Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN Rinitis adalah masalah klinis yang paling umum terjadi di seluruh dunia.

Rinitis dapat didefinisikan sebagai inflamasi pada membran mukosa hidung yang dapat disebabkan oleh beberapa proses patologis yang berbeda. Rinitis ditandai dengan adanya hidung tersumbat, rinorea, bersin, gatal hidung, post nasal drip (PND), ataupun kombinasi dari gejala-gejala tersebut. Rinitis memiliki konstribusi terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk asma dan rinosinusitis. Rinitis dibagi menjadi dua, rinitis alergi dan non alergi. Yang paling sering terjadi adalah rinitis alergi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Hidung Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1) pangkal hidung (bridge), 2) dorsum nasi, 3) puncak hidung, 4) ala nasi, 5) kolumela, 6) lubang hidung (nares anterior) Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari 1) tulang hidung (os nasalis), 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga kartilago ala mayor, 3) beberapa pasang kartilago alar minor dan 4) tepi anterior kartilago septum Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anterior disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise.

Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding : dinding medial, lateral, inferior dan superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah 1) lamina perpendikularis os etmoid, 2) vomer, 3) krista nasalis os maksila dan 4) krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalah 1) kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan 2) kolumela Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan di luarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan dibelakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung. Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media, lebih kecil lagi konka superior, sedangkan yang terkecil adalah konka suprema. Konka suprema ini biasanya rudimeter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superor dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat meatus yang terdiri dari meatus inferior, medius dan superior. Meatus inferior terletak diantara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara duktus nasolakrimalis. Meatus medius terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga hidung yang merupakan muara sinus frontal, sinus maksila, dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior dibentuk olah lamina kribriformis, yang

memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. Lamina kribiformis merupakan lempeng tulang yang berasal dari os etmoid<tulang ini berlubanglubang tempat masuknya serabut syaraf olfaktorius. Dibagian posterior atap rongga hidung dibentuk oleh os sfenoid.

KOMPLEKS OSTEOMEATAL (KOM) Kompleks osteomeatal (KOM) merupakan celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi yang penting yang membentuk KOM adalah prosesus uncinatus, infundilbulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, ager nasi dan resesus frontal. KOM merupakan unit fungsional yang merupakan tempat ventilasi dan drainase dari sinus-sinus yang letaknya di anterior yaitu sinus maxila, etmoid anterior dan frontal. Jika terjadi obstruksi pada celah yang sempit ini, maka akan terjadi perubahan patologis yang signifikan pada sinus-sinus yang terkait.

PERDARAHAN HIDUNG Bagian atas rongga hidung mendapat vascularisasi dari a. etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang a. oftalmika cabang dari a. karotis interna. Bagian bawah rongga hidung mendapat perdarahan dari cabang a. maksilaris interna, diantaranya ialah ukung a. palatina mayor dan a. sfenopalatina yang keluar melalui foramen sfenopalatina bersama n. sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung poterior konka media. Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari a. fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anstomosis dari cabang-cabang a. sfenopalatina, a. etmoid anterior, a. labialis superior dan a. palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach (Littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya superficial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis, terutama pada anak.

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sma dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v. oftalmika yang berhubungan dengan sinus cavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katub, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.

FISIOLOGI HIDUNG Berdasarkan teoru struktural, teori evolusioner dan teori fungsional, fungsi fisiologis hidung dan paranasal adalah: 1. Fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal 2. Fungsi penghidu karena terdapatnya mukosa olfaktorius dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu 3. Fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses bicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang. 4. Fungsi statik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung panas 5. Reflaks nasal FUNGSI RESPIRASI Udara inspirasi masuk ke hidung menuju sistem respirasi melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring. Aliran udara di hidung ini berbentuk lengkungan atau arcus. Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, sehingga terjadi sedikit penguapan

udara inspirasi oleh palut lendir, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. Suhu udara melalui hidung diatur sehingga berkisar 370C. Fungsi pengatur suhu ini dimungkinkan oleh banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Partikel debu, virus, bakteri dan jamur yang terhirup bersama udara akan disaring di hidung oleh a) rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi, b) silia, c) palut lendir. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. FUNGSI PENGHIDU Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dan pengecap dengan adanya mukosa olafaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat. Fungsi hidung untuk membantu indra pengecap adalah untuk membedakan rasa manis yang berasal dari berbagai macam bahan, seperti perbedaan rasa manis strawberi, jeruk, pidang dan coklat. Juga untuk membedakan rasa asam yang berasal dari asam cuka dan asam jawa. FUNGSI FONETIK Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau (rinolalia) Hidung membantu proses pembentukan kata-kata. Kata dibentuk oleh lidah, bibir dan palatum mole. Pada pembentukan konsonan nasal (m,n,ng) rongga mulut tertutup dan hidung terbuka, palatum mole turun utnuk aliran udara.

