Anda di halaman 1dari 17

TUMOR TULANG 1.

Defenisi
Tumor adalah benjolan atau pembengkakan abnormal dalam tubuh. Sel tumor adalah sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom, lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Tumor dapat bersifat jinak atau ganas. Tumor tulang primer merupakan tumor tulang dimana sel tumornya berasal dari sel-sel yang membentuk jaringan tulang, sedang tumor tulang sekunder merupakan anak sebar tumor ganas organ nontulang yang bermetastasis ke tulang. Pemeriksaan radiologis konvensional masih tetap diperlukan sebagai dasar untuk pemeriksaan imaging selanjutnya. Dari seluruh tumor tulang primer, 65,8 % bersifat jinak dan 34,2 % bersifat ganas. Tumor ganas tulang menempati urutan kesebelas dari seluruh tumor ganas yang ada, dan hanya 1,5 % dari seluruh tumor ganas organ. Perbandingan insidens tumor tulang pada pria dan wanita adalah sama. Tumor jinak primer tulang yang paling sering ditemukan adalah osteoma (39,3%), osteokondroma (32,5%), kondroma (9,8%) dan sisanya oleh tumor tulang jinak yang lain. Klasifikasi tumor tulang menurut WHO ditetapkan berdasarkan kriteria histologis, jenis difrensiasi sel-sel tumor yang diperlihatkan dn jenis interseluler matriks yang diproduksi. Dalam hal ini dipertimbangkan sifat-sifat tumor, asal-usul sel serta pemeriksaan histologis menetapkan jenis tumor bersifat jinak atau ganas. Sel-sel dari muskuloskeletal berasal dari mesoderm tetapi kemudian berdifrensiasi menjadi beberapa sel osteoklas, kondroblas, fibroblas, dan mieloblas. Oleh karena itu sebaiknya klasifikasi tumor tulang berdasarkan atas asal sel, yaitu bersifat osteogenik, kondrogenik atau mielogenik. Meskipun demikian terdapat kelompok yang tidak termasuk dalam kelompok tumor yaitu kelainan reaktif (reactive bone) atau hamartoma yang sebenarnya berpotensi menjadi ganas. Klasifikasi tumor tulang menurut WHO tahun 1972 :

ASAL SEL Osteogenik

JINAK Osteoma Osteoid - osteoma

GANAS Osteosarcoma Parosteal osteosarcoma Kondrosarkoma Juksta kortikal kondrosarkoma

Osteoblastoma Kondrogenik Kondroma Osteokondroma

Kondroblastoma Fibroma kondromiksoid Giant sel tumor Mielogenik

Mesenkim kondrosarkoma

Osteoklastoma Sarkoma Ewing Sarkoma retikulum Limfosarkoma Mieloma

Vaskuler Intermediate: Hemangioendotelioma Hemangioperisito ma Jaringan lunak

Hemangioma Limfangioma Tumor glomus

Angiosarkoma

Fibroma desmoplastik Lipoma

Fibrosarkoma Liposarkoma Mesenkimoma ganas Sarkoma tak berdiferensiasi

Tumor lain

Neurinoma Neurofibroma

Kordoma Adamantinoma

Tumor tanpa klasifikasi

Kista soliter Kista aneurisma Kista juksta-artikuler Defek metafisis Granuloma eosinofil

Displasia fibrosa Miositis osifikans Tumor Brown hiperparatiroidisme 1. Pemeriksaan Radiologis : Dilakukan foto polos local pada lokasi lesi atau foto survei seluruh tulang (bone survey) apabila dicurigai adanya tumor yang bersifat metastasis atau tumor primer yang dapat mengenai beberapa bagian tulang. Foto polos dapat memberikan gambaran tentang : y Lokasi lesi yang lebih akurat apakah pada daerah epifisis, metafisis, diafisis atau pada organ tertentu Apakah tumor bersifat soliter atau multiple Jenis tulang yang terkena Sifat-sifat tumor ; apakah uniform atau bervariasi, apakah memberikan reaksi pada periosteum, apakah jaringan lunak sekitarnya terinfiltrasi Zona transisi: sempit atau luas Sifat lesi ; apakah berbentuk kistik atau seperti gelembung sabun.

y y y

y y

Pemeriksaan Lanjutan y CT-scan ; dapat memberikan informasi tentang keberadaan tumor apakah intraoseus atau ekstra oseus. MRI ; dapat memberikan informasi apakah tumor berada dalam tulang, apakah tumor berekspansi ke dalam sendi atau ke jaringan lunak sekitarnya. Radionuklida scanning/bone scan ; biasanya dipergunakan pada lesi yang kecil seperti osteoma. Kandungan senyawa technetium-99 fosfonat terakumulasi pada tulang beberapa jam setelah penyuntikan isotop secara intravena.

