Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN Transfusi darah telah menjadi faktor utama dalam memperbaiki dan mempertahankan kualitas hidup bagi

pasien-pasien penderita kanker, gangguan hematologi, dan cedera yang berhubungan dengan trauma dan pasien-pasien yang telah menjalani prosedur bedah mayor. Transfusi darah mencakup pemberian infus seluruh darah atau suatu komponen darah dari satu individu (donor) ke individu lain (resipien) meskipun transfuse darah penting untuk mengembalikan homeostasis, transfusi darah dapat membahayakan. Banyak komplikasi dapat ditimbulkan oleh terapi komponen darah, contohnya reaksi heolitik akut yang kemungkinan mematikan, penularan penyakit infeksi (hepatitis, AIDS) dan reaksi demam. Kebanyakan reaksi transfusi yang mengancam hidup diakibatkan oleh identifikasi pasien yang tidak benar atau pembuatan label sampel darah atau komponen darah yang tidak akurat, menyebabkan pemberian darah yang tidak inkompatibel. Pemantauan pasien yang menerima darah dan komponen darah dan pemberian produk-produk ini adalah tanggung jawab keperawatan. Komponen darah harus diberikan oleh personel yang kompeten, berpengalaman, dan dilatih dengan baik dan mengikuti pedoman organisasi dan badan-badan yang telah diakreditasi dalam memberikan terapi komponen darah.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

DEFENISI Transfusi darah merupakan pemberian infuse seluruh darah atau suatu komponen

darah dari suatu individu (donor) ke individu lain (resipien). Yang terpenting di klini adalah transfuse sel darah merah. Kecocokan antara antigen sel darah merah donor dan antibody plasma resipien harus dipastikan (dijamin), kalau tidak reaksi hemolitik yang potensial fatal bias terjadi. Perubahan baru-baru ini dalam pemakaian komponen darah spesifik juga telah memberikan ketegasan pada trombosit, zat hemostatik, koloid protein plasma dan immunoglobulin.2 2.2 SEJARAH TRANSFUSI Pada tahun 1665, Dr. Richard Lower, ahli anatomi dari inggris, berhasil mentransfusikan darah seekor anjing pada anjing yang lain. Dua tahun kemudian, Jean Baptiste Denis, seorang dokter, filsuf, dan astronom dari Perancis, berusaha melakukan tranfusi darah pertamakali pada manusia. Ia mentransfusikan darah seekor anak kambing kedalam tubuh pasien yang berumur 15 tahun. Hasilnya adalah bencana, yaitu kematian anak tersebut dan ia sendiri dikenai tuduhan pembunuhan. Sejak saat itu terjadi stagnansi panjang dalam bidang transfuse darah terapan. Sekitar 150 tahun kemudian, tematnya tahun 1818, Dr. James Blundell dari rumah sakit St. Thomas and Guy berhasil melakukan transfuse darah dari manusia ke manusia yang pertama kali. Ia berhasil melakukannya setelah ia menemukan alat transfuse darah secara langsung, dan ia mengingatkan bahwa hanya darah manusia yang dapat ditransfusikan pada manusia. Tetapi, alat yang diciptakan oleh Dr. Lower itu baru bisa digunakan secara umum setelah tahun 1901. Pada tahun itu, karl Landsteiner, ilmuwan dari Wina, berhasil menemukan jenis-jenis darah. Menurut temuan ini, jika jenis-jenis darah yang dicampurkan tidak cocok, maka akan terjadi penggumpalan sel darah merah, yang akan berlanjut pada kerusakan masingmasing darah tersebut.3

