Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Di dalam Indikator Indonesia Sehat 2010 dicantumkan bahwa
program Analisis Sistem Perencanaan dan Pengawasan Puskesmas
merupakan salah satu program pembangunan kesehatan dalam Program
Pembangunan Nasional, yang bertujuan untuk menyediakan dukungan
kebijakan dan menjamin analisis sistem perencanaan dan pengawasan
puskesmas yang eIisien, eIektiI, berkualitas dan berkesinambungan bagi
pembanguan kesehatan. Sasaran dari program ini antara lain adalah: (1)
terciptanya kebijakan kesehatan yang menjamin tercapainya sistem
kesehatan yang eIisien, eIektiI, berkualitas dan berkesinambungan, (2)
berjalannya sistem perencanaan kesehatan melalui pendekatan wilayah dan
sektoral dalam mendukung desentralisasi, (3) terciptanya mekanisme
pengawasan dan pengendalian di seluruh jajaran kesehatan dan lain-lain
(Depkes, 2000).
Kompetisi dalam era pasar bebas sebagai akibat dari globalisasi
seperti dengan masuknya modal dan tenaga asing dalam peta pelayanan
kesehatan dapat berakibat kolapsnya Iasilitas pelayanan kesehatan yang
sudah ada, maka untuk mengantisipasinya perlu dilakukan upaya yang
intensiI untuk meningkatkan proIesionalisme dan mutu analisis sistem
perencanaan dan pengawasan puskesmas di Iasilitas kesehatan pemerintah.
2

Penyelenggaraan upaya kesehatan pada Iasilitas-Iasilitas kesehatan
pemerintah yang salah satunya puskesmas sangat tergantung pada Iungsi
analisis sistem perencanaan dan pengawasan yang dilaksanakan di
puskesmas. Puskesmas sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan di
Indonesia perlu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sehingga
partisipasi masyarakat di wilayah kerjanya dapat lebih ditingkatkan. Untuk
itu seluruh personil yang ada di puskesmas harus memahami prinsip-
prinsip analisis sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas dalam
pengelolaan program kesehatan masyarakat. Dokter di puskesmas
disamping mempunyai tugas sebagai tenaga teknis medis juga mempunyai
tanggung jawab sebagai pimpinan puskesmas. Oleh sebab itu dokter
sebagai manajer juga dituntut untuk memahami prinsip-prinsip dasar
pelayanan kesehatan masyarakat dan asas-asas analisis sistem perencanaan
dan pengawasan puskesmas (Muninjaya,2002).
Sesuai dengan Iungsinya puskesmas dituntut untuk
mengembangkan tugas-tugas membina masyarakat dengan
menerapankan prinsip-prinsip pokok analisis sistem perencanaan dan
pengawasa, yakni eIisien dalam pemanIaatan sumber daya, eIektiI dalam
memilih alternatiI kegiatan dan rasional dalam mengambil keputusan.
Disamping itu pimpinan puskesmas juga harus peka terhadap
permasalahan kesehatan yang berkembang di wilayah kerjanya dan
mampu menjadi motivator dan penggerak kelompok-kelompok
masyarakat (Muninjaya, 2002).
3

Sesuai dengan Iungsinya puskesmas dituntut untuk
mengembangkan tugas-tugas membina kesehatan masyarakat dengan
menerapkan prinsip-prinsip pokok analisis sistem perencanaan dan
pengawasan, yakni eIisien dalam pemanIaatan sumber daya, eIektiI dalam
memilih alternatiI kegiatan dan rasional dalam mengambilan keputusan.
Disamping itu pimpinan puskesmas juga harus peka terhadap
permasalahan puskesmas yang berkembang di wilayah kerjanya dan
mampu menjadi mitivator dan penggerak kelompok-kelompok
masyarakat (Muninjaya, 2002) Menurut penelitihan Sekartina (2000)
dalam Idris (2001) ketrampilan pemimpin untuk memotivasi petugas
dalam upaya meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap tugas
memerlukan kemampuan mengkomunikasikan ide atau gagasan yang ada
sehingga semua gagasan yang telah disusun dapat terlaksana dengan baik.
Puskesmas dalam pelaksanaan Iungsi dan kegiatan programnya,
telah dilengkapi dengan analisis sistem perncanaan dan pengawasan
puskesmas yang terdiri dari : (1) Perencanaan Tingkat Puskesmas, (2)
Lokakarya mini Puskesmas, (3) Sistem pencatatan dan Pelaporan, (4)
Monitoring bulanan, (5) Pelaksanaan Quality Assurance dan, (6) Penilaian
hasil kinerja Puskesmas sebagai ganti stratiIikasi (Depkes, 2000).
Penelitihan-penelitihan yang dilakukan sebelumnya menemukan
berbagai Iaktor yang mempengarui cakupan kegiatan maupun kinerja
petugas atau puskesmas, seperti penelitihan yang dilakukan oleh AriIin
(2000) menemukan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara
4

perencanaan tingkat puskesmas dengan cakupan kegiatan. Ini diperkuat
Azwar (2000) dalam penelitihannya bahwa puskesmas yang membuat
Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP) yang baik cakupan programnya
lebih baik dibandingkan dengan puskesmas yang tidak membuat PTP. Dari
penelitihan yang dilakukan Mutika (2000) ditemukan dengan uji statistik
ada hubungan bermakna antara variabel buku pedoman, SOP, sarana
prasarana, PTP, Minilok dan supervisi serta bimbingan teknis dengan
cakupan program P2 ISPA. Secara keseluruhan input dan proses
mempunyai hubungan yang bermakna dengan cakupan program P2 ISPA.
Penelitihan senada juga dilakukan oleh Sahara (2001) ditemukan bahwa
ada hubungan yang bermakna antara mini lokakarya dan supervisi. Pada
penelitihan lain Purba (2001) menemukan bawha pendidikan berhubungan
bermakna dengan kinerja petugas gizi. Sementara Murti (2002) secara
statistik mengatakan ada hubungan bermakna antara imbalan dengan
kinerja petugas Iaksasi BTA di puskesmas kotamadya Batam. Sedangkan
Sukisno (2002) menemukan bahwa supervisi dan motivasi berhubungan
secara bermakna dengan kinerja pimpinan puskesmas pembantu. Hal ini
di perkuat olah Djasmudi Djalal (2004) dalam penelitihannya ditemukan
bahwa Iaktor yang berperan dalam menentukan kinerja puskesmas, kepala
puskesmas di kabupaten Indragiri Hulu yaitu : penelitihan, motivasi kerja
serta sarana prasarana yang menunjang pelaksanaan program KIA.
Sementara penelitihan yang dilakukan oleh Subagio (2008) didapat bahwa
Iungsi Analisis sistem puskesmas berpengaruh terhadap cakupan program.
3

Marbun (2008) dalam penelitihannya menemukan bahwa
pendidikan, pelatihan, imbalan dan pembinaan berhubungan dengan
kinerja petugas pelayanan gawat darurat. Sementara penelitihan yang
dilakukan Sharul (2007) terdapat hubungan yang bermakna antara
prosedur kerja, beban kerja dan supervisi serta kepemimpinan dengan
kinerja petugas promosi kesehatan di puskesmas Kabupaten Anambas
Tahun (2009).
Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun, pada umumnya
puskesmas yang ada di kabupaten ini belum mempunyai perencanaan
tingkat puskesmas. Berdasarkan hasil supervisi Dinas Kesehatan
Kabupaten Karimun tahun 2009, lokakarya mini (lokmin) puskesmas
belum juga terlaksana (Dinkes, 2005).
Cakupan program yang dicapai puskesmas masih belum mencapai
target. Secara umum dapat dilihat dari penilaian kinerja puskesmas sebagai
ganti stratiIikasi. Cakupan pelaksanaan program puskesmas untuk rata-rata
dalam kabupaten sesuai dengan enam kegiatan pokok puskesmas sebagai
berikut : Program Kesga 35,05. Gizi 49,80. P2M 64,55. Promosi
Kesehatan 80,08. Kesehatan Lingkungan 60,05. Pengobatan 64,81.
Hasil kinerja Puskesmas Tanjung Balai Karimun 2010.
Karena analisis sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas ini
sangat berpengaruh pada berhasil atau tidaknya upaya kesehatan yang
dilakukan puskesmas. Puskesmas merupakan ujung tombak pembangunan
kesehatan di Kabupaten Karimun, sangat tergantung pada keberhasilan
6

puskesmas dalam melaksanakan upaya-upaya kesehatan. Penelitihan
semacam ini belum pernah dilakukan di Kabupaten Karimun.
Dari uraian tersebut diatas, peneliti mencoba mengambil judul :
Analisis Sistem Perencanaan dan Pengawasan Puskesmas (Studi Kasus
Puskesmas Tanjung Balai Karimun)

1.2. Perumusan Masalah
1. Bagaimana pelaksanaan Iungsi analisis sistem perencanaan dan
pengawasan puskesmas dengan pendekatan sistem pada tahap input,
proses out put di Puskesmas Tanjung Balai Karimun pada tahun
2010 ?
2. aktor apa yang mempengarui pelaksanaan Iungsi analisis sistem
perencanaan dan pengawasan puskesmas di puskesmas Tanjung Balai
Karimun tahun 2010 ?

