Anda di halaman 1dari 14

PERPUSTAKAAN

A. Arti perpustakaan Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri. Tetapi, dengan koleksi dan penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga merupakan tempat penimpanan dan/atau akses ke map, cetak atau hasil seni lainnya, mikrofilm, mikrofiche, tape audio, CD, LP, tape video dan DVD, dan menyediakan fasilitas umum untuk mengakses gudang data CD-ROM dan internet. Perpustakaan dapat juga diartikan sebagai kumpulan informasi yang bersifat ilmu pengetahuan, hiburan, rekreasi, dan ibadah yang merupakan kebutuhan hakiki manusia. Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer). B. Peran Perpustakaan Perpustakaan merupakan upaya untuk memelihara dan meningkattkan efisiensi dan efektifitas proses belajar-mengajar. Perpustakaan yang terorganisasi secara baik dan sisitematis, secara langsung atau pun tidak langsung dapat memberikan kemudahan bagi proses belajar mengajar di sekolah tempat perpustakaan tersebut berada. Hal ini, terkait dengan kemajuan bidang pendidikan dan dengan adanya perbaikan metode belajarmengajar yang dirasakan tidak bisa dipisahkan dari masalah penyediaan fasilitas dan sarana pendidikan C. Tujuan perpustakaan Tujuan perpustakaan adalah untuk membantu masyarakat dalam segala umur dengan memberikan kesempatan dengan dorongan melelui jasa pelayanan perpustakaan agar mereka: a. Dapat mendidik dirinya sendiri secara berkesimbungan; b. Dapat tanggap dalam kemajuan pada berbagai lapangan ilmu pengetahuan, kehidupan sosial dan politik; c. Dapat memelihara kemerdekaan berfikir yang konstruktif untuk menjadi anggota keluarga dan masyarakat yang lebih baik;

d. Dapat mengembangkan kemampuan berfikir kreatif, membina rohani dan dapat menggunakan kemempuannya untuk dapat menghargai hasil seni dan budaya manusia; e. Dapat meningkatkan tarap kehidupan seharihari dan lapangan pekerjaannya; f. Dapat menjadi warga negara yang baik dan dapat berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan nasional dan dalam membina saling pengertian antar bangsa; g. Dapat menggunakan waktu senggang dengan baik yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan sosial. [2] D. Periodisasi perpustakaan indonesia Sejarah perpustakaan di Indonesia tergolong masih muda jika dibandingkan dengan negara Eropa dan Arab. Jika kita mengambil pendapat bahwa sejarah perpustakaan ditandai dengan dikenalnya tulisan, maka sejarah perpustakaan di Indonesia dapat dimulai pada tahun 400-an yaitu saat lingga batu dengan tulisan Pallawa ditemukan dari periode Kerajaan Kutai. Musafir Fa-Hsien dari tahun 414 Menyatakan bahwa di kerajaan Ye -po-ti, yang sebenarnya kerajaan Tarumanegara banyak dijumpai kaum Brahmana yang tentunya memerlukan buku atau manuskrip keagamaan yang mungkin disimpan di kediaman pendeta. Pada sekitar tahun 695 M, menurut musafir I-tsing dari Cina, di Ibukota Kerajaan Sriwijaya hidup lebih dari 1000 orang biksu dengan tugas keagamaan dan mempelajari agama Budha melalui berbagai buku yang tentu saja disimpan di berbagai biasa. Di pulau Jawa, sejarah perpustakaan tersebut dimulai pada masa Kerajaan Mataram. Hal ini karena di kerajaan ini mulai dikenal pujangga keraton yang menulis berbagai karya sastra. Karya-karya tersebut seperti Sang Hyang Kamahayanikan yang memuat uraian tentang agama Budha Mahayana. Menyusul kemudian Sembilan parwa sari cerita Mahabharata dan satu kanda dari epos Ramayana. Juga muncul dua kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Kitab lain yang terkenal adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa. Dari uraian tersebut nyata bahwa sudah ada naskah yang ditulis tangan dalam media daun lontar yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus yaitu kerajaan. Jaman Kerajaan Kediri dikenal beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang bersama-sama menggubah kitab Bharatayudha. Selain itu Mpu panuluh juga menggubah kitab Hariwangsa dan kitab Gatotkacasrayya. Selain itu ada Mpu Monaguna dengan kitab Sumanasantaka dan Mpu Triguna dengan kitam Kresnayana. Semua kitab itu ditulis diatas daun lontar dengan jumlah yang sangat terbatas dan tetap berada dalam lingkungan keraton. Periode berikutnya adalah Kerajaan Singosari. Pada periode ini tidak dihasilkan naskah terkenal. Kitab Pararaton yang terkenal itu diduga ditulis setelah keruntuhan kerajaan Singosari. Pada jaman Majapahit dihasilkan dihasilkan buku Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Sedangkan Mpu Tantular menulis buku

