Anda di halaman 1dari 17

POLITIK LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT DI RUSIA BAGIAN I KONDISI OBJEKTIF RUSIA Salah satu negeri yang makin

menunjukkan kuku tajamnya adalah si beruang Rusia. Keterpurukan ekonomi pasca-Soviet kini sudah berada di belakang mereka. Dengan efektif industri energi dirasionalisasi dan dikelola oleh BUMN yang dijadikan ujung tombak perbaikan ekonomi. Pada tahun ini, sekitar delapan tahun sesudah perkembangan ekonomi memadai, pendapatan domestik bruto Rusia sudah kembali ke tingkat tahun 1990. Rusia tak lagi menjadi pasien Dana Moneter Internasional (IMF), diambang keanggotaan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan siap bergabung dengan kelompok elit negara ekonomi terdepan Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD)1. Sejak 2005 Rusia mengalahkan AS menjadi produser minyak terbesar kedua sesudah Arab Saudi. Pendapatan dari industri minyak mereka mencapai 679 juta dolar sehari. Banyak negara Eropa Barat bergantung pada minyak Rusia seperti hampir semua Eropa Barat tergantung pada gas Rusia. Rusia merupakan produsen gas terbesar di dunia yang menyumbang pada cadangan devisa sebesar 315 miliar dolar, naik dari sekitar 12 miliar pada 19992.

KONDISI GEOPOLITIK RUSIA Geopolitik adalah suatu sistem perpolitikan yang mengatur hubungan antar negaranegara yang letaknya berdekatan di atas permukaan planet bumi ini, yang mutlak dimiliki dan diterapkan oleh setiap negara dalam melakukan interaksi dengan sesama negara di sekitarnya. Hubungan Rusia dengan negara-negara Eropa dan Uni Eropa merupakan prioritas kebijakan luar negeri Rusia tradisional. Rusia memberikan perhatian pada masalah keamanan dengan mendukung pentingnya Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE), dan kemauan untuk beradaptasi Perjanjian Bersenjata
1 2

http://muhsinlabib.wordpress.com/2007/09/17/rusia-bangunnya-sang-beruang/ http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en| id&u=http://www.personal.ceu.hu/students/05/Dmitri_Clapsa/geopolitics_russia.rtf

Konvensional pasukan di Eropa. Kebijakan ini menunjukkan bahwa Rusia ingin bekerja sama dengan Uni Eropa sebagai potensi untuk mengimbangi hegemoni Amerika Serikat. Hal ini sekali lagi menunjukkan bahwa visi geopolitik Rusia mendasari kebijakan luar negerinya. Pidato Vladimir Putin di Bundestag Jerman pada bulan September 2001 menyatakan bahwa Eropa akan memperkuat reputasi yang kuat dan benar-benar independen sebagai pusat dunia politik jika menyatukan potensinya dengan Rusia. Ini adalah versi yang disesuaikan dengan realitas kontemporer, dan yang mengungkapkan pengaruh visi geopolitik. Rusia juga terus memiliki hubungan dekat dan kerjasama dengan Timur Tengah dan terutama Iran, sebagai salah satu pemain utama di sana, yang tercermin dari kerjasama ekonomi dan politik, perdagangan senjata, dan dukungan teknologi. Rusia dengan dukungan dari Iran, dalam hal geopolitik cenderung untuk mengimbangi AS yang mengklaim bahwa Iran merupakan ancaman bagi keamanan global. Kebijakan yang tegas dari Iran dan upaya untuk mengejar penelitian nuklir tidak dikritik oleh Rusia. Rusia bahkan mendukung penelitian nuklir Iran, yang sekali lagi mencerminkan visi geopolitik berpikir, dan upaya untuk menegakkan pengaruhnya di Timur Tengah3. Kebijakan luar negeri Rusia didasarkan pada beberapa aspek dari seluruh pemikiran geopolitik, yang mencerminkan pada evaluasi realistis sumber daya Rusia, kemampuan, dan kapasitas. Dengan demikian, Rusia menganggap dirinya sebagai daerah poros, jantung, kekuatan global, yang mempersatukan sebuah peradaban yang unik dengan identitasnya sendiri, budaya, dan sejarah. Geopolitik tetap menjadi kunci dalam kebijakan luar negeri Rusia. Oleh karena itu, geopolitik memainkan peran bahkan dalam kebijakan luar negeri Rusia bahkan pada arena global.

KONDISI GEOSTRATEGI RUSIA Geostrategi adalah suatu strategi dalam memanfaatkan kondisi lingkungan dalam upaya mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional. Wilayah Rusia berada pada benua Eropa, khususnya Eropa Timur serta benua Asia
3

