Anda di halaman 1dari 17

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kamboja merupakan salah satu negara yang terletak di kawasan Asia Tenggara. Kamboja atau Kampuchea adalah negara Republik yang semula berbentuk kerajaan di bawah kekuasaan Dinasti Khmer di Semenanjung Indocina sekitar abad ke-11 dan abad ke-14. Ketika Prancis menguasai wilayah Kamboja, Laos dan Vietnam pada akhir abad ke-19, Prancis menggunakan istilah Indocina untuk menyebut wilayah-wilayah tersebut. Penggunaan istilah Indocina didasarkan karena Kamboja, Laos dan Vietnam dipengaruhi oleh dua peradaban besar, yaitu peradaban India dan peradaban Cina. Dalam situasi perang dingin yang melibatkan Amerika Serikat yang berideologi liberalis dan Uni Soviet yang berideologi komunis, negara-negara kecil di kawasan Asia Tenggara juga terkena dampaknya walaupun mereka tidak berkepentingan. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara acap kali dijadikan tanah rebutan kedua negara besar tersebut untuk menancapkan pengaruhnya. Tidak terkecuali Kamboja. Pengaruh Amerika Serikat terlihat jelas dalam pemerintahan dalam negeri Kamboja, dimana Amerika Serikat tidak menyukai kepemimpinan Norodom Sihanouk yang dipandangnya membiarkan komunis tetap hidup. Kemudian Amerika Serikat mendukung penuh kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal Lon Nol terhadap Norodom Sihanouk. Seiiring dengan pesatnya pergerakan komunis di Cina yang dipimpin oleh Mao Ze Dong, muncullah pergerakan komunis di Kamboja yaitu Khmer Merah yang beraliran Maoist di bawah Pol Pot. Pada tahun 1975, Pol Pot melakukan kudeta terhadap pemerintahan Lon Nol yang dinilainya korup dan dekat dengan Amerika Serikat. Kudeta ini merupakan babak baru sejarah Kamboja di bawah pemerintahan rezim Khmer Merah yang komunis. Hal yang menarik dimana sebelumnya Kamboja dikuasai oleh militer Lon Nol tapi setelah kudeta Pol Pot otomatis Kamboja berada di bawah pemerintahan komunis, kedua ideologi yang

sangat bertolak belakang. Pembahasan ini menjadi menarik, karena peristiwa ini berada di dalam situasi perang dingin, antara dua ideologi besar, liberalis dan komunis. Berdasarkan pemaparan di atas, maka kami tertarik untuk mengkaji bagaimana Kamboja di bawah pemerintahan rezim Khmer Merah yang merupakan hasil dari kudeta terhadap pemerintahan Jenderal Lon Nol. Masalah tersebut kami susun dalam suatu makalah yang berjudul Kamboja di Bawah Kekuasaan Rezim Khmer Merah Tahun 1975-1978. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, penulis membagi permasalahan dalam rumusan masalah yang membatasi pembahasan agar tidak melebar. Adapun rumusan masalah yang penulis tetapkan adalah: 1. Bagaimana gambaran situasi politik di Kamboja sebelum kudeta Khmer Merah? 2. Apa latar belakang dilakukannya kudeta Khmer Merah terhadap pemerintahan Lon Nol? 3. Bagaimana keadaan Kamboja di bawah kekuasaan rezim Khmer Merah? 4. Bagaimana intervensi Vietnam dan akhir kekuasaan Khmer Merah? 5. Bagaimana situasi politik Kamboja pasca runtuhnya rezim Khmer Merah? 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penelitian yang hendak dicapai dalam penulisan makalah ini adalah untuk: 1. Memaparkan kondisi politik di Kamboja sebelum kudeta Khmer Merah. 2. Menjelaskan latar belakang dilakukannya kudeta Khmer Merah terhadap pemerintahan Lon Nol. 3. Memaparkan keadaan kamboja di bawah kekuasaan rezim Khmer

