Anda di halaman 1dari 135

TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM UNDANG-UNDANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi

Pasal 20 UU. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi)

SKRIPSI DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI'AH UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU DALAM ILMU HUKUM ISLAM (SHI) DISUSUN OLEH : ABD. MANNAN 04370048

PEMBIMBING : 1. Drs. MAKHRUS MUNAJAT, M.Hum 2. AHMAD BAHIEJ, SH., M.Hum

JINAYAH SIYASAH FAKULTAS SYARI'AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2009

ABSTRAK Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Disahkan di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1999 oleh Presiden Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie, dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1999 oleh Menteri Negara Sekretaris Negara Republik Indonesia Muladi dan ditulis dalam Lembaran Negara Tahun 1999 No. 140. Dengan berlakunya Undang-undang No. 31 Tahun 1999 ini merupakan langkah prestatif yang dilakukan oleh pembuat Undang-undang (legislator), mengingat korupsi merupakan sebuah tindakan yang sangat merugikan bagi keuangan negara dan perekonomian negara maupun bagi masyarakat pada umumnya. Pada masa pemerintahan selanjutnya, tindakan pemberantasan korupsi semakin ditingkatkan dengan disahkannya Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak pidana Korupsi. Undang-undang ini disahkan di Jakarta pada tanggal 21 November Tahun 2001 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 21 November Tahun 2001 oleh Sekretaris Negara Republik Indonesia Bambang Kesowo serta ditulis dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 No. 134. Pokok permasalahan yang disajikan penyusun di dalam pembahasan pertanggungjawaban pidana korporasi perspektif hukum Islam adalah : (1). Bagaimanakah bentuk dan rumusan/formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi yang diterapkan dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 jo. Undangundang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi? (2). Bagaimanakah pandangan hukum Islam terhadap pertanggungjawaban pidana korporasi yang diberlakukan dalam UU. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi? Penyusun melakukan penelitian yang bersifat eksplanatoris atau confirmatory research, yang dalam hal ini penyusun mencoba menerangkan bagaimana rumusan dan bentuk pertanggungjawaban pidana korporasi dalam UU. No. 31 Tahun 1999 jo. UU. No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selanjutnya menerangkan pandangan hukum Islam terhadap pertanggungjawaban pidana korporasi. Pendekatan yang digunakan penyusun adalah pendekatan normatif, yang didasarkan pada teks-teks al-Qur'an dan alHadits, baik untuk pembenarannya ataupun pemberian norma atas masalah tersebut. Akhir kata, pembahasan pertanggungjawaban pidana korporasi dalam UU. No. 31/1999 jo. UU. No. 20/2001, bahwa hukum Islam telah mengatur adanya pertanggungjawaban pidana korporasi yang tertuang dalam beberapa ayat alQur'an, artinya hukum Islam telah memposisikan nilai-nilai kemaslahatan umat di tempat yang tinggi, yang dalam hal ini sudah dengan baik diintegrasikan dalam redaksional UU. tersebut sehingga pertanggungjawaban pidana korporasi sudah sesuai dengan nilai-nilai yang dianut di dalam hukum Islam.

ii

MOTTO

Jihad mulai dari dalam pikiran

Orang bisa bebas tanpa kebesaran Tapi jangan harap Orang bisa besar tanpa kebebasan

HALAMAN PERSEMBAHAN DEDICATED TO : Allah SWT. Untuk segala rahmat & Hidayahnya dalam memberikan penulis kemudahan dalam hidup & penulisan skripsi Kedua orang tua tercinta, Bapak Moh. Ramly dan Ibu Sabtiyah, untuk segala do'a, dukungan serta restunya bagi penulis saat ini hingga seterusnya Kakak-Ku tersayang, Ummul Karimah, untuk segala pengertian & dukungan moril maupun materi serta motivasinya. Adik-Ku tercinta, Ridlal Ahmadi, untuk mengingatkan kembali kepada Allah SWT. tegurannya dan

Om Qomaruddin, S. Pdi, Om Bahruddin, Bi laila, Nink Uswatun, Ss, yang telah memberikan dorongan semangat, mental serta materi, sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya. Teman-teman kost Manukberi 1089 (Caff Politic); Ibrahim Siregar, Marco Van Basten, Husnul Aceng, Mr. Topan, Timeball, terima kasih untuk kebersamaan & ke-akrabannya. Teman-teman kontrakan, Ibrahim Husain SP, Syaukani Bajuber, Fanca, Reza, terima kasih atas perhatian dan dukungannya. Marhendra Hondoko, untuk segala mencarikan reference yang mendukung. waktunya & bantuannya

Teman-teman alumni pondok pesantren Mamba'ul Ma'arif umumnya & Alumni MAKN Jombang '04 khussnya; Mbah Imam, Fauzi Bejo, Adib Cui, Incen, Faruk, Idam, Salwa, Atika. Teman-teman nongkrong yang tak perlu disebutkan inesialnya Teman-teman seangkatan '04; yusro, paijin, riri, hakim, faisal, antro, ira, cita, desnika, titu, iin, isna, terima kasih untuk segala kebersamaan seta Bantu-bantuannya selama penulis menyelesaikan kuliah di kampus ini. Terima kasih ter-sepecial untuk Om Muhsin, tidak pernah marah, santun, sangat perhatian atas selesainya penulisan skripsi ini.

KATA PENGANTAR

. .
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, karena karunia, rahmat, hidayah, dan inayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa risalah Islam dan menyampaikannya kepada umat manusia serta penyusun harapkan syafa'at-Nya kelak di hari kiamat Peyususn menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang telah memberikan bimbingan dan dorongan, baik segi moril maupun materil, sehingga akhirnya penyusun dapat menghadapi berbagai masalah dan kendala yang berkaitan dengan penyusunan skripsi ini dengan baik. Dalam kesempatan ini, tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih : 1. Bpk prof. Dr. M Amin Abdullah Selaku Rector UIN Sunan Kalijaga. 2. Bpk. Prof.. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A, Ph.D selaku Dekan Fakultas Syari'ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

ix

3. Bpk. Drs. Makhrus Munajat, M.Hum, selaku ketua jurusan Jinayah Siyasah sekaligus Pembimbing I yang telah mencurahkan segala kemampuan penyusun. 4. Bpk. Ahmad Bahiej, SH, M.Hum, selaku pembimbing akademik dan sekaligus sebagai pembimbing II yang telah sabar menggembleng mental dan membimbing penyusun hingga selesai. 5. Seluruh dosen jurusan Jinayah Siyasah beserta Staff Tata Usaha Jurusan Jinayah Siyasah Fakultas Syari'ah Harapan penyusun semoga Allah SWT. memberikan pahala yang setimpal kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini teriring do'a jaz{a>kumullah khairal jaza>'. Penyusun menyadari adanya banyak kekurangan pada skripsi ini untuk dikatakan sempurna, maka dari itu penyusun sangat menghargai saran dan kritik konstruktif untuk akhir yang lebih baik. akademik maupun sepiritualnya untuk membimbing

Yogyakarta, 13 April 2009 M 18 Rabiul Tsani 1430 H Penyusun

Abd. Mannan

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penyusunan Skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan 0543b/U/1987. Secara garis besar uraiannya adalah sebagai berikut. A. Konsonan Tunggal Huruf Arab Nama Alif ba ta sa jim ha kha dal al ra zai sin syin sad dad ta za ain gain fa qaf Huruf Latin Tidak dilambangkan b t s j h kh d r z s sy s d t z g f q Nama Tidak dilambangkan be te es (dengan titik di atas) je ha (dengan titik di bawah) ka dan ha de zet (dengan titik di atas) er zet es es dan ye es (dengan titik di bawah) de (dengan titik di bawah) te (dengan titik di bawah) zet (dengan titik di bawah) koma terbalik ge ef qi

kaf lam mim nun waw ha hamzah ya

k l m n w h y

ka el em en w ha apostrof ye

B. Konsonan Rangkap Karena Syaddah ditulis Rangkap ditulis ditulis Mutaaddidah iddah

C. Ta marbutah di Akhir Kata ditulis h ditulis ditulis ditulis ditulis Hikmah 'illah Karmah al-auliy' Zakh al-fitri

D. Vokal Pendek _____ _____ _____ dammah ditulis ditulis ditulis ukira u yahabu kasrah fathah ditulis ditulis ditulis a faala i

E. Vokal Panjang 1 2 3 4 Fathah + alif Fathah + ya mati Kasrah + ya mati Dammah + wawu mati ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis jhiliyyah tans i karim furd

F. Vokal Rangkap 1 2 Fathah + ya mati Fathah + wawu mati ditulis ditulis ditulis ditulis ai bainakum au qaul

G. Vokal Pendek yang Berurutan dalam Satu Kata dipisahkan dengan Apostrof ditulis ditulis ditulis aantum uiddat lain syakartum

H. Kata Sandang Alif + Lam Diikuti huruf Qamariyyah maupun Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf "al". ditulis ditulis ditulis ditulis al-Qurn al-Qiys al-Sam al-Syam

I. Penulisan Kata-kata dalam Rangkaian Kalimat Ditulis menurut penulisannya. ditulis ditulis awi al-furd ahl al-sunnah

DAFTAR ISI

Hal HALAMAN JUDUL ........................................................................................... ABSTRAK ........................................................................................................... HALAMAN PERNYATAAN............................................................................. HALAMAN NOTA DINAS ............................................................................... HALAMAN PENGESAHAN............................................................................. MOTTO ............................................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... KATA PENGANTAR......................................................................................... PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN .............................................. DAFTAR ISI........................................................................................................ BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... B. Pokok Masalah.......................................................................................... C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan............................................................... D. Telaah Pustaka .......................................................................................... E. Kerangka Teori ......................................................................................... F. Metode Penelitian ..................................................................................... G. Sistematika Pembahasan........................................................................... BAB II : KORUPSI DAN KONSEP PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA MENURUT HUKUM ISLAM A. Korupsi...................................................................................................... B. Asas Pertanggungjawaban Pidana dalam Hukum Islam........................... 22 35 1 3 4 5 12 17 19 i ii iii v vi vii ix xi xv xvi

xv

C. Pertanggungjawaban Korporasi Perspektif Hukum Islam.......................

38

BAB III : PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM UU. PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI A. Latar Belakang Munculnya UU. No. 31 Tahun 1999 dan UU. No. 20 Tahun 2001........................................................................................................... B. Rumusan dan Identifikasi Perbuatan Pidana............................................. 57 60

C. Pertanggungjawaban pidana korporasi dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999........................................................................................................... BAB IV : TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI A. Analisa Dari Segi Pertanggungjawaban Pidana........................................ B. Analisa Dari Segi Sanksi Pidana .............................................................. BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................................... B. Saran ......................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... LAMPIRAN-LAMPIRAN Terjemahan ........................................................................................................... Biografi Ulama'..................................................................................................... Curriculum Vitae .................................................................................................. I II III 104 106 107 78 94 68

xvi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Korupsi bukanlah ciri khas negara berkembang atau dunia ketiga, di negara-negara maju sekalipun korupsi juga menjadi persoalan serius. Hal yang membedakan ialah jika di negara lain persoalan korupsi sudah dapat diatasi dan diberantas, sebaliknya, di Indonesia korupsi telah menjalar kemana-mana. Praktek desentralisasi korupsi melibatkan tidak lagi hanya elite pemerintahan atau pejabat publik, tetapi juga kalangan partai, pengusaha, tokoh-tokoh kampus, organisasi non pemerintah, bahkan para pemuka agama dan adat. Akibatnya, korupsi telah merusak tatanan dan sistem kerja lembaga pemerintahan, mental masyarakat, hancurnya fondasi perekonomian negara yang berakibat merosotnya daya saing dan semakin terpuruknya masyarakat miskin. Oleh karenanya tepatlah istilah yang dipergunakan oleh Bung Hatta puluhan tahun silam, yakni korupsi di Indonesia telah menjadi suatu budaya (budaya korupsi), bahkan korupsi sudah merambah pada bukan perorangan saja, melainkan juga pada badan hukum atau korporasi1. Dewasa ini tidak ada lagi yang dapat menyangkal bahwa dalam lapangan hukum perdata sudah sangat lazim, bahwa korporasi/badan hukum diakui sebagai subjek hukum. Dalam hukum perdata sudah sangat lazim bahwa korporasi/badan

Korporasi adalah sekumpulan orang atau kekayaan yang terorganisasi baik yang merupakan badan hukum ataupun yang bukan badan hukum.

hukum

dapat

melakukan

perbuatan-perbuatan

hukum

(positif)

seperti

mengadakan/membuat perjanjian, melakukan transaksi jual beli, dan lain-lain2. Apabila dalam hukum perdata korporasi/badan hukum sudah lazim menjadi subjek hukum, pertanyaan yang muncul adalah, apakah dalam lapangan hukum pidana badan hukum/korporasi dapat menjadi subjek tindak pidana. Korporasi merupakan sebutan yang lazim digunakan pakar hukum pidana untuk menyebutkan apa yang lazim dalam hukum perdata sebagai badan hukum. Dengan semakin menguatnya peranan korporasi di berbagai sektor digambarkan ibarat gurita yang merambah ke segala arah tanpa kendali. Mereka dapat berbuat sesukanya tanpa mengindahkan etika, bahkan memanfaatkan berbagai instrumen hukum untuk kepentingannya. Perbuatan korporasi ini dapat dikategorikan sebagai suatu tindak pidana karena dengan perbuatannya bukan saja telah merugikan kepentingan yang bersifat privat saja tetapi di sini kepentingan publik telah dilanggar bahkan negara juga telah dirugikan. Dengan berlakunya Undang-undang. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga merupakan langkah prestatif yang dilakukan oleh pembentuk Undang-undang (legislator), mengingat bahwa UU. No. 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tundak pidana korupsi sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan hukum dalam masyarakat, karena itu UU. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo.Undanag-undang
Tongat, Dasar-Dasar Hukum Pidana di Indonesia Dalam Perspektif Penbaharuan, cet. Ke-I (Malang : UMM press, 2008)
2

No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang no. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diharapkan lebih efektif dalam mencegah dan meberantas tindak pidana korupsi3. Persoalan pertanggungjawaban pidana korporasi tersebut kian menarik dan penting jika ditinjau dari Hukum Pidana Islam. Persoalan inilah yang menjadi latar belakang dan daya tarik penyusun di dalam melakukan penyusunan karya ilmiah ini atau melakukan penelitian. Sehingga besar harapan kemudian adalah, penyusun mendapatkan saran dan kritik konstruktif guna

menyempurnakan penelitian atau penyusunan karya ilmiah ini dan kemudian penyusun mampu menyelesaikannya dengan baik.

B. Pokok Masalah : 1. Bagaimanakah bentuk dan rumusan/formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi yang diterapkan dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi? 2. Bagaimanakah pandangan hukum Islam terhadap pertanggungjawaban pidana korporasi yang diberlakukan dalam UU. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi?
Baca: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bagian penjelasan pasal demi pasal .
3

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan penelitian : a. Untuk mengetahui bentuk dan rumusan pertanggungjawaban pidana korporasi yang diterapkan dalam dalam UU. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi? b. Untuk menjelaskan pandangan hukum Islam terhadap

pertanggungjawaban pidana korporasi yang diberlakukan dalam dalam UU. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi? 2. Kegunaan penelitian : a. Untuk memperkaya perbendaharaan khazanah kepustakaan ilmu hukum pada umumnya dan berguna untuk pengembangan materi hukum Islam dalam bidang jinayah khususnya. b. Sebagai sumbangan rumusan pemikiran dan bagi legislatif dalam rangka pidana

penyusunan

bentuk

pertanggungjawaban

korporasi dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi?

D. Telaah Pustaka Dalam kepustakaan hukum pidana telah banyak buku yang ditulis oleh para sarjana hukum pidana Indonesia mengenai pertanggungjawaban pidana. Alhasil, didalam buku yang berjudul Azas Pertanggungjawaban Korporasi dalam

Hukum Pidana Indonesia (Strict Liability dan Vicarious Liability) 4, disajikan


secara garis besar berkenaan dengan konsep pertanggungjawaban pidana mengenai syarat adanya pertanggungjawaban pidana atau dikenakannya suatu pidana, maka adanya unsur kesalahan dan kesengajaan adalah suatu keharusan. Dalam buku ini juga dijelaskan, tidaklah mungkin dapat dipikirkan tentang adanya kesengajaan dan kealpaan, apabila orang (sebagai pelaku delik pidana) itu tidak mampu bertanggung jawab. Begitu pula, tidak dapat dipikirkan mengenai alasan pemaaf, apabila orang tidak mampu bertanggungjawab dan tidak pula ada kesengajaan atau kealpaan. Selain itu juga, buku ini menerangkan mengenai konsep korporasi dan pertanggungjawaban korporasi, serta menjelaskan konsep strict liability dan

vicarious liability, yang mana strict liability adalah pertanggungjawaban tanpa


kesalahan (liability without fault), dimana asas kesalahan merupakan juntung dari hukum pidana. Di dalam skripsi yang disusun oleh Swis Niza Yulianti yang berjudul "Pertanggungjawaban Pidana Rumah Sakit dalam Kasus Malpraktek", Swis Niza

Hamzah Hatrik, Azas Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana Indonesia (Strict Liability dan Vicarious Liability), (Jakarta : Rajawali Press, 1996)

Yulianti menjelaskan bahwa rumah sakit bertanggunggungjawab atas kelalaian atau kesalahan para perawat atau dokter yang bekerja sebagai staff. Skripsi ini juga membicarakan doktrin pertanggungjawaban pidana

caption of the ship dimana dokter betanggungjawab atas kelalaian yang


dilakukan perawat, meski perawat tersebut adalah pegawai rumah sakit, apabila kelalaian itu terjadi di ruang operasi. Juga doktrin vicarious liabilty dimana rumah sakit dapat diminta pertanggungjawaban atas kelalaian atau kesalahan yang dilakukan oleh pegawainya. Rumah sakit dengan kegitan-kegitan sehari-harinya itu dapat dikaitkan dengan yayasan sebagai badan hukum yang dapat bertindak sebagai pendukung hak dan kewajiban tersendiri, maka kepentingan yayasan tidak terletak pada anggotanya, hal tersebut karena yayasan tidak mempunyai anggota, jadi yayasan berkepentingan adalah pengurusnya5. Kemudian dalam skripsi yang disusun oleh Dewi Khartika dengan judul "Perbuatan Pidana yang Dilakukan Secara Massal (Kajian Terhadap Hubungan Antar Pelaku Menurut Doktrin Hukum Pidama dan Yurisprudensi)", menjelaskan tentang "massal" yang terorganisir disamakan dengan suatu bentuk badan/ korporasi. Karena jika massa yang terorganisir melakukan perbuatan biasanya menggunakan identitas kelompok atau organisasi dan yang ditangkap apabila massa tersebut melakukan perbuatan pidana adalah pemimpinya. Jadi apabila dipadukan dengan pertanggungjawaban korporasi adalah sama dengan bentuk

Swis Niza Yulianti, Pertanggungjawaban Pidana Rumah Sakit dalam Kasus Malpraktek, (Yogyakarta : UII; 2005), hlm. 80

yang kedua yaitu dimana korporasi yang berbuat maka yang bertanggungjawab adalah pengurus6. Skripsi ini juga menjelasakn tentang keberadaan massa yang tidak terorganisir yang biasanya terbentuk bukan untuk jangka panjang, dimana massa yang tidak terorganisasir tersebut apabilaa melakukan tindak pidana, timbul secara reaktif dan spontanitas, karena kondisi atau keadaan yang menyebabkan massa tersebut terprovokasi untuk melakukan perbuatan itu, yang secara otomoatis dalam beraksipun tidak adanya koordinasi atau intruksi yang jelas dari orang yang dianggap ketua atau pemimpin, dan yang menggerakan massa tersebut serempak bukan pemimpin tetapi karena kesamaan isu atau permasalahan. Untuk konsep pertanggungjawaban pidana terhadap massa yang tidak terorganisasir tidak dapat diterapakn sistem pertanggungjawaban pidana seperti korporasi baik untuk sistem pertanggungjawaban pidana korporasi yang pertama ataupun sistem pertangungjwaban pidakna korporasi yang kedua dan maupun sistem pertanggungjawaban yang ketiga7. Di dalam buku yang berjudul

Pikiran-Pikiran

tentang

Pertanggungjawaban Pidana8, Roeslan Saleh menjelaskan mengenai, bahwa


praktek pertanggungjawaban pidana menjadi lenyap, jika ada salah satu keadaan
Dewi Khartika, Perbuatan Pidana yang Dilakukan Ecara Massal (Kajian Terhadap Hubungan Antara Pelaku Menurut Doktrin Hukum Pidana dan Yurisprudensi), Yogyakarta : UII, 2006.
7 6

Ibid, hlm. 215

Roelan Saleh, Pikiran-Pikiran Tentang Pertanggungjawaban Pidana, (Jakarta : Ghalia Indonesia; 1982)

yang memaafkan. Praktek pula yang melahirkan aneka macam tingkatan keadaan-keadaan mental yang dapat menjadi syarat ditiadakannya pengenaan pidana, sehingga didalam perkembangannya lahir kelompok kejahatan yang untuk pengenaan pidananya cukup dengan strict liability. Maksudnya adalah adanya kejahatan yang dalam terjadinya itu keadaan mental terdakwa adalah tidak mengetahui dan sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan suatu perbuatan pidana. Sungguhpun demikian, dia dipandang tetap bertanggungjawab atas terjadinya perbuatan yang telarang itu, walaupun dia sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan suatu perbuatan yang ternyata adalah suatu kejahatan. Permasalahan tentang kesalahan, kesengajaan dan kealpaan juga tak lepas dari pembahasan buku ini yang lebih menitik beratkan pada pertanggungjawaban pidana adalah sesuatu yang berkaitan dengan keadaan-keadaan mental dari tersangka dan hubungan antara keadaan mental itu dengan perbuatan yang dilakukan adalah sedemikian rupa sehingga orang itu dicela karenanya. Sehingga dapat dilihat bahwa antara pertanggungjawaban pidana dengan kesalahan,

kesengajaan dan kealpaan memiliki korelasi keilmuan dan juga terdapat prinsip yang lebih fundamental. Prinsip yang lebih fundamental adalah bahwa untuk pertanggungjawaban pidana harus ada yang disebut moral culpability. Dan moral culpability dipandang tidak ada jika pada waktu dilakukannya perbuatan ada dan oleh hukum diakui adanya keadaan-keadaan memaafkan terhadap itu. Di dalam buku pun dijelaskan mengenai moral culpability adalah suatu dasar dari pertanggungjawaban dari perbuatan pidana. Sehingga unsur yang

demikian, oleh hukum diharuskan ada dalam pikiran sesorang untuk dapat mengatakan bahwa ia telah melakukan perbuatan pidana, sehingga akan terjamin bahwa tidak seorangpun akan dipidana tanpa adanya syarat utama yang disebut

moral culpability. Demikian disebabkan oleh karena memang yang dimaksudkan


hanya memidana mereka yang telah dengan sengaja melakukan perbuatanperbuatan yang menurut moral adalah salah dan dalam undang-undang juga terlarang. Moeljatno, menjelaskan di dalam bukunya yang berjudul Perbuatan

Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana dalam Hukum Pidana9, perbuatan pidana


merupakan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, barang siapa yang melanggar larangan tersebut. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pokok pengertian tetap pada perbuatan, dimana sifatnya dengan tegas yaitu dilarang, tidak boleh dilakukan. Di samping itu juga, Moeljatno menjelaskan pertanggungjawaban pidana dalam hukum pidana yakni criminal responsibility atau criminal liability, ini merupakan pengertian tersendiri, terlepas dari perbuatan pidana dalam hal, bahwa kalau dalam perbuatan pidana yang menjadi pusat adalah perbuatannya, dalam pertanggungjawaban pidana sebaliknya, yang menjadi pusat adalah orangnya yang melakukan perbuatan. Antara perbuatan pidana dan

pertanggungjawaban pidana dalam hukum pidana, ada hubungan yang erat seperti halnya dengan perbuatan dan orang yang melakukan perbuatan. Perbuatan

Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana dalam Hukum Pidana, (Jakarta : Bina Aksara, 1983)

10

pidana baru mempunyai arti kalau di sampingnya adalah pertanggungjawaban pidana. Sebaliknya, tidak mungkin ada pertanggungjawaban pidana jika tidak ada perbuatan pidana. Dalam hal ini kesalahan adalah unsur, bahkan syarat mutlak bagi adanya pertanggungjawaban pidana yang berupa pengenaan pidana. Sebab didalam masyarakat Indonesia belaku azas tidak dipidana jika tidak ada kesalahan. Muladi dan Barda Nawawi Arief, di dalam buku Teori-Teori dan

Kebijakan Pidana10 menjelaskan mengenai pokok-pokok pemikiran mengenai


pertanggungjawaban pidana, bahwa asas kesalahan (asas culpabilitas) merupakan pasangan dari asas legalitas yang harus dirumuskan secara eksplisit dalam undangundang. Pertanggungjawaban pidana berdasarkan atas kesalahan terutama dibatasi pada perbuatan yang dilakukan dengan sengaja (dolus). Lain halnya jika pertanggungjawaban pidana terhadap akibat-akibat tertentu dari suatu tindak pidana yang oleh undang-undang diperberat ancaman pidananya, akan tetapi hal tersebut berbeda, jika pelaku delik atau terdakwa sudah sepatutnya dapat menduga kemungkinan terjadinya akibat dari tindaknnya. Pandangan hukum Islam mengenai permasalahan ini dapat dikatakan bahwa akan selalu merujuk pada al-Quran yang mana dapat dibaca melalui terjemahannya. Untuk permasalahan ini, konsep

tazi>r

yang

mampu

menjawabnya. Buku yang berjudul Fiqh Jinayah (Sebagai Upaya Menanggulangi

Kejahatan dalam Islam) dijelaskan bahwa tazi>r merupakan hukuman yang tidak

Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, cet. Ke-III (Bandung : PT. Alumni, 2005)

10

11

ditentukan oleh al-Quran dan al-Hadits yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah dan hak hamba yang berfungsi memberi pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya untuk tidak mengulangi kejahatan serupa11. Di dalam buku yang disusun oleh Majlis Tarjih dan Tajdid yang berjudul

Fikih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah dijelaskan bahwasanya taz\i>r merupakan sanksi hukuman yang dijatuhkan terhadap terpidana yang tidak
ditentukan secara tegas di dalam al-Quran dan al-Hadis. Hukuman ini diberikan untuk memberikan pelajaran kepada terpidana atau orang agar tidak mengulangi kejahatan yang pernah ia lakukan. Hukuman tazi>r disebut dengan uqubah

mukhayyarah (hukuman pilihan)12.


Untuk keberadaan ataupun eksistensi dari tazi>r secara harfiah memang diakui, mengapa dapat dikatakan demikian hal tersebut didasarkan pada penjatuhan sanksi tazi>r yang diserahkan kepada ulil amri dan merupakan hukuman tambahan selain itu juga taz|i>r sangat tegantung kepada tuntutan kemaslahatan. Menurut para fuqaha jarimah tazi>r dibagi menjadi dua; yakni 1) jarimah yang berkaitan dengan hak Allah dan 2) tazi>r yang berkaitan dengan hak perorangan. Adapun yang menjadi fokus pembahasan ini adalah tazi>r yang berkaitan dengan hak perorangan, dimana objek dari materi UU. No. 31 tahun 1999 jo. No. 20 Tahun 2001 adalah tindak pidana sehingga hubungan hukum yang terjadi adalah antara pelaku tindak pidana, pemerintah yang dalam hal ini
11

A. Djazuli, Fiqh Jinayah (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalam Islam), cet. Ke-I (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1996) Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Fikih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah (jakarta: PASP, 2006) hlm. 80-81
12

12

sebagai legislator dan korporasi atau badan hukum. Dalam hal ini hukum pidana Islam (fiqh jinayah) memberikan sebuah ketentuan bagi keberlangsungan hubungan hukum antara tindakan pidana (sebagai objek), pemerintah (sebagai legislator) korporasi (badan hukum/subyek) bahwasanya kesalahan atau pelanggaran terhadap norma hukum tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan salah satu asas hukum pidana Islam, yakni asas larangan memindahkan kesalahan kepada orang lain. Hal serupa dijelaskan di dalam buku

Hukum Islam (pengantar ilmu hukum dan tata hukum Islam di Indonesia)13
sehingga menjadi sangat jelas bahwa kesalahan yang dilakukan seseorang beban pidananya tidak dapat atau tidak boleh diwakilkan kepada orang lain. Jadi, sejauh penyusun telusuri tetang penelitian yang pernah dilakukan oleh para ahli hukum maupun para sarjana belum ada yang menyentuh ranah pertanggungjawaban pidana korporasi yang secara khusus membidik

permasalahan tersebut dari sudut pandang Islamyang mengacu pada pasal 20.

E. Kerangka Teori Pembahasan mengenai kerangka teori akan diawali dengan konsep hukum pidana materiil, yakni mengenai kriminalisasi perbuatan pidana,

pertanggungjawaban pidana dan sanksi pidana. Berdasar pada rumusan masalah yang telah penyusun paparkan sebelumnya, maka pembahasan ini akan ditujukan kepada teori-teori mengenai pertanggungjawaban pidana. Pada saat sebelumnya

Muhammad Daud Ali, Hukum Islam (Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia), cet. Ke-XI (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2004)

13

13

terjadi suatu beban pertanggungjawaban pidana maka akan menengok kembali mengenai teori-teori/nas yang menjelaskan perbuatan pidana itu sendiri menurut hukum Islam. Perbuatan pidana dalam hukum pidana Islam dikenal dengan istilah

jinayah/jarimah. Jinayah merupakan bentuk verbal noun (masdar) dari kata jana.
Secara etimologi jana berarti perbuatan dosa atau perbuatan salah, sedangkan

jinayah diartikan berbuat dosa atau salah14. Secara termenologi kata jinayah
mempunyai beberapa pengertian, seperti yang diungkapkan oleeh Abd al-Qadir 'Audah :
15

adapun jarimah berasal dasri kata jarama yang mengandung arti berbuat salah, sehingga jarimah mempunyai aerti perbuatan salah. Dari segi istilah jarimah diartikan :
16

Dengan demikian perbuatan pidana mengandung pengertian bahwa perbuatan yang dilakukan dan diancam dengan pidana bagi yang melanggar larangan tersebut serta mengandung tiga unsur, yakni: 1. sifat melawan hukum, 2. pelakunya, yakni orang yang melakukan perbuatan pidana tersebut, yang dapat

Makhrus Munajat, Hukum Pidana Islam di Indonesia, cet pertama, (Yogayakarta : Bidamg Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2008), hlm. 1
15

14

Abd al-Qadir 'Audah, At-Tasyri' al-Jina'I al-Islami, (Beirut : Darul Kutub, 1963), 1 :

67.
16

Al-Mawardi, al-Ahkam al-Sultaniyah,(Mesir : Dar al-Bab al-Halabi,1973), hlm.219

14

dipersalahkan atau disesalkan atas perbuatannya, 3. perbuatan yang dilakukan adalah merupakan perbuatan yang oleh hukum dinyatakan perbuatan yang dapat dihukum17. Hal inilah yang menurut penyusun sangat koheren atau sejalan guna mengkaji permasalahan yang ada. Setelah mengetahui pengertian perbuatan pidana, selanjutnya

pembahasan kerangka teori akan dilanjutkan mengenai pembahasan teori dasardasar penetapan suatu perbuatan pidana. Menurut Makhrus Munajat dan Haliman dasar-dasar penetapan perbuatan pidana adalah sebagai berikut18: 1. Sifat Melawan Hukum (unsur formil). 2. Perbuatan yang dilakukan adalah merupakan perbuatan yang oleh hukum dinyatakan perbuatan yang dapat dihukum (unsur materiil). 3. Pelakunya, yakni orang yang melakukan perbuatan pidana tersebut, dapat dipersalahkan atau disesalkan atas perbuatannya (unsur moril). Kemudian akan dijelaskan mengenai teori-teori yang menjelaskan tentang pertanggungjawaban pidana, hal ini didasarkan pada objek penelitian yang difokuskan kepada konsep pertanggungjawaban pidana. Pertanggungjawaban pidana mengandung pengertian bahwa seseorang bertanggung jawab atas sesuatu perbuatan pidana yang secara sah dan telah diatur oleh undang-undang. Jadi dapat dikatakan bahwa pidana itu dapat dikenakan secara sah berarti untuk tindakan ini telah ada aturannya dalam sistem
Haliman, Hukum Pidana Syariat Menurut Ajaran Ahlus Sunah, cet. Ke-1 (Jakarta : Bulan Bintang, 1971), hlm. 65. Makhrus Munajat, Dekonstruksi Hukum Pidana Islam, cet. Ke-1 (Yogyakarta : Logung Pustaka, 2004), hlm. 10. lihat juga Haliman, Hukum Pidana Syariat Menurut Ajaran Ahlus Sunah, cet. Ke-1 (Jakarta : Bulan Bintang, 1971), hlm. 66.
18 17

15

hukum tertentu, dan sistem hukum itu telah berlaku dan mengikat atas perbuatan itu. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa tindakan ini dibenarkan oleh sistem hukum. Hal inilah yang menjadi konsep mengenai pertanggungjawaban pidana. Pengertian pertanggungjawaban pidana didalam konsep syariat Islam ialah pembebasan seseorang dengan hasil (akibat) perbuatan (atau tidak ada perbuatan) yang dikerjakannya dengan kemauannya sendiri, dimana ia mengetahui maksud-maksud dan akibat-akibat dari perbuatan itu19. Konsep pertanggungjawaban pidana dijelaskan di dalam surat alMuddas\s\ir yang berbunyi :
20


21

Surat Faathir ayat 18 menerangkan, bahwa orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, yang pada intinya adalah beban dosa tidak bisa

dibebankan kepada orang lain Surat az-Zumar ayat 7 yang berbunyi :

Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, cet. Ke-III (Jakarta : Bulan Bintang, 1967), hlm. 154.
20

19

Al-Muddas\s\ir (74) : 38. Al-An'am (6) : 164

21

16


22


23

Dari ayat-ayat tersebut, jelas bahwa orang tidak dapat diminta memikul tanggung jawab mengenai kejahatan atau kesalahan orang lain. Karena pertanggungjawaban pidana itu individual sifatnya, kesalahan seseorang tidak dapat dipindahkan kepada orang lain, hal tersebut sesuai dengan asas-asas hukum pidana Islam yaitu : larangan memindahkan kesalahan kepada orang lain24 Pertanggungjawaban pidana ditegakkan atas 3 (tiga) hal, yaitu25 : 1. 2. 3. Adanya perbuatan yang dilarang. Dikerjakan dengan kemauan sendiri. Pembuatnya mengetahui terhadap akibat perbuatan tersebut.

Prinsip pertanggungjawaban pidana yang berdasar pada asas tiada pidana tanpa kesalahan yang dikenal dengan Asas Kesalahan. Artinya, pelaku pidana dapat dipidana bila melakukan perbuatan pidana yang dilandasi sikap batin yang salah/jahat.

22

Az-Zumar (39) : 7. An-Najm (53) : 38

23 23

Muhammad Daud Ali, Hukum Islam (Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia), cet. Ke-XI (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2004) Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, cet. Ke-III (Jakarta : Bulan Bintang, 1967), hlm. 154.
25

24

17

Selanjutnya akan dibahas mengenai teori-teori yang membahas tentang korupsi, Jika mengacu pada khazanah hukum Islam (fiqh) agaknya sulit untuk mendefinisikan korupsi secara persis sebagaimana istilah yang di kenal dalam hukum pidana Indonesia. Hal ini disebabkan oleh istilah korupsi merupakan produk istilah modern yang tidak dijumpai dalam hukum Islam (fiqh). Definisi korupsi dalam pandangan hukum Islam sebagai berikut, korupsi adalah tindakan yang bertentangan dengan norma masyarakat, agama, moral dan hukum dengan tujuan memperkaya diri sendiri atau orng lain atau korporasi yang mengakibatkan rusaknya tatanan yang sudah disepakati yang berakibat pada hilangnya hak-hak orang lain, korporasi atau negara yang semestinya diperoleh26. Dari definisi di atas, hukum Islam dapat merumuskan bentuk-bentuk korupsi sebagaimana terangkum dalam berbagai kasus dalam konsep-konsep normatif dan fikih. Berikiut ini beberapa praktek yang disamakan dengan korupsi karena menmgandung unsur korupsi, 1. komisi, pemberian komisi, atau tindakan seseorang yang mengambil komisi diluar gajinya yang telah di tetapkan. 2. Risywah, atau suap menyuap 3. pemberian hadiah karena jabatannya untuk berbuat atau tidak berbuat, dan lain-lain. Kemudian akan dibahas teori-teori yang membahas tentang korporasi. Di dalam undang-undang tindak piadna korupsi dijelaskan bahwasanya korporassi adalah sekumpulan orang atau kekayaan yang terorganisasi baik yang merupakan

Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah, Fikih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhamadiyah ( jakarta : pusat studi agama dan peradaban, 2006), hlm. 55

26

18

badan hukum ataupun yang bukan badan hukum27. Dewasa ini pergaulan hukum dan kepustakaan, sudah lazim menggunakan isltilah tersebut bahkan merupakan istialah hukum yang resmi di Indonesia. Demikianlah kerangka teori yang dijadikan penyusun dalam mengkaji permasalahan tinjauan hukum Islam terhadap pertanggungjawaban pidana korporasi dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk penelititan kepustakaan atau library research, yaitu penelitian dengan mengkaji dan menelaah buku-buku yang berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana baik dalam hukum Islam maupun hukum positif. 2. Sifat Penelitian Penelitian ini bersifat eksplanatoris atau confirmatory research28, yang dalam hal ini penyusun mencoba menerangkan perbuatan apa saja yang telah ditetapkan/dirumuskan sebagai perbuatan pidana korporasi di dalam Undang-

Baca : Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi bab 1 ketentuan umum pasal 1 ayat 1 Masri Singa Rimbun, Sofyan Effendi, Metode Penelitian Survai ( Jakarta : LP3ES, 1981) hlm. 3.
28

27

19

undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. selain itu juga penelitian berupaya menerangkan bagaimana rumusan dan bentuk

pertanggungjawaban pidana korporasi yang diterapkan dalam Undang-undang No. 31 Tahun jo. Undang-undang No. 20 tahun 2001, yang terakhir adalah menjelaskan pandangan hukum Islam terhadap pertanggungjawaban pidana korporasi yang diberlakukan di dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 jo. Undang-undang No. 20 tahun 2001. 3. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan normatif, yaitu mendekati masalah pertanggungjawaban pidana dengan mendasarkannya pada teks-teks al-Quran dan al-Hadits, baik untuk pembenarannya maupun pemberian norma atas masalah ini. 4. Teknik Pengumpulan Data Cara yang ditempuh untuk memperoleh data ialah dengan penulusuran bahan pustaka, yaitu dengan menggunakan sumber-sumber data primer, sekunder dan tersier. Sumber data primer antara lain adalah : Perundang-undangan Indonesia, KUHP, al-Quran dan al-Hadits. Sedangkan data sekunder seperti buku-buku, teori-teori hukum dan pendapat para sarjana hukum terkemuka khususnya yang menyangkut permasalahan pertanggungjawaban pidana, dan sumber data tersier adalah kamus bahasa Arab, kamus bahasa Indonissia dan inseklopedi.

20

5. Analisa Data Metode analisa data yang digunakan adalah metode kualitataif, yakni suatu tata cara penelitian yang menghasilkan data diskriptif-analitis. Dengan kata lain penyusun tidak semata-mata bertujuan untuk menggunakan apa yang sebenarnya dimaksud dengan pertanggungjawaban pidana menurut pandangan Islam. Akan tetapi lebih jauh lagi adalah untuk memahami latar belakang dari permasalahan hukum. Di samping itu data yang diperoleh akan diurai dan disimpulkan dengan berpijak pada kerangka berfikir induktif, deduktif dan komparatif.

G. Sistematika Pembahasan Untuk memperjelas isi penelitan ini maka penyusun membuat sistematikanya sebagai berikut. Bab pertama berisi pendahuluan, yang membahas tentang : latar belakang masalah, pokok masalah, tujuan dan keguanaan penyusunan, telaah pustaka, kerangka teori, metodologi dan sistematika pembahasan. Bab ini sangat penting untuk menjwab mengapa penelitian ini dilakukan, sekaligus sebagai pengantar bagi pembahasan bab-bab selanjutnya. Bab kedua mengemukakan tentang korupsi, konsep pertanggungjawaban pidana menurut hukum Islam. Yang mencakup permasalahan pengertian dan jenis-jenis korupsi, korupsi dalam pandangan hukum Islam, asas

pertanggungjawaban pidana dalam hukum Islam dan pertanggungjawaban pidana korporasi menurut hukum Islam.

21

Bab ketiga menerangkan pertanggungjawaban korporasi dalam Undangundang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Mencakup latar belakang munculnya Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undangundang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang kemudian dilanjutkan dengan perumusan dan identifikasi perbuatan pidana yang diatur didalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Yang terakhir menjelaskan bagaimana pertanggungjawaban pidana korporasi yang diatur di dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bab keempat merupakan inti dari penelitian ini, berisi analisis hukum Islam terhadap pertanggungjawaban dan sanksi pidana korporasi dalam Undangundang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Mencakup analisis dari segi pertanggungjawaban pidana, dan dilanjutkan dengan analisis dari segi sanksi pidananya. Keterkaitan antara bab keempat dan kelima adalah dari segi analisa akadmik terhadap

22

pertanggungjawaban pidana dan psanksi pidana yang selanjutnya akan diperoleh kesimpulandan sekaligus akan di peroleh jawaban pokok permasalahan. Kemudian bab kelima yaitu penutup isi kesimpulan dan saran. Sebagai bab teakhir dari penyusunan hasil penelitian ini yang merupakan intisari dari galian, analisa dari uraian sebelumnya yang akan di kemas dalam bentuk sebuah kesimpulan. Penyusun juga memasukkan saran-saran konstruktif bagi penelitian ini demi utuhnya sebuah skripsi. Bab ini juga akan di lengkapi dengan daftar pustaka serta lampira-lampiran.

23

BAB II KORUPSI DAN KONSEP PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA MENURUT HUKUM ISLAM

A. Korupsi 1. Pengertian korupsi Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa korupsi merupakan fenomena kebudayaan manusia yang cukup tua. Barangkali sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Paling tidak dapat diperkirakan bahwa fenomena korupsi sudah muncul dalam peradaban manusia sejak mengenal system hidup bersama yang terorganisasi. Di antara cacatan yang dapat dibaca mengenai korupsi terdapat dalam suatu atau lain bentuknya terdapat dalam Bible. Bentuk korupsi yang sering kali disbut dalam Bible adalah penyuapan (bribe). Kitab eksodus (keluaran) dari perjanjian lama memperingatkan agar menghindari sejumlah perbuatan terlarang, diantaranya menerima suap, karena uang suap membutakan para pejabat (officials) dan menyesatkan tujuan ornag yang berada dijalan yang benar1. Seperti dapat dilihat pada bunyi pasal berikut ini2 : Suap jangan kau terima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.
Majlis Tarjih dan Jajdid PP Muhammadiyah, Fikih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah (Jakarta: PSAP. 2006) hlm. 69 2 Keluaran (23) : 8
1

24

Juga pasal 18 : 21 berbunyi3 : Disamping itu kau carilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap. Seperti juaga dapat dilihat dalam Ulangan (16) : 194 : Janganlah memutarbalikan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap,sebab suap membuat buta orang-orang bijaksana dan memutarbalikan perkataan orang-orang yang benar. Dalam masyakat kuno di India dan Yunani kuno, korupsi telah dipraktekkan sejak satu millenium sebelum masehi. Bentuk korupsi yang banyak di sebut adalah penyuapan. Dalam mano misalnya, disebutkan bahwa para pejabat yang korup yang menerima suap dari orang-orang desa harus diusir dari kerajaan dan harta kekayaan meeka disita5. Korupsi sesungguhnya merupakan nama keren dari mencuri, dan mencuri menurut istilah bahasa arab sariqah (menyembunyikan sesuatu yang bukan miliknya) dan di dalam KUHP disebutkan bahwa mencuri adalah memindahkan sesuatu dari tempat semula ke tempat lain yang bukan miliknya. Perilaku korupsi bisa juga diindikasikan dari berbagai perspektif atau pendekatan. Tindakan korupsi menurut perspektif keadilan atau pendekatan hukum misalnya mengatakan bahwa korupsi adalah mengambil bagian yang bukan menjadi haknya.