1.3.Tujuan Penelitihan
1.3.1. Tujuan Umum
Diketahuinya pelaksanaan analisis sistem perencanaan dan
pengawasan puskesmas tanjung balai karimun dilihat dari puskesmas
sebagai suatu analisis sistem perencanaan dan pengawasan.

1.3.2. Tujuan Khusus
7

1. Didapatkan gambaran pelaksanaan Iungsi analisis sistem perencanaan
dan pengawasan puskesmas Tanjung Balai Karimun pada tahap input,
proses dan out put.
2. Diperolehnya gambaran tentang Iaktor yang mempengarui pelaksanaan
Iungsi analisis sistem perencanan dan pengawasan puskesmas pada
Puskesmas Tanjung Balai Karimun.

1.3. Manfaat Penelitihan
ManIaat dari penelitihan ini adalah manIaat aplikatiI yakni :
1. Pada Provider
a. Sebagai bahan pertimbangan untuk pengambil kebijakan oleh
kabupaten dan sebagai bahan masukan dalam membuat
perencanaan pengembangan sumber daya manusia dan
perencanaan pembinaan oleh Dinas Kesehatan.
b. Sebagai inIormasi dan bahan masukan pelaksanaan Iungsi analisis
sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas.
2. Bagi Peneliti
Menambah wawasan penulis dalam menerapkan keilmuan terutama
analisis sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas.

1.4. Ruang Lingkup Penelitihan
Penelitihan ini dilakukan untuk menganalisis sistem perencanaan
dan pengawasan Puskesmas Tanjung Balai Karimun tahun 2010 dengan
8

pendekatan kuantitatiI. Penulis memilih pusksemas ini karena dari capaian
kinerjanya puskesmas mempunyai perbedaan yang jauh, yakni puskesmas
dengan kinerjanya masih berada pada kelompok III.
Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara mendalam
dan observasi sedang data sekunder dari kajian dokumen-dokumen yang
berkaitan dengan analisis sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas
pada puskesmas tersebut. Data dikumpulkan dari inIorman yaitu kepala
dinas kesehatan, kepala puskesmas, camat, ka TU puskesmas dan staI di
puskesmas serta tokoh masyarakat dengan menggunakan pedoman
wawancara dan dibuat dengan alat perekam. Hasil penelitihan ini
dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang analisis sistem
perencanaan dan pengawasan Puskesmas Tanjung Balai tahun 2010.
Pengumpulan data dilakukan oleh penelitihan sendiri dari puskesmas
tanjung Balai Karimun bulan Juli dan Agustus 2011.












9

BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA


2.1. Analisis Sistem
DeIinisi analisis sistem secara umum adalah Kumpulan dari
bagian-bagian yang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan yang
sama - Contoh (1) Sistem pencernaan, (2) Sistem Komputer, (3) Sistem
InIormasi. Sekumpulan dari objek-objek yang saling berelasi dan
berinteraksi dan hubungan antar objek bisa dilihat sebagai satu kesatuan
yang dirancang untuk mencapai satu tujuan (Murdik, 2000)
Dengan demikian sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan
atau himpunan dari unsur atau variabel-variabel yang saling teroganisasi,
saling berinteraksi dan saling bergantung sama lain. Murdick dan Ross
(2000) mendeIinisikan sistem sebagai seperangkat elemen yang
digabungkan satu dengan lainya untuk suatu tujuan bersama. Sedangkan
deIinisi sistem dalam kamus Webster`s Unbriged. Adalah elemen-elemen
yang saling berhubungan membentuk satu kesatuan atau organisasi.
Scott (2001) mengatakan bahwa sistem terdiri dari unsur-unsur
seperti masukan (input), pengolahan (processing), serta keluaran (output).
Ciri pokok sistem menurut Gapspert ada empat, yaitu sistem itu beroperasi
dalam suatu lingkungan, terdiri atas unsur-unsur, ditandai dengan saling
berhubungan dan mempunyai satu Iungsi atau tujuan utama.

10






ambar. 2.1. Model sistem
Gambar diatas menunjukan bahwa sistem atau pendekatan sistem
minimal harus mempunyai empat komponen, yakni masukan, pengolahan,
keluaran dan, balikan atau control. Sementara Mc. Leod (2000)
mendiIinisikan sistem sebagai sekelompok elemen-elemen yang
terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan.
Sumber daya mengalir dari elemen output dan untuk menjamin prosesnya
berjalan dengan baik maka dihubungkan mekanisme control. Untuk lebih
jelasnya elemen sistem tersebut dapat digambarkan dengan model sebagai
berikut :








CuL uL
1u[uan
Masukan
(lnpuL)
engelolahan
keluaran
CuL uL
Mekanlsme
konLrol
1ransformasl
ln puL
11

ambar. 2.2. Model hubungan elemen-elemen sistem

Banyak ahli mengajukan konsep sistem dengan deskripsi yang
berbeda namun pada prinsipnya hampir sama dengan konsep dasar sistem
umumnya. Schronderberg (2001) dalam Suradinata (2002) secara ringkas
menjelaskan bahwa sistem adalah ; (1) Komponen-komponen sistem
saling berhubungan satu sama lainya, (2) Suatu keseluruhan tanpa
memisahkan komponen pembentukanya, (3) Bersamama dalam mencapai
tujuan, (4) Memiliki input dan output yang dibutuhkan oleh sistem
lainnya, (5) Terdapat proses yang merubah input menjadi output, (6)
Menunjukan adanya entropi, (7) terdapat aturan, (8) Terdapat sub sistem
yang lebih kecil, (9) terdapat deIerensiasi antar sub sistem, (10) Terdapat
tujuan yang sama meskipun mulainya berbeda.
Untuk memahami atau mengembangkan suatu sistem, maka perlu
membedakan unsur-unsur dari sistem yang membentuknya. Berikut ini
karakteristik sistem yang dapat membedakan suatu sistem dengan sistem
lainnya; (1) Batasan (boundary): Pengambaran dari suatu elemen atau
unsur mana yang termasuk didalam sistem dan mana yang diluar sistem,
(2) Lingkungan (environment): Segala sesuatu diluar sistem, lingkungan
yang menyediakan asumsi, kendala dan input terhadap suatu sistem, (3)
Masukan (input) : Sumberdaya (data, bahan baku, peralatan, energi) dari
lingkungan yang dikonsumsi dan dimanipulasi oleh suatu sistem, (4)
Keluaran (output) : Sumber daya atau produk (inIormasi, laporan,
12

dokumen, tampilan layar computer, barang jadi) yang disediakan untuk
lingkungan sistem oleh kegiatan dalam suatu sistem, (5) Komponen
(component) : Kegiatan-kegiatan atau proses dalam suatu sistem yang
mentransIormasikan input menjadi bentuk setengah jadi (output).
Komponen ini bisa merupakan sub sistem dari sebuah sistem, (6)
Penghubung (interIace) : Tempat dimana komponen atau sistem dan
lingkungannya bertemu atau berinteraksi, (7) Penyimpanan (storage) :
Area yang dikuasai dan digunakan untuk penyimpanan sementara dan
tetap dari inIormasi, energi, bahan baku dan sebagainya.
Penyimpanan merupakan suatu media penyangga diantara
komponen tersebut bekerja dengan berbagai tingkatan yang ada dan
memungkinkan komponen yang berbeda dari berbagai data yang sama.