REFLEKS NASAL Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan reflaks bersin dan nafas berhenti. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi liur, lambung dan pankreas. Rhinitis adalah suatu inflamasi (peradangan) pada membran mukosa di hidung.(Dipiro, 2005). Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung.(Dorland, 2002). Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor. Yang termasuk dalam rinitis kronis adalah rinitis hipertrofi, rinitis sika dan rinitis spesifik. Meskipun penyebabnya bukan radang, rinitis vasomotor dan rinitis medikamentosa juga dimasukkan dalam rinitis kronis. HISTOLOGI HIDUNG Epitel organ pernafasan yang biasa berupa toraks bersilia, bertingkat palsu, berbeda-beda pada berbagai bagian hidung, bergantung pada tekanan dan kecepatan aliran udara, demikian pula suhu, dan derajat kelembaban udara. Mukoa pada ujung anterior konka dan septum sedikit melampaui internum masih dilapisi oleh epitel berlapis torak tanpa silia, lanjutan dari epitel kulit vestibulum. Sepanjang jalur utama arus inspirasi epitel menjadi toraks bersilia pendek dan agak ireguler. Sel-sel meatus media dan inferior yang terutama menangani arus ekspirasi memiliki silia yang panjang dan tersusun rapi. Lamina propria dan kelenjar mukosa tipis pada daerah dimana aliran udara lambat atau lemah. Jumlah kelenjar penghasil secret dan sel goblet, yaitu sumber dari mucus, sebanding dengan ketebalan lamina propria.

Terdapat dua jenis kelenjar mukosa pada hidung, yakni kelenjar mukosa respiratori dan olfaktori. Mukosa respiratori berwarna merah muda sedangkan mukosa olfaktori berwarna kuning kecoklatan. Silia, struktur mirip rambut, panjangnya sekitar 5-7 mikron, terletak pada permukaan epitel dan bergerak serempak secara cepat ke arah aliran lapisan, kemudian membengkok dan kembali tegak secara lambat.

2.2 Rinitis Hipertrofi 2.2.1 Etiologi Rinitis hipertrofi dapat timbul akibat infeksi berulang dalam hidung dan sinus, atau sebagai lanjutan dari rinitis alergi dan vasomotor. 2.2.2 Gambaran Klinis Gejala utama adalah sumbatan hidung. Sekret biasanya banyak, mukopurulen dan sering ada keluhan nyeri kepala. Konka inferior hipertrofi, permukaannya berbenjol-benjol ditutupi oleh mukosa yang juga hipertrofi. 2.2.3 Terapi Pengobatan yang tepat adalah mengobati faktor penyebab timbulnya rinitis hipertrofi. Kauterisasi konka dengan zat kimia (nitras argenti atau asam trikloroasetat) atau dengan kauter listrik dan bila tidak menolong perlu dilakukan konkotomi. 2.3 Rinitis Sika 2.3.1 Etiologi Penyakit ini biasanya ditemukan pada orang tua dan pada orang yang bekerja di lingkungan yang berdebu, panas dan kering. Juga pada pasien dengan anemia, peminum alkohol, dan gizi buruk. 2.3.2 Gambaran Klinis Pada rinitis sika mukosa hidung kering, krusta biasanya sedikit atau tidak ada. Pasien mengeluh rasa iritasi atau rasa kering di hidung dan kadang kadang disertai epitaksis. 2.3.3 Terapi

Pengobatan tergantung penyebabnya. Dapat diberikan obat cuci hidung. 2.4 Rinitis Spesifik Yang termasuk ke dalam rinitis spesifik adalah: 2.4.1 Rinitis Difteri Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. 2.4.1.2 Gambaran klinis Gejala rinitis difteri akut adalah demam, toksemia, limfadenitis, paralisis, sekret hidung bercampur darah, ditemukan pseudomembran putih yang mudah berdarah, terdapat krusta coklat di nares dan kavum nasi. Sedangkan rinitis difteri kronik gejalanya lebih ringan. 2.4.1.3 Terapi Terapi rinitis difteri kronis adalah ADS (anti difteri serum), penisilin lokal dan intramuskuler.

