Anda di halaman 1dari 25

1

PENATALAKSANAAN BENDA ASING ESOFAGUS PADA 5 PASIEN

Meilina Wardhani, Yoan L. Magdi, Abla G. Irwan Bagian IKTHT-KL FK Unsri/Departemen KTHT-KL RSMH Palembang

Abstrak Benda asing tertelan adalah kasus yang cukup sering terjadi. Benda asing dapat berupa uang logam, benda asing tajam, gigi palsu, makanan dan sebagainya. Benda asing dapat ditemukan di beberapa penyempitan di esofagus. Sebagian kasus asimtomatik (20%), sedangkan sisanya terdapat gejala esofagus maupun saluran pernapasan. Angka kejadian benda asing esofagus pada anak sangat tinggi. Di Amerika Serikat tercatat ribuan kejadian benda asing esofagus pada anak dan 1500 orang di antaranya meninggal pertahun akibat tertelan benda asing di saluran gastrointestinal bagian atas. Di Departemen THTKL RSMH Palembang, angka kejadian benda asing tertelan pada tahun 2009 dan 2010 masingmasing mencapai 26 dan 21 kasus. Berbagai prosedur dapat digunakan untuk penatalaksanaan benda asing tertelan. Pilihan prosedur didasarkan atas jenis dan lokasi benda asing, yaitu observasi, esofagoskopi kaku, esofagoskopi fleksibel, kateter Folley, businasi dan pelemas otot. Dilaporkan 5 kasus benda asing tertelan yang ditatalaksana dengan berbagai prosedur. Kasus pertama dan kedua ditatalaksana dengan esofagoskopi kaku, kasus ketiga dengan observasi dan kasus keempat dengan mendorong benda asing kedalam lambung dan kasus terakhir dengan menggunakan forsep Magill. Semua kasus tanpa komplikasi. Kata Kunci : benda asing esofagus, tertelan, penatalaksanaan. Abstract Swallowed foreign bodies is a common clinical problem. Foreign body can be a coin, a sharp foreign body, dentures, food and so forth. Foreign bodies can be found in some narrowing in the esophagus. Some case are asymptomatic while others get symptoms of the esophagus and respiratory tract. The incidence of esophageal foreign bodies in children is very high. In the United States thousands of children have esophageal foreign bodies and 1500 people die yearly of ingested foreign body of upper gastrointestinal. The incidence of swallowed foreign body in ENT departemen RSMH Palembang reached 26 cases in 2009 and 21 cases in 2010. Various procedures can be used for. Options based on type and location of foreign objects is observation, rigid esophagoscopy, flexible esophagoscopy, Folley catheter and muscle relaxant. It was reported 5 cases of swallowed foreign bodies are treated with various procedures. The first and second cases treated with esofagoskopi rigid, third case with observations, fourth case by encouraging foreign objects into the stomach and the last case treated with Magill forcep. All cases without complications. Keywords: esophageal foreign body, swallowed, treatment.

PENDAHULUAN Benda asing esofagus adalah benda yang tajam maupun tumpul atau makanan yang tersangkut dan terjepit di esofagus karena tertelan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Angka kejadian tertelan benda asing mengakibatkan 1500 kematian di Amerika Serikat. Sebanyak 80-90 % benda asing esofagus akan melewati saluran pencernaan selama 7-10 hari tanpa komplikasi, sedangkan 10-20% sisanya membutuhkan tindakan endoskopi dan 1% membutuhkan pembedahan. Sebanyak 75% benda asing saluran cerna berada di esofagus saat terdiagnosis. 1,2,3 Benda asing esofagus yang terbanyak pada orang dewasa normal adalah makanan, terutama potongan daging di proksimal stenosis esofagus. Benda asing bukan makanan sering ditemukan pada anak-anak. Tertelan dan tersedak benda asing sering terjadi pada anak-anak terutama di usia 6 tahun pertama dan paling banyak terjadi di usia 1 sampai 3 tahun. Koin merupakan kasus benda asing yang paling banyak ditemukan pada anak. Setiap benda yang kecil berpotensi menjadi benda asing esofagus. Benda tersebut contohnya peniti, batere jam, uang logam, tulang ikan dan ayam, arloji, plastik bungkus makanan, tablet obat yang masih terbungkus blister, gigi palsu, tusuk gigi, sikat gigi, penjepit kertas, kacang almon dan masih banyak yang lain. 2,3,4 Benda asing tajam dan runcing pada esofagus dapat mengakibatkan komplikasi fatal. Benda asing tajam dapat mengakibatkan erosi, perforasi dinding esofagus atau dapat tertancap di dalam dinding esofagus. Benda asing tajam yang sering ditemukan di esofagus adalah peniti, paku payung, tulang, patahan mainan plastik, kawat, gigi palsu, pecahan kaca dan tusuk gigi. Perforasi benda asing di esofagus servikal sering mengakibatkan abses para atau retro esofagus dengan atau tanpa descending mediastinitis. Berbagai literatur melaporkan beberapa kasus benda asing saluran aerodigestif yang mengakibatkan perforasi dan migrasi ekstralumen dan bila tidak segera ditatalaksana akan menimbulkan komplikasi vaskuler dan supuratif yang mengancam nyawa. Ramsen dkk. melaporkan 43 kasus migrasi benda asing ekstralumen dari 321 kasus.3,5 Chee dan Sethi melaporkan 24 kasus migrasi benda asing esofagus pada leher. Semua benda asing tersebut adalah benda tajam. Loh dan Gan juga pernah melaporkan 4 kasus benda asing tulang ikan yg menimbulkan perforasi esofagus servikal dan ditemukan pada regio subkutan leher atau bermigrasi pada kelenjar tiroid di mana 3 kasus berhasil dengan eksplorasi dan 1 kasus

