LAMPIRAN I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal

Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan

PETUNJUK PENGISIAN SURAT FORMULIR DATA MASUKAN (FDM) (UNTUK PETUGAS) PERHATIAN: 1. Formulir ini harus diisi dengan jelas, benar, dan lengkap. 2. Pengisian 'huruf' dimulai dari kotak awal dengan huruf balok. 3. Pengisian 'angka' dimulai dari kiri ke kanan dengan ketentuan angka terakhir pada kotak paling kanan. 1. 2. 3. 4. 5. A. No. Formulir KPP Pratama Jenis Transaksi NOP Tahun Pajak : : : : : empat digit pertama diisi dengan tahun pajak, empat digit kedua diisi dengan nomor bundle dan tiga digit terakhir diisi dengan nomor urut. Cukup jelas beri tanda silang (x) pada kotak yang sesuai dengan jenis transaksi yang dilakukan. diisi sesuai NOP yang ada di SPOP. diisi sesuai Tahun Pajak berjalan.

REKAPITULASI NILAI TANAH 1. Kolom LUAS (M2) 2. Kolom NILAI TANAH PER M2 (RP)

: :

diisi dengan jumlah luas tanah masing-masing jenis areal perkebunan dalam satuan meter persegi. diisi dengan nilai tanah per meter persegi masing-masing jenis areal perkebunan dalam satuan rupiah.

B.

1. 2. C. D.

REKAPITULASI NILAI BANGUNAN Kolom LUAS (M2) Kolom NILAI BANGUNAN (RP)

: :

diisi dengan jumlah luas bangunan masing-masing jenis bangunan dalam satuan meter persegi. diisi dengan nilai bangunan masing-masing jenis bangunan dalam satuan rupiah.

IDENTITAS PENILAI & PEJABAT YANG BERWENANG Cukup jelas. RINCIAN LUAS DAN NILAI TANAH AREAL PRODUKTIF Satu formulir ini dapat digunakan untuk 2 (dua) jenis tanaman. 1. Kode diisi sesuai dengan kode jenis tanaman, dengan ketentuan sebagai berikut: 01 = Kelapa Sawit 41 = Sorgum manis 02 = Kelapa Dalam 42 = Rami 03 = Kelapa Hibryda 43 = Kencur 04 = Karet 44 = Jahe 05 = Kopi 45 = Temu kunci 06 = Teh 46 = Bangle 07 = Kakao 47 = Kunyit 08 = Pala 48 = Temulawak 09 = Lada 49 = Lempuyang 10 = Panili 50 = Lengkuas 11 = Jambu Mete 51 = Temu item 12 = Kemiri 52 = Singkong 13 = Melinjo 53 = Ubi Kayu 14 = Jeruk 54 = Kedelai 15 = Mangga 55 = Jagung 16 = Durian 56 = Murbai 17 = Salak 57 = Jamur 18 = Jambu Biji 58 = Bawang Merah 19 = Manggis 59 = Bawang Putih 20 = Belimbing 60 = Strawberry 21 = Pisang 61 = Apel 22 = Pepaya 62 = Roselia 23 = Nanas 63 = Cabe 24 = Melon 64 = Kelengkeng 25 = Semangka 65 = Sagu 26 = Markisa 66 = Duku 27 = Pinang 67 = Aren 28 = Kapulaga 68 = Nangka 29 = Cassiavera (kayu manis) 69 = Sawo 30 = Cengkeh 70 = Kentang 31 = Sereh wangi 71 = Tomat 32 = Rambutan 72 = Wortel 33 = Asparagus 73 = Terong 34 = Petai 74 = Labu Siam 35 = Kina 75 = Paprika 36 = Kapas 76 = Alpukat 37 = Tebu 77 = Sirsak 38 = Tembakau 78 = Srikaya 39 = Jarak 79 = Buah Naga 40 = Padi gogo 80 = Mentimun 2. Kolom UMUR TANAMAN (TAHUN) : diisi dengan umur tanaman masing- masing jenis tanaman dalam satuan tahun.

