Anda di halaman 1dari 21

1

KINERJA TRAKTOR TANGAN UNTUK PENGOLAHAN TANAH

Dr. Ir. Santosa, MP*), Andasuryani, S.TP, M.Si*), dan V. Veronica, S.TP**)

*)Staf Pengajar Program Studi Teknik Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian


Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang
**)Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang

ABSTRACT
This research is conducted in May until June 2005 in Kayu Jao Batang Barus,
Subdistrict Gunung Talang, Regency Solok, and Faculty of Agriculture of Andalas
University.
The tool that is used in this research is 1 unit of hand tractor, moldboard plow,
stopwatch, fuel, oil, ring sample, penetrometer, tachometer and others.
The result from this research is ( a) speed of tractor in wet land is slower than
in dry land, ( b) the slip of wheel tractor in wet land is bigger then in dry land, ( c)
there is tendency the value of field capacity in wet land is slower than in dry land,
( d) the increase of speed work hence have effect to increase fuel consumption, and
(e) the increase of fuel consumption have effect to increase mechanical power of
tractor.

Key Words : Hand Tractor, Speed of Soil Tillage, Wet Land, Dry Land.

Pendahuluan
Sebahagian besar penduduk Indonesia hidup dari sektor pertanian yaitu lebih

51 persen, tersebar di seluruh pelosok kepulauan Nusantara (BPS, 2003). Oleh karena

itu, sektor pertanian selalu mendapatkan prioritas utama dalam melaksanaan

pembangunan di Indonesia. Pembangunan di sektor pertanian oleh pemerintah

bertujuan pada pengadaan dan peningkatan pangan yang berkecukupan.


2

Pengolahan tanah umumnya masih didominasi oleh penggunaan cangkul

(secara manual) oleh tenaga manusia dan alat bajak yang ditarik oleh tenaga ternak.

Dengan penggunaan tenaga manusia dan tenaga ternak akan mengakibatkan produksi

pertanian rendah dan waktu yang lama bila dibandingkan dengan penggunaan tenaga

mekanis seperti traktor terutama sebagai sumber tenaga penarik bajak dan alat

pertanian lainnya.

Penggunaan traktor sebagai sumber tenaga dalam pengolahan tanah,

diharapkan dapat mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan untuk proses

pengolahan tanah, kapasitas kerja menjadi lebih tinggi dan pendapatan petani

bertambah, sehingga dapat dilaksanakan usaha intensifikasi dan ekstensifikasi yang

sempurna (Hardjosoediro, 1983).

Kecepatan dalam pengolahan tanah merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi kapasitas kerja efektif yang dapat dicapai dalam pengolahan tanah.

Kapasitas kerja efektif adalah faktor yang menentukan besarnya biaya penggunaan

alat persatuan luas.

Mengingat pentingnya pengolahan tanah di lahan kering dan lahan basah

sebagai suatu tindakan yang ikut menentukan keberhasilan suatu tanaman dan

pendapatan bagi petani, perlu kiranya perlu dikaji pengaruh berbagai kecepatan kerja

di lahan kering dan lahan basah terhadap slip roda traktor, kapasitas kerja efektif, dan

besarnya konsumsi bahan bakar.

Tujuan dari penelitian ini adalah (a) mempelajari pengaruh slip roda traktor

pada lahan kering dan lahan basah, (b) mempelajari besarnya kapasitas kerja efektif

traktor tangan untuk pengolahan tanah pada lahan kering dan lahan basah pada
3

beberapa kecepatan kerja, dan (c) mempelajari pengaruh kecepatan kerja terhadap

konsumsi bahan bakar dan daya mekanis traktor.

Metodologi

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2005. Tempat

dilaksanakan penelitian ini adalah pada lahan petani di Kayu Jao Batang Barus

Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, dan Jurusan Tanah Fakultas Pertanian

Universitas Andalas, Padang.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1 unit

traktor tangan (hand tractor), alat pengolah tanah yaitu bajak singkal, meteran,

stopwatch, bahan bakar solar dan bensin, oli, pena, spidol, kalkulator, gelas ukur,

ring, oven tanah, dirigen minyak, penetrometer, tachometer dan lain sebagainya.