lagi dengan lobektomi.3,4,5 Dilaporkan juga kasus benda asing esofagus yg mengakibatkan fistula trakeoesofageal dan fistula esofago-aortik.4 Pernah juga dilaporkan benda asing peniti di esofagus yang berpenetrasi ke perikardium dan masuk ke atrium kiri.5,6 Benda asing tajam dapat dikeluarkan dengan aman menggunakan esofagoskopi kaku untuk menghindari bedah terbuka. Pendekatan bedah dibutuhkan pada kasus-kasus perforasi atau terbentuknya abses. Baterai jam dapat menimbulkan komplikasi kerusakan esofagus bila telah berada di esofagus dalam waktu lama. Baterai mengandung solusi potassium dan sodium hidroksida dan komponen yang mengandung merkuri, zinc, lithium dan cadmium yang berpotensi toksik. Kerusakan mukosa esofagus dapat terjadi satu jam setelah kejadian. Semakin lama durasi kontak dengan mukosa maka derajat kerusakan akan semakin dalam. Dalam satu penelitian terhadap 1.718 kasus didapatkan bahwa baterai litium yang memiliki ukuran dan voltase besar (3 volt) mengakibatkan kerusakan yang lebih parah.4 Sumbatan bolus makanan adalah kasus benda asing esofagus yang paling banyak terjadi.5 Sebagian besar kasus adalah akibat penyakit yang mendasari.4 Makanan yang paling sering menjadi penyebab adalah potongan daging. Hence sering menyebut ini sebagai meat impaction atau steakhouse syndrome. Seringkali didapatkan distal esophageal ring atau striktur yang menghalangi pasase bolus ke lambung. Gejala timbul beberapa jam setelah makan pada suatu perayaan. Bolus makanan yang tertahan lebih dari 12 jam atau yang mengandung tulang beresiko tinggi menimbulkan perforasi saat dievakuasi.6,7,8 Abnormalitas struktur esofagus yang mendasari ditemukan pada lebih dari 80% kasus benda asing esofagus pada dewasa. Terapi pada lesi yang mendasari dapat mencegah rekurensi. Penyebab tersering adalah striktur esofagus yang diinduksi refluk gastroesofagus. Mosca dkk menemukan 30,7% kasus benda asing yang didasari kelainan esofagus pada 82 pasien, dimana striktur ditemukan pada 50 pasien, hernia hiatus 11 pasien, akalasia 11 pasien dan sisanya Schatzki ring, varises, divertikulum dan kanker. Bila bolus makanan tertahan lebih dari 12 jam atau mukosa esofagus menunjukkan tanda-tanda iskemik/inflamasi maka dilatasi esofagus (bila diindikasikan) harus ditunda setidaknya satu sampai dua minggu setelah evakuasi benda asing.5,8 Sebuah penelitian mendapatkan sebanyak 4% anak-anak pernah menelan koin (uang logam), namun lebih dari seperempatnya tidak mengalami gejala apapun dan tidak ditemukan kelainan saat pemeriksaan fisik. besar kasus benda asing uang logam dapat melewati saluran cerna dewasa tanpa penyulit. Semakin lama koin berada di esofagus akan meningkatkan risiko

ulserasi, perforasi dan pelebaran trauma ke arah trakea, mediastinum dan pembuluh darah besar. Edema muncul sejak 48 jam. Uang logam AS (yang biasa disebut penny) memiliki keunikan sendiri dan merupakan benda asing yang beresiko tinggi, bukan karena ukurannya tapi karena komposisi logamnya. Penny yang diterbitkan sebelum tahun 1982 mengandung 95% tembaga dan 5% zinc. Sejak tahun 1982 penny mengandung 97,6 % zinc dan 2,4% tembaga. Bila penny mengalami kontak dengan asam lambung, baik akibat refluk maupun bila penny masuk kedalam lambung maka reaksi kimia antara zinc dan asam lambung beresiko mengakibatkan intoksikasi zinc.4,8,9 Semua benda asing esofagus harus segera dikeluarkan namun benda asing tajam di esofagus merupakan urgensi. Esofagus merupakan organ yg pasif dan tidak dapat beradaptasi serta gerakan peristaltiknya tidak cukup kuat untuk menelan berbagai benda, oleh karena itu perforasi akibat benda asing lebih banyak terjadi di esofagus dibandingkan saluran gastrointestinal lainnya.2,4,5 Penatalaksanaan terkini untuk ekstraksi benda asing esofagus adalah observasi (memungkinkan benda asing turun ke gaster), ekstraksi menggunakan forsep Magill, esofagoskopi rigid, ekstraksi menggunakan kateter folley, businasi, relaksasi lower esophagus sphincter (LES) atau tindakan pembedahan. Tindakan preventif untuk mencegah tertelan benda asing jauh lebih murah dan aman dibandingkan terapi. Benda asing kecil dan uang logam yang bisa tertelan harus dijauhkan dari jangkauan bayi dan anak-anak. Pengawasan yang ketat dibutuhkan pada pasien dengan gangguan mental atau usia tua.2,3,8

KEKERAPAN Tertelannya benda asing dan tersangkutnya benda asing di esofagus sering terjadi. Beberapa kepustakaan menyebutkan di Amerika Serikat angka kematian akibat tertelan benda asing cukup tinggi yaitu mencapai 1500 kematian per tahun dan sebagian besar pada dewasa.3 Sedangkan Eisen melaporkan kematian yang disebabkan tertelannya benda asing ini jarang ditemukan, diantara 852 pasien dewasa tidak didapati adanya kematian dan hanya ada 1 pasien yang meninggal dari 2206 anak yang dilaporkan tertelan benda asing.10Usia rata-rata penderita adalah dibawah 10 tahun. Koin merupakan kasus tertelan benda asing yang paling banyak ditemukan pada anak-anak. Pada dewasa tertelan gigi palsu merupakan kasus terbanyak diikuti dengan daging.
3,10

Benda asing tersering di esofagus adalah uang logam, mainan plastik, uang

logam, batere jam, tulang ikan, peniti, pin, jarum, kawat, kayu, beling, gigi palsu, bolus makanan dan silet.1,7,11,12 Lokasi tersering benda asing esofagus adalah pada 4 area penyempitan normal fisiologis esofagus. Lokasi pertama dan tersering adalah pada proksimal esofagus pada pertemuan leher dan rongga toraks, lokasi kedua dan ketiga adalah pada mid esofagus setinggi bronkus utama kiri dan lengkung aorta dan lokasi ketiga di distal esofagus di proksimal gastroesofageal junction. Apapun yang dapat melalui esofagus pada penyempitan pertama akan dapat melewati anus kecuali benda asing tajam. Secara umum benda asing yang dapat lolos ke gaster dapat mengiritasi menimbulkan komplikasi perforasi dimanapun, tetapi ini tidak membutuhkan terapi sampai terjadi komplikasi. Angka kejadian benda asing esofagus di Departemen THT-KL RSMH selama tahun 2009 adalah 26 kejadian meliputi benda asing tajam 2 kasus (jarum pentul dan paku), uang logam 8 kasus, gigi palsu 8 kasus, makanan(daging) 4 kasus dan mainan (kelereng, mainan plastik, penghapus pensil dan plastic obat) 4 kasus. Tahun 2010 tercatat 21 kasus tertelan benda asing meliputi benda asing tajam (besi pemantik api dan tulang ikan) 3 kasus, makanan (daging, daging ayam, tekwan dan pempek) 6 kasus, gigi palsu 6 kasus uang logam 5 kasus dan mainan plastik (pluit) 1 kasus. Tahun 2011 dari bulan januari sampai april tercatat 3 kasus terdiri dari benda asing tajam (tulang ayam) 1 kasus, mainan plastik 1 kasus dan gigi palsu 1 kasus.

