Anda di halaman 1dari 14

KEBERADAAN MANGROVE DAN PRODUKSI IKAN DI DESA GRINTING, KECAMATAN BULAKAMBA, KABUPATEN BREBES (The Existence of Mangrove and

Fish Production in Grinting Village, Bulakamba Subdistrict, Brebes Regency) Oleh : Edi Fajar Prahastianto ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kondisi ekosistem mangrove dan prodiksi ikan (budidaya dan nonbudidaya) serta melihat adanya kemungkinan hubungan antara kondisi ekosistem mangrove, kondisi lingkungan dan produksi ikan di Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengumpulan data primer (metode survei) dan pengumpulan data sekunder dengan cara mengumpulkan datadata dan informasi dari instansi terkait. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan analisis yaitu analisis uji statistik F dan analisis komponen utama. Titik sampling pada penelitian dibagi menjadi tiga dan selanjutnya disebut Kanal (I, II dan III). Dimana Kanal tersebut merupakan saluran air yang berfungsi sebagai irigasi pertambakan yang ditumbuhi mangrove disisinya. Hasil analisis statistik memperlihatkan bahwa ketiga Kanal tersebut memiliki kondisi mangrove yang berbeda nyata, dengan nilai Fhitung sebesar 13 dan nilai Ftabel sebesar 5.14 (Fhitung > Ftabel). Kondisi mangrove pada Kanal I, II dan III berturut-turut memiliki luasan sebesar 3.9921 ha, 4.566 ha dan 3.329 ha. Untuk produksi rata-rata ikan nonbudidaya memiliki perbedaan nyata pada tiap Kanal dengan nilai Fhitung sebesar 9.61 dan Ftabel sebesar 4.26 (Fhitung > Ftabel). Ikan nonbudidaya memiliki produksi rata-rata sebesar 2.70 Kg/hari (Kanal I), 3.99 Kg/hari (Kanal II) dan 1.94 kg/hari (Kanal III). Terlihat produksi ikan nonbudidaya meningkat seiring dengan peningkatan ukuran mangrove. Sedangkan untuk produksi rata-rata ikan budidaya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada tambak yang terletak disekitar Kanal. Nilai Fhitung yang diberikan sebesar 0.52 dan Ftabel sebesar 5.14 (Fhitung < Ftabel). Ikan budidaya memiliki produksi rata-rata sebesar 202.22 Kg/ha/musim (Kanal I), 183.33 Kg/ha/musim (Kanal II) dan 232.67 kg/ha/musim (Kanal III). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan mangrove berbanding lurus terhadap produksi ikan nonbudidaya. Sementara kegiatan budidaya dapat mengakibatkan tekanan terhadap keberadaan mangrove. Hal ini terlihat dari hubungan yang berbanding terbalik antara keberadaan mangrove dan produksi ikan budidaya. Kata kunci : mangrove, produksi ikan. ABSTRACT The purpose of this study is to investigate about mangrove ecosystem condition and the production of fish (cultivation and non cultivation) and see any possible relationship between the condition of the mangrove ecosystem, environmental conditions and fish production in Grinting Village, Bulakamba Subdistrict, Brebes Regency. Collecting of primer data (survey method) and collecting of data secondary were used as method of collecting data by collecting data and information from relate institute. Statistic test analysis F and principal component analysis were used as approaching analysis technique. Sample point in this research was divided into three and next those will be called as Canal (I, II, III). Where those Canals are water channel that function as fishpond irrigation which grown by mangrove in its side. Statistical analysis showed that all three channels have significantly different mangrove conditions, with Fcount values of 13 and Ftable value 5.14 (Fcount> Ftable). The condition of mangroves on the Canal I, II and III respectively have an area of 3.991 ha, 4.566 ha and 3.329 ha. For the average production of fish non cultivation have real differences on each channel with a value of Fcount 9.61 and Ftable value 4.26 (Fcount> Ftable). Non cultivation fish have an average yield of 2.70 Kg/day (Canal I), 3.99 kg/day (Canal II) and 1.94 kg/day (Canal III). Visible non cultivation fish production increased along with increasing the size of the mangrove. Whereas, for cultivation fish average production didnt show any real differences in fishpond around the Canals. Fcount value is given as 0.52 and Ftable as much as 5.14 (Fcount > Ftable). Cultivation fish has an average yield of 202.22 kg/ha/season (Canal I), 183.33 kg/ha/season (Canal II) and 232.67 kg/ha/season (Canal III). Based on research results indicate that the presence of mangroves is directly proportional to the production of fish nonbudidaya. While aquaculture can lead to pressure against the presence of mangroves. This can be seen from the inverse relationship between the presence of mangroves and aquaculture fish production. Key words: mangrove, fish production.

PENDAHULUAN Hutan mangrove seringkali juga disebut hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau, atau hutan bakau. Akan tetapi, istilah bakau sebenarnya hanya merupakan nama dari salah satu jenis tumbuhan yang menyusun hutan mangrove, yaitu jenis Rhizopora spp. Oleh karena itu, hutan mangrove kemudian ditetapkan sebagai nama baku untuk mangrove forest (Nuhman, 2004). Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang-surut pantai berlumpur (Bengen, 2001). Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem utama penyusun wilayah pesisir tropis selain pelagis estuaria, padang lamun dan terumbu karang. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumberdaya hutan mangrove yang besar. Sekitar 61.250 km2 atau sepertiga mangrove dunia terdapat di Asia Tenggara, dimana 42550 km2 terdapat di Indonesia (Spalding et al., 1997 in Setyawan et al., 2003). Namun keberadaan hutan mangrove tersebut mengalami penurunan dari segi kualitas maupun kuantitas dari tahun ke tahun. Pada tahun 1982 hutan mangrove di Indonesia tercatat seluas 4,25 juta ha, sedangkan pada tahun1993 menjadi 3,73 juta ha, sehingga dalam kurun waktu 11 tahun tersebut hutan mangrove telah berkurang seluas 0,52 juta ha (Onrizal & Kusmana, 2008). Sumber lain mengatakan bahwa kecepatan penurunan hutan mangrove mencapai 530.000 ha per tahun (Anwar dan Gunawan, 2006). Dahuri (2003) menyebutkan bahwa faktor penggunaan lahan mangrove untuk budidaya tambak memberikan kontribusi terbesar bagi penurunan luas dan kerusakan ekosistem mangrove di Indonesia. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Pusat Penelitian Pengembangan Oseanografi (P3O) LIPI dan Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) LAPAN (2000) in Nur (2002), yang memperlihatkan adanya penurunan luas hutan mangrove sejalan dengan pertambahan luas areal pertambakan. Di Indonesia pembuatan tambak pada awalnya dimulai di pantai utara jawa, dimana mendorong perusakan mangrove secara besar-besaran. Pembuatan tambak di sekitar muara sungai dan dataran pantai utara jawa menyebabakan perubahan

