Anda di halaman 1dari 33

www.mufaz88plus.

com
"Islam Ragu-ragu" versi Rektor UIN Yogya Senin, 31 Oktober 2005 Oleh: Adian Husaini Di kalangan akademisi muslim Indonesia, nama Prof. Dr. M. Amin Abdullah tidak asing lagi. Selain menjabat sebagai rektor Universitas Islam Negeri Yogyakarta (dulunya IAIN Yogya), dia juga pernah menjabat posisi penting di PP Muhammadiyah, sebagai Ketua Majlis Tarjih dan Pemikiran Islam. Tetapi, dalam Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, tahun 2005, namanya terpental dari jajaran pimpinan pusat Muhammadiyah. Dia berlatarbelakang pendidikan bidang filsafat Islam. Lulus PhD dari Department of Philosophy, Faculty of Art and Sciences, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki, tahun 1990. Sebagai akademisi dan penulis, tulisan Amin Abdullah tersebar di berbagai buku, jurnal, dan media massa. Bidang yang sering ditulisnya terutama masalah filsafat dan epistemologi Islam. Tapi, karena sangat gencar mempromosikan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur'an, dia kadang kala juga dijuluki "Bapak Hermeneutika Indonesia". Komitmennya dan kegigihannya dalam mempromosikan hermeneutika sebagai metode "tafsir baru" pengganti metode tafsir al-Quran yang klasik, tampak dalam berbagai tulisannya tentang hermeneutika. Di UIN Yogyakarta, penggunaan metodologi hermeneutika dalam tafsir Al-Qur'anmemang sangat digalakkan, sampai-sampai seorang mahasiswa yang bermaksud mengritik metode ini mengaku "akan membentur tembok". Disamping mempromosikan hermeneutika, Amin Abdullah tentu saja harus melakukan kritik terhadap metode tafsir Al-Qur'an. Ia menulis dalam sebuah pengantar untuk buku tentang hermeneutika, bahwa "tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam." Penulis buku itu pun dengan semena-mena mengecam tafsir-tafsir klasik, tanpa data dan analisis yang memadai, dimana letak kekurangan dan ketidakberesan tafsir-tafsir klasik. Ditulis dalam buku ini: "Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya." (Lihat, Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, 2002, hal. xxv-xxvi, 10). Kecurigaan terhadap mufassir dan para ulama Islam juga tak luput dari goresan tangan Abdullah. Di dalam tulisannya yang lain, Amin Abdullah mengajak pembaca untuk mencurigai ilmu-ilmu keagamaan, tanpa membedakan antara ilmu keagamaan dalam Islam, dengan ilmu keagamaan yang muncul dalam tradisi peradaban Barat yang berlatar belakang sejarah Yahudi dan Kristen. Ia tulis, misalnya: "Dari studi empiris-historis terhadap fenomena keagamaan diperoleh masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan berbagai "kepentingan" yang menempel dalam ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri." (Pengantar buku Metodologi Studi Agama, 2000, hal. 2) Bagi mahasiswa baru dalam bidang studi Islam, pernyataan-pernyataan profesor dan rektor sebuah kampus berlabel Islam semacam itu, bisa jadi melenakan. Sebab, kata-kata yang ditebar cukup halus. Para ulama dan ilmuwan keagamaan, apa pun agamanya, adalah manusia biasa. Karena itu, mereka pasti punya kepentingan dengan ilmu-ilmu nyang disusunnya. Sepintas, kata-kata Amin Abdullah itu logis. Padahal, jika didalami, ada kekeliruan mendasar dalam cara berpikir, karena metodologi "gebyah uyah"

(serampangan) dalam menyamakan antara tradisi keilmuan Islam dengan tradisi keilmuan Barat. Di dalam Islam, ada tradisi penyatuan antara ilmu dengan amal. Ada konsep "fasiq", dimana seorang yang -meskipun berilmu tinggi- tetapi berbuat jahat, dapat terkena ketegori fasiq, dan karena itu, periwayatan dan beritanya perlu diklarifikasi. Jika dia fasiq, maka sebagian ulama melarangnya menjadi saksi di dalam pernikahan atau pengadilan. Di dalam ilmu hadis, ada ilmu Jarah wa Ta'dil, yang secara terbuka membeberkan sifat-sifat buruk perawi hadits, seperti pembohong, dan sebagainya. Karena itu, di dalam tradisi keilmuan Islam, kita akan menjumpai ilmuwan-ilmuwan yang sangat tinggi ilmunya, sekaligus juga sangat shalih dalam beragama. Itu bisa kita jumpai pada Imam-imam mazhab, Imam Bukhari, Imam al-Ghazali, Ibnu Taymiyah, dan sebagainya. Mereka bukan hanya ilmuwan, tetapi juga mujahid dan ahli ibadah. Tradisi seperti itu tidak terjadi dalam sistem keilmuan di Barat yang sekular. Di dalam tradisi ilmu yang berakar pada tradisi keilmuan Yunani, ada pemisahan antara orang pintar dan orang saleh. Banyak ilmuwan pintar dan dihormati oleh masyarakatnya, meskipun amalnya bejat. Seorang ilmuwan di Barat, tetap dianggap sebagai ilmuwan yang dihormati, meskipun tidak jelas agamanya dan amalan-amalan agamanya. Paul Johnson, dalam bukunya "Intellectuals" (1988), memaparkan kehidupan dan moralitas sejumlah ilmuwan besar yang menjadi rujukan keilmuan di Barat dan dunia internasional saat ini, seperti Ruosseau, Henrik Ibsen, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx, Bertrand Russel, Jean-Paul Sartre, dan beberapa lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai "manusia gila yang menarik" (an interesting madman). Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, agar dapat menjadi peliharaan Madame Francoise-Louise de Warens. Ernest Hemingway, seorang ilmuwan jenius, tidak memiliki agama yang jelas. Kedua orang tuanya adalah pengikut Kristen yang taat. Istri pertamanya, Hadley, menyatakan, ia hanya melihat Hemingway sembahyang selama dua kali, yaitu saat perkawinan dan pembaptisan anaknya. Untuk menyenangkan istri keduanya, Pauline, dia berganti agama menjadi Katolik Roma. Kata Johnson, dia bukan saja tidak percaya kepada Tuhan, tetapi menganggap 'organized religion' sebagai ancaman terhadap kebahagiaan manusia. (He not only did not believe in God, but regarded organized religion as a menace to human happiness). Sebagai ilmuwan, seyogyanya Rektor UIN Yogya itu memberikan klarifikasi dan penjelasan yang bertanggung jawab terhadap tulisannya, bahwa "Dari studi empiris-historis terhadap fenomena keagamaan diperoleh masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan berbagai "kepentingan" yang menempel dalam ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri." Jika dia katakan, agama -termasuk Islam- adalah sarat dengan berbagai kepentingan yang menempel pada ajaran dan batang tubuh ilmu -ilmu keagamaan, maka dia harus menjelaskan, apa kepentingan Sayyidina Utsman menghimpun Mushaf Al-Qur'an, apa kepentingan Imam Bukhari mengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits Nabi, apa kepentingan Imam Syafii menulis Kitab Risalah? Apakah kita harus mencurigai tindakan keilmuan sahabat-sahabat Rasululullah dan ulama-ulama Islam yang begitu besar jasanya terhadap pengembangan keilmuan Islam, sehingga kita harus menyatakan, bahwa mereka semua pasti punya kepentingan. Apakah kita tidak bisa berprasangka baik terhadap mereka, dan mengakui keikhlasan dan jasa mereka yang luas biasa dalam menyusun ilmu-ilmu agama (ulumuddin)? Metode studi Islam yang -maaf, sok- bersikap kritis ini bisa pada akhirnya berdampak kepada keragu-keraguan pada para pelajar dan mahasiswa. Mereka yang belajar Islam dengan cara-cara seperti ini, bukan tidak mungkin akan terjebak pada keraguan dan ketidakyakinan terhadap ajaran agamanya sendiri. Akhirnya, dari metode ini bisa lahir sarjana-sarjana yang justru rajin menghujat agamanya, ragu dengan kebenaran agamanya, dan bahkan memusuhi agamanya. Orang yang belajar ushuluddin (dasar-dasar agama), bukannya semakin yakin dengan agamanya, tetapi bisa jadi malah "ucul"-"din"nya (agamanya lepas).

Tidak sedikit para sarjana syariah lulusan perguruan tinggi Islam, yang akhirnya justru gigih menentang dan aktif menulis artikel yang menghancurkan dan menghina syariat Islam. Kita sungguh tidak habis mengerti, misalnya, bagaimana dari sebuah kampus berlabel Islam, seperti UIN Yogya, bisa muncul tesis master yang justru menghujat Al-Qur'an, dan menyatakan, bahwa "Mushaf itu tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita." (Lihat buku: "Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan" (2004), hal.123) Penulis tesis itu dan juga para dosen serta rektor kampus itu seolah-olah tenang-tenang saja dengan fenomena semacam itu, dan tidak takut dengan akibat yang ditimbulkan jika ada orang yang terpengaruh dengan ide sesat itu. Apakah mereka tidak takut dengan dosa jika ada yang kemudian meragukan kebenaran Al-Qur'an, karena membaca tesis yang sudah dibukukan itu? Jika orang sudah meragukan kebenaran Al-Qur'an, lalu bagaimana dia bisa beriman dan meyakini rukun iman yang disebutkan dalam Al-Qur'an, seperti Malaikat, Hari Kiamat, dan sebagainya? Penanaman keragu-raguan terhadap Islam bagi mahasiswa Muslim tampaknya kini banyak dilakukan oleh para dosen-dosennya sendiri. Dan itu bukan hal yang aneh, jika kita menyimak tulisan lain dari Amin Abdullah, Sang Rektor. Dalam pengantarnya untuk sebuah buku berjudul "Hermeneutika Al-Quran" (2005), Amin secara gamblang menulis, bahwa: "Dengan sangat intensif hermeneutika mencoba membongkar kenyataan bahwa siapa pun orangnya, kelompok apapun namanya, kalau masih pada level manusia, pastilah "terbatas", "parsial-kontekstual pemahamannya", serta "bisa sajakeliru". Cara berpikir Amin seperti itu sama saja dengan membongkar sistem keilmuan dalam Islam. Sebab, tidak ada lagi pemikiran yang bersifat pasti danqath'iy. Tidak ada tafsir yang tetap dan pasti kebenarannya. Semua terbatas dan bisa saja keliru. Juga, tidak ada lagi konsep 'tawatur', berita yang dipastikan kebenarannya. Kita bisa mempertanyakan kepada Rektor UIN Yogya itu, bagaimana dengan konsep "keadilan para sahabat" dan ijma' sahabat? Pengumpulan Mushaf Utsmani adalah berdasarkan ijma' sahabat. Dengan cara berpikir Amin Abdullah, maka bisa saja pengumpulan Al-Qur'an itu keliru. Sebab, para sahabat Rasulullah itu adalah manusia dan kumpulan manusia. Dan selama mereka pada level manusia, maka mereka "bisa saja keliru". Jadi, ijma' para sahabat Rasululullah saw itu - menurut cara berpikir Rektor UIN Yogya - bisa saja keliru. Cara berpikir semacam itu bisa kita katakan sebagai bentuk 'Islam ragu-ragu'. Islam yang serba tidak pasti. Tidak ada kebenaran yang pasti. Itulah tugas hermeneutika. Malah, lanjut Sang Rektor lagi, tugas hermeneutika itu berseberangan dengan keinginan egois hampir semua orang untuk "Selalu Benar". Tidak mengherankan, katanya, jika kemudian kehadiran hermeneutika sebagai salah satu disiplin kajian yang mencermati proses epistemologis-ontologis pemahaman manusia banyak mendapat tantanan. Dan tentangan paling keras terhadap hermeneutika muncul dari ranah agama-agama yang harus diakui merupakan ladang paling subur bagi lahirnya "Klaim Kebenaran". Itulah kata-kata Sang Rektor UIN Yogya, yang sangat membanggakan hermeneutika sebagai metodologi pemahaman Al-Qur'an, yang menurutnya mampu membongkar hal-hal yang selama ini dianggap sebagai satu bentuk kepastian. Dengan cara berpikir Rektor seperti itu, maka kita tidak heran, jika dari kampus berlabel Islam itu lahir sarjana-sarjana versi 'Islam ragu-ragu', alias golbin (golongan bingung) yang tidak pernah meyakini kebenaran Islam. Tentu kita patut kasihani manusia-manusia seperti ini. Meskipun, kita tidak

perlu risau dengan ulah mereka. Biarlah yang bingung bangga dengan kebingungannya sendiri. Kita ingatkan mereka, mudah-mudahan mereka sadar. Kita yang sudah menemukan kebenaran, kewajiban kita adalah meyakini kebenaran itu, dan berusaha menegakkannya. Dan Allah SWT sudah mengingatkan kita: "Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah engkau menjadi golongan orang-orang yang ragu." (QS Al Baqarah:147). Wallahu a'lam. (Jakarta, 28 Oktober 2005/hidayatullah.com). Masalah Izin Rumah Ibadah (oleh Salahuddin Wahid, Ketua Majelis Pengurus Pusat (MPP) Ikatan Cendekiawan Muslim se -Indonesia / ICMI ) Republika, Opini, 25 Oktober 2005 Beberapa waktu lalu, di Jawa Barat, terjadi banyak penutupan ''rumah ibadah''. Yaitu rumah tinggal yang dipergunakan sebagai ''gereja''. Tetapi ada juga perusakan terhadap sebuah gereja yang sesungguhnya di Semarang, yang tentu punya izin. Tidak heran kalau banyak kecaman terhadap aksi tersebut. Gus Dur, karena jengkelnya, mengecam Front Pembela Islam (FPI) yang dianggap bertanggung jawab. Dan FPI langsung membantah tuduhan itu. Untuk mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, saya meminta beberapa kawan untuk mengunjungi beberapa lokasi tempat kejadian itu di Purwakarta dan Bandung. Fakta yang diperoleh menunjukkan bahwa aksi penutupan itu adalah prakarsa warga setempat yang lalu menghubungi Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan (AGAP). Yang ditutup itu adalah rumah tinggal yang digunakan sebagai gereja tanpa izin. Banyak tokoh membuat tulisan atau pernyataan yang menyalahkan aksi penutupan itu dan meminta Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri tentang Izin Mendirikan Rumah Ibadah di cabut. Gus Dur menyatakan bahwa SKB itu ialah akal-akalan untuk menghalangi pendirian gereja. Yang lain menyatakan bahwa SKB Dua Menteri itu b ertentangan dengan Undang-undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 29 ayat (2) dan Pasal 28E. Karena itu harus segera dicabut atau dibatalkan. Tampaknya Pemerintah tidak akan mencabut SKB itu tetapi menyempurnakannya. Peraturan bersama dua menteri itu antara lain akan mengatur semacam forum antarpemuka umat beragama yang akan memberikan pertimbangan kepada pemerintah daerah dalam masalah pemberian izin rumah ibadah. Kasus Jatimulya Awal Oktober 2005 saya bertemu dengan Pendeta Anna dari Gereja Kristen Indonesia (Gek indo) dan beberapa pendeta lain dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang menyampaikan permasalahan yang mereka hadapi yaitu aksi penutupan rumah tinggal yang dipergunakan untuk gereja, yang terletak di RW 11, Desa Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Tanggal 9 Oktober 2005 saya mengutus kawan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk mencari fakta di tempat kejadian. Kawan itu menyaksikan jema'ah gereja melakukan kebaktian di jalan dekat ''gereja'' yang telah ditutup jalan menuju ke situ, sehingga mereka tidak bisa masuk kedalam ''gereja''. Kebaktian itu mendapatkan protes dari warga setempat yang merasa terganggu. Kejadian semacam itu telah berlangsung sejak 11 September 2005 lalu. Apa yang terjadi itu telah menjadi berita di koran Sinar Harapan dan Suara Pembaruan dan juga diliput oleh TV. Beberapa tokoh menyatakan bahwa tindakan menutup gereja itu melanggar hak umat Kristiani untuk beribadah yang bertentangan dengan UUD dan berpotensi menggoyahkan sendi sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hari Minggu, 23 Oktober 2005 sore, saya meninjau lokasi dan sempat berdialog dengan warga di mushalla. Antara lain dengan ketua RW 11 dan wakilnya serta ketua RT 18. Saya melihat bahwa ''gereja'' itu adalah beberapa ruma tinggal h kecil di jalan selebar kira-kira lima meter. Salah satu rumah tengah dibangun bertingkat. Pembangunan itu yang kemudian diketahui oleh warga untuk dijadikan gereja telah memicu warga untuk menutup ''gereja'' itu. Di seberang jalan gereja itu berdiri sebuah masjid lengkap dengan sekolah Islam. Dari dialog itu saya mendapat informasi bahwa permohonan mendirikan gereja telah ditolak oleh Pemda dengan alasan mendapatkan penolakan dari warga setempat. Menjawab pertanyaan saya, ketua RW 11 menjelaskan di Jatimulya ada delapan RW dengan 1.200 keluarga, sekitar 80 kepala keluarga (KK) beragama Kristen. Saya jelaskan bahwa di Bali, di mana umat Islam menjadi minoritas, dibutuhkan minimal 40 keluarga Muslim untuk mendirikan sebuah masjid. Ada yang harus menempuh tujuh kilometer untuk menuju masjid. Saya bertanya apakah 80 keluarga Kristen itu tidak berhak mendirikan gereja di sekitar Jatimulya, bukan di lokasi sekarang yang menurut saya memang tidak tepat? Mereka menjawab bahwa tidak jauh dari Jatimulya --sekitar satu kilometer, tetapi di desa lain-- ada gereja. Juga ada gereja lain di Desa Jatimulya, tetapi sedikit lebih jauh. Warga tidak melarang mereka beribadah, tetapi dipersilakan untuk beribadah di gereja yang disebutkan di atas. Ketua RW juga menjelaskan bahwa umat Kristen yang