2.2. Perencanaan dan Pengawasan Puskesmas
Perencanaan dan Pengawasan Puskesmas dalam Sistem
Pemerintahan Daerah adalah sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten/kota yang merupakan unit struktural Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota bidang kesehatan tingkat kecamatan. Agar upaya
kesehatan terselenggara secara optimal, maka Puskesmas harus
melaksanakan perencanaan dan pengawasan puskesmas dengan baik.
Perencanaan dan Pengawasan Puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang
dilaksanakan secara sistematik untuk menghasilkan Puskesmas secara
eIisien, eIektiI, berkualitas dan berkesinambungan. Analisis sistem
Perencanaan dan Pengawasan Puskesmas tersebut terdiri dari perencanaan,
13

pelaksanaan, penegendalian-pengawasan dan pertanggung jawaban.
Seluruh kegiatan diatas merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan
berkesinambungan.
Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP) disusun untuk mengatasi
masalah kesehatan yang ada di wilayah kerjanya baik upaya kesehatan
wajib, upaya kesehatan pengembangan maupun upaya kesehatan
penunjang. Perencanaan ini disusun untuk kebutuhan satu tahun, agar
Puskesmas mampu melaksanakannya secara eIisien, eIektiI, berkualitas
dan berkesinambungan dan dapat di pertanggungjawabkan. Rencana ini
disusun melalui pertemuan perencanaan tahunan Puskesmas yang
dilaksanakan sesuai dengan siklus perencanaan kabupaten/kota serta
dikoordinasikan dengan camat.
Menurut UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, perencanaan adalah suatu proses untuk
mengembangkan dan menentukan upaya yang tepat untuk dilaksanakan di
masa depan yang telah ditetapkan melalui urutan pilihan dengan
memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Perencanaan merupakan
langkah awal dalam siklus analisis sistem perencanaan dan pengawasan
puskesmas yang akan dilanjutkan dengan unsur-unsur lain seperti:
pelaksanaan program dan kegiatan, pengorganisasian, penganggaran dan
pengawasan. Keberhasilan suatu program ditentukan melalui perencanaan
yang baik dan eIektiI.
14

Puskesmas mempunyai kewajiban untuk menyusun rencana kerja
tahunan pembangunan kesehatannya (Kepmenkes 128 tahun 2004) yang
diatur melalui peraturan perundang-undangan dan ketentuan dari
Departemen Dalam Negeri (DEPDAGRI). Penyusunan rencana kerja
tahunan harus mengacu kepada Rencana strategi Kesehatan
Kabupaten/Kota, Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan,
dan atau berbagai pedoman teknis lainnya, serta mengikuti siklus
perencanaan tahunan kabupaten/kota.

2.3. Pengertian dan Tujuan Perencanaan
2.3.1. Pengertian
Perencanaan Tingkat Puskesmas adalah proses penyusunan
rencana tahunan Puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan di
wilayah kerja Puskesmas. Perencanaan ini mencakup semua kegiatan yang
termasuk dalam upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan
dan upaya kesehatan penunjang. Perencanaan ini disusun sebagai Rencana
Tahunan Puskesmas yang dibiayai oleh Pemerintah Daerah, Pemerintah
Pusat serta sumber dana lainnya.

2.3.2 Tujuan Perencanaan Tingkat Puskesmas
Menghasilkan rencana tahunan Puskesmas yang berbasis bukti dan
yang didukung oleh multipihak.
Gambar 2.3. Diagram Alur Proses Perencanaan Tingkat Puskesmas
13


Diagram Alur PTP
TAHAP 1: Lokakarya Persiapan
Tahap ini merupakan tahap awal dari proses Perencanaan
Puskesmas multipihak di tingkat Kecamatan.
%ufuan ; (1), Memberikan pemahaman mengenai kebijakan dan
strategi pembangunan kesehatan nasional, provinsi, kabupaten/kota. (2)
Memahami alur proses perencanaan tingkat Puskesmas. (3) Memahami
usulan Pra- Musrenbang desa. (4) Pembentukan tim perencana
dan tim pengawal. (5) Penjelasan mengenai pengumpulan data
Proses, (1) InisiatiI Lokakarya persiapan ini digagas oleh Dinkes.
(2) Kabupaten/kota dan staI Puskesmas sebagai pelaksana lokakarya.

TAHAP 2: Lokakarya Perencanaan Tahunan Puskesmas
16

okakarya ini dilaksanakan paling lama 2 minggu setelah
pertemuan persiapan (tahap I). Pada saat itu proses pengumpulan data
harus sudah selesai.
%ufuan ; Pada akhir lokakarya tim perencana Puskesmas dapat :
(1) Menghasilkan analisis situasi dan masalah di kecamatan/wilayah
kerjanya. (2) Menghasilkan analisis dan prioritas penyebab masalah
KIBBLA di kecamatan/wilayah kerjanya. (3) Memilih alternatiI
pemecahan masalah (solusi, kegiatan dan prioritas kegiatan). (4)
Menghasilkan rencana usulan kegiatan. (5) Menghasilkan draIt dokumen
rencana usulan kegiatan. (6) Merumuskan rencana tindak lanjut untuk
proses pengawalan dokumen sampai masuk dalam musrenbang
kecamatan, renja SKPD dan musrenbang kabupaten.
Proses ; Lokakarya ini dipersiapkan oleh Iasilitator beserta tim
perencana Puskesmas yang sudah dibentuk pada tahap orientasi.

TAHAP 3: Pengawalan
Tahap ini dilaksanakan segera setelah lokakarya perencanaan
tingkat Puskesmas sampai disetujuinya masuk pada agenda hasil
musrenbang kecamatan, pada Renja SKPD dan pada Musrenbang
Kabupaten/Kota.
%ufuan ; (1) Tersedianya dokumen Rencana Tahunan Puskesmas
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (2) Tersedianya bahan untuk materi
pengawalan. (3) Disetujuinya Rencana Tahunan Puskesmas masuk pada
17

agenda hasil musrenbang kecamatan, Renja SKPD dan pada agenda hasil
Musrenbang Kabupaten
Proses ; (1) Pertemuan penyempurnaan dokumen rencana tahunan
Puskesmas. (2) Pertemuan untuk mengemas materi guna melaksanakan
langkah-langkah pengawalan. (3) Advokasi/sosialisasi lintas program,
lintas sektor terkait. (4) Pengusulan kegiatan pada Musrenbang
Kecamatan. (5) Pengusulan kegiatan pada proses DTPS-KIBBLA. (6)
Pengusulan kegiatan pada Renja SKPD. (7) Pengusulan Kegiatan pada
Musrenbang Kabupaten

2.4. Perencanaan Puskesmas
Perencanaan Puskesmas antara lain : (1) Motivasi, merupakan
keinginan, hasrat motor penggerak dalam diri manusia, motivasi
berhubungan dengan Iaktor psikologi manusia yang mencerminkan antara
sikap, kebutuhan, dan kepuasan yang terjadi pada diri manusia sedangkan
daya dorong yang diluar diri seseorang ditimbulkan oleh pimpinan,
(Gibson, 2001). Motivasi mempersoalkan bagaimana cara mengarahkan
daya dan potensi bawahan, agar mau bekerjasama secara produktiI
sehingga dapat mencapai dan mewujudkan tujuan puskesmas yang telah
ditentukan.
Marccoby (2000) Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal
yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung prilaku manusia supaya
mau bekerja sama secara giat sehingga mencapai hasil yang optimal. Suatu
18

puskesmas dapat berkembang dengan baik dan mampu mencapai
tujuannya, karena didasari oleh motivasi, (2) Pengertian Motivasi, Untuk
lebih jelasnya mengenai pembahasan tenteng motivasi, berikut pengertian
motivasi menurut beberapa para ahli manajemen sumber daya manusia
diantaranya ; (a) Menurut T. Hani Handoko (2003:252), mengemukakan
bahwa motivasi adalah : 'Keadaan pribadi seseorang yang mendorong
keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai
tujuan, (b) Menurut H. Hadari Nawawi (2003:351), pengertian dari
motivasi adalah : 'Suatu keadaan yang mendorong atau menjadi sebab
seseorang melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung
secara sadar, (c) Menurut A. Anwar Prabu Mangkunegara (2002:95),
mengatakan mengenai motivasi adalah : 'kondisi yang berpengaruh
membangkitkan, mengarahkan dan memelihara prilaku yang berubungan
dengan lingkungan kerja, (d) Menurut Henry Simamora (2004:510),
devinisi dari motivasi adalah : 'Sebuah Iungsi dari pengharapan individu
bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat kinerja yang pada
gilirannya akan membuahkan imbalan atau hasil yang dikehendki, (e)
Menurut Chung dan Megginson yang dikutip oleh austino Cardoso
Gomes (2002:177), menerangkan bahwa motivasi adalah : 'Tingkat usaha
yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar suatu tujuan dan berkaitan
dengan kepuasan kerja dan perIoman pekerjaan , dari pengertian-
pengertian motivasi diatas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi
merupakan suatu keadaan atau kondisi yang mendorong, merangsang atau
19

