Anda di halaman 1dari 6

Penggunaan sungkup laringeal (laryngeal mask airway) pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik

Angela Peng; Kelley M. Dodson; Leroy R. Thacker; Jeannette Kierce; Jay Shapiro; Cristina M. Baldassari Tujuan penelitian: untuk membandingkan antara penggunaan sungkup laringeal (laryngeal mask airway [LMA]) dan selang endotrakeal (endotracheal tube [ETT]) pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik. Desain penelitian: suatu penelitian randomisasi prospektif Setting penelitian: rumah sakit rujukan tersier Pasien penelitian: seratus tiga puluh satu anak-anak (berusia antara 2-12 tahun). Kriteria eksklusi penelitian ini adalah indeks massa tubuh (dihitung dengan berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat) yang nilainya lebih besar dari 35 dan anomali-anomali kraniofasial. Apnea obstruktif saat tidur (obstructive sleep apnea) merupakan indikasi tersering untuk dilakukannya prosedur pembedahan. Intervensi penelitian: anak-anak yang menjalani prosedur adenotonsilektomi dirandom untuk menggunakan LMA atau ETT. Digunakan suatu protokol anesthesia yang telah distandardisasi. Hasil keluaran utama: hasil keluaran utama penelitian ini adalah kejadian laringospasme. Pengukuran kedua meliputi waktu anesthesia, waktu operasi dan waktu pemulihan. Hasil penelitian: enam puluh anak secara random dimasukkan ke dalam kelompok LMA dan sebanyak 71 anak ke dalam kelompok ETT. Tidak ada perbedaan antar kedua kelompok saat melihat usia (p=0,76), etnis bangsa (p=0,75), indeks massa tubuh (p=0,99), atau dari grading yang dibuat oleh Perhimpunan Ahli Anestesiologis Amerika (p=0,46). Insidensi dari laringospasme post-operatif antara penggunaan LMA (12,5%) dan ETT (9,6%) adalah serupa (p=0,77). Pada sebanyak 10 pasien, alat LMA diganti menjadi ETT dalam periode intraoperatif karena selang yang kusut atau ada kesulitan dengan proses visualisasi. Nilai rerata (mean [SD]) waktu operasi untuk kelompok LMA dan ETT secara berturut-turut adalah sebesar 33,35 (13,39) dan 37,76 (18,26) menit (p=0,15). Waktu dari akhir operasi hingga dilakukannya ekstubasi secara signifikan lebih pendek pada para pasien yang menggunakan LMA (p=0,01) dengan perbedaan sebesar 4,06 menit. Tidak ditemukan perbedaan (p=0,49) dalam hal waktu pemulihan unit perawatan postanestesia. Kesimpulan penelitian: suatu LMA merupakan sebuah alternatif dari alat ETT pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik. Ketika membandingkan LMA dan ETT, tidak ditemukan perbedaan dalam hal angka kejadian laringospasme. Waktu untuk ekstubasi secara signifikan lebih singkat pada para pasien yang menggunakan LMA. Sebelum mengadopsi penggunaan rutin LMA pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik, diperlukan penelitian lanjutan untuk membahas permasalahan visualisasi dan masalah kekusutan selang yang terkait dengan alat ini. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 2011;137(1):42-46 Adenotonsilektomi merupakan suatu prosedur bedah yang umum dilakukan pada pasien anak-anak. Salah satu tujuan utama dari anesthesia yang dilakukan selama pengerjaaan prosedur ini adalah untuk menciptakan dan memproteksi jalan nafas pasien. Intubasi endotrakeal merupakan sarana standar untuk mengamankan jalan nafas pada pasien-pasien anak yang menjalani prosedur adenotonsilektomi. Namun demikian, intubasi endotrakeal yang dilakukan bukan tanpa risiko. Beberapa komplikasi dari prosedur intubasi endotrakeal meliputi terjadinya trauma dan edema laryngeal, cedera pada gigi dan bibir, stimulasi kardiovaskuler dan bronkospasme. Laringospasme merupakan kejadian merugikan lain yang terkait dengan intubasi endotrakeal; insidensi laringospasme pada anak-anak berkisar antara 4% hingga 14%. Pada tahun-tahun belakangan ini, sungkup laryngeal (laryngeal mask airway [LMA]) telah digunakan dengan frekuensi yang meningkat sebagai suatu alternatif dari prosedur intubasi endotrakeal. LMA, suatu selang yang terbuat dari karet silikon yang fleksibel yang menempel pada suatu cuff bentuk oval yang dapat dikembangkan, pertama kali ditemukan di negara Inggris di tahun 1980 an. LMA dimasukkan ke dalam faring, dimana di laring selang akan membentuk suatu segel bertekanan rendah di atas pintu masuk laryng. LMA klasik memiliki suatu selang dengan diameter yang besar yang menghalangi penggunaan alat ini secara rutin dalam prosedur operasi daerah kepala dan leher. LMA fleksibel yang terbaru memiliki fitur selang yang dilengkapi dengan kawat dan ukurannya panjang dengan profil yang lebih rendah. Keuntungan dari penggunaan LMA meliputi proses memasukkan yang mudah, risiko terjadinya trauma oral dan laryng yang rendah, dan penurunan stimulus jantung dan respirasi.

