Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Akuntansi sebagai ilmu terus beradaptasi dengan lingkungan social ekonomi di mana ia berada sehingga perkembangan social ekonomi juga memengaruhi perkembangan ilmu akuntansi itu sendiri. Teori akuntansi merupakan bimbingan yang mengarahkan perkembangan itu sendiri sehingga tetap berada dalam kerangka teoritis yang sudah disepakati, kendatipun dengan terjadinya revolusi ilmu pengetahuan. Tujuan teori akuntansi adalah untuk memberikan seperangkat prinsip logis yang saling berkaitan, yang membentuk kerangka acuan umum bagi penilaian dan pengembangan praktek akuntansi yang sehat. Dalam pengembangan teori akuntansi selain pertimbangan kemampuan untuk menjelaskan atau meramalkan, juga harus dipertimbangkan kesanggupan teori tersebut untuk mengukur risiko, atau probabilitas prediksi untuk berfungsi sebagai pernyataan yang tepat atas kejadian di masa depan. Teori Teori akuntansi telah berkembang melalui revolusi yang besar,khususnya selama tahun 1960-an dan tahun 1970-an,dan terus berlanjut sampai tahun 1980an.Selama periode yang sama ini dan sekitar 50 tahun yang lalu, pemikiran akuntansi juga telah di kembangkan melalui proses evolusi. Perlunya telaah sejarah pemikiran akuntansi berasal dari hubungan dengan masa lalu. Sebelum tahun 1930, teori akuntansi sebagai suatu pranata penalaran logis yang di rumuskan dengan baik biasanya tidak mendahului praktek akuntansi;jikapun benar, maka sekarangalah hal itu dapat dilakuakan. Akuntansi berkembanga sejalan dengan bertambahnya kebutuhan ,dan perubahan terjadi secara bertahap dalam konsep dan teknik akuntansi. Tetapi prakteknya akuntansi yang baru harus tetap diselaraskan dengan hubungan dan lembaga ekonomi yang berubah serta tujuan akuntansi. akuntansi telah berkembang melalui revolusi yang besar,khususnya selama tahun 1960-an dan tahun 1970-an,dan terus berlanjut sampai tahun 1980-an.Selama periode

yang sama ini dan sekitar 50 tahun yang lalu, pemikiran akuntansi juga telah di kembangkan melalui proses evolusi. Perlunya telaah sejarah pemikiran akuntansi berasal dari hubungan dengan masa lalu. Sebelum tahun 1930, teori akuntansi sebagai suatu pranata penalaran logis yang di rumuskan dengan baik biasanya tidak mendahului praktek akuntansi. Akuntansi berkembang sejalan dengan bertambahnya kebutuhan,dan perubahan terjadi secara bertahap dalam konsep dan teknik akuntansi. Tetapi prakteknya akuntansi yang baru harus tetap diselaraskan dengan hubungan dan lembaga ekonomi yang berubah serta tujuan akuntansi.

Perkembangan Praktek Dan Pemikiran Akuntansi Sebelum Tahun 1930


Perubahan dalam tujuan laporan keuangan mengakibatkan perubahan berikut dalam pemikiran akuntansi :
1. Berkurangnya penekenan neraca sebagai laporan nilai dengan lebih

menganut konsep Going-concern(kesinambungan) dari pada konsep likuidasi dan memandang neraca Sebagai penghubung antara dua perhitungan rugi-laba dan bukan sebaliknya.
2. Penekanan semakin meningkat pada perhitungan rugi-laba dan konsep

laba (income ) Yang seragam.


3. Perlunya penguangkapan enuh (full-disclosure) informasi keuangan yang

relevan, Dengan menyajikan laporan keuangan yang lebih lengkap dan menyajikan

laporan Keuangan yang lebih lengkap dan meningkatkan pengunakan catatan kaki.
4. Penekanan konsistensi dalam pelaporan,khususnya yang menyangkut

