Anda di halaman 1dari 28

ETIKA BISNIS DALAM PENGEMBANGAN IPTEK1)

Dr. Made Antara, Ir., MS2) I. PENDAHULUAN 1.1. Permasalahan Etika dalam Bisnis Beberapa hari terakhir ada dua berita yang mempertanyakan apakah etika dan bisnis berasal dari dua dunia berlainan. Pertama, melubernya lumpur dan gas panas di Kabupaten Sidoarjo yang disebabkan eksploitasi gas PT Lapindo Brantas. Kedua, obat antinyamuk HIT yang diketahui memakai bahan pestisida berbahaya yang dilarang penggunaannya sejak tahun 2004. Dalam kasus Lapindo, bencana memaksa penduduk harus ke rumah sakit. Perusahaan pun terkesan lebih mengutamakan penyelamatan aset-asetnya daripada mengatasi soal lingkungan dan sosial yang ditimbulkan. Pada kasus HIT, meski perusahaan pembuat sudah meminta maaf dan berjanji akan menarik produknya, ada kesan permintaan maaf itu klise. Penarikan produk yang kandungannya bisa

menyebabkan kanker itu terkesan tidak sungguh-sungguh dilakukan. Produk berbahaya itu masih beredar di pasaran. Atas kasus-kasus itu, kedua perusahaan terkesan melarikan diri dari tanggung jawab. Sebelumnya, kita semua dikejutkan dengan pemakaian formalin pada pembuatan tahu dan pengawetan ikan laut serta pembuatan terasi dengan bahan yang sudah berbelatung. Dari kasus-kasus yang disebutkan sebelumnya, bagaimana perusahaan bersedia melakukan apa saja demi laba. Wajar bila ada kesimpulan, dalam bisnis, satu-satunya etika yang diperlukan hanya sikap baik dan sopan kepada pemegang saham. Harus diakui, kepentingan utama bisnis adalah menghasilkan keuntungan maksimal bagi shareholders. Fokus itu membuat perusahaan yang berpikiran pendek dengan segala cara berupaya melakukan hal-hal yang bisa meningkatkan keuntungan. Kompetisi semakin ketat dan konsumen yang kian rewel sering menjadi faktor pemicu perusahaan mengabaikan etika dalam berbisnis.
1) Makalah disajikan pada Workshop Etika Bisnis dalam Pemanfaatan Hasil Riset IPTEK, atas kerjasama Kementerian Negara Riset dan Teknologi dengan Universitas Warmadewa, Jumat 08 Juni 2007 di Denpasar-Bali. 2) Staf Pengajar pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UNUD dan Program Magister Agribisnis, Program Pascasarjana UNUD.

Namun, belakangan beberapa akademisi dan

praktisi bisnis

melihat

adanya hubungan sinergis antara etika dan laba. Menurut mereka, justru di era kompetisi yang ketat ini, reputasi baik merupakan sebuah competitive advantage yang sulit ditiru. Salah satu kasus yang sering dijadikan acuan adalah bagaimana Johnson & Johnson (J&J) menangani kasus keracunan Tylenol tahun 1982. Pada kasus itu, tujuh orang dinyatakan mati secara misterius setelah mengonsumsi Tylenol di Chicago. Setelah diselidiki, ternyata Tylenol itu mengandung racun sianida. Meski penyelidikan masih dilakukan guna mengetahui pihak yang bertanggung jawab, J&J segera menarik 31 juta botol Tylenol di pasaran dan mengumumkan agar konsumen berhenti mengonsumsi produk itu hingga pengumuman lebih lanjut. J&J bekerja sama dengan polisi, FBI, dan FDA (BPOM-nya Amerika Serikat) menyelidiki kasus itu. Hasilnya membuktikan, keracunan itu disebabkan oleh pihak lain yang memasukkan sianida ke botol-botol Tylenol. Biaya yang dikeluarkan J&J dalam kasus itu lebih dari 100 juta dollar AS. Namun, karena kesigapan dan tanggung jawab yang mereka tunjukkan, perusahaan itu berhasil membangun reputasi bagus yang masih dipercaya hingga kini. Begitu kasus itu diselesaikan, Tylenol dilempar kembali ke pasaran dengan penutup lebih aman dan produk itu segera kembali menjadi pemimpin pasar (market leader). Secara jangka panjang, filosofi J&J yang meletakkan keselamatan konsumen di atas kepentingan perusahaan berbuah keuntungan lebih besar kepada perusahaan. Doug Lennick dan Fred Kiel, 2005 (dalam Itpin, 2006)

penulis buku Moral Intelligence, berargumen, perusahaan-perusahaan yang memiliki pemimpin yang menerapkan standar etika dan moral yang tinggi terbukti lebih sukses dalam jangka panjang. Hal sama juga dikemukakan miliuner Jon M Huntsman, 2005 (dalam Itpin, 2006) dalam buku Winners Never Cheat. Dikatakan, kunci utama kesuksesan adalah reputasinya sebagai pengusaha yang memegang teguh integritas dan kepercayaan pihak lain. Berkaca pada beberapa contoh kasus itu, sudah saatnya kita merenungkan kembali cara pandang lama yang melihat etika dan bisnis sebagai dua hal berbeda. Memang beretika dalam bisnis tidak akan memberi keuntungan segera. Karena itu, para pengusaha dan praktisi bisnis harus belajar untuk berpikir jangka panjang. Peran masyarakat, terutama melalui pemerintah, badan-badan pengawasan, LSM,

media, dan konsumen yang kritis amat dibutuhkan untuk membantu meningkatkan etika bisnis berbagai perusahaan di Indonesia. Sebuah studi selama dua tahun yang dilakukan The Performance Group, sebuah konsorsium yang terdiri dari Volvo, Unilever, Monsanto, Imperial Chemical Industries, Deutsche Bank, Electrolux, dan Gerling, menemukan bahwa pengembangan produk yang ramah lingkungan dan peningkatan environmental compliance bisa menaikkan EPS (earning per share) perusahaan, mendongkrak profitability, dan menjamin kemudahan dalam mendapatkan kontrak atau persetujuan investasi. Di tahun 1999, jurnal Business and Society Review menulis bahwa 300 perusahaan besar yang terbukti melakukan komitmen dengan publik yang berlandaskan pada kode etik akan meningkatkan market value added sampai dua-tiga kali daripada perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa. Bukti lain, seperti riset yang dilakukan oleh DePaul University di tahun 1997, menemukan bahwa perusahaan yang merumuskan komitmen korporat mereka dalam menjalankan prinsip-prinsip etika memiliki kinerja finansial (berdasar penjualan tahunan/revenue) yang lebih bagus dari perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa (Iman, 2006).

1.2. Praktik Bisnis Masih Abaikan Etika Rukmana (2004) menilai praktik bisnis yang dijalankan selama ini masih cenderung mengabaikan etika, rasa keadilan dan kerapkali diwarnai praktikpraktik tidak terpuji atau moral hazard. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, diperlukan pemahaman dan implementasi etika bisnis bagi para pelaku bisnis, terutama etika bisnis yang sesuai dengan prinsip ekonomi syariah. Diakui, pemahaman para pelaku usaha terhadap ekonomi syariah selama ini masih cenderung pada sisi "emosional" saja dan terkadang mengenyampingkan konteks bisnis itu sendiri. Padahal segmen pasar dari ekonomi syariah cukup luas, baik itu untuk usaha perbankan maupun asuransi syariah. Dicontohkan, segmen pasar konvensional, meski tidak "mengenal" sistem syariah, namun potensinya cukup tinggi. Mengenai implementasi etika bisnis tersebut, Rukmana mengakui beberapa pelaku usaha memang sudah ada yang mampu menerapkan etika bisnis tersebut. Namun, karena pemahaman dari masing-masing pelaku usaha mengenai etika bisnis berbeda-beda selama ini, maka implementasinyapun berbeda pula,

