Anda di halaman 1dari 15

judul skripsi hukum pidana:

1. PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1971 TENTANG


TINDAK PIDANA PERANAN JAKSA DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA
KORUPSI (STUDI KASUS DI KEJAKSAAN NEGERI PAMEKASAN MADURA) (
1993)
2. PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1979 TERHADAP
PEMERINTAHAN DESA YANG STATUSNYA BERUBAH MENJADI KELURAHAN
(STUDI KASUS DI KELURAHAN BANDULAN MALANG) ( 1997)
3. PENYELESAIAN PERKARA PELANGGARAN LALU LINTAS (STUDI KASUS DI
PENGADILAN NEGERI PROBOLINGGO) ( 1989)
4. KEGUNAAN SIDIK JARI DALAM PROSES PENYIDIKAN (STUDI KASUS DI
POLRESTA MALANG) ( 1997)
5. PELAKSANAAN PUTUSAN HAKIM YANG TELAH MEMPEROLEH KEKUATAN
HUKUM TETAP KHUSUSNYA TERHADAP BARANG BUKTI (SUATU STUDI DI
KEJAKSAAN NEGERI MALANG) ( 1997)
6. PERBUATAN CABUL TERHADAP ANAK DIBAWAH UMUR DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI KASUS PADA PENGADILAN NEGERI
MALANG) ( 1995)
7. TINDAK PIDANA PERCOBAAN PEMBUNUHAN (STUDI KASUS DI WILAYAH
HUKUM PENGADILAN NEGERI JOMBANG) ( 1996)
8. SOSIAL EKONOMI KELUARGA DAMPAKNYA TERHADAP KENAKALAN
ANAK-ANAK (STUDI DI LEMBAGA PRAYUANA DI KEDUNG KONDANG
MALANG) ( 1992)
9. TINDAK PIDANA PENCURIAN KAYU HASIL HUTAN DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI KASUS DIWILAYAH HUKUM BOJONEGORO)
( 1996)
10. TINDAK PIDANA PENIPUAN DALAM KASUS PINJAM MEMINJAM UANG
(STUDI KASUS DI WILAYAH HUKUM KODYA MALANG) ( 1992)

11. PERANAN UNIT IDENTIFIKASI DALAM PROSES PENYIDIKAN UNTUK
MENGUNGKAPKAN SUATU TINDAK PIDANA (STUDI KASUS DI POLRESTA
MALANG) ( 1997)

12. PEMECAHAN PERKARA PIDANA (SPITSING) SEBAGAI UPAYA UNTUK
MEMPERCEPAT PROSES PEMBUKTIAN (SUATU STUDI DI KEJAKSAAN NEGERI
MALANG) ( 1997)

13. PERANAN KETERANGAN AHLI KEDOKTERAN JIWA DALAM PERADILAN
PIDANA (SUATU STUDI DI PENGADILAN NEGERI MALANG DAN RSJ PUSAT
LAWANG MALANG) ( 1996)

14. PELAKSANAAN AZAS PRADUGA TAK BERSALAH DALAM PEMERIKSAAN
PERKARA PIDANA (SUATU STUDI DI LEMBAGA BANTUAN HUKUM MALANG)
( 1998)

15. PERANAN KORBAN KEJAHATAN DALAM TINDAK PIDANA PEMERKOSAAN
( 1997)

16. TINJAUAN TENTANG PERANAN HAKIM PENGAWAS DAN PENGAMAT
TERHADAP PEMBINAAN NARAPIDANA ( 1997)

17. PELAKSANAAN PIDANA MATI DALAM NEGARA PANCASILA (STUDI DI
MAHKAMAH MILITER III 12 SURABAYA) ( 1996)

18. PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PIDANA TERHADAP
PELAKU PENYALAHGUNAAN KARTU KREDIT (STUDI DI PENGADILAN
NEGERI MALANG) ( 1994)

19. PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA (STUDI DI
POLRES PROBOLINGGO) ( 1994)
20. PERANAN VISUM ET REPERTUM DALAM MEMBANTU ARAH TUNTUTAN
PIDANA TERHADAP KASUS PENGANIAYAAN YANG MENGAKIBATKAN
HILANGNYA NYAWA (STUDI KASUS DI KEJAKSAAN NEGERI MOJOKERTO) (
1996)
21. TINDAK PIDANA PENGGELAPAN YANG DILAKUKAN OLEH PEGAWAI
ASURANSI JIWA DAN PENANGGULANGANNYA (STUDI DI PENGADILAN
NEGERI SIDOARJO) ( 1996)
22. PENCURIAN ALIRAN LISTRIK DAN UPAYA PENYELESAIANNYA (STUDI
KASUS DI PENGADILAN NEGERI KAB SAMPANG DAN PLN KAB SAMPANG) (
1996)
23. TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN TERHADAP PRESIDEN SUATU
TINJAUAN SOSIO KRIMINOLOGI ( 1996)
24. PEMBEBASAN BERSYARAT SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PEMBINAAN
NARAPIDANA (STUDI DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS I MALANG) (
1996)
25. PENANGGULANGAN PENAHANAN TERHADAP TERSANGKA OLEH
PENYIDIK (STUDI DI POLRES PROBOLINGGO) ( 1994)
26. PERANAN KEPOLISIAN DALAM MENANGGULANGI KEJAHATAN SEKSUAL
YANG DILAKUKAN OLEH REMAJA (STUDI PENDEKATAN SOSIOLOGI DAN
KRIMINOLOGIS DI KEPOLISIAN KOTA BESAR SEMARANG) ( 1996)
27. RETRIBUSI TEMPAT WISATA SEBAGAI SALAH SATU SUMBER UNTUK
MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KAB DAERAH TINGKAT II
MALANG) ( 1996)
28. TINJAUAN ATAS PASAL 534 KUHP DALAM KAITANNYA DENGAN
PROGRAM KELUARGA BERENCANA DEWASA INI (STUDI DI KOTAMADYA
MALANG ( 1993)
29. MASALAH GELANDANGAN DAN PENGEMIS SERTA UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI KASUS DI WILAYAH KAB DAERAH TINGKAT
II JEMBER) ( 1996)
30. PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PIDANA TERHADAP
PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (STUDI KASUS DI PENGADILAN
NEGERI KEDIRI) ( 1995)
31. PERANAN KETERANGAN SAKSI SEBAGAI SALAH SATU ALAT BUKTI
DALAM PROSES PIDANA (STUDI KASUS DI PENGADILAN NEGERI MALANG) (
1993)
32. TINDAK PIDANA PERJUDIAN DAN USAHA PENANGGULANGANNYA
(STUDI DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI MALANG) ( 1996)
33. PERANAN RESERSE DALAM MENGUNGKAP TINDAK PIDANA
PEMBUNUHAN BERENCANA (STUDI KASUS DI POLRESTA MALANG) ( 1996)
34. PERANAN DOKTER AHLI ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN DALAM
PROSES PENYELESAIAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (STUDI KASUS DI
WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI BANDUNG) ( 1994)
35. TINDAK PIDANA PENCURIAN SAPI DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA
(STUDI KASUS DI POLRES SUMENEP) ( 1995)
36. PERANAN PEJABAT BEA DAN CUKAI DALAM PROSES PENYIDIKAN
TINDAK PIDANA PENYELUNDUPAN (STUDI DI KANTOR INSPEKTORAT BEA
DAN CUKAI TANJUNG PERAK) ( 1995)
37. PERANAN ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN DALAM MEMBANTU
MENGUNGKAP TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BAYI (STUDI RSUD DR.
SYAIFUL ANWAR KOTA MADYA MALANG) ( 1996)
38. PELAKSANAAN HAK DAN KEWAJIBAN TERSANGKA OLEH PENYIDIK
DITINJAU DARI KUHAP 9SUATU STUDI PADA POLRESTA BLITAR) (1994)
39. PEMBINAAN NARAPIDANA YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA
PENCURIAN (STUDI KASUS DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA
MALANG) ( 1993)
40. PERANAN KORBAN DALAM TINDAK PIDANA KASUS PENIPUAN (STUDI
KASUS DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI DENPASAR) ( 1996)
41. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP EKS NARAPIDANA (STUDI KASUS DI
KEC. KEDUNG KONDANG KOTAMADYA MALANG) ( 1996)
42. PROSEDUR PENYELESAIAN TINDAK PIDANA KONEKSITAS DAN
MAHKAMAH MILITER (STUDI DI MAHKAMAH MILITER 11 08 JAKARTA) (
1994)
43. PENANGANAN KEJAHATAN PERANAN JAKSA DALAM PENYIDIKAN
TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI KASUS DI KEJAKSAAN NEGERI
PAMEKASAN MADURA) ( 1993)
44. PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DAN PENANGGULANGANNYA (STUDI
KASUS DI PN MALANG) ( 1995)
45. TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN YANG DIRENCANAKAN LEBIH DAHULU
DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA (STUDI KASUS DI WILAYAH PN
JOMBANG) ( 1996)
46. TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA
ABRI DAN PROSES PENYELESAIANNYA (STUDI KASUS DI POM DAM IX
UDAYANA) ( 1996)
47. PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENETAPKAN BESAR KECILNYA BENDA
