Anda di halaman 1dari 16

BAB I ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

1.1.1 Analisa Data 1.1.2 Pengukuran berat badan mencit Mencit Betina
y y y

Mencit Jantan
y y y y

Mencit 1 = 20 gr Mencit 2 = 20 gr Mencit 3 = 20 gr

Mencit 1 = 20 gr Mencit 2 = 20 gr Mencit 3 = 20 gr Mencit 4 = 20 gr

1.1.2 Penentuan Siklus Estrus Perlakuan


y

Pengamatan NaCl 0,9 % tidak berwarna atau bening

Disiapkan cotton bud yang dibasahi y dengan NaCl 0,9 % Cotton bud dioleskan pada vagina y mencit betina Cotton bud yang sudah dioleskan pada y vagina mencit, dioleskan pada kaca obyek

Vagina tidak terdapat sumbat putih yang menandakan terjadinya kehamilan Timbul lapisan bening tipis pada kaca obyek

Kemudian preparat diberi pewarna y metylen blue dan dibiarkan beberapa menit
y

Preparat menjadi berwarna biru gelap

Preparat terwarna menjadi biru bening

Lalu

dibersihkan

pewarna

yang

meluber dengan kertas tissue


y

Diamati di bawah mikroskop

Mencit 1 = metestrus, sebab terdapat banyak sel menanduk dan leukosit

Mencit 2 = estrus awal, sebab terdapat banyak sel menanduk

Mencit 3 = ditemukan lendir

diestrus, sebab hanya

1.2 Pembahasan Praktikum siklus estrus ini bertujuan untuk mengetahui siklus reproduksi yang terjadi pada mamalia bukan primata yaitu mencit (Mus musculus). Mencit ini mempunyai ciri ciri berambut putih menutupi seluruh tubuh kecuali ekor yang panjang berwarna merah muda. Siklus estrus mempunyai beberapa tahap yaitu diestrus, proestrus, estrus, dan metestrus. Tahap-tahap ini memiliki waktu dan proses yang berbeda. Proses ini dapat diketahui dengan cara pembuatan preparat apusan vagina pada mencit. Praktikum ini menggunakan bahan utama yaitu mencit betina (Mus musculus) yang digunakan sebagai standar hewan praktikum atau penelitian karena memiliki masa reproduksi yang relatif singkat dan mudah untuk dikembangbiakkan serta perawatannya. Langkah awal pada praktikum ini dimulai dengan menimbang berat badan mencit betina. Penimbangan ini dilakukan agar mengetahui perbedaan berat awal mencit sebelum dikawinkan dan berat mencit saat sedang dalam proses kehamilan. Mencit jantan juga ditimbang. Pada mencit betina 1 berat = 20 gr, mencit betina 2 = 20 gr, dan mencit betina 3 = 20 gr. Pada mencit jantan 1 berat = 20 gr, mencit jantan 2 berat = 20 gr, mencit jantan 3 berat = 20 gr, dan mencit jantan 4 berat = 20 gr. Langkah selanjutnya yaitu menyiapkan tiga ekor mencit betina yang masih perawan, kemudian masing masing diberi tanda, tanda tersebut diharuskan dari pewarnaan agar tidak membuat luka pada mencit, sebab jika mencit me rasa tidak nyaman maka mencit

akan jadi stress dan akhirnya menimbulkan kematian. Penandaan tersebut dilakukan agar mencit mencit betina tersebut dapat dibedakan sebab belum tentu mencit mencit tersebut mendapat tahap siklus estrus yang sama. Pada mencit mencit jantan juga diberi tanda agar dapat dibedakan. Mencit jantan haruslah sehat, lincah, dan aktif bergerak. Mencit - mencit betina kemudian dikeluarkan satu persatu dari kandang dan dipegang dengan cara yang tepat, agar mencit tidak merasa terganggu dan stres. Mencit mempunyai ekor yang panjang, sehingga sangat bermanfaat untuk memudahkan dalam