Keberadaan etika dan moral pada diri seseorang atau sekelompok orang sangat tergantung pada kualitas sistem kemasyarakatan yang melingkupinya. Walaupun seseorang atau sekelompok orang dapat mencoba mengendalikan kualitas etika dan moral mereka, tetapi sebagai sebuah variabel yang sangat rentan terhadap pengaruh kualitas sistem kemasyarakatan, kualitas etika dan moral seseorang atau sekelompok orang sewaktu-waktu dapat berubah. Baswir (2004) berpendapat bahwa pembicaraan mengenai etika dan moral bisnis sesungguhnya tidak terlalu relevan bagi Indonesia. Jangankan masalah etika dan moral, masalah tertib hukum pun masih belum banyak mendapat perhatian. Sebaliknya, justru sangat lumrah di negeri ini untuk menyimpulkan bahwa berbisnis sama artinya dengan menyiasati hukum. Akibatnya, para pebisnis di Indonesia tidak dapat lagi membedakan antara batas wilayah etika dan moral dengan wilayah hukum. Wilayah etika dan moral adalah sebuah wilayah pertanggungjawaban pribadi. Sedangkan wilayah hukum adalah wilayah benar dan salah yang harus dipertanggungjawabkan di depan pengadilan. Tetapi memang itulah kesalahan kedua dalam memahami masalah etika dan moral di Indonesia. Pencampuradukan antara wilayah etika dan moral dengan wilayah hukum seringkali menyebabkan kebanyakan orang Indonesia tidak bisa membedakan antara perbuatan yang semata-mata tidak sejalan dengan kaidahkaidah etik dan moral, dengan perbuatan yang masuk kategori perbuatan melanggar hukum. Sebagai misal, sama sekali tidak dapat dibenarkan bila masalah korupsi masih didekati dari sudut etika dan moral. Karena masalah korupsi sudah jelas dasar hukumnya, maka masalah itu haruslah didekati secara hukum. Demikian halnya dengan masalah penggelapan pajak, pencemaran lingkungan, dan pelanggaran hak asasi manusia.

II. BERBISNIS DENGAN ETIKA 2.1. Epistemologi Etika Bisnis Jika menilik dari tema yang diberikan kepada penulis, di sana ada empat kata kunci, yaitu: etika, bisnis, dan (pengembangan) iptek, yang satu kata dengan kata lainnya harus dikaitkan, sehingga dapat memberi makna terhadap tema. Oleh karena itu sebelum mengkaitkan satu kata dengan kata lainnya, sebaiknya kita semua memahami arti dan makna masing-masing kata itu, sehingga akan diperoleh persepsi yang sama terhadap tema. Menurut Kamus Inggris Indonesia Oleh Echols and Shadily (1992: 219), Moral = moral, akhlak, susila (su=baik, sila=dasar, susila=dasar-dasar kebaikan); Moralitas = kesusilaan; Sedangkan Etik (Ethics) = etika, tata susila. Sedangkan secara etika (ethical) diartikan pantas, layak, beradab, susila. Jadi kata moral dan etika penggunaannya sering dipertukarkan dan disinonimkan, yang sebenarnya memiliki makna dan arti berbeda. Moral dilandasi oleh etika, sehingga orang yang memiliki bermoral pasti dilandasi oleh etika. Demikian pula perusahaan yang memiliki etika bisnis pasti manajernya dan segenap karyawan memiliki moral yang baik. Uno (2004) membedakan pengertian etika dengan etiket. Etiket (sopan santun) berasal dari bahasa Prancis etiquette yang berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama menusia. Sementara itu etika, berasal dari bahasa Latin, berarti falsafah moral dan merupakan cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila, dan agama. Jika kata etika dikaitkan dengan kata bisnis akan menjadi Etika Binis (business ethics). Steade et al (1984: 701) dalam bukunya Business, Its Natura and Environment An Introduction memberi batasan yakni, business ethics is ethical standards that concern both the ends and means of business decision making. Definisi etika bisnis menurut Business & Society - Ethics and Stakeholder Management (Caroll & Buchholtz, ?: dalam Iman, 2006): Ethics is the discipline that deals with what is good and bad and with moral duty and obligation. Ethics can also be regarded as a set of moral principles or values. Morality is a doctrine or system of moral conduct. Moral conduct refers to that which relates to principles of right and wrong in behavior. Business ethics, therefore, is concerned with good and bad or right and wrong behavior that takes

place within a business context. Concepts of right and wrong are increasingly being interpreted today to include the more difficult and subtle questions of fairness, justice, and equity. Sim (2003) dalam bukunya Ethics and Corporate Social Responsibility Why Giants Fall, menyebutkan: Ethics is a philosophical term derived from the Greek word ethos, meaning character or custom. This definition is germane to effective leadership in organizations in that it connotes an organization code conveying moral integrity and consistent values in service to the public. Jadi, ada beberapa kata kunci di sini, yaitu: Ethics: Is the discipline that deals with what is good and bad and with moral duty and obligation, can also be regarded as a set of moral principles or values. Ethical behavior: Is that which isaccepted as morally good and right as opposed to bad or wrong in a particular setting. Morality: A system or doctrine of moral conduct which refers to principles of right and wrong in behavior. Etika bisnis sendiri terbagi dalam: Normative ethics: Concerned with supplying and justifying a coherent moral system of thinking and judging. Normative ethics seeks to uncover, develop, and justify basic moral principles that are intended to guide behavior, actions, and decisions (DeGeorge, 2002) Descriptive ethics: Is concerned with describing, characterizing, and studying the morality of a people, a culture, or a society. It also compares and contrasts different moral codes, systems, practices, beliefs, and values (Bunchholtz and Rosenthal, 1998). Memang diakui oleh Steade et al. (1984: 584) bahwa menunjuk sesuatu secara tepat yang merupakan perilaku bisnis secara etik bukanlah suatu tugas gampang. Dalam hal ini, beberapa penduduk menyamakan perilaku secara etik (ethical behavior) dengan perilaku legal (legal behavior) yaitu, jika suatu tindakan adalah legal (syah), mereka harus dapat diterima. Kebanyakan penduduk, termasuk manajer, mengakui bahwa batas-batas legal pada bisnis harus dipatuhi. Namun, mereka melihat batas-batas legal ini sebagai suatu titik pemberangkatan untuk perilaku bisnis dan tindakan manajerial. Secara nyata, perilaku bisnis beretika merefleksikan hukum ditambah tindakan etika

masyarakat,

moral

(kesusilaan),

dan nilia-nilai seperti digambarkan pada 6

Gambar 1. Pada gilirannya formulasi hukum mengikuti suatu tindak-tanduk etika masyarakat dan hasilnya secara +per lahan muncul dua, yaitu adanya suatu hubungan give-and take antara apa yang legal dan apa yang cara etik.

SOCIAL ACCEPTABLE OR ETHICAL BUSINESS BEHAVIOR

LEGAL BEHAVIOR

BEHAVIOR GOVERNED BY SOCIETAL: VALUES MORALS ETHICS (WHICH ARE RESUMED ALSO TO BE LEGAL)

Gambar 1 Elemen-Elemen Perilaku Bisnis Beretika [Sumber: Steade et al. (1984: 584)] Etika adalah suatu cabang dari filosofi yang berkaitan dengan kebaikan (rightness) atau moralitas (kesusilaan) dari kelakuan manusia. Kata etik juga berhubungan dengan objek kelakuan manusia di wilayah-wilayah tertentu, seperti etika kedokteran, etika bisnis, etika profesional (advokat, akuntan) dan lain-lain. Disni ditekankan pada etika sebagai objek perilaku manusia dalam bidang bisnis. Dalam pengertian ini etika diartikan sebagai aturan-aturan yang tidak dapat dilanggar dari perilaku yang diterima masyarakat sebagai baik (good) atau buruk (bad). Catatan tanda kutip pada kata-kata baik dan buruk, yang berarti menekankan bahwa penentuan baik dan buruk adalah suatu masalah selalu berubah. Akhirnya, keputusan bahwa manajer membuat tentang pertanyaan yang bekaitan dengan etika adalah keputusan secara individual, yang menimbulkan konskuensi. Keputusan ini merefleksikan banyak faktor, termasuk moral dan nilainilai individu dan masyarakat. Secara sederhana etika bisnis dapat diartikan sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum. Tetapi harus diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika bisnis dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan. Etika bisnis sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-elemen lainnya. Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bisnis tidak hanya mempunyai hubungan

