by education planners and managers. References Chang, G.C.; Radi, M, Educational planning through computer simulation (Education policies and strategies, ED-2001/WS/36.), Paris: UNESCO, 2001. Jallade, L.; Radi, M.; Cuenin, S., National education policies and programmes and international co-operation: What role for UNESCO? (Education policies and strategies, ED-2001/WS/5.), Paris: UNESCO, 2001. UNESCO, National Education Sector Development Plan: A result-based planning handbook, Paris: UNESCO, 2006.

STRATEGIC PLAN FOR DEVELOPING QUALITY CULTURE AT EASTERN SCHOOL OF THE OFFICE OF VOCATIONAL EDUCATION COMMISSION, THAILAND
by Pariyaporn Tungkunanan1, Punnee Leekitchwatana2 Narong Pimsarn3 and Siripun Chumnum4 ABSTRACT The purposes of this study are to analyze the factors affecting the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission, to develop the strategic plan for developing the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission and to assess the strategic plan for developing the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission. The research methodology is divided into 3 stages: (1) the analysis of the factors of the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission, (2) how to develop the strategic plan for the quality culture development, and (3) the assessment of strategic plan for developing the quality culture. The sampling groups were the directors and the teachers of 37 Eastern School of The Office of Vocational Education Commission, academic year 2007. The research instruments used for collecting data were 4 questionnaires. The data analysis of the factors of the quality culture was analyzed by the Exploratory Factor Analysis (EFA) with the principal component analysis and the oblique rotation by Covarimin. The data analysis for developing the strategic plan for the quality culture development was the Content Analysis. Method and the Multi-Attribute Consensus Reaching (MACR) method including the data analysis for the assessment of strategic plan developing the quality culture was Mean and Standard Diviation.
_______________ 1Pariyaporn Tungkunanan is a doctoral student in Vocational Education Administration Program, Faculty of Industrial Education, King Mongkuts Institute of Technology Ladkrabang. 2Dr. Punnee Leekitchwattana is an Assoc. Professor at the Department of Industrial Education, Faculty of Industrial Education, King Mongkuts Institute of Technology Ladkrabang. 3Dr. Narong Pimsarn is a lecturer at the Department of Industrial Education, Faculty of Industrial Education, King Mongkuts Institute of Technology Ladkrabang. 4Dr. Siripan Coonoom is a vice secretary of Office of Vocational Education Commission, Thailand. 52 ABAC Journal Vol. 28, No. 2 (May-August 2008, pp.52-63)

INTRODUCTION Education plays an important roles: conveying the culture, responding to the societys demand and solving the social problems, it produces the advanced knowledge and the related education field supporting Thailand to be the winner in the world competition. (Kasem Wattana-chai. 2002: 1-6) Education has the relationship with the society. (Thamrong Buasri. 1999: 56) With the advantages of education, the

society needs the roles of education (Accountability) producing the qualified learners. (Phanuwat Suriyachat. 2007: 1) Since 1999, the education management has been improved continuously in order to achieve the goal which is Quality Among the changes, we should rethat alize the main point which leads to the success is Culture (Porter et. al. 1975: 489-490) The organizations culture is like the energy which is invisible. On the other hand, it has the influence to all parts of the organization. The culture is like the nourishment that all departments of the organization need to grow and have a productive outcome. (Prawet Maharatsakul. 2005: 31) The culture should be proceeded and be developed; on the other hand, its negative sides should be eliminated. It has to be created the new one. (National Education Commission. 2002: 95) The quality culture in working, which should be proceeded and be developed, is the standard and the intention as well as a positive consciousness towards the organization and the colleagues. These will be the energy driving an effective management of the organization. (Prawet Maharatsakul. 2004: 27) Also, culture is the key factors of changes in quality development. (Atkinson and Crouch, Freed et. Al. 1998: 50) Due to the social requirement for the educational quality, the culture is one factor which should be considered. It can be said that the school needs to form a quality culture. In order to have a quality culture at school, it should be started with the school personnel designing their own image of how their organization should be in the future. For The results revealed the followings: 1. The quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand is composed of 9 factors including 88 variables: manager leadership, management by fact, strategic plan, decentralization, continuous self development, organizational commitment, working team, customer care and continuous improvement. The 9 factors could describe the variances of quality culture at 72.413%.

2. The strategic plan for developing the quality culture is composed of vision, 5 missions, 8 goals and 4 categories of 31 strategies: 3. The director and the vice director of Planning Department at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand had a good comment on the strategic plan for developing the quality culture which focuses on the high utility, the high feasibility, the high propriety and the high accuracy ( = 4.03).
53 Strategic Plan for Developing Quality Culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission, Thailand

those who imagine, how could they manage it? They also express their ideas of organizational management leading to the future imagination. (Pramorn Sripanwit 2006: 93-96) Having a quality culture, the organization needs a unity and a cooperation of all personnel (Bunill and Ledolter 1999: 62) With the importance of quality culture and the idea of forming the quality culture, the researcher is interested in the study of forming the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand and believe that the schools quality culture is the main point that can make a development to education of the nation. That means they could produce the qualified learners as the societys requirement. OBJECTIVES OF RESEARCH 1. To analyze the factors of the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. 2. To develop the strategic plan for developing the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. 3. To assess the strategic plan for developing the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. CONCEPTUAL FRAMEWORK Based on the literature review, the researcher studied the document and thesis related to the quality culture of European Universities Association (2003), Cameron et. al. (1994), Freed et. al. (1998), Louise Davison (2007), Koul (2007), Office of the National Education Commission (2000) and

Ketkanok Uewong (2004). According to the literature review, the quality culture is composed of 9 factors: 1) Strategic Plan 2) Working Team 3) Manager Leadership 4) Continuous Self Development 5) Continuous Improvement 6) Management by Fact 7) Customer Care 8) Organizational Commitment and 9) Decentralization. According to the theory of quality culture mentioned above, it can be said that the quality culture is finable and workable, so it should be proceeded and could be made a continuous development. (National Education Commission 2002: 95) A good quality culture couldnt be formed without a good management. It comes with the implementation not without the implementation. (Prawet Maharatsakul. 2005: 31) In order to have the good quality culture in the organization, we should start with the thought of what we want our organization will be in the future. What do we have to do for those expectations? Also, we should express their ideas of organizational management leading to the future prospect. (Paramorn Sripanwit. 2006: 93-96) The quality culture could not be formatting without the cooperation of the organization. (Bunill and Ledolter 1999: 62) It is in line with the study of Sadri and Lees (2001: 853-859), which claimed that the breakthrough of quality culture came when the organization have a planning as well as a cooperation. According to the theory about the quality culture, the good quality culture couldnt be formed without a good management. It comes after making a plan. Therefore, the
54 Pariyaporn Tungkunanan, Punnee Leekitchwatana, Narong Pimsarn, and Siripun Chumnum 55 Strategic Plan for Developing Quality Culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission, Thailand

researcher believes that the quality culture in any organizations could not be implemented without a good management and a planning. Thats why the researcher would

like to study the theory about strategic plan of Certo and Peter (Wattana Wongkiatirat et.al. 2003: 18-113) in order to make a practical application in developing the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. By considering the document and thesis, the researcher had the conceptual framework as shown in figure 1.

Factor of Quality Culture - Strategic Plan - Working Team - Manager Leadership - Continuous Self Development - Continuous Improvement - Management by Fact - Customer Care - Organizational Commitment - Decentralization Strategic Plan for Developing Quality Culture at Eastern School of Office of Vocational Education Commission in Thailand. Process of Strategic Plan 1. Environmental Analysis 2. Establishing Organization Direction 3. Strategic Formulation
RESEARCH METHODOLOGY This study was divided into 3 stages as follows: The First Stage: Having a study about the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. 1. Population and Sampling groups 1.1 The population were 2,339 personnel who are 150 executives and 2,189 teachers from 37 Eastern School of The OfFigure 1: Conceptual Framework fice of Vocational Education Commission in Thailand (academic year 2007). 1.2 The sampling groups were 435 respondents

(Krejcie and Morgan. 1970: 608-609) who were 108 executives and 327 teachers from 37 Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand (academic year 2007) and they were selected by means of stratified random sampling. 2. Research Instrument The instrument used for studying was questionnaire with IOC at 0.60-1.00. It has the discrimination at 0.50-0.89 and the alpha coefficient of all parts of the questionnaire are at 0.992. The instrument used for studying were the checklist and rating scale questionnaire which was divided into 2 parts: Part I: The personal data (the checklist questionnaire). This part consists of 5 questions. Part II: 5-items rating scales questionnaires on the factors of quality culture. This part consists of 88 questions: 3. Data Analysis Part I: Statistics used were frequency and percentage. Part II: Statistics used were mean, standard deviation, the factors of quality culture was analyzed by the exploratory factor analysis (EFA) with the principal component analysis and the oblique rotation by covarimin. The Second Stage: Improving the strategic plan in order to have a quality culture development at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. 1. Improving the process and the strategic plan for developing the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand 1.1 Population and Sampling groups The population was 37 directors from 37 Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. (academic year 2007). 1.2 Research Instrument

Open Ended Questionnaire encouraging the directors to analyze the organizational environment (SWOT) and the tendency of organization in order to improve the quality culture. 1.3 Data Analysis Content Analysis was used to analyze the quality data in order to asses the strength, the weakness, opportunity and obstacles of the organization. The assessment result will illustrate a tendency and 4 situations which the organization is facing. The right strategies were considered. The result of data analysis on factors of quality culture was considered to be the strategies. 2. The strategic plan was investigated by arranging a meeting with MACR (Multi-Attribute Consensus Reaching) in order to have the quality culture development at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand 2.1 Population and Sampling groups The population was the expert in the field of the vocational education management and quality management. The sampling group was the expert in the field of the vocational education management and quality management. There
56 Pariyaporn Tungkunanan, Punnee Leekitchwatana, Narong Pimsarn, and Siripun Chumnum

were 9 experts which were sampling by Purposive Method. 3. Research Instrument Close Ended Questionnaire encouraging the expert to express their opinion towards the strategic plan developing the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. The scoring of 1-100 was given to weight by the experts. 4. Data Analysis Content Analysis was used for quality data and Statistical Analysis was used for quantity data. The Third Stage: The assessment

of the strategic plan for develop the quality culture at Schools under The Office of Vocational Education Commission, Eastern part of Thailand. 1. Population and Sampling groups 1.1 The population was 74 of directors and the vice directors of planning and corporation department at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand (academic year 2006). They were from 37 schools. 1.2 The sampling group was 63 directors and vice directors of planning and cooporation department (Krejcie and Morgan. 1970: 608609) at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand (academic year 2007) and they are selected by means of simple random sampling. 2. Research Instrument The questionnaire was used to asses the strategic plan for developing the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. 4 parts were considered in terms of 1) Utility Standard 2) Feasibility Standard 3) Propriety Standard 4) Accuracy Standard. It was divided into 3 parts. Part 1: Check List questionnaires (4 items of personal information) Part 2: Rating Scales questionnaires (5 levels of opinion towards the strategic plan for developing the quality culture) There were 20 items. Part 3: Open Ended Questionnaire encouraging the respondents to make a suggestion and express their opinions towards the strategic plan for developing the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. There were 4 items. 3. Data Analysis Part I: Statistics used were frequency and percentage. Part II: Statistics used were mean and standard deviation. Part III: Analysis by content analysis

method RESULTS OF THE STUDY 1. The result of the factors analysis on quality culture The quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand is composed of 9 factors including with 88 variables: manager leadership, management by fact, strategic plan, decentralization, continuous self development, organizational commitment, working team, customer care and continu57 Strategic Plan for Developing Quality Culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission, Thailand

ous improvement. The 9 factors could describe the variances of quality culture at 72.413 %. 2. The result of improving the strategic plan for developing the quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand 2.1 Vision of the strategic plan for developing quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. The vocational schools are the communitys learning centers providing all levels of vocational educational services. They focus on life long learning, and the benefit for the learners. It has a perfect system and transparent management including a clear objective and a clear policy. Decentralization, teamwork, sharing idea, information technology system and networking are emphasized. Both gainer and loser have a chance to participate in vocational education management. This means that it could become the educational place that provides the international knowledge of technology and the international vocational skills which are qualified to the need of establisher, the community and the society within the next 5 years. 2.2 Mission of the strategic plan for developing quality culture at Eastern School

of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. 2.2.1 Providing all levels of vocational education services in various fields. Students and people in public are given a knowledge, vocational skills, moral and ethic as the need of establisher, employment market and society. 2.2.2 Having an improvement of curriculum, teaching method and schooling. It also organizes a training course for personnel to have a development. The good environment, which is suitable for learning center and vocational training center, is provided to the community for having standard of living. 2.2.3 Having a practical application of quality management at the educational place and change the previous organizational culture to quality culture. 2.2.4 Networking and encouraging the personnel, learner, guardian, establishment and community to continuously participate the vocational management in various aspects. 2.2.5 Providing services to the community in technical matter and vocation. Joining with the community to preserves the art, culture, tradition, environment and local intellectual. 2.3 Goals of the strategic plan for developing quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. 2.3.1 To let the learner gain good health, mentality, good vision, know how to think, can solve the problem, knowledge, ability and basic skill at work to have work, morality and ethical behavior that will correspond to the needs of the educational institution, employment market and society. 2.3.2 The graduators have an employment and have a further study at higher education level, so they are able to happily exist in the society and are the citizen who makes a merit to the nation. 2.3.3 To assure the establisher that
58 Pariyaporn Tungkunanan, Punnee Leekitchwatana,

Narong Pimsarn, and Siripun Chumnum

the graduators have the correct qualification supporting the stability of the establishment as they need. 2.3.4 To provide the continuous services of the vocational education and technical service to the community. Then, the employment, a good income and a better quality of life will be occurred. 2.3.5 To let the educational institute has more quality development which leads to the sustainability of quality. 2.3.6 To make the cooperation of the vocational management between establishment, community and educational institute. 2.3.7 To give knowledge, understanding, awareness to the community. The cooperation between the educational institute and the community has been emphasized to preserve the arts, culture, tradition, environment and local intellectual. 2.3.8 To make the nation and society has the potentiality, quality and continuous peace. 2.4 Strategies of the strategic plan for developing quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand. 2.4.1 The 9 strategies of organization expanding 2.4.2 The 7 strategies of maintaining the potentiality 2.4.3 The 5 strategies of recovering 3. The result of assessing the strategic plan for developing quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand The opinions of the director and vice director of planning department at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand towards the strategic plan for developing the quality culture was at the high utility, high feasibility, high propriety and high accuracy ( = 4.03). DISCUSSION

According to the factor analysis of quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand, it can be summarized that school management has been affected by 9 factors of quality culture: 1) Manager leadership 2) Management by fact 3) Strategic plan 4) Decentralization 5) Continuous self development 6) Organizational commitment 7) Working team 8) Customer care 9) Continuous improvement. These factors are in line with the conceptual framework that the researcher studied. Each of the factors analysis yielded as follow: 1) Manager leadership- The leaders have to express a clear vision, a clear mission and clear management aims which motivate their staff to have the operation with quality culture. They have to encourage the staff to have an innovation in quality management. They should also set up a returning system for improving quality culture. 2) Management by fact- A good management should be based on the fact, so we can make decision effectively (Asaneeya Suwansirikul. 2004). All decisions should be made academically (Scientific Approach) and logically (Tasanee Phoethisorn. 2007). Avoiding a bias of each person can minimize the argument. 3) A strategic plan - has the advan59 Strategic Plan for Developing Quality Culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission, Thailand

tages in terms of 2 dimensions: organization and members. Making strategic plan is a key instrument which helps the organization and the members to face the future changes with the preparation. The members have clear aims of the organization and take part in aiming as well as planning in order to achieve the aims. 4) Decentralization- The organizational management based on the decentralization which is the base of democracy can encourage the staff to participate in making decision. Therefore, the organization will

have a flexibility in work which relates to the economic, the society and the culture. It can also enhance the staffs capacity-building to rely on oneself and have a self development in permanence (UNESCO. 1985). 5) Continuous self development- The teacher should learn during all his life and search the knowledge which can solve the problems and have continuous teaching improvement by learning in the library, the society and making use of local intellectual and internet knowledge to have a self development. They should have a training course by the trainer teacher or the expert with a lot of teaching experience. They should undergo different courses of training and they should have the higher educational course in order to be in line with the world changes. 6) Organizational commitment - The organizational commitment can express the unify and the participation in different activities which make the members having a difficulty to go away. The commitment is the core of organization in terms of making understanding between the organization and the members. The members who have the organizational commitment can achieve the organizational aims and the organizational value (Decotis et. al. 1987). 7) Working team - Due to the organizational members give the assistant to each other, sharing their knowledge and have a freedom in communication, they can make use of the resources together effectively. With the cooperation in making decision as well as solving the problems, the members will have a strong commitment in team, and they cannot accept the failure in operation. Consequently, they will work with quality. Thats why the team work is important to the members and their organization (Quick. 1992). 8) Customer care- The improvement cannot be valuable if a customer is not satisfied with it. The demand is not only at the time they buy the product but their demand

is the satisfaction of the product usage until its expiration date. The quotation mentioned above is the most important idea of quality theory. Thus, the organization should perceive the customers demand not only at present but in the future in order to have the organizational management based on the customers standard or beyond their expectation (Banjong Jantharamat. 2001). It can be said that the child center teaching method focuses on the learners benefits. 9) Continuous improvement - aims to enhance the learners ability which is a satisfactory of the society. The school personnel have to work according to an action plan and, an investigation plan as well as an assessment plan. The assessment result of all process should be improved continuously. Then, the organizational management with quality culture will be made of use (Saundusit Ratchaphat University. 2007).
60 Pariyaporn Tungkunanan, Punnee Leekitchwatana, Narong Pimsarn, and Siripun Chumnum

RECOMMENDATIONS 1. For the practical applications of the research findings. 1.1 The Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand could make use of the utility of vision, mission, goal and strategy for developing quality culture to be the guideline for making a strategic plan for a sustainability development of quality culture at school. 1.2 Make use of the 9 factors of quality culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission in Thailand to be the index for investigating the quality culture of school. 1.3 The importance of quality culture should be publicized in order to inspire ones mind at educational institute for the awareness of how importance of the quality that can make life having sustainability in the educational place. 1.4 If the administrators of Eastern School of The Office of Vocational Education

Commission in Thailand require the quality culture in their educational place, they should have a power of leadership and have a management based on the information, strategic planning, and decentralization. They should encourage the personnel to have a relationship with the educational place, continuous self development, to have a team work and to think of the benefit gained by the learners. They also have a continuous improvement in operation in order to enhance the quality and sustainability in the educational place. 2. Further research should be conducted: 2.1 To study the other educational institutes affiliated with the Office of Vocational Education Commission and to study covering the educational places affiliated with the Office of Vocational Education Commission throughout the country or other educational places. 2.2 To study with the Quality Research Method for indept information of other factors of quality culture. 2.3 To study the index point of quality culture applied in the monitoring of quality culture development. 2.4 To design the format of quality culture development or the manual applied for forming the quality culture. 2.5 To study the administrators leadership styles affecting the quality culture development. REFERENCES Asaneeya Suwansirikul. (2004). Quality of Working Life. Self-Management Magazine. 3: 7-10. Banjong Jantharamat. (2001). Quality Management System ISO 9000: 20000. 14th. Bangkok: Technology Promotion Association (Thailand and Japan). Bunill et. al. (1999). Establishing a Culture of Quality. New York: John Wiley and Sons. Cameron, Kim et. al. (1994). Assessing The Culture And Climate for Quality