perhitungan rugi Laba. Perubahan ini terdapat dalam literatur dan dalam pernyataan beberapa organisasi yang berkempentingan sebelum dan sesudah tahun 1930. Perkembangan Standar Akuntansi Sebelum Tahun 1930 Kira-kira sejak tahun 1894, America Association of Public Accountants(pendahulu American Institute of Accountants dan AICPA) membuat resolusi yang menyatakan bahwa urutan penyajian di dalam neraca harus dimulai dari realisasi yang penting realisasi yang paling cepat sampai yang paling lambat yang mengidentifikasikan secara jelas penekenan pada penyajian informasi kepada indikator. Pengembangan Prinsip-Prinsip Akuntansi Oleh America Institute Of Certified Public Accountants Apa yang terkenal di Amerika Serikat sebagai generally accepted accounting priciples (GAAP) sangat dipengaruhi oleh buletin AICPA, khususnya sebelum pembentukan Financial Accounting Standards Board tahun 1973. Sejak tahun 1930an pengaruh ini merupakan hasil dari laporan komite khusus yang di keluarkan oleh Commitee on Accounting Procedure, Accounting Terminology Bulletins yang dikeluarkan oleh Committee on Terminology, Research Studies dari Accounting Research Division dan Opinions and Statements dari Accounting Principle Board.

Komite khusus Institute (AIA) menyarankan 5 aturan kepada New York Stock Exchage pada tahun 1933. Aturan ini ikhtisarkan sebagai berikut: 1. laba yang belum direalisasi tidak boleh dikredit ke perkiraan laba,entah secara langsung ataupun tidak langsung. Laba dianggap direaliasi bila penjual terjadi dalam

operasi usaha yang biasa kecuali dalam keadaan khusus. 2. Surplus modal tidak boleh digunakan untuk menghilangkan perkiraan laba suatu tahun kecuali dalam reorganisasi atau kuasi reorganisasi. 3. Laba di tahan dari perusahaan anak yang sudah ada sebelum perusaan itu dibeli bukanlah bagian laba ditahan konsolidasi dari perusahaan induk perusahaan anak, demikian pula deviden yang diumumkan dari laba ditahan perusahaan anak tidak boleh kredit secara layak ke perkiraan laba perusahaan induk. 4. Dividen atas saham yang dibeli kembali (treasury stock) tidak boleh di kredit ke laba (income). 5. Piutang dagang atau wesel tagih yang jatuh tempo dari pejabat, pegawai atau perusahaan anak harus ditunjukkan secara terpisah. Dewan Prinsip Akuntansi (The Accounting Principle Board) Khususnya selama tahun 1950-an, Committee on Accounting Procedure of the intitue dikritik karena terlalu lamban mempersiapkan pernyataan tertulis prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum. Juga disadari bahwa komite tersebut tidak mampu menangani perubahan-perubahan utama kelembagaan dalam praktek dunia usaha karena fasilitas penelitian. Mendasari masalah yang dihadapi, Alvin R. Jennings, presiden Institute, bulan Oktober 1957 mengusulkan pembentukan organisasi yang baru untuk menguji asumsi dasar akuntansi, mengidentifikasi prinsip yang paling baik, menyiapkan metode baru untuk membimbing dunia industri dan profesi akuntansi. Sebagai hasil pernyataan Jennigs, Special Committee on Research Program ditunjuk bulan Desember 1957. Laporannya pada bulan Desember 1958 menyarankan formasi Accounting Principle Board dan Staf penelitian akuntansi. Divisi Penelitian Akuntansi (Accounting Research Division) Usaha-usaha menyiapkan pernyataan lengkap mengenai prinsip-prinsip akuntansi yang bersifat menyeluruh dibuat dan diserahkan oleh Institute tahun 1939 dan tahun 1949-1950. Tetapi tahun 1959,berdasarkan rekomendasi Special Committee on Research Program, Institute direorganisasi untuk memungkinkan pengembangan