2.3

GOLONGAN DARAH Sejak ditemukannya system ABO oleh Landsteiner pada 1900, sampai dangan

tahun 1999,menurut internasional society of nlood transfuse (ISBT) terdapat 25 sistem golongan darah dan lebih dari 250 antigen golongan darah yang telah diidentifikasi. System golongan darah terdiri dari satu atau lebih antigen yang ditentukan baik oleh gen tunggal atau sebuah cluster dari dua atau lebih gen homolog yang berkaitan erat dimana benar-benar tidak terjadi rekombinasi diantara gen-gen tersebut. Symbol untuk keduapuluh lima system golongan darah tersebut adalah ABO, MNS, P, RH, LU (Lutheran), KEL (Kell), LE (Lewis), FY (Duffy), JK (Kidd), DI (Diego), YT (Cartwright), XG, SC (Scianna), DO (Dombrock), CO (Colton), LW, CH/RG, H, XK, GE, CROM, KN, IN, OK, dan RAPH.4 System golongan darah yang diperiksa dalam pelaksanaan transfuse darah secara rutin adalah system ABO dan Rhesus yang cara penggolongannya secara praktis dapat dilihat pada table 1 dan 2.4 Tabel 1. Penggolongan darah berdasarkan system ABO4 Golongan darah A B AB O Antigen A B A dan B Tidak ada Antibodi Anti-B Anti-A Tidak ada Anti-A, anti-B, anti-A,B

Tabel 2. Penggolongan darah berdasarkan system rhesus4 Anti Rho (D) Positif Negatif Positif Kontrol Rh Negatif Negatif Positif Tipe Rh D+ D- (d) Harus diulang atau diperiksa dengan Rho (D) typing (saline tube test)

2.4

KOMPONEN DARAH

2.4.1

Darah Lengkap (Whole Blood) Darah lengkap ini berisi sel darah merah, leukosit, trombosit dan plasma. Satu unit kantong darah lengkap berisi 450 ml darah dan 63 ml antikoagulan. Di Indonesia satu kantong darah lengkap berisi 250 ml darah dengan 37 ml antikoagulan. Suhu simpan antara 1-6 0C. lama simpan dari darah lengkap ini tergantung dari antikoagulan yang dipakai pada kantong darah, pada pemakaian sitrat fosfat dektrose (CPD) lama simpan adalah 21 hari, sedangkan dengan CPD adenine (CPDA) adalah 35 hari. Menurut masa simpan invitro ada 2 macam darah lengkap yaitu darah segar dan darah baru. Darah segar yaitu darah yang disimpan sampai 48 jam, sedang darah baru yaitu darah yang disimpan sampai dengan 5 hari.4

2.4.2

Sel Darah Merah Pekat (Packed Red Blood Cell) Sel darah merah pekat berisi eritrosit, trombosit, leukosit, dan sedikit plasma. Sel darah merah ini didapat dengan memisahkan sebagian besar plasma dari darah lengkap, sehingga diperoleh sel darah merah dengan nilai hematokrit 60-70 %. Volume diperkirakan 150-300 ml tergantung besarnya kantung darah yang dipakai, dengan masa sel darah merah 100-200 ml. sel darah merah ini disimpan pada suhu 1-6 0C. bila menggunakan antikoagulan CPDA maka masa simpan dari sel darah merah ini 35 hari dengan nilai hematokrit 70-80 %. Sedangkan bila menggunakan antikoagulan CPD selama 21 hari.4

2.4.3

Sel darah merah Pekat Dengan Sedikit Leukosit (Packed Red Blood Cell Leukocytes Reduced) Setiap unit sel darah merah pekat mengandung 1-3 x 109 leukosit. American Association of Blood bank Standard for Transfusion Services menetapkan bahwa sel darah merah yang disebut dengan sedikit leukosit jika kandungan leukositnya kurang dari 5x106 leukosit/unit. Sel darah ini dapat diperoleh dengan cara pemutaran, pencucian sel darah merah dengan garam fisiologis, dengan filtrasi atau degliserolisasi sel darah merah yang disimpan beku. Karena pada