2.4.1.1 Etiologi

2.4.2

Rinitis Atrofi Rhinitis Atrofi adalah satu penyakit infeksi hidung kronik dengan tanda

2.4.2.1 Definisi adanya atrofi progesif tulang dan mukosa konka. Secara klinis, mukosa hidung menghasilkan secret kental dan cepat mongering, sehingga terbentuk krusta berbau busuk. Sering mengenai masyarakat dengan tingkat social ekonomi lemah dan lingkungan buruk. Lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia pubertas. 2.4.2.2 Etiologi Belum jelas, beberapa hal yang dianggap sebagai penyebabnya seperti infeksi oleh kuman spesifik, yaitu spesies Klebsiella, yang sering Klebsiella ozanae, kemudian stafilokok, sreptokok, Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe, defisiensi vitamin A, sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit kolagen. Mungkin berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi.

10

2.4.2.3 Gambaran Klinis Rinitis atrofi ditandai dengan adanya atrofi progresif mukosa dan tulang hidung. Mukosa hidung menghasilkan sekret kental dan cepat mengering, sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk. Keluhan biasanya nafas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia), ingus kental berwarna hijau, ada krusta hijau, gangguan penghidu, sakit kepala dan hidung tersumbat. Pada pemeriksaan THT ditemukan rongga hidung sangat lapang, konka inferior dan media hipotrofi atau atrofi sekret purulen hijau dan krusta berwarna hijau. Pada Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan transiluminasi, fotosinus para nasal, pemeriksaan mikro organisme uji resistensi kuman, pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan Fe serum, dan serologi darah. Dari pemeriksaan histo patologi terlihat mukosa hidung menjadi tipis, silia hilang, metaplasia thoraks menjadi epitel kubik atau gepeng berlapis, kelenjar degenerasi dan atrofi, jumlahnya berkurang dan bentuknya mengecil. 2.4.2.4 Terapi Karena etiologinya belum diketahui maka belum ada pengobatan yang baku. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif dengan memberikan : a) antibiotika berspektrum luas sesuai uji resistensi kuman, dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600mg/1xsehari selama 12 minggu., b) obat cuci hidung agar bersih dari krusta dan bau busuk hilang Antara lain: 1) Betadin solution dalam 100ml air hangat. 2) Campuran : NaCl, NH4Cl, NaHCO3 aaa 9Aqua ad 300c, 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat. 3) Larutan garam dapur. 4) Campuran Na bikarbonat 28,4g, Na diborat 28,4g, NaCl 56,7g dicampur 280ml air hangat. Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-

11

kuat, air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut, dilakukan dua kali sehari. Cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3x sehari, kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat, pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali, cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. c) Obat tetes hidung, setelah krusta diangkat, diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa, oestradiol dalam minyak Arachis 10.000U/ml, kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1g+NaCl 30ml. diberikan ti ga kali sehari masing-masing tiga tetes. d) vitamin A 3x50.000 unit selama 2 minggu e) preparat Fe f) pengobatan sinusitis, bila terdapat sinusitis. g) Pengobatan operatif, jika dengan pengobatan konservatif tidak ada perbaikan. Teknik operasi antara lain operasi penutupan lubang hidung dengan implantasi atau dengan jabir osteoperiostal. Tindakan ini diharapkan akan mengurangi turbulensi udara dan pengeringan sekret, imflamasi mukosa berkurang sehingga mukosa kembali normal. Penutupan rongga hidung dapat dilakukan pada nares anterior atau pada koana selama 2 tahun. Untuk menutup koana dipakai flap palatum. Akhir-akhir ini bedah sinus endoskopik fungsional (BESF) sering dilakukan pada kasus rinitis atrofi. Dengan melakukan pengangkatan sekat-sekat tulang yang mengalami osteomielitis, diharapkan infeksi teradikasi, fungsi ventilasi dan darinase sinus kembali normal sehingga terjadi regenerasi mukosa. 2.4.3 Rinitis Sifilis Penyebab rinitis sifilis adalah kuman Treponema pallidum. 2.4.3.2 Gambaran klinis Gejala rinitis sifilis yang primer dan sekunder serupa dengan rinitis akut lainnya. Hanya pada rinitis sifilis terdapat bercak pada mukosa. Sedangkan pada rinitis sifilis tertier ditemukan gumma atau ulkus yang dapat mengakibatkan 2.4.3.1 Etiologi