tinggal di Jatimulya kebanyakan tidak ke gereja di situ, dan jema'ah yang ke gereja di situ kebanyakan berasal dari luar Jatimulya. Masalahnya, di kalangan Kristen terdapat kelompok yang punya gereja sendiri sendiri. Mereka tidak terbiasa pergi ke sembarang gereja, tetapi ke gereja di mana mereka menjadi jema'at. Tidak seperti umat Islam yang pergi ke masjid mana saja. Karena itu akhirnya banyak berdiri gereja yang rasionya besar kalau dibandingkan jumlah penduduk. Apakah keadaan ini tidak dapat diubah? Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Yewanggoe, menulis di Suara Pembaruan yang antara lain mengusulkan supaya berbagai kelompok itu bisa bergabung dan mendirikan gereja untuk dipakai bersama. Dia menjelaskan bahwa di Belanda ada keharusan seperti itu yang ternyata bisa dijalankan. Bersama mencari solusi Terakhir saya ingin mengulangi pernyataan para wakil masyarakat setempat bahwa tidak ada maksud mereka untuk melarang umat Kristen beribadah, tetapi mempersilahkan mereka beribadah di gereja yang sudah ada --yang tidak terlalu jauh letaknya. Mereka merasa sedih dituduh bertindak anarkis dan mungkin menyebabkan keutuhan NKRI terganggu, apalagi tuduhan itu datang dari tokoh Islam. Rumah tinggal yang dipakai menjadi gereja itu ditutup secara resmi oleh Pemda. Kegiatan kebaktian di jalan telah berlangsung lama dan suasananya sudah semakin panas. Kalau ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Mudah sekali bagi pihak yang tidak bertangung jawab untuk memanfaatkan situasi. Diharapkan semua pihak bisa menahan diri dan bersikap waspada. Pemda dan pihak aparat keamanan seyogyanya mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Akan lebih baik apabila anggota DPR dan para tokoh yang berkomentar di media tentang kasus Jatimulya menyempatkan diri untuk meninjau secara langsung ke lokasi dan lalu mencari solusi bersama-sama dengan Pemda, aparat keamanan dan semua pihak yang terkait, termasuk Komnas HAM. Saya yakin akan bisa diperoleh solusi yang baik kalau semua pihak mau berdialog dengan hati lapang dan tidak emosional. Kalau di Jatimulya kita bisa memperoleh solusi yang baik, Insya Allah di tempat lain juga tidak akan terlalu sulit.

Fakta dan Kebenaran Akan Terungkap Dengan Sendirinya Lolosnya Umar al Farouq, Diketemukan dan Tewasnya Dr Azahari (Sayang Sekali) dan Bom Teroris di Amman Jordania oleh Muslim In Suffer Rangkaian event2 di atas, sungguh sangat kebetulan sekali (benarkah?). Itu semua ibarat kepingan2 puzzle, yg mendorong saya untuk merasa tertantang untuk merangkainya. Sensor dan radar saya menjadi peka akan kejadian2 seperti ini, karena mau tidak mau, itu semua akan berujung kepada dan hampir bisa dipastikan umat islam yang menjadi kambing hitamnya dan sasaran tudingan sebagai biang keladi semua kekacauan. Padahal tanpa perlu menunggu hasil analisis para pakar, orang2 yg peduli dg fakta dan kebenaran akan dg cepat melihat ketidak beresan dan keganjilan dg mengamati jejak2 peristiwa yg 'tertinggal' dlm rangkaian sejarah dan berita. Tidak peduli apa latar belakang pendidikannya, apa agamanya; bila mau berpikir dan menggunakan akalnya, insha Allah akan bisa meraba gambaran umum yg akan muncul bila kepingan2 puzzle itu disatukan dg benar. Itu semua Kelompok teroris al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah (kalau memang itu ada), benarkah itu merupakan representasi perjuangan jihad umat islam melawan musuh-musuhnya? Yang selalu digembar-gemborkan oleh Amerika bahwa kelompok teroris itu membuat kekacauan karena membenci "freedom, democracy dan kesuksesan" Amerika. Benarkah islam memerangi bangsa lain karena berdasarkan rasa benci , sejak kapan dan apakah itu ada pembenaran dalam rekaman sejarah umat manusia? Para petinggi al Qaeda, yg justru konon hasil didikan CIA amerika, kenapa kok malah balik menyerang kepentingan2 Amerika? Kalau memang al Qaeda itu monster menakutkan bagi umat manusia, itu artinya CIA Amerika-lah yg menciptakan monster itu, kenapa kok justru umat islam yg disalahkan? Lalu apa artinya, kalau tokoh2 ulama Indonesia seperti ustadz Abu Bakar

Baashir, yg coba dikait-kaitkan dg Jamaah Islamiyah (cabang al Qaeda di Indonesia?), ternyata tidak terbukti di pengadilan dan itu diperkuat dg pengakuan amrozi cs bahwa ustadz Abu tidak menyuruh tero risme bom Bali (masak sih bukan anggota jamaah islamiyah kok bisa memberi perintah !!!); ternyata masih juga dijebloskan ke penjara dg vonis yg terlihat dicari-cari oleh pengadilan Indonesia? Umar al Farouq, siapa yg tidak kenal dia. Tapi sejujurnya, apakah kita benar2 tahu siapa dia sebenarnya, apakah dia itu ada, bagaimana sih reputasi dia sebenarnya, apa benar sepak terjangnya seperti yg diceritakan oleh Amerika itu? Yg menjadi pertanyaan besar, bagaimana bisa Umar al Farouq mampu meloloskan diri dari penjara kamp konsentrasi Amerika di Baghram Afghanistan yg begitu ketat, sementara itu tidak bisa berkutik sama sekali di penjara polisi Indonesia, yg .... yah semua tahu khan ??? Beberapa hari ini, media massa Indonesia seperti berpesta pora dan hingar bingar dengan diketemukan dan akhirnya tewasnya Dr Azahari (benarkah?). Tidak lain dan tidak bukan yg menjadi 'pahlawan' adalah Unit khusus Kepolisian Detasemen 88 Anti Teror didikan CIA Amerika. Keberhasilan itu seolah-olah bisa menutupi kesalahan kecil tapi fatal, yaitu si buronan tidak bisa ditangkap hidup-hidup. Sehingga tewasnya Dr Azahari otomatis akan memutus rantai komando, siapa saja dalang yg terlibat dan bagaimana keterkaitannya dg JI dan juga al Qaeda. Yg jelas orang mati tidak bisa memberikan pengakuan dan pembelaan diri lagi. Titik, habis! Bagi saya kematian Dr Azahari menggelitik akal sehat, saat saya baca Time Online (http://www.timesonline.co.uk/article/0,,3-1865475,00.html) dahi saya langsung berkerut, diberitakan bahwa tewasnya Dr Azahari bukan karena baku tembak dg aparat tapi karena meledakkan diri. Anehnya kenapa hanya wajahnya saja yg rusak dan tidak bisa dikenali lagi, sementara tubuhnya malah masih utuh. Dan kalau sempat meledakkan bom, kenapa dokumen2 tidak sekalian dihilangkan dg ledakan bom itu. Lihatlah kemiripan cara kematian 'teroris-teroris' lainnya: 1. Sameer Mohammed Ahmed al-Hada, Guardian Inggris, Februari 2002 : Tersangka teroris terkait dg al Qaeda, penge-bom kapal perang Amerika USS Cole, tewas kena ledakan granat yg dibawa sendiri saat terpojok oleh petugas keamanan. Niatnya mau melempar granat ke arah petugas tapi malah meledak ditangan sendiri (?) http://www.guardian.co.uk/yemen/Story/0,2763,649933,00.html 2. Turki Nasser al-Dandani, Command Post, July 2003 : Salah satu pimpinan al Qaeda konon, tersangka bom bunuh diri dan dicari oleh pemerintah Arab Saudi; melakukan bunuh diri saat akan ditangkap petugas keamanan dg meledakkan diri. http://www.command-post.org/gwot/2_archives/000678.html 3. Serhane ben Abdelmajid Fakhet, BBC Online, April 2004 : Tersangka salah satu pimpinan penge-bom Madrid. meledakkan diri bersama empat tersangka lain, saat petugas keamanan Spanyol hendak menangkapnya. http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/europe/3598219.stm Sungguh melegakan, benarkah? Dan kemudian dilengkapi dengan tragedi peledakan bom di beberapa hotel di Amman Jordania. Inipun juga menimbulkan pertanyaan2 dibenak saya. Ada tiga hal penting yg perlu dicermati: 1. Diekspose-nya pengakuan seorang wanita Irak (yg mengaku bernama Sajida Mubarak Atrous al-Rishawi), katanya saudara perempuan Abu Musab al-Zarqawi, bersama suaminya meledakkan Amman Hyatt Hotel dg bom yg diikatkan pada ikat pinggang. Suaminya sukses meledak bersama bom-nya, sedangkan dia tidak berhasil. Lihat hasil ledakan bom tersebut (http://www.thetruthseeker.co.uk/images/picture/hyatt_ceiling.jpg). Kalau itu hasil bom bunuh diri, kok tidak terlihat bercak darah sama sekali, bersih dan amati ledakannya seperti dari plafon hotel meledak ke bawah bukan ledakan bom bunuh diri dari arah bawah! Dan lagi di hotel itu sedang berlangsung acara pernikahan yg dihadiri oleh orang Jordania dan Palestina, benarkah orang islam mau membunuh orang islam, apakah orang arab mau

membunuh orang arab sendiri, apakah orang irak mau berperang dg orang palestina? 2. Lihatlah, akibat ledakan sepertinya berasal dari bom yg ditaruh di atas plafon hotel, bukan bom bunuh diri (http://xiaodongpeople.blogspot.com/2005/11/more-fun-with-ceilings.html). Kebetulan sekali ya, yg jadi korban di antaranya adalah delegasi perwira militer China yg sedang berunding dg kepala dinas intelijen Palestina. 3. Hebatnya orang Israel, beberapa jam sebelum ledakan bom, turis2 Israel telah diselamatkan oleh petugas keamanan Jordania, sehingga tak satupun korban dari Israel. Baca laporan media Israel Haaretz berikut (http://www.haaretz.com/hasen/spages/643691.html) Ma'afkan saya, kalau saya hanya bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Karena hanya pertanyaan2 itulah yg nampak jelas untuk menjelaskan rangkaian kejadian2 yg terkesan artifisial itu. Dan pertanyaan2 itu semoga sebagai titik awal kesadaran kita untuk merangkai kepingan-kepingan puzzle dan mulai sadar apa yg sebenarnya terjadi.

AYAH TERORIS ITU APA SIH? Oleh: Muslim In Suffer Sungguh, bahkan seorang anak kecilpun dapat memahami perbedaan antara kebaikan dan kejahatan. Ayah apa sih teroris itu?

Baiklah, menurut kamus Oxford Dictionary, teroris adalah seseorang yang menggunakan kekerasan dan intimidasi dalam mengejar tujuan politiknya . Yang berarti bahwa teroris adalah orang yang sangat jahat, yang menakut nakuti orang baik seperti kita, dan kadang-kadang sampai membunuhnya. Mengapa teroris membunuh mereka? Karena teroris benci mereka atau negara mereka. Sangat sulit untuk dijelaskan hanya saja begitulah cara mereka. Dengan alasan yang berbeda-beda, dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang diliputi rasa benci. Seperti orang Irak yang menculik orang dan mengatakan akan membunuh mereka jika seluruh pasukanasing tidak segera pergi? Tepat sekali! Itulah perbuatan jahat yang dinamakan pemerasan . Orang-orang tak berdosa itu menjadi sandera, dan teroris yang mengatakan bahwa bila pemerintah tidak melakukan apa yang mereka inginkan, para sandera akan dibunuh. Jadi itu disebut pemerasan . Bila kita mengatakan akan menyerang Irak dan membunuh rakyat tak berdosa, kecuali mereka mengatakan dimana semua persenjataan mereka? Bukan! Um iya, saya kira. Tetapi itu adalah sebuah ultimatum sebut saja sebagai pemerasan yang baik .

Pemerasan yang bertujuan baik? Apa itu? Itu adalah bila dilakukan untuk tujuan baik. Persenjataan itu sangat berbahaya dan bisa mencelakai banyak orang di seluruh dunia. Sangat penting untuk menemukan dan menghancurkannya. Tetapi Yah persenjataan itu tidak ada.

Betul. Kita tahu itu sekarang. Tetapi siapa yang bisa yakin pada saat sebelumnya. Kita mengira persenjataan itu ada. Jadi pembunuhan seluruh korban tak berdosa di Irak hanya sebuah kesalahan? Tidak. Itu adalah tragedi, tapi kita juga menyelamatkan banyak nyawa. Bisa kamu lihat, kita berhasil menghentikan seseorang yang sangat kejam yang disebut Saddam Hussein, dalam usahanya membantai sangat banyak rakyat Irak. Saddam Hussein bertahan dalam kekuasaannya dengan memerintah kan pembunuhan ribuan rakyatnya atau memberikan siksaan yang mengerikan. Ibu dan Bapak, bahkan anak-anak. Seperti anak laki-laki yang saya lihat di TV itu? Seorang anak yang hancur tangannya karena bom?

Betul

seperti anak itu.

Tapi Yah, kita yang melakukan itu. Bukankah ini berarti pemimpin kita teroris? Ya Tuhan, bukan! Apa yang memberimu ide seperti itu? Itu hanyalah sebuah ketidak sengajaan. Malangnya, rakyat tak berdosa menjadi korban di dalam perang. Kamu tidak bisa berharap banyak bila kamu men jatuhkan bom-bom di atas kota. Tak seorangpun mengharapkan tragedi itu .. . seperti itulah perang berlangsung. Jadi di dalam peperangan, hanya tentara yang semestinya terbunuh? Benar, tentara dilatih untuk berjuang demi negara. Ini tugas mereka, dan mereka sangat pemberani. Mereka tahu bahwa perang itu berbahaya dan mereka bisa terbunuh. Semenjak mereka mengenakan seragamnya, mereka menjadi sasaran tembakan musuh. Seragam apa yang dipakai oleh teroris? Itulah masalahnya mereka tidak punya! Kita tidak dapat menyebut mereka bagian dari rakyat sipil. Kita tidak tahu siapa yang kita perangi. Dan itulah mengapa begitu banyak rakyat tak berdosa menjadi korban teroris tidak mengikuti aturan peperangan. Apakah perang ada aturannya? Oh ya. Tentara harus memakai seragamnya. Dan kamu tidak dapat begitu saja menyerang seseorang kecuali mereka melakukannya kepadamu lebih dahulu. Maka kamu dapat membela diri. Jadi, itukah kenapa kita menyerang Irak? Karena Irak menyerang kita terlebih dulu dan kita sekedar me mbela diri. Itu kurang tepat. Irak tidak menyerang kita tetapi punya kehendak itu. Kita memutuskan untuk melakukannya lebih dahulu. Ini pencegahan, kalau-kalau Irak bermaksud mempergunakan persenjataan yang kita maksud. Yaitu yang mereka tidak punyai? Jadi kita telah melanggar aturan peperangan? Secara teknis, ya. Tapi Jadi jika kita melanggar aturan itu lebih dahulu, mengapa bangsa Irak yang tidak berseragam itu tidak diperbolehkan malakukannya juga kemudian? Wah itu masalahnya berbeda. Kita sedang melakukan sesuatu kebaikan saat kita melanggar aturan itu. Tapi Yah bagaimana kita tahu bahwa kita sedang melakukan itu demi kebaikan?