DALAM PERKARA SUMMIER LALU LINTAS (STUDI KASUS DI PENGADILAN
DAN KEJAKSAAN NEGERI MALANG) ( 1992)
48. PERANAN DOKTER ILMU PENYAKIT JIWA DALAM PROSES PERADILAN
UNTUK MENENTUKAN KETIDAKMAMPUAN BERTANGGUNG JAWAB (STUDI
KASUS DI RSJ MALANG) ( 1994)
49. MASALAH KORBAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN (SUATU TINJAUAN
SECARA VIKTI MOLOGIS) ( 1995)
50. PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH DALAM RANGKA PELAKSANAAN
PEMBANGUNAN (STUDI KASUS DI KOTAMADYA DATI II MOJOKERTO) ( 1996)
51. PENCURIAN BENDA-BENDA PURBAKALA DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI KASUS DI POLWIL YOGYAKARTA) ( 1996)
52. PENERAPAN UNDANG-UNDANG SUBVERSI TERHADAP JUDI KUPON PUTIH
(STUDI KASUS WILAYAH PN LAMONGAN) ( 1990)
53. TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN YANG DIRENCANAKAN DAN USAHA-
USAHA PENANGGULANGANNYA (STUDI KASUS DI WILAYAH HUKUM KAB
MALANG) ( 1990)
54. PENJATUHAN PIDANA TAMBAHAN PERAMPASAN BARANG DALAM
TINDAK PIDANA PERSEORANGAN (STUDI KASUS DI WILAYAH HUKUM
SURABAYA) ( 1990)
55. KEWENANGAN JAKSA SEBAGAI PENYIDIK PADA TINDAK PIDANA
PENYELUNDUPAN (STUDI KASUS DI KEJAKSAAN NEGERI TANJUNG PERAK
SUERABAYA) ( 1990)
56. ASPEK-ASPEK YANG DIPERHATIKAN DALAM PEMBUATAN BERITA
ACARA PEMERIKSAAN (STUDI KASUS DI KEPOLISIAN WILAYAH MALANG) (
1990)
57. TINJAUAN ATAS PELANGGARAN PEMBUNUHAN DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI KASUS DI PENGADILAN NEGERI MALANG) (
1990)
58. PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DI KALANGAN REMAJA DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI KASUS DI WILAYAH HUKUM KODYA
MALANG) ( 1995)
59. TINDAK PIDANA PEMALSUAN MEREK DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI DI WILAYAH HUKUM PN SURABAYA) ( 1996)
60. PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP TINDAK PIDANA KESUSILAAN
YANG BERKAITAN DENGAN GAMBAR PORNO (STUDI KASUS DI WILAYAH PN
KODYA KEDIRI) ( 1993)
61. PERANAN SIDIK JARI DALAM PENGUNGKAPAN SUATU TINDAK PIDANA
(STUDI KASUS DI POLRES JEMBER) ( 1996)
62. TINDAK PIDANA PEMALSUAN UANG DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI KASUS DI PN MALANG) ( 1995)
63. PEMBAJAKAN KASET, VIDEO DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA
DIKOTAMADYA MALANG (STUDI KASUS DI POLRESTA MALANG) ( 1996)
64. PEMALSUAN UANG DAN UPAYA PENYELESAIANNYA (STUDI KASUS DI PN
MALANG) ( 1995)
65. PERANAN REKONSTRUKSI DALAM PROSES PENYIDIKAN GUNA
MENGUNGKAP KEJAHATAN (STUDI KASUS DI POLRESTA MALANG) ( 1997)
66. JANGKAUAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN
PERkimpoiAN POLIGAMI DALAM MASYARAKAT INDONESIA ( 1991)
67. PENJATUHAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU KEJAHATAN
PERKOSAAN DI WILAYAH PENGADILAN NEGERI SLEMAN (SUATU STUDI
KASUS) ( 1996)
68. PERBUATAN MELAWAN HUKUM ATAS MEREK DITINJAU DARI SUDUT
HUKUM PIDANA ( 1997)
69. ARTI DAN LUAS TINDAK PIDANA PERANAN JAKSA DALAM PENYIDIKAN
TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI KASUS DI KEJAKSAAN NEGERI
PAMEKASAN MADURA) ( 1993)
70. PENGKAJIAN ABORTUS PROVOKATUS DALAM ILMU PENGETAHUAN
KEDOKTERAN DITINJAU DARI HUKUM PIDANA ( 1990)
71. CARA PEMBUATAN SURAT DAKWAAN DAN BENTUK PEMBUKTIAN
DALAM PERKARA PERANAN JAKSA DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA
KORUPSI (STUDI KASUS DI KEJAKSAAN NEGERI PAMEKASAN MADURA) (
1993)
72. PERANAN FAKTOR NON YURIDIS DAN DIPERHATIKAN DALAM
PENUNTUTAN KEJAHATAN PERIZINAN ( 1986)
73. TENTANG DAN SEKITAR HUKUMAN MATI DI INDONESIA DITINJAU DARI
SEGI PELAKSANAANNYA ( 1976)
74. PENJATUHAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU KEJAHATAN
PERKOSAAN DI WILAYAH PENGADILAN NEGERI SLEMAN ( 1996)
75. FUNGSI POLISI DALAM PEMBINAAN ANAK YANG MELAKUKAN
KENAKALAN ( 1997)
76. DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN
PIDANA BERSYARAT ( 1995)
77. KEDUDUKAN DAN PERANAN HAKIM SERTA PELAKSANAANNYA DI
DALAM PRAKTEK DI PENGADILAN NEGERI KLATEN ( 1992)
78. KAUSALITAS, SEBAB MENYEBAB, DALAM HUKUM PIDANA ( 1982)
79. SUATU TINJAUAN MENGENAI ACARA PEMERIKSAAN DAN PEMINDAHAN
TERHADAP DELIK ADAT LOGIKA SANGGRAHA
80. RELATIVITAS PELANGGARAN LALU LINTAS YANG DILAKUKAN OLEH
PARA REMAJA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ( 1989)