Sutasoma. Pada jaman ini dihasilkan pula karya-karya lain seperti Kidung Harsawijaya, Kidung Ranggalawe, Sorandaka, dan Sundayana. Kegiatan penulisan dan penyimpanan naskah masih terus dilanjutkan oleh para raja dan sultan yang tersebar di Nusantara. Misalnya, jaman kerajaan Demak, Banten, Mataram, Surakarta Pakualaman, Mangkunegoro, Cirebon, Demak, Banten, Melayu, Jambi, Mempawah, Makassar, Maluku, dan Sumbawa. Dari Cerebon diketahui dihasilkan puluhan buku yang ditulis sekitar abad ke-16 dan ke-17. Buku-buku tersebut adalah Pustaka Rajyarajya & Bumi Nusantara (25 jilid), Pustaka Praratwan (10 jilid), Pustaka Nagarakretabhumi (12 jilid), Purwwaka Samatabhuwana (17 jilid), Naskah hukum (2 jilid), Usadha (15 jilid), Naskah Masasastra (42 jilid), Usana (24 jilid), Kidung (18 jilid), Pustaka prasasti (35 jilid), Serat Nitrasamaya pantara ning raja -raja (18 jilid), Carita sang Waliya (20 jilid), dan lainlain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Cirebon merupakan salah satu pusat perbukuan pada masanya. Seperti pada masamasa sebelumnya buku-buku tersebut disimpan di istana. Kedatangan bangsa Barat pada abad ke-16 membawa budaya tersendiri. Perpustakaan mulai didirikan mula-mula untuk tujuan menunjang program penyebaran agama mereka. Berdasarkan sumber sekunder perpustakaan paling awal berdiri pada masa ini adalah pada masa VOC (Vereenigde OostJurnal Indische Compaqnie ) yaitu perpustakaan gereja di Batavia (kini Jakarta) yang dibangun sejak 1624. Namun karena beberapa kesulitan perpustakaan ini baru diresmikan pada 27 April 1643 dengan penunjukan pustakawan bernama Ds. (Dominus) Abraham Fierenius. Pada masa inilah perpustakaan tidak lagi diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja, namun mulai dinikmati oleh masyarakat umum. Perpustakaan meminjamkan buku untuk perawat rumah sakit Batavia, bahkan peminjaman buku diperluas sampai ke Semarang dan Juana (Jawa Tengah). Jadi pada abad ke-17 Indonesia sudah mengenal perluasan jasa perpustakaan (kini layanan seperti ini disebut dengan pinjam antar perpustakaan atau interlibrary loan). Lebih dari seratus tahun kemudian berdiri perpustakaan khusus di Batavia. Pada tanggal 25 April 1778 berdiri Bataviaasche Genootschap van Kuns ten en Wetenschappen (BGKW) di Batavia. Bersamaan dengan berdirinya lembaga tersebut berdiri pula perpustakaan lembaga BGKW. Pendirian perpustakaan lembaga BGKW tersebut diprakarsai oleh Mr. J.C.M. Rademaker, ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda). Ia memprakarsai pengumpulan buku dan manuskrip untuk koleksi perpustakaannya. Perpustakaan ini kemudian mengeluarkan katalog buku yang pertama di Indonesia yaitu pada tahun 1846 dengan judul Bibliotecae Artiumcientiaerumquae Batavia Florest Catalogue Systematicus hasil suntingan P. Bleeker. Edisi kedua terbit dalam bahasa Belanda pada tahun 1848. Perpustakaan ini aktif dalam pertukaran bahan perpustakaan. Penerbitan yang digunakan sebagai bahan pertukaran adalah Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschapn van Kunsten en Wetenschappen, Jaarboek serta Werken buiten de Serie. Karena prestasinya yang luar biasa dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan, maka namanya ditambah menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Nama ini kemudian berubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada tahun 1950. Pada tahun 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan namanyapun diubah menjadi Museum Pusat. Koleksi

