Anda di halaman 1dari 36

KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN

PEDOMAN TEKNIS
ALAT MESIN DAN ULIB BUDIDAYA TERNAK RUMINANSIA

DIREKTORAT BUDIDAYA TERNAK RUMINANSIA TAHUN 2010


Jl. Harsono RM. No. 3 Raguna, Jakarta Selatan Telp/Fax : (021) 7815782

KATA PENGANTAR Pelaksanaan kegiatan Inseminasi Buatan (IB) merupakan salah satu upaya penerapan teknologi tepat guna yang menjadi pilihan utama untuk peningkatan mutu genetik ternak dan populasi. Melalui kegiatan IB, penyebaran bibit unggul ternak dapat dilakukan dengan murah, mudah dan cepat serta pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan peternak. Keberhasilan pelaksanaan IB dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain : sumber daya manusia (SDM), kualitas semen beku, ketepatan waktu IB, fertilitas ternak dan peralatan yang digunakan. Dalam penggunaan dan perawatannya peralatan IB di butuhkan ketrampilan khusus. Sehubungan dengan hal tersebut diperlukan adanya Pedoman Alat Mesin dan ULIB Budidaya Ternak Ruminansia, dimaksudkan untuk menambah pengetahuan, ketrampilan dalam melaksanakan Inseminasi Buatan dan acuan penggunaan dana dalam kegiatan ULIB Baru. Kami menyadari bahwa buku pedoman ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan masukan dan saran untuk penyempurnaannya. Semoga buku pedoman ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan para petugas dalam melaksanakan tugasnya. Jakarta Januari 2010 Direktur Budidaya Ternak Ruminansia

Ir. Fauzi Luthan NIP 19560505 198503 1 011

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................. DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL . PENDAHULUAN .. SEJARAH PERKEMBANGAN IB DI INDONESIA ............................ PERANAN IB MENINGKATKAN POPULASI DAN MUTU TERNAK.. MANFAAT UTAMA IB TUJUAN ........................................................................................... PENGERTIAN ......................................................... PERALATAN DAN MESIN UNTUK PRODUKSI SEMEN CAIR DAN SEMEN BEKU. A. Semen Cair ........................................................................... 1. Alur Proses Pembuatan Semen Cair ............................... 2. Peralatan Pembuatan Semen Cair a. Penyiapan Bahan Pengencer ...................................... b. Penampungan Semen c. Evaluasi Semen .......................................................... d. Penghitungan Dosis dan Pengenceran Semen ........... e. Penyimpanan Semen Cair ........................... B. Semen Beku ................................................................................ 1. Proses Pembuatan Semen Beku .................................. 2. Peralatan Pembuatan Semen Beku............................... a. Penyiapan Bahan Pengencer b. Pengemasan ..................................................... c. Identifikasi Straw ..................................... d. Equilibrasi .................................................... e. Pembekuan ................................................ f. Thawing ............................................................ g. Penyiapan Semen Beku ......................... Inseminasi Buatan Pada Sapi ......................................... 1. Faktor-faktor yang harus diperhatikan sebelum melakukan IB ...... 2. Peralatan Inseminasi Buatan pada Sapi ........... 3. Standar Peralatan yang harus dimiliki oleh Pos IB ..................... 4. Bahan Habis Pakai yang Harus Disediakan di Pos IB ................ 5. Standar Peralatan dan Bahan yang harus dibawa oleh Inseminator ........... Inseminasi Buatan pada Domba dan Kambing .......... - Peralatan Inseminasi Buatan pada Domba dan Kambing ............. Faktor-faktor Penentu Keberhasilan IB ........................................ 1. Faktor Pejantan.................................................................... 2. Faktor Betina ........................................................................ 3. Faktor Inseminator ................................................................. 4. Faktor Peternak ...................................................................... Penggunaan Dana ULIB 2008 Penutup Halaman i ii iii iv 1 2 2 3 3 4 5 5 5 5 5 5 10 11 12 15 13 13 13 15 16 17 17 18 19 21 21 22

I. II III. IV. V. VI. VII.

VIII.

IX. X.

XI XII

24 25 28 28 28 29 29

DAFTAR TABEL Halaman Tabel. 1 Tabel. 2 Tabel. 3 Tabel. 4 Komposisi Buffer Tris Sapi ......................................... Komposisi Pengencer Semen Cair ............................... Komposisi Buffer Tris Sapi .......................................... Komposisi Pengencer Semen Beku .............................. 7 7 16 17

DAFTAR GAMBAR
Halaman Gb. 1 Gb. 2 Gb. 3 Gb. 4 Gb. 5 Gb. 6 Gb. 7 Gb. 8 Gb. 9 Gb. 10 Gb. 11 Gb. 12 Gb. 13 Gb. 14 Gb. 15 Gb. 16 Gb. 17 Gb. 18 Gb. 19 Gb. 20 Gb. 21 Gb. 22 Gb. 23 Gb. 24 Gb. 25 Gb. 26 Gb. 27 Gb. 28 Gb. 29 Gb. 30 Gb. 31 Gb. 32 Gb. 33 Bahan-bahan untuk pengencer Tris Kuning Telur, Tris Animomethan, Asam Sitrat, Fruktosa................................... Kuning telur terbungkus selaput Fitelin ................................ Antibiotik Penisilin dan Streptomicyn Timbangan analitik Gelas erlenmeyer, gelas ukur ................................................... Penangas air Satu set vagina buatan ............................................................... Mikrosokop................................................. Kamar hitung Neubauer ............................................................ Erlenmeyer ukuran 50 ml dan 100 ml ...................................... Tabung-tabung yang berisi semen cair dalam lemari es ........... Kateter IB Semen Cair dilengkapi dengan dengan karet konektor dan Spoit plastik ....................................................... Kriyoprotektan Gliserol ......................................................... Mesin pengemasan semi otomatik ........................................ Mesin pengemasan otomatik .................................................. Data identifikasi yang terdapat dalam Straw .............................. Mesin printer manual ................................................................ Mesin printer otomatik ................................................................ Cooling cabinet/cool top .......................................................... Ekuilibrasi dalam lemari es ..................................................... Tempat pembekuan yang terbuat dari stainless steel ............... Tempat pembekuan yang terbuat dari styrofoam .................... Tempat pembekuan otomatik (Ice Cube) ................... Alat thawing otomatik ................................................................ Alat thawing konvensional ...................................................... Container N2 Cair berbagai ukuran ....................................... Posisi Gun IB (Posisi IV) ...................................................... Skema waktu IB pada Sapi .................................................... Termos N2 Cair 1 Liter ............................................................ Gun IB tipe German .................................................................. Plastik Sheet .............................................................................. Sarung tangan plastik (Glove) ................................................. Straw Cutter .......................................................................... 6 7 7 8 8 8 9 11 11 11 12 12 14 15 15 16 16 16 17 17 17 18 18 19 19 20 21 22 22 23 23 23 24