5. : : . cukup jelas. Kolom LUAS (M2) JUMLAH LUAS (M2) NILAI TANAH PER M2 (RP) : diisi dengan luas areal tanaman sesuai umur tanaman masing-masing jenis tanaman dalam satuan meter persegi. 4. diisi sesuai dengan nilai tanah per meter persegi areal produktif masing-masing jenis tanaman dalam satuan rupiah.3.

2. yang rentang fasenya tergantung masing-masing jenis tanaman. d. SBT pada fase TBM 1) 2) 3) 4) SBT pada fase TBM1 adalah sebesar 71% (tujuh puluh satu persen) dari SBPK untuk kegiatan P0 dan kegiatan P1. SIT pada fase TBM2 merupakan penjumlahan dari SIT pada fase TBM1 sebagaimana dimaksud pada huruf a dengan SBT pada fase TBM2. 3. Tanaman Berumur Pendek adalah tanaman yang berumur sampai dengan satu tahun dan pemungutan hasilnya dilakukan satu kali dan dibongkar sekali panen. b. PENGHITUNGAN SIT UNTUK TANAMAN BERUMUR PANJANG 1. Tanaman Menghasilkan yang selanjutnya disebut TM adalah tanaman pada fase menghasilkan yang dimulai dari tahun pertama tanaman menghasilkan (TM1) sampai dengan tahun terakhir tanaman tersebut menghasilkan (TMn).LAMPIRAN II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan PEDOMAN PENENTUAN STANDAR INVESTASI TANAMAN (SIT) I. SBT pada fase TM SBT pada fase TM ditetapkan sebesar SBT pada fase TBM terakhir (TBMn) dikalikan dengan IBT pada fase TM tersebut. dan seterusnya. 6. dan pemeliharaan tanaman tanaman berumur panjang. . Penghitungan SIT a. II. yang rentang fasenya tergantung masing-masing jenis tanaman. 8. 4. Tanaman Belum Menghasilkan yang selanjutnya disebut TBM adalah tanaman pada fase belum menghasilkan yang dimulai dari umur tanaman 1 (satu) tahun (TBM1) dan seterusnya sampai dengan tahun terakhir tanaman tersebut belum menghasilkan (TBMn). Satuan Biaya Pembangunan Kebun yang selanjutnya disebut SBPK adalah satuan biaya tahunan per kegiatan yang meliputi kegiatan pembukaan lahan dan penanaman yang selanjutnya disebut P0. dan seterusnya sampai pemeliharaan tahun terakhir sebelum tanaman tersebut menghasilkan (Pn) untuk setiap hektar perluasan kebun di suatu wilayah. Departemen Pertanian. SIT pada suatu tahun dalam fase TM ditetapkan sebesar SIT pada fase TBM terakhir (TBMn) ditambah dengan SBT pada fase TM tahun tersebut. Apabila terdapat tanaman yang berumur lebih dari umur maksimal tanaman sebagaimana ditetapkan pada Lampiran II A Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini SIT tanaman pada umur tersebut ditetapkan sama dengan SIT pada fase TM terakhir (TMn). Penghitungan SBT a. SIT pada fase TBM ditetapkan sebagai berikut: 1) 2) 3) b. pemeliharaan tahun pertama yang selanjutnya disebut P1. Rincian fase TBM dan TM sesuai umur tanaman masing-masing jenis tanaman sebagaimana ditetapkan pada Lampiran II A Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini. SIT pada fase TBMn merupakan penjumlahan dari SIT pada fase TBMn-1 dengan SBT pada fase TBMn. e. 7. c. Satuan Biaya Tanaman yang selanjutnya disebut SBT adalah satuan biaya yang diinvestasikan tiap tahun berdasarkan umur dan jenis tanaman. Standar Investasi Tanaman yang selanjutnya disebut SIT adalah jumlah biaya tenaga kerja. 3. maka SBT pada fase TBM Tahun Pajak berjalan ditentukan berdasarkan penyesuaian SBT pada fase TBM Tahun Pajak sebelumnya dengan tingkat diskonto 10% (sepuluh persen). SBT pada fase TBM2 adalah sebesar 71% (tujuh puluh satu persen) dari SBPK untuk kegiatan P2. DEFINISI 1. yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan. Tanaman Berumur Panjang adalah tanaman yang berumur lebih dari satu tahun dan pemungutan hasilnya dilakukan lebih dari satu kali dan tidak dibongkar sekali panen. bahan dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan lahan. SBPK sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan angka 2) adalah SBPK untuk tahun sebelum Tahun Pajak berjalan. Dalam hal SBPK sebagaimana dimaksud pada angka 3) tidak diterbitkan. 5. 2. Apabila di wilayah kerja Saudara terdapat jenis tanaman yang tidak tercantum dalam Rincian fase TBM dan TM sesuai umur tanaman sebagaimana ditetapkan pada Lampiran II A Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini. penanaman. SIT pada fase TBM1 merupakan SBT pada fase TBM1. maka fase TBM dan TM jenis tanaman tersebut agar diupayakan untuk diperoleh pada dinas terkait di wilayah setempat. Besarnya IBT IBT ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II B Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini. Indeks Biaya Tanaman yang selanjutnya disebut IBT adalah angka yang digunakan sebagai dasar penentuan SBT untuk fase TM.

