Anda di halaman 1dari 42

KATA PENGANTAR Demikian semoga pedoman teknis ini dapat memberikan arahan dalam pelaksanaan pembangunan sumur resapan.

Kegiatan Pembangunan Sumur Resapan Dalam Rangka Antisipasi Kekeringan, merupakan salah satu kegiatan konservasi air sebagai upaya untuk meningkatkan volume air tanah di daerah pertanian ( groundwater recharge ) dan upaya penanggulangan dampak bencana alam kekeringan di wilayah Indonesia. Pedoman Teknis ini merupakan Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011 dan disusun dengan maksud untuk menjadi acuan pelaksanaan kegiatan bagi para petugas di daerah dan semua pihak yang terlibat langsung ataupun tidak langsung dengan kegiatan ini dalam rangka pembangunan sumur resapan untuk antisipasi kekeringan. Dengan adanya acuan atau pedoman ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan penyusunan juklak di tingkat propinsi dan juknis di tingkat kabupaten agar petugas dapat memahami dan melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sebaik - baiknya sehingga tujuan dan sasaran kegiatan ini dapat terwujud sesuai harapan yang ingin dicapai.

Jakarta, Januari 2011 Direktur Pengelolaan Air Irigasi

Ir. Prasetyo Nuchsin, MM NIP. 19570903 198503 1 001

ii

RINGKASAN Pembangunan sumur resapan merupakan salah satu upaya pengisian air tanah secara artifisial sebagai alternatif proses pengisian air tanah alami yang relatif lambat melalui proses infiltrasi. Lokasi pembangunan sumur resapan adalah di daerah yang hilirnya merupakan kawasan pertanian yang sering mengalami kekurangan air atau sering terkena banjir dan volume aliran permukaan saat terjadi hujan tinggi serta mudah meresapkan air. Calon masyarakat penerima kegiatan sumur resapan bersedia menyediakan lahan tanpa ganti rugi dan bersedia memelihara bangunan yang dinyatakan dalam surat pernyataan. Dinas Pertanian Kabupaten/Kota selaku penanggung jawab kegiatan harus melakukan survey untuk menentukan Calon Masyarakat Penerima Kegiatan dan Calon Lokasi (CPCL). Setelah CPCL ditentukan, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama dengan masyarakat membuat Desain Sederhana. Komponen sumur resapan harus terdiri dari saluran air, bak control, pipa pemasukan, sumur resapan, dan pipa pembuangan. Monitoring dan Evaluasi dilakukan terhadap keseluruhan kegiatan pembangunan sumur resapan yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, Rencana pembangunan sumur resapan sebanyak 4.996 unit di 32 Propinsi di 294 Kabupaten/Kota. KATA PENGANTAR RINGKASAN DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan C. Sasaran D. Istilah II. PELAKSANAAN A. Sosialisasi B. Persyaratan Lokasi C. Persyaratan Masyarakat Penerima Kegiatan D. Survey, Investigasi, Desain (SID) E. Pencatatan Koordinat F. Konstruksi G. Pengawasan H. Pembiayaan III. INDIKATOR KINERJA A. Keluaran (Output) B. Hasil (Outcome) C. Manfaat (Benefit) D. Dampak (Impact)

DAFTAR ISI i iii iv 1 1 2 2 3 4 4 4 5 5 5 6 11 11 12 12 12 12 12

iii

iv

IV. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN A. Monitoring dan Evaluasi B. Operasional dan Pemeliharaan C. Pembinaan dan Pengendalian D. Pelaporan 1) Laporan Bulanan 2) Laporan Tahunan/Akhir V. PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

13 13 13 14 14 14 16 17 18 19

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam siklus hidrologi, jatuhnya air hujan ke bumi merupakan sumber air yang dapat dipakai untuk keperluan mahluk hidup. Dalam siklus tersebut, secara alamiah air hujan yang jatuh ke bumi sebagian akan masuk ke perut bumi dan sebagian lagi akan menjadi aliran permukaan yang sebagian besar masuk ke sungai dan akhirnya terbuang percuma masuk ke laut. Dengan kondisi daerah tangkapan air yang semakin kritis, maka kesempatan air hujan masuk ke perut bumi menjadi semakin sedikit. Sementara itu pemakaian air tanah melalui pompanisasi semakin hari semakin meningkat. Akibatnya terjadi defisit air tanah, yang ditandai dengan makin dalamnya muka air tanah. Hujan berkurang sedikit saja beberapa waktu maka air tanah cepat sekali turun. Kondisi semakin turunnya muka air tanah kalau dibiarkan terus, maka akan berakibat sulitnya memperoleh air tanah untuk keperluan pengairan pertanian dan keperluan mahluk hidup lainnya. Disamping itu bagi daerahdaerah pantai dapat menyebabkan intrusi air laut semakin dalam ke arah daratan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu konservasi air sebagai upaya untuk penambahan air tanah. Prinsip dasar konservasi air ini adalah mencegah atau meminimalkan air yang hilang sebagai aliran permukaan dan menyimpannya semaksimal mungkin ke dalam tubuh bumi. Atas dasar prinsip ini maka curah hujan yang berlebihan pada musim hujan tidak dibiarkan mengalir percuma ke laut tetapi ditampung dalam suatu wadah yang memungkinkan air kembali meresap ke dalam tanah (groundwater recharge).
Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

Metoda-metoda yang umum digunakan untuk memanen aliran permukaan adalah meningkatkan resapan air ke dalam tanah melalui pembuatan pembuatan Sumur Resapan dan pembuatan Lubang Resapan Biopori. Dengan muka air tanah yang tetap terjaga atau bahkan menjadi lebih dangkal, air tanah tersebut dapat dimanfaatkan pada saat terjadi kekurangan air di musim kemarau dengan jalan memompanya kembali ditempat yang lain ke permukaan. B. Tujuan

1. Mengurangi volume aliran permukaan dan meningkatkan volume resapan air ke dalam tanah. 2. Meningkatkan muka air tanah untuk penyediaan air bagi usaha pertanian dan peternakan. 3. Mengurangi dan mencegah intrusi air laut di daerah-daerah pantai. C. 1. 2. 3. Sasaran Terjadinya pengurangan volume aliran permukaan dan meningkatnya volume resapan air ke dalam tanah. Terjadinya peningkatan muka air tanah sehingga dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan peternakan melalui pompanisasi. Terjadinya pengurangan dan tercegahnya intrusi air laut di daerah-daerah pantai.