3 4 5

Keluaran (18) : 21 Ulangan (16) : 19 Ibid, hlm. 69

25

Korupsi adalah mengambil secara tidak jujur perbendaharaan milik publik atau barang yang diadakan dari pajak yang dibayarkan masyarakat untuk kepentingan memperkaya dirinya sendiri. Korupsi adalah tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi yang secara sengaja dilakukan sendiri atau bersama-sama untuk memperoleh keuntungan berupa status, kekayaan atau uang untuk perorangan, keluarga dekat atau kelompok sendiri6. Korupsi secara etimologi berasal dari bahasa latin, corruptio atau corruptus yang berarti merusak, tidak jujur, dapat di suap. Korupsi juga mengandung arti kejahatan, kebususukan, tidak bermoral, dan kejahatan, korupsi diartikan pula sebagai perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan unag suap, dan sebagainya7. Dalam perundang-undangan di Indonesia UU. No. 31 Tahun 1999 pasal 2 ayat 1, korupsi berarti perbuatan yang secara melawan hukum memperkaya diri sendiri, atau orang lain, atau suatu korporasi, yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara. Yang di perkuat dengan pasal 3 UU. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi bahwasanya korupsi adalah setiap tindakan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan Negara
http://pesantrenalmuhajir.wordpress.com/2009/01/21/menangkal-korupsi-menurut-erspektifal-Quran/ Oleh: Jaafar Usman Al-Qari, Akses. tgl. 30 januari 2009 Majlis Tarjih dan Jajdid PP Muhammadiyah, Fikih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah (Jakarta: PSAP. 2006) hlm. 11
7 6

26

atau perekonomian Negara. Dengan melihat definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa korupsi adalah menyalahgunakan kewenangan, jabatan, atau amanah (trust) secara nelawan untuk mendapatkan mamfaat atau keuntungan

pribadi dan atau kelompok tertentu yang dapat merugikan kepentingan umum. Dari sini juga dapat dikemukakan unsur-unsur yang melekat pada korupsi. Pertama, tindakan mengambil, menyembunyikan, menggelapkan uang Negara atau

masyarakat (public), dan juga perusahaan. Kedua, melawan norma-norma yang sah dan berlaku. Ketiga, penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang atau amanah yang ada pada dirinya. Keempat, demi kepentingan diri sendiri, keluarga, atau orang dan korporasi tertentu. Kelima, merugikan pihak lain, baik masyarakat atau negara. 2. Jenis dan Bentuk Korupsi Seiring dengan perkembangan pengetahuan dan budaya manusia, korupsi juga gak mau kalah lincahnya, korupsi juga ikut berkembang dan tumbuh sedemikian rupa layaknya makhluk hidup yang juga mempunyai rasa kecemburuan sosial sehingga menjelma dalam bentuk dan jenis yang beragam. M. Amien Rais, mantan ketua PP Muhammadiyah yang sering meneriakkan istilah KKN pada masa reformasi 1998, menyatakan bahwa sedikitnya korupsi ada empat jenis. Pertama, korupsi ekstortif, yakni berupa sogokan atau suap yang di lakukan pengusaha kepada penguasa, misalnya untuk mendapatkan hak penguasaan hutan (HPH) atau fasilotas tertentu, seseorang menggunakan uang untuk menyogok penguasayang berwenang. Kedua, korupsi manipulatif, misalnya seseorang yang

27

memiliki kepentingan ekonomi meminta kepada badan eksekutif maupun badan legislatf untuk membuat Undang-Undang yang menguntungkan bagi usahanya, sekalipun usaha tersebut berdampak negatif bagi orang banyak. Ketiga, korupsi

nepotistik, yaitu korupsi yang terjadi karena ada ikatan kekeluargaan, terlalau
mementingkan istri, anak, menantu, dan yang termasuk keluarga dekat. Dan keempat. Korupsi subversive, yakni korupsi yang merampok kekeyaan negara secara sewenang-wenang dan melawan untuk dialihkan kepihak asing, dengan sejumlah keuntungan pribadi8. Sekian banyak rumusan tindak pidana dalam pasal-pasal yang di atur dalam UU. No. 31 tahun 1999 yang diubah dengan UU. No. 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana koripsi, atas dasar-dsasar tententu dapatlah dibedakan dan dikelompokkan sebagai berikut9 : a. Atas Dasar Substansi Objek Tindak Pidana Korupsi Atas dasar substansi objeknya maka tindak pidana korupsi dapat dibedakan antara : 1) Tindak pidana korupsi murni Tindak pidana korupsi murni adalah tindak pidana korupsi yang substansi onbjeknya adaalah mengenai hal dan berhubungan dengan perlindungan hukum terhadap kepentingan hukum yang menyangkut keuangan negara, perekonomian
Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Fikih Anti Korupsi Persfektif Hlama Mahammadiyah, cet. Ke-2, (Jakarta : PASP, 2006), hlm. 17-18 Adami Chazawi, Hukum Pidana materiil Dan Formil korupsi di Indonesia, cet. Pertama (Malang : Bayumedia Publishing ; 2003) hlm. 15-24
9 8

28

negara, dan kelancaran pelaksanaan tugas/pekerjaan pegawai atu pelaksana pekerjaan yang bersifat publik. Tindak pidana korupsi ini, merupakan kejahatan jabatan, artinya subjek hukumnya pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri (disamakan dengan pegawai negeri) yang menjalankan tugas-tugas perkerjaan yang menyangkut kepentingan publik dengan menyalahgunakan kedudukannya itu. 2) Tindak pidana korupsi tidak murni Dimaksud dengan tindak pidana korupsi tidak murni ialah tindak pidana yang substansi objeknya adalah mengenai dan dalam hal mperlindungan hukum terhadap kepentingan hukum bagi kelancaran poelaksanaan tugsas-tugas penegak hukum dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. b. Atas Dasar Subjek Hukum Tindak Pidana Korupsi Atas dasar subjek huum atau si pembuatnya, maka dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu : 1) Tindak pidana korupsi umum Dimaksud dengan tindak pidana korupsi umum, ialah bentuk-bentuk tindak pidana korupsi yang ditujukan tidak terbatas kepada orang-orang yang berkwalitas sebagai pegawai negeri saja, akan tetapi ditujukan pada setiap orang, termasuk korporasi. 2) Tindak pidana korupsi pegawai negeri atau penyelenggara Negara

29

Tindak pidana korupsi pegawai negeri atau tindak pidana korupsi pejabat adalah tindak pidana korupsi yang hanya dapat dilakukan oleh orang ynag hanya berkwalitas sebagai pegawai negeri atau penyelenggara negara.di sini kwalitas pegawai negeri merupakan unsur esensalia tindak pidana c. Atas Dasar Sumbernya Maka tindak pidana korupsi dapat dikelompokkan menjadi dua, ialah : Tindak pidana korupsi yang bersumber pada KUHP. 1) Tindak pidana korupsi dibedakan lagi menjadi dua: a) Tindak pidana korupsi yang dirumuskan tersendiri dalam UU. No. 31 Tahun 1999 jo. UU. No. 20 Tahun 2001, rumusan mana yang berasal dari rumusan tindak pidana dalam KUHP. Formula rumusannya agak berbeda dengan rumusan aslinya dalam pasal KUHP yang bersangkutan tetapi substansinya sama. b) Tindak pidana korupsi yang menunjuk pada pasal-pasal tertentu yang ada dalam KUHP dan ditarik menjadi tindak pidana korupsi, dengan mengubah anacaman dan sistem pemidanaannya. Masuk dalam kelompok ini adalah tindak pidana korupsi yang disebutkan dalam pasal 23, merupakan saduran dari pasal 220, 231, 421, 422, 429, dan 430 menjadi tindak pidana korupsi.

30

2) Tindak pidana korupsi yang oleh UU N. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 dirumusakan sendiri sebagai tindak pidana korupsi. d. Atas Dasar Tingkah Laku / Perbuatan Dalam Rumusan Tindak Pidana 1) Tindak pidana korupsi aktif Tindak pidana korupsi aktif atau tindak pidana korupsi positif, ialah tindak pidana korupsi yang dalam rumusannya mencantumkan unsur perbuatan aktif. Perbuatan aktif atau perbuatan materiil yang bisa juga disebut perbuatan jasmani adalah perbuatan yang untuk mewujudkannya diperlukan gerakan tubuh atau bagian dari tubuh orang. 2) Tindak pidana korupsi pasif atau tindak pidana korupasi negatif Tindak pidana korupsi pasif adalah tindak pidana yang unsur tingkah lakunya dirumuskan secara pasif. Sebagaimana diketahui bahwa tindak pidana pasif itu adalah tindak pidana yang melarang untuk tidak berbuat aktif. Di dalam kehidupan sehari-hari, ada kalanya seseorang berada dalam situasi dan atau kondisi tertentu, dan orang itu diwajibkan (disebut kewajiban hukum) untuk melakukan suatu perbuatan (aktif) tertentu. Apabila dia tidak menuruti kewajiban hukumnya untuk berbuat (aktif) tertentu tersebut, artinya dia telah melanggar kewajiban hukumnya untuk berbuat tadi, maka dia dipersalahkan melakukan suatu tindak pidana pasif tersebut.

31

e. Atas Dasar Dapat - Tidaknya Merugikan Keuangan Negara dan Atau Perekonomian Negara. Atas dasar ini tindak pidana korupsi dapat dibedakan menjadi dua : 1) Tindak pidana korupsi yang dapat merugikan negara. Haruslah dimengerti bahwa tindak pidana korupsi yang dapat merugikan negara bukuanlah tindak pidana materiil, melainkan tindak pidana formil. Kerugian negera tidaklah disyaratkan untuk benar-benar sudah timbul untuk terjadinya suastu tindak pidana korupsi secara sempurna, melainkan kerugian itu menurut akal orang pada umumnya dapat menimbulkan kerugian bagi negara. 2) Tindak pidana korupsi yang tidak mensyaratykan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara. Bentuk-bentuk tindak pidana korupsi baik pada sub (a) maupun (b) dirumuskan secara formil atau merupakan tindak pidana formil, dan tidak ada yang dirumuskan secara materiil, atau berupa tindak pidana materiil. Dalam buku yang disusun oleh KPK dengan judul Memahmi untuk Membasmi Buku Satu untuk Memahmi Korupsi, korupsi dikelompokkan dalam 7 bagian. 1. korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan Negara. Melawan untuk memperkaya diri sendiri dan dapat merugikan keuangan Negara. 2. korupsi yang terkait dengan suap menyuap. Menyuap pegawai negeri 3. korupsi yang terkait dengan pengelapan dalam jabatan.pegawai negeri menggelapkan uang atau

32

membiarkan penggelapan. 4. korupsi yang terkait dengan perbuatan pemerasan. Pegawai negeri memeras. 5. korupsi yang terkait dengan perbuatan curang. Pemborong membuat curang. 6. korupsi yang terkait dengan benturan kepentungan dalam pengadaan. Pegawai negeri turut serta dalam pengaan yang diurusnya. 7. korupsi yang terkait dengan gratifikasi. Pegawai negeri menerima gratifikasi dan tidak melaporkan kepada KPK. 3. Korupsi dalam Hukum Islam Pada awalnya, muncul pesimisme yang begitu mendalam di sebagian kalangan untuk mengharapkan ajaran dan nilai agama sebagai kekuatan pemberantas korupsi. Selain karena agama sejauh ini lebih merupakan himbauan moral (kalaupun ada sanksi, akan berlaku di akhirat kelak), juga karena pengamalan dan kehidupan keagamaan lebih berorientasi pada formalisme dan simbolisme daripada substansi. Yang lebih ironis lagi, di sebagian masyarakat juga berkembang salah-penafsiran yang menganggap bahwa korupsi adalh dosa kecil, yang akan dianpuni oleh Tuhan dengan bertobat, atau menyisihkan sedikt hasil korupsi untuk sedekah atau melakukan ibadah tertntu. Islam sebagai agama yang sempurna, tidak hanya megatur hubungan makhluk dengan kholik, tetapi juga mengatur hubungan antar sesana makhluk; manusia dengan manusia, bahkan manusia dengan alam. Dalam beberapa hal, kualitas hhubungan antar manusia merupakan rrefleksi dari kualitas manusia dengan Tuhannya. DR. Muhammad Masyhuri Naim, MA. Memaparkan ada banyak ungkapan

33

yang bisa dipakai untuk menggambarkan pengertian korupsi, yang walaupun tidak tepat betul, tetapi tidak telalu jauh dari hakikat dan pengertian korupsi. Ada sebagian yang menggunakan istilah ikhtilas untuk menyebut prilaku korupsi, walau dalam kamus-kamus dapat ditemui temui makna asli ikhtilas adalah mencopet atau merampas harta orang lain. Sementara itu, ada yang mengungkapkan dengan ghulul. Sementara itu, ada yang mengistilahkan Akhdul Amwal Bil Bathil10, Ada banyak Ayat dan Hadits, yang menjelaskan posisi atau hukum korupsi dalam pandangan Islam, diantaranya :


11

ayat diatas jelas-jelas melarang untuk mengambil harta orang lain dengan cara-cara yang tidak benar. Dan larangan dalam pengertian aslinya bermakna haram, Dan keharaman ini menjadi lebih jelas, ketika Allah menggunakan lafadh berarti dosa. Dari sini, jelas mengambil harta yang bukan miliknya termasuk diantaranya korupsi adalah haram hukumnya, sama halnya dengan pekerjaan berzina, membunuh dan semacamnya.
10

yang

http://www.mail-rchive.com/urangsunda@yahoogroups.com/msg24504.html Tgl 26 Jan Al-Baqorah (2) : 188

2009
11

34


12

seperti yang pertama, ayat inipun melarang dengan tegas mengambil harta orang dengan cara-cara tidak benar, bedanya ayat ini memberikan solusi bagaimana mengambil harta orang lain tetapi dengan cara yang benar, salah satu di antaranya dengan melakukan jual beli atau transaksi dagang yang terlandasi kerelaan diantara pembeli dan penjual. Yang menarik, dalam ayat ini disebutkan dengan jelas larangan membunuh diri sendiri apalagi membunuh orang lain setelah larangan memakan harta orang lain dengan cara batil, sehingga paling tidak hukum dan hukuman orang yang memakan harta orang lain dengan cara batil sama dengan hukum dan hukuman membunuh orang, mengingat penyebutan larangan memakan harta orang lain dengan cara batil didahulukan dari larangan membunuh.


13

ayat ini dengan jelas menyebutkan balasan bagi orang yang memerangi Allah dan RsulNya yang berarti juga mengingkari ketentuan dan perintah Allah dan RasulNya,

12 13

An-Nisa (4) : 29 Al-Maidah (5) : 33

35

dimana diantara ketentuan-Nya adalah seperti yang termaktub dalam surat alBaqoroh (2) : 188 dan surat al-Nisa' (4) : 29 Jika mengacu pada khazanah hukum Islam agaknya sulit untuk

mendefinisikan korupsi secara persis sebagaimana dimaksud dalam istilah korupsi yang dikenal saat ini. Hal ini disebabkan istilah korupsi merupakan produk istilah modern yang tidak dijumpai padanannya dalam hukum Islam. Untuk mendefinisikan istilah korupsi yang disebutkan dalam hukum Islam, terlebih dahulu harus di ketahui secara persis unsur-unsur korupsi. Karena itu merujuk pada pengertian hukum pidana Indonesia sangat membantu14. Sebagaimana tercantum dalam UU. No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pada pasal 2 dan 3, yaitu: pasal 2 (1) berbunyi, setiap orang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuagan Negara atau perekonomian Negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000 dan paling banyak Rp. 1.000.000.000. Dan pasal 3 berbunyi setiap orang yang dengan tujuan memperkaya diri dendiri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau ssarana yang ada padanaya karena jabatan atau kedudukan yang dapat mserugikan keuangan Negara, atau perekomian

Majlis Tarjih dan PP Muhammadiyah, Fikih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah, (Jakarta: PSAP;2006),hlm. 54

14

36

Negara, dipidana dengasn pidsanapenjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun dasn atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000 dasn paling banyak Rp. 1.000.000.00015. Dari bunyi pasal diatas dapat ditarik unsur-unsur korupsi sebagai berikut, 1). tindakan melawan hukum, 2). memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi, 3). merugikan keuangan Negara atau perekomian Negara,.4). menyalah gunakan wewenang, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatannya. Dengan melihat unsur-unsur korupsi di atas, maka korupsi dalam hukun Islam dapat didefinisikan sebagai tindakan yang bertentangan dengan norma agama, moral, norma masyarakat, dan hukum dengan tujuan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang berakibat rusaknya tatanan yang sudah disepakati yang berikibat pada hilangnya hak-hak orang lain, korporasi atau Negara yang semestinya diperoleh16.

B. Asas Pertanggungjawaban Pidana dalam Hukum Islam. Perbicaraan tentang pertanggungjawaban pidana menyangkut pembahasanpembahasan tentang arti dan dasar pertanggungjawaban pidana, hal-hal yang memperngaruhi pertanggungjawaban pidana, pengaruh rela dianiya terhadap

Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, pasal 2 dan 3. 16 Majlis Tarjih dan PP Muhammadiyah, Fikih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah, (Jakarta: PSAP;2006),hlm. 55

15

37

pertanggungjawaban pidaana, syarat, sebab (perbuatan tidak langsung), dan perbuatan langsung terhadap pertanggungjawaban pidana. Dalam syariat Islam pertnaggungjawaban pidana mempunyai arti

pembebasan seseorang dengan hasil (akibat) perbuatan atau (tidak adanya perbuatan) yang dikerjakan dengan kemauan sendiri, di mana ia mengetahui maksudmaksud dan akibat-akibat dari perbuatannya itu17. Pertanggungjawaban pidana ini ditegakkan atas tiga hal, yaitu: adanya perbuatan yang dilarang, dikarenakan dengan kemauan sendiri, pembuatanya mengetahui terhadap akibat perbuatan tersebut. Dengan demikian ketiga unsur tersebut menjadi syarat mutlak adanya

pertanggungjawaban pidana dan telah diatur dalam undang-undang. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa tindakan ini dibenarkan oleh sistem. Hal inilah yang menjadi konsepsi mengenai pertanggungjawaban pidana. Konsep pertanggungjawaban pidana dalam hukum Islam dinukil dari sumber utama agama Islam al-Quran dan al-Hadits. Seperti yang dijelaskan di baah ini :
18

didalamnya mengandung pengertian bahwa setiap jiwa terikat pada apa yang dia kerjakan, dan setiap orang tidak akan memikul dosa atau kesalahan yang dibuat oleh orang lain. Sangat jelas telah diterangkan didalam isi surat tersebut, hal ini

Ahamad Hanafi, Asas-Asas hukum Pidana Islam, ( Jakarta: Bulan Bintang, 2005), cet. Ke6, hlm. 119
18

17

Al-Muddatstsir (74) : 38

38

menandakan bahwa beban kesalahan atau beban pidana tidak dapat diwakilkan kepada orang lain atau dimenjadi beban orang lain. Bahkan isi kandungan ayat tersebut juga dikuatkan atau didukung oleh ayatayat yang lain, seperti yang terkandung didalam surat Al-Anam ayat :


19

dijelaskan bahwa Allah SWT menyatakan, bahwa setiap pribadi melakukan sesuatu kejahatan akan menerima balasan kejahatan yang dilakukannya. Hal ini berarti, bahwa tidak boleh sekali-kali beban seseorang dijadikan beban orang lain. Selain ayat-ayat diatas terdapat beberapa ayat lain yang menjelaskan mengenai permasalahan ini, diantaranya surat Faathir :
20

menerangkan, bahwa orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, yang pada intinya adalah beban dosa tidak bisa dibebankan kepada orang lain. Didalam surat Az-Zumar :

19 20

Al-Anam (6) : 164 Faathir (35) : 18

39


21

Surat Al-Najm pun menerangkan hal yang sama, yang berbunyi :


22

dari ayat-ayat tersebut, dapat dipahami dengan jelas bahwa orang tidak dapat diminta memikul tanggung jawab mengenai kejahatan atau kesalahan orang lain. Atau orang bertanguungjawab sesuai dengan apa yang perbuatnya. Karena pertanggungjawaban pidana itu individual sifatnya, kesalahan seseorang tidak dapat dipindahkan kepada orang lain.