perpustakaannya menjadi bagian dari Museum Pusat dan dikenal dengan Perpustakaan Museum Pusat. Nama Museum Pusat ini kemudian berubah lagi menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan Perpustakaan Museum Nasional. Pada tahun 1980 Perpustakaan Museum Nasional dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan. Perubahan terjadi lagi pada tahun 1989 ketika Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sesudah pembangunan BKGW, berdirilah p erpustakaan khusus lainnya seiring dengan berdirinya berbagai lembaga penelitian maupun lembaga pemerintahan lainnya. Sebagai contoh pada tahun 1842 didirikan Bibliotheek s Lands Plantentuin te Buitenzorg . Pada tahun 1911 namanya berubah menjadi Central Natuurwetenchap-pelijke Bibliotheek van het Departement van Lanbouw, Nijverheid en Handel . Nama ini kemudian berubah lagi menjadi Bibliotheca Bogoriensis . Tahun 1962 nama ini berubah lagi menjadi Pusat Perpustakaan Penelitian Teknik Pertanian, kemudian menjadi Pusat Perpustakaan Biologi dan Pertanian. Perpustakaan ini berubah nama kembali menjadi perpustakaan ini bernama Perpustakaan Pusat Pertanian dan Komunikasi Penelitian. Kini perpustakaan ini bernama Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Hasil-hasil Penelitian. Setelah periode tanam paksa, pemerintah Hindia Belanda menjalankan politik etis untuk membalas utang kepada rakyat Indonesia. Salah satu kegiatan politik etis adalah pembangunan sekolah rakyat. Dalam bidang perpustakaan sekolah, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Volksbibliotheek atau terjemahan dari perpustakaan rakyat, namun pengertiannya berbeda dengan pengertian perpustakaan umum. Volksbibliotheek artinya perpustakaan yang didirikan oleh Volkslectuur (kelak berubah menjadi Balai Pustaka), sedangkan pengelolaannya diserahkan kepada Volkschool. Volkschool artinya sekolah rakyat yang menerima tamatan sekolah rendah tingkat dua. Perpustakaan ini melayani murid dan guru serta menyediakan bahan bacaan bagi rakyat setempat. Murid tidak dipungut bayaran, sedangkan masyarakat umum dipungut bayaran untuk setiap buku yang dipinjamnya. Kalau pada tahun 1911 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Hindia Belanda mendirikan Indonesische Volksblibliotheken, maka pada tahun 1916 didirikan Nederlandsche Volksblibliotheken yang digabungkan dalam Holland-Inlandsche School (H.I.S). H.I.S. merupakan sejenis sekolah lanjutan dengan bahasa pengantar Bahasa Belanda. Tujuan Nederlandsche Volksblibliotheken adalah untuk memenuhi keperluan bacaan para guru dan murid. Di Batavia tercatat beberapa sekolah swasta, diantaranya sekolah milik Tiong Hoa, Hwe Koan, yang memiliki perpustakaan. Sekolah tersebut menerima bantuan buku dari Commercial Press (Shanghai) dan Chung Hua Book Co. (Shanghai). Sebenarnya sebelum pemerintah Hindia Belanda mendirikan perpustakaan sekolah, pihak swasta terlebih dahulu mendirikan perpustakaan yang mirip dengan pengertian perpustakaan umum dewasa ini. Pada tahun awal tahun 1910 berdiri Openbare leeszalen. Istilah ini mungkin dapat diterjemahkan dengan istilah ruang baca umum. Openbare leeszalen ini didirikan oleh antara lain Loge der Vrijmetselaren, Theosofische Vereeniging, dan Maatschappij tot Nut van het Algemeen . Perkembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia dimulai pada awal tahun 1920an yaitu mengikuti berdirinya sekolah tinggi, misalnya seperti Geneeskunde

Hoogeschool di Batavia (1927) dan kemudian juga di Surabaya dengan STOVIA; Technische Hoogescholl di Bandung (1920), Fakultait van Landbouwwentenschap (er Wijsgebeerte Bitenzorg, 1941), Rechtshoogeschool di Batavia (1924), dan Fakulteit van Letterkunde di Batavia (1940). Setiap sekolah tinggi atau fakultas itu mempunyai perpustakaan yang terpisah satu sama lain. Pada jaman Hindia Belanda juga berkembang sejenis perpustakaan komersial yang dikenal dengan nama Huurbibliotheek atau perpustakaan sewa. Perpustakaan sewa adalah perpustakaan yang meminjamkan buku kepada kepada pemakainya dengan memungut uang sewa. Pada saat itu tejadi persaingan antara Volksbibliotheek dengan Huurbibliotheek. Sungguhpun demikian dalam prakteknya terdapat perbedaan bahan bacaan yang disediakan. Volksbibliotheek lebih banyak menyediakan bahan bacaan populer ilmiah, maka perpustakaan Huurbibliotheek lebih banyak menyediakan bahan bacaan berupa roman dalam bahasa Belanda, Inggris, Perancis, buku remaja serta bacaan gadis remaja. Disamping penyewaan buku ter-dapat penyewaan naskah, misalnya penulis Muhammad Bakir pada tahun 1897 mengelola sebuah perpustakaan sewaan di Pecenongan, Jakarta. Jenis sewa Naskah juga dijumpai di Palembang dan Banjarmasin. Naskah disewakan pada umumnya dengan biaya tertentu dengan disertai permohonan kepada pembacanya supaya menangani naskah dengan baik. Disamping perpustakaan yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, sebenarnya tercatat juga perpustakaan yang didirikan oleh orang Indonesia. Pihak Keraton Mangkunegoro mendirikan perpustakaan keraton sedangkan keraton Yogyakarta mendirikan Radyo Pustoko. Sebagian besar koleksinya adalah naskah kuno. Koleksi perpustakaan ini tidak dipinjamkan, namun boleh dibaca di tempat. Pada masa penjajahan Jepang hampir tidak ada perkembangan perpustakaan yang berarti. Jepang hanya mengamankan beberapa gedung penting diantaranya Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen. Selama pendudukan Jepang openbare leeszalen ditutup. Volkbibliotheek dijarah oleh rakyat dan lenyap dari permukaan bumi. Karena pengamanan yang kuat pada gedung Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen maka koleksi perpustakaan ini dapat dipertahankan, dan merupakan cikal bakal dari Perpustakaan Nasional. Perkembangan pasca kemerdekaan mungkin dapat dimulai dari tahun 1950an yang ditandai dengan berdirinya perpustakaan baru. Pada tanggal 25 Agustus 1950 berdiri perpustakaan Yayasan Bung Hatta dengan koleksi yang menitikberatkan kepada pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Tanggal 7 Juni 1952 perpustakaan Stichting voor culturele Samenwerking, suatu badan kerjasama kebudayaan antara pemerintah RI dengan pemerintah Negeri Belanda, diserahkan kepada pemerintah RI. Kemudian oleh Pemerintah RI diubah menjadi Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial Departemen P & K. Dalam rangka usaha melakukan pemberantasan buta huruf di seluruh pelosok tanah air, telah didirikan Perpustakaan Rakyat yang bertugas membantu usaha Jawatan Pendidikan Masyarakat melakukan usaha pemberantasan buta huruf tersebut. Pada periode ini juga lahir perpustakaan Negara yang berfungsi sebagaiperpustakaan umum dan didirikan di Ibukota Propinsi. Perpustakaan Negara yang pertama didirikan di Yogyakarta pada tahun 1949, kemudian disusul Ambon