pemegangannya. Supaya mencit dapat dipengang sehingga tidak bergerak, maka mencit kemudian diletakkan di suatu permukaan yang kasar, seperti tutup kawat atau lengan baju, kemudia lipatan kulit bagian tengkuk dipegang diantara jari telunjuk dan ibu jari. Ekor mencit pun dapat dipegang dengan jari kelingking (tangan yang sama yang memegang kulit tengkuk mencit) (Smith, 1988). Pada saat memegang ekor mencit sedikit diangkat ke atas agar vagina mencit dapat terlihat. Kemudian disiapkan cotton bud yang sudah ditetesi dengan NaCl 0,9 % dan dioleskan pada vagina mencit. Larutan NaCl 0,9% merupakan garam fisiologis yang sifatnya sama dengan sifat cairan dalam tubuh mencit. Penggunaan larutan NaCl 0,9% ini sebagai larutan isotonis dengan sel-sel epitel vagina mencit, sehingga pada saat pengamatan sel-sel epitel epitel tidak mengalami lisis ataupun berubah bentuk. Langkah selanjutnya, cotton bud dioleskan pada kaca obyek yang bersih dan steril. Lapisan tipis yang terbentuk pada kaca obyek setelah pengolesan tersebut diberi pewarna yaitu methylen blue 1 % dan dibiarkan selama 3 5 menit, agar pewarna tersebut dapat meresap. Pemberian warna methylen blue digunakan sebab methyln blue merupakan pewarna yang bersifat basa, sehingga apabila digunakan pada suatu preparat jaringan atau sel, metylen blue akan mewarnai jaringan atau sel yang bersifat asam. Kelebihan pada pewarnaan dibuang dengan cara meletakkan kertas tissue pada tepi genangan pewarna agar kertas tissue tersebut menyerap pewarna yang berlebih. Setelah preparat siapa maka langkah selanjutnya yaitu preparat diamati dibawah mikroskop. Pada preparat apusan vagina mencit pertama diketahui bahwa mencit tersebut mengalami masa metestrus sebab dipreparat tersebut menunjukkan banyak sekali sel epitel menanduk akan tetapi juga terdapat leukosit. Pada preparat apusan vagina mencit kedua diketahui bahwa mencit tersebut mengalami masa estrus awal sebab banyak sekali sel sel epitel yang menanduk. Pada preparat apusan vagina mencit ketiga diketahui bahwa mencit tersebut diestrus sebab banyak sekali terdpat lendir.

Perlu diketahui bahwa tahapan estrus dalam tubuh mamalia ada lima macam, yaitu proestrus, estrus I, estrus II, metestrus, dan diestrus. Diestrus ditandai dengan adanya lendir dan sel epitel yang berinti, proestrus didominasi dengan adanya sel epitel berinti, estrus I ditandai dengan mendominasinya sel epitel menanduk, estrus II ditandai dengan tidak terdapatnya lendir dan epitel berinti, sedangkan pada tahap metestrus terdapat lendir dan pitel berinti ( Anonimous, 2000 ). Proestrus adalah periode pertumbuhan folikel dan dihasilkannya benyak estrogen. Estrogen ini merangsang pertumbuhan seluler pada alat kelamin tambahan, terutama pada vagina dan uterus. Pertmbuhan folikel dirangsang oleh FSH dan LH dari hipofisa. Menjelang folikel matang theca interna mulai menghasilkan estrogen. Estrogen itu terdiri dari estradiol dan estron. Estrogen jadi sumber rangsangan daur-daur pembiakan berikutnya pada saluran dan kelenjar, juga pada behaviour. Estrogen juga berfungsi menekan penggetahan lebih banyak LH. Dengan demikian kadar LH dalam darah naik, dan ini merangsang ovulasi. Ovulasi ialah proses pecahnya folikel Graaf dan dilepask annya ovum (Yatim, 1994). Estrus merupakan klimaks fase folikel. Pada masa inilah betina siap menerima jantan, dan pada saat ini pula terjadi ovulasi ( kecuali pada hewan yang memerlukan rangsangan sexual terlebih dahulu untuk terjadinya ovulasi ). Waktu ini betina jadi birahi atau panas ( estrus = panas ). Kalau terjadi coitus dan pembuahan, estrus diiringi oleh masa hamil. Kalau tak terjadi pembuahan, terjadi masa haid. Pada masa hamil atau haid berlangsunglah fase lutein. Pada fase ini corpus luteum dalam ovarium giat menghasilkan progesteron. Pada kebanyakan mamalia, jika tiada kehamilan, ovarium dan alat kelamin tambahan mengalami perubahan berangsur kembali kepada suasana istirahat, tenang, yang disebut diestrus ( Yatim, 1994). Pada kebanyakan mamalia, jika tiada kehamilan, ovarium dan alat kelamin tambahan mengalami perubahan berangsur-angsur kembali pada suasana istirahat, tenang yang disebut diestrus. Beberapa daur estrus memiliki masa metestrus atau anestrus. Ini ialah masa perpanjangan masa diestrus, yang setelah selesai satu daur estrus tak segera dimulai dengan proestrus baru daur berikut. Masa istirahat atau masa non-fertil ini berlangsung 1-2 hari, berminggu, atau sampai berbulan. Tikus 1-2 hari, orang 10-15 hari, dan anjing 40-50 hari. Ada pula diestrus penyusuan, yang terjasi pada masa betina menyusukan bayi. Masa