Improvement In The Work Environment. [Online] Available. http://eric. ed.gov/ ERICDocs. Cruickshank M.T. (2007). The Development of A Quality Culture Model for Schools of Nursing in Higher Education in Australia. [Online] Available. http://
61 Strategic Plan for Developing Quality Culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission, Thailand

www.isqua.org.au/isqua Pages/Conferences/ paris/Paris Abstracts Slides. Dean, Bottorff L. (2006). Total Quality Management. [Online] Available. http: //www.ethicsquality.com/quality management.htm. Decotis, Thomas A. and Timothy P. Summers. (1987). A Path Analysis of Model of the Antecedents and Consequences of Organizational Commitment. Human Relation. 40(2): 445470. European Universities Association: EUA. (2003). Quality Culture In Europe Universities: A Bottom Up Approach. [Online] Available. http://www.eua.be/ fileadmin/user_upload/files/EUA1_ documents. Freed Jann, E. et. al. (1998). A Culture for Academic Excellence: Implementing The Quality Principles in Higher Education. [Online] Available. http://lohman.tamu.edu/summary papersre wards/quality.html. Kasem Wattanachai. (2002). Reform the Thai Education. Bangkok: 21 Century Ltd. Ketkanok Uewong. (2004). Factors Analysis affecting to the Success and the Obstacles of Quality Assessment in Basic School Management. The Thesis of Philosophiae Doctor of Education, Department of Education Management, Graduate School, Chularongkorn University. Koul, Badri N. (2007). Towards a Culture of Quality in Open Distance

Learning: Present Possibilities. [Online] Available. http://www.col. org/ colweb. Krejcie, Robert V. and Daryle W. Morgan. (1970). Determining Sample Size for Research Activities. Educational and Psychological Measurement. 30(3): 607-610; Autume. Louise, Davison. (2007). The Link Between Six Sigma And A Quality Culture. [Online] Available. http://www. shu.ac.uk/research/integralexcellence/ docs/LouiseDavison.pdf. National Educational Commission. (2002). Cultural concept and educational among the changes. Modification: 1st Publication. Bangkok: V.T.C. Communication Part. Ltd. Office of the Education Council. (2002). Culture Tendency and Education in World Changes. Bangkok: V.C.T. Communication Co., Ltd. Office of the Education Council. (2000). The Development of Quality Assessment in School Management the 7th Book Supervision encouraging Quality Assessment in School Management. Bangkok: J.N.T. Co., Ltd. Phanuwat Suriyashat. (2007). Guideline and Procedure of EducationalQuality Assessment at King Mongkuts University of Technology Thonburi. [Online] Available. http://www.arit. cmru.ac.th/qa/file/38known.doc. Porter, Lyman W. et. al. (1975). Behavior in Organization. Tokyo: McGrawHill. Pramorn Sripavit. (2006). The organization culture affecting to how to have an educational management and modification of organization culture. For Quality. 12 (102): 93-96. Prawet Maharatsakul. (2005). Organizational Management Culture. For Quality. 11(88): 31-35.
62 Pariyaporn Tungkunanan, Punnee Leekitchwatana,

Narong Pimsarn, and Siripun Chumnum

Prawet Maharatsakul. (2004). Organizational Culture: Power that influence the successful management. Businessman Journal. 24(3): 26-30. Quick, Thomas L. (1992). Successful Team Building. New York: American Management Association. Robert, Wagenaar. (2007). Creating A Culture of Quality: Quality assurance at the University of Groningen (NL). [Online] Available: http://www.bdp.it/ lucabas/lookmyweb/templates/up_ files. Sadri and Lees. (2001). Developing corporate culture as a competitive advantage. Journal of Management Development. 20(10): 853-859. Saundusit Ratchaphat University. (2007). The Development of Internal Organization Assessment System. [Online] Available: http://dusithost.dusit.ac.th. Stig, Enemark. (2007). Creating A Quality Culture in Surveying Educaion. [Online] Available: http://www.fig.net/ pub/proceedings. Suphanee Samanyat. (1997). The Study of Secondary School Management Culture: Chaiyaphoom Province Case study. The Thesis of Philosophiae Doctoral of Education, Department of Education Management, Graduate School, Srinakharinwirote University. Tasanee Phoethisorn. (2007). Total Quality Management. [Online] Available: http://www.bcc.rmutp.ac.th/teacher/ tasanee. Thamrong Bausri. (1999). Theory of Designing and Development Curriculum. 2th. Bangkok: Thanashat Publishing. UNESCO. (1985). Education Management at Local Level. Paris: Division of Education Planning. Vertex. (2005). Vertex Customer Management. [Online] Available: http:// www.quality-foundation.co.uk. Wattana Wongkiatirat et.al. (2003). Strategic Planning. Modification: 2nd Publication.

Bangkok: Inno Graphic Co., Ltd.


63 Strategic Plan for Developing Quality Culture at Eastern School of The Office of Vocational Education Commission, Thailand

Bab. Spesifikasi Perencanaan, Masalah formulasi, pelaporan hasil (BT, 1973:341-364) Penyusunaan rendik komprehensif memerlukan perumusan masalah yang jelas. Hal ini terkait dengan perbedaaan pendapat para perencana, sehingga menimbulkan ketidak pastian, mendesaknya persoalan social seperti kemiskinan, kekacauan/ krisis social, kehidupan yang stagnan, disamping perbedaan paham mengenai peran pendidikan dan arah perubahan social. Para perencana butuh rumusan singkat, padat, tepat mengenai tugas pendidikan, masalah dan cara pemecahannya melalui perencanaan pendidikan. Masyarakat sekarang dengan budaya urbannya, merupakan hasil interaksi secara dinamik dan berkelanjutan antara fisik kota, baik yang sifatnya natural maupun man-made, pengaruh system social, budaya, ekonomi, dan manusianya, khususnya manakala terjadi pertentangan, langsung atau tidak langsung, karena bidang kehidupan dan kepentingan yang berbeda dan kemudian melahirkan pertentangan budaya. Pertentangan tersebut dapat berlangsung antar komunitas, masyarakat lokal, regional, ataupun global. Dalam pada itu, teknologi baru akan sangat membantu proses perencanaan. Prosedur pembuatan definisi masalah, analisis ke bagian-bagian dan sistesis menjadi katagori solusi tentative, evaluasi solusi alternative berdasar sudut pandang estetika, ekonomi, skala, dan fungsi, semuanya merupakan standar operasional pembuatan perencanaan secara procedural (proses yang diulangulang setiap pembuatan perencanaan). Solusi alternative, harus terus menerus dievaluasi, dimodifikasi, dan disesuaikan dengan definisi permasalahan. Hal ini penting digarisbawahi sebab teknologi yang distandarisasi, cenderung mengurangi kapasitas individu pembuat keputusan, terlebih manakala lingkungan bersifat tiruan (artificial). Sisi lainnya malah kegiatan kehidupan pun bersifat monoton dan rutin. Dalam kaitan inilah untuk tidak dilupakan bahwa pada hakikatnya teknologi itu berupa alat bantu perencana pendidikan membuat lingkungan sesuai yang direncanakan. Dengan kesadaran akan perlunya interaksi individu dengan lingkunganlah, maka perencanaan pendidikaan akan efisien dan efektif. Pendidikan dalam kaitan ini bertugas untuk menyadarkan anak didik sadar lingkungan. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut. a. penguatan partisipasi masyarakat yang akan dilayani pendidikan sehingga ikut bertanggung jawab untuk menyumbangkan ide-ide kreatifnya bagi perencanaan; b. Diprioritaskan orientasi nilai dalam perencanaan, sebab pada ujungnya antara individu murid dengan lingkungan saling terkait. c. Libatkan sumber daya masyarakat, sebab memberikan manfaat ganda. Logikanya bila pendidikan menghendaki siswa memahami lingkungan, maka semakin mereka terlibat akan semakin faham tentang pentingnya lingkungan. Karena itu sumber daya seni, rekreasi, udaya, dan sumber daya ekonomi harus betul-betul terpadu. A. Jenis-jenis Perencanaan Pendidikan Pada hakikatnya perencanaan pendidikan merupakan persiapan penyusunan tata ruang untuk penyusunan hal-hal yang bersifat phisik, disamping merupakan persiapan menyusun waktu tindakan, blue print pengembangan masa depan. Jenis-jenis perencaan pendidikan dapat dikemukakan sebagai berikut. 1. Perencanaan Pendidikan Adaptif. Ini adalah kegiatan perencanaan yang menampung usulan atau tanggapan dari pihak luar. Karena itu berpeluang untuk mudah dan cepat dipahami pihak luar. Keseimbangan organisasipun akan terjaga karenannya.

2. Perencanaan Pendidikan Kontingensi, adalah perencanaan untuk menghindari pengaruh suatu kondisi dengan biaya atau kerugian minimal. 3. Perencanaan Pendidikan Kompulsif, yakni memerinci sesuatu yang seharusnya dan yang diharapkan. Instrumennya carrot and stick, hadiah bila berhasil dan hukuman bila gagal. 4. Perencanaan Pendidikan Manipulatif, yakni pemanfaatan instrument kesepakatan, pertukaran, dan pengaruh untuk mendapatkan suatu keuntungan. 5. Perencanaan Pendidikan Indikatif, yakni perencanaan deengan penyebaran isyaratisyarat bagi terbentuknya tindakan yang tepat. 6. Perencanaan Pendidikan Bertahap, yakni perencanaan yang langsung mengoreksi kesalahan saat pelaksanaan. Dengan demikian terjadi adaptabilitas yang secara kumulatif memperlihatkan pendekatan yang komprehansif untuk nperencanaan yang komprehensif. 7. Perencanaan Pendidikan Otonomi, yakni perencanaan untuk diri sendiri tanpa jadi bagian dari yang lain. 8. Perencanaan Pendidikan Perbaikan (Amelioratif), yakni perencanaan dengan tujuan menjaga status quo atau mengembalikan kepada suasana semula. 9. Perencanaan Pendidikan Normatif, yakni perencanaan bersifat jangka panjang, 25 atau 40 tahun. Dengan karakteristik sifat umum-nya, model ini berfungsi sebagai pedoman bagi kegiatan perencanaan waktu yang lebih pendek. Bersifat menyelruh fokusnya juga menyeluruh. 10. Perencanaan Pendidikan Fungsional, yakni bersifat sektoral, aspek tertentu, segmentatif, namun tetap berfungsi sebagai pelengkap dari upaya perencanaan total. 11. Pemrograman Pendidikan, yakni penentuan pencapaian target, memenuhi kebutuhan program dan sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. B. Pelaporan Hasil Penyajian laporan berupa peyajian statistic, pemetaan data penggunaan tapak, dengan spesifikasinya beranjak dari klasifikasi umum berupa wilayah pemukiman (padat, sedang, jarang), wilayah perdagangan, jenis transportasi lokal/regional/ nasional, listrik, telepon, dan air, system komunikasi, dan kelompok industri. Untuk itu digunakan bermacam ragam peta yang menunjukkan beragam macam sarana dan prasarana fisik, infrastruktur dan suprastruktur. 1. Kontribusi Perencanaan Penggunaan Tanah. Perencanaan ini memakai pedoman standar perkembangan wilayah perkotaan. Disitu ada karakteristik dasar lingkungan perkotaan, direktori tentang pola pergerakan lalu lintas, sistem aktivitas beberapa bagian kota, katagorisasi wilayah seperti pemjkiman, bisnis, hiburan, dsb.nya sebagai hasil foto udara, peta, topografi, atau sketsa-sketsa. 2. Kemungkinan skema klasifikasi. Skema klasifikasi tanah di perkotaan sangat penting, sebab selain memahami status tanah saat ini, juga memahami gabungan factor-faktor penggunaan tanah. Pikiran dalam penggunaan tanah biasanya bersifat ambigu, terlebih rebutan antara wilayah industry dengan wilayah perdagangan, kantor pusat bisnis dengan kantor cabangcabangnya, system pergerakan organisasi perdagangan dan organisasi social, dan akrena itu harus dikaji hati-hati supaya mendapatkan tempat tepat bagi tempat pendidikan. 3. Pendidikan, Aktivitas, dan Format Perencanaan. Berbagai pertimbangan format kependudukan, harus memasukkan ke dalamnya pertimbangan tentang budaya dn aktivitas manusia yang akan digunakan bagi mendisain tata ruang. Perencana harus mempadukan bahan dasar lingkungan fisik dan kebutuhan dan sistem aktivitas manusia.

Memformat system merupakan metode untuk menunjukkan interaksi antar aktivitas, keterlibatan orang, dan bentuk lingkungan. Dalam hal ini diperlukan dua klasifikasi system yakni system blok dan system kode. Sistem Blok, menggambarkan 3 komponen utama, yakni aktivitas, partisipan, dan lingkungan. Adapun prinsip-prinsipnya, adalah sebagai berikut. 1. Cukup luas utk jenis-jenis aktivitas, tipe dan jumlah partisipan, dan faktor lingkungan; 2. Didefinisikan jelas dan tegas batas2nya; dan 3. Tiap Block dan datanya mudah dianalisa. Ketiga item ini menjawab masalah : apa dan bagaimana karakter aktivitas, siapa partisipannya, dan apa bentuk lingkungan yang tepat saat aktivitas dilakukan. Empat hal harus dpertimbangkan, yakni 1. Adanya ruang ekstra utk interaksi; 2. Perlu diketahui bahwa sifat interaksi itu ada yang bebas, dan ada yang berkesinambungan, 3. Skalanya harus dibuat dari yang lambat sampai pada yang sangat cepat; 4. Lokasi aktivitas tertentu dengan persyaratan tertentu bagi effektifitas kinerjanya. Katagorisasi pastisipan aktivitas social. 1. Individu (umur, kemampuan fisik, kemampuan emosional, kemampuan mental, pengalaman, minat, dan bakat) 2. Masyarakat (bahasa, karakteristik etnik, tingkat pendidikan) 3. Ekonomi (tingkat pendapatan, pola kepemilikan) 4. Pekerjaan (terlatih, tdk terlatih, semi terlatih, pegawai kasar, pegawai kantoran, profesional, semi profesional). 5. Kepentingan Pengembangan (pencapaian masa lalu, kejadian saat ini, tujuan atau sasaran yang dikehendaki).

Bab . Implementasi Perencanaan ( Program persiapan, Pengesahan Program, mengorganisasi bagian opersional (BT, 1973: 365-384). Mengimplementasikan perencanaan perlu memahami secara urut mengenai Persiapan Program, Legalitas Program, dan Pengorganisasian Unit2 Operasional. A. Persiapan Program. Implementasi atau Pelaksanaan program merupakan fase paling sukar dalam proses perencanaan pendidikan. Penyebabnya adalah : (a) distribusi data belum terpecahkan dengan tepat; (b) kebijakan pemerintah tdk pernah distudi atau diformulasi secara sistematik; (c)dukungan kelompok akademik, penentu kebijakan politik, dan praktisi pendidikan lebih bersifat esoteric (elitis, dipahami orang-orang tertentu saja) daripada upaya kerjasama bagi effektivitas program aksi karena kurang sosialisasi. Norm yang perlu mendaat perhatian Perencanaan pendidikan harus dibuat integral dari proses manajemen keseluruhan dari pembuatan dan implementasi keputusan, bila menginginkan hasil yang positif, karena rendik biasanya dibuat dalam kondisi politik tertentu. Di Indonesia hal ini ditandai oleh mekanisme pembuatan undang-undang, peraturan pemerintah, sampai kepada aturan menteri, dirjen dan kakanwil, ada dalam suatu koordinasi yang solid. Namun demikian perlu dibedakan rinsi antara perencanaan kebijakan dan perencanaan program. Perencanaan Kebijakan Pendidikan terkait dengan pengembangan outline umum secara luas untu kegiatan pekerja terpilih. Salah satu

contohnya adalah apakah ada atau tidak ada implementasi perencanaan pendidikan yang menyeluruh, kalau ada, untuk tujuan apa?. Dalam pada itu Perencanaan Program Pendidikan, terkait dengan persiapan perencanaan spesifik, dengan prosedur untuk diterapkan oleh karyawan administrasi (ketata-usahaan)dalam kerangka kerja sistem pendidikan yang ada. Tiga syarat karyawan (the agency) dalam hal ini, adalah : Pertama, karyawan (the agency) harus memperoleh dukungan pembuat kebijakan; Kedua, karyawan (the agency) harus membolehkan pemimpinan pembuat kebijakan untuk berpartisipasi dalam mengembangkan perencanaan pendidikan; dan Ketiga, karyawan dan pembuat kebijakan harus mengawasi pelaksanaan keputusan yang penting (crusial). Pertimbangan dalam Persiapan Program Aksi 1. Mobilitas social penduduk memiliki relevansi dengan proses pendidikan. Tekanan kegiatan penduduk pada pemerintah dalam penggunaan sumber daya, dan sikap kebanyakan penduduk yang respek terhadap sumber daya, jelas mempengaruhi program aksi; 2. Ekspressi kebutuhan penduduk merupakan dilemma para pendidik. Artikulasi kebutuhan pendidikan untuk mencapai tujuan dan sasaran merupakan bagian sukses kecil dalam perencanaan pendidikan bagi para penduduk; 3. Beberapa pendapat menyatakan bahwa solusi masalah pendidikan hanya dibuat oleh pusatpusat kekuasaan yang memiliki sedikit pengetahuan tentang politik pendididkan; 4. Penentuan prioritas pendidikan tidak selalu didasarkan pada analisis yang sistimatik. Dalam hal ini penguatan frekuensi program, hanya terjadi manakala tekanan menyeret pembuat keputusan pendidikan; 5. Peran lembaga pendidikan dalam implementasi program aksi telah dianalisis secara kritis; Pertanyaannya adalah bagaimana alokasi sumber, strategi dan taktik pendidikan, Siapa yang mendapat dan tidak mendapat keuntungan? Bagaimana kebutuhan pendidikan diekspressikan oleh minoritas pemerintah? Sejauhmana effektivitas pembuat keputusan dalam merekrut orang terbaik? Dst.nya. 6. Upaya perluasan pendidikan pada masyarakat pinggiran untuk program aksi, menghadapi kerumitan dalam implementasi. Proses artikulasi, formulasi, dan ekspressi kebutuhan telah dapat membebaskan keterlibatan politik masyarakat pinggiran. 7. Akibat dan hasil program aksi umumnya merupakan hasil simulasi dari luar lembaga pendidikan.Apa yang terjadi adalah bahwa sumber-sumber sekolah lokal mendapat tantangan dan tekanan yang lebih besar dan lebih meluas. Perlu diingat bahwa program aksi kebanyakan dibatasi oleh politik pendidikan. Dalam kaitan ini perencana pendidikan harus lebih banyak belajar tentang proses pembuatan keputusan dan ilmu politik. Kesulitan yang Mungkin Terjadi Program aksi pendidikan komprehensif seharusnya terkait ke berbagai hal tidak hanya kepada satu atau dua aspek saja, sebab dengan demikian program akan jadi terisolasi. Sebagai contoh pembangunan gedung sekolah, tidak hanya terkait kepada jenis bahan dan bentuk bangunan, pemeliharaan dan fasilitas pemeliharaan, sambil tidak peduli terhadap referensi atau pelayanan masyarakat atau perencanaan pendidikan yang baik untuk belajar. Sebuah program pendidikan harus mempertimbangkan produktifitas dilihat dari sisi ekonomi. Demikian juga para guru atau dosen harus merupakan investasi yang menguntungkan baik untuk