(1952); Bandung (1953); Ujung Pandang (1954); Padang (1956); Palembang (1957); Jakarta (1958); Palangkaraya, Singaraja, Mataram, Medan, Pekanbaru dan Surabaya (1959). Setelah itu menyusul kemudian Perpustakaan Nagara di Banjarmasin (1960); Manado (1961); Kupang dan Samarinda (1964). Perpustakaan Negara ini dikembangkan secara lintas instansional oleh tiga instansi yaitu Biro Perpustakaan Departemen P & K yang membina secara teknis, Perwakilan Departemen P & K yang membina secara administratif, dan Pemerintah Daerah Tingkat Propinsi yang memberikan fasilitas. E. Fungsi perpustakaan nasional Berdasarkan ketentuan peraturan tahun 1980, maka tugah pokok perpustakaan nasional Republik Indonesia adalah menyelenggarakan pengumpulan, penyimpanan, serta pelestarian terbitan Indonesia sebagai khazanah kebudayaan serta menjamin pemeliharaan terbitan Indonesia. Untuk melaksanakan tugas tersebut, cakupan fugsi perpustakaan nasional adalah sebagai berikut : A. Mengumpulkan, mengatur, dan menyediakan hasil karya tulisan yang di terbitkan di Indonesia. B. Menjadi perpustakan deposit dari terbitan indonesia, baik terbitan pemerintah maupun swasta. C. Mengumpulkan, mengatur, dan menyediakan terbitan pbb dan negara lain, khususnya dari kawasan ASEAN. D. Menentukan setandar dari sistem, organisasi, pelayanan, dan mutu koleksi perpustakaan di Indonesia. E. Menyelenggarakan kursus tingkat nasional bagi pegawai perpustakaan. F. Memprakarsai kerjasama dengan lembaga di luar negri, misalnya dalam pertukaran publikasi, peminjaman antar perpustakaan, penyusun bibliografi, dan pembuatan microfilm. G. Menyusun dan menerbitkan bibliografi nasional. H. Dan menyusun catalog induk. F. Hubungan perpustakaan dengan bacaan Perpustakaan dan bahan bacaan adalah dua kata yang saling bertautan. Karena di perpustakaanlah bahan pustaka dikumpulkan, diproses, dan disebarluaskan (didistribusikan) kepada para pembaca/pemakai perpustakaan . Adapun koleksi perpustakaan di negara kita sebagian besar berupa buku atau book material dan masih jarang perpustakaan yang memiliki koleksi berupa non-book material seperti film, kaset film strip, slides, piringan hitam, peta, globe, d an sebagainya.

G. Model pelayanan perpustakaan Ada empat model pelayanan perpustakaan:


y y y y

Koleksi perpustakaan ada pada kampus cabang. Berpusat pada layanan pinjam antar perpustakaan, resource sharing, dan mahasiswa dapat menggunakan perpustakaan afiliasi. Pengiriman materi dari instuasi induk kepada para mahasiswa Berhubungan dengan penggunaan teknologi untuk mengakses sumber-sumber informasi elektronik. H. Perpustakaan modern 1. Sistem Manajemen Perpustakaan