Pemimpin kita Bush dan Blair dan Howard mereka mengatakannya kepada kita bahwa itu demi kebaikan. Dan jika mereka tidak tahu, siapa lagi? Mereka mengatakan bahwa perlu mengambil tindakan tertentu untuk membuat Irak menjadi tempat yang lebih baik. Apakah Irak menjadi tempat yang lebih baik sekarang? Saya mengharapkannya begitu, tetapi saya tidak tahu pasti. Orang tak berdosa masih menjadi korban dan penculikan itu adalah hal yang mengerikan. Saya ikut prihatin kepada keluarga para sandera yang malang itu, tetapi kita jangan mudah menyerah kepada para teroris. Kita harus tegar menghadapinya. Apakah Ayah akan begitu juga bila saya diculik oleh teroris? Um ya tidak maksud saya, ini masalah yang sungguh rumit

Jadi kalau begitu, Ayah akan membiarkan saya terbunuh? Apakah Ayah tidak menyayangiku? Tentu saja Ayah amat menyayangi kamu. Masalahnya ini adalah hal yang sangat kompleks dan Ayah tidak tahu apa yang akan Ayah lakukan Kalau saya, jika ada seseorang menyerang kita dan mengebom rumah kita dan membunuh Ayah dan Ibu dan Adikku, saya tahu pasti, apa yang akan saya lakukan. Apa itu?

Saya akan cari siapa orang yang telah melakukannya dan kemudian membunuhnya. Dengan cara apapun yang saya bisa. Saya benci mereka untuk selama-lamanya. Dan kemudian saya terbangkan sebuah pesawat dan jatuhkan bom ke kota kota mereka. Tapi tapi kamu bisa membunuh banyak orang tidak berdosa.

Saya tahu. Tapi ini khan perang, Ayah. Dan seperti itu khan peperangan terjadi. Masih ingatkah? Rabu, 09 Nopember 2005 Kejanggalan yang Terang Benderang Oleh : Koran > Tajuk Republika Empat tahanan dalam penjagaan maksimum kabur dari penjara militer Bagram, Afghanistan. Salah satunya sosok terkenal: Umar Al-Faruq. Dia, konon, adalah koordinator Alqaidah di Asia Tenggara. Dia yang memberi kesaksian--lewat intelijen--bahwa Abu Bakar Ba'asyir adalah pelaku teror di negeri ini. Sejak penangkapan yang mengherankan pada 2002, kita nyaris terus dihadapkan pada kemisteriusan sosok ini. Al-Faruq ditangkap di Bogor-bukan oleh polisi--sebagai tersangka terorisme. Ia tidak diadili di negeri ini, tempat ia dituding melakukan kejahatan. Ia dibawa ke sebuah tahanan militer AS. Sempat Guantanamo disebut-sebut. Belakangan baru kita mendapat kabar ia ada di Bagram. Untuk mengadili Ba'asyir, kesaksiannya diperlukan. Tapi, perwira polisi kita tenyata ''gagal'' menemuinya. Hanya ada ''wawancara'' dengan jawaban ''ya'' dan ''tidak'' yang jelas-jelas tidak memadai untuk sebuah kesaksian pengadilan. Pemerintah saat itu sudah mendapat desakan untuk mengambil Al Faruq. Para ahli hukum di negeri ini sepakat bahwa sosok yang dikabarkan berkewarganegaraan Kuwait--namun Kedubes Kuwait di Jakarta membantah-itu harus dipertemukan dengan Ba'asyir. Tapi, sampai Ba'asyir disidang dengan dakwaan yang berubah-ubah, Faruq entah di mana. Kita tak pernah tahu pasti tentang Faruq. Kita mendengar kisahnya sekadar dari berita ''laporan intelijen'', bukan hasil investigasi. Kita sulit memastikan apakah yang sedang kita baca tentang Faruq adalah informasi atau disinformasi. Istri Faruq, Mira Agustina, pun tak kurang herannya atas situasi yang ia hadapi. Ia sempat menerima surat Faruq melalui Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Surat itu berbahasa Inggris, padahal komunikasi Mira dan suaminya sebelumnya selalu dengan bahasa Indonesia atau Arab. Setelah surat pertama, Mira mulai ragu surat yang ia terima datang dari suaminya. Al-Faruq, dari penjaranya yang amat ketat, secara produktif terus mengalirkan informasi tentang gerakan teror di Tanah Air. Ia, misalnya, salah satu yang paling dini menyebut jenis bom di Bali adalah C4. Belakangan, sikap ''ember'' Al-Faruq pula yang menjadi bahan untuk terus-menerus mengurung Ba'asyir. Saat kasus imigrasi Ba'asyir usai, dan tiba waktu untuk menghirup udara bebas, muncul tuduhan bahwa ia terlibat bom Bali. Faruq-lah yang menyatakan Ba'asyir sebagai pemegang dana untuk pembelian bom di Bali. Sekali lagi, kejanggalan yang membungkus sosok Al-Faruq begitu terang benderang. Salahkah kalau kemudian banyak di antara kita yang kian percaya bahwa ia tak lebih daripada salah satu agen intelijen? Seorang planted agent? Seorang ''intel'' yang disusupkan?

Ketika kita berhadapan dengan kejanggalan-kejanggalan itu, kita mencium aroma kuat persekongkolan. Kita benar-benar merasakan busuknya aroma itu, tapi kita mungkin sulit untuk menjelaskannya dengan katakata. Kita juga sulit meraba arahnya, namun kita melihat siapa yang akhirnya dipojokkan. Di masa lalu, sikap kita itu harus berhadapan dengan cemoohan. Teori konspirasi seakan-akan barang murahan yang jauh dari modernitas. Padahal kita pun memahaminya dari perbuatan-perbuatan negeri modern. Untunglah kita tidak sendiri. Para analis di luar negeri pun menangkap kejanggalan kasus Al-Faruq, sampai-sampai Washington merasa perlu mengklarifikasi isu ini dan mengatakan telah terjadi miskomunikasi. Mari waspada menghadapi terorisme. Mari pula waspada terhadap pedagang terorisme. Agus Slamet (Na Peng An) : Ada apa dengan Islam sehingga begitu dibenci dan dimusuhi ? Journey to Islam Oleh : Redaksi 04 Nov 2005 - 4:11 am Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah AL BAQAROH 2:120 - Judul diatas bukanlah isapan jempol belaka atau dikarang dikarang. Didalam Edisi 2004 salah situs kristiani secara khusus mencantum para Muslim Tionghoa yang tergabung dalam Persatuan islam Tionghoa indonesia kedalam Doa 40 Hari ( edisi 2004 ), yang isinya sangat self explained. Berikut ini kami sajikan sebuah pengakuan dari ustadz Agus Slamet (d/h Na Peng An mantan pendeta cilik) seorang mubaligh dan sekarang menjabat sebagai Sekretaris Depertemen Komunikasi dan Informasi/Korps Mubaligh DPP PITI dari situs mualaf.com , simak bagaimana perjalanan panjang beliau dari belenggu Kebencian beliau terhadap Islam akibat pendidikan yang sudah ditanamkan sejak "Di Sekolah Kristen" - program kristenisasi hingga akhirnya memperoleh hidayah Islam dan bahkan sekarang Subhanallah aktif sebagai Dai PITI. KALAU saya renungkan, jalan hidup saya sungguh unik dan berliku. Sebab, sebelum memutuskan untuk memilih Islam - bahkan sekarang menjadi dai-saya adalah orang yang paling memusuhi Islam dan kaum muslimin. Sikap saya itu terbentuk karena pendidikan saya mengajarkan demikian Ketika duduk di kelas VI SD milik sebuah yayasan Katolik, saya sudah menyaksikan sikap para guru yang kurang simpatik, bahkan cenderung menekan kepada siswa yang beragama Islam. Saya dilahirkan 28 Agustus 1962 dan ayah Tionghoa dan ibu berasal dan Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah. Sebagaimana lazimnya orang Tionghoa, ayah saya beragama Budha Konghucu. Sedangkan, ibu saya yang asli Jawa adalah Islam abangan dan banyak mengamalkan tradisi Kejawen. Karena itulah saya punya dua nama. Oleh ayah saya diberi nama Na Peng An. Sedangkan, ibu memberi saya nama Agus Slamet. Saya sendiri lebih menyukai nama pemberian ibu. Sejak SD, saya sudah bersekolah dua. Pagi bersekolah di SD Katolik D***** (edited). sedangkan siangnya bersekolah di SD Hokkian yang berbahasa Mandarin (sekarang SD Bhineka Tunggal Ika). Keduanya di daerah Jembatan Lima, Jakarta Barat. Meskipun ayah saya beragama Budha, tetapi karena Ia meninggal saat umur saya baru 9 tahun, maka ajaran Katoliklah yang paling banyak mempengaruhi masa kecil saya. Di SD Katolik itu saya bahkan termasuk anak yang menonjol, sehingga pada saat duduk di kelas IV SD (umur 10 Tahun), saya sudah menjadi pendeta anak-anak. Tugas saya menyampaikan cerita kisah para rasul menurut versi Injil kepada anak-anak kelas I sampai kelas III pada Sekolah Minggu atau kebaktian khusus untuk anak -anak.

Karena bakat saya itulah, ketika di kelas V SD saya di sekolahkan pada sekolah khusus untuk calon pendeta di daerah Cibubur, Jakanta Timur Tentu saja dengan jaminan bebas SPP, mendapat uang saku, bahkan jaminan naik kelas dan lulus EBTA(ujian). Di sekolah khusus itu, selain mendapat pendalaman Injil, kami juga dilatih ilmu bela diri dengan disiplin militer yang ketat. Sedangkan, untuk tugas-tugas kemasyarakatan kami diajarkan bagaimana cara mempengaruhi masyarakat agar mendukung program kristenisasi. Misalnya dengan pendekatan ohahraga dan kesenian kepada remaja muslim, dan santunan sosial kepada masyarakat muslim yang miskin. Selama mengikuti sekohah khusus itu saya tinggal di asrama. Praktis, saya tidak mengikuti pelajaran di kelas. Hanya sekali-kali saja datang, jika ada ulangan atau tes. Tetapi, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, saya lulus EBTA dengan nilai rata-rata. Di kelas VI SD inilah, siswa yang beragama Islam mendapatkan tekanan untuk datang ke gereja pada setiap hari Minggu dengan ancaman tidak lulus EBTA bagi yang tidak datang. Setelah lulus SD, saya disekolahkan ke SMP Katolik V** T****** (edited) di jalan KB. Mas Mansyur, Tanab Abang, Jakarta Pusat. Sementara itu, pada saat yang sama saya tinggal di asrama sekolah khusus calon pendeta. Pelajaran yang saya terima pun semakin meningkat. Kami, para siswa sekolab khusus, di samping terus mengikuti peridalaman Injil, juga diajarkan bagaimana cara menghancurkan agama Islam dengan jalan merombak sikap hidup islami kaum muslimin. Terutama, menciptakan dekadensi moral di kalangan remaja muslim. Dan cara yang paling ampuh, melalui jalan pernikahan. Kami yang laki-laki disuruh menikahi gadis-gadis muslimah. Sedangkan, yang perempuan disuruh menikah dengan pemuda Islam Lari Dari Tugas. Tetapi satu hal, timbul sesuatu yang aneh dalam diri saya. Tidak seperti kawan-kawan saya yang lain, yang begitu saja menelan mentahmentah doktrin yang diberikan para guru di sekolah khusus, saya justru selalu merenungkannya. Bahkan, tidak jarang saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, baik yang menyangkut pemahaman lnjil maupun mengenai strategi penghancuran moral kaum muslimin. Pendalaman Injil yang utuh dan detail, menyebabkan wawasan saya semakin terbuka. Saya menemukan banyak kejanggalan dan keanehan di dalam Injil, balk menyangkut redaksi maupun isi. Dari segi radaksi, antara Injil yang satu dan Injil yang lainnya terjadi perbedaan redaksional yang terkadang amat tajam. Satu hal lagi yang membuat saya bingung, mengapa Injil yang diyakini sebagai firman Tuhan mengalami revisi (ralat, perbaikan) beberapa kali, sehingga dalam Alkitab ada Perjanjian Baru yang meralat ajaranajaran Perjanjian Lama? kalau begitu, di mana keautentikan dan keaslian Injil? Semua keanehan yang saya temukan itu selalu saya tanyakan kepada pastur yang membimbing kami. Tetapi, jawaban yang saya dapatkan selalu tidak memuaskan, karena hanya berdasarkan akal pastur yang bersangkutan saja, tanpa menyebut dalil Injil yang jelas. Saya juga menanyakan mengapa kaum muslimin dianjurkean berkhitan (sunat) dan diharamkan memakan daging babi Oleh pastur dijawab babwa orang Islam tidak bersyukur kepada Tuhan. Alasannya, mengapa kemaluan (alat vital) yang diciptakan utuh oleh Tuhan harus dipotong (dibuang)? termasuk daging babi, mengapa sesuatu yang telah disediakan Tuhan untuk manusia harus diharamkan? Tetapi, alasan itu disampaikan hanya berdasarkan akal saja, tanpa ada dalil Alkitab yang konkret. Saya betul-betul kecewa.

Termasuk usaha untuk menghancurkan moral kaum muslimin pun, tidak luput dari sasaran pertanyaan saya. Saya terkadang heran dan bingung sendiri, mengapa agama yang mengajarkan kasih sesama mahluk Tuhan mempunyai kebencian yang begitu mendalam kepada Islam? Semua kejanggalan dan keanehan itu mempunyai kesan yang amat kuat membekas dalam jiwa saya yang kelak akan mengubah jalan hidup saya. Sejak timbulnya konflik yang berkepanjangan itu, terjadi kesenjangan rohani pada diri saya. Saya sudah tidak mempercayai lagi dengan kebenaran Alkitab. Saya betul-betul kecewa kepada Injil yang selama itu saya anggap sebagai kitab suci. Klimaks dan semua itu, saya mengundurkan diri dan sekolah khusus. Akibatnya, semua jaminan dan fasilitas yang saya dapatkan selama itu, dicabut. Waktu itu tahun 1976, saat akhir di kelas I dan kenaikan kelas. Ketika pembagian rapor kenaikan, saya keluar dad SMP Van Tarsius itu. Saya memutuskan pindah sekolah. Sebagai konsekuensinya, saya harus memikirkan soal biaya sekolah. Padahal, sebelumnya serba gratis. Beruntung ada seorang kenalan saya yang menjadi kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) mau menerima saya mengajar di sekolah yang dipimpinnya. Waktu itu saya masih beragama Katolik. Saya diserahi mengajar bidang studi matematika dan IPS. Dengan cara itulah saya membiayai pendidilcan saya di SMP sampai kemudian menamatkan SMA tahun 1980. Melirik Islam Antara tahun 1976-1980, saya sebetulnya sudah tidak beragama lagi. Saya sudah frustrasi dengan Katolik. Saya sudah tidak pernah lagi membuka-buka Injil. Di hati saya, sudah tidak adalagi ikatan batin yang menghubungkan antara saya dan gereja. Tetapi sejalan dengan itu, suasana ketika saya mengikuti pendidikan disekolah khusus calon pendeta seperti terulang kembali. Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana kami mendapat doktrin tentang kebenaran Kristus yang tidak dapat dibantah selain harus menelan mentah-mentah. Tetapi di antara semua itu, yang paling mengusik batin saya, mengapa mereka begitu membenci Islam? Mengapa Islam begitu dimusuhi, sehingga diperlukan strategi dan taktik untuk menghancurkannya ? Karena pertanyaan-pertanyaan itulah saya mulai melirik kepada Islam. Ada apa dengan Islam? Kekuatan apa yang dimiliki Islam sehingga ia dianggap sebagai ancaman? Waktu itu sayabaru tamat SMA. Untuk menjawab hasrat hati itu, saya harus mempelajani Islam terlebih dahulu. Sebab, saya tidak ingin tertipu dua kali. Saya merasa tertipu memilih Katolik sebagai agama, lantaran tidak mendalami terlebih dahulu. Kebetulan, tidak jauh dari rumah saya tinggal seorang mantan qari tahun 50-an bemama H. Abdul Ghani Gamal. Kepada beliau, saya katakan bahwa saya ingin mempelajari Islam. Tidak tanggung-tanggung saya ingin belajar Islam dari nol, mulai dan belajar huruf Arab (A1-Qur'an), teologi (tauhid), termasuk peribadatannya (fikih syariah). Semula H. Abd. Ghani keberatan, dengan alasan saya belum mengucapkan dua kalimat syahadat alias masih kafir. Tetapi, saya katakan

