Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN

Pada haid yang teratur, persalinan preterm dapat didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Persalinan preterm merupakan hal yang berbahaya karena potensial meningkatkan kematian perinatal sebesar 65%-75%, umumnya berkaitan dengan berat lahir rendah. Berat lahir rendah dapat disebabkan oleh kelahiran preterm dan pertumbuhan janin yang terhambat. Keduanya sebaiknya dicegah karena dampaknya yang negatif; tidak hanya kematian perinatal tetapi juga morbiditas, potensi generasi akan datang, kelainan mental dan beban sosioekonomi bagi keluarga dan bangsa secara keseluruhan. Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti persalinan preterm tidak diketahui. Berbagai sebab dan faktor demografik diduga sebagai penyebab persalinan preterm, seperti: solusio plasenta, kehamilan ganda, kelainan uterus, polihidramnion, kelainan kongenital janin, ketuban pecah dini, dan lain-lain. Penyebab persalinan preterm bukan tunggal tetapi multikompleks, seperti disebabkan oleh infeksi. Infeksi pada kehamilan akan menyebabkan suatu respon imunologik spesifik melalui aktifasi sel limfosit B dan T dengan hasil akhir zatzat yang menginisiasi kontraksi uterus. Terdapat makin banyak bukti yang menunjukkan bahwa mungkin sepertiga kasus persalinan preterm berkaitan dengan infeksi membran korioamnion. Dari penelitian Lettieri dkk.(1993), didapati 38% persalinan preterm disebabkan akibat infeksi korioamnion. Knox dan Hoerner (1950) telah mengetahui hubungan antara infeksi jalan lahir dengan kelahiran prematur. Bobbitt dan Ledger (1977) membuktikan infeksi amnion subklinis sebagai penyebab kelahiran preterm. Dengan

amniosentesis didapati bakteri patogen pada + 20% ibu yang mengalami persalinan preterm dengan ketuban utuh dan tanpa gejala klinis infeksi (Cox dkk.,1996 ; Watts dkk., 1992). Pendekatan obstetrik yang baik terhadap persalinan preterm akan memberikan harapan terhadap ketahanan hidup dan kualitas bayi preterm. Di beberapa negara maju, Angka Kematian Neonatal pada persalinan preterm menunjukkan penurunan, yang umumnya disebabkan oleh meningkatnya peranan neonatal intensive care dan akses yang lebih baik. Di Amerika Serikat bahkan menunjukkan kemajuan yang lebih dramatis berkaitan dengan meningkatnya umur kehamilan, dengan 50% neonatus selamat pada persalinan usia kehamilan 25 minggu, dan lebih dari 90% pada usia 28 29 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi dapat berperan banyak dalam keberhasilan bayi preterm.

BAB II LAPORAN KASUS A. IDENTITAS PASIEN

ISTRI Nama Umur Pendidikan Pangkat Pekerjaan Suku Agama Gol. Darah Alamat : : : : : : : : : Ny. N 24 tahun D3 Ibu Rumah Tangga Sunda Islam O Asrama Yonkav 9 No. H20, Serpong

SUAMI Nama Umur Pendidikan Pangkat Pekerjaan Suku Agama Gol. Darah : : : : : : : : Tn. E 25 tahun SMA Pratu TNI AD Jawa Islam Belum tahu
3

B. DATA DASAR

Dilakukan autoanamnesa pada pasien pada tanggal 9 Juni 2011

Keluhan Utama Keluar air air dari vagina sejak 8 jam SMRS Keluhan Tambahan Mules terasa sesaat setelah masuk rumah sakit Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang atas rujukan dari RS Daan Mogot dengan diagnosis KPD. Pasien datang ke RSPAD dengan keluhan keluar air air dari vagina sejak 8 jam SMRS. Cairan yang keluar berwarna jernih dan tidak berbau. Pasien juga merasakan mules sesaat setelah masuk rumah sakit. Tidak ada keluar darah dan lendir. Terdapat riwayat keputihan tidak berbau dan tidak gatal. Perangai Pasien Kooperatif Riwayat Haid Menarche usia 12 tahun. Siklus haid 28 hari, teratur, lamanya haid 6 - 7 hari, ganti pembalut 2 - 3 kali sehari jika sudah penuh. Dismenorea tidak ada. HPHT tanggal 13 Oktober 2010 Riwayat KB Tidak Pernah Riwayat Pernikahan Pernikahan pertama, usia saat menikah 23 tahun, usia suami 24 tahun

