Anda di halaman 1dari 23

LAPORA KASUS

OSTEOARTRITIS LUMBAL DE GA HER IASI UCLEUS PULPOSUS


Oleh Pompi I11106016

Pembimbing dr. Bambang S , Sp. PD

KEPA ITERAA KLI IK ILMU GERIATRI EPA FAKULTAS KEDOKTERA DA ILMU KESEHATA PROGRAM STUDI PE DIDIKA DOKTER U IVERSITAS TA JU GPURA RSU DOKTER SOEDARSO PO TIA AK 2009

Lembar Persetujuan
Telah disetujui Laporan Kasus dengan judul : Low Back Pain, Osteoartritis Lumbal, Herniasi Diskus Lumbal, Spondilosis dan Sindroma Geriatri

disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Modul Geriatri

Telah disetujui, Pontianak, November 2009

Disusun oleh :

Pembimbing Laporan Kasus,

dr. Bambang SN, Sp.PD NIP. 140091254

Pompi NIM. I11106016

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN DAFTAR ISI BAB I PENYAJIAN KASUS

1 2 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

11

DAFTAR PUSTAKA

22

BAB I PE YAJIA KASUS

1. Kasus Tn. AA, 63 tahun, datang ke Rumah Sakit dengan keluhan utama sakit didaerah pinggang sejak 10 tahun lalu dengan intensitas yang ringan, sakit terasa berat sejak 3 minggu lalu, sakitnya terus menerus, menjalar hingga kedua tungkai dan bagian pinggang sakit bila di gerakkan, kedua kaki di rasakan lemah dan kesemutan

2. Analisis Kasus Untuk menganalisis kasus ini, diperlukan data tambahan baik dari anamnesis maupun pemeriksaan fisik. a. Anamnesis Identitas Pasien Nama Umur Alamat Agama : Tn. AA : 63 th : Kampung Arang, sui Raya Dalam : Islam

Pendidikan terakhir : SD Pekerjaan Kegiatan sekarang : sudah 10 tahun tidak bekerja :-

Tanggal masuk RS : 2 desember 2009 Anamnesis dibuat pada tanggal 12 desember 2009

Riwayat Medis Keluhan Utama Sakit di daerah pinggang terus menerus sejak 3 minggu yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang 10 tahun lalu sakit di daerah pinggang dengan intensitas ringan, hilang timbul

3 minggu lalu sakit terasa berat, terus menerus, menjalar hingga kedua tungkai, pinggang sakit bila digerakkan, berkurang bila berbaring, kedua kaki lemah dan kesemutan Bisa buang air besar (BAB) dan kecil (BAK) Tidak terdapat riwayat; trauma, tuberculosis, keganasan dan operasi.

Riwayat Penyakit Dahulu 10 tahun lalu pernah dirawat selama 2bulan karena Diabetes

Kebiasaan o. 1. 2. 3. 4. Kegiatan Merokok Minum alcohol Minum kopi Olahraga Keterangan Jumlah -

Ringkasan Gejala o. 1. 2. 3. Nyeri Kesemutan Gangguan penglihatan Gejala Keterangan Pada pinggang dan menjalar pada kedua tungkai Kedua tungkai Penglihatan kabur, seperti berkabut

Penapisan Depresi Adanya depresi disangkal, pasien mengaku sudah dapat menerima keadaannya, terdapat dukungan penuh dari pihak keluarga

Status Fungsional Asesmen aktivitas sehari-hari (activity of daily living): untuk melakukan aktivitas sehari-hari pasien dibantu oleh keluarganya Keterbatasan fungsional: Pasien membatasi gerakan dan aktivitas

b. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : tampak sakit sedang Kesadaran Status gizi Tanda Vital : kompos mentis, GCS 15 : baik : : baring = 120/70 mmHg : baring = 70 menit : baring = 22x/menit : 36,2oC

Tekanan darah Frekuensi nadi Laju respirasi Suhu

Status Generalis Kulit Kepala Mata : warna kulit coklat, kering, tidak ada lesi kulit : bentuk simetris, tidak ada deformitas : konjungtiva tidak pucat, shadow test didapatkan katarak imatur kiri dan kanan Telinga Hidung : fungsi pendegaran masih baik : tidak terdapat kelainan

