Anda di halaman 1dari 15

Laporan Akhir

BAB II D ESKR IPSI JA L AN T OL

2.1.

Jalan Tol di Indonesia

2.1.1. Kebutuhan Jalan Tol Pembangunan jalan tol dimaksudkan untuk memberikan alternatif pergerakan kenderaan dan barang intra dan antar kota secara lebih cepat dan aman. Keberadaan jalan tol tidak terlepas dari hukum supply-demand, yaitu munculnya kebutuhan sehingga penyediaan fasilitas umum jalan telah bernilai secara ekonomi. Jalan tol merupakan direct charging dari aktivitas transportasi perkotaan, di samping berbagai model dan bentuk road charging sebagai akibat tumbuhnya demand penggunaan fasilitas umum yang ada secara kompetitif. Dengan dilakukannya road charging ini mengakibatkan tuntutan kualitas pelayanan dalam hal supply, yang seimbang dengan biaya konstruksi yang dikeluarkan. Biaya konstruksi untuk pembangunan jalan tol adalah berbeda-beda, menurut tempat/lokasi dan kondisi geomorfologinya. Untuk pembangunan jalan tol di dalam kota, tentunya membutuhkan biaya yang jauh lebih tinggi, mengingat tingginya nilai lahan di dalam kota serta kendala teknologi konstruksi yang digunakan. Walaupun demikian, pembangunan jalan tol tetap merupakan pilihan yang menarik dalam mengatasi berbagai permasalahan transportasi khususnya di daerah perkotaan. Dari sisi bisnis konstruksi, penyediaan layanan jalan tol telah menjadi sasaran bisnis yang menarik terutama dalam satu dekade dewasa ini. Pembangunan jalan tol di Indonesia telah dimulai sejak pertengahan tahun 1970-an, yaitu dengan dioperasikannya jalan tol pertama yaitu Jagorawi pada tahun 1978. Pada saat ini pembangunan jalan tol telah berkembang di beberapa tempat terutama di kota-kota besar di Indonesia. Hal ini dapat

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

Laporan Akhir

dilihat pada tabel berikut yang menunjukkan keberadaan jalan tol yang telah dioperasikan hingga saat ini : TABEL 2.1 PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN TOL DI INDONESIA
Panjang (km) Jasa Marga (km) 14.30 16.00 8.96 Joint Venture (km) Coorporation Partner Tahun Beroperasi

No.

Ruas Jalan Tol

I. Jakarta dan sekitarnya 1. Prof. DR. Ir. Sedyatmo 2. Dalam Kota Jakarta a. Cawang-Tomang b. Tomang-Grogol-Pluit c. Ir. Wiyoto Wiyono, MSc (Cawang - Tj.Priok) d. T. Priok - Jemb. Tiga 3. Cakung-Cikunir 16.00 8.96 15.50 15.44 8.80 - Jasa marga 15.50 Citra Marga Nusaphala Persada 15.44 8.80 Citra Bhakti Margatama Persada 8.80 Marga Nurindo Bhakti 6.03 54.57 58.16% - Jasa marga 34.12 Marga Mandala Sakti 13.50 13.33 8.00 3.50 - Jasa marga 1978 1988 1984 1993 1994 1995 1996 1996 1979 1989 1996 1990 1995 1990 14.30 - Jasa marga 1985

4. Lingkar Luar Jakarta (JORR), Seksi S: a. P. Pinang-L. Agung b. L. Agung-Kp. Rambutan Sub-Total (km) Sub Total (%) II. Jawa Barat 1. Jagorawi 2. Jakarta-Cikampek 3. Jakarta-Tanggerang Barat 4. Tangerang Barat - Merak a. Tangerang Barat - Ciujung b. Ciujung-Serang Timur c. Serang Timur Cilegon Timur d. Cilegon Timur Cilegon Barat e. Cilegon Barat -Tg. Gerem 5. Jembatan Citarum 34.12 13.50 13.33 8.00 3.50 0.91 0.91 46.00 72.00 27.00 46.00 72.00 27.00 8.80 6.03 93.83 100% 39.26 41.84% 1995 1996