rumusan tertulis prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum sebagai pedoman bagi para anggotanya dan pihak-pihak lainnya. Salah satu tujuan reorganisasi tersebut adalah untuk dapat menyelesaikan masalah luas akuntansi pada 4 tingkat : 1. Penetapan postulat dasar 2. Penetapan prinsip-prinsip yang luas. 3. Menetapkan peraturan atau pedoman lain bagi penerapan prinsip-prinsip dalam situasi khusus. 4. Penelitian Oleh karena itu,staf permanen penelitian akuntansi didirikan untuk melaksanakan program penelitian tersebut. Perbedaan utama antara pendekatan ini terhadap penelitian akuntansi serta pengembangan prinsip akuntansi dan pendekatan sebelumnya yang digunakan Institute adalah sebagai berikut : 1. Pendekatan Accounting Research Division dimaksud untuk memperluas ruang lingkupnya dan lebih mengandalkan metode deduktif dalam pengembangan prinsipprinsip akuntansi serta penerapannya dalam praktek akuntansi. 2. Research Division bekerja sama dengan Accounting Principle Board, tetapi divisi ini dimaksudkan sebagai devisi yang lebih independen daripada Accounting Research Department dalam hubungannya dengan Committee on Accounting Principles sebelum tahun 1960. 3. Research Studies disebarluaskan untk dibahas sebelum di putuskan oleh Accounting Principles Board. 4. Research Studies dimaksudkan untuk memberikan pembahasan terperinci atas masalah yang dihadapi dan disertai dengan penalaran lenkap yang menghasilkan kesimpilan. Proyek kerangka konseptual Proyek kerangka konseptual (conceptual framework projeck) FABB dapat dianggap mencerminkan revolusi dala pemikiran akuntansi. Beberapa perubahan berkembang

secara bertahap sejak publikasi Paton dan Littleton Monograph tahun 1940. Perubahan lainnya telah diterima umum sejak publikasi APB Statement No. 4 tahun 1970. Beberapa dari perubahan pemikiran akuntansi ini adalah : 1. Penekanan pada tujuan sosial yang luas dari akuntansi 2. Pengakuan pendekatan manfaat keputusan dan memahami pentingnya arus kas dalam proses pengambilan keputusan. 3. Perubahan dasar pendekatan dari konsep penandingan (matching concept) untuk mencari laba ke penekanan pada pengukuran dalam neraca dengan laba yang dikur melalui perubahan neraca. 4. Penekanan pada interpretasi semantik atas elemen laporan keuangan,bukannya menagndalkan definisi prosedural terdahulu. PERKEMBANGAN PENDEKATAN TEORI ALTERNATIF Kebanyakan perkembangan pemikiran akuntansi berasal dari penelitian dan tulisan individu atau team dalam masyarakat akademik, dan dari beberapa penulis serta penelitian dalam profesi akuntansi. Literatur akuntansi yang berhubungan dengan teori akuntansi dapat diklasifikasi sebagai berikut: 1. Pembahasan kritis mengenai bidang khusus teori atau praktek akuntansi dan menunjukkan penyimpanan tertentu. 2. Artikel dan buku-buku yang menganjurkan teori baru atau teori pendekatan parsial. 3. Usaha untuk merumuskan teori umum akuntasi 4. Penerapan teori dari disiplin lain pada akuntansi 5. Pengujian empiris teori-teori atau teori-teori parsial. BEBERAPA TREND DALAM AKUNTANSI Perkembangan terakhir yang masih terus menjadi bahan riset dan pengembangan bidang akuntansi yang menjadi tren di antaranya adalah: 1. Akuntansi Sumber Daya Manusia Konsep Akuntansi Sumber Daya Manusia Akuntansi Sumber Daya Manusia telah didefinisikan oleh Komite Akuntansi

Sumber Daya Manusia dari American Accounting Association sebagai suatu proses identifikasi dan pengukuran data mengenai sumber daya manusia serta pengkomunikasian informasi ini ke pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam pengertian harfiah, akuntansi sumber daya manusia berarti akuntansi untuk manusia sebagai suatu sumber daya organisasional. Hal ini melibatkan pengukuran biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan bisnis dan organisasi lainnya untuk merekrut, menyeleksi, mempekerjakan, melatih dan mengembangkan aktiva manusia. Akuntansi sumber daya manusia juga melibatkan pengukuran terhadap biaya yang akan dikeluarkan untuk menggantikan sumber daya manusia dari suatu organisasi. Dengan demikian akuntansi sumber daya manusia berarti mengukur investasi yang dibuat oleh organisasi dalam manusia, biaya untuk mengganti orangorang tersebut dan nilai dari manusia bagi perusahaan itu. Sejarah Akuntansi Sumber Daya Manusia Bidang akuntansi sumber daya dikembangkan sejak tahun 1960-an. Bidang tersebut adalah cabang dari kumpulan yang terdiri atas beberapa aliran pemikiran yang independen namun saling berkaitan erat. Berkembangnya Pengenalan terhadap Pentingnya Aktiva Manusia Amerika Serikat saat ini sedang mengalami restrukturisasi fundamental terhadap perekonomiannya. Khususnya, ekonomi tersebut sedang dalam proses transformasi kualitatif dari ekonomi industrial menjadi ekonomi berbasis jasa. Transformasi yang dimulai pada akhir Perang Dunia II telah mengarah pada perubahan dalam komposisi dari angkatan kerja tidak hanya pada sektor-sektor di mana manusia dipekerjakan, tetapi juga dalam jenis dan tingkatan keahlian yang diminta. Saat ini perekonomian Amerika Serikat teah menjadi ekonomi berbasis pengetahuan dan jasa yang disediakan telah menjadi apa yang digambarkan sebagai jasa teknologi tinggi. Jasa-jasa ini adalah produk dari sejumlah besar