Riwayat Obstetri
4

Hamil ini Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, alergi, asma, penyakit jantung, dan penyakit paru disangkal Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, alergi, asma, penyakit jantung dan penyakit paru dalam keluarga disangkal

Catatan Penting Selama Asuhan Antenatal Pasien melakukan ANC teratur di bidan

C. PEMERIKSAAN FISIK

Status generalis : Keadaan umum Kesadaran Tinggi badan BB Tekanan darah Nadi Suhu tubuh Pernapasan : baik : compos mentis :150 cm : 60 kg : 120/80 mmHg : 80x/menit, teratur : 36,5 C : 20 x / menit, teratur
5

Mata Paru Jantung Abdomen Ekstremitas

: konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik : bunyi napas vesikuler, ronki (-), wheezing (-) : BJ I-II murni, murmur (-), gallop (-) : membuncit sesuai masa kehamilan : akral hangat, edema -/-, CRT < 2 detik

Status Obstetri 1. Periksa luar TFU : 23 cm, puka, bagian terbawah janin kepala sudah masuk PAP 4/5 Vulva / Uretra tenang 2. Inspekulo : Portio livid, ostium uteri eksterna tertutup, fluor (-), fluxus (-) 3. Periksa dalam : Portio kenyal, anterior, ketuban (-), kepala berada di bidang Hodge I- II

Pelvimetri Klinik: Promontorium tidak teraba Linea inominata 1/3 1/3 Dinding samping lurus Sakrum konkaf Spina tajam, distansia interspinarum > 9,5 cm
6

Arkus pubis > 900

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK

Pemeriksaan USG Tanggal 10 Juni 2011


-

Janin Plasenta Amnion Biometri 1250 gr

: Tunggal, hidup, intra uterin, presentasi kepala : Berimplantasi di fundus uteri : Air ketuban habis (ICA 2) : BPD 75 mm, HC 262 mm, AC 228 mm, FL 57 mm, HL 49 mm, EFW

Jantung Anomali Dopler Aktivitas Lain-lain Penilaian

: FHR 148 bpm, regular : Saat ini tak tampak anomali mayor : SDAU 2,62 : Baik : Tampak gambaran tali pusat di leher : Janin presentasi kepala tunggal hidup, Biometri sesuai hamil 29 - 30 minggu, oligohidramnion, Suspek lilitan tali pusat di leher

Pemeriksaan Laboratorium (9 Juni 2011)


7

Jenis Pemeriksaan Hematologi Darah rutin:

Hasil

Nilai Rujukan

Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC Kimia Glukosa sewaktu

12,6 g/dL 39% 4,4 juta/uL 11200/uL* 278000/uL 89 fl 29 pg 33 g/dL

12-16 g/dL 37-47% 4,3-6,0 juta/uL 4800-10800/uL 150000-400000/uL 80-96 fl 27-32 pg 32-36 g/dL

117 mg/dL

< 140 mg/dL

DIAGNOSIS KERJA Ibu : G1 P0 A0 hamil 30 minggu Preterm PROM Janin : Janin presentasi kepala tunggal hidup

PROGNOSIS Ibu : dubia


8

Janin : dubia

PENATALAKSANAAN AWAL Rencana Diagnostik : - Observasi tanda-tanda vital - Observasi HIS dan DJJ - Cek darah lengkap, glukosa darah sewaktu, bleeding time, clotting time - Observasi tanda tanda infeksi intra uterine dan kompresi tali pusat Rencana Terapi : Konservatif: - Tokolitik, Nifedipin 4 x 10 mg tiap 20 menit, dilanjutkan rumatan 4 x 10 mg / 24 jam - Pematangan paru, Dexamethasone 2 x 6 mg IV - Ceftriaxon 1 x 2 gr IV

Rencana pendidikan : Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang keadaan pasien dan kehamilannya, risiko infeksi yang bisa terjadi, dan kemungkinan prognosis kehamilan terhadap janin (prematuritas).

