Anda di halaman 1dari 18

7 (tujuh) Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) Menurut Permenkes 1501 Tahun 2010 adalah :

y y y y

Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu daerah Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut jenis penyakitnya Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah per bulan dalam tahun sebelumnya Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu) kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama

Posted by yaszero at 10:41 PM Email This BlogThis! LAPORAN HASIL PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH DENGUE DI KELURAHAN ALLEPOLEA, KECAMATAN LAU, KABUPATEN MAROS 11 MARET 2010 Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan salah satu penyakit menular yang potensial menimbulkan kejadian luar biasa/wabah. Sejak pertama ditemukan penyakit DBD di Indonesia pada tahun 1968, jumlah kasus cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas, sehingga kejadian luar biasa (KLB)/wabah masih sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia. DBD disebabkan oleh virus dengue yg ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang hidup di dalam dan di sekitar rumah, sehingga penularannya terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penular tersebut. Berdasarkan Laporan W1 KLB/Wabah oleh Puskesmas Barandasi tanggal 11 Maret 2010 bahwa telah ditemukan kematian karena menderita DBD sebanyak 1 orang dan di Kelurahan Allepolea, maka telah dilakukan Penyelidikan Epidemiologi dan penanggulangan seperlunya oleh tim penyelidikan KLB DBD Dinas Kesehatan Kab. Maros bersama tim dari petugas puskesmas Barandasi. Tujuan

1. Mengetahui kebenaran kasus KLB DBD yg dilaporkan dan luasnya penyebaran 2. Mengetahui kemungkinan kecenderungan terjadinya penyebarluasan penyakit DBD di lokasi 3. Melakukan gambaran situasi penyakit dan saran alternatif pencegahan 4. Melakukan penanggulangan DBD di lokasi

Kondisi Geografi dan Demografi

Kel. Allepolea merupakan salah satu kelurahan di Kec. Lau, Kab. Maros sekitar 2 km dari pusat kab. Maros. Wilayahnya terdiri atas dataran dengan persawahan dan pemukiman penduduk. Jumlah penduduk Kecamatan Lau kurang lebih 23.000 jiwa dengan luas wilayah 53,76 km2 Sarana Kesehatan Terdapat 1 puskesmas yaitu puskesmas Barandasi, 1 pustu, dan 20 posyandu Hasil Kegiatan Berdasarkan informasi dari petugas surveilans puskesmas Barandasi, ditemukan hal-hal sbb
y y

Terdapat 1 (satu) kematian akibat DBD di lingkungan Pamelakang Jene, kelurahan Allepolea, Kec. Lau Nama penderita adalah SHR, umur 2 tahun, jenis kelamin perempuan, Berat badan 8 kg, Anak ke-5 dari 5 bersaudara, anak dari pasangan UMR (37 thn, Security) dan LTG (36 thn, IRT)

- Timeline kasus

Analisis Situasi Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang hidup di dalam dan di sekitar rumah/bangunan. Nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit darah orang yang :
y

Sakit DBD

y y

Tidak sakit DBD tetapi dalam darahnya terdapat virus dengue Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus itu akan dipindahkan bersama air liur nyamuk

Dari kegiatan pelacakan epidemiologi di kelurahan Allepolea, kondisi pemukiman yang tidak layak huni menjadi penyebab mudahnya penyebaran nyamuk Aedes aegypti. Lingkungan perumahan tergenang air dan sangat kotor. Berdasarkan hasil pelacakan tidak ditemukan adanya penderita tambahan di sekitar lokasi rumah penderita, namun 1 orang penderita meninggal dunia sehingga CFR 100% . Populasi berisiko adalah penduduk sekitar rumah penderita yang padat penghuni dan lingkungan yang kotor dan tergenang. Angka bebas jentik tidak diketahui karena tidak ada petugas jumantik di lokasi kejadian. Namun walaupun kemudian ternyata tingkat kepadatan nyamuk Aedes aegypti renah, apabila nyamuk dan jentik tidak dibasmi maka setiap hari akan muncul nyamuk yang baru menetas dari tempat perkembangbiakannya dan menularkan virus dengue ke orang sehat di sekitarnya.

