Anda di halaman 1dari 9

.

Pendahuluan

Dewasa ini, banyak generasi muda kita kurang berminat dan menaruh respek terhadap kebudayaan sendiri. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya perhatian dan kegemaran terhadap kesenian wayang, padahal kesenian wayang sebagai hasil kreasi bangsa Indonesia sendiri, banyak berperan dalam kehidupan masyarakat. Baik sebagai media hiburan, pendidikan ataupun sebagai sarana penyampaian informasi (lihat Mertosedono 1993). Agaknya masih lebih baik nasib kesenian batik kita, yang kembali dihidupkan. Tua-muda, besar-kecil, lelaki maupun perempuan merasa bangga dalam memakai batik. Batik kemudian menjelma menjadi sebuah busana yang dapat dipakai siapa saja tidak mengenal suku, ras dan agama. Banyak diantara kita tidak memahami wayang kulit, ba dari segi bentuk dan karakter setiap ik tokohnya serta cerita yang melatarbelakanginya. Oleh karena itu, perlu adanya pengenalan terhadap warisan budaya kita sendiri. Sebuah pepatah menyatakan tak kenal maka tak sayang, maka untuk lebih menyayangi wayang kulit perlu adanya pengenalan yang lebih mendalam terhadap kesenian wayang kulit. Akan sangat menarik apabila kecintan kepada budaya kita sendiri, khususnya kesenian wayang kulit dimulai sejak dini (Bambang 1995) . Wayang kulit merupakan kesenian warisan leluhur bangsa Indonesia yang telah bertahan berabadabad lamanya dengan mengalami perubahan, pergeseran, perkembangan, penambahan dan penyempurnaan, yang disesuaikan dengan perubahan dalam pemerintahan, politik, sosialbudaya dan kepercayaan, sejalan dengan dengan perubahan yang terjadi dalam pikiran manusia dan teknologi yang mendorong manusia untuk lebih maju dan kreatif lagi. Wayang kulit tidak lagi difokuskan pada upacara ritual dan keagamaan, namun telah beralih ke hiburan dengan mengutamakan inti cerita dan berbagai macam pengetahuan, filsafat hidup, nilai-nilai budaya, dan berbagai unsur seni (periksa Sunaryo 2007). Kecerdasan menurut Renggani (2007), secara umum dipahami pada dua tingkat yakni: Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran.Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah -masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Kecerdasan adalah pemandu bagi kit untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara a efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. . Dalam Sandra (2007) menyatakan bahwa, tingkat intelektual seorang anak sering diartikan sebagai nilai yang dicapainya dalam sebuah tes atau peringkat yang diraihnya di sekolah, hal ini yang menentukan seorang anak disebut cerdas ataupun tidak. Kecerdasan intelektual ini biasanya diukur dengan tes yang dikenal sebagai tes IQ. Berdasarkan hasil tes IQ tersebut seorang anak akan mendapat label sebagai anak yang pintar atau bukan. Biasanya, ada nilai dari beberapa mata pelajaran tertentu yang dipercaya secara signifikan berkorelasi dengan kecerdasan anak tersebut, yaitu mata pelajaran yang bersifat eksakta. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengagungkan kelompok mata pelajaran tersebut dan mengira bahwa anak -anak yang mampu dan menguasai bidang ilmu eksakta lebih cerdas ketimbang anak-anak yang menggeluti bidang ilmu lainnya. Agaknya perlu diluruskan kenbali pedapat orang tua tersebut.