http://arielalfata.blog.friendster.com/2007/10/

di mana Pegunungan Ural menjadi batas antara kedua benua. Wilayah paling luas adalah Siberia yang umumnya beriklim tundra. Karena letaknya di belahan bumi yang paling utara, maka wilayah perairan Rusia umumnya tertutupi es dengan beberapa laut yang bebas es yakni Laut Barents, Laut Putih, Laut Kara, Laut Laptev dan Laut Siberia Timur yang merupakan bagian dari Arktik atau kutub utara, serta Laut Bering, Laut Okhotsk dan Laut Jepang yang merupakan bagian dari Samudra Pasifik. Rusia merupakan salah satu Negara yang memimpin dari produksi mineral, dan penguasa dari CIS production dari rangkaian produksi mineral yang termasuk didalamnya, logam, mineral dan bahan bakar. Rusia ini walau berada didaerah yang tidak banyak sinar mataharinya, dia mempunyai banyak sekali bahan tamabang baik itu logam, mineral maupun bahan bakar minyak. Peran Rusia sebagai pemasok energi yang besar sekali lagi menarik perhatian komunitas global, mengalahkan perhatian yang sedang berkembang terhadap keamanan energi dan trend yang meningkat mengenai harga-harga hasil energi. Tidak hanya sebagai penghasil gas alam terbesar di dunia, tetapi juga kembali berada di urutan pertama dalam produksi minyak mentah melebihi Saudi Arabia pada tahun 2004. Pada dekade ini pemerintahan Rusia berusaha lebih kuat untuk mengembangkan potensi sumber daya alamnya yang belum dimanfaatkan di kawasan Rusia timur melalui skenario yang optimis dalam 2020 energy strategy. Pemerintahan Rusia berencana menghasilkan 38 juta ton minyak pada tahun 2010 dengan 106 juta ton pada tahun 2020 di kawasan Rusia timur dan uga diharapkan produksi gas alam meningkat dari 52 BCM (7,8%) menjadi 106 BCM (14,5%) dalam periode yang sama.4 Rusia bukan lagi beruang yang hanya loyo di kebun binatang. Kini ia tampil kembali sebagai bangsa yang bangga dan berani. Berbeda dengan negara-negara Teluk yang berfoya-foya, Rusia berhasil menginvestasikan keuntungan hasil energinya ke arah yang menguntungkan negara untuk jangka panjang. Dari infrastruktur, teknologi, hingga militer. Keuntungan ini pun memberdayakan Rusia untuk mampu tampil sebagai kekuatan penyeimbang mumpuni terhadap AS seperti dahulu. Rusia pun bertumbukan dengan Barat dari masalah energi, militer, Kosovo, Ukraina, Asia Tengah, Timur Tengah, rudal, hingga tak ada tempat tersisa. Putin dipuja rakyatnya setelah membantah unipolaritas AS dan berhadap-hadapan dengan Barat di setiap kesempatan.
4

http;//src-h.slav.hokudai.ac.jp/coe21/publish/no19_ses/2_ito.pdf

Moskwa mendukung Serbia sebagaimana Washington melindungi Israel. Rusia menggunakan senjata pipa energi untuk menundukkan Ukraina dan Belarusia yang membangkang terhadap Moskwa. Estonia dan Latvia diancam Rusia apabila merubuhkan tugu peringatan perang Perang Dunia II yang bagi kedua negara tersebut merupakan perlambang invasi ke negeri mereka. KONSTELASI REGIONAL DAN POTENSI EKONOMI RUSIA Pada awal tahun 2009, hampir separuh Eropa dilanda kedinginan selama dua puluh hari lantaran terhentinya pasokan gas dari Rusia akibat pertikaian dengan Ukraina. Krisis gas Eropa ini persis dengan yang terjadi tiga tahun silam. Peristiwa ini sekali lagi menunjukkan kekuatan Rusia sebagai adidaya energi5. World Economic Forum (WEF) yang berlangsung baru-baru ini di Davos, Swiss, menegaskan kebangkitan Rusia. Pada forum itu, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mendapat kesempatan menyampaikan pidato pembukaan. Paling tidak ada dua alasan mengapa Putin yang mendapat kesempatan itu, alih-alih Barack Obama. Pertama, Rusia adalah salah satu negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang positif dalam satu dekade belakangan. Pertumbuhan ekonomi Rusia lebih banyak disebabkan windfall profit sektor ekspor energi, yakni minyak dan gas bumi. Kedua, Rusia merupakan mitra strategis alternatif bagi negara-negara dunia, khususnya Eropa, dalam sektor energi. Semakin kentara langkah Rusia menuju kebangkitannya kembali sebagai negara adidaya, setidaknya adidaya energi. Dalam buku Oilopoly: Putin, Power and the Rise of the New Russia, Marshall I Goldman menyatakan bahwa Rusia memang berstrategi memonopoli minyak dan gas bumi. Di bawah kepemimpinan Putin, Rusia gencar memanfaatkan kekayaan minyak, gas, dan mineralnya sebagai senjata politik dan ekonomi baru6. Ekspor minyak Rusia telah menghasilkan keuntungan besar yang membuatnya dapat membayar sebagian besar utang luar negerinya. Ditambah lagi dengan gas alam dan monopolinya atas jalur-jalur pipa gas ke Barat, Rusia mampu berubah dari negara bangkrut menjadi adidaya energi dengan otot politik yang kembali mengencang. Berawal dari keinginan Eropa mengurangi ketergantungan mereka yang berlebihan pada energi
5 6

http://www.jeffersonhosting.com/projects/russia/node/380 http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/internasional/2363