Prosedur Kerja

Rumus-rumus yan digunakan :

1. Kecepatan Aktual

Pengukuran kecepatan dari traktor dalam mengolah tanah dapat dilakukan

dengan menentukan panjang lintasan atau jarak tempuh traktor. Kecepatan dalam

pengolahan tanah dapat diukur dengan menggunakan rumus (Santosa,2005a):

V akt = S / T ……………………….……….(1)

dengan : V akt = Kecepatan aktual (m/detik), S = Panjang lintasan (m), T = Waktu

tempuh (detik).
4

2. Kapasitas Kerja Teoritis

Untuk pengukuran kapasitas kerja teoritis traktor digunakan rumus

(Santosa,2005a):

KKteo = 0,36 x Vteo x w …….………...………....(2)

dengan : KKteo = Kapasitas kerja teoritis (ha/jam), Vteo = Kecepatan kerja teoritis

(m/detik), w = Lebar kerja pengolahan tanah (m).

Hubungan antara kecepatan teoritis dan kecepatan aktual adalah:

Vteo = Vakt / ( 1 – S ) ............................................(3)

dengan: S = Slip roda (desimal).

3. Kapasitas Kerja Efektif

Kapasitas kerja efektif alat dapat ditentukan dengan menentukan waktu total

operasi alat pada lintasan tertentu. Waktu total ini juga termasuk waktu yang hilang

saat membelok, istirahat, penyetelan alat dan lainnya.

Untuk pengukuran kapasitas kerja efektif digunakan rumus (Santosa,2005a):

KKe = A / T …………………..….....(4)

dengan: KKe = Kapasitas kerja efektif (ha/jam), A = Luas petakan (ha), dan T =

Waktu total pengoperasian (jam).

4. Efisiensi Lapang

Untuk pengukuran efisiensi lapang digunakan rumus (Santosa,2005a):


5

KKe
E= x100% …………………....(5)
KKteo

dengan: E = Efisiensi kerja lapang (%)

5. Slip Roda

Pada pengamatan slip roda, yang diamati adalah jarak yang ditempuh oleh

roda traktor untuk 10 kali putaran roda. Untuk pengukuran slip roda digunakan rumus

(Santosa,2005a):

(π .D.N − L ) x100%
S= ………..…(6)
(π .D.N )
dengan: S = Slip roda (%), D = Diameter roda (m), N = Banyaknya putaran roda (10

putaran), dan L = Jarak yang ditempuh oleh traktor pada saat roda berputar N kali

(m).

6. Konsumsi Bahan Bakar

Sebelum traktor dioperasikan, tangki bahan bakar diisi penuh. Setelah

pengolahan tanah berakhir bahan bakar diisi lagi hingga penuh dan dicatat besarnya

volume penambahan bahan bakar tersebut. Laju debit pemakaian bahan bakar dapat

dihitung dengan rumus berikut:

60 x Vol
Q= ………………...…(7)
1000 x T

dengan: Q = Debit pemakaian bahan bakar (liter / jam), Vol = Volume pemakaian

bahan bakar pada saat pengolahan tanah (cm3), T = Waktu operasional traktor untuk

pengolahan tanah (menit), 60 = Konversi satuan, 1 jam = 60 menit, dan 1000 =

Konversi satuan , 1 liter = 1000 cm3.


6

Besarnya debit bahan bakar ini dipakai untuk memperkirakan besarnya daya yang

dihasilkan pada silinder motor bakar tersebut.

7. Daya Kimia Bahan Bakar

Untuk pengukuran daya kimia bahan bakar digunakan rumus:

Q x ρ x N BB x 4,2
Pk = ...............(8)
3600 x 735

dengan: Pk = Daya kimia bahan bakar (HP), Q = Debit bahan bakar minyak (liter /

jam), ρ = Densitas bahan bakar minyak (kg / liter), NBB = Nilai kalori bahan bakar

minyak (kalori / kg), 4,2 = Konversi satuan, 1 kalori = 4,2 joule, 3.600 = Konversi

satuan, 1 jam = 3.600 detik, dan 735 = Konversi satuan, 1 HP = 735 watt.