PENATALAKSANAAN LANJUTAN (S.O.A.P)

Tanggal 9 Juni 2011 pukul 16.00 WIB


9

S : mules-mules (-) sejak 2 jam, gerakan janin (+) O : KU / Kes : Baik / CM, Tekanan darah: 110/70 mmHg, Nadi: 88x/menit, Pernapasan: 20x/menit, Suhu: 36,5 C Status generalis : dalam batas normal Status obstetri : Kontraksi (-), gerak janin (+) I : v/u tenang A : G1 hamil 30 minggu, ketuban pecah 10 jam, air ketuban habis P : Rencana diagnosis : - Observasi tanda - tanda vital - Observasi HIS, DJJ - Observasi tanda tanda infeksi intra uterine - Observasi tanda tanda kompresi tali pusat Rencana terapi Konservatif: - Nifedipin 4 x 10 mg - Pematangan paru, dexamethasone 2 x 6 mg IV - Ceftriaxone 1 x 2 gr IV - Tirah baring dan hidrasi cukup

Tanggal 10 Juni 2011 pukul 06.00 WIB S : mules-mules (-), gerakan janin (+) O : KU / Kes : Baik / CM,
10

Tekanan darah: 120/80 mmHg, Nadi: 80x/menit, Pernapasan: 14x/menit, Suhu: afebris Status generalis : dalam batas normal Status obstetri : Kontraksi (-), gerak janin (+) I : v/u tenang A : G1 hamil 30 minggu, ketuban pecah 1 hari, air ketuban habis P : Rencana diagnosis : - Observasi tanda - tanda vital - Observasi HIS, DJJ - Observasi tanda tanda infeksi intra uterine - Observasi tanda tanda kompresi tali pusat - CTG dan DPL Rencana terapi Konservatif: - Nifedipin 4 x 10 mg - Pematangan paru, dexamethasone 2 x 6 mg IV

- Ceftriaxone 1 x 2 gr IV - Tirah baring dan hidrasi cukup 2000 3000 cc / 24 jam

Tanggal 11 Juni 2011 pukul 03.00 WIB S : mules-mules (+), gerakan janin (+) O : KU / Kes : Baik / CM,
11

Tekanan darah: 120/80 mmHg, Nadi: 92x/menit, Pernapasan: 18x/menit, Suhu: afebris Status generalis : dalam batas normal Status obstetri I : Kontraksi 3x/10/45, gerak janin (+), DJJ 140 bpm : v/u tenang

VT : portio tipis, diameter 6 cm, ketuban (-), kepala H II A : PK I aktif, G1 hamil 30 minggu, ketuban pecah 1 hari, air ketuban habis P : Rencana awal partus pervaginam - Observasi tanda - tanda vital - Observasi HIS, DJJ - Observasi tanda tanda infeksi intra uterine - Observasi tanda tanda kompresi tali pusat

Tanggal 11 Juni 2011 pukul 05.20 WIB S : ibu ingin meneran, gerakan janin (+) O : KU / Kes : Baik / CM, Tekanan darah: 120/80 mmHg, Nadi: 96x/menit, Pernapasan: 20x/menit, Suhu: afebris Status generalis : dalam batas normal Status obstetri : Kontraksi 4x/10/45, gerak janin (+), DJJ 130 bpm

VT : Pembukaan lengkap, ketuban (-), kepala H III-IV A : PK II, G1 hamil 30 minggu, ketuban pecah 1 hari, air ketuban habis P : Ibu dipimpin meneran
12

Tanggal 11 Juni 2011 pukul 05.30 WIB Lahir bayi spontan, perempuan, BBL 1500 gram, PB 40 cm, Apgar Score 8/9, air ketuban jernih Plasenta lahir spontan dan lengkap Perdarahan 100 cc Observasi 2 jam postpartum (partograf)

Tanggal 11 Juni 2011 pukul 08.00 WIB S : perdarahan aktif (-), BAK spontan O : KU / Kes : Baik / CM, Tekanan darah: 110/70 mmHg, Nadi: 80x/menit, Pernapasan: 14x/menit, Suhu: afebris Status generalis : dalam batas normal Status obstetri : TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi baik I : v/u tenang, perdarahan (-) A : P1 post partum spontan prematurus P : - Mobilisasi aktif - Diet TKTP - Hygiene
13