I. PENDAHULUAN Dalam upaya mendukung Pencapaian Swasembada Daging Sapi tahun 2014 yang telah dicanangkan oleh pemerintah, maka untuk mewujudkannya berbagai kebijakan operasional yang dilakukan antara lain meningkatkan mutu daging sapi potong, membantu permodalan bagi peternak, pengendalian penyakit reproduksi dan kesehatan hewan, pengembangan pakan ternak serta mengembangkan mutu bibit sapi potong melalui teknologi inseminasi buatan. Inseminasi Buatan (IB) adalah suatu program pemuliabiakan ternak yang kompleks mulai dari organisasi, penyuluhan, produksi semen, deteksi birahi dan IB (deposisi semen) sampai evaluasi keberhasilan program IB itu sendiri. Berbagai faktor akan mempengaruhi keberhasilan program IB diantaranya adalah kualitas semen yang diinseminasikan. Di Indonesia saat ini terdapat 2 (dua) Balai IB Nasional yakni Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari dan BIB Lembang serta beberapa BIB daerah antara lain BIBD Sumatera Barat, Lampung, Jawa Tengah, Bali dan NTB. Dengan dimilikinya dua balai inseminasi buatan berskala Nasional dan beberapa balai-balai IB daerah, seyogyanya pelaksanaan IB dapat lebih ditingkatkan. Dalam pengembangannya banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan IB, terutama sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam penanganan semen di laboratorium. Kualitas semen dipengaruhi antara lain oleh teknik penampungan semen dan penyiapan laboratorium yang memadai. Pengolahan semen berhubungan dengan pemilihan bahan pengencer dan kelengkapan peralatan yang digunakan. Pembuatan semen cair dan semen beku memerlukan peralatan sesuai kebutuhan produksi dan cara penggunaannya memerlukan keterampilan dan pengetahuan khusus. Dalam pedoman ini akan dijelaskan jenis peralatan yang digunakan untuk kegiatan IB mulai dari peralatan penampungan semen, pengolahan semen cair dan semen beku, peralatan IB serta petunjuk praktis penggunaannya sehingga petugas dilapangan dapat lebih efisien dan efektif dalam menentukan pilihannya. II. PERKEMBANGAN IB DI INDONESIA

Program IB di Indonesia pertama kali dimulai pada tahun 50 an, menggunakan semen cair dengan metode vaginoskop. Pada akhir tahun 60 an Ditjen Peternakan bersama FKH-IPB melakukan program IB secara masal di peternakan sapi perah Pengalengan, Bandung dengan menggunakan semen cair. Kemudian sekitar tahun 1972 dilakukan pengenalan (introduksi) penggunaan semen beku dalam bentuk pellet di Jawa Tengah. Impor semen beku mulai dilakukan pada Tahun 1973 dalam kemasan straw yang berasal dari Inggris, USA, New Zealand dan Australia. Pada Tahun 1976 dengan bantuan Pemerintah New Zealand didirikan Balai Inseminasi Buatan

(IB) di Lembang Bandung dan kemudian tahun 1982 di dirikan di Singosari, Malang. Era reformasi yang terjadi pada tahun 1997, mendorong pelaksanaan otonomi daerah serta perubahan organisasi, sehingga pada tahun 1998 di beberapa daerah mulai berdiri laboratorium yang memproduksi semen beku dalam skala kecil setingkat Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang kemudian berkembang dan dikenal dengan Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD). III. PERANAN IB DALAM MENINGKATKAN POPULASI DAN MUTU TERNAK

Ruang lingkup program IB meliputi organisasi, penyediaan sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana IB, seleksi dan pengelolaan pejantan unggul, pengolahan dan distribusi semen, pengamatan dan pelaporan berahi, teknik IB, pencatatan dan evaluasi hasil IB serta penyuluhan kepada (kelompok) peternak. Dari rangkaian tersebut, seleksi dan pengelolaan pejantan serta produksi dan distribusi semen beku yang dihasilkan akan secara langsung berperanan dalam meningkatkan mutu dan populasi ternak. Proses seleksi pada sapi jantan dapat dilakukan berdasarkan rekor tetua (pedigree), keturunan (progeny testing, uji zuriat) atau dapat juga seleksi berdasar performans individu (performance testing). Pada seleksi individu, setiap ternak jantan harus melewati pemeriksaan breeding soundness yang meliputi : performans pejantan, penilaian alat kelamin, uji fertilitas, bebas dari penyakit (menular) reproduksi, kondisi tubuh (Body Scoring Condition), serta mempunyai kaki dan kuku belakang yang sehat. Penilaian alat kelamin primer yaitu testes harus simetris, cukup besar, berkonsistensi kenyal dan tegang, bergerak bebas di dalam skrotum. Ternak jantan harus mempunyai libido dan kemampuan kawin yang tinggi. Kualitas semen yang dihasilkan menunjukkan kualitas normal/tinggi yang ditunjukkan dengan persentase motilitas, normalitas morfologi dan konsentrasi spermatozoa yang tinggi. Kualitas semen serta pengolahan semen yang baik, secara langsung memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas dari anak yang dilahirkan. Efisiensi dari pejantan secara optimal dengan memanfatkan setiap ejakulat yang dihasilkan untuk mengawini dan membuahi banyak betina akan meningkatkan kuantitas ternak.