pemerintah maupun kalangan swasta. Harus ada kserasian antara public sector program dg private sector activities yg menguntungkn keduanya. Kelayakan impelementasi harus menjadi pertimbangan yang sungguh-sungguh, sebab tanpa studi kelaakan yang serius, yang terjadi alau tidak jatuh pada radikalisme program, alternative lainnya adalah utopia. Sungguh suatu kesulitan yang tidak tampak secara material namun dipastikan akan terjadi. B. Legalitas Perencanaan Perencanaan pendidikan komprehensif harus memiliki legalitas hokum yang formal. Hal ini terkait dengan realitas bahwa perencanaan yang komprehensif akan mempengaruhi berbagai lapisan kepentingan masyarakat. Rendik merupakan dokumen negara yang dijadikan sandaran oleh sekolah-sekolah lokal pemerintah. Pada saat yang sama juga akan mengarahkan proses pembuatan keputusan, penyediaan alat-alat, dan program yang dibutuhkan, untuk kemudian jad pedoman masyarakat dalam pengembangan pendidikan 20 atau 30 tahun ke depan. B.1. Dasar Legislasi Rendik. Langkah pertamanya berupa studi tentang kemampuan Negara membuat undang-undang. Negara punya kewenangan membuat aturan yang bijaksana. Tiga kekuasaan Negara yang dibutuhkan dalam hal ini. 1. Kekuasaan Menarik Pajak. Negara sesungguhnya memiliki kekuasaan untuk menarik pajak bagi keperluaan pendidikan. Kekuasaan dapat dlimpahkan kepada pemerintah daerah. Sebagai produk hokum, maka pajak harus seragam, namun tetap adil melalui klasifikasi sasaran sesuai kelas social ekonomi yang berbeda. Untuk keadilan, dan tidak ada kesewenang-wenangan pemerintah, maka pengadilan harus merumuskan teori pendidikan berdasarkan kebijakan publik, sehingga tidak digunakan untuk menarik keuntungan individual, tetapi untuk memenuhi kewajiban pemerintah memelihara masyarakat madani. Pajak pemerinah untuk pendidikan haus digunakan seefisien dan seefektif mungkin, dan karenanya perlu perencanaan pendidikan. 2. Penggunaan Hak-hak Kekuasaan Pemerintah Setiap tindakan bagi kepentingan umum harus memiliki kekuatan hokum. Secara konstitusi, tanah warga negara dapat digunakan pemerintah manakala untuk kepentingan umum, seperti sekolah, area brmain, lapangan olahraga/senam. Namun demikian, pemerintah tetapp harus mengganti kompensasi dengan harga layak, kalau tidak akan dianggapsebagai melanggar konstitusi. 3. Kekuatan Keamanan, yakni pada hakikatnya setiap hukum produk pemetrintah bertujuan menjaga kesejahteraan setiap warganegara, baik dengan cara memberikan kebebasan memiliki ataupun pembatasan hak individu untuk kepentingan kelompok masyarakat dari segi kesehatan, keamanan, kesejahteraan, dan moral masyarakat. B.2. Konstitusi tdk permanen, adalah evaluasi terhadap prosedur rendik komprehensif yang sudah disepakati, namun masih berada pada pemerintah lokal, masih ada kesempatan perbaikan supaya menghasilkan keuntungan besar, berdasarkan penelaahan terhadap prinsip-prinsip dasar pendidikan. Namun demikian, penyusunannya tidak terjadi secara kebetulan. Rendik harus mengembang ke seluruh fungsi. Pendidik tidak boleh merencakan sekolah, murid, guru, dan sumber2 tanpa pertimbangan bagaimana hubungan satu dengan yang

lainnya dan bagaimana hal-hal tsb berhubungan dg aktivitas seperti pajak, komunikasi, asuransi, dan fsilitas sosial. C. Pengorganisasian Unit Operasional Walaupun terdapat banyak masalah dalam implementasi rendik, sehingga dapat dikatakan tidak ada jaminan bagi efektivitas pelaksanaannya, namun beberapa tehnik dalam menjalankan dan mengorganisasikan rencana operasional telah dibuat dengan baik. Tehnik ini difokuskan pada unit-unit operasional dan implementasi rencananya. Pembahasan ditujukan pada 1. Cara mengorganisasi unit-unit operasional, 2. kerjasama dalam menghasilkan rendik, 3. koordinasi implementasi rendik, dan 4. kontrol rendik. 1. Pengorganisasiaan Unit-Unit Operasional Tiga bentuk penampilan unit operasional. Pertama, kepala eksekutif yang kuat, pada umumnya dapat menerima bila harus memiliki lembaga (agency) atau unit perencanaan pada departemennya. Kedua, lembaga independen namun eksekutifnya lemah. Kemudian proposal perencanaan mengandung berbagai kelemahan, maka organisasi sering tidak jadi factor utama dalam menjamin effektivitas lembaga. Ketiga, gabungan keduanya yakni eksekutif kuat namun lembaga perencanaanya bersifat mandiri, maka yang terjadi adalah pertenangan antara proses politik dan proses perencanaan. Perencanaan pendidikan yang komprehensif, merupakan system politik sementara rendik-nya sendiri merupakan kekuatan politik. Karena itu manakala terjadi gabungan dan serasi maka akan lahir kekuatan perencanaan dan kekuatan politk yang dengan demikian dimungkinkan rencana terimplementasikan dan pendidikanpun mencapai keberhasilan yang signifikan. Untuk itu diperlukan strategi meminimalisasi konflik, supaya rendik betul-betul dipandu nilai, criteria, dan informasi yang akurat, tanpa terjebak oleh kepentingan-kepentingan sempit organisasi. Keterampilan yng diperlukan untuk mengorganisasikan unit-unit operasonal adalah 1. Penguasaan metodologis, sehingga mampu menjangkau seluruh lapisan kepentingan dengan kriteria objektif rasional, 2.melakukan kompromi-kompromi sehingga isu-isu yang dilahirkan betul-betul untuk kepentingan pendidikan, 3.strateginya memiliki validitas tinggi, sehingga peluang suksesnya terbuka. Dalam pada itu untuk kesepakatan strategi yang digunakan diperlukan 1. Isi rencana, 2.metode yang dihasilkan, atau cara mengorganisasi unit-unit opersional, dan 4.cara mengkomunikasikan rencana. Bab Monitoring pelaksanaan perencanaan, mengevaluasi perencanaan, dan menyesuaikan mengubah dan redisain perencanaan Latar belakang kegiatan monitoring Monitoring adalah kontrol pada seluruh proses pelaksanaan. Monitoring dimaksudkan supaya output sesuai dengan prediksi perencanaan, atau signifikan dengan yang direncanakan. Dalam monitoring, terdapat dua pilihan, yaitu menggunakan kegiatan monitoring untuk mengembalikan system pada jalurnya, atau membiarkan penyimpangan untuk kemudian diperbaiki dari awal kembali. Pilihan manapun semuanya akan terkait dengan penjadwalan. Penjadwalan berarti memberikan gambaran realistik tentang waktu, uang, dan SDM yang tersedia. Semuanya harus dihitung dan semuanya harus dipersiapkan.

Dalam melaksanakan suatu proyek, langkah pertama adalah menseleksi berbagai alternatif dari berbagai strategi solusi. Kegiatannya dapat diklasifikasikan pada dua katagori. Pertama katagori rencana kerja/operasi (renop), dan kedua, katagori penganggaran. Dalam renop dideskripsikan tentang (1) siapa :organ yang ada pada struktur atau organisasi baru; bgaimana bentuk organ tersebut, bagaimana cara membentuknya; (2) sumber : SDM, sumber material, bangunan, fasilitas, perlengkapan, dst.nya; berapa jumlahnya, bagaimana kualitasnya, bagaimana menetapkan harganya, berapa plafonnya; (3) kapan : dalam urutan kerja yang bagaimana dilaksanakan, berapa lama waktunya, kapan tiap kegiatan dim ulai, bagaimana tahapannya sehingga tetap efisien dan efektif; (4)dimana dikerjakannya : dimana tempatnya, bagaimana mengkoordinasikannya bila tempat-tempat itu tersebar, bagaimana peluang pengawasannya? Dalam penganggaran perlu dideskripsikan jumlah sumber, jenis pelayanan sumber, dan jenis materialnya. Dalam Renop terdapat model-model seperti Riset Operasional, Operational Gaming, Diangram Gannt, Diagram Milestone, Teknik Delphi, PERT(Program Ealuaton and Review Technique), CPM (Critical Path Method). Dalam Penganggaran terdapat model-model Program Budget, PPBS, Performance Budgeting ( BT, 357-441; Kaufman:130-137; Diknas: 38-52). Riset Operasional (operations research) merupakan upaya mencari solusi optimal terhadap masalah yang saling berhubungan, untuk mengetahui keeffektifan kriteria evaluasi, disamping menyimpulkan kemungkinan-kemungkinan dalam bentuk model matematik. Dari bentuk ini lahir kriteria maksimal-minimal effektivitas evaluasi. Dapat dikatakan bahwa riset operasional ini memiliki kegunaan yang signifikan, karena tidak ada kegunaan yang langsung untuk impelementasi pendidikan sebelum ditentukan tujuan, sasaran, dan persyaratan kelengkapan pendidikan, yang kesemuanya itu dapat didefinisikan melalui riset operasional. Operational Gaming Model ini merupakan varian dari simulasi, dengan cara memerankan manusia dalam kontek(context) dan situasi tertentu. Contohnya saat menghadapi pertemuan dengan Dewan Sekolah untuk mencari beberapa metode penambahan biaya. Dalam diskusi sebagian peserta difungsikan (role-play) sebagai orang yang memainkan peran dan berbagai karakternya sebagai Dewan Sekolah. Diprediksikan pada kejadian yang sebenarnya. Diagram Gannt Cara ini disebut juga diagram Balok (Bar Chart) merupakan gambaran aktivitas bersegi banyak (multiple activities) dengan memerinci (a) daftar kegiatan, (b)waktu mulai kegiatan, dan (c) lamanya kegiatan. Henry Gannt sebagai penemu diagram ini pada th.1900, membagi renop pada dua sumbu yakni sumbu ordinat untuk memerinci tugas, dan sumbu absis yang menunjukkan waktu memulai kerja dan lamanya waktu kerja. Dari sisi ini terdapat kemungkinan kegiatan yang waktunya bersifat serial dan kegiatan yang waktunya tumpang tindih. Diantara kelemahan diagram Gannt ini adalah (1) tidak ada gambaran hubungan antar kegiatan, (2) kegiatan kritis yakni kegiatan yang mempengaruhi lancar tidaknya kegiatan lain, tidak dapat diidentifikasi, (3) Terpaksa diagram harus diganti seluruhnya, manakala ada updating informasi. Walau demikian, pengaruh perubahan pada kegiatan proyek sukar diidentifikasi. Diagram Milestone Disebut juga sebagai diagram struktur. Rincian kerja menggambarkan unsur fungsional dan hubungannya. Struktur diurai pada struktur yang lebih kecil dan urutan hirarkisnya, sepanjang elemen struktur tersebut dapat dikelola (manageable).

Teknik Delphi, Delphi Technique, adalah peramalan masa depan tanpa di intervensi lebih dahulu peruntukan perencanaan. Dilakukan oleh kelompok ahli melalui tujuh langkah sebagai berikut. (a) Presentasi latar belakang permasalahan dan informasi lain terkait permasalahan, (b) Partisipan membuat atau memilih ramalan melalui kuesioner yang telah disiapkan panitya, (c) Pengumpulan dan pentabulasian hasil kuesioner. Hasilnya diinformasikan pada partisipan, (d) Kuesioner dibagikan lagi pada partisipan, (e) Kuesioner yang telah diisi ditabulasikan lagi disertai argument tentang jawaban-jawaban tersebut, (f) Kuesioner dibagi untuk ketiga kalinya, (g) Hasil kuesioner ditabulasikan lagi dan diolah secara statistic. Proses ini memberi peluang luas bagi kelompok ahli untuk merubah pendapat tanpa merasa segan kepada kolega partisipan lain. PERT (Program Evaluation and Review Technique). PERT berupa diagram kegiatan, yang bersifat (a) sekuensial, (b) mengurai rinci kegiatan secara sistimatik (apa mendahului apa), apa yang harus diselesaikan sebelum yang lain dimulai, (c) rincian apa hambatan kepada apa. PERT dapat digunakan pada segala kegiatan, mulai formulasi rencana sampai pada pelaksanaan suatu rencana. Simbol-simbol dalam gambar PERT berupa lingkaran dan panah. Lingkaran merepresentasikan peristiwa sedangkan panah merepresentasikan kegiatan. Selain peristiwa pertama dan terakhir, maka setiap peristiwa berfungsi ganda yakni sebagai pendahulu (predecessor) dan peristiwa yang mengikuti (successor). Dua hal yang harus dhindari yaitu keadaan menggantung ( a dangle) dan keadaan melingkar (a loop). A Dangle adalah peristiwa yang tidak memiliki successor. Sedangkan a loop adalah bila terjadi kegiatan urutan berikutnya (successor) menjadi peristiwa pendahulu (predecessor), sesuatu yang mustahil mestinya. 3 1 4 2 5 Gmbar ttg dangle no.5 2 3 keadaan melingkar 6 1

Cara Membuat Gambar PERT Pertama, memikirkan dan menuliskan semua peristiwa yang ada dalam suatu pelaksanaan proyek perencanaan. Peristiwa kecil boleh digabung-gaungkan sedangkan peristiwa besar bias saja diuraikan jadi beberaoa peristiwa. Kedua, setiap peristiwa beri nomor berurut sesuai urutan kejadian peristiwa. Ketiga, daftar peristiwa dibuat serial dengan memulai dari peristiwa terakhir. Keempat, urutkan nomor satu peristwa dengan nomor peristiwa lain yang terdekat. Contoh (bagi mahasiswa sudah berkeluarga) No Peristiwa 5 Peristiwa Mengikut perkuliahan Nomor peristiwa pendahulu 4

4 3 2 1

Registrasi masuk S2 Pemenuhan persyaratan Persiapan dana kuliah Kesepkatan keluarga

3,2 2, 1

Perhitungan waktu dibuat antar dua peristiwa yang bersambungan. Dari peristiwa satu ke peristiwa dua umpamanya dua minggu. Perkiraan waktu ini ada tiga macam, yakni tercepat, terlama, dan longgar. Dibarengi dengan pembuatan jadwal penyelesaian, keduanya merupakan manfaat dari PERT yang sangat penting bagi kebijakan manajemen. Waktu Perkiraan ini diperoleh dengan membagi tiga bentuk waktu perkiraan (optimis/sesuai rencana/KO, pessimis/perkiraan bila terdapat kekeliruan/KP, dan normal/perkiraan sangat mungkin selesai/KM) kemudian dibagi enam Rumusnya (KO+4KM+KP):6=WK. Pengetahuan waktu longgar untuk manajemen penting serta bermanfaat bagi (1) penundaan pinjaman uang ke bank, (2) mengurangi waktu tunggu manusia atau mesin, (3) menggunakan sumber-sumber berlebih pada kegiatan yang memerlukan. CPM (Critical Path Method). Manakala waktu longgar nol, maka manajer tidak punya waktu untuk menunda kegiatan. Penundaan berarti terganggu pelaksanaan proyek. Garis tanpa waktu longgar tersebut disebut alur kritis (Critical Path). Jalur kerja pada alur kritis harus mendapat perhatian penuh manajemen. Monitoring, supervisi harus betul-betul ketat pada alur ini. PPBS atau SP4 (Kaufman:132) PPBS adalah kerangka kerja dalam perencanaan melalui pengorganisaian informasi, analisis sistimatika, melalui pendekatan penganggaran. PPBS memperlihatkan untung rugi setiap alternative yang dipilih, dilihat dari tujuan yang ingin dicapai, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Biaya, keuntungan, dan kelayakan harus dideskripsikan secara lengkap, supaya pemimpin kebijakan tahu betul program yang paling menguntungkan. Dalam PPBS, perencanaan jangka panjang merupakan sesatu yang rutin; revisi rencana dan program dapat dilakukan setiap saat; klasifikasi kegiatan berdasarkan program dan hasilnya, bukan struktru jabatan-jabatan, menggalakkan koordinasi, ntuk keterpaduan perencanaan antar unit/departemen, kemajuan diukur berdasarkan tahapan kerja, penilaian terhadap program berdasarkan tolok ukur kerecapaian tujuan yang holistic. Anggapan yang penggunaan konsep PPBS adalah sumber yang diperlukan terbatas, serta orientasi kuat terhadap efisiensi dan efektivitas program. Ciri lainnya adalah sebagai berikut. 1. Penetapan tujuan secara nasional, hal in berarti bersifat top down, 2. Menghubungkan tujuan umum dengan tujuan khusus, dan 3. tujuan khusus dengan sumber-sumber yang diperlukan, disamping 4. menghubungan masukan instrumental dengan uang yanag diperlukan. Kebaikan dan Kelemahan PPBS. Menurut Tim Diknas (82/83:44) penggunaan PPBS atau SP4 memberikan keuntungan :