8. Daya Mekanis Motor

Untuk pengukuran daya mekanis motor digunakan rumus:

Pm = ηm X Pk …………………………..….(9)

dengan: Pm = Daya mekanis motor (HP), dan ηm = Efisiensi thermal motor bakar.

9. Daya untuk Pengolahan Tanah

Daya yang diperlukan untuk mengolah tanah menggunakan bajak singkal

(moldboard plow) (Santosa, 2005a) yaitu:

P = Ds x d x l x v x 9,8 …………………........(10)

dengan: P = Daya pengolahan tanah (watt),Ds = Draft spesifik tanah (kg / cm2), d

= Kedalaman pengolahan tanah (cm), l = Lebar kerja pengolahan tanah (cm), v =

Kecepatan pengolahan tanah (m / detik), dan 9,8 = Konversi satuan, 1kg gaya = 9,8

N.

10. Draft Spesifik Tanah


7

Nilai draft spesifik tanah diperoleh dari persamaan Kisu (1972) cit Santosa

(1993) yaitu:

80 x Ds1
Ds = .................................(11)
75,5 − Ip

dengan : Ds = Draft spesifik tanah (kg / cm2), Ds1 = Draft spesifik tanah yang

dimodifikasi dengan indeks plastisitas tanah (kg / cm2), dan Ip = Indeks plastisitas

tanah (%).

11. Nilai Ds1

Dapat dihitung dengan rumus :

Ci 2 1
Ds1 = + .............................(12)
600 Ci

dengan :

Ci adalah indeks kerucut (cone index) dalam kg / cm2. Nilai indeks kerucut diukur

pada kedalaman 5 cm, 10 cm, 15 cm, dan 20 cm dengan menggunakan penetrometer.

F
Ci =
( π x D2 / 4 ) .............................(13)

dengan: F = Gaya tekan penetrometer (kg), dan D = Diameter alas kerucut

penetrometer (cm).

Sedangkan indeks plastisitas tanah dihitung dengan menggunakan rumus:

Ip = 0,8 x C – 4,5 .............................................(14)

dengan: Ip = Indeks plastisitas tanah (%), dan C = Kandungan lempung (clay) tanah

(%).
8

Untuk keperluan tersebut, maka dilakukan analisis tekstur tanah. Besarnya

gaya tekan penetrometer bergantung pada kadar air tanah. Dengan demikian juga

dilakukan pengukuran kadar air tanah.

Hasil dan Pembahasan

1. Kecepatan Aktual

Hasil pengujian pengolahan tanah dengan tiga perlakuan kecepatan kerja yang

menggunakan alat pengolah tanah singkal memiliki kecepatan yang berbeda antara

lahan basah dengan lahan kering. Hasil pengukuran kecepatan kerja dari traktor untuk

pengolahan tanah dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Uji Kinerja Traktor Tangan


Lahan Kering Lahan Basah
Parameter V1 V2 V3 V1 V2 V3
Waktu Kerja (menit) 5,24 3,96 2,62 5,45 4,55 2,66
Kecepatan Aktual (m/dtk) 0,72 1,02 1,40 0,63 0,71 1,17
Kecepatan Teoritis (m/dtk) 0,96 1,20 1,71 0,76 0,9 1,51
Kapasitas Kerja Teoritis (ha/jam) 0,048 0,006 0,086 0,038 0,045 0,076
Kapasitas Kerja Efektif (ha/jam) 0,029 0,038 0,059 0,027 0,033 0,058
Efisiensi Kerja (%) 62,5 63,8 68,1 71,1 74 75,5
Keterangan:
V1 : Kecepatan pertama (rendah) = 0,72 m/dtk di lahan kering dan 0,63 m/dtk di lahan basah
V2 : Kecepatan kedua (sedang) = 1,02 m/dtk di lahan kering dan 0,71 m/dtk di lahan basah
V3 : Kecepatan ketiga (tinggi) = 1,40 m/dtk di lahan kering dan 1,17 m/dtk di lahan basah

Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa kecepatan aktual dari tiga kecepatan kerja

antara di lahan kering lebih tinggi kecepatan aktualnya dari kecepatan aktual di lahan

basah. Kecepatan aktual pada kecepatan pertama (V1) antara lahan kering dan lahan

basah memiliki perbedaan, yaitu pada lahan kering 0,72 m/dtk, sedangkan lahan

basah 0,63 m/dtk. Jadi kecepatan aktual lahan kering lebih tinggi dari lahan basah.

Begitupun untuk kecepatan kerja kedua dan ketiga (V2 dan V3). Ini disebabkan karena
9

kandungan air tanah, tahanan terhadap tenaga penarik, keadaan tanah, dan tekstur

tanah.

Tanah yang mengandung kadar air tinggi dan bertekstur liat mempunyai daya

rekat dan memberi ketahanan yang besar pada roda, sehingga dapat mengurangi

kecepatan maju mesin. Berat mesin yang terlalu besar juga akan menimbulkan

kesulitan dalam mengoperasikan alat (Djojomartono, 1978).

Sebagai bahan perbandingan antara kecepatan kerja pengolahan tanah di

lapangan dengan kecepatan putar poros motor yang diukur menggunakan tachometer

dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kecepatan Aktual dan Kecepatan Putar Poros Motor


Perlakuan Pengukuran dengan Lahan Kering Lahan Basah
Kecepatan Kerja Tachometer (RPM) (m/dtk) (m/dtk)
V1 4680 0,72 0,63
V2 6080 1,02 0,71
V3 7580 1,40 1,17

2. Kapasitas Kerja Teoritis

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa kapasitas kerja teoritis pada tiga

perlakuan kecepatan kerja lebih tinggi kapasitas kerja teoritisnya di lahan kering

daripada di lahan basah. Pada perlakuan kecepatan pertama (V1) kapasitas kerja

teoritis di lahan kering adalah 0,048 ha/jam dan lahan basah 0,038 ha/jam. Begitu

pula untuk perlakuan kecepatan kedua dan ketiga dimana kapasitas kerja teoritis lebih

tinggi di lahan kering daripada lahan basah.

Kapasitas kerja teoritis ini dipengaruhi oleh lebar bajakan atau lebar

pengolahan tanah serta kecepatan aktual dari traktor. Hal ini sesuai dengan yang
10

dikatakan Hunt (1970), bahwa kapasitas kerja teoritis adalah kemampuan alat atau

mesin untuk menyelesaikan suatu pekerjaan pada sebidang lahan jika alat atau mesin

berjalan maju dengan sepenuh waktu (100 %) dan bekerja dengan lebar maksimum.

3. Kapasitas Kerja Efektif

Berdasarkan hasil perhitungan dari Tabel 1 ternyata kapasitas kerja efektif

pada tiga perlakuan kecepatan kerja (V1, V2, dan V3) antara lahan kering lebih tinggi

kapasitas kerja efektifnya dibandingkan dengan lahan basah. Untuk lahan kering dan

lahan basah kapasitas kerja efektifnya meningkat dari perlakuan kecepatan pertama

hingga kecepatan ketiga. Hal ini dipengaruhi oleh tiga perlakuan kecepatan kerja dan

persentase waktu hilang. Selain itu kapasitas kerja efektif juga dipengaruhi oleh

kendungan air dan tanah tersebut. Oleh karena itu semakin kecil waktu yang terpakai

maka semakin besar kapasitas kerja efektifnya, dan semakin besar kecepatan kerja

maka juga semakin besar kapasitas kerja efektifnya, dan sebaliknya.