III. Wilayah IV : Nusa Tenggara Barat. penanaman. Kepulauan Riau. = SBT Tahun Pajak sebelumnya. Bali. . Dalam hal SBPK pada tahun sebelum Tahun Pajak berjalan tidak diterbitkan. b. Jambi. yaitu: a. Kalimantan Tengah. Bangka Belitung. Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah I : Jawa Barat. Untuk penghitungan SIT Tahun Pajak 2011. Wilayah V : Sulawesi Utara. Wilayah III : Nanggroe Aceh Darussalam. = SBT Tahun Pajak berjalan. Kalimantan Selatan. Maluku Utara. dan pemeliharaan untuk tanaman tersebut. maka SIT ditentukan sebesar biaya pengolahan tanah. maka SBPK tanaman dimaksud agar diupayakan untuk diperoleh pada dinas terkait di wilayah setempat. 7. dengan formula sebagai berikut: SBTt = SBTt-1 X ( 1 +i ) dimana: SBTt SBTt_1 i 4. SBT pada fase TBM dihitung berdasarkan SBPK yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan. Sumatera Utara. c. 2. Jawa Timur. Bengkulu. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Timur. 3. Formula sebagaimana pada angka 3 hanya digunakan untuk penyesuaian SBT pada fase TBM. IV. Gorontalo. Contoh perhitungan SIT Kelapa Sawit tahun 2011 dan penjelasannya adalah sebagaimana pada Lampiran II E Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini. f. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Barat. disampaikan SBPK beberapa jenis tanaman sebagaimana pada Lampiran II C Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini. SBT pada fase TBM Tahun Pajak berjalan ditentukan berdasarkan penyesuaian SBT pada fase TBM Tahun Pajak sebelumnya dengan tingkat diskonto 10% (sepuluh persen). Irian Jaya Barat. = tingkat diskonto yang ditetapkan sebesar 10%. Lampung. 5. Kalimantan Barat. 6. Departemen Pertanian yang dikelompokkan menjadi 6 (enam) wilayah. Papua. Jawa Tengah. PENGHITUNGAN SIT UNTUK TANAMAN BERUMUR PENDEK Mengingat Tanaman Berumur Pendek berumur kurang dari 1 tahun. Wilayah VI : Maluku. Sulawesi Tengah. Riau. Banten. Kalimantan Timur. Sumatera Barat. LAIN-LAIN 1. Contoh penyesuaian SBT pada fase TBM Tahun 2011 berdasarkan SBT pada fase TBM Tahun 2010 dan penyesuaian SBT pada fase TBM Tahun 2012 berdasarkan SBT pada fase TBM Tahun 2011 adalah sebagaimana Lampiran II D Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini. d. Apabila di wilayah kerja Saudara terdapat tanaman yang SBPK-nya belum tercantum dalam Lampiran II D Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini. e. sedangkan SBT pada fase TM dihitung berdasarkaan IBT. Wilayah II : Sumatera Selatan.