LMA disetujui untuk penggunaan di negara Amerika Serikat oleh FDA (Adminsitrasi Makanan dan Obat-obatan) di Amerika di tahun 1991. Indikasi penggunaan alat ini telah diperluas untuk mengikutkan beberapa kondisi kegawatdaruratan jalan nafas dan prosedurprosedur elektif pada anak-anak. Perhatian pada terjadinya aspirasi darah dan hasil-hasil sekresi serta obstruksi dari bidang operasi telah membatasi penggunaan LMA secara luas dalam prosedur adenotonsilektomi pediatrik. Namun demikian, adanya potensi untuk terjadinya penurunan waktu anesthesia membuat alat ini menjadi suatu pilihan untuk mempertahankan jalan nafas pada prosedur adenotonsilektomi. Tujuan dari penelitian kali ini adalah untuk membandingkan penggunaan dari LMA fleksibel dengan penggunaan selang endotrakeal (endotracheal tube [ETT]) pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik. Tujuan utama adalah untuk menilai insidensi kejadian laringospasme postoperatif antara LMA dan ETT. Kami juga berkeinginan untuk membandingkan waktu anesthesia, waktu operatif dan waktu pemulihan antara kelompok LMA dan ETT. Sepengetahuan kami, penelitian ini merupakan yang pertama kali menganalisis secara prospektif besarnya komplikasi dan membandingkan waktu operatif dan waktu anesthesia antara penggunaan LMA dan ETT pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik. Metode penelitian Protokol untuk penelitian randomisasi prospektif ini telah disetujui oleh dewan review intitusional. Sebelum berpartisipasi dalam penelitian ini, persetujuan telah didapatkan dari para orangtua pasien. anak-anak yang berusia lebih dari 7 tahun juga telah memberikan persetujuannya. Para pasien direkrut dari suatu tempat praktik otolaringologi dalam suatu rumah sakit rujukan tersier dari tanggal 1 Desember 2007 hingga tanggal 31 Agustus 2009. Kami mengikutsertakan anak-anak yang berusia antara 2 hingga 12 tahun yang sedang menjalani prosedur adenotonsilektomi elektif untuk permasalahan apnea obstruktif saat tidur atau tonsillitis kronis. Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah indeks massa tubuh (Body Mass Index [BMI]; yang dihitung dari hasil bagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat) yang besarnya lebih dari 35 dan adanya berbagai anomali kraniofasial. Anak-anak dengan masalah asma dan refluks gastroesofagus juga diikutsertakan ke dalam penelitian ini. Seratus tiga puluh satu anak berhasil memenuhi kriteria inklusi. Suatu generator angka yang random digunakan untuk merandom 71 anak ke dalam kelompok ETT dan sebanyak 60 anak ke dalam kelompok LMA. Pengukuran hasil keluaran utama adalah kejadian laringospasme. Hasil keluaran sekunder meliputi kejadian merugikan perioperatif dan waktu anestesi, waktu operatif, dan waktu pemulihan. Anesthesia diberikan beradasarkan suatu prtokol yang telah distandardisasi. Para pasien mendapatkan premedikasi dengan midazolam hidroklorida oral, dengan dosis 0,5 mg/kg, hingga dosis maksimal sebesar 10 mg. Induksi inhalasional dicapai dengan pemberian sevoflurande dan oksigen. Propofol