dari Timur Tengah yang kerap bermasalah, para pemimpin Eropa menyimpulkan bahwa mereka harus mendiversifikasi sumber pasokan mereka. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah dengan mengimpor energi dari Uni Soviet dan pengganti utamanya, Rusia. Dalam upaya diversifikasi itu, para pemimpin Eropa juga memutuskan untuk memperluas sumber energi dengan mengurangi ketergantungan yang besar pada batu bara dan minyak. Beberapa negara menghindari energi nuklir, khawatir akan risikonya. Untuk itu, mereka perlu menemukan sumber energi lain. Maka mulailah Eropa mengimpor gas alam melalui pipa dari Uni Soviet. Sejak 1997, Putin telah memahami bahwa dengan cadangan minyak dan gas serta jalur-jalur pipanya, Rusia memiliki posisi yang penting. Rusia memiliki cadangan gas alam terbesar di dunia. Bahkan, untuk minyak bumi pun, Rusia ada di posisi kedua setelah Arab Saudi. Cadangan itu dan jalur-jalur pipanya, jika dimanfaatkan secara strategis, dapat memberi Rusia senjata politik dan ekonomi yang kuat. Putin memanfaatkan potensi ini dengan piawai. Begitu menjadi orang nomor satu di Rusia, prioritas pertama Putin adalah merevitalisasi Gazprom, perusahaan gas Rusia. Dia segera menyingkirkan para koruptor dari Gazprom dan mengganti mereka dengan manajermanajer yang dapat menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan mereka sendiri. Untuk mengisi posisi-posisi itu, Putin menunjuk para kamerad-nya yang dia anggap setia dan dapat dipercaya. Putin mengawali dengan memberhentikan Chernomyrdin pada tahun 2000 dari jabatannya sebagai Komisaris Utama Gazprom dan menggantinya dengan Dmitri Medvedev. Berulang kali, Putin mengisyaratkan betapa pentingnya Gazprom baginya dan peran yang harus dimainkan Gazprom dalam kebangkitan Rusia sebagai adidaya energi. Dalam pidatonya tahun 2006, Putin mengatakan bahwa Gazprom telah menjadi perusahaan terbesar ketiga di dunia. Rusia pun semakin kuat. Putin menyadari bahwa Rusia tidak memiliki banyak potensi dalam bidang ekonomi dan bisnisnya kecuali sumber daya energi dan mineralnya. Jika dimanfaatkan dengan tepat, minyak, gas, dan mineral eksotik Rusia lainnya dapat digunakan untuk membangkitkan kembali Rusia. Telah terbukti --setidaknya dua kali-- bila Rusia atau Gazprom menghentikan aliran gas alam mereka, seluruh Eropa kalang kabut. Sudah lebih dari dua puluh tahun gas alam Rusia menjadi bagian integral dari ekonomi di negara-negara yang dilayaninya. Jika ada

penghentian aliran gas dari Rusia, para konsumen di Eropa akan sulit mencari penggantinya7. Batu bara bisa menggantikan, tetapi butuh waktu untuk penyesuaian. Maka tepatlah mengibaratkan jalur pipa gas itu seperti tali pusar, sama sama memiliki fungsi yang vital. Penguasaan Rusia yang begitu besar atas gas yang mengalir ke Eropa melalui jalur pipanya menyebabkan ia memiliki kendali monopoli. Dalam hal ini, Gazprom memiliki kekuatan yang hanya dapat dimiliki oleh produsen minyak melalui unit koordinasi seperti OPEC. Itulah sebabnya Rusia sekarang berada dalam posisi yang relatif lebih kuat terhadap Eropa Barat daripada sebelumnya. Rusia dan Gazprom semakin menjadi kekhawatiran bagi Eropa karena kini Cina dan India telah semakin kaya, mereka memborong sebagian besar persediaan energi. Selain itu, terlepas dari 2/3 meningkatnya tekanan untuk penghematan energi, kebutuhan energi dunia secara keseluruhan terus bertambah. Pada saat yang sama, beberapa cadangan di Eropa Barat telah habis. Rusia tidak puas sekadar berkancah di regional, dan mulai merambah politik dunia. Maka dipancangkan bendera Rusia di Kutub Utara menegaskan Arktik sebagai miliknya. Moskwa tak segan mengancam Eropa Barat yang bergantung pada energi pasokan Rusia apabila bersikukuh dengan sistem pertahanan rudal yang dianggap sebagai ancaman. Kremlin mengaktifkan kembali pengintaian oleh pesawat-pesawat pembom ke negara-negara Barat yang telah dibekukan sejak 15 tahun terakhir. Rusia pun menguji coba kembali ketangguhan rudal-rudal antar benua mereka dan berupaya menghidupkan kembali pangkalan AL mereka di Tarsus, Suriah, untuk menegaskan keberadaan mereka di Timur Tengah. Sekarang Rusia, dengan atau tanpa Vladimir Putin, berada dalam posisi internasional yang lebih tegas bahkan dominan. Rusia telah menunjukkan arogansi baru yang tidak sekadar gertak sambal.