menggerakan seseorang untuk melakukan sesuatu atau kegiatan yang
dilakukannya sehingga ia dapat mencapai tujuannya, (I) Menurut Peterson
& Plowman yang dikutip oleh Drs. H. Malayu S.P Hasibuan (2003:142)
mengatakan bahwa orang mau bekerja karena hal-hal sebagai berikut : (1)
The Desire to Live (keinginan untuk hidup), dimana manusia bekerja
untuk memenuhi dan melanjutkan hidupnya, (1) The Desire or Position
(Keinginan untuk Untuk lebih jelasnya mengenai pembahasan tenteng
motivasi.
berikut pengertian motivasi menurut beberapa para ahli
manajemen sumber daya manusia diantaranya ; (1) Menurut T. Hani
Handoko ( 2003:252), mengemukakan bahwa motivasi adalah : 'Keadaan
pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan
kegiatan tertentu guna mencapai tujuan, (2) Menurut H. Hadari Nawawi
(2003:351), pengertian dari motivasi adalah : 'Suatu keadaan yang
mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan sesuatu perbuatan
atau kegiatan yang berlangsung secara sadar, (3) Menurut A. Anwar
Prabu Mangkunegara (2002:95), mengatakan mengenai motivasi adalah :
'kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara
prilaku yang berubungan dengan lingkungan kerja, (4) Menurut Henry
Simamora (2004:510), devinisi dari motivasi adalah : 'Sebuah Iungsi dari
pengharapan individu bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat
kinerja yang pada gilirannya akan membuahkan imbalan atau hasil yang
dikehendki, (5) Menurut Chung dan Megginson yang dikutip oleh
20

austino Cardoso Gomes (2002:177), menerangkan bahwa motivasi
adalah : 'Tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar
suatu tujuan dan berkaitan dengan kepuasan kerja dan perIoman
pekerjaan .
Dari pengertian-pengertian motivasi diatas maka dapat
disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu keadaan atau kondisi yang
mendorong, merangsang atau menggerakan seseorang untuk melakukan
sesuatu atau kegiatan yang dilakukannya sehingga ia dapat mencapai
tujuannya, (6) Menurut Peterson & Plowman yang dikutip oleh Drs. H.
Malayu S.P Hasibuan (2003:142) mengatakan bahwa orang mau bekerja
karena hal-hal sebagai berikut : (a) The Desire to Live (keinginan untuk
hidup), dimana manusia bekerja untuk memenuhi dan melanjutkan
hidupnya, (b) The Desire or Position (Keinginan untuk suatu posisi),
dimana manusia bekerja untuk mendapatkan posisi dalam pekerjaannya,
(c) The Desire or Power (Keinginan akan kekuasaan), keinginan
selangkah diatas keinginan untuk memiliki posisi, (d) The Desire or
Recognation (Keinginan akan penghargaan), setiap pegawai memiliki
motiI keinginan dan kebutuhan tertentu dan mengharapkan kepuasan dari
hasil kerjanya. (suatu posisi), dimana manusia bekerja untuk mendapatkan
posisi dalam pekerjaannya, (c) The Desire or Power (Keinginan akan
kekuasaan), keinginan selangkah diatas keinginan untuk memiliki posisi,
(d) The Desire or Recognation (Keinginan akan penghargaan), setiap
21

pegawai memiliki motiI keinginan dan kebutuhan tertentu dan
mengharapkan kepuasan dari hasil kerjanya.
Lyman Porter dan Raymond Miles dalam Stoner (2001)
mengatakan bahwa pandangan sistem mengenai motivasi akan sangat
berguna bagi Analisis sistem perencanaan dan pengawasan, variabel yang
mempengarui motivasi dalam organisasi menurutnya ada 3 yaitu ;
karakteristik individu yang meliput minat, sikap, dan kebutuhan individu;
karakteristik pekerjaan yaitu siIat yang interen dalam tugas; dan
karakteristik situasi kerja yang mencakup kebijaksanaan personalia dan
kebijaksanaan balas jasa (imbalan) yang dijalankan organisasi
bersangkutan, kultur organisasi itu, dan sikap serta tindakan rekan kerja
dan supervisor.
Suatu Pandangan sistem Mengenai Motivasi









karakLerlsLlk
lndlvldu
karakLerlsLlk
peker[aan
karakLerlsLlk slLuasl
ker[a
MoLlvasl karyawan
22



ambar 3 Miles dan Porter dalam Stoner (2001)
(3) Pendidikan/Pengetahuan, Pendidikan usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktiI mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
(Siagian, 2000) Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga
sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian
pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama
pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.
Green (2003) Materi Pendidikan harus disajikan memenuhi nilai-
nilai hidup. nilai hidup meliputi nilai hidup baik dan nilai hidup jahat.
penyajiannya tidak boleh pendidikan siIatnya memaksa terhadap anak
didik, tetapi berikan kedua nilai hidup ini secara objektiI ilmiah. dalam
pendidikan yang ada di Indonesia tidak disajikan nilai hidup, sehingga
bangsa Indonesia menjadi kacau balau seperti sekarang ini.
DeIinisi pendidikan adalah berbagai upaya dan usaha yang
dilakukan orang dewasa untuk mendidik nalar peserta didik dan mengatur
moral mereka. (Warta Politeknik Negeri Jakarta, April 2007), (1)
LangeIeld Mendidik adalah membimbing anak dalam mencapai
kedewasaan, (2) Heageveld Mendidik adalah membantu anak dalam
23

mencapai kedewasaan, (3) Bojonegoro Mendidik adalah memberi
tuntunan kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhan dan
perkembangannya sampai tercapai kedewasaanya, (4) Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti,
pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup
yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan
masyarakatnya, (5) Rosseau Mendidik adalah memberikan pembekalan
yang tidak ada pada masa anak-anak, tapi dibutuhkan pada masa dewasa
(6) Darmaningtyas Pendidikan adalah usaha dasar dan sistematis untuk
mencapai taraI hidup dan kemajuan yang ledih baik, (7) Paulo reire
Pendidikan merupakan jalan menuju pembebasan yang permanen dan
terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah masa di mana manusia
menjadi sadar akan pembebasan mereka, yang melalui praksis mengubah
keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama, dan
merupakan sebuah proses tindakan kultural yang membebaskan, (8) John
Dewey Pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman,
hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan
orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja
dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini
melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa
dan kelompok di mana dia hidup, (9) H. Horne Pendidikan adalah proses
yang terus-menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi
makhluk manusia yang telah berkembang secara Iisik dan mental, yang
24

bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termaniIestasi dalam alam sekitar
intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia, (10) rederick J.
Mc Donald Pendidkan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan
untuk merubah tabiat, (11) Ahmad D. Marimba Pendidikan adalah
bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama, (12) Djayakarta Pendidikan adalah
memanusiakan manusia muda, maksudnya pengangkatan manusia muda
ke tahap insani. Inilah yang menjelma dalam semua perbuatan mendidik,
(13) Sir GodIrey Thomson Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas
individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang permanent di
dalam kebiasaan-kebiasaan tingkah lakun, pikiran, dam siIatnya, (4)
Pengetahuan ada orang yang menamakannya ilmu, ada yang menamainya
ilmu pengetahuan, dan pula ada yang menyebutnya sains. Siagian, (2000).
Keberagaman istilah tersebut adalah suatu usaha untuk melahirkan
padanan (meng-Indonesiakan) kata science yang asalnya dari bahasa
Inggris. Pengertian yang terkandung dibalik kata-kata yang berbeda
tersebut ternyata juga tidak kalah serba ragamnya. Keserbaragamannya
bahkan kadang-kadang seolah-olah mengingkari citra ilmu pengetahuan
itu sendiri yang pada dasarnya bertujuan untuk merumuskan sesuatu
dengan tepat, tunggal dan tidak bias.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, terbitan
Balai Pustaka, Jakarta, 2001, ilmu artinya adalah pengetahuan atau
23

kepandaian. Dari penjelasan dan beberapa contohnya, maka yang
dimaksud pengetahuan atau kepandaian tersebut tidak saja berkenaan
dengan masalah keadaan alam, tapi juga termasuk 'kebatinan dan
persoalan-persoalan lainnya. Sebagaimana yang sudah kita kenal
mengenai beberapa macam nama ilmu, maka tampak dengan jelas bahwa
cakupan ilmu sangatlah luas, misalnya ilmu ukur, ilmu bumi, ilmu dagang,
ilmu hitung, ilmu silat, ilmu tauhid, ilmu mantek, ilmu batin (kebatinan),
ilmu hitam, dan sebagainya.
Kata ilmu sudah digunakan masyarakat sejak ratusan tahun yang
lalu. Di Indonesia, bahkan sebelum ada kata ilmu sudah dikenal kata-kata
lain yang maksudnya sama, misalnya kepandaian, kecakapan,
pengetahuan, ajaran, kawruh, pangrawuh, kawikihan, jnana, widya,
parujnana, dan lain-lain. Sejak lebih dari seribu tahun yang lampau nenek
moyang bangsa kita telah menghasilkan banyak macam ilmu, contohnya
kalpasastra (ilmu Iarmasi), supakasastra (ilmu tataboga), jyotisa (ilmu
perbintangan), wedastra (ilmu olah senjata), yudanegara atau niti (ilmu
politik), wagmika (ilmu pidato), sandisutra (sexiology), dharmawidi (ilmu
keadilan), dan masih banyak lagi yang lainnya.
Ada yang mencoba membedakan antara pengetahuan (knowledge)
dan ilmu (science). Pengetahuan diartikan hanyalah sekadar 'tahu, yaitu
hasil tahu dari usaha manusia untuk menjawab pertanyaan 'what,
misalnya apa batu, apa gunung, apa air, dan sebagainya. Sedangkan ilmu
bukan hanya sekadar dapat menjawab 'apa tetapi akan dapat menjawab
26