TUMOR JINAK TULANG 3.1. Osteoma : Foto Polos ; Lesi sklerotik berbentuk bulat yang melekat pada tulang dengan batas tegas, tanpa destruksi tulang. Sering berhubungan dengan massa subkutan-kutan disertai multipel polip pada usus yang disebut Gardners symdrome. Pada pandangan tangensial terlihat seperti kubah. Hanya mengandung jaringan osseus padat tanpa kandungan kartilago, serta paling banyak ditemukan pada tengkorak dan sinus paranasalis. CT Scan : - NECT: - Massa kalsifikasi homogen - Lesi timbul pada permukaan korteks - Dapat terlihat periosteal reaction - Sangat baik untuk memperlihatkan invasi ke korteks dan kontinuitas medulla tulang - CECT : tidak ada perubahan MRI : - T1WI : Intensitas gelombang rendah ( hipointens ) - T2W1 : Intensitas gelombang rendah

Kedokteran Nuklir : - Peningkatan ambilan radiotracer (radio isotop) pada lesi-lesi aktif - Tak ada peningkatan ambilan pada lesi laten 3.2. Osteoid-osteoma : Foto Polos ; suatu daerah lusen sirkuler yang kecil (nidus) di bawah korteks yang dikelilingi tulang reaktif dengan opasitas yang menebal dan berkaitan dengan reaksi periosteal. CT : - NECT : Kecil, bulat / oval dengan sklerosis disekitarnya dengan gambaran nidus

MRI : - T1WI : Nidus isointens dengan otot - T2WI: Area radiolusen pada nidus ; intensitas gelombang intermediat sampai tinggi - T1C+ : Pada Dynamic Imaging ; terlihat penyangatan (enhancement) pada fase arteri dan awal fase lanjut - Gelombang rendah pada seluruh urutan pulse jika terjadi mineralisasi komplit pada nidus

- Dapat memperlihatkan sinovitis dan efusi sendi serta lesi intra artikular USG : - Dopler berwarna ; Peningkatan vaskularisasi nidus - Dapat menunjukkan lokasi untuk biopsi Angiografi : Intensitas kemerahan dari nidus sejak awal fase arterial dan menetap selama fase vena Kedokteran Nuklir : - Scan tulang : Peningktan ambilan radioisotop - Double density sign : fokus kecil dari peningkatan aktifitas (nidus) dengan area yang luas dari intensitas aktifitas yang lebih rendah ( reactive sclerosis ) di sekelilingnya. - PET : Dapat digunakan untuk mendeteksi osteoid-osteoma pada area yang sulit (misalnya bagian posterior tulang belakang) 3.3. Osteokondroma : Foto Polos ; adanya penonjolan tulang yang berbatas tegas sebagai eksostosis yang muncul dari metafisis, sebagian besar diliputi oleh tulang rawan. Gambaran karakteristik yang penting adalah adannya hubungan korteks tulang utama dengan korteks dari osteokondroma. Sering pada tangkai tulang dengan ujung distal bulbosa yang luas. Eksostosis menjauhi sendi. Pada stadium lanjut memberikan gambaran cowly flower/bunga kol. CT : - NECT : - Memperlihtkan kontinuitas bagian lesi pada korteks dan medulla tulang - Memperlihatkan ketebalan kartilago - Sangat membantu memperlihatkan Bursa Formation MRI : - T1WI : Intensitas gelombang intermediat - T2WI : -Cartilagineus Cap : Intensitas gelombang tinggi -Daerah sekitarnya Hipointens ( menunjukkan perikondrium ) -Untuk evaluasi ketebalan cartilagineus cap dan letak bursa formation