ANATOMI

Esofagus merupakan saluran otot vertikal yang menghubungkan hipofaring sampai ke lambung. Esofagus dimulai dari batas bawah kartilago krikoid (introitus esofagus), atau kira-kira setinggi vertebra servikal 6. Di dalam rongga toraks, esofagus terletak sepanjang mediastinum superior, antara trakea dan kolumna vertebra, terus ke mediastinum posterior dan menembus diafragma setinggi thorakal 10, dan akhirnya berakhir pada orfisium kardia lambung setinggi thorakal 11.13,14 Esofagus memiliki panjang 23 sampai 26 cm pada orang dewasa. Panjang esofagus servikal 5-6 cm yang terbentang mulai dari C6-T1, sedangkan panjang esofagus torakal adalah 16-18 cm, esofagus abdominal pars diafragmatika 1-1,5 cm dan esofagus yang berada pada

rongga abdomen 2-3 cm. Diameter esofagus berbeda-beda pada beberapa tempat penyempitan. Penyempitan pertama terletak pada bagian proksimal disebabkan oleh otot krikofaring (sphincter atas esofagus/upper esophageal sphincter) dan kartilago krikoid memiliki diameter transversal 23 mm dan anteroposterior 17 mm. Pada penyempitan kedua setinggi arkus aorta yang menyilang ke esofagus, diameter transversal esofagus 23 mm dan anteroposteriornya 19 mm. Penyempitan ketiga yaitu pada daerah dinding anterior kiri akibat penekanan bronkus kiri dengan diameter transversal 23 mm dan anteroposterior 17 mm.2 Peyempitan keempat pada waktu esofagus menembus diaphragma (sphincter bawah esofagus /lower esophageal sphincter) yang menurut Jackson memiliki diameter yang lebih besar daripada daerah penyempitan kedua.13,14
Dalam perjalanannya, esofagus terbagi menjadi tiga bagian yaitu servikal, thorakal dan abdominal. Esofagus servikal (C6-T1) terletak pada bagian posterior membran trakea dan melekat erat dengan jaringan ikat dan otot trakea membentuk dinding bersama trakea-esofagus (tracheo-

esophageal party wall). Di bagian anterior esofagus tertutup oleh kelenjar tiroid, pada bagian posterior menempel pada lapisan otot dan fasia yang melapisi collumna vertebrae, pada bagian lateral esofagus servikal terdapat arteri karotis dan diantara trakea dan esofagus kiri dan kanan terdapat nervus rekuren laring.13,14 Esofagus torakal berbatasan dengan fascia prevertebrae pada bagian posterior dan trakea pada bagian anterior pada daerah bifurkasio trakea setinggi thorakal 5. Pada daerah ini bronkus utama kiri akan membentang didepan esofagus. Seterusnya Esofagus akan berdampingan dengan batas kanan aorta pada vertebrae thorakal 8 atau 9, lalu akan menyilang di depan aorta yang kemudian mencapai hiatus esofagus diaphragma pada vertebrae thorakal 10. Pada bagian mediastinum superior sisi kiri esofagus berjalan berdampingan dengan arteri subklavia, duktus thorasikus, dan pleura parietal kiri. Pada sisi kanan esofagus terdapat pleura parietal dan vena azigos. Nervus vagus akan terpisah pada bagian bawah bifurkasio trakea dan membentuk pleksus esofagus yang akan bercabang ke trakeo-bronkial dan esofagus. Nervus vagus bagian posterior esofagus dan bagian anterior esofagus dari pleksus ini akan bersatu dan turun bersama-sama dengan esofagus lalu masuk ke dalam abdomen.

Gambar 1. Ukuran Esofagus

Penyempitan Esofagus Gambar 1. Gambaran efofagus normal *Sumber: http://www.permiangi.com/pictures/EsophagusNormal.gif

Esofagus abdominal memiliki panjang 1,25 cm dan terletak pada pada bagian posterior lobus hati kiri dan pada bagian anterior crus diaphragma. Bagian kiri esofagus abdominal berbatasan dengan medial limpa, dimana bagian ini merupakan satu-satunya bagian dari esofagus yang memiliki tekanan positif yang berperan pada penutupan sfingter yang akan menjaga bagian esofagus abdomen dalam keadaan tertutup kecuali pada saat terjadi pendorongan oleh makanan.

Gambar 2. Esofagus dan letak bagian-bagiannya berdasarkan vertebra


*

Sumber: http://training.seer.cancer.gov/ugi/anatomy/esophagus.html

GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis bervariasi dan asimtomatik pada 20% pasien. Gejala yang sering dikeluhkan adalah disfagia dan odinofagia.8 Dapat juga ditemukan peningkatan produksi saliva (sialorrhea), batuk, air liur bercampur darah, demam, tidak bisa menelan, nyeri dada, sensasi seperti ditekan, merasa seperti ada yang mengganjal, nyeri leher bagian bawah, gangguan perilaku, pneumonia aspirasi berulang, stridor, muntah, sesak napas bahkan respiratory distress.2-8, 10-12 Pada anak sering mengalami gejala pada leher atau dada bagian atas, sementara dewasa dapat mengalami gejala pada berbagai level toraks.2,4 Keluhan juga dapat berupa gejala respirasi seperti batuk, choking dan stridor.8 Gejala yang timbul berdasarkan sifat benda, ukuran dan lamanya benda berada di esofagus. Benda asing yang berukuran besar dapat menimbulkan

gejala hebat dan dapat berakibat kematian.3 Anak-anak sering mengalami gejala pada leher atau dada bagian atas sementara dewasa dapat mengalami gejala pada berbagai level torak. Bisa juga timbul gejala pneumonia aspirasi, asma akut, tidak dapat menelan, sialorea atau tanda-tanda perforasi esofagus pada kasus benda asing yang silent.3 Benda asing asimtomatik dan silent lebih dari 2 tahun pada anak pernah dilaporkan. 11 Sebuah studi retrospektif menemukan bahwa 50% anak-anak dengan benda asing esofagus tidak mengalami gejala apapun.13 Benda asing yang sudah lama berada di esofagus dapat menimbulkan komplikasi seperti ulkus mukosa, obstruksi esofagus, perforasi, stenosis intrinsic dan divertikulum esofagus. Diagnosis dan penatalaksanaan awal yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi dan mortalitas.2 esofagus yang

ETIOLOGI Kebanyakan kasus tertelan benda asing pada anak dengan angka kejadian tertinggi pada usia 6 bulan sampai 6 tahun. Tertelan benda asing sering terjadi pada anak-anak akibat ditelan dengan sengaja akibat rasa ingin tahu mereka yang besar (fase eksplorasi oral). Tertelan benda asing pada anak biasanya akibat anak usia tersebut lebih aktif dan cenderung kurang diawasi. Faktor fisiologik dan sosiologik lain yang juga merupakan faktor predisposisi antara lain pertumbuhan gigi belum lengkap, belum terbentuk gigi molar, belum dapat menelan makanan padat dengan baik dan kemampuan anak membedakan benda yang dapat dimakan atau tidak dapat dimakan belum sempurna.3,8,10 Orang dewasa dapat menelan benda asing secara sengaja maupun tidak sengaja. Sengaja misalnya pada kasus percobaan bunuh diri, sedangkan tidak sengaja diakibatkan oleh berbagai sebab. Sebagian besar (88%) terjadi akibat kelainan yang mendasari.
3

Terdapat 3 mekanisme

yaitu esofageal (striktur), neuromuskular (myasthenia gravis) dan mekanik/ekstrinsik (ankylosing spondylitis).8 Pada dewasa juga sering terjadi akibat gangguan mental (psikosis dan mental retardasi) dan pengaruh alkohol. Narapidana sering menelan benda asing dengan sengaja yang bertujuan mendapatkan perhatian.4,16,17 Orang dewasa yang menggunakan gigi palsu mempunyai resiko yang besar untuk tertelannya gigi palsu dan benda asing lain akibat berkurangnya sensasi pada palatum akibat lempengan/akrilik gigi palsu. Akibatnya objek yang kecil yang tercampur makanan tidak dirasakan pada palatum. Dilaporkan pula kasus-kasus tertelan benda asing yng didasari defisit neurologis, penurunan reflek muntah saat gangguan