'mengapa dan 'bagaimana (why dan how)., misalnya mengapa batu
banyak macamnya, mengapa gunung dapat meletus, mengapa es
mengapung dalam air.
Pengetahuan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi ilmu
apabila memenuhi tiga kriteria, yaitu obyek kajian, metoda pendekatan,
dan bersiIat universal. Tidak selamanya Ienomena yang ada di alam ini
dapat dijawab dengan ilmu, atau setidaknya banyak pada awalnya ilmu
tidak dapat menjawabnya. Hal tersebut disebabkan ilmu yang dimaksud
dalam terminologi di sini mensyaratkan adanya Iakta-Iakta.
Berbicara tentang pengetahuan manusia, Wayne K. Hoyt dan Cecil
G. Miskel (2001) mengemukakan tentang dua jenis pengetahuan yaitu ; (1)
general knowledge; pengetahuan yang diterapkan dalam berbagai situasi,
(2) speciIic knowledge; yaitu pengetahuan yang berkenaan dengan tugas
atau persoalan tertentu. Keberhasilan organisasi untuk mencapai tujuan
sangat tergantung dari berbagai Iaktor salah satunya adalah tersedia
tidaknya tenaga operasional yang matang secara teknis dan mempunyai
ketrampilan yang sesuai dengan tuntunan tugas, (5) Imbalan/Insentif,
konsep imbalan dalam arti organisasional meliputi hubungan pertukaran.
Para ahli mengemukakan konsep imbalan sebagai berikut : Imbalan adalah
pengganti dari kesediaan, kemampuan, dan perIormasi kerja seseorang di
dalam hubungan kerja (enderson, 2000). Konsep ini biasanya disebut
sebagai proses pertukaran anatara pemberi kerja dengan pekerja seperti
yang ditujuk. Di dalam penelitian ini, imbalan dideIinisikan sebagai apa
27

yang diterima seseorang apabila ia melakukan pekerjaannya dengan baik.
Menurut $kinner, (2001), imbalan adalah suatu penguat. Imbalan/penguat
berarti sesuatu yang memiliki nilai bagi individu dan dapat memberi
kepuasan, sehingga perilaku yang diberi penguat cenderung akan diulang,
(6) Pengertian Insentif, guna membahas lebih lanjut insentiI, disini
penulis akan membahas pengertian insentiI yang kutip dari beberapa ahli
analisis sistem perencanaan, antara lain : Menurut T. Hani Handoko
(2002:176), menyatakan bahwa pengertian insentiI adalah : 'Perangsang
yang ditawarkan kepada para karyawan untuk melaksanakan kerja sesuai
atau lebih tinggi dari standar-standar yang telah ditetapkan. Sedangkan
menurut Malayu SP. Hasibuan (2001:118), mengatakan bahwa insentiI
adalah : 'Tambahan balas jasa yang diberikan kepada karyawan tertentu
yang prestasinya diatas prestasi standar. Menurut Anwar Prabu
Mangkungara (2002:89), mangatakan pengertian insentiI adalah : 'Suatu
penghargaan dalam bentuk uang yang diberikan oleh pihak pemimpin
organisasi kepada karyawan agar mereka bekerja dengan motivasi yang
tunggi dan berprestasi dalam pencapaian tujuan-tujuan organisasi.
Hendri simamora (2004:514), mengatakan bahwa pengertian
insentiI adalah : 'Kompensasi yang mengaitkan bayaran atas dasar untuk
dapat meningkatkan produktivitas para karyawan guna mencapai
keunggulan yang kompetitiI. Menurut H. Hadari Nawawi (2003:317),
mengemukakan bahwa insentiI adalah : 'Penghargaan atau ganjaran yang
diberikan untuk memotivasi para karyawan agar produktiviyasnya tinggi
28

dan siIatnya tidak tetap. Sedangkan menurut Mutiara S. Panggabean
(2002:89), mengatakan bahwa insentiI adalah : 'Penghargaan dalam
bentuk uang yang diberikan kepada mereka yang dapat bekerja melampaui
standar yang telah ditentukan.
Jadi menurut pendapat para ahli diatas, dapat penulis simpulkan
bahwa insentiI adalah suatu penghargaan dalam bentuk material atau non
material yang diberikan oleh pihak pimpinan organisasi perusahaan
kepada karyawan agar mereka bekerja dengan motivasi yang tinggi dan
berprestasi dalam mencapai tujuan-tujuan perusahaan, dengan kata lain
pemberian insentiI adalah pemberian uang diluar gaji sebagai pengakuan
terhadap prestasi kerja dan kontribusi terhadap karyawan kepada
perusahaan. Pelaksanaan insentiI dimaksudkan untuk meningkatkan
produktiIitas karyawan dan mempertahankan karyawan yang berprestasi
agar tetap berada dalam perusahaan. InsentiI adalah dorongan agar
seseorang agar mau bekerja dengan baik dan agar dapat mencapai
produktivitas yang tinggi sehingga dapat membangkitkan gairah kerja dan
motivasi yang tinggi, (7) Beban Kerja, beban kerja merupakan hal yang
penting yang harus diketahui oleh pemimpin dalam melaksanakan
kegiatan-kegiatan dalam suatu organisasi. Beban kerja harus seimbang
dengan kemampuan individu agar tidak terjadi hambatan atau kegagalan
dalam melaksanakan tugas. Menurut Ilyas (2000) tingginya beban kerja
merupakan salah satu Iaktor yang dapat merupakan semangat kerja dan
berdampak menurunkan prestasi kerja.
29

Beban kerja meningkat dapat disebabkan karena Iungsi ganda atau
kerja rangkap seorang staI karena keterbatasan tenaga baik kualitas
maupun kuantitas. Menurut Siagian (2000) keberhasilan suatu organisasi
sangat tergantung pada ketersediaan tenaga yang matang secara teknis dan
mempunyai ketrampilan yang sesuai tuntunan tugas. Menurut Depkes
(2004) untuk mendukung pencapaian visi Indonesia sehat 2010 diperlukan
SDM kesehatan yang bermutu dan merata, oleh sebab itu perlu membuat
perencanaan SDM yang jumlah dan kualitas yang sesuai dengan
kebutuhan pembangunan kesehatan, (8) Dana, penggalian dana adalah
bagian terpenting dalam organisasi non-proIit. therese poulsen sejauh ini
sudah menggunakan sebagian besar modalnya penggalian dana adalah
bagian terpenting dalam organisasi non-proIit. therese poulsen sejauh ini
sudah menggunakan sebagian besar modalnya reksa dana adalah wadah
yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal,
untuk reksa dana yang menempatkan minimum 80 dari dana adalah
sejumlah pembiayaan yang disediakan pemerintah untuk program
penerima dana adalah dinas kesehatan kabupaten dan kota di seluruh
mungkin anda sudah tahu apa itu reksa dana, tapi tidak ada salahnya
menyegarkan berinvestasi di reksa dana, ibarat seperti orang yang berlari
lebih ketika memutuskan untuk mencari dana dari luar, akan muncul
pertanyaan: dimana akan ornop/lsm dapat mengumpulkan dana dari
perusahaan, yayasan swasta, jenis berkas: pdI/adobe acrobat - versi
htmlbeserta hasil-hasil operasi keuangan untuk setiap dana dan kelompok
30

sistem akuntansi dana harus diorganisasikan dan dioperasikan atas dasar
dana. oleh (ii lubis 2010) untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut
diperlukan adanya dana.
Menurut Azwar (2000) biaya kesehatan sacara umum dapat
dibedkan atas 2 macam yakni ; (1) biaya pelayaann kesehatan, (2) biaya
pelayanan kesehatan masyarakat. Menurut siagian (2000) setia organisasi
menghadapi keterbatasan kemampuan menyediakan dana, oleh sebab itu
para menejerial dituntut untuk berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh
dana sehingga jumlahnya sesuai dengan kebutuhan, dan mengatur
penggunaan dana yang tersedia sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil
maksimal. Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan juga pada
tersedia tidaknya anggaran yang memadai atau sesuai dengan kebutuhan,
(9) Sarana /Prasarana merupakan salah satu variabel input atau masukan,
bila sarana tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan maka sulit
untuk mengharapkan mutu yang baik dari suatu kegiatan. Dedikasi,
kemampuan kerja, ketrampilan dan niat yang besar untuk mewujudkan
prestasi kerja, tidak akan besar manIatnya tanpa didukung sarana dan
prasarana yang dibutuhkan. Depkes (2000) menyatakan bahwa salah satu
komponen penting dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan
adalah sarana kesehatan yang mampu menunjang berbagai upaya
pelayanan kesehatan baik pada tingkat individu maupun masyarakat.
Sedangkan menurut Siagian (2000) setiap ogranisasi dihadapkan kepada
keterbatasan kemampuan dalam menyediakan berbagai sarana dan
31