ANEURYSMAL BONE CYST (ABC) Aneurysmal Bone Cyst adalah suatu tumor jinak pada tulang yang tumbuh ekspansil, multikistik,berisikan darah,dan bersifat destruktif. Aneurysmal Bone Cyst bukanlah neoplasma sejati, tetapi merupakan lesi yang menyerupai tumor yang diduga dimulai dan terjadi oleh karena adanya fistula arteriovenous tulang , dan karena tekanan hemodinamiknya sehingga terjadi reaksi tulang sekunder yang membentuk ABC ini. Berdasarkan jenis kelamin laki-laki : wanita = 1:1,mengenai usia 10-30 tahun. Lokasinya paling sering didapat didaerah metafisis tulang panjang (femur distal,tibia proksimal) dan pada tulang vertebra yang tumbuh di arcus neuralis termasuk processus transversus dan processus spinosus. Pemeriksaan radiologik konvensional masih tetap diperlukan sebagai dasar untuk pemeriksaan imaging selanjutnya. Hal hal lebih lanjut dan detail hendaknya dikembangkan sendiri oleh peserta didik melalui penelusuran pustaka, diantaranya dari berbagai buku teks yang dianjurkan dalam modul ini. Penyebab Aneurysmal Bone Cyst masih belum diketahui pasti, akan tetapi diduga kelainan vaskuler karena trauma berat dan fraktur yang mengakibatkan peningkatan tekanan hemodinamik sehingga mengakibatkan terjadinya fistula arteriovenous. Patofisiologi terjadinya Aneurysmal Bone Cyst ada 4 fase yaitu : a. Fase awal osteolitik b. Fase pertumbuhan aktif yang ditandai dengan destruksi tulang yang cepat dan pada subperiosteal yang terdorong keluar c. Fase matur sebagai tahap stabilisasi, ditandai oleh pembentukan kerangka tulang perifer yang nyata, septa dan trabekula dalam tulang yang ditunjukkan sebagai clasic soap-buble appearance d. Fase penyembuhan adanya kalsifikasi yang progresif dan osifikasi dari tulang dan transformasi akhir menuju massa densitas tulang dengan struktur yang irreguler. Gambaran radiologis dari ABC pada foto polos yaitu: lesi osteolitik, batas tegas, eksentrik, dengan atau tanpa sklerotik marginal dan gambaran soap bubble appearence ,korteks menipis, reaksi periosteal (-) (kecuali jika terjadi fraktur). Pemeriksaan Lanjutan CT.Scan - Perubahan tulang seperti balon yg melebar - Cortex yg menipis seperti eggshell - Kerusakan focal cortex yg bersamaan marrow, transisi dari non sclerotic zone - Fluid-fluid levels disebabkan oleh endapan darah - Tumor matrix tidak ada - Mungkin tampak tonjolan septa tulang - Umumnya meluas keruang epidural,munkin mengenai sumsum tulang belakang

MRI : T1WI : - Lobulasi neural arch mass (+) /(-) meluas ke vertebral body - Kista-kista dipisahkan oleh jenis ketebalan septac - Mungkin sebagian atau semua massa solid - Lingkaran hypointense sekitar massa T2WI : - Ruang kista dg berbagai ukuran - Fluid-fluid levels karena hasil darah - Intensitas berbeda menurut tingkat degrasi darah - Lingkaran hypointense sekitar darah - Perluasan epidural kelihatan baik ANGIOGRAPHIC : - Hypervascular - Lesi mengenai pembuluh darah bagaian periper lebih prominent BONE SCAN : - Positive 3 phase bone scan - Dapat mempunyai lingkarabn aktivitas sekitar photopenic region (donut sign) LEARNING GUIDE / PENUNTUN BELAJAR 8.1. Algoritma

