Anda di halaman 1dari 13

BAB III METODE PENELITIAN A.

Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini berbentuk survey atas data sekunder yang mengambil lokasi di kabupaten dan kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan data yang telah dikumpulkan dan disusun oleh suatu badan/instansi pemerintah tertentu, meliputi data APBD kabupaten dan kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu: Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 1994/1995 sampai dengan 2003 dan data Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan dan berlaku periode tahun 1994 sampai tahun 2003.

B. Jenis dan Sumber Data Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, data yang telah dikategorikan sebagai data sekunder yang telah diperoleh dari beberapa sumber, dengan cara mengambil data statistik yang telah ada serta dokumendokumen lain yang terkait dan yang diperlukan. Adapun data yang akan digunakan meliputi: 1. Data penjabaran Realisasi Pendapatan Daerah kabupaten

dan kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diperoleh dari perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten dan kota 59

60 di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Badan Pengelola Keuangan Daerah). 2. Data penjabaran Realisasi Pengeluaran Daerah kabupaten

dan kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diperoleh dari perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten dan kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Badan Pengelola Keuangan Daerah). 3. Data Gambaran Umum kabupaten dan kota di Propinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta diperoleh dari Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Angka (Badan Pusat Statistik). 4. Data Produk Domestik Regional Bruto kabupaten dan

kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Bappeda dan BPS).

C.

Definisi Operasional Variabel Dalam penelitian ini menggunakan beberapa indikator beserta

variabel-variabel untuk melihat keuangan daerah suatu kabupaten/kota. Definisi operasional masing-masing variabel adalah sebagai berikut: 1. Anggaran (Budget) yaitu suatu daftar atau

pernyataan yang terperinci tentang penerimaan dan pengeluaran organisasi yang diharapkan dalam jangka waktu tertentu (satu tahun). Dinyatakan dalam Rupiah. 2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

(APBD) adalah rencana keuangan tahunan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat

61 Daerah dan ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah. Dinyatakan dalam Rupiah. 3. Penerimaan Daerah pada dasarnya terdiri

dari: (1) Pendapatan Asli Daerah, yang umumnya berasal dari Pajak dan Retribusi Daerah, (2) Dana Perimbangan yang berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil termasuk bagi hasil Sumber Daya Alam (SDA) dan (3) Lain-lain Pendapatan. Dinyatakan dalam Rupiah. 4. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah

penerimaan yang berasal dari sumber-sumber pendapatan daerah yang terdiri dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan dan Lain-lain PAD yang sah. Dinyatakan dalam Rupiah. 5. Pajak Daerah adalah iuran wajib yang

dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasar peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan pembangunan daerah.

Dinyatakan dalam Rupiah. 6. Retribusi Daerah adalah pungutan daerah

sebagai pembiayaan atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Dinyatakan dalam Rupiah.

62 7. Pengeluaran Daerah adalah semua

pengeluaran kas daerah dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang mengurangi kekayaan Pemerintah Daerah. Belanja Daerah dibagi menjadi Belanja Rutin, Belanja Investasi, Pengeluaran Transport dan Pengeluaran Tak Tersangka. Dinyatakan dalam Rupiah. 8. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

adalah nilai barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksi di dalam suatu daerah dalam satu tahun tertentu. Dalam hal ini digunakan PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga konstan yaitu harga yang berlaku pada suatu tahun yang seharusnya digunakan untuk menilai barang dan jasa yang dihasilkan pada tahun-tahun lain. Sedangkan PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun tersebut yang digunakan untuk menilai barang dan jasa pada tahun tersebut (Sadono Sukirno, 1995: 33-35). Dinyatakan dalam Rupiah. 9. Pinjaman Daerah adalah semua transaksi

yang mengakibatkan Daerah menerima dari sejumlah uang atau manfaat bernilai uang dari pihak lain sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali (Bab I Pasal 1 Ayat (24) UU No. 33 Tahun 2004). Dinyatakan dalam Rupiah. 10. Dana Bagi Hasil adalah dana yang

bersumber pada pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka prosentase untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Dinyatakan dalam Rupiah.

63 11. DAU (Dana Alokasi Umum) adalah dana

yang bersumber dari pendapatan APBN, yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai

kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Dinyatakan dalam Rupiah. 12. Belanja Wajib adalah belanja yang harus

dipenuhi/tidak bisa dihindarkan dalam tahun anggaran yang bersangkutan oleh Pemerintah Daerah seperti Belanja Pegawai. Dinyatakan dalam Rupiah.