10

kesadaran akibat minuman beralkohol, stroke, parkinson, trauma dan demensia senilis.3,4,8 Sikat gigi merupakan penyebab yang sangat jarag pada kasus benda asing esofagus dan hanya ditemukan pada 40 kasus di seluruh dunia hingga saat ini. Sebagian besar terjadi pada wanita muda usia 15-23 tahun akibat bulimia dan anoreksia nervosa.18

KOMPLIKASI Benda asing yang tertahan lama di esofagus dapat menimbulakan berbagai komplikasi seperti obstruksi, perforasi, stenosis intrinsic dan divertikulum esofagus.3,19 Komplikasi lebih sering ditemukan pada dewasa dimana kasus benda asing tertelan ini adalah akibat kelainan yang mendasari. Komplikasi lainnya adalah abrasi, laserasi dan tertusuk. Komplikasi tersebut bila tidak ditangani dapat mengakibatkan abses, perforasi dan infeksi jaringan lunak, pneumotoraks, peritonitis dan cardiac tamponade.7 Pernah dilaporkan gejala pneumonia aspirasi, mediastinitis dan respiratory distress syndrome yang berakibat kematian akibat fistula esofago-bronkial yang disebabkan mainan plastik di esofagus pada anak dengan retardasi mental.11 Benda asing esofagus dalam waktu lama dapat mengakibatkan failure to thrive, perforasi esofagus atau pneumonia aspirasi berulang. Perforasi esofagus ditandai dengan adanya pembengkakan pada leher, krepitasi dan pneumomediastinum. Tempat tersering terjadinya obstruksi adalah daerah krikofaring, sepertiga tengah esofagus dan lower esophageal sphincter.2,3

DIAGNOSIS Benda asing yang tersangkut di esofagus akan menimbulkan gejala bervariasi tergantung lokasi sumbatan dan jenis benda asing antara lain disfagia, odinofagia, regurgitasi dan dapat timbul gejala sumbatan jalan napas akibat penekanan trakea. Pasien dengan tertelan benda asing di esofagus akan dapat mengidentifikasi jenis dari benda asingnya dan dapat menunjukkan lokasi daerah yang tidak terasa nyaman terutama bila tersangkut di sepertiga proksimal esofagus. Lokasi yang menunjukkan tempat tersangkutnya benda asing itu tidak dapat terlalu dipercaya untuk benda asing yang tersangkut di sepertiga tengah dan bawah. Seringkali tertelan benda asing tidak disadari sampai timbul gejala. Gejala yang timbul dapat berupa disfagia, odinofagia, muntah, regurgitasi, menolak untuk makan, mengeluarkan

11

banyak saliva dan gangguan napas. Pembengkakan dan krepitasi pada leher dapat timbul pada keadaan peforasi di esofagus proksimal atau orofaring. Abdomen juga harus diperiksa untuk kemungkinan adanya peritonitis. Pemeriksaan penunjang yang pertama kali dilakukan adalah foto ronsen servikal dan toraks. Sebagian besar benda asing esofagus adalah radioopak, yaitu logam kecil, mainan plastik, uang logam, kancing, tulang ikan, peniti, tusuk gigi, jarum, kawat, pecahan kaca atau kayu, gigi palsu, daging dan silet.7 Pengenalan awal dan penatalaksanaan benda asing esofagus sangat penting karena bila tidak ditangani akan menimbulkan komplikasi serius dan mengancam nyawa. Pemeriksaan radiologi sangat penting untuk diagnosis awal, penentuan adanya komplikasi dan penatalaksanaan. Foto toraks dapat mendeteksi benda radioopak atau soft tissue swelling pada kasus benda asing radiolusen. Pemeriksaan laringoskopi tidak langsung menggunakan endoskopi juga dapat membantu diagnosis. Standar emas diagnosis adalah esofagoskopi kaku dan fleksibel karena memungkinkan visualisasi dan pengambilan benda asing. Bermacam pemeriksaan radiologis dapat dilakukan tergantung dari jenis benda asingnya antara lain : foto polos, foto kapas barium, CT scan, metal detektor dan ultrasonografi. Pemeriksaan foto polos serviko-torakal atau serviko-torakal-abdominal posisi antero-posterior dan lateral rutin dilakukan karena mudah dan murah. Jenis benda asing yang radioopak akan tampak jelas pada foto polos tetapi bila jenis benda asing bukan radioopak diperlukan pemeriksaan dengan kapas barium atau CT-scan.Tidak semua logam dapat terlihat pada foto polos (ronsen). Contohnya aluminium yang memiliki nomor atom kecil akan tampak kurang radioopak. Aluminium memiliki nomor atom yang mirip dengan tulang kortikal. Hal ini akan menimbulkan masalah karena esofagus berada didepan kolumna vertebra.16,20,21

DIAGNOSIS BANDING Benda asing pada proksimal esofagus juga dapat menimbulkan gejala yang mirip dengan gejala benda asing di saluran napas. Gejala dapat berupa chocking dan respiratory distress.7

12

PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan benda asing esofagus dengan ekstraksi dapat bersifat elektif, urgensi maupun emergensi tergantung macam benda asing dan keadaan umum penderita atau adanya komplikasi. Benda asing yang tersangkut di sfingter esofagogaster dapat diobservasi selama 2448 jam sebelum diputuskan untuk dilakukan endoskopi. Diharapkan benda asing dapat lolos masuk ke gaster. Lebih dari 80% benda asing dapat melewati saluran gastrointestinal. Bila benda asing tersangkut di otot krikofaring harus segera dilakukan tindakan ekstraksi dengan esofagoskopi sesegera mungkin apalagi bila didapatkan gangguan pernapasan. Batere di esofagus merupakan tindakan darurat medik karena nekrosis dapat terjadi dalam beberapa jam. Orang yang menelan paket heroin atau kokain harus diobservasi. Endoskopi dihindari karena dapat memecahkan paket obat tersebut sehingga mengakibatkan keracunan.2,4,5 Terdapat beberapa modalitas terapi benda asing esofagus yaitu dengan observasi, esofagoskopi fleksibel, esofagoskopi kaku, kateter Foley, businasi, relaksasi sfingter esofagus bawah dan eksternal approach. Esofagoskopi merupakan teknik ekstraksi yang aman dan efektif, ini dilakukan untuk tujuan diagnostik maupun terapetik. Esofagoskopi juga merupakan indikasi absolut untuk benda asing tajam, tidak radioopak, panjang dan jumlah lebih dari satu atau pada pasien dengan kelainan esofagus. Esofagoskopi segera juga merupakan indikasi untuk benda asing batere ataupun aluminium. Keberhasilan teknik ini sangat tinggi, komplikasi perforasi esofagus berkisar antara 0,2-2%. 2,8,10 Ekstraksi benda asing dapat juga menggunakan esofagoskop fleksibel. Kelebihannya adalah dapat dikakukan dengan anestesi lokal dan dapat digunakan pada penderita dengan kelainan vertebra servikalis, biaya operasi lebih murah dan resiko komplikasi lebih rendah. 8,10 Kateter Foley diindikasikan pada benda asing esofagus yang radioopak tunggal. Teknik ini mempunyai kontraindikasi untuk pasien dengan benda asing esofagus lebih dari 72 jam. Ekstraksi dengan kateter foley dilakukan dibawah kontrol ketat terhadap kemungkinan komplikasi.8,20 Benda asing di esofagus yang tersangkut di sfingter esofagus bawah dapat berhasil dengan mendorong benda asing menggunakan busi. Busi dimasukkan melalui esofagus ke gaster dengan pasien dalam posisi duduk. Angka kesuksesan prosedur ini mencapai 83-100%.8,20 Benda asing yang tersangkut di sfingter esofagus bawah dapat dilakukan relaksasi otot sfingter menggunakan glukagon. Dosis diberikan 1-2 mg intravena. Glukagon tidak berfungsi