Mulut, sendi rahang dan gigi : pasien menggunakan gigi palsu Leher : tidak ada hambatan gerak pada semua arah, kelenjar tiroid

tidak membesar, kelenjar getah bening tidak teraba Dada Paru : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi ada suara tambahan : tidak ada kelainan bentuk : fremitus vocal, simetris normal kiri dan kanan : sonor di kedua lapang paru : suara dasar vesikuler pada kedua lapang paru, tidak

Kardiovaskuler : a. Jantung Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: iktus kordis teraba di ICS 5 linea midclavicularis

sinistra, isi cukup, lebar 1 jari Perkusi : batas jantung kanan di linea sternalis kanan ICS 5,

batas jantung kiri di linea midclavicularis sinistra ICS 5, batas atas di linea sternalis kanan ICS 2 Auskultasi : S1 dan S2 normal, irama reguler, tidak ada bising

b. Denyut nadi perifer Dorsalis pedis Tibialis posterior : kiri dan kanan teraba, reguler, isi cukup : kiri dan kanan teraba, reguler, isi cukup

Abdomen : Inspeksi Palpasi : dinding perut rata, tidak ada kelainan kulit : tidak ada nyeri tekan abdomen, hati teraba di bawah arcus costae, limpa sulit teraba Perkusi Auskultasi : timpani : bising usus normal 4 x/menit

Bagian belakang : nyeri tekan pada pinggang Muskuloskeletal : scapula kanan dan kiri tidak simetris (scapula kiri sedikit lebih rendah), curiga skoliosis, kekuatan motorik tungkai derajat 4 Neurologik : Reflek patella melemah pada kedua tungkai dan simetris, refleks patologis negative, lasegue sign positif kiri dan kanan (300-450)

c. Data Penunjang Laboratorium 1. hasil pemeriksaan tgl 2 desember 2009 Hb Jumlah leukosit Jumlah trombosit Hematokrit : 12,3 g/dL : 6300/ L : 194.000/ L : 36,6 %

Gula darah sewaktu : 200 mg/dl

2. hasil pemeriksaan tanggal 11 desember 2009 Hb Trombosit Leukosit Ht : 12,6 gr/dL : 204.000 / L : 5500 / L : 37,2 %

Gula darah sewaktu : 243 mg/dL

d. Daftar Masalah Nyeri daerah pinggang Kesemutan dan kelemahan pada kedua tungkai Gangguan penglihatan Hasil gula darah sewaktu meningkat pada pemeriksaan 11 desember

e. Pembahasan Berdasarkan anamnesis, diperoleh data bahwa pasien merasa sakit di daerah pinggang dengan intensitas berat sejak 3 minggu yang lalu. Sakit dirasakan menjalar pada kedua tungkai dan terdapat kesemutan. Pinggang sakit bila digerakkan pada semua posisi. Berdasarkan keterangan ini disimpulkan bahwa pasien menderita Low Back Pain. Low Back Pain adalah perasaan nyeri di daerah lumbosakral atau sakroiliaca, nyeri ini sering disertai dengan penjalaran ketungkai sampai kaki Untuk low back pain sendiri penyebabnya dapat berasal dari otot, saraf, atau tulang belakang sendiri. Melihat keluhan pasien nyerinya disertai penjalaran ke tungkai dapat diduga bahwa masalahnya adalah pada saraf (ganguan pada saraf penjalaran nyeri atau masalah sensorik sesuai dengan daerah yang dipersarafinya). Karena jika berasal dari otot biasanya nyerinya tidak terdapat penjalaran. Diduga bahwa terdapat keterlibatan tulang belakang mengingat nyeri terasa berat jika pinggang digerakkan pada semua posisi.