Dr. Howard Gardner seorang psikolog terkemuka dari Harvard University, menemukan bahwa sebenarnya manusia memiliki beberapa jenis kecerdasan yang memungkinkan setiap manusia untuk menguasai berbagai macam hal. Gardner menyebutnya dengan kecerdasan Majemuk (multipleintelegence), kedelapan kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik -verbal, kecerdasan spasial, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan kinetis, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan natural. Kesemua bentuk kecerdasan tersebut haruslah dimiliki setiap anak agar seorang anak tidak hanya pandai dalam bidang akademik saja melainkan pandai dalam segala bidang. Akantetapi pada prakteknya kebanyakan orang tua menuntut anaknya haruslah cerdas secara logis-matematis saja, dengan menghiraukan ketujuh komponen kecerdasan lainnya. Berdasar rumusan diatas terdapat berbagai permasalahan antara lain Apakah kesenian wayang kulit dapat digunakan sebagai sarana pendidikan? Adakah relevansi antara pengenalan kesenian wayang sejak usia dini dengan pengembangan kecerdasan majemuk dan pelestarian budaya? Bagaim anakah wayang dapat digunakan sebagai pengembang kecerdasan majemuk? II. Kesenian Wayang kulit sebagai Sarana Pendidikan

Dalam Anneahira, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Mendidik adalah kegiatan memberi pengajaran, membuat seorang memahami, dan dengan pemahaman yang dimiliki peserta didik dapat mengembangkan potensi diri dengan menerapkan apa yang dipelajari. Tilaar dalam Martono (2009) mengatakan bahwa pendidikan nasional dewasa ini telah tepisah dari kebudayaan, baik kebudayaan daerah maupun kebudayaan nasional. Dalam konteks pendidikan yang mengacu pada pentingnya potensi budaya dan lingkungan setempat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) maka pendidikan haruslah mengangkat potensi budaya daerah setempat sebagai sumber belajar. Dengan pembelajaran yang berbasis daerah setempat maka pendidikan dalam kerangka untuk mengembangkan apresiasi peserta didik, pelestarian dan pengembangan seni budaya setempat. Sesunguhnya pendiddikan adalah proses sosialisasi, inkulturasi, dan internalisasi yang harus dilakukan melalui pembelajaran untuk membangun apresiasi dan kreasi peserta didik. Pembelajaran apresiasi seni tradisi dapat dilakukan dengan sosialisai, enkulturasi, dan internalisasi nilai-nilai seni pada peserta didik (Lihat Martono 2009). Kesenian wayang kulit merupakan gabungan dari berbagai cabang seni yang berbaur menjadi satu kedalam sebuah seni pertunjukan. Menyangkut didal mnya terdapat aspek-aspek seni rupa, a seni musik (karawitan), seni tari, dan seni sastra. Dari kesemua unsur seni yang ada dalam kesenian wayang kulit, dapat dijadikan sebuah media pendidikan dan pengajaran yang menarik sebangai sebagai sarana pengembangan kecerdasan anak.

Kita dapat mempelajari seni rupa melalui perbentukan wayang kulit, kita dapat belajar seni musik melalui alunan gamelan pengiring pertunjukan wayang, kita dapat belajar sastra melalui cerita pewayangan, kita dapat belajar sejarah melalui wayang, dan banyak sekali ilmu yang dapat kita ambil dalam kesenian wayang.

III. Relevansi Pengenalan Kesenian Wayang Kulit Sejak Usia Dini dengan Pengembangan Kecerdasan majemuk (multiple-intellegence) dan Pelestarian Budaya Dr. Howard Gardner dalam Lwin (2008), seorang psikolog terkemuka dari Harvard University, dalam bukunya Frames of Mind : The theory of Multiple Intellegences, menemukan bahwa sebenarnya manusia memiliki beberapa jenis kecerdasan. Howard menyebutnya sebagai kecerdasan majemuk atau multiple intelligence. Pada awalnya Dr. Howard gardner menemukan tujuh komponen kecerdasan, namun dalam perkembangan selanjutnya, ia berhasil menemukan satu kecerdasan lagi. Sehingga sampai hari ini diperkirakan setiap manusia memiliki delapan jenis kecerdasan. Antara lain: 1. Kecerdasan Linguistik-verbal (word smart).