Merah. 4. Menjelaskan intervensi Vietnam dan akhir kekuasaan Khmer Merah di Kamboja. 5. Memaparkan situasi politik Kamboja pasca-runtuhnya kekuasaan rezim Khmer Merah. 1.4 Metode dan Teknik Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini ialah dengan menggunakan metode studi literatur yakni mengkaji buku yang relevan dengan topik dan browsing internet. Sementara itu, teknik penulisan yang digunakan adalah deskriptif analitis dimana penulis tidak hanya menjelaskan materi secara jelas namun memberikan analisis terhadap materi yang dipaparkan dalam pembahasan topik dalam makalah. 1.5 Sistematika Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari : Bab 1 terdiri dari penjelasan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode dan teknik penulisan dan sistematika. Bab 2 merupakan penjelasan tentang topik yang penulis kaji, pembahasan tersebut terbagi ke dalam beberapa sub-bab. Sub-bab pertama meliputi pemaparan mengenai situasi politik di Kamboja sebelum terjadinya kudeta Khmer Merah. Sub-bab kedua mendeskripsikan latar belakang terjadinya kudeta Khmer Merah terhadap Pemerintahan Lon Nol. Pada sub-bab ketiga dipaparkan mengenai keadaan Kamboja di bawah kekuasaan rezim Khmer Merah. Sub bab keempat menjelaskan intervensi Vietnam dan akhir kekuasaan Khmer Merah. Sementara pada sub-bab terakhir dipaparkan mengenai akhir dari seluruh konflik yang terjadi di Kamboja. Bab 3 merupakan kesimpulan yang penulis sajikan dari pembahasan materi pada Bab II sebagai intisari yang ingin disampaikan. BAB 2

KAMBOJA DI BAWAH KEKUASAAN REZIM IHMER MERAH TAHUN 1975-1978 2.1 Situasi Politik Kamboja Sebelum Kudeta Khmer Merah Kamboja atau Kampuchea merupakan negara di Asia Tenggara yang semula berbentuk Kerajaan di bawah kekuasaan Dinasti Khmer di Semenanjung Indo-China antara Abad Ke-11 dan Abad Ke-14. Rakyat Kamboja biasanya dikenal dengan sebutan Cambodian atau Khmer, yang mengacu pada etnis Khmer di negara tersebut. Negara anggota ASEAN yang terkenal dengan pagoda Angkor Wat ini berbatasan langsung dengan Thailand, Laos dan Vietnam. Sebagian besar rakyat Kamboja beragama Buddha Theravada, yang turun-temurun dianut oleh etnis Khmer. Namun, sebagian warganya juga ada yang beragama Islam dari keturunan muslim Cham. Kamboja merupakan Negara koloni Prancis. Pada tanggal 9 November 1953, Prancis mengakhiri penjajahannya di Kamboja yang telah berlangsung sejak tahun 1863 dan Kamboja pun menjadi sebuah negara berdaulat. Setahun kemudian mantan pemimpin negara kawasan Indo-China itu, Raja Norodom Sihanouk, kembali dari pengasingannya di Thailand. Sekembalinya dari Thailand, Sihanouk kemudian membentuk partai politik dan menggelar pemilihan umum (pemilu). Ia memenangkan pemilihan itu dan naiklah ia menjadi Raja Kamboja. Norodom Sihanouk memiliki keinginan untuk menyatukan beberapa faksi yang terdapat di Kamboja, yaitu faksi buddhis, faksi militer, dan faksi komunis. Diangkatnya Norodom Sihanouk sebagai Raja Kamboja ternyata menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak khususnya golongan militer. Norodom Sihanouk ternyata memiliki kecenderungan terhadap Blok Timur (komunis). Setidaknya hal itulah yang mungkin terlintas dalam benak Amerika Serikat. Oleh karena itu, golongan militer di bawah pimpinan Jenderal Lon Nol, melakukan kudeta terhadap Norodom Sihanouk dengan alasan untuk menyelamatkan Kamboja dari komunisme. Pada tahun 1970, Sihanouk berkunjung ke RRC, keadaan ini dijadikan sebagai kesempatan emas bagi Lon Nol untuk melakukan kudeta terhadap Sihanouk. Lon Nol kemudian mengganti