http://www.cdi.org/russia/johnson/2009-176-16.cfm

KAITAN ANTARA KONDISI OBJEKTIF RUSIA DENGAN KONSEP KEPENTINGAN NASIONAL SEBAGAI DASAR TUJUAN POLITIK LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT Jika kita runut kebelakang dengan melihat kembali perubahan tatanan politik internasional dari bipolar ke unipolar dan kemudian mengarah ke multipolar maka akan sangat menarik untuk mengkaji dinamika hubungan bilateral antara dua aktor penting yaitu Rusia dan Amerika Serikat. Seperti yang telah kita ketahui, dewasa ini telah terjadi perubahan orientasi alat hegemoni politik dari tradisional (militeristik) menjadi softpower (ekonomi). Pada akhir periode 1980an yaitu era perang dingin, dunia terbelah menjadi dua kubu ; kubu kapitalis barat (Amerika Serikat) dan kubu Sosialis (Soviet) dimana kedua kubu saling bersaing dengan sengit melalui upaya perlombaan senjata militer. Namun setelah berakhirnya era perang dingin yang dimenangkan Amerika Serikat, peta dan iklim perpolitikan internasional menjadi berubah termasuk juga perubahan hubungan antara kedua negara besar tersebut. Amerika dan Rusia memperbaiki hubungan bilateral mereka melalui kerjasama ekonomi, bahkan kedua negara tersebut sepakat untuk secara berkala mengurangi penggunaan senjata nuklir yang dulu sangat diagung-agungkan demi gengsi politik. Setelah runtuhnya Uni Soviet, iklim persaingan dalam panggung perpolitikan internasional pun berubah. Muncul kekuatan hegemoni ekonomi baru Amerika Serikat dan Eropa melalui Unieropa. Eropa merupakan pusat perkembangan peradaban dunia jauh sebelum munculnya Amerika Serikat, dan kekuatan itu kini bersinergi membentuk suatu kekuatan perekonomian yang kokoh di kawasan Eropa. Hanya satu hal yang menjadi kekhahwatirkan mereka, yaitu masalah pasokan energi yang merupakan uratnadi dari kegiatan ekonomi baik makro maupun mikro, baik domestik maupun regional dari masing-masing negara anggota. Dalam hal ini Rusia mengambil peran yang sangat strategis sebagai pemasok utama energi gas di kawasan Eropa. Rusia pasca runtuhnya Soviet kini mulai membangun kekuatan ekonomi melalui vitalisasi potensi Sumber energi gas. Walaupun Rusia bukanlah bagian dari Uni Eropa namun Rusia menggunakan energi sebagai bargaining power untuk menjaga pengaruhnya di negara-negera persemakmuran tersebut. Adalah Beltraz-Gaz perusahaan kebanggaan Rusia yang merupakan penyalur utama gas ke Eropa melalui Belarusia.

Determinasi dari potensi ekonomi ini telah membangkitan Rusia dengan dominasinya di kawasan Eropa (barat) dan merubah peta konstelasi geopolitik dan geostrategis dikawasan tersebut. Dan menurut analisis para ahli, hal ini merupakan indikasi bahwa Rusia sedang dalam proses membangun kekuatan baru demi mengembalikan kejayaannya pada masa Soviet dulu. Kondisi objektif ini menjadi perhatian bagi Amerika Serikat terkait dengan kepentingan nasionalnya dan menjadi dasar dinamika politik luar negeri Amerika Serikat terhadap Rusia. Kepentingan nasional Amerika Serikat terhadap Rusia dapat digolongkan ke dalam salah satu dari tiga kepentingan nasional Amerika Serikat menurut Kim R. Holmes, yakni kategori vital interest. Kategori vital interest adalah ketegori kepentingan nasional yang berkaitan dengan eksistensi negara dan tanggung-jawab negara terhadap beberapa aspek antara lain melindungi teritorial dan batas negara; mencegah munculnya kekuatan dominan yang mengancam ekonomi Amerika Serikat; serta melindungi akses pasar luar negeri; mengeliminir ancaman-ancaman dalam kehidupan dan kesejahteraan warga Amerika Serikat; serta melindungi aset-aset sumber penghasilan Amerika Serikat. Dan dari beberapa aspek tersebut, kepentingan vital Amerika Serikat terhadap Rusia cenderung terkait dengan point mencegah kekuatan dominan yang mengancam ekonomi Amerika Serikat di Eropa, Asia Timur dan kawasan Teluk Persia dan point mengeliminir ancaman dalam kehidupan dan kesejahteraan Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan kondisi obyektif Rusia sebagai Negara adidaya energi di kawasan Eropa.

BAGIAN II HUBUNGAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT DENGAN RUSIA PADA ERA PERANG DINGIN Perang Dingin (Cold War) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan tentang hubungan antar negara yang upaya-upayanya untuk mengalahkan dan menjegal pihak lain yang termanifestasikan di dalam tekanan-tekanan ekonomi, propaganda, kegiatan-kegiatan rahasia dan subversif, aksi politik di pertemuan-pertemuan organisasi internasional, langkah-langkah yang senantiasa menghentikan segala macam pertempuran. Istilah yang diginakan secara longgar tersebut menggambarkan seluruh periode hubungan antara Uni Soviet dan kekuatan-kekuatan negara barat khususnya Amerika Serikat setelah berakhirnya Perang Dunia II. Perang Dingin (Cold War) adalah suatu pembagian dunia menjadi dua pihak yang saling bermusuhan atau juga sebagai polarisasi dari eropa secara umum, dan Jerman secara khususnya menjadi wilayah persebaran kepentingan yang saling berlawanan. Perang Dingin dapat diartikan sebagai kontes ideologi, antara kapitalis dan komunis. Perang Dingin didominasi oleh Super Power Amerika Serikat dan Uni Soviet yang sebelumnya keluar sebagai pemenang dari Perang Dunia II. Dengan berbagai cara mereka mencoba untuk mendominasi dan menebarkan paham/ideologi yang mereka miliki ke berbagai belahan dunia. Dengan berbagai cara mereka membagi Eropa bagi mereka sendiri, dan persaingan diantara keduanya secara bertahap menyebar di hampir setiap sudut dunia. Dengan berakhirnya Perang Dunia II dan dengan kemenangan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai negara super power baru menjadi awal dari perubahan konstalasi perpolitikan internasional. Munculnya dua kekuatan baru yakni, Amerika Serikat dan Uni Soviet yang berarti memulai persaingan ideologi antara kedua negara yaitu demokrasi liberal dengan sosialis komunis yang juga disertai dengan perkembangan teknologi persenjataan nuklir. Apalagi dari sejak tahun 1945 sampai dengan tahun 1949, Amerika Serikat memonopoli penguasaan senjata nuklir. Amerika Serikat memulai pengembangan ICBM (Inter Continental Ballistic Missile), yang mana pengembangan persenjataan itu merupakan persenjataan utama dalam rangka mendukung strategi keamanan Amerika Serikat, ditambah lagi dengan kemampuan pengembangan pesawat-pesawat pembom yang

