Anda di halaman 1dari 10

Muh. Nur Udpa, S.

H 2011
Indikasi Geografis
Sebagai salah satu rezim dari perjanjian TRIPs, pengaturan Indikasi Geografis tentu saja harus berdasarkan tujuan utama dari TRIPs. Tujuan utama dari TRIPs yaitu untuk mempromosikan perlindungan yang efektif dan kuat bagi Hak Kekayaan Intelektual, selain itu pula untuk menjamin bahwa Hak Kekayaan Intelektual tidak akan menjadi salah satu aspek non-tarif yang menghalangi arus barang dan jasa dalam perdagangan internasional. Indikasi Geografis diatur secara independen dalam bagian 3 Pasal 22-24, perjanjian TRIPs. Sesuai dengan Pasal 22 ayat (1) perjanjian TRIPs, Indikasi Geografis adalah: Indikasi yang menandakan bahwa suatu barang berasal dari wilayah teritorial negara anggota, atau dari sebuah daerah atau daerah lokal didalam wilayah territorial itu, yang membuat kualitas, reputasi, atau karakter-karakter khusus lain dari barang tersebut dapat dikaitkan secara esensial kepada asal geografis barang itu. Definisi ini sejalan dengan pengertian Indikasi Geografis yang terdapat dalam sistem hukum di lingkungan komunitas Eropa (Eurpoean Community/EC) atau Uni

Eropa (European Union/EU), yang mengaturnya sebagai Indikasi Geografis yang dilindungi (protected geographical indications/PGI), kata dilindungi ditambahkan dalam penyebutan Indikasi Geografis dalam hukum tersebut. Penambahan ini dimaksudkan untuk membedakan Indikasi Geografis yang telah memperoleh perlindungan hukum di tingkat komunitas Eropa dengan perlindungan hukum di tingkat nasional. Indikasi Geografis yang belum mendapat perlindungan di tingkat komunitas Eropa biasanya

Muh. Nur Udpa, S.H 2011


telah mendapat perlindungan, tetapi hanya berdasarkan peraturan perundangundangan tingkat nasional salah satu Negara Komunitas Eropa saja.1 Indikasi Geografis yang dimaksudkan dalam perjanjian TRIPs yaitu tanda yang mengidentifikasikan suatu wilayah negara anggota, atau kawasan atau daerah di dalam wilayah tersebut sebagai asal barang, di mana reputasi, kualitas, dan karakteristik barang yang bersangkutan sangat ditentukan oleh faktor geografis tersebut. Berdasarkan ketentuan tersebut dapat dimengerti bahwa asal suatu barang yang melekat dengan reputasi, karakteristik, dan kualitas suatu barang yang dikaitkan dengan wilayah tertentu dilindungi secara yuridis. Peran positif nama asal barang terhadap goodwill atau karakteristik lainnya yang secara langsung dapat menaikkan keuntungan ekonomis dari perdagangan barang tersebut harus ada. Singkatnya, nama itu sendiri harus memiliki reputasi. Reputasi merupakan salah satu elemen proteksi yang disebutkan secara eksplisit oleh perjanjian TRIPs.2 Terdapat dua kewenangan yang diberikan TRIPs kepada negara anggotanya untuk mencegah pihak lain melanggar hak berdasarkan Indikasi Geografis, yaitu:3 1) Penggunaan setiap cara penunjukkan barang yang merujuk atau menjanjikan bahwa barang tersebut berasal dari daerah geografis, selain dari tempat asal yang sebenarnya sehingga menyesatkan publik mengenai asal geografis dari barang tersebut; dan

Miranda Risang Ayu, 2006, Memperbincangkan Hak Kekayaan Intelektual-Indikasi Geografis, Alumni, Bandung, hlm. 42 2 Ibid, hlm. 43 3 Achmad Zen Umar Purba, Op. Cit., hlm.76

Muh. Nur Udpa, S.H 2011


2) Setiap penggunaan yang menunjukkan adanya perbuatan persaingan curang menurut Pasal 10 bis Paris Convention (1967). Adanya rujukan pada Art. 10 bis Paris Convention (1967) ini menunjukkan bahwa Indikasi Geografis seperti juga bidang-bidang Hak Kekayaan Intelektual yang lain, di mana sangat berkaitan dengan upaya pencegahan persaingan curang. Berdasarkan Pasal 56 ayat (1) UU Merek mengatur bahwa Indikasi Geografis dilindungi sebagai suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Berdasarkan Penjelasan Pasal 56 ayat (1) UU Merek, bahwa Indikasi Geografis adalah suatu indikasi atau identitas dari suatu barang yang yang berasal dari suatu tempat, daerah atau wilayah tertentu yang menunjukkan adanya kualitas, reputasi, dan karakteristik termasuk faktor alam dan faktor manusia yang dijadikan atribut dari barang tersebut. Tanda yang digunakan sebagai Indikasi Geografis dapat berupa etiket atas label yang dilekatkan pada barang yang dihasilkan. Tanda tersebut dapat berupa nama tempat, daerah, atau wilayah, kata, gambar, huruf, atau kombinasi dan unsur-unsur tersebut. Pengertian nama tempat dapat berasal dari nama yang karena pemakaian secara terus-menerus sehingga dikenal sebagai nama tempat asal barang yang bersangkutan. Perlindungan Indikasi Geografis meliputi barang-barang yang dihasilkan oleh alam, barang hasil pertanian, hasil kerajinan tangan, atau hasil industri tertentu lainnya.

Muh. Nur Udpa, S.H 2011


Berdasarkan Pasal 1 angka (1) PP No.51 tahun 2007 tentang Indikasi Geografis, pengertian Indikasi Geografis adalah: Suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Berdasarkan PP Nomor 51 Tahun 2007 tentang Indikasi Geografis, pada Pasal 2 menentukan bahwa tanda yang dimaksudkan dalam Pasal 1 angka (1) merupakan nama tempat atau daerah maupun tanda tertentu lainnya yang menunjukkan asal tempat dihasilkan barang yang dilindungi oleh Indikasi Geografis. Barang dalam hal ini dapat berupa hasil pertanian, produk olahan, hasil kerajinan tangan, atau barang

lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka (1) PP No.51 Tahun 2007 tentang Indikasi Geografis. Selain sebagai tanda pembeda, aspek-aspek khusus dari nama asal barang ini juga harus memiliki nilai ekonomis. Hal tersebut berarti bahwa nama asal itu tidak hanya harus berfungsi untuk membedakan suatu barang dari barang lainnya, tetapi juga harus jelas bahwa tempat asal ini memiliki pengaruh yang besar terhadap peningkatan kualitas atau mutu barang tersebut, sehingga meningkat pula harga jualnya.4 Jika dilihat dari segi rumusan, definisi Indikasi Geografis berdasarkan TRIPs Pasal 22 ayat (1) dengan ketentuan Indikasi Geografis pada Pasal 56 ayat (1) UU Merek dan Pasal 1 angka (1) PP No.51 tahun 2007, di mana ketiga definisi tersebut terdiri dari dua hal pokok yaitu tanda yang menunjukkan suatu daerah asal atau barang
4

Miranda Risang Ayu, Op. Cit., hlm. 43

Muh. Nur Udpa, S.H 2011


yang dipengaruhi oleh faktor alam dan atau manusia serta memaparkan bahwa produk dari barang yang dihasilkan tersebut memiliki ciri dan kualitas. Perlindungan Indikasi Geografis pada dasarnya tidak terbatas pada produk pertanian saja, semua produk yang memiliki keterkaitan dengan faktor geografis termasuk faktor alam dan atau manusia sebagai dominasi terbentuknya ciri khas dan kualitas serta telah dikenal keberadaannya dapat dilindungi sebagai Indikasi Geografis. Pada bidang produk-produk pertanian, Indikasi Geografis tampak dari hubungan terkuat antara produk dengan karakter tanah yang menghasilkan bahan mentah dari produk tersebut. Misalnya, anggur merah Connawarra Australia. Anggur ini terkenal karena kekhasan rasa yang timbul dari tanah merah Connawarra yang bernama terrarosa. Singkatnya, secara sekilas, produk Indikasi Geografis tampak bergantung kepada tanah. Meskipun demikian, aspek-aspek yang memengaruhi karakter suatu barang yang bisa dilindungi dalam rezim Indikasi Geografis sebetulnya dapat juga berasal dari unsur alam yang bukan tanah. Beberapa negara, terutama yang menjadi

penandatanganan Perjanjian Lisabon 1958 dan memiliki produk-produk Indikasi Geografis yang kaya atau amat signifikan bagi peningkatan devisanya, telah mengartikan pengaruh lingkungan tidak saja dalam arti pengaruh unsur-unsur tanah. 5 Pengaruh lingkungan ini juga diartikan secara lebih luas sebagai pengaruh lingkungan alam sebagai totalitas, seperti cara pandang yang dianut dalam Konvensi Internasional tentang Keanekaragaman Hayati (the International Convention on Biodiversity). Berdasarkan konteks tersebut, lingkungan alam dapat juga dipandang

Ibid, hlm. 31

Muh. Nur Udpa, S.H 2011


sebagai suatu kesatuan alamiah yang dapat juga mencakup faktor manusia, yakni penduduk asli, yang tidak terpisahkan dari lingkungan tersebut. Hal tersebut disebabkan karena TRIPs tidak secara spesifik menentukan aspek-aspek ini selain bahwa aspek-aspek itu harus secara signifikan menentukan kualitas, reputasi atau karakter-karakter khusus lain dari suatu barang, aspek-aspek lingkungan ini dapat saja diartikan secara luas.6 Indikasi Geografis pada pokoknya memuat empat elemen dasar yaitu:7 1) Penentuan wilayah penghasil produk 2) Spesifikasi metode produksi 3) Spesifikasi kualitas produk 4) Nama dan reputasi tertentu yang membedakan dari produk yang sejenis Berbeda dengan kepemilikan Hak Kekayaan Intelektual lainnya yang bersifat individu, Indikasi Geografis kepemilikan haknya bersifat kolektif. Hak kolektif diartikan bahwa tiap orang yang berada dalam daerah penghasil produk dan mereka yang diizinkan untuk itu, dimungkinkan untuk bersama-sama memiliki hak dan menggunakan nama Indikasi Geografis pada produksinya sepanjang syarat-syarat yang telah ditentukan secara bersama-sama dalam buku persyaratan bisa dipenuhi.8 Buku persyaratan merupakan suatu syarat mutlak yang harus dipenuhi bagi tiaptiap pihak yang akan mendaftarkan produk Indikasi Geografis. Sesuai dengan Pasal 1 angka (9) PP No.51 tahun 2007 tentang Indikasi Geografis, buku persyaratan adalah:

6 7

Ibid, hlm. 32 www.dgip.go.id/ebhtml/hki/filecontent.php?fid=14872 8 Ibid., Hlm.2

Muh. Nur Udpa, S.H 2011


suatu dokumen yang memuat informasi tentang kualitas dan karakteristik yang khas dari barang yang dapat digunakan untuk membedakan barang yang satu dengan barang yang lainnya yang memiliki kategori sama. Berdasarkan Pasal 6 ayat (3) PP No. 51 tahun 2007 tentang Indikasi Geografis, buku persyaratan harus memuat: a. Daftar isi; b. Nama Indikasi Geografis yang dimohonkan pendaftarannya; c. Nama barang yang akan dilindungi Indikasi Geografis; d. Uraian karakteristik dan kualitas yang membedakan barang tertentu dengan barang lain, dimana memiliki kategori yang sama dan menjelaskan tentang hubungannya dengan daerah tempat barang tersebut dihasilkan; e. Uraian mengenai lingkungan geografis serta faktor alam dan faktor manusia yang merupakan satu kesatuan dalam memberikan pengaruh terhadap kualitas atau karakteristik dari barang yang dihasilkan; f. Uraian tentang batas-batas wilayah dan/atau peta daerah yang dilindungi oleh Indikasi Geografis. Peta yang dimaksud disini adalah peta geografis bukan peta administratif wilayah; g. Uraian mengenai sejarah dan tradisi yang berhubungan dengan pemakaian Indikasi Geografis untuk memadai barang yang dihasilkan didaerah tersebut termasuk pengakuan dari masyarakat mengenai Indikasi Geografis tersebut; h. Uraian yang menjelaskan tentang proses produksi, proses pengelolaan, dan proses pembuatan yang digunakan sehingga memungkinkan setiap produsen di daerah tersebut dapat memproduksi, mengolah, atau membuat barang terkait;

Muh. Nur Udpa, S.H 2011


i. Uraian mengenai metode yang digunakan untuk menguji kualitas barang yang dihasilkan; j. Label yang digunakan pada barang dan memuat Indikasi Geografis sebanyak sepuluh lembar maksimal 9X9 cm minimal 5X5 cm; k. l. Daftar pustaka, rujukan yang digunakan dalam penulisan buku persyaratan; Daftar lampiran.

Pasal 56 ayat (2) PP No.51 Tahun 2007 tentang Indikasi Geografis menentukan bahwa yang berhak mengajukan permohonan adalah: a. Lembaga yang mewakili masyarakat di daerah yang memproduksi barang yang bersangkutan, terdiri atas: - Pihak yang mengusahakan barang hasil alam atau kekayaan alam - Produsen barang hasil pertanian - Pembuat barang hasil hasil kerajinan tangan atau barang hasil industri; atau - Pedagang yang menjual barang tersebut b. Lembaga yang diberi kewenangan untuk itu; atau c. Kelompok konsumen barang tersebut. Berdasarkan Pasal 3 PP No.51 tahun 2007 tentang Indikasi Geografis menentukan bahwa, terdapat beberapa kategori Indikasi Geografis yang tidak dapat didaftarkan, yaitu apabila tanda yang dimohonkan pendaftarannya:

Muh. Nur Udpa, S.H 2011


a. Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, moralitas agama, kesusilaan atau ketertiban umum; b. Menyesatkan atau memperdaya masyarakat mengenai ciri, sifat, kualitas, asal sumber, proses pembuatan barang, dan/atau kegunaannya; c. Merupakan nama geografis setempat yang telah digunakan sebagai nama varietas tanaman dan digunakan bagi varietas tanaman yang sejenis; atau d. Telah menjadi generik. Indikasi yang bersifat generik merupakan indikasi mengenai suatu barang yang telah menjadi milik umum karena sering digunakan dalam bahasa sehari-hari. Menurut Frederick Abbott, isu Indikasi Geografis memiliki dua fungsi. Pertama, fungsi promosi produk yang mempunyai karakter tertentu serta membawa manfaat bagi wilayah tempat produk tersebut dibuat (manufactured) atau dipasarkan. Kedua, Indikasi Geografis merupakan sumber informasi penting untuk konsumen pada pasar yang sangat beragam dalam kaitan dengan asal, kualitas serta reputasi produk yang bersangkutan.9

Adapun manfaat perlindungan Indikasi Geografis yaitu:10 1) Memperjelas identifikasi produk dan menetapkan standar produksi serta standar proses diantara para pemangku kepentingan Indikasi Geografis;

10

Achmad Zen Umar Purba, Op. Cit., hlm. 76 www.dgip.go.id/ebhtml/hki/filecontent.php?fid=14872

Muh. Nur Udpa, S.H 2011


2) Menghindari terjadinya praktik persaingan curang dalam perdagangan, memberikan perlindungan bagi konsumen dari penyalahgunaan reputasi Indikasi Geografis dengan cara menjual produk yang berasal dari daerah lain yang memiliki karakteristik berbeda bahkan lebih rendah; 3) Jaminan pada kualitas produk yang dilindungi Indikasi Geografis sebagai produk asli memberikan kepercayaan pada konsumen; 4) Membina para produsen lokal dan mendukung koordinasi serta memperkuat organisasi sesama pemegang hak dalam rangka menciptakan, menyediakan, dan memperkuat citra nama dan reputasi produk.