itu alat kelaminpun tidak giat menempuh daur estrus berikut. Tapi tak selalu pada masa menyusukan itu alat kelamin tak giat, seperti banyak dijumpai pada orang. Menurut Papanicolaou (1945), vaginal smears (usapan vagina), ditambah dengan usapan cervix dan endometrium, dapat menunjukkan adanya ovulasi wanita secara persis, sekaligus untuk diagnosa adanya kanker pada saluran kelamin itu. Pada Rodentia sudah rutin dikerjakan orang vaginal smears untuk mengetahuhi masa ovulasi serta daur estrus pada umumnya. Di bawah ini dicantumkan ciri daur estrus tersebut, melihat pada vaginal smears (Yatim, 1994). Hubungan antara apusan vagina dan kondisi sistem reproduksi pada mencit. Tahap Siklus (lama tahap) Diestrus (2-2,5 hari) Proestrus (12 jam) Estrus awal (12 jam) Estrus akhir (18 jam) Metestrus (6 jam) C+++ Kering C, L atau E, C, L Korpus luteum Cheesy, Ovulasi E, C++ atau C+++ Ovulasi E atau E, C Folikel tumbuh E, L, Lendir Folikel muda Tipis (kecil halus) Menebal (agak besar) Glandular (bengkak) Glandular (bengkak) Akan luruh Apusan Vagina Ovarium Uterus

Keterangan : E = epitel berinti C = sel epitel menanduk L = lekosit (Anonimous, 2000 ).

Ciri siklus estrus tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan yang terjadi pada sel-sel epitelnya, untuk itu berikut adalah penjelasan mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan histologi sel epitel vagina. Sel sel tersebut adalah sel kornifikasi, sel epitel, sel intermediet, dan inti sel pyknotic. Sel kornifikasi adalah tipe sel vagina yang paling tua