vegetasi muara secara nyata. Sehingga keberadaan ekosistem mangrove hanya tersisa pada tempat-tempat yang sangat terisolasi atau ditanam di tepi tambak. Hal ini terjadi pada daerah Indramayu, Brebes, Pekalongan, Demak, Pati, Rembang, Lamongan, Gresik dan Situbondo (Setyawan, 2003). Sejalan dengan hal di atas perlu diupayakan pengelolaan hutan mangrove yang memperhatikan lingkungan, karena peranan hutan mangrove dalam menunjang kegiatan perikanan sangat nyata. Hutan mangrove memiliki manfaat yang penting bagi sumberdaya ikan, mangrove sebagai tempat untuk memijah (spawning), peremajaan (nursery) dan mencari makan (feeding) bagi beberapa jenis sumberdaya ikan. Sehingga keberadaan dan kelestarian hutan mangrove perlu dijaga agar manfaat yang diberikan dapat dioptimalkan dan terhindar dari kerusakan yang lebih besar. Mangrove melalui serasah yang dihasilkannya merupakan landasan penting bagi keberadaan sumberdaya ikan di kawasan pesisir. Produksi sumberdaya ikan pesisir dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ikan budidaya dan nonbudidaya. Produksi ikan kawasan pesisir tidak terlepas pengaruh dengan produktifitas perairan daerah tersebut. Produktifitas yang tinggi tentunya akan menghasilkan produksi yang tinggi pula. Produktifitas perairan dapat dilihat dari beberapa parameter kondisi lingkungan (kualitas perairan), sedangkan keberadaan mangrove diindikasikan dapat mempengaruhi kondisi lingkungan di daerah tersebut. Secara ilmiah nilai ekologi dari suatu ekosistem mangrove dapat dilihat dari beberapa komponen, yaitu komponen biotik (vegetasi mangrove itu sendiri dan sumberdaya ikan baik budidaya maupun nonbudidaya) dan komponen abiotik (kualitas air baik fisika, kimia maupun biologi). Namun keberadaan mangrove saat ini telah banyak mengalami penyusutan dari tahun ke tahun, sehingga akan mempengaruhi nilai ekologi dari mangove tersebut. Disuatu tempat yang terdapat mangrove dengan kondisi yang berbeda (rapat, sedang dan jarang) baik kerapatan maupun penutupannya, diduga akan memiliki nilai atau pengaruh yang berbeda terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Sehingga pengelolaan terhadap ekosistem mangrove perlu dilakukan agar manfaat yang diberikan pohon mangrove

tersebut dapat terjaga dan diharapkan dapat meningkatkan produtifitas perairan sekitar. Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengkaji kondisi ekosistem mangrove dan prodiksi ikan (budidaya dan nonbudidaya) serta melihat adanya kemungkinan hubungan antara kondisi ekosistem mangrove, kondisi lingkungan dan produksi ikan dalam skala kecil di Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai November 2009 di pesisir utara Jawa Tengah yaitu di Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Secara geografis letak Kabupaten Brebes berada pada 10804137 - 10901192BT dan 604456 - 702051LS. Sedangkan letak lokasi penelitian dijasikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian di Desa Grinting Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini terbagi atas tiga jenis data, yaitu data vegetasi mangrove, data produksi ikan (budidaya dan nonbudidaya) dan data kualitas air (kondisi lingkungan) sebagai data pendukung. Pelaksanaan pengumpulan data vegetasi mangrove dilakukan disepanjang saluran air (selanjutnya disebut sebagai Kanal), dimana terdapat tiga Kanal di lokasi tersebut yang berfungsi sebagai irigasi pertambakan. Tiap Kanal dibuat 3 plot (transek 10x10 m2) sebagai ulangan. Pengumpulan data vegetasi mangrove dilakukan dengan metode observasi lapangan, dengan cara mengamati vegetasi mangrove dominan yang terdapat di sepanjang Kanal. Kemudian setelah diketahui jenis pohon mangrove dominan di kawasan tersebut, selanjutnya dihitung jumlah tegakan tiap plot pengamatan.

Sementara perhitungan luasan mangrove yang terdapat di sepanjang Kanal dilakukan dengan menggunakan bantuan software ArcView GIS 3.2 terhadap citra landsat Kabupaten Brebes tahun 2008. Pengumpulan data produksi ikan di Desa Grinting dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan kuisioner. Pengumpulan produksi ikan di lokasi penelitian dibagi menjadi dua, yaitu produksi ikan budidaya dan produksi ikan nonbudidaya. Data produksi ikan budidaya diambil pada akhir musim panen dan merupakan komoditas yang dipelihara di dalam tambak. Sedangkan produksi ikan nonbudidaya merupakan komoditas yang ditangkap di sepanjang Kanal dan di sekitar kawasan mangrove secara alami dan biasanya dtangkap dengan menggunakan bubu (perangkap) atau ditangkap langsung dengan menggunakan jaring. Parameter kualitas air diukur sebagai data penunjang yang dibedakan menjadi dua, yaitu kondisi kualitas air di dalam tambak dan kondisi kualitas air di luar tambak (disepanjang Kanal). Dimana parameter kualitas ait yang diukur meliputi kecerahan, suhu, salinitas, DO, pH, klorofila dan kedalaman. Untuk parameter DO dilakukan pada pagi hari (pukul 05.0007.00), hal ini dilakukan untuk mendapatkan data DO pada kondisi minimum. Secara skematik teknik penentuan titik sampling pengamatan vegetasi mangrove dan kualitas air disajikan pada Lampiran 1 dan tata cara pengamatan vegetasi mangrove disajikan pada Lampiran 2. Analisis Data Pada penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis uji statistik F dan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA). Uji statistik ini digunakan untuk melihat apakah terdapat perbedaan secara nyata terhadap kondisi mangrove dan produksi ikan yang terdapat pada kawasan disekitar Kanal. Berikut disajikan cara perhitungan uji statistik F (Walpole, 1992): Fhitung =

JKK = jumlah kuadrat kolom (perlakuan) JKG = jumlah kuadrat galat k = jumlah perlakuan n = jumlah ulangan

hipotesis Ho : 1 = 2 = . . . = k = 0 H1 : sekurang-kurangnya satu i tidak sama dengan nol kriteria uji : Fhitung > Ftabel Fhitung < Ftabel

KONDISI UMUM Letak dan luas Lokasi penelitian terletak di Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Desa Grinting merupakan salah satu desa yang berlokasi di kawasan pesisir Pantai Utara Kabupaten Brebes. Sumber data mengenai kondisi umum Desa Grinting diperoleh berdasarkan laporan monografi data statis dan dinamis Kabupaten Daerah Tingkat II Brebes Kecamatan Bulakamba tahun 2009. Berdasarkan data tersebut Desa Grinting memiliki luas daerah sebesar 1469.100 hektar. Untuk luas kawasan mangrove total di Desa Grinting diperkirakan sebesar kurang lebih sekitar 180.75 hektar atau sebesar 25.93% dari luas kawasan mangrove total di Kabupaten Brebes yaitu sebesar 697 hektar. Dengan kondisi 80.75 hektar berupa hamparan dan 100 hektar berupa wanamina. Keberadaan mangrove di Kabupaten Brebes terbagi di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tanjung dan Losari, dengan luasan terbesar berada di Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba (25.93%). Sebagai salah satu desa yang berada di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa, maka Desa Grinting memiliki potensi yang cukup besar dalam bidang perikanan, baik perikanan budidaya tambak maupun perikanan nonbudidaya. Luas kawasan daerah pertambakan tersebut sebesar 596.340 ha atau sebesar 40,59% dari luas total wilayah desa. Kependudukan