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

Laporan Akhir

6. Padalarang-Cileunyi 7. Plumbon - Kanci (Cirebon) 8. Serpong Pondok Aren Sub Total (km) Sub Total (%) III. Jawa Tengah 1. Semarang Arteri (seksi A & B) 2. Semarang Arteri (seksi C) Sub Total (km) Sub Total (%) IV. Jawa Timur 1. Jembatan Mojokerto 2. Surabaya-Gempol 3. Surabaya-Gresik a. Dupak-Tandes b. Tandes-Kebomas c. Kebomas-Manyar Sub Total (km) Sub Total (%) V. Sulawesi Selatan 1. Jembatan Talo Lama 2. Ujung Pandang (seksi 1 & 2) Sub Total (km) Sub Total (%) VI. Sumatera Utara 1. Belawan-Medan-Tj. Morawa (Belmera) Sub Total (km) Sub Total (%)

46.58 20.30 6.90 292.14 100%

46.58 20.30 212.79 72.84%

- Istaka Karya 6.90 PT Bintaro Serpong Damai 79.35 27.16%

1991 1997 1999

14.75 9.80 24.55 100%

14.75 9.80 24.55 100%

- Jasa marga - Adhi Karya 0.00 0%

1983 1998

1.25 42.00

1.25 42.00

- Jasa marga -

1982 1986

3.50 11.55 5.00 63.30 100%

43.25 68.33%

3.50 Marga Bumi Matraraya 11.55 5.00 20.05 31.67%

1993 1994 1995

1.00 5.95 6.95 100%

0.00 0.00 0.00 0%

1.00 Bosowa Marga Nusantara 5.95 6.95 100%

1981 1998

34.40 34.40 100%

34.40 34.40 100%

. Jasa marga 0.00 0%

1986

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

Laporan Akhir

TOTAL (km) TOTAL (%)

515.17 100%

354.25 68.76%

160.92 31.24%

Sumber : Ditjen Prasarana Wilayah Depkimpraswil, 2003 Hingga saat ini masih berlangsung pembangunan proyek jalan tol di berbagai tempat, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3.2 dan 3.3. Walaupun PT. Jasa Marga mendapatkan hak monopoli dalam pembangunan jalan tol, telah dilakukan berbagai bentuk kerjasama terutama dengan mitra swasta, sehingga beban pembangunan jalan tol tersebut dapat terbagi. Hingga saat ini terdapat 20 ruas jalan tol dengan panjang 576,08 km yang telah dibangun dan dioperasikan, serta lebih 750 km lagi yang sedang dalam penjajagan hingga pelaksanaan konstruksi. Hal ini belum bermasuk 11 usulan ruas baru yang diusulkan oleh Pemerintah Daerah, dan saat ini berada dalam tahap studi kelayakan. TABEL 2.2 STATUS PROYEK JALAN TOL
NO. STATUS Operasi : - PT Jasa Marga - Mitra Swasta - Sub Total Konstruksi : - PT Jasa Marga - Mitra Swasta - Sub Total Persiapan Konstruksi : - PT Jasa Marga - Mitra Swasta - Sub Total Belum Konstruksi : - PT Jasa Marga - Mitra Swasta - Sub Total Usulan Daerah TOTAL
Sumber : Ditjen Prasarana Wilayah Depkimpraswil, 2003

JUMLAH RUAS 13 7 20 3 3 6

PANJANG (KM) 418.71 157.37 576.08 27.50 61.73 89.23

2 6 8 12 12 11 57

77.40 191.94 269.34 510 510 1,444.65

4 5

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

Laporan Akhir

TABEL 2.3 RUAS JALAN TOL BARU YANG DIUSULKAN PEMERINTAH DAERAH No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Ruas Cikarang-Tg. Priok Soreang-Pasirkoja (Bandung) Cileunyi-SumedangDawuan Gempol-Pasuruan Medan-Kualanamu Medan-Tebingtinggi Medan-Binjai Palembang-Indralaya Palembang-Tanjung Apiapi Panjang Pemerintah (Km) Propinsi/Kabupaten Kab. Bekasi Kab. Bandung Kab. Sumedang Kab. Pasuruan Prop. Sumatera Utara Prop. Sumatera Utara Prop. Sumatera Utara Kab. Ogan Komering Ulu Kab. Ogan Komering Ulu Prop. Sumatera Barat Prop. Riau