kepadanya bahwa saya akan masuk Islam jika saya sudah benar -benar meyakininya. Atas pertimbangan itu, akhirya saya diterima menjadi muridnya. Waktu itu akhir tahun 1980. Selain itu, saya juga sering berkunjungkepada ulama-ulama terkenal, seperti K.H. Abdullah Syafii (almarhum) dan Abah Anom di Tasikmalaya, Jawa Barat. Bahkan, setiap ada pengajian di masjid-masjid terkenal saya tidak pernah absen menghadirinya. Waktu itu, tidak satu pun jamaah yang hadir mengetahui ada seorang nonmuslim ikut mengaji bersama mereka. Dari beberapa pengajian yang saya ikuti, saya sudah dapat menilai bahwa Islam adalah agama yang rasional dan terbuka terhadap perbedaan pendapat. Meskipun pemahaman kaum muslimin secara umum terbagi dalam 3 golongan: tradisional, moderat, dan fundamental. Tetapi, dalam masalah prinsip (pokok) tetap utuh, yakni bertuhan Allah SWT dan meyakini satu kitab suci Al-Qur'an sebagai imam (pernbimbing, pedoman hidup). Kurang kebih 5 tahun saya mempelajari Islam dan beberapa orang guru yang mewakili 3 kelompok pemahaman seperti tersebut. Di samping itu, untuk menambah wawasan saya selalu membaca buku-buku tentang Islam. Pokoknya, sebap ada uang lebih, selalu saya belikan buku-buku tentang Islam. Dalam pengembaraan mencari kebenaran hakiki itu, baru saya dapatkan jawabannya. Dan, jawabnya hanya ada dalam Islam. Di antara daya tarik Islam yang begitu berkesan pada diri saya adalah konsep Ketuhanannya yang tegas dan sederhana (tauhid), keautentikan Al-Qur'an sebagai kitab suci, tata cara ibadahnya yang luwes dan sederhana. Setelah merasa cukup bahan untuk menentukan pilihan, maka pada awal tahun 1985, secara resmi di hadapan jemaah sebuah masjid di daerah Cengkareng, Jakarta Barat, saya ucapkan ikrar dun kalimat syahadat di bawab bimbingan 2 orang guru saya, H. Abdul Ghani dan H. Ali. Seminggu kemudian, ibu saya menyempurnakan kembali keislamannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Saya bersyukur dapat langsung membimbing beliau melaksanakan shalat. Kini, saya hidup berbahagia dengan istri dan 3 orang anak. Selain berusaha dan berbisnis, saya juga aktif berdakwah melalui wadah organisasi PITI (Pembina Iman Tauhid Islam). Agus Slamet (Na Peng An) adalah seorang mubaligh dan menjabat sebagai Sekretaris Depertemen Komunikasi dan Informasi/Korps Mubaligh DPP PITI (mualaf.com) 'Kaburnya Al-Faruq Misterius dan Aneh' Oleh : Redaksi <http://swaramuslim.org/> 09 Nov, 05 - 1:00 am Televisi Al-Arabiya pada 18 Oktober lalu menyiarkan rekaman pernyataan Al-Faruq dan kawan-kawan. ''Kaburnya kami sangat gampang,'' kata salah seorang dari mereka. Bagaimana mungkin bisa Kabur ? Dari Penjara sekaligus Airbase Bagram yg dijaga Ketat ini ? Bisa jadi, ini akan dikaitkan dengan Abu Bakar Ba'asyir, bahkan sangat mungkin ada skenario BOM menjelang Desember berhati hatilah Wahai Umat Islam !! Fitnah Dajjal is on the way now to Indonesia Selain Faruq, ada Muhammad Hassan (Libya), Abdullah Hashimi (Suriah), dan Mahmud Al-Kahtai (Arab Saudi). Kini, dari pengakuan mereka di rekaman itu, semuanya berada di sarang Taliban dan siap bertempur.

Sejumlah kalangan menilai kaburnya Umar Al-Faruq dari penjara militer Bagram, Afghanistan, yang memiliki keamanan maksimum, sungguh misterius dan sangat aneh. ''Kita curiga, mengapa di penjara ekstraketat itu bisa lolos. Apakah dia sengaja dilepas untuk kemudian dibunuh, atau ada skenario lain,'' kata Ahmad Sumargono, ketua umum Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), pekan lalu. Pejabat Pentagon menyatakan Al-Faruq bersama tiga rekannya meloloskan diri dari penjara yang dijaga 12 ribu tentara pilihan itu pada 10 Juli lalu. Berita ini muncul setelah seorang pembela tentara AS yang disidang dalam kasus penganiayaan tawanan di Bagram menyatakan, Al Faruq kabur. Mestinya, sidang itu menghadirkan Faruq sebagai saksi. Jangan-jangan, sambung Gogon --panggilan akrab Sumargono-- Al-Faruq menjadi bagian intelijen Barat. Ia mengajak masyarakat untuk lebih mewaspadai kemungkinan adanya skenario baru dalam rangka memperpanjang isu terorisme di Tanah Air. Mantan anggota Komisi I DPR tersebut menduga hal itu dilakukan kalangan dalam atau luar negeri yang menginginkan isu terorisme di Indonesia tidak padam. Sumargono mengatakan lepasnya Al-Faruq juga dikaitkan dengan Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Pertengahan Juni 2006 mendatang, Ba'asyir akan bebas dari tahanan. ''Jangan-jangan menjelang ia bebas, diciptakan lagi iklim baru yang dikaitkan dengan beliau,'' kata Gogon. MMI pun menduga, kaburnya Al-Faruq akan dikaitkan dengan Ba'asyir yang kini masih ditahan di LP Cipinang. ''Kuat dugaan arahnya ke sana,'' kata juru bicara MMI, Fauzan Al Anshori. Menurutnya, lepasnya Al-Faruq cukup misterius dan patut dipertanyakan. Ia curiga ini merupakan bagian dari skenario AS dan Australia untuk terus menciptakan isu terorisme di Indonesia. Al-Faruq, disebut berkewarganegaraan Indonesia dan Kuwait, dituduh sebagai wakil Alqaidah pimpinan Usamah bin Ladin untuk kawasan Asia Tenggara. Dari catatan intelijen Barat, ia dianggap bertanggung jawab atas berbagai kekerasan yang terjadi di Asia Tenggara, termasuk atas serangan gereja di Indonesia. Majalah Time edisi 23 September 2002 menyebut Faruq memiliki hubungan dekat dengan Ba'asyir yang disebut merestui berbagai aksi kekerasan, khususnya di Indonesia. Kata Faruq, Ba'asyir merupakan tokoh kunci Jamaah Islamiyah di Asia Tenggara. Faruq ditangkap di Bogor pada Juni 2002, dan langsung dibawa aparat AS ke Afghanistan, kemudian ditahan di penjara Pangkalan Udara AS, Bagram. Departemen Luar Negeri RI hingga kini belum mendapat pemberitahuan dari Amerika Serikat tentang kaburnya Al-Faruq. ''Belum ada pemberitahuan resmi dari AS ke RI melalui Deplu,'' kata Juru Bicara Deplu, Yuri Otavian Thamrin. Ia mengatakan, hingga kini Deplu juga masih menunggu laporan KBRI di Afghanistan untuk mendapatkan informasi lebih rinci tantang peristiwa kaburnya Umar Al-Faruq. Menurut laporan, KBRI di sana sudah bergerak mengumpulkan keterangan-keterangan (RioL) Pemerintah Tidak Diberitahu Soal Kaburnya al-Faruq Jakarta:Juru bicara Departemen Luar Negeri, Marty Natalegawa menegaskan pemerintah Indonesia sulit memahami bagaimana mungkin teroris sekaliber Omar al-Faruq bisa melarikan diri dari penjara Baghram, Afganistan. "Kami sulit memahami kejadian ini. Namun, kejadian ini juga menempatkan dalam perspektif, berbagai kritik yang cenderung diarahkan pada Indonesia tentang bagaimana kami menangani kasus terorisme," katanya ketika dihubungi

Tempo, Jumat (4/11) sore. "Ternyata tidak ada negara yang bebas dari kekurangan - kekurangan," kata Marty lagi. Sampai saat ini, pemerintah belum mendapatkan informasi apapun perihal kaburnya al-Faruq dari pengawasan ketat tentara Amerika di Afganistan. "Sebagai pihak yang dulu menyerahkan, dapat disesalkan kami mendengar kaburnya al-Faruq dari media massa dan bukan dari jalur resmi diplomatik," kata calon Duta Besar Indonesia untuk Inggris ini. Meski mengeluarkan pernyataan bernada keras, Marty tetap menggarisbawahi bahwa pada dasarnya kaburnya al-Faruq adalah sepenuhnya masalah Amerika Serikat. Juru Bicara Mabes Polri Brigjen Soenarko yang dihubungi terpisah juga mengaku belum menerima informasi apapun seputar kaburnya tersangka teroris kelas kakap ini. Karena itu, polisi juga belum bisa mengambil tindakan apapun. "Saya koordinasi dulu dengan Deplu. Saya belum dapat informasi," katanya. Omar Al Faruq, yang disebut-sebut sebagai pemimpin jaringan Al Qaeda di Asia Tenggara, dilaporkan melarikan diri dari penjara militer Amerika Serikat (AS), di Bagram, Afghanistan. Dia yang ditangkap di Indonesia pada 2002 tersebut dilaporkan melarikan diri bersama tiga orang petinggi Al Qaeda lainnya. Departemen Pertahanan AS membenarkan bahwa salah satu tahanan yang melarikan diri tersebut adalah Omar Al Faruq. Sebenarnya, Al Faruq telah melarikan pada Juli, tapi berita ini baru diketahui media massa sejak hari Rabu (2/11). Wahyu Dhyatmika (Tpo) Istri Al Farouk Mengaku Suaminya Tidak Kenal Ba'asyir Mira Agustina (27), istri Umar Al-Farouk, yang dituduh CIA (badan intelijen AS) terlibat jaringan terorisme, dan pernah dilansir Majalah Time hingga hilang setelah ditangkap pada 5 Juni 2002, dan dalam sepekan terakhir ini mulai mencuat lagi setelah diberitakan kabur dari penjara Baghram, Afghanistan, menyatakan dengan tegas dan bahkan bersumpah bahwa baik ia maupun Al Farouk, sama sekali tidak mengenal ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Al-Farouk, dalam laporan Time disebutkan sebagai pimpinan Al-Qaidah di Asia Tenggara dan terlibat serangkaian serangan bom di Indonesia, dan malahan juga dituding berencana membunuh Presiden (saat itu) Megawati Soekarnoputri. Pengakuan tersebut disampaikan oleh Mira Agustina di kediamannya, Kampung Cijambu, Desa Cisalada, Kecamamatan Cijeruk di perbatasan Bogor-Sukabumi, Senin petang menjelang Maghrib, dalam suasana kawasan tersebut diguyur hujan sangat lebat. Ketika ditanya bahwa dalam kaitan munculnya kasus yang kembali mencuatkan nama suaminya itu, selalu dikaitkan dengan Abu Bakar Ba'asyir, Mira Agustina menyatakan berkali-kali dan secara tegas bahwa mereka tidak pernah mengenal, apalagi bertemu. "Tidak, tidak pernah (bertemu dengan Ba'asyir-- red) dan saya berani bersumpah kepada Allah SWT, kayaknya nggak pernah kenal dengan yang namanya ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Kalau pun pernah dengar, mungkin (untuk) saya ya, karena saya pernah `nyantri` (belajar di Pondok Pesantren) di Jawa Tengah," katanya. "Jadi, kalau mungkin pernah dengar namanya iya, tapi kalau ketemu sama sekali tidak pernah," tambah ibu dua putri bernama Gholiah (5,5) dan Hanum (4) itu. Ia sendiri mengaku tidak mengetahui mengapa selalu ada pengaitan-pengaitan antara suaminya dengan ustadz Ba'asyir.

Sebelumnya, M Assegaf salah seorang anggota kuasa hukum Ustadz Abu Bakar Ba'asyir, juga segera menyatakan harapan agar kasus lolosnya Al Farouk itu tidak dikait-kaitkan dengan kliennya itu. "Jangan terjadi lagi usaha untuk mengaitkan lolosnya Umar Al-Farouk dari penjara Baghram di Afganistan itu dengan Abu Bakar Ba'asyir. Berita tersebut justru menimbulkan pertanyaan, permainan apa lagi yang hendak dilakukan, terlebih menimbulkan tanda tanya besar mengapa sosok misterius itu dapat melarikan diri dari penjara Amerika Serikat yang terkenal memiliki pengamanan sangat ketat," kata M Assegaf. Umar Al-Farouk sendiri, masih menurut M Assegaf, sejak awal menjadi sosok yang misterius bagi Abu Bakar Ba'asyir dan tim penasihat hukumnya yang tergabung dalam Tim Pembela Abu Bakar Ba'asyir (TPABB). "Dengan tuduhan melakukan konspirasi dengan Ustad (Abu Bakar Ba'asyir --red) untuk melakukan peledakan dan rencana pembunuhan terhadap Presiden Megawati, Al-Farouk dengan mudahnya diserahkan kepada pihak Amerika Serikat oleh pemerintah Indonesia. Ini kan pertanyaan besar," katanya. Skenario AS Sementara itu, saat ditanya mencuatnya berita lolosnya Umar Al-Farouk dari penjara Al-Baghram itu, Mira Agustina menjawab dengan tegas bahwa hal itu adalah skenario terbaru buatan AS. "Kasus ini? Mungkin memang ada skenario baru," katanya. Menjawab pertanyaan skenario baru untuk siapa, apakah untuk Umar Al Farouk dan juga ustadz Baastyir, ia menjawab bahwa hal itu untuk keduanya. Lantas, siapa pembuat skenarionya? Ia menjawab tegas, "Ya, mungkin AS sendirilah, AS saja yang bikin masalah," tambahnya. Ia juga mengungkapkan bahwa labelisasi nama dari suaminya yang beragam pun juga mengherankan karena ada yang menulis "Umar Al-Farouq", "Umar Al-Farouk" dan beberapa lainnya. "Saya memanggilnya Abdul Farouk, meski sebenarnya saya nggak tahu awal mula ada nama Umar itu dari mana. Semua dokumen, baik di akte pernikahan adalah Mahmoud Ahmad Assegaf, lalu nama Umar Al-Farouk dari mana?," katanya. "Bahkan dalam rekaman video yang sempat kita saksikan melalui TV Aljazeera, suami saya mendapat julukan baru dengan nama `Al-Farouk Al-Iraqi`," tambahnya. Soal yang juga tidak masuk logika berpikirnya, adalah penjara di Baghram ini, yang sebegitu ketatnya penjara itu, namun suaminya bisa keluar tanpa diketahui. "Logikanya tidak masuk akal, kan waktu saya dapat berita dia melarikan diri belum terbayang penjara Baghram seperti apa, yang saya tahu super ketat," katanya. Tapi saat sebuah televisi di Indonesia memberi tahu bahwa penjara itu dilapisi dua tembok baja, empat pagar berduri yang berlapis dan di luarnya masih ada ranjau, sementara kaburnya empat orang yang bersama suaminya itu dalam keadaan diborgol, yang menjadi pertanyaan sederhana adalah bagimana cara kaburnya. "Kalau itu kekuatan Allah SWT kita nggak tahu, karena Allah saja yang punya kuasa atas umatnya," demikian Mira Agustina.[EL, Ant] Mira Agustina: Surat Suami Saya Berbahasa Inggris Sejak ditangkap di Terminal Baranangsiang, Bogor, pada 5 Juni 2002 lalu, nama Umar Al-Faruq tiba-tiba muncul lagi. Dia dikabarkan lolos dari penjara

Baghgram, Afghanistan, sejak awal September. Lebih dari tiga tahun berada di penjara berkeamanan maksimum itu, sedikitnya Al-Faruq mengirim enam lembar surat kepada istrinya, Mira Agustina (27 tahun). ''Ya Allah, suami saya sudah ditangkap sejak Juni 2002, toh setelah itu teror bom tetap ada sampai tahun 2005,'' kata ibu dua anak itu dengan nada protes, saat ditemui Republika di kediamannya, Kampung Cijambu, RT 02/01, No 82, Cisalada, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Sabtu (5/11) pekan alu. l Mira menikah dengan Mahmud Assegaf --yang belakangan disebut majalah Time sebagai Al-Faruq-- pertengahan 1999 lalu. Keduanya dikaruniai dua orang anak, yaitu Al Golia (5,5 tahun) dan Al Hanun (4). ''Nama itu pemberian abinya (ayahnya, red),'' kata Mira. Berikut petikan wawancara Republika dengan Mira Agustina: Setelah tiga tahun, masih melakukan kontak dengan abinya anak -anak? Tahun 2004 itu saya terima surat dari Palang Merah Internasional. Saya cukup kaget juga, kan sudah hampir dua tahun [tidak ada kabar]. Mereka tanya,''ibu istrinya Pak Mahmud?'' Mereka pakai nama Mahmud. Ini ada surat dari suami ibu. Isinya, dia [Mahmud] bertanya bagaimana buah hati saya? Tolong jaga mereka baik-baik. Dia juga juga tanya kondisi saya dan keluarga. Dia bilang kondisinya baik. Saya sempat tanya ke Palang Merah, apa salah suami saya? Hukumannya berapa tahun? Tapi dijawab itu bukan urusan Palang Merah Internasional. Mereka bilang, suami saya ada di Baghram. Berapa kali suami Anda berkirim surat? Suratnya [datang] ada sekitar enam sampai tujuh kali. Semuanya lewat Palang Merah Internasional. Palang Merah bilang, ini cuma surat keluarga. Datangnya tidak menentu. Kadang dua bulan, tiga bulan, atau empat bulan. Isinya cuma bilang kondisi saya baik, saya sudah hapal 30 juz Alquran. Seperti itu saja. Anda biasa berkomunikasi dengan suami menggunakan bahasa apa? Bahasa Arab. Tapi sering juga pakai bahasa Indonesia. Di rumah dengan ibu juga pakai bahasa Indonesia. Tapi surat-suratnya dalam bahasa Inggris. Suami Anda sekarang disebut dengan nama Umar Al-Faruq. Apa komentar Anda? Namanya Mahmud Assegaf. Di KTP-nya begitu. Waktu saya dengar nama Umar saya bingung. Kalau Al-Faruq saya ngerti. Dia pernah bilang, kalau kami punya anak laki-laki mau diberi nama Al-Faruq. Jadi saya panggil dia Abul Faruq (ayahnya Faruq, red). Tapi, anak kami kan dua-duanya perempuan. Al-Faruq itu karena panggilannya saja. Suami Anda dituduh terkait dengan Jamaah Islamiyah dan Alqaidah, kerusuhan Poso dan Ambon, juga rencana pembunuhan Megawati. Apa sebenarnya profesi suami Anda? Suami saya itu pedagang mutiara. Setahu saya itu profesinya. Karena itu juga kenal dengan ayah saya yang wiraswasta. Mereka bertemu di Jakarta. Soal kerusuhan di Poso, saya tidak tahu. Tapi, kalau di Ambon, saya rasa bukan abinya anak-anak yang memicu. Dia berangkat pagi, siang pulang makan siang, berangkat sore, maghrib sudah pulang lagi. Tentang tuduhan yang lain, sampai saat ini juga masih jadi pertanyaan buat saya. Tapi, saya berusaha meyakinkan ke hati saya, memang tidak. Sedangkan dengan Jamaah Islamiyah atau Abu Bakar Ba'asyir, saya berani sumpah tidak mengenalnya. Kalau soal pemboman, seingat saya, suami saya pernah bilang ''darah seorang Muslim yang shalat itu haram dibunuh, apalagi dibomu. Tuduhan rencana membunuh Megawati dari mana CIA dapat informasi itu? Kalau mereka bilang kata suami saya, tapi kita kan cuma mendengar dari sebelah pihak. Kadang saya merasa mengapa suami saya yang dipojokkan? Saya merasa lebih mengenal suami saya. Ketika orang memojokkan suami saya, saya juga merasa terpojok. Ketika ada orang Muslim bilang dia antek CIA yang disusupkan, saya sedih, mengapa saudara sesama Muslim tidak percaya? Tapi ini mungkin suratan takdir saya dari Allah. Mungkin Allah juga yang akan memperbaikinya.