Penanggulangan yang Telah Dilaksanakan


y y y

Fogging fokus Penyuluhan dari rumah ke rumah Pembagian bubuk abate dan kaporit

Kesimpulan 1. Telah terjadi KLB DBD di Kel. Allepolea Kec. Lau Kab. Maros pada tanggal 11 Maret 2010 2. Ditemukan 1 orang penderita DBD dengan kematian 1 orang, CFR 100% 3. Penderita adalah perempuan, usia 2 tahun 4. Faktor risiko adalah penduduk yang tinggal di sekitar rumah penderita beradius 100 m dan pemukiman yang tergenang dan kotor Saran
y y

y y

Frekuensi penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit DBD perlu ditingkatkan antara lain mengenai 3M plus Untuk menghindari atau mengurangi gigitan nyamuk DBD maka disarankan tidur dalam kelambu, mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk, menggunakan obat nyamuk bakar atau menyemprot dengan obat nyamuk, Membersihkan lingkungan sekitar agar pemukiman tidak kotor dan tergenang Perlu adanya kerjasama lintas sektor, lintas program, dan masyarakat dalam program pemberantasan penyakit DBD

Sistem Surveilans DBD di Puskesmas Sudiang perlu ditingkatkan dan pelaksanaan system kewaspadaan dini (SKD) terutama dalam analisa data pra KLB

Penyelidikan epidemiologi dan surveilans dalam rangka penanggulangan KLB/Wabah


Penyelidikan epidemiologi dan surveilans dalam rangka penanggulangan KLB/Wabah---

Penyelidikan epidemiologi dilaksanakan sesuai dengan perkembangan penyakit dan kebutuhan upaya penanggulangan wabah. Tujuan penyelidikan epidemiologi adalah :

1. Mengetahui gambaran epidemiologi wabah 2. Mengetahui kelompok masyarakat yang yang terancam penyakit wabah 3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit wabah termasuk sumber dan cara penularan penyakitnya 4. Menentukan cara penanggulangan wabah

Penyelidikan epidemiologi dilaksanakan sesuai dengan tatacara penyelidikan epidemiologi untuk mendukung upaya penanggulangan wabah, termasuk tata cara bagi petugas penyelidikan epidemiologi agar terhindar dari penularan penyakit wabah. Surveilans di daerah wabah dan daerah-daerah yang berisiko terjadi wabah dilaksanakan lebih intensif untuk mengetahui perkembangan penyakit menurut waktu dan tempat dan dimanfaatkan untuk mendukung upaya penanggulangan yang sedang dilaksanakan, meliputi kegiatan-kegiatan : 1. Menghimpun data kasus baru pada kunjungan berobat di pos-pos kesehatan dan unit-unitr kesehatan lainnya, membuat tabel, grafik, dan pemetaan dan melakukan analisis kecenderungan wabah dari waktu ke waktu dan analisis data menurut tempat RT, RW, desa dan kelompok-kelompok masyarakat tertentu lainnya. 2. Mengadakan pertemuan berkala petugas lapangan dengan kepala desa, kader dan masyarakat untuk membahas perkembangan penyakit dan hasil upaya penanggulangan wabah yang telah dilaksanakan. 3. Memanfaatkan hasil surveilans tersebut dalam upaya penanggulangan wabah.

Hasil penyelidikan epidemiologi dan surveilans secara teratur disampaikan kepada kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, kepala dinas kesehatan provinsi dan menteri up. Direktur Jenderal sebagai laporan perkembangan penanggulangan wabah.
Referensi : Permenkes No. 1501 Tahun 2010 Gambar : http://foto.vivanews.com/read/372-pemusnahan_wabah_flu_burung

Posted by yaszero at 7:14 AM 0 comments Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Google Buzz Labels: KLB, respon KLB, surveilans

Saturday, July 30, 2011


Definisi dan Respon KLB Malaria
Definisi dan Respon KLB Malaria---

Malaria Malaria adalah penyakit yang mempunyai gejala demam, menggigil, dan sakit kepala. Pemeriksaan sediaan darah terdapat parasit malaria (plasmodium). [1] Sistem Kewaspadaan Dini KLB Malaria Konfirmasi adalah Demam > 37,5C disertai mengigil, berkeringat, sakit kepala dengan RDT (Rapid Diagnostic Test) positif dan atau pemeriksaan Mikroskopis positif. Jika ada kasus suspek malaria, catat dan kirim ke dinkes kabupaten/kota, kemudia Ambil Spesimen (RDT atau Mikroskopis) sesuai SOP. Jika hasil positif, lakukan Respon KLB Respons Tatalaksanan Kasus:
y y y

Lakukan pengobatan menggunakan ACT (Artemicin Combination Theraphy) Pengobatan simptomatik Rujuk ke RS apabila diperlukan pengobatan lebih lanjut.