IV. MANFAAT UTAMA IB 1. Memanfaatkan pejantan unggul secara maksimal untuk tujuan peningkatan jumlah dan mutu genetik 2. Pengendalian penyakit kelamin menular (venereal diseases). 3. Perbaikan manajemen dan peningkatan efisiensi produksi/ reproduksi. V. T U J U A N Memberikan informasi kepada pengguna tentang manfaat IB, proses produksi semen cair dan semen beku, peralatan dan mesin yang digunakan untuk proses produksi serta peralatan yang digunakan untuk IB. VI. PENGERTIAN Inseminasi Buatan (IB) : Dalam arti luas merupakan salah satu program pemuliabiakan ternak untuk meningkatkan mutu dan jumlah ternak. Pengertian sempit adalah deposisi semen hasil pengolahan dalam bentuk semen cair atau semen beku ke dalam organ reproduksi ternak betina yang sedang estrus. 2. Semen cair adalah Semen yang telah diencerkan sesuai dosis menggunakan zat pengencer, dapat disimpan dalam lemari es (suhu 3-5o C) 3. Semen beku adalah semen yang telah diencerkan sesuai dosis dengan pengencer yang mengandung krioprotektan (gliserol), dibekukan dan disimpan pada kontainer N2 cair suhu -196oC. 4. Vagina buatan adalah alat untuk menampung (koleksi) semen yang diatur suhu dan kondisinya sesuai dengan fungsi fisiologis vagina. 5. Evaluasi semen adalah teknik analisis kualitas semen secara makroskopis maupun mikroskopis ataupun secara kimiawi. 6. Peralatan semen beku merupakan seperangkat peralatan yang digunakan untuk pengisian semen, pencetakan label, penutupan straw dan alat pembekuan. 7. Kontainer N2 cair adalah tabung yang dapat diisi N2 cair untuk keperluan penyimpanan semen beku dalam waktu lama. 8. Straw adalah jerami plastik mini berukuran volume 0.25 ml sebagai tempat untuk semen hasil pengolahan. 9. Kanister adalah alat untuk menyimpan goblet yang berisi semen beku dalam kontainer N2 cair 10. Goblet merupakan plastik yang digunakan untuk menyimpan semen beku 11. Gun IB adalah Alat yang digunakan untuk mendeposisikan semen ke dalam organ reproduksi betina. 1.

12. Thawing merupakan teknik pencairan kembali semen beku untuk dapat diinseminasikan pada betina estrus.

VII . PERALATAN DAN MESIN UNTUK PRODUKSI SEMEN CAIR DAN SEMEN BEKU A. Semen Cair Semen cair adalah semen segar yang telah diencerkan dengan bahan pengencer semen dan disimpan pada suhu 3-5 oC (dalam lemari es), dapat digunakan untuk IB dalam waktu 3 sampai dengan 4 hari.
Penampungan semen (vagina buatan/elektro ejakulator) Evaluasi semen (kualitas layak) Penghitungan dosis & pengenceran (bahan pengencer)

Penyimpanan (3-5 oC/lemari es) Inseminasi (kateter IB) Alur Proses Pembuatan Semen Cair

Peralatan Pembuatan Semen Cair


1. Penyiapan bahan pengencer

Pengencer semen adalah bahan yang ditambahkan ke dalam semen segar yang berkualitas layak sesuai perhitungan dosis sebagai media penyimpanan. Di dalamnya harus mengandung buffer, nutrisi, anti cold shock (anti kejutan dingin) dan antibiotik.

Beberapa pengencer semen yang sering digunakan adalah : a. Tris Kuning Telur b. Citrat Kuning Telur c. Susu Skim

Gambar 1. Bahan-bahan untuk Pengencer Tris kuning telur Tris Aminomethan, Asam sitrat, Fruktosa

Pengencer Tris kuning telur Tabel 1. Komposisi Buffer Tris Sapi Bahan Tris (hidroxymethyl aminomethan) (g) Asam Sitrat (g) Fruktosa (g) Aquabidest (ml) ad Tris 1 3.87 2.17 1.56 100 Tris 2 2.42 1.48 1 73.6 Tris 3 3.028 1.7 1.25 100

Tabel 2. Komposisi Pengencer Semen Cair Komposisi pengencer Buffer (ml) Kuning Telur (ml) Volume total (ml) Antibiotik Penicillin (IU) Streptomycin (mg) Tris 1 80 20 100 100.000 100 Tris 2 80 20 100 100.000 100 Tris 3 80 20 100 100.000 100

Keterangan :
Tris 1 : modifikasi Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Tris 2 : dikembangkan dari formula triladyl Tris 3 : modifikasi Fakultas Kedokteran Hewan, Utrecht, Netherland

Penyiapan kuning telur Kuning telur diambil dari telur ayam. Usahakan mendapatkan telur yang segar agar kualitasnya baik dan tidak mudah pecah pada saat dipisahkan dengan putih telurnya, dengan cara : 1. Hapus-hamakan permukaan kulit telur dengan kapas beralkohol 70%, Pecahkan bagian ujung telur yang runcing untuk mengeluarkan putih telur

dengan menggunakan pinset, kemudian keluarkan putih telur sebanyakbanyaknya. 2. Perbesar lubang pada kulit telur tersebut untuk mengeluarkan kuning telur dan ditadah pada kertas saring yang diletakkan pada telapak tangan. 3. Sisa putih telur akan meresap dikertas saring. Untuk menghisap sisa putih telur yang tertinggal diperlukan dua sampai tiga lembar kertas saring. 4. Pecahkan selaput kuning telur (selaput vitelin) dan kuning telur langsung dimasukkan ke dalam gelas ukur (25 ml atau 50 ml).

Gambar 2. Kuning telur terbungkus selaput vitelin

Gambar 3. Antibiotik penisilin dan streptomisin

Pengencer sitrat kuning telur Natrium sitrat (tri-sodium sitrat dihidrat) ditimbang 2,9 gram selanjutnya dilarutkan dengan aquabidest sampai mencapai 100 ml (larutan sitrat 2,9%) kemudian dihomogenkan. Selanjutnya ditambah dengan kuning telur dengan perbandingan 4 : 1 (100 ml larutan sitrat 2,9% ditambah 25 ml kuning telur).

Pengencer susu skim Pengencer susu skim dibuat dengan cara melarutkan susu skim sebanyak 810 g ke dalam 100 ml akuabidest (larutan skim 8-10%). Dihomogenkan dan dipanaskan secara tidak langsung pada suhu 92-95 oC selama 10 menit.

