Anda di halaman 1dari 14

1.

Latar Belakang dan Tujuan


Terdapat ribuan bahasa yang digunakan di seluruh dunia ini. Masing-masing memiliki ciri khas yang membedakanya antara satu dengan yang lain. Seperti yang kita ketahui,di Indonesia terdapat ratusan bahasa daerah yang berbeda sama sekali dialeknya dan memiliki pola masing-masing. Bayangkan berapa banyak bahasa yang digunakan di seluruh negara di dunia ini. Cabang ilmu yang mengkaji mengenai ketatabahasaan ini adalah Sintaksis (dalam Bahasa Jepang dikenal dengan istilah ). Analisis sintaksis mengacu pada analisis frasa dan kalimat. Selain itu terdapat cabang ilmu lain yang juga membahasa mengenai ketatabahasaan ini,yaitu

a. Semantik () imiron

Semantik adalah ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna. Menurut sejarahnya, kajian tentang makna terlahir dari pemahaman makna dari ilmu bahasa dan filsafat. Dari segi ilmu bahasa, makna diambil dari makna bebas dalam sebuah kata yang membentuk kalimat, bukan makna ideal seperti dalam ilmu filsafat. Jenis makna dapat dibedakan menjadi beberapa istilah di antaranya;

Makna leksikal yaitu makna yang sebenarnya meski tanpa konteks apa pun. Misalnya, buku memiliki makna yang mengkait pada suatu benda sejenis alat tulis yang berbahan kertas.

Makna gramatikal yaitu makna leksikal yang telah mendapat imbuhan atau tambahan kata tertentu sehingga membentuk fungsi dan makna lain karena ada proses gramatikal. Misalnya, buku tulis mengandung makna buku yang digunakan untuk menulis, yang membedakan dengan buku bacaan, buku pelajaran dll.

Makna kontekstual yaitu makna yang muncul sesuai konteksnya. Misalnya, 'Di kepala ayah ada uban.' akan berbeda dengan kalimat ' Ayah adalah kepala rumah tangga kami'. Kata 'kepala' pada kalimat tersebut memilki makna yang berbeda sesuai konteksnya.

Makna referensial dan non referensial yaitu makna yang muncul karena ada acuan bendanya atau tidak ada acuannya dalam dunia nyata. Misalnya, kata merah muncul karena ada sebuah warna yang menunjukkan kata tersebut, kata kuda muncul karena memang dalam dunia nyata ada binatang yang seperti itu. Sedangkan yang termasuk makna nonreferensial adalah seperti kata dan, dengan, karena, dll, kata jenis ini tidak ada dalam dunia nyata namun memiliki fungsi tertentu dalam kalimat, yaitu sebagi kata penghubung, penyerta atau untuk menggambarkan sebab akibat.

Makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotatif yaitu makna asal, makna asli apa adanya, makna ini sama dengan makna leksikal, sedangkan makna konotatif ialah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif. Misalnya kata babi secara denotatif mengandung makna binatang peliharaan, tapi secara konotatif bisa bermakna yang mengandung hinaan, atau umpatan.

Makna asosiatif yaitu makna sebuah kata yang memiliki hubungan makna dengan sesuatu di luar kata tersebut. Misalnya kata putih, mengandung asosiasi 'suci', kata merah mengandung asosiasi 'berani'.

b. Pragmatik () goyouron

Pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk panggunaan bahasa dan maknanya setelah bahasa tersebut dikomunikasikan menjadi tuturan. Objek kajiannya antara lain, meneliti tentang makna dan hubungan pemahaman sebuah tuturan, adakah hubungan makna dalam

sebuah turturan antara pembicara dan mitrawicara, dan berbagai hal yang berkaitan dengan makna, penggunaan dan tujuan tuturan tersebut.

c. Fonologi () oninron

Ilmu bahasa yang mempelajari, meneliti dan menganalisis unsur dan pembentukan bunyi bahasa. Dalam kategori istilah ini terdapat dua objek kajian yaitu, fonetik ( onseigaku) yaitu bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut memiliki fungsi pembeda makna atau tidak. Selain itu ada istilah fonemik ( onsogaku)

yaitu bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa yang dapat membedakan makna kata. Pada tahap berikutnya, bunyi bahasa dapat disegmentasikan menjadi kesatuan-kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel ( onsetsu).