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

D.

Istilah

Dalam pedoman teknis ini akan dijumpai istilahistilah yang memiliki pengertian sebagai berikut :
1.

Sumur Resapan Sumur Resapan (infiltration well) adalah sumur atau lubang pada permukaan tanah yang dibuat untuk menampung air hujan/aliran permukaan agar dapat meresap ke dalam tanah. Dinas Pertanian Dinas Pertanian adalah dinas yang di dalam tugas pokok dan fungsinya mendapat mandat di bidang pertanian tanaman pangan dan hortikultura/perkebunan/peternakan. Lapisan Aquifer Lapisan Aquifer adalah lapisan dalam tubuh bumi di bawah permukaan tanah yang terdiri dari masa batuan atau masa tanah yang tidak saja mengandung air tetapi juga merupakan sumber air yang tidak tercemar. Lapisan ini ditandai dengan munculnya mata air. Masyarakat Masyarakat penerima kegiatan ini adalah petani atau bukan petani yang sanggup melaksanakan kegiatan ini sesuai kriteria yang telah ditentukan dalam pedoman ini.

2.

3.

4.

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

II. PELAKSANAAN A. Sosialisasi Dinas Pertanian harus melakukan sosialisasi pembangunan sumur resapan kepada masyarakat calon penerima manfaat. Masyarakat sebagai penerima manfaat kegiatan ini harus diberikan pengertian bahwa mereka adalah subyek dari kegiatan ini. Perlu disampaikan juga bahwa pembangunan sumur resapan ini bersifat percontohan. Diharapkan dengan adanya sosialisasi ini akan timbul semangat partisipasi dan masyarakat dapat mengembangkan kegiatan ini di wilayahnya. Selain teknologi sumur resapan ini, masyarakat dapat juga dikenalkan teknologi lain yang sederhana dan dapat dikembangkan secara swadaya, misalnya pembuatan lubang biopori. Metode pengembangan teknologi biopori dapat di lihat pada lampiran 8. B. Persyaratan Lokasi
1. Suatu daerah yang hilirnya merupakan kawasan pertanian yang

sumber air tanahnya sering mengalami kekurangan air atau sering terkena banjir. 2. Volume aliran permukaan saat terjadi huajn di daerah tersebut tinggi. 3. Diprioritaskan untuk mendukung daerah pertanian yang banyak menggunakan irigasi pompa air tanah dan daerah aliran sungai yang sering mengalami banjir.
Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

4. Lokasi sumur pada titik yang dilalui aliran permukaan saat hujan

dan mudah meresapkan air. 5. Letaknya strategis supaya mudah dilihat masyarakat sebagai percontohan. C. Persyaratan Masyarakat Penerima Kegiatan
1. Masyarakat yang mempunyai lahan sesuai persyaratan lokasi pada

point B. 2. Bersedia menyediakan lahan untuk bangunan ini tanpa ganti rugi yang dinyatakan dalam surat pernyataan. 3. Bersedia memelihara bangunan yang dinyatakan dalam surat pernyataan. D. Survey, Investigasi, Desain (SID) Penanggung jawab kegiatan (Dinas Pertanian Kabupaten/Kota) harus melakukan survey untuk menentukan Calon Masyarakat Penerima Kegiatan dan Calon Lokasi (CPCL) sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan pada butir B dan C. Setelah menentukan CPCL, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama dengan masyarakat membuat Desain. Desain diusahakan sesederhana mungkin agar dapat dibaca oleh pelaksana (masyarakat) di lapangan. E. Pencatatan Koordinat Lokasi sumur resapan yang akan dibuat supaya dicatat koordinat geografisnya yang meliputi : - lintang dan bujur
Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

- ketinggian lokasi (dpl) dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) atau dengan ekstrapolasi peta yang tersedia. Data koordinat sumur resapan ini selanjutnya diperlukan untuk menyusun sistem basis data pengelolaan lahan dan air sekaligus memantau kinerja pelaksanaan kegiatan yang telah berjalan. F. Konstruksi Pembangunan sumur resapan dilakukan oleh pelaksana yang telah ditunjuk (masyarakat), dilakukan secara swakelola (padat karya) agar masyarakat mampu mengembangkan sumur resapan dan merasa memiliki sejak dini. 1. Komponen Bangunan Sumur Resapan Bangunan sumur resapan terdiri dari : a. Saluran air sebagai jalan untuk air yang akan dimasukkan ke dalam sumur. b. Bak kontrol yang berfungsi untuk menyaring air masuk sumur resapan. sebelum

c. Pipa pemasukan atau saluran air masuk. Ukuran tergantung jumlah aliran permukaan yang akan masuk sumur resapan d. Sumur Resapan e. Pipa pembuangan yang berfungsi sebagai saluran pembuangan jika air dalam sumur resapan sudah penuh.