Kapan dapat kabar suami melarikan diri? Saya telpon Palang Merah Internasional dengan Mbak Nisa. Waktu itu dia tidak ada. Akhirnya Mbak Nisa telpon saya balik. Ia bilang ada surat untuk saya tanggal 1 Juni 2005 tapi belum diberikan kepada saya. Waktu itu, sudah bulan Agustus 2005. Suratnya sudah aneh, tulisannya juga. Dia tidak lagi menanyakan keluarga, tidak lagi minta didoakan, seperti sebelumnya. Saya minta tolong ke Palang Merah. Mereka bilang terima faks tanggal 11 Juni 2005 bahwa suami saya melarikan diri dengan tiga orang temannya. Saya ke kantor mereka di Iskandarsyah, Jakarta. Mereka bilang sudah tidak bisa bantu saya lagi, karena suami saya sudah tidak di Baghram lagi. Sejak kapan Anda didatangi wartawan? Saya didatangi wartawan asing, dari AP (Associated Press, red), sehari sebelum Idul Fitri. Saya bingung mereka dapat dari mana informasi itu. Setelah mereka, baru wartawan lokal banyak yang datang. Bagaimana dengan anak-anak? Justru itu yang paling saya khawatirkan. Mereka perempuan, bagaimana nanti katika akan bekerja, menikah. Golia itu yang paling dekat dengan ayahnya. Dia lebih galak terhadap laki-laki. Mungkin karena tidak ada yang melindungi, jadi dia merasa harus melindungi dirinya. Terakhir kali dia mimpi abinya dua hari sebelum Lebaran. Di mimpi itu, dia lihat abinya dengan baju putih bersama temanya, tapi abinya tidak bicara, hanya temannya yang bicara. Kadang dia suka bertanya abi kok tidak pulang-pulang, Lia kangen. Saya suruh dia berdoa, setelah itu langsung tidur. Saya bilang pada mereka, abinya di Amerika bersekolah. Kadang saya tanya, kalau abinya meninggal bagaimana, Golia tidak mau. Pokoknya harus abi yang itu. Saya takut nantinya ini jadi beban dan tekanan buat mereka. Saya tekankan pada mereka, harus pintar dan tidak boleh minder. Mereka harus tetap sekolah, saya yang cari uang. (c40/RioL) AC Manulang: "Itu Mungkin Azahari -Azaharian" Mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), AC Manulang, mengatakan, kemungkinan orang yang terbunuh adalah "Azahari Azaharian'. Ada rekayasa intelijen, katanya Selasa, 15 November 2005 Hidayatullah.com--Pengamat intelijen yang juga mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), AC Manulang, meminta polisi melakukan tes DNA sebagai cross check hasil penelitian sidik jari untuk memastikan satu dari dua orag yang meninggal di Vila Flamboyan Blok A, Batu, Malang adalah benar-benar Azahari. Manulang secara terang-terangan mengatakan dirinya termasuk pihak yang meragukan kematian Azahari. "Yang mati itu mungkin hanya AzahariAzaharian. Saya menduga ini skenario intelijen asing, " sebutnya seraya mengatakan prediksinya itu didasarkan pada pengalamannya sebagai seorang intelijen. Keraguan Manulang bukannya tanpa dasar. Menurutnya, setidaknya ada tiga kejanggalan di balik tewasnya "Dr. Azahari" sebagaimana diakui pihak polisi. Pertama, polisi belum menjelaskan secara terbuka kepada publik seputar keberhasilannya mengendus persembunyian "Dr. Azahari" di Vila Batu, Malang. "Apa, bilamana, di mana, bagaimana dan mengapa aparatur Polri itu bisa sampai ke Vila Flamboyan. Ini harus dijelaskan dan dibuktikan, kata Manulang. Jika polisi tidak bisa melakukan hal itu, besar kemungkinan

penyergapan Azhari di Vila Flamboyan Cuma operasi intelijen. Dan yang namanya operasi intelijen, ujar Manulang, sulit dibuktikan sebagaimana kasus kematian Munir. Keraguan Manulang kedua adalah munculnya seseorang bernama Khairil ke ruang patologi RS Pusat Polisi Said Sukanto yang diberitakan mencuri pisau operasi sebagai banyak diberitakan di koran, Sabtu, (12/11) lalu. Manulang mengaku tak percaya jika Khairil hanya sekedar mencuri pisau operasi. Dia menengarai, Khairil punya maksud tertentu. Apalagi, saat itu jenazah "Dr. Azahari" dan Arman yang diberitakan baru saja tiba dievakuasi dari Surabaya. Sebab pengamanan jenazah atas tuduhan terorisme itu pastilah amat ketat. Manulang menilai, Khairil bukanlah orang biasa. Apalagi dia mampu menembus dan bisa menyelinap petugas yang melakukan pengawasan sangat ketat itu. "Sangat boleh jadi, dia akan mencari bagian tubuh dari Azahari untuk dibawa ke Australis atau CIA, Amerika." Sedah menjadi rahasia umum, kedua negara itu selalu `bermain' di Indonesia, ujar Manulang. Keganjilan ketiga, menurut Manulang, adalah kemunculan Azahari di Vila Flamboyan, Baru Malang. Menurutnya, sebagai orang yang dituduh meemimpin `terorisme' di Indonesia, logikanya, kemanapun pergi Azahari akan dikawal bodyguard dan support agen yang mengaturnya. "Agak sulit diterima pikiran seorang intelijen, jika seorang pemimpin seperti Azahari itu nongol di suatu tempat peristirahatan. Manulang menduga, peristiwa Azahari ini telah diatur oleh intelijen asing yang memang berkepentingan dengan isu terorisme. (diolah dari koran Surya, Selasa, 15 November 2005) Pesantren, Jihad, Teror Oleh: A. Mustofa Bisri SEBAGAI orang yang dibesarkan di pesantren, sama sekali saya tidak kaget mendengar pesantren dikait-kaitkan oleh pejabat tinggi negeri ini dengan teroris. Kita maklum belaka atas kebiasaan berpikir lugu kebanyakan petinggi kita yang gampang mengait-ngaitkan masalah dan suka dengan spontan menunjuk-nunjuk pihak lain. Inilah cara yang paling sederhana untuk menghindar dari dan sekaligus menunjukkan tanggung jawab. Bahkan, saya tidak kaget kalau spontanitas sederhana pejabat tinggi itu kemudian menjadi semacam kebijaksanaan yang diikuti membabi-buta oleh bawahan-bawahannya. Saya juga tidak kaget kalau pada gilirannya pers meramai-kembangkan hal itu. Boleh jadi petinggi yang bersangkutan memang mendengar pengakuan salah satu atau beberapa pelaku teror yang tertangkap, atau melihat dokumen yang ditemukan yang menunjukkan bahwa ada tersangka teroris yang mengaku jebolan pesantren. Apalagi, bila pejabat tinggi itu termasuk yang termakan opini bahwa sumber teror adalah dari pemahaman ajaran Islam. Maka, pesantren yang diketahui merupakan tempat pendidikan agama Islam akan tampak logis dijadikan kambing hitam. Saya yakin semua orang tahu bahwa saat ini jenis pesantren banyak sekali. Bahkan, -seiring banyaknya kiai tiban (kiai instan, Red)banyak pula pesantren tiban. Dan, pesantren yang disebut salaf katakanlah pesantren yang 'asli'- baik yang kemudian menamakan diri sebagai pesantren modern atau yang disebut orang tradisional, sudah memiliki jati diri sendiri yang tidak mudah dikagetkan oleh kepanikan orang -termasuk pejabat yang panikan.

Sejak mula pesantren 'salaf' meyakini suatu akidah pemikiran ahlussunnah wal jamaah yang bercirikan tawassuth wal i'tidaal, tengahtengah dan jejeg, dengan misi melanjutkan misi Rasulullah SAW rahmatan lil 'aalamiin, menebar kasih sayang ke semesta alam. Pesantren yang masih merupakan mayoritas ini masih dipimpin dan diasuh oleh kiai-kiai -dengan sedikit pengecualian- yang yanzhuruuna ilal ummah bi 'ainirrahmah, yang memandang umat dengan mata kasih sayang. Bersikap lemah lembut kepada sesama seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ajarannya juga masih tetap Addiinu annashiihah lillahi walikitaabihi walirasuulihi waliaimmatil muslimiin wa'aammatihim, berlaku baik terhadap Allah dengan membenarkan keyakinan dan ikhlas beribadah kepada-Nya; berlaku baik terhadap kitab-Nya dengan mempercayai dan mengamalkan isinya; berlaku baik terhadap rasul-Nya dengan mempercayai risalahnya dan mengikuti ajaran dan perintahnya; berlaku baik terhadap para pemimpin dengan menaati mereka dalam kebenaran dan menasihati mereka bila nyeleweng; berlaku baik terhadap umumnya umat dengan menunjukkan kebaikan kepada mereka dalam urusan dunia maupun akhirat. Namun, kalangan pesantren -termasuk organisasinya seperti RMI dan NUbisa mengambil hikmah dari dikait-kaitkannya pesantren dengan terorisme ini. Minimal hal ini dapat menyadarkan mereka bahwa ketika dunia dikuasai 'ideologi-ideologi' ekstrem seperti sekarang, 'ideologi' mereka yang tawassuth wal i'tidaal berasaskan kasih sayang sangat dibutuhkan. Pada gilirannya ini mendorong mereka untuk lebih menampilkan jati diri mereka sebagai pelopor pemikiran dan sikap jejeg dan tengah-tengah, menebarkan rahmatan lil'aalamiin; serta lebih aktif menjelaskan pemahaman yang benar tentang ajaran Rasulullah SAW melalui lisan, tulisan, maupun tindakan, tidak saja kepada pihak luar, tapi juga kepada kalangan sendiri yang masih belum benar-benar bisa memahami samhatal Islam, kelapangan Islam. Kalangan pesantren mesti mengkaji ulang dan memperbaiki cara mereka mulang dan memberi pengajian. Karena ternyata belakangan banyak konsep keliru yang laris manis justru karena dikemas dan diajarkan dengan cara yang canggih. Soal 'jihad' misalnya. Ternyata istilah yang sudah ma'lumun bidhdharurah di kalangan pesantren ini, kini masih ada yang mempersoalkan atau dipersoalkan lagi akibat adanya pemahaman baru yang bukan saja merusak maknanya, tapi juga merusak citra Islam itu sendiri. Bukan saja jihad diartikan hanya sebagai qitaal, perang, tapi jihad dan qitaal itu sendiri sudah tercerabut dari gandengannya yang tidak boleh dipisahkan: fii sabiilillah. Qitaal -fii sabiilillah sekalipun- yang tidak mengikuti jalan Allah, sama saja dengan teror! Sama dengan amar makruf nahi mungkar yang seharusnya dilakukan secara makruf, kini sudah ada yang melakukannya dengan cara yang mungkar. Demikian juga jihad sudah ada yang melucuti sabiilillah-nya. Berjuang di jalan Allah tanpa mengindahkan jalan Allah. Jihad dengan Quran -sebagaimana difirmankan Allah "Wajaahidhum bihi jihaadan kabiiran" "Berjuanglah terhadap mereka dengannya (Quran) dengan jihad yang besar" (Q. 25: 52) - yang menebarkan rahmat dan kehidupan, kini kalah populer oleh 'jihad' dengan bom yang menebarkan laknat dan kematian. Waba'du; akan halnya teror itu sendiri yang menjadi biang masalah, saya pernah menulis dan mengatakan antara lain bahwa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teror berarti: 1. perbuatan (pemerintahan dsb) yang sewenang-wenang (kejam, bengis, dsb); 2. usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Jadi apakah itu pemerintah, perorangan, atau golongan bisa melakukan teror. Pemerintah kolonialis Belanda dan Jepang yang melakukan teror terhadap rakyat Indonesia kemudian ditiru pemerintah Orde Baru,

terutama di awal-awal kekuasaannya. (Anda masih ingat menjelang pemilu 1971? Pemerintah yang didukung ABRI waktu itu melakukan teror yang luar biasa kejam kepada rakyatnya sendiri. Penculikan, penyiksaan, penindasan, dan hal-hal lain yang mengerikan dilakukan aparat pemerintah. Masih ingat lembaga atau apa yang bernama Babinsa -bersama koramil- yang pada 70-an menjadi momok di daerah-daerah karena kebengisannya?). Di luar Indonesia, sampai saat ini pemerintah Amerika masih terus meneror dunia dengan tindakan-tindakannya terhadap 'negara-negara kecil' seperti Afghanistan, Iraq, Iran, Syria yang dianggapnya tidak manut kepada negara adi daya itu. Pemerintah Israel meneror Yasser Arafat dan rakyat Palestina. Dan, kebetulan negara-negara sasaran itu dikenal sebagai negara-negara kaum muslimin. Dua pemerintahan yang saling mendukung itulah antara lain yang -dengan ketidakadilan alias kezaliman mereka- melahirkan 'teroris-teroris gelandangan' di manamana. Pihak kecil yang geregetan dan frustrasi terhadap kezaliman pihak yang kuat sering kalap dan menjadi zalim pula. Kezaliman melahirkan kezaliman dan kedua-duanya melahirkan kegelapan. Khusus di republik yang tertatih-tatih oleh timbunan utang, koruptor, dan seabrek masalah ini, merekrut 'pejuang teror' kiranya jauh lebih mudah daripada menangkap teroris. Di sini orang kecil atau rakyat yang bodoh dan melarat banyak, orang besar atau pemimpin yang korup dan tak bertanggung jawab juga banyak. Di sini untuk beberapa ribu rupiah, akal bisa hilang dan nyawa bisa melayang. Bayangkan bila ada doktrin yang bisa meyakinkan kepada orang yang sudah sedemikian sumpeknya terhadap kehidupan dunia ini, bahwa bila dia mau mengorbankan nyawanya, dia bukan sekadar akan mendapat beberapa ribu rupiah, tapi akan mendapatkan kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang berbahagia tanpa rasa takut dan susah. Sorga. Menurut saya, teroris akan mudah -bahkan mungkin hanya bisa- dikikis oleh sikap adil penguasa. Saya yakin Amerika akan bisa tidur tenang bila mereka tidak memilih pemimpin zalim semacam Bush. Dan di sini, di negeri ini, doktrin teroris macam Noordin M. Top tidak akan laku bila pemerintah lebih serius memikirkan kesejahteraan rakyatnya dan para pemimpin agama serius membimbing ke arah penguatan dan pengayaan batin mereka. Wallahu a'lam.