thesis
View Public ProIile
Find More Posts by thesis
KaskusAd - Create an KasAD / Buat Iklan KasAD
11-04-2011, 01:36 AM #
thesis
kaskuser

UserID:
Join Date: Apr 2010
Posts: 377

lanjut gan...

81. PERANAN PEMBELA PADA
TINGKAT PENYIDIKAN EKSEPSI
DAN PLEDDI DALAM PERADILAN
PIDANA
82. PENYALAHGUNAAN
KEUANGAN NEGARA OLEH
SEKTOR SWASTA YANG
POTENSIAL MENUMBUHKAN
DELIK PERANAN JAKSA DALAM
PENYIDIKAN TINDAK PIDANA
KORUPSI (STUDI KASUS DI
KEJAKSAAN NEGERI PAMEKASAN
MADURA) ( 1993)
83. TINJAUAN YURIDIS
TERHADAP TANGGUNG JAWAB
ATAS BENDA SITAAN DALAM
PERKARA PIDANA ( 1992)
84. KEDUDUKAN DAN PERANAN
HAKIM WASMAT SERTA
PELAKSANAANNYA DI DALAM
PRAKTEK DI PENGADILAN
NEGERI KLATEN ( 1992)
85. HUKUMAN BAGI PERCOBAAN
DITINJAU DARI KUHP DI
INDONESIA
86. PERKEMBANGAN ILMU
HUKUM DAN SIKAP HAKIM
DALAM PERSIDANGAN PERKARA
PIDANA ( 1992)
87. KOSONG
88. KEPUTUSAN HAKIM YANG
BERUPA BEBAN DARI TUDUHAN
DAN LEPAS DARI SEGALA
TUNTUTAN HUKUM (1977)
89. PELEPASAN BERSYARAT
(VOORWAARDELIJKE
INVRIJHEIDSTELLING)
DEELNEMING DITINJAU DARI
SUDUT UNDANG-UNDANG
HUKUM PIDANA (1981)
90. DEELNEMING DITINJAU DARI
SUDUT UNDANG-UNDANG
HUKUM PIDANA (1981)
91. PELACURAN DI IBUKOTA
JAKARTA DITINJAU DARI SUDUT
HUKUM PIDANA (1981)
92. DISPORITAS PIDANA
KAITANNYA DENGAN KEPASTIAN
HUKUM DAN RASA KEADILAN
(STUDI KASUS TENTANG
PENCURIAN DI PENGADILAN
NEGERI PAMEKASAN ( 1992)
93. KEDUDUKAN DAN PERANAN
HAKIM WASMAT SERTA
PELAKSANAANNYA DI DALAM
PRAKTEK DI PN KLATEN ( 1992)
94. TINJAUAN TERHADAP TINDAK
PIDANA KEALPAAN YANG
MENYEBABKAN MATINYA
ORANG YANG DILAKUKAN OLEH
PENGEMUDI KENDARAAN
BERMOTOR (STUDI KASUS DI
WILAYAH KODYA MALANG) (
1992)
95. PERANAN KORBAN TERHADAP
PENCURIAN DENGAN
KEKERASAN (STUDI KASUS DI
WILAYAH HUKUM PN MALANG) (
1991)
96. PELAKSANAAN PUTUSAN
PERADILAN TATA USAHA
NEGARA (STUDI DI PTUN
JAKARTA) ( 1997)
97. DELIK KESUSILAAN YANG
DILAKUKAN OLEH ANAK DI
BAWAH UMUR (STUDI KASUS DI
WILAYAH HUKUM KOTAMADYA
MOJOKERTO) ( 1991)
98. PERANAN HAKIM DALAM
PEMERIKSAAN PERKARA
PERKOTAAN (STUDI KASUS DI PN
MALANG) ( 1991)
99. KAJIAN YURIDIS TERHADAP
SURAT EDARAN DIREKTUR
JENDERAL HUKUM DAN
PERUNDANG-UNDANGAN
DEPARTEMEN KEHAKIMAN
NOMOR : JHA/1/1/2/1978 TENTANG
PROSEDUR PENGANGKATAN
ANAK WARGA NEGARA
INDONESIA OLEH ORANG ASING (
1997)
100. PRAPERADILAN ATAS
PENGHENTIAN PENYIDIKAN
DALAM PROSES PERKARA