Kecerdasan linguistik verbal (kemampuan berbahasa) mengacu pada kemampuan berfikir dan mengungkapkan pendapat dengan kata-kata secara efektif seperti dalam berbicara, membaca, dan menulis. Kecerdasan linguistik-verbal berkaitan dengan kemampuan untuk menggunakan bahasa untuk mendeskripsikan kejadian, membangun kepercayaan dan kedekatan, mengembangkan argumen logika dan retorika, atau mengungkapkan ekspresi dan metafora. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan linguistik antara lain wartawan, reporter, tenaga penjual, penyair, copywriter, penulis dan pengacara. Pada masa sekarang ini kemampuan bicara merupakan aspek penting yang digunakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari, karena orang cenderung menilai orang lain dari dari cara mereka berbicara dan menulis. 2. Kecerdasan Logis-Matematis (logic smart) Kecerdasan matematis-logis dalam Armstrong (2005) adalah kemampuan yang berkaitan dengan logika, bilangan, perhitungan (mengolah angka), dan pola pemikiran logis yang bersifat ilmiah. kemampuan menggunakan angka-angka untuk menghitung dan mendeskripsikan sesuatu, menggunakan konsep matematis, menganalisa berbagai permasalahan secara logis, menerapkan matematika pada kehidupan sehari-hari, peka terhadap pola tertentu, serta menelaah berbagai permasalahan secara ilmiah. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan logika matematika antara lain akuntan, ahli statistik, insinyur, penemu, pedagang, dan pembuat program komputer 3. Kecerdasan Visual-Spasial (picture smart) Kecerdasan visual spasial adalah kemampuan untuk melihat dengan tepat gambaran visual di sekitar mereka. Memperhatikan secara rinci yang mungkin tidak diperhatikan orang lain. Dalam Armstrong (2005) menyatakan bahwa kecerdasan inimelibatkan kamampuan untuk mengvisualisasikan gambar dalam kepalaseseorang atau meniptakanya dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Seorang seniman memiliki kecerdasan ini dalam tingkat tinggi.

4. Kecerdasan Musikal (music smart) Kecerdasan irama-musik adalah kemempuan untuk menyimpan nada dalam benak seseorang, untuk mengingat irama dan secara emosional terpengaruh oleh musik. Berkaitan dengan kemampuan untuk mengerti dan mengembangkan teknik musikal, mer espon terhadap musik, menggunakan musik sebagai sarana untuk berkomunikasi, menginterpretasikan bentuk dan ide musikal, dan menciptakan pertunjukan dan komposisi yang ekspresif. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan musikal antara lain guru musik, pembuat instrumen atau alat musik, pemain band atau konduktor, DJ, kritikus musik, kolektor musik, pencipta lagu atau penyanyi. 5. Kecerdasan Kinestetis (body smart) Kecerdasan kinestik memungkinkan manusia membangun hubungan penting antara pikiran dan tubuh, dengan demikian memungkinkan tubuh untuk memanipulasi obyek dan menciptakan gerakan.untuk mencapai segala tujuan yang diinginkan. Kecerdasan inestetis berkaitan dengan ketrampilan psikomotor, menggabungkan interpretasi mental dengan tanggapan fisik yaitu kemampuan untuk menggunakan seluruh atau sebagian dari tubuh untuk melakukan sesuatu, membangun kedekatan untuk mengkonsolidasikan dan meyakinkan serta mendukung orang lain, dan menggunakannya untuk menciptakan bentuk ekspresi baru. Beber pa jenis pekerjaan yang a membutuhkan kecerdasan ini antara lain mekanik, pelatih, pengrajin, atlet, aktor, penari atau koreografer. 6. Kecerdasan Interpersonal (people smart) Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Kecerdasan ini memungkinkan kita untuk memahami dan memperkirakan perasaan orang lain, tempramen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain kemudian menanggapinya secara layak. Kecerdasan inilah yang memungkinkan untuk membangun kedekatan, pengaruh, pimpinan dan membangun hubungan dengan masyarakat. Kecerdasan intrapersonal bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir melainkan merupakan sesuatu yang harus dikembangkan melalui pembinaan dan pengajaran. Berkaitan dengan kemampuan untuk mengorganisasikan orang lain dan mengkomunikasikan secara jelas apa yang perlu dilakukan, berempati kepada orang lain, membedakan dan menginterpretasikan berbagai jenis komunikasi dengan orang lain, dan memahami intensi, hasrat, dan motivasi orang lain. Beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan kecerdasan interpersonal antara lain manajer, politisi, pekerja sosial, pemimpin, psikolog, guru atau konsultan. 7. Kecerdasan Intrapersonal (self smart) Kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan mengenai diri sendiri, memahami diri se ndiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Seseorang yang cerdas secara intrapersonal cenderung menjadi seorang pemikir, terus-menerus melakukan penilaian diri. Mereka selalu bersentuhan dengan pemikiran, gagasan dan impian. Hal ini berdampak p ada kemampuan mereka dalam mengarahkan emosi mereka sendiri untuk memperkaya dan membimbing kehidupan mereka sendiri.