dengan orang-orang maupun badan hukum sebagai pemasok, pembeli, penyalur, pemakai dan lain-lain (Dalimunthe, 2004). Etika dan moral (moralitas) sering digunakan secara bergantian dan dipertukarkan karena memiliki arti yang mirip. Ini mungkin karena kata Greek ethos dari mana ethics berasal dan kata latin mores dari mana morals diturunkan keduanya artinya kebiasaan (habit) atau custom (adat). Namun moral (morals) berbeda dari etika (ethics), yang mana di dalam moralitas terkandung suatu elemen-elemen normatif yang tidak dapat dielakkan/dihindari (inevitable normative elements). Dengan demikian, moral berhubungan dengan pembicaraan tidak hanya apa yang dikerjakan, tapi juga apa masyarakat seharusnya dikerjakan dan dipercaya. Elemen-elemen normatif ini, atau keharusan (oughtness), konflik dengan aspek-aspek perubahan etika bisnis. Nilai-nilai (values) adalah standar kultural dari perilaku yang diputuskan sebagai petunjuk bagi pelaku bisnis dalam mencapai dan mengejar tujuan. Dengan demikian, pelaku bisnis menggunakan nilai-nilai dalam pembuatan keputusan secara etik apakah mereka menyadarinya atau tidak. Semakin lama, manajer bisnis ditantang meningkatkan sensitivitas mereka terhadap

permasalahan etika. Mereka menekankan pada evaluasi secara kritis prioritas nilai-nilai mereka untuk melihat bagaimana ini pantas dengan realitas dan harapan organisasi dan masyarakat.

2.3. Etika Bisnis: Suatu Kerangka Global Masalah etika dalam bisnis dapat diklasifikasikan ke dalam lima kategori yaitu: Suap (Bribery), Paksaan (Coercion), Penipuan (Deception), Pencurian (Theft), Diskriminasi tidak jelas (Unfair discrimination)(lihat Nofielman, ?), yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Suap (Bribery), adalah tindakan berupa menawarkan, memberi, menerima, atau meminta sesuatu yang berharga dengan tujuan mempengaruhi tindakan seorang pejabat dalam melaksanakan kewajiban publik. Suap dimaksudkan untuk memanipulasi seseorang dengan membeli pengaruh. 'Pembelian' itu dapat dilakukan baik dengan membayarkan sejumlah uang atau barang, maupun 'pembayaran kembali' setelah transaksi terlaksana. Suap kadangkala tidak mudah dikenali. Pemberian cash atau penggunaan callgirls dapat dengan mudah dimasukkan sebagai cara suap, tetapi pemberian hadiah (gift) tidak 8

selalu dapat disebut sebagai suap, tergantung dari maksud dan respons yang diharapkan oleh pemberi hadiah. 2. Paksaan (Coercion), adalah tekanan, batasan, dorongan dengan paksa atau dengan menggunakan jabatan atau ancaman. Coercion dapat berupa ancaman untuk mempersulit kenaikan jabatan, pemecatan, atau penolakan industri terhadap seorang individu. 3. Penipuan (Deception), adalah tindakan memperdaya, menyesatkan yang disengaja dengan mengucapkan atau melakukan kebohongan. 4. Pencurian (Theft), adalah merupakan tindakan mengambil sesuatu yang bukan hak kita atau mengambil property milik orang lain tanpa persetujuan pemiliknya. Properti tersebut dapat berupa property fisik atau konseptual. 5. Diskriminasi tidak jelas (Unfair discrimination), adalah perlakuan tidak adil atau penolakan terhadap orang-orang tertentu yang disebabkan oleh ras, jenis kelamin, kewarganegaraan, atau agama. Suatu kegagalan untuk

memperlakukan semua orang dengan setara tanpa adanya perbedaan yang beralasan antara mereka yang 'disukai' dan tidak.

2.4. Pentingnya Etika dalam Dunia Bisnis Perubahan perdagangan dunia menuntut segera dibenahinya etika bisnis agar tatanan ekonomi dunia semakin membaik. Langkah apa yang harus ditempuh?. Didalam bisnis tidak jarang berlaku konsep tujuan menghalalkan

segala cara. Bahkan tindakan yang berbau kriminal pun ditempuh demi pencapaian suatu tujuan. Kalau sudah demikian, pengusaha yang menjadi pengerak motor perekonomian akan berubah menjadi binatang ekonomi. Terjadinya perbuatan tercela dalam dunia bisnis tampaknya tidak menampakan kecenderungan tetapi sebaliknya, makin hari semakin meningkat. Tindakan mark up, ingkar janji, tidak mengindahkan kepentingan masyarakat, tidak

memperhatikan sumber daya alam maupun tindakan kolusi dan suap merupakan segelintir contoh pengabaian para pengusaha terhadap etika bisnis. Sebagai bagian dari masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma yang ada pada masyarakat. Tata hubungan bisnis dan masyarakat yang tidak bisa dipisahkan itu membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnisnya, baik etika itu antara sesama pelaku bisnis maupun etika bisnis terhadap masyarakat dalam hubungan langsung maupun tidak langsung. 9

Dengan memetakan pola hubungan dalam bisnis seperti itu dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip etika bisnis terwujud dalam satu pola hubungan yang bersifat interaktif. Hubungan ini tidak hanya dalam satu negara, tetapi meliputi berbagai negara yang terintegrasi dalam hubungan perdagangan dunia yang nuansanya kini telah berubah. Perubahan nuansa perkembangan dunia itu menuntut segera dibenahinya etika bisnis. Pasalnya, kondisi hukum yang melingkupi dunia usaha terlalu jauh tertinggal dari pertumbuhan serta

perkembangan dibidang ekonomi. Jalinan hubungan usaha dengan pihak-pihak lain yang terkait begitu kompleks. Akibatnya, ketika dunia usaha melaju pesat, ada pihak-pihak yang tertinggal dan dirugikan, karena peranti hukum dan aturan main dunia usaha belum mendapatkan perhatian yang seimbang. Salah satu contoh yang

selanjutnya menjadi masalah bagi pemerintah dan dunia usaha adalah masih adanya pelanggaran terhadap upah buruh. Hal lni menyebabkan beberapa produk nasional terkena batasan di pasar internasional. Contoh lain adalah produk-produk hasil hutan yang mendapat protes keras karena pengusaha Indonesia dinilai tidak memperhatikan kelangsungan sumber alam yang sangat berharga. Perilaku etik penting diperlukan untuk mencapai sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis. Pentingnya etika bisnis tersebut berlaku untuk kedua perspektif, baik lingkup makro maupun mikro, yang akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Perspektif Makro. Pertumbuhan suatu negara tergantung pada market system yang berperan lebih efektif dan efisien daripada command system dalam mengalokasikan barang dan jasa. Beberapa kondisi yang diperlukan market system untuk dapat efektif, yaitu: (a) Hak memiliki dan mengelola properti swasta; (b) Kebebasan memilih dalam perdagangan barang dan jasa; dan (c) Ketersediaan informasi yang akurat berkaitan dengan barang dan jasa Jika salah satu subsistem dalam market system melakukan perilaku yang tidak etis, maka hal ini akan mempengaruhi keseimbangan sistem dan menghambat pertumbuhan sistem secara makro. Pengaruh dari perilaku tidak etik pada perspektif bisnis makro : a. Penyogokan atau suap. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya kebebasan memilih dengan cara mempengaruhi pengambil keputusan. 10