PIDANA (STUDI KASUS DI PN
MALANG) ( 1991)
101. PENGARUH KORBAN DALAM
TERJADINYA KEJAHATAN
PERKOSAAN (STUDI KASUS DI
KEJAKSAAN NEGERI MADIUN) (
1998)
102. PEMBERATAN PIDANA DAN
PENGARUHNYA TERHADAP
RESIDIVIS (STUDI KASUS DI
WILAYAH HUKUM PERADILAN
NEGERI SUMENEP) ( 1991)
103. EFEKTIVITAS PEMINDAHAN
TERHADAP ANAK DIBAWAH
UMUR (STUDI KASUS DI PN
SURABAYA DAN LEMBAGA
PEMASYARAKATAN ANAK
BLITAR) ( 1992)
104. HAKEKAT KEYAKINAN
HAKIM DIDALAM MENJATUHKAN
PUTUSAN PIDANA (STUDI KASUS
DI PERADILAN NEGERI
MOJOKERTO) ( 1993)
105. TINJAUAN TENTANG TINDAK
PIDANA PENGRUSAKAN
TANAMAN TEBU (STUDI KASUS
DI PN MALANG) ( 1990)
106. PERANAN ALAT BUKTI
DALAM PENYELESAIAN
PERKARA PIDANA (STUDI KASUS
DI PN TRENGGALEK) ( 1991)
107. PERANAN PENUNTUT UMUM
DALAM MELAKSANAKAN HAK
PRA PENUNTUTAN PADA PROSES
PENYELESAIAN PERKARA
PIDANA ( 1990)
108. PENCURIAN KAYU JATI
SERTA USAHA-USAHA
PENANGGULANGANNYA (STUDI
KASUS DI WILAYAH HUKUM
PERADILAN NEGERI
BOJONEGORO) ( 1992)
109. PENYERTAAN DALAM
KAITANNYA DENGAN TINDAK
PIDANA PAJAK DI INDONESIA
(STUDI KASUS DI PN JAKARTA
SELATAN) ( 1989)
110. FUNGSI SURAT DAKWAAN
DALAM PROSES PENYELESAIAN
PERKARA PIDANA (STUDI KASUS
PADA KEJAKSAAN NEGERI
NGANJUK) ( 1991)
111. POLA PEMBINAAN
NARAPIDANA RESIDIVIS DI
LEMBAGA PEMASYARAKATAN
(STUDI KASUS DI LEMBAGA
PEMASYARAKATAN KELAS I
MALANG) ( 1991)
112. PERANAN PROVOST DALAM
PENANGGULANGAN TINDAK
PIDANA DI KALANGAN MILITER (
1993)
113. EFEKTIFITAS PELEPASAN
BERSYARAT DALAM PEMBINAAN
NARAPIDANA (STUDI KASUS DI
LEMBAGA PEMASYARAKATAN
KELAS I MALANG) ( 1991)
114. MASALAH PENAHANAN
OLEH JAKSA (STUDI KASUS DI
KEJAKSAAN NEGERI SAMPANG) (
1991)
115. KORBAN PERKOSAAN ANAK
DALAM SISTEM PERADILAN
PIDANA (STUDI KASUS DI PN
SITUBONDO) ( 1993)
116. UPAYA PENYIDIK DALAM
MEMPEROLEH BARANG BUKTI DI
TEMPAT KEJADIAN PERKARA
(STUDI KASUS DI POLRESTA
MALANG) ( 1993)
117. LATAR BELAKANG WANITA
MELAKUKAN TINDAK PIDANA
PEMBUNUHAN (STUDI KASUS DI
LEMBAGA PEMASYARAKATAN
WANITA MALANG) ( 1993)
118. PERANAN PENYIDIK DI
DALAM MENANGGULANGI
KEJAHATAN PENCURIAN YANG
DILAKUKAN OLEH REMAJA
(STUDI KASUS DI KEPOLISIAN
RESORT KOTA MALANG) ( 1991)
119. PERANAN DAN UPAYA
SATUAN RESERSE DALAM
MENANGGULANGI KEJAHATAN
(STUDI KASUS DI WILAYAH
HUKUM POLRESTA MOJOKERTO) (
1993)
120. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB
PERJUDIAN DAN UPAYA-UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI
KASUS DI KAB SIDOARJO) ( 1992)
121. PERANAN JAKSA SEBAGAI
PENYIDIK DALAM TINDAK
PIDANA SUBVERSI (STUDI KASUS
DI PN MALANG) ( 1993)
122. PENJATUHAN PIDANA
TERHADAP ANAK YATIM
MELAKUKAN TINDAK PIDANA
(STUDI KASUS DI PN MALANG) (
1993)
123. KENAKALAN REMAJA
DALAM MENYALAHGUNAKAN
NARKOTIKA DAN CARA-CARA
PENANGGULANGANNYA ( 1993)
124. PERANAN JAKSA DALAM
PENYIDIKAN TINDAK PIDANA
KORUPSI (STUDI KASUS DI
KEJAKSAAN NEGERI PAMEKASAN
MADURA) ( 1993)
125. DASAR PERTIMBANGAN
HAKIM DALAM MENJATUHKAN
PIDANA TERHADAP ANAK (STUDI
KASUS DI PN BLITAR) ( 1990)
126. PERTIMBANGAN HAKIM
DALAM PENJATUHAN PIDANA
TERHADAP ANAK DI BAWAH
UMUR 16 TAHUN (STUDI KASUS
DI PN BLITAR) ( 1993)
127. PENYITAAN BARANG BUKTI
DALAM PROSES PENYIDIKAN
PERKARA PIDANA (STUDI KASUS
DIPOLRESTA MALANG) ( 1992)
128. PENGARUH GELANDANGAN
DAN PENGEMIS TERHADAP
TIMBULNYA KRIMINALITAS
(STUDI KASUS DI WILAYAH
HUKUM SURABAYA SELATAN) (
1990)
129. PENGAKUAN TERDAKWA
MERUPAKAN ALAT BUKTI UNTUK
MENCARI KEBENARAN MATERIL
DALAM PERKARA PIDANA (STUDI
KASUS DI PN PAMEKASAN) ( 1989)
130. TINDAK PIDANA PERKOSAAN
DAN UPAYA PENYELESAIANNYA
(STUDI KASUS DI PN MALANG) (
1992)
131. KOSONG
132. TINDAK PIDANA
PEMBUNUHAN TERHADAP BAYI
YANG DILAKUKAN OLEH IBU
KANDUNGNYA SENDIRI (STUDI
KASUS DI PN MOJOKERTO) ( 1991)
133. PROSES PENYIDIKAN
PERKARA PIDANA BESERTA
HAMBATAN-HAMBATANNYA
(STUDI KASUS DI POLRESTA
MALANG) ( 1990)
134. TINDAK PIDANA SUBVERSI
TENTANG PELEDAKAN CANDI
BOROBUDUR (PERKARA PIDANA
SUBVERSI DI PN MALANG) ( 1988)
135. PERANAN PENASEHAT
HUKUM DALAM PROSES
PEMERIKSAAN PERKARA PIDANA
(STUDI KASUS DI WILAYAH
HUKUM PN MALANG) ( 1989)
136. TINJAUAN TENTANG
FAKTOR-FAKTOR YANG
MELATAR BELAKANGI TINDAK
PIDANA PENADAHAN
KENDARAAN BERMOTOR HASIL
PENCURIAN DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA ( 1991)
137. USAHA POLRI DI DALAM
MENCEGAH KUANTITAS
ALKOHOL DAN MENGURANGI
DAMPAK NEGATIF YANG TIMBUL
(STUDI KASUS DI POLRESTA DAN
PN MALANG) ( 1993)
138. PELANGGARAN LALU LINTAS
DAN UPAYA-UPAYA
PENANGGULANGANNYA PADA
TAHUN 1990, 1991, 1992 (STUDI
KASUS DI WILAYAH HUKUM KAB
PASURUAN) ( 1994)
139. PERANAN PENUNTUT UMUM
DALAM MELAKSANAKAN HAK
PRA PENUNTUTAN PADA PROSES
PENYELESAIAN PERKARA
PIDANA ( 1990)
140. LATAR BELAKANG ORANG
LAKI-LAKI MELAKUKAN TINDAK
PIDANA PENGANIAYAAN DAN