JIL Oleh: Thoriq * Sering kita mendengar sesumbar para pekerja Jaringan Islam Liberal yang tersebar di internet, koran-koran 'Jinayat' JIL Terhadap Fiqih dan Fuqaha atau dalam seminar-seminar yang mereka adakan. Pada intinya mereka selalu mengklaim sebagai kaum paling terpelajar, intelek, modernis, progresif serta menjunjung tinggi pengatahuan dan ilmu. Tapi pada kenyataanya jauh panggang daripada api, sehingga pembaca jangan heran jika mengetahui bahwa ada pekerja-pekerja JIL menulis atau berbicara ngaco, baik dalam forum-forum atau media massa, dan hal itu tidak terjadi satu atau dua kali, tapi berulang kali. Tentu tulisan ini tidak hendak mengorek-ngorek kesalahan para pekerja JIL, akan tetapi sebagai sebuah peringatan bagi kaum muslimin agar tidak langsung menelan mentah-mentah segala informasi yang datang dari mereka. Karena retorika dan gaya penulisan mereka yang terlihat memukau -banyak menggunakan istilah arab maupun kontemporer- maka secara sekilas memang terlihat sangat ilmiyah, akan tetapi jika kita mencermati dengan jeli maka kita bisa saja terkejut atau bahkan malah tersenyum-senyum sendiri ketika di dalamnya kita jumpai ada unsur-unsur kebohongan alias ngaco.

Kita semua paham, bahwa ide-ide mereka yang menyimpang sudah pasti tidak akan terakomodasi oleh fiqih islam, maka ketika mereka memaksakan diri melewati jalur fiqih akan terlihat imma membuat-buat kaidah nyleneh dan tidak ilmiyah atau berbohong atas nama ulama' tertentu atau mengambil pendapat-pendapat lemah dan hadist-hadist dho'if. Sebagai contoh, lihat tulisan yang berjudul "Argumen Metodologis CLD KHI" yang dipublikasikan di Kompas, (7/3/2005) yang juga dipublikasikan di website JIL pada tanggal 08/03/2005. Dalam tulisan tersebut si penulis menilai bahwa ushul fiqih tidak relevan lagi, sehingga si penulis membuat-buat beberapa kaidah sendiri-yang menurut penilaian dia-bisa memberikan kemaslahatan, keadilan, kerahmatan, dan kebijaksanaan. Kaidah 'ushul fiqih' alternatif yang pertama dipromosikan si penulis adalah, "al ibrah bil maqasid la bi alfadz", yang bermakna --kurang lebih--, yang dijadikan pijakan adalah tujuan bukan lafadz. Pembaca yang budiman, dari sini kita tahu bahwa si penulis memang tidak mengerti apa itu ushul fiqih. Definisi ushul fiqih adalah, ma'rifah dala'il alfiqhi ijmalan wa kaifiyah al istifadah minha wa hal almustafid (Nihayah Al Sul, Vol I, muqadimah) Jadi ada tiga unsur dalam ushul fiqih, pertama, ma'rifah dala'il fiqhi (pengetahuan tentang dalil-dalil fiqih), kaifiyah al istifadah (metodologi penggunaan dalil), dan hal mustafid (kriteria mujtahid). Dengan difinisi tersebut kita bisa mengetahui, mana yang termasuk ushul fiqih dan mana yang bukan. Sehingga kita juga paham bahwa kaidah yang diusulkan penulis tersebut sudah otomatis terkena kick out unsur pertama, karena tujuan ushul fiqih yang pertama adalah ma'rifah dala'il fiqhi, hal itu mencakup semua dalil yang disepakati yaitu Al Qur'an, As-Sunnah, ijma' dan qiyas, serta dalil-dalil yang diperselisihkan seperti istishab dan istikhsan (keterangan ta'rif secara mendetail bisa dilihat di Ushul Fiqih Universitas Al-Azhar Cairo). Sedangkan kaidah si penulis sejak awal malah mengajak untuk meninggalkan lafadz-lafadz, baik dari Al Quran atau Al Sunnah. Walhasil, semestinya si penulis memahi terlebih dahulu makna ushul fiqih, dan batasan-batasan definisinya, baru kemudian membuat kaidah, sehingga tidak dia sampai kecele seperti ini. Kaidah yang kedua semakin menampakkan ketidaktahuan si kandidat doktor ini tentang ilmu ushul. Katanya, adalah, jawaz naskh nushus bi al mashlahah (boleh me-naskh nash-nash dengan maslahat). Dari sini si penulis terlihat ingin segera menang tanpa perang alias potong kompas. Bagaimana dia bisa mengatakan bahwa boleh me-naskh nash Al Quran dan Al Sunnah dengan maslahat? Sedangkan definisi naskh sendiri adalah, bayan assyari' intiha'i zaman al amal bi hukmin syar'iyin dhohiruhu al dawam wa dzalika bidalil syar'i muta'akhir 'anhu nuzulan (Ahkam fi Ushuli Al-Ahkam, Vol 4, hal 64). Yang artinya, penjelasan dari pembuat syari'at (Allah SWTtentang habisnya masa pengamalan hukum syar'i yang secara dzahir (bagi kita) tetap langgeng dan hal itu dengan dalil syar'i yang turun lebih akhir darinya. Memang ada definisi-definisi lain, tapi semuanya tidak jauh berbeda. Dari ta'rif yang ada kita bisa menyimpulkan bahwa hukum yang dihapus (mansukh) adalah hukum syar'i, sedangakan dalil yang menghapus adalah dalil syar'i pula, yaitu Al Quran dan Al Sunnah, maka ijma' dan qiyas tidak bisa me-naskh. Maka sudah jelas bahwa kaidah si penulis diluar makna naskh, karena membolehkn naskh tidak dengan dalil syar'i, akan tetapi si penulis sudah terlanjur potong kompas dengan membuat kaidah, jawaz naskh.

Maka, jika si penulis ingin agar kaidahnya selamat dari "cacat ilmiyah" dia harus berjuang mati-matian terlebih dahulu untuk membuat difinisi naskh tersendiri untuk menampung kaidah hasil temuannya, jangan nebeng definisi dari ilmu ushul fiqih. Tentu saja untuk ini, si penulis akan tetap berhadapan dengan 'tembok', karena apa yang telah dia definisikan tetap saja bukan termasuk dalam artian naskh. Kaidah selanjutnya adalah, yajuzu tanqih al nushus bi al 'aql al mujtama'. Dalam bahasa si penulis, boleh mengamademen nash-nash dengan pemikiran masyarakat. Sebetulnya ketiga kaidah ini sama saja intinya, yaitu mengajak agar kita meninggalkan nash-nash Al Quran dan Al Sunnah. Akan tetapi dengan kaidah yang ketiga ini akan terlihat betapa sempurna sudah kejahilan penulis akan ilmu ushul. Mengapa? Pertama, sebagaimana yang telah kita bahas di atas, bahwa tujuan ushul fiqh yang pertama adalah untuk mengetahui dalil-dalil fiqih, hal itu mencakup semua dalil yang disepakati yaitu Al Quran, Al Sunnah, ijma' dan qiyas, serta dalil-dalil yang diperselisihkan seperti istishab dan istikhsan. Sedangkan si penulis malah hendak menjauhkan kita dari nash-nash yang ada, maka kaidah ini tidak masuk dalam lingkup ushul fiqih. Kedua, yang namanya kaidah itu selalu lahir dari nash-nash, baik Al Quran maupun Al Sunnah, sedangkan kaidah si penulis malah hendak memvakumkan nash-nash, maka kaidah tersebut juga otomatis tidak termasuk kaidah fiqhiyah. Ketiga, jika pemikiran masyarakat memiliki otoritas untuk mengamanden nash, maka fakta menyebutkan bahwa ada masyarakat atau bahkan negara yang masih gemar berperang, adapula masyarakat nudis, adapula masyarakat yang budayanya akrab dengan korupsi, banyak anggota masyarakat yang suka berzina, banyak anggota masyarakat yang mengkonsumsi narkotika. Tentu jika kaidah itu diterapkan justru akan menimbulkan kekacauan di mana-mana. Walhasil, hanya manusia yang tidak memiliki akal sehatlah yang bisa menerima dan berusaha menerapkan kaidah-kaidah aneh hasil penemuan si penulis tersebut. Penulis JIL yang lain juga berkata ngaco di kesempatan yang berbeda, mari kita lihat tulisan yang dipublikasikan oleh website JIL pada tanggal 16/05/2005, yang berjudul "Salat Bilingual; Haruskah Menjadi Kontroversi?". Pada paragraf ke delapan si penulis menyatakan, "Jika kita mengaca sejarah, kita akan melihat perdebatan sengit antara Imam Abu Hanifah yang berasal dari Parsi dan Imam Syafi'i yang berasal dari Arab keturunan Quraisy. Imam Syafi'i adalah orang yang sangat kuat berpandangan bahwa membaca al-Fatihah (dalam salat) dengan menggunakan bahasa Arab merupakan kewajiban. Orang yang tidak melakukannya, shalatnya tidak sah. Sementara Abu Hanifah memperbolehkan membaca Al Fatihah dalam bahasa Parsi atau bahasa non -Arab lainnya, bagi mereka yang tidak menguasai bahasa Arab." Dari penggalan artikel di atas ada beberapa hal yang perlu dicermati. Pertama, si penulis menilai ada perdebatan sengit antara Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i. Kedua, si penulis juga menilai bahwa Imam Abu Hanifah berasal dari Parsi. Para pembaca yang budiman, perdebatan itu tidak pernah terjadi sepanjang sejarah, peristiwa itu hanyalah khurafat dari si penulis. Kebanyakan dari umat Islam pun mengerti, bahwa Imam Abu Hanifah wafat tahun 150 H, sedangkan Imam Syafi'i lahir pada tahun 150 H juga di Gaza Palestina, bertepatan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah. Bagaimana bisa terjadi perdebatan sengit antara keduanya? Khurafat penulis juga menyatakan bahwa Imam Abu Hanifah berasal dari Parsi,

entah merujuk dari mana si penulis tersebut? Yang jelas dalam buku-buku sejarah mazhab kita dapati keterangan bahwa Imam Abu Hanifah lahir di Kufah (Hidayah Al Thalib ila Al Bahts fi Fiqhi Al Madzahib, hal 6) Ada hal lain yang tak kalah memprihatinkan. Feminis Siti Musdah Muliya yang juga dikenal tokoh counter legal draft Kompilasi Hukum Islam (CLDKHI) dalam sebuah media di bulan September 2005, sempat mengatakan, bahwa Imam Syafi'i pernah mengatakan dalam kitabnya Al Umm, "annikah laisa min al ibadah, wa huwa min al syahawat" (pernikahan bukanlah termasuk bagian dari ibadah, melainkan bagian dari syahwat). Dalam sejarah, Imam Syafi'i tidak pernah mengatakan kalimat seperti itu, baik dalam Al Umm maupun dalam karya-karya beliau yang lain. Bahkan di dalam Al Umm beliau sendiri mengatakan: "Jika lelaki menjadi wali atas dirinya sendiri, begitu juga wanita (janda) aku lebih menyukai agar kedua-kuduanya menikah jika termasuk dari mereka yang menginginkan pernikahan, karena Allah swt. telah memerintahkan, meridhoi dan mensunahkannya, serta menjadikan pernikahan itu sebagai penyebab-penyebab datangnya hal-hal yang bermanfaat." (Al Umm, Vol VI, 373). Jika perempuan aktivis feminisme itu mengatahui bahwa Imam Syafi'i tidak pernah berbicara seperti apa yang dia katakan, lantas dia dengan sengaja menisbatkan perkataan itu kapada beliau, maka feminis itu telah melakukan tindakan yang amat keji, karena berani memfitnah Imam Syafi'i sekaligus melakukan pembodohan terhadap umat, na'udzubillahi min dzalik. Jika dia tidak tahu bahwa Imam Syafi'i tidak pernah mengatakan perkataan itu lantas ia berani menisbatkan perkataan itu kepada beliau maka perempuan itu telah berbicara tentang agama tanpa didasari ilmu, alias asbun. Inilah yang disebut nashru al bathil bi al bathil. Wallahu 'alam bi al showab. *Penulis adalah mahasiswa Fakultas Syari'ah Islamiyah Al Azhar Mesir PKS di Simpang Jalan Oleh :Handi Risza Idris Alumni Program Pascasarjana International Islamic University Malaysia ''Jika seandainya pemilu dilaksanakan dalam satu bulan kedepan, bisa dipastikan yang akan keluar sebagai pemenang adalah Partai Golput". Itu adalah ungkapan seorang pengamat politik terkenal bagi kondisi politik tanah air. Tentu, ungkapan tersebut bukan sebuah candaan belaka, tapi lahir dari sebuah keprihatinan mendalam dan memiliki alasan kuat. Dalam tiga bulan terakhir, hampir semua partai politik di Indonesia telah kehilangan fungsi sebagai lembaga aspirasi yang menyerap keluhan, keinginan, dan harapan pemilihnya. Hampir semuanya memainkan peran sebagai corong pemerintah atau bahkan diam. Bisa ditebak, alasannya berujung kepada sistim politik Indonesia yang tidak mengenal partai oposisi. Semua kekuatan politik dilibatkan dalam mengelola lembaga pemerintahan. Dan bisa dipastikan, itulah yang mematikan daya kritis dan keberpihakan partai politik (yang tercermin dari para wakil rakyatnya) terhadap kondisi dan realita rakyat di lapangan. Pada awalnya, tentu masayarakat berharap ada kekuatan baru yang lebih segar, progresif, dan ideologis, yang akan memainkan peran untuk menyegarkan ranah politik Indonesia yang sudah sangat membosankan. Sebab sejak reformasi, partai yang berkuasa adalah penjelmaan partai masa lalu yang mempertahankan status quo. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), adalah salah satu ikon harapan masyarakat tersebut. Terlebih, secara historis, juga kerangka politik yang mereka bangun, hampir bisa dipastikan tidak memiliki akar apapun dengan kekuatan politik Islam yang pernah ada di Indonesia, Masyumi sekalipun. Benar, sebagian kader PKS berasal dari semua elemen kekuatan organisasi Islam, bahkan pendidikan sekuler. Tapi, setelah itu, dengan

formula yang mereka miliki, PKS bisa tampil dengan wajah yang sangat berbeda dari wajah semua kekuatan politik Islam yang ada di Indonesia.Keberhasilan PKS masuk enam besar Pemilu 2004, telah mengantarkan 45 wakil rakyat mereka ke kursi empuk DPR. Ribuan anggota legislatif (aleg) PKS juga tersebar di seluruh Indonesia. Dengan posisi tersebut, PKS ibarat gadis cantik yang siap dipinang oleh presiden pemenang pemilu, SBY-JK. Terjadilah perkawinan politik (sebagian mengistilahkan ''musyarakah politik''), dengan masuknya tiga kader PKS di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Bulan madu kekuasaan ini boleh dikatakan berlangsung mulus. PKS secara terbuka telah menyatakan sebagai partai pendukung pemerintah dengan tidak menghilangkan sikap kritisnya pada masa awal Pemerintahan SBY-JK. Memang, bisa dimaklumi, karena belum ada kebijakan Pemerintah yang perlu dikritisi secara tajam. Barulah ketika akan memasuki masa satu tahun Pemerintahan SBY-JK, banyak kebijakan Pemerintah yang sangat kontraproduktif terhadap kondisi masyarakat. Puncaknya adalah kebijakan menaikkan harga BBM pada kisaran 100 persen pada 1 Oktober. Efek domino kenaikan BBM ini telah berdampak kepada perekonomian masyarakat secara umum. Secara kuantitas dan kualitas, jumlah penduduk miskin bertambah, penggangguran meningkat, angka gizi buruk naik tajam, angka anak putus sekolah semakin besar, disparitas pendapatan semakin tajam, inflasi yang mencapai dua digit, dan semua persoalan ekonomi yang ada, hadir menghinggapi kehidupan masyarakat. Dilema PKS Pada masa-masa kritis ini ''musyarakah politik'' PKS-Pemerintahan SBY-JK diuji. Sejauh mana sikap kritis, bersih, dan peduli --yang selama ini menjadi slogan PKS-- mampu memperbaiki citra pemerintah yang sedang terpuruk ini. Ada beberapa analisa kritis yang bisa dijadikan penilaian terhadap pola hubungan PKS-Pemerintah yang selama ini berjalan. Pertama, pada dasarnya posisi politik PKS sangat lemah di mata pengambil keputusan, terutama terhadap kebijakan ekonomi yang selama ini bermasalah. Walau mereka (PKS-SBY) memiliki pola komunikasi informal, tetapi tidak cukup kuat untuk diimplementasikan menjadi sebuah kebijakan politik Pemerintah. Posisi menteri pertanian, menpera, dan menpora, menjadi tidak berarti (lemah), atau bahkan bisa dikatakan kartu mati bagi bargaining position politik PKS.