Orang-orang yang cerdas secara intrapersonal memiliki keyakinan diri dan kemandirian yang tinggi. Mereka adalah individu-individu yang sangat termotivasi, teguh dalam mengambil keputusan dan tegas dalam memimpin. Kecerdasan interapersonal juga berkaitan dengan Kemampuan untuk menilai kekuatan kelemahan, bakat, ketertarikan diri sendiri serta menggunakannya untuk menentukan tujuan, menyusun dan mengembangkan konsep dan teori berdasarkan pemeriksaan ke dalam diri sendiri, memahami perasaan, intuisi, temperamen, dan menggunakannya untuk mengekspresikan pandangan pribadi. Beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan kecerdasan ini antara lain perencana, pemuka agama, atau ahli filosofi. 8. Kecerdasan Naturalis (nature smart) Kecerdasan naturalis melibatkan kemampuan mengenali bentuk -bentuk alam sekitar kita, mencakup kepekaan terhadap bentuk-bentuk alami lain.

Setiap manusia memiliki semua jenis kecerdasan tersebut, namun hanya ada beberapa yang dominan atau menonjol dalam diri seseorang. Untuk menjadi benarbenar cerdas maka setiap manusia harus menguasai kedelapan kecerdasan tersebut. Meskipun sangat jarang seseorang untuk unggul dalam delapan kecerdasan tersebut. Dalam konteks pelestarian budaya, ketika kesenian wayang meresap sedini mungkin kepada anak, membuat anak mengenal kesenian wayang sejak usia sekolah akan menumbulkan rasa cinta dan memiliki terhadap budaya sendiri, khususnya kesenian wayang kulit. Secara tidak langsung pelestarian budaya yang ingin dicapai bukanlah sebuah target utama. Mengembangkan kecerdasan majemuk anaklah yang menjadi tujuan dalam pembelajaran melalui kesenian wayang, sedangkan pada akhirnya kelak pelestarian buday menjadi sebuah efek tambahan yang dihasilkan melalui a pengenalan kesenian wayang.

IV.