1. Taksonomik,yaitu penggolongan kegiatan berdasarkan tujuan, sehingga kegiatan strategic tidak ada yang dilupakan. 2. Analitik, yaitu perbandingan antara keuntungan dan kerugian alternatif kegiatan. 3. Proyektif, yaitu pemberian arah pada perencanaan jangka panjang. 4. Evaluatif, yaitu memberikan kemudahan untuk menilai keberhasilan program dan efektifitas penggunaan sumber-sumber. Adapun kelemahan kelemahan SP4 adalah sebagai berikut: 1. Kesukaran mendefinisikan tujuan dan menciptakan program untuk mencapai tujuan, maka seringkali perencana keliru melaksakannya. Kekeliruan itu akan mengakibatkan pemborosan sumber-sumber yang telah dipergunakan. 2. Biasanya alternatif yang dihasilkan tidak banyak berbeda satu sama lain. Penciptaan alternatif kadang hanya merupakan pemborosan waktu semata-mata. 3. SP4 cenderung hanya memberikan tekanan pada sasaran yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur berdasarkan analisis untung rugi. Oleh karena itu, seringkali mengabaikan tujuan kualitatif yang sukar diukur seperti perkembangan afektif dan emosional. 4. System informasi yang mendukung dilaksanakannya SP4 harus lengkap. Kekurangan data dalam perencanaan dapat mengakibatkan kesalahan penentuan prioritas, alokasi biaya, dan perkiraan waktu penyelesaian program. 5. Suatu program tidak selalu berdiri sendiri (mutually exclusive). Karena itu satu program untuk satu tujuan akan merupakan pemborosan sumber-sumber yang sudah langka. Merencanakan Pekerjaan Persyaratan untuk keberhasilan rendik ini adalah, pertama, komitmen untuk membuat perencanaan yang dibuat oleh seluruh partner pendidikan, dan kedua, komitmen menyiapkan alat perencanaan khususnya terkait dengan mendeskripsikan memperkirakan kebutuhan dan analisis sistem (need assessment and system analysis), serta mencari orang yang tepat mengerjakannya. Tanpa SDM yang mumpuni, maka instrumen tersebut akan muspra. Evaluasi dan Revisi Setelah selesai pembuatan perencanaan, langkah seterusnya kegiatan evaluasi dan revisi, guna mencari setepat-tepatnya relevansi dan respon terhadaap situasi dan kondisi lapangan(K). Dengan dmikian evaluasi merupakan kegiatan akhir dari siklus proses perencanaan (BT). Evaluasi berkaitan dengan persoalan pekerjaan yang belum terpenuhi sedangkan revisi berkaitan dengan solusi apa yang perlu dilakukan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Evalusi ada dua jenis : Evaluasi perkembangan (formative Evaluation) dan evaluasi sumatif (summative Evaluation). Evaluasi perkembangan terkait dengan penentuan tingkat pemanfaatan proses dan prosedur untuk menghasilkan keluaran, sedangkan evaluasi summative terkait dengan keluasan keluaran yang dihasilkan. Dengan evaluasi sumatif, diketahui 1. Sejauhmana capaian memenuhi persyaratan yang didasarkan pada keadaan dunia real, tidak terhenti pada besarnya peluang. 2. Jaminan kelangsungan system dan kriteria evaluasi yang terukur. Evaluasi Lingkungan Pendidikan Lingkungan pendidikan merupakan tempat pelajar menggali, mendalami, menemukan, dan merubah dirinya. Tempat pelajar memahami kebutuhan dan mengembangkan harapan, cita-cita, mengekspressikan dan mencoba, mengkombinasikan informasi, dan menciptakan pengalaman

baru. Skemanya dapat dibuat, umpamanya siswa, rangsangan, pesan, proses pembelajaran, pengaruh, tanggung jawa, dan umpan balik bagi pengembangan atau perbaikan. Semua bagian tersebut dapat dievaluasi. Menjadi ukuran umum dalam mengevaluasi lingkungan ini adalah factor biaya, yang karena krusialnya kadang tanpa memperhatikan nilai yang disumbangkannya bagi perubahan siswa. Dalam kaitan inilah perlu diketahui evaluasi terkait utilitas. Evaluasi Utilitas Utilitas bersifat subjekttif, kecendrungannya memakai preferensi pribadi. Hal ini memperlambat proses investigasi. Antitesisnya memakai pendekatan matematik. Hal ini dimungkinkan karena ada aksioma urutan. Dari sini muncul evaluasi yang berbasiskan pemakaian kuantifikasi. Ada tiga sifat dari konsep utilitas. (1) preferensi pribadi, (2) mencari bandingan dengan alternative-alternatif, dan (3) alokasi sumber daya berdasarkan utilitasnya. Konsep utilitas ini dapat mengatasi kebingungan pembuatan perencanaan dan prosedur, terkait dengan evaluasi suatu program kegiatan. Revisi, merupakan dorongan perubahan melalaui kinerja data yang menunjukkan tempat modifikasi harus dibuat untuk pemenenuhan kebutuhan dan persyaratan-persyaratannya. Hakikat perubahan ditandai oleh adanya revisi. Rrevisi bewrarti modifikasi logika dan perencanaan atau menempatkan kembali fungsi dan tugas kepada posisi yang dirancangkan. Revisi lebih mudah dikerjakan berbarengan dengan perencanaan dibanding berbarengaan dengan pelaksanaan.

Perencanaan Pendidikan Tinggi Ada tiga faktor terjadinya perencanaan pendidikan tinggi. Pertama, pendidikan tinggi mewarisi apa yang terjadi pada pendidikan sebelumnya; kedua, pendidikan tinggi bersifat sukarela, maksudnya warganegara atau penduduk di berbagai Negara diberi kebebasan untuk memasuki atau tdak memasuki perguruan tinggi, sesuatu yang sangat berbeda manakala dibandingkan dengan pendidikan dasar dan menengah; ketiga, pendidikan tinggi lebih banyak terkait dengan pasaran kerja dibanding level pendidikan lainnya, sebab keluaran perguruan tinggi dilihat dari sisi usia dan tanggung jawab sosial, adalah orang-orang yang seharusnya memiliki penghasilan untuk membiayai kehidupannya. Dalam kaitan ini, maka perencana pendidikan tinggi harus dapat merencanakan pendidikan dalam batasan-batasan tersebut. A. Bentuk Lapangan Perencanaan pendidikan tinggi berkembang sesuai dengan perubahan yang terjadi pada fungsi pendidikan tinggi, disamping sebagai konsekuensi dari perluasan peran perencanaan. Usaha sistimatik pertama perubahan perencanaan pendidikan tinggi dibuat Uni Soviet dengan mengorganisasi staf universitas pada tahun 1920. Pada tahun 1930 mereka meramalkan kebutuhan tenaga kerja untuk lima tahun ke depannya. Perencanaan pendidikan tinggi dilakukan negara Barat pada bidang hukum tahun 1944 sebagai respon institusi pendidikan tinggi di AS terhadap kebutuhan pendaftar yang tiba-tiba melonjak. Perancis, Swedia, dan Inggeris merupakan para inovator dalam integrasi perencanaan pendidikan tinggi dengan perencanaan nasional. Di Inggeris, Laporan Robbins (1963), merupakan blueprint penggantian dari pendekatan SDM ke pendekatan social demand (Burgerss 1972). Dalam pada itu di negaranegara miskin Eropa perencanaan pendidikan tinggi dibuat berdasarkaan ramalan kebutuhan SDM. Hal ini sebagai respon dari kekurangan buruh yang sangat banyak dalam pengembangan negeri, disamping kepercayaan bahwa perencanaan merupakan prasyarat kemajuan ekonomi. Dalam pada itu usaha mngenalkan perencanaan pendidikan tinggi-pun diperkuat oleh agen-agen internasional. Sementara pendidikan tinggi meluas ke berbagai negara, bidang, sifat, dan lapangan penerapan perencanaan-pun menjadi semakin meluas. 1) Sifat Perencanaan. Disini terdapat jarak antara perencanaan kuantitatif (pendaftar, staf, pengeluaran) dengan perencanaan kualitatif (bidang, kurikulum, dan pengajaran). Pada hakikatnya kedua bidang tersebut kadangkala tumpang tindih. 2) Konteks Perencanaan. Perencanaan pendidikan tinggi memiliki keragaman tujuan ideal dengan perbedaan perencanaan yang bercirikan hal-hal berkenaan dengan ekonomi. Contoh, perencanaan ekonomi secara terpusat dengan perencanaan normatif, atau ekonomi pasar dengan perencanaan indikatif; keterlibatan pembiayaan negara bagian pada pendidikan tinggi; dan perbedaan perkembangaan ekonomi. 3) Tingkat kesatuan. Hal ini dapat pada perencanaan tingkat provinsi atau negara kesatuan, atau perencanaan kelembagaan, yang doipraktekkan oleh lembaga-lembaga pendidikan individual. 4) Phase Perencanaan. Jarak utamanya antara pengenalan perencanaan (ramalan, prediksi, dan permodelan) dengan implementasi (penguatan atau kebijakan untuk mencapai target). 5) Masa Perencanaan. Dapat berbentuk long term plan yakni 10 atau 15 tahun sebagai pembimbing umum tingkat nasional, short term plans dalam rangka bimbingan yang lebih rinci, atau medium term plans untuk perencanaan yang bersifat penyesuaian dan putaran.

A.

Metode Perencanaan Pendidikan Tinggi

Model-model perencanaan pendidikan tinggi telah berkembang menyentuh bidang-bidang lain. Namun pada garis besarnya dapat dikatagorisasikan pada dua model yakni outline model nasional dan model institusional. Keduanya digunakan untuk ekonomi pasar dan pendekatan mengikuti perencanaan pemerintah pusat. 1) Pendekatan Kebutuhan Masyarakaat (The Social Demand Approach) Model ini terkait dengan jumlah tuntutan individu pada pelayanan pendidikan tinggi sesuai biaya yang ditentukan. Faktanya, pendekatan ini memprediksi jumlah pendaftar yang akan datang dengan didasari perhitungan terhadap faktor yang menentukan kebutuhan masyarakat. Ada enam faktor yang menentukan yaitu (a) demographic, (b)pendidikan, (c)finansial (pendapatan keluarga dan biaya pendidikan tinggi), (d)budaya dan masyarakat (seperti realitas perbedaan), (e)pelayanan (keadaan dan kualitas layanan), dan (f)pilihan-pilihan individu (harapan pengembalian biaya). Pertimbangan faktro-faktor ini terkait pada pendaftar mahasiswa baru masa yang akan datang, dan para perencana dapat menyerap keadaan yang konservatif atau yang aktif. Kebijakan posisi aktif biasanya untuk mendorong kebutuhan masyarakat dan menciptakan peluang-peluang yang sama. Dengan demikian, perencanaan yang diasarkan pada kebutuhan masyarakat sering terkait dengan kebijakan pemasukan dan rendahnya biaya pengeluaran, bantuan siswa dan program yang menjadi orientasi kelompok minoritas. Tehnik memprediksi pendaftar memiliki beberapa prinsip, seperti metode ratio pendaftar, yang didasarkan pada perhitungan antara pendaftar ke perguruan dengan populasi usia mahasiswa, dan metode cohort (cohort survival method), yang dikaitkan dengan kemungkinan cohort pada tingkat keberhasilan. Keduanya sama-sama memerlukan data mahasiswa mengulang, dropouts, bahkan data tentang faktor penentu kebutuhan masyarakat. Perencanaan pada negara-negara miskin juga perlu memperhitungkan kendala lain yakni kapasitas lembaga.. Manakala tujuan nasional lebih rendah dari jumlah warga yang terdidik, pendekatan model ini kurang diminati. Dan lantaran model ini muncul atas dasar teori ekonomi bagian (particular economic theory) maka model ini menawarkan sekaligus dua hal, yakni implikasi pembiayaan dan konsekuensi SDM dari ramalannya. 2) Pendekatan SDM (Manpower Approach) Ide dasarnya adalah bahwa pertumbuhan ekonomi harus disiapkan dengan tenaga terampil dan karenanya harus direncanakan berdasar kebutuhan masyarakat terhadap buruh. Dalam kerangka pikir ini struktur keterampilan SDM harus diramal dan kemudian hasil ramalan tersebut dirubah pada kemungkinan angka pendaftar di perguruan tinggi. Teori terkuat dari model ini adalah bahwa pasar tidak dapat dirinci lebih ditil, juga kekosongan waktu dan karena itu harus dipantau oleh instrumen perencanaan untuk penyesuaian pada perubahan jumlah harga. Beberapa asumsi terkait dengan ragam metode perencanaan yang berorientasi SDM di perguruan tinggi ini, bahwa ada hubungan pasti antara input kualifiaksi SDM dengan penghasilan ekonomi; bahwa pekerja tidak dapat berreaaksi secara lancar (smoothly) untuk merubah gajih/penghasilan; bahwa elastisitas bagian antara para para pekerja dari pelatihan yang berbeda adalah mendekati nol; dan bahwa suplai SDM yang memenuhi kualifikasi, tidak terikat pada kebutuhan. Metode-metode berikut dapat dibedakan dalam meramal kebutuhan SDM. 2a) Metode Meramal Pekerja. Hasil survei pekerja tentang lowongan kerja masa depan agak meragukan. Terdapat inkonsistensi yang tinggi sebagai hasil dari penurunan respon para

pekerja, sebab kurangnya definisi yang sama dari kualifikasi, dan sebab ketidaksamaan pasaran kerja. 2b) Metode Perbandingan. Metode ini menghitung ramalan persyaratan masa depan SDM melalui observasi hubungan antara struktur pekerjaan dan struktur pendidikan pada negaranegara terpilih yang secara ekonomi ada di barisan terdepan negara. Berdasarkan pada hipotesis penyimpangan universal dari pertumbuhan, metode ini kesimpulannya bersifat kasar. 2c) Metode ratio pekerjaan. Tulang punggung metode ini adalah membagi secara adil jenis-jenis SDM kepada parameter populasi : tenaga kerja/buruh, segmen lain dari buruh terampil, pendaftar pendidikan tinggi, keperluan jenis pelayanan. Rationya diproyeksikan kepada perkiraan persyaratan masa depan. 2d) Metode fixed coeffcient. Metode ini berdasarkan kepada struktur ramalan pekerjaan, produktivitas buruh, output tiap industri, dan melalui kesamaan pekerjaan dan kualifikasi pendidikan tinggi. Ramalan sektor kebutuhan spesialis dan pendaftar dibuat sebagai dasar hubungan pasti. 2e) Ramalan persyaratan SDM untuk spesialis sebagian penduduk. Ratio output buruh, matrik input-output, coefficient staf, dan ratio pekerjaan dikombinasi untuk mengestimasi jumlah spesialis yang akan dilatih untuk pekerjaan khusus seperti dokter atau guru. 3) Cost-Benefit Methods Tidak seperti perencanaan berorientasi SDM, metode ini sangat berorientasi pasar dan isarat-isarat pasar. Untuk mendukung metode ini pendidikan tinggi merupakan investasi biaya yang pada perhitungan waktu tertentu akan memberi tambahan penghasilan. Analisis pada metode ini mengkombinasikan informasi tentang biaya pendidikan tinggi yang berlaku (biaya kontan dan penghasilan yang sedang berlaku) dan informasi tentang value pasaran buruh. Hal ini terkait dengan orang-orang yang jadi figur llulusan. Beberapa masalah yang mengganggu perhitungan penghasilan adalah : Pertama, proporsi tambahan pendapatan dapat menjadikan pendidikan tinggi sebagai alat yang tidak dapat diperkirakan. Kedua, perkiraan keuntungan non moneter dari hasil pendidikan sukar untuk dipahami. Bagaimanapun analisis cost-benefit didasarkan kepada observasi lintas sektor, mengabaikan kondisi supply-demand masa depan, yang merupakan kondisi krusial dalam perencanaan. Konsekuensinya, metode effektivitas biaya (cost-effectiveness methods) dipergunakan sebagai cara perbandingan antara perkembangan ekonomi dengan kegiatan pelatihan. Walaupun kedua pendekatan (metode SDM dan metode cost-benefit) ini dianggap memiliki perbedaan yang tajam, namun keduanya tidak sama-sama eksklusif. Keduanya memberikan sumbangan yang lebih baik terhadap sumber daya pendidikan tinggi. Kedua pendekatan inipun dapat diintegrasikan kepada metode social-demand. 4) Perencanaan Institusional Munculnya biaya-biaya dan naiknya tekanan untuk pertanggung-jawaban yang lebih besar dan lebih terbuka, telah memperkuat para perencana universitas untuk menyusun tujuan keluaran yang jelas dan untuk mencoba menghubungkan biaya input pada output. Dasar Perencanaan dan Sistem Manajemen (PSM) universitas adalah pengembangan dari suara mahasiswa-model alur melalui departemen dan tingkatan, adalah sebagai bentuk masa depan kebijakan izin masuk. Tugas selanjutnya dari PSM adalah menghitung biaya aktivitas utama dari lembaga. Penggunaan konsep aktivitas sebagai unit opersional telah membimbing perbandingan yang lebih baik dari biaya dan kemanjurannya. Analisis yang sensitif kemudian dihubungkan pada pelatihan, untuk mencapai angka pembiayaan umum dari program studi dan departemen.Sejumlah model

perencanaan institusional telah mempengaruhi negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Model-model CAMPUS (Comprehensive Analytical Methods of Planning in University System), RRPM (Resource Requirement Prediction Models), CSM (Cost simulation Model), di Amerika Serikat, HIS (Hochschul Information System) di Republik Federal Jerman dan Organization for Economic Cooperation and Development sponsored Institutional Management in Higher Education Program telah menjadi pioner di lapangan. Pada 1976 sekiatr 400 Akademi di AS dihubungkan dengan type model CAMPUS. Walaupun tidak selalu berhasil , perencanaan pada tingkat universitas telah berusaha memfasilitasi secara rational alokasi sumber-sumber pada lembaga pendidikan tinggi. 5) Perencanaan pendidikan Tinggi dalam Perencanaan Ekonomi Terpusat Walaupun tehnik perencanaan pendidikan di negara-negara sosialis sangat terkait dengan konteks nasional, garis besar tehnik ini tetap dapat disketsakan. Pendidikan tinggi memiliki tiga fungsi, yakni memerankan pelatihan spesialis yang dibutuhkan oleh semua cabang ekonomi; peran sosiopolitik; dan peran merespon kepentingan individu untuk meningkatkan pendidikan. Sebagai konsekuensi peran pertamanya, perencanaan pendidikan di negara sosialis selalu terintegrasi dengan perencanaan menyeluruh dari masyarakat sebagai kesatuan besar. (a) Manpower Methods. Metode untuk memprediksi kebutuhan spesialis, mengklasifikasi tugas-tugas sesuai dengan survei tahunan pekerja, serta mengurai lowongan kerja masa depan berdasar jenis kegiatannya. Data dicocokkan dengan membagi secara adil jumlah spesialis pada satu cabang kegiatan kepada kekuatan buruh secara keseluruhan. Perhitungan kebutuhan SDM diperoleh dengan bermacam-macam metode yang jenuh dikombinasi dengan data pada struktur pekerjaan dari perusahaan terdepan dan dengan asumsi pengembangan tehnik, kenaikan produktivitas buruh, dan yang lainnya. Revisi tahunan dan alatalat koreksi digunakan untuk tujuan yang fleksibel dan penyesuaian. (b) Pendaftar. Sekali kebutuhan SDM dirancang untuk satu kekhususan, mereka sudah diterjemahkan pada pendaftar dalam berbagai disiplin dari pendidikan tinggi. Penerjemahan ditangani oleh tehnik yang beragam yang memasukkan secara tepat antara jenis pekerjaan dengan spesialisasi akademik. Secara bersamaan tantangan institusi dimasukkan pada perencanaan pendidikan tinggi melalui penggunaan tanda-tanda dan formula. (c) Perencanaan karir. Fungsinya termasuk perencanaan bagi tenaga kerja muda berpendidikan. Kombinasi dari prosedur selektifitas dan perencanaan karier, akan memasukkan pekerja lulusan universitas yang punya kualifikasi. B. Rancangan Perencanaan Pendidikan Tinggi Persoalan yang muncul dari meledaknya perencanaan perguruan tinggi dan perluasan krisis perguruan tinggi adalah hilangnya tujuan. Hal ini bisa dilihat berdasarkan ciri-ciri beberapa sinyal perubahan: 1) Sifat campuran dari fungsi dan output pendidikan menjadi lebih meluas. Sejak itu, batasan antara metode perencanaan menjadi kabur. Integrasi metodologi merupakan proses yang terus menerus. 2) Perbedaan antara metode yang digunakan dalam perencanaan ekonomi secara terpusat dan penerapan dalam ekonomi pasar ternyata mengalami kehancuran, dalam kasus yang pertama, peran tuntutan sosial jadi menguat, dan akhirnya banyak penekanan terhadap persyaratan pasar buruh.