C. Pertanggungjawaban Korporasi Perspektif Hukum Islam. 1. Pengertian dan Dasar . Jika mengacu pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana, istilah korporasi tidak ditemukan. Istilah korporasi selaku subyek atau pelaku tindak pidana di Indonesia secara resmi baru muncul atau dipakai dalam beberapa undang-undang tindak pidana khusus. Istilah korporasi dalam bahasa Inggris disebut corporation, dalam bahasa Belanda disebut corporatie, dan dalam bahasa Jerman disebut

21

Az-Zumar (39) : 7 Al-Najm (53) : 38

22

40

korporation, secara etimologi berasal dari kata corporatio dalam bahasa latin. Selain
itu juga korporasi memiliki dua arti, yakni dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit, korporasi adalah badan hukum, korporasi merupakan figur yang eksistensi dan kewenangannya untuk dapat atau berwenang melakukan perbuatan diakui oleh perdata. Dalam arti yang luas korporasi dapat berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum23. Selain itu masih di dalam lingkup yang sama mengenai bahwa korporasi dipandang sebagai kumpulan terorganisasi dari orang dan atau kekayaan, baik merupakan badan hukum ataupun bukan badan hukum24. Berbeda dengan pengertian kororasi dalam hukum perdata, hukum pidana menambahkan yang "bukan badan hukum" yang belum ada dalam hukum perdata. Sebagaimana dalam hukum positif, Islam juga mengenal adanya badan hukum. Mengenai asal usul dan perkembangan badan hukum ini, Hasbi AshShiddieqy menggambarkan sebagai berikut25 :

Syakhshiyah pada asalnya, ialah : Syakhshiyah thabiiyah yang nampak pada setiap manusia dipandang seorang pribadi yang berdiri sendiri, mempunyai hak dan mempunyai kewajiban. Kemudian pandangan-pandangan itu berkembang, yaitu di dalam menetapkan Syakhshiyah-Syakhshiyah sesuatu. Perkembangan ini sebenarnya telah ada semenjak dahulu. Pandangan menetapkan bahwa disamping pribadi-pribadi manusia, ada lagi bermacammacam rupa mashlahat yang harus mendapatkan perawatan-perawatan tertentu dan tetap diperlukan biaya dan harus memelihara harta-harta waqaf
Sutan Remy Sjahdeini, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, cet. Ke-1 (Jakarta : PT Grafiti Pers, 2006), hlm 43 Hamzah Hatrik, Azas Pertanggungjawaban Korporasi dalam Pidana Indonesia (Strict Liability dan Vicarious Liability), (Jakarta : Rajawali Press, 1996), hlm. 12 Hasbi Ash-Shiddiqy, Pengantar Fiqh Muamalah, cet. Ke-II Jakarta : Bulan Bintang, 1984), hlm178-179
25 24 23

41

yang dibangun untuk memeliharanya. Maka badan-badan wakaf yang dibangun untuk memelihara suatu kepentingan umum, dapat kita pandang sebagai seorang pribadi dalam arti dapat memiliki, dapat mempunyai dan dipandang sebagai kepunyaan manusia bersama. Jelasnya, mula-mulanya yang dipandang orang hanya orang, kemudian berkembang jalan pikiran lalu badan-badan yang mengurus kepentingankepentingan umum dipandang sebagai orang juga. Kemudian berkembang lagi pandangan dalam memberikan bentuk baru kepada Syakhshiyah-Syakhshiyah (badan hukum) yang demikian itu. Dapat diperhatikan bahwa yayasan-yayasan itu terdiri dari orang-orang yang kesemuanya itu dipandang sebagai orang seorang yang mempunyai kemaslahatan dan hak yang terdiri sendiri yang terlepas dari Syakhshiyah dan kemashlahatan masing-masing pribadinya. Adapun perkongsian yang tanggungjawabnya terbatas pada harta yang dikongsikan saja tidak mengenai harta masing-masing pribadi, yang tidak dimasukkan kedalam perkongsian itu. Karena itu apabila perkongsian mengalami kerugian atau failit, maka hutang-hutang itu tidak dipikulkan oleh para kongsi yang dibayar dari hartaharta mereka lain. Dari uraian di atas jelaslah bahwa badan hukum termasuk kategori asy-

syakhsiyyah. asy-syakhsiyyah berarti kepribadian. Syakhsiyyah ini dalam istilah


modern dinamakan asy-syakhsiyyah al-itibariyyah, disebut juga asy-syakhsiyyah al-

hukmiyyah, atau asy-syakhsiyyah al-manawiyyahI berarti yang dianggap selaku


orang atau badan hukum. Jadi, disamping manusia alami sebagai syakhsiyyah, maka ada lagi sesuatu yang dianggap sebagai syakhsiyyah. Oleh karena itu ia dikatakan pribadi dalam pandangan . Pribadi dalam pandangan ini dalam istilah resmi di Indonesia disebut badan hukum. Meskipun begitu, berkaitan dengan keberadaan badan hukum ini bukan tidak menimbulkan perbedaan pendapat dikalangan fuqaha. Fuqaha yang menolak adanya badan hukum melontarkan argumentasi bahwa tidak ada z\immah dan ahliyah wujud

42

bagi selain manusia; atau dengan kata lain hanya manusia yang dapat menjadi subyek. Sedangkan para ahli fiqh yang menyetujui badan hukum mendasarkannya dengan merujuk kepada beberapa macam lembaga yang dapat mempunyai beberapa hak dan kewajiban. Dan disini, seperti yang ditegaskan oleh Yusuf Musa, terlihat adanya pengertian badan hukum, yakni suatu subyek (mah}kum alaih) yang bukan manusia. Dengan demikian dapat dipahami bahwa yang dimaksudkan dengan badan hukum dalam hukum Islam menunjukkan persamaan dengan badan hukum dalam hukum positif, namun begitu hukum Islam jelas berbeda dengan sistem yang lain. Perbedaan itu disebabkan hukum Islam memiliki konsep-konsep dan teori-teori sumber yang benar-benar tidak diragukan kebenarannya dan bukan buah tangan manusia. Menyadari adanya persamaan dan perbedaan itu Ahmad az-Z{arqa mengadakan perbandingan antara hukum Islam dan hukum positif tentang badan hukum ini. Beliau mengatakan bahwa badan hukum dalam hukum Islam dibenarkan adanya dan ditetapkan kepadanya beberapa macam. Bila mengacu kepada teks-teks dan sumber-sumber asli dalam syariat Islam, maka secara umum dapat ditemukan beberapa macam yang didasarkan pada adanya badan hukum. Dan dapat dijumpai pula-lain yang sama dengan yang ditetapkan dalam teori perundang-undangan modern.

43

Dalam al-Quran banyak dijumpai kata al-qaryah yang dapat dijadikan rujukan bagi keberadaan badan hukum, khususnya korporasi. Misalnya firman Allah SWT:
26

Menurut Imam Al-Mahalli dan Imam As-Sayuti ayat tersebut menerangkan tentang peristiwa yang menimpa penduduk negeri Eilah yang berdiam di tepi laut. Kedua imam secara singkat juga menjelaskan bahwa yang dikehendaki dalam alqaryah (negeri) pada surat al-Haj ayat 45 adalah penduduk negeri itu sendiri. Ayat itu berbunyi :
27

Berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim. Jadi yang dimaksud dengan al-qaryah pada kedua ayat diatas bukanlah negeri yang bukan makhluk berakal, tetapi orang-orang atau kumpulan orang yang tinggal di wilayah tertentu. Sedangkan pemakaian kata al-qaryah tersebut dapat dijadikan landasan korporasi. Dalam hadis ditemukan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda:
26 27

bagi badan hukum, karena yang dinamakan negeri tergolong badan

Al-A'raf (22) : 163 Al-Hajj (22) : 45

44

28

berkenaan dengan hadis tersebut Hasbi Ash-shiddieqy yang sepandapat dengan azZarqa lebih lanjut menjelaskan : Dalam rangkaian yang kedua dari hadis ini, Nabi menetapakan bahwa keamanan diberikan kepada seseorang, dipandang sebagai diberikan oleh mereka semua dan lazim dipenuhi. Para fuqaha berkata : tidak boleh orang yang sudah mendapat jaminan keamanan, dibunuh atau diperangi dengan alasan bahwa pemberian keamanan itu bukan penguasa, walaupun penguasa dalam hal ini dapat membatalkan keamanan yang diberikan oleh orang itu kalau dipandang pemberian keamanan itu berlawanan dengan kemashlahatan. Akan tetapi lebih dahulu diberi tahukan kepada yang bersangkutan. Dan walaupun pemerintah bisa menyalahkan orang yang memberikan keamanan kepada seorang musuh, namun demikian apa yang diberikan oleh seseorang itu harus dipandang sebagai yang diberikan oleh orang-orang itu semua. Dan dapat dilakukan pertanggungjawab mereka oleh orang yang paling rendah diantara mereka. Ini maksud dari pada sabda Nabi :


Abu Abdillah Bin Yazid al-Quzwaini, Sunan Ibnu Majah no .2785 Bab al-Muslimuna Tatakafau Dimauhum, CD Al-Maktabah Asy-Syamilah Islamic Global Software Ridwana Media, t.t., jilid 8 hlm. 258
28

45

Dalam hal ini dapat di lihat bahwa majmuul ummah dipandang sebagai satu orang. Dan Islam menetapkan adanya hak bagi setiap muslim untuk bertindak mengajukan tuntutan kepada hakim dalam masalah umum, seperti mengajukan kepada suami istri yang telah bercerai dengan thalaq bain tetapi tetap hidup dalam satu rumah tangga, tidak mau berpisah, walaupun si penggugat itu tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan orang itu, bukan famili, bukan apa-apa. Hal ini memberikan pengertian adanya Asy-syakhsiyyah al-itibariyyah dalam syariat Islam. Dan bahwa kemashlahatan umum dipandang sebagai suatu syakhshiyyah

hukmiyah. Ini semua menunjukkan kepada prinsip pembedaan antara perseorangan


beserta hak-haknya dengan masyarakat serta haknya walaupun syakhshiyyah

hukmiyah ini tidak persis sama dengan syakhshiyyah dalam umum, baik dalam
bidang z{immah maupun dalam bidang ahliyah. Tetapi pada pokoknya, prinsip adanya syakhshiyyah ini terdapat dalam fiqh Islam walaupun ada perbedaanperbedaannya. Dalam hal itu bisa ditemukan persamaan antara umum dengan fiqh Islam dalam masalah baitul mal, yaitu kepala negara merupakan wakil bagi jamaah umat. Dasar lain yang dapat diajukan bagi keberatan badan hukum ialah hadis tentang syirkah yang merupakan salah satu bentuk dari badan hukum. Sabda Rasulullah SAW :

46

29

Selain pendapat-pendapat diatas, sebagian fuqaha menyatakan bahwa badan hukum dalam arti yang luas termasuk subyek hewani. Kebutuhan ini muncul untuk memberikan perlindungan tehadap hewan-hewan dari kesewenang-wenangan manusia. Oleh karena itu ditetapkan kepadanya hak-hak tertentu. Dengan kata lain, seperti dikemukakan oleh Sallam Madkur, hewan juga mempunyai ahliyyah wujub. Ketetapan ini didasarkan kepada firman Allah SWT surat Hud ayat 6 ; juga dikaitkan kepada sebuah hadis yang mengisahkan tentang seseorang wanita yang masuk neraka karena menelantarkan seekor kucing hingga mati.
30

Sedangkan hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda :


31

Sulaiman Bin Al-Asy'asy Abu Daud As-Sijistani Al-Azdi, Sunan Abu Daud, Bab Fi Man'e Al-Ma', jilid 2, hlm 300. CD Al-Maktabah Asy-Syamilah Islamic Global Software Ridwana Media.
30 31

29

Hud (11) : 6

Muhammad Bin Isma'il Abu Abdillah Al-Bukhari Al-Jakfi, Al-Jami'u Al-Shahih AlMukhtashar, no. 3295, cet. Ke 3, (Yaman : Bairut, 1987), hlm. 1284

47

2. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Dalil pertama yang biasa diandalkan sebagai landasan adanya tindak pidana dan tanggungjawab pidana bagi badan hukum ialah firman Allah SWT :
32

Kandungan ayat ini menceritakan tentang azab yang ditimpakan oleh Allah SWT terhadap suatu negeri beserta seluruh isinya yang berupa harta benda dan manusia, karena melakukan kejahatan. Secara tegas lahir ayat ini menyatakan negeri (al-qaryah) sebagai pelaku kejahatan. Mengenai firman Allah Taala ayat 11 surat Al-Anbiya> itu, Imam Syafii menjelaskan bahwa Allah menyebutkan negeri yang telah binasa lantaran berbuat zalim. Oleh karena negeri itu sebenarnya tidak bisa melakukan kejahatan, maka yang dikehendaki sebagai pelaku kejahatan itu tiada lain adalah orang-orang atau himpunan manusia yang mendiami negeri itu33. Singkatnya arti majaz atau yang dimaksud negeri (al-qaryah) ialah kumpulan manusia yang bertempat tinggal di wilayah tertentu. Pemahaman demikian ditunjang oleh teori-teori sosiologi. Seperti yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto bahwa yang dikatakan keluarga, desa, kota,
32 33

Al-Anbiya (21) : 11 Asy-Syafii, Ar-Risalah, hlm. 38

48

korporasi atau negara adalah tipe-tipe kelompok sosial yang diklarifikasikan atas dasar ukuran-ukuran tertentu34. Kelompok sosial tersebut merupakan suatu kesatuan dari himpunan manusia yang berhubungan secara timbal balik, saling mempengaruhi dan juga punya kesadaran untuk saling tolong-menolong35. Bentuk lain dari kelompok sosial ini adalah persekutuan terbatas, firma dan badan-badan hukum36. Sebagaimana telah diutarakan, pemakaian kata al-qaryah (negeri) dalam alQuran dapat dijadikan rujukan bagi badan hukum, karena yang dinamakan negeri atau negara termasuk badan hukum Korporasi. Berkaitan dengan ayat di atas, suatu negeri yang berkedudukan badan hukum/korporasi dapat dikategorikan sebagai pelaku kejahatan atau subyek pidana. Lantaran telah berbuat jahat, maka Allah SWT sebagai Al-Hakim memutuskan untuk menjatuhkan siksa atau kepada negeri itu dan segenap isinya yang berwujud harta benda maupun manusia. Dengan demikian memahami lafal al-qaryah dengan makna majaz dan menafsirkannya secara sosiologis berarti menunjukkan bahwa badan korporasi tergolong subyek pidana atau pembuat pidana. Keseluruhan ayat tersebut berisi gagasan tentang tindak pidana dan tanggungjawab pidana serta pedoman dan maksimal berupa pidana harta dan pidana badan hukum yang diterapkan pada badan hukum bersama orang-orang yang berada di dalamnya.

34

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Cet. Ke-I (Jakarta : Rajawali, 1986), hlm. Ibid. hlm. 103 Ibid. hlm. 122

105

35 36

49

Ketentuan-ketentuan di atas selaras dengan ketentuan Usul Rancangan KUHP baru. Usul Rancangan merumuskan : Jika suatu tindak pidana dilakukan oleh atau untuk suatu korporasi, maka penuntutan dapat dilakukan dan pidananya dijatuhkan terhadap korporasi itu sendiri atau korporasi dan pengurusnya atau pengurusnya saja37. Rumusan tersebut memuat tiga sistem tentang kedudukan badan hukum korporasi sebagai pembuat dan sifat pertanggungjawaban pidananya. Sebagaimana diterangkan dibawah ini : a. Pengurus korporasi sebagai pembuat dan penguruslah yang

bertanggungjawab. b. Korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggungjawab; c. Korporasi sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggungjawab38. Menyangkut sistem pertama itu, sebetulnya boleh dikatakan tidak banyak mengandung permasalahan, karena masih sepadan dengan asas tiada pidana tanpa kesalahan. Dalam hal ini pengurus berbuat, maka pengurus pula yang harus bertanggungjawab.

Roeslan Saleh, Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, dalam BPHN, (ed.) Lokakarya Masalah Pembaharuan Kodifikasi Pidana Nasional Buku I, (Jakarta : BPHN, 1984), hlm. 52 Sutan Remy Sjahdeini, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, cet. Ke-1 (Jakarta : PT Grafiti Pers, 2006), hlm. 58, lihat juga Muladi, Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Pidana, cet. Ke-1 (Bandung : Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Bandung, 1991), hlm. 68, lihat juga Dwidja Priyatno, Kebijakan Legislasi Tentang Sistem Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Di Indonesia, cet. Ke-1 (Bandung : CV Utomo, 2004), hlm. 53. lihat juga Roeslan Saleh, Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, dalam BPHN, (ed.) Lokakarya Masalah Pembaharuan Kodifikasi Pidana Nasional Buku I, (Jakarta : BPHN, 1984), hlm. 52
38

37

50

Seiring dengan ketentuan di atas, Abd Qadir Audah menyatakan bahwa dalam hukum Islam bila terjadi tindak pidana yang dibuat oleh wali (pengurus) untuk kepentingan badan hukum, maka pengurus itulah yang memikul akibat perbuatannya tersebut39. Peristiwa ini selaras dengan prinsip masih selaras dengan prinsip keseorangan dalam tanggungjawab pidana artinya, seseorang tidak bertanggungjawab kecuali atas perbuatan pidana yang telah diperbuatnya sendiri, dan bagaimanapun juga ia tidak memikul akibat perbuatan pidana orang lain. Prinsip ini berkali-kali ditandaskan oleh al-Quran, misalnya:
40

Persoalan yang ramai diperdebatkan adalah menyangkut dua sistem berikutnya tentang korporasi sebagai pembuat pidana. Karena, selain

tanggungjawabnya bersifat kolektif atau tidak bersifat perseorangan, kedua sistem tersebut juga menunjukkan adanya tanggungjawab yang bersifat dilimpahkan diwakilkan. Dalam hubungannya dengan pidana positif berarti bentuk atau sifat tanggungjawab ini menyimpang dari asas tiada pidan tanpa kesalahan, yang biasa disingkat dengan asas kesalahan. Menurut keterangan Barda Nawawi Arief, meskipun usul rancangan mengakui secara tegas asas kesalahan, namun dalam hal-hal tertentu juga

39 40

Abd Qadir Audah, At-Tasyri al-Jinai., I : 394 Al-Fathir (35) : 18

51

memungkinkan adanya penyimpangan atau perkecualiannya, yakni yang dikenal dengan doktrin pertanggungjawaban yang ketat atau strict liability dan pertanggungjawaban pengganti atau vicarious liability41. Seterusnya beliau menambahkan : Bahwa perkecualian atau penyimpangan dari suatu asas jangan dilihat semata-mata sebagai suatu pertentangan (kontradiksi), tetapi harus juga dilihat sebagai pelengkap (complement) dalam mewujudkan asas keseimbangan. Sebagaimana telah dijelaskan badan hukum ialah kumpulan manusia yang mempunyai kepentingan dan tanggungjawab bersama, pemenuhan tanggungjawab ini dilaksanakan oleh sebagian dari mereka yang diangkat sebagai wakil atau pengurus badan hukum. Dalam kedudukan sebagai wakil, maka pengurus berkewajiban mengelola dan mengembangkan harta badan hukum sesuai dengan kemashlahatan yang dibenarkan oleh syariat. Kendati begitu pada kenyataannya sering pula terjadi pengurus ketika bertugas melakukan perbuatan melanggar atau perbuatan pidana dalam menegakkan kepentingan badan hukum itu. Perbuatan pidana pengurus dalam kedudukan sebagai wakil dinamakan tindak pidana badan hukum. Dengan kata lain yang dimaksud badan hukum sebagai pembuat pidana bukanlah berarti himpunan orang yang

Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Baru Dalam Konsep KUHP Baru, makalah bahan ceramah di Fakultas UII, Yogyakarta, 18 Mei 1991, hlm. 8.

41

52

menjadi hakikat badan hukum itu bertindak beramai-ramai secara fisik melakukan perbuatan pidana. Jadi dapatlah dimaklumi kalau badan hukum itu sendiri di nisbatkan sebagai pelaku fungsional (functioneel daderschap) yang mempunyai ciri khas yaitu perbuatan fisik dari yang satu (yang sebenarnya melakukan atau membuatnya) menghasilkan perbuatan fungsional terhadap yang lain42. Walaupun pelaksanaannya hanya seseorang atau beberapa orang saja, namun mereka semua pada dasarnya dapat dituntut tanggungjawabnya, termasuk tanggungjawab pidana, sebab hal itu memang hak dan tanggungjawab bersama. Gambaran yang cocok dalam uraian ini terlihat pada ijtihat yang pernah dilakukan oleh Umar Bin Khattab ra. Diceritakan bahwa bahwa ada sekelompok pemuda pembantupembantu Hatib Bin Abi Baltaah mencuri seekor unta milik orang Muzainanah, ketika dibawa kepada Umar Bin Khattab mereka mengaku. Kusayyir Bin al-Salt meminta agar mereka dijatuhi hukuman potong tangan. Setelah pergi ia dipanggil kembali lalu katanya : sungguh kalau tidak karena saya tahu kalian memanfaatkan mereka dan membuat mereka kelaparan sehingga jika sekiranya ada dari mereka yang memakan makanan yang diharamkan oleh Allah mereka halalkan, niscaya saya potong tangan mereka. Kemudian ia menunjukkan kata-katanya kepada Abdur-Rahman Bin Hatib Bin Abi Baltaah dengan katanya : demi Allah jika saya tidak melakukan itu pasti saya denda kalian dengan denda yang sangat menyakitkan anda. Setalah itu katanya lagi : hai orang muzainah (pemilik unta), berapa harga unta anda itu. Empat ratus, jawabnya. Umar berkata kepada abdur-Rahman : prgilah dan berikan kepadanya delapan ratus, dan bebaskan anak-anak muda pencuri

42

J. E. Sahetapy, Kejahatan Korporasi, cet. Ke-I (Bandung : PT. Eresco, 1994), hlm. 37

53

tersebut dari tuduhan pencurian, sebab Hatib yang memaksa mereka mencuri; mereka dalam kelaparan dan mereka sekedar mencari hidup43. Ijtihat Umar di atas dijadikan landasan bagi badan hukum menunjukkan bahwa kumpulan orang merupakan suatu kesatuan yang utuh, seumpama satu tubuh atau satu subyek tersendiri yang mempunyai hak dan tanggungjawab secara bersama. Tanggungjawab ini cukup dilakukan oleh sebagian mereka. Derita yang dialami salah satu anggota dari kesatuan itu, baik akibat kesengajaan atau kelalaian akan dirasakan dan ditanggung oleh kesatuan itu beserta anggota yang lainnya. Hal ini disebabkan di antara mereka diharuskan untuk saling tolong-menolong dan berkasih saying. Dalam hukum Islam sifat pertanggungjawaban tersebut mirip dengan tanggungjawab atas pelaksanaan fardlu kifa>yah. Untuk penunaian fardlu kifayah, jika telah ada sebagian dari kaum muslimin yang mengerjakannya, maka gugurlah tanggungjawab yang lain. Dan apabila tidak ada seorangpun memenuhi kewajiban itu, maka akibatnya semua memikul kesalahan atau menanggung dosa44. Orang yang sanggup melaksanakan berdosa karena tidak mau mengerjakan. Sedangkan yang lain berdosa lantaran tidak menyuruh atau tidak berusaha mencari orang yang mampu untuk menegakkan kewajiban itu45
43

Muahmmad Husain Haekal Uamr Bin Khattab Sebuah Telaah Mendalam Tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa Itu (Jakarta : Litera Antarnus, 2007) hlm 758 Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, cet. Ke-II, (Jakarta : Bulan Bintang, 1984), hlm. 143
44 45

Ibid. Hlm, 145

54

Berdasarkan tuntutan nas-nas di atas dan kemiripannya dengan pelaksanaan

fardlu kifayah, maka dapat ditarik pengertian bahwa badan hukum tergolong subyek
pidana dan yang bertanggungjawab atas perbuatan pidana badan hukum bukan hanya pengurus saja, tapi juga badan hukum itu sendiri beserta semua orang yang terlibat didalamnya. Pendek kata, tanggungjawab pidana badan hukum bersifat kolektif dan diwakilkan. Mengenai tanggungjawab bersama atau tanggungjawab kolektif ini Muhammad Quraisah Shihab menerangkan bahwa karena pentingnya kaitan pribadipribadi dengan masyarakat, maka dalam al-Quran banyak ditemukan ayat yang membicarakan tentang tanggungjawab kolektif disamping tanggungjawab pribadi46. Salah satu ayat yang dikemukakan beliau ialah :
47

ayat ini mengisahkan tentang azab atau sanksi yang dijatuhkan kepada al-qura (jamak dari al-quryah), yakni negeri-negeri, karena kelalimannya. Lalu baliau menghubungkan ayat ini dengan firman Allah SWT :
48

46 47 48

M. Quraisah Shihab, Membumikan Al-quran, hlm. 247 Al-Kahfi (18) : 59 Al-Anfal (8) : 25

55

dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya. Dari kedua ayat itu Muhammad Quraisah Shihab menjelaskan bahwa kehancuran suatu masyarakat tidak hanya menimpa orang-orang zalim, tetapi mencakup keseluruhan mereka sebagai masyarakat49 Kemudian beliau mengatakan bahwa : ini tentunya tidak bertentangan dengan ayat 18 surat Fathir, yang menyatakan antara lain : orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, sebab ayat ini berbicara tentang tanggungjawab pribadi, dan ayat yang lalu tentang tagngungjawab kolektif. Dengan demikian tanggungjawab pidana badan hukum adalah bersifat kolektif dan diwakilkan. Adakalanya tanggungjawab badan hukum ini selaras dengan asas kesalahan. Hal ini terwujud jika perbuatan pidana yang dilakukan pengurus bukan semata-mata atas prakarsanya sendiri, tapi juga karena pengaruh atau dorongan dari pihak badan hukum. Misalnya atas pengaruh dewan direksi yang dipandang sebagai penjelmaan dari kedirian suatu korporasi. Oleh sebab itu semua bersalah karena turut bekerjasama mengerjakan tindak pidana. Masing-masing bersalah lantaran berbuat langsung, sebagai penyuruh, penganjur, atau mengetahui perbuatan itu namun tidak berupaya mencegahnya.