pelatihan dan pengalaman. Dorongan terhadap Pengembangan Akuntansi Sumber Daya Manusia Dalam struktur ekonomi pertanian dan industrial tingkat modal manusia jauh lebih rendah dibandingkan saat ini. Teori dan metode akuntansi tidak memperlakukan baik manusia atau investasi dalam manusia sebagai aktiva (kecuali budak, yang dipandang sebagai properti). Tetapi dengan semakin pentingnya modal manusia pada tingkat perekonomian secara keseluruhan, serta pada tingkatan perusahaan individual, sejumlah besar riset telah dirancang untuk mengembangkan konsep dan metode akuntansi bagi manusia sebagai aktiva. Bidang ini dikenal sebagai akuntansi sumber daya manusia. Akuntansi Sumber Daya Manusia adalah suatu pengakuan bahwa orang-orang merupakan modal manusia maupun aktiva manusia. Teori ekonomi dari modal manusia didasarkan pada konsep bahwa manusia memiliki keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan yang merupakan bentuk dari modal, yang disebut dengan modal manusia. Menurut Theodore Schultz menyatakan bahwa para pekerja telah menjadi kapitalis tidak hanya dari difusi kepemilikan saham perusahaan sebagaimana yang terjadi dalam dongeng, tetapi dari akuisisi pengetahuan dan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi. Akuntansi sumber daya manusia juga telah mengembangkan dari tradisi yang paralel dalam manajemen karyawan yang dikenal sebagai aliran sumber daya manusia yang didasarkan pada pemikiran bahwa manusia adalah sumber daya organisasional yang berharga dan oleh karena itu harus dikelola sebagai sumber daya yang berharga. Teoretikus personalia seperti Odiorne dan psikolog organisasi leperti Likert telah memperlakukan manusia sebagai sumber daya organisasional yang berharga dalam karya mereka.

2. Akuntansi Lingkungan Akuntansi lingkungan adalah identifikasi, pengukuran dan alokasi biaya-biaya lingkungan hidup dan pengintegrasian biaya-biaya ke dalam pengambilan keputusan usaha serta mengkomunikasikan hasilnya kepada parastockholders perusahaan, menurut Junus dalam Sri Astuti dan Ikhsan (2002). Sedangkan menurut Djogo (2002) Akuntasi lingkungan Environmental Accounting atau EA adalah istilah yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktek akuntasi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya lingkungan adalah dampak (impact) baik moneter maupun non-moneter yang harus dipikul sebagai akibat dari kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan. Sedangkan Lemanthe (2001) memberikan pendekatan akuntansi biaya lingkungan secara sistematis dan tidak hanya berfokus pada akuntansi untuk biaya proteksi lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan biaya lingkungan terhadap material dan energi. Akuntansi biaya lingkungan menunjukkan biaya riil atas input dan proses bisnis serta memastikan adanya efisiensi biaya dan diaplikasikan untuk mengukur biaya kualitas dan jasa. Akuntansi lingkungan mengidentifikasi, menilai dan mengukur aspek penting dari kegiatan sosial ekonomi perusahaan dalam rangka memelihara kualitas lingkungan hidup sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (Haniffa, 2002). Sehingga perusahaan tidak bisa seenaknya untuk mengolah sumber daya tanpa memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat. Pemahaman sifat dan relevansi akuntansi lingkungan sangat beragam tergantung perspektif para profesional dan orientasi fungsional para praktisi. Aspek-aspek yang menjadi bidang garap akuntansi lingkungan adalah sebagai berikut (Cahyono, 2002) : 1) Pengakuan dan identifikasi pengaruh negatif aktifitas bisnis perusahaan terhadap

lingkungan dalam praktek akuntansi konvensional.