Tolak Ho Gagal tolak Ho

Sementara perhitungan dalam analisis komponen utama (PCA) dapat dibantu dengan mengunakan software xl-stat di dalam Microsoft excel 2003. Prosedur analisis komponen utama atau PCA pada dasarnya adalah bertujuan untuk menyederhanakan variabel yang diamati dengan cara menyusutkan (mereduksi) dimensinya dan Tujuan utama dalam penggunaan analisis komponen utama dalam suatu matriks data berukuran cukup besar diantaranya adalah (Bengen, 2000) : a. Mengekstraksi informasi esensial yang terdapat dalam suatu tabel atau matriks data yang besar. b. Menghasilkan suatu representasi grafik yang memudahkan interpretasi. c. Mempelajari suatu tabel atau matriks dari sudut pandang kemiripan antara individu atau hubungan antar variabel. Dalam analisis PCA terdapat pula matriks korelasi. Analisis korelasi biasanya digunakan dalam pengujian hipotesis yang bersifat asosiatif, yaitu dugaan adanya hubungan antar variabel dalam populasi. Korelasi merupakan angka yang menunjukkan arah dan kuatnya hubungan antar dua variabel atau lebih. Arah dinyatakan dalam bentuk hubungan positif dan negatif, sedangkan kuatnya hubungan dinyatakan dalam nilai besarnya koefisien korelasi. Besarnya koefisien korelasi berkisar antara +1 sampai -1, kuatnya hubungan antar variabel dinyatakan dalam koefisien korelasi positif sebesar 1 dan koefisien korelasi negatif sebesar -1 sedangkan yang terkecil adalah 0 (nol) (Sugiyanto, 2004). Untuk melihat kekuatan hubungan dalam korelasi digunakan kriteria sebagai berikut (Hasan, 2003) : 0 dua variabel 0 0,25 0,25 0,5 0,5 0,75 0,75 0,99 1 : Tidak ada korelasi antara : Korelasi sangat lemah : Korelasi cukup : Korelasi kuat : Korelasi sangat kuat : Korelasi sempurna

Gambar 2. Jumlah penduduk Desa Grinting berdasarkan tingkat pendidikan Menurut tingkat pendidikan di Desa Grinting, tingkat pendidikan masyarakat tergolong rendah yaitu sebanyak 5716 orang atau sebesar 33% orang yang belum tamat SD dan sebanyak 2783 orang atau sebesar 16% yang tidak tamat SD. Sedangkan tingkat pendidikan tertinggi yang paling banyak dimiliki penduduk Desa Grinting

adalah lulusan SD yaitu 6504 orang atau sebesar 38%.

Gambar 3. Jumlah penduduk Desa Grinting berdasarkan mata pencaharian. Sedangkan dilihat dari jenis mata pencahariannya penduduk Desa Ginting didominasi oleh buruh tani sebanyak 4339 orang atau sebesar 40% serta petani dan peternak sebanyak 2883 orang atau sebesar 27%. Perekonomian Kegiatan perekonomian yang ada di Desa Grinting adalah industri sedang (12 buah), industri kecil (6 buah) dan industri rumah tangga (14 buah). Selain itu terdapat kegiatan perekonomian lainnya yang berupa pertanian, perikanan tambak, peternakan, perdagangan dan lain-lain. Sementara kegiatan pertambakan merupakan usaha tani utama di daerah tersebut, mengingat luas lahan pertambakan merupakan yang terbesar yaitu mencapai 40,59% dari luas total wilayah desa. Status pengelolaan tambak dan mangrove di Desa Grinting Awalnya produksi utama perikanan budidaya masyarakat Desa Grinting didominasi oleh ikan bandeng. Kemudian pada sekitar tahun 1984-1986 masyarakat diperkenalkan dengan komoditi udang windu. Kegiatan budidaya udang windu pun mengalami produksi yang sangat tinggi. Akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Pada dua tahun terakhir produksi mengalami penurunan hingga pada tahun 1990an produksi mengalami gagal panen. Hal ini disinyalir adanya pencemaran yang disebabkan oleh pemakaian obatobatan dan juga kegiatan budidaya yang melupakan kaidah-kaidah daya dukung lingkungan, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas tanah maupun air disekitar kawasan pertambakan. Hal ini kemudian membuat para petani tambak beralih kembali pada komoditas ikan bandeng, namun hasil yang diperoleh tidak

dapat mencapai ukuran yang diinginkan. Berbagai upaya dilakukan oleh masyarakat untuk menangani kendala tersebut, agar kondisi lingkungan di sekitar menjadi subur kembali. Salah satunya adalah masyarakat kerja sama dengan Pemerintah Daerah melakukan berbagai kegiatan rehabilitasi lingkungan dengan penghijauan. Ada dua sasaran utama kegiatan, yaitu rehabilitasi lahan kosong untuk dijadikan kawasan lindung setempat dan rahabilitasi kawasan tambak menjadi tambak wanamina atau tumpangsari. Pola tambak tumpangsari merupakan kombinasi antara tambak dengan kegiatan konservasi hutan mangrove. Pada dasarnya bentuk sistem tumpangsari akan bervariasi menurut keadaan lokasi yang direhabilitasi. Dalam hal ini vegetasi mangrove ditanam di bagian tepi tambak atau tanggul. Pada mulanya posisi penanaman pohon mangrove dilakukan di tepi tambak dan di tengah, namun seiring berjalannya waktu keberadaan pohon mangrove yang berada di tengah tambak sudah tidak ada lagi. Hal ini dikarenakan adanya keluhan dari para pemilik tambak yang mengalami kendala ketika panen. Sehingga kondisi vegetasi mangrove yang ada saat ini terdapat pada tepian tambak atau tanggul, di sepanjang sungai dan saluran air. Untuk menjaga keberadaan ekosistem mangrove agar tetap terjaga maka diperlukan suatu pengelolaan. Pemerintah daerah beserta instansi terkait dan masyarakat setempat harus terlibat dalam upaya tersebut agar keberhasilan dapat dicapai. Karena keberhasilan atau kegagalan dari suatu kegiatan sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari seluruh stakeholder yang ada khususnya masyarakat setempat. Salah satu bentuk pengelolaan yang dilakukan adalah dengan dibentuknya kelompok Tani Hutan (KTH), yang terbentuk pada tahun 2007 dibawah binaan Dinas Kehutanan dengan nama Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) Desa Grinting. Kelompok tani hutan ini sebagian besar beranggotakan para pemilik tambak. Tujuan utama dibentuknya kelompok ini adalah untuk melestarikan ekosistem mangrove di kawasan pertambakan. Selain itu juga dengan dibentuknya kelompok ini diharapkan dapat menciptakan penyuluhpenyuluh swadaya yang dapat mengajak masyarakat untuk dapat menjaga lingkungan dan menghijaukannya.

HASIL Kondisi vegetasi mangrove

Gambar 4. Jumlah tegakan rata-rata vegetasi mangrove tiap Kanal (individu/ 100m2) Tabel 1. Luas mangrove tiap Kanal
Lokasi Kanal I Kanal II Kanal III Luas Mangrove (Ha) 3,991 4,566 3,329 Panjang Kanal (meter) 835,69 881,85 921,89

Berdasarkan data yang diperoleh, produksi ikan budidaya rata-rata terbesar berada pada tambak yang terletak di Kanal III, dengan jumlah produksi rata-rata sebesar 232,67 Kg/Ha/musim. Sedangkan pada tambak yang terletak di Kanal I dan II diperoleh produksi rata-rata sebesar 202,22 Kg/Ha/musim dan 183,33 Kg/Ha/musim dengan produksi terendah berada pada tambak di Kanal II. Sementara untuk produksi ikan nonbudidaya yaitu komoditi udang api-api, pada kawasan sekitar Kanal I, II dan III diperoleh produksi rata-rata sebesar 2,70 Kg/hari, 3,99 Kg/hari dan 1,94 Kg/hari, dengan produksi rata-rata terbesar berada di Kanal II dan yang terendah berada di Kanal III. Berdasarkan hasil tersebut maka pada Kanal I, II dan III potensi produksi ikan budidaya total mencapai 604,67 Kg/ha/musim, 550 Kg/ha/musim dan 700 Kg/ha/musim. Sedangkan untuk ikan nonbudidaya memiliki potensi produksi sebesar 13,48 Kg/hari, 19,94 Kg/hari dan 9,70 Kg/hari.