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

LEGENDA : 1. Saluran Drainase 2. Bak Kontrol dan Saringan

3. Pipa Pemasukan 4. Sumur Resapan

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

2. Beberapa Ketentuan Teknis Konstruksi Sumur Resapan

untuk

Pembangunan

a. Sumur resapan ditempatkan di daerah hulu/atas kawasan sumur - sumur gali dan sumur bor yang dimanfaatkan untuk irigasi pertanian. b. Untuk menjaga pencemaran air di lapisan aquifer, kedalaman sumur resapan harus di atas kedalaman muka air tanah tidak tertekan (unconfined aquifer) yang ditandai oleh adanya mata air tanah. c. Untuk mendapatkan jumlah air yang memadai, kawasan sumur resapan minimal memiliki limpasan air yang cukup tinggi dan penempatan sumur adalah di dekat alur-alur limpasan (parit) untuk memudahkan pengambilan airnya. d. Sebelum air hujan yang berupa aliran permukaan masuk ke dalam sumur melalui saluran air, sebaiknya dilakukan penyaringan air di bak kontrol terlebih dahulu. e. Penyaringan ini dimaksudkan agar sampah dan kotoran tidak terbawa masuk ke sumur dan menyumbat pori - pori lapisan aquifer yang ada. f. Untuk menahan tenaga kinetis air yang masuk melalui pipa pemasukan, dasar sumur yang berada di lapisan kedap air dapat diisi dengan batu belah atau ijuk. g. Pada dinding sumur tepat di depan pipa pemasukan, dipasang pipa pengeluaran yang letaknya lebih rendah dari pada pipa pemasukan untuk antisipasi manakala terjadi overflow/luapan air di dalam sumur. Bila tidak dilengkapi dengan pipa pengeluaran, air yang masuk ke sumur harus dapat diatur
Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

misalnya dengan sekat balok dll. Diameter sumur bervariasi tergantung pada besarnya curah hujan, luas tangkapan air, konduktifitas hidrolika lapisan aquifer, tebal lapisan aquifer dan daya tampung lapisan aquifer. Pada umumnya diameter berkisar antara 1 1,5 m. Tergantung pada tingkat kelabilan/kondisi lapisan tanah dan ketersediaan dana yang ada, dinding sumur dapat dilapis pasangan batu bata, buis beton atau bahan bahan spesifik lokasi yang kuat menahan tanah. Dinding sumur tersebut dibuat lubang - lubang agar air dapat meresap juga secara horizontal. Apabila struktur tanah kuat/tidak mudah longsor maka dinding tidak perlu dilapis sampai dasar, tetapi cukup setinggi 2 meter dari atas untuk menahan tutup sumur. Dengan konstruksi sederhana tersebut diharapkan jumlah sumur resapan yang dibangun lebih dari 1 buah. h. Untuk menghindari terjadinya gangguan atau kecelakaan maka bibir sumur dapat dipertinggi dengan pasangan bata dan atau ditutup dengan papan/plesteran. 3. Pelaksanaan Konstruksi a. Saluran air - Adalah saluran ketika terjadi hujan dilewati aliran air permukaan. Jadi merupakan alur - alur alami atau parit. - Lebar dan kedalaman saluran dibuat agar memudahkan air masuk ke bak kontrol. - Pada saluran ini dibuat saluran keluar menuju bak kontrol.
Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

b. Bak kontrol - Bak kontrol berfungsi untuk menyaring partikel - partikel debu dan sampah yang menyertai aliran permukaan agar tidak masuk ke dalam sumur resapan. - Lebar dan kedalaman bak kontrol disesuaikan dengan volume aliran permukaan yang masuk. - Bak kontrol diisi lapisan - lapisan, mulai dari bawah ke atas : kerikil, pasir kasar, pasir, dan ijuk. - Lapisan - lapisan ini tidak melebihi bahkan di bawah permukaan air dari saluran air. Catatan : Model bak kontrol dengan saringan seperti ini memerlukan perawatan yang intensif karena kalau tidak dibersihkan air yang masuk ke sumur akan terhambat. Untuk itu dimungkinkan juga bak kontrol tanpa diisi dengan lapisan-lapisan, cukup dengan membuat saringan kasa pada saluran masuk. c. Sumur resapan - Garis tengah (diameter) sumur antara 0,8 - 1,4 meter dan kedalaman di atas muka air tanah yang ditandai dengan adanya mata air. - Untuk memperkuat dinding sumur agar tidak longsor dapat perkuat dengan pasangan batu bata/buis beton dan dibuat lubang - lubang agar air dapat juga meresap ke dalam tanah melalui samping sumur. - Kedalaman pelapisan dinding yang disesuaikan dengan struktur tanah yang ada (lihat ketentuan teknis).
Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

10

Untuk menghindari terjadinya gangguan atau kecelakaan, maka dinding sumur dipertinggi kira-kira 25 40 cm dari permukaan tanah dan ditutup dengan papan atau coran.

G. Pengawasan Aparat Dinas Pertanian Kabupaten/Kota sebagai penanggung jawab kegiatan harus melakukan pengawasan sejak perencanaan hingga konstruksi sumur resapan terbangun. H. Pembiayaan Biaya Pembangunan Sumur Resapan disediakan melalui dana Tugas Pembantuan Akun Belanja Lembaga Sosial Lainnya. Dana tersebut bisa digunakan untuk insentif tenaga kerja (Padat Karya) dan pembelian bahan bangunan, bahkan bisa untuk kebutuhan lain yang berkaitan dengan konstruksi fisik. Proporsi pembagian dananya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan. Prosedur pengelolaan dana tersebut mengacu kepada Pedoman Pengelolaan Bantuan Sosial dari Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian.

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

11

III. INDIKATOR KINERJA A. Keluaran (out put) Terbangunnya dan berfungsinya sumur resapan mendukung pertanian. B. Hasil (out come) Meningkatnya volume air permukaan yang meresap ke dalam tanah untuk mendukung pertanian. C. Manfaat (benefit) Meningkatnya muka air tanah yang dapat di pompa untuk keperluan pertanian. D. Dampak (impact) Meningkatnya kesempatan berusahatani terutama di musim kemarau.

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

12

IV. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN A. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap keseluruhan kegiatan pembangunan sumur resapan yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, yaitu : 1. Terhadap kegiatan perencanaan meliputi antara lain pemilihan lokasi, sosialisasi, rencana pembiayaan, dukungan dari pemerintah daerah setempat dan lain - lain. 2. Terhadap pelaksanaan meliputi kegiatan persiapan, penyusunan rencana kegiatan, organisasi, tugas dan fungsi pelaksana, pengadaan dan penggunaan bahan/alat, pelaksanaan kegiatan fisik, produktivitas pekerjaan dan lain - lain. 3. Terhadap pengendalian dan pengawasan meliputi peranan pengawasan, teknis pelaksanaan pekerjaan fisik dan lain - lain. B. Operasional dan Pemeliharaan Pemeliharaan sumur resapan yang telah selesai dibangun dilakukan oleh masyarakat pengelola sumur resapan. Beberapa komponen pemeliharaan sumur resapan adalah : 1. Menjaga agar air masuk ke dalam sumur resapan dengan mudah, sedapat mungkin air bersih dan bebas dari kotoran seperti ranting, dedaunan dll. 2. Membersihkan bak kontrol dari kotoran dan endapan/lumpur yang menyumbat.