Dalam hal manajemen, struktur manajemen perpustakaan perlu diperbaiki. Dengan sistem manajemen yang ada saat ini jelas tidak mungkin bisa berkembang. Coba bayangkan saja, apakah buku-buku yang diperlukan oleh suatu program studi tertentu tersedia di perpustakaan, apakah perencanaan langganan yang diambil oleh perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pengguna, bagaimana dengan pola pendanaannya, dan sudahkah manajer perpustakaan mempunyai visi kearah standarisasi? Semua pertanyaan-pertanyaan di atas baru sebagian kecil permasalahan yang ada. Menurut pemikiran penulis, harus ada setidaknya satu wakil dari masing-masing fakultas atau program studi yang duduk di manajemen perpustakaan. Hal ini penting agar kebutuhan buku atau jurnal atau data di masing program studi dapat terpenuhi dan diketahui oleh pihak perpustakaan. Ini baru sebagian kecil saja ide-ide perbaikan sistem manajemen perpustakan kampus. Ada yang lebih penting lagi bahwa perpustakaan sekarang mau tidak mau harus berbasis Teknologi Informasi. Hampir-hampir dapat dikatakan bahwa sekarang ini dunia adalah tanpa batas . Untuk mengakses koleksi perpustakaan pengunjung tidak perlu lagi datang ke perpustakaan, cukup akses melalui internet. Hampir semua buku dan jurnal yang dilanggan perpustakaan sekarang ini sudah berbentuk elektronik. Ada beberapa keuntungan dari layanan berbasis elektronik ini, antara lain: mudah dalam pencarian, mudah dalam mengunduh artikel, mudah dalam menyimpan artikel, dan akses perpustakaan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Melihat dari kebutuhan teknologi di atas, jelas bahwa tenaga ahli bidang Teknologi Informasi sangat dibutuhkan di perpustakaan saat ini. Hal ini sudah tidak bisa dibantah lagi. Bahkan perlu satu divisi khusus di perpustakaan yang mengurusi masalah teknologi ini. 2. Sistem Layanan Berbasis Teknologi Informasi Disamping layanan-layanan akses koleksi perpustakaan berbasis elektronik tersebut, yang perlu dikembangkan adalah penyediaan sistem peminjaman yang bersifat self service. Pengguna dapat melakukan pinjam koleksi sendiri dengan menggunakan teknologi barcode. Lebih jauh pengguna bisa juga memesan koleksi dari mana saja dan kapan saja. Pengguna juga dapat melihat status pinjamannya dari mana saja dan kapan saja. Ini hanya beberapa saja fasilitas berbasis IT yang perlu disediakan oleh perpustakaan modern.

3. Strategi Langganan E-Journal dan E- Book Bagaimana supaya berlangganan e-journal dan e-book lebih murah dan efisien? Pertanyaan ini betul-betul mengusik pemikiran kita, mengingat rata-rata alokasi anggaran dari perguruan tinggi di Indonesia masih terbatas, tidak sep erti univesitas di luar negeri yang notabene sangat besar anggaran untuk itu. Jika setiap universitas berlangganan sendiri-sendiri, bisa dibayangkan ada berapa universitas di Indonesia. Berapa uang yang disedot negara maju (penyedia koleksi) dari negara berkembang seperti Indonesia dari hasil langganan tersebut, padahal penulis artikel di jurnal misalnya kebanyakan tidak dibayar, justru beberapa jurnal malah harus membayar. Oleh karena itu, agar lebih hemat pemerintah (misalnya melalui Dikti) yang harus berlangganan yang dapat diakses oleh semua universitas di Indonesia melalui jaringan intranet Inherent atau Jardiknas (yang saat ini masih dikritisi oleh DPR). Saat ini sudah ada beberapa jurnal yang sudah dilanggan melalui Dikti, harapannya jumlahnya perlu diperbanyak agar bisa lebih bermanfaat. Paling tidak ini bisa menghemat anggaran dari masing-masing perguruan tinggi. Harapannya kedepan adalah fasilitas perpustakaan di tanah air tercinta ini tidak ketinggalan dari negara-negara maju. Jika kita memang betul-betul berniat ingin maju dalam teknologi, ya mau tidak mau kita harus sediakan baik fasilitas perpustakaan, peralatan laboratorium, dan grant riset yang memadai. Semoga Indonesia kedepan bisa lebih baik, paling tidak bisa mengejar ketertinggalan bidang teknologi. I. Perpustakaan Terlengkap, Termegah, dan Terbesar di Dunia

Saat ini banyak sekali perpustakaan-perpustakaan dari berbagai negara di seluruh dunia mengklaim bahwa perpustakaan mereka adalah yang terbaik di dunia, termasuk salah satunya adalah perpustakaan yang dimiliki oleh Universitas Indonesia yang saat ini pembangunanya baru sekitar 60% , itupun banyak kalangan dari pihak Internal UI sendiri menganggap bahwa perpustakaan tersebut nantinya sistem pengelolaanya dianggap seperti kembali ke JAMAN BATU karena akan dibuat dengan sistem Terpusat. Tapi disini saya tidak akan bicara akan hal itu dan lebih tertarik melihat sebuah fakta adanya perpustakaan yang memang SUDAH ADA dan sudah dibangun sebuah perpustakaan dengan fasilitas yang super lengkap dan sangat mewah sekali. Perpustakaan tersebut bernama Bibliotheca Alexandrina Egypt (Perpustakaan Iskandariah Mesir). Seperti apa dan bagaimana Kemegahan dan kelengkapan serta kenyamanan dari perpustakaan tersebut, berikut merupakan informasi lengkapnya yang saya kutip langsung dari forum kaskus.us : Bibliotheca Alexandrina Egypt (Perpustakaan Iskandariah Mesir) merupakan perpustakaan pertama dan terbesar di dunia. Perpustakaan ini bahkan bertahan selama berabad-abad dan memiliki koleksi 700.000 gulungan papyru s, bahkan jika di bandingkan dengan Perpustakaan Sorbonne di abad ke-14 hanya memiliki koleksi 1700 buku. Perpustakaan ini di dirikan oleh Ptolemi I sang penerus Alexander(Iskandariah) pada tahun 323 SM, dan terus berlanjut sampai kekuasaan Ptolemi III. Pada waktu itu para penguasa mesir begitu besemangat memajukan Perpustakaan dan Ilmu Pengetahuan mereka, bahkan