Teknik dan Model Analisis Data Setelah berbagai data yang dibutuhkan dapat dikumpulkan akan dilakukan analisis yang dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap analisis deskriptif dan tahap analisis kuantitatif. 1. Analisis Deskriptif Analisis Deskriptif dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang perkembangan komponen Pajak dan Retribusi Daerah di daerah studi dari waktu ke waktu menurut jenis komponen dari pos Pajak dan Retribusi Daerah. Selain itu juga untuk memberikan gambaran tentang

perkembangan realisasi Pinjaman Daerah yang sudah dilakukan. 2. Analisis Kuantitatif

Analisis Kuantitatif digunakan untuk mengkaji realisasi dari Pajak dan Retribusi Daerah. Analisis ini juga digunakan untuk mengkaji realisasi Pinjaman Daerah yang sudah dilakukan apakah sudah sesuai dengan

64 ketentuan yang berlaku. Untuk kepentingan analisis akan dipaparkan beberapa model sebagaimana yang telah dirumuskan dalam tujuan penelitian.

a.

Hipotesis 1 Untuk menguji hipotesis 1, digunakan Model Kinerja Pajak dan Retribusi Daerah dari sisi Rasio antara Realisasi dengan Target, yang dirumuskan sebagai berikut (Wihana Kirana, 1998: 16):

CRF dari Xi = (3.1) Dimana CRF Xi

Re alisasidar iXi T arg etdariXi

X 100%

: Rasio Koleksi Pajak dan Retribusi Daerah : Komponen dari jenis Pajak dan Retribusi Daerah

b. Hipotesis 2 Untuk menguji hipotesis 2, digunakan Model Kinerja Pajak dan Retribusi Daerah dari sisi Tingkat Pertumbuhan dari Pajak dan Retribusi, yang dirumuskan sebagai berikut (Wihana Kirana, 1998: 16): GF dari Xit = (3.2)
Xit X it 1 X 100% X it 1

...

65 Dimana GF : Pertumbuhan Pajak dan Retribusi Daerah Xi : Komponen dari jenis Pajak dan Retribusi Daerah

c. Hipotesis 3 Untuk menguji hipotesis 3, digunakan Model Kinerja Pajak dan Retribusi Daerah dari sisi Tingkat Kontribusi dari Pajak dan Retribusi, yang dirumuskan sebagai berikut (Wihana Kirana, 1998: 16):

CF dari Xi = (3.3) Dimana

Xi X Total

X 100%

...

CF : Kontribusi Pajak dan Retribusi Daerah Xi : Komponen dari jenis Pajak dan Retribusi Daerah

d. Hipotesis 4 Untuk menguji hipotesis 4 menggunakan Model Matrik Kinerja Pajak dan Retribusi Daerah. Kinerja Pajak dan Retribusi Daerah dapat dianalisis dengan menggunakan rumus Matrik Kinerja dari Pajak dan Retribusi Daerah yang dapat digolongkan menjadi empat kategori, yaitu (1) Kategori Prima; (2) Kategori Potensial; (3) Kategori Berkembang; (4) Kategori Terbelakang. Suatu Pajak dan Retribusi

66 Daerah dikelompokkan dalam Kategori Prima, bila Pajak dan Retribusi Daerah tersebut mempunyai rasio tingkat pertumbuhan terhadap pertumbuhan total Pajak atau Retribusi dan rasio proporsi nilai Pajak atau Retribusi Daerah terhadap rata-ratanya yang lebih besar daripada satu. Dikelompokkan dalam Kategori Terbelakang, bila mempunyai rasio tingkat pertumbuhan terhadap pertumbuhan total Pajak atau Retribusi Daerah dan rasio proporsi nilai Pajak atau Retribusi Daerah terhadap rata-ratanya kurang dari satu atau bernilai negatif. Kategori selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3.1. berikut:

Tabel 3.1. Matrik Kinerja dari Jenis Pajak dan Retribusi Daerah Proporsi Xi Xi 1 <1 Re rataX i Re rataX i Pertumbuhan X i 1 Prima Berkembang X Total X i <1 Potensial Terbelakang X Total Catatan: Xi : Nilai Pajak dan Retribusi Daerah X : Jumlah Total Pajak Daerah dan Retribusi Daerah : Pertumbuhan ( Xi = [(Xit-Xit-1)/Xit-1] X100%) Sumber : Wihana Kirana dalam Dirjen PUOD. (1997/1998). Modul Manajemen Madya: Penataran Manajemen Sektor Ekonomi Strategis. Yogyakarta: P3EB-UGM, hal 29. e. Hipotesis 5 Untuk menguji hipotesis 5, digunakan Model Kapasitas Pinjaman Daerah. Untuk meningkatkan kemampuan objektif dan disiplin