Respons Pelaporan:
y y

W1 Hasil pemeriksaan penunjang/lab

Respons Kesehatan Masyarakat:


y y

Penyelidikan Epidemiologi Melakukan pemberantasan vektor meliputi : Distribusi Kelambu berinsektisida, Penyemprotan rumah dengan insektisida, dan Larviciding.

y y

Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Mass Blood Survey (80% penduduk diperiksa darahnya)

[2]
Referensi : [1] Permenkes No. 1501 Tahun 2010 [2] Algoritma Diagnosis Penyakit dan Respons Serta Format Penyelidikan Epidemiologi

Posted by yaszero at 9:10 PM 3 comments Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Google Buzz Labels: Malaria, respon KLB

Definisi dan Respon KLB Rabies


Definisi dan Respon KLB Rabies---

Rabies Rabies mempunyai gejala patognomik takut air (hydrophobia), takut sinar matahari (photophobia), takut suara, dan takut udara (aerophobia). Gejala tersebut disertai dengan air mata berlebihan (hiperlakrimasi), air liur berlebihan (hipersalivasi), timbul kejang bila ada rangsangan, kemudian lumpuh dan terdapat tanda bekas gigitan hewan penular Rabies. [1] Sistem Kewaspadaan Dini KLB Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies adalah kasus gigitan hewan yang dapat menularkan rabies pada manusia (Anjing, Kucing, Tupai, Monyet, Kelelawar) atau Kasus dengan gejala Studium Prodromal (demam, mual, malaise/lemas), atau kasus dengan gejala Studium Sensoris (rasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka, cemas dan reaksi berlebihan terhadap ransangan sensorik). Jika ada Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies, lakukan Respon

Respons Tatalaksanan Kasus:


y y y

Lakukan pencucian dgn menggunakan sabun dgn air mengalir selama 10-15 menit Lakukan vaksinasi anti rabies segera setelah gigitan atau pemberian serum anti rabies tergantung lokasi dan tingkat resiko tinggi Obsevasi hewannya 10-14 hari untuk memastikan hewan rabies atau tidak. Jika hewannya mati maka kuat diduga hewan rabies

Respons Pelaporan:
y y

W1 Hasil pemeriksaan penunjang/lab

Respons Kesehatan Masyarakat:


y y y y y y

Penyelidikan Epidemiologi Koordinasi dengan Dinas Peternakan KIE (Komunikasi, Edukasi dan Informasi) Penyuluhan pentingnya vaksinasi hewan peliharaan. Memberikan vaksinasi pada hewan peliharaan. Mengkandangkan hewan peliharaan

[2]
Referensi : [1] Permenkes No. 1501 Tahun 2010 [2] Algoritma Diagnosis Penyakit dan Respons Serta Format Penyelidikan Epidemiologi

Posted by yaszero at 9:03 PM 0 comments Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Google Buzz Labels: Rabies, respon KLB

Definisi dan Respon KLB Pertusis


Definisi dan Respon KLB Pertusis---

Pertusis Pertusis adalah penyakit yang mempunyai gejala batuk beruntun biasanya pada malam hari dengan suara khas yang pada akhir batuk menarik nafas panjang dan terdengar suara hup (whoop). Pemeriksaan laboratorium pada apusan lendir tenggorok ditemukan kuman pertusis (Bordetella pertussis) . [1] Sistem Kewaspadaan Dini KLB Tersangka Pertusis adalah batuk lebih dari dua minggu disertai dengan batuk yang khas (terusmenerus/ paroxysmal), napas dengan bunyi whoop dan kadang muntah setelah batuk. Lakukan rujukan pemeriksaan apusan lendir tenggorok. Jika hasil positif, lakukan Respon KLB Respons Tatalaksanan Kasus:
y y

Lakukan pengobatan spesifik dengan antibiotic eritromicin terhadap penderita dan kontak dekat selama 5-14 hari Lakukan desinfeksi serentak terhadap discharge (cairan) hidung dan tenggorok serta barang yang dipakai penderita.

Respons Pelaporan:
y y

W1 Hasil pemeriksaan penunjang/lab

Respons Kesehatan Masyarakat:


y y y

Penyelidikan epidemiologi (format PE Umum) dan mencari kontak Lakukan karantina terhadap kontak yang tidak mendapatkan imunisasi DPT selama 21 hari dengan usia < 12 bulan. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya imunisasi DPT

[2]
Referensi : [1] Permenkes No. 1501 Tahun 2010 [2] Algoritma Diagnosis Penyakit dan Respons Serta Format Penyelidikan Epidemiologi

Posted by yaszero at 8:53 PM 0 comments Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Google Buzz Labels: Pertusis, respon KLB

Sunday, July 24, 2011


Definisi dan Respon KLB Polio
Definisi dan Respon KLB Polio---

Polio Polio mempunyai gejala demam disertai lumpuh layuh mendadak dan pada pemeriksaan tinja ditemukan virus polio. [1] Sistem Kewaspadaan Dini KLB Tersangka Polio atau AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) adalah Kasus lumpuh layuh mendadak, bukan disebabkan oleh ruda paksa/ trauma pada anak < 15 tahun. Apabila ditemukan penderita dengan gejala ini, catat dan kirim ke Dinkes Kab./Kota. Lakukan rujukan pemeriksaan tinja dan Respon KLB Respons Tatalaksanan Kasus:
y y

Pengawasan ketat penderita Lakukan kunjungan ulang 60 hari.