pembuatannya ada sel darah merah yang hilang, maka kandungan sel darah merah kurang dibandingkan dengan sel darah merah pekat biasa.4 Suhu simpan 1-6 0C, sedang masa simpan tergantung pada cara pembuatannya. Bila pemisahan leukosit dilakukan dengan memakai kantong ganda (system tertutup) masa simpannya sama dengan darah lengkap asalnya, tapi bila dengan pencucian/filtrasi (system terbuka) produk ini harus dipakai secepatnya (dalam 24 jam).4 2.4.4 Sel Darah Merah Pekat Cuci (Packed Red Blood Cell Washed) Sel darah merah yang dicuci dengan normal salin memiliki hematokrit 70-80 % dengan volum 180 ml. pencucian dengan salin membuang hamper seluruh plasma (98%), menurunkan konsentrasi leukosit, dan trombosit serta debris. Karena pembuatannya biasanya dilakukan dengan system terbuka maka komponen ini hanya dapat disimpan dalam 24 jam dalam suhu 1-6 0C.4 2.4.5 Sel Darah Merah Pekat Beku Yang Dicuci (Packed Red Blood Cell Frozen, Packed Red Blood Cell Deglycerolized) sel darah merah beku ini dibuat dengan penambahan gliserol suatu sediaan krioprotektif terhadap darah yang usianya kurang dari 6 hari. Darah ini kemudian dibekukan pada suhu -650C atau -2000C (tergantung sediaan gliserol) dan dapat disimpan selama 10 tahun. Karena pada proses penyimpanan beku, pencairan dan pencuciannya ada sel darah merah yang hilang maka kandungan sel darah merah minimal 80% dari jumlah sel darah merah pekat asal, demikian pula hematokrit kurang lebih 70-80%. Proses pencucian dapat menggunakan larutan glukosa dan salin. Suhu simpan 1-6 0C dan tidak boleh digunakan lebih dari 24 jam karena proses pencucian biasanya memakai system terbuka.4 2.4.6 Trombosit Pekat (Concentrate Platelets) Berisi trombosit, beberapa leukosit dan sel darah merah serta plasma. Trombosit pekat ini dapat diperoleh dengan cara pemutaran (sentrifugasi) darah lengkap segar atau dengan cara tromboforesis. Satu kantong trombosit pekat yang berasal

dari 450 ml darah lengkap dari seorang donor berisi kira-kira 5,5x1011 trombosit dengan volum sekitar 50 ml. Satu kantong trombosit pekat yang diperoleh dengan cara tromboforesis seorang donor darah berisi sekitar 3,3 x1011 trombosit, setara dengan 6 kantong trombosit yang berasal dari donor darah biasa. Tergantung dari jenis mesin yang dipakai, volum berkisar antara 150-400 ml. produk ini memungkinkan transfuse trombosit yang cocok pada pasien dengan antibody terhadap trombosit.4 Trombosit ini dapat disimpan pada suhu 20-40 0C dengan kantong darah biasa yang diletakkan pada rotator/agitator yang selalu berputar/bergoyang, trombosit dapat disimpan selama 3 hari, sedangkan dengan kantong darah khusus dengan cara penyimpanan yang sama trombosit dapat disimpan selama 5 hari.4 2.4.7 Trombosit Dengan Sedikit Leukosit (Platelets Leukocytes Reduced) Trombosit berisi leukosit sekitar 0,5x108/unit trombosit, sedangkan trombosit dengan sedikit leukosit mengandung leukosit hanya 8,3x105/unit.4 2.4.8 Granulosit Feresis (Granulocytes Pheresis) Diperoleh dengan cara sitafaresis dari donor tunggal, berisi granulosit, limfosit, trombosit beberapa sel darah merah dan sedikit plasma. Setiap unit mengandung sekitar 1,0x1010 granulosit, sejumlah limfosit, trombosit, 25-50 ml sel darah merah, dan mungkin sedikit hidroksietil starch (HES) dengan volum 200-300 ml. suhu simpan dari sediaan ini 20-24 0C dan harus segera ditransfusikan.4 2.4.9 Plasma Segar Beku (Fresh Frozen Plasma = FFP) Plasma digunakan untuk mengganti kekurangan factor koagulasi. Plasma segar beku ini berisi plasma, semua factor pembekuan stabil dan labil, komplemen dan protein plasma. Plasma ini dipisahkan dari darah lengkap yang kemudian dibekukan dalam waktu 8 jam setelah pengambilan darah dari donor, disimpan pada suhu simpan -18 0C atau lebih rendah dengan masa simpan 1 tahun. Volume sekitar 200-250 ml.4