b. Coercive act. Mengurangi kompetisi yang efektif antara pelaku bisnis dengan ancaman atau memaksa untuk tidak berhubungan dengan pihak lain dalam bisnis. c. Deceptive information d. Pecurian dan penggelapan e. Unfair discrimination. 2. Perspektif Bisnis Mikro. Dalam Iingkup ini perilaku etik identik dengan kepercayaan atau trust. Dalam Iingkup mikro terdapat rantai relasi di mana supplier, perusahaan, konsumen, karyawan saling berhubungan kegiatan bisnis yang akan berpengaruh pada Iingkup makro. Tiap mata rantai penting dampaknya untuk selalu menjaga etika, sehingga kepercayaan yang mendasari hubungan bisnis dapat terjaga dengan baik. Standar moral merupakan tolok ukur etika bisnis. Dimensi etik merupakan dasar kajian dalam pengambilan keputusan. Etika bisnis cenderung berfokus pada etika terapan daripada etika normatif. Dua prinsip yang dapat digunakan sebagai acuan dimensi etik dalam pengambilan keputusan, yaitu: (1) Prinsip konsekuensi (Principle of Consequentialist) adalah konsep etika yang berfokus pada konsekuensi pengambilan keputusan. Artinya keputusan dinilai etik atau tidak berdasarkan konsekuensi (dampak) keputusan tersebut; (2) Prinsip tidak konsekuensi (Principle of Nonconsequentialist) adalah terdiri dari rangkaian peraturan yang digunakan sebagai petunjuk/panduan pengambilan keputusan etik dan berdasarkan alasan bukan akibat, antara lain: (a) Prinsip Hak, yaitu menjamin hak asasi manusia yang berhubungan dengan kewajiban untuk tidak saling melanggar hak orang lain; (b) Prinsip Keadilan, yaitu biasanya terkait dengan isu hak, kejujuran, dan kesamaan. Prinsip keadilan dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu: (1) Keadilan distributive, yaitu keadilan yang sifatnya menyeimbangkan alokasi benefit dan beban antar anggota kelompok sesuai dengan kontribusi tenaga dan pikirannya terhadap benefit. Benefit terdiri dari pendapatan, pekerjaan, kesejahteraan, pendidikan dan waktu luang. Beban terdiri dari tugas kerja, pajak dan kewajiban social; (2) Keadilan retributive, yaitu keadilan yang terkait dengan retribution (ganti rugi) dan hukuman atas kesalahan tindakan. Seseorang bertanggungjawab atas konsekuensi negatif atas tindakan yang dilakukan kecuali tindakan tersebut dilakukan atas paksaan pihak lain; dan (3) Keadilan kompensatoris, yaitu 11 keadilan yang

keadilan yang terkait dengan kompensasi bagi pihak yang dirugikan. Kompensasi yang diterima dapat berupa perlakuan medis, pelayanan dan barang penebus kerugian. Masalah terjadi apabila kompensasi tidak dapat menebus kerugian, misalnya kehilangan nyawa manusia. Apabila moral merupakan suatu pendorong orang untuk melakukan kebaikan, maka etika bertindak sebagai rambu-rambu (sign) yang merupakan kesepakatan secara rela dari semua anggota suatu kelompok. Dunia bisnis yang bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang menjamin kegiatan bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi. Etika sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam bisnis sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta kelompok yang terkait lainnya. Tentu dalam hal ini, untuk mewujudkan etika dalam berbisnis perlu pembicaraan yang transparan antara semua pihak, baik pengusaha, pemerintah, masyarakat maupun bangsa lain agar jangan hanya satu pihak saja yang menjalankan etika sementara pihak lain berpijak kepada apa yang mereka inginkan. Artinya kalau ada pihak terkait yang tidak mengetahui dan menyetujui adanya moral dan etika, jelas apa yang disepakati oleh kalangan bisnis tadi tidak akan pernah bisa diwujudkan. Jadi, jelas untuk menghasilkan suatu etika didalam berbisnis yang menjamin adanya kepedulian antara satu pihak dan pihak lain tidak perlu pembicaraan yang bersifat global yang mengarah kepada suatu aturan yang tidak merugikan siapapun dalam perekonomian. Dalam menciptakan etika bisnis, Dalimunthe (2004) menganjurkan untuk memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: 1. Pengendalian Diri Artinya, pelaku-pelaku bisnis mampu mengendalikan diri mereka masingmasing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang atau memakan pihak lain dengan menggunakan keuntungan tersebut. Walau keuntungan yang diperoleh merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang "etik".

12

2. Pengembangan Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility) Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya. Tanggung jawab sosial bisa dalam bentuk kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya, terutama dalam hal pendidikan, kesehatan, pemberian latihan keterampilan, dll.

3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi Bukan berarti etika bisnis anti perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.

4. Menciptakan Persaingan yang Sehat Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut. 5. Menerapkan Konsep Pembangunan Berkelanjutan" Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa datang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan 13

lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.

6. Menghindari Sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi) Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.

7. Mampu menyatakan yang Benar itu Benar Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan "katabelece" dari "koneksi" serta melakukan "kongkalikong" dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan kolusi" serta memberikan "komisi" kepada pihak yang terkait.

8. Menumbuhkan Sikap Saling Percaya antar Golongan Pengusaha Untu menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada sikap saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah, sehingga pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan. Yang selama ini kepercayaan itu hanya ada antara pihak golongan kuat, saat sekarang sudah waktunya memberikan kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan berkiprah dalam dunia bisnis.

9. Konsekuen dan Konsisten dengan Aturan main Bersama Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya semua ketika bisnis telah disepakati, sementara ada "oknum", baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan "kecurangan" demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan "gugur" satu semi satu.

14

10. Menumbuhkembangkan Kesadaran dan rasa Memiliki terhadap apa yang telah disepakati Jika etika ini telah dimiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.

11. Perlunya Sebagian Etika Bisnis Dituangkan dalam suatu Hukum positif yang Menjadi Peraturan Perundang-Undangan (Undang Persaingan Usaha: Indonesia sudah punya, bahkan memiliki Komisi Pengawas Persaingan Usaha Hal ini untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti "proteksi" terhadap pengusaha lemah. Kebutuhan tenaga dunia bisnis yang

bermoral dan beretika saat sekarang ini sudah dirasakan dan sangat diharapkan semua pihak apalagi dengan semakin pesatnya perkembangan globalisasi dimuka bumi ini. Dengan adanya moral dan etika dalam dunia bisnis serta kesadaran semua pihak untuk melaksanakannya, kita yakin jurang itu akan dapat diatasi. Ahli pemberdayaan kepribadian Uno (2004) menjelaskan bahwa

mempraktikkan bisnis dengan etiket berarti mempraktikkan tata cara bisnis yang sopan dan santun sehingga kehidupan bisnis menyenangkan karena saling menghormati. Etiket berbisnis diterapkan pada sikap kehidupan berkantor, sikap menghadapi rekan-rekan bisnis, dan sikap di mana kita tergabung dalam organisasi. Itu berupa senyum -- sebagai apresiasi yang tulus dan terima kasih, tidak menyalahgunakan kedudukan, kekayaan, tidak lekas tersinggung, kontrol diri, toleran, dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Dengan kata lain, etiket bisnis itu memelihara suasana yang menyenangkan, menimbulkan rasa saling menghargai, meningkatkan efisiensi kerja, dan meningkatkan citra pribadi dan perusahaan. Sedangkan berbisnis dengan etika bisnis adalah menerapkan aturanaturan umum mengenai etika pada perilaku bisnis. Etika bisnis menyangkut moral, kontak sosial, hak-hak dan kewajiban, prinsip-prinsip dan aturan-aturan. Jika aturan secara umum mengenai etika mengatakan bahwa berlaku tidak jujur adalah tidak bermoral dan beretika, maka setiap insan bisnis yang tidak berlaku jujur dengan pegawainya, pelanggan, kreditur, pemegang usaha maupun pesaing dan masyarakat, maka ia dikatakan tidak etis dan tidak bermoral. Intinya adalah bagaimana kita mengontrol diri kita sendiri untuk dapat menjalani bisnis dengan baik dengan cara peka dan toleransi.