Kesenian Wayang Kulit Digunakan sebagai pengembang kecerdasan majemuk

Kebanyak orang tua saat ini menekankan bahwa seorang anak haruslah unggul secara akade mik. Selalu mendapatkan nilai tertinggi, masuk ke dalam sekolah terbaik, mendapatkan beasiswa dan kuliah di universitas yang paling bergengsi. Hal ini dapat dimaklumi karena kebanyakan orang tua meyakini keberhasilan akademis merupakan kunci bagi keberhasilan anak dalam hidup. Akan tetapi kebanyakan orang berhasil dalam hidupnya bukanlah orang yang selalu mendapat nilai A di sekolah. Menurut Renggani (2007) menyatakan bahwa pada kenyataannya, kita tidak bisa mengingkari bahwa sangat sedikit orang-orang yang sukses di dunia ini yang menjadi juara di masa sekolah. Bill Gates (pemilik Microsoft), Tiger Wood (pemain golf) adalah beberapa dari ribuan orang yang dianggap tidak berhasil di sekolah tetapi menjadi orang yang sangat berhasil di bidangnya. Oleh karena itu kemampuan akademis bukanlah segalanya untuk dapat sukses dalam menjalani hidup (periksa May Lwin 2008).

Penggunaan media wayang kulit sebagai pengembang kecerdasan majemuk 1. Kecerdasan Linguistik-vebal

Anak-anak dengan tingkat kecerdasan linguistik tinggi sangat gemar menulis, membaca dan berbicara. Biarkan mereka berdiskusi mengenai buku atau sesuatu yang mereka baca. Untuk memperkaya kosa kata mereka, berikan permainan kata seperti Scrabble. Mengacu pengembangan kecerdasan linguistik-verbal melalui penggunaan wayang kulit adalah dengan memberikan dongeng cerita pewayangan dengan memberikan pemahaman karakter setiap tokohnya kepada anak. Seorang anak biasanya menyukai dongeng, dengan membacakan seorang anak sebuah cerita akan menambah kosakata-verbal anak sehingga kemampuan linguistik-verbalnya akan meningkat setelah menimbulkan ketertarikan anak maka dimulailah penanaman nilai nilai baik dan buruk terhadap anak. Secara tidak langsung pelestarian wayang melalui pengenalan wayang kulit dapat terl ksana. a 2. Kecerdasan Logis-Matematis

Untuk mengembangkan kecerdasan logis-matematis anak dapat dilakukan dengan cara mendukung mereka untuk ikut dalam kegiatan yang banyak membutuhkan kemampuan menyelesaikan masalah dan berpikir kritis dan logis misalnya kegiatan ekstrakurikuler catur atau klub robotik. Beberapa permainan yang bisa mengembangkan kecerdasan ini adalah catur, puzzle, dan sebagainya. Dalam konteks pengembangan kecerdasan logis-matematis melalui kesenian wayang dapat dilakukan dengan cara memberikan analisis-analisis mengenai kesenian wayang, mengenai cerita, perbentukan wayang maupun koponen pendukung dalam pagelaran kesenian wayang. Dengan membiasakan memberikan permainan analisis kepada anak, dapat merangsang kemampuan logis -matematisnya. 3. Kecerdasan Visual-spasial

Berikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan imajinasi mereka melalui melukis, menggambar, mewarnai, dan kegiatan sejenis dengan memanfaatkan obyek wayang kulit. Pengembangan kreativitas anak cara dengan mendorong mereka untuk merancang bentuk-bentuk baru dalam gambar dan sebagainya. Beberapa permainan yang mendukung kecerdasan visual spasial adalah Lego dan permainan meyusun balok. Dalam konteks pengembangan kecerdasan visual spasial melalui kesenian wayang selain dapat dilakukan melelui menggambar dengan memanfaatkan obyek wayang kulit juga dapat dilakukan melalui penggunaan alat peraga yang berupa wayang kulit itu sendiri, dengan pengenalan obyek-obyek visual baru pada anak dapat meningkatkan kecerdasan anak secara visual. 4. Kecerdasan Musikal

Dalam mencerdaskan anak secara musikal dapat ditempuh dengan berbagai cara. Antara lain, dengan memiliki salah satu jenis alat musik di rumah dan daftarkan ia ke dalam kursus musik, Perdengarkan berbagai jenis alat musik dan Ajak mereka untuk mengarang lagu sederhana. Dalam konteks pengembangan kecerdasan musikal melalui kesenian wayang dapat dilakukan dengan memperdengarkan alunan musik gamelan itu sendiri, penelitian membuktikan bahwa dengan mendengarkan musik klasik dapat menambah kecerdasan anak.