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

13

C. Pembinaan dan Pengendalian 1. Pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan percontohan pengembangan sumur resapan dalam rangka antisipasi kekeringan sehari - hari di kabupaten dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan pembangunan sumur resapan (Kepala Dinas Pertanian Kabupaten) berkoordinasi dengan instansi teknis terkait . Pengawasan dan pengendalian terhadap pengelolaan keuangan harus dilakukan secara intensif dan efektif untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan penyelewengan yang mengakibatkan kerugian negara. Pengawasan pelaksanaan pekerjaan fisik dilakukan oleh pengawas lapangan pembangunan sumur resapan yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten.

2.

3.

D. Pelaporan Laporan diperlukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Adapun macam laporan adalah : 1. Laporan Bulanan Laporan bulanan merupakan laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan. Laporan ini dilaporkan dari Kabupaten ke Propinsi, dengan tembusan ke Pusat (Ditjen PSP). Untuk mengetahui perkembangan
Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

14

fisik dan keuangan menggunakan persentase pembobotan seperti tabel 1. Laporan Bulanan menggunakan form PSP 01. Tabel 1. Perkembangan Pelaksanaan Kegiatan
JADWAL PALANG PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBANGUNAN KONSERVASI AIR TA. 2011
BULAN KE : JENIS DAN TAHAPAN KEGIATAN Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sept Okt Nop Des Bobot Progres

Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I KEGIATAN BANSOS PLA A PERSIAPAN 1 JUKLAK DITERIMA OLEH KAB 2 PEMBUATAN JUKNIS OLEH KAB. 3 SK-SK TIM 4 PENETAPAN CPCL 5 DESAIN SEDERHANA 6 RUKK 7 PERJANJIAN KERJASAMA DAN PEMBUKAAN REKENING 8 TRANSFER DANA KE REKENING KELOMPOK B PELAKSANAAN 1 KONSTRUKSI *) 2 MONITORING : OLEH KABUPATEN OLEH PROPINSI EVALUASI : OLEH KABUPATEN OLEH PROPINSI OLEH PUSAT 3 PELAPORAN - BULANAN - TRIWULAN - TAHUNAN/AKHIR 80 80 4 3 2 3 4 4 20 (%)

*) Realisasi fisik dihitung berdasarkan kemajuan fisik yang telah dilaksanakan dengan mengacu pada jumlah dana yang telah terpakai untuk melaksanakan kegiatan dimaksud

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

15

2. Laporan Tahunan/Akhir 2.1. Laporan Tahunan/Akhir Oleh Kabupaten Laporan ini dibuat oleh Kabupaten disampaikan ke Propinsi, tembusan ke Pusat. Laporan tahunan ini menggunakan FORM PSP 03. Selain mengisi FORM PSP 03, penanggung jawab kegiatan di tingkat Kabupaten wajib menyiapkan dan menyampaikan laporan akhir pelaksanaan program pengembangan sumur resapan baik dari segi fisik maupun keuangan. Laporan akan lebih informatif dan komunikatif bila dilengkapi dengan foto - foto dokumentasi minimal kondisi sebelum dan setelah kegiatan. Outline laporan akhir adalah seperti Lampiran 6. 2.2. Laporan Tahunan/Akhir Oleh Propinsi Laporan ini dibuat oleh Propinsi disampaikan ke Pusat. Isi laporan ini merupakan rekap Kabupaten. Laporan ini menggunakan FORM PSP 04. Perkembangan realisasi pelaksanaan fisik kegiatan agar dilakukan pembobotan. Penilaian pembobotan pekerjaan seperti pada tabel 1. Sedangkan FORM PSP 01 sampai dengan 04 terlampir. Laporan akhir ke Pusat disampaikan ke Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian cq. Direktorat Pengelolaan Air Irigasi dengan alamat Jl. Taman Margasatwa No. 3 Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

16

V. PENUTUP Pembangunan sumur resapan adalah merupakan salah satu upaya pengisian air tanah secara artifisial sebagai alternatif proses pengisian air tanah alami yang relatif lambat melalui proses infiltrasi. Proses ini menjadi sangat tidak signifikan manakala hampir sebagian besar recharge area telah menjadi kedap air atau upaya konservasi tanah dan air di daerah hulu sangat tidak memadai. Oleh karena itu, pembangunan sumur resapan adalah merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki kuantitas dan sekaligus kualias air tanah yang saat ini semakin terancam akibat eksploitasi air tanah, pemompaan berlebih, intrusi air asin, persapan limbah industri dll. Pembangunan sumur resapan ini dapat dikombinasikan dengan pembangunan embung atau check dam sebagai penampung air luapan manakala kapasitas tampung embung terlampaui pada saat hujan besar. Dengan adanya pembangunan sumur sumur resapan khususnya di lahan usaha tani, diharapkan air hujan dapat diresapkan dan disimpan sementara di bawah tanah di lapisan aquifer. Air tersimpan kemudian dapat dimanfaatkan kembali untuk kegiatan usahatani terutama di musim kemarau dalam rangka mengantisipasi ancaman kekurangan air atau kekeringan.