15

2.5. Tiga Prinsip Universal Kasus yang paling gampang adalah Enron, sebuah perusahaan enerji yang sangat bagus. Sebagai salah satu perusahaan yang menikmati booming industri energi di tahun 1990an, Enron sukses menyuplai energi ke pangsa pasar yang begitu besar dan memiliki jaringan yang luar biasa luas. Enron bahkan berhasil menyinergikan jalur transmisi energinya untuk jalur teknologi informasi. Kalau dilihat dari siklus bisnisnya, Enron memiliki profitabilitas yang cukup menggiurkan. Seiring booming industri energi, Enron memosisikan dirinya sebagai energy merchants: membeli natural gas dengan harga murah, kemudian dikonversi dalam energi listrik, lalu dijual dengan mengambil profit yang lumayan dari markup sale of power atau biasa disebut spark spread. Sebagai sebuah entitas bisnis, Enron pada awalnya adalah anggota pasar yang baik, mengikuti peraturan yang ada di pasar dengan sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, Enron meninggalkan prestasi dan reputasi baik tersebut. Sebagai perusahaan Amerika terbesar ke delapan, Enron kemudian tersungkur kolaps pada tahun 2001. Tepat satu tahun setelah California energy crisis. Seleksi alam akhirnya berlaku. Perusahaan yang bagus akan mendapat reward, sementara yang buruk akan mendapat punishment. Termasuk juga pihak-pihak yang mendukung tercapainya hal tersebut dalam hal ini Arthur Andersen. Bisa saja kita menipu seseorang, tetapi tak akan mungkin selamanya menipu, kan? Apa enaknya hidup penuh tipu-tipu yang tidak akan pernah menentramkan batin. Kasus Enron membuktikan bahwa pelaku bisnis yang curang akan menunggu waktu saja masuk jurang, sedangkan yang jujur tidak akan pernah hancur dan menunggu waktu saja untuk mujur. Hal ini dijastifikasi oleh hukum besi yang tidak bisa dielakkan oleh siapan karena menyangkut nasib manusia, termasuk pelaku-pelaku bisnis kotor atau tidak beretika yang penuh tiputipu yaitu, Hukum Sebab-Akibat, Aksi-Rekasi, dan Menabur-Menuai adalah kebenaran sepanjang zaman, prinsip universal yang telah ada sejak awal sejarah. Dalam Agama Hindu rangkuman ketiga hukum besi ini tidak lain adalah Karma Pahala, di mana Karma = Sebab, Aksi, Menabur, dan Pahala = Akibat, Reaksi, Menuai. Artinya, apapun yang diperbuat oleh seseorang, kelak itulah yang Dia petik. Jika seseorang berbuat jahat terhadap orang lain, maka hasil kejahatan yang akan mereka nikmati, sebaliknya jika perbuatan baik mereka taburkan maka hasil perbuatan baik yang akan mereka tuai atau hasilkan. 16

III. ETIKA BISNIS DALAM PENGEMBANGAN IPTEK 3.1. Etika Bisnis dalam Pengembangan Iptek: Suatu Sistem Proses Jika istilah etika, bisnis dan (pengembangan) Iptek dirangkai menjadi suatu ungkapan Etika Bisnis dalam Pengembangan iptek, ditinjau dari ilmu kesisteman akan menjadi sebuah sistem proses, yang terdiri dari input, proses, output, dan outcome atau dampak. Nah etik dan etik pengembangan iptek dalam skala komersial (bisnis) terletak pada outcome (dampak) dari iptek tersebut. Jika pengembangan iptek menimbulkan dampak positif dikatakan bahwa iptek tersebut dilandasi oleh etika. Sebaliknya jika pengembangan iptek menimbulkan dampak negatif dikatakan bahwa iptek tersebut tidak dilandasi oleh etika (gambar 2). Jadi pengembangan iptek beretika atau tak beretika tergantung cara pandang sekompok masyarakat, yang umumnya antara kelompok masyarakat saintist di satu pihak dan kelompok masyarakat agamawan dan etikawan di lain pihak.

SDA

SDM MANAJEMEN (Etika Bisnis)

PRODUKSI IPTEK BERETIKA BISNIS

PENGEMBANGAN IPTEK BERETIKA BISNIS


SKALA KOMERSIAL

IPTEK YANG MEMBAWA KEMASLAHATAN UMAT MANUSIA

R & D IPTEK (Prototipe, Proses, skala lab) Overlap Area

INPUT

PROSES

OUTPUT

OUTCOME

Gambar 2 Proses Pengembangan Iptek yang Beretika Bisnis

17

Contoh: INPUT
Domba SDM (peneliti + pekerja Manajemen R&D pendahuluan Keputusan keilmuan

PROSES OUTPUT Bidang Iptek Hewan Proses Domba Cloning HEWAN Dolly

OUTCOME
Menguntungkan peternak tanpa perlu memelihara pejantan (dampak positif) Anak domba rentan penyakit (dampak negatif) Menigkatkan produksi jagung dan kapas (dampak positif) Memusnahkan serangga bermanfaat bagi tanaman dan mencemari lingkungan (dampak negatif) Sumber energi listrik murah (dampak positif) Mempercepat pemusnahan umat manusia (dampak negatif)

SDM (peneliti +TK) Lahan Manajemen Bahan tanaman Keputusan bisnis

Bidang Iptek Tanaman Proses Jagung dan Hybridisasi Kapas Hibrida

SDM (Ahli bom atom dan TK) Lahan dan bangunan Manajemen Bahan-bahan Radioaktif Keputusan politik SDM (Dokter Ahli dibidangnya dan TK) Laboratorium Manajemen Bahan-bahan sperma dan sel telur Keputusan bisnis dan pasangan suami-istri (pasutri)

Bidang Iptek Nuklir Proses Bom Atom Pembuatan Bom Atom (Einstein)

Bidang Iptek Kedokteran Proses Bayi Tabung Cloning Manusia

Menguntungkan Pasutri yang pembuahan sel telur sulit di dalam rahim (dampak positif) Penyelamat pasutri tak subur memperoleh keturunan langsung (dampak positif) Melanggar kodrat sebagai pasutri normal (anggapan kaum agama dan etikawan)

Faktanya: Perkembangan iptek sangat pesat, sementara bioetika yang didasarkan atas penghargaan pada nilai-nilai iman berjalan lamban, gamang dan tergagapgagap mengantisipasi loncatan-loncatan hasil kerja iptek. Kasus Galileo yang baru direhabilitasi Gereja Katolik setelah berusia 500 tahun adalah contoh klasik betapa agama selalu ketinggalan dibandingkan dengan iptek 18

Masalahnya:
Bagaimanakah Standar Etika Pengembangan Iptek (misal cloning) untuk Tujuan Bisnis?

"yang bisa dilakukan harus terus dilakukan" versus "yang bisa dilakukan tapi tak patut dilakukan". Sampai di mana keseimbangannya?. Ada dua Kubu Pro dan Kontra: Pro: membawa keuntungan bagi umat manusia di dunia nyata (saintis) hanya bicara dunia nyata Kontra: mempermainkan harkat kemanusiaan dan campur tangan manusia yang kelewat besar dalam karya cipta Allah hanya bicara dunia akhirat dan pesan-pesan moral (agamawan dan etikawan) Akhirnya Etik tak Etik dalam Pengembangan Iptek Persilangan persepsi antara: Saintis dan Etikawan+Agamawan Apakah harus menjadi tesisAlam dan iman antitesis? Masing-masing memiliki Iptek dan agama, prinsip dan pembenaran sendiri. Rekayasa genetik dan bioetika Tesis-antitesis ini menuntut moderasi: diperlukan satu sintesa, sehingga bersama-sama mengarah pada tujuan kehidupan, yakni dihargainya martabat dan integritas kemanusiaan

3.2. Etika Bisnis dalam Pengembangan Iptek: Suatu Perdebatan Belum berujung KETIKA hasil cloning domba Dolly diumumkan pada tahun 1997, para etikawan dan agamawan khususnya, serta ilmuwan umumnya khawatir bahwa cloning yang dilakukan pada hewan akan ditingkatkan pada manusia. Meski ketika muncul terjadi silang pendapatan antara yang pro dan kontra, tetapi proyek cloning terus berlanjut. Tahun 2002, cloning memasuki tahap paling genting ketika Severino Antinori dan kawan-kawan dari Italia mengumumkan telah berhasil mencobanya kepada manusia. Apa yang dikawatirkan sebelumnya benar-benar terjadi. Awal April 2002 hasil cloning manusia diumumkan seorang wanita sedang mengandung bayi hasil cloning dengan usia kandungan dua bulan. Masalahnya kemudian: "yang bisa dilakukan tapi tak patut dilakukan" versus "yang bisa dilakukan harus terus dilakukan". Sampai di mana keseimbangannya?.