3) Kasus kegagalan perencanaan kadang ditemukan pada ketiadaan efisiensi dalam implementasi. Phase krusialnya berimplikasi pada tiga hal. Pertama, pengembangan koleksi data, kedua, pelatihan yang tepat para perencana, dan ketiga, keterlibatan staf secara mendalam. 4) Bidang yang menyeluruh untuk dikembangkan adalah perencanaan kuantitatif. Seperti memakai tongkat ajaib, harapan terbesar ditempatkan melalui diagnosa rancangan pendidikan dan pada strategi belajar mengajar yang direformasi sejauh mungkin. 5) Para ahli ekonomi dan hukum pada perencanaan pendidikan tinggi kadangkala dipertanyakan; apa yang menjadi pokok utama pembuatan keputusan. Kritikpun keluar dari orang awam dan spesialis, dosen dan staf administrasi, serta unit-unit pembuat keputusan mikro dan pusat. Hasil kontroversi ini adalah politisasi perencanaan pendidikan tinggi. 6) Perencanaan pada negara-negara berkembang kadangkala alokasinya salah, dan investasi berlebihan dalam program biaya pendidikan ttinggi, bersama dengan sistem pendidikan kejuruan dan teknik yang berlebihan. 7) Penambahan pengalaman dalam perencanaan dan akumulasi dari perencanaan nasional dan institusional mendorong adanya evaluasi keuntungan real dari aktivitas perencanaan masa lalu sedemikian rupa seperti kenaikan penggunaan perencanaan masa depan. Kecenderungan dan issu hendaklah diperjelas untuk menurunkan prioritas pendidikan tinggi, meninjau sumber-sumber, dan membanyak keraguan terhadap ketepatan perencanaan yang dimaksakan. Pada saat yang sama, pendidikan tinggi lebih tertantang oleh dua faktor yang saling bertentangan. Pertama, oleh perluasan klien baru (khususnya pada negara maju) untuk pelayanan pendidikan seumur hidup, dan kedua, oleh pengakuan (khususnya pada negara sedang berkembang) terhadap kekuatan pelatihan informal pada pendidikan tinggi. Hal-hal inilah yang menjadikan perencanaan pada perguruan tinggi jadi sangat terbuka. Perencanaan Pendidikan Vocational Pendidikan vocational memiliki beberapa sebutan. Di Inggeris dikenal sebagai pendidikan lanjutan (further education), sedangkan di beberapa negara disebut pendidikan teknik (technical education). Pada umumnya diwadahi oleh lembaga polyteknik. Di AS disebutnya pendidikan vocational (vocational education). Berdasar kan nama-nama tersebut, kita dapat kemukakan tiga karakter pokoknya. (a) program dimaksudkan untuk melayani orang yang mencari/mau masuk dunia kerja di atas tingkat buruh tanpa keterampilan (unskilled labor); (b) tugas-tugas untuk orang yang disiapkan tanpa persyaratan sebagaimana syarat untuk sarjana; (c) porsi latihan ditawarkan dalam bentuk umum belajar (sifat ini membedakan pendidikan vocational dari on the job training yang secara lengkap berada di bawah kontrol para pekerja). Pendidikan vocational ini memiliki dua bentuk. Bentuk perencanaan pertama adalah memasukan sistem pendidikan pada upaya bantuan menemukan kerja bagi buruh terampil. Bentuk perencanaan kedua adalah mencari akses untuk kerja dengan berbagai keuntungan sambil menghilangkan perbedaan jenis kelamin dalam struktur kerja. Yang pertama murni pendekatan ekonomi sedang yang kedua pendekatan sosial.
A. Perencanaan Ekonomi

Tugas pokok adalaha mengestimasi kebutuhan nyata (the net demand) jenis-jenis keterampilan masa depan dan memilih aneka ragam lembaga pelatihan yang dapat menghasilkan sejumlah keterampilan khusus yang cocok dangan keterampilan yang dibutuhkan. Kebutuhaan

nyata adalah kebutuhan kseluruhan jumlah tenaga kerja dikurangi sejumlah tenaga kerja yang dilatih di luar system pendidikan vocasional. Objek pokok platihan orang dalam keterampilan kerja adalah latihan dalam tugas kerjanya (on-the-job-training) diorgaanisasi atau tidk diorganisasi. Di Negara Barat pelatihan demikian dijkaitkan dengan sector swasta. Hal ini menjadi masalah tersendiri dalam perencanaan pendidikaan vocasional. Kebutuhan keseluruhan adalah jumlah kebutuhan baru plus kebutuhan penempatan kembali. Kebutuhan baru menampilkan perubahan jumlah pekeerja dengan keterampilan yang sudah tertentu yang akan dikerjakan pada bagiaan akhir dari periode perencanaan dalam tugasyang mempersyaratkan percobaan keterampilan. Hal ini bisa positif bisa negative. Kebutuhan penempatan kembali merujuk pada sejumlah orang yang memenuhi syarat sebagai tenaga kerja dalam keterampilan tertentu selama periode perencanaan, menempati pekerja yang mati, pekerja yang mengundurkan diri, atau pindah pekerjaan. Pengisian kembali kebutuhan tenaga kerja biasanya dapat membawa nilai-nilai positif. Memperkirakan kebutuhan baru untuk tujuan perencanaan pendidikan vocasional merupakan proses yang tidak pasti (uncertain process), khususnya berkenaan dinamika ekonomi yang bertumpu pada perkembangan teknologi. Menghadapi kebutuhan keterampilan tenaga kerja jangka pendek, pekerja dapat memilih beberapa pilihan, seperti menempatkan pekerja dengan alat baru, mengupgrade pekerja terlatih paruh waktu dalam tugasnya, atau mengurai pekerjaan pada bagian-bagian yang lebih sederhana. Pekerja kadangkala merahasiakan cara mereka merespon kekurangan tenaga kerja jangka pendek. Walaupun kebutuhan baru dapat diperkirakan berdasarkan ramalan hubungan sebelumnya antara output industri dengan jumlah pekerja berketerampilan, namun perkiraan kebutuhan baru ini dapat meleset saat estimasi output industri masa depan dikoreksi. Pada beberapa keadaan, mengestimasi kebutuhan tenaga terampil, estimasi jumlah orang yang dilatih di luar system pendidikan vocasional, dapat jadi bagian tugas untuk mendatangkan estimasi kebutuhan nyata untuk produk system itu sendiri. Sebagai catatan, banyak pelatihan demikian dikerjakan pada industri swasta, dan kadang-kadang sangat informal dan tidak terdokumentasikan. Akibatnya kadangkala membuat substitusi berhadapan dengan pekerjapekerja terampil. Karena itu suplai pekerja baru yang berketerampilan (hasil dari pelatihan diluar system pendidikan vocasional) merupakan sesuatu yang sukar untuk diestimasi secara tepat, terlebih hal itu bila merupakan tuntutan baru. Karena itu pendidik vocasional hendaklah extensive menggunakan proyeksi SDM, dalam mengatur besaran tawaran program-program khusus. Hal ini berarti mereka harus betul-betul baik memperkirakan antara pendaftar program tentang keterampilan yang berbeda-beda, dengan keseluruhan kebutuhan nyata dari suatu Negara atau suatu provinsi. Gambaran masalah tentang pendaftar sebagai indicator program yang lengkap dapat menjadi penting untuk menghitung jumlah tempat pelatihan pada institusi yang beerbeda-beda (system quota). Idealnya, setiap institusi hendaklah dikerjakan dengan biaya yang sangat efisien namun tetap efektif. Di AS, tempat kebiasaan membuat keputusan dari pemerintah local begitu kuat, administrator pusat atau provinsi, kurang memiliki kekuatan control pada program vocasional, karena itu attainment of distribusi efektivitas biaya dari pertanggungjawaban pelatihan, kurang disukai. Lebih dari itu, distribusi rational yang kaku dari pertanggung-jawaaban pelatihan dapat berbeda pada distribusi, yang awalnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan social. B. Perencanaan Sosial Perencanaan sosial merupakan gejala yang relatif baru dalam pendidikan vocasional. Peraturan tentang itu ditemukan tahun 1976 di Kongres AS. Sejak itu Negara bagian telah

dituntut untuk melaksanakan pelatihan dan pembimbingan bagi (1) orang yang secara ekonomi dan pendidikan kurang beruntung, (2)orang yang memiliki kekurangan phisik, dan (3) bagi orang-orang yang menjadikan Bahasa Inggeris sebagai bahasa kedua. Negara bagian dan penguasa setempat beralasan, berpikir bukanlah persyaratan bagi perbedaan jenis kelamin dalam pelatihan dan kerja. Peraturan tidak cukup banyak pengaruhnya untuk dicatat, namun ini merupakan ciri awal bentuk keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan sosial.

Bab . Tentang Pendekatan. Model pendekatan bertujuan menjawab kegelisahan utama yang menjadi sasaran utama dibuatnya rendik. Beberapa Model Pendekatan dalam perecanaan pendidikan adalah sebagai berikut. 1. Intra-educational extrapolation model. Konsepnya relative sederhana dan terbuka (straightforward). Namun teknisnya cukup menantang dan kompleks, terlebih manakala terlibat ke dalamnya berbagai pilihan perubahan dari satu ke lain bagian. Cara kerjanya menghitung implikasi kuantitatif dari karakter yang jadi target pendidikan. Bila ingin mencapai target tertentu pada tahun tertentu, maka perencana pendidikan harus mengektrapolasi dari angka-angka yang ditargetkan tersebut kepada angka lain seperti suplai guru, pembangunan gedung baru, pencetakan buku ajar, serta schedule waktu dari setiap item target. Dalam kaitan ini statistik merupakan instrument penting, supaya analisis tentang capaian, target dari satu bagian ke bagian daerah lain dapat diurai dengan tepat dan baik. 2. The demographic projection model merupakan pendekatan yang secara imajinatif bersifat menyeluruh. Model ini menyiapkan parameter pokok dalam menghitung jumlah penduduk (variable tingkat kelahiran yang dikaitkan dengan cohort besaran usia) terkait dengan sistem pendidikan masa depan yang harus dipersiapkan. Dari sini diproyeksikan kepada unsur-unsur lain pendidikan seperti komposisi dan jumlah anak didik pada usia tertentu pada tahun-tahun tertentu, kemudian implikasinya terhadap besaran, distribusi pelayanan, tingkat-tingkat pendidikan, maupun tahun-tahun yang ditargetkan, sesuai dengan the size of the age cohort anak didik. Cara inilah yang pernah dilakukan oleh Negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara setelah Perang Dunia kedua. 3. Pendekatan Tuntutan Sosial (Social Demand Approach) The social demand model, merupakan bentuk yang lebih umum yang menggambarkan kebijakan pendidikan yang dipengaruhi oleh ekspresi kepentingan dan kebutuhan masyarakat yang ada. Karena itu dari sudut yang berbeda, model ini dianggap keluar dari analisis ekonomi, serta tidak terkalkulasi baik oleh manpower model atau rate of return models. Model ini sangat strategis manakala perencanaan pendidikan diorientasikan kepada pencapaian tujuan masyarakaat secara umum, seperti kesamaan hak asasi, penekanan pada otentisitas budaya, dan upaya melegitimasi distribusi kekuatan politik. Atau model ini diorientasikan kepada kebutuhan sebagian masyarakat seperti regional tertentu, kelompok bahasa tertentu, yang pada hakikatnya kadangkala-- berupa tantangan dari kepentingan seorang kuat warga masyarakat. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa pada dasarnya hampir dapat dikatakan tidak ada perencanaan yang tidak terkait denganthe social demand model, walau bentuk dan sistimatisasi konsepnya dalam pengembangan konteks perencanaan, berubah dari waktu ke waktu. Dalam dunia pendidikan tinggi, model ini terkait dengan jumlah tuntutan individu pada pelayanan pendidikan sesuai biaya yang ditentukan. Faktanya, pendekatan ini memprediksi jumlah pendaftar yang akan datang dengan didasari perhitungan terhadap faktor yang menentukan kebutuhan masyarakat. Ada enam faktor yang menentukan kebutuhan yaitu demographic, pendidikan, finansial (pendapatan keluarga dan biaya pendidikan tinggi), budaya dan masyarakat (seperti realitas perbedaan), pelayanan (keadaan dan kualitas layanan), dan pilihan-pilihan individu (harapan pengembalian biaya). Pertimbangan faktro-faktor ini terkait pada pendaftar mahasiswa baru masa yang akan datang, dan para perencana dapat menyerap keadaan yang konservatif atau yang aktif. Kebijakan posisi aktif biasanya untuk mendorong kebutuhan masyarakat dan menciptakan peluang-peluang

yang sama. Dengan demikian, perencanaan yang diasarkan pada kebutuhan masyarakat sering terkait dengan kebijakan pemasukan dan rendahnya biaya pengeluaran, bantuan siswa dan program yang menjadi orientasi kelompok minoritas. Tehnik memprediksi pendaftar memiliki beberapa prinsip, seperti metode ratio pendaftar, yang didasarkan pada perhitungan antara pendaftar ke perguruan dengan populasi usia mahasiswa, dan metode cohort (cohort survival method), yang dikaitkan dengan kemungkinan cohort pada tingkat keberhasilan. Keduanya sama-sama memerlukan data mahasiswa mengulang, dropouts, bahkan data tentang faktor penentu kebutuhan masyarakat. Perencanaan pada negara-negara miskin juga perlu memperhitungkan kendala lain yakni kapasitas lembaga.. Manakala tujuan nasional lebih rendah dari jumlah warga yang terdidik, pendekatan model ini kurang diminati. Dan lantaran model ini muncul atas dasar teori ekonomi bagian (particular economic theory) maka model ini menawarkan sekaligus dua hal, yakni implikasi pembiayaan dan konsekuensi SDM dari ramalannya. 4. Pendekatan Ketenagakerjaan (Manpower Approach). Pada umumnya merupakan prioritas pendidikan negara-negara berkembang, tempat tekanan terhadap perkembangan ekonomi sangat kuat. Asumsinya bahwa perkembangan ekonomi tidak mungkin dilaksanakan tanpa dukungan tenaga kerja yang terampil (berpikir ilmiah, bertindak profesional, serta etis dalam hubungan sosial). Dalam pada itu pemerataan kesempatan pendidikan merupakan tuntutan bangsa yang berdemokrasi dan berorientasi kerakyatan. Karena itu sifatnya lebih politis. Bentuk aksinya adalah kewajiban belajar. Pendekatan effektivitas menegaskan pentingnya efisiensi dalam pemanfaatan dana, sehingga kemampuan budget pemerintah atau suatu negara termanfaatkan secara cermat dan optimal. Pada pendekatan man power model, inti persoalannya terletak pada estimasi kebutuhan ekonomi nasional (atau bagiannya) terhadap sumber daya terlatih. Pada tingkat perguruan tinggi, pendekatan ini terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang harus dibarengi dengan penyiapan tenaga terampil, dan karenanya harus direncanakan berdasar kebutuhan masyarakat terhadap buruh. Dalam kerangka pikir ini struktur keterampilan SDM harus diramal dan kemudian hasil ramalan tersebut dirubah pada kemungkinan angka pendaftar di perguruan tinggi. Teori terkuat dari model ini adalah bahwa pasar tidak dapat dirinci lebih ditil, juga kekosongan waktu dan karena itu harus dipantau oleh instrumen perencanaan untuk penyesuaian pada perubahan jumlah harga. Beberapa asumsi terkait dengan ragam metode perencanaan yang berorientasi SDM di perguruan tinggi ini, bahwa ada hubungan pasti antara input kualifiaksi SDM dengan penghasilan ekonomi; bahwa pekerja tidak dapat berreaaksi secara lancar (smoothly) untuk merubah gajih/penghasilan; bahwa elastisitas bagian antara para para pekerja dari pelatihan yang berbeda adalah mendekati nol; dan bahwa suplai SDM yang memenuhi kualifikasi, tidak terikat pada kebutuhan. Metode-metode berikut dapat dibedakan dalam meramal kebutuhan SDM. a) Metode Meramal Pekerja. Peramalan jenis pekerjaan itu penting, walau hasil survei tentang lowongan kerja masa depan agak meragukan. Terdapat inkonsistensi yang tinggi sebagai hasil dari penurunan respon para pekerja, sebab kurangnya definisi yang sama dari kualifikasi, dan sebab ketidaksamaan pasaran kerja. b) Metode Perbandingan. Metode ini menghitung ramalan persyaratan masa depan SDM melalui observasi hubungan antara struktur pekerjaan dan struktur pendidikan pada negaranegara terpilih yang secara ekonomi ada di barisan terdepan negara. Berdasarkan pada hipotesis penyimpangan universal dari pertumbuhan, metode ini kesimpulannya bersifat kasar.

c) Metode ratio pekerjaan. Tulang punggung metode ini adalah membagi secara adil jenisjenis SDM kepada parameter populasi : tenaga kerja/buruh, segmen lain dari buruh terampil, pendaftar pendidikan tinggi, keperluan jenis pelayanan. Rationya diproyeksikan kepada perkiraan persyaratan masa depan. d) Metode fixed coeffcient. Metode ini berdasarkan kepada struktur ramalan pekerjaan, produktivitas buruh, output tiap industri, dan melalui kesamaan pekerjaan dan kualifikasi pendidikan tinggi. Ramalan sektor kebutuhan spesialis dan pendaftar dibuat sebagai dasar hubungan pasti. e) Ramalan persyaratan SDM untuk spesialis sebagian penduduk. Ratio output buruh, matrik input-output, coefficient staf, dan ratio pekerjaan dikombinasi untuk mengestimasi jumlah spesialis yang akan dilatih untuk pekerjaan khusus seperti dokter atau guru. 5. Analisis Biaya Dan Keuntungan (Cost Benefit Analysis atau The Rate of Return Model). Model ini menggambarkan investasi untuk menaikkan pendapatan investor. Model ini terkait dengan konsep-konsep tehnik dan penelitian mengenai ekonomi pendidikan. Perdebatan difokuskan pada konsep dan tehnik pengukuran. Pertanyaan paling pentingnya adalah hakikat dan penyebab perbedaan antara kembalian biaya pada masyarakat dan individu. Keragaman tingkat pengembaliaan modal pada tingkat dan sektor pendidikan tertentu, jenis pria dan wanita, serta peran pendidikan dalam masalah politik dan simbol-simbol kehidupan social. Prinsip utama pendidikan melalui perhitungan untung rugi adalah pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia (human capital investment). Karena itu biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pendidikan harus dapat dikembalikan. Dalam skala kecil seperti individu atau rumah tangga, perhitungan tentang hal demikian bukan sesuatu yang sukar. Namun dalam skala nasional, perhitungannya cukup rumit. Pertanyaan pokoknya adalah bagaimana logika pembangunan pendidikan terkait dengan logika pertumbuhan ekonomi? Tidak seperti perencanaan berorientasi SDM, metode ini sangat berorientasi pasar dan isyarat-isyarat pasar. Untuk mendukung metode ini pendidikan tinggi merupakan investasi biaya yang pada perhitungan waktu tertentu akan memberi tambahan penghasilan. Analisis pada metode ini mengkombinasikan informasi tentang biaya pendidikan tinggi yang berlaku (biaya kontan dan penghasilan yang sedang berlaku) dan informasi tentang value pasaran buruh. Hal ini terkait dengan orang-orang yang jadi figur lulusan. Beberapa masalah yang mengganggu perhitungan penghasilan adalah : Pertama, proporsi tambahan pendapatan dapat menjadikan pendidikan tinggi sebagai alat yang tidak dapat diperkirakan. Kedua, perkiraan keuntungan non moneter dari hasil pendidikan sukar untuk dipahami. Bagaimanapun analisis cost-benefit didasarkan kepada observasi lintas sektor, mengabaikan kondisi supply-demand masa depan, yang merupakan kondisi krusial dalam perencanaan. Konsekuensinya, metode effektivitas biaya (cost-effectiveness methods) dipergunakan sebagai cara perbandingan antara perkembangan ekonomi dengan kegiatan pelatihan. Walaupun kedua pendekatan (metode SDM dan metode cost-benefit) ini dianggap memiliki perbedaan yang tajam, namun keduanya tidak sama-sama eksklusif. Keduanya memberikan sumbangan yang lebih baik terhadap sumber daya pendidikan tinggi. Kedua pendekatan inipun dapat diintegrasikan kepada metode social-demand. Model-model perencanaan pendidikan tinggi telah berkembang menyentuh bidang-bidang lain. Namun pada garis besarnya dapat dikatagorisasikan pada dua model yakni outline model nasional dan model institusional. Keduanya digunakan untuk ekonomi pasar dan pendekatan mengikuti perencanaan pemerintah pusat.