Proses Administrasi

Jenis pemeriksaan

CT

Foto Polos dan dengan Kontras

MRI

Persiapan pemeriksaan, posisi dan interpretasi interpretasi

Persiapan pemeriksaan, posisi dan interpretasi

Persiapan pemeriksaan dan interpretasi

1. REFERENSI / SUMBER BELAJAR Bahan bacaan: - Adam Greenspan, Malignant Bone Tumors II in Orthopedic Imaging A Practical Approach, Lippincott Williams and Wilkins, Page 725 - Chairuddin Rasjad, Tumor Tulang dan Sejenisnya in Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Bintang Lamumpatue, Makassar, 2000, Page ; 294 - David Sutton Textbook of Radiology and Imaging, Vol. I, Churcill Livingstone, 2003 - David W Stoller, Diagnostic Imaging Orthopaedics, AMYRSYS, Chapter 8 - DJ Stoker & A. Saifuddin, Bone Tumors Malignant Lesions in Diagnostic Radiology A Texbook of Medical Imaging, Ronald Grainger, Churchill Livingstone, 2002, Page : 1889 - Erro Untung Hutagalung, dkk., Neoplasma Tulang : Diagnosis dan Terapi, PT Galaxy Puspa Mega, Jakarta, 2005, Page : 22 - Martin Vahlensieck, Musculoskeletal Neoplasm in MRI of the Musculoskeletal System, Thieme, 2000, Page : 309 - Pradip R.Patel, Sistem Skeletal in Lecture Notes Radiologi, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2007, Page; 191 - Paul and Juhl*s, Traumaic Lesions of Bones and Joints in Essentials Of Roentgen Interpretation Fourth Edition, Harper & Row, London, Page :. - R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong, Neoplasia in Buku Ajar Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997, Page ; 156 - Wilfred C.G. Peh & Yoshihiro Hiramatsu, Diseases of Spine in The AsianOceanian Textbook of Radiology, TTG Asia Media Pte Ltd, Singapora, 2003, Page : 995 - Referensi lain yang berkaitan dengan Musculoskeletal System. - Thomas H Berquist, Musculoskeletal Neoplasms in MRI of The Musculoskeletal System Fourth Edition, Lippincoth Williams and Wilkins, Page : 924

II. TUMOR GANAS TULANG (OSTEOSARKOMA) Menurut laporan WHO, sarcoma tulang kira-kira 0,2% dari keseluruhan neoplasma. Di Amerika dan Eropa didapatkan angka 0,8 kasus per 100.000 populasi, di Brazil dan Argentina didapatkan angka yang lebih tinggi, yaitu 1,5-2 per 100.000 populasi, sedangkan di Israel 1,4 per 100.000 populasi. Yang terbanyak ditemukan adalah osteosarcoma (35%) disusul oleh chondrosarcoma (25%). Penanganan kasus tumor tulang sebaiknya dilakukan oleh multidisiplin, karena masing-masing disiplin mempunyai kelebihan dan kekurangan yang bisa saling mengisi untuk mendapatkan hasil yang optimal, baik dalam hal diagnosis maupun terapi. Osteosarkoma adalah tipe dari tumor tulang yang berkembang dalam sel-sel osteoblas yang melapisi bagian luar tulang. Definisi klasik dari osteosarkoma adalah salah satu tumor ganas tulang yang memproduksi osteoid neoplastic dengan proliferasi dari sel spindle, walaupun hanya dalam jumlah yang sedikit. Tetapi