19

Hasil cloning dikritik dan dikecam sebab berbagai uji coba pada binatang menunjukkan banyak janin gugur sebelum lahir. Kalaupun berhasil dilahirkan, hasil cloning itu umumnya rentan dan membawa cacat lahir. Bila kelemahankelemahan itu dikenakan pada cloning manusia, bukankah tindakan cloning akan mempermainkan harkat kemanusiaan? Kalau Dolly sekarang dikabarkan sakitsakitan dan rentan penyakit, bukankah cloning manusia yang kelak lahir bakal rentan penyakit dan sakit-sakitan pula? Bagaimana bisa dipertanggungjawabkan secara etik-agamis campur tangan manusia yang kelewat besar dalam karya cipta Allah? Kenyataannya perkembangan iptek sangat pesat. Sementara bioetika yang didasarkan atas penghargaan pada nilai-nilai iman berjalan lamban, gamang, tergagap-gagap mengantisipasi loncatan-loncatan hasil kerja iptek. Masyarakat ilmu pun semakin optimistis merasa mampu melawan pertimbangan iman. Kalau agamawan mengatakan semua usaha iptek termasuk cloning diarahkan pada kemaslahatan manusia, para ilmuwan pun bisa menunjukkan keuntungan yang sama. Dengan membanggakan diri bahwa setiap langkah penelitian

dipertanggungjawabkan, para ilmuwan mau menunjukkan cara kerja iptek bisa dipertanggungjawabkan. Menurut Suria Sumantri (1985), etika (filsafat moral) adalah salah satu cabang filsafat yang menata tentang kebenaran. Dicontohkan etika dibidang ilmiah, proses menemukan kebenaran secara ilmiah mempunyai implikasi etik bagi seorang ilmuwan. Karakteristik proses tersebut merupakan kategori moral yang melandassi sikap etik seorang ilmuwan. Kegiatan intelektual yang mengedepankan kebenaran sebagai tujuan akhirnya mau tidak mau akan mempengaruhi pandangan moral. Kebenaran berfungsi bukan saja dalam jalan pikirannya, tetapi juga dalam seluruh jalan hidupnya. Dalam usaha masyarakat untuk menegakkan kebenaran inilah, seorang ilmuwan terpanggil oleh kewajiban sosialnya, bukan hanya sebagai penganalis materi kebenaran tersebut, tetapi juga sebagai prototipe moral yang baik. Dibidang etika, tanggung jawab sosial seorang ilmuwan bukan lagi memberikan informasi, tetapi memberi contoh. Dia harus tampil di depan bagaimana caranya bersifat objektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendiriannya yang dianggapnya benar, dan kalau perlu berani mengakui kesalahan. Semua sifat ini, beserta sifat-sifat lainnya yang tak 20

disebutkan di sini, merupakan implikasi etik dari proses penemuan kebenaran secara ilmiah. Di tengah situasi di mana segenap nilai mengalami kegoncangan, seorang ilmuwan harus tampil ke depan. Pengetahuan yang dimilikinya merupakan kekuatan yang akan memberikan keberanian untuk menghadapi tantangan. Demikian juga dala masyarakat yang sedang membangun, dia harus bersikap sebagai seorang pendidik dengan memberikan suri teladan. Perkembangan iptek amat progresif dengan hasil-hasil mengejutkan. Para ilmuwan tak lagi menghargai iman. Sementara menempatkan sosok manusia lebih utuh, para agamawan dan etikawan hanya bicara soal akhirat dan pesan-pesan moral. Itu sebabnya terjadi benturan antara sains dan agama. Kasus Galileo yang baru direhabilitasi Gereja Katolik setelah berusia 500 tahun adalah contoh klasik betapa agama selalu ketinggalan dibandingkan dengan iptek (Greg Soetomo, Sains dan Religiusitas dalam Basis, Desember 1993: dalam Sularto, 2002). FENOMENA perkembangan pesat iptek ini merambah kehidupan manusia, berpengaruh pada dimensi batin manusia. Sebagian orang takut menghadapi masa depannya, yang lain menganggap perkembangan iptek sebagai bagian dari kekuasaan iptek yang makin tak terkendali. Ajakan kembali ke alam, back to nature, atau caveat Jack Ellul tentang bahaya teknologi yang melihat kemajuan teknologi sebagai kemerosotan moral sudah tidak memadai. Iman-dalam hal ini agama- perlu setiap saat mereduksi ajaran-ajaran moralnya. Dunia sains dan teknologi adalah dunia eksperimen dengan segala rumusan matematis yang termasuk perlu mempertanggungjawabkan setiap langkah yang dilakukan. Sains memang tak berurusan dengan iman, tetapi menjadi soal ketika hasil rekayasa genetika itu berurusan, misalnya, dengan kisah penciptaan. Kitab suci akhirnya tak lagi satu-satunya sumber untuk menjelaskan fenomena penciptaan. Sumber lain yang sering dijadikan referensi adalah teori Pierre de Chardin dengan ungkapan terkenal creatio ex nihilo, penciptaan dari yang tiada. Rasionalitas yang digambarkan oleh Karen Armstrong dalam History of God memperjelas bagaimana penciptaan harus diterangkan. Albert Einstein yakin teori relativitasnya tak akan mempengaruhi konsep

ketuhanan. Relativitas adalah murni persoalan ilmu dan tak ada kaitan dengan agama (Karen Armstrong, History of God, Ballantine Books, NY 1993). Namun, ketika orang Kristen dikecewakan ilmuwan semacam Stephen Hawking yang tak memberi ruang pada Tuhan dalam kosmologinya, mereka mungkin berpikir Tuhan 21

secara antropomorfik yang digambarkan seperti manusia membuat sesuatu, tetapi disempurnakan lewat creatio ex nihilo Pierre de Chardin (Cited by Sularto, 2002). CLONING domba Dolly disebut sebagai hasil terobosan pengembangan iptek terpenting sepanjang tahun 1997, tapi menurut Dr Kees Bertens etikawan dari Unika Atma Jaya Jakarta, terobosan ilmu belum tentu terpenting sebab menyisakan kontroversi dalam kaitan etika (Pengklonan: Terobosan Ilmiah dan Tantangan Etik dalam Perspektif Etika, Kanisius, Yogyakarta 2001: dalam Sularto, 2002). Cloning tidak dilakukan hanya pada sel embrio, tapi juga pada sel dewasa. Cloning sel dewasa pada mamalia ternyata bisa dilakukan dengan cara menciptakan duplikat. Rupanya tidak ada hambatan untuk menerapkan teknik yang sama pada manusia. Persoalannya, apakah yang secara teknis bisa dilakukan sudah patut dilakukan?. Bertens membandingkan keadaan ini dengan laboratorium Skotlandia yang menghasilkan domba Dolly. Ian Wilmut bersama timnya melakukan 277 percobaan untuk menciptakan embrio domba, tetapi hanya 29 embrio domba yang bisa hidup lebih dari enam hari. Semua mati sebelum lahir, kecuali domba Dolly. Ketika proyek itu diterapkan pada manusia, yang hasilnya diumumkan kepada khalayak umum, prinsip etik tertinggi bahwa manusia tidak bisa dijadikan mainan bukan lagi sekedar persoalan agama secara institusional, tetapi kemanusiaan pada umumnya. Penghargaan terhadap martabat manusia dikurangi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merumuskan, seperti halnya dalam etika agama, cloning manusia harus ditolak terutama karena bertentangan dengan martabat dan integritas manusia. WHO mempertegas campur tangan manusia dalam