intravena (dosis 2,5-4,0 mg/kg) diberikan sebelum memasukkan LMA fleksibel atau ETT. Seperti yang direkomendasikan oleh pabrik produsennya, ukuran dari LMA ditentukan berdasarkan berat badan pasien. Fentanyl sitrat (dosis 1-2 ug/kg) dan deksametason sodium (Decadron; 0,5 mg/kg hingga dosis maksimal 10 mg) juga diberikan selama prosedur berlangsung. Pada kelompok LMA, pemeriksaan fiberoptik dari jalan nafas dikerjakan di akhir operasi untuk menilai adanya darah di dalam laring. Ekstubasi dalam atau ekstubasi dengan anestesi (lawan dari ekstubasi sadar) dikerjakan. Faktor-faktor demografis pasien, meliputi usia, jenis kelamin, etnis, dan grading Perhimpunan Ahli Anestesiologi Amerika (American Society of Anesthesiologist [ASA]), dicatat. Kami menghitung nilai BMI dan menggunakan kartu pertumbuhan berdasar BMI-untuk-usia dari Pusat untuk Kontrol dan Prevensi Penyakit untuk mengkategorikan anak ke dalam kelompok underweight (berat badan kurang), berat badan sehat, overweight (berat badan berlebih) atau obese. Tonsil pasien diukur dalam suatu grading antara 1 hingga 4 berdasarkan penilaian yang disusun oleh Brodsky. Grading tersebut dapat dirangkum sebagai berikut: grade 1 kedua tonsil menempati kurang dari setengah dari diameter transversal dari orofaring; grade 2 kedua tonsil menempati setengah dari diameter transversal, grade 3 kedua tonsil menempati lebih dari setengah diameter transversal, dan grade 4 kedua tonsil menempati seluruh diameter transversal dari orofaring (kissing tonsils [tonsil yang saling berciuman]).

Nilai pulse oksimetri, elektrokardiografi, kapnografi, dan tekanan darah sistolik dimonitor dan dicatat hasil-hasilnya pada periode perioperatif. Suatu gag (sumbat) Crowe-Davis atau gag bermulut cincin digunakan untuk menghasilkan bukaan pembedahan. Semua anak menjalani prosedur tonsilektomi menggunakan elektrokauter, sedangkan prosedur adenoidektomi dikerjakan menggunakan suatu kombinasi dari diseksi tajam dengan suatu kuret dan elektrokauter. Semua kejadian merugikan yang terjadi selama periode perioperatif dicatat, meliputi kejadian desaturasi oksigen dan laringospasme. Kami mendokumentasikan waktu anestesi, waktu operasi, dan waktu pemulihan. Waktu intubasi adalah lamanya waktu dalam hitungan menit dari mulainya pelepasan sungkup wajah (face mask) hingga masuknya LMA atau ETT. Waktu operasi dihitung sebagai lamanya waktu dalam hitungan menit dari mulainya operasi hingga selesai. Waktu anesthesia total ditetapkan sebagai lamanya dalam menit dari waktu sungkup wajah dipasang pada anak hingga keluar dari kamar operasi. Waktu ekstubasi adalah lamanya waktu dalam menit dari operasi berakhir hingga ekstubasi dilakukan. Waktu pemulihan ditetapkan sebagai waktu dari pasien datang ke unit perawatan postanestesia (postanesthesia care unit [PACU]) hingga pasien dipulangkan. Dilakukan suatu analisis power. Jumlah sampel penelitian sebesar 63 per kelompok dikalkulasi menggunakan nilai sebesar 0,05 dan power sebesar 80%, dengan mengantisipasi bahwa kejadian laringospasme