Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI UJI KETOKSIKAN SUBKRONIS

Di susun oleh : Natalia Noveli Hardita (088114130) Octo Rahadian Pius (088114149) Yohana Tika Ameliawati (088114159) Lilia C. Y. Rogan (088114167) Meiske Munda (088114177) Agnes Afriana Fajarwati (088114194)

LABORATORIUM TOKSIKOLOGI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2010

UJI KETOKSIKAN SUBKRONIS


I. Latar Belakang Setiap obat baik obat sintesis maupun obat tradisional yang diproduksi oleh pabrik industri harus diuji terlebih dahulu. Salah satu parameter yang digunakan adalah uji ketoksikan. Uji ketoksikan dibagi menjadi dua bagian yaitu uji ketoksikan khas dan uji ketoksikan tak khas. Pengujian ketoksikan dari suatu produk sediaan farmasi atau obat tradisional merupakan salah satu pengujian yang penting atau wajib dilakukan oleh pabrik atau produsen produk tersebut, hal ini dikarenakan uji ketoksikan menunjukkan tingkat keamanan pengunaan dari produk yang bersangkutan, karena hal ini berkaitan langsung dengan keamanan terutama untuk pengguna produk tersebut. Penelitian mengenai obat tradisional tanaman obat, terus berlangsung bahkan meningkat jumlahnya akhir-akhir ini. Meskipun demikian, dalam kenyataannya hingga saat ini baru beberapa penelitian obat tradisional ataupun tanaman obat yang digunakan dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Obat yang digunakan pada fasilitas pelayanan kesehatan harus memenuhi persyaratan aman, bermanfaat dan sudah terstandarisasi. Bukti yang diperlukan harus didasarkan pada data yang sahih. II. Permasalahan 1. Seberapa besar spektrum efek toksik sediaan uji terhadap organ (hepar, ginjal, lien, lambung, usus, jantung, paru-paru, organ kelamin) yang dinilai dari histopatologi masing-masing organ tersebut? 2. Bagaimana hubungan kekerabatan antara dosis senyawa uji dengan efek toksisitas subkronis pada organ (hepar, ginjal, lien, lambung, usus, jantung, paru-paru, organ kelamin) hewan uji? 3. Bagaimana keterbalikan (reversibilitas) spektrum efek toksik yang terjadi?

III. Manfaat 1. Manfaat teoritis Percobaan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu kefarmasian, ilmu kedokteran dan pengetahuan tentang uji ketoksikan subkronis 2. Manfaat praktis Percobaan ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang wujud efek toksik subkronis pada organ (hepar, ginjal, lien, lambung, usus, jantung, paru-paru, organ kelamin) akibat pemberian senyawa uji IV. Tujuan 1. Tujuan umum Mengetahui wujud efek toksik sub kronis pada organ (hepar, ginjal,lien, lambung, usus, jantung, paru-paru, organ kelamin) akibat pemberian senyawa uji 2. Tujuan khusus Mengetahui spektrum efek toksik sediaan uji pada organ (hepar, ginjal, lien, lambung, usus, jantung, paru-paru, organ kelamin) dinilai dari histopatologi organ tersebut Mengetahui kekerabatan antara dosis dengan spektrum efek toksik Mengevaluasi keterbalikan (reversibilitas) spektrum efek toksik yang terjadi. V. Penelaahan Pustaka Toksikologi mempelajari sifat-sifat racun zat kimia terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Sedikitnya 50.000 zat kimia kini digunakan oleh manusia dank arena tidak dapat dihindarkan, maka kita harus sadar tentang bahayanya (Darmansjah, 1999). Toksikologi berkenaan dengan sifat dan mekanisme luka toksik dan evaluasi kualitatif maupun kuantitatif spektrum perubahan biologis, yang ditimbulkan oleh pemejanan yang disengaja atau tak disengaja dari zat toksik racun (Donatus, 2001). Uji ketoksikan subkronis termasuk golongan uji ketoksikan tak khas yaitu uji toksikologi yang dirancang untuk mengevaluasi keseluruhan atau spektrum efek toksik suatu senyawa pada aneka ragam jenis hewan uji (Loomis, 1978 cit Donatus 2001).

