PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semasa Rosulullah masih hidup, beliau pernah berwasiat bahwa
setelah beliau wafat agar gelar pemimpin di berikan kepada Abu Bakar.
Sebagaimana hadis dari 'Aisyah, bahwa Rasulullah shalallahu alahi wasalam
bersabda kepadaku ketika beliau sedang sakit: "Panggilkan aku ayahmu dan
saudaramu, aku ingin membuat surat. Sebab aku khawatir ada orang yang
berambisi atau akan ada orang yang akan mengatakan, 'aku lebih pantas',
padahal Allah dan orang-orang beriman hanya mau menerima Abu Bakar".
(HR Muslim)
Karena itulah, setelah beliau wafat bahkan belum sampai jenazah
beliau dimakamkan, kaum anshar dan muhajirin sudah merebutkan
kekuasaan dan berkumpul di balai kota bani sa’idah, madinah untuk
memusyawarahkan siapa yang akan menjadi pemimpin setelah beliau wafat.
Kaum anshar dan muhajirin merasa sama-sama berhak menjadi pemimpin
dan akhirnya ukhuwah islamiah yang tinggi, Abu Bakar terpilih menjadi
pemimpin umat islam.
Sebagai pengganti Rasulullah, para khalifah mempunyai kedudukan
yang sangat penting dalam sejarah umat islam, yaitu: Sebagai pemimpin
umat islam, Sebagai penerus perjuangan Rasulullah dan Sebagai kepala
negara, dan kepala pemerintah.
Adapun nama-nama Khulafa ur Rasyiddin adalah sebagai berikut:
1. Abu Bakar As-Siddiq
2. Umar bin Khattab
3. Usman bin Affan
4. Ali bin Abi Thalib
1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Kholifah Abu Bakar?
2. Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Kholifah Umar bin Khattab?
3. Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Kholifah Usman bin Affan?
4. Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Kholifah Ali bin Abi
Thalib?
C. Tujuan Penulisan
1. Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Kholifah Abu Bakar?
2. Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Kholifah Umar bin Khattab?
3. Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Kholifah Usman bin Affan?
4. Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Kholifah Ali bin Abi
Thalib?
2
BAB II
PEMBAHASAN
1
Imam As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa, 2010, hal 26
2
M. Sholihin Nur, Sejarah Peradaban Islam, 2004, hal 226
3
b. Mengatur para penjaga perbatasan madinah dan mewajibkan
mereka untuk tetap berjaga di pos masing-masing, untuk
mempertahankan kota suci dari segala mara bahaya.
c. Setiap pos penjagaan ditanggung jawabi oleh para sahabat
besar.3
Strategi yang di terapkan oleh Aabu Bakar, bekerja sacera efektif
sehingga kota madinah terlindungi dari serangan musuh. Setelah itu
Abu Bakar membentuk pasukan untuk memerangi oran-orang murtad
yang dipimpin oleh orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai nabi.
Mereka adalah nabi-nabi palsu yang berusaha untuk menghancurkan
islam, salah satunya Musailamah al Kazab.
Musailamah al Kazab mengaku dirinya sebagai nabi, ia di dukung
oleh Bani Hanifah di Yamammah. Ia menikahi Sajah yang mengaku
dirinya sebagai nabi dari kalangan Kristen. Mereka berhasil menyusun
pasukan besar yang berjumlah 40.000 orang. Lalu khalifah Abu Bakar
mengirim pasukan untuk memberantas dia. Sehingga Musailamah al
Kazab berhasil di kalahkan dan perang ini di kenal dengan perang
Yamammah dan merupakan perang yang paling besar melawan pasukan
murtad. Hal itu membuat islam kembali memperoleh kesetiaan dari
seluruh Jazirah Arab.4
2. Modifikasi Al Qur’an
Setelah terjadi banyak perang, banyak dari kalangan sahabat yang
hafidz gugur dalam peperangan. Sehingga Umar bin Khattab khawatir
lalu beliau menyarankan khalifah Abu Bakar untuk menyatukan tulisan
Al Qur’an agar tidak hilang dan musnah.
Pada mulanya khalifah Abu Bakar merasa enggan melaksanakan
saran ini karena nabi Muhammad SAW tidak mencontohkannya. Akan
3
Musthafa Murad, Kisah Hidup Abu Bakar Ash-Shidiq, 2009, hal 33
4
H Darsono, Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam 1, 2009, hal 46
4
tetapi Umar bin Khattab mengemukakan alasanya, yaitu karena banyak
sahabat yang gugur.