Peralatan untuk pembuatan bahan pengencer semen 1. Timbangan analitik 2. Erlenmeyer 100 dan 250 ml 3. Gelas ukur 25, 50 dan 100 ml 4. Pipet ukur berbagai ukuran 5. Penangas air
Gambar 4. Timbangan analitik

Gambar 5. Gelas Erlenmeyer, gelas ukur

Gambar 6. Penangas air

2. Penampungan Semen Penampungan semen dapat dilakukan dengan menggunakan Vagina Buatan (VB) dengan ukuran berbeda pada sapi dan domba/kambing. Persiapan Vagina Buatan a. Pasang inner liner di dalam selongsong karet tebal kemudian diikat kuat dengan karet pengikat pada kedua ujungnya. Pasang corong karet pada bagian ujung vagina buatan yang paling dekat dengan klep air panas. Pasang tabung penampung dan ikat secara ketat dengan karet pengikat pada pangkal corong karet. b. Siapkan air panas atau campurkan air panas dan air dingin sampai suhu mencapai 50-55oc. Masukkan air hangat tersebut melalui klep air panas sampai penuh. Tutup klep air panas kemudian buka klep udara dan pompakan udara ke vagina buatan. Beri pelicin (KY jelly) sampai1/2 panjang vagina buatan menggunakan tongkat khusus atau menggunakan thermometer. Cek suhu akhir vagina buatan (berkisar 42-44oC) Cara Penampungan Semen a. Tempatkan sapi (betina) pemancing pada kandang penampung semen.

b. Sapi pejantan yang akan ditampung semennya harus dibersihkan pada bagian preputiumnya dengan air hangat. Selanjutnya dibilas dengan NaCL fisiologis, dan dilap dengan tissue atau handuk bersih. Bulu preputium sebaiknya digunting. c. Biarkan sapi jantan melakukan percumbuan dengan mencium vulva (betina pemancing) dan menyengir (reaksi flehmen). d. Kolektor berada disamping kanan dan berdiri sejajar dengan bagian belakang sapi betina. e. Pegang vagina buatan pada tangan kanan dengan posisi 45o. f. Pada saat sapi pejantan menaiki sapi betina pertama kali, pegang praputium dengan telapak tangan kiri arahkan bagian penis menjauhi alat reproduksi betina pemancing (false mount) untuk meningkatkan libido dan kualitas semen. Pada waktu sapi pejantan menaiki (betina) pemancing untuk kedua atau ketiga kalinya, arahkan dan sentuhkan ujung penis ke mulut vagina buatan. Sapi akan berejakulasi yang ditandai oleh suatu dorongan cepat ke depan. Penis dibiarkan berada di dalam vagina buatan dan diikuti sampai pejantan turun, kemudian tarik vagina buatan secara perlahan dari penis. g. Putar vagina buatan menurut angka delapan agar seluruh semen turun ke tabung penampung. Lepaskan tabung penampung kemudian diberi tanda kode jantan dan ejakulatnya. Tempatkan pada termos tertutup yang hangat (27-37 oC) dan segera.

Peralatan penampungan semen


Gambar 7. Satu (1) set vagina buatan yang terdiri atas 1. Selongsong karet tebal 2. Selongsong karet tipis 3. Corong karet 4. Tabung penampung semen 5. Pelicin (KY jelly / vaselin) 6. Thermometer

3. Evaluasi semen Evaluasi semen adalah suatu teknik analisis yang dilakukan untuk mengetahui kualitas semen yang ditampung serta untuk menentukan faktor pengenceran semen tersebut. Evaluasi semen dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Evaluasi semen secara Makrokopis meliputi : 1. Warna : Krem/ putih susu/ kekuningan 2. Volume : Normal rataan (6 ml), kisaran 2-10 ml 3. Konsistensi : Kental/ sedang/ encer 4. pH : menggunakan pH indicator paper

Hasil yang layak pada semen sapi adalah volume 5-10 ml, konsistensi sedang sampai kental, putih susu sampai krem dengan pH 6.8 - 7.2. Evaluasi semen secara Mikroskopis meliputi : 1. Gerakan spermatozoa - Gerakan massa : aktivitas gelombang massa spermatozoa keseluruhan (+,++,+++). - Gerakan sperma secara individual (% Motilitas) 2. Konsentrasi spermatozoa (jumlah spermatozoa per mL semen) 3. Persentase spermatozoa yang hidup (Viabilitas) 4. Morfologi spermatozoa (% spermatozoa normal dan Peralatan evaluasi semen Peralatan yang digunakan untuk evaluasi semen adalah : 1. Mikroskop stereo (Gambar 8 ) 2. Gelas objek dan gelas penutup 3. Kamar Hitung Neubaeur dan pipet hemositometer (Gambar 9) 4. Pipet pengambil semen (mikropipet/pipet pasteur) abnormalitas)

Gambar 8. Mikroskop

Gambar 9. Kamar hitung Neubauer

4. Penghitungan dosis & Pengenceran semen Penghitungan kadar pengenceran dilakukan dengan mengalikan volume semen dengan persentase spermatozoa yang motil dan konsentrasi spermatozoa per mL dibagi dengan dosis inseminasi.
Volume Total = Volume semen X Konsentrasi spermatozoa X % Motilitas Dosis IB

Dosis IB semen cair pada sapi adalah 10-15 juta spermatozoa motil per 0.5 1 ml, sedangkan pada domba dan kambing 50 - 100 juta/0.25 ml. Peralatan Pengenceran Semen Peralatan yang digunakan untuk pengenceran semen adalah pipet ukur berukuran 5, 10 dan 20 ml , gelas ukur dan Erlenmeyer berbagai ukuran.