2)

Identifikasi, mencari dan memeriksa persoalan bidang garap akuntansi

konvensional yang bertentangan dengan kriteria lingkungan serta memberikan alternatif solusinya. 3) Melaksanakan langkah-langkah proaktif dalam menyusun inisiatif untuk

memperbaiki lingkungan pada praktik akuntansi konvensional. 4) Pengembangan format baru sistem akuntansi keuangan dan nonkeuangan, sistem

pengendalian pendukung keputusan manajemen ramah lingkungan. 5) Identifikasi biaya-biaya (cost) dan manfaat berupa pendapatan (revenue) apabila

perusahaan lebih peduli terhadap lingkungan dari berbagai program perbaikan lingkungan. 6) Pengembangan format kerja, penilaian dan pelaporan internal maupun eksternal

perusahaan. 7) Upaya perusahaan yang berkesinambungan, akuntansi kewajiban, resiko,

investasi biaya terhadap energi, limbah dan perlindungan lingkungan. 8) Pengembangan teknik-teknik akuntansi pada aktiva, kewajiban dan biaya dalam

konteks non keuangan khususnya ekologi. Pendorong Munculnya Akuntansi Lingkungan Akuntansi dalam dunia bisnis terlalu berpihak pada stockholders daripadastakeholders, sehingga konsep akuntansi sekarang tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan situasi dan kehidupan yang aman berkeadilan, serta alam yang lestari dan terpelihara. Karena hal itu kemudian berkembang akuntansi lingkungan (environmental accounting). Akuntansi lingkungan dipertimbangkan karena menjadi perhatian bagi pemegang saham dengan cara mengurangi biaya yang berhubungan dengan lingkungan (contohnya : polusi) dan diharapkan dengan pengurangan biaya lingkungan akan tercipta kualitas lingkungan yang baik.

Yang juga menjadi pendorong munculnya akuntansi lingkungan ialah kecenderungan terhadap kesadaran lingkungan. Dalam literatur, paradigma ini dikenal dengan The Human Exeptionalism Paradigm menuju The Environment Paradigm. Paradigma yang pertama mengungkapkan bahwa manusia merupakan makhluk yang unik di bumi ini yang memiliki kebudayaan dan sadar tidak dibatasi oleh kepentingan makhluk lain. Sebaliknya, paradigma yang kedua menganggap bahwa manusia adalah makhluk diantara bermacam-macam makhluk yang mendiami bumi yang saling memiliki keterkaitan sebab akibat dan dibatasi oleh sifat keterbatasan itu sendiri, baik ekonomi, social maupun politik. Paradigma yang terakhir inilah yang menjadi pedoman akuntansi lingkungan. Tujuan Penerapan Akuntasi Lingkungan Ada beberapa maksud dikembangkannya akuntansi lingkungan: 1). Akuntasi lingkungan merupakan sebuah alat manajemen lingkungan, 2). Akuntansi lingkungan sebagai alat komunikasi dengan masyarakat. Sebagai alat manajemen lingkungan akuntasi lingkungan digunakan untuk menilai keefektifan kegiatan konservasi berdasarkan ringkasan dan klasifikasi biaya konservasi lingkungan. Data akuntasi lingkungan juga digunakan untuk menentukan biaya fasilitas pengelolaan lingkungan, biaya konservasi lingkungan keseluruhan dan juga investasi yang diperlukan untuk kegiatan pengelolaan lingkungan. Selain itu akuntasi lingkungan juga digunakan untuk menilai tingkat keluaran dan capaian tiap tahun untuk menjamin perbaikan kinerja lingkungan yang harus berlangsung terus menerus. Sebagai alat komunikasi dengan publik, akuntansi lingkungan digunakan untuk menyampaikan dampak negatif lingkungan, kegiatan konservasi lingkungan dan hasilnya kepada publik. Tanggapan dan pandangan terhadap akuntansi lingkungan dari para pihak, pelanggan dan masyarakat digunakan sebagai umpan balik untuk merubah pendekatan perusahaan dalam pelestarian atau pengelolaan lingkungan.