49

M. Quraisah Shihab, Membumikan Al-Quran, hlm. 248

56

Adapun bentuk tindak pidana badan hukum yang mengikuti asas kesalahan itu tergolong kejahatan korporasi dalam dimensi luas; seperti perdagangan narkotika, terorisme dan perdagangan senjata gelap. Bentuk-bentuk kejahatan korporasi ini mempunyai dampak globalisasi yang dapat merusak seluruh kerangka dan struktur serta moralitas dari suatu masyarakat50. Selain itu dimungkinkan pula tanggungjawab pidana badan hukum yang bersifat kolektif merupakan penyimpangan atau perkecualian dari asas kesalahan. Hal ini terjadi kalau perbuatan pidana itu dilaksanakan oleh pengurus badan hukum atas perkaranya sendiri tanpa diketahui oleh sebagian atau seluruh pihak yang terlibat dalam badan hukum. Lalu tanggungjawab atas perbuatan itu dibebankan kepada korporasi dan pengurus. Berkenaan dengan penyimpangan dari asas kesalahan, Abd Qadir Audah mengemukakan bahwa kehidupan keluarga dan masyarakat menurut wataknya ditegakkan atas dasar tolong menolong dan kerjasama. Karena itu tiap-tiap anggota keluarga atau masyarakat wajib bekerjasama dan saling membantu. Terjadinya perbuatan jarimah oleh salah seorang anggota merupakan pengaruh atau akibat tak langsung dari kelengahan lingkungan keluarga atau masyarakat yang

bertanggungjawab atas pendidikan sekalian anggotanya. Oleh sebab itu keluargalah yang pertama-tama menanggung kesalahan si pembuat dan pada gilirannya masyarakat juga dapat dibebani tanggungjawab itu. Dengan ikut sertanya pihak

50

J. E. Sahetapy, Kejahatan Korporasi, cet. Ke-I (Bandung : PT. Eresco, 1994), hlm. 40-41

57

keluarga atau masyarakat sebagai penanggungjawab pengganti, maka hak-hak si korban atau pun walinya akan lebih terjamin. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa barangkali inilah satu-satunya pengecualian asas kesalahan yang harus diwujudkan demi megukuhkan persamaan, keadilan dan melindungi sepenuhnya hak-hak korban. Dalam perkembangan ekonomi dan sosial dewasa ini ternyata keadaankeadaan demikian juga ditemui pada peristiwa tindak pidana badan hukum korporasi. Seperti telah diterangkan secara sosiologis pada badan hukum korporasi sama halnya dengan keluarga terdapat hubungan pengaruh mempengaruhi dan sifat tolong-menolong. Karena badan hukum korporasi memang didirikan dengan tujuan saling bantu membantu untuk mencapai kesejahteraan seluruh anggotanya. Misalnya pada Perseroan terbatas, semenjak awal telah ditumbuh kembangkan kesadaran untuk saling memacu dalam menggapai keuntungan. Didorong oleh suasana sosial seperti ini, setiap tindakan pengurus termasuk perbuatan pidana yang dilakukan dalam kedudukan sebagai wakil adalah mengacu pada kepentingan badan hukum. Perolehan laba yang diinginkan sejak semula dan dihasilkan oleh perbuatan pidana pengurus, lantas dinikmati badan hukum merupakan mata rantai yang menghubungkan kerjasama antara perbuatan pengurus dan badan hukum. Dan begitulah adalah wajar bila badan hukum beserta orang-orang didalamnya yang menciptakan situasi itu dikenakan tanggungjawab pula. Lantaran

58

pekerjaan itu memang dimaksudkan untuk keuntungan badan hukum . Dan hal ini sekaligus membuktikan lemahnya pengawasan badan hukum terhadap pengurusnya. Apabila hanya pengurus saja yang dipidana, niscaya hak-hak korban dan kepentingan umum akan terbengkalai. Turut sertanya badan hukum memikul tanggungjawab pidana ini akan lebih menjamin terpenuhinya hak-hak korban dan kepentingan umum untuk memperoleh ganti rugi yang setimpal. Tanggungjawab kolektif dan kondisi kejahatan yang merugikan kepentingan umum dalam lingkup yang luas muncul pada kasus tindak pidana badan hukum. Dalam perkara ini bersandar dalil syara sebagaimana tertera secara tegas pada ayat 25 surat Al-Anfa>l dan hadits yang meriwayatkan ayat tersebut, maka akan berakibat dipikulkannya tanggungjawab pidana kepada badan hukum . Tanggungjawab pribadi mengikuti asas kesalahan berpedoman pada prinsip umum. Tanggungjawab kolektif dan diwakilkan menerapkan pengecualian asas kesalahan yang berlandaskan ketentuan khusus dalam situasi darurat. Keduanya tidak bertentangan, malahan saling melengkapi dalam mewujudkan keadilan dan kemaslahatan. Dengan demikian menetapkan badan hukum sebagai subyek pidana dan memandangnya cakap untuk memikul tanggungjawab pidana adalah berguna untuk mencegah dan menanggulangi kejahatan korporasi yang banyak menimbulakan kemadaratan. Memperluas pengecualian asas kesalahan adalah untuk mewujudkan kemaslahatan dan keadilan yang menjadi tujuan dan inti Islam.

59

BAB III PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI

A. Latar Belakang Munculnya UU. No. 31 Tahun 1999 dan UU. 20 Tahun 2001. 1. Latar Belakang Munculnya Undang-undang. No. 31 Tahun 1999. Kabinet pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie) periode 1998-1999 berhasil merumuskan suatu undangundang yang menjadi kebutuhan Bangsa Indonesia pada saat itu, yakni di dalam mengantisipasi dan sekaligus menanggulangi tindak pidana korupsi yang dari hari-kehari mengalami perubahan dan perkembangan bentuknya. Undang-undang No. 3 Tahun 1971 yang menjadi legitimasi bagi delikdelik korupsi pada masa tersebut sudah di anggap tidak lagi mampu mengantisipasi dan sekaligus menanggulangi tindak pidana korupsi yang senantiasi mengalami perkembangan dan perubahan bentuknya sehingga pemerintah menganggap perlu adanya Undang-undang baru yang lebih mampu mengakomodasi delik-delik korupsi yang mengalami perubahan. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1999 disahkanlah Undang-undang No. 31 Tahun 1999 yang ditandangani oleh Presiden B.J. Habibie dan undangkan di Jakarta serta ditulis pada Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 140 dan ditandatangani oleh Menteri Negara Sekretaris Negara Republik Indonesia Prof. Dr. Muladi, SH, MH., dengan begitu bangsa Indonesia telah resmi memiliki

60

Undang-undang

yang

mengatur

tindak

pidana

korupsi

dan

sekaligus

menggantikan Undang-undang No. 3 Tahun 1971. 2. Latar Belakang Munculnya UU. No. 20 Tahun 2001. Perubahan dan perkembangan delik pidana korupsi ternyata terus bergerak dan menyebabkan perlu adanya aturan baru yang lebih mampu mengakomodasi delik-delik baru tindak pidana korupsi, hal ini memang suatu realita sosial dimana korupsi adalah kejahatan luar biasa (ekstra ordinary crime) dan berakibat hilangnya hak-hak rakyat kecil atas kehidupan yang lebih sejahtera dan makmur, hal ini telah diamanatkan didalam pembukaan (prembule) dan batang tubuh UUD 1945. Pada masa ini telah terjadi perubahan yang mendasar pada sistem pemerintahan Indonesia, yakni tepilihnya Megawati Soekarno Putri sebagai presiden RI yang menggantikan Presiden Abdurahman Wahid. Langkah politk yang dilakukan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri di dalam menanggulangi kejahatan luar biasa ekstra ordinary crime/korupsi memang merupakan langkah jitu dan merupakan langkah politik yang populis sehingga mendapatkan respon yang luar biasa dari masyarakat dan kalangan akademisi di Indonesia. Langkah politik yang di maksud adalah dengan disahkan dan diundangkannya Undang-undang No. 20 Tahun 2001 pada tanggal 21 November 2001 di Jakarta yang ditanda tangani oleh Presiden Megawati Soekarno Putrid dan di catat pada Lembaran Negara No. 134 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

61

Perubahan-perubahan yang terjadi memang dirasakan penting, hal ini dapat dilihat dengan adanya perubahan redaksi pada antara lain : Pertama, pasal 2 dan 3 yang secara substansi tidak mengalami perubahan, perubahan tersebut terletak pada penjelasan pasal. Kedua, ketentuan pasal 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 pada pasal-pasal tersebut rumusannya diubah dengan tidak mengacu pasal-pasal Kitab Undang-undang Hukum Pidana tetapi langsung menyebutkan unsur-unsur yang terdapat di dalam masing-masing pasal Kitab Undang-undang Pidana yang diacu. Ketiga, Diantara pasal 12 dan 13 disisipkan tiga pasal baru yakni pasal 12A, 12B, 12C. keempat, Diantara Pasal 26 dan 27 disisipkan satu pasal baru sehingga menjadi pasal 26A. kelima, Pasal 37 dipecah menjadi dua pasal yakni pasal 37 dan pasal 37A. Keenam, diantara pasal 38 dan 39 ditambahkan tiga pasal baru yakni pasal 38A, 38C, 38C. Ketujuh, diantara bab VI dan VII

ditambahkan bab baru yakni bab VI A mengenai Ketentuan Peralihan yang berisi stau pasal, yaitu pasal 43 A yang diletakkan diantara pasal 43 dan 44. Dan Kedelapan, di dalam bab VII sebelum pasal 44 ditambah satu pasal baru yakni pasal 43 B.

B. Rumusan dan Identifikasi Perbuatan Pidana. Pembagian tindak pidana korupsi. Tindak pidana dalam pengertian ini adalah rumusan tentang perbuatan yang dilarang dalam dalm peratura perundangundangan yang disertai dengan ancaman pidaana terhadap siapa yang memperbuat perbuatan yang dilarang tersebut. Pengertian yang terdapat pada batasan di atas apabila digabungkan dengan perkataan korupsi, sehingga menjadi

62

tindak pidana korupsi, dengan demikian mudah dimengerti, ialah rumusanrumusan tentang segala perbuatan yang dilarang dalam Undang-undang No. 13 Tahun 1999 diubah dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi1. Ketentuan pidana yang terdapat di dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 telah dijelaskan dalam 13 buah pasal, yakni : pasal 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 12B, 12C dan 13. Berdasrkan pasal-pasal tersebut korupsi dapat dirumuskan ke dalam tiga puluh bentuk/ jenis tindak pidana korupsi, ketigapuluh bentuk/ jenis tindak pidana korupsi pada dasasrnya dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Kurupsi yang berkaitan dengan kerugian keuangan Negara Kelompok ini di jelsakan di dalam dua buah pasal yaitu pasal 2 dan 3 Undang-Undang No. 13 Tahun 1999 jo Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 adapun bunyi pasal-pasal tersebut adalah: Pasal 2 Ayat 1, Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korpoasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dapat dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000,00 dan paling banyak Rp. 1.000.000,00 Ayat 2, Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaiman dimaksud dalam ayat 1 dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.

Adami Chazawi, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonisia, cet. Pertama, (Malang : Bayumedia Publishing ; 2003) hlm. 15

63

Pada penjelasan pasal demi pasal dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, pasal 2 ayat 1, yang dimaksud dengan secara melawan hukum mencaskup perbubuatan melawan hjukum dalam arti formil ataupun materiil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, namun apabila perbuatan dianggap terceala karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan terseut dapat dipidana. Dalam ketentuan ini kata dapat sebelum frasa merugikan keuangan negara atau perekonomian negara menunjukkan bahawa tindak pidana korupsi merupakan tindak pidan formil, yaitu adanya tindak pidana korupsi cukup dengan terpenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskasn bukan dengan timbulnya akibat. Pada ayat 2, yang dimaksud dengan keadaan tertentu dalam ketentuan ini dimaksudkasn sebagai pemberatan bagi pelaku tindak pidana korupsi apabila tindak pidana korupsi tersebut dilakukan pada sasat negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan undang-undang yang berlaku, pada waktu terjadi bencana nasional, sebagi pengulangan tindak pidana korupsi, atau pada waktu ngara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter. Pasal 3 Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenagan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 satun dan paling lama 20 tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00

64

2. Korupsi yang Terkait dengan Suap-Menyuap Terkait dengan kelompok tersebut di atas diatur di dalam banyak pasal yaitu antara lain : pasal 5 ayat 1 huruf a, dan huruf b, ayat 2, pasal 6 ayat (1) huruf a, b, pasal 11, pasal 12 huruf a smpai pasal 12 huruf d, pasal 13. selanjutnya akan dijelaskan bunyi pasal demi pasal yang berkaitan dengan krupsi yang terakit dengan suap-menyuap. Selanjutnya akan dijelaskan isi pasal demi pasal tersebut. Pasal 5 Ayat 1 a. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelengara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat karena jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya. b. Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggra negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban dilakukan atau tidak dilakkukan dalam jabatannya.

Ayat 2 Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 6 Ayat 1 a. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili. b. Memberi atau menjanjikan sesutau kepada seseorang yang menurut ketentuan perundang-undangan diitentukan menjadi advokat untuk

65

menghadiri sedang pengadilan dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili. Ayat 2 Bagi Hakim yang menerima janji sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau advokat yang meerima pembrerian atau janji sebagaimana yang dimaksud ayat (1) huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. Pasal 11 Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama lima tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 dan paling banyak Rp. 250.000.000,00, pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui dan patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya. Pasal 12 a. Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji,padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu sesuai dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya. b. Pegawai negeri atau penyelenggara negara yasng meneriam hadiah, padahal diketahui atau patut diduga hadiah tersebut diberikan sebagi akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya. c. Hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili d. Seseorang yang menurut peraturan prundang-undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri siding pengadilan, meneriam hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah

66

atau janji tersebut untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan, berhubung dengasn perkara yang diserahakn kepada pengadilan untuk diadili. Dalam penjelasan Undang-undang ini, yang dimaksud dengan advokat pada huruf d pasal ini adalah orang yang berpotensi memberi jasa hukum baik di dalam maupun diluar pengadilan yang memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 13 Setiap orang yang memberikan hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga tahun dan atau denda plaing banyak Rp. 150.000.000,00 3. Korupsi yang Terkait dengan Penggelapan dalam Jabatan Terkait dengan kelompok yang ketiga ini Undang-undang Pemberantassan Tindak Pidana Korupsi membahas tentang rumusan tindak pidana di dalam UU. No. 31 Tahhun 1999 jo. UU. No. 20 Tahun 2001 dalam tiga pasal yakni : pasal 8, 9, dan pasal 10 huruf a, b, dan huruf c.Yang selanjutnya akan dijelaskan bunyi pasal demi pasal ini. Pasal 8 Dipidana dengan penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama lima belas tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 dan paling banyak Rp. 750.000.000,00, pegawai negeri atau orang lain selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu,dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat yang disimpan karena jabatannya diambil atau digelapkan oleh orang lain, atau membantu dalam melakukan perbuatan tesrsebut.

67

Pasal 9 Dipidana dengan pidana penjaara paling singkat satu tahun dan paling lama lima tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 dan paling banyak Rp. 250.000.000,00, pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan suatu jabata umum secara terus menesrus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja memalsu buku-bukku atau daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksasan administrasi. Pasal 10 Dipidana dengan pidana pennjara paling singkat dua tahun dan paling lama tujuh tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,00 dan paling banyak Rp. 350.000.000,00 pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja : a. Menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak bisa dipakai barang, akta, surat, atau daftar-daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan dimuka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya. b. Membiarkan orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan atau membuat tidak bisa dipakai barang, akta, surat atau daftar tersebut. c. Membantu orang lain menghilangkan, menhancurkan, merusakkan, atau membuat tidak bisa dipakai barang, akta, surat, atau daftar-daftar tersebut. 4. kelompok ini menyankut Perbuatan Tindak Pidana Korupsi yang berkaitan dengan Perbuatan Pemerasan Berhubungan dengan kelompok ini UU. No. 13 Tahun 1999 jo. No. 20 Tahun 2001 menjelaskan rumusan dan identifikasi tindak pidana di dalam pasal 12 huruf e, huruf f.dan huruf g. Kemudian akan dilanjutkan dengan penmaparan mengenai isi pasal ini.

68

Pasal 12 e. Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan kmaksud dengan menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri. f. Pegawai negeri astau penyelenggara negara pada waktu menjalanmkan tugas, meminta atau menerima pekerjakan, atau penyerahan barang, seolah-olah merupakan utang kepada dirinya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang. g. Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta, menerima, memotong pembayaran kepada pegawai negeri atau penyelenggara yang lain atau kepada kas umum, seolah-olah pegaawi negeri atau penyelernggara yang lain astau kas umum tersebut mempunyai utnasg kepadanya, padahal diketahui bahwa hasl tersebut bukan merupakan utang. 5. Perbuatan Tindak Pidana Korupsi yang Berkaitan dengan Perbuatan Curang Berkenaan dengan kelompok yang kelima ini yakni tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan perbuatan curang, rumusan perbuatan pidananya dibahas di dalam beberapa pasal yaitu : pasal 7 ayat 1 huruf a sampai huruf d dan pasal 7 ayat 2. Selanjutnya akan dipaparkan bunyi pasal-pasal tersebut. 6. Perbuatan Tindakan Korupsi yang berkaitan dengan Benturan Kepentingan dalam Pengadaan Berkaitan dengan kelompok yang kelima ini hanya dibahas dalam satu pasal Undang-ungdang No. 31 Tahun 1999 jo. No. 20. tahun 2001 yaitu pasal 12 huruf i

69

Pasal 12 i. Pegawai negeri atau penyelenggara negara baik langsung ataupun tidak langsung dengan sengaja turut serta pemborongan, pengadaan, atau persewaan yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian ditugasakan untuk mengurus atau mengawasinya. 7. Korupsi yang terkait dengan Grativikasi Permasalahn ini dibahas dalam pasal 12B jo. Pasal 12C Pasal 12B Setiap grativikasi kepada pegawai negeri atau penyelenngara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban dan tugasnya. Pasal 12 C 1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 B tidak berlaku, jika penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada komisi pemberantasan tindak pidana korupsi. 2) Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1). Wajib dilaporkan oleh penerma gratifikasi paling lambat 30 hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima. C. Pertanggungjawaban pidana korporasi dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999. 1. Pengaturan korporasi sebagai subjek hukum Korporasi sebagai pelaku tindak pidana, dalam hukum positif sudah diakui bahwa korporasi dapat dipertanggungjaawbkan secara hukum pidana, dan dapat dijatuhkan pidana. Tetapi pengaturan tentang korporasi belum ditemukan atau belum dirumuskan dalam KUHP.

70

Korporasi sebagai subjek tindak pidana. Penempatan korporasi sebagai subjek tindak pidana sampai sekarang masih jadi masalah, sehinngga timbul skap pro dan kontra. Para pihak baik yang pro maupun yang kontra terhadap korpoprasi dapat dipertanggungjawabkan mengajukan argumentasinya masingmasing. Pihak yang tidak setuju dengan hal tersebut mengemukakan alasanalasannya sebagai berikut2: bahwasanya pertanggungjawaban pidana ditegakkaan atas taiga dasar, yaitu : adanya perbuatan yang dilarang, dikerjakan dengan kemauan sendiri, dan pelakunya mengetahui maksud-maksud dan akibat-akibat dari perbuatan itu. Oleh karena itu tidak ada pertanggungjawaban pidana bagi anak-anak, orang gila, orang dungu, orang yang sudah hilang kemauaannya dan orang yang dipaksa dan yang terpaksa. Kemudian mengenai pertanggungjawaban pidana korporasi atau bakan hukum, seperti ramah sakit, sekolah-sekolah, baitul mal, hukum Islam sudah mengenal sejak mula, dan dianggap mempunyai hak-hak dan mengadakan tindakan-tindakan tertentu terhadapnya. Akan tetapi, menurut Ahmad Hanafi badan-badan tersebut tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana, kerena pertanggungjawaban pidana ini didasarkan atas adanya pengetahuan terhadap perbuatan dan pilihan, sedangkan kedua perkara ini tidak terdapat dalam badan-badan hukum.

Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, , ( Jakarta; 2006) cet. Ke-6 hlm. 119

71

Kemudian Sutan Remy Sjahdeini, menyajikan alasasn-alasan pihak yang kontra terhadap pertanggungjawaban pidana korporasi didalam bukunya, antara lain3 : Mereka yang menentang pemikiran tentang korporasi dapat dibebani pertanggungjawaban pinada (criminal liability) berpendapat bahwa suatu korporasi tidak mempunyai kalbu (mind) sendiri. Oleh karena itu tidak mungkin menunjukkan suatu nilai moral yang dapat dipersalahkan secara pidana. Adalah betul-betul bersifat semu (artificial) untuk memperlakukkan suatu korporasi seakan-akan memiliki sikap kalbu ( state of mind) untuk dipersalahkan secara pidana. Di simping itu mustahil untuk memnjarakan suatu organisasi dengan tujuan untuk pencegahan (deterrence), penghukkuman, dan rehabilitasi, yuang menjadi tujuan dari sanksi-sanksi pidana. Frank dan lynch mengemukakan bahwa keberatan-keberatan prinsipil dari

corporate criminal responsibility adalah orang yang tidak bersalah dapat terkena
hukuman. Derita dari pemidanaan terhadap korporasi dapat terbebankan kepadas pihak-pihak lain. Sedangkan yang setuju dengan adanya pertanggungjawaban pidana bagi korporasi mengajukan alasan-alasan sebagai berikut bahwa korporasi bukanlah sebuah fiksi. Korporasi benar-benar eksis dasn menduduki posisi penting di dalam masyarakat dan memiliki kemampuan untuk menimbulkan kerugian terhadap pihak lain dalam masyarakat seperti halnya manusia. Memperlakukan korporasi seperti manusia (natural person) dan membebani pertanggungjawaban
3 Sutan Remy Sjahdeini, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, cet. Pertama, (Jakarta : Grafiti Prs, 2006), hlm. 53-55

72

atas tindak pidana oleh korporasi, sejalan dengan asas hukum bahwa siapapun sama di depan hukum (principle of equality before the law). Organisasiorganisasi (maksudnya korporasi-korporasi) tersebut, yang dapat memberikan dampak yang besar bagi kehidupan sosiasl, seharusnya diwajibkan juga untuk menhghormati ni8lai-nilai fundamintal dari masyarakat yang ditentuakan oleh hukum pidana. Sebagaimana telah disinggung di atas bahwasanya pengaturan korporasi senagi subjek hukum pidana ada peraturan perundang-undang pidana diluar KUHP. Baik perundang-undangan pidana maupun perundang-undangan

administrasi yang bersanksi pidana telah mengatur korporasi sebagai subjek hukum pidana. Kendati ada beberapa undang-undang no. 7 Tahun 1992 jo. Undang-undang No. 10 tahun 1998 tentang perbankan yang belum mengatur korporasi sebagai subjek hukum pidana, juga undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan. Pengaturan korporasi sebagai subjek hukum pidana positif tersebut yakni sebagai berikut 4: Perundang-undangan yang dinaksud dalam bagian ini yakni perundangundangan pidana khusus sebagai berikut : Undang-undang tentang suap No. 11 Tahun 19980, Undang-undang No. 15 Tahun 2002 tentang tindak pidana pencucian uang, dan dalam Undang-undang yang menjadi focus penyusun dalam penelitian skripsi ini yaitu Undang-undang
4 Arief Amrullah, Kejahatan Korporasi, cet. Ke-1, ( Malang : Bayumedia Publishing, 2006), hlm. 223-226

73

No. 31 Tahun 1999 jo. No. 20 Tahun 2001 tantang pemberantasan tindak pidana korupsi. Undang-undang No. 7/Drt/1995 tentang pengusustan, penuntutan, dan peradilan tindak pidana ekonomi (Lembaran Negara Tahun 1955 No. 27), diatur dalam pasal 15 ayat 1 dan 2 yang masing-masing berbunyi sebagai berikut.

2. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Rumusan tentang pertanggungjawaban pidana korporasi secara khusus dibahas dalam pasal 20 Undang-undang no. 31 tahun 1999 jo. No. 20 tahun 2001. System pemidanaan (the sentencing system) yang termuat di dalam ketentuan pidana ( di dalam pasal 20 Undang-undang No. 31 Tahun 1999 jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) mengandung pengertian sebagai berikut5 : 1. Aturan perundang-undangan yang berhubungan dengan sanksi pidana dan pemidanaan. 2. Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan untuk pemidanaan) 3. Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) untuk pemberian atau penjatuhan dan pelaksanaan pidana. 4. Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) untuk

fungsionalisasi atau operasionalisasi atau konkritisasi pidana.

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana, cet. Ke-1 (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2003) hlm. 135-136

74

5. Keselurahan sistem (perundang-undangan) yang mengatur bagaimana hukum pidana itu ditegakkan atau dioperasionalkan secara konkrit sehingga seseorang dijatuhi sanksi (hukum pidana). Pembahasan selanjutnya yang akan dijelaskan adalah mengenai pasal 20 sehingga akan ditemukan dengan jelas tentang rumusan pertanggungjawaban pidana korporasi yang di atur dalam undang-undang ini. Adapun bunyi pasal 20 adalah sebagai berikut: 1. Dalam hal tindak pidana korupsi oleh atau atas nama korporasi, maka tuntutan pidana dapat dilakukan terhadap koprasi atau pengurusnya. 2. Tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hunungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersasma-sama. 3. Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi, maka korporasi tersebut diwakili oleh pengurus. 4. Pengurus yang mewakili korporasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat diwakili oleh orang lain. 5. Hakim dapat memerintahkan supaya pengurus korporasi menghadap sendiri dipengadilan dan dapat pula memrintahkan supaya pengurus tersebut dibawa ke sidang pengadilan. 6. Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, maka panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat panggilan tersebut disasmpaikan kepada pengurus di tempat tinggal pengurus atau di tempat pengurus kantor. 7. Pidan pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya pidana denda, dengan ketentuan maksimum pidana ditambah1/3 (satu pertiga) Akibat hukum atau sanksi yang menjadi pertanggungjawaban korporasi sebagai efek dari pelanggaran terhadap pasal 20 Undang-Undang No. 13 Tahun 1999 jo. Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 adalah "dipidana dengan pidana

75

denda" denagn ketentuan maksimum ditambah 1/3 (sepertiga) sebagai mana tertuang dalam pasal ini ayat ke-7. Dalam kasus-kasus pengurus korporasi, pertanggungjawaban pidana harus diperluas, bukan hanya terhadap individu, juga kepada korporasi yang diduga telah melakukan tindak pidana. Pertanggungjawaban pidana korporasi penting untuk dimintakan karena sangat tidak adil, jadinya apabila perusahaanperusahaan yang mengabaikan regulasi yang telah ditetapkan, lepas dari jeratan hukum, padahal perbuatan perusahaan tersebut menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Disejajarkannya kata pelaku dan korporasi, memiliki makna bahwa keduanya dapat dimintakan pertanggungjawaban secara sendiri-sendiri, bukan alternatif. Filosofi pertanggungjawaban pidana individual lebih ditujukan sebagai akibat perbuatan individu yang mengakibatkan matinya orang lain. Kepada korporasi lebih ditujukan untuk mengganti kerugian yang ditimbulkan dalam kerangka menciptakan rasa keadilan bagi masyarakat yang hak-haknya telah terkorbankan. Pentingnya pertanggungjawaban pidana korporasi ketimbang

pertanggungjawaban individual dapat merujuk kepada pendapat Elliot dan Quinn (2002). Pertama, tanpa pertanggungjawaban pidana korporasi, perusahaanperusahaan bukan mustahil menghindarkan diri dari peraturan pidana dan hanya pegawainya yang dituntut karena telah melakukan tindak pidana yang merupakan kesalahan perusahaan. Kedua, dalam beberapa kasus, demi tujuan prosedural, lebih mudah untuk menuntut perusahaan daripada para pegawainya. Ketiga,

76

dalam hal tindak pidana serius, sebuah perusahaan lebih memiliki kemampuan untuk membayar pidana denda yang dijatuhkan daripada pegawai tersebut. Keempat, ancaman tuntutan pidana terhadap perusahaan dapat mendorong para pemegang saham untuk mengawasi kegiatan-kegiatan perusahaan di mana mereka telah menanamkan investasinya. Kelima, apabila sebuah perusahaan telah mengeruk keuntungan dari kegiatan usaha yang ilegal, seharusnya perusahaan itu pula yang memikul sanksi atas tindak pidana yang telah dilakukan bukannya pegawai perusahaan saja. Keenam, pertanggungjawaban korporasi dapat mencegah perusahaan-perusahaan untuk menekan pegawainya, baik secara langsung atau tidak langsung, agar para pegawai itu mengusahakan perolehan laba tidak dari kegiatan usaha yang ilegal. Ketujuh, publisitas yang merugikan dan pengenaan pidana denda terhadap perusahaan itu dapat berfungsi sebagai pencegah bagi perusahaan untuk melakukan kegiatan ilegal, di mana hal ini tidak mungkin terjadi bila yang dituntut itu adalah pegawainya6. Dari sisi hukum pidana, pertanggungjawaban pidana korporasi

dimungkinkan melalui doktrin strict liability. Doktrin strict liability dalam konteks pertanggungjawaban pidana korporasi merupakan solusi atas abuabunya posisi korporasi sebagai subjek hukum pidana. Sekaligus jawaban atas masalah sulitnya membebankan pertanggungjawaban pidana kepada korporasi yang diduga melakukan tindak pidana.

www.seputar-indonesia.com/opinisore/ Selasa, 13/03/2007, LUCKY RASPATI Staf Pengajar Bagian Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang tanggal browsing 24 feb. 2009

77

Menurut ajaran strict liability, pertanggungjawaban pidana dapat dibebankan kepada pelaku tindak pidana bersangkutan dengan tidak perlu dibuktikan adanya kesalahan (kesengajaan atau kelalaian) para pelaku. Tetapi ditekankan kepada hal, akibat dari perbuatannya itu telah menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Cukuplah apabila dibuktikan bahwa pelaku tindak pidana telah melakukan perbuatan yang dilarang ketentuan pidana atau tidak melakukan perbuatan yang diwajibkan oleh ketentuan pidana (offences of strick liability)7. Dalam hukum pidana pada umumnya yang dapat dipertanggungjawabkan adalah sipembuat, walaupun tidak selalu demikian, oleh karena itu ada dua hal yang perlu dibebankan yakni hal melakukan tindak pidana (pembuat) dan pertanggungjawanban8. Telah dikemukakan sebelumnya bahwasanya yang dapat dimintai dipertanggungjawabkan perbuatannya dalam hukum pidana tidak hanya manusia, tetapi juga korporasi. Khusus mengenai pertanggungjawaban korporasi dalam perkembangan hukum pidana di Indonisia, ada 3 sistem koporasi dalam kedudukannya, dan pertanggungjawaban korporasi dalam hukum pidana, yakni sebagai berikut9 : a. Pengurus korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggungjawab b. Korporasi sebagai pembuat maka pengurus yang bertanggungjawab
www.seputar-indonesia.com/opinisore/ Selasa, 13/03/2007, LUCKY RASPATI Staf Pengajar Bagian Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang tanggal browsing 24 feb. 2009 Hamzah Hatrik, Asas Pertanggungjawaabn Korporasi DalamHukum Pidana Indonesia, cet. Pertama, (Raja Grafindo Pustaka : Jakrta, 1996), hlm. 5 Hamzah Hatrik, Asas Pertanggungjawaabn Korporasi DalamHukum Pidana Indonesia, cet. Pertama, (Raja Grafindo Pustaka : Jakrta, 1996), hlm. 5-6
9 8 7

78

c. Korporasi sebagai pembuat dan korporasi bertanggungjawab Sistem pertama (a) berpijak pada pemikiran bahwa korporasi itu sendiri tidak dapat dibebani tanggungjawab pidana, melainkan senantiasa penguruslah yang melakukan delik itu. Oleh sebab itu penguruslah yang diancam dengan pidana dan dipidana. Sistem kedua (b) dalam hal korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggungjawab, maka tindak pidana yang dilakukan korporasi adalah perbuatan pidana yang dilaksanakan oleh seseorang sebagai pengurus dari badan itu. Orang yang memimpin korporasi dapat dikenakan tanggungjawab pidana atas tindak pidana pengurus badan, terlepas dari apakah ia tahu atau tidak tentang dilakukannya perbuatan itu. Sistem ketiga (c) berkenaan dengan korporasi sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggungjawab, motivasinya adalah membebankan

tanggungjawab pidana kepada pengurus dan korporasi itu sendiri. Karena dalam perkembangan delik-delik ekonomi saat ini, dipidananya pengurus tidak memberikan jaminan yang cukup bahwa korporasi tidak akan sekali lagi melakukan perbuatan yang dilarang itu. Padahal yang memperoleh keuntungan adalah korporasi dan kerugian yang ditimbulkan dalam masyarakat serta derita yang dialami oleh saingan-saingannya adalah lebih besar daripada denda yang selama ini dijatuhkan sebagai pidana kepada pengurus. Membicarakan sistem petanggungjawaban pidana korporasi yang secara khusus dibahas dalam pasal 20 UU. No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU. No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, tidak akan

79

melampaui atau terlepas dari berbagai unsur perbuatan pidana yang telah diatur di dalam undang-undang Tersebut. Hal tersebut dikarenakan yang menjadi latar belakang adanya suatu hukuman atau sanksi hukum yang dibebankan kepada pelaku delik adalah telah terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan hukum di dalam suatu undang-undang, yang dalam hal ini disebabkan telah melanggar ketentuan hukum (ketentuan pidana) yang terdapat di dalam Undanmg-Undang No. 31 Tahun 1999 jo. No. 20 Tahun 2001 yang kemudian dapat dikatakan melaggar atau melawan hukum formil. Sehingga pelaku delik tidak dapat menghindar dari beban pidana atau pertanggungjawaban pidana, yang telah ditetapkan ketentuannya di dalam undang-undang tersebut.

80

BAB IV ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PERTANGGUNGJAWABAN DAN SANKSI PIDANA KORPORASI A. Pertanggungjawaban Pidana Besarnya tantangan hukum pidana Islam dalam menghadapi dan menjawab perubahan dan dinamika hukum, maka tidak menutup kemungkinan hukum Islam dapat melakukan penafsiran kembali (reinterpretasi) maupun aplikasinya. Akan tetapi hal tersebut tidaklah merubah semua ketentuan yang sudah ada, melainkan bahwa reinterpretasi tersebut harus melihat pada perubahan hukum yang disesuaikan dengan konteks (waktu, zaman dan tempat) sehingga hukum Islam tetap mampu menjawab tantangan zaman. Sesuai dengan ini Ibn al-Qoyyim al-Jauziayah berkata :


bahwa hukum Islam juga mengenal adanya relevansi hukum dengan gejala-gejala sosial yang baru. Dari perkataan Ibn al-Qoyyim tersebut disebutkan dengan jelas bahwa hukum itu sendiri mengalami atau dapat berubah sesuai dengan perubahan zaman, tempat dan keadaan. Dengan demikian pintu ijtihat masih sangat terbuka dalam arti reinterpretasi hukum Islam. Dalam bidang hukum pidana materiil ada 3 masalah pokok yaitu perumusan perbuatan yang dilarang, pertanggungjawaban pidana, dan sanksi

81

yang diancamkan1. Berbicara tentang pertanggungjawaban pidana maka tidak terlepas dari asas kesalahan. Hal ini didasarkan pada prinsip pada prinsip pertanggungjawaban pidana yang brdasar pada asas "tiada pidana tanpa kesalahan" yang dikenal dengan asas kesalahan. Artinya pelaku dapat dipidana bila melakukan perbuatan pidana yang dilandasi sikap batin yang salah/jahat. Namun dalam perkembangannya ada pula pertanggungjawaban pidana yang menyimpang dari asas kesalahan2. Pertanggungjawaban pidana mengandung pengertian bahwa seseorang bertanggungjawab atas sesuatau perbuatan pidana yang sah dan telah diatur oleh undang-undang seperti yang diatur dalam pasal 1 buku satu KUHP yang berisi tentang asas legalitas. Jadi dapat dikatakan bahwa pidana itu dapat dikenakan secara sah berarti untuk tindakan ini telah ada aturannya dalam sistem hukum tertentu, dan sistem hukum itu telah berlaku dan mengikat atas perbuatan itu. Pengertian pertaggungjawaban pidaan di dalam konsep hukum Islam adalah pembebesan seseorang dengan hasil (akibat) perbuatan (atau tidak ada perbuatan) yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri, di mana ia mengetahui maksud-maksud dan akibat-akibat dari perbuatan itu3. Dalam memandang konsep pertanggungjawaban pidana, hukum Islam tidak menampilkan perbedaan secara mendasar, bahkan kesamaan pengertian dan

Muladi, Kapita Elekta Sistem Peradialn Pidana, cet. Ke-1 (Semarang : Badan Penerbit Univresitas Diponegoro, 1995), hlm. 50 Dwidja Priyatno, kebijakan Legislasi Tentang Sistem Pertanggungjawaabn Pidana Korporasi di Indonisia, cet. Ke-1 (bandung : penerbit CV. Utomo, 2004), hlm 50. Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum PIdana Islam, cet ke-6 (Jakarta : Bulan Bintang, 2005) hlm. 119
3 2

82

aplikasinya tidak dapat dielakkan lagi. Seperti yang dijelaskan di dalam firman Allah surat Al-Muddatstsir yang berbunyi:
4

kandungan dari ayat ini adalah bahwa setiap jiwa terkait dengan apa yang ia kerjakan, artinya bahwa efek dari apa yang telah dikerjakan oleh seseorang, pertanggungjwabannya tidak bisa dipindahkan pada orang lain. Hal ini menandakan bahwa beban kesalahan atau beban pidana tidak dapat dipindahkan atau diwakilkan kepada orang lain. Isi kandungan ayat tersebut juga diperkuat oleh ayat-ayat lain, seperti yang terkandung di dalam firman Allah SWT. yang berbunyi:

dijelaskan bahwa Allah SWT. Menyatakan, bahwa setiap pribadi melakukan sesuatu kejahatan akan menerima balasan kejahatan yang dilakukannya. Dari ayat tersebut dapat dipahami dengan jelas bahwa berkenaan dengan dosa yang diperbuat oleh seseorang dan tidak dapat dipikul oleh orang yang tidak berbuat. Dengan demikian sesuatu yang merupakan efek ataupun dampak dari perbuatan orang tidak dapat dipikulkan oleh orang lain.

Al-Muddatstsir( 74) : 38 Al-An'am (6) : 164

83

Selain ayat-ayat tersebut diatas masih terdapat beberapa ayat lain yang menjelaskan mengenai permasalahn tersebut., diantaranya firman Allah surat AlFatir yang berbunyi

:
6

Firman Allah surat Az-Zumar yang berbunyi:

Firman Allah surat Al-Fatir yang berbunyi :


8

dari ayat-ayat tersebut diatas, secara umum isi yang terkandung didalam ayatayat tersebut dapat dipahami dengan jelas bahwa seseorang tidak dapat diminta memikul tanggung jawab berkenaan dengan kejahatan atau kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Karena pertanggungjwaban itu individual sifatnya, yang mempunyai arti bahwa kesalahan orang lain tidak dapat dipindahkan pertanggungjwabannya kepada orang lain (yang tidak bersalah). Pertanggungjawaban pidana ditegakkan atas 3 hal, yaitu9:
6

Al-Fatir (35) : 18 Az-Zumar (39) : 7 An-Najm (53) : 38

Ahamd Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, cet. Ke-6 (Jakarta : PT Bulan Bintang, 2005), hlm. 119

84

1. Adanaya perbuatan yang dilarang. 2. Dikerjakan dengan kemauan sendiri. 3. Pembuatnya mengetahui terhadap akibat perbuatan tersebut. Kalau ketiga perkara tersebut terdapat dan terpenuhi maka terdapat pula pertanggungjawaaban pidana, kalau tidak terdapat maka tidak ada

pertanggungjawaban pidana. Dengan adanya syarat-syarat tersebut maka dapat diketahui bahwa yang bisa dimintai pertanggungjawaban hanya manusia, yaitu manusia yang berakal pikiran, dewasa dan berkemauan sendiri. Jika tidak demikan maka tidak ada pertanggungjawaban pidana atasnya. Karena orang yang tidak berakal pikiran bukanlah orang yang mengetahui dan bukanlah orang yang mempunyai pilihan. Demikian pula orang yang belum dewasa, atau tidak mempunyai kedewasaan tidak bisa dikatakan bahwa pengetahuan dan pilihannya telah menjadi sempurna. Permasalahan pertanggungjawaban pidana yang diatur pada pasal 20 dapat dijelaskan mengenai bentuk-bentuk pertanggunjawaban pidana, hal ini terlihat dari bunyi pasalnya sebagai berikut : Rumusan tentang pertanggungjawaban pidana korporasi secara khusus dibahas dalam pasal 20 Undang-undang no. 31 tahun 1999 jo. No. 20 tahun 2001 dan pasal 20 ini mempunyai 7 ayat yaitu : 1. Dalam hal tindak pidana korupsi oleh atau atas nama korporasi, maka tuntutan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi atau pengurusnya. 2. Tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja

85

maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersasma-sama. 3. Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi, maka korporasi tersebut diwakili oleh pengurus. 4. Pengurus yang mewakili korporasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat diwakili oleh orang lain. 5. Hakim dapat memerintahkan supaya pengurus korporasi menghadap sendiri dipengadilan dan dapat pula memerintahkan supaya pengurus tersebut dibawa ke sidang pengadilan. 6. Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, maka panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat panggilan tersebut disasmpaikan kepada pengurus di tempat tinggal pengurus atau di tempat pengurus kantor. 7. Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya pidana denda, dengan ketenyuan maksimum pidana ditambah1/3 (satu pertiga Selanjutnya akan dibahas mengenai pertanggungjawaban piada korporasi ayat per-ayat dari isi pasal 20. Berkenaan dengan pasal 20 ayat 1 dalam hal pertanggungjwaban pidana bisa dikenakan terhadap korporasi ataupun pengurus atau kedua-duanya, pada pidana aturan ini dapat Ayat dilihat ini pada sistem sistem

pertanggungjawaban

korporasi.