Gambar 10. Erlenmeyer ukuran 50 dan 100 ml Gelas ukur ukuran 25 dan 100 ml

5. Penyimpanan Semen cair Semen yang telah diencerkan sesuai dosis, disimpan dalam bentuk terkoleksi (pool) dalam tabung dengan suasana air (water jacket) atau dalam bentuk kemasan straw pada lemari es (3-5 oC). Dalam keadaan lapang semen dapat disimpan pada styrofoam dan diberi es batu yang dibungkus handuk dan diatur suhunya antara 3-5 oC.
Peralatan penyimpanan semen 1. Lemari es (suhu 3-5 oC) 2. Tabung-tabung penyimpanan semen 3. Rak untuk tabung penyimpanan semen

Gambar 11. Tabung-tabung berisi semen cair dalam lemari es

Gambar 12. Kateter IB semen cair dilengkapi dengan karet konektor dan spoit plastik

B. Semen Beku Semen beku adalah semen segar yang telah diencerkan sesuai dosis dengan bahan pengencer semen yang mengandung krioprotektan (gliserol) selanjutnya dikemas, diekuilibrasi, dibekukan dan disimpan pada suhu -196 o C (dalam kontainer N2 cair), dapat digunakan untuk IB dalam waktu yang lama.
Penampungan semen (Vagina buatan)

Evaluasi semen (Kualitas layak)

Penghitungan dosis & pengenceran (Bahan pengencer)

Pengemasan (Straw mini 0.25 ml) Ekuilibrasi pada suhu 4oC selama 4-6 jam

Pembekuan (Pada uap N2 cair)

Penyimpanan (Pada kontainer) Inseminasi ( Gun IB)

Proses Pembuatan Semen Beku Peralatan pembuatan semen beku


1.

Penyiapan bahan pengencer Bahan pengencer semen untuk semen beku berbeda dengan semen cair. Selain harus mengandung buffer, nutrisi, anti-cold shock (anti-kejutan dingin) dan antibiotik, pada bahan pengencer semen beku perlu ditambahkan dengan krioprotektan yaitu suatu bahan yang berfungsi untuk melindungi spermatozoa pada saat pembekuan. Krioproptektan yang biasa digunakan pada semen beku sapi adalah gliserol (Gambar 13). Berikut ini beberapa resep pengencer semen untuk semen beku sapi.

Gambar 13. Krioprotektan Gliserol p.a.

Pengencer Tris kuning telur

Tabel 3. Komposisi Buffer Tris Sapi Bahan Utama Tris 1 Tris 2 Tris 3 Tris (hidroxymethyl aminomethan)(g) 3.87 2.42 3.028 Asam Sitrat (g) 2.17 1.48 1.7 Fruktosa (g) 1.56 1 1.25 Aquabidest (ml) ad 100 73.6 100

Tabel 4. Komposisi Pengencer Semen beku Komposisi pengencer Tris 1 Tris 2 Tris 3 Buffer (ml) 74 74 75.1 Kuning Telur (ml) 20 20 18.9 Gliserol Volume total (ml) Antibiotik Penicillin (IU) Streptomycin (mg) 6 100 100.000 100 6 100 100.000 100 6 100 100.000 100

2. Pengemasan (Packing) Pengemasan semen dilakukan di dalam jerami plastik (straw) dengan volume 0,25 ml di dalamnya mengandung 25-30 juta sel spermatozoa motil. Peralatan yang digunakan pada pengemasan semen beku adalah seperangkat peralatan mesin pengemasan semen yang terdiri atas feeling (alat pengisi semen ke dalam straw) dan sealing (alat penutup straw) machine. Ada dua jenis mesin pengemasan semen beku yaitu jenis otomatik dan semi otomatik. Perbedaannya adalah pada kapasitas produksi semen beku dan sumbat penutup straw laboratorium. Pada mesin pengemasan semi otomatik, sumbat penutup straw laboratoriumnya menggunakan bolabola metal, sedangkan mesin otomatik penutup sumbat laboratoriumnya menggunakan mesin pres panas.

Gambar 14. Mesin pengemasan semi otomatik

Gambar 15. Mesin pengemasan otomatik

3. Identifikasi Straw Straw yang akan digunakan untuk mengemas semen harus diberi label yang berisi informasi diantaranya mengenai nama sapi jantan, kode batch dan tempat produksinya (Gambar 16 )
Udara Sumbat pabrik Absorbtion polymer Sumbat lab

Susanto

89808

Y 059
BIB ..

FH
15 mm 132 mm

Gambar 16. Data identifikasi yang terdapat dalam straw

Identifikasi pada straw dilakukan menggunakan mesin printer. Jenis printer yang digunakan ada dua buah yaitu printer otomatik dan printer manual (Gambar 17 dan 18 ).

Gambar 17. Mesin printer manual

Gambar 18. Mesin printer otomatik

4.

Ekuilibrasi Ekuilibrasi adalah proses pendinginan semen dengan pengencer yang dilakukan pada suhu 3-5oC selama 4-6 jam, dengan tujuan untuk penyesuaian antara spermatozoa dengan pengencer dan suhu sebelum pembekuan. Ekuilibrasi sebaiknya dilakukan di dalam cooling cabinet atau cool top (Gambar 19). Jika tidak ada Cool top ekuilibrasi dapat digantikan dengan menggunakan lemari es yang diatur suhunya pada 3-5 oC.

Gambar 19. Cooling cabinet/ cool top dalam lemari es

Gambar 20. Ekuilibrasi dalam lemari es

5. Pembekuan Pembekuan dapat dilakukan secara langsung dalam uap N2 cair, atau secara bertahap menggunakan mesin pembekuan (Ice cube). Pembekuan secara langsung dapat menggunakan tempat khusus yang terbuat dari stainless steel (Gambar 21) atau dapat juga menggunakan styrofoam (Gambar 22) dengan ukuran yang disesuaikan dengan rak pembekuan.