12

perforasi septum. Sekret yang dihasilkan merupakan sekret mukopurulen yang berbau. 2.4.3.3 Terapi Sebagai pengobatan diberikan penisilin dan obat cuci hidung. 2.4.4 Rinitis Tuberkulosa Penyebab rinitis tuberkulosa adalah kuman Mycobacterium tuberculosis. 2.4.4.2 Gambaran Klinis Terdapat keluhan hidung tersumbat karena dihasilkannya sekret yang mukopurulen dan krusta. Tuberkulosis pada hidung dapat berbentuk noduler atau ulkus, jika mengenai tulang rawan septum dapat mengakibatkan perforasi. 2.4.4.3 Terapi Pengobatannya diberikan antituberkulosis dan obat cuci hidung. 2.4.5 Rinitis Lepra Rinitis lepra disebabkan oleh Mycobacterium leprae. 2.4.5.2 Gambaran Klinis Gangguan hidung terjadi pada 97% penderita lepra. Gejala yang timbul diantaranya adalah hidung tersumbat, gangguan bau, dan produksi sekret yang sangat infeksius Deformitas dapat terjadi karena adanya destruksi tulang dan kartilago hidung. 2.4.5.3 Terapi Pengobatan rinitis lepra adalah dengan pemberian dapson, rifampisin dan clofazimin selama beberapa tahun atau dapat pula seumur hidup. 2.4.6 Rinitis Jamur Penyebab rinitis jamur, diantaranya adalah Aspergillus yang menyebabkan aspergilosis, Rhizopus oryzae yang menyebabkan mukormikosis, dan Candida yang menyebabkan kandidiasis. 2.4.6.2 Gambaran Klinis 2.4.5.1 Etiologi 2.4.4.1 Etiologi

2.4.6.1 Etiologi

13

Pada aspergilosis yang khas adalah sekret mukopurulen yang berwarna hijau kecoklatan. Pada mukormikosis biasanya pasien datang dengan keluhan nyeri kepala, demam, oftalmoplegia interna dan eksterna, sinusitis paranasalis dan sekret hidung yang pekat, gelap, dan berdarah. 2.4.6.3 Terapi Untuk terapinya diberikan obat anti jamur, yaitu amfoterisin B dan obat cuci hidung. 2.5 Rinitis Vasomotor 2.5.1 Definisi Rhinitis vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. 2.5.2 Etiologi Seperti yang telah disebutkan bahwa rinitis vasomotor disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. Saraf otonom mukosa hidung berasal dari n. vidianus yang mngandung serat saraf simpatis dan parasimpatis. Rangsangan pada saraf parasimpatis menyebabkan dilatasi pembuluh darah dalam konka serta meningkatkan permeabilitas kapiler dan sekresi kelenjar. Rangsangan simpatis sebaliknya. Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi berbagai faktor yang berlangsung temporer seperti emosi, posisi tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani, dsb. Pada pasien rhinitis vasomotor, saraf parasimpatis cenderung lebih aktif. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor adalah : a) Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti ergotamine, chlorpromazine, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topical b) Faktor fisik : seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi dan bau yang merangsang c) Faktor endokrin seperti kehamilan, pubertas, pil KB, dan hipotioroidisme d) Faktor psikis seperti cemas dan tegang 2.5.3 Gambaran Klinis

14

Gejala dari rinitis vasomotor adalah . Hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan, tergantung pada posisi pasien., rinore yang mucus/serus, jarang disertai bersin dan gatal pada mata, gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena adanya perubahan suhu atau muncul gejala jika terpapar suhu yang ekstrim, udara lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya. Mukosa hidung edema, merah gelap, permukaan konka licin atau berbenjol, sekret mukoid. Berdasarkan gejala yang menonjol kelainan ini dibedakan dalam 2 golongan yaitu golongan obstruksi dan golongan rinore. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran klasik berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik), tetepai dapat pula pucat. Pada permukaan konka dapat licin atau berbenjol (tidak rata). Pada rongga hidung terdapat secret mukoid, biasanya sedikit. Akan tetapi pada golonga rinore secret yang ditemukan ialah serosa dan jumlah banyak. Pemeriksaan laboratorik untuk menyingkirkan rhinitis alergi yaitu kadang ditemukan eosinofil pada secret hidung tapi jumlah sedikit. Tes kulit untuk alergi negatif. 2.5.4 Terapi Pengobatan yang tepat untuk rinitis vasomotor adalah dengan menghindari penyebab, memberikan obat simtomatis (dekongestan oral, kauterisasi konka yang hipertrofi, kortikosteroid topikal), konkotomi konka inferior, neurektomi n. Vidianus. a) b) Menghindari penyebab Pengobatan simtomatis dengan dekongestan oral, diatermi,

kauterisasi konka yang hipertrofi dengan larutan AgNO3 25% atau triklorasetat pekat. Dapat juga diberikan kortikosteroid topical, seperti budesonid 2 x 1 dengan dosis sehari 100-200 mikrogram. Dosis dapat ditingkatkan sampat 400 mikrogram. Hasilnya dapat dilihat setelah pemakaian paling sedikit selama 2 minggu.