- Motivasi ASI dan KB - Amoxicilin 3 x 500 mg - Asam mefenamat 3 x 500 mg - Sangobiad 1 x 1

Tanggal 12 Juni 2011 pukul 07.00 WIB S : ASI (-), bengkak (-), keluar cairan berwarna merah dari vagina tidak berbau, BAB dan BAK (+) normal O : KU / Kes : Baik / CM, Tekanan darah: 110/70 mmHg, Nadi: 80x/menit, Pernapasan: 18x/menit, Suhu: afebris Status generalis : dalam batas normal Status obstetri : TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi baik, lokia rubra (+) I : v/u tenang, perdarahan (-) A : NH1 P1 post partum spontan prematurus P : - Mobilisasi aktif - Diet TKTP - Hygiene - Motivasi ASI dan KB - Amoxicilin 3 x 500 mg - Asam mefenamat 3 x 500 mg - Sangobiad 1 x 1
14

Tanggal 13 Juni 2011 pukul 06.30 WIB S : ASI (-), payudara terasa kencang, bengkak (-), keluar cairan berwarna merah dari vagina tidak berbau, BAB dan BAK (+) normal O : KU / Kes : Baik / CM, Tekanan darah: 110/70 mmHg, Nadi: 80x/menit, Pernapasan: 18x/menit, Suhu: afebris Status generalis : dalam batas normal Status obstetri : TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi baik, lokia rubra (+) I : v/u tenang, perdarahan (-) A : NH2 P1 post partum spontan prematurus P : - Mobilisasi aktif - Diet TKTP - Hygiene - Motivasi ASI dan KB - Amoxicilin 3 x 500 mg - Asam mefenamat 3 x 500 mg - Sangobiad 1 x 1 - Boleh pulang

15

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI Persalinan preterm adalah persalinan yang berlangsung pada kehamilan antara 2037 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Angka kejadian persalinan preterm 10 15% kehamilan dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal.

B. FAKTOR RISIKO Untuk memprediksi kemungkinan terjadinya persalinan prematur harus dicermati beberapa kondisi yang berisiko terjadinya persalinan preterm a. Janin dan Plasenta 1. Perdarahan trimester awal 2. Perdarahan anterpartum 3. Ketuban pecah dini 4. Pertumbuhan janin terhambat 5. Cacat bawaan janin 6. Kehamilan ganda / gemeli 7. Polihidramnion b. Ibu 1. Penyakit berat pada ibu 2. Diabetes Melitus 3. Infeksi Saluran Kemih 4. Preeklamsia / hipertensi 5. Penyakit infeksi dengan demam
16

6. Stress Psikologik 7. Kelainan bentuk uterus / serviks 8. Riwayat persalinan preterm berulang 9. Inkompetensi serviks 10. Pemakaian obat narkotik 11. Trauma 12. Perokok berat 13. Kelainan imunologi / kelainan rhesus

C. ETIOLOGI 1. KOMPLIKASI MEDIS DAN OBSTETRIK 28% persalinan preterm kehamilan tunggal disebabkan oleh beberapa hal : 50% akibat pre eklampsia 25% akibat gawat janin 25% akibat IUGR, solusio plasenta atau kematian janin 72% persalinan preterm kehamilan tunggal sisanya adalah persalinan spontan preterm dengan atau tanpa disertai KPD

2. ABORTUS IMINENS Perdarahan pervaginam pada awal kehamilan seringkali berkait dengan meningkatnya perubahan pada outcome kehamilan. Weiss dkk (2002) melaporkan adanya kaitan antara perdarahan pervaginam pada kehamilan 6 13 minggu dengan kejadian meningkatnya persalinan sebelum kehamilan 24 minggu, persalinan preterm dan solusio plasenta.