USAHA PENANGGULANGANNYA
(STUDI KASUS DI KAB DATI II
NGANJUK) ( 1994)
141. TINDAK PIDANA PERJUDIAN
DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI
KASUS DI POLRES PROBOLINGGO)
( 1994)
142. KENAKALAN REMAJA
SECARA BERKELOMPOK DAN
UPAYA PENANGGULANGANNYA
(STUDI KASUS DI POLRESTA DAN
PN SURAKARTA) ( 1994)
143. PERANAN KORBAN DALAM
TERJADINYA KEJAHATAN
PENGANIAYAAN (STUDI KASUS
DI KEPOLISIAN RESORT KOTA
MALANG) ( 1994)
144. MASALAH KORBAN TINDAK
PIDANA PERKOSAAN (SUATU
TINJAUAN SECARA VIKTI
MOLOGIS) ( 1995)
145. PEMBINAAN NARAPIDANA
ANAK (STUDI KASUS DI
LEMBAGA PEMASYARAKATAN
ANAK BLITAR) ( 1996)
146. DISPARITAS PENJATUHAN
PIDANA DALAM TINDAK
PENCURIAN DENGAN
KEKERASAN DALAM SISTEM
PERADILAN AGAMA ( 1996)
147. DISPARITAS PENJATUHAN
PIDANA DALAM TINDAK
PENCURIAN DENGAN
KEKERASAN DALAM SISTEM
PERADILAN AGAMA ( 1996)
148. BEBERAPA ASPEK YANG
MEMPENGARUHI ADANYA
DISPARITAS PIDANA (STUDI
KASUS DI PN JOMBANG) ( 1994)
149. PENCURIAN KENDARAAN
BERMOTOR (STUDI KASUS DI
POLRES PASURUAN) ( 1997)
150. PEMALSUAN SURAT DALAM
KLAIM ASURANSI JIWA (STUDI
KASUS DI ASURANSI JIWA
BERSAMA BUMI PUTERA 1912
CAB JAWA TIMUR) ( 1994)
151. AKIBAT HUKUM ATAS
PERkimpoiAN YANG HANYA
MENGGUNAKAN KETENTUAN
PASAL 2 UU NO 1 TAHUN 1974
(STUDI KASUS PENGADILAN
AGAMA MALANG) ( 1996)
152. PERANAN JAKSA SEBAGAI
PENYIDIK DALAM MENGUNGKAP
TINDAK PIDANA KORUPSI ( 1994)
153. PELAKSANAAN PEMBUKTIAN
TINDAK PIDANA PERKOSAAN
DALAM SIDANG PENGADILAN
NEGERI MALANG ( 1994)
154. PENYELESAIAN
PELANGGARAN LALU LINTAS
DAN ANGKUTAN JALAN RAYA
KHUSUSNYA KELEBIHAN
MUATAN ORANG (STUDI KASUS
DI WILAYAH HUKUM PONOROGO)
( 1997)
155. DASAR PERTIMBANGAN
HAKIM DALAM MENETAPKAN
BERAT RINGANNYA SUATU
PIDANA (STUDI KASUS PN
PONOROGO) (1994)
156. PERTIMBANGAN PENUNTUT
UMUM DALAM MEMBUAT SURAT
DAKWAAN (STUDI KASUS DI
KEJAKSAAN NEGERI MALANG) (
1994)
157. REALISASI PEMBERIAN
BANTUAN HUKUM SECARA
CUMA-CUMA DALAM PERKARA
PIDANA BAGI TERSANGKA ATAU
TERDAKWA YANG TIDAK MAMPU
(STUDI KASUS DI WILAYAH
YURIDIKSI PN GRESIK) ( 1994)
158. KENAKALAN REMAJA DAN
UPAYA PENANGGULANGANNYA
(TINJAUAN DARI SEGI SOSIAL
KRIMINOLOGIS) ( 1994)
159. PENGAWASAN TERHADAP
TERPIDANA BERSYARAT (STUDI
KASUS DI WILAYAH HUKUM PN
MALANG) ( 1994)
160. DISPARITAS PENJATUHAN
PIDANA DALAM TINDAK
PENCURIAN DENGAN
KEKERASAN DALAM SISTEM
PERADILAN AGAMA ( 1994)