Riwayat pekerjaan pasien 10 tahun lalu adalah sebagai seorang mandor, tapi sebelumnya sebagai buruh di perusahaan karet. Pasien sering mengangkat beban berat dengan landasan tersebut dapat diperkirakan bahwa sering terjadi jejas minimal pada vertebra, jejas ini merangsang kerja osteoblas yang akan membentuk tulang baru (osteofit) yang tujuan awalnya adalah menstabilkan rangka, tetapi osteofit tersebut justru dapat menekan radik saraf sehingga menimbulkan gejala sensorik berupa kesemutan, atau kelemahan otot Dilakukan tes lasegue yaitu dengan menflkesikan pada sendi coxae tungkai pasien yang dalam keadaan ekstensi dan di dapatkan hasil positif 30450, yang pada keadaan normal dapat mendekati 900 tes lasegue yang positif dapat disimpulkan bahwa telah terjadi iritasi pada nervus isciadikus (segmen lumbosakral), selain itu kesemutan pada tungkai dan nyeri yang menjalar pada kedua tungkai dapat menunjukkan terjadi gangguan pada radiks posterior. Selain itu pasien merasa kedua tungkai melemah jika di gabungkan dengan hasil pemeriksaan reflek patella yang sedikit menurun dapat di curigai terdapat keterlibatan segmen anterior Pemeriksaan poto polos vertebra segmen lumbosakral diperoleh hasil: skoliosis daerah lumbal, pembentukan osteofit, penyempitan L3-L4 dan L4-L5 dengan herniasi diskus intervertebra L3-L4-L5. Hal ini mengarahkan pada osteoarthritis dan kompresi pada daerah saraf yang terlibat Dari hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 11 desember diperoleh GDS 243 mg/dl yang sebelumnya 200 mg/dl pada tanggal 2 desember, hasil ini perlu di konfirmasi dengan pemeriksaan kadar HbA1c mengingat pasien juga mempunyai riwayat diabetes. Jika didapatkan kadar yang tinggi (>6 gr%) pasien dapat dianjurkan diet diabetes, atau diterapi dengan obat anti diabetes Pada kedua mata pasien didapatkan penurunan tajam penglihatan, pada usia lanjut biasanya terjadi penurunan penglihatan, dimana pada usia lanjut terjadi kekakuan lensa sehingga daya akomodasi matanya menurun.

Terjadi kekeruhan lensa akibat proses degeneratif. Dengan berkurangnya penglihatan pada lanjut usia seringkali kehilangan rasa percaya diri, berkurang keinginan untuk pergi keluar, untuk lebih aktif atau bergerak kesana kemari. Mereka akan kehilangan kemampuan untuk membaca atau melihat televisi. Kesemua itu akan menurunkan aspek sosialisasi dari para lanjut usia, mengisolasi mereka dari dunia luar yang pada gilirannya akan menyebabkan depresi dengan berbagai akibatnya.

f. Diagnosis Berdasarkan penjelasan di atas, diagnosis pada pasien ini adalah: 1. Diagnosis Klinis : Low back pain dan Paresthesia kedua tungkai 2. Diagnosis Topis : Supresi pada daerah Lumbal 3. Diagnosis Etiologis: Osteoartritis Lumbal denga herniasi nucleus pulposus 4. Diagnosis Banding : o Spondilosis o Spondilitis Ankilosa Lumbal 5. Diagnosis fungsional: sindroma geriatri (gangguan penglihatan)

g. Rekomendasi 1. R ntgen vertebra Lumbosakral posisi Posteroanteior dan lateral 2. Myelografi 3. Rujuk ke bagian Rehabilitasi Medik, untuk anjuran fisioterapi 4. Rujuk ke Ortopedi dan bedah untuk kemungkinan Operasi

h. Terapi on-farmakologi 1. Tirah baring dan mobilisasi ringan 2. Edukasi : perlu dijelaskan pada keluarga dan pasien bahwa penyakit pasien bersifat kronik untuk mengurangi stress dan meningkatkan peran keluarga untuk membantu memperbaiki kondisi pasien.