10 Padang-Pakanbaru 11 Pakanbaru-Dumai
Sumber : Ditjen Prasarana Wilayah Depkimpraswil, 2003

2.1.2. Jalan Tol Layang Untuk pembangunan jalan tol di daerah perkotaan yang cukup padat, seperti Jakarta, pembangunan jalan tol terbentur dengan ketersediaan lahan yang cukup. Untuk itu telah dilakukan pengembangan teknologi konstruksi yaitu dalam bentuk pembangunan jalan layang, sebagai upaya mengeliminasi biaya pembebasan lahan yang cukup tinggi. Jalan layang merupakan alternatif untuk mengatasi masalah transportasi di wilayah perkotaan. Kebijakan untuk mengekspansi jaringan jalan yang telah ada sulit untuk dilakukan karena kondisi topografis dan masalah pembebasan lahan. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah transportasi dan untuk mengantisipasi meningkatnya volume lalu lintas, maka kapasitas jalan ditingkatkan dengan membangun bidang layanan baru secara vertikal. Fungsi jalan

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

Laporan Akhir

layang ditetapkan sebagai jalan arteri sekunder. Lebar potongan melintang ditentukan berdasarkan ROW (Right Of Way) yang direncanakan dan ruang yang tersedia. Volume lalu lintas rencana sangat penting dalam menentukan jumlah lajur dan desain potongan melintang jalan. Konsekuensi penggunaan teknologi jalan layang ini selain dibutuhkan biaya yang cukup besar juga sulitnya pengendalian pemanfaatan ruang di damija jalan tol layang jalan pasca konstruksi. Penyediaan pedoman dalam pengendalian pemanfaatan ruang sekitar jalan tol sudah pada saatnya dilakukan, dan diharapkan dapat juga menjangkau pengaturan pada damija jalan tol layang. Hal ini semata-mata dilakukan untuk menjaga dan memelihara fungsi tol layang tersebut sehingga dapat memberikan kualitas layanan transportasi yang cukup bagi penggunanya.

2.2. Pengaturan Jalan Tol dalam Kerangka Penataan Ruang


Pembangunan jalan tol di Indonesia telah menghadirkan ruang-ruang kosong di sekitarnya, khususnya yang berjarak 500 m dari jalan tol. Hal ini menimbulkan berbagai permasalahan di beberapa titik lokasi ruas jalan. Penyerobotan lahan Daerah Milik Jalan (DAMIJA) tol oleh masyarakat telah berkembang hingga pada kondisi yang memprihatinkan. Bentuk-bentuk penyerobotan lahan dimaksud diantaranya : 1. Muncul dan berkembangnya bangunan-bangunan liar baik permanen maupun non permanen yang digunakan untuk tempat tinggal maupun tempat usaha; 2. Terjadinya penumpukkan sampah yang tidak terkendali; 3. Penurunan kualitas tanah pada lokasi-lokasi yang selalu tergenang air; 4. Timbulnya kekumuhan lingkungan sekitar jalan tol dan gangguan teknis terhadap keselamatan jalan tol. Keadaan ini telah mempengaruhi kualitas jalan tol dan kondisi wilayah setempat yang menimbulkan dampak antara lain : 1. Nilai visual yang sangat rendah (contoh : Jalan Tol Bandara Soekarno Hatta); 2. Kondisi fisik jalan tol menjadi kurang aman; 3. Terhambatnya pemeliharaan konstruksi; 4. Merebaknya perilaku kejahatan/kriminal; 5. Terancamnya keamanan pengguna jalan tol; 6. Munculnya keresahan masyarakat;