BAB .. Pendekatan sistem terhadap perencanaan pendidikan (Depdiknas,1982:19-25;K1027)., Sistem sebagaimana didefinsikan Ryans (1968:5) merupakan any identifiable assemblage of element (object, person, activities, information records, etc) which are interrelated by process or structure and which are presumed to function as an organizational entity in generating an observable (or sometimes merely inferable) product (Diknas, 1982/83:19). Berdasarkan kaidah ini, pendekataan sistem dalam perencanaan, ada elemen yang saling berhubungan, baik lantaraan proses maupun lantaran didisain strukturnya, sehingga setiap fungsinya merupakan satu kesatuan dan bekerjasama untuk menghasilkan suatu keluaran atau produk. Akibatnya seeorang perencana harus memperhatikan variable dan kendala kritis, serta akibat interaksi antar berbagai variable dalam sistem. Dalam kaitan ini, Kaufman (1973:10) menegaskan bahwa pendekatan system merupakan cara mengidentifikasi kebutuhan, menseleksi masalah, menyusun identifikasi persyaratan solusi masalah, membat beberapa alternative solusi, mengevaluasi hasil, merevisi persyaratan pada sebagaian atau seluruh system terkait dengan keterbatasan memenuhi kebutuhan. Dalam pendekatan sistem, pendidikan diposisikan sebagai proses manajemen, yakni prosedur memonitor kegiatan untuk memberikan penilaian perkembangan (kegiatan) dengaan teliti berdasarkan kriteria yang baku (criterion standard). Langkah pelaksanaannya adalah menetapkan hubungan antar subsistem, menetapkan kualifikasi subjek pelaksana system, menentukan mekanisme pengambilan keputusan, menentukan jenis dan jumlah upah atau insentif, memonitor proses kegiatan, mengukur kesesuaian hasil dengan rancangan yang telah ditetapkan, serta menyiapkan rancangan perbaikan bagi proses dan hasil yang tidak sesuai rancangan awal. Keuntungan memakai Pendekatan Sistem, menurut Tim Depdiknas (1982/83:22) adalah sebagai berikut. (1) Misi, sasaran, dan tujuan dapat dijabarkan lebih luas; (2) Setiap program selalu dikaitkan dengan sasaran dan tujuan; (3) Orientasi kegiatan selalu diorientasikan kepada hasil akhir; (4) Perencanaan dipandang sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan pendidikan; (5) SDM dan SDdana digunakan lebih efektif sesuai alokasi kontribusinya pada pencapaian tujuan; (6) Informasi untuk perencanaan dan pengambil an keputusan dapat dirancang dan dikelola secara terpadu, sehingga sasaran serta cara-cara pencapaiannya dapat lebih efektif dan efisien; (7) Semua upaya diarahkan pada sasaran, sehing ga pemborosan dapat ditekan seminimal mungkin. (8) Administrator dapat dinilai lebih objektif lantaran sasaran pekerjaan lebih jelas; (9) Administrator dapat mengembangkan kreativitas dalam batas-batas kewenangan yang telah ditetapkan, sepanjang mereka tetap berorientasi pada tujuan akhir. (10)Pertanggungan jawab dapat dirumuskan secara lebih jelas dan opersional. (11)Umpan balik dapat diperoleh pada semua tingkat otoritas dalam organisasi pendidikan, sehingga penyimpangan dalam yusaha pencapaian tujuan dapat cepat diidentifikasi; (12)Komunikasi antar komponen dapat dibina dengan lebih baik sehingga kesalahpahaman dapat dikurangi; (13)Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab dapat dilaksanakan secara lebih baik.

Jenis Sistem : Sistem terdiri atas dua jenis, yakni sistem terbuka dan sistem tertutup. Masingmasing memiliki karakristik sendiri. Karakteristik Sistem Terbuka. 1. Bersifat sinergis dengan lingkungan. 2. Feedback, perbaikan terus menerus berdasar hasil balikan dari seluruh rangkaian kegiatan sistem. 3. Cyclical, hal ini sebagai kelanjutan dari kegiatan korektif. Sistem bersifat mengulangi kegiatan sebelumnya atau repetitive. 4. Creative, pendektan system bersifat kreatif "the system approach must be creative one that focuses on goal first and methods second" 5. Negontropy. Sistem yang terbuka memiliki kekuatan penghalang dari kehancuran atau kemusnahan, manakala dipenuhi karakter dua di atas yakni kreatif dan repetitive. Dengan dua karakjter tersebut akan terjadi pertahanan dari dalam diri system (self defence). 6. Steady state, yakni kemapanan, keajegan, keseimbangan internal saat terjadi dinamika input-output. 7. Growth and expancy, yakni tumbuh dan semakin meluas, sebagai akibat lanjutan (nurturant effect) dari karakter sistem yang kreatif dan negontrophic. 8. Balance between maintenance (beli, pelihara, rekrutmen dst.nya untuk bertahan hidup) and adaptive activities (perencanaan dan pengembangan, yang menghitung reali tas lapangan secara jeli dan teliti supaya sistem tetap berta han hidup). 9. Equifinality. Dalam pendekatan sistem, terdapat kesamaan nilai dari ujung proses suatu kegiatan. Input dapat memiliki keragaman kualitas, namun karena diproses dengan perlakuan dan persyaratan yang sama, maka jenis dan kualitas outputpun, relative dalam level kualitas yang sama. (indicate to dynamic homeostatis, or the steady state). Karakteristik Sistem Tertutup, yakni sama sekali tidak berhubungan dengan sistem yang lain, memiliki batasan yang jelas yang terpisah dari lingkungan tempat sistem berada (it does not have such interactions with environment).Dalam jangka waktu lama dan berkelanjutan, sesungguhnya system yang tertutup seperti mesin-pun tetap dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Kepentingan Pendekatan Sistem Dengan melihat berbagai karakteristik sistem, baik yang terbuka maupun yang tertutup, kita dapat melihat beberapa keuntungan membuat perencanaan dengan pendekatan system sebagai berikut. (1) pendekatan sistem mengkonseptualisasi organisasi sebagai satu kesatuan, tidak terpisah-pisah, dan karenanya tidak dilihat dari bagian-bagiannya, maka (2) setiap bagian atau anggota bersikap sebagai suatu kesatuan; (3)terampil mengidentifikasi dan memahami lingkungan; kemudian diidentifikasi keterkaitannya kepada sistem yang dikelola; (4) memahami pentingnya stabilitas dan atau perubahan dari organisasinya; (5) merekayasa alternatif masukan dan proses kegiatan. Harvey, LJ menegaskan kepentingan pendekatan sistem dalam membuat perencanaan dalam pendidikan sebagai berikut.

(1) Lembaga-lembaga pendidikan telah semakin kompleks dan semakin sulit untuk dikelola dengan cara-cara tradisional yang kurang berorientasi pada tujuan, untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan tuntutan perkem bangan pendidikan. (2) Perubahan semakin cepat sementara seorang administrator tidak mungkin menangani segala bidang. Karena itu perlu pendekatan baru. (3) Kebanyakan perencana pendidikan bersifat amatir. Mereka disiapkan untuk jadi guru atau petugas pendidikan lainnya. Dalam keadaan demikian pendekatan system sangat diperlukan. (4) Diperlukan penggunaan dana yang efisien dan efektif dalam menanggulangi kesalahan perencanaan dan pengelolaan pendidikan. Karena itu pendekatan system sangat diperlukan. (5) Kepercayaan masyarakat terhadap organisasi pendidikan perlu ditingkatkan, melalui efisiensi dan efekyivitas kerja system pendidikan yang terencana. Dengan melihat berbagai karakter system juga, kita dapat membuat catatan lain yakni bahwa bahwa system bukan segala-galanya. Keterkaitan dan ketergantungan antar unsure adalah satu hal, tapi keinginan perubahan yang drastis untuk membuat loncatan-loncatan baru adalah hal lain yang justru akan merubah konstruk dan konsep suatu organisasi yang sudah disistemkan. Sejalan dengan keterangan tentang sistem tersebut serta menyadari liputan kerja dalam kegiatan perencanaan yang cukup luas, maka pekerjaan perencanaan dengan pendekatan sistem akan jadi terdukung untuk menurunkan rincian kegiatan lainnya. Bentuk kegiatannya berawal dari mengidentifikasi kebutuhan, menyeleksi permasalah an, mengidentifikasi barang/ bahan/syarat pemecah an masalah, menginventarisasi berbagai kemungkinan pemecahan masalah, cara-cara melaksanakan kegiatan, menilai hasil kegiatan rancangan secara terus menerus, dan kesiapan untuk terus merevisi kebijakan yang salah, sehingga hasil akhir betulbetul dapat meminimalisasi kerugian yang mungkin ditimbulkan. Tentu saja faktor waktu harus betul-betul dipertimbangkan. Jangan sampai terjadi, saking hati-hatinya mengidentifikasi, menyeleksi, merevisi, dan menilai hasil sementara, lantas keputusan atau kebijakan membuat perencanaan malah tidak pernah selesai. Dalam dunia pendidikan Islam, pendekatan sistem dalam perencanaan ini berarti proses kegiatan memecahkan permasalahan pendidikan ummat secara rational logis, dengan mengidentifikasi dan memecahkan kembali permasalahan penting pendidikan. Semuanya diorientasikan pada sasaran atau tujuan yang akan dijangkau. Intinya terletak pada bagaimana membuat cara /alat/konsep berpikir yang mampu memecahkan masalah pendidikan ummat Islam secara sistimatik dan objektif. Segera harus diberi catatan, bahwa cara/alat/konsep berpikir tersebut akan sangat bervariasi, terkait dengan tingkat jangkauan pekerjaannya. Jangkauan dalam bentuk sasaran kegiatan (purpose) berbeda dengan jangkauan tujuan akhir kegiatan (objective) dan tentu berbeda pula dengan tujuan komprehensif kegiatan yang dicapai melalui perencanaan strategi. BAB . Ruang lingkup masalah pendidikan (BT,1973:4-15), mempelajari realitas kehidupan sosial (what has been), mendeskripsikan realitas kini (what is) dan mimpi masa depan (what should be). (BT 1973:16-98; Depdikbud,1982:13-18). Ruang linggkup perencanaan pendidikan (rendik) membahas visi, misi, subjek dan objek pelayanan, proses operasional, tugas-tugas setiap subjek, pemahaman yang jelas mengenai hubungan antara pendidikan, urbanisasi, transportasi, perencanaan ekonomi, dan perencanaanperencanaan lainnya. Rendik juga terkait dengan kompleksitas masyarakat modern, sehubungan dengan urbanisasi, populasi, keperluan SDM, ekologi, menurun dan terbatasnya Sumber Daya

Alam, aplikasi pengembangan ilmu, keragaman kebutuhan pasar, keragaman keterampilan yang diperlukan pembangunan, keterbatasan dana, dlsb.nya, yang kemudian jadi bahan acuan untuk menyusun rencana kurikulum, rencana physik, rencana dana, rencana administrasi, rencana bangunan, dsb.nya. Berdasarkan kompleksitas keterkaitannya, maka kegiatan atau aktivitas rendik dapat dikatagorisasikan sebagai berikut. (1) Secara umum dapat disebut riset, teori dan tehnik pembangunan, rancangan pemerintah pusat, daerah, dan rendik sekolah lokal. (2) Secara phisik, rendik diaplikasikan pada jangka panjang, menengah dan jangka pendek pembangunan sekolah, layout pembangunan sekolah, kriteria lingkungan bagi aktivitas belajar, etika, dan riset teknologi. (3) Dilihat dari kegiatannya yang tersangkut paut dengan realitas social, rendik merupakan survei kebutuhan masyarakat, terkait dan berimplikasi pda rencana kurikulum, strategi belajar, survei kebutuhan SDM dan masyarakat, disain phisik, dan interaksi individu dan masyarakat. (4) Dilihat dari sudut administrasi, rendik dapat disebut sebagai kontrol pembangunan, pembuatan keputusan, manajemen dan pelaksanaan, kontrol persediaan barang, rencana transportasi, dan survei perencanaan sekolah. Dari sudut administrasi ini dapat juga dikatagorisasikan pada makro, messo, dan mikro. (5) Dilihat dari keluasan otoritas pejabatnya, rendik tersebut dapat dibagi pada katagori strategik, manajerial, dan operasional. Namun manakala dilihat dari pelaksanaan system secara keseluruhan, maka rendik terdiri atas pertama, perencanaan perbaikan dan kedua perencanaan pengembangan. Jenis dan Bentuk kegiatan rendik sebagai berikut. Pertama, mempelajari realitas kehidupan social (what has been), kedua, mengidentifikasi dan mendokumentasikan kebutuhan-kebutuhan (diformulasi dalam bentuk terminologi produk dan proses), berdasarkan studi ruang lingkup pendidikan, "where are we now or what it is" dan where are we to be or what should be". Where are we now? Maksudnya dalam kondisi bagaimana seluruh elemen pendidikan sasaran rendik. Uraian berdasar fakta-fakta yang ada (fact finding), bukan berupa kegiatan diagnosa. Data (baik yang kualitatif dan kuantitatif) didapat melalaui interviu, kuesioner, test, dokumen, catatan lain, atau observasi (tehnik sederhana), atau perhitungan rumit proyeksi dan komparasi (sophisticated method) Modal awal kegiatan perencanaan, distudi dan didis kripsikan melalui SWOT (strength, weekness, opportunity, treath) supaya dapat berpikir secara berkelanjutan, saat menghadapi kondisi pendidikan yang akan terus berubah, sejalan dengan realitas perkembangan manusia dan tempat tinggalnya. Dari deskrpsi tersebut, perencana merancang tujuan pendidikan yang kemudian diturunkan pada bentuk, jenis, dan jenjang kurikulum, cara melaksanakannya dari sejak bentuk dan jenis kehadiran atau interaksi guru/pembimbing/ pelatih dengaan siswa, penyediaan jumlah dan mutu/ kualifikasi guru, dukungan dana, hubungan politik antara sekolah dan pmrintah. Bermodalkan hal itu disiapkan aturan main kegiatan pendidikan. Para perencana pendidikan bertanggung-jawab untuk melihat kecenderungan masyarakat, menjawab, dan melaksanakan pengorganisasiannya. Studi kecenderungan ini terkait semakin tingginya keterlibatan kaum muda terpelajar dalam proses pembelajaran. Saat suasana jaman cenderung membesar-besarkan olahraga, musik, dan permainan, maka para perencanapun perlu

member perhatian sebagai gambaran komitmennya untuk mendahulukan pendekatan manusiawi dibanding orientasi teknologi, supaya pekerjaan mereka tidak sia-sia.

guru a k t i v i t a s murid

masa lalu What should be

sekrang dan yad

Terdapat dua jenis masa depan (yang sukar ditentukan secara pasti) untuk dideskripsikan. Pertama, terkait dengan nilai, aturan, system, atau software; dan kedua, terkait dengan keadaan phisik, sarana, prasaran, atau hardware. Diperlukan kehati-hatian supaya identifikasi masa depan tersebut mendekati persisi, supaya terhindar dari pemborosan biaya, waktu, dan tenaga institusional. Masalah utamanya adalah (1) bagaimana menentukan kesenjangan antara masa kini dengan masa depan, dan (2) bagaimana analisis (bukan diagnosa) keadaan sekarang secara tepat, persisi, objektif. Dari dua kegiatan inilah ditentukan formulasi tujuan perencanaan.

BAB .. Kedudukan Perencanaan Pendidikan; Definisi Perencanaan, Pendidikan, dan Perencanaan Pendidik an; Bentuk Kegiatan Perencanaan Pendidikan; Fungsi Perencanaan Pendidikan; Proses membuat rendik (Kaufman:1-9; Sanusi Uwes:1-8). A. Kedudukan dan Fungsi Perencanaan: Perencana pada kegiatan perencanaan pendidikan merupakan tangan Tuhan melaksanakan takdirNya. Taqdir Tuhan pada manusia adalah jadi khalifah di muka bumi (QS 2:30), memakmurkan dunia (QS11:61), makhluk pencari tahu (2:31) dan mempersiapkan masa depan generasi pelanjutnya (QS59: 19). Untuk itu manusia diberi kewenangan menggunakan segala macam sumber daya (resources) secara efisien dan efektif (QS2:29; 17:26,27; 3:191), supaya manusia memiliki integritas pribadi yang bermartabat (iman), mempunyai integritas sosial (amal soleh), serta hidup dalam proses yang terus menerus berinteraksi dengan sesamanya menuju kebenaran hakiki (QS103:1-3). Posisi strategis perencana tersebut, menunjukkan strategisnya kedudukan perencanaan bagi manusia. Dalam hal perencanaan pendidikan, faktor peserta-didiklah yang akan diantarkan pada posisi taqdir tersebut, dan karena itu peserta didik berada pada posisi sentral, pusat penentu seluruh unsur yang terlibat dalam proses pendidikan. Dengan melihat posisi tersebut di atas, perencanaan memiliki fungsi yang sangat berfungsi, yakni sebagai (a) pengarah kegiatan atau pedoman bagi seluruh pekerjaan untuk mencapai tujuan pembangunan; (b) perkiraan kebutuhan tentang barang, orang, tempat, waktu, peluang, dan tantangan yang demikian ketidak pastian akan persiapan dapat diminimalisasi sesedikit mungkin; (c) upaya memilih opsi atau alternative cara kegiatan dan jenis, bentuk, ukuran, barang terbaik. Produk kegiatan ini adalah skala prioritas; dan (e) ada standar evaluasi atau pengawasan terhadap setiap kegiatan yang direncanakan. B. Definisi Perencanaan, Pendidikan, dan Perencana an pendidikan. Perencanaan, didefinisikan Kaufman (1972:8) sebagai a projection of what is to be accomplished to reach valid and valued goals. Sasaran kerjanya concerned with determining what is to be done diadakan sebelum memulai pekerjaan, untuk menentukan where to go and identifying the requirement for getting there is the most effective and efficient manner possible. Koontz at all (1984:103) menegaskan tujuan dari planning is to facilitate the accomplishment of enterprise purpose and objective atau juga disebutkan sebagai to make the future better than the past. Dalam perencanaan diperlukan imajinasi tentang masa depan lingkungan pendidikan dan komunitas manusia pada aspek-aspek nilai, tujuan, dan struktur sosial komunitas yang akan dijadikan sasaran perencanaan. Dalam kaitan inilah perencanaan merupakan proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang (Fakry Gaffar (1987:14).Dalam Udin dan Abin (2007:5) planning is trying to understand the present situations, to analyze it in formal way. Sementara menurut Harvey S Perloff and Benyamin Handler, "planning as blending of procedure and content", yang di dalamnya terliput saling hubungan antara penduduk, objek phisik, dan kekuatan lingkungan, sehingga dapat dikatakan bahwa "planning is concerned with the conservation of resources" juga di dalamnya "must include such characteristics as economics, politics, social factors, budgeting and patterns of living. Catatan lain tentang definisi ini adalah, Banghart and Trull membedakan perencanaan dengan rencana. 'Preparing to do' is called planning, and 'communicating what is to be done' is called a plan. Dengan melihat beberapa definisi dan kandungan yang tersirat di dalamnya, dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah keputusan menetapkan keadaan masa depan yang

valid dan bermakna melalui formulasi kegiatan menentukan kebijaksanaan, prioritas, biaya, dan system yang baik, benar, argumentatif, sistimatis, yang diproyeksikan untuk mencapai tujuan pembangunan. Pendidikan sebagai suatu proses adalah upaya pelayanan optimalisasi pengembangan potensi dasar manusia, baik dalam hal berketuhanan, kekhalifahan, berpikir, berilmu, dan bertindak bebas. Sementara sebagai suatu lembaga, pendidikan merupakan miniature dari sistem sosial yang melibatkan berbagai elemen sosial dalam suatu komunitas.
Sebagai suatu proses kegiatan, pendidikan merupakan pelayanan jasa yang beragam dan berjenjang. Hasil yang diperoleh terdidik/murid sebagai penerima layanan, ditentukan oleh pemberi layanan (sistem persekolahannya), dan murid tersebut sebagai penerima layanan, dan malah jadi faktor dominannya. Pendidik tidak dapat menjalankan fungsi mengajar melatih dan membimbing tanpa kehadiran dan kesiapan terdidik. Sebaliknya terdidik tetap dapat menjalankan fungsi belajar dan berlatih tanpa kehadiran pendidiknya, manakala memiliki kesiapan fisik maupun psikhis untuk kegiatan belajar.