Gambar 21. Tempat pembekuan yang terbuat dari stainless steel

Gambar 22. pembekuan yang dari styrofoam penampang besi disesuaikan ketinggian N2 cair

Tempat terbuat dengan yang dengan

Gambar 23. Mesin pembekuan otomatik (Ice cube)

6. Thawing (Pencairan kembali semen beku) Thawing atau proses pencairan kembali semen beku dilakukan untuk keperluan inseminasi atau untuk melihat kualitas spermatozoa hasil pembekuan. Umumnya suhu air yang baik digunakan adalah 37 oC selama 30 detik. Peralatan yang digunakan untuk thawing adalah mesin thawing yang bisa diatur suhunya secara otomatik (Gambar 23) atau bisa menggunakan alat yang sederhana yaitu wadah yang diisi air hangat dan dilengkapi dengan thermometer (Gambar 24)

Gambar 24. Alat thawing otomatik

Gambar 25 Alat thawing konvensional

7. Penyimpanan semen beku Semen beku yang telah dievaluasi dan mempunyai Post Thawing Motility (PTM) lebih dari 40% dapat disimpan untuk keperluan IB. Penyimpanan dapat dilakukan menggunakan kontainer N2 cair yang bersuhu -196 oC. Kapasitas kontainer yang digunakan disesuaikan dengan jumlah straw yang akan disimpan (Gambar 26). Selain kontainer untuk penyimpanan semen beku, perlu disediakan kontainer untuk stok N2 cair. Stok nitrogen cair diperlukan untuk menambah persediaan N2 cair di dalam kontainer yang berisi straw. Kualitas semen beku akan tetap terjaga jika tetap terendam dalam N2 cair.

Gambar 26.

Kontainer N2 cair dalam berbagai ukuran

VIII. INSEMINASI BUATAN PADA SAPI Inseminasi buatan harus dilakukan oleh seorang inseminator yang telah mendapat pelatihan dan mempunyai izin untuk melakukan IB. Prosedur IB hanya dilakukan pada sapi yang sedang estrus sesuai laporan peternak. Kondisi estrus sapi betina dan waktu IB harus dilakukan dengan tepat.

Gambar 28. Posisi Gun IB (posisi IV)

1. Faktor-Faktor Yang Harus diperhatikan Sebelum Melakukan IB Panjang siklus estrus Lama estrus Waktu ovulasi Umur fertil spermatozoa (24-36 jam) Umur fertil ovum 8-12 jam Waktu kapasitasi dari sperma
Terlalu cepat Jam Telur dilepaskan Baik

Waktu Yang Tepat Untuk IB

Baik

Terlambat

Sebelum estrus (6-10 jam)

Diam dinaiki (18 jam)


Gambar 28. Skema waktu IB pada sapi

Sesudah estrus (10 jam)

Umur telur/ovum (6-10 jam)

2. Peralatan Untuk Inseminasi Buatan Pada Sapi Peralatan yang harus disediakan oleh seorang inseminator pada saat inseminasi adalah : Thermos N2 cair ukuran 1 liter, Gun IB, Straw cutter (alat pemotong straw) atau gunting , glove (sarung tangan plastik ).

Gambar 29 Thermos N2 cair (1 liter) Kegunaan : tempat penyimpanan semen beku dalam N2 cair harian

Gambar 30. Gun IB tipe Jerman Quick Lock (atas) ; Gun IB tipe Perancis Cassou (bawah)

Gambar 31

Plastic sheath

Kegunaan : Kateter dengan plastic sheath untuk mendeposisikan semen dalam bentuk straw ke dalam organ kelamin betina.

Gambar 32. Sarung tangan plastic (Glove). Kegunaan untuk Pelindung tangan pada saat IB

Gambar 33. Straw Cutter Kegunaan: Untuk memotong straw pada ujung sumbat laboratorium persis sepanjang 10 mm sehingga pada saat diselubungi plastik sheat tidak ada udara yang tersisa

3.
No 1. 2.

STANDAR PERALATAN YANG HARUS DIMILIKI OLEH POS IB


Nama alat Keterangan Untuk menyimpan semen beku Untuk menyimpan/menambah N2 cair ke dalam kontainer operasional dan lapangan Untuk membawa semen beku ke lokasi IB Mengukur ketinggian N2 cair kontainer dalam

Kontainer operasional N2 cair Kontainer depo N2 cair

3. 4. 5. 6.

Kontainer lapangan/thermos N2 cair Penggaris panjang Gun IB Pinset

Kateter untuk mendeposisikan semen Untuk mengambil semen beku dari kontainer (panjang 25 cm) dan untuk mengambil semen beku saat thawing g (panjang 15 cm) Plastik pelindung kateter IB Alat untuk memotong ujung straw
o

7. 8. 9. 10.

Plastik sheath Straw cutter/ gunting Thermometer (0-100 C) Wadah thawing plastik

Alat untuk mengukur suhu air saat thawing Untuk tempat air pada saat thawing

4. BAHAN HABIS PAKAI YANG HARUS DISEDIAKAN DI POS IB


No 1. 2. 3. Nama alat Alkohol + wadah nya NaCl fisiologik Tissue Jumlah 10 botol 10 botol Keterangan Bergantung pada jumlah insemintor Bergantung pada jumlah insemintor

adlibitum Bergantung pada jumlah insemintor

5. STANDAR PERALATAN DAN BAHAN YANG HARUS DIBAWA OLEH INSEMINATOR


No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Thermos N2 cair Gun IB Plastik sheath Plastic gloves Straw cutter/ gunting Pinset Thermometer (0-100 oC) Alkohol 70% Tissue Handuk kecil Sabun Tas IB Sepatu kandang Pakaian lapang Format/ buku cacatan Nama alat

Jumlah
1 buah 1 buah 1 pak 1 pak 1 buah 1 buah 1 buah 1 botol 1 roll 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

IX.

INSEMINASI BUATAN PADA DOMBA DAN KAMBING

Inseminasi buatan pada domba/kambing dapat dilakukan dengan satu atau dua kali IB. Inseminasi satu kali dapat dilakukan 24 jam setelah onset estrus, jika IB dilakukan dua kali maka IB dapat dilakukan dengan selang waktu 8 jam masing-masing pada jam ke 15 dan jam ke 23 onset estrus (Gambar 34).
ESTRUS
AWAL TERLALU CEPAT OVULASI TERLAMBAT AKHIR

10

15

20

25

30

35

35 JAM

Gambar 34. Skema waktu IB pada domba

Peralatan Untuk Inseminasi Buatan Pada Domba dan Kambing Peralatan untuk inseminasi buatan terdiri atas: 1. Gun IB dan plastik pelindung (Plastic sheath) untuk semen beku 2. Kateter IB untuk semen cair 3. Speculum (Untuk menguakan vulva dan vagina) 4. Lampu senter (menerangi lokasi mulut cervix)

Gambar 35. Peralatan IB pada kambing dan domba

Gambar 36. Pelaksanaan IB pada Kambing

X.