5.

Kecerdasan Kinestetis

Untuk mengembangkan jenis kecerdasan ini, beri dukungan dan motivasi mereka untuk bergabung dalam tim olahraga di sekolah. Ajak mereka untuk melakukan kegiatan olahraga seperti berenang atau bagi mereka yang suka menari daftarkan mereka ke dalam sangar tari. Dalam konteks pengembangan kecerdasan kinestis melalui kesenian wayang dapat dilakukan dengan cara memberikan motivasi kepada anak agar menyukai olahraga , menari ataupun ketrampilan bergerak lainya dengan memberikan pemahaman tentang tokoh wayang dengan menjadikan tokoh wayang sebagai tokoh idola seperti Arjuna yang pandai memanah walaupun Arjuna seorang lelaki dia pandai menari, Bima mempunyai badan yang besar, mempunyai kekuatan fis kemanapun Bima pergi ik, selalu berjalan kaki akan menanamkan gaya hidup sehat kepada anak agar menyukai olahraga. Secara tidak langsung akan memotivasi anak untuk menyukai kegiatan yang bersifat bergerak. 6. Kecerdasan Interpersonal

Secara umum, anak-anak dengan kecerdasan interpersonal tinggi akan dengan senang hati mengikuti semua kelompok kegiatan di dalam dan luar sekolah serta mudah berteman dimanapun ia berada. Anda dapat mendorongnya untuk menunjukkan perilaku yang baik dalam berteman. Namun ingatlah bahwa orang tua adalah contoh terdekat bagi anak anda. Jika menginginkan anak bersikap sopan, maka orang tua pun harus bersikap yang sama, mereka akan mendengarkan pendapat orang tua jika orang tua juga mau mendengarkan mereka. Dalam konteks pengemb angan kecerdasan interpersonal melalui kesenian wayang dapat dilakukan melalui filsafat hidup dan nilai-nilai budaya yang terkandung kesenian wayang kulit itu sendiri, kesenian wayang kulit yang syarat tuntunan moral dan budi pekerti akan menjadi sebuah acuan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak. Atau dengan cara memberikan motivasi melalui pemberian model menggunakan tokoh wayang seperti Kresna ataupun Arjuna yang dipandang memiliki kecerdasan interpersonal tinggi. 7. Kecerdasan Intrapersonal

Karena kecerdasan interpersonal berkaitan dengan memotivasi diri sendiri dalam konteks pengembangan kecerdasan intrapersonal melalui kesenian wayang dapat dilakukan dengan cara memberikan penanaman sifat keuletan dan pantang menye dengan menceritakan kisah tokoh rah dunia pewayangan tentang keuletan Bima. Sesulit apapun ujian yang ditempuh, Bima tetap teguh dan sabar. Hal ini diharapkan dapat memotivasi anak agar mempunyai sifat teguh, ulet dan pantang menyerah. 8. Kecerdasan natural

Dalam konteks pengembangan kecerdasan natural melalui kesenian wayang dapat dilakukan dengan cara mengenalkan konsep-konsep kecintaan terhadap alam dalam kesenian wayang.

Pengembangan kecerdasan majemuk dengan media pengenalan kesenian wayang kult dapat i dilakukan dengan cara menonton secara langsung pertunjukan kesenian wayang kulit itu sendiri, dengan didampingi oleh orang tua ataupun guru atau dengan media yang lebih disukai anak -anak yaitu dengan buku cerita bergambar dengan tetap menggunakan media wayang kulit itu sendiri bertujuan untuk mengenalkan secara nyata mengenai perbentukan wayang kulit. Sedangkan buku cerita merupakan alternatif yang dapat digunakan sebagai media pengenalan kesenian wayang kulit. V. Penutup