67 Pemerintah Daerah dalam melaksanakan pengembalian pinjaman, diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam pengelolaan Pinjaman Daerah. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan melakukan perhitungan terhadap Kapasitas Pinjaman Daerah. Tujuan dari pengunaan model ini adalah untuk mengetahui Kapasitas Pinjaman Daerah agar tidak menimbulkan beban bagi Keuangan Daerah. Dalam Penjelasan Pasal 17 Ayat (3) UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Pasal 49 UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, disebutkan bahwa Defisit anggaran dibatasi maksimal 3% (tiga persen) dari Produk Regional Bruto Daerah yang bersangkutan. Jumlah Pinjaman dibatasi maksimal 60% (enam puluh persen) dari Produk Regional Bruto Daerah yang bersangkutan. Dari ketentuan tersebut, selengkapnya dirumuskan sebagai berikut: Jumlah Pinjaman < 60% X Produk Regional Bruto Daerah .. (3. 4) Lebih lanjut tentang Persyaratan Pinjaman, dalam Pasal 54 UU No. 33 Tahun 2004 disebutkan bahwa Dalam melakukan pinjaman, Daerah wajib memenuhi persyaratan: (1) Jumlah Sisa Pinjaman Daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah Penerimaan Umum APBD tahun sebelumnya; (2) Rasio Kemampuan Keuangan Daerah untuk mengembalikan pinjaman ditetapkan oleh Pemerintah; (3) tidak

68 mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang berasal dari Pemerintah. Ketiga ketentuan di atas dimaksudkan untuk memberikan pedoman kepada Daerah agar dalam menentukan jumlah Pinjaman Daerah (khususnya untuk Pinjaman Daerah Jangka untuk Panjang), memenuhi perlu semua

memperhatikan

kemampuan

kewajiban Daerah atas Pinjaman Daerah. Dalam Penjelasan Pasal 54 Huruf (a) UU No. 33 Tahun 2004 diuraikan bahwa arti Penerimaan Umum APBD tahun sebelumnya adalah seluruh penerimaan APBD tidak termasuk Dana Alokasi Khusus, Dana Darurat, Dana Pinjaman Lama, dan Penerimaan Lain yang kegunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran tertentu, atau selengkapnya dirumuskan sebagai berikut: PU = PAD + DAU + (DBH DBHDR) Dimana PU PAD DAU DBH DBHDR : Penerimaan Umum APBD : Pendapatan Asli Daerah : Dana Alokasi Umum : Dana Bagi Hasil : Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi .... (3.5)

Sementara itu, pada Penjelasan Pasal 54 Huruf (b) UU No. 33 Tahun 2004, telah diungkapkan bahwa Rasio kemampuan Keuangan Daerah dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, dan Dana Alokasi Umum setelah

69 dikurangi Belanja Wajib dibagi dengan jumlah Angsuran Pokok, Bunga, dan Biaya Lain yang Jatuh Tempo. Yang dimaksud dengan Belanja Wajib adalah Belanja Pegawai dan Belanja Anggota DPRD, atau selengkapnya dirumuskan sebagai berikut (Penjelasan Pasal 54 UU No. 33 Tahun 2004):

DSCR =

{ PAD + DAU + ( DBH DBHDR)} BW


P + B + BL

..

(3.6)

= Minimal 2,5 Dimana DSCR : Debt Service Coverage Ratio atau Rasio Kemampuan Membayar Kembali Pinjaman PAD DAU DBH : Pendapatan Asli Daerah : Dana Alokasi Umum : Dana Bagi Hasil

DBHDR: Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi BW P B BL : Belanja Wajib : Pokok Pinjaman : Bunga Pinjaman : Biaya Lain (biaya komitmen, biaya bank, dan lain-lain) yang jatuh tempo Untuk melakukan uji hipotesis apakah terdapat perbedaan pada era sebelum dan sesudah berlakunya UU No. 18 Tahun 1997 untuk menganalisis Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan perbedaan pada era sebelum dan sesudah otonomi daerah untuk menganalisis Kapasitas

70 Pinjaman Daerah maka dapat digunakan rumus sebagai berikut (Djarwanto PS, 1993: 173, 211): 1) H0 : 1 = 2

Jika tidak terdapat perbedaan pada era sebelum maupun sesudah UU No. 18 Tahun 1997 untuk menganalisis Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan pada era sebelum dan sesudah otonomi daerah untuk menganalisis Kapasitas Pinjaman Daerah. H1 : 1 2 Jika terdapat perbedaan pada era sebelum maupun sesudah UU No. 18 Tahun 1997 untuk menganalisis Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan pada era sebelum dan sesudah otonomi daerah untuk menganalisis Kapasitas Pinjaman Daerah. Digunakan pengujian dua sisi. 2) Menentukan level of significance () : 0,05 dan t (/2; n-1) 3) Rule of the test:

Daerah tolak

Daerah terima

Daerah tolak

-t (/2; n-1)

t (/2; n-1)

H0 diterima apabila: -t tabel t hitung t tabel H0 ditolak apabila: t hitung > t tabel atau t hitung < -t tabel 4) Perhitungan nilai t:

71

D=
(3.7)
SD =

D n

..

( D D)
n 1

(3.8) maka: t = Dimana:


D

D SD / n

(3.9)

= mean dari harga D1 / harga setiap pasang nilai = deviasi standar dari harga-harga D1 / harga perbedaan setiap pasang nilai

SD

n 5)

= banyaknya pasangan nilai Kesimpulan: H0 diterima atau ditolak.