d. Morfologi () keitairon

Morfologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari, mengkaji bagian atau unsur terkecil dari sebuah kata yang memiliki makna atau fungsi tertentu, sering diistilahkan sebagai morfem ( keitaiso). Dalam tata bahasa tradisional tidak dikenal istilah morfologi, istilah ini dicetuskan oleh kaum strukturalis mulai abad kedua puluh.

Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Sebagai perbandingan sederhana, seorang ahli farmasi (atau kimia) perlu memahami zat apa yang dapat bercampur dengan suatu zat tertentu untuk menghasilkan obat flu yang efektif; sama halnya seorang ahli linguistik bahasa Jepang perlu memahami imbuhan apa yang dapat direkatkan dengan suatu kata tertentu untuk menghasilkan kata yang benar. Misalnya akhiran dapat

direkatkan dengan kata sifat yasashii untuk membentuk kata benda yasashisa . Dalam pengertian lain Morfologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari, mengkaji bagian atau unsur terkecil dari sebuah kata yang memiliki makna atau fungsi tertentu, sering diistilahkan sebagai morfem ( keitaiso). Untuk lebih memahami morfologi dalam bahasa Jepang, berikut ini adalah contoh penggunaan morfem (keitaiso) dan kata (tango) : 1. Kata (tango) Morfem (keitaiso) [] [] Dai Gaku (universitas)

Daigaku

2. Kata (tango) Morfem (keitaiso) [] Ka (nyamuk)

Ka

3. Kata (tango) Morfem (keitaiso) [] [] Ka Ku (menulis)

Kaku

Kata dalam bahasa Jepang terdiri dari beberapa morfem. Seperti pada contoh (1) kata daigaku () (universitas) yang ditulis menggunakan huruf kanji terdiri dari dua morfem

yaitu [dai] [] dan [gaku] []. Pada contoh (2), ada kata ka [] (nyamuk) yang hanya terdiri dari satu morfem yaitu [ka]. Berbeda untuk verba dan adjektiva, kata bisa terdiri dari beberapa

morfem pada contoh (3) verba kaku () (menulis) terdiri dari dua bagian yaitu bagian depan ditulis menggunakan huruf kanji [ka] [] yang tidak mengalami perubahan, dan disebut dengan gokan [] dan pada bagian kedua [ku] [] yang bisa mengalami perubahan, dan disebut dengan gobi []. Pada contoh pertama kata terbentu dari 2 morfem yang berbeda. seperti yang kita ketahui,kata yang terbentuk dari 2 atau lebih morfem dikenal dengan sebutan Kata Majemuk ( ). Hal ini menandakan bahwa kata majemuk pun masuk ke dalam bidang kajian morfologi Kata majemuk dalam bahasa Jepang sendiri sangat bervariasi bentuknya. Bersamaan dengan perkembangan zaman,pembentukannya pun menjadi sangat produktif. Hal inilah yang membuat kami tertarik untuk membuat sebuah kajian mengenai Kata Majemuk khususnya Verba Majemuk dalam Bahasa Jepang. Selain itu,tujuan dari penulisan ini adalah agar kita bisa lebih memahami lebih dalam dari jenis dan pembentukan verba majemuk tersebut.