Didalam akuntasi lingkungan ada beberapa komponen pembiayaa yang harus dihitung misalnya 1. Biaya operasional bisnis yang terdiri dari biaya depresiasi fasilitasi lingkungan, biaya memperbaiki fasilitais lingkungan, jasa atau fee kontrak untuk menjalankan fasilitas pengelolaan lingkungan, biaya tenaga kerja untuk mengjalankan operais fasilitas pengelolaan lingkungan serta baya kontrak untuk pengelolaan limbah (recycling). 2). Biaya daur ulang yang dijual yang disebut sebagai Cost incurred by upstream and down-stream business operations is the contract fee paid to the Japan Container and Package Recycling Association. 3). Biaya penelitian dan pengembangan (Litbang) yang terdiri dari biaya total untuk material dan tenaga ahli, tenaga kerja lain untuk pengembangan material yang ramah lingkungan, produk dan fasilitasi pabrik.

3. Akuntansi keperilakuan Akuntansi Keperilakuan dan Perkembangannya. Ikhsan (2005) menyatakan bahwa tujuan ilmu keperilakuan adalah untuk memahami, menjelaskan, dan memprediksi perilaku manusia sampai pada generalisasi yang ditetapkan mengenai perilaku manusia yang didukung oleh empiris yang dikumpulkan secara impersonal melalui prosedur yang terbuka, baik untuk peninjauan maupun replikasi dan dapat diverifikasi oleh ilmuwan lainnya yang tertarik. Selanjutnya Ikhsan (2005) menjelaskan bahwa akuntansi keperilakuan menyediakan suatu kerangka yang disusun berdasarkan teknik yang bertujuan untuk:
(1) Memahami dan mengukur dampak proses bisnis terhadap orang-orang dan

kinerja perusahaan, (2) Mengukur dan melaporkan perilaku serta pendapat yang relevan terhadap perencanaan strategis, dan

(3) Mempengaruhi pendapat dan perilaku guna memastikan keberhasilan implementasi kebijakan perusahaan. Bidang keperilakuan dalam akuntansi dapat dikatakan masih baru dibandingkan dengan akuntansi keuangan. Topik keperilakuan ini mulai berkembang pada tahun 1950-an. Pada Juni 1951 Controllership Foundation of America mensponsori suatu riset untuk penyelidikan dampak anggaran (Ikhsan,2005). Hal itu diawali dari penelitian Argyris (1952), yang meneliti hubungan antara manusia dengan anggaran dan kemudian diikuti oleh peneliti-peneliti lainnya.Awal perkembangan riset keperilakuan ini telah dikaji dalam studi yang dilakukan Lord (1989). Lord mengkaji perkembangan risetakuntansi keperilakuan (behavioral accounting research) dari tahun 1952 sampai dengan tahun 1981. Lord (1989) mengelompokkan perkembangan hasil penelitian yang berkaitan dengan bidang riset akuntansi keperilakuan menjadi enam fokus penelitian, antara lain akuntansi dalan konteks organisasi (accounting in an organizationalcontext), penganggaran (budgeting), pemikiran psikologi (earlypsychology thoughts), pemrosesan informasi manusia (human information proccesing), kontingensi teori (contingency teory), dan konferensi dan peristiwa (conferences and events). Studi Burgstahler dan Sundem (1989) hampir sama dengan studi Lord (1989), yaitu mengkaji perkembangan riset keperilakuan tahun 1968-1987. Hasil riset yang dikaji diambil dari artikel yang dipublikasikan pada tiga jurnal, yaitu The Accounting Review (AR), Journal of Accounting Research (JAR), Accounting Organization and Society (AOS). Baik artikel yang ditulis oleh Lord (1989) maupun Burgstahler dan Sundem (1989) merupakan invited paper dalam rangka penerbitan pertama jurnal Behavioral Research in Accounting. Hal itu berawal dari cikal bakal penelitian Argyris (1952) yang pertama kali fokus pada anggaran hingga akhirnya sekarang berkembang pada bidang lain, seperti auditing, pajak, dan akuntansi keuangan. Menurut Burgstahler dkk. (1989) penelitian bidang keperilakuan sudah mengalami perkembangan sebagai berikut.