menganut

pertanggungjawaban pidana yang pertama dan ketiga. Yaitu, pengurus korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggungjwab, pada sistem ini, sistem

pertama berpijak pada pemikiran bahwa korporasi itu sendiri tidak dapat dibebani tanggungjawab pidana, melainkan senantiasa penguruslah yang melakukan delik itu. Oleh sebab itu penguruslah yang diancam dengan pidana dan dipidana. Dan juga sistem ketiga yaitu korporasi sebagai pembuat dan korporasi bertanggungwab. Pada sistem ketiga ini berkenaan dengan korporasi

86

sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggungjawab, motivasinya adalah membebankan tanggungjawab pidana kepada pengurus dan korporasi itu sendiri. Karena dalam perkembangan delik-delik ekonomi saat ini, dipidananya pengurus tidak memberikan jaminan yang cukup bahwa korporasi tidak akan sekali lagi melakukan perbuatan yang dilarang itu. Padahal yang memperoleh keuntungan adalah korporasi dan kerugian yang ditimbulkan dalam masyarakat serta derita yang dialami oleh saingan-saingannya adalah lebih besar daripada denda yang selama ini dijatuhkan sebagai pidana kepada pengurus. Untuk lebih jelasnya akan dibahas menganai unsur-unsur pidana yang ada pada pasal 20 yaitu, berangkat dari teori yang penulis pakai untuk membahas skripsi ini, dari Makhrus Munajat yakni, bahwa pertanggungjawaban pidana didasarkan pada 3 unsur yaitu, 1) adanya undang-undang atau nas, (unsur formil), 2) sifat melawan hukum, (unsur materiil), 3) pelakunya (unsur moril) dapat dipersalahkan atau disesalkan atas perbuatannya.. Sehubungan dengan pasal 20 ayat (1), penulis coba melakukan pendekatan melalui unsur-unsur pidananya apakah memenuhi unsur-unsur pidana. Dari teori yang tersebut diatas, unsur yang pertama adalah "adanya undang-undang atau nas" artinya setiap perbuatan tidak dianggap melawan hukum dan pelakunya tidak dapat dipidana kecuali adanya nas atau undangundang yang mengaturnya. Dalam hukum positif istilah ini dikenal dewngan istilah asas legalitas, yaitu suatu perbuatan tidak dapat dianggap melawan hukum dan pelakunya tidak dapat dikenai sanksi sebelum adanya peraturan yang

87

mengundangkannya. Dalam syari'at Islam lebih dikenal dengan istilah ar-rukn

asy-syar'i10.
Asas legalitas juga banyak ditemukan dalam al-Qur'an yang pada intinya hampr tidak ada perbedaannya dengan hukum positif, seperti diantaranya firman Allah surat al-isra':
11

Di dalam firman Allah surat al-Qasas


12

Di dalam firman Allah surat al-an'am :


13

Dari ayat-ayat tersebut di atas dapat dipahami dengan jelas bahwa suatu perbuatan tidak bisa dianggap sebagai sebuah tindak pidana dan pelakunya tidak dapat dipertanggungjwaban secara hukum. Mengenai asas legalitas dapat dijumpai juga dalam KUHP buku 1 pasal (1) berbunyi sebagai berikut14 : Tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melainkan atas ketentuan pidana dalam undang-undang yang ada terdahulu daripida perbuatan itu.
Makhrus Munajat, Dekonstruksi Hukum Pidana Islam, cet. Pertama, (Yogyakarta : Logung Pustaka, 2004), hlm. 10
11 10

Al-Isra' (17) : 15 Al-Qasas (28) : 59 Al- An'am (6) : 19

12

13

R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta KomentarKomentarnya Pasal Demi Pasal, Pasal 1 ayat 1 (Politeia : Bogor, 1996)

14

88

Topo Santoso berpendapat tentang asas legalitas dalam Islam, yaitu merupakan suatu jaminan dasar bagi kebebasan individu dengan memberi batas aktivitas apa yang dilarang secara tepat dan jelas. Asas ini melindungi dari penyalahgunaan kekuasaan atau kesewenang-wenangan hakim, menjamin keamanan individu dengan informasi yang boleh dan dilarang15. Dari segi "sifat melawan hukum".yang merupakan unsur matreriil. Unsur ini merupakan sebuah keharusan dalam suatu perbuatan sehingga dapat disebut sebagai tindak pidana yang dapat dimintai pertanggungjawaban. Tidak diragukan lagi bahwa melawan hukum disini berasal dari kata wederrechtelijk, yang memang telah lazim dibahasaindonesiakan dengan melawan hukum. Selain itu juga digunakan istilah tidak berhak atau tidak berwenang, bukan menjadi haknya dan lain sebagainya. Istilah melawan hukum menggambarkan suatu pengertian tentang sifat tercelanaya atau terlarangnya suatu perbuatan. Perbuatan tercela atau terlarang menurut pasal 2 adalah perbuatan memperkaya diri sendiri16. Makhrus Munajat mendefinisikan tentang melawan hukum adalah adanya tingkah laku seseorang yang membentuk jarimah (tindak pidana), baik dengan sikap berbuat ataupun sikap tidak berbuat yang dikenal dengan istilah (Islam) ar-

rukn al-madi17

Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam, cet. Pertama, (Jakarta : Gema Insani Press, 2003), hlm. 11 Adami Chazawi, Hukum Formil dan Materiil Korupsi di Indomisia, cet. Ke-1 (Malang : Bayumedia Publishing, 2003), hlm 32. Makhrus Munajat, Dekonstruksi Hukum Pidana Islam, cet. Pertama, (Yogyakarta : Logung Pustaka, 2004), hlm. 10
17 16

15

89

Dalam penjelasan pasal 2 ayat satu UU. No.31 tahun 1999, yang dimaksud dengan "secara melawan hukum" adalah mencakup perbuatan formil ataupun perbuatan materiil, yakni meskipun perbuatan itu tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa ketidakadilan atau norma-noram kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana. Oleh karena itu melawan hukum dengan memperkaya diri adalah suatu kesatuan dalam konteks rumusan tindak pidana korupsi pasal 2 UU. No. 31 Tahun 1999 jo. No. 20 Tahun 2001. memperkaya dengan melawan hukum artinya si pembuat dalam mewujudkan perbuatan memperkaya diri adalah tercela, dia tidak berhak melakukannya dalam memperoleh atau menambah kekayaanya tersebut. Setiap subyek hukum mempunyai hak untuk memperoleh atau menambah kekayaannya, tetapi haruslah dengan perbuatan hukum atau perbuatan yang dibenarkan oleh hukum. Kemudian merupakan unsur yang kedua adalah wajib dipenuhi dalam sebuah perbuatan (sifat melawan hukum) yang bisa dianggap sebagai perbuatan pidana dan bisa dimintai pertanggungjawaban, yaitu adanya perbuatan-perbuatan nyata ataupun sikap tidak berbuat (pada ayat 1 tersebut terdapat perbuatan tindak pidana korupsi). Perbuatan-perbuatan nyata dikenal dengan istilah perbuatan positif, yaitu didasarkan atas tinjauan apakah perbuatan pidana itu benar-benar terjadi, seperti mencuri, memukul, dan sebagainya, disebut juga

delicta commossionis. Dan adapun sikap tidak berbuat disini dikenal juga dengan

90

istilah jarimah negative, yaitu terjadi karena tidak mengerjakan suatu perbuatan yang diperintahkan18. Tindak pidana aktif dan pasif Adami Chazawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tindak pidana aktif adalah tindak pidana yang dalam rumusannya mencantumkan unsur perbuatan aktif. Perbuatan aktif atau perbuatan materiil yang bisa juga disebut perbuatan jasmani adalah perbuatan yang untuk mewujudkannya diperlukan gerakan tubuh atau bagian dari tubuh. Sedangkan tindak pidana korupsi aktif ini terdapat dalam 19: a. Pasal 2, yaitu yang perbuatannya memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. b. Pasal 3, yaitu yang perbuatannya ialah menyalahgunakan

kewenangan, menyalahgunakan kesempatan, dan menyalahgunakan sarana. c. Pasal 5, ayat 1 sub a, perbuatannya ialah meberi sesuatu, dan menjanjikan sesuatu. Sub b, yang perbutannya adalah memberi sesuatu ayat 2, yaitu menerima pemberian. Dan masih banyak lagi pasal-pasal dalam UU. No. 31 Tahun 1999 jo. No. 20 Tahun 2001 yang rumusanannya berisi tentang perbuatan pidana korupsi aktif. Sedangkan perbuatan pidana pasif adalah perbuatan yang tingkah laku perbuatanya dirumuskan secara pasif. Sebagaimana diketahui bahwa tindak pidana pasif itu adalah tindak pidana yang melarang untuk tindak berbuat aktif
18

Ibid, hlm. 12

19 Adami Chazawi, Hukum Formil dan Materiil Korupsi di Indomisia, cet. Ke-1 (Malang : Bayumedia Publishing, 2003), hlm. 20.

91

(disebut perbuatan pasif). Di dalam kehidupan sehari-hari, ada kalanya seseorang berada dalam situasi atau kondisi tertentu, dan orang itu diwajibkan untuk melakukan suatu perbuatan (aktif) tertentu. Apabila seseorang tersebut tidak menuruti kewajiban tersebut, artinya dia telah dipersalahkan melakukan suatu tindak pidana pasif tertentu20. Dalam doktrin hukum pidana, tindak pidana pasif dibedakan menjadi dua, yaitu tindak pidana pasif murni dan tindak pidana pasif tidak murni. Tindak pidana pasif murni adalah tindak pidana yang dirumuskan secara formil atau yang pada dasarnya unsur perbuatan adalah berupa perbuatan pasif. Sedangkan tindak pidana pasif tidak murni adalah berupa tindak pidana yang pada dasarnya adalah berupa tindak pidana aktif, tetapi dapat dilakukan dengan cara tidak berbuat atau tidak mengerjakan perbuatan aktif. Tindak pidana yang mengandung akibat terlarang (tindak pidana materiil), yang dilakukan dengan tidak berbuat aktif sehingga dengan tidak berbuat (yang melanggar kewajiban hukumannya untuk berbuat) menimbulkan akibat yang dilarang menurut undangundang. Tindak pidana korupsi pasif terdapat dalam : a. Pasal 7 ayat 1 sub b, dan ayat 2 yang perbuatannya membiarkan perbuatan curang. b. Pasal 10 sub b, perbuatannya : membiarkan orang lain

menghilangkan, membiarkan orang lain menghncurkan, membiarkan orang lain merusakkan, atau membiarkan orang lain membuat hingga tidak dapat dipakai.

20

Ibid, hlm. 22

92

Dilihat dari unsur "pelakunya", maka hal tersebut merupakan unsur ketiga yang disebut juga dengan unsur moril. Ayat (1) mempunyai unsur tersebut, hal ini sudah tertuang dalam kalimat "oleh atau atas nama korporasi". Kalimat tersebut mengundung arti bahwa tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi, atau orang (pengurus) atas nama korporasi dalam hal ini mempunyai hubungan dengan koporasi tersebut. Yang dimaksud dengan pengurus dalam penjelasan UU. No. 31 Tahun 1999 adalah organ korporasi yang menjalankan kepengurusan korporasi yang bersangkutan sesuai dengan anggaran dasar, termasuk mereka yang dalam kenyataannya memiliki kewenangan dan ikut memutuskan kebijakan korporasi yang dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi. Ahmad Hanafi dalam menempatkan pelaku sebagai subjek hukum dan bisa dimintai pertanggungjawaban adalah diwajibkan orang mukallaf., yaitu orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban terhadap jarimah (tindak pidana) yang diperbuatnya, yang dikenal dengan unsur moril21. Dengan demikian yang dapat dimintai pertanggungjawaban hanya manusia yang sudah mampu untuk berpikir sehat dan bijaksana, bukan orang gila yang tidak mempunyai pikiran waras, dan juga bukan anak kecil yang masih berpikiran labil serta bukan orang yang berada dibawah tekanan orang lain. Jadi, menurut penilaian penulis dari hasil analisis pertanggungjawaban pidana di atas, pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi apabila melakukan perbuatan yang dianggap atau terbukti secara sah melawan hukum dapat dijatuhkan. Bahwasanya korporasi yang merupakan bukan "badan alami"
Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, cet. Ke-6 (Jakarta : Bulan Bintang, 2005), hlm. 6
21

93

(manusia)

yang

tidak

mempunyai

pengetahuan

atau

pilihan

terhadap

perbuatannya tetap harus bertanggungjawab atas perbuatan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pengurusnya (Ahmad Hanafi), karena korporasi (dalam hukum perdata) dapat melakukan perbuatan-perbuatan seperti mengadakan perjanjian yang apabila kemudian melakukan wanpresatasi terhadap maka yang harus bertanggungjawab adalah korporasi itu sendiri. Dan jika menganut doctrine

of vicarious liability dan doctrine of strict liability, di mana dontrin yang


pertama mengandung pengertian bahwasanya orang dapat bertanggungjawab terhadap perbuatan yang dilakukan oleh orang lain, artinya bahwsanya pimpinan dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atas perbuatan yang dilakukan oleh bawahannya. sedangkan yang kedua adalah didasarkan pada

pertanggunghawaban tanpa kesalahan yang dalam hal ini si pembuat (korporasi) sudah melakukan perbuatan yang dilarang dalam perundang-undangan tanpa terlebih dahulu melihat sikap batin si pembuat. Kemudian berkenaan dengan korporasi apakah dapat dimintai

pertanggungjwaban pidana dalam hukum Islam, Ahmad Hanafi menolak adanya pertanggungjwaban pidana terhadap korporasi. Dengan memberikan alasan bahwa yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana didasarkan atas adanya pengetahuan terhadap perbuatan dan pilihan. Sedangkan korporasi (badan hukum) tidak mempunyai syarat tersebut. Akan tetapi kalau terjadi perbuatanperbuatan yang dilarang dan yang keluar dari orang-orang yang bertindak atas

94

nama badan hukum tersebut, maka orang-orang itulah yang bertanggungjawab atas perbuatannya22. Ada dua ajaran pokok yang menjadi alasan bagi pembenaran dibebankannya pertanggungjawaban pidana kepada korporasi. Ajaran-ajaran tersebut adalah doctrine of strict liability dan dontrine of vicarious liability23. Salah satu pemecahan praktis masalah pertanggungjawaban pidana atas tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja dilingkungan korporasi tempat ia bekerja ialah doctrine strict liability, pertanggungjawaban dapat dibebankan kepada pelaku tindak pidana yang bersangkutan dengan tidak perlu dibuktikan adanya kesalahan pada pelakunya. Ajaran yang kedua yang membenarkan bagi adanya pembebanan pertanggungjawaban pidana kepada korporasi adalah dotrin vicarious liability. Menurut ajaran ini seseorang dimungkinkan harus bertanggungjawab atas perbuatan orang lain. Apabila teori ini diterapkan pada korporasi, berarti korporasi dimungkinkan harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh para pegawainya, kuasanya, mandatarisnya, atau kepada siapapun yang bertanggungjawab kepada korporasi tersebut24. Kemudian masih tentang korporasi sebagai subjek hukum atau "pelaku", Chidir Ali memberikan definisi sebagai berikut 25:

22

Ibid, hlm. 119-120

Sutan Remy Sjahdeini , Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, (Jakarta : Grafiti Pers, 2006), hlm. 78 24 Ibid, hlm. 84-86
25

23

Chidir Ali, Badan Hukum, cet. Pertama, (Bandung : PT. Alumni, 1987), hlm. 20

95

"Hukum memberi kemungkinan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu, bahwa suatu perkumpulan atau badan lain dianggap sebagai orang yang merupakan pembawa hak, dan karenanya dapat menjalankan hak-hak seperti orang biasa yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun demikian, badan hukum atau korporasi bertindak harus dengan perantara orang biasa. Akan tetapi, orang yang bertindak itu tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dan atas nama pertanggungjawaban korporasi". Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa korporasi (badan hukum ataupun bukan badan hukum) dapat dipertanggungjawabkan secara pidana (subjek hukum), dan dianggap sebagai yang mempunyai kemampuan bisa berbuat seperti layaknya manusia alami, serta mempunyai hak-hak dan kewajiban. Namun dalam melakukan suatu perbuatan (korporasi) melalui perantara manusia. Yang akan menjadi pembahasan selanjutnya adalah pasal 20 ayat (2). Ayat (2) ini tidak terlalu jauh berbeda dengan ayat (1) di mana ayat satu berkenaan dengan penuntutan sedangkan ayat dua adalah mengenai perbuatan seperti apakah yang dikerjakan oleh korporasi, adalah apabila suatu perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, yang bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama. Artinya apabila suatu perbuatan tindak pidana telah terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai hubungan kerja atau mempunyai hubungan lain, yang bertindak atas nama korporasi, maka pertanggungjawaban terhadap korporasi dapat dijatuhkan. Pasal 20 ini ayat (3),ayat (4), ayat (5), menurut ketentuan-ketentuan ayat tersebut, apabila tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, maka yang akan diperiksa oleh polisi, atau jaksa, dan harus tampil didepan pengadilan adalah

96

pengurus dari korporasi tersebut. Pada ayat (4) bukan saja memberikan kesempatan bagi korporasi dalam hal diwakili oleh pengurus bahkan memberikan hak kepada pengurus untuk tidak tampil sendiri dalam proses penyidikan, penututan, dan dari korporasi yang bersangkutan atau menguasakan kepada orang lain atau beberapa orang advokat uhntuk mewakili dirinya tampil di depan pengadilan. Dengan kata lain, pengurus yang bersangkutan tidak harus secara pribadi baik ke hadapan polisi, jaksa, atau ke muka sidang pengadilan. Hal ini diambil dari asas hukum perdata yang menentukan bahwa suatu subjek hukum (orang peroangan atau badan hukum) dapat mewakilkan dirinya kepada pihak lain, baik kepada orang perorangan atau kepada badan hukum lain dengan memberikan kuasa untuk melakukan perbuatan hukum tertentu atau melakukan segala hukum yang terkait dengan masalah yang serahkan pengurusan atau penyelesaiannya kepada pihak yang diberi kuasa (penerima kuasa) itu26.

B. Sanksi Pidana 1. Pengertian dan prinsip-prinsip pemidanaan Hukuman atau sanksi dalam istilah Arab sering disebut dengan 'uqubah, yaitu bentuk balasan terhadap seseorang yang atas perbuatannya melanggar ketentuan syara' yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk kemaslahatan manusia27.

Sutan Remy Sjahdeini, Pertanggungjawaban Pidana Korporas, cet. Pertama, (Jakarta : PT. Grafity, 2006), hlm. 176-177 27 Makhrus Munajat, Dekonstruksi Hukum Pidana Islam, cet pertama, (Yogjakarta, Logung Pustaka, 2004), hlm. 39

26

97

Tujuan dari hukuman dalam syari'at Islam merupakan merupakan realisasi dari tujuan hukum Islam itu sendiri, yakni sebagai pembalasan perbuatan jahat, pencegahan secara umum dan pencegahan secara khusus serta perlindungan tehadap hak-hak korban. Pemidanaan (penjatuhan sanksi) dimaksudkan untuk mendatangkan kemaslahatan umat dan mencegah kedzaliman dan kemadharatan. Hukuman dalam Islam diterapkan setelah terpenuhi beberapa unsur, baik yang bersifat umum maupun khusus. Ketentuan ini diberlakukan, karena hukuman dalam Islam dianggap sebagai tindakan ikht{iyat, bahkan hakim dalam Islam harus menegakkan dua prinsip28 : a. Hindari hukuman hadd dalam perkara yang mengandung unsur

subhat.
b. Seorang imam atau hakim lebih baik salah memaafkan dari pada salah menjatuhkan hukuman. Khusus dalam masalah tindak pidana (criminal act), maka ada dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu mata rantai yang tidak akan pernah terputus, yaitu kejahatan dan hukuman. Suatu bentuk perintah atau larangan tidak cukup mendorong seseorang untuk meninggalkan suatu perbuatan atau melaksanakannya, untuk itu diperlukan sanksi pidana berupa hukuman bagi siapa saja yang melanggarnya. Makhrus Munajat mengemukakan bahwa pada setiap tindak pidana harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

28

Ibid, hlm. 39

98

a. Hukuman itu disyari'atkan, yaitu sesuai dengan sumber hukum yang telah ditetapkan dan diakui oleh syari'at Islam. Perbuatan dianggap salah jika ditentukan oleh nas. b. Hukuman itu hanya dikenakan pada pelaku tindak pidana, karena pertnggungjawaban tindak pidana hanya di pundak

pelakunya,orang lain tidak boleh dilibatkan dalam tindak pidana yang dilkukan oleh seseorang kecuali dalam masalah diyat, pembebanan keluarganya29. Ahmad Hanafi mengemukakan tujuan hukuman dalam Islam adalah pencegahan dan pengajaran serta pendidikan. Pengertian pencegahan ialah menahan pembuat agar tidak mengulangi perbuatan jarimahnya atau agar tidak terus menerus memperbuatnya, di samping pencegahan terhadap orang lain selain pembuat agar tidak memperbuat jarimah, sebab ia bisa mengetahui hukuman yang dikenakan terhadap orang yang memperbuat pula perbuatan yang sama30. Oleh karena tujuan hukuman adalah pencegahan maka besarnya hukuman harus sedemikian rupa yang cukup mewujudkan tujuan tesebut, tidak boleh kurang atau lebih dari batas yang diperlukan, dan dengan demikian maka terdapat prinsip keadilan dalam menjatuhkan hukuman. ganti rugi dapat dipertnggungjawabkan oleh

29

Ibid, hlm. 41-43

Ahamd Hanafi, asas-asas hukum pidana Islam, cet. Ke-6 (Jakarta : PT Bulan Bintang, 2005), hlm. 191

30

99

Pembuat hukum tidak menyusun ketentuan-ketentuan hukum dari syari'at Islam tanpa tujuan apa-apa, melainkan di sana ada tujuan tertentu yang luas. Para ahli hukum Islam mengklasifikasikan tujuan-tujuan yang dari syari'at sebagai berikut31 : a. Menjamin keamanan dari kebutuhan-kebutuhan hidup merupakan tujuan pertama dan utama dari syari'at. Dalam kehidupan manusia ini merupakan hal penting, sehingga tidak bisa dipisahkan. Apabila kebutuhan-kebutuhan ini tidak terjamin, akan terjadi kekacauan dan ketidaktertiban di mana-mana. Kelima kebutuhan hidup yang primer ini (d{aruriyat), dalam kepustakaan hukum Islam disebut dengan istilah al-maqas{id al-khamsah, yaitu : agama, jiwa, akal pikiran, keturunan dan hak milik. Syari'at telah menetapkan pemenuhan, kemajuan, dan perlindungan tiap kebutuhan itu, serta menegaskan ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengannya sebagai ketentuan yang esensial. b. Menjamin keperluan hidup atau disebut hajiyat. Ini mencakup halhal penting bagi ketentuan itu dari berbagai fasilitas untuk penduduk dan memudahkan kerja keras dan beban tanggungjawab mereka. Ketiadaan berbagai dan fasilitas itu mungkin akan tidak tetapi

menyebabkan

kekacauan

ketidaktertiban,

menambah kesulitan bagi masyarakat. Dengan kata lain, keperluan-keperluan itu terdiri dari berbagai hal yang

31

Topo Santoso, Membumikan Hukuim Islam, (Jakarta : gema Insani, 2003), hlm. 19

100

menyingkirkan kesulitan dari masyarakat dan membuat hidup menjadi mudah bagi mereka. c. Membuat berbagai perbaikan, yaitu menjadikan hal-hal yang dapat menghiasi kehidupan sosial dan menjadikan manusia mampu bermbuat dan mengatur urusan hidup lebih baik (kerperluan tersier) tahsinat. Ketiadaan perbaikan-perbaikan tersebut tidak membawa kekacauan sebagaimana ketiadaan kebutuhan-kebutuhan hidup, juga tidak mencakup apa-apa yang perlu untuk menghilangkan berbagai kesulitan dan membuat hidup lebih mudah. Berkenaan dengan apa sanksi yang pantas dijatuhkan pada pelaku tindak pidana korupsi, Majlis Tarjih Dan Tajdid PP Muhammadiyah mengelompokkan perbuatan/tindak pidana korupsi pada jarimah ta'z{ir.