dari sel parabasal, sel intermediate, sel superfisial, dan mempunyai ciri nukleus yang tidak lengkap. Sel epitel adalah sel yang menyusun jaringan epitelium, biasanya terletak pada bagian tubu yang mempunyai lumen dan kantong misal vagina. Sel intermediet adalah tipe sel epitel vagina yang lebih tua dari parabasal tetapi lebih muda dari sel superfisial dan sel squamous tanpa nucleus. Inti sel pyknotic adalah nukleus yang telah degeneratif dan merupakan ciri dari sel superficial ( Karaca dan Uslu, 2008 ). Ciri- ciri dari siklus estrus itu sendiri pada mencit adalah pada fase diestrus, vagina terbuka kecil dan jaringan berwarna ungu kebiruan dan sangat lembut. Pada fase proestrus, jaringan vagina berwarna pink kemerahan dan lembut. Pada fase estrus, vagina mirip dengan pada saat fase proestrus, namun jaringannya berwarna pink lebih terang dan agak kasar. Pada fase metestrus 1, jaringan vagina kering dan pucat. Pada metestrus II, vag ina mirip metestrus 1 namun biobir vagina edematous (Hill, 2006). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap estrus adalah histologi dan fungsi hipotalamus serta hipofisis dalam kaitannya dengan proses reproduksi, terjadinya pubertas pada hewan betina termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi siklus estrus serta proses pembentukan sel kelamin (gametogenesis). Selain itu terdapat faktor-faktor lain yang lebih berpengaruh yaitu hormon (Taw, 2008). Mekanisme dari hipotalamus adalah menggetahkan FSH-RF, merangsang hipofisa menggetahkan FSH. LH-RF, merangsang hipofisa menggetahkan LH. Hipotalamus dirangsang atau dihalangi oleh saraf atau hormon target sebagai umpan balik. Estrogen sebagai umpan balik, bertindak sebagai inhibitor penggetahan LH-RF. Progesterone jika berlebihan jadi inhibitor penggetahan LH-RF. Sedangkan mekanisme dari hipofisa adalah FSH digetahkan untuk mendorong pertumbuhan folikel dalam ovarium. Dengan matangnya folikel produksi estrogen meningkat dan mendorong penggetahan LH dari hipofisa, sebaliknya menekan penggetahan FSH. Dalam kadar LH yang tinggi terjadi ovulasi dan corpus luteum tumbuh menggetahkan progesterone, disamping juga sedikit estrogen. LH mendorong pertumbuhan kelenjar susu, sedang oxytocin mendorong mengeluarkan air susu Karen amerangsang pengerutan sel-sel myoepitel alveoli kelenjar (Yatim, 1994). Jika pada mencit terjadi estrus maka pada manusia dan hewan primata juga mengalami hal yang sama yang biasa disebut menstruasi. Menstruasi itu sendiri adalah luruhnya

corpus luteum apabila pada saat ovulasi tidak dibuahi. Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut : Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus. Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali (Dhayu, 2000). Jika pada manusia dan beberapa primata lainnya mempunyai siklus menstruasi, pada mamalia lain dikenal adanya siklus estrus (estrous cycle). Perbedaannya dengan menstruasi adalah pada siklus estrus lapisan endometrium yang telah dipersiapkan untuk menerima konsepsi, akan diserap kembali oleh uterus bila tak terjadi pembuahan, sehingga tidak banyak terjadi pendarahan. Pada hewan betina periode seputar ovulasi; vagina mengalami perubahan yang memungkinkan terjadinya perkawinan, periode ini disebut estrus. Dalam bahasa latin; oestrus berarti gairah atau kegilaan, kopulasi hanya terjadi pada periode estrus. Pada peternak sapi, insemenasi buatan dilakukan pada saat sapi betina mengalami estrus yang ditandai: vagina mengalami 3A dalam bahasa Jawa (Abuh = ukuran lebih besar, Abang = warna merah, Anget = hangat). Jangka siklus estrus berbeda-beda; pada