10

Farmakologi 1. Dirumah sakit: IVFD RL Injeksi Ranitidin IV 3 x 1 amp Piroksikam tab 20 mg, 1x1

2. Dirumah Paracetamol tab 500 mg 3x1 (bila nyeri)

11

BAB II TI JAUA PUSTAKA

2.1 Low Back Pain Adalah nyeri pada regio lumbal dan sakral yang banyak dijumpai pada usia lanjut sebagai bentuk dari gangguan neuromuskuloskeletal, penyebabnya tidak dapat dipisahkan dari proses degenerasi dari diskus intervertebralis Penyebab low back pain adalah: Proses patologi pada organ region renal atau visceral dan tumor retriperitoneal (viscerogenic low back pain) Aneurysm Kondisi patologi neuron Kekejangan otot, spasme otot dan hipersensitivitas otot Infeksi, trauma, kanker Spondiolisis, hernia nucleus pulposus dan ankylosing spondylisis Adapun gejala yang dapat ditemukan pada pasien low back pain adalah: Nyeri di pinggang setempat atau difus (sifat hilang timbul atau terus menerus dan meningkat jika disertai perubahan sikap) Referred pain di pinggang (biasanya berasal dari proses patologi di daerah abdominal, pelvis) Nyeri radikuler; nyeri yang menjalar sesuai daerah dermatomnya, batuk dan nafas dafat menimbulkan rasa nyeri Nyeri spasme otot; pegal-pegal akibat duduk terus menerus, berdiri yang salah dan hilang jika dipijat

12

Nyeri yang terus menerus diwaktu malam hari (sering berhubungan dengan tumor maligna di tulang belakang)

2.2

Herniasi Diskus Lumbal Herniasi diskus lumbal atau hernia nukleus pulposus paling sering

terjadi pada pria dewasa, dengan insiden puncak pada dekade ke-4 dan 5. Kelainan ini lebih banyak terjadi pada individu dengan pekerjaan yang banyak membungkuk dan mengangkat. Karena ligamentum longitudinalis posterior pada daerah lumbal lebih kuat pada bagian tengahnya, maka protrusi diskus cenderung terjadi kearah posterolateral, dengan kompresi radiks saraf Sela intervertebra lumbal 4-5 dan L5-S1 adalah yang paling sering terkena, terutama L5-S1. Ruptur diskus lumbal yang lebih tinggi jarang dan hampir selalu akibat trauma massif. Terdapat beberapa kontroversi mengenai faktor-faktor yang menyebabkan ruptur diskus intervertebralis. Banyak kasus dapat dikaitkan dengan trauma, baik cedera akut atau yang lebih sering, cedera ringan berulang akibat sekunder dari aktivitas membungkuk dan mengankat berat. Faktor lainnnya adalah perubahan degeneritif pada diskus yang terjadi pada proses penuaan yaitu penciutan nucleus pulposus akibat berkurangnya komponen air dan penebalan annulus fibrosus. Herniasi diskus paling sering terjadi pada daerah lumbal diikuti rupture diskus servikal. Herniasi diskus torakal sangat jarang. Lebih dari separuh pasien akan menghubungkan gejala yang dideritanya dengan beberapa jenis trauma misalnya jatuh terbentur atau angkat berat atau terputar punggungnya Keluhan awal biasanya nyeri punggung bawah yang onsetnya perlahan-lahan, bersifat tumpul atau terasa tidak enak, sering intermitten, walaupun kadang-kadang nyeri tersebut onsetnya mendadak dan berat. Nyeri ini terjadi akibat regangan ligamnetum longitudinalis posterior, karena diskus itu sendiri tidak mempunyai serabut nyeri. Nyeri tersebut khas yaitu