Uji toksisitas subkronis adalah uji ketoksikan suatu senyawa yang diberikan dengan dosis berulang pada hewan uji tertentu, selama kurang dari tiga bulan. Uji ini ditujukan untuk mengungkapkan spectrum efek toksik senyawa uji serta untuk memperlihatkan apakah spectrum efek toksik itu berkaitan dengan takaran dosis (Donatus, 2001). Meskipun demikian, beberapa peneliti mengggunakan jangka waktu yang lebih pendek, misalnya pemberian zat selama 14 dan 28 hari (Lu, 1995). Dalam melakukan uji ini segala perubahan berupa akumulasi, toleransi, metabolisme dan kelainan khusus di oorgan atau system organ tertentu harus diperhatikan. Pada waktu tertentu sebagian hewan uji perlu dibunuh untuk mengevaluasi pengaruh bertahap obat terhadap organ. Sebagian lain digunakan untuk eksperimen pemulihan guna mempelajari reversibilitas dari kelainan yang terjadi. Pemerikasaan kimia darah, urin, dan tinja perlu diusahakan agar dapat diikuti kelainan yang timbul (Darmansjah, 1999). Pengamatan dan pemeriksaan yang dilakukan dari uji ketoksikan subkronis meliputi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Perubahan berat badan yang diperiksa paling tidak tujuh hari sekali Masukan makanan untuk masing-masing hewan atau kelompok hewan yang diukur paling tidak tujuh hari sekali Gejala kronis umum yang diamati setiap hari Pemeriksaan hematologi paling tidak diperiksa dua kali pada awal dan akhir uji coba Pemeriksaan kimia darah paling tidak dua kali pada awal dan akhir uji coba Analisis urin paling tidak sekali Pemeriksaan histopatologi organ pada akhir uji coba (Loomis, 1978). Hasil uji ketoksikan subkronis akan memberikan informasi tentang efek utama senyawa uji dan organ sasaran yang dipengaruhinya serta perkembangan efek toksik yang lambat berkaitan dengan takaran yang tidak teramati pada uji ketoksikan akut (Donatus, 2001). Tujuan utama dari uji ini adalah untuk mengungkapkan dosis tertinggi yang diberikan tanpa memberikan efek merugikan serta untuk mengetahui pengaruh senyawa kimia terhadap badan dalam pemberian berulang (Eatau dan Klaassen, 2001).

Tata cara pelaksanaannya adalah: 1. Pemilihan hewan uji, dapat digunakan roden (tikus) dan nirroden (anjing), sebaiknya dipilih hewan uji yang peka dan memiliki pola metabolisme terhadap senyawa uji yang semirip mungkin dengan manusia. Disarankan paling tidak satu jenis hewan uji dewasa, sehat, baik jantan maupun betina. Jumlah yang digunakan paling tidak 10 ekor untuk masing-masing jenis kelamin dalam setiap kelompok takaran dosis yang diberikan. 2. Pengelompokan, minimal ada empat kelompok uji yaitu 3 kelompok dosis dan 1 kelompok kontrol negatif. Hal ini disebabkan karena untuk regresi minimal digunakan 3 data sehingga dapat dianalisis hubungan dosis dengan efek. 3. Takaran dosis, bergerak dari dosis yang sama sekali tida menimbulkan efek toksis sampai dengan dosis yang betul-betul menimbulkan efek toksik yang nyata. Minimal digunakan 3 peringkat dosis degan syarat dosis yang tetinggi sebisa mungkin tidak mematikan hewan uji tetapi memberi wujud efek toksik yang jelas (nyata). Sedangkan dosis terendah yang digunakan setingkat dengan ED50-nya. 4. Pengamatan, berupa wujud efek toksik atau spektrumnya, semua jenis perubahan harus diamati (Loomis 1978 cit Donatus, 2001). Spektrum efek toksik dapat dibagi dua yaitu efek lokal dan efek sistemik. Efek lokal dapat diakibatkan oelh senyawa kaustik, misalnya pada saluran percernaan, bahan korosif pada kulit dan iritasi gas atau uap pada saluran nafas. Efek lokal seperti ini menggambarkan perusakan umum pada sel-sel hidup. Efek sistemik terjadi hanya setelah toksikan diserap dan tersebar ke bagian lain tubuh. Umumnya toksikan hanya memepengaruhi satu atau beberapa organ saja. Organ seperti itu dinamakan organ sasaran. Kadar toksikan dalam organ sasaran tidak selalu yang paling tinggi. Sebagi contoh, organ sasaran metil merkuri adalah system saraf pusat, tetapi kadarnya di hati dan ginjal jauh lebih tinggi (Lu, 1995). Penilaian toksisitas tidak langsung menilai keamanan tetapi hanya satu-satunya variable yang dipertimbangkan dalam memperkirakan bagaimana keamanan suatu zat nantinya selama penggunaannya mudah dilaksanakan. Toksisitas suatu zat pada hakekatnya tidak dapat diubah Karena ini adalah sifat dasar zat tersebut. Hal ini memungkinkan untuk mengurangi keamanan zat toksik dengan cara mengurangi resiko praktis kedapatan (Stine dan Brown, 1996).