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

Laporan Akhir

7. Terjadinya kecemburuan sosial akibat adanya sebagian masyarakat yang tidak mendapat kesempatan untuk memanfaatkan jalan tol. Keterbatasan dana pembangunan dan pemeliharaan Lahan Damija serta lemahnya penegakan hukum menuntut adanya peninjauan kembali terhadap pelaksanaan pemanfaatan lahan sekitar jalan tol. Tidak dapat dipungkiri bahwa lahan-lahan tersebut pada umumnya mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi dan pada saat ini telah dimanfaatkan secara tidak wajar. Tuntutan akan kebutuhan hidup serta keterbatasan dalam berbagai hal yang dimiliki oleh sebagian anggota masyarakat telah menyebabkan terjadinya pemanfaatan lahan di sekitar jalan tol yang pada dasarnya hal tersebut adalah pelanggaran. Penggusuran dan cara-cara yang mengarah pada kekerasan bukan lagi merupakan cara yang tepat untuk mengamankan lahan tersebut dari pemanfaatan yang tidak sesuai dengan peruntukkannya. Bagaimanapun, dengan menggusur sama saja dengan memnindahkan masalah ke tempat lain dan bahkan bisa tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali. Permasalahan tersebut akan dapat terselesaikan apabila tingkat kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar jalan tol dapat ditingkatkan. Saat ini hal yang paling penting dilakukan adalah adanya pedoman pemanfaatan lahan sekitar jalan tol, dengan disusunnya pedoman tersebut maka pemanfaatan lahan sekitar jalan tol sudah dapat dilakukan yang salah satu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat pemanfaat lahan sekitar jalan tol sebagai bagian yang berkepentingan langsung terhadap peningkatan kesejahteraan harus dapat memberdayakan diri sendiri. Untuk melakukan hal tersebut tidak bisa dilakukan secara orang perseorangan, tetapi harus melalui penumbuhan kelembagaan masyarakat dan pengembangan jaringan kemitraan dengan pihak lain. Pedoman pemanfaatan lahan sekitar jalan tol diarahkan kepada pendekatan merancang konsep pengembangan peran stake holders dalam hal ini peran pemerintah, pengelola, dan swasta dipandang sebagai unsur pengatur (regulator) yang perlu fleksibel dan masyarakat (community based development). Masyarakat sekitar jalan tol dipandang sebagai unsur subyek yang perlu dirumuskan pola keterlibatan serta peran sertanya beserta dukungan kebijakan perangkat hukum sehingga sejak awal dapat disediakan acuan peran aktif dalam merencanakan, melaksanakan, dan memelihara pemanfaatan lahan sekitar jalan tol sesuai pentahapan kemampuan perannya.

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

Laporan Akhir

Pola pendekatan yang dilakukan dalam kaitan antara permasalahan manajemen transportasi dengan berkembangnya tata guna lahan sekitar jalan tol adalah : 1. Pendekatan sosial dalam penataan ruang. Penyusunan peran masyarakat diarahkan pada tahapan penataan RTRWK dan lahan sekitar jalan tol, bahkan termasuk tahapan Pra/Proses/Pasca pengosongan lahan; 2. Pendekatan Kelembagaan (institusi). Peranan setiap lembaga pelaku/stakeholders (pemerintah, pengelola, lembaga adat/masyarakat) diuraikan fungsi dan tanggung jawabnya dalam setiap aktivitas; 3. Pendekatan kebijakan hukum (law policy). Kebijakan yang telah ada dikaji untuk disusun kebutuhan lainnya agar dapat memberi rambu dan dukungan mengikat bagi tindak sosial hukum pemanfaatan lahan sekitar jalan tol. Jika dikaji lebih lanjut, dalam penyusunan pedoman pemanfaatan lahan sekitar jalan tol terdapat dua kelompok peraturan yang berkaitan dengan lahan khususnya sekitar jalan tol. Pertama, peraturan yang bersifat preventif (pencegahan) dan kedua, peraturan yang bersifat represif/rehabilitatif. Di dua kelompok inilah revitalisasi dan reformulasi kebijakan dengan optimalisasi akses publik harus diutamakan agar pedoman yang dapat disusun dapat mengakomodir semua kepentingan semua stakeholder. Dalam menganalisis dari sudut pandang bidang transportasi, selain menggunakan teknik analisis yang sudah baku digunakan seperti analisis pergerakan dalam hal ini volume lalu lintas yang melalui ruas jalan tol, analisis pembebanan lalu lintas dan kinerja jaringan jalan dalam hal ini menggunakan konsep perencanaan transportasi dan teori antrian; juga akan menggunakan beberapa kriteria teknis pemanfaatan dan penataan lahan sekitar jalan tol berdasarkan karakteristik lahan yang meliputi : 1. Ruang Terbuka Ruang sekitar jalan tol yang harus diamankan dan ditata sedemikian rupa sehingga : Tidak mengganggu fungsi jalan tol untuk melayani kelancaran lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan; Tidak mengganggu fungsi dan kemanan struktur Tidak mengganggu sistem drainase Tidak mengganngu aksesibilitas untuk pelayanan operasional dan pemeliharaan jalan tol