bentuk kerajaan yang tadinya monarki menjadi republik dengan presiden dirinya sendiri. Selepas kudeta tersebut, akhirnya Sihanouk melarikan diri ke Cina dan memilih untuk berjuang melawan Lon Nol di negeri Tirai Bambu tersebut. Kudeta yang dilakukan oleh Lon Nol tersebut tidak lepas dari peran Amerika Serikat yang begitu besar di tengah-tengah usahanya untuk membendung pergerakan komunis di Asia Tenggara. Berhasilnya kudeta yang dilakukan oleh Lon Nol tersebut sekaligus menghantarkan Lon Nol pada tandu kekuasaan. Sesaat setelah mengkudeta Sihanouk, Lon Nol melakukan pembersihan terhadap komunis di Kamboja. Namun Lon Nol mengalami nasib serupa dengan Sihanouk, pada tahun 1975 ia dikudeta oleh Golongan Komunis Kamboja yang dipimpin oleh Pol Pot melalui Khmer Merah-nya karena Lon Nol merupakan kaki tangan Amerika Serikat. Setelah dikudeta oleh Pol Pot akhirnya Lon Nol melarikan diri ke Amerika Serikat. 2.2 Latar belakang kudeta Khmer Merah terhadap Pemerintahan Lon Nol Khmer Merah (Bahasa Perancis: Khmer Rouge) adalah cabang militer Partai Komunis Kampuchea (nama Kamboja kala itu). Khmer Merah sendiri merupakan kelompok Maoist yang berkeinginan melakukan revolusi komunis di Kamboja melalui perjuangan bersenjata. Strategi dasar Maoist ini mirip dengan model strategi gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI), desa kepung kota. Strategi Maoist dilakukan dengan menguasai teritorial pedesaan melalui agitasi dan propaganda mereka untuk kemudian melancarkan insureksi di kota, di pusat kekuasaan. Pada awalnya, gerakan ini mendapat simpati yang cukup luas dari kaum muda, khususnya kelompok mahasiswa yang kritis, yang sudah muak dengan keadaan Kamboja saat itu melalui kepemimpinan Lon Nol yang dinilai korup. Gabungan romantisme anak muda ditambah daya pikat ideologi Maoisme yang menjanjikan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat menyebabkan Khmer Merah berkembang menjadi satu kelompok politik yang dominan. Banyak analis berspekulasi killing field yang terjadi di Kamboja, khususnya ketika Khmer Merah menggiring kelompok profesional, pengusaha, dan intelektual, dan