Kesimpulan Pada dasarnya pengenalan kesenian wayang kulit sejak dini sebagai sarana pengembangan kecerdasan majemuk tak khayal untuk dapat diwujudkan, yaitu dengan cara mengaplikasikan kesenian wayang kulit dalam pembelajaran di sekolah. Sedangkan pelestarian budaya adalah menjadi sebuah efek tambahan yang dihasilkan melalui pengenalan kesenian wayang sejak usia dini. Cita-cita pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan secara intelektual mungkin akan dapat diwujudkan apabila pelaksanaan pengenalan kesenian wayang kulit dimulia di sekolah sedini i mungkin. Wayang yang sarat tuntunan moral dan budi pekerti memungkinkan menciptakan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga cerdas secara sosial, emosional, spiritual dan menciptakan manusia yang kreatif serta berbudi pekerti luhur. Saran Seyogyanya pengenalan tentang budaya wayang dimulai sedini mungkin, lebih -lebih pada usia sekolah. Sebaiknya pembelajaran tentang wayang dimasukkan dalam penyusunan kurikulum sekolah sehingga konsep pelestarian budaya wayang akan lebih meresap kedalam diri anak sejak kecWayang Kulit

Wayang Kulit.
Wayang kulit merupakan sejenis hiburan pementasan bayang yang terhasil dari patung yang dibuat daripada belulang (kulit lembu/kerbau/kambing). Terdapat pelbagai jenis wayang kulit bergantung kepada tempat asal mereka. Ia merupakan seni tradisional Asia Tenggara merangkumi Thailand,Malaysia dan Indonesia, yang terutama berkembang di Phattalung wilayah selatan Thailand,Jawa dan disebelah timur dan utara semenanjung Malaysia seperti di Kelantan, Kedah, Perlis dan Terengganu. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh muzik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden.

Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, iaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disuluhkan lampu eletrik atau lampu minyak (dian), sehingga para penonton yang berada disebelah berlawanan layar dapat melihat bayangan wayang y ang berada ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh -tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. Wayang kulit lebih popular di Jawa bahagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat. Rencana utama: Wayang Kulit di Malaysia Di Malaysia sahaja terdapat empat jenis persembahan wayang kulit iaitu Wayang Kulit Melayu, Wayang Kulit Gedek, Wayang Kulit Purwa (atau Wayang Kulit Jawa) dan Wayang Kulit Kelantan (atau Wayang Kulit Siam). Kesemua empat jenis wayang kulit ini hanya boleh ditemui di Semenanjung Malaysia. Wayang Kulit Melayu Kelantan dikatakan berasal dari Kemboja dan dibawa masuk melalui Patani, Selatan Thailand. Ceritanya berdasarkan Hikayat Ramayana dan penglipur lara tempatan. Watak watak wayang kulit ini menggunakan loghat Kelantan. Antara watak penting ialah Hanuman, Sri Rama, Sita Dewi, Maharaja Rawana dan Laksamana. Wayang Kulit Jawa dikatakan berasal dari Wayang Kulit Purwa Jawa, Pulau Jawa, Indonesia. Patung patungnya membawa watak dari cerita Mahabratha dan cerita-cerita Panji. Wayang kulit ini diperkenalkan ke negeri Kelantan pada 1834 oleh seorang tok dalang Melayu selepas mempelajari teknik-teknik Tok Dalang di Pulau Jawa. Watak wayang kulit ini ialah Sang Kula, Raden Galoh Cendera Kirana, Arjuna, Sang Dewa dan Raden Inu Kartapati. [1] Wayang Kulit Purwa terkenal di kawasan selatan Semenanjung Malays Ia menggunakan loghat ia. Jawa. Wayang Gedek terkenal di Kedah dan Perlis. Ia menggunakan loghat utara (kedah -Perlis). Dua watak utama ialah Etong dan Ekau. Wayang jenis ini menggunakan patung yang berpakaian moden seperti kebaya pendek.il.