dalam Manuskrip Roma mengatakan bahwa sang Raja mesir membelanjakan harta kerajaan untuk membeli buku dari seluruh pelosok negeri hingga terkump ul 442.800 buku dan 90.000 lainnya berbentuk ringkasan tak berjilid. Ia juga memerintahkan prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Menurut beberapa sumber, ketika Athena meminjamkan naskah-naskah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai kepada Ptolemeus III, ia berjanji membayar uang jaminan dan menyalinnya. Tetapi sang raja malah menyimpan yang asli, tidak mengambil kembali uang jaminan itu, dan memulangkan salinannya Namun cerita keemasan ini hanya menjadi sejarah. Ialah ketuka penaklukan bangsa Romawi yang di pimpin oleh Julius Caesar pada tahun 48 SM. Bangsa Romawi membakar 400.000 buku musnah menjadi abu using yang tak berguna. Dunia ilmu saat itu sangat berduka karena telah kehilangan salah satu sumber ilmu pengetahuan terbaik saat itu. Namun akhirnya sang Kaisar, Julius Caesar meminta maaf, dan sebagai gantinya ia mengirim Marx Antonio untuk menghadiahkan 200.000 buku dari Roma kepada Ratu mesir saat itu, Cleopatra, dan dari inilah kisah mereka berlanjut. Namun perpustakaan megah yang ada di mesir tersebut tak pernah kembali seperti masa masa keemasanya. Sejak pembakaran tersebut, Perpustakaan Iskadariah solah tak terurus. Bahkan hampir menjadi artefak artefak kuno saja. Akan tetapi, UNESCO memprakarsai untuk bekerja sama dengan pemerintah Mesir,membangun kembali perpustakaan dengan sejarah terbesar dalam sejarah tersebut. Dan pembangunan ini di mulai sejak tahun 1990an. Pembangunan ini menghabiskan dana tak kurang dari US$ 220 juta. US 120 juta di tanggung pemerintah Mesir dan sisanya di tanggung dari bantuan Internasional dari Negara negara lain. Akhirnya setelah terbengkalai hampir selama 20 Abad, Perpustakaan Iskandriah(Bibliotheca Alexandrina) berdiri megah dan unik. Bangunan utama berbentuk bulat beratap miring, terbenam dalam tanah. Di bagian depan sejajar atap, dibuat kolam untuk menetralkan suhu pustaka, terdiri lima lantai di dalam tanah, perpustakaan ini dapat memuat sekitar 8 juta buku. Namun yang ada saat ini baru 250.000 buku dan akan terus bertambah tiap tahun.Selain itu juga menyediakan berbagai fasilitas, seperti 500 unit komputer berbahasa Arab dan Inggris untuk memudahkan pengunjung mencari katalog buku, ruang baca berkapasitas 1.700 orang, conference room, ruang pustaka Braille Taha Husein khusus tuna netra, pustaka anak-anak, museum manuskrip kuno, lima lembaga riset, dan kamar-kamar riset yang bisa dipakai gratis. Dan yang juga menarik,adalah lantai tengah perpustakaan tersebut terdapat Gallery Design dan bisa dilihat dari berbagai sisi. Di lantai kayu yang cukup luas itu terpajang berbagai prototype mesin cetak kuno dan berbagai lukisan dinding. Perpustakaan ini selalu dipenuhi pengunjung, padahal di Alexandria tidak banyak universitas seperti di Kairo. Ini menunjukkan tingginya minat baca masyarakat Mesir dan perpustakaan yang dulu dihancurkan Julius Caesar itu kini menjadi salah satu objek wisata sebagaimana Piramid Giza, Mumi, Karnax Temple, Kuburan para Fi raun di Luxor atau Museum Kairo yang menyimpan timbunan emas Tutankhamun. Berbagai Fasilitas : # Sebuah Perpustakaan yang dapat menampung jutaan buku. # Sebuah Arsip Internet # Enam khusus perpustakaan untuk