kadang-kadang dalam tumor ini juga memiliki kondroblastik atau elemen fibroblastic yang lebih dominan. Penyebab osteosarkoma tidak dapat diketahui, walaupun pengaruh radiasi dan genetik dapat terlibat. Osteosarkoma dapat terjadi pada penderita kanker yang melakukan pengobatan terapi radiasi dalam jangka waktu yang lama. Patofisiologi terjadinya osteosarkoma disebabkan karena sel-sel muskuloskeletal berasal dari mesoderm yang kemudian berdiferensiasi menjadi osteoklast, kondroblast, fibroblast, dan myeloblast. Osteosarkoma merupakan sarcoma mesenkim maligna yang terjadi akibat pembentukan langsung tulang atau osteoid oleh sel tumor, secara histologik memiliki gambaran dari jumlah tulang atau osteoid serta gambaran pleomorf jaringannya. Tulang dan osteoid akan menghasilkan tulang rawan, jaringan lunak atau jaringan miksoid dan juga mungkin ada daerah jaringan tumor dengan sel-sel spindle. Berdasarkan foto polos tulang, tumor ganas tulang dapat memberikan gambaran tentang: - Lokasi lesi apakah pada daerah epifisis, metafisis atau diafisis atau pada organorgan tertentu. - Sifat tumor soliter atau multipel. - Jenis tulang yang terkena. - Batas tumor tegas atau tidak, ada kalsifikasi atau tidak. - Apakah tumor memberikan reaksi pada periosteum atau menginfiltrasi jaringan lunak sekitarnya. Gambaran foto polos:
Destruksi; lesi litik destruktif dari kortikal tulang kompakta biasanya terjadi lebih awal dibandingkan destruksi medular tulang, tepi tidak tegas. Sklerotik; densitas meningkat bisa akibat reaktifitas pembentukan tulang host atau pembentukan dari tumor tulang. Reaksi periosteal; pertumbuhan yang cepat dari tumor mengakibatkan pengangkatan periosteum yang kemudian membentuk tulang baru. Spiculated periosteal tulang baru sering terjadi pada osteosarkoma dan memberikan gambaran hair on end atau sunburst. Jika segmen sentral dari periosteum yang terangkat rusak, bagian proksimal dan distal retakan membentuk tulang baru yang berbentuk segitiga dengan korteks tulang (Codmans triangle), codmans triangle adalah indikasi proses yang agresif. Pembengkakan jaringan lunak; merupakan gambaran dari perluasan osteosarkoma pada jaringan lunak. Area berawan dari sklerotik dari produk osteoid maligna dan kalsifikasi dapat dilihat dalam mass.

Pemeriksaan Lanjutan Gambaran CT-Scan :  Gambaran nekrosis luas, keterlibatan dan edema pada tulang. Dengan menggunakan kontras, dapat melihat enhancement.

Gambaran MRI :  MRI merupakan metode terbaik untuk menilai neurovaskular bundle, keterlibatan otot dan penyebaran ke intramedullar. 1. REFERENSI / SUMBER BELAJAR Bahan bacaan: - David Sutton Textbook of Radiology and Imaging, Vol. I, Churcill Livingstone, 2003. - Eric C.E., Pointon R.C.S. Soft Tissue and Bone Tumors. In The Radiotherapy of Malignant Disease. Springer-Verlag. Berlin. 1985.pg:38790. - Juhl J.H. Crummy A.B. The Osseus System. In Essential of Radiologic Imaging. 5th edition.1990.pg:166-9. - Osteosarcoma. http://en.wikipedia.org/wiki/Osteosarcoma. Last updated : January 24th, 2007. - Osteosarcoma. http://www.emedicine.com. Last updated : July 01st, 2005. - Rasjad, C.: Tumor tulang dan Sejenisnya, dalam : Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Bintang Lamumpatue, Ujung Pandang, 1998, hal: 292-342 - Robbin L. Malignant Bone Tumor. In Roentgen Diagnosis of Disease of Bone, Goldens Diagnostic Radiology.2nd Vol.2nd edition. The William & Wilkins company.1973.pg:933-66 - Referensi lain yang berkaitan dengan Osteosarcoma dan Chondrosarcoma (Tumor ganas tulang). 2. LEARNING GUIDE / PENUNTUN BELAJAR 8.1. Algoritma Proses Administrasi

Jenis pemeriksaan

CT

Foto polos

MRI

Persiapan Pemeriksaan dan interpretasi

Persiapan Pemeriksaan dan interpretasi

Persiapan Pemeriksaan dan interpretasi

III. FIBROSARKOMA DAN MALIGNANT FIBROUS HISTIOCYTOMA Fibrosarkoma adalah tumor ganas yang berasal dari collagen fibers. Tumor ini sering pada dekade tiga sampai enam. Lokasi tersering pada tulang femur, humerus dan tibia. Gambaran radiologis foto polos yaitu lesi osteolitik destruktif dengan zona transisi yang luas, eksentrik, di ujung artikular tulang, lesi sklerotik hanya sedikit ditemukan atau tidak ditemukan sama sekali, tidak ditemukan reaksi periosteal, tetapi sering disertai massa jaringan lunak. Pemeriksaan Lanjutan CT :
NECT : - Massa osseus dari densitas otot