Respons Pelaporan:
y

W1

y y y

FP1 FPS Hasil pemeriksaan laboratorium

Respons Kesehatan Masyarakat:


y y y y y y y

Lakukan Penyelidikan Epidemiologi. Surveilans Intensif Perlindungan terhadap kontak Pengambilan specimen untuk diperiksa di Laboratorium rujukan nasional KIE kepada masyarakat agar segera melaporkan kasus AFP ke tempat pelayanan kesehatan KIE kepada masyarakat tentang pentingnya imunisasi polio Pemberian Imunisasi Polio Tambahan Mopping Up Polio apabila hasil laboratorium positif polio

[2]
Referensi : [1] Permenkes No. 1501 Tahun 2010 [2] Algoritma Diagnosis Penyakit dan Respons Serta Format Penyelidikan Epidemiologi

Posted by yaszero at 7:12 PM 0 comments Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Google Buzz Labels: Polio, respon KLB

Defenisi dan Respon KLB Difteri


Defenisi dan Respon KLB Difteri---

Difteri Difteri mempunyai gejala demam disertai adanya selaput tipis (pseudomembran) putih keabuabuan pada tenggorokan (laring, faring, tonsil) yang tak mudah lepas, tetapi mudah berdarah. Pada pemeriksaan usap tenggorok atau hidung terdapat kuman difteri. [1] Sistem Kewaspadaan Dini KLB Tersangka Difteri adalah panas >38C, sakit menelan, sesak napas disertai bunyi (stridor) dan ada tanda selaput putih keabu-abuan (pseudomembran) di tenggorokan dan pembesaran kelenjar leher. Apabila ditemukan penderita dengan gejala ini, catat dan kirim ke Dinkes Kab./Kota. Lakukan rujukan pemeriksaan usap nasofarings. Jika hasil positif, lakukan Respon KLB Respons Tatalaksanan Kasus:
y y

Pengobatan kasus Memutus rantai penularan

Respons Pelaporan:
y y

W1 Hasil pemeriksaan penunjang/lab

Respons Kesehatan Masyarakat:


y y y y y

Penyelidikan epidemiologi Penatalaksanaan Kontak untuk Pengambilan usap nasofarings dan profilaksis KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) ke masyarakat Upaya peningkatan cakupan imunisasi (<7 tahun DT dan >7 tahun dT) melalui sweeping Meningkatkan imunisasi DPT rutin.

[2]
Referensi : [1] Permenkes No. 1501 Tahun 2010 [2] Algoritma Diagnosis Penyakit dan Respons Serta Format Penyelidikan Epidemiologi

Posted by yaszero at 7:04 PM 0 comments Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Google Buzz Labels: Difteri, respon KLB

Defenisi dan Respon KLB DBD

Defenisi dan Respon KLB DBD---

Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue (DBD) mempunyai gejala demam tinggi mendadak 2-7 hari, disertai tanda-tanda perdarahan berupa bintik-bintik merah, mimisan, perdarahan pada gusi, muntah darah, berak darah. Pemeriksaan laboratorium dari sediaan darah hematokrit naik 20% dan trombosit <100.000/mm3 dan serologis positif. [1] Sistem Kewaspadaan Dini KLB Tersangka Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah Demam 2-7 hari ditandai dengan manifestasi perdarahan seperti uji tourniquet positif, ptekie, perdarahan pada gusi, dan epistaksis atau mimisan. Ambil Spesimen: - Periksa Darah Lengkap (Trombosit & Hematokrit), - Tes Serologi Jika hasil positif, Lakukan Respon KLB Respons Tatalaksanan Kasus:
y y

Beri minum yang banyak, kompres, antipiretik golongan parasetamol. Rujuk ke Rumah Sakit bila panas tidak turun dalam 2 hari atau keadaan tambah memburuk.