3. GAYA HIDUP

17

Merokok, kenaikan BB selama kehamilan yang tidak memadai serta penggunaan obatobatan tertentu memiliki peranan penting dalam angka kejadian dan outcome BBLR. Casaenuva 2005 menyimpulkan bahwa faktor maternal lain yang berkaitan dengan persalinan preterm adalah : - Kehamilan remaja atau pada usia tua - Tubuh pendek - Kemiskinan - Defisiensi vitamin C - Faktor pekerjaan (berjalan jauh , berdiri lama, pekerjaan berat, jam kerja yang terlalu lama) 4. FAKTOR GENETIK Perkiraan bahwa terdapat hubungan antara faktor genetik denga persalinan preterm adalah sifat persalinan preterm yang berulang, menurun dalam keluarga dan banyak pada ras tertentu.

5. CHORIOAMNIONITIS Infeksi selaput ketuban dan cairan amnion yang disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme dapat menjelaskan peristiwa KPD dan atau persalinan preterm. Jalan masuk mikroorganisme kedalam cairan amnion pada kondisi selaput ketuban yang masih utuh tidak jelas. Endotoksin sebagai produk dari bakteri dapat merangsang monosit desidua untuk menghasilkan cytokine yang selanjutnya dapat merangsang asam arachidonat dan produksi prostaglandine. Prostaglandine E2 dan F2 bekerja dengan modus parakrin untuk merangsang terjadinya kontraksi miometrium.

6. VAGINOSIS BAKTERIAL

18

Vaginosis bakterial adalah bukan keadaan infeksi namun adalah satu keadaan dimana flora vagina normal ( laktobasiluspenghasil hidrogen peroksida) diganti dengan kumankuman anerobik (Gardnerella vaginalis, spesies Mobiluncus dan Mycoplasmahominis) Vaginosis bakterial sering dikaitkan dengan abortus spontan, persalinan preterm, KPD , chorioamnionitis dan infeksi cairan amnion. Vaginosis bakterial menyebabkan terjadinya persalinan preterm melalui mekanisme yang sama dengan yang terjadi akibat infeksi dalam cairan amnion. Dari penelitian yang ada, tak ada keraguan bahwa perubahan flora vagina yang normal seperti vaginosis bakterial memiliki kaitan erat dengan persalinan preterm spontan. Namun demikian, sampai saat ini skrining maupun terapi dari kondisi tersebut terbukti tidak dapat mencegah terjadinya persalinan preterm.

7. INFEKSI TRAKTUS GENITALIS BAGIAN BAWAH Infeksi chlamydia trachomatis nampaknya tidak berperan dalam proses persalinan preterm. Goepfert dkk (2002) angka kejadian pada pasien dengan atau tanpa infeksi chlamydia atau trichomonas adalah sama. Ramsey dkk ( 2003), hapusan vagina dengan pengecatan gram pada trimester kedua yang menghasilkan peningkatan rasio polimorfonuclear dengan sel epitel adalah prediktif untuk terjadinya persalinan preterm sebelum minggu ke 35. Knudtson dkk (2003), wanita tidak hamil yang menderita endometritis kronis diluar kehamilan yang ditandai dengan sel plasma, resiko terjadinya persalinan preterm meningkat 2.5 kali lipat.

8. PENYAKIT PERIODONTAL Pasien hamil yang menderita periodontitis memiliki resiko mengalami persalinan preterm 7.5 kali lipat

19

Goepfert dkk (2003), persalinan preterm sebelum usia kehamilan 32 minggu seringkali disertai dengan periodontitis berat.

D. DIAGNOSIS Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm yaitu: 1. Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu lengkap atau antara 140 dan 259 hari 2. Kontraksi uterus (his) teratur, pastikan dengan pemeriksaan inspekulo adanya pembukaan 3. Pemeriksaan dalam menunjukkan bahwa serviks telah mendatar 50-80%, atau sedikitnya 2 cm 4. Selaput ketuban seringkali telah pecah 5. Merasakan gejala seperti rasa kaku di perut menyerupai kaku menstruasi, rasa tekanan intrapelvik dan nyeri bagian belakang 6. Mengeluarkan lendir pervaginam, mungkin bercampur darah 7. Presentasi janin rendah sampai mencapai spina isciadika

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1). Laboratorium Pemeriksaan kultur urine Pemeriksaan gas dan pH darah janin Pemeriksaan darah tepi ibu:
Jumlah lekosit C-reactive protein . CRP ada pada serum penderita yang menderita infeksi akut dan

dideteksi berdasarkan kemampuannya untuk mempresipitasi fraksi polisakarida somatik nonspesifik kuman Pneumococcus yang disebut fraksi C. CRP dibentuk di hepatosit sebagai reaksi terhadap IL-1, IL-6, TNF. 2). Amniosentesis Hitung leukosit
20