membawa bom-bom nuklir untuk dijatuhkan ke wilayah sasaran tertentu.8 Keadaan ini merupakan sesuatu hal yang sangat nyata bagi Uni Soviet. Maka semakin memanasnya persaingan antara dua kubu, membuat kedua negara mulai terus meningkatkan kekuatan nasionalnya masing-masing. Mulai dari membentuk aliansi-aliansi baru bersama sekutusekutunya sampai mengembangkan teknologi senjata nuklir. Keduanya merasa menghadapi ancaman yang serius dari lawannya karena memang masing-masing negara semakin meningkatkan kekuatannya, terutama militernya yang mana hal ini dilihat sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dari negara lawannya.. Hal yang sama juga terlihat dari Uni Soviet selama terjadinya Perang Dingin. Pengembangan kekuatan yang dilakukan oleh Amerika Serikat, terutama dalam pengembangan senjata nuklir dan rudalrudal jarak menengah (SLBM) hingga rudal-rudal antara benua (ICBM), membuat ancaman yang dirasakan oleh Uni Soviet semakin jelas. Pengembangan kekuatan nasional dalam rangka terciptanya balance of power merupakan hal yang mau tidak mau harus dilakukan oleh Uni Soviet ditambah persaingan dalam mencapai kepentingan nasional, yang dalam hal ini adalah penyebaran ideologi antara keduanya. Langkah Uni Soviet untuk mengantisipasi ancaman yaitu Uni Soviet menerapkan konsep deterrence yaitu konsep penangkalan untuk mengantisipasi kemampuan Amerika Serikat dalam menggunakan senjata nuklir dan mencegah untuk melakukan tindakan yang mengancam keamanan nasional Uni Soviet. Selain itu, dengan semakin gencarnya masing-masing negara mengembangkan senjata nuklir dan berbagai senjata lainnya, yang merupakan ancaman serius, maka masing-masing negara mengadopsi konsep arms control.9 Hal ini ditujukan untuk melakukan pengendalian terhadap penyediaannya dan kontrol terhadap persenjataan nuklir, akan tetapi dengan jalur diplomasi dengan Amerika Serikat atau jelasnya arms control ini merupakan sebuah langkah negara yang bersifat diplomatis, yang lebih mengarah pada konsep perdamaian dan penangkalan ancaman nuklir. Hal ini dilakukan agar terjadinya stabilitas politik dan militer dalam sistem internasional yang anarki, yang mana situasi ini, banyak menghawatikan banyak pihak dalam sistem internasional. Langkah awalnya yaitu dengan adanya Nuclear Forces Treaty (NFT)
8

I Intercontinental ballistic missile http://en.wikipedia.org/wiki/Intercontinental_ballistic_missile diaskes tanggal 23 Mei 2010. 9 William R. Van Cleave, Arms Control: Violations and Response, hal 259-289.

10

adalah perjanjian antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ditandatangani di Washington, DC oleh Presiden AS Ronald Reagan dan Sekretaris Jenderal Mikhail Gorbachev pada tanggal 8 Desember 1987.10 Perjanjian ini berisi tentang pembatasan jumlah rudal. Namun, perjanjian ini dirasakan kurang efektif dikarenakan dalam kesepakatan ini tidak membahas tentang pembatasan jumlah hulu nuklir pada setiap rudalnya.