prasarana, oleh sebab itu harus dilakukan berbagai cara agar semua sarana
dan prasarana yang tersedia itu dapat dimanIaatkan sedemikian rupa
sehingga tidak terjadi pembororas mulai dari pengandaan, pendistribusian,
pemanIaatan, dan pemeliharaan agar sarana dan prasarana tersebut
sehingga dapat dipakai dalam waktu yang lama, (10) Pengertian Kinerja,
kinerja dalam organisasi merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya
tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Para atasan atau manajer sering
tidak memperhatikan kecuali sudah amat buruk atau segala sesuatu jadi
serba salah. Terlalu sering manajer tidak mengetahui betapa buruknya
kinerja telah merosot sehingga perusahaan/instansi menghadapi krisis
yang serius. Kesan kesan buruk organisasi yang mendalam berakibat dan
mengabaikan tanda tanda peringatan adanya kinerja yang merosot.
Kinerja menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2000 : 67) 'Kinerja
(prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya, Kemudian menurut
Ambar Teguh Sulistiyani (2003 : 223) 'Kinerja seseorang merupakan
kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan yang dapat dinilai dari
hasil kerjanya. Maluyu S.P. Hasibuan (2001:34) mengemukakan 'kinerja
(prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam
melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan
atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu, Menurut John
Whitmore (1997 : 104) 'Kinerja adalah pelaksanaan Iungsi-Iungsi yang
32

dituntut dari seseorang,kinerja adalah suatu perbuatan, suatu prestasi, suatu
pameran umum ketrampikan, Menurut Barry Cushway (2002 : 1998)
'Kinerja adalah menilai bagaimana seseorang telah bekerja dibandingkan
dengan target yang telah ditentukan, Menurut Veizal Rivai ( 2004 : 309)
mengemukakan kinerja ' merupakan perilaku yang nyata yang
ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh
karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan, Menurut Robert L.
Mathis dan John H. Jackson Terjamahaan Jimmy Sadeli dan Bayu Prawira
(2001 : 78), 'menyatakan bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang
dilakukan atau tidak dilakukan karyawan, Menurut John Witmore dalam
Coaching Ior PerIomance (1997 : 104) 'kinerja adalah pelaksanaan Iungsi-
Iungsi yang dituntut dari seorang atau suatu perbuatan, suatu prestasi,
suatu pameran umum keterampilan,
Kinerja merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan
dikonIirmasikan kepada pihak tertentu untuk mengetahui tingkat
pencapaian hasil suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban
suatu organisasi atau perusahaan serta mengetahui dampak positiI dan
negatiI dari suatu kebijakan operasional. Mink (2000 : 76) mengemukakan
pendapatnya bahwa individu yang memiliki kinerja yang tinggi memiliki
beberapa karakteristik, yaitu diantaranya: (a) berorientasi pada prestasi, (b)
memiliki percaya diri, (c) berperngendalian diri, (d) kompetensi.
Menurut Depkes (2001). Azaz analisis sistem perencanaan dan
pengawasan puskesmas di era desentralisasi; (a) Azaz Analisis Sistem
33

Puskesmas 'Puskesmas harus bertanggung jawab atas pembangunan
kesehatan wilayah kerjanya, program puskesmas selaian menunggu
kunjungan masyarakat ke puskesmas (kegiatan dalam gedung/kegiatan
pasiI(, juga memberikan pelayanan kesehatan sedekat mungkin dengan
masyarakat melalui kegiatan luar gedung (kegiatan aktiI), (b) Azaz
Perencanaan dan Pengawasan Puskesmas 'Program kegiatan puskesmas
selalu berupaya melibatkan dan bekerja sama dengan masyarakat, melalui
dari mengidentiIikasi masalah kesehatan, mencarai dan menggali sumber
daya, merumuskan dan merencanakan program kegiatan kesehatan,
melaksanakan program kegiatan kesehatan sampai mengevaluasi dan
menilai hasil kegiatannya. Bentuk peran serta masyarakat dalam pelayanan
kesehatan banyak macam di Indonesia, antara lain pos pelayanan terpadu
(posyandu), Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK), Pondodk Bersalin
Desa (Polindes), Badan Penyantun Puskesmas (BPP), Pos Obat
Desa(POD) dan lain-lain, (c) Azaz Keterpaduan 'Puskesmas dalam
mewujudkan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya melakukan
kerja sama/bermitra kerja dan berkoordinasi dengan instansi yang terkait,
swasta dan lembaga swadaya masyarakat dalam upaya menyelaraskan dan
mengintegrasikan program kegiatan puskesmas agar lebih eIesien, eIektiI,
bermutu dan berkesinambungan. Upaya tersebut tercermin dalam kegiatan
rapat bulanan (keterpaduan lintas program), dan kegiatan rapat triwulan
(keterpaduan lintas sektor), dan lain-lain, (d) Azaz Rujukan 'Puskesmas
merupakan Iasilitas kesehatan tingkat pertama, apabila puskesmas tidak
34

mampu menangani masalah kesehatan karena pertimbangan
ketidakmampuan menjangaku sasaran, keterbatasan ketersediaan dan
kemampuan sumberdaya, batasan kewenangan puskesmas dan lain-lain,
maka puskesmas dapat melakukan rujukan secara vertikal maupun
horisontal (11) ungsi dan Peran Puskesmas, puskesmas di era
desentralisasi mempunyai tiga Iungsi yaitu; (1) Menggerakkan
pembangunan berwawasan kesehatan. 'Menggerakkan pembangunan
berwawasan kesehatan memiliki makna bahwa puskesmas harus berperan
sebagi motor dan motivator terselenggaranya pembangunan yang
mengacu, berorientasi serta dilandasi oleh kesehatan sebagai Iaktor
pertimbangan utama, (2) Memberdayakan masyarakat dan
memberdayakan keluarga pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya
Iasilitas yang bersiIat non-instruktiI guna meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan masyarakat agar mampu mengidentiIikasi masalah,
merencanakan dan melakukan pemecahan dan pemanIaatan potensi
setempat dan Iasilitas yang ada, baik dari linstansi lintas sektoral maupun
LSM dan tokoh masyarakat, (3) Memberikan pelayanan tingkat pertama.
Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah 'pelayanan yang bersiIat
mutlak perlu yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta
mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat


33

2.5 Pendekatan Analisis Sistem Puskesmas
perencanaan dan pengawasan puskesmas sebagai proses dapat
dipelajari dari Iungsi-Iungsi analisis sistem perencanaan dan pengawasan
puskesmas. Yang dimaksud dengan Iungsi analisis sistem perencanaan dan
pengawasan puskesmas adalah langkah-langkah yang penting dan wajib
dikerjakan oleh kepala puskesmas untuk mencapai tujuan organisasi.
ungsi analisis sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas yang
digunakan Depkes RI diambil dari Iungsi analisis sistem menurut terry
yang terdiri dari Planning, Organization, Accounting, dan Contriling
(POAC) (Muninjaya, 2000).
Analisis sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas
digambarkan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang bekerja secara
sinergik, sehingga menghasilkan keluaran yang eIesien dan eIektiI. Dalam
pelaksanaan kegiatan analisis sistem perencanaan dan pengawasan
puskesmas dapat digambarkan sebagai pendekatan sistem. Sistem yaitu
seperangkan elemen yang digabungkan satu dengan yang lainnya untuk
suatu tujuan bersama. Murdick dan Ross (2000) sedangkan deIenisi sistem
dalam kamus Webster`s Unbriged adalah elemen-elemen yang saling
berhubungan membentuk suatu kesatuan atau organisasi. Menurut ranco,
et al yang dikutip Alamsyah, CS (2000) indicator yang digunakan untuk
menggambarkan program yang ada dapat digolongkan menurut
pendekatan sistem. Bagi paelayanan kesehatan disarankan menggunakan
36

sistem yang terdiri dari 3 tahap : Input atau masukan berupan sumber-
sumber yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu program kesehatan.
Proses merupakan aktivitas yang perlu dijalankan. Hasil atau
keluaran adalah semua perubahan yang terjadi akibat perencanaan dan
pengawasan program Notoatmojo (2000) menyatakan bahwa sistem
pelayanan kesehatan masyrakat harus mempunyai pembagian kerja yang
jelas antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, artinya Iasilitas
pelayanan kesehatan tersebut harus mempunyai struktur yang jelas
menggambaran hubungan baik horisontal maupun vertikal.
Unsur yang melandasi analisis sistem perencanaan dan pengawasan
puskesmas menurut Stoner (2000) yang dikutip Azwar (2001) ; (a) Imput
(masukan) kumpulan eleman yang terdapat dalam sistem yang berIungsi
untuk merubah masukan menjadi keluaran yang diinginkan, (b) Proses
yaitu kegiatan-kegiatan dalam sistem yang dapat merubah masukan
menjadi keluaran, (c) Out put (keluaran) bagian atau eleman yang
dihasilkan dari berlangsungnya proses dalam sistem, (d) umpan balik
adalah kumpulan bagian yang merupakan keluaran dari sistem yang
sekaligus merupakan masukan bagi sistem tersebut, (e) Dampak yaitu
akibat dihasilkan keluaran atau suatu sistem, (I) Lingkungan yaitu dunia
diluar sistem yang tidak dikelola oleh sistem tapi mempunyai pengaruh
yang cukup besar terhadap sistem.
Analisis sistem perencanaan dan Pengawasan Puskesmas