Vegetasi mangrove tingkat pohon pada Kanal I, II dan III berturut-turut diperoleh jumlah tegakan dengan rata-rata sebanyak 33, 37 dan 17 individu tiap luas pengamatan. Vegetasi mangrove tingkat anakan pada Kanal I, II dan III diperoleh jumlah tegakan rata-rata sebanyak 16, 28 dan 20 individu tiap luas pengamatan. Dan vegetasi mangrove tingkat semai pada Kanal I, II dan III diperoleh jumlah tegakan rata-rata sebanyak 75, 692 dan 233 individu tiap luas pengamatan. Berdasarkan citra landsat mengenai data Rencana Tata Ruang Wilayah Pesisir Kabupaten Brebes tahun 2008, pada Kanal I, II dan III memiliki luas mangrove sebesar 3.991 ha, 4.566 ha dan 3.329 ha. Produksi ikan Produksi ikan budidaya merupakan komoditas yang dipelihara di dalam tambak, dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah jenis ikan bandeng (Chanos chanos). Sedangkan produksi ikan nonbudidaya atau ikan tangkapan merupakan komoditi yang ditangkap di alam dan tidak dipelihara di dalam tambak serta biasanya ditangkap setiap hari atau pada hari-hari tertentu oleh pemilik tambak maupun nelayan, dalam penelitian ini data yang diambil adalah jenis udang api-api (Metapenaeus spp).

Gambar 5. Produksi ikan rata-rata yang diperoleh petani tambak dan nelayan di Desa Grinting Analisis komponen utama Untuk melihat hubungan atau keterkaitan antara keberadaan mangrove terhadap hasil produksi budidaya beserta kondisi lingkungan di dalam tambak dapat digunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA). Dalam melihat hubungan tersebut digunakan sebanyak sembilan variabel, diantaranya adalah produksi budidaya (PB), luas mangrove (LM), kecerahan, salinitas, suhu, DO, pH, Klorofil-a dan kedalaman. Kualitas air yang digunakan merupakan kondisi lingkungan yang diukur di dalam tambak.

Komponen utama pertama memberikan kontribusi sebesar 55% dalam menjelaskan keragaman data yang diamati dengan nilai eigenvaleu yang diberikan sebesar 4.94. Sedangkan komponen utama kedua memberikan kontribusi sebesar 45% dalam menjelaskan keragaman data yang diamati dan nilai eigenvaleu yang diberikan sebesar 4.06 sehingga kedua komponen tersebut memberikan kontribusi sebesar 100% dari keragaman total, yang berarti bahwa PCA dapat menjelaskan data yang ada hingga 100%. Biplot on axes 1 and 2 (100% )
2 1.5 1 0.5 Kanal I

pH Salinitas DO

Kanal II

LM Kecerahan Kedalaman suhu Klorofil-a

0 -0.5 -1 -1.5 -2 -2.5 -3 -3.5 -3 -2 -1 0 1 Kanal III

PB

keberadaan vegetasi mangrove dapat memberikan pengaruh terhadap beberapa variabel lingkungan. Matriks korelasi memberikan nilai hubungan antar variabel yang diuji. Selain itu, analisis komponen utama juga menggambarkan hubungan antara kondisi mangrove, kondisi lingkungan di luar tambak (Kanal) dan produksi ikan nonbudidaya. Komponen utama pertama didapat dengan nilai eigenvaleu yang diberikan sebesar 5.57 dan memberikan kontribusi informasi sebesar 62%. Sementara komponen utama kedua diperoleh dengan nilai eigenvaleu sebesar 3.43 dengan memberikan kontribusi informasi sebesar 38% sehingga kedua komponen utama tersebut dapat menjelaskan data yang ada sebesar 100% yang berarti PCA dapat memberikan informasi dari data sebesar 100%. on axes 1 and 2 (100% ) Biplot
3 2.5 2 Kanal III

-- axe 2 (45% ) -->

-- axe 1 (55% ) -->

-- axe 2 (38% ) -->

Gambar 6. Hasil analisis komponen utama antara kondisi mangrove, kondisi lingkungan di dalam tambak dan produksi ikan budidaya Gambar 6 menyajikan hubungan antar variabel-variabel yang diuji. Semakin dekat posisi variabel terhadap sumbu komponen utama (dengan sudut 450), maka variabel tersebut memiliki korelasi terhadap variabel lainnya yang juga berdekatan dengan sumbu komponen utama yang sama atau sudut yang dibentuk antar variabel 900. Sedangkan perbedaan posisi atau koordinat (kuadran) menggambarkan arah korelasi (positif dan negatif). Berdasarkan Gambar 6 tampak bahwa keberadaan mangrove memiliki korelasi yang kuat terhadap hasil budidaya, akan tetapi arahnya berlawanan (korelasi negatif). Hal ini berarti apabila kegiatan budidaya meningkat maka akan mengakibatkan tekanan terhadap keberadaan mangrove sehingga mengakibatkan penurunan luas mangrove. Hasil produksi budidaya juga memiliki korelasi negatif terhadap kecerahan dan pH. Dengan meningkatnya kecerahan dan pH maka akan menurunkan produksi dalam tambak. Sedangkan hasil budidaya dan kandungan klorofil-a di dalam tambak menggambarkan korelasi positif. Meningkatnya kandungan klorofil-a yang dapat menggambarkan biomassa fitoplankton dalam tambak, dapat meningkatkan produksi budidaya yaitu sebagai pakan alami. Sementara itu

1.5 1 0.5 0 -0.5 -1 -1.5 -2 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 -- axe 1 (62% ) --> Kanal I

Kecerahan Kedalaman suhu DO Klorifil-a Salinitas PN LM


Kanal II

pH

Gambar 7. Hasil analisis komponen utama antara kondisi mangrove, kondisi lingkungan di luar tambak dan produksi ikan nonbudidaya Dari Gambar 7 tampak bahwa keberadaan vegetasi mangrove memiliki hubungan atau korelasi yang sangat kuat terhadap produksi ikan nonbudidaya. Yang berarti bahwa semakin tinggi ukuran mangrove maka makin tinggi pula produksi ikan nonbudidaya. Selain itu terlihat adanya hubungan antara produksi ikan nonbudidaya, kandungan oksigen terlarut (DO) dan klorofil-a. Tingginya produksi ikan nonbudidaya dapat dipengaruhi oleh kandungan DO dan klorofil-a dalam perairan. Karena kedua parameter tersebut dapat menggambarkam kesuburan atau produktifitas suatu perairan. Sementara kandungan DO dan klorofil-a dalam perairan dapat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara yang berasal dari dekomposisi serasah yang dihasilkan pohon mangrove di daerah tersebut. Maka keberadaan mangrove dapat mempengaruhi kondisi lingkungan sekitarnya.