Pertama, metode penelitian behavioral digunakan untuk isu akuntansi tanpa mengadopsi beberapa teori behavioral yang mendasarinya. Kedua, model atau teori behavioral diadopsi. Ketiga adalah pengujian model behavioral kepada akuntansi seperti pengujian model lensa Brunswick. Peneliti-peneliti di Indonesia juga tertarik dengan riset akuntansi keperilakuan. Bidang riset keperilakuan juga menjadi pusat perhatian dalam ajang seminar nasional akuntansi (SNA) di Indonesia yang diselenggarakan setiap tahun oleh IAIKAPd yaitu Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) bekerja sama dengan Kompartemen Akuntan Pendidik (KAPd). Topik bahasan hasil-hasil studi dalam seminar ini dibagi menjadi lima, yaitu akuntansi keuangan dan pasar modal; akuntansi manajemen dan keperilakuan; akuntansi sector publik dan perpajakan; sistem informasi, auditing, dan etika; dan pendidikan akuntansi dan akuntansi syariah. Hasil penelitian di bidang akuntansi manajemen dijadikan satu pembahasan dengan akuntansi keperilakuan karena kedua bidang ini sama-sama membahas tentang manusia. Burgstahler dan Sundem (1989) meyebutkan ada beberapa faktor yang membuat behavioral research in accounting secara khusus mempunyai kesulitan, yaitu bidangnya luas, variabel kompleks, perilaku adalah sebuah situasi spesifik, perwujudan lain dari interelasi variabel-variabel adalah beberapa hukum perilaku sepenuhnya umum, titik temu validitas internal dan validitas eksternal, sistem kontrol akademis, dan evaluasi kualitatif. Penelitian keperilakuan dalam akuntansi riset bisa menggunakan tiga jenis metode, antara lain studi lapangan,eksperimen, dan survei yang masing-masing ada keunggulan dan kelemahannya. Ketiga metode ini bisa saling melengkapi dengan menerapkan metode multiple. 1. Akuntansi Forensik

Perkembangan akuntansi forensik memang sedikit terlambat bila dibanding ranah akuntansi lainnya akuntansi keuangan, audit, audit internal, dan sebagainya. Padahal di Amerika, ilmu ini sudah ada sejak kasus Al Capone terungkap pada 1931 silam oleh seorang akuntan forensik, Frank J. Wilson. Namun, organisasi profesinya baru terbentuk beberapa dekade belakangan. Association of Certified Fraud Examiners baru terbentuk pada 1988. Kampusnya, American College of Forensic Examiners juga baru berdiri pada 1992 Di Indonesia perkembangan ilmu ini masih jauh dari harapan, dari sekian banyak Kantor Akuntan Publik (KAP) hanya sebagian kecil saja yang menawarkan jasa ini, alasannya apa lagi kalau bukan ceruk pasar yang masih minim, secara ilmu ekonomi belum ada pasarnya. Apalagi standar operasional dan ujian sertifikasi, konon belum begitu memadai, sangat jauh bila dibandingkan dengan negara tetangga Australia yang sedang menyusun Standar Akuntansi Forensik. Kanada dan Amerika Serikat sudah memiliki standar yang baku, namun belum serinci Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Belum adanya standar yang memadai, persoalan tambahan yang membuat ilmu ini kurang begitu populer adalah penguasaan ilmu yang cukup luas. Selain akuntansi dan audit, akuntan forensik juga harus menguasai bidang yang berkaitan dengan kejahatan keuangan (money laundering), hukum, psikologi, sosiologi, antropologi, viktimologi, kriminologi, dan lain-lain. Akuntan forensik harus memiliki kemampuan multitalenta. Kedepan, beberapa kalangan meramalkan perkembangan profesi ini akan lebih pesat. Selain makin banyak kantor bisnis dari negara asing yang masuk ke Indonesia., juga makin tingginya kesadaran perusahaan untuk melindungi asset mereka dari polapola tindakan kecurangan.