- Area densitas rendsah berhubungan dengan nekrosis


CFCT : Peningkatan bervariasi

MRI : - T1WI : Intensitas gelombaang antara rendah sampai sedang - T2WI : - Gelombang heterogen - Intensitas gelombang tinggi - STIR : Intensitas gelombang tinggi - T1C+ : Gelombang bervariasi Kedokteran Nuklir : - Scan Tulang : Peningkatan ambilan radioisotop 1. REFERENSI / SUMBER BELAJAR Bahan bacaan: - Adam Greenspan, Malignant Bone Tumors II in Orthopedic Imaging A Practical Approach, Lippincott Williams and Wilkins, Page 725 - Chairuddin Rasjad, Tumor Tulang dan Sejenisnya in Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Bintang Lamumpatue, Makassar, 2000, Page ; 294 - David Sutton Textbook of Radiology and Imaging, Vol. I, Churcill Livingstone, 2003 - David W Stoller, Diagnostic Imaging Orthopaedics, AMYRSYS, Chapter 8 - DJ Stoker & A. Saifuddin, Bone Tumors Malignant Lesions in Diagnostic Radiology A Texbook of Medical Imaging, Ronald Grainger, Churchill Livingstone, 2002, Page : 1889 - Erro Untung Hutagalung, dkk., Neoplasma Tulang : Diagnosis dan Terapi, PT Galaxy Puspa Mega, Jakarta, 2005, Page : 22 - Martin Vahlensieck, Musculoskeletal Neoplasm in MRI of the Musculoskeletal System, Thieme, 2000, Page : 309 - Pradip R.Patel, Sistem Skeletal in Lecture Notes Radiologi, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2007, Page; 191

Paul and Juhl*s, Traumaic Lesions of Bones and Joints in Essentials Of Roentgen Interpretation Fourth Edition, Harper & Row, London, Page :. R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong, Neoplasia in Buku Ajar Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997, Page ; 156 Wilfred C.G. Peh & Yoshihiro Hiramatsu, Diseases of Spine in The AsianOceanian Textbook of Radiology, TTG Asia Media Pte Ltd, Singapora, 2003, Page : 995 Referensi lain yang berkaitan dengan Musculoskeletal System. Thomas H Berquist, Musculoskeletal Neoplasms in MRI of The Musculoskeletal System Fourth Edition, Lippincoth Williams and Wilkins, Page : 924

2. LEARNING GUIDE / PENUNTUN BELAJAR 8.1. Algoritma :


Proses Administrasi

Jenis pemeriksaan

USG

CT

Foto Polos Tulang AP / LAT

MRI

Kedokteran Nuklir

Persiapan pemeriksaan dan interpretasi

Persiapan
pemeriksaan dan

interpretasi

Persiapan pemeriksaan, posisi dan interpretasi

Persiapan
pemeriksaan dan

interpretasi

Persiapan pemeriksaan dan interpretasi

IV. TUMOR GANAS TULANG RAWAN (KONDROSARKOMA) Kondrosarkoma adalah tipe tumor tulang yang berkembang dalam sel-sel kartilago. Kartilago adalah jaringan konektif yang khusus yang terdapat pada orang dewasa dan jaringan yang berasal dari perkembangan tulang. Terdapat beberapa tipe kartilago yang berbeda diseluruh tubuh yang memerankan peranan penting dalam proses pertumbuhan. Kondrosarkoma merupakan tumor tulang tipe ganas yang secara primer mempengaruhi sel kartilago dari femur, lengan, pelvis, lutut dan tulang belakang, dan dapat pula terjadi pada tempat lain seperti costa walaupun jarang. Kondrosarkoma merupakan tipe tumor ganas tulang tersering kedua, mewakili 25% neoplasma tulang primer. Kanker tulang primer ini jarang terjadi pada individu dibawah umur 20 tahun dan paling sering pada umur antara 50-70 tahun. Insiden antara laki-laki dan perempuan adalah sama. Penyebab pasti dari kondrosarkoma tidak diketahui. Diduga ada peranan faktor genetik atau komponen kromosom yang menjadi predisposisi utama dari pasien yang terserang penyakit ini. Patofisiologi kondrosarkoma yaitu berasal dari sel-sel jaringan musculoskeletal berasal dari mesoderm yang kemudian berdiferensiasi menjadi osteoklast, kondroblast, fibroblast, dan myeloblast. Kondrosarkoma adalah tumor ganas dari kartilago dimana pembentukan matriks tumornya berasal dari kondroid. Kondrosarkoma diklasifikasikan menjadi 2 (dua), yaitu sentral (yang berasal dari kanalis intramedular) dan perifer. Tumor ini jarang muncul sebagai lesi juxtakortikal. Lesi dapat berbentuk primer bila lesi muncul secara de novo atau berbentuk sekunder bila lesi terbentuk di dalam lesi yang terdapat sebelumnya seperti enkondroma atau osteokondroma. Gambaran Radiologis pada foto polos : - Lesi litik ekspansil di medula dengan bercak-bercak kalsifikasi di dalamnya dapat berupa salt and pepper appearance atau lebih khas sebagai pop corn appearance. - Terdapat endosteal scalloping dan penebalan korteks. - Kadang-kadang dapat disertai dengan massa jaringan lunak. CT..... MRI....... Bone Scan........... 1. REFERENSI / SUMBER BELAJAR Bahan bacaan: - Anonyma, Chondrosarcoma, available at http//www.viahealth,org/ disease/bone disorders/Chondrosar.htm. July 2,2001 - Bruno, Michael A. Chondrosarkoma[online].available from: URL: http://www.emedicine.com/chondrosarkoma - David Sutton Textbook of Radiology and Imaging, Vol. I, Churcill Livingstone, 2003.