BAGIAN III HUBUNGAN AMERIKA SERIKAT DENGAN RUSIA PADA DEKADE 90-AN (PASCA PERANG DINGIN) Perubahan-perubahan fundamental yang terjadi dalam Hubungan Internasional seperti berakhirnya Perang Dingin yang disusul dengan runtuhnya Uni Soviet, secara faktual telah memaksa Amerika Serikat untuk mengubah agenda politik luar negeri. Kebijakan pembendungan menjadi kurang relevan dengan situasi internasional yang baru dan serba kompleks. Runtuhnya Uni Soviet membawa akibat lain yang sanggup mengancam kepentingan Amerika Serikat terutama persoalan senjata nuklir, Rusia masih memiliki ribuan senjata nuklir sebagai hasil dari perlombaan pada waktu Perang Dingin dengan AS. Runtuhnya Uni Soviet juga menyebabkan upaya perlucutan senjata yang telah dirintis oleh Amerika Serikat dengan Uni Soviet menjadi hancur. Ancaman lainnya adalah kemungkinan terjadinya proliferasi senjata nuklir ke luar negeri terutama ke negara-negara rival Amerika Serikat. Oleh sebab itu untuk menjaga kepentingan-kepentingannya dari hal-hal yang tidak diinginkan akibat runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat secara kontinyu memberikan bantuan dalam berbagai bentuk kepada Rusia. Bantuan-bantuan tersebut ditujukan untuk membantu refornasi perekonomian Rusia, membantu menciptakan ekonomi pasar, demokratisasi dan membantu pembongkaran senjata-senjata nuklir dengan syarat Rusia harus menandatangani berbagai kesepakatan pengurangan senjata

10

Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty http://en.wikipedia.org/wiki/IntermediateRange_Nuclear_Forces_Treaty diaskes tanggal 23 Mei 2010.

11

nuklir yang dimotori AS untuk menciptakan stabilitas dikawasan tersebut sehingga kepentingan di belahan dunia tetap terjamin. Berakhirnya Perang Dingin memberi peluang baru bagi Amerika Serikat dan Rusia untuk bekerja sama. Rusia mengambil alih kursi tetap (dengan hak veto penuh) yang sebelumnya dipegang oleh Uni Soviet di Dewan Keamanan PBB. Perang Dingin telah menciptakan kemacetan di Dewan, tetapi pengaturan yang baru berarti kelahiran kembali dalam tindakan PBB. Rusia juga diundang untuk bergabung dengan G-7 pertemuan informal terbesar dari kekuasaan ekonomi dunia menjadikannya G-8. Amerika Serikat dan Rusia juga menemukan cara untuk bekerja sama dalam pengamanan nuklir Longgar di wilayah eks-Uni Soviet, walaupun masih banyak yang harus dilakukan pada masalah ini.11 Kepentingan lain Amerika Serikat yaitu turut menyebarkan demokrasi, menyebarluaskan pelaksanaan demokrasi dan HAM diseluruh dunia merupakan salah satu pilar utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Hal ini menjadi prinsip dikarenakan; pertama, hal ini merupakan tradisi sejarah dari partai yang selalu menekankan pada demokrasi dan HAM. Kedua, kemenangan AS dalam perang dingin dipandang sebagai kemenangan ideologis dan nilai-nilai yang dimilikinya. Ketiga, AS masih perlu mengangkat bendera ideologi sebagai instrumen penting dalam usahanya untuk menyamakan stabilitas baik didalam maupun luar negeri, dikarenakan musuh besarnya dalam perang dingin sudah tidak ada lagi.12 Selain itu banyak orang Amerika berpendapat bahwa dunia yang lebih demokratis tidak hanya akan memperbaiki tatanan dunia itu sendiri dengan demikian menjadikan dunia lebih kondusif bagi kepentingankepentingan AS, perluasan demokrasi akan meningkatkan keamanan AS dalam jangka panjang, strategi perluasan ini merupakan sebuah strategi untuk memperluas komunitas dari pasar demokrasi ke seluruh dunia, dan juga sebagai pengganti dari kebijakan strategi pembendungan yang terjadi pada masa Perang Dingin. Hancurnya perekonomian dalam negeri Rusia pasca disintegrasi Uni Soviet, menyebabkan kondisi sosial dan politik di Rusia tidak menentu, usaha mereformasi perekonomian domestik Rusia menjadi pekerjaan utama kabinet Yeltsin. Untuk
11 12

http://usforeignpolicy.about.com/od/countryprofile1/p/usrussia.htm diakses pada tanggal 18 mei 2010 http://asia timest.com/od/countryprofile1/p/ Rusia dan berbaris AS di-langkah pasca Uni Soviet// diaksees pada tanggal 18 mei 2010

12

melakukan perbaikan ekonomi domestiknya, Rusia memandang perlu untuk bekerja sama dengan barat untuk mendapatkan sumber pembiayaan bagi tujuan tersebut. Barat khususnya Amerika Serikat menanggapi permintaan itu dengan sikap terbuka. Hal ini ditunjukan dengan kesediaan AS untuk memberikan bantuan dana dan teknis kepada Rusia dengan kompensasi yaitu kesediaan Rusia untuk menandatangani perjanjian pengurangan senjata nuklir dan kesepakatan-kesepakatan militer lainnya. Kesediaan dari pemerintah AS untuk memberikan bantuan kepada Rusia tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa menciptakan transisi menuju demokrasi dan sistem pasar bebas Rusia membutuhkan proses yang sangat panjang. Oleh sebab itu, AS merasa berkewajiban untuk mendorong terwujudnya kondisi tersebut secara cepat. Selain itu selama delapan tahun pasca perang dingin (dari pemerintahan bush hingga Clinton), kebijakan terhadap Rusia didasarkan pada keyakinan para pengambil keputusan di AS bahwa Rusia dapat diintegrasikan kedalam sistem internasional berdasarkan barat. Bergabungnya Rusia dalam sistem tersebut akan membawa dua keuntungan. Pertama, sistem ini mampu menjadi pendorong bagi reformasi dalam negeri dan transisi dari sistem komusnisme Soviet. Kedua, integrasi internasional akan mendukung terbentuknya Rusia yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang sejalan dengan para pemimpinpemimpin barat.13