2.4.10 Kriopresipitat Faktor Anti Hemofilik (Cryopresipitated AHF) Kriopresipitat AHF adalah konsntrat plasma protein tertentu, dibuat dengan mencairkan plasma segar beku pada suhu 4 0C selama 12-14 jam atau pada circulating water bath 4 0C selama 75 menit dan kemudian memisahkan komponen yang masih berpresipitasi pada suhu tersebut dengan cara pemutaran. Komponen yang masih berpresipitasi tersebut adalah kriopresipitat. Suhu simpan adalah minus 180C atau lebih rendah dengan lama simpan 1 tahun dengan volum sekitar 10-15 ml.4 2.4.11 Konsentrat Faktor VIII (Factro VIII consentrate) Konsentrate factor VIII dibuat dari plasma manusia atau diproduksi melalui teknologi rekombinan. Konsentrate factor VIII ini dibuat dengan proses fraksinasi dari plasma yang dikumpulkan dan dibekukan segera setelah pengambilan darah. Semua produk dibuat steril, stabil, murni dan beku kering.4 2.4.12 Konsentrat Faktor IX Dua konsentrat F IX sekarang tersedia sebagai hasil rekombinan. Sediaan ini steril, stabil dan kering beku sebagai hasil dari fraksinasi plasma yang dikumpulkan. Kompleks F IX merupakan sediaan yang mengandung selain F IX juga sejumlah F II, VII, X dan beberapa protein.4 2.4.13 Albumin Dan Fraksi Protein Plasma Albumin merupakan derivate plasma yang diperoleh dari darah lengkap atau plasmafaresis, terdiri dari 96 % albumin dan 4 % globulin dan beberapa protein lain yang dibuat dengan proses fraksinasi alcohol dingin. Derivate ini kemudian dipanaskan 600C selama 10 jam sehingga bebas virus.4 Fraksi protein plasma adalah produk yang sama dengan albumin hanya dalam pemurniannya lebih kurang dibandingkan dengan albumin dalam proses fraksinasi. Fraksi protein plasma ini mengandung 83 % albumin dan 17 % globulin.4

2.4.14 Immunoglobulin Immunoglobulin biasanya dibuat melalui proses fraksinasi dengan etanol dingin dari plasma yang dikumpulkan. Berisi immunoglobulin G (IgG) dengan sedikit IgA dan IgM. Terdapat dua sediaan yakni intramuscular (IM) dan intravena (IV). Pada sediaan IM, produk ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu pada pemberiannya diperlukan waktu 4-7 hari untuk mencapai kadar puncak dalam plasma, dosis maksimum yang dapat diberikan dibatasi oleh massa otot dan pada pemberiannya menyebabkan nyeri. Sediaan IM saat ini diberikan hanya untuk profilaksis. Sediaan ini merupakan larutan steril dengan konsentrasi protein kurang lebih 16,5 g/dl.4 2.4.15 Rh Immune Globulin RhIG dibuat dari plasma yang dikumpulkan dan mengandung IgG anti D. terdapat dua sediaan yaitu IM dan IV. Sediaan IV dosis 120 ug dan 300 ug telah disetujui oleh FDA untuk supresi imun terhadap antigen D dan untuk pengobatan ITP.4

2.5

INDIKASI TRANSFUSI Transfusi darah umumnya >50% diberikan pada saat perioperatif dengan tujuan

untuk menaikkan kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravascular.kalau hanya menaikan volume intravascular saja cukup dengan koloid atau kristaloid.5 Indikasi transfuse darah ialah :5
1. Perdarahan akut sampai Hb < 8gr% atau Ht <30%.