Hubungan mangrove terhadap produksi ikan Berdasarkan data-data di atas dapat pula digambarkan mengenai hubungan antara kondisi mangrove terhadap produksi ikan budidaya maupun nonbudidaya (Gambar 8). Pada Gambar tersebut data produksi ikan yang digunakan merupakan data produksi ikan rata-rata tiap tahun. Sementara data luasan mangrove tiap Kanal diplotkan terhadap luasan areal kawasan pesisir yang diperkirakan masih dipengaruhi oleh keberadaan mangrove di kawasan tersebut. Penetuan luasan kawasan tersebut dibantu dengan menggunakan software Arc View GIS 3.2 terhadap citra landsat Kabupaten Brebes tahun 2008. Berdasarkan Gambar 8 peningkatan luasan mangrove akan diikuti oleh peningkatan produksi ikan nonbudidaya. Sementara peningkatan kegiatan budidaya untuk meningkatkan produksi dapat menyebabkan terjadinya tekanan terhadap keberadaan mangrove sehingga luas mangrove akan berkurang. Gambar tersebut mencoba memberikan ilustrasi mengenai luas mangrove yang optimum bagi kegiatan perikanan pesisir baik budidaya maupun nonbudidaya. Terlihat bahwa luas mangrove sekitar kurang lebih 4 hektar merupakan kondisi mangrove yang baik untuk menghasilkan produksi ikan secara optimum.

Gambar 8. Hubungan keberadaan mangrove terhadap produksi ikan PEMBAHASAN Kondisi mangrove dan perikanan Kondisi ekosistem mangrove yang terdapat di kawasan pesisir Desa Grinting sebagian besar didominasi oleh vegetasi mangrove jenis Rhizophora mucronata (Lamk) dari suku Rhizophoraceae. Selain itu terdapat juga vegetasi mangrove jenis Avicennia marina (Forsk) dari suku Avicenniaceae dan Acanthus ilicifolius (Lamk) dari suku Acanthaceae namun dalam jumlah yang relatif sedikit. Data vegetasi

mangrove yang dikumpulkan adalah jenis mangrove yang mendominasi di daerah tersebut, yaitu dari jenis Rhizophora mucronata. Berdasarkan uji statistik F yang dilakukan, diperoleh nilai Fhitung sebesar 13 dan Ftabel sebesar 5,14 (Fhitung > Ftabel). Hal ini memberikan kesimpulan bahwa jumlah tegakan mangrove memiliki perbedaan yang nyata di tiap Kanal. Berdasarkan Gambar 4, vegetasi mangrove pada tingkat pohon, anakan dan semai tertinggi terdapat pada Kanal II. Sementara mangrove tingkat pohon terendah dijumpai pada Kanal III, sedangkan mangrove tingkat anakan dan semai terendah dijumpai pada Kanal I. Perbedaan tersebut memberikan kontribusi terhadap perbedaan luasan mangrove pada Kanal tersebut. Berdasarkan Tabel 1, kondisi pada Kanal II memiliki luas mangrove tertinggi sebesar 4,566 hektar. Sedangkan Kanal III memiliki luas mangrove terendah sebesar 3,329 hektar. Luasan mangrove tersebut diperoleh dari analisis Arc View terhadap citra landsat mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Pesisir Kabupaten Brebes tahun 2008, yang diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Brebes. Kondisi ekosistem mangrove di lokasi penelitian didominasi oleh vegetasi jenis R. mucronata. Secara umum ekosistem mangrove memperlihatkan adanya pola zonasi yang berkaitan erat dengan tipe tanah, keterbukaan, salinitas serta pengaruh pasang surut. Tipe tanah dengan substrat berlumpur sangat baik untuk tegakan R. mucronata dan diduga tekstur tanah di lokasi penelitian merupakan kondisi yang cocok bagi pertumbuhan dan perkembanagan tegakan R. mucronata. Selain itu R. mucronata mampu tumbuh pada salinitas yang tinggi hingga 55 (Noor, et al., 1999). Serta pertumbuhan R. mucronata sering mengelompok, karena propagul yang sudah matang akan jatuh dan langsung menancap ke tanah (Suryawan, 2007). Gunawan dan Anwar (2005) menambahkan, perbedaan kondisi hutan mangrove pada tiap lokasi dapat disebabkan oleh hama dan penyakit tanaman, gangguan ternak, gangguan manusia, tingkat kesuburan serta kesesuaian tempat tumbuh. Akan tetapi keberadaan mangrove di Desa Grinting diduga lebih didominasi oleh pengaruh gangguan manusia. Tidak bisa dihindari bahwa tiap kalangan masyarakat memiliki kepentingan yang berbeda terhadap ekosistem mangrove. Hal ini

diindikasikan akibat adanya faktor pemahaman yang rendah dari masyarakat terhadap peran dan manfaat keberadaan mangrove. Berdasarkan penelitian lain yang dilakukan oleh Fakur (2008) yang juga dilakukan di Desa Grinting, faktor tingkat pendidikan dan pemberian bantuan sarana insentif sangat mempengaruhi keberhasilan rehabilitasi dan keberadaan hutan mangrove di Desa Grinting. Ekosistem mangrove memberikan manfaat dan potensi yang besar bagi kegiatan perikanan pesisir. Perlu diketahui kegiatan perikanan pesisir dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu perikanan budidaya dan perikanan nonbudidaya. Sebagian tambak yang ada di Desa Grinting pada awalnya berasal dari tanah timbul di pesisir pantai, yang kemudian dilakukan kegiatan pemetakan dan pembuatan tambak. Sebagian besar tambak didominasi oleh komoditi bandeng dan pada tiap Kanal kondisi tambak memiliki pola pengelolaan yang berbeda-beda, yaitu ada tambak yang dikelola secara tradisional dan ada tambak yang dikelola secara semi intensif. Berdasarkan data hasil penelitian produksi ikan budidaya rata-rata tertinggi berada kawasan tambak di Kanal III sebesar 232,67 kg/ha/musim, sedangkan yang terendah berada pada kawasan tambak di Kanal II sebesar 183,33 kg/ha/musim. Namun berdasarkan uji statistik F yang dilakukan, diperoleh nilai Fhitung sebesar 0,52 sedangkan Ftabel sebesar 5,14 (Fhitung < Ftabel), yang berarti bahwa hasil produksi ikan budidaya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada tiap Kanal. Selain produksi budidaya, dalam kawasan mangrove di Desa Grinting diperoleh juga produksi ikan nonbudidaya (tangkapan). Penangkapan ikan tersebut biasanya dilakukan pada pintu air tambak dengan dipasang bubu atau langsung ditangkap oleh nelayan disekitar Kanal dengan menggunakan jaring. Berbeda halnya dengan produksi ikan budidaya, hasil uji statistik F yang dilakukan memberikan nilai Fhitung sebesar 9,61 sedangkan Ftabel sebesar 4,26 (Fhitung > Ftabel), yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang nyata terhadap produksi tangkapan pada tiap Kanal. Produksi tangkapan terbesar terdapat pada Kanal II dengan rata-rata produksi sebesar 3,99 kg/hari dan produksi terendah terdapat pada Kanal III dengan rata-rata produksi sebesar 1,94 kg/hari. Namun ada satu faktor penting yang harus diperhatikan,