Contoh konkretnya terlihat dalam pengambilan keputusan harga BBM. Berkali-kali Presiden PKS, Tifatul Sembiring, memberikan klarifikasi bahwa kenaikan yang disepakati dengan SBY hanya berkisar 30 persen saja. Tapi kenyataanya, Pemerintah berjalan dengan keputusannya sendiri. Ke depan, jika ''musyarakah politik'' ini masih ingin terus berjalan, minimal PKS harus mendapat jatah menteri keuangan, jaksa agung, atau bahkan seorang menko perekonomian. Kedua, keberadaan 45 wakil rakyat PKS boleh dikatakan belum menunjukkan kinerja memuaskan --baik di tingkat individu, komisi, maupun fraksi. Bahkan, untuk beberapa komisi tertentu, kompetensi aleg PKS cenderung dipaksakan. Mungkin, yang masih menyelamatkan citra partai ini adalah keberadaan aleg PKS di daerah yang masih bersikap kritis, dan beberapa aksi sosial yang dilakukan. Kondisi ini terjadi karena PKS menyatakan diri sebagai pendukung Pemerintah, sehingga daya kritis para anggota Dewan-nya terkesan mandul. Bahkan, untuk beberapa kebijakan tertentu, terkesan sudah tidak memiliki sense terhadap kondisi masyarakat. Hal ini terlihat dari persetujuan Fraksi PKS terhadap perubahan anggaran, di mana salah satu poinnya adalah kenaikan harga BBM.

Parahnya, kebijakan itu dilanjutkan dengan menaikkan tunjangan anggota Dewan sebesar Rp 10 juta per bulan. Apapun dalihnya, tindakan ini jelas sangat memukul harapan masyarakat akan pembela nasib dan suara mereka di parlemen. Bisa dimaklumi jika kemudian bendera PKS turut dibakar mahasiswa yang kecewa terhadap kebijakan politik PKS. Ketiga, dalam mendukung Pemerintahan SBY-JK, jelas PKS tidak berada sendirian. Selain PKS, terdapat partai pendukung utama Pemerintah, yaitu Partai Golkar. Pada awal reformasi, hampir semua pengamat menilai PKS tidak akan mungkin berkoalisi dengan Golkar. Hampir tidak ada titik temu yang cukup kuat untuk mempertemukan. Tapi kepentingan politik telah mengubah segalanya. Tidak ada lagi sekat dan batasan yang jelas antara kepentingan ideologi dan politik. Tidak cukup kuat mengatakan bahwa PKS berkoalisi dengan SBY, bukan dengan Golkar. Kondisi tersebut benar, ketika Akbar Tandjung masih menjadi ketua umum Golkar. Sekarang, kondisinya sangat berbeda. Keempat, godaan kekuasaan dan materi telah membuat perangkap yang cukup ampuh bagi kekuatan politik manapun. Memang, dalam hal ini, belum bisa dibuktikan ada efek yang negatif terhadap ''pejabat publik PKS'' di manapun mereka berkiprah. Tetapi sikap politik dan sikap individu ''pejabat publik PKS'' ini menunjukkan gejala yang mengarah kepada sikap yang mulai tidak proporsional terhadap kerja-kerja kader PKS di tingkat kecamatan (DPC) bahkan sampai ke kelurahan (DPRa). Kerja dakwah tanpa pamrih, door to door, kadangkala tidak mendapat apresiasi yang memadai. Bahkan persoalan ekonomi yang melilit pendukung PKS dipinggiran, atau di daerah seringkali tidak cukup menjadi beban bagi sebagian elite untuk mulai bergaya hidup mapan, selaku pejabat publik, baik di legislatif atau pemerintahan. Sehingga dikhawatirkan, sikap ini akan memupuk jurang komunikasi yang dalam dengan para konstituen di pinggiran dan daerah, sehingga menyebabkan semakin merebaknya kekecewaan para pendukung partai ini, dan bahkan cenderung bersifat apatis terhadap persoalan politik. Kelima, sejarah perjuangan partai-partai Islam telah memberikan sebuah catatan yang sangat pantas untuk dikaji ulang. Belum pernah satu kekuatan politik Islam yang mampu bertahan dalam ''koalisi'' kekuasaan yang panjang, bahkan Masyumi sekalipun. Tantangan terberat yang dialami parpol Islam adalah tarik menarik antara kepentingan ideologi dan politik. Konsekuensi yang akan dihadapi hanya berada dalam dua pilihan: larut dalam kekuasaan dengan segala macam masalahnya atau terpental dari kekuasaan yang menggiurkan dan itu terjadi pada Masyumi. Dan pelajaran berharga ini harus menjadi modal berharga bagi PKS dalam menentukan pilihan politiknya di kemudian hari. Mau tidak mau, suka tidak suka, pasca-satu tahun Pemerintahan SBY-JK, PKS harus kembali menentukan sikap politiknya. PKS harus mampu mengevaluasi pencapaian yang sudah mereka lakukan dalam satu tahun ini. Keputusan yang akan ditunggu oleh seluruh pendukungnya, atau bahkan seluruh rakyat yang masih menginginkan perubahan. Minimal, PKS masih memiliki komitmen dengan janji semula, yaitu baru akan ''berkuasa'' jika jumlah anggota parlemennya sudah mencapai angka 20 persen. Sehingga mereka punya kekuatan untuk mengambil setiap keputusan penting di republik ini dengan ''bersih dan peduli''. Semuanya akan sangat bergantung kepada hasil evaluasi internal yang mereka lakukan. Dan itu, hanya Allah dan elite PKS lah yang tahu. MELURUSKAN KEMBALI MAKNA JIHAD Buletin al-Islam Edisi 280 Dr. Azahari, salah seorang yang diyakini otak di balik sejumlah kasus peledakan bom di Indonesia, boleh tewas. Akan tetapi, persoalan terorisme tampaknya tidak akan berhenti. Apalagi Noor Din M Top, rekan Azahari, sampai kini belum tertangkap.

Lebih dari itu, terorisme, khususnya di Indonesia, menyisakan satu persoalan, yakni adanya penyimpangan makna jihad oleh para pelaku tindakan terorisme, yang kebetulan adalah Muslim. Paling tidak, hal itu terungkap dalam tayangan VCD para pelaku terorisme-yang salah satunya diyakini Noor Din M Top-yang disebarluaskan ke masyarakat beberapa waktu lalu. Intinya, pelaku teror tersebut meyakini, bahwa berbagai upaya pengeboman dan tindakan bom bunuh diri itu sebagai bagian dari jihad fi sabilillah. Keyakinan tersebut tentu saja keliru dan patut dipertanyakan. Sebab, meskipun konon motifnya adalah kebencian terhadap negara-negara kafir penjajah, khususnya AS dan Inggris yang telah melakukan penjajahan atas Afganistan dan Irak, toh kebanyakan yang menjadi korban peledakan bom tersebut adalah o rangorang yang 'tidak berdosa'. Apalagi Indonesia bukanlah wilayah perang sebagaimana halnya di Afganistan, Irak, atau Palestina. Karena itu, sebagaimana dinyatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ada masalah pemahaman yang harus diluruskan dalam masyarakat, khususnya pemahamanan soal jihad. "Masyarakat mengetahui bahwa ini adalah masalah pemahaman yang harus diluruskan bahwa jihad itu tidak demikian," kata Wapres kepada wartawan di Jakarta, Kamis (17/11). (Kompas, 17/11/2005). Jihad dalam Islam Sebagaimana shalat, jihad adalah bagian dari ajaran Islam. Jihad bahkan termasuk di antara kewajiban dalam Islam yang sangat agung, yang menjadi 'mercusuar' Islam. Secara bahasa, jihad bermakna: mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, Kamus AlMuhth, kata ja-ha-da.) Secara bahasa, jihad juga bisa berarti: mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperoleh tujuan (An -Naysaburi, Tafsr an-Naysbr, XI/126). Adapun dalam pengertian syar' (syariat), para ahli fikih (fuqaha) mendefinisikan jihad sebagai upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung maupun memberikan bantuan keuangan, pendapat, atau perbanyakan logistik, dan lain-lain (untuk memenangkan pertempuran). Karena itu, perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah itulah yang disebut dengan jihad. (An-Nabhani, AsySyakhshiyyah al-Islmiyyah, II/153. Lihat juga, Ibn Abidin, Hsyiyah Ibn Abidin, III/336). Di dalam al-Quran, jihad dalam pengertian perang ini terdiri dari 24 kata. (Lihat Muhammad Husain Haikal, Al-Jihd wa al-Qitl. I/12) Kewajiban jihad (perang) ini telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam alQuran di dalam banyak ayatnya. (Lihat, misalnya: QS an-Nisa' 4]: 95); QS at-Taubah [9]: 41; 86, 87, 88; QS ash-Shaf [61]: 4). Bahkan jihad (perang) di jalan Allah merupakan amalan utama dan agung yang pelakunya akan meraih surga dan kenikmatan yang abadi di akhirat. (Lihat, misalnya: QS an-Nisaa' [4]: 95; QS an-Nisa' [4]: 95; QS atTaubah [9]: 111; QS al-Anfal [8]: 74; QS al-Maidah [5]: 35; QS alHujurat [49]: 15; QS as-Shaff [61]: 11-12. Sebaliknya, Allah telah mencela dan mengancam orang-orang yang enggan berjihad (berperang) di jalan Allah (Lihat, misalnya: QS at-Taubah [9]: 38-39; QS al-Anfal [8]: 15-16; QS at-Taubah [9]: 24). Pertanyaannya, kapan dan dimana jihad dalam pengertian perang itu dilakukan? Pertama: manakala kaum Muslim atau negeri mereka diserang oleh orang-orang atau negara kafir. Contohnya adalah dalam kasus Afganistan dan Irak yang diserang dan diduduki AS sampai sekarang, juga dalam kasus Palestina yang dijajah Israel. Inilah yang disebut dengan jihad defensif (dif'). Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslim untuk membalas tindakan penyerang dan

mengusirnya dari tanah kaum Muslim: Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS al-Baqarah [2]: 190). Kedua: manakala ada sekelompok komunitas Muslim yang diperangi oleh orang-orang atau negara kafir. Kaum Muslim wajib menolong mereka. Sebab, kaum Muslim itu bersaudara, laksana satu tubuh. Karena itu, serangan atas sebagian kaum Muslim pada hakikatnya merupakan serangan terhadap seluruh kaum Muslim di seluruh dunia. Karena itu pula, upaya membela kaum Muslim di Afganistan, Irak, atau Palestina, misalnya, merupakan kewajiban kaum Muslim di seluruh dunia. Allah SWT berfirman: Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan agama ini maka kalian wajib menolong mereka. (QS al-Anfal [8]: 72). Ketiga: manakala dakwah Islam yang dilakukan oleh Daulah Islam (Khilafah) dihadang oleh penguasa kafir dengan kekuatan fisik mereka. Dakwah adalah seruan pemikiran, non fisik. Manakala dihalangi secara fisik, wajib kaum Muslim berjihad untuk melindungi dakwah dan menghilangkan halangan-halangan fisik yang ada di hadapannya dibawah pimpinan khalifah. Inilah yang disebut dengan jihad ofensif (hujm). Inilah pula yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat setelah mereka berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah. Mereka tidak pernah berhenti berjihad (berperang) dalam rangka menghilangkan halangan-halangan fisik demi tersebarluaskannya dakwah Islam dan demi tegaknya kalimat-kalimat Allah. Dengan jihad ofensif itulah Islam tersebar ke seluruh dunia dan wilayah kekuasaan Islam pun semakin meluas, menguasai berbagai belahan dunia. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Bahkan jihad (perang) merupakan metode Islam dalam penyebaran dakwah Islam oleh negara (Daulah Islam). Allah SWT berfirman: Perangilah oleh kalian mereka (orang-orang kafir) hingga tidak ada lagi fitnah (kekufuran) dan agama ini (Islam) hanya milik Allah. (QS al-Baqarah [2]: 193). Terorisme Bukan Jihad Dari definisi dan konteks jihad di atas, jelas sekali bahwa tindakan terorisme (dalam arti melakukan berbagai peledakan bom ataupun bom bunuh diri bukan dalam wilayah perang, seperti di Indonesia) bukanlah termasuk jihad fi sabilillah. Sebab, tindakan tersebut nyata-nyata telah mengorbankan banyak orang yang seharusnya tidak boleh dibunuh. Tindakan ini haram dan termasuk dosa besar berdasarkan firman Allah SWT: Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang haq. (QS al-Isra' [17]: 33). Allah SWT juga berfirman: Siapa saja yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam; ia kekal di dalamnya; Allah pun murka kepadanya, mengutukinya, dan menyediakan baginya azab yang besar. (QS. an-Nisa' [4]: 93). Apalagi Allah SWT pun telah berfirman: Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Pengasih kepada kalian. (QS an-Nisa' [4]: 29). Keagungan Jihad Tak Boleh Dinodai

Sebagaimana telah dijelaskan di awal, jihad adalah amal yang agung. Imam an-Nawawi, dalam Riydh ash-Shlihn, membuat bab khusus tentang jihad. Beliau antara lain mengutip sabda Nabi saw., sebagaimana yang dituturkan oleh Abu Hurairah: Rasulullah saw. pernah ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Jawab Nabi, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Beliau diitanya lagi, "Kemudian apa?" Jawab Nabi, "Perang di jalan Allah." Beliau ditanya lagi, "Kemudian apa?" Jawab Nabi, "Haji mabrur." (HR alBukhar dan Muslim). Imam Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa dalam hadis tersebut (atau yang serupa) perang di jalan Allah (jihad fi sabilillah) adalah amal yang paling utama setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya (Ibnu Hajar alAsqalani, Fath al-Bari, 5/149). Karena itu, sudah selayaknya kaum Muslim menjaga keagungan jihad ini dari siapapun yang berusaha menodai dan merendahkannya, baik karena ketadaktahuannya, ataupun karena kedengkiannya (seperti yang dilakukan Barat kafir penjajah) terhadap aktivitas jihad. Sebab, di samping makna jihad telah diterapkan dengan kurang tepat, keagungan jihad juga telah sengaja direndahkan oleh Barat kafir imperialis. Barat, misalnya, telah lama menyebut Islam sebagai agama 'barbarian' hanya karena mengajarkan jihad. Presiden Bush bahkan menyebut Islam sebagai agama radikal dan fasis, sementara PM Inggris Blair menjuluki Islam sebagai 'ideologi Iblis'; juga antara lain karena faktor jihad. Colin Powell saat menjadi menteri luar negeri AS juga pernah mengatakan, "Jika mereka hanya mengirim generasi muda ke madrasah, sekolah itu tidak melakukan apa-apa, tetapi mengindoktrinasi mereka dalam aspek-aspek buruk. Mengajarkan kebencian tidak akan membawa perdamaian bagi kita semua di kawasan ini." (Media Indonesia, 23/1/2004). Mengapa demikian? Semua itu tidak lain sebagai bentuk propaganda mereka agar kaum Muslim menjauhi aktivitas jihad. Sebab, bagaimanapun Barat menyadari bahwa jihad adalah ancaman tersebar bagi keberlangsungan mereka atas Dunia Islam. Karena itu, Barat bahkan berusaha agar jihad dihilangkan dari ajaran Islam. Hal itu antara lain diwujudkan dengan upaya Barat untuk memaksakan kurikulum ke madrasah-madrasah, pesantren-pesantren, atau lembaga-lembaga pendidikan Islam karena dianggap mengajarkan kekerasan dan memproduksi 'para teroris'. Walhasil, di satu sisi kita jelas tidak setuju jika peledakan bom terhadap masyarakat (termasuk Muslim) bukan dalam kondisi perang dikategorikan sebagai jihad. Sebaliknya, di sisi lain, kita pun harus mewaspadai setiap upaya dari Barat kafir penjajah yang berusaha memanipulasi bahkan menghapuskan ajaran dan hukum jihad dari Islam demi kepentingan politik mereka. [] Komentar al-Islam: Wapres Yusuf Kalla mengungkapkan, perlu perang ideologi dan fisik untuk memerangi terorisme (Media Indonesia Online (22/11/2005). Gembong teroris adalah negara-negara imperialis dan ideologi teroris adalah Kapitalisme-sekular. Dr. Daud Rasyid: Diasingkan Karena Bela Prinsip-Prinsip Islam 18/11/2005 13:34 WIB eramuslim - Sudah menjadi sunnatulah dalam berdakwah, setiap da'i yang melawan kebatilan akan mendapat ujian-ujian maupun fitnah-fitnah. Adalah doktor Daud Rasyid, jebolan Universitas Kairo, Mesir, yang dideportasi oleh pihak Institut Agama Islam Negeri (IAIN, sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ke IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Padahal sesuai dengan permintaan Direktur Program Pascasarjana (PPs) IAIN Jakarta Prof. Harun Nasution saat itu, Daud diminta memberi kuliah di kampus yang terletak di bilangan Ciputat, Tengerang itu. Melawan Liberalisme di Kampus