1. Seni, multimedia dan bahan-bahan audio-visual, 2. tunanetra, 3. anak-anak, 4. kaum muda, 5. microforms, dan 6. buku langka dan koleksi khusus # Empat Museum untuk 1. Antiquities, 2. Naskah, 3. Sadat dan 4. Sejarah Sains # Planetarium A # Sebuah Exploratorium untuk eksposur anak terhadap ilmu (ALEXploratorium) # Culturama: panorama budaya lebih dari sembilan layar, yang pertama kalinya dipatenkan 9-proyektor sistem interaktif. Pemenang banyak penghargaan, yang Culturama, dikembangkan oleh CULTNAT, memungkinkan penyajian banyak lapisan data, dimana presenter dapat klik pada item dan pergi ke tingkat baru detail. Ini adalah presentasi multi media sangat informatif dan menarik warisan di Mesir 5.000 tahun sejarah untuk zaman modern, dengan highlights dan contoh -contoh dan Koptik Mesir Kuno / wa risan Islam. # VISTA (The Virtual Immersive Sains dan Teknologi Aplikasi sistem) adalah sebuah lingkungan Virtual Reality interaktif, yang memungkinkan peneliti untuk mengubah data set ke dalam dua-dimensi simulasi 3-D, dan ke langkah di dalamnya. Sebuah alat praktis visualisasi selama penelitian, VISTA membantu peneliti untuk mensimulasikan perilaku sistem alam atau manusia-rekayasa, bukan hanya mengamati sistem atau membangun model fisik. # Delapan pusat penelitian akademik: 1. Alexandria dan Pusat Penelitian Mediterania (Alex-Med), 2. Arts Center, 3. Kaligrafi Pusat, 4. Pusat Studi Khusus dan Program (CSSP), 5. Sekolah Internasional Studi Informasi (ISIS), 6. Naskah Pusat, 7. Pusat Dokumentasi Budaya dan Warisan Alam (CultNat, terletak di Kairo), dan 8. Alexandria Pusat Studi Helenistik. # Lima belas pameran tetap meliputi 1. Tayangan dari Aleksandria: Koleksi Awad, 2. Dunia Shadi Abdel Salam, 3. Arabic Kaligrafi, 4. Sejarah Percetakan, 5. Arab-Muslim Abad Pertengahan Instrumen Astronomi dan Sains (Penungg ang Star), dan Pameran Tetap Seleksi Seni Kontemporer Mesir: 6. Para Artis Buku, 7. Mohie El Din Hussein: A Journey Kreatif, 8. Abdel Salam Idul Fitri, 9. The Raaya El-Nimr dan Abdel-Ghani Abou El-Enein Koleksi Seni Rakyat Arab, 10. Seif dan lemah Adham: Motion dan Seni, 11. Dipilih Artworks dari Henin Adam,

12. Dipilih Artworks Ahmed -Abdel Wahab, 13. Artworks Terpilih Hamed Saeed, 14. Dipilih Artworks dari Soliman Hassan, dan 15. Sculpture. # Empat seni galeri untuk pameran temporer # Sebuah Pusat Konferensi untuk ribuan orang # Sebuah Forum Dialog yang memberikan kesempatan untuk pertemuan, dan diskusi dengan para pemikir, penulis dan penulis untuk membahas berbagai isu penting yang mempengaruhi masyarakat modern. Forum Reformasi Arab adalah hasil dari Konferensi Reformasi Arab pertama diselenggarakan pada tahun 2004 Daftar perpustakaan dunia
y y

y y y y y y y y

y y y y

Afrika Selatan Perpustakaan Nasional Afrika Selatan Situs web resmi Perpustakaan Nasional Afrika Selatan Amerika Serikat o Perpustakaan Kongres Situs resmi Perpustakaan Kongres Amerika Serikat Situs web resmi o Perpustakaan Nasional Kedokteran Amerika Serikat o Perpustakaan Nasional Pertanian Amerika Serikat o Arsip Nasional Amerika Serikat Andorra Perpustakaan Nasional Andorra Situs web resmi Perpustakaan Nasional Andorra Argentina Perpustakaan Nasional Argentina Situs web resmi Perpustakaan Nasional Argentina Australia Perpustakaan Nasional Australia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Australia Austria Perpustakaan Nasional Austria Situs web resmi Perpustakaan Nasional Austria Belanda Perpustakaan Nasional Belanda Situs web resmi Perpustakaan Nasional Belanda Belgia Perpustakaan Nasional Belgia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Belgia Brasil Perpustakaan Nasional Brasil Situs web resmi Perpustakaan Nasional Brasil Britania Raya Perpustakaan Nasional Britania Raya Situs web resmi Perpustakaan Nasional Britania o Skotlandia Perpustakaan Nasional Skotlandia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Skotlandia o Wales Perpustakaan Nasional Wales Situs web resmi Perpustakaan Nasional Wales Bulgaria Perpustakaan Nasional Bulgaria Situs web resmi Perpustakaan Nasional Cyril and Methodius Bulgaria Republik Ceko Perpustakaan Nasional Ceko Situs web resmi Perpustakaan Nasional Ceko Chili Perpustakaan Nasional Chili Situs web resmi Perpustakaan Nasional Chili Republik Rakyat Cina Perpustakaan Nasional China ( ) Situs web resmi Perpustakaan Nasional China