Pewarnaan Gram bakteri (+) pasti amnionitis Kultur Kadar IL-1, IL-6 Kadar glukosa cairan amnion 3). Pemeriksaan ultrasonografi Oligohidramnion : Goulk dkk. (1985) mendapati hubungan antara oligohidramnion dengan korioamnionitis klinis antepartum. Vintzileos dkk. (1986) mendapati hubungan antara oligohidramnion dengan koloni bakteri pada amnion. Penipisan serviks: Iams dkk. (1994) mendapati bila ketebalan seviks < 3 cm (USG) , dapat dipastikan akan terjadi persalinan preterm. Sonografi serviks transperineal lebih disukai karena dapat menghindari manipulasi intravagina terutama pada kasuskasus KPD dan plasenta previa.

FETAL FIBRONECTIN Adalah glikoprotein yang dihasilkan dalam 20 bentuk molekul dari berbagai jenis sel antara lain hepatosit, fibroblas , sel endothel serta amnion janin. Kadar yang tinggi dalam darah maternal serta dalam cairan amnion diperkirakan berperan dalam adhesi interseluler selama implantasi dan dalam mempertahankan adhesi plasenta pada desidua. Deteksi fibronectin dalam cairan servikovaginal sebelum adanya ketuban pecah adalah marker adanya partus prematurus iminen. Nilai > 50 ng/mL adalah positif (pemeriksaan dengan metode ELISA dan harus menghindari kontaminasi dengan darah dan cairan ketuban)

PENATALAKSANAAN Ibu hamil yang diidentifikasi memiliki risiko persalinan preterm dan yang mengalami gejala persalinan preterm membakat harus ditangani seksama untuk meningkatkan keselamatan neonatal.
21

Pada kasus-kasus yang tidak mungkin ditangani ekspektatif, harus dilakukan intervensi, yaitu dengan: 1). Akselerasi pematangan fungsi paru

Terapi glukokortikoid, misalnya dengan betamethasone 12 mg im. 2 x selang 24 jam. Atau dexamethasone 5 mg tiap 12 jam (im) sampai 4 dosis. Thyrotropin releasing hormone 400 ug iv, akan meningkatkan kadar tri-iodothyronine yang dapat meningkatkan produksi surfaktan. Suplemen inositol, karena inositol merupakan komponen membran fosfolipid yang berperan dalam pembentukan surfaktan.

2). Pemberian antibiotika Mercer dan Arheart (1995) menunjukkan bahwa pemberian antibiotika yang tepat dapat menurunkan angka kejadian korioamnionitis dan sepsis neonatorum. Diberikan 2 gram ampicillin (iv) tiap 6 jam sampai persalinan selesai (ACOG). Peneliti lain memberikan antibiotika kombinasi untuk kuman aerob maupun anaerob. Yang terbaik bila sesuai dengan kultur dan tes sensitivitas. Setelah itu dilakukan deteksi dan penanganan terhadap faktor risiko persalinan preterm, bila tidak ada kontra indikasi, diberi tokolitik. 3). Pemberian tokolitik a.Nifedipin 10 mg diulang tiap 30 menit, maksimum 40 mg/6 jam. Umumnya hanya diperlukan 20 mg dan dosis perawatan 3 x 10 mg. b. Golongan beta-mimetik Salbutamol Perinfus : 20-50 g/menit Per oral : 4 mg, 2-4 kali/hari (maintenance) atau : Terbutalin Per infuse : 10-15 g/menit, Subkutan: 250 g setiap 6 jam. Per oral : 57.5 mg setiap 8 jam (maintenance) Efek samping : Hiperglikemia, hipokalemia, hipotensi, takikardia, iskemi miokardial, edema paru c. Magnesium sulfat
22

Parenteral : 4-6 gr/iv pemberian bolus selama 20-30 menit, infus 24gr/jam (maintenance) Efek samping : Edema paru, letargi, nyeri dada, depresi pernafasan (pada ibu dan bayi).