13

diperhebat oleh aktivitas atau pengerahan tenaga serta mengedan, batuk atau bersin. Nyeri ini biasanya menghilang bila berbaring pada sisi yang tidak terkena dengan tungkai yang sakit difleksikan, sering terdapat spasme reflek otot-otot paravertebra yang menyebabkan nyeri dan membuat pasien tidak dapat berdiri tegek secara penuh Setelah periode waktu tertentu, timbul nyeri pinggul dan sisi posterior atau posterolateral paha serta tungkai yang terkena, yang biasanyad disebut skiatika atau iskialgia. Gejala ini sering disertai baal dan kesemutan yang menjalar kebagian kaki yang dipersarafi oleh serabut saraf sensorik radiks yang terkena. Gejala ini dapat dibangkitkan dengan tes lasegue yaitu tungkai lurus diangkat pada posisi pasien berbaring telentang. Pada psien normal tungkai dapat diangkat sampai hampr 900 tanpa nyer, sedangkan pada pasien dengan skiatika, nyeri yang khas ditimbulkan dengan elevasi 300-400. Akhirnya, defisit sensorik, kelemahan otot dan gangguan reflex dapat terjadi Diagnosis herniasi diskus antarvertebra sering dibuat hanya berdasarkan anamnesis dan dapat dikonfirmasi saat pemeriksaan fisik. Perasat-perasat untuk evaluasi seperti mengngkat tungkaidan berjalan jinjit diatas tumit juga bermanfaat untuk membuat diagnosis. Radiografi mungkin normal atau terlihat tanda-tanda distorsi susunan tulang belakang (umumnya oleh spasme otot); radiografi juga bermanfaat untuk menyitu ngkirkan kausa lain nyeri punggung, misalnya spondilolistesis (selipnya kearah depan bagian anterior suatu segmen vertebra dari segmen dibawahnya, biasanya L4 atau L5), tumor medulla spinalis atau tonjolan tulang. Namun, diagnosis herniasi diskus mustahil dilakukan hanya dengan radiografi. Diperlukan mielogram computed tomografi (CT) atau magnetic resonance imaging (MRI) untuk memastikan lokasi dan tipe patologi. MRI atau CT tulang belakang akan memperlihatkan kompresi kanalis spinalis oleh diskus yang mengalami herniasi dan mielogram CT akan menentukan ukuran dan lokasi herniasi diskus. Dapat dilakukan pemeriksaan elektromiogram untuk

14

menetukan secara pasti akar saraf yang terkena. Juga dapat dilakukan uji kecepatan hantaran saraf. Terapi utama bagi nherniasi diskus adalah tirah baring singkat diatas kasur yang keras dan rata serta OAINS untuk nyeri diiukuti terapi fisik. Dengan regimen ini, lebih dari 90 % pasien akan pulih dan kembali menjalankan aktivitas secara normal. Sebagian kecil pasien mungkin memerlukan terapi lebih lanjut, mencakup pembedahan Bagi pasien dengan herniasi akut diskus lumbal akibat suatu trauma (misalnya, mengangkat benda berat)yang diikuti oleh nyeri hebat pada punggung dan tungkai, terapinya adalah analgetik narkotik dan OAINS. Apabila juga terdapat spame otot punggung maka pasien biasanya diberi pelemas otot. Tirah baring berkepanjangan tidak dianjurkan karena menimbulkan efek merugikan baik secara fisik maupun psikologis. Risetriset tidak dapat membuktikan manfaat tirah baring lebih dari 2 hari untuk pasien dengan nyeri punggung bawah akut, demikian juga traksi. Bagi pasien yang tidak mampu melakukan terapi fisik karena nyeri suntikan kortikosteroid kedaerah herniasi dapat sangat membantu mengendalikan nyeri selama beberapa bulan Apabila nyeri punggung sudah mereda, pasien seyogyanya memulai program olahraga bertahap untuk memperkuat otot punggung dan abdomen. Pasien perlu membatasi tidakan mengangkat barang serta menggunakan mekanika tubuh secara benar. Teknik-teknik yang benar antara lain adalah menjaga agar tulang belakang tetap tegak, menekuk lutut, dan menjaga berat badan tetap dekat dengan tubuh untuk menggunakan otototot tungkai yang kuat dan menghindari penggunaan otot punggung. Pembedahan biasanya dicadangkan bagi pasien yang mengalami nyeri rekalstran persiten atau sering mengalami serangan nyeri walaupun sudah mendapatkan terapi konservatif atau memperlihatkan suatu defisit neurologic besar, misalnya kelemahan motorik progresif akibat cedera akar saraf atau inkontinensia urine dan alvi. Prosedur yang biasanya dilakukan adalah hemilaminektomi parsial dengan eksisi diskus antarvertebra yang