13

pada obstruksi total yang sering terjadi pada benda asing esofagus yang diperberat dengan penumpukan makanan. Glukagon dapat membantu pada tidakan endoskopi yaitu untuk mengurangi tekanan sfingter dan memfasilitasi endoskopi untuk mendorong makanan kedalam gaster. Angka kesuksesan prosedur ini 12-50%. Tidak dapat dilakukan pada pasien dengan kelainan struktur esofagus. Pembedahan dilakukan apabila dengan cara-cara tadi benda asing tidak juga berhasil dikeluarkan yaitu esofagotomi melalui leher tetapi tetap dengan tuntunan esofagoskop kaku.8,20 Endoskopi tetap diindikasikan meskipun tidak didapatkan benda asing pada foto toraks dan CT scan. Endoskopi urgensi diindikasikan pada benda asing tajam atau baterai. Penilaian terbaik adalah dengan endoskopi fleksibel yang dihubungkan langsung dengan video. Instrumen tambahan adalah berbagai forsep dan esofagoskop yang sudah dites terlebih dulu pada benda-benda yang sama atu mirip. Sebaiknya berlatih dulu menggunakan alat dan merasakan saat benda dijepit dengan forsep. Hal ini berguna untuk mencegah kerusakan mukosa saat mengambil benda-benda yang tajam seperti peniti, jarum, pisau atau kawat.2,3,7 Benda asing tajam juga dapat dievakuasi secara aman dengan teknik endoskopi untuk menghindari tindakan pembedahan. Ada berbagai teknik yang dapat dipilih untuk mengeluarkan benda asing semisal peniti dengan ujung tajam menghadap ke kaudal, misalnya dengan memutar benda terlebih dahulu hingga ujung tajam menghadap ke lambung, memasukkan ujung tajam kedalam endoskopi kemudian menariknya secara berbarengan. 4,7 Tindakan pencegahan antara lain penyuluhan kepada orangtua untuk mengawasi anakanak dengan baik dan menjauhkan objek-objek yang berpotensi menjadi benda asing esofagus dari jangkauan anak-anak, terutama baterai jam yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan dalam waktu singkat. Anak yang tuna rungu atau menggunakan alat bantu dengar membutuhkan perhatian yang lebih ketat.2,3

PROGNOSIS Semakin awal mendapat penatalaksanaan maka prognosis akan semakin baik. Terutama bila sebelumnya dilakukan pemeriksaan yang seksama dan dilanjutkan dengan follow up yang baik. Sebagian besar kasus tidak mengalami komplikasi, namun terdapat angka kematian yang signifikan akibat benda asing esofagus di Amerika Serikat yaitu mencapai 1.500 kematian per tahun.

14

Prognosis akan memburuk bila benda asing esofagus disertai dengan komplikasi. Resiko komplikasi meningkat pada benda asing tajam, benda asing yang menetap lebih dari 24 jam, benda asing yang berukuran besar (lebih dari 2-3 cm pada bayi kurang dari 1 tahun dan lebih dari 3-5 tahun pada anak usia lebih dari 1 tahun). Resiko tinggi juga didapatkan pada benda asing korosif seperti baterai.

LAPORAN KASUS

Kasus 1 Seorang anak berusia 1 tahun 4 bulan, berasal dari luar kota, masuk rumah sakit pada tanggal 23 Oktober 2010 dengan keluhan utama nyeri dan sulit menelan sejak lebih kurang lebih 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Sejak lebih kurang 1 hari sebelum masuk rumah sakit pasien menelan besi pemantik api yang ditemukan pasien saat bermain. Pasien memasukkan besi pemantik api kedalam mulut dan kemudian tertelan. Pasien kemudian rewel dan tidak mau makan dan minum. Keluhan batuk tidak ada, sesak napas tidak ada. Bila minum hanya sedikit-sedikit. Pasien berobat ke RS Swasta di Prabumulih kemudian dirujuk RSMH. Pasien kemudian ke Bagian THT-KL di IRD Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin. Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum pasien baik, compos mentis dan pasien tampak rewel. Tanda vital baik, tidak ditemukan adanya sesak napas dan stridor. Tidak terdapat benjolan pada leher. Regio toraks baik dan tidak ditemukan retraksi. Pada pemeriksaan tenggorok tidak ditemukan hiperemis pada mukosa mulut dan orofaring, edem tidak ada, pembesaran tonsil tidak ditemukan. Hasil foto torakoabdominal didapatkan adanya benda asing logam berbentuk lempengan tipis segi empat yang terlipat dengan bagian-bagian yang tajam kearah kaudal. Pasien kemudian diobservasi di Bangsal THT-KL RSMH. Selama observasi didapatkan pasien tidak mau makan dan hanya minum sedikit-sedikit. Pasien diberi cairan intravena Ringer Laktat 20 tetes per menit, antibiotik sefotaksim 2 x 250 mg dan parasetamol sirup 3 x 125mg. Pasien puasa pada pukul 02.00 wib untuk persiapan tindakan esofagoskopi.

15

Gambar 2. Foto torakoabdominal anteroposterior (a) dan lateral (b) yang menunjukkan posisi benda asing setinggi T1-T2

Pemeriksaan pada tanggal 24 Oktober 2010 didapatkan pasien masih rewel dan mengeluh sakit menelan. Foto toraks ulang pada tanggal 24 Oktober 2010 pukul 06.00 wib menunjukkan tidak ada perubahan posisi benda asing. Diputuskan untuk dilakukan tindakan esofagoskopi untuk mengambil benda asing.

Gambar 3. Foto torakoabdominal tanggal 24 Oktober 2010

16

Selanjutnya, pada pukul 08.30 dilakukan tindakan esofagoskopi dalam narkose di kamar operasi. Tindakan esofagoskopi berlangsung lebih kurang 1 jam. Tindakan menggunakan esofagoskop ukuran sedang dengan panjang 34 cm. Intraoperatif tidak didapatkan edema pada sinus piriformis, pipa esofagoskop dapat masuk dengan lancar. Didapatkan benda asing logam pada area penyempitan kedua lebih kurang 14 cm dari gigi insisivus atas. Dilakukan ekstraksi benda asing menggunakan forsep. Pipa esofagoskop diposisikan sampai benda asing berada ditengah-tengah diameter esofagoskop untuk mempermudah penjepitan. Benda asing dijepit dengan forsep dan ditarik ke mulut distal esofagokop. Benda asing dan esofagoskop ditarik bersamaan keluar melalui rongga mulut. Benda asing berupa besi pemantik api yg sudah gepeng dengan beberapa bagian berkarat dan bagian-bagian besi yang sobek dan membentuk sudutsudut tajam.