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

Laporan Akhir

2. Ruang Tertutup Dibawah single column (T-Type) dan double column ruang tersebut dapat digunakan sementara secara terbatas dengan penggunaan sementara dengan ketentuan : 1. Kegiatan tidak rawan kebakaran 2. Tidak digunakan untuk tempat tinggal 3. Tidak mengganggu daya dukung struktur atas maupun struktur bawah (seperti membuat sumur, kolam, penampungan air, septic tank, dll) Dibawah multiple column (pile slab) dan extended pile slab pada prinsipnya ruang dibawahnya tidak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan apapun dengan pertimbangan : 1. Dapat menghalangi kegiatan pemeliharaan struktur 2. Dapat mengganggu keamanan konstruksi dari bahaya kebakaran yang dapat menimbulkan resiko kerusakan komponen struktur. Sedangkan kriteria lingkungan yang dapat menjadi acuan dalam pemanfaatan lahan sekitar jalan tol adalah : 1. Aspek sosial dan kenyamanan di lingkungan tersebut, yaitu pertimbangan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar yang tidak langsung merasakan manfaat dari keberadaan jalan tol yang melintas pada wilayah kegiatan sehari-hari, namun masyarakat tersebut menanggung akibat dari keberadaan jalan tol terutama terhadap adanya perubahan rona awal. Untuk itu dalam penyusunan pedoman pemanfaatan lahan sekitar jalan tol perlu diperhatikan juga karakteristik sosial untuk meminimalkan dampak 2. Aspek rencana tata ruang wilayah (RTRW) yaitu pertimbangan adanya rencana pengembangan wilayah yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. 2.2.1. Kerangka Penataan Ruang Pengaturan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

Laporan Akhir

selain melingkupi aturan mengenai perencanaan, juga mengatur mengenai pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Penataan ruang berdasarkan Undang-Undang No. 24 tahun 1992 khususnya dalam pasal 1, merupakan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang baik direncanakan maupun tidak. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian pendahuluan, maka pada pasal 3 kegiatan penataan ruang memiliki tujuan : 1. terselenggaranya pemanfaatan ruang yang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; 2. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya; 3. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk : mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur dan sejahtera; mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdaya guna, berhasil guna dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia; mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan; mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. Kegiatan penataan ruang dilakukan dengan memperhatikan fungsi kawasan yang ada, aspek administratif dan aspek kegiatan. Berdasarkan fungsi kawasan yang ada maka kegiatan penataan ruang akan meliputi penataan ruang untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. Penataan ruang berdasarkan aspek administratif meliputi penataan ruang wilayah nasional, wilayah provinsi, dan wilayah kabupaten/kota. Sedangkan penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi kawasan pedesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu. Penataan ruang wilayah nasional, wilayah provinsi, dan wilayah kabupaten/kota dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan. Dari uraian di atas maka terlihat kegiatan penataan ruang haruslah merupakan suatu pendekatan yang holistik dimana kegiatan penataan ruang bukan hanya menitikberatkan pada pembangunan (fisik) sebagai tujuan akhir, tetapi lebih merupakan sarana untuk mewujudkan satu tujuan (goals) yang