15

mengalami prolapsus. Dapat dilakukan fusi spinal apabila didapatkan instabilitas mekanis tulang. Prosedur bedah lainnya adalah diskektomi bedah mikro (pengeluaran fragmen-fragmen diskus melalui sebuah insisi yang sangat kecil), dan kemonukleolisis. Yang terakhir berupa penyuntikan kemopapain (suatu enzim dari pohon papaya) kedalam diskus yang mengalami herniasi. Kimopapain menyebabkan hidrolisis protein, sehingga kapasitas protein mengikat air di nucleus pulposus berkurang. Enzim hanya menyerang nucleus pulposus dan tidak annulus fibrosus. Terapi ini meredakan tekanan pada akar saraf, secara efektif menghilangkan nyeri, dan bagi pasien merupakan alternative bagi laminektomi.

2.3

Spondilosis Spondilosis merupakan penyakit degenerative tulang belakang. Bila

usia bertambah maka akan terjadi perubahan degenerative pada tulang belakang, yang terdiri dari dehidrasi dan kolaps nucleus pulposus serta penonjolan kesemua arah dari annulus fibrosus. Anulus mengalami kalsifikasi dan perubahan hipertrofik terjadi pada pinggir tulang korpus vertebra, membentuk osteofit atau spur atau taji. Dengan penyempitan rongga intervertebra, sendi intervertebra dapat mengalami subluksasi dan menyempitkan foramin intervertebra, yang dapat juga ditimbulkan oleh osteofit. Kompresi radiks sukar dibedakan dengan yang disebabkan oleh protrusi diskus, walaupun nyeri biasanya kurang menonjol pada spondilosis. Disestesia tanpa nyeri dapat timbul pada daerah distribusi radiks yang terkena, dapat disertai kelumpuhan otot dan gangguan reflex. Terjadi penbentukan osteopit pada bagian yang lebih sentral dari korpus vertebra yang menekan medulla spinalis. Kauda equine dapat terkena kompresi pada daerah lumbal bila terdapat stenosis kanal lumbal. Gejalanya dapat berupa sindrom kauda equine dengan paraperesis, defisit sensorik pada kedua tungkai, serta hilangnya konrol sfingter. Sindrom pseudoklaudikasi

16

dapat terjadi di mana pasien dapat mengeluh nyeri punggung dan tungkai saat berdiri atau berjalan dan akan menghilang saat berbaring. Prosedur diagnostic dan terapi konservatif seperti pada penyakit diskus. Indikasi operasi juga sama yaitu adanya kompresi medulla spinalis, kelemahan otot atau nyeri yang sukar dihilangkan.

2.4 Osteoartritis Lumbal a. Definisi dan Klasifikasi Osteoartritis adalah suatu gangguan pada sendi yang bersifat kronis, berjalan progresif lambat, tidak meradang dan ditandai deteriorasi dan abrasi rawan sendi serta pembentukkan tulang baru pada permukaan sendi Osteoarthritis merupakan bentuk arthritis yang paling umum, dengan jumlah pasiennya sedikit melampaui separuh jumlah pasien artritis. Gangguan ini sedikit lebih banyak pada perempuan daripada laki-laki dan terutama ditemukan pada orang-orang yang berusia lebih dari 45 tahun Berdasarkan patogenesisnya OA dibedakan menjadi dua yaitu OA primer dan OA sekunder. Osteoartritis primer disebut juga OA idiopatik yaitu OA yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. OA sekunder adalah OA yang didasari kelainan endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, herediter, jejas mikro dan makro serta imobilisai yang terlalu lama. OA primer lebih sering ditemukan daripada OA sekunder Daerah predileksi Osteoartritis adalah daerah pergelangan tangan, panggul, lutut, leher dan tulang belakang terutama daerah Lumbosakral

b.

Etiologi Etiologi dari osteoartritis masih belum diketahui dengan pasti,

banyak faktor yang terlibat dalam kejadian kasus OA; antara lain usia/ degeneratif, herediter/genetik, trauma mekanik, obesitas. Dan peristiwa

17

apapun yang dapat merubah lingkungan atau komposisi dari kondrosit akan berpotensial menyebabkan osteoartritis.

c.