Gambar 4. Benda asing tampak di esofagoskopi (a) Besi pemantik api yang berhasil dikeluarkan (b) Durante operasi (c)

17

Pada akhir operasi dilakukan esofagoskopi diagnostik untuk evaluasi pasca ekstraksi benda asing. Hasil esofagoskopi diagnostik didapatkan laserasi dan dperdarahan pada bekas benda asing ditemukan. Pasca operasi dilakukan pemasangan NGT pada pasien. Terapi lainnya adalah pemberian cairan ringer laktat dan dekstrosa 5%, antibiotik intravena sefotaksim 2 x 500 mg, analgetik antipiretik parasetamol 3 x 250mg, antiperdarahan asam traneksamat 3 x 250 mg. Pasien diberi diet cair melalui NGT. Hari pertama pasca operasi didapatkan keadaan umum pasien baik, tanda-tanda vital baik, pasien masih makan diet cair melalui NGT. Pasien tampak rewel karena tidak nyaman dengan NGT yang terpasang. Tidak didapatkan krepitasi pada daerah leher dan dada. Tidak ada darah yang keluar melalui NGT dan tidak ada perdarahan melalui mulut maupun hidung. Hari kedua pasca operasi didapatkan keadaan umum tetap baik, tanda-tanda vital baik, pasien tetap makan diet cair melalui NGT. Pasien tampak rewel dan mengeluh ingin makan seperti biasa. Tidak didapatkan krepitasi pada daerah leher dan dada, tidak ada darah yang keluar melalui NGT dan tidak ada perdarahan melalui mulut maupun hidung. Hari ketiga pasca operasi didapatkan keadaan umum pasien tetap baik dan tanda-tanda vital baik. Pasien sudah mencabut sendiri NGT dan keluarga pasien menolak NGT dipasang kembali. Pasien sudah makan dan minum seperti biasa melalui mulut. Pasien tidak rewel lagi dan tidak mengeluh nyeri. Tidak didapatkan krepitasi di daerah leher dan dada. Hari keempat pasca operasi pasien diperbolehkan pulang

Kasus 2 Seorang perempuan berusia 52 tahun, berasal dari dalam kota, masuk rumah sakit pada tanggal 30 Oktober 2010 dengan keluhan utama nyeri dan sulit menelan sejak lebih kurang 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Sejak lebih kurang 1 hari sebelum masuk rumah sakit pasien tertelan gigi palsunya sendiri sesaat setelah bangun tidur. Pasien tiba-tiba mengeluh nyeri menelan, batuk tidak ada, sesak napas tidak ada. Pasien kemudian mengeluh tidak bisa makan dan hanya minum sedikitsedikit dan terasa nyeri. Pasien berobat ke RSUD Palembang Bari kemudian dirujuk RSMH. Pasien kemudian ke Bagian THT-KL di IRD Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin. Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum pasien baik dan kompos mentis. Tanda vital baik, tidak ditemukan

18

adanya sesak napas dan stridor. Tidak terdapat benjolan pada leher. Regio toraks baik dan tidak ditemukan retraksi. Pada pemeriksaan tenggorok tidak ditemukan hiperemis pada mukosa mulut dan orofaring, edem tidak ada, pembesaran tonsil tidak ditemukan. Hasil foto torakoabdominal didapatkan tidak ditemukan adanya benda asing. Hasil laboratorium darah rutin, kimia darah dan elektrolit dalam batas normal. Pasien kemudian diobservasi di Bangsal THT-KL RSMH. Selama observasi didapatkan pasien tidak mau makan dan hanya minum sedikit-sedikit. Pasien diberi cairan intravena Ringer Laktat 30 tetes per menit, antibiotik sefotaksim 2 x 1g, deksametason injeksi 3 x 0,5 mg dan ranitidin injeksi 2 x 150 mg. Pasien puasa pada pukul 02.00 wib untuk persiapan tindakan esofagoskopi. Pemeriksaan pada tanggal 31 Oktober 2010 didapatkan pasien mengeluh sakit menelan. Diputuskan untuk dilakukan tindakan esofagoskopi untuk mengambil benda asing. Pada pukul 08.30 dilakukan tindakan esofagoskopi dalam narkose di kamar operasi. Tindakan esofagoskopi berlangsung lebih kurang 1 jam. Tndakan menggunakan esofagoskop ukuran besar dengan panjang 35. Intraoperatif tidak didapatkan edema pada sinus piriformis, pipa esofagoskop dapat masuk dengan lancar. Didapatkan benda asing berupa akrilik gigi palsu pada area penyempitan pertama lebih kurang 16 cm dari gigi insisivus atas dan lebih kurang setinggi vertebra cervical VI. Dilakukan ekstraksi benda asing menggunakan forsep. Pipa esofagoskop diposisikan akrilik berada ditengah-tengah diameter esofagoskop untuk mempermudah penjepitan. Benda asing dijepit dengan forsep dan ditarik ke mulut distal esofagokop. Benda asing dan esofagoskop ditarik bersamaan keluar melalui rongga mulut. Benda asing berupa 1 buah gigi insisivus palsu dengan akrilik tanpa kawat.

19 Gambar 5. Gigi palsu yang berhasil dikeluarkan(a dan b)

Pada akhir operasi dilakukan esofagoskopi diagnostik untuk evaluasi pasca ekstraksi benda asing. Hasil esofagoskopi diagnostik mukosa esofagus baik, tidak didapatkan laserasi dan perdarahan. Pasca operasi dilakukan pemasangan NGT pada pasien. Terapi lainnya adalah pemberian cairan ringer laktat dan dekstrosa 5%, antibiotik intravena sefotaksim 2 x 1g, analgetik ketorolak injeksi 2 x 30 mg. Pasien diberi diet cair melalui NGT. Hari pertama pasca operasi didapatkan keadaan umum pasien baik, tanda-tanda vital baik, pasien masih makan diet cair melalui NGT. Pasien merasa tidak nyaman dengan NGT yang terpasang. Tidak didapatkan krepitasi pada daerah leher dan dada. Tidak ada darah yang keluar melalui NGT dan tidak ada perdarahan melalui mulut maupun hidung. Pasien meminta NGT untuk dicabut. Hari kedua pasca operasi didapatkan keadaan umum tetap baik, tanda-tanda vital baik, Pasien dapat makan nasi seperti biasa. Tidak didapatkan krepitasi pada daerah leher dan dada. Pasien meminta untuk dipulangkan.