masyarakat perkotaan pada umumnya untuk bekerja di pedesaan. Mereka yang dipandang borjouis dan kapitalistik merupakan satu imitasi yang salah kaprah dari revolusi kebudayaan yang diterapkan Mao di Cina pada awal tahun 60-an. Namun, kehadiran Khmer Merah mendapat tantangan dari faksi-faksi partai kiri lainnya yang tidak berorientasi ke Beijing. Apalagi pada waktu itu perang yang melibatkan sayap bersenjata dari partai komunis yang sedang berkecamuk di Indocina. Beberapa kelompok di Kamboja lebih berorientasi ke Vietnam dan Rusia sementara Khmer Merah yang dipimpin Pol Pot dengan aliran Maoist-nya lebih berorientasi ke Cina. Kondisi politik inilah yang memicu perang saudara berkepanjangan di Kamboja. Apalagi kemudian kekuatan-kekuatan blok Barat seperti Amerika dan Inggris turut bermain meramaikan konflik yang ada. 2. 3 Kamboja di Bawah Rezim Kekuasaan Khmer Merah Setelah berhasil melakukan kudeta terhadap Jenderal Lon Nol pada 17 April 1975, Pol Pot akhirnya menjadi pemimpin di Kamboja. Dengan demikan Kamboja berada di bawah pemerintahan komunis. Pada 13 Mei 1976 Pol Pot dilantik sebagai Perdana Menteri Kamboja dan mulai menerapkan perubahan sosialis terhadap negara tersebut. Pengeboman yang dilakukan pihak AS telah mengakibatkan wilayah pedesaan ditinggalkan dan kota-kota sesak diisi rakyat (Populasi Phnom Penh bertambah sekitar 1 juta jiwa dibandingkan dengan sebelum 1976). Saat Khmer Merah mendapatkan kekuasaan, mereka mengevakuasi rakyat dari perkotaan ke pedesaan di mana mereka dipaksa hidup dalam ladang-ladang yang ditinggali bersama. Rezim Pol Pot sangat kritis terhadap oposisi maupun kritik politik; ribuan politikus dan pejabat dibunuh, dan Phnom Penh pun ikut berubah menjadi kota hantu yang penduduknya banyak yang meninggal akibat kelaparan, penyakit atau eksekusi. Ranjau-ranjau darat (oleh Pol Pot mereka disebut sebagai "tentara yang sempurna") disebarkan secara luas ke seluruh wilayah pedesaan. Hanya beberapa hari saja setelah ia berkuasa, rezim baru ini telah

menghukum mati sejumlah besar rakyat Kamboja yang tadinya bergabung dengan rezim Lon Nol. Penduduk Phnom Phen dan juga penduduk di provinsi lain terpaksa keluar dari kota dan pindah ke daerah-daerah penampungan. Phnom Phen menjadi kota mati. Seluruh perekonomian di seluruh negeri berubah di bawah garis keras komunis, Uang hilang dari peredaran. Akibat dari semua itu adalah terjadinya kelaparan dan wabah penyakit di daerah tersebut. Selama 44 bulan berikutnya, jutaan orang Kamboja menjadi korban teror dari Khmer Merah. Para pengungsi yang berhasil lari ke Thailand menceritakan kekejaman kelompok ini yang antara lain menghukum mati anak-anak hanya karena mereka tidak lahir dari keluarga petani. Selain itu orang-orang keturunan Vietnam dan Cina juga turut diteror dan dibunuh. Siapa saja yang disangka sebagai orang yang berpendidikan, atau menjadi angota dari keluarga pedagang pasti dibunuh dengan cara dipukul sampai mati, bukan dengan ditembak dengan dalih untuk menghemat amunisi. Masa empat tahun Pol Pot dan Khmer Merahnya berkuasa di Kamboja, adalah masa yang membuat seluruh dunia geger. Khmer Merah berupaya mentransformasi Kamboja menjadi sebuah negara Maois dengan konsep agrarianisme. Rezim Khmer juga menyatakan, tahun kedatangan mereka sebagai "Tahun Nol" (Year Zero). Pada masa itu, mata uang dihapuskan. Pelayanan pos, dihentikan. Kamboja diputus hubungannya dengan luar negeri. Hukum Kamboja juga dihapuskan. Rezim Khmer Merah dalam kurun waktu tersebut diperkirakan telah membantai sekitar dua juta orang Kamboja. Ada sekitar 343 "ladang pembantaian" yang tersebar di seluruh wilayah Kamboja. Choeung Ek adalah "ladang pembantaian" paling terkenal. Di sini, sebagian besar korban yang dieksekusi adalah para intelektual dari Phnom Penh, yang di antaranya adalah: mantan Menteri Informasi Hou Nim, profesor ilmu hukum Phorng Ton, serta sembilan warga Barat termasuk David Lioy Scott dari Australia. Sebelum dibunuh, sebagian besar mereka didokumentasikan dan diinterogasi di kamp penyiksaan Tuol Sleng. Penjara S-21 atau Tuol Sleng adalah organ rezim Khmer Merah yang