Kapasitas kerja efektif biasanya dihitung dari hasil pembagian luas yang

diselesaikan dengan waktu yang diperlukan (efektif), pada umumnya waktu efektif

lebih besar dari waktu teoritis. Ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (a) waktu

yang hilang diakhir barisan ketika berputar, (b) waktu yang hilang untuk

membersihkan tanah yang melekat, pengaturan alat, serta (c) waktu untuk istirahat

(Hunt, 1970). Kapasitas kerja melakukan operasi tergantung pada; (a) tipe dan besar

mesin/alat, (b) keterampilan operator, (c) sumber tenaga yang tersedia, dan (d)

keadaan kerja (Moens, 1978).


11

4. Efisiensi Lapang

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa efisiensi lapang antara lahan

kering lebih rendah daripada lahan basah. Untuk lahan kering pada perlakuan

kecepatan pertama lebih rendah dibandingkan dengan kecepatan kedua dan ketiga,

begitupun dengan lahan basah. Semakin tinggi kecepatan kerja traktor maka juga

semakin tinggi efisiensi kerjanya dan sebaliknya.

Efisiensi pengolahan tanah ini dipengaruhi oleh kecepatan kerja dan waktu

pengolahan yaitu lamanya waktu yang terpakai saat pengolahan yaitu waktu hilang

karena pengisian bahan bakar, slip pada roda, perputaran traktor serta keahlian

operator itu sendiri, dan lain-lainnya.

5. Slip Roda

Pengujian slip roda pada tiga perlakuan kecepatan kerja di lahan kering dan

lahan basah dengan alat pengolah tanah singkal dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Slip Roda Traktor


Perlakuan Kecepatan Slip Roda (%)
Kerja
Lahan Kering Lahan Basah
V1 14,10 17,37
V2 14,28 20,40
V3 18,14 22,15

Hasil pengujian diatas ternyata slip roda pada tiga perlakuan kecepatan kerja

di lahan basah lebih tinggi daripada di lahan kering. Setiap perlakuan kecepatan kerja

(V1, V2, V3) baik pada lahan kering maupun pada lahan basah mengalami peningkatan.

Besarnya persentase slip roda pada lahan basah disebabkan oleh keadaan jenuh air
12

yang menjadikan permukaan tanah licin sehingga daya tumpu roda berkurang.

Terjadinya slip roda kemungkinan disebabkan karena konstruksi atau bentuk dari

roda dan bajak itu sendiri serta tekstur tanah yang terlalu liat dan kandungan air dari

tanah maka slip roda akan semakin kecil dan sebaliknya.

Untuk ukuran petakan yang kecil baik pada lahan kering maupun lahan basah

yaitu 25 m2 disebabkan topografi wilayah (Kayu Jao BT. Barus Gunung Talang-

Solok) yang berbukit-bukit dan kondisi lahan agak keras dan banyak batu. Umumnya

lahan petani berukuran kecil.

6. Konsumsi Bahan Bakar

Hasil perhitungan dan uji pemakaian bahan bakar dari traktor dengan tiga

kecepatan kerja dengan alat pengolah tanah singkal di lahan kering dan lahan basah

dapat dilihat pada Gambar 1.


Komsumsi Bahan Bakar

2,8

2,1
(ltr/jam)

1,4

0,7

0
0 0,31 0,62 0,93 1,24
Pe rlakuan Ke ce patan Ke rja (m/dt)
Lahan Kering Lahan Basah

Gambar 1. Grafik Konsumsi Bahan Bakar di Lahan Kering


dan Lahan basah
Dari Gambar 1 tersebut tampak bahwa hasil pemakaian bahan bakar yang

terbesar yaitu pada lahan basah dibandingkan dengan lahan kering. Untuk lahan
13

kering dan lahan basah pemakaian bahan bakar terus meningkat dari perlakuan

kecepatan pertama sampai kecepatan ketiga. Hal ini disebabkan semakin cepat atau

tinggi kecepatan kerja maka semakin banyak konsumsi bahan bakarnya.

Pada pemakaian bahan bakar di lahan basah disebabkan karena lamanya

waktu pembajakan sehingga volume dari bahan bakar yang dibutuhkan menjadi lebih

tinggi, dan besarnya tahanan terhadap tenaga penarik dibandingkan dengan lahan

kering.