akan terjadi pada sebanyak 14% anak-anak yang menjalani prosedur adenotonsilektomi. Kami menggunakan uji eksak Fisher dan uji t 2 sampel untuk menilai perbedaan-perbedaan dalam hal kejadian merugikan selama periode perioperatif dan waktu operatif serta waktu pemulihan antara kelompok LMA dan kelompok ETT. Suatu nilai p yang kurang dari 0,05 dianggap signifikan. Kecuali diindikasikan lain, data yang ada dituliskan dalam bentuk mean (SD). HASIL PENELITIAN Demografis pasien Total sebanyak 131 anak diikutsertakan dalam penelitian ini, dimana dari jumlah tersebut sebanyak 56 (42,7%) berjenis kelamin perempuan. Nilai mean (SD) dari usia anak-anak dalam seri penelitian kami berusia 5,6 (2,4) tahun. Sebagian besar pasien (60,3%) teridentifikasi etnis mereka adalah keturunan Afrika Amerika. Indikasi paling sering untuk dilakukannya operasi adalah masalah apnea obstruktif saat tidur (obstructive sleep apnea) (n=106). Asma adalah kondisi komorbid tersering yang dilaporkan dalam populasi penelitian (n=35). Hanya 2 anak dalam penelitian ini yang memiliki riwayat medis yang signifikan untuk penyakit refluks gastroesofagus. Tujuh puluh satu anak di awal penelitian dirandom ke dalam kelompok ETT, sedangkan 60 anak dirandom ke dalam kelompok LMA, namun demikian, sebanyak 12 anak di dalam kelompok LMA memerlukan dilakukannya prosedur intubasi dengan suatu ETT. Dua dari anak tersebut mengalami bronkospasme selama proses induksi sungkup dan kemudian diintubasi dengan suatu ETT atas kebijakan dari para ahli anestesi (J.K dan J.S). Pada 10 pasien sisanya, LMA diubah menjadi ETT pada periode intraoperatif karena selang yang sudah kusut dan visualisasi yang jelek. Sehingga, data dari ke 12 pasien ini dimasukkan ke dalam statistik kelompok ETT untuk laringospasme postoperatif. Dalam analisis final dari komplikasi-komplikasi postoperatif kami, terdapat 83 anak-anak di dalam kelompok ETT dan 48 anak di dalam kelompok LMA. Ke 12 pasien yang menjalani pergantian dari LMA menjadi ETT dieksklusi dari analisis waktu anesthesia total untuk menghindari terjadinya kenaikan waktu artifisial pada kelompok LMA dan ETT. Tidak ditemukan perbedaan yang bermakna secara statistik antara kelompok LMA dan ETT dalam hal usia, jenis kelamin, etnis, kategori BMI, indikasi operasi, grade tonsil, dan grade ASA (Tabel 1). Penempatan dan penentuan posisi alat Waktu intubasi dari kelompok ETT dan LMA adalah serupa (p=0,67). Nilai rerata waktu memasukkan ETT adalah 0,93 (1,41) menit, sedangkan waktu pemasangan LMA adalah selama 0,83 (0,84) menit. Tidak ada perbedaan yang signifikan (p=0,76) antara kelompok LMA dan ETT dalam hal jumlah usaha intubasi yang diperlukan untuk mengamankan jalan nafas. Tiga komplikasi terkait dengan penempatan ETT berhasil diidentifikasi. Satu anak teramati menglami abrasi bibir sesudah dilakukan intubasi. Satu prosedur ETT memerlukan penggantian karena adanya kekusutan ketika mulut gag telah terbuka. Pasien ketiga mengalami kejadian laringospasme selama usaha dilakukan intubasi dengan sebuah ETT.