PengertianAkuntansiForensik Merriam Webster's Collegiate Dictionary (11th) menjelaskan pengertian Forensic

adalah (a) Belonging to, used in, or suitable to court of judicature or to public discussion and debate (b) Argumentative; Rhetorical (c) Relating to or dealing with the application of scientific knowledge to legal problems. Sementara Maurice E Peloubet, dalam Journal of Accountancy edisi Juni 1946 yang berjudul "Forensic Accounting: Its place in today's economy", menulis bahwa "Forensic Accounting is a discipline where auditing, accounting & investigative skills are used to assist in disputes involving financial issues and data, and where there is suspicion or allegation of fraud". Jadi jelas bahwa akuntansi forensik adalah penggunaan keahlian di bidang audit dan akuntansi yang dipadu dengan kemampuan investigatif untuk memecahkan suatu masalah/sengketa keuangan atau dugaan fraud yang pada akhirnya akan diputuskan oleh pengadilan/ arbitrase/tempat penyelesaian perkara lainnya. Kasus korupsi, sebagai contoh, pada dasarnya adalah sengketa keuangan antara Negara melawan warganya yang secara resmi telah ditunjuk untuk mengelola pemerintahan. Persengketaan itu harus diselidiki kebenarannya oleh Lembaga Negara (misalnya oleh KPK) dan diputuskan oleh hakim di pengadilan. Jadi investigasi yang dilakukan oleh para Akuntan di BPKP, BPK, KPK dan instansi penegak hukum lainnya pada hakikatnya adalah sebagian tugas-tugas akuntan forensik. Masa Depan Akuntansi Forensik Dunia bisnis yang semakin kompleks, meningkatnya kecenderungan penyelesaian sengketa bisnis di pengadilan, dan makin menurunnya tingkat integritas masyarakat di negara maju ini ditandai dengan terungkapnya sejumlah mega skandal, seperti kasus Ponzi Scheme oleh Bernard Madoff di Amerika Serikat yang merugikan nasabah kurang lebih US$ 50 billion- membuat profesi sebagai akuntan forensik makin dibutuhkan oleh semua pihak. Di Indonesia, kasus-kasus korupsi yang makin banyak terungkap dan semakin

beragam jenisnya dan belum terlihat ada kecenderungan penurunan juga pada hakekatnya membuktikan saat ini dan di masa datang makin diperlukan keahlian di bidang akuntansi forensik.

KESIMPULAN Tren dalam akuntansi merupakan arah yang kemungkinan akan dituju oleh ilmu akuntansi seperti beberapa trend yang telah dibahas dalam makalah ini yang meliputi: 1. Akuntansi sumber daya manusia 2. Akuntansi lingkungan 3. Akuntansi keperilakuan 4. Akuntansi forensik Namanya tren hanya menunjukkan kecenderungan yang dilihat saat ini. Kenyatannya akan terbukti kemudian. Tugas akademisi dan professional adalah untuk bermimpi, melihat, menganalisis, dan ikut mengembangkan tren itu sehingga konvensi dan menambah manfaat ilmu itu membantu masyarakat secara luas. Untuk mengantisipasi tren tersebut diperlukan penyempurnaan infrastruktur akuntansi yang harus dilaksanakan agar bisa memenuhi tuntutan tren itu, seperti: 1. Penyempurnaan system pendidikan, pelatihan, dan riset dalam bidang akuntansi. 2. Struktur dan persyaratan sosio ekonomi dan budaya. 3. Persyaratan legal, status, dan persyaratan lainnya dalam profesi akuntan. 4. Praktik profesi dan kelembagaan akuntansi.

DAFTAR PUSTAKA 1. http://indri-manda.blogspot-teoriakuntansi.html 2. http://docstoc.com/docs/_22044036/AKUNTANSI-SUMBER-DAYAMANUSIA 3. http//www.scribd.com/doc/45674249/AKUNTANSI-LINGKUNGAN 4. http//www.scribd.com/doc/46371711/RISET-AKUNTANSI-PERILAKU 5. http//edratna.wordpress.com/2009/04/27/apa-bagaimana-dan0kapanakuntansi-forensik-digunakan/

PERKEMBANGAN TEORI AKUNTANSI

DISUSUN OLEH:

SARNI MANGOPANG (0713080)

JURUSAN AKUNTANSI F A K U L T A S E K O N O M I UNIVERSITAS ATMA JAYA MAKASSAR 2011