Kasus 3 Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun 9 bulan, berasal dari luar kota, masuk rumah sakit pada tanggal 9 Juli 2010 dengan keluhan utama tertelan uang logam 100 rupiah sejak lebih kurang 8 jam sebelum masuk rumah sakit. Nyeri menelan tidak ada, sulit menelan tidak ada, batuk tidak ada, sesak napas tidak ada. Sejak lebih kurang 8 jam sebelum masuk rumah sakit pasien menelan uang logam 100 rupiah. Pasien menelan uang logam pasien saat bermain. Pasien kemudian mengeluh nyeri di leher dan tidak mau makan dan minum. Pasien kemudian dibawa ke puskesmas setempat dan dianjurkan utk dibawa ke RSMH. Lebih kurang 4 jam SMRS pasien tidak mengeluh nyeri menelan lagi. Pasien sudah mulai mau makan dan minum. Pasien kemudian ke Bagian THT-KL di IRD Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin. Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum pasien baik, compos mentis dan pasien tampak tenang. Tanda vital baik, tidak ditemukan adanya sesak napas dan stridor. Tidak terdapat benjolan pada leher. Regio toraks baik dan tidak ditemukan retraksi. Pada pemeriksaan tenggorok tidak ditemukan hiperemis pada mukosa mulut dan orofaring, edem tidak ada,

20

pembesaran tonsil tidak ditemukan. Hasil foto torak tidak didapatkan kelainan. Hasil foto polos abdomen ditemukan benda asing radioopak posisi sagital setinggi vertebra torakal XI

Gambar 6. a. Foto torak b. Foto polos abdomen tempak benda asing

Pasien kemudian diobservasi di Bangsal THT-KL RSMH. Selama observasi didapatkan pasien tenang dan makan minum seperti biasa. Tanggal 12 juli pukul 14.00 wib pasien BAB dan terdapat uang logam 100 rupiah pada feses pasien. Pasien dipulangkan keesokan harinya.

Kasus 4 Seorang laki-laki berusia 56 tahun, berasal dari dalam kota, masuk rumah sakit pada tanggal 10 Juli 2010 dengan keluhan utama nyeri dan sulit menelan sejak lebih kurang 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Sejak lebih kurang 1 hari sebelum masuk rumah sakit saat menghadiri undangan pasien menelan beberapa potongan daging. Pasien setelah itu mengeluh nyeri di leher dan tidak bisa makan dan minum. Setiap kali makan atau minum pasien langsung muntah. Batuk tidak ada, sesak napas tidak ada. Pasien kemudian ke Bagian THT-KL di IRD Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin. Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum pasien baik, compos mentis dan pasien tampak kesakitan. Tanda vital baik, tidak ditemukan adanya sesak napas dan stridor. Regio toraks baik dan tidak ditemukan retraksi. Pada pemeriksaan tenggorok tidak ditemukan

21

hiperemis pada mukosa mulut dan orofaring, edem tidak ada. Foto torak dalam batas normal. Hasil pemeriksaan darah rutin, kimia darah dan elektrolit dalam batas normal. Pasien kemudian diobservasi di Bangsal THT-KL RSMH. Selama observasi didapatkan pasien tidak mau makan dan hanya minum sedikit-sedikit. Pasien diberi cairan intravena Ringer Laktat 30 tetes per menit, antibiotik sefotaksim 2 x 1g dan Ketorolak 2 x 30 mg Pasien puasa pada pukul 02.00 wib untuk persiapan tindakan esofagoskopi. Pada tanggal 11 Juli 2010 dilakukan tindakan esofagoskopi untuk mengambil benda asing. Tindakan berlangsung lebih kurang 3 jam. Pada area penyempitan ketiga setinggi vertebra torakal X didapatkan benda asing warna kecoklatan, berserat dan lunak. Massa kemudian diekstraksi dengan cunam biopsi sedikit demi sedikit. Satu setengah jam kemudian didapatkan kumpulan massa daging lebih kurang 40 gram. Masih terdapat massa daging di esofagus. Massa kemudian dicoba untuk didorong kedalam lambung. Massa akhirnya berhasil masuk ke lambung. Pada akhir operasi dilakukan esofagoskopi diagnostik untuk evaluasi pasca ekstraksi benda asing. Hasil esofagoskopi diagnostik tidak didapatkan laserasi dan dperdarahan pada bekas benda asing ditemukan. Pasca operasi dilakukan pemasangan NGT pada pasien. Terapi lainnya adalah pemberian cairan ringer laktat dan dekstrosa 5%, antibiotik intravena sefotaksim 2 x 500 mg, analgetik ketorolac 2 x 30mg. Pasien diberi diet cair melalui NGT. Hari pertama pasca operasi didapatkan keadaan umum pasien baik, tanda-tanda vital baik, pasien masih makan diet cair melalui NGT. Tidak didapatkan krepitasi pada daerah leher dan dada. Tidak ada darah yang keluar melalui NGT dan tidak ada perdarahan melalui mulut maupun hidung. Hari kelima pasca operasi didapatkan keadaan umum pasien tetap baik dan tandatanda vital baik. Pipa NGT dicabut dan pasien diberi diet bubur saring. Pasien sudah makan dan minum seperti biasa melalui mulut. Nyeri tidak ada lagi dan tidak didapatkan krepitasi di daerah leher dan dada. Hari keenam pasca operasi pasien diperbolehkan pulang

Kasus 5 Seorang perempuan berusia 55 tahun, berasal dari dalam kota, masuk rumah sakit pada tanggal 11 Juli 2010 dengan keluhan utama nyeri pada leher atas dan tidak bisa makan sejak lebih kurang 3 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien hanya bisa minum sedikit-sedikit dan terasa nyeri. Pasien juga mengeluh agak sulit bernapas.

22

Sejak lebih kurang 3 jam sebelum masuk rumah sakit pasien tertelan gigi palsunya sendiri saat sedang makan siang. Pasien tiba-tiba mengeluh nyeri menelan, batuk tidak ada, sulit bernafas ada. Pasien kemudian mengeluh tidak bisa makan dan hanya minum sedikit-sedikit dan terasa nyeri. Pasien berobat ke dokter spesialis THT dan dianjurkan ke RSMH. Pasien kemudian ke Bagian THT-KL di IRD Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin. Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum pasien baik dan kompos mentis. Pasien tampak agak gelisah. Tanda vital baik, tidak ditemukan stridor. Tidak terdapat benjolan pada leher. Regio toraks baik dan htidak ditemukan retraksi. Pada pemeriksaan tenggorok tidak ditemukan hiperemis pada mukosa mulut dan orofaring, edem tidak ada, pembesaran tonsil tidak ditemukan. Hasil foto torakoabdominal didapatkan tidak ditemukan adanya benda asing. Hasil laboratorium darah rutin, kimia darah dan elektrolit dalam batas normal. Pasien langsung dipersiapkan untuk tindakan esofagoskopi segera. Intraoperatif saat akan dilakukan intubasi menggunakan laringoskop didapatkan benda asing gigi palsu pada sinus piriformis. Benda asing segera diekstraksi menggunakan forsep Magill. Pasca operasi pasien diberi analgetik asam mefenamat 3 x 500mg dan antibiotik amoksisilin 3 x 500 mg. Pasien diizinkan rawat jalan keesokan harinya.