VII. Metodologi Penelitian 1. 2. Jenis penelitian : eksperimental murni Variabel : dosis senyawa uji : kerusakan struktur anatomi organ hewan uji yang

a. Variabel bebas b. Variabel terikat c. Variabel pengganggu

dilihat dari gambaran histopatologinya. Variabel yang bisa dikendalikan: - Jenis alat injeksi yang digunakan - Bobot badan tikus yang digunakan - Umur Variabel yang tidak bisa dikendalikan: - jumlah makanan yang dikonsumsi oleh tikus. - Kondisi patologis tikus 3. Alat dan Bahan: Alat: Spuit injeksi dan jarum oral Timbangan analitik Seperangkat alat gelas (gelas beker, gelas ukur, pipet, labu takar) Seperangkat alat bedah (gunting, pinset) Stopwatch mikroskop Mencit putih galur swiss masing-masing kelompok 5 ekor, umur 2Aquadest Formalin p.a. 10% Senyawa uji Eosin alkohol Xilol paraffin

Bahan 2,5 bulan, berat badan 200-300 gram

Paraffin cair

VIII. Tatacara penelitian (Di modifikasi dari Sinarmata, 2004) 1. Penyiapan hewan uji Hewan uji yang digunakan 25 ekor, ditempatkan dalam kandang khusus (satu kandang berisi satu mencit), sedangkan sisanya ditempatkan dalam kandang biasa (satu kandang berisi tiga mencit). Satu kelompok mendapatkan 5 ekor mencit, dan 5 ekor mencit sisanya sebagai cadangan 2. Pengumpulan bahan Senyawa uji didapat dari laboratorium Toksikologi-Farmakologi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. 3. Prosedur pelaksanaan Dua puluh lima ekor mencit dibagi secara acak dalam 5 kelompok dosis. Kelompok I yaitu kelompok kontrol negatif diberi aquadest sebanyak 0,5 mL, kelompok II-IV diberi senyawa uji .. secara per oral dengan peringkat dosis berturut-turut. Pada hari ke-15, 5 mencit dari masing-masing kelompok diambil secara acak, kemudian hewan uji dikorbankan untuk diambil organnya Amati penampakkan makroskopisnya dan ditimbang beratnya, lalu dimasukkan ke dalam larutan formalin 10% untuk dibuat preparat hispatologi menurut tatacara pengecatan hematoksilin eosin. Sementara anggota kelompok yang masih hidup tetap dipelihara tanpa perlakuan apapun.