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

10

Laporan Akhir

telah disepakati bersama dimana aspek-aspek yang ada sudah dilihat, diperhatikan, diperhitungkan sebelumnya secara utuh dan menyeluruh (as a whole). Sejalan dengan itu untuk mewujudkan sebuah kegiatan penataan ruang yang terpadu dimana salah satu impelementasinya berupa pengendalian pemanfaatan ruang maka perlu dilakukan adanya suatu koordinasi yang terpadu dan menyeluruh sejak dari perumusan program hingga sampai pada tahap implementasi. Dengan adanya koordinasi yang terpadu maka akan tumbuh sinergi melalui kegiatan sharing resources. Sinergi berarti menghasilkan pembangunan yang lebih besar dampaknya daripada jika dilakukan secara terpisah di masing-masing instansi. Dalam pelaksanaan kegiatan penataan ruang terdapat hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu : Lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial dan interaksi antar lingkungan; Tahapan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan serta pembinaan kemampuan kelembagaan. Pada pasal 12 Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 dijelaskan kegiatan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah dengan peran serta masyarakat. Tata cara dan bentuk peran serta masyarakat dalam penataan ruang telah diatur secara khusus dalam Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1996 tentang Pedoman Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang. Hal ini disebabkan pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang. Masyarakat berperan sebagai mitra pemerintah dalam penataan ruang. Dalam menjalankan perannya, masyarakat mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan penataan ruang. Penetapan undang-undang penataan ruang yang dapat digolongkan pada pendekatan yang bersifat holistik merupakan suatu pendekatan wilayah dimana didalamnya terdapat berbagai aspek yang saling mendukung dan terkait yaitu aspek lingkungan alam dan buatan, sosial budaya, kegiatan ekonomi, biota, sumber daya alam, sumber daya buatan, geologi, sumber daya manusia, kependudukan dan sebagainya. Di dalam penataan ruang

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

11

Laporan Akhir

wilayah terdapat beberapa paradigma yang menjiwai pelaksanaan kegiatan penataan ruang tersebut, yaitu : Penataan ruang yang lebih desentralistik (bottom-up); Pemerintah dalam mempersiapkan rencana, melaksanakan rencana dan pengendalikan pemanfaatan ruang akan selalu bermitra dengan masyarakat; Pemerintah daerah proaktif dan kebijakan penataan ruang secara transparan diketahui oleh semua kelompok masyarakat; Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sesuai dengan mekanismenya, konsep RTRW dipersiapkan pemerintah daerah dengan mengikutsertakan masyarakat (public participation); Pemerintah daerah aktif melakukan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat. Setelah dimulainya masa otonomi daerah maka dengan sendirinya akan mengubah prinsip penataan ruang baik yang terjadi di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Hal ini sejalan dengan digunakannya prinsip penataan ruang wilayah yang memiliki konsep dan karateristik : Lebih menitikberatkan kepada pendekatan bottom-up; Melibatkan semua pelaku pembangunan (stakeholder); Bersifat transparan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian; Sasaran yang akan dituju lebih bersifat jangka pendek; Lebih bersifat responsif terhadap tuntutan dunia usaha dan masyarakat; Wawasan luas dengan perhatian pada kawasan secara lebih mendetail; Rencana yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai pedoman investasi; Memperhatikan dan meningkatkan mutu lingkungan sambil mendorong dan memfasilitasi pembangunan; Visi pembangunan dan manajemen pembangunan. Dalam pemanfaatan ruang diatur hubungan antar berbagai aspek sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya buatan, sosial, budaya, ekonomi, teknologi, informasi, administrasi, pertahanan keamanan, fungsi lindung, budi daya, dan estetika lingkungan serta dimensi ruang dan waktu dalam kesatuan secara utuh menyeluruh serta berkualitas membentuk tata ruang. Kegiatan pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya yang didasarkan atas rencana tata ruang yang telah disusun. Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