paling rahasia. Pada 1962, penjara S-21 merupakan sebuah gedung SMA bernama Ponhea Yat. Semasa pemerintahan Lon Nol, nama sekolah diubah menjadi Tuol Svay Prey High School. Tuol Sleng yang berlokasi di subdistrik Tuol Svay Prey, sebelah selatan Phnom Penh, mencakupi wilayah seluas 600 x 400 meter. Setelah Phnom Penh jatuh ke tangan Khmer Merah, sekolah diubah menjadi kamp interogasi dan penyiksaan tahanan yang dituduh sebagai musuh politik. Di ladang pembantaian ini, para intelektual diinterogasi agar menyebutkan kerabat atau sejawat sesama intelektual. Satu orang harus menyebutkan 15 nama orang berpendidikan yang lain. Jika tidak menjawab, mereka akan disiksa. Kuku-kuku jari mereka akan dicabut, lantas direndam cairan alkohol. Mereka juga disiksa dengan cara ditenggelamkan ke bak air atau disetrum. Kepedihan terutama dirasakan kaum perempuan karena kerap diperkosa saat diinterogasi. Setelah diinterogasi selama 2-4 bulan, mereka akan dieksekusi di Choeung Ek. Sejumlah tahanan politik yang dinilai penting ditahan untuk diinterogasi sekitar 6-7 bulan, lalu dieksekusi. Seperti itulah keadaan Kamboja di bawah pemerintahan Khmer Merah. 2. 4 Intervensi Vietnam dan Akhir Kekuasaan Khmer Merah Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan Saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika dari Asia Tenggara. ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara non-komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut. Sebagai antisipasi terhadap kemungkinan paling buruk jika Amerika Serikat meninggalkan Vietnam maka Asean senantiasa menekankan posisinya sebagai negara yang netral dan tidak konfrontasional dan berharap negara-negara Indochina (Kamboja, Laos, dan Vietnam) akan mengikuti jalan ASEAN. Akan

tetapi

harapan

ini

tidak

segera

dapat

diwujudkan

karena

dengan

diproklamasikannya Republik Sosialis Vietnam (RSV) tahun 1976, sebagai konsekuensi dari kekalahan Amerika dan Vietnam, Vietnam pun tampil lebih percaya diri karena masih mendapat dukungan Soviet. bahkan pemerintahan komunis Vietnam mempropagandakan isu-isu anti ASEAN yang mereka tuduh sebagai kepanjangan tangan neokolonialis Amerika Serikat. Kecemasan memang akhirnya terwujud karena pada Desember 1978 Vietnam benar-benar menginvasi Kamboja, menggulingkan rezim Pol Pot, dan menanamkan pemerintahan Heng Samrin pro-Vietnam dengan dukungan pasukan kuat Vietnam bertahan menguasai Kamboja, yang diubah menjadi RRK (Republik Rakyat Kamboja). Sementara tokoh RRK seperti Heng Samrin, Chea Sim, dan Hun Sen sebenarnya adalah mantan komandan Khmer Merah di kawasan Timur Kamboja. Mereka menentang keganasan Pol Pot dan melarikan diri ke Vietnam. di sanalah para pemberontak ini dilatih dan dipersiapkan Vietnam untuk kemudian merebut dan menduduki Kemboja dengan dukungan pasukan Viettnam. Invasi Vietnam ke Kamboja dinilai sebagai tindakan pelanggaran prinsipprinsip dasar hubungan antar negara, yakni non-interference dan non-use force. Invasi Vietnam ke Kamboja menciptakan persoalan serius di sekitar perbatasan wilayah Thailand-Kamboja. Sisa-sisa pasukan Khmer Merah yang masih bertahan plus puluhan ribu pengungsi dari Kamboja memenuhi wilayah tersebut. Konflik bersenjata di kawasan tersebut tidak terhindarkan dan dengan sendirinya mendorong tumbuhnya instabilitas di Thailand. Pasukan mereka memasuki kota Phonm Penh pada bulan April 1975, dua minggu sebelum pihak komunis di Vietnam menguasai Saigon. Pasukan Pol Pot yang menang perang segera melakukan serangan ke wilayah Vietnam. Tetapi mereka dengan cepat dikalahkan oleh rezim komunis yang baru saja meraih kemenangan di Vietnam. Serangan lainnya dilakukan Kamboja pada bulan Januari 1977 dan gelombang serangan lain yang terus berlangsung dalam bulan-bulan berikutnya. Pada akhir tahun itu pihak Phnom Penh menyatakan perang kepada Vietnam. Mereka menolak tawaran Vietnam untuk mengadakan berundingan dan menarik mundur pasukan. Di dalam negeri,