yaitu pasang surut air laut. Karena sumberdaya ikan yang berada di daerah mangrove merupakan ikan yang terbawa oleh arus saat pasang dan kembali ke laut saat air surut. Melihat perbedaan kondisi antara produksi ikan budidaya dan nonbudidaya tiap Kanal mengindikasikan bahwa terdapat suatu hubungan antara kondisi mangrove terhadap produksi ikan baik budidaya maupun nonbudidaya. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada lokasi yang terdapat mangrove dengan kondisi yang berbeda, mengindikasikan adanya perbedaan kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap produktifitas lingkungan sekitar. Produktifitas kawasan pesisir tersebut khususnya lingkungan perairan, tentunya akan memberikan kontribusi terhadap produksi sumberdaya ikan di lingkungan tersebut. Berdasarkan Gambar 7 dan hasil uji statistik, produksi ikan nonbudidaya memperlihatkan kondisi yang berbeda nyata pada tiap Kanal dan memiliki korelasi positif terhadap keberadaan mangrove. Produksi ikan nonbudidaya tertinggi berada pada Kanal II dengan luasan mangrove tertinggi dan produksi terendah berada pada Kanal III yang memiliki luasan mangrove terendah. Hal ini menggambarkan hubungan yang berbanding lurus, dimana produksi meningkat seiring peningkatan ukuran dari mangrove. Berdasarkan beberapa studi pustaka, perairan yang ditumbuhi pohon mangrove memiliki kesuburan yang tinggi karena banyaknya bahan organik yang dihasilkan. Bahan organik berasal dari serasah pohon mangrove yang jatuh ke perairan dan mengalami perombakan. Substansi organik tersebut merupakan sumber unsur hara (nutrien) yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fitoplankton. Sementara kesuburan suatu perairan dan potensi sumberdaya hayati umumnya ditentukan oleh besarnya biomasa dan produktifitas fitoplankton (Nontji, 1984 in Zuna, 1998), yang kemudian menjadi landasan penting bagi produksi perikanan di sekitarnya. Produksi ikan nonbudidaya dalam hal ini adalah jenis udang api-api (Metapenaeus spp) memiliki kelimpahan yang tinggi di lokasi yang subur dengan ukuran mangrove yang tinggi yaitu pada Kanal II. Diduga daerah perairan yang memiliki mangrove yang baik menyediakan tempat bernaung serta menyedikan bahan makanan yang

melimpah bagi larva ikan maupun udang. Suatu hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan linear yang signifikan antara produksi udang dan ukuran mangrove, yang dinyatakan oleh persamaan y = 5,437 + 0,1128x. Dimana y adalah produksi udang dan x merupakan area mangrove. Hubungan ini mengindikasikan bahwa pengurangan hutan pasang surut seperti misalnya untuk keperluan industri dan pertanian, akan menyebabkan pengurangan produksi udang tersebut (Martosubroto & Naamin, 1977). Hal ini dapat dijelaskan pula oleh kandungan klorofil-a dan oksigen terlarut (DO) yang tinggi pada lokasi tersebut (Kanal II). Kandungan klorofil-a dapat menggambarkan besarnya biomasa fioplankton dan hanya fitoplankton yang memiliki klorofi-a, sementara fitoplankton merupakan mata rantai pertama dalam rantai makanan. Sehingga keberadaan fitoplankton sangat berpengaruh terhadap kelimpahan populasi hewan yang ada di perairan sekitarnya (Nur, 2002) dan semakin tinggi biomasa fitoplankton akan semakin tinggi kandungan oksigen terlarut (DO) dalam perairan karena proses fotosintesis yang dilakukannya. Menurut Soeroyo (1987), keberadaan udang di daerah mangrove disebabkan banyaknya ketersediaan pakan. Keberadaan udang tersebut tidak terlepas kaitannya dengan kelimpahan fitoplankton. Karena dalam siklus hidupnya udang memiliki hubungan terhadap keberadaan fitoplankton yang juga melimpah di Kanal II yaitu sebagai pakan alami. Menurut Suyanto dan Mujiman (2003), bahwa Diatomae dan Dinoflagellatae merupakan makanan bagi udang pada saat stadium zoea, kemudian pada stadium mysis udang memakan plankton dari jenis Protozoa, Rotifera, Balanus dan Copepoda. Dan fitoplankton dari jenis Cyanophyceae merupakan makanan yang baik bagi larva udang. Rathod dan Kusuma (2006) menambahkan, Dinoflagellata dan diatom merupakan makanan yang penting bagi udang khususnya dari jenis Metapenaeus sp. Kemudian Primavera dan Lebata (1995) juga menambahkan bahwa lingkungan mangrove merupakan lingkungan yang cocok bagi udang. Kondisi lingkungan mangrove merupakan lingkungan dengan substrat yang lunak, hal ini memberikan kenyamanan bagi udang terkait kebiasaan dan cara makannya. Karena beberapa jenis udang seperti Metapenaeus spp memiliki

kebiasaan menggali (burrowing), sehingga substrat di mangrove sangat cocok bagi kebiasaan udang tersebut. Akan tetapi berbeda halnya dengan kondisi di atas, berdasarkan Gambar 6 dan hasil uji menggambarkan bahwa produksi budidaya tambak tidak memiliki perbedaan yang nyata di tiap Kanal dan memiliki hubungan atau korelasi yang negatif terhadap keberadaan mangrove. Produksi ikan budidaya rata-rata tertinggi terdapat pada tambak di Kanal III yang memiliki ukuran mangrove terkecil dan produksi terendah terdapat pada tambak di Kanal II dengan ukuran mangrove terbesar. Sehingga kondisi tersebut memberikan penjelasan bahwa peningkatan kegiatan budidaya tambak baik secara intensif maupun semi intensif dalam rangka pencapaian peningkatan produksi, akan mengakibatkan tekanan terhadap keberadaan mangrove. Sebab peningkatan produksi budidaya dapat dilakukan dengan pembuatan tambak yang lebih besar dan peningkatan padat penebaran benih dengan cara membuka areal mangrove, sehingga luasan mangrove menjadi lebih sempit. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Natharani (2007), yang menjelaskan bahwa keberadaan mangrove tidak selamanya berpengaruh terhadap produksi ikan budidaya. Pada dasarnya terdapat beberapa faktor lain yang sangat menentukan terhadap keberhasilan kegiatan budidaya tambak. Diantaranya adalah padat penebaran dan kualitas benih, sumberdaya manusia (SDM) dan sarana serta prasaran yang menunjang kegiatan budidaya tambak. Tidak lupa pula pengelolaan tambak yang ada sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan produksi budidaya. Berdasarkan Gambar 6, produksi ikan budidaya memiliki hubungan atau korelasi positif dengan kandungan klorofil-a dalam perairan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kandungan klorofil-a dapat menggambarkan biomassa fitoplankton dalam perairan. Sementara keberadaan fitoplankton dalam tambak dibutuhkan sebagai pakan alami dari ikan budidaya (Vannucci, 1998). Berdasarkan data, tambak yang berada pada Kanal III memiliki produksi ikan yang tinggi, hal ini dikarenakan di dalam tambak tersebut terdapat adanya klekap yang melimpah sebagai pakan alami dari komoditi budidaya yaitu ikan bandeng. Sementara klekap merupakan campuran berbagai jasad