penciptaan terlalu besar. Penciptaan manusia adalah hak dan kedaulatan Tuhan. Manusia tidak boleh-meskipun bisa secara ilmu-dipermainkan. Kehormatan manusia dari dirinya sendiri tidak bisa diganggu-gugat. Integritasnya sebagai manusia harus dihormati. Artinya, kalau cloning domba Dolly telah terbukti menghadapi kerentanan yang tinggi, proyek cloning manusia semakin jelas tidak etik diteruskan. "Nilai-nilai agama tak ada hubungan dengan nilai-nilai ilmu," kata Dr Minda Peranginangin, seorang teolog Kristen yang dengan tegar mengatakan, "Kegiatan ilmu harus dikontrol dan harus dikendalikan bioetika." Penegasan Peranginangin analog dengan "imperatif teknologi" menurut istilah Bertens: yang bisa dilakukan harus terus dilakukan. Yang terjadi pada cloning manusia menjadi jelas "imperatif 22 teknologi". Bahkan ada yang

mengatakan, penemuan cloning manusia analog dengan penemuan bom atom yang menghancurkan jutaan manusia pada tahun 1945. Memakai istilah keinsinyuran genetika atau rekayasa genetika, budayawan dan rohaniman (almarhum) YB Mangunwijaya mengingatkan perlunya kontrol terhadap proses alami agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Jika temuan-temuan itu tidak dikontrol dikhawatirkan akan menjadi monster-monster yang mengganggu lingkungan. Eric Houwink-rekan Mangunwijaya, seorang bioteknolog-tentang proyek cloning manusia tidak melihat kepentingan obyektif dan kegunaan medisnya (Bioteknologi Modern: Membawa Kita Menuju Biosocietas? dalam Mengenang YB Mangunwijaya. Pergulatan Intelektual dalam Era Kegelisahan, Kanisius, Yogyakarta 1999: Cited by Sularto, 2002). APAKAH alam dan iman, iptek dan agama, rekayasa genetik dan bioetika, harus menjadi tesis-antitesis atau pernyataan dan bantahan? Masing-masing memiliki prinsip dan pembenaran sendiri. Cloning manusia, misalnya, konon menjadi penyelamat bagi pasangan-pasangan tak subur memperoleh keturunan langsung atau menguntungkan pasangan suami-istri (pasutri) yang pembuahan sel telur oleh sperma sulit di dalam rahim. Sementara itu para etikawan dan agamawan memegang teguh prinsip bahwa dalam iptek, tidak semua yang bisa dilakukan patut dilakukan. Tesis-antitesis ini menuntut moderasi: diperlukan satu sintesa, sehingga bersama-sama mengarah pada tujuan kehidupan, yakni dihargainya martabat dan integritas kemanusiaan. Tujuan itu dikembangkan baik oleh rekayasa genetika maupun kelestarian prinsip-prinsip kemanusiaan yang abadi. Konkretnya, kalau salah satu peraturan agama, katakan Gereja Katolik, memberi penegasan menolak bayi tabung, maka pada akhirnya pilihan dikembalikan pada hati nurani tiap orang. Bahkan soal eutanasia, yakni kematian secara baik-baik, yang masih kontroversial, tetapi di Belanda baru saja diizinkan secara undang-undang namun dilarang Gereja Katolik, halnya kelak bisa saja berkembang ke arah: dikembalikan pada pilihan hati nurani dan dilihat kasus per kasus. Bagaimana dengan cloning manusia? Paus Johanes Paulus II, pemimpin Gereja Katolik Roma, konsekuen dengan pendapatnya ketika isu cloning domba meledak tahun 1997. "Itu merupakan eksperimen berbahaya", apalagi terhadap manusia. Yang akan terjadi adalah eksperimen cloning manusia jalan terus, kritik dan kecaman atas dasar prinsip-prinsip etika jalan terus. Masing-masing dengan 23

argumentasinya: demi kemaslahatan umat manusia. Etika agama "yang bisa dilakukan belum tentu patut dilakukan" berhadapan dengan imperatif teknologi yang bisa dilakukan harus dilakukan. Tantangan terhadap terobosan-terobosan semacam cloning manusia menjadi pelecut, bukan hanya tantangan bagi dunia iptek seumumnya, tapi juga etika keagamaan. Franz Magnis-Suseno SJ berpendapat, dalam bukunya Etika Dasar, kaum agamawan pun memerlukan etika dalam arti, memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Orang beragama pun diharapkan menggunakan anugerah Sang Pencipta. Jangan sampai akal budi dikesampingkan dari agama. Itu sebabnya justru kaum agamawan yang diharapkan betul-betul memakai rasio dan metode-metode etika. Perdebatan etika dalam pengembangan Iptek adalah perdebatan belum berujung antara kelompok saintis dan agamawan. Seperti dikemukakan oleh Hatta (1960), ada perbedaan kesadaran antara ilmu (Iptek) yang dihasilkan oleh saintis dan etika yang berkaitan dengan agama yang dianut oleh agamawan, tetapi bukan pertentangan. Ilmu (Iptek) mengenai soal pengetahuan dan teknologi, sedang agama menyangkut kepercayaan. Pengetahuan dan kepercayaan adalah dua macam sikap yang berlainan dari kesadaran manusia. Pelita Ilmu dan teknologi (Iptek) terletah di OTAK, pelita agama terletak di HATI. Karena itu ilmu dan agama dapat berjalan seiring dengan tiada mengganggu daerah masingmasing. Kedua-duanya dapat menjadi suluh bagi manusia dalam menempuh jalan hidup. Itulah sebabnya, maka banyak ahli-ahli ilmu yang terbilang, terkenal pula sebagai orang-orang saleh dan percaya benar-benar kepada Tuhan. Misalnya Issak Newton, seorang ahli ilmu alam yang kesohor namanya sepanjang masa. Berkenaan dengan ilmu (Iptek) dan agama, Hatta (1960) mengajak kita semua memperhatikan dan memahami apa yang ditulis oleh Albert Einstein (Out of My Later Years) tentang hubungan agama dan ilmu walaupun pahamnya terhadap agama berlainan dengan paham penganut-penganut agama yang terbanyak. Einstein berkata: Sungguhpun daerah agama dan daerah ilmu terang terpisah, terdapat antara keduanya hubungan timbal-balik dan perlu-memerlukan. Benar agama yang menentukan tujuan hidup kita sekalipun begitu ia pada umumnya belajar dari ilmu untuk mengetahui alat-alat mana yang bagus dipergunakan untuk mencapai maksud yang dituju. Sebaliknya ilmu hanya dapat dilahirkan oleh mereka yang jiwanya penuh berisi tujuan untuk mencapai kebenaran dan pengertian. Sumber dari pada perasaan ini terdapat dalam daerah agama. Di 24

dalamnya termasuk kepercayaan tentang kemungkinan bahwa hukum-hukum yang berlaku untuk dunia lahir (dunia nyata) adalah rasional, artinya dapat diketahui dengan akal kita. Aku sebenar-benarnya tak dapat menerima adanya ilmu yang tak punya kepercayaan teguh seperti itu. Kedudukan itu dapat digambarkan sperti berikut: ilmu dengan tiada agama lumpuh, agama dengan tiada ilmu buta. Memadukan dan mengharmonikan antara pandangan Iptek yang

berlandaskan rasionalitas dengan pandangan agama yang berlandaskan pada dogmatis telah berhasil dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan melalui ajaran Muhammadiyah (lihat Mulkan, 2005) melalui ungkapan yang sangat bagus yakni akal suci ialah berpikir sesuai dengan fakta, cermat, dan kritis meletakkan relativitas kebenaran iptek, mencari kebenaran yang lebih bermanfaat bagi hidup semua orang. Hati suci dan welas asih ialah kesediaan menahan nafsu, bersedia berkorban, tidak malas memperjuangkan kebaikan dan kebenaran, menjadikan keluhuran dunia sebagai jalan mencapai keluhuran akhirat. Realisasi tujuan tersebut dilakukan dengan mengembangkan sekolah modern, kepanduan, panti asuhan, rumah sakit, dan pemberdayaan kaum tertindas dalam sistem manajemen dan organisasi modern. Berbagai praktik ritus Islam difungsikan sebagai dasar teologi realisasi tujuan tersebut. Dari kehidupan kaum Nasrani dan temuan iptek, Kiai belajar tentang pengembangan kehidupan sosial. Dari tokoh pembaru ia peroleh ide rasionalisasi ajaran Islam, sementara dari fakta-fakta sosiologis dan sejarah manusia diperolehnya inspirasi kerja pragmatis dan humanis. Bersamaan itu Kiai terus mengembangkan praktik ritus Islam hingga benar-benar bisa memecahkan problem kebaikan hidup semua orang secara pragmatis dan praktis. Hal ini hanya mungkin dicapai melalui aksi pendidikan sehingga penguasaan iptek ia pandang bukan hidayah Tuhan, tapi perolehan belajar. Semua orang harus memiliki etos belajar menjadi murid sekaligus guru. Seluruh kegiatan hidup manusia harus berfungsi sebagai aktivitas belajar kepada semua orang atau sebagai guru penyebar ilmu kepada siapa saja dalam kesempatan apa saja. Bagi Dahlan kebenaran dan kebaikan tidak semata-mata diperoleh dari tafsir deduktif Al Quran, tapi dari induksi (iptek) pengalaman empiris beragam pemeluk agama. Ia memandang capaian keluhuran duniawi adalah jalan pencapaian keluhuran kehidupan sesudah mati di akhirat. Pandangan Dahlan ini