tikus hanya 5 hari, anjing dan beruang hanya mengalami satu siklus pertahun, tetapi pada gajah mengalami beberapa kali siklus estrus pertahun (Widyawati, 2007). Selain itu perbedaan antara siklus estrus dan siklus menstruasi dapat dilihat dari tahap tahapnya, antara lain : Pada siklus estrus fase yang terjadi, yaitu: 1. Proestrus, folikel mengalami pemasakan akhir. 2. Estrus, terjad ovulasi (mirip periodesexual receptivity pada sebagian besar hewan) 3. Metestrus, terjadi pembentukan corpus luteum 4. Diestrus, corpus luteum berfungsi optimal Pada siklus menstruasi fase yang terjadi, yaitu: 1. Fase mentruasi (destruktif), endometrium hancur & pembuluh2 darah pecah. Darah menstruasi mgd mucus, cell debris (jaringan yg hancur) dan cairan lain 2. Fase proliferatif (follicular), endometrium mengalami pertumbuhan (proliferasi) shg menjad tebal 3. Fase ovulasi, pembuluh2 darah pd endometrium tumbuh membesar dan terbentuk kelenjar-kelenjar pada endometrium 4. Fase secretory (luteal), terjadi aktivitas sekresi dr kelenjar2 pd endometrium (Anonimous, 2000 ) Suatu kejadian penting dalam daur estrus mamalia tingkat rendah dan daur menstruasi primate adalah ovulasi yaitu pelepasan telur yang matang dari ovarium. Telur ini harus dilepaskan jika ada kemungkinan telah terdapat sperma dalam oviduk dan jika lapisan uterus, endometrium berada dalam keadaan yang baik untuk memungkinkan implantasi telur yang telah dibuahi. Koordinasi kejadian-kejadian itu, disamping makanisme saraf melibatkan setengah lusin hormone. Ovulasi disebabkan oleh sentakan LH yang disekresikan oleh pituitary sebagai respon terhadap GnRH yang disekresikan oleh hipotalamus. Dan ini disebabkan oleh ssentakan estradiol yang bekerja dengan control umpan balik positif untuk memulai pelepasan GnRH dan LH. Pemberian berlanjut estradiol atau progesteron dalam jumlah yang tetap pada wanita, seperti pil kontrasepsi, dapat membendung sentakan LH dan dengan demikian mencegah ovulasi. Suatu peningkatan yang tajam pada estradiol harus terjadi untuk mempengaruhi pusat umpan balik positif dalam hipotalamus sehingga pituitari dirangsang untuk sekresi LH. Teori ini diperkuat dengan percobaan dimana satu dosis estrogen menyebabkan ovulasi pada hewan

yang ovariumnya telah diberi FSH dan LH dalam dosis yang tepat. Pola pelepasan gonadotropin pada mamalia betina merupakan suatu daur tetapi pada jantan tidak. Pada tikus, pola pelepasan gonadotropin pada jantan-betina ditentukan dalam awal kehidupan postnatal. Hipotalamus baik pada tikus jantan (XY) maupun betina (XX), akan mengembangkan pola daur pelepasan betina kalau dalam awal kehidupan postnatal tidak terkena testosteron ( Yatim, 1994).

BAB II KESIMPULAN

kesimpulan dari percobaan ini adalah siklus estrus pada hewan Rodentia khususnya mencit berlangsung dalam selang waktu yang relatif singkat. Siklus estrus itu sendiri mempunyai beberapa tahap yaitu diestrus, proestrus, estrus, dan metestrus. Pada mencit betina 1 terlihat dari apusan vaginanya bahwa mencit tersebut mengalami fase metestrus sebab terdapat banyak sel epitel menanduk dan leukosit, sedangkan pada mencit betina 2 mengalami fase estrus sebab terdapat banyak sel epitel menanduk, serta pada mencit betina 3 mengalami fase diestrus sebab banyak ditemukannya lendir. Jika pada mencit mengalami estrus maka pada manusia dan Primata mengalami menstruasi, akan tetapi siklus mentruasi berlangsung relatif lebih lama daripada estrus. Menstruasi juga mempunyai tahap tahap yaitu menstruasi, proliferatif, ovulasi, dan secretory (luteal).

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. (2001). ESTROUS CYCLE, ANATOMY AND HISTOLOGY OF THE UTERINE TUBE OF THE MONGOLIAN GERBIL (Meriones unguiculatus). Scielo. www.Scielo.com. Dhayu.(2000).Siklus Menstruasi Pada Wanita.http://dhayubiologi.wordpress.com/.

Tanggal akses 18 Maret 2009.

Hill,

Mark.

(2006).

Estrous

Cycle.

The

university

of

new

south

wales. Tanggal

Sidney.http://www.lpp.uns.ac.id/web/moodle/moodledata/125/3Oogenesis.pdf. akses 18 Maret 2009.

Karaca, T dan M.Y. Uslu. (2008). Distribution and Quantitative Patterns of Mast Cells in Ovary and Uterus of Rat. http://www.scielo.cl/scielo.php?pid=S0301-

732X2007000200006&script=sci_arttext. Tanggal akses 18 Maret 2009.