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

17

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1991. Tata Cara Perencanaan Teknis Sumur Resapan Air Hujan. SNI Kimpraswil No. 02-2453-1991. Dep Kimpraswil, Jakarta. Anonim, 1997. Sumur Resapan Untuk Mengisi Air Tanah, Buletin Pengairan, Humas Direktorat Jenderal Pengairan, Jakarta. Kusnaedi. 2003. Sumur Resapan Untuk Pemukiman Perhotelan Dan pedesaan, Penebar Swadaya, Jakarta. Sabri, M dan Juwana, J.S. 2004. Sumur Resapan Tirta Sakti Dalam Kaitannya Dengan Potensi Persediaan Air Tanah dalam Laporan Apresiasi Konservasi Air 2004, Dit. PAI, Ditjen BSP, Deptan, Jakarta. Suyadi A. 1996. Tehnik Konservasi Tanah, Makalah Pelatihan Petugas Sulawesi Rainfed Agriculture Development Project (SRADP), Yogyakarta. Syarifuddin A. K. 2001. Mengisi Air Tanah Dengan Sumur Resapan Dan Memanfaatkannya Kembali, Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan, Jakarta. Tjandramukti. 2002. Fungsi Sumur Resapan Di Lahan Tadah Hujan Sebagai Antisipasi Kekeringan Saat Tanam Musim Kemarau, Aneka Usaha Tani Budi, Purwodadi, Grobogan.
Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

18

Lampiran 1
Kelompok Desa/Kelurahan Kecamatan Kab./Kota Provinsi : ............................. : ............................. : ............................. : ............................. : .............................

RENCANA USULAN KERJA KELOMPOK ......................,..................................... Kepada Yth : Kuasa Pengguna Anggaran ........................ Kab/Kota ..................................................... Sesuai dengan Surat Keputusan *)......No......tanggal...........tentang penetapan kelompok sasaran kegiatan....................dengan ini kami mengajukan permohonan Dana Bantuan Sosial kepada petani sebesar Rp................(terbilang................) sesuai Rencana Usulan Kerja Kelompok (RUKK) dengan rekapitulasi kegiatan sebaga berikut : Biaya (rupiah) No. 1 Kegiatan Pemerintah Partisipasi Masyarakat 4 Jumlah

2 3 5 A. Insentif Tenaga Kerja 1................................ 2.................................. 3.................................. B. Bahan/Material 1................................ 2.................................. 3.................................. C. Lainnya..................... Jumlah Selanjutnya kegiatan tersebut akan dilaksanakan sesuai dengan Surat Perjanjian Kerjasama Nomor..................tanggal................., Dana Bantuan Sosial kelompok tersebut agar dipindahbukukan ke rekening petani/kelompok......................No. Rekening...........pada cabang/unit Bank...................di..................... MENYETUJUI Ketua Tim Teknis, .................................. NIP MENGETAHUI/MENYETUJUI Pejabat Pembuat Komitmen Kabupaten/Kota.............. .................................... NIP *) Bupati/Walikota atau Kepala Dinas lingkup Pertanian atau pejabat yang ditunjuk **) Format ini dapat disesuaikan untuk kegiatan pada DIPA Pusat dan DIPA Propinsi Ketua Kelompok, .............................

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

19

Lampiran 2
LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN T.A. 2011
Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : .. : .. : .. : .. : .. : .. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Keterangan 13 Form PSP.01

No.

Aspek

Kegiatan

Koordinat 12

1 2 3 A. Pengelolaan Air Irigasi 1. Sumur Resapan

Catatan : 1. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PSP Pusat, paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.go.id 3. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja, dll *) Coret yang tidak perlu

., . 2010

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

20

Lampiran 3
LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN T.A. 2011
Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan : .. : .. : .. : .. : .. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 9 10 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 11 12 Keterangan 13 Form PSP.02

No. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas Kab/Kota

Aspek

Kegiatan 3

Pengelolaan Air Irigasi 1. JITUT 2. JIDES 3. TAM 4. dst

2 3

..

Catatan : 1. Laporan dikirim ke Ditjen PSP Pusat, paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.go.id 3. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja, dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA **) Coret yang tidak perlu

., . 2010

Penanggung jawab kegiatan Propinsi

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2011

21

Lampiran 4
Form PSP.03 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN TA. 2007, TA. 2008, TA. 2009 DAN TA. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor : .. : .. : .. : ..

No. 1 A. 1 2 3 4 B. C.

Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Irigasi Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT) Rehabilitasi Jaringan Irigasi Pedesaan (JIDES) Pengembangan Tata Air Mikro (TAM) Dll. .. ..

Target Fisik 3

Realisasi Fisik 4

Manfaat 7

Catatan : 1. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PSP Pusat, paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan Jakarta S via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.go.id 3. Manfaat harus terukur, contoh : a. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha, menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha, sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0,5 X 5 Ton = 1.250 ton b. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. 25; / Kg atau Rp. 25.000; / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. 25.000 X 1.000 = Rp. 25.000.000; c. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2,5 ton/Ha dan IP 150 %, sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2,5 ton X 1,5 = 750 ton

. . 2010

Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

22

Lampiran 5
Form PSP.04 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN TA. 2007, TA. 2008, TA. 2009 DAN TA. 2010 Dinas Provinsi Subsektor : .. : .. : ..

No. 1 A. 1 2 3 4 B. C.

Kegiatan 2

Target Fisik 3

Realisasi Fisik 4

Manfaat 7

Aspek Pengelolaan Air Irigasi Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT) Rehabilitasi Jaringan Irigasi Pedesaan (JIDES) Pengembangan Tata Air Mikro (TAM) Dll . .