12

Laporan Akhir

bertahap melalui penyiapan program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat baik secara perorangan maupun bersama-sama sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui tahapan pembangunan dengan memperhatikan sumber dan mobilisasi dana serta alokasi pembiayaan program pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. Pada kegiatan pemanfaatan ruang dikembangkan : 1. Pola pengelolaan tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainya sesuai dengan azas penataan ruang; 2. Perangkat yang bersifat insentif dan disinsentif dengan menghormati hak penduduk sebagai warga negara. Pengertian dari perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang. Jika dengan pengaturan akan diwujudkan insentif dalam rangka pengembangan pemanfaatan ruang maka melalui pengaturan ini dapat diberikan kemudahan tertentu seperti : tata cara pemberian kompensasi, imbalan dan tata cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun saham; pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana untuk melayani pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. Sedangkan pengertian dari perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang, misalnya dalam bentuk pengenaan pajak yang tinggi dan ketidak tersediaan sarana dan prasarana. Agar kegiatan pemanfaatan ruang selalu sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan maka perlu dilakukan adanya kegiatan pengendalian terhadap kegiatan pemanfaatan ruang yang sedang berlangsung. Adapun pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan, pemantauan, dan evaluasi; sedangkan penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengertian dari kegiatan pengawasan adalah upaya untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. Sedangkan pengertian dari kegiatan penertiban adalah upaya untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. Khusus di tingkat kabupaten/kota penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang selain

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

13

Laporan Akhir

berupa kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi kegiatan mekanisme perizinan. 2.2.2 Keterkaitan Guna Lahan dengan Transportasi Transportasi merupakan suatu alat artinya transportasi dibutuhkan karena tujuan atau maksud yang dicapai melalui transportasti, misalnya bekerja, berbelanja, berkunjung ke saudara dan sebagainya. Oleh karena transportasi merupakan kebutuhan turunan ( Kusbiantoro, 1993). Jadi transportasi diperlukan untuk mengantarkan pergerakan barang dan manusia. Keberadaan transportasi sebagai elemen penting penggerak kegiatan kota atau daerah, memang terkait dengan 4 aspek berikut: urat nadi kehidupan, citra sebuah kota/daerah, penghubung antar guna lahan, dan pembentuk struktur kota/daerah (Warpani, 1993). Sistem transportasi merupakan komponen utama struktur sosial, ekonomi, dan fisik wilayah, dan juga merupakan penentu aktivitas, struktur kota dan lahan terbangun. Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi dasar transportasi kota ada!ah menghubungkan permukiman, tempat bekeda, hiburan serta menghubungkan produsen dengan konsumen (Black, 1981). Masalah transportasi semakin kompleks dengan berkembangnya aktivitas kota dan daerah. Persoalan transportasi dapat dikelompokkan menurut 7 kategori (Black, 1981): 1. Lalu lintas: kernacetan, perilaku pengguna, dan manajemen pergerakan 2. Kecelakaan 3. Melimpahnya angkutan umum pada jam puncak 4. Langkanya angkutan umum diluar jam punca 5. Langkanya fasilitas pejalan kaki 6. Dampak lingkungan: polusi udar dan kebsingan 7. Kesulitan parkir Perubahan guna lahan mengakibatkan meningkatnya bangkitan perjalanan, yang lalu menimbulkan peningkatan kebutuhan prasarana dan sarana lalu lintas (Paquette et al., 1982). Secara sederhana dapat digambarkan hubungan antara: guna lahan, penduduk/manusia, dan transportasi; yaitu pergerakan manusia. antara guna lahan satu ke guna lahan yang lain melalui sarana transportasi. Dengan kata lain, untuk melakukan attivitas dari satu guna lahan ke guna lahan yang lain, manusia memerlukan alat transportasi.

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

14

Laporan Akhir

Perubahan pada sistem aktivitas akan membangkitkan pergerakan baru, yang rnembebani sistem suplai dan sistem pergerakan, yang bila tidak ditanggapi dengan benar akan menimbulkan gangguan pergerakan (Paquette et al., 1982).

GAMBAR 2.1 SIKLUS GUNA LAHAN DENGAN TRANSPORTASI

PERUBAHAN GUNA LAHAN

MENINGKATNYA NILAI LAHAN

MENINGKATNYA BANGKITAN PERGERAKAN

MENINGKATNYA AKSESIBILITAS

MENINGKATNYA KEBUTUHAN

MENINGKATNYA FASILITAS TRANSPORTASI

Penyusunan Pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Sekitar Jalan Tol

II -

15