renik yang tumbuh di dasar tambak dan penyusun utama dari klekap tersebut adalah Diatom dan Cyanophyceae yang merupakan jenis dari fitoplankton (Soeseno, 1983). Namun keberadaan klekap tidak serta merta disebabkan oleh keberadaan mangrove. Menurut penuturan salah seorang pemilik, tambak untuk menumbuhkan klekap di dalam tambak memerlukan suatu upaya, yaitu dengan pemberian pupuk dan pengeringan dasar tambak yang memerlukan intensitas cahaya yang tinggi. Sementara keberadaan mangrove di pelataran tambak dapat menjadi penghalang bagi penyinaran matahari ke dalam tambak. Dengan demikian pengelolaan tambak yang baik juga berperan dalam keberadaan klekap di dalam tambak. Pada saat penelitian, dalam kegiatan budidaya tambak memperlihatkan adanya suatu fenomena yaitu salinitas dalam tambak yang relatif sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh para pemilik tambak yang jarang melakukan pergantian air tambak dan karena adanya proses penguapan yang mengakibatkan salinitas menjadi sangat tinggi. Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan nilai salinitas di dalam tambak berkisar antara 42,33 - 50,44 . Pada kisaran nilai salinitas tersebut kondisi di lokasi penelitian dapat digolongkan ke dalam perairan hypersaline (Effendi, 2003). Nilai salinitas yang tinggi dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan organisme air yang di dalamnya, yaitu dapat memperlambat laju pertumbuhannya. Karena sebagian besar energinya banyak digunakan untuk proses osmoregulasi dalam usaha menjaga keseimbangan tekanan cairan tubuh dengan lingkungannya (Poernomo, 1978 in Gunarto et al, 2003). Hasilnya berdasarkan penuturan sebagian besar para pemilik tambak, produksi budidaya yang diperoleh untuk jenis bandeng memiliki ukuran yang kerdil pada saat panen, sekitar kurang lebih 6 -7 bulan masa pemeliharaan. Melihat adanya perbedaan kondisi antara produksi ikan budidaya dan nobudidaya terhadap keberadaan mangrove, tentunya dibutuhkan suatu pemikiran mengenai bagaimana mengelola ekosistem mangrove agar menunjang kedua kegiatan perikanan tersebut. Keberadaan mangrove perlu dilestarikan agar dapat dimanfaatkan secara ekologis dan ekonomis. Secara ekologis keberadaan mangrove dapat meningkatkan produktifitas perairan yang

memberikan kenyamanan bagi sumberdaya ikan. Hal ini akan diikuti pula oleh meningkatnya produksi sumberdaya ikan tersebut, sehingga akan mendatangkan keuntungan bagi manusia sebagai konsumen dari segi ekonomis. Berdasarkan data yang diperoleh, luasan mangrove pada tiap Kanal hanya berkisar sebesar 3,329 4,566 hektar dengan panjang Kanal rata-rata sebesar 879,81 meter dan lebar rata-rata mangrove ke arah kanan kiri Kanal hanya sebesar kurang dari 20 meter. Hal ini membuat kondisi mangrove kurang ideal dan optimal secara ekologi. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 201 tahun 2004 tentang kriteria baku dan pedoman penentuan kerusakan mangrove, terdapat penentuan sebesar 50 meter bagi sempadan sungai mangrove ke arah kanan kiri dari garis pasang tertinggi air sungai yang masih dipengaruhi pasang air laut. Sehingga kondisi saat ini di sepanjang Kanal hanya memberikan kondisi penutupan mangrove sebesar 47,76% (Kanal I), 51,78% (Kanal II) dan 36,11% (Kanal III) dari kriteria baku. Sehingga terlihat hanya Kanal II yang memiliki kriteria dengan kondisi mangrove yang baik. Gambar 8 memperlihatkan kondisi gabungan antara keberadaan mangrove terhadap produksi ikan budidaya dan nonbudidaya. Pada Gambar tersebut terlihat adanya perpotongan dari kedua kurva. Perpotongan tersebut merupakan titik keseimbangan (equilibrium) dimana diperoleh kondisi mangrove untuk menghasilkan produksi ikan budidaya dan nonbudidaya secara optimum. Keadaan optimum merupakan keadaan yang baik bagi faktor lingkungan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan mahluk hidup. Sehingga pada gambar tersebut diperoleh suatu ilustrasi mengenai optimasi rasio antara lahan mangrove dengan lahan pesisir. Berdasarkan Gambar 20, luasan mangrove tiap Kanal kurang lebih sekitar 4 hektar merupakan kondisi dengan produksi ikan yang optimum, baik dari segi budidaya maupun nonbudidaya. Namun kondisi di atas belum dapat dijadikan suatu pedoman atau dasar dalam penentuan luas mangrove optimum. Mengingat ukuran atau kawasan yang menjadi objek penelitian serta kajian yang dilakukan relatif sempit. Karena masih terdapat suatu kajian yang berperan penting dalam penentuan luas optimum mangrove,

yaitu dilihat dari aspek ekonomi. Sehingga penilitian ini hanya berusaha mengilustrasikan mengenai optimasi kondisi mangrove yang harus dipertahankan atau ditambahkan agar didapat keuntungan dari keberadaan mangrove baik secara ekonomis maupun ekologis. Sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 201 tahun 2004, kriteria baku kondisi penutupan mangrove yang baik bagi sempadan sungai mangrove yaitu 50 meter ke arah kiri kanan dari garis pasang tertinggi air sungai, dengan penutupan sebesar 50% dan jumlah tegakan 1000 pohon/hektar. Implikasi penelitian bagi pengelolaan ekosistem mangrove di kawasan pesisir Desa Grinting Melihat kondisi hutan mangrove di lokasi penelitian yaitu di Desa Grinting, menggambarkan kondisi yang masih jauh dari ideal. Sebab luasan penutupan total hutan mangrove yang terdapat di Desa Grinting hanya sebesar < 50% dari luas kawasan pesisir rata-rata tiap Kanal. Hal yang perlu dilakukan adalah diadakannya kegiatan rehabilitasi untuk memperbaiki dan menambah luasan hutan mangrove agar ideal. Secara garis besar teknik rehabilitasi kawasan mangrove terbagi dalam dua lokasi sasaran, yaitu rehabilitasi pada areal jalur hijau mangrove dan rehabilitasi pada areal di luar jalur hijau mangrove (Onrizal, 2002). Rehabilitasi pada areal jalur hijau mangrove Kegiatan rehabilitasi yang dilakukan pada areal jalur hijau mangrove harus mendukung fungsi lindung kawasan mangrove tersebut. Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah reboisasi atau penghijauan dengan jarak yang cukup rapat (1 x 1 m) dan ditanam dengan jenis mangrove yang sesuai dengan kondisi biofisik kawasan tersebut. Pada areal tersebut tidak dibenarkan adanya kegiatan selain kegiatan yang berhubungan dengan penanaman (reboisasi atau penghijauan). Pada lokasi penelitian keberadaan mangrove pada sungai utama dan saluran air atau Kanal merupakan mangrove yang harus dipelihara dan dijaga kelestariannya. Sehingga keberadaan mangrove tersebut dapat dapat dikategorikan kedalam kawasan atau areal jalur hijau mangrove.

Rehabilitasi pada areal di luar jalur hijau mangrove Berdasarkan fungsinya, areal di luar jalur hijau mangrove dapat berupa hutan budidaya. Rehabilitasi terhadap lokasi ini harus memperhatikan kondisi biofisik, sosial ekonomi masyarakat sekitar dan status kawasan. Agar tidak terjadi tumpang tindih pihak yang berwenang dalam melakukan pengelolaan terhadap suatu kawasan. Pengelolaan untuk kawasan tersebut dapat dilakukan dengan sistem silvofishery. Perbandingan luasan antara mangrove dan tambak pada sistem silvofishery didasarkan pada status kawasan mangrove, kondisi tegakan dan tujuan pengelolaan. Berdasarkan Perum Perhutani terdapat dua macam perbandingan antara mangrove dan lahan tambak yang dianggap dapat menjamin kelestarian ekosistem mangrove dan kelangsungan usaha tambak, yaitu sebesar (1) 80:20 diamana 80% areal berupa mangrove dan 20% berupa tambak dan (2) 30:70 dengan 30% berupa mangrove dan 70% berupa tambak. Perbandingan 80:20 diterapkan pada ekosistem mangrove yang masih utuh, sedangkan perbandingan 30:70 diterapkan pada ekosistem mangrove yang telah dibuka atau banyak digarap guna peruntukan lain. Berbagai penelitian lain dilakukan terkait dengan perbandingan yang optimum antara mangrove dan tambak, seperti yang dilakukan oleh Zuna (1998) yang menghasilkan rasio empang parit sebesar 54:46 yang mencoba melihat dari segi ekonomi dan ekologi walaupun dalam lingkup yang masih terbatas. Kemudian penelitian lain dilakukan oleh Nur (2002) yang menghasilkan optimasi rasio empang parit dengan lahan hutan mangrove sebesar 50:50 dan 60:40 yang menghasilkan nilai optimum bagi pemanfaatan ekosistem mangrove secara lestari untuk tambak tumpangsari. Berbagai perbedaan pendapat tersebut memberikan penjelasan bahwa perlu adanya kajian lebih lanjut untuk menentukan luas mangrove dan tambak yang optimal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, kondisi pertambakan di Desa Grinting sebagian besar hanya berupa hamparan tambak. Sehingga hal yang perlu dilakukan adalah melakukan kegiatan budidaya ramah lingkungan dengan sistem silvofishery. Secara umum terdapat beberapa bentuk dalam sistem tersebut, untuk menunjang kegiatan perikanan budidaya sistem