Sesmua ini menjadi pikiran Umar dan lama sekali ia
memikirkannya. Setelah pikiran itu demikian mantap ia pergi menemui
Abu Bakar yang sedang duduk di masjid.
“Pembunuhan yang terjadi dalam perang Yamammah sudah makin
memuncak. Aku khawatir akan bertambah banyak penghafal al qur’an
yang terbunuh sehingga al qur’an akan banyak hilang, kecuali ia di
himpun. Aku ingin mengusulkan Al Qur’an di himpun".5
Abu Bakar Ash-Shidiq terus mempertimbangkan usulan Umar,
akhirnya Allah membuka hati Abu Bakar. Beliau bersedia mewujudkan
pengumpulan ayat-ayat al-qur’an. Beliau menunjuk Zaid bin Tsabit
sebagai penulisan Al Qur’an.
Setelah usaha pengumpulan ayat-ayat al qur’an selesai, mushaf di
simpan khalifah Abu Bakar. Mushaf itulah yang menjadi pedoman
pembelajaran al qur’an kepada segenap kaum muslimin saat itu. Setelah
Khalifah Abu Bakar wafat mushaf tersebut di simpan oleh Hafsah binti
Umar.
5
Muhammad Husain Haikal, Abu Bakar Ash-Shiddiq, 2009, hal 317
5
a. Yazid bin Abu Sofyan, di tempatkan di Damaskus.
b. Abu Ubaidah bin Jarrah, di tempatkan di Haoms dan sebagai
panglima besar.
c. Amr bin Ash, di tugaskan di Palestina.
d. Surahbil bin Hasanah, di tugaskan di Yordania.
Sebenarnya pengembangan islam di syiria sudah di mulai ketika
Nabi akan wafat di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, namun berhenti
ketika mendengar berita bahwa Nabi shalallahu alahi wasalam wafat.
Dan perluasan wilayah ini di lanjutkan kembali pada masa
pemerintahan Abu Bakar, usaha ini di pimpin oleh 4 panglima di atas
dan di perkuat lagi dengan pasukan bantuan dari Khalid bin Walid dan
Mutsanna bin Haritsah. Di tengah berkecambuknya perang melawan
romawi ini, terdengar kabar bahwa Abu Bakar Ash-Shidiq wafat, beliau
wafat karena di racun dan beliau wafat pada tahun 13 H/634 M pada
usia 63 tahun.6 Setelah itu kekhalifahan di pegang oleh Umar bin
Khattab.
6
Imam As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa, hal 87
7
Syamul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, 2009, hal 12
6
membuat kebijakan-kebijakan yang sebelumnya belum pernah dilakukan
pada masa Nabi maupun khalifah Abu Bakar, yaitu:
1. Menetapkan Penanggalan Islam
Beliau adalah orang yang pertama kali yang memerintahkan
penulisan penanggalan islam, pada dua setengah tahun masa ke-
khalifahan-nya, tepatnya pada tahun 16 H, atas usulan Ali.
8
Imam As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa, hal 133-134
7
Hanya saja, waktu itu sesuai dengan al amru syuro
bainahun sebagaimana yang di gariskan dalam al-qur’an.
b. Al Wizaraat (menteri)
Khalifah Umar menetapkan Usman sebagai
pembantunya untuk mengurus pemerintahan umum dan
kesejahteraan, sedangkan Ali untuk mengurus
kehakiman, surat-menyurat dan tawanan perang.
c. Al Kitabaat (sekertaris negara)
Umar mengangkat Zaid binTsabit dan Abdullah bin
Arqam menjadi sekertaris untuk menjelaskan urusan-
urusan penting.
2. Administrasi Negara
Sesuai kebutuhan, beliau menyusun administrasi negara
menjadi:
a. Dewan-Dewan, yang terdiri dari:
- Diwan al Jundiy / Diwan al Kharby, yaitu Dewan
Pertahanan Keamanan.
- Diwan al Kharaj / Diwan al Maaly, yaitu Dewan
yang mengurusi keuangan negara, pemasukan dan
pengeluaran anggaran belanja.
b. Al Imarah ‘ala al buldan (administrasi pemerintahan
dalam negri)
- Negara di bagi menjadi beberapa propinsi yang di
pimpin oleh seorang gubernur.