y y

y y y y y y y y y y y

y y y y y y y

Republik China (Taiwan) Perpustakaan Nasional Taiwan ( ) Situs web resmi Perpustakaan Nasional Taiwan Denmark Perpustakaan Nasional Denmark Situs web resmi Perpustakaan Nasional Denmark o Kepulauan Faroe Perpustakaan Nasional Kepulauan Faroe Situs web resmi Perpustakaan Nasional Kepulauan Faroe Filipina Perpustakaan Nasional Filipina Situs web resmi Perpustakaan Nasional Filipina o Tanah Hiijau Perpustakaan Nasional Tanah Hijau Situs web resmi Perpustakaan Nasional Tanah Hijau Finlandia Perpustakaan Nasional Finlandia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Finlandia Hongaria Perpustakaan Nasional Hongaia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Hongaria Indonesia Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Indonesia India Perpustakaan Nasional India Situs web resmi Perpustakaan Nasional India Iran Perpustakaan Nasional Iran Situs web resmi Perpustakaan Nasional Iran Irlandia Perpustakaan Nasional Irlandia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Irlandia Islandia Perpustakaan Nasional Islandia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Islandia Jerman Perpustakaan Nasional Jerman Situs web resmi Perpustakaan Nasional Jerman Jamaika Perpustakaan Nasional Jamaika Situs web resmi Perpustakaan Nasional Jamaika Jepang Perpustakaan Parlemen Jepang Situs web resmi Perpustakaan Parlemen Jepang Kanada Perpustakaan Nasional Kanada Situs web resmi Perpustakaan Nasional Kanada o Quebec Perpustakaan Nasional Qubec Situs web resmi Perpustakaan Nasional Qubec Kolombia Perpustakaan Nasional Kolombia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Kolombia Korea Selatan Perpustakaan Nasional Korea Situs web resmi Perpustakaan Nasional Korea Latvia Perpustakaan Nasional Latvia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Latvia Luksemburg Perpustakaan Nasional Luksemburg Situs web resmi Perpustakaan Nasional Luksemburg Malaysia Perpustakaan Negara Malaysia Situs web resmi Perpustakaan Negara Malaysia Meksiko Perpustakaan Nasional Meksiko Situs web resmi Perpustakaan Nasional Meksiko Norwegia Perpustakaan Nasional Norwegia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Norwegia

y y y y y y y y y y y y

y y y y y y

Pakistan Perpustakaan Nasional Pakistan Situs web resmi Perpustakaan Nasional Pakistan Panama Perpustakaan Nasional Panama Situs web resmi Perpustakaan Nasional Panama Perancis Bibliothque Perpustakaan Nasional Perancis Situs web resmi Perpustakaan Nasional Perancis Peru Perpustakaan Nasional Peru Situs web resmi Perpustakaan Nasional Peru Polandia Perpustakaan Nasional Polandia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Polandia Portugal Perpustakaan Nasional Portugal Situs web resmi Perpustakaan Nasional Portugal Romania Perpustakaan Nasional Romania Situs web resmi Perpustakaan Nasional Romania Rusia Perpustakaan Nasional Rusia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Rusia Selandia Baru Perpustakaan Nasional Selandia Baru Situs web resmi Perpustakaan Nasional Selandia Baru Serbia dan Montenegro Perpustakaan Nasional Serbia Perpustakaan Nasional Serbia Singapura Perpustakaan Nasional Singapura Situs web resmi Perpustakaan Nasional Singapura Spanyol Perpustakaan Nasional Spanyol Situs web resmi Perpustakaan Nasional Spanyol o Catalunya Perpustakaan Nasional Katalonia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Katalonia Swedia Perpustakaan Nasional Swedia Situs web resmi Perpustakaan Nasional Swedia Swiss Perpustakaan Nasional Swiss Situs web resmi Perpustakaan Nasional Swiss Thailand Perpustakaan Nasional Thailand ( ) Situs web resmi Perpustakaan Nasional Thailand Turki Perpustakaan Nasional Turkie Situs web resmi Perpustakaan Nasional Turki Ukraina Perpustakaan Nasional Ukraina ( .. ) Situs web resmi Perpustakaan Nasional Ukraina Yunani Perpustakaan Nasional Yunani Situs web resmi Perpustakaan Nasional Yunani J. Perpustakaan digital dunia

Perpustakaan Digital Dunia atau World Digital Library (WDL) adalah perpustakaan digital antarnegara yang dikelola oleh UNESCO dan Library of Congress (Perpustakaan Kongres) milik Amerika Serikat. Perpustakaan ini diresmikan pada tanggal 21 April 2009 dan dimaksudkan sebagai sumber rujukan dokumen primer berbagai dokumen penting dunia yang bisa diakses dengan bebas biaya. Misi pembentukan perpustakaan ini adalah untuk mengembangkan pemahaman antarbangsa dan -budaya, memperluas kandungan variasi dan isi pada internet, menyediakan bahan dasar pengajaran bagi pengajar, sarjana, dan peminat umum, serta untuk memperkuat kemampuan lembaga-lembaga mitra untuk mempersempit kesenjangan

digital intra- maupun antarnegara.[1] Sebagai tujuan adalah untuk mengembangkan dokumen non-bahasa Inggris dan non-barat di internet, dan membantu penyediaan bahan penelitian akademik. Dalam wawancara dengan majalah Nature, Direktur WDL, John van Oudenaren, menyatakan bahwa sebagian besar generasi muda di dunia banyak memperoleh informasi melalui media elektronik. WDL berusaha menjadi salah satu sumber informasi ini. Selain itu, WDL juga menjadi upaya untuk lebih mendorong negara berkembang memacu digitalisasi arsip dan dokumen sejarah berharga yang mereka miliki. [2] Perpustakaan ini menyediakan berbagai material sumber primer dari berbagai kebudayaan dunia secara bebas biaya dan dalam format multibahasa, seperti manuskrip, peta, buku langka, partitur musik, rekaman, film, cetakan, foto, rancangan arsitektur, dan berbagai bahan budaya lainya. [3][4][5] Pada saat peluncurannya, perpustakaan ini memiliki 1.170 material dengan antarmuka menggunakan tujuh bahasa yang dipakai di PBB.