LAMPIRAN IIA Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan RINCIAN FASE TANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM) DAN TANAMAN MENGHASILKAN (TM) SESUAI UMUR TANAMAN .

6389 0.3516 0.8613 0.3345 0.9052 0.1508 0.5235 0.2361 0.1666 0.3028 0.1365 .1435 0.1935 0.1585 0.7797 0.4739 0.3183 0.2137 0.7418 0.2741 0.2033 0.3884 0.4082 0.4290 0.5503 0.2881 0.2246 0.2608 0.2481 0.4981 0.5784 0.9514 0.6715 0.7058 0.3695 0.LAMPIRAN IIB Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan BESARNYA INDEKS BIAYA TANAMAN (IBT) UNTUK PENENTUAN SATUAN BIAYA TANAMAN (SBT) TANAMAN BERUMUR PANJANG FASE 1 TM1 TM2 TM3 TM4 TM5 TM6 TM7 TM8 TM9 TM10 TM11 TM12 TM13 TM14 TM15 TM16 TM17 TM18 TM19 TM20 TM21 TM22 TM23 TM24 TM25 TM26 TM27 TM28 TM29 TM30 TM31 TM32 TM33 TM34 TM35 TM36 TM37 TM38 TM39 TM40 INDEKS BIAYA TANAMAN 2 0.1841 0.1751 0.6079 0.8195 0.4509 0.

000 21.219.000 4.380.110/2008 tanggal 14 Oktober 2008 .701.000 4.443.000 7.403.000 4.000 4.000 8.000 7.552.951.000 4.000 4.474.173.000 4.000 12.623.000 13.326.000 8.342.947.933.271.000 20.000 7.000 III 13.818.000 4.000 V 14.728.427.LAMPIRAN IIC Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan SATUAN BIAYA PEMBANGUNAN KEBUN (SPBK) TAHUN 2009 Pembagian Wilayah I 13.081.376.364.000 4.359.000 4.964.000 8.731.000 4.000 4.457.000 19.000 5.000 4.000 4.842.894.000 7.844.000 21.768.000 4.093.000 VI 14.924.000 4.000 4.000 5.000 4.003.000 7.441.000 4.000 4.705.000 4.000 9.652.401.000 8.000 5.646.532.000 22.000 9.824.000 4.000 10.000 II 13.000 5.709.869.000 4.000 9.506.000 7.199.095.000 8.131.860.000 5.110.978.706.609.000 7.349.000 5.000 5.000 8.000 4.950.495.688.458.523.523.000 12.305.297.000 IV 13.000 4.000 4.000 8.000 8.000 No 1 Jenis Tanaman Kelapa Sawit P-0 P-1 P-2 P-3 Karet P-0 P-1 P-2 P-3 P-4 P-5 Kakao P-0 P-1 P-2 P-3 : 2 3 Sumber Diolah dari Satuan Biaya Pembangunan Kebun Tahun 2009 Direktorat Jenderal Perkebunan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor: 135/Kpts/RC.000 8.000 4.032.792.000 4.000 8.583.413.635.436.369.000 4.284.703.403.618.205.779.000 8.400.175.052.000 4.000 12.000 13.000 5.000 19.487.309.000 4.365.000 13.000 4.325.000 8.000 5.000 12.325.400.723.000 4.616.464.