BAGIAN IV HUBUNGAN LUAR NEGERI RUSIA DENGAN AMERIKA SERIKAT PASCA 11 SEPTEMBER 2001 Pada 11 September 2001, menara kembar WTC di New York diruntuhkan oleh dua pesawat yang dibajak. Tidak hanya itu, Gedung Pentagon yang menjadi simbol pertahanan Amerika Serikat juga terkena hantaman pesawat. Ribuan nyawa telah menjadi korban dalam tragedi itu, pemerintah dan warga Amerika Serikat sangat terpukul atas kejadian itu disertai rasa trauma yang mendalam. Namun, tragedi itu bukan akhir dari kedigdayaan Amerika Serikat sebagai hegemon dunia. Justru tragedi itu adalah titik awal
13

http//fas.harvard.edu//Russian-us relation in post-cold war// diakses pada tanggal 18 mei 2010

13

dari tata dunia baru yang menjadikan Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara yang memegang kendali penuh dalam dinamika politik internasional. Pemerintah Washington kemudian mengubah strategi kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Jika semula strategi kebijakan itu berpatokan pada multilateralisme, kini strategi itu beralih menjadi preemptive strike dalam tatanan unilateralisme. Strategi ini merupakan sebuah kelanjutan dari Doktrin Bush yang mengatakan If you are not with us, you are against us.14 Setelah serangan 11 September, tersebut Amerika Serikat semakin memperkuat pertahanannya di bidang militer dan mewacanakan isu terorisme di dunia internasional, yang mana terorisme itu menjadi fokus utama dari kebijakan luar negrinya. Amerika Serikat berusaha mendekatkan diri dengan negara lain yang bisa di ajak untuk bekerjasama memberantas terorisme, termasuk pula Rusia. Walaupun Amerika Serikat sudah melakukan hubungan luar negeri yang baik dengan Rusia, tetap saja Amerika Serikat merasa takut akan adanya ancaman jika suatu saaat Rusia akan kembali menjadi musuhnya, terlebih lagi ancaman nuklir yang imiliki oleh Rusia. Untuk menghindari prasangka buruk Amerika Serikat terhadap kekuatan besar Rusia yaitu bayangan akan adanya serangan dari Rusia sebagai negara dengan energi nuklir yang besar, Amerika Serikat berusaha melakukan perjanjian nuklir dengan Rusia. Hubungan baik yang sudah dijalin oleh Amerika Serikat dan Rusia itu terbukti dengan adanya kunjungan presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, untuk menemui presiden Rusia, Dmitry Medvedev. Kedua pemimpin tersebut bertemu di rumah peristirahatan di Novo Ogarjovo, Moskow barat, yang mana keduanya akan berbicara terutama mengenai rencana penempatan perisai anti rudal Amerika yang kontroversial di Eropa Tengah. Rusia dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian pengurangan senjata nuklir pada 8 April 2010 di Praha. Isi dari perjanjian tersebut adalah bahwa Amerika dan Rusia akan mengurangi hulu ledak nuklir strategisnya menjadi antara 1.500 hingga 1.675, dari sebelumnya 1.700 hingga 2.200. Berkurang sekitar 30% dari yang dibolehkan saat ini. Perjanjian ini berlaku selama sepuluh tahun, dengan kemungkinan memperpanjangnya selama lima tahun. Selain itu akan terjadi pengurangan pada pengebom nuklir dan misil laut dari 1600 menjadi 800. Hal lain yang akan dilakukan adalah kedua negara juga akan
14

http://edoseptianpermadi.blogspot.com/2009/03/kebijakan-luar-negari-amerika-serikat.html

14

mengurangi jumlah instalasi peluncur nuklirnya sampai sekitar 800 serta Amerika Serikat dan Rusia sepakat untuk berbagi informasi. Presiden Medvedev dan Obama juga sepakat mengenai perang di Afganistan. Rusia mulai sekarang mengijinkan wilayah udaranya digunakan pesawat-pesawat Amerika yang mengangkut perbekalan dan pasukan ke Afganistan. Terpicu oleh kesepakatan baru dengan Rusia untuk mengurangi jumlah peluru kendali nuklir, Amerika Serikat dan NATO mencoba menghidupkan kembali kesepakatan besar yang mengatur mengenai persenjataan konvensional di Eropa. Upaya tersebut akan membentuk satu dari tiga bagian rencana untuk memperbaiki hubungan NATO dengan Rusia. Rencana tersebut juga termasuk mengundang Rusia agar bergabung dengan perisai peluru kendali balistik yang rencananya dipasang Amerika Serikat dan NATO di seluruh penjuru Eropa. NATO bahkan berencana mengurangi jumlah senjata nuklir taktisnya.15 Sama halnya dengan Amerika Serikat yang masih merasa resah akan adanya ancaman nuklir Rusia, di situ juga ada perasaan kurang percaya Rusia terhadap hubungan baiknya dengan Amerika Serikat yang mana Rusia merasa lebih terancam keamanannya daripada Amerika Serikat. Hal itu wajar dirasakan oleh Rusia karena Amerika Serikat memang lebih kuat dibanding Rusia terlebih lagi dengan adanya ekspansi NATO di wilayah eks Unisoviet. Hubungan Amerika Serikat dan Rusia memeng tampak lebih baik jika dilihat dari luar, namun dibalik semua itu hubungan kedua negara tersebut masih penuh prasangka buruk. Rusia sudah berkali-kali menyatakan risau atas ekspansi keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan Amerika Serikat (AS) ke Eropa Timur dan Eropa Tengah. Namun, kerisauan itu sama sekali tidak digubris. Rusia semakin risau karena Amerika Serikat terus saja menjajaki program pembangunan basis militer di sejumlah negara bekas pecahan Uni Soviet. Secara terbuka Amerika Serikat menyatakan keinginan merelokasi sejumlah pangkalan militer dari Eropa Barat ke sejumlah negara Eropa Timur seperti Bulgaria, Rumania, dan Polandia. Menanggapi kerisauan Rusia, Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Colin Powell berusaha meyakinkannya mengenai maksud baik di balik rencana
15