Catatan : 1. Laporan dikirim ke Ditjen PSP Pusat, paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan Jakarta via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.go.id 3 Manfaat harus terukur, contoh : a. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha, menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha, sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0,5 X 5 Ton = 1.250 ton b. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. 25; / Kg atau Rp. 25.000; / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. 25.000 X 1.000 = Rp. 25.000.000; c. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2,5 ton/Ha dan IP 150 %, sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2,5 ton X 1,5 = 750 ton

. . 2010

Penanggungjawab Kegiatan Propinsi

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

23

Lampiran 6 Out Line dari Laporan Akhir ini adalah : Kata Pengantar Daftar Isi I. Pendahuluan A. Latar belakang B. Tujuan dan Sasaran II. Pelaksanaan A. Lokasi B. Tahap Pelaksanaan C. Permasalahan D. Pemecahan Masalah III. Permasalahan dan Upaya Pemecahan IV. Kesimpulan dan Saran Lampiran Dokumentasi setiap tahapan kegiatan Tabel perkembangan kegiatan Tabel daftar bangunan sejenis yang pernah dibangun/dilaksanakan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

24

Lampiran 7 DAFTAR LOKASI SUMUR RESAPAN TA. 2011


NO. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 PROP/KABUPATEN Prop. Jawa Barat Kab. Bogor Kab. Ciamis Kab. Cianjur Kab. Cirebon Kab. Garut Kab. Karawang Kab. Kuningan Kab. Majalengka Kab. Purwakarta Kab. Subang Kab. Sukabumi Kab. Sumedang Kab. Tasikmalaya Kota Banjar Kota Bogor Kota Tasikmalaya Prop. Jawa Tengah Kab. Banjarnegara Kab. Banyumas Kab. Batang Kab. Blora Kab. Boyolali Kab. Cilacap Kab. Demak Kab. Grobogan Kab. Jepara Kab. Karanganyar Kab. Kebumen Kab. Kendal Kab. Klaten MENDUKUNG H BUN 5 6 5 10 8 5 5 12 11 5 10 5 10 10 5 14 5 JUMLAH 28 16 10 13 10 5 11 17 30 10 24 5 34 10 10 4 237 10 10 14 5 10 17 12 15 8 5 15 10 5

TP 15

NAK 8 10

14

6 10 19 10 10 4 82

52

54 10

49

10 14 5 5 6 5 5 5 5 3 15 10 5

5 11 12 5

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

25

NO. 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 III 1 2 3 4 IV 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

PROP/KABUPATEN Kab. Kudus Kab. Magelang Kab. Pati Kab. Pekalongan Kab. Pemalang Kab. Purbalingga Kab. Purworejo Kab. Rembang Kab. Semarang Kab. Sragen Kab. Temanggung Kab. Wonogiri Kab. Wonosobo Kota Salatiga Kota Semarang

TP 5 4 10 3 5 4 10 5 10 5 4 5 120

MENDUKUNG H BUN

NAK 5 5

JUMLAH 10 9 15 14 7 5 4 20 5 16 9 4 18 5 12 289 10 22 56 15 103 11 13 10 21 20 15 10 22 27 12 10 19

10 4 4

10 6 4 4 14 12 100 10

35

34

Prop. DI Yogyakarta Kab. Bantul Kab. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Kab. Sleman Prop. Jawa Timur Kab. Bangkalan Kab. Blitar Kab. Bojonegoro Kab. Bondowoso Kab. Gresik Kab. Jombang Kab. Kediri Kab. Lamongan Kab. Lumajang Kab. Madiun Kab. Magetan Kab. Malang

22 17 15 54 11 13

17 17

10 10

12 22

10 21 10 15 10 22 17 12 9 10 10 10

10

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

26

NO. 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 V 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 VI 1 2 3 4 5 6 7 8 9

PROP/KABUPATEN Kab. Mojokerto Kab. Nganjuk Kab. Pacitan Kab. Ponorogo Kab. Sampang Kab. Sidoarjo Kab. Situbondo Kab. Sumenep Kab. Tuban Kab. Tulungagung Prop. NAD Kab. Aceh Barat Kab. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Besar Kab. Aceh Tamiang Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Utara Kab. Bener Meriah Kab. Bireun Kab. Nagan Raya Kab. Pidie Kab. Simeuleu Kota Lhokseumawe Kota Subulussalam Prop. Sumatera Utara Kab. Asahan Kab. Dairi Kab. Tanah Karo Kab. Labuhan Batu Kab. Labuhan Batu Selatan Kab. Mandailing Natal Kab. Tapanuli Selatan Kab. Tapanuli Tengah Kab. Tapanuli Utara

TP

MENDUKUNG H BUN 20 15

NAK

JUMLAH 20 15 17 9 20 11 10 12 12 10 326 12 17 20 20 10 10 10 10 10 10 22 20 10 181 8 9 14 12 4 10 17 10 9

17 9 10 11 10 12

10

178 12 10 10

51

12 10 87

10

17 10 10 10 10 10 10 10

10 10 10 10 62 12 10 10 89 8 9 14 12 4 10 17 10 9

20

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

27

NO. 10 11 12 13 14 15 16 17 VII 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 VIII 1 2 3 4 5 6 7 8

PROP/KABUPATEN Kab. Toba Samosir Kota Pematang Siantar Kab. Pakpak Barat Kab. Nias Selatan Kab. Humbang Hasundutan Kab. Samosir Kab. Batu Bara Padang Lawas Utara Prop. Sumatera Barat Kab. Lima Puluh Kota Kab. Agam Kab. Padang Pariaman Kab. Pesisir Selatan Kab. Sijunjung Kab. Solok Kab. Tanah Datar Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok Dharmas Raya Solok Selatan Kab. Pasaman Barat Prop. Riau Kab. Bengkalis Kab. Indragiri Hilir Kab. Indragiri Hulu Kab. Kampar Kab. Kuantan Singingi Kab. Pelalawan Kab. Rokan Hulu Kab. Siak

TP 10 10 11 11 15 10 12 9 130

MENDUKUNG H BUN

NAK 5

JUMLAH 15 10 11 11 25 10 25 9 209 12 17 22 13

10 13 0 12 17 10 33 46

12 10 17 10 14 12 11 14 15

12 1 2 2

11 12 10 120 14 40

56

2 2 2 1 2 2 3 2 2

10 21 10 14 12 11 14 15 11 12 24 218 2 13 1 2 2 3 14 14

11

2 12

10

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

28

NO. 9 10 11 IX 1 2 3 4 5 6 7 8 X 1 2 3 4 5 6 7 XI 1 2 3 4 5 6 7 8 9

PROP/KABUPATEN Kota Pekanbaru Kab. Buatan Kab. Meranti

TP

MENDUKUNG H BUN

25 Prop. Jambi Kab. Batanghari Kab. Bungo Kab. Kerinci Kab. Merangin Kab. Sarolangun Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Tanjung Jabung Timur Kab. Tebo Prop. Sumatera Selatan Kab. Lahat Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kota Palembang Kota Pagar Alam Kota Lubuk Linggau Kab. Oku Selatan Prop. Lampung Kab. Lampung Barat Kab. Lampung Selatan Kab. Lampung Utara Kab. Lampung Tengah Kab. Lampung Utara Kab. Tulang Bawang Kab. Pringsewu Kab. Pesawaran Kota Bandar Lampung 2 2