DISKUSI Angka kejadian benda asing esofagus cukup tinggi. Pada kasus pertama dan ketiga penderita berusia 1 tahun 4 bulan dan 5 tahun 9 bulan, hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan usia rata-rata penderita adalah dibawah 10 tahun dan disebabkan karena rasa ingin tahu yang besar dan kurangnya pengawasan dari orangtua.2,3,10 Kasus kedua, keempat dan kelima adalah kasus tertelan benda asing gigi palsu dan daging. Hal ini juga sesuai dengan kepustakaan dimana kasus benda asing esofagus terbanyak pada dewasa adalah gigi palsu dan daging dan kondisi gigi pada pasien usia 50 tahun keatas yang juga sudah tidak lengkap lagi.8,10 Pada kasus pertama dan kedua didapatkan benda asing di area penyempitan esofagus kedua, pada kasus keempat benda asing didapatkan pada area penyempitan keempat dan pada kasus kelima benda asing ditemukan di penyempitan pertama. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyebutkan bahwa benda asing esofagus terbanyak ditemukan pada 4 area penyempitan fisiologis esofagus. Kasus ketiga didapatkan benda asing sudah memasuki lambung dan akhirnya

23

keluar pada masa observasi. Hal ini juga sesuai dengan kepustakaan dimana 70-80% benda asing dapat melalui saluran pencernaan selama 7-10 hari.2,8,10 Benda asing pada kasus pertama dan kedua diekstraksi menggunakan esofagoskopi kaku, kasus ketiga ditatalaksana dengan observasi, kasus keempat ditatalaksana dengan mendorong bolus makanan kedalam lambung menggunakan esofagoskopi kaku dan kasus kelima diekstraksi menggunakan forsep Magill. Penatalaksanaan ini sudah sesuai dengan penatalaksanaan yang dianjurkan sesuai kepustakaan.
2,3,8,10

Didapatkan pada kelima kasus ini semuanya mampu

ditatalaksana tanpa komplikasi hal ini juga sesuai dengan kepustakaan dimana penatalaksanaan yang tepat dan cepat akan mencegah komplikasi.

SIMPULAN Dilaporkan 5 pasien dengan kasus tertelan benda asing. Pesien pertama adalah anak usia 1 tahun 4 bulan dengan tertelan besi pemantik api dan pasien kedua adalah perempuan 52 tahun dengan tertelan gigi palsu yang berhasil diekstraksi dengan esofagoskopi kaku. Pasien ketiga adalah anak usia 5 tahun 9 bulan dengan tertelan uang logam dan berhasil ditatalaksana dengan observasi. Pasien keempat adalah laki-laki 56 tahun dengan bolus makanan (daging) tersangkut di esofagus yang didorong dengan esofagoskop kaku dan pasien terakhir adalah kasus

perempuan 55 tahun dengan tertelan gigi palsu yang berhasil diekstraksi menggunakan forsep Magill.

24

DAFTAR PUSTAKA 1. Yunizaf M. Benda Asing Esofagus. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD (Ed). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2007; Edisi 6(1): 299-302 2. Uyemura MC. Foreign Body Ingestion in Children. American Family Phisician. 2005; 72(2): 187-91 3. Gilyoma JM, Chalya PL. Endoscopic Prosedure of Foreign Body Removal of The Aerodigestive Tract: The Bugando Hospital Experience. BMC Ear, Nose, and Throat Disorder. 2011; 11(2): 2-5 4. Boyce HW. Esophageal Foreign Bodies: Intentional and Accidental. Swallowing News. 2004; 16(2): 1-2 5. Wadhera R, Gulati MS, Garg A, Ghai A. An Unusual Sharp Foreign Body Esophagus : A Razor Blade. The Internet Journal of Head and Neck Surgery. 2007; 2(1) 6. Zohra T, Ikram M, Iqbal M, Akhtar S, Abbas SA. Migrating Foreign Body In The Thyroid Gland, Unusual Case. J ayub Med Coll Abbottabad. 2006; 18(3): 65-6 7. Verma PC, Gaur A, Singhal AK. Neglected Foreign Body In A Esophagus With An Unusual Presentation, A Case Report. Indian Journal of Otolaryngology and Head and Neck Surgery. 2006; 58(1): 89-90 8. Rahardjo R, Syam AF, Simadibrata M. Management Esophageal Foreign Body. http://inaghic.or.id. 2007; 8(1):24-7 9. Jordan N, Sockolow R, Beneck D, Moon A. Diagnoses of Eosinophilic Esophagitis in Children Who Underwent Foreign Body Retieval of Coins. Gastroenterology & Hepatology. 2009; 5: 833-8 10. Eisen GM, Baron TH. Guideline Management of Ingested Foreign Impactions. Gastrointestinal Endoscopy. 2011; 73(6): 1085-91 11. Basu S, Chandra PK, Basu S. An Unusual Cause of Dysphagia in a Mentally Retarded, Deaf and dumb Child. The Internet Jornal of Surgery (Serial Online). 2006 (diunduh 2 April 2011); 8(2). Didapat dari : http://www.ispub.com/an_unusual_cause_of_dysphagia.html 12. El Sherbiny GM. Fish Bone Ingested A Month Ago, Unharmed the Inlet but Injured the Outlet. The Internet Journal Of Surgery ( Serial Online). 2007 (diunduh 2 April 2011); 10(2). Didapat dari : http://www.ispub.com/journal//fish_bone_ingested.html Bodies and Food

25

13. Arana A, Hauser B, Hachimi-Idrissi S, Vandenplas Y. Management of Ingested Foreign Bodies in Childhood and Review of The Literature. Eur J Pediatr. 2001; 160: 468-72 14. Jackson, Jackson. Esofagology. In : Bronchoesophagology. WB Saunders. Philadelphia and London. 1955: 225-32 15. Soepardi EA. Esofagoskopi. Dalam Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD (ed): Buku Ajar Ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2007: 311-3 16. Hewitt G. An Aluminium Foreign Body in The Oesophagus, a case report. The Ulster Medical Journal. 1992; 61(1): 106-7 17. Athanassiadi K, Gerazounis M, Metaxas E, Kalantzi N. Management of Esophageal Foreign Bodies: A Retrospective Review of 400 Cases. Europian Journal of Cardio-Thoracic Surgery. 2002; 21:653-6 18. Gulati SP, Wadhera R, Gulia JS, Hooda A. Tooth Brush in Stomach. The Internet Journal of Head and Neck Surgery. 2007 (diunduh tanggal 25 April 2011); 1(2). Didapat dari : http://www.ispub.com 19. Loh KS, Tan LK, Smith JD, Yeoh KH, Dong F. Complication of Foreign Bodies in Esophagus. Otolaryngology Head Neck Surgery. 2000; 123: 613-6 20. Pawarti DR. Penatalaksanaan Benda Asing Esofagus. Dalam: Kentjono WA, Wiyadi HMS, Hamadji S, Herawati S (ed). Penatalaksanaan Kegawatdaruratan di Bidang Telinga Hidung Tenggorok- Bedah kepala dan Leher. Departemen Ilmu Kesehatan THT_KL RSUD Dr. Soetomo. Surabaya. 2011: 55-63 21. Martindale JL, Bunker CJ, Noble VE. Ingested Foreign Bodies in A Patient With Pica. Gastroenterology and Hepatology. 2010; 6: 582-5