memasuki pertengahan tahun 1978, rezim Khmer Merah mulai bertindak meredam pemberontakan yang muncul di bagian timur Kamboja. Gelombang pembantaian massal terhadap rakyat Kamboja serta etnis minoritas lainnya mencapai puncaknya dalam periode tersebut. Pembantaian berhenti pada bulan Desember 1978 ketika pasukan Vietnam berhasil mengalahkan kekuatan Khmer Merah dari Kamboja dan mengusirnya sampai perbatasan Thailand. Pasukan pendudukan Vietnam segera membentuk pemerintahan dan kekuatan militer baru di Kamboja. Hun Sen menjadi Perdana Menteri sejak tahun 1985. Tetapi perlawanan Khmer Merah tidak berhenti setelah kekalahan mereka. Khmer Merah tetap melakukan serangan gerilya yang dilancarkan dari tempat persembunyian mereka di Thailand. 2. 5 Situasi Politik Kamboja Pasca Runtuhnya Rezim Khmer Merah Kelompok Ahli yang ditunjuk PBB membuat kesimpulan bahwa pemimpin Khmer Merah yang tersisa harus diadili oleh Pengadilan Internasional atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida. Menurut Kelompok Ahli itu, peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 1975 sampai 1979 memenuhi kriteria kejahatan yang tertuang dalam Konvensi Genosida PBB 1948. Ahli-ahli hukum menyatakan bahwa rejim Khmer Merah telah melakukan kekejian terhadap rakyat Kamboja seperti tertuang dalam kriteria Konvensi Genosida. Apakah rezim Khmer Merah melakukan aksi-aksi mereka dengan sengaja dan ditujukan kepada kelompok-kelompok yang mendapat perlindungan dalam Konvensi PBB? Menurut ahli-ahli hukum PBB: Studi-studi kesejarahan memberikan dukungan kuat, termasuk genosida dalam jurisdiksi pengadilan untuk mengadili pimpinan Khmer Merah. Secara khusus, bukti menunjukkan pentingnya jaksa penuntut untuk membentuk komisi penyelidikan tentang genosida yang dilakukan terhadap terhadap orang-orang Cham, Vietnam dan kelompok minoritas lainnya, termasuk para pendeta Budha.(Kiernan, 2004:4). Menurut para ahli hukum PBB, ada maksud sengaja rezim Khmer Merah menghancurkan bangsa Cham dan kelompok etnis minoritas lainnya.