silvofishery dengan bentuk komplangan merupakan alternatif yang tepat untuk dilakukan di kawasan pertambakan Desa Grinting. Selain itu, untuk menunjang keberhasilan budidaya perlu adanya peningkatan kualitas air dengan cara normalisasi irigasi tambak mengingat kondisi kualitas perairan di lokasi yang kurang baik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Kondisi vegetasi mangrove di tiap Kanal memperlihatkan perbedaan yang nyata. Kondisi dengan jumlah tegakan dan luas mangrove tertinggi berada pada Kanal II, sedangkan terendah terdapat pada Kanal III. 2. Produksi perikanan nonbudidaya tertinggi diperoleh pada kawasan Kanal II dan terendah pada Kanal III serta memperlihatkan perbedaan yang nyata. Sementara untuk produksi budidaya memperlihatkan keadaan yang sebaliknya, produksi tertinggi terdapat pada Kanal III dan terendah pada Kanal II, tetapi tidak memiliki perbedaan yang nyata tiap Kanal. 3. Hasil tersebut memperlihatkan adanya suatu hubungan atau korelasi positif yang kuat antara produksi ikan nonbudidaya dengan keberadaan mangrove. Kondisi mangrove yang baik akan menghasilkan produksi ikan nonbudidaya yang tinggi. Karena mangrove dapat mempengaruhi kondisi lingkungan, dengan kandungan klorofila yang relatif lebih tinggi, pH yang stabil dan DO yang relatif lebih baik. Sementara produksi budidaya tambak menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Karena keberhasilan produksi ikan budidaya lebih ditentukan oleh pengelolaan tambak. Saran Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai kajian optimasi rasio antara luas mangrove dengan lahan di kawasan pesisir, sehingga didapat manfaat mangrove secara lestari. Saran bagi pengelolaan mangrove di kawasan pertambakan adalah dengan diterapkannya sistem silvofishery dengan pola komplangan. Karena pola tersebut diindikasikan mampu mempertahankan

kelestarian mangrove serta kelangsungan kegiatan budidaya tambak. DAFTAR PUSTAKA Anwar, C & Hendra G. 2006. Peranan Ekologis dan Sosial Ekonomis Hutan Mangrove dalam Mendukung Pembangunan Wilayah Pesisir. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian. [terhubung berkala]. http://www.dephut.go.id/files/chairil_he ndra.pdf [1 Februari 2010] Bengen, D. G. 2000. Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data Biofisik Sumberdaya Pesisir. Pusat kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. vi + 88 p. Bengen, D. G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor. xii + 60 p. Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut: Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. PT Gramedia. Jakarta. Xxxiii+412p Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan. Yogyakarta : Kanisius. 258 hlm. Fakur, D. 2008. Faktor-Faktor Sosial Ekonomi Petani yang Berhubungan dengan Keberhasilan Rehabilitasi Hutan Mangrove Pola Wanamina (Kasus di Kabupaten Brebes Jawa Tengah) [skripsi]. Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian, Universitas Swadaya Gunung Jati. Cirebon. 110 hlm Gunarto, Suharyanto, Muslimin & Abdul M T. 2003. Budidaya Udang Windu Menggunakan Tandon Mangrove dengan Pola Resirkulasi Berbeda. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 9(2): 57-63 Gunawan, H & Chairil A. 2005. Analisis Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove di Pantai Utara Jawa Tengah. Hutan dan Konservasi Alam. 2(4): 239-248 Hasan, M.I. 2003. Pokok-pokok materi statistik 1 (statistik deskriptif). Bumi aksara: Jakarta. xvii + 297 hlm. Martosubroto, P & Naamin, N. 1977. Relationship Between Tidal Forests (Mangrove) and Commercial Shrimp Production in Indonesia. Marine Research in Indonesia. No 18: 81-86

Monografi Desa grinting. 2009. Data Statis dan Dinamis Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes Natharani, C. 2007. Penurunan Luasan Ekosistem Mangroove dan Keterkaitannya dengan Sumberdaya Perikanan di Kabupaten Tanggerang [skripsi]. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Noor, Y. R, M. Khazali, & I N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/Wi-IP, Bogor. viii + 220 p. Nuhman. 2004. Fungsi Mangrove dalam Budidaya Perikanan. Jurnal Perikanan. 1(1): 31-33 Nur, S. H. 2002. Pemanfaatan Ekosistem Hutan Mangrove Secara Lestari Untuk Tambak Tumpang Sari di Kabupaten Indramayu Jawa Barat [disertasi]. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 173 hlm Onrizal. 2002. Evaluasi kerusakan mangrove dan alternatif rehabilitasinya di Jawa Barat dan Banten. [terhubung berkala]. http://library.usu.ac.id/download/fp/huta n_onrizal.pdf [29 Maret 2010] Onrizal & Cecep K. 2008. Studi Ekologi Hutan Mangrove di Pantai Timur Sumatera Utara. Biodiversitas. 9(1): 2529 Primavera, J. H & J. Lebata. 1995. Diel Activity Pattern in Metapenaeus and Penaeus Juveniles. Hydrobiologia. 295: 295-302 Rathod, J. L & N. Kusuma. 2006. Food of the shrimp Metapenaeus dobsoni (Meirs, 1878) along Karwar waters, central west coast of India. Environment and Ecology. Abstrak. [terhubung berkala]. http://www.cababstractsplus.org/abstrac ts/Abstract.aspx?AcNo=20073068939 [11 Februari 2010] Setyawan, A D. 2003. Ekosistem Mangrove sebagai Kawasan Peralihan Ekosistem Perairan Tawar dan Perairan Laut. Enviro. 2(1): 25-40 Soeroyo. 1987. Aliran Energi pada Ekosistem Mangrove. Balai Penelitian Biologi Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Jakarta. Oseana. 12(2): 52-59

Soeseno, S. 1983. Budidaya Ikan dan Udang dalam Tambak. PT. Gramedia. Jakarta. xii + 148 hlm. Sugiyanto. 2004. Analisis Statistika Sosial. Bayumedia. Malang. xvii + 227 p. Suryawan, F. 2007. Keanekaragaman vegetasi mangrove pasca tsunami di kawasan pesisir pantai timur Nangroe Aceh Darussalam. Biodiversitas. 8(4): 262 265 Vannucci, M (Ed). 1998. Manual of Fish Eggs and Larvae from Asian Mangrove Waters. Jeyaseelan, M. J. P, et al. Paris, France. p. 50-54. Zuna, H Y. 1998. Analisis Ekologi Ekonomi Sistem Tambak Tumpangsari [Tesis]. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 78 hlm.