PERANAN PROGESTERON DALAM MEMPERTAHANKAN KEHAMILAN Pada hewan percobaan, pemberian medroxyprogesteron dapat mencegah terjadinya persalinan dan memiliki aktivitas anti-inflamasi in vivo. Dalam kaitan ini, terjadi penekananan pada aktivasi jalur cytokine TH1 dan TH2 uterus dan servik. Cytokine ini berperan dalam mempertahankan kehamilan dan mengawali proses persalinan. Progstin yang paling sering digunakan adalah 17 hydroxyprogesteron caproate. Pemberian tiap minggu secara intramuskuler pada pasien resiko tinggi da[at menurunkan kejadian persalinan preterm. Da Fonseca dkk (2003) menunjukkan efektivitas pemberian suppositoria vagina 100 mg progesteron natural dalam mencegah terjadinya persalinan preterm KONTRAINDIKASI PENUNDAAN PERSALINAN MUTLAK Gawat janin, korioamnionitis, perdarahan antepartum yang banyak. RELATIF Gestosis; diabetes melitus (beta-mimetik), pertumbuhan janin terhambat, pembukaan serviks lebih dari 4 cm. CARA PERSALINAN Janin presentasi kepala : pervaginam dengan episiotomi lebar dan perlindungan forseps terutama pada bayi < 35 minggu. Indikasi seksio sesarea : a. Janin sungsang
23

b. Taksiran berat badan janin kurang dari 1500 gram (masih kontroversial) c. d. Gawat janin, bila syarat pervaginam tidak terpenuhi Infeksi intrapartum dengan takikardi janin, gerakan janin melemah,

oligohidramnion, dan cairan amnion berbau. bila syarat pervaginam tidak terpenuhi e.Kontraindikasi partus pervaginam lain (letak lintang, plasenta previa, dan sebagainya). Lindungi bayi dengan handuk hangat, usahakan suhu 36-37 0C ( rawat intensif di bagian NICU ), perlu dibahas dengan dokter bagian anak. Bila bayi ternyata tidak mempunyai kesulitan ( minum, nafas, tanpa cacat) maka perawatan cara kangguru dapat diberikan agar lama perawatan di rumah sakit berkurang.

I. PENYULIT 1. Sindroma gawat nafas (RDS) 2. Perdarahan intrakranial 3. Trauma persalinan 4. Paten duktus arteriosus 5. Sepsis 6. Gangguan neurologi

J. KOMPLIKASI Pada ibu, setelah persalinan preterm, infeksi endometrium lebih sering terjadi mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka episiotomi. Bayi-bayi preterm memiliki risiko infeksi neonatal lebih tinggi. Morales (1987) menyatakan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang menderita anmionitis memiliki risiko mortalitas 4 kali lebih besar, dan risiko distres pernafasan, sepsis neonatal, necrotizing enterocolitis dan perdarahan intraventrikuler 3 kali lebih besar.

24

BAB IV ANALISA KASUS

Pasien seorang wanita berusia 24 tahun datang dengan diagnosis awal G1P0A0. Kemudian dalam perjalanannya pasien didiagnosis mengalami persalinan preterm. Hal tersebut dikarenakan dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang didapatkan: 1. Anamnesa Pasien telah mengalami ketuban pecah dini 8 jam SMRS, hal ini merupakan salah satu faktor risiko terjadinya persalinan preterm. Pasien telah merasakan mulas saat masuk rumah sakit. HPHT pasien tanggal 13 Oktober 2010, jika dilakukan perhitungan maka usia kehamilan pasien saat melakukan persalinan adalah 34 minggu.

2. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik awal tanggal 9 Juni 2011 didapatkan: o Periksa luar TFU : 23 cm, puka, bagian terbawah janin kepala sudah masuk PAP 4/5 Vulva / Uretra tenang o Inspekulo : Portio livid, ostium uteri eksterna tertutup, fluor (-), fluxus (-) o Periksa dalam : Portio kenyal, anterior, ketuban (-), kepala berada di bidang Hodge I- II
25

Pada pemeriksaan fisik tanggal 11 Juni 2011 sesaat sebelum persalinan didapatkan:
o

Status obstetri

: Kontraksi 4x/10/45, gerak janin (+), DJJ 130 bpm

VT : Pembukaan lengkap, ketuban (-), kepala H III-IV

3. Pemeriksaan Penunjang
-

USG: Janin presentasi kepala tunggal hidup, biometri sesuai hamil 29 - 30 minggu, oligohidramnion, suspek lilitan tali pusat di leher.

Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini adalah:


- Nifedipin 4 x 10 mg tiap 20 menit, dilanjutkan rumatan 4 x 10 mg / 24 jam, sebagai

tokolitik untuk mencegah kontraksi uterus.


- Dexamethasone 2 x 6 mg IV, bertujuan untuk pematangan paru janin bila terjadi persalinan

preterm.
- Ceftriaxon 1 x 2 gr IV, sebagai antibiotik untuk mencegah infeksi lebih lanjut seperti

chorioamnionitis dan infeksi neonatorum.

Pada pasien dilakukan persalinan pervaginam, dikarenakan dari hasil pemeriksaan pelvimetri klinis didapatkan kesan panggul normal sedang. Juga tidak didapatkan indikasi untuk dilakukan sectio caesarea, yaitu: Janin sungsang.
26

Taksiran berat badan janin kurang dari 1500 gram (masih kontroversial). Gawat janin, bila syarat pervaginam tidak terpenuhi. Infeksi intrapartum dengan takikardi janin, gerakan janin melemah, oligohidramnion, dan cairan amnion berbau. bila syarat pervaginam tidak terpenuhi. Kontraindikasi partus pervaginam lain (letak lintang, plasenta previa, dan sebagainya).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Berdasarkan analisis dan tinjauan pustaka yang telah dipaparkan, maka penulis dapat menyimpulkan, antara lain: 1. Diagnosis pasien pada kasus ini adalah G1P0A0 hamil 30 minggu.

27

2. Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien berupa nifedipin sebagai tokolisis, dexamethasone untuk pematangan paru pada janin, dan antibiotik ceftriaxone untuk mencegah infeksi lanjut pada ibu dan janin.
3. Pasien mengalami partus per vaginam pada usia kehamilan 30 minggu

menurut USG, dan usia kehamilan 34 minggu menurut HPHT pasien. 4. Dilahirkan bayi perempuan, berat badan lahir 1500 gram, panjang badan 40 cm, Apgar score 8/9, dan air ketuban jernih.

B. SARAN Bagi ibu hamil sangat perlu dilakukan kontrol rutin dalam kehamilan untuk mengetahui gejala dan tanda, juga faktor risiko terjadinya persalinan preterm. Begitu juga bagi para klinisi perlu untuk melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang tepat agar dapat menentukan faktor risiko persalinan preterm dari ibu hamil dan mencegah komplikasi yang terjadi pada persalinan preterm.

DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo S, Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi ketiga. Jakarta : Yayasan Bina

Pustaka; 2006. 2. American College of Obstetricans and Gynecologist: Use progesteron to reduce preterm birth. Comitte Opinion No.291, November 2003.
28

3. Andrews WW, Sibai BM,Thom EA,et al: Ranodomized clinical trial of metronidazole plus erythromycin to prevent spontaneous preterm delivery in fibronectine-positive women. Obstet Gynecol 101:847,2003 4. Bloom SL, Yost NP, McIntire DD,et al: Recurrence of preterm birth in singleton and twin pregnancies Obstet Gynecol 98:379, 2001b 5. Cunningham FG et al : Preterm Labor in Williams Obstetrics , 22nd ed, McGraw-Hill, 2005 6. King JF, Flenady V,Papatsonis D, et al: Calcium channel blocker for inhibiting preterm labor: A systematic review of the evidence and protocol for adminstration of nifedipine. Aust NZJ Obstet Gyncol 43:192, 2003 7. Lowe MP, Zimmerman B, Hansen W: Prospective randomized controlled trial of fetal fibronectin on preterm labor management in a tertiary care center. Am J Obstet Gynecol 190:358,2004 8. Weiss JL, Malone FD, Vidayer J, et al: Threatened abortion: A risk factor for poor pregnancy out come, a population-based screening study. Am J Obstet Gynecol 190:745,2004

29