Pada hari ke-15, semua hewan uji dikorbankan, diambil heparnya, diamati penampakan makroskopis yang terjadi, ditimbang beratnya dan dibuat preparat hispatologi. 4. Pengamatan Pengamatan gejala-gejala fisik dilakukan setiap hari, asupan makanan dan jumlah urin dihitung dan diukur seminggu sekali. 5. Pembuatan preparat hispatologi Organ mencit dipotong-potong dengan mikrotom setebal 3 mm, kemudian difiksasi. Preparat dimasukan kedalam larutan etanol secara bertingkat berturut-turut etanol 50% selama 30 menit, etanol 90% selama 30 menit, etanol mutlak selama 30 menit, masing-masing 2x perlakuan. Preparat kemudian dimasukan ke dalam xilol paraffin, masukan kedalam oven selama 1,5 jam dalam suhu 60C. Pindahkan preparat ke dalam paraffin cair selama 1,5 jam dalam blok preparat. Setelah dicetak, preparat dipotong setebal 5 mikron, masukkan ke dalam xilol murni selama 5-10 menit. Cuci preparat dengan air, kemudian dimasukkan ke dalam larutan eosin alcohol selama 1-2 menit. Selanjutnya, preparat dikeringkan pada suhu kamar dan ditutup dengan kanada balsam serta objek gelas. 6. Pemerikasaan hispatologi sel hati Pemeriksaan sel hati mencit hasil pengecatan hematosilin eosin dilakukan dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x dan 400x.

Hasil pemerikasaan dibuat fotomikroskopi sebagai data kualitatif, kemudian hasilnya diberi score menurut tingkat kerusakannya. 7. Analisis hasil Pemeriksaan preparat histopatologi dilakukan secara kualitatif desktriptif dengan membandingkan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan untuk mengetahui spektrum efek toksik sediaan uji terhadap organ hewan uji yang terkena, dan juga untuk mengetahui hubungan kekerabatan antara dosis dan spektrum efek toksik. Data diberi scoring lalu dianalisis statistik secara Kruskal-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%. Perbedaan masing-masing kelompok perlakuan dinyatakan bermakna apabila nilai p<0,05, kemudian apabila berbeda bermakna dilanjutkan dengan uji mannWhitney untuk mengetahui perbedaan pada masing-masing kelompok. Data berat organ relatif mencit dianalisis secara statistik secara Kruskal-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%. Perbedaan masing-masing kelompok perlakuan perlakuan dinyatakan bermakna apabila nilai p<0,05, kemudian apabila berbeda bermakna dilanjutkan dengan uji t-test. Data uji reversibilitas dianalisis secara secara kualitatif berdasarkan perubahan morfologi yang terjadi pada kelompok kencit yang diberhentikan dari pemberian senyawa uji dibandingkan kelompok tanpa berhenti Data berat badan mencit setiap minggu digitung purata kenaikan beratnya dan dianalisis secara statistic sengan analisis General Linear Model (Rancangan SplitPlot) dengan taraf kepercayaan 95%.

Data asupan pakan dihitung purata harian tiap kelompok perlakuan tanpa dianalisis statistik karena hanya igin melihat pola makan mencit

DAFTAR PUSTAKA

Darmansjah, I., 1999, Dasar Toksikologi, dalam Ganiswarna, S.G., (Ed. ), Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, 762-767, Universitas Indonesia, Jakarta Donatus, I.A., 2001, Toksikologi Dasar, Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi, UGM, Yogyakarta Eatau, D.L., and Klaassen, C.D., 2001, Principle of Toxicology, In Klaassen C.D. (Ed), Casarett and Doulls Toxicology : The Basic Science of Poison, 6th Ed., Mc. Graw Hill, New Yorks Loomis, T.A., 1978, Toksikologi Dasar, diterjemahkan oleh Imono Argo Donatus, Edisi III, IKIP Semarang Press, Semarang Lu, F. C., 1995, Basic Toxicology : Fundamental Target Organs, dan Risk Assesment, diterjemahkan oleh Nugroho, E., Toksikologi Dasar : Asas, Organ Sasaran, dan penilaian Resiko, Edisi II, halaman 85-86, UI Press, Jakarta Sinarmata I. K., Toksisitas Subkronis Perasan Daging Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) pada Hepar Tikus Putih Jantan dan betina, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Stine, K. E., and Brown, T. M., 1996, Principles of Toxicology, page 8-10, CRC Press, Inc., New York