25

berbeda dari model etika Protestan yang meletakkan keluhuran duniawi sebagai bukti keluhuran dalam kehidupan sesudah kematian atau ukhrowi tersebut. Gagasan dan aksi sosial Ahmad Dahlan didasari pandangan tentang kesesuaian natural tafsir Al Quran, pengalaman kemanusiaan universal, dan temuan iptek. Bagi Kiai, ukuran kebenaran tafsir Al Quran dan temuan iptek ialah sejumlah bukti kemanfaatannya bagi penyelesaian problem universal

kemanusiaan. Gagasan dan praktik kemanusiaan Dahlan tersebut mungkin bisa disebut sebagai terapan dari pragmatisme-humanistik. Namun, tidak mudah menyatakan berbagai pembaruan Kiai melalui berbagai praksis sosial itu dilakukan berdasarkan semangat Protestanisme

IV. P E N U T U P 1. Etika adalah suatu cabang dari filosofi yang berkaitan dengan kebaikan (rightness) atau moralitas (kesusilaan) dari perilaku manusia. Dalam pengertian ini etika diartikan sebagai aturan-aturan yang tidak dapat dilanggar dari perilaku yang diterima masyarakat sebagai baik (good atau buruk (bad). Sedangkan Penentuan baik dan buruk adalah suatu masalah selalu berubah. 2. Etika bisnis adalah standar-standar nilai yang menjadi pedoman atau acuan manajer dan segenap karyawan dalam pengambilan keputusan dan

mengoperasian bisnis yang etik. 3. Paradigma etika dan bisnis adalah dunia yang berbeda sudah saatnya dirubah menjadi paradigma etika terkait dengan bisnis atau mensinergikan antara etika dengan laba. Justru di era kompetisi yang ketat ini, reputasi perusahaan yang baik yang dilandasi oleh etika bisnis merupakan sebuah competitive advantage yang sulit ditiru. Oleh karena itu, perilaku etik penting diperlukan untuk mencapai sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis. 4. Perkembangan iptek sangat pesat, sementara perkembangan etika di bidang Iptek biologi (bioetika) yang didasarkan atas penghargaan pada nilai-nilai iman berjalan lamban, gamang dan tergagap-gagap mengantisipasi loncatanloncatan hasil kerja iptek. Kasus Galileo yang baru direhabilitasi Gereja Katolik setelah berusia 500 tahun adalah contoh klasik betapa agama selalu ketinggalan dibandingkan dengan iptek.

26

5. Etik dan tak etik dalam pengembangan Iptek, esensinya terletak pada persilangan persepsi antara Saintist dan Etikawan+Agamawan, Alam dan iman, Iptek dan agama, dan Rekayasa genetik dan bioetika. Apakah harus menjadi tesis-antitesis. Golongan saintis yakin dan dengan tegar terus melanjutkan eksperimentasi bahwa riset dan pengembangan Iptek akan membawa kemaslahan atau keuntungan umat manusia, hanya menunggu waktu saja (bicara pada tataran dunia nyata). Golongan etikawan dan agamawan menganggap pengembangan Iptek yang tidak terkontrol oleh etika mempermainkan harkat kemanusiaan dan campur tangan manusia yang kelewat besar dalam karya cipta Tuhan (hanya bicara pada tataran dunia akhirat dan pesan-pesan moral). Sebuah contoh, silang pandangan standar etika pengembangan Iptek cloning untuk tujuan bisnis? "yang bisa dilakukan harus terus dilakukan" versus "yang bisa dilakukan tapi tak patut dilakukan". Sampai di mana keseimbangannya?. Relatif, tergantung siapa memandang dan dari sisi pandang mana? Tesis-antitesis ini menuntut modernisasi: diperlukan satu sintesis, sehingga bersama-sama mengarah pada tujuan kehidupan, yakni dihargainya martabat dan integritas kemanusiaan. Semisal, kalau salah satu peraturan agama memberi penegasan menolak bayi tabung (cloning manusia), maka pada akhirnya pilihan dikembalikan pada hati nurani tiap orang dan dilihat kasus per kasus. 6. Kaum agamawan dan etikawan perlu menerapkan etika dalam arti, memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Orang beragama pun diharapkan menggunakan anugerah Sang Pencipta. Jangan sampai akal budi

dikesampingkan dari agama. Itu sebabnya justru kaum agamawan yang diharapkan betul-betul memakai rasio dan metode-metode etika.

27

DAFTAR PUSTAKA Baswir, Revrisond. 2004. Etika Bisnis. Dalam Kompas Penerbit PT Gramedia, Jakarta. Senin, 08 Maret 2004.

Buchholtz, R.A and S. B. Rosenthal. 1998. Business Ethics. Upper Saddle River, N.J.: Prentice Hall. Dalimunthe, Rita F. 2004. Etika Bisnis. Dalam Website Google: Etika Bisnis dan Pengembangan Iptek. DeGeorge, R. 2002. Business Ethics. Upper Saddle River, N.J.: Prentice-Hall, 5 th Ed. Echols, John M and Shadily, Hasan. 1992. Kamus Inggris Indonesia. Penerbit PT Gramedia, Jakarta. Hatta, Mohammad. 1960. Pengantar ke Djalan Ilmu dan Pengetahuan. PT. Pembangunan Djakarta. 31 Hal. It Pin. 2006. Etika dan Bisnis. Dalam Kompas, Jumat 30 Juni 2006. Mulkhan, Abdul Munir. 2005. Etika Welas Asih dan Reformasi Sosial Budaya Kiai Ahmad Dahlan. Dalam Kompas 1 Oktober 2005. Penerbit PT Gramedia, Jakarta. Nofie, lman, Nofie ?, Pengantar Etika Bisnis. Dalam Website Google: Etika Bisnis dan Pengembangan Iptek. Nofie, Iman. 2006. Etika Bisnis dan Bisnis Beretika. Dalam Website Google: Etika Bisnis dan Pengembangan Iptek. Rukmana. 2004. Etika Bisnis dalam Prinsip Ekonomi Syariah. Makalah Disajikan pada Seminar Etika Bisnis Dalam Pandangan Islam yang Diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Bandung, sabtu 6 Maret 2004. Sims, R. 2003. Ethics and Corporate Social Responsibility - Why Giants Fall. C.T. Greenwood Press. Steade, Richard D.; Lowry James R., and Gloss, Raymond E. 1984. BUSINESS, Its Nature and Environment An Introduction. South-Western Publishing Co, Cincinnati-Palo Alto, California.729 p. Sularto, St. 2002. Pengembangan Iptek tidak Bisa Liar. Dalam Kompas, Minggu 21 April 2002. Penerbit Pt Gramedia, Jakarta. Suria Sumantri, Yuyun. 2005. Pengantar Filsafat Ilmu. Penerbit PT Sinar Harapan, Jakarta. Uno, Mien R. 2004. Jangan Bernapas dalam Lumpur. Dalam Website Google: Etika Bisnis dan Pengembangan Iptek.

28