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN IB

Keberhasilan program IB ditentukan oleh berbagai faktor yaitu faktor sapi jantan, faktor sapi betina, faktor inseminator dan faktor peternak. 1. Faktor Pejantan Inseminasi dapat dilakukan dengan menggunakan semen cair ataupun semen beku. Berbagai faktor akan mempengaruhi kualitas semen tersebut yakni : a. Kualitas semen cair akan dipengaruhi oleh bahan pengencer semen yang digunakan, suhu penyimpanan semen cair tersebut dan daya hidup dari spermatozoa yang akan di IB kan. Umumnya semen cair dapat digunakan antara 3 - 4 hari bergantung bahan pengencer yang digunakan. Inseminasi menggunakan semen cair umumnya memberikan angka konsepsi yang lebih tinggi dibandingkan semen beku. b. Semen beku mempunyai daya tahan hidup lebih lama dibandingkan semen cair karena disimpan dalam N2 cair. Proses produksi semen beku sangat kompleks dan melibatkan perubahan medium dan suhu yang ekstrim sehingga menyebabkan sebagian besar spermatozoa akan mengalami kematian, akibatnya IB menggunakan semen beku memberikan angka kebuntingan yang lebih rendah dibandingkan dengan semen cair. Suatu teknik pembekuan dengan pemilihan bahan pengencer yang tepat akan memberikan persentase motilitas spermatozoa pasca thawing cukup tinggi. Oleh karena itu balai-balai penghasil semen cair ataupun semen beku harus benar-benar memperhatikan kualitas semennya sebelum digunakan untuk IB

c. Peranan petugas yang terampil dalam penguasaan teknik penanganan semen melalui alat-alat yang digunakan sangat penting. Penggunaan alat harus sesuai dengan kebutuhan, penggunaan peralatan yang kurang tepat akan mempengaruhi daya tahan spermatozoa selama proses pembuatan semen cair maupun semen beku. 2. Faktor Sapi betina Betina yang digunakan sebagai akseptor IB harus produktif (2-8 tahun), sehat dan mempunyai siklus estrus Faktor manajemen pemeliharaan ternak sangat penting untuk estrus yang baik. Kesalahan manajemen dapat menyebabkan mengalami gangguan reproduksi. dalam umur yang normal. menghasilkan ternak betina

Berdasarkan pengalaman di lapangan banyak terjadi gangguan reproduksi yang terjadi setelah ternak tersebut partus (melahirkan). Kurang sempurnanya penanganan setelah kelahiran dan ketidak-seimbangan dalam pemberian pakan mengakibatkan terjadinya gangguan reproduksi, yang ditandai dengan tidak munculnya kembali estrus setelah melahirkan atau terjadinya ovarium yang kurang aktif. 3. Faktor Inseminator Inseminator yang baik akan melaksanakan tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab dan melakukan proses IB secara lege artis (sesuai dengan aturan). Inseminator yang berpengalaman sebelum melakukan persiapan semen, akan mengecek kembali kondisi betina yang estrus berdasarkan laporan peternak apakah betina tersebut benar-benar dalam kondisi estrus, sesuai dengan tanda-tanda sapi estrus, seperti kebengkakan dan kemerahan pada bagian vulva, adanya lendir transparan atau ada-bekas keluarnya lendir dari alat reproduksi sapi betina tersebut Setelah memastikan kondisi ternak betina tersebut baru menyiapkan semen yang akan digunakan, seperti proses thawing semen beku. Thawing yang dianjurkan adalah pada di lokasi IB, dan usahakan air dengan suhu 37oC selama 30 detik semen beku yang telah dithawing secepat mungkin dideposisikan pada organ reproduksi sapi betina. Thawing tidak dibenarkan menggunakan air es, hal tersebut akan menyebabkan kerusakan pada spermatozoa. Penggunaan plastik sheath hanya 1 (satu) kali pemakaian, harus benarbenar dilaksanakan. Penggunaan plastic sheath yang dilakukan berulangulang justru akan menyebarkan penyakit reproduksi. 4. Faktor peternak Peternak adalah orang yang berinteraksi langsung dengan ternak betina, merawat, memberi makan dan juga melakukan deteksi berahi dan melaporkannya pada petugas IB (inseminator). Peternak yang baik akan mendeteksi ternak-ternaknya secara teratur 2 kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari, sehingga gejala/tanda-tanda berahi dapat langsung teramati dan

dilaporkan pada inseminator. Peternak yang malas dan tidak teratur dalam mendeteksi gejala berahi, memungkinkan memberi laporan dan informasi yang tidak tepat kepada inseminator sehingga, waktu pelaksanaan IB menjadi tidak tepat dan fertilisasi (pembuahan) tidak terjadi sehingga menyebabkan kegagalan dalam kebuntingan. Keberhasilan IB ditentukan oleh berbagai faktor, dan masing- masing fihak yang terlibat harus melaksanakan tugasnya dengan penuh rasa tanggungjawab dan menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan program IB ini adalah kerja kolektif dari berbagai fihak tersebut.