Terdidik adalah subjek yang dilayani, yakni manusia dengan sifat-sifat basyariyah (phisik), insan (psikhis) dan naas (sosial)nya, memiliki potensi dasar dengan kapasitas dan kecenderungan masing-masing yang berbeda-beda. Dia adalah manusia yang bersifat aktif, bergerak sejak awal kelahirannya. Dalam pada itu "ilmu dan sikap" sebagai bahan layanan pendidikan, bukanlah seperti tinta yang dituliskan pada kertas putih, tapi lebih sebagai biji-bijian yang ditaburkan pada tanah yang mengandung berbagai zat dan mineral, yang dapat menolak atau menerima bibit sesuai dengan cocok tidaknya keadaan benih tersebut. Terdidik juga bukanlah seperti kertas kosong yang menerima pasif segala perlakuan penulis, dan bukan pula merupakan kekuatan dinamik yang tidak berkorespondensi dengan lingkungannya. Terdidik adalah manusia yang bersifat dinamik namun juga "potensial" untuk dipengaruhi lingkungannya. Ia adalah manusia yang dapat bebas menentukan sikap dan tujuan hidup, tapi juga terikat oleh sikap dan tujuan hidup pilihannya justru dalam rangka menjaga kebebasannya. Perencanaan Pendidikan Education system Planning is the identification of all requirement for meeting identified, document needs. It includes the use of the tools associated with needs assessment and system analysis (Kaufman, 1972:25). Sementara menurut Beeby (1984:6) Perencanaan pendidikan adalah kegiatan memandang masa depan dalam menentukan kebijaksanaan, prioritas, biaya, dan system pendidikan yang diarahkan kepada kenyataan ekponomi dan politik, untuk pengembangan system itu sendiri, kebutuhan Negara dan murid-murid. Dalam pada itu Banghart dan Trull (p.333) berpendapat bahwa Educational Plan is a variation on the general systems approach to planning, involving the total activity systems of education and the community that influences the overall operation. Unsur penting dalam pembuatan perencanaan pendidikan, adalah hal-hal sebagai berikut. (a) parameter dalam dan luar perencanaan, untuk ini diperlukan metoda analisis yang rasional dan sistematik; (b) identifikasi dan proyeksi masa depan sebagai tujuan. Hal ini berimplikasi terhadap perhitungan SDM, jumlah bangunan, kebutuhan dan sumber finansial yang disebar kepada periodisasi dana & waktu.

(c) menegaskan hubungan antara pengembangaan sistem pendidikan dengan pengembangan masyarakat dan bangsa seluruhnya, Dalam kaitan inilah perencanaan pendidikaan berfungsi sebagai tools pembangunan untuk membangun manusia pembangunan; (d) Penyusunan rancangan yang link and match antara para lulusan dengan kebutuhan SDM baru, baik pada tingkat lokal, regional, nasional, atau malah global. . Bentuk Kegiatan Perencanaan Pendidikan. Perencanaan sebagai proyeksi tindakan ke depan untuk mencapai tujuan yang benar dan bermakna, meliputi berbagai kegiatan yakni 1.. mengidentifikasi dan mendokumentasi kebutuhan; 2. menyeleksi prioritas kegiatan; 3. membuat ciri2 rinci tiap kebutuhan tersaring; 4. mengidentifikasi syarat2 pencapaian kebutuhan tersaring, termasuk membuat spesifikasi pemecahan masalah yang mungkin timbul; 5. mengidentifikasi tahapan-tahapan hasil kegiatan serta menentukan cara pengawasannya; dan 6. mengidentifikasi strategi alternative (untung-rugi) yang mungkin serta menyempurnakan tiap persyaratan untuk memenuhi tiap kebutuhan.(Kaufman, p.6). Dimensi. Seorang perencana perlu memahami sembilan dimensi (tingkat, ukuran, dan besaran) rendik supaya rendiknya komprehensif dan efisien Pertama, Signifikansi. Kepentingan masalah rendik tergantung tingkat signifikansi kepentingan masyarakat menentukan tujuan, garis besar, dan kriteria evaluasi pendidikan. Hal ini harus jelas supaya para pemerhati mudah mengobservasi keberhasilan atau kegagalan suatu kegiatan pendidikaan. Kedua, fisibilitas(feasibility). Hal ini terkait dengan otoritas politik, peluang teknologi, estimasi pembiayaan, serta aspek lain berdasarkan pertimbangan yang realistik. Ketiga, Relevan (relevance), yakni kesesuaian dengan tujuan, peluang untuk diteraplaksanakan memecahkan masalah, disamping sebagai gambaran optimalisasi proses mencapai tujuan spesifik. Keempat, kepastian (definitiveness), yakni identifi kasi program berdasarkan pemikiran yang paling argumen tatif. Untuk memperolehnya dapat melalui simulasi, sehingga reel perencanaan bertumpu pada data yang dapat dipercaya. Kelima, Hemat (parsimoniousness), "should be outlined in the simplest manner". Perencana harus memilih solusi yang paling efisien. Keenam, sesuai (adaptability), yakni bersifat dinamik dalam perubahan sesuai dengan masukan informasi pada sistem yang dikembangkan. Ketujuh, masa depan (time). Pertama, waktu merupakan siklus alamiyah, kedua, kebutuhan untuk berubah sesuai dengan berlalunya waktu, ketiga, ada batas target waktu yang harus ditentukan dalam perencanaan, keempat, waktu juga mempengaruhi kemampuan menilai kebutuhan pendidikan terkait dengan kehidupan masa depan. Kedelapan, monitoring terkait kepada dua aspek. Pertama keperluan efektivitas ruang, waktu dan biaya, dan kedua, argumentatif untuk kelancaran kegiatan, dan penetapan prosedur. Kesembilan, Pokok bahasan yang jadi bahan rendik (Subject Matter), terdiri atas: (a) tujuan dan sasaran, yakni output proses pendidikan dari seluruh bahan ajar. (b) program dan pelayanan, yakni pengorganisaasian pembelajaran dan daya dukungnya. (c) Sumber Daya Insani (SDI), yakni upaya-upaya pengembangan kinerja, interaksi, spesialisasi, perilaku, kompetensi, pertumbuhan dan kepuasan/kebahagiaannya. (d) Sumber Daya Phisik, yakni penggunaan fasilitas, bentuk distribusi, cara memperolehnya, serta pemanfaatannya. (e) Pembiayaan, yakni pengeluaran, perolehan terkait penggunaan SDI dan SDPhisik. (f) Struktur pengorganisasian,

yakni cara mengor ganisasi dan mengatur kegiatan dan pengawasan program dan aktivitas pendidikan, dan (g) konteks social, yakni sumber-sumber yang harus terlibat dalam system pendidikan (Banghart and Trull, p.7-11). Perencanaan Pendidikan berfungsi sebagai 1. Pengendali tujuan kegiatan, 2. Gambaran kehidupan masa depan; 3. tool of development masa yang akan datang, 4. Perpaduan tujuan pembangunan atau kelembagaan dengan realitas kemampuan lapangan, karena itu indikator bahwa suatu perencanaan itu bermutu baik, ialah manakala dapat dilaksanakan di lapangan, dan ke 5. Membangun manusia pembangunan. Disini akan terjadi sinergi system antara pembangunan dan pendidikan yakni manusia pembangunan sebagai produk pendidikan, dan proses pendidikannya sendiri sebagai produk pembangunan(K:1-9;SU:1-8).

Bab Menentukan kebutuhan Pendidikan Tujuan dan Bentuk Perencanaan Pendidikan (K2851). Menentukan Kebutuhan Pendidikan Penentuan kebutuhan pendidikan (need assessment) diawali oleh upaya mencermati seluruh komponen yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, seperti murid, guru, bangunan, proses pembelajaran, perpustakaan, keuangan, menajemen, dst.nya. Hasilnya berupa daftar kebutuhan terkait dengan pelaksanaan pendidikan, skope dan bidang perencanaan pendidikan, perluasan isu pemecahan masalah, efektivitas analisis masalah, dan kesadaran umum tentang bentuk penyelesaian masalah. Seperangkat prosedur dapat ditetapkan, antara lain sebagai berikut. (1) melaksanakan penelitian, (2) menggunakan fakta empirik sebagai dasar menentukan kebijakan, tujuan, program dan prosedur; (3) menetapkan standar tiap item butir dua; (4) menggunakan standar; (5) menetapkan kondisi untuk penerapan, atau revisi, atau menetapkan penyimpangan dari standar; (6) Mengatur distribusi fungsi utk meminimalisasi penyimpangan dan perbedaan; (7) menyederhanakan proses tahap-tahap penentuan kebutuhan; (8) menetralisasi perhitungan dan mempelajari masalah yang ditemukan; (9) memelihara hubungan teori dan praktek sebagaimana diungkapkan Theory and practice are not separate, there is the constant interchange, a feedback system (Banghart and Trull:93). Dalam pada itu perlu ditegaskan bahwa berpikir tentang masa depan dipengaruhi kekuatan luar dalam bentuk sejarah dan budaya yang secara dinamik ada dan terus berkembang pada para perencana, dan menjadi modal utama munculnya visi. Dari latar sejarah dan budaya tersebut, kemudian visi tersebut secara sinergi berkembang spiral antara enam komponen(value-policyplanning-technique-means-end)yang terlibat di dalamnya. Tiga partner pendidikan harus selalu dicermati bagi suksesnya pendidikan, yakni (a) pelajar, (b) orangtua dan anggota masyarakat; dan (c) para guru atau para pelaksana proses pendidikan. Hubungan ketiga unsur penting tersebut saling terkait antar satu dengan yang lainnya, saling terikat mempengaruhi secara searah, yakni masyarakat mempengaruhi kebutuhan pelajar, kemudian pelajarpun mempengaruhi kebutuhan guru, dan guru mempengaruhi kebutuhan masyarakat. Namun pada saat yang sama pelajar terikat pada keadaan masyarakat, masyarakatpun terikat pada keadaan guru, dan gurupun terikat pada keadaan pelajar. Beberapa hal yang harus menjadi bagian analisis dari ketiga unsur tersebut adalah: (1) menggambarkan realitas tiap unsur; (2) menggambarkan trend tiap unsur sesuai persepsi mereka; (3) menggambarkan persepsi tiap unsur terhadap yang lainnya baik masa kini maupun masa yang akan datang; menggambarkan keterkaitan dan ketidak terkaitan antar unsur dalam persepsi masa kini dan persepsi masa yang akan datang. Tiga Model Penentuan Kebutuhan Terkait tiga unsur tersebut terdapat tiga model bagi penentuan kebutuhan yakni model induktif, model deduktif, dan model klasik. Model Induktif secara beruntun dan bertahap mengikuti kegiatan sebagai berikut. (1) mengidentifikasi perilaku saat kini; (2) mengkompilasi dan mengklasifiksi perilaku pada program dan bentukan perilaku; (3) Bandingkan dengan tujuan umum; (4) mengga bungkan kesenjangan; (5) menyusun tujuan secara ditil; (6) mengembangkn program pendidikan; (7) mengimplemen tasikan program pendidikan ; (8) mengevaluasi hasil pendidik an; dan (9) revisi.

Model Deduktif secara beruntun dan bertahap mengikuti kegiatan sebagai berikut. (1) mengidentifikasi dan menyeleksi tujuan pendidikan, (2) mengem bangkan ukuran-ukuran kriteria, (3) menyusun syarat perubahan, (4) mengumpulkan data dan mengukur kesenjangan, (5) menyusun tujuan secara ditil, (6)mengembangkan program pendidikan, (7)mengimple mentasikan program penddikan, (8) mengevaluasi hasil didik an, (9) revisi. Model Klasik secara beruntun dimulai dari kegiatan sebagai berikut. (1) Tujuan umum; (2) mengembangkan program; (3) mengim plementasi program pendidikan; (4) mengevaluasi. Analisis Bentuk Kegiatan Secara komprehensif hal-hal yang terkait dengan setiap langkah kegiatan, hendaklah dirinci dalam bentuk sebagai berikut. Pertama, dideskripsikan secara persisi dengan melihat realitas kehidupan masyarakat dari berbagai aspek kehidupannya seperti keagamaan masyarakat, sosial budaya, sosial ekonomi, dan sosial politik(Kaufman, C.III) Kedua, menguraikan bidang masalah perencanaan melalui analisis tujuan pendidikan. Termasuk pada kegiatan ini mempelajari bidang dan bagian-bagianya, mengumpulkan, tabulasi dan meramal data, yang kesemuanya mengarah kepada penyeleksian jenis dan bentuk prioritas kegiatan. Uraian masalah pendidikan yang terkait dengan tujuan pendidikan, meliputi hal-hal sebagai berikut. (a) subsistem komponen aktivitas pendidikan, (b) subsistem komunikasi pendidikan seperti gerakan, informasi dan energi, (c) subsistem fasilitas, dan (d) subsistem operasional. Ketiga, mengkonsep dan merekayasa perencanaan. Termasuk ke dalam kegiatan ini adalah mengidentifikasi berbagai kecenderungan arah masa depan dengan membuat ciri-ciri rinci dari tiap kebutuhan yang tersaring, menetapkan tujuan dan sasaran, serta mendisain perencanaan; Keempat, merencanakan penilaian melalui perencanaan simulasi, merencanakan evaluasi, serta menyeleksi perencanaan. Dalam kaitan ini dilakukan identifikasi jenis dan jumlah persyaratan bagi penca paian kebutuhan, disamping membuat spesifikasi pemecahan masalah yang mungkin timbul; Kelima, mengidentifikasi tahapan-tahapan hasil kegiatan serta menentukan cara pengawasannya. Diperlukan ukuran yang jelas dan tegas mengenai hasil setiap kegiatan, sebab pada kegiatan yang berkelanjutan, setiap kegiatan pada dasarnya merupakan prasyarat bagi kegiatan selanjutnya. Keenam, mengidentifikasi strategi alternatif yang mungkin serta menyempurnakan tiap persyaratan untuk memenuhi tiap kebutuhan. Termasuk menginventarisasi kemungkinan keuntungan atau kerugian dari tiap tindakan yang direncanakan. Bab . Mission analysis, mission objective, performance requirement, mission profile function Analysis, Task Analysis, Method-means Analysis (K:52-116) Analisis Misi Tujuan umum analisis sistem adalah mengidentifikasi keperluan dan cara-cara yang dimungkinkan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dimulai dari masalah yang didasarkan

pada data dokumen, kemudian dianalisis (diidentifikasi ciri-ciri masalah), ditentukan hubungan antar bagian masalah, terus mengukur cara terbaik semua kemungkinan memecahkan masalah pada setiap bagian (atau bagian dari bagian, subpart) masalah. Dalam hal kegiatan pendidikan, biasanya identifikasi masalah bersifat relatif global, beragam, datang dari banyak sumber, dan dituntut untuk efisien dan efektif. Dalam kaitan inilah analisis sistem pendidikan diawali oleh analisis misi-nya. Misi adalah keseluruhan tugas yang harus diselesai kan. Masalahnya adalah dimana sekarang berada? kemana tujuan? Apa ukuran telah sampai ke tujuan? Apa langkah utama yang harus dikerjakan supaya sampai ke tujuan? Dua hal yang diperlukan. Pertama, sasaran misi dan pesyaratan kinerja, dan kedua, profil misi. Kedua hal ini harus terus menerus dijadikan pegangan selama proses pendidikan berjalan. Sasaran misi adalah kinerja sesuai kualifikasi outcome misi, yakni tujuan akhir yang dapat diukur. Sasaran misi merupakan pernyataan tentang apa yang harus dikerjakan, peralatan yang harus dipersiapkan, subjek penentu dan pengukur hasil, kapan hasil dikemukakan, serta kriteria ketercapaian tujuan. Dengan demikian sasaran misi menggambarkan dimana mulai kerja, dan apa yang harus dicapai. Semua subjek yang terlibat harus memahami prinsip-prinsip penilaian terhadap tercapai atau tidaknya misi. Dalam dunia pendidikan hal yang tidak boleh dilupakan adalah focus on the learner. Persyaratan Kinerja Persyaratan kinerja adalah kriteria unsur-unsur utama sasaran misi, sehingga perolehan misi tersebut terukur, seperti (a) kriteria sasaran misi yang terukur; (b) peran-peran yang mempengaruhi keluaran/produk seperti peran lingkungan, biaya, personil, dan lain-lainnya yang givens. Definisi Persyaratan Kinerja Persyaratan kinerja meliputi cara pengerjaan produk, kondisi untuk mengerjakan produk, karakteristik disain produk, spesifikasi kinerja dan aturan pengembangan kinerja. Sebagai contoh dapat dikemukakan pernyataan sebagai berikut. Siswa Tsanawiyah Srah Tarjuning Rahayu Ciawi harus dapat nilai 60/90 (60 % populasi siswa memperoleh angka 90 atau lebih tinggi sesuai kriteria ujian) mata ujian Bahasa Arab pada kurikulum baru, dari soal-soal ujian yang bobot mutunya kurang lebih sama. Persyaratan kinerja ini harus melibatkan seluruh staf dalam perumusannya, hasilnya merepresentasikan persepsi yang harus dikerjakan staf sehingga dengan demikian mereka mengetahui indikator kegagalan atau keberhasilan suatu pekerjaan. Perencana pendidikan harus menilai kemungkinan pelaksanaan persyaratan. Karena itu manakala pernyataannya telah demikian rinci, objektif, memakai istilah yang terukur, maka persyaratan kinerja harus menyiapkan kriteria dengan ketentuan-ketentuan tentang kemungkinan pencapaiannya. Daftar Persyaratan Kinerja Untuk memudahkan identifikasi persyaratan kinerja, dibuat form tabulasi yang dikaitkan dengan setiap item persyaratan kinerja melalui sejumlah fungsi. Sistem analisis akan mengidentifikasi lebih banyak lagi fungsi. Rintangan Rintangan yang cukup dominan hendaklah diidentifikasi dalam analisis misi. Sebab hal itu dapat dimasukkan kepada persyaratan kinerja. Dengan demikian jika terdapat rintangan berupa biaya dalam pelaksanaan sehingga operasional misi tidak dapat jalan, maka masukkan saja jumlah biaya yang diperlukan tersebut sebagai persyaratan kinerja. Bila persyaratan kinerja tidak dapat dicapai, maka harus kembali kepada formulasi misi. Inilah yang disebut rintangan