15

c) d)

Operasi dengan cara bedah-beku, elektrokauter atau konkotomi Neurektomi n. vidianus, yaitu dengan melakukan pemotongan

konka inferior pada n.vidianus, bila dengan cara diatas tidak memberikan hasil. Operasi ini dapat menimbulkan komplikasi seperti sinusitis, diplopia, buta, gangguan lakrimasi, neuralgia atau anestesis infraorbita, dan anestesis palatum. 2.6 Rinitis Medikamentosa 2.6.1 Etiologi Rinitis medikamentosa adalah kelainan hidung berupa gangguan respon normal vasomotor sebagai akibat pemakaian vasokontriktor topical dalam waktu lama dan berlebihan sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang menetap. Obat vasokonstriktor topikal dari golongan simpatomimetik akan menyebabkan siklus nasal terganggu dan dakan berfungsi kembali bila pemakaian dihentikan. Pemakaian vasokontriktor topical yang berulang dan waktu lama akan menyebabkan terjadinya fase dilatasi ulang (rebound dilatation) setelah vasokontriksi, sehingga timbul obstruksi. Bila pemakaian obat diteruskan maka akan terjadi dilatasi dan kongesti jaringan, perttambahan mukosa jaringan dan rangsangan sel-sel mukoid sehingga sumbatan akan menetap dan produksi sekret berlebihan. Selain vasokontriktor topikal, obat-obatan yang dapat menyebabkan edema mukosa diantaranya adalah asam salisilat, kontrasepsi oral, hydantoin, estrogen, fenotiazin, dan guanetidin. Sedangkan obat-obatan yang menyebabkan kekeringan pada mukosa hidung adalah atropin, beladona, kortikosteroid dan derivat katekolamin. Kerusakan yang terjadi pada mukosa hidung pada pemakaian obat tetes hidung dalam waktu lama adalah : Silia rusak Sel berubah ukuran Membrane basal menebal

16

2.6.2

Pembuluh darah melebar Stroma tampak edema Hipersekresi kelenjar mucus Lapisan submukosa menebal Lapisan periosteum menebal Gambaran Klinis Pada rhinitis medikamentosa terdapat gejala hidung tersumbat terus

menerus, berair, edema konka. Pada pemeriksaan tampak edema konka dengan secret hidung yang berlebihan. Apabila diuji dengan adrenalin, edema konka tidak berkurang/ 2.6.3 Terapi Pengobatan rinitis medikamentosa adalah dengan menghentikan obat tetes/semprot hidung, kortikosteroid secara tapering off sumbatan berulang. untuk mengatasi

17

BAB III KESIMPULAN Rinitis adalah masalah yang signifikan dalam kesehatan individu, dan timbul dengan gejala hidung tersumbat, rhinorrhea, gatal hidung. Rinitis berkaitan dengan berbagai penyakit antara lain rhinosinusitis, asma dan otitis media. Sangat penting untuk memeriksa gejala pada setiap pasien untuk menentukan patofisiologi yang terjadi dalam tiap rinitis dan untuk merencanakan pengobatan sehingga bisa memudahkan pemulihan dengan efek samping yang minimal. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor. Yang termasuk dalam rinitis kronis adalah rinitis hipertrofi, rinitis sika dan rinitis spesifik. Meskipun penyebabnya bukan radang, rinitis vasomotor dan rinitis medikamentosa juga dimasukkan dalam rinitis kronis. Secara keseluruhan, penatalaksanaan rinitis masih belum dimengerti dan jauh dari optimal. Macam-macam gejala yang timbul dapat membantu dalam menentukan penatalaksanaan yang tepat. Untuk itu, dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut untuk memperbaiki keadaan ini.

18

DAFTAR PUSTAKA 1. Soepardi E., Iskandar N. Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke lima. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2004. 2. Adams G., Boies L., Higler P. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke enam. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 1997. 3. Newlands, Shawn D. Bailey, Biron J. et al.. Textbook of Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 3rd edition. Volume 1. Lippincot: Williams & Wilkins. Philadelphia. 273-9. 2000. 4. Mygind, Niehls. Nacleria, Robert M. Alergic and Nonallergic Rhinitis, Clinical Aspecst. 1st Edition. Munksgaard. Copenhagen. 159-165. 1993. 5. Sumarman, Iwin. Patogenesis, Komplikasi, Pengobatan dan Pencegahan Rinitis Alergis, Tinjauan Aspek Biomolekuler. Bandung : FK UNPAD. 117. 2000. 6. Mansjoer, Arif dkk.. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Pertama. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 106-108. 2001.

19