thesis
View Public ProIile
Find More Posts by thesis
11-04-2011, 01:40 AM #
thesis
kaskuser

UserID:
Join Date: Apr 2010
Posts: 377

161. PELAKSANAAN PENAHANAN TERDAKWA DALAM
PEMERIKSAAN TINGKAT PENGADILAN (STUDI KASUS
DI PN SURABAYA) ( 1998)
162. TINDAK PIDANA PERJUDIAN DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA (STUDI KASUS DI WILAYAH
PN PROBOLINGGO) ( 1997)
163. PERANAN TOXICOLOGI DALAM PROSES
PENYIDIKAN (STUDI KASUS POLRESTA MALANG) (
1997)
164. PEMBERIAN PEMBEBASAN BERSYARAT KEPADA
NARAPIDANA MENJALANI PIDANA PENJARA DI
LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II WIROGUNAN
YOGYAKARTA ( 2000)
165. POLA PEMBELAAN DALAM MEMBERIKAN
BANTUAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA YANG
DILAKUKAN ANAK DALAM PROSES PEMERIKSAAN DI
PENGADILAN NEGERI DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA ( 1996)
166. TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEYAKINAN HAK
SEBAGAI DASAR PUTUSAN HAKIM DALAM PERKARA
PIDANA ( 1996)
167. DASAR PERTIMBANGAN JAKSA UNTUK
MELAKUKAN TINDAKAN PRA PENUNTUTAN DALAM
PERKARA PIDANA DI KEJAKSAAN NEGERI
YOGYAKARTA ( 1995)
168. PERANAN HUKUM DALAM PENYELESAIAN
PERKARA PENCERAIAN MENURUT UU NO 1 TAHUN
1974 DI PENGADILAN AGAMA KAB BANTUL (1996)
169. METODE PEMBINAAN NARAPIDANA WANITA DI
LEMBAGA PEMASYARAKATAN HULU SEMARANG (
2001)
170. PERANAN HAKIM PENGAWAS DAN PENGAMAT
DALAM PEMBINAAN NARAPIDANA ( 2003)
171. TINJAUAN HUKUM MILITER TERHADAP TINDAK
PIDANA DAN ANGGOTA TNI DI KOREM
061/SURYAKARTA BOGOR ( 2002)
172. PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KORBAN
KEJAHATAN PERKOSAAN ( 2003)
173. PENERAPAN ATAS SEDERHANA CEPAT DAN BIAYA
RINGAN DALAM BERACARA DI PENGADILAN AGAMA
MUNGKID MALANG ( 02)
174. STUDI DISPARITAS PIDANA DALAM PUTUSAN
PERKARA TINDAK PIDANA PENCURIAN DI PN TEGAL
(2003)
175. PENERAPAN SANKSI PIDANA KUMULATIF
TERHADAP PERBUATAN PIDANA PENYALAHGUNAAN
PSIKOTROPIKA BERDASARKAN UU NOMOR 5 TAHUN
1997 TENTANG PSIKOTROPIKA ( 2003)
176. PENEGAKAN HUKUM BAGI IKLAN YANG
MENYESATKAN (2002)
177. PERTANGGUNG JAWABAN DELIK ABORSI DI
TINJAU DARI UU NO 23 TAHUN 1992 DI PENGADILAN
NEGERI JAKARTA PUSAT (2001)
178. FUNGSI KEJAKSAAN DALAM MENYELESAIKAN
PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI (2001)
179. EUTHANASIA DI TINJAU DARI ASPEK HUKUM DAN
MORAL ( 2003)
180. PENYELESAIAN GANTI RUGI TERHADAP
PELANGGARAN LALU LINTAS DI WILAYAH HUKUM
CILACAP (2003)
181. PENERAPAN SANKSI PIDANA KUMULATIF
TERHADAP PERBUATAN PIDANA PENYALAHGUNAAN
PSIKOTROPIKA BERDASARKAN UU NOMOR 5 TAHUN
1997 TENTANG PSIKOTROPIKA ( 2003)
182. PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KORBAN
KEJAHATAN PERKOSAAN ( 2003)
183. PERANAN BADAS DALAM PELAKSANAAN SISTEM
PEMASYARAKATAN TERHADAP PEMBINAAN
NARAPIDANA DI WILAYAH YOGYAKARTA (2001)
184. ARTI PENTING ALAT BUKTI SUMPAH DALAM
PERSIDANGAN PERKARA DI PENGADILAN NEGERI (
2003)
185. PENERAPAN SANKSI PIDANA KUMULATIF
TERHADAP PERBUATAN PIDANA PENYALAHGUNAAN
PSIKOTROPIKA BERDASARKAN UU NOMOR 5 TAHUN
1997 TENTANG PSIKOTROPIKA ( 2003)
186. UPAYA POLDA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
DALAM MENANGGULANGI PENYALAHGUNAAN
NARKOTIKA KHUSUSNYA DIKALANGAN GENERASI
MUDA ( 2001)
187. PENGARUH SANKSI PIDANA DALAM UPAYA
MENANGGULANGI KEJAHTAN PERKOSAAN DI
WILAYAH PENGADILAN NEGERI SLEMAN (2003)
188. TINJAUAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP
ANAK JALANAN DI KOTA YK (2004)
189. PENERAPAN PIDANA BERSAYARAT MENURUT
SISTEM PEMIDANAAN INDONESIA (2005)
190. SISTEMPERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DALAM
TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI TERHADAP TINDAK
PIDANA KORUPSI YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA
DPRD PROP. DIY) (2005)