2. Landasan Teori
Salah satu ahli tata bahasa Indonesia,Prof M. Ramlan mengemukakan dalam bukunya,bahwa : Morfologi adalah salah satu bagian ilmu bahasa yang membicarakan tentang seluk beluk kata serta pengaruh-pengaruh perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata atau ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta perubahan-perubahan bentuk kata baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. (M. Ramlan ,1983;16-17) Seperti yang kita ketahui kata majemuk sendiri memiliki perubahan semantik dan gramatik. Hal ini terjadi karena perbedaan pada unsur-unsur pembentuknya. terdapat banyak ahli tata bahasa yang mengemukakan definisi-definisi dari Fukugougo ini. Kita ambil beberapa contohnya. Dalam Shougaku Kokugo Jiten,pengertian Fukugougo adalah :

( Pada mulanya terdiri dari 2 kata atau lebih,yang kemudian menjadi 1 kata lain.) Serta menurut Kenwa Jiten,Fukugougo adalah :

( Gabungan dua kata atau lebih,yang menjadi satu kata.) ( Kobayashi,1963:937)

dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Fukugougo adalah Kata yang terbentuk dari hasil gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kata baru. Dalam Bahasa Jepang,kelas kata yang dapat menjadi unsur pembentuk Fukugougo adalah : a. (Kata Kerja)

b. (Kata sifat I dan II) c. (Kata Benda) dan d. (Kata Keterangan) Namun kali ini kami hanya akan membahas Fukugougo yang terbentuk dari saja. Fukugou yang unsur terakhirnya dibentuk oleh kata benda maka dia disebut sebagai Fukugou Meishi atau kata benda majemuk.

3. Pembahasan
3.1 Pembagian Fukugou Meishi berdasarkan unsur pembentuk Dilihat dari unsur pembentuknya,tidak hanya kata benda ( meishi ) saja yang bisa menjadi unsur pertama dari Fukugou Doushi. Kata kerja,kata sifat,dan kata keteranganpun dapat menjadi unsur pertama pembentukannya. Dibawah ini adalah klasifikasi dari pmbentukan Fukugou Doushi 3.1.1 Berdasarkan unsur pertamanya.

Nomina N+ V = N

Hiking Mencolok

Hujan N+V V

Menyolok mata

Memberi warna

3.1.2

Verba V+V Mengeluarkan Membeli V+V Menjual N V

3.1.3

Adjektiva Adj+V Terlalu tinggi Berkepanjangan Adj+V Lambat V N

3.1.4

Adverbia Adv + V Merasa Pusing Menggigil V

3.2 Perubahan bentuk

Dari penjabaran di atas sudah diterangkan bahwa unsur pembentuk Fukugoudoushi dan Fukugou Meishi mengalami perubahan dari bentuk asal ke bentuk lain. Di bawah ini merupakan aturan dasar perubahan unsur kata pembentuk Fukugou Doushi dan Fukugou Meishi : 1. Verba mengalami perubahan menjadi bentuk Renyoukei 2. Adjektiva hanya diambil Gokan nya saja 3. Adverbia hanya dipakai bentuk dasarnya saja

4. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat kita ketahui bahwa terdapat banyak kata majemuk dalam bahasa Jepang yang sampai saat ini masih terus berkembang dan bertambah jumlahnya. Terdapat 4 unsur pembentuk kata majemuk tersebut,yaitu :

a. Verba ( Doushi) b. Nomina ( Meishi ) c. Adjektia ( Keiyoushi ) dan, d. Adverbia ( Fukushi ) Dalam pembentukan kelas kata pada kata majemuk hanya terdiri dari 2 macam. Yaitu pembentukan yang menghasilkan Verba dan pembentukan yang menghasilkan Nomina.

SUMBER

http://meta-hodhos.blogspot.com/2011/01/morfologi-perubahan-verba-bahasa-jepang.html http://ja.wikipedia.org/wiki/%E8%A4%87%E5%90%88%E8%AA%9E http://japan05.multiply.com/journal/item/28/28 (Situs Pendidikan Bahasa Jepang Japanese Language Education Site - Cakupan Ilmu Bahasa (linguistik) ) http://bahasa-jepang.com/linguistik

Otsuka,Hiroko. (2009). Bahan Kuliah Bunpou. . (2000). NHK

Matsuura,Kenji. (2005). Kamus Jepang-Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

TUGAS UAS KEITAIRON FUKUGOU DOUSHI dan FUKUGOU MEISHI

Disusun oleh :

EKEU PRATAMA (180610080045) VENY PUTRI VIOLITA (180610080055)

Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran 2011