Di kelompok LMA, tidak ada komplikasi yang terkait dengan usaha memasukkan alat. Kompresi selang LMA yang mencegah terjadinya ventilasi yang adekuat adalah permasalahan yang paling sering terjadi. Kekusutan selng LMA terjadi pada sebanyak 15 anak ketika gag mulut telah terbuka. Pada sebanyak 7 pasien, obstruksi dari LMA mengalami perbaikan sesudah gag mulut direposisi. Kedelapan pasien yang lain memerlukan penggantian LMA menjadi ETT secara intraoperatif. Pada sebanyak 45 pasien (93,8%), LMA menyediakan akses operasi yang adekuat. Namun demikian, visualisasi yang jelek dari bidang operasi memerlukan penggantian LMA menjadi ETT pada sebanyak 3 pasien. (pada 1 anak, LMA diganti karena visualisasi yang jelek dan alat yang kusut.) Sehingga, LMA digantikan dengan intubasi endotrakeal pada total sebanyak 10 anak karena adanya obstruksi atau paparan yang tidak adekuat. Faktor-faktor pasien, seperti misalnya kategori BMI dan grade tonsil, tidak berkorelasi dengan apakah LMA diganti menjadi suatu ETT. Yang menarik, kondisi overweight dan anak-anak obese (p=0,99) dan anak dengan tonsil grade 4 (p=0,37) bukan merupakan predisposisi terjadinya kegagalan LMA. Suatu laringoskop fiberoptik yang fleksibel dimasukkan melalui LMA di akhir pengerjaan prosedur adenotonsilektomi pada sebanyak 48 pasien. Darah teramati di dalam pintu masuk laring hanya pada satu kasus. Pasien tersebut tidak mengalami laringospasme atau desaturasi post ekstubasi. Pada lebih dari setengah pasien (n=25), pandangan fiberoptik dari plika vokalis sebagian tertutup oleh epiglottis yang mengalami gangguan posisi. Epiglottis memblok secara lengkap pandangan fiberoptik dari plika vokalis pada satu pasien. Namun demikian, tidak ada permsalahan dengan ventilasi selama dilakukannya prosedur adenotonsilektomi pada anak tersebut. Waktu anesthesia, waktu operatif, dan waktu pemulihan Waktu operasi antara kelompok ETT dan LMA tidak berbeda secara bermakna (p=0,15) (Tabel 2). Ketika kami membandingkan antara kelompok ETT dan LMA, waktu ekstubasi untuk para pasien yang menggunakan LMA secara signifikan lebih pendek sebesar 4,06 menit. Waktu anestesi total pada kelompok ETT dan LMA secara berturut-turut adalah sebesar 67,72 (19,88) dan 73,80 (22,59) menit. Meskipun terdapat suatu kecenderungan waktu anestesi yang lebih singkat pada kelompok LMA, perbedaan ini tidak mencapai signifikansi statistic (p=0,14). Waktu pemulihan PACU adalah serupa antara kedua kelompok pasien anak (p=0,49). Komplikasi perioperatif Delapan dari 83 anak (9,6%) dari kelompok ETT dan 6 dari 48 anak (12,5%) dari kelompok LMA mengalami laringospasme post operatif. Perbedaan ini tidak bermakna secara statistik (p=0,77). Delapan belas anak dalam penelitian ini mengalami desaturasi oksigen dan/atau obstruksi di dalam ruang PACU yang memerlukan dilakukannya suatu intervensi. Beberapa intervensi yang dikerjakan meliputi terapi dengan albuterol sulfat yang dinebulisasi atau epinefrin rasemik, chin lift, oksigen tambahan, atau pemasangan trumpet nasal. Tidak ada anak yang membutuhkan dilakukannya re-intubasi. Dua belas anak dalam kelompok ETT mengalami suatu episode desaturasi atau obstruksi di dalam PACU dibandingkan jumlahnya sebanyak 6 anak pada kelompok LMA (p=0,99). Penggunaan LMA versus ETT tidak mempengaruhi angka kejadian laringospasme atau kejadian merugikan perioperatif. Terlebih lagi, faktor-faktor seperti usia, indikasi operasi, riwayat asma, grade ASA, kehilangan darah saat operasi, dan BMI tidak mempengaruhi angka ekjadian laringospasme post operatif pada populasi pasien ini (Tabel 3). KOMENTAR PENELITIAN Manajemen jalan nafas selama dilakukannya prosedur adenotonsilektomi dapat menajadi sangat menantang. Para ahli anestesi dan ahli bedah harus saling berbagi jalan nafas pasien dan menjaganya agar bebas dari darah dan hasil sekresi. Bila dibandingkan dengan prosedurprosedur bedah yang lain pada pasien anak, adenotonsilektomi memiliki angka kejadian laringospasme yang paling tinggi. Intubasi endotrakeal telah menjadi standar untuk anestesi general. Namun demikian, LMA merepresentasikan suatu metode alternatif untuk mengamankan jalan nafas selama dilakukan prosedur adenotonsilektomi pediatrik. Mudahnya pemasangan dan stimulus yang minimal terhadap respon kardiak dan respon respirasi merupakan beberapa keuntungan dari LMA yang membuat alat ini ideal untuk prosedur elektif singkat pada pasien anak-anak.