Untuk mengetahui kemampuan daya mekanis dari traktor dalam mengolah

tanah berdasarkan debit bahan bakar diatas, maka perlu diketahui daya kimia dari

traktor, yang disajikan pada Gambar 2.


Daya Mekanis Traktor

10

7,5
(HP)

2,5

0
0 0,31 0,62 0,93 1,24
Ke ce patan Ke rja (m/dtk)

Lahan Kering Lahan Basah

Gambar 2. Grafik Daya Mekanis Traktor di Lahan Kering


dan Lahan Basah

Dari Gambar 2 tersebut dapat diketahui bahwa kebutuhan daya kimia dan

daya mekanis di lahan basah lebih tinggi daripada lahan kering. Untuk lahan kering
14

dan lahan basah, daya kimia dan daya mekanis mengalami peningkatan seiring

dengan perlakuan kecepatan kerja. Semakin tinggi kecepatan kerja maka akan

semakin tinggi pula daya kimia dan daya mekanisnya. Daya kimia lahan basah lebih

tinggi dari lahan kering, hal ini disebabkan oleh karena besarnya tenaga yang

dikeluarkan pada saat mengolah lahan basah sehingga debit bahan bakarnya yang

terpakai menjadi besar. Semakin besar daya mekanis traktor dalam mengolah tanah

maka makin besar atau berat kerja dari traktor tersebut.

7. Daya untuk Pengolahan Tanah

Hasil perhitungan dan uji daya untuk pengolahan tanah pada tiga kecepatan

kerja di lahan kering dan lahan basah dengan bajak singkal yang ditarik traktor tangan

disajikan pada Gambar 3.


Daya PengolahanTanah

2500
2000
(Watt)

1500
1000
500
0
0 0,31 0,62 0,93 1,24
Ke ce patan Ke rja (m/dtk)

Lahan Kering Lahan Basah

Gambar 3. Grafik Daya untuk Pengolahan Tanah di Lahan Kering


dan Lahan Basah
Dari Gambar 3 tersebut tampak bahwa daya untuk pengolahan tanah yang

terbesar yaitu pada lahan kering dibandingkan dengan lahan basah. Untuk setiap
15

perlakuan kecepatan kerja yang meningkat dari V1 hingga V3 maka daya untuk

pengolahan tanah juga akan meningkat baik pada lahan basah maupun pada lahan

kering. Hal ini disebabkan oleh kecepatan kerja di lahan kering lebih tinggi daripada

di lahan basah.

Untuk mengetahui daya pengolahan tanah maka perlu diketahui draft spesifik

tanah dan indeks kerucut (cone index) yang diukur dengan penetrometer. Grafik draft

spesifik tanah hasil pengukuran di lahan kering disajikan pada Gambar 4, sedangkan

di lahan basah disajikan pada Gambar 5.

Tanah 1,2

0,8
(kg/cm2)

0,4
Draft Spesifik

0
0,72 1,02 1,4

Kecepatan Kerja (m/dtk)


Sebelum Pengolahan Setelah Pengolahan

Gambar 4. Grafik Draft Spesifik Tanah di Lahan Kering

Dari Gambar 4 dan 5 dapat dilihat bahwa draft spesifik di lahan kering lebih

rendah daripada lahan basah. Draft spesifik akan rendah sebelum diolah dan

mengalami peningkatan setelah diolah. Semakin tinggi kecepatan kerja maka draft
16

spesifik yang dihasilkan semakin tinggi pula. Nilai draft pembajakan yang terbesar

adalah pada lahan basah dibandingkan dengan lahan kering karena adanya

pelumpuran.