Ta'z{ir adalah jenis sanksi pidana yang dijatuhkan terhadap terpidana yang
aturan pemidanaannya tidak ditentukan secacra tegas didalam al-Qur'an dan alHadits32. Hukuman ta'z{ir adalah hukuman yang dijatuhkan atas jarimah-jarimah yang tidak dijatuhi hukuman yang telah ditentukan oleh hukum syari'at, yaitu jarimah-jarimah hudud dan qisas-diyat. Adapun jarimah yang dikenakan jarimah

ta'z{ir ada dua macam33 :


Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Fikih Anti Korupsi Perspektif Ulama Mahammadiyah, (Jakarta : Pusat Studi Agama dan Peradaban), hlm. 80 Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, cet. Ke-6, (Jakarta : Bulan Bintang, 2005), hlm. 221
33 32

101

a. Jarimah yang dikenai hukuman hadd atau qisas jika tidak terpenuhi salah satu unsur rukunnya. Misalnya jarimah pencurian dihukum ta'z{ir jika barang yang dicuri tidak mencapai nisab (kadar minimal) atau barang yang dicuri tidak disimpan ditempat yang semestinya. b. Jarimah yang tidak dikenakan hukuman hadd dan qisas, seperti jarimah penghiatan trehadap suatu amanat yang telah diberikan,

jarimah pembakaran, suap, dan lain-lain.

2. Bentuk-Bentuk Sanksi Pidana Bagi Korporasi Sanksi pidana adalah akibat yang harus ditanggnung oleh pembuat dosa (melanggar hukum) dari perbuatan yang dilakukan secara melawan hukum. Adapun bentuk-bentuk pidana dalam hukum pidana Indonesia dibagi menjadi34 : a. Pidana pokok : 1) Pidana penjara 2) Pidana tutupan 3) Pidana pengawasan 4) Pidana denda 5) Pidana kerja sosial b. Pidana tambahan : 1) Pencabutan hak-hak tertentu

Barada Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, cet.ke-3 (Bandung : Citra Aditiya Bakti , 2005), hlm. 155

34

102

2) Perampasan barang-barang tertentu dan tagihan 3) Pengumuman putusan hakim 4) Pembayaran ganti kerugian 5) Pemenuhan kewajiban adat c. Pidana khusus : 1) Pidana mati Demikian juga layaknya hukum positif, hukum Islam juga membagi jrimah dalam dalam tiga macam, yaitu jarimah hudud, jarimah qisas-diyat, dan

jarimah ta'z\ir. Kemudian sebagai efek dari jarimah-jarimah tersebut adalah


adanya sanksi/hukukaman. Makhrus Munajat mengklarifikasikan sanksi pidana ataupun hukuman dalam Islam dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis, hal ini dapat diperinci sebagai berikut 35: a. Hukuman dilidat dari pertalian hukuman yang satu dengan yang lain ada empat macam : 1) Hukuman pokok, yaitu hukuman yang diterangkan secara definitive, artinya hakim hanya menerapkan sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh nas.dalam fikih jinayat disebut jarimah

hudud.
2) Hukuman pengganti, yaitu hukuman yang diterapkan sebagai pengganti, karena hukuman pokok tidak dapat diterapkan dengan alasan yang syah. Seperti qisas diganti dengan diyat, diyat diganti dengan dimaafkan.
Mkhrus Munajat, Dekonstruksi Hukum Pidana Islam, cet. Pertama (yogyakarta : Logung Pustaka , 2004), hlm. 44-46
35

103

3) Hukuman tmbahan, yaitu suatru hukuman yang menyertai hukuman pokok tanpa adanya putusan hakim tersendiri, misalnya bagi pelaku qaz{f, hak persaksian hilang, dan bagi pembunuh, hak pewarisan hilang. 4) Hukuuman pelengkap, yaitu tambahan hukuman pokok dengan melalui keputusan tersendiri, misalnya pencuri, selain dipotong tangan juga diberi tambahan dengan dikalungkannya tangan dilehernya. b. Hukuman dilihat dari kewenagan hakim dalam memutuskan perkara, maka ada dua macam yaitu : 1) Hukukam yang bersihat terbatas, yakni ketentuan pidana yang diterapkan secara pasti oleeh nas, artinya tidak adas batas tertinggi dasn terendah. Contoh hukuuman dera bagi pelaku zina 100 kali dan 80 kali bagi penuduh zina. 2) Hukuman yang memiliki alternative untuk dipilih, contohnya padas jarimah yang belum selesai seperti percobaan pembunuhan, dll. c. Hukuman dari segi objeknya, hal ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok : 1) Hukuman jasmani, seperti potong tangan. 2) Hukuman yang berkenaan dengan psikologis, ancaman dan teguran. 3) Hukuman denda, ganti rugi, diyat, dan penyitaan harta.

104

Selanjutnya akan dibahas mengenai sanksi pidana yang pantas dan layak dijatuhkan trehadap korporasi sebagai pelaku tindak pidana. Pada pasal 20 ayat 7 di jelaskan bahwa korporasi sekalipun bukan badan alami (manusia) dapat dikenai pertanggungjaawaban pidana. Adapun bentuk-bentuk sanksi pidana yang dapat dijatuhkan pada korporasi dapat berupa pidana pokok dan pidana tambahan. Sementara itu, berbagai undang-undang pidana Indonisia baru menetapkan denda sebagai pidana pokok bagi korporasi. Bentuk-bentuk sanksi pidana lain oleh undang-undang ditetapkan sebagai sanksi pidana tambahan atua tindakan tata tertib36. Pasal 20 ayat 7 menjelasakan tetang pidana yang dapat dinjatuhkan terhadap korporasi : "Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya pidana denda, dengan ketenyuan maksimum pidana ditambah1/3 (satu pertiga)" Menurut ketentuan ayat ini pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi sebagai pertanggungjawaban pidana hanyalah pidana denda yang ditambah 1/3 (sepertiga). Dari pasal 20 ayat 7 tersebut diatas peinulis memberikan penilaian bahwa hukum positif telah mengenal adanya pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi. Artinya korporasi yang dalam berbuat tidak dengan kehendak sendiri melainkan melalui perantara manusia dapat juga dimintai pertanggungjawaban dan dikenakan sanksi pidana. Tidak seperti yang dikemukakan oleh Ahmad Hanafi yang berpendapat bahwa yang dapat dimitai pertanggungjawaban pidana

Sutan Remy Sjahdeini, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, cet pertama, (Jakarta : Grafity, 2006), hlm. 205

36

105

hanya

manusia,

hal

ini

Ahmad

Hanafi

mendasarkan/mensyaratkan

pertanggungjawan pidana pada adanya pengetahuan terhadap perbuatannya dan adanya pilihan sedangkan korporasi atau badan hukum tidak mempunyai syarat tersebut.

106

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Bentuk dan rumusan/formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi yang diterapkan dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi adalah menganut tiga sistem pertanggungjawaban pidana, yaitu dapat dilihat dalam pasal 20 ayat 1 UU. No. 31/1999, yakni tiga sistem pertanggungjawaban pidana tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : Pertama, Pengurus korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggungjawab. Kedua, Korporasi sebagai pembuat dan pengurus yang bertanggungjawab. Ketiga, Korporasi sebagai pembuat dan korporasi sebagai yang bertanggungjawab. Dengan demikian bentuk dan rumusan pertnaggungjawban pidana korporasi yang dianut oleh UU. 31/1999 jo. UU. 20/2001 dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Vicarious liability atau pertanggungjawaban pengganti atau

diwakilkan. Artinya orang bisa bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan oleh oramg lain. Yang dalam hal ini dapat dilihat pada ketentuan pasal 20 ayat 1 yang berkenaan dengan penjatuhan sanksi pidana terhadap korporasi. 2. Strict liability atau pertanggungjawaban pidana ketat atau

pertanggungjawaban pidana tanpa kesalahan yang dalam hal ini

107

ketentuannya terdapat dalam pasal 20 ayat 1 UU. No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Hal ini disebabkan karena pelaku delik pidana yang terdapat di dalam UU. No 31 Tahun 1999 jo. UU. No. 20 Tahun 2001 adalah person atau manusia dan korporasi/badan hukum. Akan Tetapi kedua bentuk atau rumusan

pertanggungjawaban pidana tersebut saling melengkapi. Hukum Islam telah mengenal adanya pertanggungjawaban pidana korporasi, hal ini telah disinggung dalam beberapa ayat, dalam hal ini hukum Islam mengutamakan kepentingan umum yaitu menjamin adanya terwujudnya lima dasar kemaslahatan umat, yaitu khifd al-nafs, khifd al-'aql, khifd al-mal, khifd al-din, khifd al-nasb, dan jika dilihat dari dampak terhadap masyarakat yang ditimbulkan oleh kejahatan yang dilakukan oleh atau atas nama korporasi, dan juga bisa dilihat dari adanya penbenaran pembebanan pertanggungjawaban pidana tanpa kesalahan yaitu liability whitout fault dimana orang atau korporasi sudah bisa dimintai pertanggungjawaban pidana apabila sudah melakukan perbuatan melawan hukum tanpa melihat sikap batin orang atau korporasi tersebut. Adapun vicarious liability adalah pertanggumngjawaban pengganti, yaitu orang bisa bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Jika hal ini dikaitkan dengan korporasi maka korporasi dapat bertanggungjawab atas tindak pidana yang dilakukan oleh pengurus-pengurusnya. Pandangan hukum Islam di dalam permasalah pertanggungjawaban pidana korporasi yang dimuat di dalam UU. No. 31/1999 jo. UU. No. 20/2001 pada kenyataanya sejalan dan selaras dengan nilai-nilai ajaran agama Islam (hukum

108

Islam). Hukum Islam menekankan bahwasanya pertanggungjawaban pidana hanya dipikulkan terhadap orang yang berbuat. B. Saran Hasil penelitian ini membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut tentang efektifitas dari ketentuan pidana khususnya di bidang jinayah. Masalah-masalah ini perlu dibahas untuk mengembangkan dan merumuskan teoriteori hukum Islam agar dapat menenuhi dan sebagai jawaban terhadap kebutuhan zaman, dan sekaligus sebagai bahan masukan bagi maateri-materi hukum positif di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

A. Al-Qur'an Departemen Agama RI. Al-Qur'an dan Terjemahannya, Jakarta : Yayasan penyelenggarapenterjemah, penafsiran Al-Qur'an, 1984.

B. Al-Hadits Al-Qusyairi, Abu al-Husain Muslim ibn al-Hallaj, Al-Jami' as-Sahih, "Kitab alBirr wa as-Sillah wa al-Adab" Bab tarahim al-Mu'minin..", Beirut : dar alFikr. CD Al-Maktabah Asy-Syamilah Islamic Global Software Ridwana Media. C. Alkitab

Lemabaga Alkitab Indonesia Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Terjemahan Baru, Jakrta : Lembaga Alkitab Indonesia, 1996

D. Fiqih / Ushul Fiqih / Ilmu Hukum A, Djazuli, Fiqh Jinayah (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalam Islam), cet. Ke-I, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1996. Ali, Muhammad Daud, Hukum Islam (Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia), cet. Ke-XI , Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2004 Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, cet. Ke-III (Jakarta : Bulan Bintang, 1967. Amrullah, Arief, Kejahatan Korporasi, cet. Ke-1, Malang : Bayumedia Publishing, 2006. Ash-Shiddiqy, Hasbi, Pengantar Fiqh Muamalah, cet. Ke-II Jakarta : Bulan Bintang, 1984. Barada Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, cet.ke-3, Bandung : Citra Aditiya Bakti, 2005.

109

Chazawi, Adami, Hukum Pidana materiil Dan Formil korupsi di Indonisia, cet. Pertama Malang : Bayumedia Publishing ; 2003 Haekal, Muahmmad Husain, Uamr Bin Khattab Sebuah Telaah Mendalam Tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa Itu, cet. Ke-9 Jakarta : Litera antarnus, 2008. Hatrik, Hamzah, SH, MH., Azas Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Hukum Pidana Indonesia (Strict Liability dan Vicarious Liability), Jakarta : Rajawali Press, 1996. Haliman, Hukum Pidana Syariat Menurut Ajaran Ahlus Sunah, cet. Ke-1 Jakarta : Bulan Bintang, 1971. J. E. Sahetapy, Kejahatan Korporasi, cet. Ke-I Bandung : PT. Eresco, 1994. KPK, Memahami Untuk Menbasmi Buku Satu Untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi. Khartika, Dewi, Perbuatan Pidana yang Dilakukan Ecara Massal (Kajian Terhadap Hubungan Antara Pelaku Menurut Doktrin Hukum Pidana dan Yurisprudensi), Yogyakarta : UII, 2006. Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana dalam Hukum Pidana, (Jakarta : Bina Aksara, 1983 Muladi dan Arief, Barda Nawawi, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, cet. Ke-III, Bandung : PT. Alumni, 2005 Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, fikih anti korupsi perspektif ulama muhammadiyah, jakarta: PASP, 2006 Munajat, Makhrus, Dekonstruksi Hukum Pidana Islam, cet. pertama, Yogyakarta : Logung Pustaka, 2004. Munajat, Makhrus, Hukum Pidana Islam di Indonesia, cet pertama, Yogyakarta : Bidang Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2008. R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta KomentarKomentarnya Pasal Demi Pasal, Politeia : Bogor, 1996 Santoso, Topo, Membumikan Hukum Pidana Islam, cet. Pertama, Jakarta : Gema Insani Press, 2003 Saleh, Roelan, Pikiran-Pikiran Tentang Pertanggungjawaban Pidana, Jakarta : Ghalia Indonesia; 1982

110

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Cet. Ke-I Jakarta : Rajawali, 1986. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 30 tahun Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, cet ke-I, Trinity, 2007. Yulianti, Swis Niza, Pertanggungjawaban Pidana Rumah Sakit dalam Kasus Malpraktek, Yogyakarta : UII; 2005. E. Lain-lain Rimbun, Masri Singa, Sofyan Effendi, Metode Penelitian Survai, Jakarta : LP3ES, 1981 http://www.seputar-indonesia.com/opinisore/Selasa, 13/03/2007, LUCKY RASPATI Staf Pengajar Bagian Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang tanggal browsing 24 feb. 2009. http://www.mail-rchive.com/urangsunda@yahoogroups.com/msg24504.html Tgl 26 jan 2009.

111

LAMPIRAN I TERJEMAHAN

No

Nomor HL FN M

TERJEMAHANNYA Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim,

32

11

supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka 2 33 12 di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu

Sesungguhnya

pembalasan

terhadap

orang-orang

yang

memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau 3 33 13 dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,

14 80

20 41 83

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang Telah diperbuatnya Katakanlah: "Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali

14 37 80

21 19 84

kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."

37 48 81

20 40 85

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya dia meridhai bagimu

16 37 81

22 21 86

kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu dia memberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. Sesungguhnya dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada) mu.

16 37 81

23 22 87

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang 9 42 26 terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu Berapalah 10 42 27 banyaknya kota yang kami Telah

membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, Dan (penduduk) negeri Telah kami binasakan ketika mereka

11

52

68

berbuat zalim, dan Telah kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka. Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus

12

52

69

menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. Para muslimun bersamaan darah-darah mereka dan tanggung

13

43

51

jawab mereka dilaksanakan oleh orang yang paling rendah dari mereka Perubahan hukum sesuai dengan berubahnya zaman, tempat,

14

78

dan keadaan Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang

15

43

27

teIah kami binasakan, dan kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang

16

85

90

Rasul

Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri 17 85 91 sebelum Dia mengutus seorang Rasul di ibu-kotannya yang membacakan ayat-ayat kami kepada mereka Perbuatan yang dilarang oleh syara' baik perbuatan itu 18 13 15 mengenai jiwa, harta, atau lainnya Larangan-larangan syara' yang diancam oleh Allah denagn 19 13 16 hukuman hadd atau ta'zir

LAMPIRAN II BIOGRAFI ULAMA DAN SARJANA

1. 'Abdur Qodir 'Audah 'Abdur Qodir 'Audah adalah seorang hakim yang adil dan pengarang kalisik yang terkemal, alumnus Fkultas Hukum Universitas Kairo Mesir tahun 1930. pada tahun 1952 bersama-bersama temannya turut mencetuskan revolusi Mesir. Sebagai ahli hukum ia pernah diberi kepercayaan untuk menbentuk UUD Mesir yang baru. Tanggal 8 Desember 1954 beliau syahid ditiang gantungan akibat terkena fitnah. Hasil karyanya antara lain : 1. At-Tasyri' al-jina'i al-Islam 2. Al-Islam wa Auda'una al-Qanniyyah

2. Chidir Ali, SH. Nama lengkapnya Mochammad Chidir Ali, SH. Beliau lahir di Kidul pasar Malang. Pendidikan terakhirnya di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung pada tahun 1973. semenjak tahun 1965 sampai sekarang beliau mangajar di Fakultas Hukum Universitas yang sama. Beliau banyak menyusun buku yang diterbitkan oleh berbagai penerbit diantaranya tentang Aneka Perjanjian, Perikatan, Hukum Dagang, Hukum Perdaata dasn Hukum Pidana.

3. T. M. Hasbi Ash-Shieddieqy Beliau lahir pada 10 Maret 1904 di Loeksumawi. Belajar pada pesanten yang dipimpin ayahnya serta beberapa pesantren lainnya. Banyak mendapatkan bimbingan dari ulama Muhammadiyah Bin Salim il-Kalali. Tahun 1930, beliau belajar di Al-Irsyad Surabaya yang dipimpin oleh Ustad Umar Hubeis. Kemudian pada tahun 1928 meminpin sekolah Al-Irsyad di Loeksumawi. Beliau juga giat Berdakwah di Aceh, mengembangkan faham tajdid serta memberantas bid'ah dan khurafat. Tahun 1930 menjadi kepala sekolah Al-Huds di Krung Mane, mengajar di HIS dan MULO Muhammadiyah, ketua Jong Islamatin Bond Aceh Utara. Tahun 1940-1942 menjadi direktur Darul Mu'allimin Muhammadiyah Kutaraja, membuka Akademi Bahasa Arab tertinggi di Aceh. Karir beliau sebagai pendidik antara lain : Dekan Fakultas Syari'ah di Universitas Sultan Agung Semarang. Guru besar dan Dekan Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1960). Beliau juga guru besar di UII Yogyakarta dan Rektor Universitas Al-Irsyad Solo (1963-1968). Selain itu beliau juga menjadi Wakil Ketua Lembaga Penterjemah dan Penafsir Al-Qur'an, Departemen Agama, Ketua Lembaga Fiqih Islam Indonesia (Lefsii), anggota majlis Ifta Wattarjih Al-Irsyad. Beliau wafat pada 9 desember 1975.

4. Sutan Remy Sjahdeini Lahir di aurabaya pada 11 november 1938. ia adalah alumnus Fakultas Hukum Unair, dan meraih gelar doktor dalam ilmu hukum dengan predikat cum laude dari UI. Pada saat ini ia adalah Guru Besar Hukum Perbankan pada UI, UNAIR, UBAYA, LPPI, dan Hukum Kepailitan pada UNPAD, serta Hukum Pidana Tentang Pertanggungjawaban Korporasi pada Magister Hukum UI Khusus Kejaksaan dan Sekolah Tinggi Hukum Meliter. Ia adalah Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia (2005-2008), di samping Chaiman dan Founder dari law Offices Of Remy & Darus dan President Director dari Business Reform & Recontruktion Corporation (BRRC). Telah menulis lebih dari 150 makalah dan 7 buku di bidang hukum perbankan, hukum hak tanggungan, hukum kepailitan, dan pencucian uang.

LAMPIRAN III CURRICULUM VITAE

Identitas Nama Tempa/Taggal Lahir Jenis kelamin Agama Alamat : Abd. Mannan : Pamekasan, 13 Maret 1985 : Laki-laki : Islam : Jln. MI Mansyaul 'Ulum Rt 02 Rw 08 LG. Ds. Sanadaya Kec. Pasean Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur 63956

Pendidikan SDN Sanadaya (1997) MTs Sanadaya (2000) MAKN Jombanng (2004)

Organisasi Bendahara Gebyar Bahasa dan Seminar Sehari (2003) Koordinator Sei Humas Musabaqah Hifdul Hadits (2002) Koordinatir Sei Kesehatan dan Sosial PP. al-Aziziyyah (2004)