Penggunaan LMA untuk prosedur adenotonsilektomi sudah dilakukan secara luas di negara Kanada dan Eropa. Pada tahun 1993, Webster et al., melakukan suatu penelitian pada sebanyak 109 anak untuk menilai kesesuaian penggunaan LMA untuk anestesi selama dilakukan prosedur adenotonsilektomi pediatrik. Meskipun angka kejadian laringospasme adalah serupa pada kelompok ETT dan LMA, anak-anak di dalam kelompok LMA secara signifikan lebih jarang mengalami stridor sesudah prosedur dikerjakan. Kebutuhan untuk diberikannya suatu ventilasi dengan bantuan selama prosedur dikerjakan menurun pada kelompok LMA. Williams dan Bailey mempublikasikan suatu serial penelitian yang melibatkan sebanyak 100 pasien (dewasa dan anak-anak) yang telah dimasukkan untuk mendapatkan ETT atau LMA selama prosedur adenotonsilektomi. Tidak ada perbedaan dalam hal kejadian laringospasme antara kedua kelompok. Namun demikian, para penulis menyimpulkan bahwa pemulihan lebih banyak benarbenar terjadi pada kelompok LMA, dengan kejadian obstruksi jalan nafas yang secara signifikan lebih sedikit dan penerimaan jalan nafas yang lebih baik bila dibandingkan dengan ETT. Penelitian randimosisasi prospektif kali ini mendemonstrasikan bahwa LMA merupakan suatu alternatif yang aman untuk menggantikan ETT pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik. LMA tidak berinterferensi dengan akses operasi, dan alat ini menyediakan proteksi yang adekuat bagi jalan nafas. Kelompok ETT dan LMA memiliki angka kejadian laringospasme postoperatif dan desaturasi yang sama. Berbagai faktor demografis pasien, seperti misalnya usia, indikasi operasi, kategori BMI, dan grade ASA tidak mempengaruhi kejadian laringospasme dan desaturasi. Namun demikian, jumlah anak dengan penyakit penyerta yang terus berproses pada populasi penelitian kami adalah kecil. Penelitian-penelitian lanjutan sebaiknya mengikutkan pasien dengan kondisi komorbid dalam jumlah besar yang memiliki predisposisi terjadinya laringospasme dan bronkospasme, seperti misalnya pada penyakit asma dan refluks gastroespfagus. Ada kemungkinan bahwa LMA menawarkan suatu kelebihan dibandingkan ETT pada kelompok pasien terpilih ini karena LMA dapat menurunkan stimulasi refleks jalan nafas atas. Memperbaiki efisiensi di dalam kamar operasi telah menjadi suatu fokus utama bagi para administrator-administrator rumah sakit selama dekade terakhir ini. Hasil-hasil kami menunjukkan bahwa LMA lebih efisien dibanding ETT pada prosedur adenotonsilektomi. Waktu antara selesainya operasi hingga ekstubasi secara signifikan lebih pendek pada kelompok LMA yaitu sebesar 4,06 menit. Waktu anestesi total (waktu dari pemasangan sungkup wajah untuk inhalasi induksi hingga keluar dari kamar operasi) adalah lebih pendek pada kelompok LMA sebesar 6,08 menit. Namun demikian, perbedaan ini tidak mencapai signifikansi klinis (p=0,14). Performa dari laringoskopi fiberoptik fleksibel di penutup prosedur dapat meningkatkan lama waktu ekstubasi dan waktu anestesi total pada kelompok LMA. Sebagai tambahan, seringnya penyesuaian dan pengubahan dari LMA karena kekusutan selang dapat memanjangkan waktu anestesi total. Tampaknya waktu anesthesia untuk kelompok LMA akan secara signifikan lebih singkat dibanding nilainya pada kelompok ETT jika penyesuaian alat dapat dihindari. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Joshi et al., kebutuhan pemberian narkotik intraoperatif dan durasi waktu yang dihabiskan di dalam kamar PACU secara signifikan lebih sedikit pada para pasien yang menggunakan LMA bila dibandingkan dengan ETT. Namun demikian, pada penelitian kami, waktu pemulihan PACU untuk kelompok LMA dan ETT adalah serupa. Suatu penjelasan yang memnugkinkan untuk terjadinya hasil ini melibatkan proses standardisasi dari protokol anestesi kami. Anak-anak di dalam kelompok LMA dan ETT mendapatkan dosisi narkotik yang sama beradasarkan berat badan. Terdapat suatu kemungkinan bahwa anak-anak di dalam kelompok LMA mungkin memerlukan narkotik yang lebih sedikit, yang berakibat pada pemulihan PACU yang lebih singkat. Permasalahan tersering yang berkaitan dengan penggunaan LMA pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik adalah terjadinya obstruksi dari selang ketika gag mulut telah terbuka. Webster et al., melaporkan suatu hasil temuan yang serupa pada sebanyak 10 pasien yang mengalami obstruksi saat pembukaan gag. Para penulis berkesimpulan bahwa obstruksi terjadi kemungkinan karena kedalaman anestesi yang tidak adekuat dengan hasilnya ialah terjadinya refleks penutupan laring. Berdasarkan pengalaman kmai, selang LMA teramati akan kink dengan pembukaan gag. Kami memiliki hipotesis bahwa kompresi mekanis dari selang alat ini adalah penyebab terjadinya obstruksi. Potensi lain yang dapat menyebabkan terjadinya obstruksi melibatkan kesalahan letak dari epiglottis oleh LMA ketika gag mulut sudah terbuka.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk membahas etiologi dari obstruksi LMA dan untuk mengidentifikasi berbagai strategi untuk mencegah kejadian ini. Suatu skope fiberoptik harus dimasukkan melalui LMA dengan gag mulut yang masih bertaut untuk menentukan apakah kekusutan dari selang atau salah letak dari epiglottis yang berperan dalam terjadinya obstruksi. Kami tidak menstandardisasikan tipe gag mulut yang digunakan dalam penelitian ini. Ada kemungkinan bahwa obstruksi LMA berkorelasi dengan penggunaan gag Crowe-Davis atau gag mulut cincin. Terlebih lagi, ukuran dari gag mulut dan LMA dapat berkontribusi dalam terjadinya kinking alat. Penggunaan blade gag mulut yang lebih kecil dan selang LMA yang lebih kecil dapat menurunkan angka ekjadian obstruksi. Dalam pengalaman anekdotal kami, penggunaan LMA dengan setengah ukuran yang lebih kecil berhubungan dengan perbaikan akses operasi dan penurunan kejadian obstruksi. Hal ini, sepengetahuan kami, merupakan usaha pertama yang secara prospektif membandingkan antara LMA dan ETT dalam kaitannya dengan kejadian merugikan perioperatif dan operatif, anesthesia, dan waktu pemulihan dalam prosedur adenotonsilektomi pediatrik. Kekuatan dari proyek ini adalah populasi penelitian yang besar dan subjek yang sangat divergen dan desain penelitian yang melibatkan suatu protokol anesthesia yang telah terstandardisasi. Terdapat beberapa keterbatasan dari penelitian ini. Proyek ini dilakukan pada suatu pusat perawatan medis tersier. Sehingga, hasil-hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan ke dalam suatu setting rumah sakit komunitas atau dalam suatu pusat pembedahan rawat jalan. Sebagai tambahan, para ahli anestesiologi yang ikut berpartisipasi dalam penelitian ini telah mendapatkan pelatihan tambahan di bidang pediatrik dan telah berpengalaman dalam penggunaan LMA bagi anak-anak. Yang terakhir, penelitian lanjutan diperlukan untuk menentukan penghematan biaya pada penggunaan LMA versus ETT pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik. Sebagai kesimpulan, suatu LMA fleksibel merupakan suatu alternatif yang efisien dari penggunaan ETT pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik. Dalam suatu perbandingan antara LMA dan ETT, tidak ada perbedaan dalam hal kejadian laringospasme dan desaturasi post operatif, dan waktu ekstubasi secara signifikan lebih singkat pada para pasien yang menggunakan LMA. Sebelum mengadaptasi penggunaan secara rutin dari LMA pada prosedur adenotonsilektomi pediatrik, penelitian lanjutan diperlukan untuk membahas masalah obstruksi dan kekusutan yang terkait dengan alat ini. Sementara itu, intubasi endotrakeal masih merupakan alat standar untuk mengamankan jalan nafas pada anak-anak yang menjalani prosedur adenotonsilektomi.