Tanah 1,8

1,2
(kg/cm2)
0,6
Draft Spesifik

0
0,63 0,71 1,17
Kecepatan Kerja (m/dtk)
Sebelum Pengolahan Setelah Pengolahan

Gambar 5. Grafik Draft Spesifik Tanah di Lahan Basah

Draft spesifik pembajakan dengan bajak singkal sangat dipengaruhi oleh

kandungan liat tanah olahan. Ada kecenderungan bahwa semakin tinggi kandungan

liat maka draft spesifik akan bertambah pula. Hal ini didukung oleh pendapat Amri

(1993), yang menyatakan bahwa sifat mekanis yang dimiliki oleh tanah, sifat daya

sangga tanah terhadap beban dinamis tanah dan cone index tanah menentukan

kebutuhan draft. Besarnya sifat mekanis tanah yang melawan gaya dari luar

bervariasi menurut kandungan liatnya.

Pada Gambar 6 diperlihatkan nilai cone index tanah di lahan kering. Dari

Gambar 6 tersebut dapat dilihat bahwa cone index di lahan kering sebelum
17

pengolahan lebih tinggi dibandingkan setelah pengolahan baik pada V1 sampai V3.

Hal yang sama juga terjadi pada lahan basah, bahwa kepadatan tanah akan tinggi

sebelum diolah dan akan mengalami penurunan setelah diolah. Secara keseluruhan

dapat diketahui bahwa cone index di lahan basah lebih rendah dibandingkan lahan

kering. Hal ini disebabkan lahan basah lebih lunak sehinga daya tekan menjadi kecil

dibandingkan dengan lahan kering. Grafik cone index di lahan basah disajikan pada

Gambar 7.

(kg/cm2) 3
2.5 Gambar 6. Grafik Cone Index di Lahan Kering
2
Cone Index 1.5
1
0.5
0
3
Cone Index (kg/cm2)

0.72 1.02 1.4


2,5
2 Kecepatan Kerja (m/dtk)
Sebelum Pengolahan Setelah Pengolahan
1,5
1
0,5
0
0,63 0,71 1,17
Kecepatan Kerja (m/dtk)
Sebelum Pengolahan Setelah Pengolahan
Gambar 7. Grafik Cone Index di Lahan Basah

8. Kedalaman Pengolahan Tanah

Pada pengamatan kedalaman pengolahan tanah, yang diamati adalah

dalamnya hasil olahan atau pembajakan dari alat pengolah tanah. Hasil pengukuran
18

kedalaman pengolahan tanah diperoleh nilai kisaran (14,4 – 15,9) cm untuk lahan

basah, dan (13,5 – 14,8) cm untuk lahan kering.

9. Hasil Pengukuran Berat Volume Tanah

Hasil pengamatan dan pengukuran berat volume tanah pada tiga perlakuan

kecepatan kerja dengan alat bajak singkal pada lahan kering dan lahan basah,

berturut-turut disajikan pada Gambar 8 dan 9.

Dari Gambar 8 dan 9 diperoleh bahwa berat volume tanah di lahan kering

lebih tinggi daripada di lahan basah. Hal ini disebabkan karena lahan basah lebih

banyak mengandung air dan lumpur.

1
BV Tanah (g/cm3)

0,95
0,9
0,85
0,8
0,75
0,72 1,02 1,4
Kecepatan Kerja (m/dtk)
Sebelum Pengolahan Setelah Pengolahan

Gambar 8. Grafik Berat Volume Tanah di Lahan Kering

0,9
BV Tanah (g/cm3)

0,85
0,8
0,75
0,7
0,65
0,63 0,71 1,17
Kecepatan Kerja (m/dtk)

Sebelum Pengolahan Setelah Pengolahan


19

Gambar 9. Grafik Berat Volume Tanah di Lahan Basah

10. Kadar Air Tanah dan Tekstur Tanah

Hasil pengukuran kadar air pada lahan kering sebelum pengolahan tanah pada

kisaran ( 34,6-44,2 ) %, sedangkan setelah pengolahan tanah pada kisaran (34,5

-43,6 ) %; sedangkan pada lahan basah, sebelum pengolahan tanah mempunyai kadar

air (67,8 -79,8 ) %, dan setelah pengolahan tanah mempunyai kadar air pada kisaran

(66,7 -78,6 ) %.