Taw. (2008). Oviduct and Uterus Histology. http://www.siu.edu/~tw3a/utest.jpg. Tanggal akses 18 Maret 2009.

Widyawati.P.(2007).Struktur

Reproduksi

Wanita.

http://209.85.175.104/search?q=cache:4QVV9MvOGvwJ:www.sch.id/pelajrn/b.................. ........................./tahukah.htm+siklus+menstruasi+mamalia&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id. Tanggal akses 18 Maret 2009.

Yatim, Wildan. (1994). Reproduksi dan Embryologi. Penerbit Tarsito: Bandung.

DISKUSI

1. Pada umumnya untuk mengetehui masa ovulasi dan daur estrus diamati dari apusan vagina ( vaginal smears ) : 1. Diestrus : terdapat sel epitel biasa dan banyak lekosit juga lendir : hanya ada sel epitel biasa dan sel epitel menanduk : terdapat sel epitel menanduk dan epitel berinti : terdapat banyak sel epitel menanduk leukosit kemudian juga sel

2. Proestrus 3. Estrus 4. Metestrus epitel biasa.

2. Penyatuan pada saat diestrus atau metestrus tidak akan menghasilkan kehamilan karena pada saat diestrus merupakan masa istirahat atau masa y ang non fertil. Disini folikel masih dalam keadaan muda ( belum dewasa ) sehingga sulit sekali terjadi copulas, tidak terjadi ovulasi. Sementara masa metestrus merupakan saat dimana folikel folikel pemeliharaan ovum berubah menjadi korpus luteum yang akan menghasilkan progesteron. Progesteron akan menekan laju FSH sehingga pembentukan folikel baru bertahan, dalam keadaan inilah kopulasi akan sulit terjadi.

3. Perbedaan siklus menstruasi dan siklus estrus.  Siklus menstruasi Siklus ini terjadi pada hewan primata betina dewasa. Pada akhir fase lutealnya terjadi pendarahan, dan lama terjadinya siklus lebih kurang 28 hari. Adapun tahap tahap siklus menstruasi : a. Reparasi ( 4 6 ) hari : penyembuhan luka b. Poliferasi ( 7 15 ) hari : perbanyakan sel

c. Sekresi ( 16 18 ) hari : sekresi uterus d. Menstruasi ( 1 4 ) hari  Siklus estrus Terjadi pada hewan mamalia betina dewasa selain primata, Akhir fase lutealnya tidak terjadi pendarahan dan lama terjadinya siklus relatif singkat. Adapun tahap tahap siklus estrus : a. Diestrus ( 2 2,5 ) hari : terbentuknya folikel muda pada ovarium. : pendarahan endometrium

b. Proestrus ( 12 jam ) progesteron. c. Estrus ( 18 jam ) d. Metestrus ( 6 jam )

: periode

pertumbuhan

folikel,

dihasilkan

hormone

: tahap klimaks dari fase folikel. : tahap dimana folikel menjadi korpus luteum.

4. Cara menentukan umur kehamilan pada mencit betina adalah ditentukan pada saat mulai terbentuknya sumbat vagina ( hari ke 0 kehamilan ) sebab setelah sumbat vagina terbentuk tidak akan terjadi perkawinan lagi. Sumbat vagina tersebut dapat ditandai dengan adanya suatu sumbat warna putih pada vaginanya.

SKEMA KERJA

Mencit (Mus musculus)


-

Dioles cotton bud yang telah dibasahi dengan larutan Nacl 0,9% pada vaginanya

Dioleskan cotton bud di atas gelas objek yang bersih Ditetesi larutan metylen blue 1% dan dibiarkan 3-5 menit Dibuang kelebihan zat warna biru dan dibilas dengan air Dikeringkan Diamati dibawah mikroskop Digambar dan ditentukan gambaran sitologi apusan vagina dan tahap siklus reproduksinya

Disatukan betina yang telah siap kawin denga seekor jantan dalam satu kandang

hasil

LAMPIRAN

MENCIT BETINA I FASE METESTRUS

MENCIT BETINA III FASE DIESTRUS

MENCIT BETINA II FASE ESTRUS