"Secara logika tidak pas. Karena menurut rencana semula, yang mendorong saya untuk menjadi PNS itu almarhum Prof. Harun. Karena tenaga saya dibutuhkan di IAIN Jakarta," ujarnya. Akibat peristiwa ini, Prof. Dr. Harun Nasution, yang juga dikenal sebagai pembawa dan penyebar aliran Mu'tazilah ke Indonesia, khususnya di dunia perguruan tinggi, merasa terkejut dengan peristiwa itu. "Beliau sendiri bingung dan kaget dengan kejadian itu. Kerjaan siapa ini?" sambungnya. Maklum saja. Dalam pandangan Harun, Daud Rasyid adalah tenaga pengajar "langka" saat itu. Alasannya, IAIN sangat membutuhkan doktor ahli hadis untuk mengajar di program pascasarjana. Karena itulah, ketika mendengar Daud Rasyid pulang ke Indonesia, Harun pun memintanya mengisi mata kuliah Ilmu Hadis. Menurutnya, pembuangan dirinya ke IAIN Bandung bukanlah hal yang tiba-tiba. Tapi, jauh-jauh hari sudah didesain oleh petinggi IAIN saat itu. "Ini bukan tanpa rencana, tapi sengaja," katanya. Waktu pun terus berjalan. Selama tiga tahun menjadi dosen di IAIN Jakarta, selama itu pula ayah tujuh anak ini mendapat serangan balik dan "teror" dari sejumlah dosen dan petinggi IAIN yang tak senang dengan pemikiran dan gerakan Daud Rasyid. "Terutama dari sarjana lulusan Barat atau AS," paparnya. Ia menuturkan, keberadaan Daud Rasyid rupanya telah membuat sebagian alumni Barat/AS gerah dan gundah. "Program pembaratan mereka di IAIN terganggu dengan keberadaan saya. Selama mengajar di sana saya melihat memang terjadi pertarungan pemikiran antara kelompok Barat, yang meliberalkan pemikiran Islam. Itu saya hadapi di perkuliahan," terangnya. Celakanya, ada pihak-pihak yang mengadu-domba antara Harun Nasution dengan Daud Rasyid. Maksudnya, agar mantan rektor IAIN Jakarta itu tak simpatik lagi dengan laki-laki kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara ini. Tapi, syukurnya Harun tak terpengaruh dengan wacana dan ulah nakal itu. Namun, di usianya yang semakin uzur, tak lama kemudian Harun mundur dari jabatan direktur PPs, usaha mendeportasi Daud Rasyid ke IAIN Bandung terlaksana. Daud Rasyid menjelaskan, kondisi Harun yang melemah itulah yang mereka manfaatkan. "Karena sejak Pak Harun tak lagi memimpin PPs, langkah mereka lebih leluasa. Sebelumnya mereka sungkan dengan Prof. Harun," ungkap alumnus IAIN Sumut ini. "Mereka kadang mendorong mahasiswa untuk protes ke Pak Harun. Artinya keberadaan saya tak nyaman bagi mereka. Ketika Prof. Harun ketemu dengan saya, itu juga disampaikannya ke saya. Ada sekelompok orang yang mendatangi dia melaporkan tentang saya. Maka saya tahu. Saya itu tak akan dibiarkan leluasa menyampaikan tentang pemikiran Islam yang lurus. Mereka lalu menunggu titik limitnya ketika Prof. Harun meninggal dunia," sambung Daud. Sejak itu, aktivitas mengajar suami dari Iskamaliati di PPs IAIN Jakarta dipangkas habis. "Satu mata kuliah pun saya tak diberi," katanya. Selain dihabisi gerakannya di PPs, ia juga sering dikucilkan. Tapi bagi Daud, tidak jadi masalah, dakwah membasmi virus liberalisme dan sekularisme di perguruan tinggi adalah mulia dan harus dilaksanakan. Setelah peristiwa ini, sejumlah dosen dan pihak di-cross- chek. Ada yang mengatakan tak tahu- menahu masalah itu. Tapi ada juga yang menyebutkan bahwa pemberhentian paksa dilakukan atas kebijakan rektorat, yang kala itu dipimpin Azyumardi Azra. Mendengar jawaban yang berbeda-beda itu, Daud Rasyid pun lantas menelusuri "sanad" kasus ini. Selidik punya selidik rupanya di balik semua rekayasa tak fair itu adalah rektor sendiri, yakni, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA. "Ya, dia itu. Dia adalah otaknya, yang ingin menyingkirkan saya dari IAIN Ciputat," urainya. Ia menilai, langkah para liberalis itu adalah sikap yang tidak jujur. "Mereka tak dewasa. Apa yang mereka gembar-gemborkan mengenai dialog dan berbeda pendapat, semuanya itu bohong. Itu cuma di mulut saja. Mereka itu adalah diktator. Kalau disuruh memimpin negeri ini, wah kacau negeri ini," jelasnya. Daud Rasyid mengungkapkan, sebenarnya tak semua mahasiswanya alergi dengan gagasan yang dibawanya. Sebab, dari ceramah, diskusi dan ide-idenya itulah para mahasiswa/i PPs tahu mana pemikiran Islami dan mana yang bukan. "Ada mahasiswa yang mengatakan, setelah Pak Daud di sini pemikiran Barat tidak menghegemoni pemikiran kita," katanya mengutip pernyataan mahasiswa(i)nya. Dengan larangan mengajar di PPs IAIN Jakarta, maka secara otomatis pula, Daud Rasyid tak bisa mengajar di program strata satu (S1). Pasalnya, ia harus hijrah ke IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hijrah ke Bandung Sebagai orang yang biasa hidup dalam pertarungan pemikiran, Daud tak pernah takut untuk menghadapi

model pemikiran apapun. Maklum saja, selain fasih berbicara tentang Islam, dosen PPs Ibnu Khaldun ini juga mengusai pemikiran Barat. Karena itu, ketika ia diasingkan ke IAIN Bandung, baginya masalah itu adalah hal yang biasa. Ketika awal masuk IAIN Bandung, sekitar satu tahunan ia masih diberi kesempatan untuk mengajar di PPs IAIN Bandung. Namun setelah, direktur PPs-nya tahu 'bahaya' Daud Rasyid bagi gelombang dan arus pembaratan di kampus tersebut, akhirnya ia juga mengalami nasib serupa. Tapi, kali ini tak separah di Jakarta. "Di sini saya masih diberi kesempatan mengajar S1. Rektornya mendukung. Direkturnya saja yang takut dengan keberadaan saya," ujarnya. "Tapi, sambungnya, secara umum kondisinya sama. Mereka sudah dikuasai oleh pemikiran Barat. Anehnya, mereka belajar Islam, tapi rata-rata pengetahuan Islam dan bahasa Arabnya rendah," tambahnya. Ke Mesir, Taubat dari Pemikiran Liberal-Sekular Semula, aku Daud, dirinya termasuk mahasiswa yang gandrung dengan pemikiran tokoh-tokoh liberalis-sekularis. Sebut saja, misalnya, pemikiran almarhum Nurcholis Madjid, alias Cak Nur. "Iya, saya pernah mengagumi pemikiran Cak Nur. Buku-bukunya saya baca," katanya. Dijelaskannya, dirinya sempat menjadi peminat pemikiran liberalis-sekularis lantaran saat menjadi mahasiswa Fakultas Syari'ah IAIN Sumatera Utara (Sumut), Daud adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). "Dulu, yang namanya anak HMI pasti membaca buku-buku Cak Nur," akunya.

Namun, episode ini tak berlangsung lama. Setelah lulus dari IAIN Sumut, Daud lantas hijrah ke Mesir. Di negeri Sungai Nil inilah, ia mengalami perubahan paradigma secara drastis. Melalui kegiatan membaca karya-karya tokoh-tokoh sekular dan tokoh-tokoh Islamis Mesir dan dunia Arab, pandangan Daud berbalik 180 derajat. Ia tahu dan sadar benar, ternyata pandangan hidup dan pemikiran sekular adalah keliru. Dari situlah Daud Rasyid mengikuti jejak Sayyid Qutb. Yakni, kritis terhadap pemikiran dan gaya hidup Barat. "Saya baca buku-buku tokoh sekuler yang menjadi guru-guru mereka seperti Ali Abdul Raziq, Thaha Husein dan sebagainya," paparnya. Selain itu, Daud, yang kutu buku sejak kecil juga melahap karya-karya tokoh-tokoh Islam seperti Al-Maududi, Sayyid Qutb dan lainnya. Tak hanya itu, ia juga berdialog langsung dengan tokoh dan pemikir dari berbagai kalangan di Mesir. Cerdas dan Kritis Banyak orang cerdas, tapi sedikit orang yang kritis terhadap masalah. Daud Rasyid kecil termasuk anak yang cerdas. Dari sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi, belajarnya selalu double, alias di dua tempat. "Kebiasaan ini berlanjut sampai di perguruan tinggi," ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Sumut (USU). Menurutnya, belajar di dua tempat bukanlah hal yang berat. Karena itu, ia menikmatinya. Prestasinya selama belajar selalu gemilang. "Alhamdulillah saya juara satu terus," kenangnya. Prestasi membanggakan, juga ia raih ketika menyelesaiakan program S2 dan S3 di Universitas Kairo. "Disertasi saya meraih predikat summa cumlaude," terangnya. Dituturkannya, ibunyalah yang mendorongnya untuk belajar tekun dan sungguh-sungguh. Karena itu pula, sejak usia SD ia sudah terbiasa membaca kitab kuning. Inspirasi dari sang bundanya itu, kini ia wariskan kepada tujuh buah hatinya. Ia bersama istri tecintanya membiasakan anak-anaknya untuk dekat dengan Al-Qur'an. Karena itu pula membaca dan menghafal ayat-ayat Allah itu adalah menjadi kebiasaan keluarga ini. Bagaimana hasilnya? sudah bisa ditebak. Putra-putri Daud Rasyid adalah para penghafal Al-Qur'an. "Sudah ada yang hafal 30 juz. Tapi baru satu orang, yang bungsu. Sekarang lagi kelas III Madrasah Aliyah," imbuhnya. (dina) http://www.eramuslim.com/br/pr/5b/21889,1,v.html

Bagaimana Melawan Teror(isme)? Jum'at, 25 November 2005 oleh: Asiandi *) Teror(isme), akhir-akhir ini telah sangat menyita pikiran dan perhatian kita. Lebih-lebih selepas terbunuhnya Dr Azahari Husin yang selama ini diburu oleh pihak kepolisian RI sebagai gembong teror(isme). Seakan tanpa akhir, bahkan kematiannya pun ternyata telah menimbulkan sensasi baru, yaitu adanya pandangan yang skeptis terhadap bagaimana sesungguhnya kematian Dr Azahari Husin terjadi, ada misteri di balik kematian Dr Azahari Husin.

Sekedar urun-rembuk terhadap adanya pandangan yang skeptis terhadap berbagai fakta terkait ramainya orang membicarakan perihal terorisme. Sebab sudut pandang orang memang berbeda -beda dan hal ini dimungkinkan terjadi karena perbedaan pengalaman dan perbedaan sudut pandang saja. Tidak ada yang tidak mungkin kita ragukan dalam berbagai konteks peristiwa, semuanya mungkin dan dimungkinkan. Seorang Abdullah Mahmud "a breath of fresh air" Hendropriyono misalnya sangatlah dimungkinkan jika faktanya adalah antek CIA sebagaimana dituliskan The Post. Kita mencurigainya sebab dia bereaksi dengan amat keras ketika berita ini dipublikasikan dan pada saat yang hampir bersaamaan membuat pernyataan agar buku -buku Sayyid Quthb dilarang dan agar pemerintah merevisi kurikulum pesantren. Bukankah ini berupaya men galihkan perhatian? Orang yang banyak menebar kesalahan biasanya akan mudah menuduh, menohok dan memojokkan orang lain tanpa bukti-bukti dan celakanya tanpa penelitian yang baik. Akan lebih baik seandainya AM Hendropriyono membaca buku-buku Sayyid Quthb dengan seksama baru mencoba berbicara banyak. Tak ada yang perlu ditakutkannya sebab toh belum tentu beliau akan terpengaruh dengan ide -ide Sayyid Quthb begitu saja karena framing otaknya sudah disetting sedemikian rupa untuk tidak terpen garuh dan tidak percaya. Tak ada yang salah dengan pemikiran Sayyid Quthb, sebab Sayyid Quthb di antaranya mengajak agar umat Islam menggali "petunjuk jalannya" dari sumber orisinil, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW, karena keduanya merupakan "sumber Rabbani" yang diturunkan oleh Allah SWT. Kedua sumber inilah yang telah berhasil memunculkan suatu generasi yang tidak ada tandingannya sepanjang sejarah, yaitu generasi sahabat r.a.. Sayyid Quthb hanyalah seorang dengan ide-ide yang revolusioner. Pada hari Senin, 13 Jumadil Awwal 1386 atau 29 Agustus 1966 beliau dan dua orang temannya (Abdul Fatah Ismail dan Muhammad Yusuf Hawassy) syahid di tali tiang gantungan. Kritik keras juga saya alamatkan kepada Wapres M. Yusuf Kalla yang juga melarang diajarkannya pemikiranpemikiran Sayyid Quthb dan Hasan Al-Banna. Seharusnya seorang menyandang nama "dua nama Nabi" ini lebih bijaksana dan bijaksini dalam membuat pernyataan. Hendaknya beliau juga membaca dan meneliti dengan seksama buku -buku dan pandangan-pandangan dua orang tokoh yang ditakutinya ini. Sebab larangannya tak akan membuahkan hasil, karena masyarakat sudah tidak mungkin lagi dibatasi akses informasinya. Sebab semua masih mungkin diakses melalui jaringan lintas dunia (woldwideweb). Demikian pula keinginan Menteri Agama Maftuh Basuni yang ingin melarang beredarnya buku "Jihad" Imam Samudra, nonsens sebab buku ini sudah beredar dalam bentuk soft copy -nya di jaringan tak berbatas (internet). Memangnya tak adakah kerjaan lain yang lebih baik dari bapak-bapak pembesar kita ini selain membuat sensasi dihadapan wartawan berbagai media? Ahh (mengurut dada)...mau dibawa ke mana haluan bangsa kami oleh mereka mereka ini?" Melawan terorisme, bagi saya, jawabannya adalah memulailah dari diri kita sendiri, menyitir kalimat kondang yang sering dipakai Aa Gym. Sebab jelas tidak ada pembenaran atas tindak kekerasan seperti teror(isme) ini terkecuali dirinya dan atau negara dan bangsanya dan atau agamanya mengaruskan adanya perlawanan sebab kondisi tertentu semisal di Palestina dan beberapa wilayah konflik lainnya sebagaimana sering dikutip Ustad Abubakar Baasyir. Terkait bagaimanakah seharusnya kita bersikap dalam berbuat suatu hal (di jalan dakwah ini) ada baik nya kita baca Firman Allah SWT berikut: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125) Jelas dalam hal ini di antaranya disebutkan jika kita mengajak kepada jalan kebenaran maka harus dilakukan dengan cara yang baik (bilhikmah) dan pelajaran--contoh dan teladan-- yang baik (mau'izhah hasanah) dan bahkan membantahnya pun jika terjadi perbedaan harus dengan cara yang lebih baik (hiya ahsan). Intinya kekerasan, pemaksaan-pemaksaan dan tindakan konyol lainnya tidak pernah dianjurkan dalam Islam dalam situasi agamanya (terutama) tidak dirugikan atau ditindas oleh pihak lain--sehingga mengharuskan adanya perlawanan. Boleh jadi para pelaku terorisme --bahasa yang sering dipakai aparat sekarang- adalah dianggap sebagai suatu ijtihad. Namun bagi kebanyakan muslim, penulis yakin pandangan itu tidaklah terlalu populer. Karena itu, diminta atau tidak, sebagaian muslim memang pasti menolak cara seperti itu. Namun yang juga perlu diingat, jangan pula karena nafsu dalam kampanye melawan 'terorisme' membuat aparat kelihatangan akal dan melakakukan berbagai tindakan sembrono. Harus diingat, dalam banyak kasus yang menimpa umat Islam di berbagai belahan dunia, semakin kaum muslim dihimpit, ditindas dan diintimidasi, justru mereka semakin bangkit melakukan perlawanan. Jangan lupa, salah satu alasan para pelaku bom bunuh diri melakukan tindakan itu adalah karena mereka meyakini ditindas --terutama oleh negara-negara Barat-- tanpa bisa melakukan perlawanan. Jika para aparat dan negara Barat tetap memakai cara keji seperti itu, boleh jadi terorisme (ini bahasa yang dipakai Amerika) tetap tak akan pernah selesai. Sebab penderitaan baru justru akan melahirkan perlawanan baru. Ingatlah, perlakukan para tentara dan Orde Baru terhadap Islam justru melahirkan sejumlah pemberontakan. Jika hari ini para aparat sibuk menangkapai orang-orang --hanya karena mereka berpakaian Islam, berjilbab panjang, berjenggot--. tindakan itu bukan tak mungkin jutsru membuahkan rasa frustasi dikhawatirkan membuat orang berlaku 'nekat'.

Karena itu, mari kita mulai dari diri kita, apakah tindakan itu benar? Demikian komentar saya, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Wallahua'lamu bishshawab. *) Penulis adalah dosen Univeritas Muhammadiyah kini sedang sturi Taiwan