Patofisiologi Osteoartritis terjadi sebagai hasil kombinasi antara degradasi

rawan sendi, remodeling tulang dan inflamsi cairan sendi. Beberapa penelitian membuktikan bahwa rawan sendi ternyata dapat melakukan perbaikan sendiri dimana kondrosit akan mengalami replikasi dan memproduksi matrik baru. Proses perbaikan ini dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan suatu polipeptida yang mengontrol ploriferasi sel dan membantu komunikasi antar sel. Faktor ini menginduksi khondrosit untuk mensintesis deoksiribonukleat (DNA) dan protein serta kolagen serta proteoglikan. Faktor pertumbuhan yang berperan adalah insulin-like growth factor (IGF-I), growth hormone, transforming growth factor b (TGF-b) dan coloni stimulating factors (CSFs). Faktor pertumbuhan seperti IGF-I memegang peranan penting dalam proses perbaikan rawan sendi. Pada keadaan inflamasi, sel menjadi kurang snesitif terhadap efek IGF-I Faktor pertumbuhan TGF- mempunyai efek multipel pada matriks kartilago yaitu merangsang sintesis kolagen dan proteoglikan serta menekan stromelisin, yaitu enzim yang mendegradasi proteglikan, meningkatkan produksi prostaglandin E2 dan melawan efek inhibisi PGE2 oleh interleukin1 (IL-1). Peningkatan degradasi kolagen akan mengubah keseimbangan metabolisme rawan sendi. Kelebihan produk hasil degradasi matriks rawan sendi ini cenderung berkumulasi di sendi dan menghambat fungsi rawan sendi serta mengawali suatu respon imun yang menyababkan inflamasi sendi. Rerata perbandingan antara sintesis dan pemecahan matriks rawan sendi dan pemecahan matriks rawan sendi pada pasien OA kenyataannya lebih rendah dibanding normal yaitu 0,29 dibanding 1

18

d.

Manifestasi Klinik

Adapun manisfestatasi klinis dari OA yang sering ditemukan adalah: 1. Nyeri setempat Pada OA lumbal, penyempitan dari ruang intervertebra akan mengakibatkan gangguan struktur disekitarnya, baik itu vaskular, otot, dan saraf, yang dapat menyebabkan sensasi nyeri di daerah sendi yang terkena. Rasa nyeri tersebut terutama sangat dirasakan bila sendi tersebut bergerak. 2. Nyeri menjalar dan kesemutan/baal Hal ini sering terjadi pada OA lumbal, dimana penyempitan sendi intervertebra akan mengakibatkan prolapsus dari diskus lumbal yang melunak, sehingga menyebabkan penjepitan saraf (nerve entrapment). Sehingga bila terjadi pada segmen saraf posterior maka sensasi nyeri yang menjalar ke tungkai bawah dan rasa kesemutan hingga menurunnya sensibilitas dapat dikeluhkan pasien. 3. Perlunakan Sendi mungkin terasa empuk ketika di tekan dengan perlahan. 4. Kekakuan Kekakuan sendi akan sangat terasa ketika bangun dari tidur/ baring, atau dari perubahan posisi istirahat ke posisi lainnya. Kekakuan yang dirasakan kurang dari 50 menit 5. Kehilangan fleksibilitas Biasanya sendi yang terkena akan kehilangan kelenturan dalam pergerakannya, sehingga akan memperlihatkan penurunan dari derajat pergerakan sendi (range of motion). 6. Krepitasi Ketika sendi yang mengalami OA digerakkan, maka biasanya akan terdengar bunyi berderik seperti engsel pintu. 7. Pembentukan taji tulang (spur formation) Pembentukan taji tulang ini akan terasa seperti gumpalan keras yang berada di batas-batas tepi persendian.

19

e.