10

NAK 2 2 2 22

JUMLAH 2 2 2 57 2 12 19 21 18 12 21 21 126 9 21 8 7 9 12 20 86 13 10 13 14 0 10 10 22 12 104

9 12 11 12 48

10 10 12 9 10 0 51

9 9

9 27 9 11

10 8 7

9 12 11 30 9 38 13 10 13 14 10 10 22 12 77

10

14

13

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

29

NO. XII 1 2 3 4 5 6 7 8 9 XIII 1 2 3 4 5 6 XIV 1 XV 1 2 3 4 5 XVI 1 2 3 4 5

PROP/KABUPATEN Prop. Kalimantan Barat Kab. Pontianak Kab. Sambas Kab. Sanggau Kab. Sintang Kota Pontianak Kab. Singkawang Kab. Sekadau Kab. Kubu Raya Kab. Kayong Utara Prop. Kalimantan Selatan Kab. Hulu Sungai Selatan Kab. Kotabaru Kab. Tabalong Kab. Tanah Laut Kab. Tapin Kab. Tanah Bumbu Prop. Kalimantan Tengah Kab. Sukamara Prop. Kalimantan Timur Kab. Berau Kab.Bulungan Kab. Kutai Kertanegara Kab. Nunukan Kota Samarinda Prop. Sulawesi Utara Kab. Bolaang Mongondow Kab. Minahasa Kab. Minahasa Utara Kab. Minahasa Selatan Kab. Minahasa Tenggara

TP 14 12

MENDUKUNG H BUN

NAK

JUMLAH 14 12 16 13 12 13 11 35 14 140 27 12 17 35 13 35 139 34 34 2 10 15 12 5 44 26 3 22 13 25

11 13 12 13 11 10 85 15 12 13 3 15 58 17 17

11 22

1 2 3 12 17 10

13 12 30

5 5 17 17 2

4 43

12 10 11 33

10 1 5 16

14 12 2 14 11 26 12 3 11 4 0

9 12

13

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

30

NO. 6 7 8 XVII 1 2 3 4 5 6 7 8 XVIII 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

PROP/KABUPATEN Kab. Sangihe Kota Tomohon Kota Bitung Prop. Sulawesi Tengah Kab. Banggai Kab. Buol Kab. Toli-Toli Kab. Donggala Kota Palu Kab. Parigi Moutong Kab. Tojo Una-Una Kab. Sigi Prop. Sulawesi Selatan Kab. Bantaeng Kab. Barru Kab. Bone Kab. Bulukumba Kab. Enrekang Kab. Gowa Kab. Jeneponto Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Maros Kab. Pangkep Kab. Pinrang Kab. Selayar Kab. Sidenreng Rappang Kab. Sinjai Kab. Soppeng Kab. Takalar Kab. Tana Toraja Kab. Wajo Kota Palopo Kab. Luwu Timur

TP 12 11 44

MENDUKUNG H BUN

NAK

JUMLAH 12 11 12 124 26 22 25 34 28 29 40 13 217 17 25 24 23 28 23 12 34 11 26 25 25 28 27 29 12 29 49 14 54 12

38 11

12 42 15 22 13 19 5 17 19 110 5

12 12 11 12 13 13 37 12 11 11 12 12 12 12 12 11 16 14 11 11 12 12 12 12 13 14 19 12 47

3 12 8 23

14 13 11 5 11 17 5 10 11 14 17 15 17 17 19 11 11

11

17 13

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

31

NO. 22 XIX 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 XX 1 2 3 4 5 XXI 1 2 3 4 5 6 7 8

PROP/KABUPATEN Kab. Toraja Utara

TP 263

MENDUKUNG H BUN 17 12 73 124 19 17 13 15

NAK 15 111 2 10 10 12

JUMLAH 44 571 21 17 57 57 33 32 33 10 23 44 56 20 403 12 23 30 14 23 102 42 19 36 22 32 27 33 17 228

Prop. Sulawesi Tenggara Kab. Buton Kab. Buton Utara Kab. Konawe Kab. Kolaka Kab. Muna Kota Bau-Bau Kab. Konawe Selatan Kab. Konawe Utara Kab. Bombana Kab. Wakatobi Kab. Kolaka Utara Kota Kendari Prop. Maluku Kab. Buru Selatan Kab. Seram Bagian Barat Kab. Seram Bagian Timur Kab. Maluku Tengah Kab. Maluku Barat Daya Prop. Bali Kab. Badung Kab. Bangli Kab. Buleleng Kab. Jembrana Kab. Karangasem Kab. Klungkung Kab. Tabanan Kota Denpasar

17 22 11 32 10 12 10 24 138 12 12 11 12 47

17 10 10 11 11 11 11 10 91

12 10 11 11 10 118 12 10 56

9 11 20 13 3

11 10 14 35 22 16 27 22 22 27 28 17 181

0 7 9

10 5 15 16 16

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

32

NO. XXII 1 2 3 4 5 6 7 8 9 XXIII 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 XXIV 1 2 3 4 5 6

PROP/KABUPATEN Prop. NTB Kab. Bima Kab. Dompu Kab. Lombok Barat Kab. Lombok Tengah Kab. Lombok Timur Kab. Sumbawa Kota Mataram Kota Bima Kab. Sumbawa Barat Prop. NTT Kota Kupang Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Timor Tengah Utara Kab. Belu Kab. Alor Kab. Lembata Kab. Manggarai Kab. Sumba Barat Kab. Rotendau Kab. Ende Kab. Nagekeo Kab. Ngada Kab. Sikka Kab. Flores Timur Kab. Sumba Barat Daya Kab. Sumba Tengah Prop. Papua Kab. Biak Numfor Kab. Jayapura Kab. Merauke Kab. Mimika Kab. Keerom Kab. Tolikara

TP

MENDUKUNG H BUN

NAK 4 34

JUMLAH 4 51 7 5 6 36 27 30 28 194 10 19 32 45 21 11 12 25 19 31 29 29 15 27 22 11 358 13 13 12 12 11 12

17 7 5 6 10

15 27 17 16 77

11 13 12 74

15 10

28

8 32 10 11 12 13 10 14 18 17 15 27 8 11 195

11 32 13 11

12 9 17 11 12

14 33 130 0 13 13 12 12 11 12

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

33

NO. XXV 1 2 3 4 5 6 7 XXVI 1 XXVII 1 2 3 XXVIII 1 2 XXIX 1 2 3 4 5 XXX 1 2

PROP/KABUPATEN Prop. Bengkulu Kab. Bengkulu Selatan Kab. Bengkulu Utara Kab. Kaur Kab. Seluma Kab. Lebong Kab. Kepahiang Kab. Bengkulu Tengah Prop. Maluku Utara Kab. Halmahera Tengah

TP 0

MENDUKUNG H BUN 0 23 5 9

NAK 50

JUMLAH 73 5 27 8 15 23 12 14 104 12 12 10 23 17 50 10 12 22 13 10 3 6 3 35 20 10 30

12

6 15 2 10 33

8 12 12 4 24 9

26

21 12 12

0 Prop. Banten Kab. Lebak Kab. Pandeglang Kab. Serang Prop. Bangka Belitung Kab. Belitung Kab. Bangka Selatan Prop. Gorontalo Kab. Boalemo Kab. Gorontalo Kab. Pohuwato Kab. Bone Bolango Kab. Gorontalo Utara 0 Prop. Kepulauan Riau Kab. Bintan Kota Batam 9 9 10 13 23 10 10

10 17 27

0 10 10

12 12

0 3 3 3 9

20 11 10 21

3 3 6

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

34

NO. XXXI 1 2 3 4 5 6 7 XXXII 1 2

PROP/KABUPATEN Prop. Papua Barat Kab. Sorong Kab. Manokwari Kab. Fak-Fak Kota Sorong Teluk Wondana Kab. Sorong Selatan Kab. Raja Ampat Prop. Sulawesi Barat Kab. Mamuju Kab. Polewali Mandar Jumlah Total

TP 10 12 12

MENDUKUNG H BUN 11 11 12 12

NAK

JUMLAH 32 24 36 12 15 24 12 155 10 15 25 4996

12 12

15 11 45 10 15 25 2024 26 13 12 60

24

0 707

0 1155

0 1110

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

35

Lampiran 8 LUBANG RESAPAN BIOPORI A. Definisi Lubang Resapan Biopori Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 30 meter dan kedalaman sekitar 100 cm atau dalam kasus tanah dengan permukaan air tanah dangkal, tidak sampai melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi dengan sampah organik Sampah berfungsi menghidupkan mikroorganisme tanah, seperti cacing tanah. Cacing ini nantinya bertugas membentuk pori-pori atau terowongan dalam tanah (biopori). B. Fungsi Biopori 1. Mengatasi banjir karena meningkatkan daya resapan air. Air hujan tidak harus dari talang atau saluran air yang masih bersih, akan tetapi air yang bercampur tanahpun dapat di masukkan. 2. Mengatasi sampah karena dapat mengubah sampah organik menjadi kompos. Sampah rumah tangga (organik) dapat dimasukkan ke dalam lubang ini, sehingga mengurangi penumpukan sampah rumah tangga.

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

36

3. Mengurangi emisi dari kegiatan mengkompos sampah organik. Sampah organik yang telah dimasukkan ke dalam lubang resapan ini, dapat diambil setelah 1 - 2 bulan, dapat dijadikan pupuk hijau (kompos). Kemudian kompos yang telah diambil, lubang dapat digunakan lagi untuk membuang sampah organik. 4. Menyuburkan tanah . Sampah dedaunan, dari pada dibakar, akan lebih bagus dimasukkan dalam lubang ini, sehingga sampah daun akan busuk dan dapat menyuburkan tanah. Lubang akan lebih baik lagi bila dibuat di sekitar pohon buah, pohon peneduh, akan membantu menyuburkan tanaman. 5. Mengatasi masalah timbulnya genangan air penyebab demam berdarah dan malaria. Biasanya di tanah lapang, seperti halaman rumah, lapangan bola atau fasilitas olehraga yang masih belum di semen, ada bebarapa tempat yang air sulit meresap. Biopori dapat dibuat di tempat tersebut dan membantu meresapkan air ke dalam tanah. 6. Terhindar berbagai jenis penyakit. Tumpukan sampah yang dibuang terbuka dan telah membusuk, akan mengundang berbagai penyakit dan penyebarnya seperti lalat. Bila sampah rumah tangga seperti sisa makan, sayuran atau dedaunan lain dimasukkan ke dalam lubang yang tertutup, akan mengurangi atau mencegah penyakit.

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

37

C. Cara Membuat Biopori 1. Gali lubang bentuk silinder (misalnya dengan bor tanah/linggis/bambu), diameter 10 - 30 cm, kedalaman 80 100 cm (boleh kurang jika muka air tanah dangkal) 2. Jarak antara lubang yang satu dengan yang lain 50 - 100 cm 3. Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2 3 cm dengan tebal 2 cm di sekitar mulut lubang. 4. Isi lubang dengan sampah organik (sampah dapur, daun, rumput). Tambah terus sampah organik jika isi lubang berkurang akibat pembusukan 5. Tutup dengan "loster" atau tutup saluran WC agar tidak membahayakan anak-anak

Gambar 1. Penampang lubang resapan biopori

Gambar 2. Pembuatan lubang resapan biofori

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Sumur Resapan TA. 2010

38