misi ideal yang dicanangkan saat awal formulasi. Rintangan dapat diselesaikan melalui beberapa jalan. Menghadapi rintangan dapat diatasi melalui (a) bertindak kreatif mengembangkan ide baru (termasuk mere formulasi tujuan misi atau merubah persyaratan kinerja.) (b) formulasi ulang (baik dengan merubah operasional rintangan, atau kompromi relative persyaratan kinerja atau capaiannya, contoh: deviasi nilai yang dicanangkan 3, bila terlalu berat deviasinya jadi 5), dan (c) dihentikan manakala ada indikasi misi akan gagal lantara rintangan terlalu besar. Tujuan misi sebaiknya berisfat spesifik, sehingga kriteria yang dikemukakan dapat terukur dan mudah diidentifikasi baik pada dokumen awal maupun dokumen yang dikembangkan atas dasar realitas lapangan. Tanpa ada hal ini, berarti perencana pendidikan akan terbayangi kegagalan sejak awal pekerjaan, sebab tidak tahu darimana dan akan kemana. Data keras yang kuat dan benar (valid) diperlukan pa da seluruh tingkatan perencanaan, baik pada pencapaian tuju an bawah, tujuan misi, ataupun rincian persyaratan kinerja. Profil Misi Bagi seorang perencana pendidikan, dua hal utama yang harus terus menerus diingat ialah (a) apa yang dapat dikerjakan (tujuan misi) dan (b) persyaratan kinerja untuk mencapai misi. Hal ini berarti sadar akan dimana sekarang dimana seharusnya nanti dan apa yang harus dikerjakannya. Dengan demikian profril misi pada dasarnya adalah gambaran cara kerja untuk mencapai produk atau hasil akhir. Analisis Penyiapan Profil Misi Telah dikemukakan bahawa identifikasi gembaran kebutuhan merupakan bagian dari perkiraan kebutuhan yang biasa disebut analisis kesenjangan (discrepency analysis). Catatan tentang analisis kesenjangan ini merupakan gambaran terus menerus dari analisis sistem. Artinya kegiatan harus ditekankan pada apa yang harus dikerjakan untuk menghilangkan jarak. Dalam analisis misi gambaran dimana seharusnya nanti menunjukkan keharusan adanya kumpulan data sebagai tujuan misi dan persyaratan kinerja. Cara Mendapatkan Profil Misi Langkah Pertama, memformulasikan sasaran misi dan persyaratan kinerja yang menentukan tempat mulai kegiatan dan akhir penyelesaian misi, kemudian menggambarkan keadaan tetap (status quo), yang daikhiri dengan membuat daftar fungsi-fungsi yang diperlukan dengan alur pikir yang logis, dan tidak perlu mengemukakan bagaimana tugas harus dikerjakan. Langkah kedua, mengidentifikasi dan mendaftar tugas dalam misi. Hal ini dimaksudkan untuk memeriksa alur pergerakan antar fungsi supaya kegiatan jangan berhenti. Langkah ketiga, hasil identifikasi dari semua fungsi utama dalam profil misi tersebut, diuji/diperhadapkan dengan kebutuhan, tujuan misi, dan persyaratan kinerja, dalam rangka menjaga konsistensi antara validitas fungsi dan validitas eksternal yang didasarkan kepada kebutuhan. Langkah keempat, menelusuri kembali ketepatan fungsi dari sejak langkah awal sampai akhir. (hal.62) Analisis Fungsi Fungsi adalah kumpulan tugas yang harus dikerjakan bagi pencapaian tujuan atau produk tertentu. Analisis fungsi dimulai dengan memperkirakan kebutuhan, tujuan missi, persyaratan yang diharuskan, dan profil misi. Pada saat yang sama, analisis fungsi juga mengurai dan mengidentifikasi apa (bukan mengapa) yang harus dicapai dengan tugas yang menjamin keberhasilan tujuan dari missi dan penampilannya. Dengan demikian analisis fungsi adalah (a)

menguraikan apa yang harus dikerjakan, dan (b) menentukan tugas-tugas dan hasil yang harus dicapainya. Tingkatan Analisis Fungsi Hubungan fungsi dan subfungsi diidentifikasi melalui proses analisis fungsi. Sebagaimana disebutkan di atas fungsi adalah bagian kegiatan yang kontributif terhadap hasil atau produk. Hasil yang lebih besar terkait pada fungsi yang lebih tinggi. Fungsi tertinggi sama dengan missi. Catatan pokoknya adalah setiap fungsi berarti bagian dari sesuatu yang harus dicapai atau dikerjakan. Fungsi awal merupakan induk dari subfungsi sesudahnya. Keterkaitan antara fungsi missi dengan analisis fungsi, dapat dikemukakan dalam formulasi yang operasional dan jelas, dengan mengambil contoh-contoh tjuan pembelajaran di kelas (SU: file analsis fungsi). Peran Analisis Fungsi Perlu ditegaskan bahwa analisis fungsi sama sekali tidak dimaksudkan untuk mempersulit proses. Namun untuk 1) memfasilitasi cara atau jalur-jalur pekerjaan serta memperlihatkan cara menyelesaikan sesuatu yang harus terjadi. 2) menampilkan jalur komunikasi dengan yang lainnya. Satu catatan yang tidak boleh dilupakan bahwa fungsi berarti sesuatu yang harus dikerjakan atau hasil suatu kegiatan, (a function is something to be achieved or done), bukan proses atau cara. Setiap tingkatan analisis system pada dasarnya berhubungan dengan tingkatan analsis lainnya. Proses analisis sistem berawal dari perkiraan kebutuhan yang menjadi pembeda antara apa yang ada dengan identifikasi apa yang diinginkan. Setelah itu menentukan dasar atau inti tujuan misi, sebagai jembatan yang menghubungkan antara perkiraan kebutuhan dengan analisis misi. Dengan demikian analisis misi mengidentifikasi tujuan misi, kinerja yang diperlukan (the performance requirement) dan profil misi, serta tingkatan analisis yang saling berhubungan dan konsisten secara internal antar logika bagian satu dengan yang lainnya. Profil misi yang merupakan puncak analisis fungsi merupakan jembatan antara analisis misi dengan analisis fungsi. Analisis Tugas Tugas adalah unit kinerja yang manakala dikumpulkan maka merupakan gambaran fungsi. Analisis tugas berarti form daftar dan gambaran langkah terakhir dari analisis sistem, merupakan peringkat terbawah dari identifikasi fungsi. Dengan demikian perbedaan antara analisis misi, analisis fungsi, dan analisis tugas, bukan pada jenis tapi pada tingkatan (difference of degree rather than of kind). Analisis Alat-alat Metode (Methods Means Analysis) Analisis alat metode adalah mengidentifikasi sebanyak mungkin metode dan uraian tentang keuntungan dan kerugian masing-masing metode untuk mencapai persyaratan kinerja.yang teridentifikasi dalam uraian sistem. Analisis metode ini dimulai segera setelah ditentukan persyaratan kinerja untuk lahirnya produk sesuai identifikasi. Bila persyaratan terpenuhi, analisi dilanjutkan, bila tidak terpenuhi, analisis diulang lagi dengan opsi-opsi sebagai berikut. 1. Merubah persyaratan kinerja, 2. Menemukan alat yang mungkin mencapai persyaratan kinerja, atau 3. Mendefinisi ulang batasan persyaratan kinerja, atau 4. Menghentikan kegiatan pada saat itu.

BAb ..Konsep dan Disain Perencanaan: dimulai dengan memahami Kecenderungan, Menetapkan Sasaran dan Tujuan, Merancang Perencanaan (BT, 1973:207-292) rendik III, dst.nya. A. Memahami Kecenderungan Umum Dalam pembuatan rendik, para perencana harus menstudi pola dan kecenderungan fungsi manusia dalam lingkungannya, pemanfaataan SDM dan Sumber Daya Phisik, untuk sebanyakbanyaknya keuntungan manusia dan perekonomian. Demikian juga studi pengaruh lingkungan phisik terhadap perilaku manusia, studi tentang keseimbangan peran dan aturan formal dan informal. Setelah itu studi ditekankan pada hakikat dan tujuan infrastuktur. Dua macam infrastruktur, yaitu bagian visible dan invisible. Bagian visible adalah elemen yg langsung digunakan saat aktivitas seperti meja kursi, kamar kecil, listrik, partisi, dst.nya. Inilah yang disebut pengisi infrastruktur, sedangkan bagian invisible adalah lelemen yang tidak langsung digunakan seperti jaringan air, jaringan listrik dst.nya, disebut infrastruktur. Terdapat tiga kemungkinan menyusun infrastuktur. Pertama, infrastruktur linier, deskripsinya seperti pohon, manfaatnya untuk mensuplai komoditas seperti air, listrik, lalu lintas dst.nya. Kedua, infrastruktu Planar terkait dengan suplai komoditaas juga namun merupakan jaringan kerja yang ketat dalam suatu perencanaan, gambarannya seperti jala jaringan keja. Ketiga, infrastruktur spatial, terkait dengan suplai komoditas yang berbentuk jaringan kerja berlubang. Suatu kota pada dasarnya merupakan gabungan rumit dan dinamis dari ketiga macam infrastruktur tersebut. Karena itu mendisain perencanaan diawali dengan mendeskrip sikan berbagai faktor atau elemen sebagai berikut. 1. Tingkat kepadatan penduduk, jenis kegiatan, dan bentuk jaringan infrastruktur, mempengaruhi orang, tempat, pergerakan, ekonomi, aktivitas, yang semuanya berpengaruh pada proses pendidikan 2. Perkembangan kehidupan masyarakat terkait dengan karakter individu-individunya dalam merubah atau menyesuaikan diri dengan lingkungan, cukup kuat mempenaruhi perkembangan individu. Planner harus mmfasilitas siswa mngembangkn kmampuan eksplorasi dan intelektualnya, sehingga pendidikan tersebut betul-betul berbasis keterlibatn siswa pada lingkngannya, dan tercipta keseimbangan antara kebenarn individu dan kebenaran kelompok sosial, budaya, dan ekonomi. Sebagai catatan perlu ditegaskan bahwa dipicu perkembangan iptek, perubahan sosial bergerak sangat cepat 3. Kemampuan iptek merubah lingkungan phisik yang mempengaruhi perubahan siswa, sehingga make him be at home in a created environment, dan berdasar pengaruh tersebut, siswa merubah lingkungan, baik yang sifatnya psichologis maupun budaya, yang secara berkelanjutan keduanya mempengaruhi orang-orang yang berada dalam lingkungan tersebut, man is continuously adapting animal, sesuai dengan persepsinya terhadap lingkungannya. 4. Pergerakan urbanisasi manusia dari pinggir kota ke pusat kota, jenis pemakaian kendaraan (pribadi atau massal), efisiensi gerakan dan biaya, mode kendaraan, jumlah dan isi kendaraan, serta rute, operasi, pemilik, fasilitas, dan pengenalan. 5. Planner juga harus mendeskripsikan kegiatan ekonomi, yang issunya biasanya besar, penting, luas, kompleks, namun biasanya kekurangan data, dan aparat pemerintah tidak effektif mengatasinya. 6. Bentuk dan trend yang berkmbang pada kegiatan. Aktivitas pendidikan saling terkait dg transportasi, ekonomi, sistem sosial, komunikasi dan sistem politik. Faktor2 ini terlihat atau tdk terlihat saling terkait secara tetap. Perubahan besar salah satu faktor akan langsung

mempengaruhi bentuk dan kecenderungn aktivitas yang lainnya. Dalam kaitan ini banyak penyiapan fasilitas pendidikan lebih merujuk kepada keperluan masyarakat kota. 7. Beberapa kemungkinan trend rendik, terkait dengan bentuk individu,kelompok, kesamaan tujuan (keluarga, lembaga, perusahaan), yang terus berubah sesuai dengan perkembangan sosial, teknologi, kekayaan, dan sistem politik. Menetapkan Sasaran dan Tujuan, Keragaman kepentingan masyarakat, ekonomi, dan public mempengaruhi pembuatan keputusan pendidikan, yang memrlukan adanya alternative. Untuk pemilihan diperlukan struktur logika, criteria sehingga tercapai efektivitas. Namun demikian tidak harus menunggu secara sistimati penyelesaian perencanaan secara lengkap pembangunan kota dan atau kesepakatan seluruh warga. Terdapat beberapa penunjang atau hambatan bagi terbentuknya perencanaan pendidikan. Pada bagian ini, tujuan (goal) pendidikan disebut dalam term makna, hakikat, fungsi, dan karakteristik. Peran Tujuan dalam Rendik Tujuan Perencanaan Pendidikan. Istilah tujuan dalam perencanaan pendidikan terkait ruang lingkup kerja serta hasil akhir dari suatu kegiatan. Ada goal, objective, target, dan task. Istilah goal merupakan ujung dari akhir perencanaan (Goals are ends for which a design is made). Sedangkan Objective adalah tujuan antara sebagai bagian dari goal. Target adalah tujuan antara yang merupakan bagian dari objective, dan kemudian task adalah tujuan yang merupakan bagian dari target. Terdapat empat macam tipe goals. 1.Tujuan berupa optimalisasi dalam bentuk, seperti rendah biaya hasil excellence; 2. Tujuan yang memuaskan, seperti pendidikan untuk semua; 3. Tujuan incremental (semakin naik) seperti menambah jumlah kelas; 4. Berbentuk Positif atau negative, seperti member ruang lebih untuk belajar. Terkait dengan arah kehidupan, goals harus relevan, realizable, dapat di-operasionalkan, general, community oriented, dan jangka panjang. Pengembangan Goals Dalam rangka pengembangan tujuan akhir, para perencana memerlukan pertimbangan tentang berbagai hal. 1. Memperhatikan a.tujuan umum belajar, b.antisipasi masalah baru, c.metode yang akan digunakan, d.hubungan pelajaran lama dan baru, e.diskusikan hubungan antar sekolah, distrik atau bagian negara. 2. Mempelajari latar belakang masalah melalui studi SWOT dan penyebabnya sampai terjadi situasi terakhir, 3. Tetapkan titik awal kerja sesuai proses rendik dan fokuskan pada target serta gunakan cepat masukan dari balikan (feedback) Tujuan Akhir Rencana Pendidikan 1) Masalah sosial, phisik, dan finansial kelompok kecil yg menghambat partisipasi aktif kegiatan komunitas; 2) Memfasilitasi individu membuat keputusan pribadi; 3) Memfasilitasi keragaman jabatan, warna kulit, kelas sosial atau kepercayaan; 4) Melibatkan individu pada kehidupan masyarakat;

5)

Menyiapkan individu untuk dunia kerjanya.

Hubungan antara goals dan objective Goals dapat tercapai melalui objective, target, dan tasks. Namun dalam menyusun formulasinya, goals disusun berdasarkan nilai yang dianut, untuk kemudian dari goal tersebut diturunkan rencana pendidikan. Dengan demikian bagan alurnya dapat digambarkan sebagai berrikut. Value Goals Rendik y Dalam pada itu bentuk objective yang dirancang untuk maksud pembuatan strategi perencanaan : 1. dirancang utk pelayanan; 2. sasaran alternatif dirancang untuk mengembangkan fasilitas layanan; 3. susunan dapat merupakan kombinasi dari beberapa hal yang belum ada. 4. term dalam bentuk operasional tidak abstrak; 5. alternatif ditentukan pada setiap sasaran; 6. maksimalkan sasaran berdasarkan input yang pasti atau mnimalisasi input untuk sasaran yang pasti. 7. diformulasi sebagai hasil dialog antara perencanaan pendidikan dengan representatif wakil publik Skema/Rencana Rancangan (Designing Plans) Skema Rancangan didasarkan pada pertimbangan apa, mengapa, dan kapan, filsafat, sasaran dan proses pendidikan perkotaan yang ada. Tanpa pemahaman pada item-item tersebut, rancangan tidak akan efektif. Diperlukan definisi yang lngkap mengenai rancangan, walau kadang bersifat subjektif dan luas. Disain Kota harus memberikan ruang sentuhan antar individu (S.Giedion), atau lingkungan kemanusiaan yakni orang-orang, bangunan, ruang, dan layanan sehingga memiliki makna, vital, dan pengalaman indah, untuk pengembangan kehidupan yang lebih baik (Orlindo Grossi). Disain tersebut harus menciptakan harmonisasi antar manusia, teknologi, alam, pengembangan bagian kota yg berbeda-beda, menurut fungsi, dan hubungan efisien antara satu dengan yang lainnya (l.Hilberseimer, p.273), atau Seni dan ilmu utk memecahkan kesemrawutan kehidupan kota (William N. Bryger), demikian dikutip Banghart and Trull:272-273, yang kemudian menegaskan adanya enam ciri yang saling berhubungan yakni riset (analisis), disain (sintesis), produksi (formasi), distribusi (penyebaran), Utilisasi (kinerja) dan eliminasi (penghentin). Konsep Designing Plans Konsep rancangan perencanaan melibatkan tiga unsur utama yakni bahan (material), bentuk (form), dan saling hubungan yg dinamis antar komponen di dalamnya. Bahan adalah is a basic building block that is derived from the physical environment. Sedangkan bentuk adalah the arrangement of material. Adapun hubungan dinamis adalah susunan kegiatan dari macam ragam kegiatan dalam kesatuan yang terintegrasi. Rancangan perencanaan dibentuk berdasarkan kombinasi kemampuan teknis mengekspressikan idea, kreativitas (keselarasan, kesatuan, keindahan, dan fungsi dari lingkungan alam), dan imajinasi. Rancangan merupakan resultante dari tiga hal : pemahaman okum alam, ide dan imajinasi sendiri, dan pemahaman atas sifat dan keperluan orang. Hal-hal yang Memepengaruhi Rancangan

Rancangan merupakan kegiatan yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak hal. Diantara factor-faktor yang mempengaruhi tersebut adalah budaya, polititk, lingkungan alam dan lingkungan buatan, iklim, psikologi, teknologi, pertukaran sosial dan pertukaran budaya. Pertukaran budaya mempengaruhi teknologi dalam struktur lingkungan dan kekuatan komunikasi. Dalam kaitan inilah perencanaan merupakan system terbuka. Hal lain yang harus dipertimbangkan dalam membuat rancangan adalah penggunaan waktu, lahan penduduk, interaksi masyarakat, pembangunan ekonomi, dan cara-cara yang mempengaruhi perencanaan pendidikan. Demikian juga teknologi analisis dan perencanaan. Rancangan yang bagus adalah rancangan yang seluruh elemen terakomodasi dalam susunan tapi tanpa harus dipaksakan. Proses Perancangan Dimulai dengan mengenal lingkungan objek rancangan, dan penelitian pendahuluan untk mendapatkan data, membuat definisi awal, pengmpulan data, uji coba awal, modifikasi solusi tentative, dan perencanaan akhir. Perencana harus terus menerus memahami kebutuhaan masyarakat dan mencoba menampungnya dalam rancangan sehingga terbentuk analisis dan penterjemahan kehendak klien pada disain, sambil tetap fleksibel terkait perlunya mengapresiasi tren perubahan bentuk fisik. Dalam hal ini perlu memasukkan factor kontingensi yang memungkinkan perencana mampu mengatasi terjadinya perubahan pada masa depan.