XI. PENGGUNAAN DANA ALSIN DAN ULIB BUDIDAYA TERNAK RUMINANSIA TAHUN 2010

A. LATAR BELAKANG Pembangunan peternakan pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan untuk memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam yang berupa lahan, ternak dan pakan dengan faktor produksi lainnya yang berupa tenaga kerja, modal dan teknologi. Dengan semakin meningkatnya permintaan produk peternakan untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun industri yang disertai dengan semakin terbatasnya sumberdaya peternakan, menuntut kita untuk mengelola sumberdaya yang tersedia secara lebih efisien dan optimal. Pengembangan industri dan penerapan alat dan mesin merupakan dua hal yang merupakan satu kesatuan, saling ketergantungan dan bersinergi satu sama lainnya. Dapat dikatakan bahwa meningkatnya kebutuhan terhadap alat dan mesin akan mendorong tumbuh kembangnya industri alat dan mesin, begitu pula sebaliknya dengan berkembangnya industri alat dan mesin akan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha agribisnis untuk memperoleh alat dan mesin. Disadari bahwa alat dan mesin budidaya ternak ruminansia yang berkualitas sangat diperlukan dalam penerapan mekanisasi peternakan guna meningkatkan produksi dan produktivitas ternak ruminansia serta efisiensi usaha. Kebutuhan alat dan mesin budidaya ternak ruminansia dari tahun ke tahun dirasakan meningkat sebagai akibat meningkatnya permintaan konsumsi komoditas peternakan tertentu seperti daging dan susu baik dalam kuantitas maupun kualitasnya serta akibat dari pengembangan usaha agribisnis peternakan yang telah mampu merubah pola usaha tani ternak ruminansia dari sub sistem mengarah pada pola usaha yang berorientasi komersial. Alat dan mesin yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan peternakan diantaranya adalah alat mesin untuk inseminasi buatan. Pengunaan maupun pengembangan serta pengadaan alsin inseminasi bauatan dan sarana sepeda motor untuk petugas inseminator diperlukan dalam rangka mendukung Program Swasembada Daging Sapi 2014. B. Tujuan (1) (2) (3) Meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas sapi potong untuk mendukung program Swasembada Daging sapi 2014. Agar program kegiatan inseminasi buatan terus berkembang dan meningkat di seluruh Wilayah Indonesia. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak dan mengentaskan kemiskinan.

C. Sasaran (1) Terbukanya Unit Layanan Inseminasi Buatan (ULIB) BTR Pembukaan ULIB Baru dalam kaitan peningkatan menjaring akseptor IB dari 1,5 juta menjadi 2,0 juta. Propinsi Sentra Utama dan Sentra Pengembangan Sapi Potong. Pembukaan Unit Lokasi IB Baru mengikuti wilayah yang telah ditetapkan dalam Swasembada Daging sapi 2014 (Blue Print Program Swasembada Daging Sapi 2014), dengan demikian pembukaan lokasi IB Baru tersebut diprioritaskan pada daerah pertumbuhan sapi potong yang merupakan baik pada sentra utama maupun sentra pengembangan sapi potong.

(2)

(3) Meningkatkan Kinerja Inseminasi Buatan. Kinerja IB yang baik ditunjukkan selain bertambahnya akseptor IB juga pemendekan jarak kelahiran (calving interval) dari 18 20 bulan menjadi 16 bulan dengan Conception Rate (C/R) sekitar 70 %. Kondisi ini harus dibarengi dengan penanganan gangguan reproduksi dan program peningkatan mutu pakan. Untuk daerah introduksi IB dimungkinkan dapat mencapai (C/R) = 60%.

D. Penggunaan Dana Alokasi dana pada Propinsi yang disalurkan dipergunakan untuk pengadaan peralatan IB: ke Kabupaten/ Kota

Peralatan Inseminasi Buatan (IB) dimaksud terdiri dari : (i) AI Gun sapi, (ii) plastik sheath, (iii) plastik glove, (iv) casing for AI Gun, (v) cutter straw, (vi) vagina speculum, (vii) pinset (viii) container nitrogen cair 34 ltr, (ix) container lapangan (x) thermos, (xi) tas IB, (xii) topi, (xiii) pakaian overal, (xiv) jas hujan, (xv) sepatu boot (xvi) hormon sinkronisasi birahi, (xvii) kartu ternak. Dengan tersedianya sarana dan peralatan IB tersebut diharapkan kinerja IB mengalami peningkatan yang dicerminkan nilai angka kebuntingan dan kelahiran (C/R), yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan peternak serta memberikan andil dalam mendukung Swasembada Daging Sapi 2014. E. Kriteria ULIB Baru. Dalam penentuan lokasi ULIB Baru, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah dengan Pola Satuan Pelayanan Terpadu yang merupakan kegiatan

terpadu dari unsur-unsur/ petugas pelayanan teknis pada Pusat Kesehatan Hewan (PUSKESWAN), khususnya dalam bidang IB dibentuk Satuan Pelayanan IB dalam SP-IB mempunyai pengertian terpadu lokasi, terpadu sasaran dan terpadu pelayanan. F. Penerima Dana Alsin dan ULIB BTR. 1. ULIB Baru dengan kegiatan Belanja Modal. Penerima peralatan ULIB Baru adalah petugas Inseminator yang telah memiliki Surat Ijin Melakukan Inseminasi (SIMI) dan mempunyai wilayah kerja. Peralatan tersebut ditempatkan pada Pos Inseminasi Buatan dan bila belum ada Pos IB dapat ditempatkan pada Pusat Kesehatan Hewan/ PUSKESWAN (Peraturan Menteri Pertanian N0. 64/Permentan/OT.140 9/2007). 2. ULIB Baru dengan kegiatan Belanja Sosial. Penerima peralatan ULIB Baru adalah Kelompok/Paguyuban Inseminator atau Kelompok Peternak, dengan kriteria sebagai berikut: 1) Kelompok/Paguyuban Inseminasi Buatan (IB) 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Kelompok/Paguyuban IB yang masih aktif. Mempunyai struktur organisasi. Ada rekomendasi dari Dinas Peternakan Kabupaten/Kota. Mempunyai rencana kerja. Mempunyai Inseminator yang memiliki Surat Ijin Melakukan Inseminasi (SIMI). Mempunyai wilayah kerja. Mempunyai komitmen untuk bisa mengembangkan jumlah peralatan dan menambah jumlah akseptor IB.

2)

Kelompok Peternak 1) 2) 3) 4) 5) 6) Kelompok usaha peternakan ruminansia yang masih aktif. Mempunyai struktur organisasi. Jumlah anggota minimal 20 orang. Ada rekomendasi dari Dinas Peternakan Kabupaten/Kota. Mempunyai rencana kerja. Perkawinan ternak sapi dilakukan dengan inseminasi buatan, bagi kelompok ternak yang terkonsentrasi dan mungkin dilakukan IB. Diprioritaskan bagi kelompok yang mempunyai kader inseminator.

7)

XII. PENUTUP
Pedoman Alat Mesin dan ULIB Budidaya Ternak Ruminansia ini sangat diperlukan salah satunya dalam rangka mendukung program swasembada daging 2014, sehingga kegiatan operasional pelaksanaan Inseminasi Buatan diharapkan mencapai hasil yang optimal.