Respons Pelaporan:
y y

W1 Hasil pemeriksaan penunjang/lab

Respons Kesehatan Masyarakat:


y

Penyelidikan Epidemiologi

y y y y y

Surveilans intensif Ambil specimen dari sebagian kasus untuk konfirmasi Lab serologi Membentuk posko pengobatan di lapangan Melakukan pemberantasan vektor (PSN, Foging, Larvasidasi) KIE

[2]
Referensi : [1] Permenkes No. 1501 Tahun 2010 [2] Algoritma Diagnosis Penyakit dan Respons Serta Format Penyelidikan Epidemiologi

Posted by yaszero at 6:54 PM 0 comments Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Google Buzz Labels: dbd, respon KLB

Defenisi dan Respon KLB Campak


Defenisi dan Respon KLB Campak---

Campak Campak mempunyai gejala panas tinggi dengan bercak kemerahan (rash) di kulit disertai salah satu gejala batuk, pilek, dan mata merah (conjunctivitis) . [1] Sistem Kewaspadaan Dini KLB Tersangka Campak adalah Demam >38C selama 3 hari atau lebih disertai bercak kemerahan berbentuk makulopapular, batuk, pilek atau mata merah (konjungivitis). Apabila ditemukan

penderita dengan gejala ini, catat dan kirim ke Dinkes Kab./Kota Ambil Spesimen serum darah sesuai SOP dan kirim ke laboratorium rujukan (Litbangkes Jakarta, BLK Surabaya, Biofarma Bandung, BLK Yogyakarta) Jika hasil positif, Lakukan Respon KLB Respons Tatalaksanan Kasus:
y y

Lakukan pengobatan simtomatis untuk mengatasi komplikasi yang muncul seperti bronchopneumonia dan konjungtivitis Lakukan pemberian vitamin A dosis tinggi pada kasus sesuai dengan usia dan populasi balita beresiko sekitar lokasi KLB

Respons Pelaporan:
y y y

W1 C1 KLB Hasil pemeriksaan penunjang/laboratorium

Respons Kesehatan Masyarakat:


y y y y y y

Lakukan Penyelidikan Epidemiologi Lakukan Surveilans Intensif Lakukan pemberian vaksinasi pada anak-anak beresiko tinggi (Belum Vaksinasi campak) di lokasi sekitar KLB Lakukan surveilans intensif. Penyuluhan tentang pentingnya imunisasi dan GIZI pada bayi Pemberian makanan tambahan

[2]
Referensi : [1] Permenkes No. 1501 Tahun 2010 [2] Algoritma Diagnosis Penyakit dan Respons Serta Format Penyelidikan Epidemiologi

Posted by yaszero at 6:44 PM 0 comments Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Google Buzz Labels: Campak, respon KLB

Definisi dan Respon KLB Kolera


Definisi, SKD-KLB, dan Respon Kolera---

Kolera Kolera merupakan kejadian diare yang ditandai dengan buang air besar yang mengucur seperti cairan beras dan berbau khas sehingga dalam waktu singkat tubuh kehilangan cairan (dehidrasi). Pada pemeriksaan spesimen tinja ditemukan kuman kolera (Vibrio cholerae) dan atau dalam darah ditemukan zat antinya. [1] Tersangka Kolera adalah Diare dengan konsistensi seperti air cucian beras dan berbau amis. Apabila ditemukan Tersangka Kolera, catat dan kirim ke dinkes kabupaten/kota. Kemungkinan Etiologi: Vibrio Kolera. Jika ada tanda peringatan KLB, ambil specimen dengan media Carry-Blair. Jika hasil positif, Lakukan respons KLB. Respons Tatalaksanan Kasus:
y y y

Lakukan pengobatan terhadap pasien berupa tatalaksana pencegahan dehidrasi dan pemberian antibiotika secara selektif sesuai dengan etiologi. Rujuk pasien ke RS apabila diperlukan penanganan lebih lanjut, isolasi pasien di RS Spesimen: Pengambilan sample & kirim ke lab Provinsi

Respons Pelaporan:
y y y

Register Kirim laporan W1 ke Dinkes Kab/Kota. Laporan langsung ke DinKes Kab/Kota dan koordinasi dengan Dinkes Propinsi.

Respons Kesehatan Masyarakat:

y y y y

y y

Lakukan Penyelidikan Epidemiologi. Surveilans Intensif Menjamin tersedianya sumber air bersih Penyuluhan masyarakat tentang PHBS meliputi: Cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan; Membersihkan bahan makanan sebelum dimasak; Memasak makanan dan minuman sampai matang Memberikan desinfektan (Kaporisasi) pada sumber air diduga tercemar Hanya makan makanan yang segar

[2]