Bukti tentang ini tertuang dalam kebijakan rezim Khmer Merah melakukan homogenisasi, larangan menyeluruh praktek kebudayaan masing-masing kelompok, penghancuran mereka dan eksekusi-eksekusi terhadap pimpinannya. Sebagai contoh, selama empat tahun, sekitar 90.000 orang Cham, dari jumlah total populasi 250.000 jiwa, tewas dalam aksi-aksi pembantaian yang dilakukan. Mereka dengan sengaja dibunuh karena latar belakang etnisnya. Di bawah kondisi itu, serta dikombinasikan dengan program kerja paksa dalam model utopis Maois, dan diiringi pemusnahan musuh kelas model Stalinis, sekitar 1,7 juta penduduk Kamboja tewas. Pada tahun 1982, Tiga kelompok (faksi) yang masih bertahan di Kamboja yaitu Khmer Merah, dan Front kemerdekaan nasional, netral, kedamaian dan kerja sama Kamboja (FUNCINPEC) pimpinan Pangeran Sihanouk, serta Front nasional kebebasan orang-orang Khmer yang dipimpin oleh perdana menteri yang terdahulu yaitu Son Sann, membentuk koalisi yang bertujuan untuk memaksa keluar tentara Vietnam. Tahun 1989, tentara Vietnam akhirnya mundur dari Kamboja. Dalam menyelesaikan permasalahan dan konflik yang tak kunjung usai ini, akhirnya Norodom Sihanouk meminta bantuan ASEAN dan PBB untuk menengahi konflik. Atas inisiatif Indonesia, pada bulan Juli 1988, di Istana Bogor diselenggarakan Jakarta Informal Meeting (JIM) yang mempertemukan pihakpihak yang bertikai di Kamboja. Setelah itu diadakan kembali JIM II pada bulan Februari 1989 di Jakarta. Pada tingkat internasional diadakan International Conference on Kampuchea (ICK) pada 30-31 Juli 1989. Pertemuan tersebut dilakukan untuk membicarakan mengenai penyelesaian konflik di Kamboja. Setelah berbagai pertemuan dilakukan dalam rangka menyelesaikan konflik, akhirnya, di bawah pengawasan PBB, kelompok-kelompok yang bertikai di Kamboja menandatangani Perjanjian Paris pada Oktober 1991. Adapun pokokpokok Perjanjian Paris, yaitu: 1. Dibentuknya United Nations Transitional Authority in Cambodia (UNTAC). 2. Dibentuknya Supreme National Council (SNC) sebagai badan tertinggi di

11

Kamboja. 3. Penarikan seluruh kekuasaan militer asing. 4. Akan diselenggarakannya pemilu di bawah pengawasan PBB. 5. Pengawasan pelaksanaan HAM (Hak Asasi Manusia). 6. Pemulangan pengungsi Kamboja. Sesuai dengan perjanjian, akan diadakan pemilu pada Mei 1993 yang diawasi oleh masyarakat internasional, termasuk Indonesia. Sejak saat itu, terbentuklah pemerintahan koalisi Kamboja dengan kepala negaranya yaitu Pangeran Norodom Sihanouk, Perdana Mentrinya Hun Sen, dfan Pangeran Ranaridh. Namun, pemerintahan kolisi ini pun akdilakukan hirnya rapuh dan tampaknya sulit bersatu. Hal ini terbukti dari terjadinya percobaan kudeta terhadap hun Sen yang diduga dilakukan oleh para pengikut Pangeran Ranaridh pada tahun 1997. Melalui Pemilu 1998 yang bebas akhirnya Hun Sen kembali menjadi Perdana Menteri Kamboja yang baru.

BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan Berdasarkan pemaparan pada pembahasan Bab 2, kami dapat menyimpulkan beberapa poin penting terkait permasalahan yang kami kaji. Pertama, Kamboja awalnya merupakan sebuah negara berbentuk monarki yang merdeka dari Prancis pada tahun 1954. Di bawah pemerintahan Pangeran Norodom Sihanouk, terjadi penyatuan faksi-faksi yang terdapat di Kamboja, yaitu faksi Buddhist, faksi militer, dan faksi komunis. Kekuasaan Norodom Sihanouk kemudian digulingkan oleh Jenderal Lon Nol karena dianggap memberikan ruang bagi komunis. Kudeta ini didukung penuh oleh Amerika Serikat yang kala itu berusaha membendung arus komunisme. Kedua, arus komunisme dari Cina begitu cepat mengakar di Kamboja. Komunis di Kamboja terbentuk dalam sebuah faksi yaitu Khmer Merah. Khmer Merah merupakan cabang militer Partai Komunis Kampuchea dan merupakan kelompok Maoist yang berkeinginan melakukan revolusi komunis di Kamboja melalui perjuangan bersenjata. Ideologi Maoisme yang menjanjikan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat menyebabkan Khmer Merah berkembang menjadi satu kelompok politik yang dominan. Ketiga, setelah berhasil melakukan kudeta terhadap peemrintahan Lon Nol, Khmer Merah di bawah Pol Pot menjalankan pemerintahan yang bercoirak sosialis. Namun tidak lama setelah kudeta tersebut, rezim Khmer Merah banyak melakukan kekejian, diantaranya pembunuhan, pemerkosaan, dan perbuatan keji lainnya yang dilakukan terhadap rakyat yang tidak bersalah. Keempat, dalam situasi perpolitikan di Kamboja yang tidak stabil kemudian muncullah intervensi-intervensi pihak asing, dalam hal ini Vietnam. Intervensi Vietnam diloakukan dengan cara mengirimkan pasukannya ke wilayah Kamboja. Disinyalir masuknya pasukan Vietnam ini sebenarnya merupakan strategi Amerika Serikat dalam menghalau pergerakan komunis di Asia Tenggara. Terakhir, masuknya pasukan Vietnam ke wilayah Kamboja dan

13

melemahnya kekuatan rezim Khmer Merah yang ditandai dengan perpesacahan di dalam tubuh Khmer Merah sendiri yang mengakibatkan kedua angotanya yaitu Heng Samrin dan Hun Sen berkhianat. 3.2 Saran Penulis menyadari bahwa penulisan makalah serta ulasan yang kami sampaikan pada makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis memohon kritik serta saran yang membangun untuk perbaikan penyusunan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Kiernan, Ben. (2004). War, Genocide and Resistance in East Timor, 1975-1999: Comparative Reflections on Cambodia. New York: Rowman and Littlefield. Dadang. (2009). Asean Efektivitas kawasan Regionalsime Asia tenggara dalam prinsip Non Intervensi dengan Studi Kasus Konflik Vietnam Kamboja. [Online]. dengan-judul-asean.html. [7 Oktober 2010]. Gottlieb, Sebastiaan. Tribunal Khmer Merah Dibuka di Kamboja Dengan Seorang Hakim Internasional. [Online]. Tersedia: http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/tema/jendelaantarbangsa/tribun al_khmermerah050503-redirected. [9 Oktober 2010]. Maladewa. Agung T. (2010). Khmer Merah, Lembar Sejarah Kelam Kamboja. [Online]. Tersedia: http://bkcity.wordpress.com/2010/05/14/khmer-merahlembar-sejarah-kelam-kamboja/. [5 Oktober 2010]. Niam. (2010). Invasi Vietnam ke Kamboja. [Online]. Tersedia: Tersedia: http://dhadankphotography.blogspot.com/2009/10/abstrak-m-akalah-

http://omahkucink.blogspot.com/2010/03/menengok-rekonsiliasi-dikamboja.html. [7 Oktober 2010]. _____ (2007). Perang Indochina.[Online]. Tersedia:

http://www.cinaoggi.it/id/index.php%3Foption%3Dcom_content%26view %3Darticle%26id%3D2197:linvasione-cinese-del-vietnam-del1979%26catid%3D25:storia-della-cina%26Itemid%3D84/ 2010]. ___ (2010). 2010]. Polpot Bioghraph. [Online]. [7 Tersedia: Oktober [5 Oktober

http://www.essortment.com/all/polpotbiograp_rxdy.htm.

15

LAMPIRAN

(Pol Pot)

17