- Al Barid yaitu perhubungan pos yang menggunakan
kuda (kuda pos).
- Al Syurthah yaitu polisi keamanan negara.
Khalifah Umar menjamin hak yang sama bagi setiap warga negaranya,
ke khalifahan umar tidak memberikan hak istimewa bagi orang-orang
8
tertentu. Tidak ada istana, pakaian kebesaran, baik untuk umar maupun
bawahannya, sehingga tidak ada perbedaan antara penguasa dengan rakyat.
9
Drs Samsul Muir Amin, Sejarah Peradaban Islam, 2010, hal 104
9
2. Membuat Armada Laut yang Tangguh.
3. Perluasan dan Renovasi Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjidil
Haram di Makkah.10
4. Pembukuan Mushaf.
5. Membangun Perekonomian.
6. Membangun Pengaturan Administrasi Negara.
7. Membuat Kantor Pengadilan Negara.
Jasa-jasa khalifah Usman kepada kaum muslimin sangatlah besar, dan
salah satunya yang masih bisa kita rasakan adalah pembukuan mushaf,
atau sering di sebut Mushaf Usmani.
10
Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, 2010, hal 34
10
Beliau di bai’at pada tanggal 5 Dzulhijah 35 H di hadapan kaum
anshor dan kaum muhajirin serta kelopok lainnya, termasuk Thalhah,
Zubair, Saad bin Waqas, dan Abdullah bin Umar membai’at beliau.
Selama pemerintahan beliau, tidak banyak ada perkembangan islam,
akan tetapi beliau melakukan kebijakan politik, yaitu:
a. Khalifah Ali memindahkan ibukota kekhalifahan islam dari
madinah ke kufah.
b. Khalifah Ali kembali menerapkan kebijakan Abu Bakar Ash-
Shidiq berkaitan dengan distribusi keuangan negara.
c. Khalifah Ali menjalankan kebijakan Umar yang tidak menugaskan
para sahabat besar untuk memimpin suatu wilayah. Mereka
meminta untuk tetap tinggal di madinah, tidak keluar dari sana
demi keselamatan mereka, dan demi menjaga kelangsungan urusan
pemerintahan di berbagai wilayah negara islam.
d. Khalifah Ali mengganti beberapa walikota dan gubernur yang di
angkat oleh Usman, seperti walikota makkah, yaitu Khalid bin
Sa’id bin Ash di gantikan oleh Qusam bin al-Abbas, walikota
madinah yaitu Sahl bin Hanif di gantikan oleh Abu Ayyub al
Anshari. Kemudian untuk wilayah yaman di percayakan kepada
Ubaidilah bin al-Abbas.
11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masa Khulafaur Rasyidin terbagi menjadi 4 masa, yaitu:
Pertama, pada masa Khalifah Abu Bakar, beliau menjabat sebagai
khalifah selama 2 tahun 3 bulan, pada masa pemerintahan beliau, beliau
membuat kebijakan yaitu memerangi kaum murtad, kodifikasi al-qur’an dan
perluasan wilayah islam.
Kedua, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau menjabat
sebagai khalifah selama 10 tahun 6 bulan, pada masa pemerintahan beliau,
beliau juga melakukan perluasan islam dan juga membuat kebijakan yaitu
menetapkan hukum dan memperbaharui organisasi negara.
Ketiga, pada masa Khalifah Usman bin Affan, beliau menjabat
sebagai khalifah selama 12 tahun, pada masa pemerintahan beliau, beliau
melakukan perluasan wilayah islam, membuat angkatan laut yang kuat,
melakukan perluasan dan renovasi masjid nabawi dan masjidil haram,
membukukan mushaf, membangun perekonamian, membuat kantor
administrasi negara dan membuat kantor pengadilan negara.
Keempat, pada masa Khalifah Ali bin Abi Tholib, beliau menjabat
sebagai khalifah selama 5 tahun, pada zaman beliau tidak banyak
perkembangan islam tetapi beliau melakukan kebijakan, memindahkan
ibukota dari madinah ke kuffah, melakukan distribusi keuangan negara,
memerintahkan para sahabat untuk kembali ke madinah, dan mengganti
beberapa walikota dan gubernur yang dahulu di tunjuk oleh khalifah Usman.
B. Saran
12
DAFTAR PUSTAKA
13