Diagnosis

1. Osteortritis sendi lutut: Nyeri lutut, dan

Salah satu dari criteria berikut: Usia > 50 tahun Kaku sendi < 30 menit Krepitasi atau osteofit 2. Osteoartritis sendi tangan Nyeri tangan atau kaku, dan

Tiga dari 4 kriteria berikut: Pembesaran jaringan keras dari 2 atau lebih dari 10 sendi tangan tertentu (interpalang distal 2 dan 3 kiri dan kanan, carpometacarpal 1 kiri dan kanan) Pembesaran jaringan keras dari 2 atau lebihsendi interpalang distal Pembengkakan pada kurang dari 3 sendi meracarpalpalangeal Deformitas pada 1 dari 10 sendi tangan tertentu

Osteoartritis sendi panggul Nyeri panggul, dan Minimal 2 dari 3 kriteria berikut LED <20 mm/jam

Radiologi Terdapat osteofit pada femur atau asetabulum Terdapat penyempitan celah sendi (superior, aksial dan atau medial)

Pemeriksaan Penunjang LED (pada OA inflamatif LED akan meningkat) Analisis cairan sendi Radigrafi sendi yang terserang Atroskopi

20

f.

Pengobatan & Terapi Untuk pengelolaan OA didasarkan atas distribusinya (sendi mana yang yang terkena) dan berat ringannya sendi yang terkena. Pengobatannya terdiri dari 3 hal:

1. Terapi Non-Farmakologis a. Penerangan Maksud dari penerangan adalah agar pasien mengetahui sedikit seluk beluk tentang penyakitnya, bagaimana menjaganya agar penyakitnya tidak bertambah parah serta persendiannya tetap dapat terpakai Berat badan yang berlebihan teryata merupakan faktor yang memperbesar dan memperberat keadaan OA. Aapabila berat badan berlebihan, maka harus selalu di usahakan penurunan berat badan, bila mungkin mendekati berat badan ideal.

2. Terapi Farmakologis a. Analgesik oral non opiate Pada umumnya pasien telah mencoba untuk mengobati sendiri penyakitnya, terutama dalam hal mengurangi atau mengilangkan rasa sakit. Banyak sekali obat-obatan yang di jual bebas yang mampu mengurangi rasa sakit Asetaminofen (Tylenol, dll) dapat digunakan sebagai analgesik, tetapi tidak untuk mengurangi peradangan. Terbukti cukup efektif untuk orang yang memiliki OA dengan skala nyeri ringan sampai sedang.

b. Obat anti inflamasi non sterold (OAINS) Apabila dengan cara-cara tersebut diatas tidak berhasil, pada umum nya pasien mulai datang ke dokter. Dalam hal seperti ini kita pikirkan untuk pemberian OAINS, oleh karena obat gologan ini di samping mempunyai epek analgetik juga

21

mempunyai epek anti inflamasi. Oleh karena pasien OA kebanyakan usia lanjut, maka pemberian obat-obatan jenis ini harus sangat berhati-hati. Jadi pilihlah obat yang efek samping nya minimal dan dengan cara pemakaian yang sederhana, di samping itu pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya efek samping selalu harus di lakukan.

c. Chondroprotective Agent Yang di maksud dengan chondroprotective agent adalah obat-obatan yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan (repair) tulang rawan sendi pada pasien OA. Sebagian peneliti menggolongkan obat-obatan tersebut dalam Slow acting anti osteoarthritis drugs (SAAODs) atau Disease modifying Anti osteoarthritis drugs (DMAODs). Sampai saat ini yang sampai termasuk dalam kelompok obat ini adalah: tetrasiklin, asam hialuronat, kondroitin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin-c,

superoxide dismutase dan sebagainya.

22

Daftar Pustaka
Joeono, Soeroso, dkk. Osteoartritis, Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2. Edisi 4. Jakarta. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit dalam FKUI : 2007 Mansjoer, Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Edisi 3. Jakarta. Media Aesculapius FKUI : 2001. Price, SA. & Wilson, LM. Patofisologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Vol 1. Edisi 6. Alih bahasa : Brahm U. Pendit, dkk. Jakarta. EGC : 2006. Wilardjo, H. & Martono, H. Gangguan Penglihatan dan Pendengaran pada Usia Lanjut dalam: Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Edisi 3. Jakarta. Balai Penerbit FKUI : 2004.

23