37




Umpan balaik
Lingkungan

Sumber Stoner (2000) dikutip oleh Azwar (2001)


2.6. Pengawasan internal dan pengawasan eksternal (P1)
Dibidang kesehatan, perencanaan dapat dideIenisikan sebagai
proses untuk merumuskan berbagai masalah kesehatan di masyarakat,
menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan
program yang paling pokok, dan menyusun langkah-langkah untuk
mencapai tujuan yang lebih ditetapkan tersebut (Muninjaya, 2000).
ungsi perencanaan merupakan Iungsi yang terpenting dalam
analisis sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas, karena Iungsi ini
penentu dan landasan dari Iungsi yang lainnya. Perencanaan merupakan
gambaran secara menyeluruh dari semua pekerjaan yang akan kita
laksanakan, siapa yang akan melakukan dan kapan akan dilakukan
(Muninjaya, 2000).
Menurut Depkes (2001) perencanaan puskesmas hendaknya
melibatkan masyarakat sejak awal sesuai kondisi kemampuan masyarakat
di wilayah kecamatan. Pada dasarnya ada tiga langkah penting dalam
Masukan roses CuL uL uampak
38

penyusunan perencanaan yaitu; (1) identiIikasi kondisi masalah kesehatan
masyarakat dan lingkungan serta Iasilitas pelayanan kesehatan tentang
cakupan dan mutu pelayanan, (2) IdentiIikasi sumberdaya masyarakat dan
provider, (3) menetapkan kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan masalah.
Perencanaan puskesmas meliputi kegiatan program dan kegiatan rutin
puskesmas, yang dituangkan dalam Perencanaan tingkat Puskesmas (PTP)
untuk lima tahun dan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) untuk
tahunan.


2.7. Penggerakan Pelaksanaan (P2)

Puskesmas melaksanakan serankaian kegiatan yang merupakan
penjabaran lebih rinci dari rencana pelaksanaan kegiatan (RPK). Menurut
depkes (2004) penyelenggaran penggerakkan pelaksanaan puskesmas
melalui instrument lokakarya mini puskesmas yang terdiri dari; (1)
lokakarya mini bulalanadalah alat untuk menggerakan pelaksanaan
kegiatan bulanan dan juga monitoring bulanan kegiatan puskesmas dengan
melibatkan lintas program interen puskesmas, (2) lokakarya mini
tribulanan dilakukan sebagai penggerakkan pelaksanaan dan monitoring
kegiatan puskesmas dengan melibatkan lintas sektoral, Badan penyantun
Puskesmas atau badan sejenis dan mitra yang lain. Puskesmas sebagai
wujud tanggung jawab tanggung jawab puskesmas terhadap kegiatan.
Muninjaya (2000) mengatakan Iungsi ini menekankan tentang
bagaimana analisis sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas
39

mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya yang ada untuk
mencapai tujuan yang sudah disepakati. Dalam mengarahkan sumber daya
manusia dalam suatu organisasi, peranan pimpianan, motivasi staI,
kerjasama, komunikasi antara staI merupakan hal yang sangat diperlukan
oleh pemimpin. ungsi Akunting ini merupakan usaha untuk manciptakan
iklim kerja yang baik dan kondusiI antar staI pelaksana program sehingga
tujuan organisasi tercapai. Ini diperkuat oleh Triguno (2001) bahwa
budaya kerja itu tidak akan muncul begitu saja, akan tetapi harus
diupayakan dengan sunguh-sunguh melalui suatu proses yang terkendali
dengan melibatkan semua SDM dalam seperangkat sistem, atat-alat dan
teknik-teknik pendukung.
ungsi penggerakan pelaksanaan ini lebih terIokus pada sumber
daya manusia, oleh sebab itu seorang pimpinan harus mempunyai
kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, dan harus peka
terhadap lingkungan. Disamping itu seorang pemimpin juga harus
memahami ilmu sistem analisis perencanaan dan pengawasan puskesmas
dengan baik. Dinkes (2004).

2.8. Pengawasan Puskesmas (P3)

ungsi ini mempunyai kaitan erat dengan tiga Iungsi diatas,
terutama dengan Iungsi perencanaan. Melalui Iungsi pengawasan standar
keberhasilan selalu harus dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai
atau yang telah dikerjakan. ungsi pengawasan kegiatan bertujuan untuk
40

meningkatkan eIisiensi penggunaan sumber daya yang ada dan eIektiIitas
tugas-tugas dari staI. Untuk terselenggaranya proses pengendlian,
pengawasan dan penilaian diperlukan instrument yang sederhana.
Instrument yang sudah dikembangkan di puskesmas adalah Pemantauan
wilayah setampat (PWS) dan penilaian/evaluasi kinerja puskesmas sebagai
ganti stratiIikasi. Alat agar pimpinan dapat melakukan pengawasan dengan
baik adalah rencana kerja operasional yang jelas (Depkes, 2001).
Pengawasan diberikan atas dua macam yaitu; pengawasan internal
dan pengawasan eksternal. Pengawasan internal dilakukan secara melekat
oleh atasan langsung atau pemimpin dan pengawasan eksternal dilakukan
oleh dinas kesehatn dan instansi terkait (Depkes, 2004)















41

BAB III
METODE PENELITIHAN

3.1. Kerangka Konsep

berdasarkan teori-teori pada tinjauan pustaka maka dapat
dikemukanan adalah pendekatan analisis sistem perencanaan dan
pengawasan puskesmas ada input, proses, output, dan dampak. Pada
penilaian ini variabel input terdiri dari sumber daya manusia, (jumlah,
kepemimpinan, pengetahuan, motivasi, Iungsi ganda/beban kerja,
imbalan), dana dan sarana. Variabel adalah proses Penggerakan
Pelaksanaan puskesmas (perencanaan tingkat puskesmas, lokim,
pengawasan dan pengendalian), pembinaan variabel out putnya adalah
pengawasan puskesmas dan variabel dampak adalah kinerja puskesmas.
Variabel-variabel diatas adalah variabel interen yang akan penulis
teliti kecuali variabel dampak, karena area penelitihan ini hanya
diIokuskan pada analisis sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas.
Variabel lain yang juga berpengaruh terhadaap pelaksanaan analisis
sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas adalah variabel eksternal
seperti; luas wilayah kerja puskesmas, karakteristik penduduk. Variabel ini
tidak menjadi objek penelitihan karena diluar kendali dinas kesehatan.
Dari kerangka teori diatas maka dibuatlah kerangka konsep dengan
pendekatan sistem yang akan dikembangkan sebagai berikut;

ambar 5
42

KERANKA KONSEP

Input Proses Out Put Dampak






Umpan balik
Lingkungan
Keterangan ;
: Areal penelitihan
Areal penelitihan mencakup variabel input, proses dan out put.
Variabel lain tidak penulis teliti, walaupun penulis juga melihat variabel
dampak tetapi penulis tidak membahasnya lebih dalam, kerena penulis
ingin mengIokuskan pada analisis sistem perecanaan dan pengawasan
puskesmas.


3.2. Variabel dan Defenisi Operasional
3.2.1. Sumber daya manusia (SDM)
3.2.1.1. 1umlah

SuM ([umlah
kepemlmplnan
pengeLahuan
moLlvasl fungsl
ganda/beban
ker[a lmbalan)
uana
Sarana
1
okmln
engawasan
dan
pengendalalan
pemblnaan
evaluasl

Anallsls
slsLem
perencanaan
dan
pengawasan
klner[a
uskesmas
43

Jumlah adalah kondisi personil yang bekerja di puskesmas tanjung
balai karimun dilihat dari jumlah, kualiIikasi pendidikan dan kesesuaian
dengan kebutuhan.