http://indonesian.irib.ir/index.php/berita/lintas-warta/8542-hubungan-amerika-serikat-rusia-dimasa-obama.html

15

pembangunan fasilitas militer di sejumlah negara bekas Pakta Warsawa. Powell menegaskan pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Eropa Timur dan Eropa Tengah semata-mata dimaksudkan sebagai bagian dari strategi besar melawan gerakan terorisme. Juga dijelaskan, sama sekali tidak ada strategi anti-Rusia. Namun, penegasan Powell tak mampu meyakinkan berbagai kalangan di Rusia. Kehadiran pangkalan militer AS yang semakin dekat dengan perbatasan Rusia tentu saja menimbulkan kecurigaan. Perluasan keanggotaan NATO maupun program pembangunan pangkalan Amerika Serikat di sejumlah negara bekas anggota Pakta Warsawa dianggap merusak proses positif yang mendorong tatanan baru yang lebih menjamin perdamaian dan kemitraan di Eropa pasca-Perang Dingin. Secara psikologis dan fisik, perluasan NATO dipersepsikan Rusia sebagai upaya mengisolasinya. Persepsi itu telah melahirkan kemarahan dan menyuburkan sentimen anti- Amerika Serikat dan anti-Barat di berbagai kalangan di Rusia.16 Washington kini juga tengah menghadapi ancaman keamanan di jalur lintasan logistik militer dari Pakistan ke Afganistan. Amerika Serikat berharap Rusia dapat membantu mengeluarkannya dari Afganistan secara terhormat. Gedung Putih juga tidak bisa mengesampingkan Moskow begitu saja, hal ini dikarenakan peran Rusia dalam percaturan internasional. Menurut para pakar, Barack Obama berupaya mengubah kebijakan kontroversial dan anti-Rusia negaranya dan menjadikan negara itu sebagai mitra guna menyelesaikan berbagai masalah yang melanda Amerika Serikat. Di pihak lain, Vladimir Putin juga meminta Washington untuk bersikap lebih rasional dan mempertimbangkan kekhawatiran Moskow. Ia juga meminta Amerika Serikat untuk menghentikan rencana penempatan sistem anti-rudalnya di Eropa. Jika Amerika Serikat tidak melaksanakan seruan tersebut maka hubungan kedua negara akan terus keruh.17

16 17

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/04/prasangka-buruk-masih-mengganggu-hubungan-as-rusia/ http://indonesian.irib.ir/index.php/berita/lintas-warta/8542-hubungan-amerika-serikat-rusia-di-masaobama.html

16

KESIMPULAN Secara garis besar terjadi fluktuasi hubungan luar-negeri antara Amerika Serikat dengan Rusia. Politik luar negeri Amerika Serikat terhadap Rusia pada era perang dingin masih bergejolak. Masing-masing pihak saling mengembangkan kekuatan nasionalnya. Kemudian hubungan Amerika Serikat dengan Rusia menjadi membaik pada pasca perang dingin. Hal ini dibuktikan dengan adanya perjanjian-perjanjian nuklir seperti NFT, SALT, START. Hubungan baik itu juga terlihat dari kebersamaan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama ketika makan pagi bersama Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin, yang mana kedua perwakilan menyatakan harapan akan hubungan yang lebih baik antara Amerika Serikat dengan Rusia. Pada periode berikutnya yaitu setelah peristiwa pengeboman WTC pada 11 September 2001, hubungan luar negeri Amerika Serikat dengan Rusia kembali bergejolak. Hal ini dikarenakan niatan Amerika Serikat dibalik strateginya melawan terorisme, membawa kepentingan nasionalnya untuk menjaga hegemoni Amerika Serikat melalui kerjasama Amerika Serikat dengan Polandia terkait penginstalasian pangkalan rudal nuklir di Eropa Tengah yang berdekatan dengan Rusia. Dari pemaparan makalah di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kategori kepentingan nasional Amerika Serikat terhadap Rusia adalah vital interest. Kategori ini adalah kategori di mana kepentingan nasional berkaitan dengan eksistensi negara dan tanggungjawab negara terhadap beberapa aspek. Vital interest Amerika Serikat di sini adalah sebagai berikut: 1. Mencegah munculnya kekuatan dominan yang mengancam ekonomi Amerika Serikat. 2. Melindungi aset-aset sumber penghasilan Amerika Serikat.

17