Pada orang tua,kelainan paru,kelainan jantung Hb < 10 g/dll. 2. Bedah mayor kehilangan darah > 20% volume darah.

2.6

KOMPLIKASI 1. Reaksi hemolitik Kekerapan 1:6000 akibat destruksi eritrosit-donor oleh antibosi resipien dan sebaliknya.jika jumlah transfuse <5% volume darah,reaksi tak begitu gawat.pada pasien anestesi ditandai oleh demam,takikardi tak jelas asalnya,hipotensi,perdarahan merembes di daerah operasi,syok,spasme bronkus dan selanjutnya Hb-uria,ikterus dan renal shut down 5 2. Infeksi a. Virus (hepatitis,HIV-AIDS,CMV) b. Bakteri ( Stafilokok,yesteria,citrobakter)
c. Parasit (malaria)5

2. Lain-lain Demam,urtikaria,anafilaksis,edema paru non-kardial, purpura, intoksikasi.5

2.7

PENANGGULANGAN REAKSI TRANSFUSI 1. Stop transfuse 2. Naikkan tekanan darah dengan koloid,kristaloid,jika perlu

tambah vasokonstriktor,inptropik. 3. 4. 5. 6. 7. Berikan oksigen 100% Diuretika manitol 50 mg atau furosemid (lasix)10-20 mg. Antihistamin Steroid dosis tinggi Jika perluexchage transfusion

8.

Periksa analisa gas dan Ph darah5

BAB III KESIMPULAN Transfusi darah merupakan pemberian infuse seluruh darah atau suatu komponen darah dari suatu individu (donor) ke individu lain (resipien). System golongan darah yang diperiksa dalam pelaksanaan transfuse darah secara rutin adalah system ABO dan Rhesus. Berbagai macam komponen darah yaitu darah lengkap, PRC, trombosit, Granulosit, FFP, dan albumin.
Indikasi transfuse darah ialah Perdarahan akut sampai Hb < 8gr% atau Ht <30%, Pada orang tua, kelainan paru, kelainan jantung Hb < 10 g/dl dan pada bedah mayor kehilangan darah > 20% volume darah. Transfuse darah sangat penting bagi pasien yang membutuhkan tambahan darah tetapi harus hati-hati karena transfuse juga mempunyaai efek komplikasi seperti reaksi hemolitik, infeksi : Virus (hepatitis, HIV-AIDS, CMV), bakteri ( Stafilokok, non-kardial, purpura, dan intoksikasi. yesteria, citrobakter), parasit (malaria), dan lain-lain seperti demam, urtikaria, anafilaksis, edema paru

10

DAFTAR PUSTAKA 1. Transfusi Darah (serial online). Diunduh dari : http://www.scribd.com/doc/ 24127163/ Transfusi-Darah-BAB-2 2. Hoffbrand, A.V. Kapita selekta Hematologi; oleh A.V Hoffbrand dan J.E. Pettit; alih bahasa, Iyan Darmawan. Ed.2.-Jakarta:EGC 1996. 3. Transfusi darah (serial online). Diunduh dari : http://2010/04/transfusi- darahmenurut-islam-dan- medis.html 4. Djoerban, Zubairi. Dasar-dasar transfuse darah, dalam Buku ajar Ilmu Penyakit dalam FK UI. Ed IV. Jakarta; Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI; Jakarta; 2009 5. Latief, Said. Transfusi darah dalam pembedahan dalam Petunjuk Praktis Anestesiologi. Ed.2; Jakarta; Bagian anestesiologi dan Terapi Intensif FK UI; Jakarta;2009

11