Cara ukur : Wawancara mendalam dan menalaah dokumen.
Instrumen : Pedoman wawancara dan eheck list dokumen.
hasil : Gambaran jumlah tenaga dan kualiIikasi pendidikan
yang ada dipuskesma sesuai dengan kebutuhan


3.2.1.2 Kepemimpinan
Kepemimpianan adalah persepsi inIormal tentang kemampuan,
gaya, tipe kepemimpinan kepala puskesmas dalam melihat permasalahan,
memilih alternatiI, mengambil keputusa, melimpahkan atau mendelegasi
wewenang, memotiIasi staI dan kemampuan berkoordinasi dengan lintas
sektor.

Cara ukuran : Dengan wawancara mendalam terhadap inporman.
Instrumen : Pedoman wawancara.
Hasil : kemampuan, gaya tipe pemimpin dalam, melihat
organisasi sacara keseluruhan, mengambil keputusan,
melimpahkan atau mendelegasikan wewenang dan
memotivasi staI serta kemampuan berkoordinasi dengan
44

lintas sektor terkait.


3.2.1.3. Pengetahuan
Pengetahuan adalah penilaian inIorman terhadap kemampuan
kognitiI serta pemahaman pegawai tentang program dan anasisis sistem
perencanaan dan pengawasan puskesmas.

Cara ukuran : Dengan wawancara mendalam terhadap inporman.
Instrumen : Pedoman wawancara.
Hasil : Gambaran pengetahuan tentang program dan analisis
sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas yang
dimiliki petugas puskesmas

3.2.1.4. Motivasi
Penilaian inIorman tentang besarnya keinginan dari dalam diri
maupun dorongan dari luar untuk melaksanakan kegiatan dalam mencapai
tujuan.

Cara ukuran : Wawancara yang mendalam.
Instrumen : Pedoman wawancara.
Hasil : InIormasi tentang bagaimana keinginan personil yang
ada di puskesmas dalam melaksanakan kegiatan-
kegiatan.
43



3.2.1.5. ungsi ganda/beban kerja
Kenyataan peran rangkap atau jabatan rangkap pegawai
puskesmas dalam melaksanakan di puskemas serta beban kerja dan
tanggung jawab yang timbul karena Iungsi gandanya ini.
Cara ukuran : Wawancara yang mendalam dan telaah dokumen.
Instrumen : Pedoman wawancara dan check list dokumen.
Hasil : InIormasi tentang tugas pokok dan tugas tambahan
personil puskesmas.

3.2.1.6. Imbalan/insentif
Adalah persepsi atau penilaian inIormasi tentang kecukupan
imbalan diperoleh oleh personil dibandingkan dengan tugas dan tanggung
jawabnya.

Cara ukuran : Wawancara yang mendalam dan menelaah dokumen.
Instrumen : Pedoman wawancara dan check list dokumen.
Hasil : InIormasi tentang tingkat kecukupan imbalan didanding
tugas dan tanggung jawab.


3.2.2. Dana
Dana yaitu penilaian inIormasi tentang kesesuaian biaya yang
tersedia dengan kebutuhan puskemas untuk melaksanakan seluruh
kegiatan di Puskesmas.
46


Cara ukuran : Wawancara dan telaah dokumen.
Instrumen : Pedoman wawancara dan check list dokumen.
Hasil : Gambaran tentang kesesuiaan dana yang tersedia dengan
kebutuan biaya operasional puskesmas.


3.2.3. Sarana/prasarana
Sarana/prasarana adalah penilaian inIormasi tentang kesesuaian
dan ketersediaan alat baik medis maupun non medis dengan kebutuhan
untuk menunjang kegiatan puskesmas.

Cara ukuran : Wawancara dan telaah dokumen.
Instrumen : Pedoman wawancara dan check list dokumen.
Hasil : Gambaran tentang kesesuiaan sarana prasarana yang ada
dengan kebutuhan.


3.2.4. Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP)
Perencanaan tingkat puskesmas adalah suatu proses kegiatan yang
dillakukan Puskesmas untuk menyusun perencanaan kegiatan satu tahun
kedepan dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan dan program di
Puskesmas.

Cara ukuran : Wawancara mendalam dan telaah dokumen
47

Instrumen : Pedoman wawancara dan check list dokumen.
Hasil : InIormasi dan gambaran tentang proses perencanaan
Puskesmas sesuai dengan aturan atau tidak dan
perencanaan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan.


3.2.5. Lokakarya mini (lokmin)
Merupakan penerapan dari Iungsi penggerakan dan pelaksanaan
kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas berupa pembagian tugas,
tanggung jawab daerah binaan, mengevalusasi kegiatan bulan lalu dan
penetapan rencana kegiatan masing-masing dalam pertemuan lintas
sektoral tiga bulan sekali dalam rangka meningkatkan pengembangan,
pembinaan dan pelayanan di Puskesmas.

Cara ukuran : Wawancara mendalam dan penelusuran dokumen
Instrumen : Pedoman wawancara dan check list dokumen.
Hasil : Gambaran Irekuensi dan kualitas pelaksanaan lokmin di
Puskesmas.


3.2.6. Pengawasan dan Pengendalian
Penilaian inIormasi terhadap pelaksanaan pemantauan kegiatan dan
pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap kerja staI.

Cara ukuran : Wawancara mendalam dan telaah dokumen
Instrumen : Pedoman wawancara dan check list dokumen.
48

Hasil : Hasil gambaran bagaimana cara dan Irekuensi
pengawasan dan pengendalian terhadap kerja staI.

3.2.7. Pembinaan
Pembinaan adalah penilaian inIormasi tentang Irekuensi, cara dan
kualitas bimbingan dan pengarahan yang diberikan oleh Dinas Kesehatan
terhadap seluruh staI Puskesmas dalam pelaksanaan program-program
pusksmas.
Cara ukuran : Wawancara mendalam dan penelusuran dokumen
Instrumen : Pedoman wawancara dan check list dokumen.
Hasil : Gambaran Irekuensi dan kualitas pelaksanaan lokmin di
Puskesmas.

3.2.8. Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan penilaian yang dilakukan baik tahap input
(pemilihan sumberdaya apa sudah sesuia dengan kebutuhan), proses (pada
kegiatan yang sedang berlangsung) maupun out put (setelah pekerjaan
selesai apakah hasil sesuai dengan target yang ditetapkan) serta 1eed back
atau umpan balik yang diberikan oleh dinas kepada puskesmas dari hasil
penilaian tersebut.
Cara ukuran : Wawancara mendalam dan telaah dokumen
Instrumen : Pedoman wawancara dan check list dokumen.
Hasil : Gambaran penilaian yang dilakukan oleh pimpinan
49

maupun dinas Kesehatan Kabupaten pada setiap tahap
(input, prose dan out put) serta Ieed back yang diberikan
dinas kesehatan kepada puskesmas.

3.3. 1enis Data

3.3.1. Data Primer

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer. Data primer
adalah data belum diolah yang diperoleh langsung dari sumber pertama.
Yaitu individu atau perorangan sebagai objek penelitihan berkaitan dengan
pembahasan yang dilakukan, serta bahan-bahan lain dari tempat
penelitihan yang telah diolah

3.3.2. Data Sekunder
Data yang dikumpulkan terdiri dari data sekunder. Data sekunder
adalah data yang telah diolah yang tidak diperoleh langsung dari sumber
pertama. Yaitu individu atau perorangan.

3.4. Obyek Penelitihan
3.4.1. Rencana Penelitihan
Penelitihan dilakukan berupa studi deskriptiI dengan secara
langsung mendatangi objek penelitihan, yaitu Puskesmas Tanjung Balai
Karimun. Jalan Kartini Nomor : 22. Kelurahan Tanjung Balai. Kecamatan
Karimun Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau guna memperoleh
30

data dan inIormasi yang dibutuhkan. Penelitihan ini didasarkan pada teori-
teori yang mendukung sebagai landasan teoritas dalam menganalisa data
dilapangan.

3.5. Metode Analisis Data





















BAB IV
METODOLOI PENELITIHAN

31

4.1 1enis Penelitihan
Jenis penelitihan ini adalah penelitihan kuantitatiI dengan rencangan penelitihan
analitik, melalui wawancara mendalam. Pendekatan ini dipilih kerena penelitihan
diharapkan dapat menjawab mengapa pelaksanaan analisis sistem perencanaan
dan pengawasan puskesmas di Kabupaten Karimun tidak terlaksana dengan baik
dan mengetahui Iaktor-Iaktor yang mempengaruhi pelaksanaan Iungsi analisis
sistem perencanaan dan pengawasan puskesmas.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitihan