Anda di halaman 1dari 9

Pemanfaatan Sampah Kota Sebagai Bahan Bakar Pada Turbin Gas Yang Tidak

Terpakai Di PT Arun NGL Menggunakan Proses Gasifikasi

Juni Prananta1,2
1
Direktur Eksekutif Lembaga Penerapan Teknologi Tepat Guna, JINGKI institute
2
Alumnus Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
e-mail : prananta_chemist@yahoo.co.id

Pendahuluan
Jumlah sampah yang dihasilkan dan dibuang di negara-negara berkembang akhir-akhir
3
ini mencapai jumlah kritis . peningkatan penduduk, migrasi dari pedesaan ke kawasan perkotaan,
meningkatnya globalisasi, pola konsumsi yang kebarat-baratan dan menyebarnya produk-produk
4
serta kemasan – kemasan sekali pakai uang adalah sebagian dari penyebabnya . TPA (Tempat
pembuangan akhir) atau landfill, biasanya tidak lebih dari timbunan terbuka (open dumps),
umumnya menggunung dan sering mengakibatkan berbagai permasalahan lingkungan serta
sosial. Walaupun dibeberapa tempat di Indonesia ada beberapa TPA yang dalam pengelolaan
lingkungannya telah memenuhi standart pengelolaan sampah
Saat ini, sekitar 129 juta ton plastic setiap tahunnya diproduksi, dan 60% dari jumlah itu
diproduksi dari bahan minyak bumi. Jika dari jumlah tersebut dapat diolah kembali maka akan
diperoleh sebesar 69 juta minyak bumi yang dapat dimanfaatkan. Jepang sendiri telah
menerapkan undang-undang pengolahan sampah sejak 1997 dan khususnya bagi sampah
plastik sejak tahun 2000 [5]. Hasil dari pengolahan sampah plastik (banyak digunakan untuk
pembungkus di super market dan sisa minuman) yang diproses pada tungku proses pada suhu
400-5000C telah menghasilkan bahan bakar baru yang diberi nama Waste Plastic Disposal Fuel
(WPD Fuel) [5]. Bahan bakar yang disingkat WPD ini di beberapa negara maju sedang dilakukan
penelitian secara intensif sebagai bahan bakar alternative pada berbagai mesin.
Dari sekitar 156.478 jiwa jumlah penduduk kota Lhokseumawe rata-rata menghasilkan
3
sampah 205,70 m per harinya dengan pembagian 60 % sampah organic dan 40% non-organik.
Sampah non organic lebih cenderung sulit untuk di urai oleh bakteri pengurai yang terdapat di
permukaan tanah sehingga rentang waktu penguraiannya cenderung lebih lama. Banyak sampah
non-organik yang mayoritas adalah jenis plastik kemasan yang apabila di pungut oleh para
pemulung tidak tidak laku di jual.

3
In this report we use terms “industrializing” nations or “less industrialized” nations rather than the more commonly
used “developing” or “less developed” nations. This report also uses “the global South” as a synonym for
industrializing countries.
4
The United Nations reports the urban population of less industrialized regions has grown from 981 million in 1980, to
1.9 billion in 2000. The U.N. expects this population to double again by 2030.
Karakteristik bahan bakar dari smpah plastic polietilena

Stephen J Miller, Ph.D, dalam penelitiannya yang dipublikasikan dalam Jurnal American
Chemical Society bagian Energi dan Bahan Bakar (Energy and Fuel) edisi 20 Juli 2005, Miller
memanaskan polietilena menggunakan metode pirolisis, lalu menyelidiki zat hasil pemanasan
tersebut. ternyata, ketika polietilena dipanaskan akan terbentuk suatu senyawa hidrokarbon cair.
Senyawa ini mempunyai bentuk mirip lilin (wax). Banyaknya plastik yang terurai adalah sekitar
60%, suatu jumlah yang cukup banyak. Struktur kimia yang dimiliki senyawa hidrokarbon cair
mirip lilin ini memungkinkannya untuk diolah menjadi minyak pelumas berkualitas tinggi. Sekedar
informasi, minyak pelumas yang saat ini beredar di pasaran berasal dari pengolahan minyak
bumi. Minyak mentah (crude oil) hasil pengeboran minyak bumi di dasar bumi mengandung
berbagai senyawa hidrokarbon dengan titik didih yang berbeda-beda. Kemudian, berbagai
senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah ini dipisahkan menggunakan teknik
distilasi bertingkat (penyulingan) berdasarkan perbedaan titik didihnya. Selain bahan bakar,
seperti bensin, solar, dan minyak tanah, penyulingan minyak mentah juga menghasilkan minyak
pelumas. Sifat kimia senyawa hidrokarbon cair dari hasil pemanasan limbah plastik mirip dengan
senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah sehingga dapat diolah menjadi
minyak pelumas.

Sumber ; Profil Kota Lhokseumawe


Di satu sisi pemakaian tenaga listrik di Indonesia selama 20 tahun terakhir ini mengalami
peningkatan yang cukup pesat yaitu 14.5 % per tahun dan dalam 25 tahun mendatang
diperkirakan akan terus mengalami peningkatan dengan pertumbuhan sebesar 7.8 % per tahun.
Pada tahun 1996 kebutuhan tenaga listrik diperkirakan sebesar 140.7 TWh dan pada tahun 2021
kebutuhan mencapai 617.9 TWh. Secara khusus permasalahan keterbatasan energi listrik local
di Aceh juga tidak jauh berbeda dengan kondisi pemakaian energi listrik secara umum di
Indonesia. Kebutuhan yang terus meningkat tidak diiringi dengan ketersediaan suplai listri yang
memadai. Sebagian besar kabupaten-kabupaten di Aceh kebutuhan listriknya tergantung pada
pasokan listrik dari Sumatera Utara. Padahal jika melihat potensi yang terdapat pada sampah
perkotaan yang apabila dimanfaatkan dapat menjadi salah satu sumber energi alternative bagi
ketersediaan listrik di Aceh.

Penggunaan teknologi
Sampah perkotaan yang berkomposisi bahan-bahan non-organik lebih besar umumnya

berasal dari produk-produk turunan hidro carbon yang cenderung lebih berpotensi sebagai bahan

bakar. Jika dalam pemanfaatannya bahan bakar berupa waste-mass digunakan untuk

membangkitkan energi listrik tenaga uap, maka dapat digunakan system pembakaran massa.

Dimana sampah dibakar secara langsung untuk mengubah air menjadi uap sebagai penggerak

turbin yang terhubung ke generator listrik.


Namun jika penggunaannya terhadap alat proses (pembangkit listrik) dengan spesifikasi gas
sampah hendaknya di ubah dari fasa padat menjadi gas dengan proses gasifikasi di banyak
tempat negara-negara di Asia bagian selatan menggunakan teknologi yang lebih dikenal dengan
Refuse-Derived Fuel (RDF), dimana sampah campuran diproses terlebih dahulu sebelum dibakar
langsung. Tingkat pengolahan bervariasi antara fasilitas yang satu dengan fasilitas lainnya, tetapi
biasanya melibatkan pencacahan dan pengurangan logam-logam serta material lain yang
memiliki kandungan kalori bakar rendah (low Btu content). Material yang diolah kemudian
dimanfaatkan sebagai bahan bakar,baik dengan cara yang sama seperti pembakaran massa
5
atau digunakan di fasilitas pemrosesan bahan bakar yang ada seperti di pabrik-pabrik semen .
Namun teknologi tersebut menimbulkan dampak lingkungan yang cenderung lebih besar
dibandingkan pilihan teknologi proses SWGCC (Solid Waste Gasification Combined Cycle).
Penulis mengadopsi teknologi ini dari prosess ICGCC (Integrated Coal Gasification Combined
Cycle) yang sering disebut dengan IGCC. Hal ini disebabkan terdapat beberapa persamaan
antara Waste-mass (sampah) dengan batu bara. Komponen utama dalam riset IGCC adalah
pengembangan teknik gasifikasi batubara. Untuk selanjutnya dalam makalah ini disebutkan
dengan istilah SWGCC.

Perolisa
Pyrolysis dilakukan di dalam sebuah pengurangan atmosfer (hampa udara) pada
0
temperatur hingga 800 C. Di dalam proses pyrolysis, limbah plastik mampu diubah menjadi
feedstock petrokimia, seperti nafta, liquid dan wax- seperti hidrokarbon dan gas. Teknik pyrolysis
telah digunakan sejak awal tahun 1930 di Jerman untuk peningkatan residu hidrogenasi yang
diperoleh dari pencairan/pelelehan batu bara (coal liquefaction). Pyrolysis adalah sebuah metode
sempurna untuk mendaur ulang material heterogen seperti limbah yang telah bercampur atau
residu potongan otomotif. Perusakan termal dari limbah plastik telah dilakukan pada skala
industri oleh BASF di Jerman. Karena adanya fakta yang menunjukkan bahwa prosesnya
fleksibel dan desainnya sederhana, maka daur ulang pyrolysis tepat digunakan secara ekonomis.
Pyrolysis limbah plastik dilakukan menggunakan sebuah kiln (dapur) yang memberikan efisiensi
panas tinggi sekitar 75-85%. Metode pyrolysis dapat merubah limbah plastik menjadi minyak
pyrolytic dan padatan kokas.

5
SUMBERDAYA DI DALAM BARA “Kerugian Ekonomi akibat Insinerasi versus Pendekatan Zero Waste di
Belahan Selatan”, Resources up in Flames: The Economic Pitfalls of Incineration versus a Zero Waste Approach in the
Global South
Produk-produk pyrolysis memerlukan proses-proses lebih lanjut, seperti refining. Dengan
demikian, pyrolysis lebih baik ditampilkan sebagai bagian dari proses multi-step daripada sebagai
sebuah sistem yang integral. Beberapa keuntungan dari pyrolysis, meliputi: Konsumsi energi
yang sangat rendah (sebagai contoh, maksimal hanya sekitar 10% dari jumlah energi limbah
plastik yang digunakan untuk merubah potongan (sampah) menjadi produk petrokimia).
Prosesnya dapat mengatasi limbah plastik yang tidak dapat didaur ulang secara efisien melalui
cara-cara alternatif .Proses beroperasi tanpa membutuhkan udara atau campuran hidrogen dan
tidak melibatkan tekanan elevasi (tinggi).HCl terbentuk sebagai sebuah produk dari proses ini
yang dapat diperoleh kembali dan digunakan sebagai bahan mentah (raw material). Keunggulan
nyata dari pyrolysis dibandingkan dengan pembakaran adalah reduksi terjadi sekitar 5-20 kali di
dalam volum dari produk gas. Keuntungan lainnya adalah polutan-polutan dan pengotor menjadi
terkonsentrasi di dalam sebuah coke-like matrix, yaitu sebuah residu padat dari proses.
Selanjutnya, karena pyrolysis dilakukan dalam sebuah sistem tertutup, maka tidak ada polutan
yang dapat keluar.

Gasifikasi
Gasifikasi adalah suatu teknologi proses yang mengubah bahan padat menjadi gas.
Bahan padat yang dimaksud adalah bahan bakar padar termasuk didalamnya, biomass,
batubara, dan arang dari proses oil refinery. Gas yang dimaksud adalah gas-gas yang keluar dari
proses gasifikasi dan umumnya berbentuk CO, CO2, H2, dan CH4. Proses gasifikasi dari limbah
plastik terjadi pada temperature lebih tinggi dari proses pyrolisis (1300C) dan dengan
penambahan oksigen yang terkontrol. Reaksi dasar gasifikasi adalah sebagai berikut: CnHm +
0.55n O2 à n CO + 0.5m H2 Produk utamanya adalah campuran gas karbon monoksida dan
hydrogen. Campuran gas yang dikenal sebagai syngas ini bisa digunakan sebagai substitusi
untuk gas alami. Menariknya, biar bagaimanapun, jika syngas pertama-tama dipisahkan ke
unsure pokoknya, maka ini bernilai sebagai chemical intermediate dan membawa dua sampai
tiga kali nilai bahan bakar dari campuran. Sisa abu anorganik menjadi ikatan di suatu matriks
gelas yang bisa digunakan sebagai unsur di beton dan adukan semen dikarenakan
ketahanannya yang tinggi terhadap asam.
Proses gasifikasi pada hakikatnya mengoksidasi suplai hidrokarbon pada mode yang
terkontrol, untuk memproduksi gas sintetik yang memiliki nilai komersial yang signifikan.
Gasifikasi adalah pilihan menarik karena proses ini mencegah pembentukan beberapa dioxin dan
senyawa aromatic. Gasifikasi secara efesien memanfaatkan energy kimia dan bahan baku
material yang dapat diperbaharui yang melekat pada limbah rumah tangga yang tidak dipisahkan,
limbah industry, dang limbah khusus (contohnya limbah medis), dan mampu untuk merubah
hampir semua total input limbah kepada bahan baku material yang berguna dan energy. Limbah
input (MSW mengandung plastic campuran) secara khas dimiliki antara 10 dan 16 MJ/Kg
kandungan panas dan bisa menghasilkan 800 dan 1200 Nm3/t gas sintetis. Proses gasifikasi
juga menghasilkan reduksi utama pada volume input limbah –rata-rata- 75%.

Teknologi SWGCC
Gasifikasi sampah padat pada prinsipnya adalah suatu proses perubahan material padat
menjadi gas yang mudah terbakar. Proses ini melalui beberapa proses kimia dalam reaktor
gasifikasi (gasifier). Mula-mula sampah yang sudah diproses secara fisis diumpankan ke dalam
reaktor dan akan mengalami proses pemanasan sampai temperatur reaksi serta mengalami
proses pirolisa (menjadi bara api). Kecuali bahan pengotor, sampah bersama-sama dengan
oksigen dikonversikan menjadi hidrogen, karbon monoksida dan methana. Proses gasifikasi
sampah berdasarkan sistem reaksinya dapat dibagi menjadi empat macam yaitu : fixed bed,
fluidized bed, entrained flow dan molten iron bath. Dalam fixed bed, sampah padat yang telah di
proses menjadi material yang berukuran kecil berupa serbuk yang berukuran antara 3 - 30 mm
diumpankan dari atas reaktor dan akan menumpuk karena gaya beratnya. Uap dan udara (O2)
dihembuskan dari bawah berlawanan dengan masukan serbuk tersebut akan bereaksi
membentuk gas. Reaktor tipe ini dalam prakteknya mempunyai beberapa modifikasi diantaranya
adalah proses Lurgi, British Gas dan KILnGas. Sedangkan proses yang menggunakan prinsip
fluidized bed adalah High - Temperature Winkler, Kellog Rust Westinghouse dan U-gas. Dalam
fluidized bed gaya dorong dari uap dan O2 akan setimbang dengan gaya gravitasi sehingga
serbuk sampah dalam keadaan mengambang pada saat terjadi proses gasifikasi. Serbuk
sampah yang digunakan lebih halus dan berukuran antara 1 - 5 mm. Dalam entrained flow
serbuk sampah yang berukuran 0.1 mm dicampur dengan uap dan O2 sebelum diumpankan ke
dalam reaktor.
Proses ini telah digunakan untuk memproduksi gas sintetis dengan nama proses
Koppers-Totzek. Proses yang sejenis kemudian muncul seperti proses PRENFLO, Shell, Texaco
dan DOW. Proses molten iron bath merupakan pengembangan dalam proses industri baja.
Serbuk batubara diumpankan ke dalam reaktor bersama-sama dengan kapur dan O2. Kecuali
proses molten iron bath semua proses telah digunakan untuk keperluan pembangkit listrik. Saat
ini teknologi IGCC sedang dikembangkan di seluruh dunia, seperti : Jepang, Belanda, Amerika
Serikat dan Spanyol. Di samping proses gasifikasi yang terus mengalami perbaikan, gas turbin
jenis baru juga terus dikembangkan. Temperatur masukan gas turbin yang tinggi akan dapat
menaikkan efisiensi dan ini dapat dicapai dengan penggunaan material baru dan perbaikan
sistem pendinginnya.
Prinsip kerja dari SWGCC merupakan perpaduan teknologi gasifikasi dan pirolisis sampah padat
serta proses pembangkitan uap. Gas hasil gasifikasi batubara mengalami proses pembersihan
sulfur dan nitrogen. Sulfur yang masih dalam bentuk H2S dan nitrogen dalam bentuk NH3 lebih
mudah dibersihkan sebelum dibakar dari pada sudah dalam bentuk oksida dalam gas buang.
Sedangkan abu dibersihkan dalam reaktor gasifikasi. Gas yang sudah bersih ini dibakar di ruang
bakar dan kemudian gas hasil pembakaran disalurkan ke dalam turbin gas untuk menggerakkan
generator. Gas buang dari turbin gas dimanfaatkan dengan menggunakan HRSG (Heat
Recovery Steam Generator) untuk membangkitkan uap. Uap dari HRSG (setelah turbin gas)
digabungkan dengan uap dari HRSG (setelah reaktor gasifikasi) digunakan untuk menggerakkan
turbin uap yang akan menggerakkan generator.
Setiap daerah harus bertanggung jawab akan pengolahan limbah terutama sampah kota
yang mayoritas terdiri dari bahan-bahan non organik mempertahankan keseimbangan lingkungan
hidup untuk jangka panjang. Listrik merupakan kebutuhan penting di masyarakat khususnya
terhadap kebutuhan sehari-hari, saat ini kebutuhan listrik Aceh sebesar ± 225 MW yang sebagian
besarnya masih di supply dari pembangkit listrik di Sumatera Utara. Hal ini lebih dikrenakan pada
minimnya diversifikasi teknologi energi dengan memanfatkan potensi local. Dampak dari
minimnya upaya tersebut adalah tergantungnya daerah-daerah khususnya di Aceh akan pasokan
listrik Sumatera Utara, di satu sisi ketersediaan bahan baku terutama sampah kota sangan
melimpah jika ingin di manfaatkan. Sehingga untuk memperoleh pasokan listrik yang stabil dalam
jangka panjang, setiap daerah perlu melakukan diversifikasi teknologi untuk penyediaan
kebutuhan listrik lokal. Diversifikasi teknologi listrik local tentunya harus memperhatikan factor-
faktor utama yang selalu berkaitan dengan operasionalnya kedepan. Beberapa factor tersebut
adalah :

1. Technologic cost, yaitu harga investasi dari teknologi tersebut (analisa ekonomi)
Seperti yang telah dijelaskan, meskipun kebutuhan energi terutama listrik di Aceh terus
meningkat, tetapi jika pemanfaatan sumber daya alam local dilakukan dengan baik maka ini
dapat menjadi kekuatan setiap daerah khususnya di Aceh agar dapat menjadi mandiri energi.
sehingga diversifikasi teknologi dengan memproduksi listrik dari limbah menggunakan teknologi
gasifikasi dinilai merupakan langkah strategis.
Karena selain dapat menjawab kekurangan listrik local juga menjawab permasalahan
lingkungan. Namun dari sisi pembiayaan, teknologi SWGCC ini masih tergolong mahal pada
investasi awal. Namun jika penyederhanaan teknologi dilakukan tentunya akan menghasilkan
invest cost yang murah.

2. Sosial masyarakat dan lingkungan


Pada tahun 1992 diadakan konferensi internasional tentang perubahan iklim di Rio de
Janeiro. Konferensi yang diselenggarakan oleh PBB ini melahirkan deklarasi bersama yang
disebut Konvensi Rio. Indonesia merupakan salah satu dari 150 negara yang menandatangani
Konvensi Rio setuju untuk secara rutin melaporkan emisi CO2 di wilayah Indonesia. CO2
merupakan salah satu gas yang menyumbang terjadinya efek rumah kaca yang dapat
menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Gas-gas lainnya yang juga turut andil
terjadinya efek rumah kaca yaitu methane, CFC (Chloroflourocarbon) dan nitogen oksida.
Meskipun saat ini emisi CO2 di Indonesia masih relatif kecil bila dibandingkan dengan total emisi
CO2 di dunia, salah satu penyebabnya adalah pembentukan gas methane pada sampah yang
tidalk termanfaatkan
Dengan pertimbangan bahwa pada tahun 2015 turbin gas/gasifier sampah kota
terintegrasi sudah dapat beroperasi, maka untuk melihat potensi pengurangan emisi CO2
di daerah Aceh akan ditinjau pada tahun 2015. Pendekatan yang diambil untuk asumsi
adalah energi listrik yang diproduksi pada unit-unit pengolahan limbah di TPA-TPA yang
ada di aceh dengan memenfaatkan turbin gas yang tidak terpakai di PT Arun NGL dapat
menggantikan sebagian kebutuhan listrik yang dipasok dari Sumatera Utara. Total emisi
CO2 sangat tergantung dari sampah yang dihasilkan, dan proses dari instalasi SWGCC.
Namun dalam hal teknologi seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa teknologi yang
dikembangkan sangat berperspektif aman lingkungan

Kesimpulan
Pemanfaatan sumber daya alam local berupa sampah perkotaan untuk dikonversikan
menjadi sumber energi pada turbin gas menjadi sangat strategis. Selain bermanfaat terhdap
pelestarian lingkungan hidup, juga dapat menjawab kebutuhan energi listrik local. Hal ini tentunya
juga harus mempertimbangkan beberapa hal utama selain factor ekonomi, lingkungan serta
social kemasyarakatan dan teknologi yang dikembangkan tentunya merupakan aspek penting
yang harus ditinjau sebagai sudut pandang utama dari pemanfaatan turbin gas yang sudah tidak
terpki lagi di PT Arun NGL.

Daftar Pustaka
1. Okaya, Y., 1997, Development of new Technique for Reprocessing of Waste Plastic
Materials, Technical report, pp.1-3.
2. AEEMTRC (1996). Biomass-Fuel of The Past and for The Future, Effergy, Vol.2, No.1.
3. J. Woods and D.O. Hall, “Bioenergy for Development”, FAO Environment and Energy Paper
13 (116 halaman), Food and agriculture Organization, Roma, 1994.
4. Wibowo arianto & Darwin T Djajawinata, Penanganan Sampah Perkotan Terpadu, free article
nd
2 edition
5. Luis Javier Molero de Blas. Pollutant Formation and Interaction in the Combustion of Heavy
Liquid Fuels, Doctoral Thesis, University of London.
6. Nishida, O., H. Fujita, W. Harano, T. Egashira, S. Okawa, M. Kawabata, T. Nakatsukasa, Y.
Sumitani, D. Suzuki, 1998, Proceeding of 60th Symposium of The Marine Engineering
Society in Japan, pp.156-163.