Tekstur tanah pada lahan kering dan lahan basah adalah liat berpasir dengan

persentase fraksi tanah 47,53 % pasir, 7,41 % debu dan 45,06 % liat. Berdasarkan

hasil tekstur ternyata persentase pasir tidak bebeda nyata dengan persentase liat,

dengan kandungan pasir sebesar 47,53 %, liat 45,06 % dan debu 7,41 %. Tanah-

tanah bertekstur liat disebabkan karena tanahnya lebih halus maka setiap satuan berat

mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan

menyediakan unsur hara menjadi tinggi.

Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) proses pengolahan

tanah dengan tiga kecepatan kerja di lahan kering dan lahan basah mempunyai
20

kecepatan aktual yang berbeda, yaitu bahwa kecepatan traktor pada lahan basah lebih

lambat daripada kecepatan traktor di lahan kering, (b) kondisi tergenang pada

pengolahan tanah basah menyebabkan timbulnya gejala plastis terhadap tanah

sehingga apabila roda meneruskan gaya-gaya pada permukaan tanah maka cenderung

terjadinya slip yang besar, (c) pemakaian traktor di lahan basah dan lahan kering akan

mempengaruhi kapasitas kerja efektif, untuk lahan kering traktor mampu mengolah

0,029 ha/jam, 0,038 ha/jam dan 0,059 ha/jam, sedangkan pada lahan basah

mempunyai kapasitas kerja efektif 0,027 ha/jam, 0,033 ha/jam dan 0,058 ha/jam, (d)

semakin tinggi kecepatan kerja maka semakin banyak konsumsi bahan bakarnya,

untuk lahan kering adalah 0,672 l/jam, 1,216 l/jam dan 2,384 l/jam, dan lahan basah

adalah 0,71 l/jam, 1,267 l/jam dan 2,482 l/jam, dan (e) semakin besar konsumsi

bahan bakar suatu motor bakar, maka semakin besar pula nilai daya mekanis traktor

untuk pengolahan tanah. Daya mekanis traktor pada tiga kecepatan kerja di lahan

kering adalah 2,6 HP, 4,71 HP, dan 9,24 HP dan di lahan basah adalah 2,75 HP, 4,91

HP, dan 9,56 HP.

Daftar Pustaka

Amri, F. 1993. Studi Pengaruh Tingkat Kandungan Air Tanah terhadap Kebutuhan
Draft Spesifik pada Pengolahan Tanah dengan Bajak Singkal. Fakultas
Pertanian. Universitas Andalas. Padang.

Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Indonesia. Jakarta.

Hardjosoediro, Soekarmanto. 1983. Mekanisasi Pertanian. Kerjasama Badan


Pendidikan, Latihan, dan Penyuluhan Pertanian (BPLPP) dengan Japan
Cooperation Agensi (JICA). Jakarta.

Kepner, R.A., R. Bainer and E. L. Barger. 1980. Principles of Farm Machinery.


Third. Avi Publishing Company. USA.
21

Purwadi, Tri. 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani (Alih bahasa dari : Farm
Machinery and Equipment, by Smith, H.P. and L. H. Wilkes. Sixth Edition, Mc
Graw-Hill, Inc.), Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Santosa. 1993. Interaksi Tanah dan Alat Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas
Andalas. Padang.

Santosa. 2005a. Aplikasi Visual Basic 6.0 dan Visual Studio.Net 2003 Dalam
Bidang Teknik dan Pertanian. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Santosa. 2005b. Metodologi Penelitian. Fakultas Pertanian Universitas Andalas.


Padang.

Tarmana, R. Dadang. 1989. Pengolahan Tanah dengan Traktor. Pusat


Pengembangan Teknologi Enjiniring Pertanian Tepat Guna & JICA.
Departemen Pertanian. Jakarta.

Catatan :
Makalah ini telah dimuat pada jurnal :
Santosa, Andasuryani, dan V. Veronica. 2005 . Kinerja Traktor Tangan untuk
Pengolahan Tanah. Jurnal Akademika. Volume 9 No. 2 : Oktober 2005 , hal. 1 – 7.