Eric C.E., Pointon R.C.S. Soft Tissue and Bone Tumors. In The Radiotherapy of Malignant Disease. Springer-Verlag. Berlin. 1985.pg:38790. Juhl J.H. Crummy A.B. The Osseus System. In Essential of Radiologic Imaging. 5th edition.1990.pg:166-9. Rasjad, C.: Tumor tulang dan Sejenisnya, dalam : Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Bintang Lamumpatue, Ujung Pandang, 1998, hal: 292-342 Robbin L. Malignant Bone Tumor. In Roentgen Diagnosis of Disease of Bone, Goldens Diagnostic Radiology.2nd Vol.2nd edition. The William & Wilkins company.1973.pg:933-66 Referensi lain yang berkaitan dengan Tumor ganas tulang (Kondrosarcoma).

2. LEARNING GUIDE / PENUNTUN BELAJAR 8.1. Algoritma


Proses Administrasi

Jenis pemeriksaan

USG

CT

Foto Polos dan dengan Kontras

MRI

Kedokteran Nuklir

Persiapan pemeriksaan dan interpretasi

Persiapan pemeriksaan dan interpretasi

Persiapan pemeriksaan, posisi dan interpretasi

Persiapan pemeriksaan dan interpretasi

Persiapan pemeriksaan dan interpretasi

V. GIANT CELL TUMOR (GCT) / OSTEOKLASTOMA Giant Cell Tumor : merupakan tumor jinak tetapi secara lokal dapat bersifat agresif dan destruktif , yang berasal dari unsur selular sumsum tulang, dimana sel raksasanya merupakan fusi dari sel mononuklear. Giant Cell Tumor adalah suatu peralihan tumor jinak yang cenderung menjadi ganas dan agresif sehingga tumor ini dikatagorikan sebagai suatu tumor ganas. Penyebab GCT belum diketahui pasti diduga berasal dari stem sel mesenkim primitif yang berpotensi untuk menjadi osteoklast. Berdasarkan jenis kelamin dijumpai lebih banyak pada wanita dari pada lakilaki, mengenai usia 25-40 tahun. Lokasinya pada epifisis tulang panjang yang dapat meluas ke metafisis meliputi proksimal tibia,distal femur ,proksimal humerus dan distal radius,yang bersifat eksentrik. Patofisiologi GCT disebabkan oleh sel stroma yang mengalami proliferasi maligna akan mendesak dan menginvasi struktur lokal disekitarnya sampai kedaerah korteks sehingga jaringan tulang akan lisis dan semakin menipis, sehingga mudah terjadi fraktur yang patologis. Gambaran Radiologis dari GCT pada foto polos yaitu gambaran osteolitik, dengan batas lesi tidak tegas disertai sclerotik marginal dan adanya zona transisi antara tulang normal dengan yang patologik, biasanya kurang dari 1 cm, memberikan gambaran soap bubble appearance. Pemeriksaan Lanjutan CT.Scan : - Tumor dengan soft tissue attenuation dengan focus yang low-attenuation - Dapat melewati cortex tulang, dengan cortex yang menipis, invasi dari soft tissue MRI : - T1 MR : Rendah pada intermedite SI, bagus untuk melihat porsi intermedular dari tumor - T2 MR : SI tinggi,baik untuk melihat komponen extraosseous dari tumor - Fluid-fluid levels Bone Scan : - Doughnut sign: uptake intense sekitar perifer dengan sedikit aktivitas pada sentral tumor - Dapat membantu mendeteksi GCT multicentrik 1. REFERENSI / SUMBER BELAJAR Bahan bacaan: - Meschan I:Radiology of the Spine in Roentgen Signs in Diagnostic Imaging.vol.3,2nd ed.W.B Saunders Company. Philadelphia.1985 : Page 82

Sutton D : Giant Cell Tumor dan Aneurysmal Bone Cyst in Textbook of Radiology and medical Imaging, vol 2. 7 th ed. Churchill Livingstone . London. 2003 : Page 1292 - 1293 - Teplick, George, diseases of Bone, Roengtenologic Diagnosis a Complement in Radiology to The Beeson and Mc Dermott Textbook of Medicine, Edisi 3,W.B.Sounders Company, philadelphia,1976,Page : 1388-1389. - Chaeruddin Rasjad,Prof,MD,Ph.d, tumor muskuloskletal, Pengantar Ilmu bedah Ortopedi,edisi Kedua, Bintang Lamumpatire,Makassar,2003, H : 310 - Schwartz,Seymour dkk,Giant Cell Tumor (Osteoclastoma), Principles of Surtgery vol 2.7th ed. McGraw-Hill : USA.1999.Page 2014-2015. - Canale,S. Terry. Giant Cell Tumor.Campbells Operative Orthopaedics, vol.1. 10th ed. Mosby : Tennesee. 2003,Page : 814-817. - Juhl, JH, : Bone Tumors and Related Conditions, Paul and Juhls Essentials of Roentgen Interpretation. 4th ed, Harper & Row Publishers,Hagerstown, 1087 : 204-6 - Skinner.Harry B,MD,PhD ,editors : Disorders,Diseases, and Injuries of the Spine in Current Diagnosis and Treatment in orthopedics. 3rd ed.New York : Lange Medical Books/McGraw-Hill: 2003.Page 209-210. - Yoshihiro Hiramatsu and Wilfred CG Peh editors : Aneurysma Bone Cyst. In The Asian Oceanian Textbook of Radiology. Singapore ,2003, Page : 1013 b. Ruang pemeriksaan dan modalitas alat-alat radiologi serta ruang baca foto, dsb. 2. LEARNING GUIDE / PENUNTUN BELAJAR 8.1. Algoritma
Proses Administrasi

Jenis

CT

Foto Polos dan dengan Kontras

MRI

Persiapan pemeriksaan, posisi dan interpretasi interpretasi

Persiapan pemeriksaan, posisi dan interpretasi

Persiapan pemeriksaan dan interpretasi

VI. METASTASIS TULANG Metastasis tulang merupakan tumor ganas tulang yang paling sering dan sebaiknya dipertimbangkan sebagai diagnosa banding dari lesi maligna, terutama pasien usia lanjut. Pada umumnya melibatkan tulang-tulang aksial: kepala, tulang belakang, pelvis dan proksimal tulang panjang. Mekanisme penyebaran dapat melalui hematogen, limfogen dan ekstensi langsung. Metastase ke tulang bisa soliter ataupun multiple. Sebanyak 70 % tumor ganas tulang adalah metastase tulang. Karsinoma mamae, prostat, paru dan ginjal 80% metastase ke tulang. Insidensi terutama di atas usia 40 tahun. Gambaran radiologis foto polos:
osteolitik (destruksi tulang/moth eaten) osteoblastik dapat disertai atau tanpa massa jaringan lunak jarang dijumpai reaksi periosteal metastasis di tulang belakang biasanya merusak pedikel

Pemeriksaan Lanjutan Bone Scan : merupakan pemeriksaan yang paling baik untuk mendeteksi metastasis tulang yang dini (baik lesi litik maupun blastik).