239 2.231 2.028 2.193.075 1.326.213.769 5.212 2.213.613 9.028 7.651.722.343.994 3.077 2.128.496 1.939 3.311 10.600 3.263.651.728 5.570 1.473.577.785 3.817 3.573 3.880.255.469 3.298 V 7.888 Diolah dari Satuan Biaya Pembangunan Kebun Tahun 2006 Direktorat Jenderal Perkebunan .340.376.922.550.456.369 4.032 5.598 4.704.169 4.510.771 IV 7.858 7.579 2.282 1.690 3.757.594.082 3.519 4.929 4.581.668 27.605.167 16.133.139.523.530 3.818.557 738.729 3.009 14.376.761.465 2.302 2.430 4.935 2.471.012 6.956 3.782 3.497.512.804.485 886.000 3.449.172.403.579.086 1.288 24.567 727.171.115 2.945.040 3.656 2 3 16.741 10.170.818.392.916.258.459 9.794.699 4.766.401.662.867.842 2.363.002 2.745 3.777.773.783.834.555 2.690.036.369 3.933 VI 8.568 4.869 5.780.580.979.870 2.759.494 II 7.351 2.742 8.176 2.266.024.984 741.450 2.486 4.392 25.093 2.187.930 5.996.335.514.604.776 2.660.837 9.648.390 3.167.238 3.624 2.258 2.050 27.575.646 1.463 4.027 950.583.476 2.922 3.848 8.032.782.716.089.089 8.666.344 5.316 2.430 4.036.895 2.489 3.181 2.032 2.722.248 9.488 34.280 2.684.358.026 2.688.251 7.376.930 2.794 1.674.025.306.277.043 32.330.834.507 793.931.378.570 10.307.326.750 5.173.188 4.026 5.202 2.221 18.046 3.798.228 13.302.125 9.939 3.709 6.306.073.026.740 3.411 2.953 3.857.223 2.167.650.130 5.430.712.982.972 6.740.548.000.685 28.458.705.331.639.529 5.704.441.827 727.681 III 7.032 5.013 3.081.213 10.842.609.184.499 6.480.810 27.851 3.496 3.000 3.894.660.688.355.338.155.197.167 793.428.258.179.609 8.984 2.255.483.762 3.184 3.802 24.878.421.448.456 13.212 6.981 2.613 3.310 10.124 3.539 16.480 5.369.439.685.185.480.053 7.383 10.376 4.390.733.953 3.242.028 1.939 758.581.785 3.339.979.953 3.869 5.840 5.614 3.197.182 5.064 4.060.187.960.750 909.531.313 8.216 6.435.116.714.557 3.512.010.314.361.742 8.086 1.848.948 31.377 3.089 9.946 29.176 3.960.289 5.948 30.979.922 3.806.387.035 2.319 9 10 Kapulaga P-1 P-2 P-3 P-4 P-5 11 Cassiavera (Kayu Manis) P-0 P-1 P-2 P-3 P-4 Sumber : 13.972 6.733.286 2.930 2.582.930 5.717 31.110 4.896 16.095 2.482.214.827 2.274.216 6.192.646 2.157.076.611.289 5.768 7.330.180 7.860 30.318.879.452.050 27.139 8.567 727.649.634 4 5 6 23.985 9.530 5.205.631.862 17.485 886.242.315.905.630 6.802 23.717 738.804.377.486 4.421.456.089.735.403.000.827 727.975.448.989 2.393 2.320.450 2.339.309 10.913.443 741.392.551.436.580.532.480 9.334.284 6.210.539 16.387.230.140.072 5.311.274.044.869 5.575.742.022.699 3.205 3.651.053 7.759.961.718 4.208 3.607 2.714.181 8.443.255 2.228 13.173.445 2.970.598.604.733.568 4.663 9.250.555.098 7.827 2.369 5.682.283 3.992 2.133.634 1.363.468 5.848 4.390 5.915 2.679.866 2.349.169 4.102 8.319 758.723.456.119 1.546 1.349.881.329 5.785.801.601 5.069 5.647.248 9.791 8.055 3.SATUAN BIAYA PEMBANGUNAN KEBUN (SPBK) TAHUN 2009 No 1 Jenis Tanaman Kelapa Hibrida P-0 P-1 P-2 P-3 P-4 Kelapa Dalam P-0 P-1 P-2 P-3 Kopi P-0 P-1 P-2 P-3 Teh P-0 P-1 P-2 P-3 Pala P-0 P-1 P-2 Lada P-0 & P-1 P-2 Kemiri P-0 P-1 P-2 P-3 P-4 Melinjo P-0 P-1 P-2 Pinang P-0 P-1 P-2 P-3 Pembagian Wilayah I 7.602 11.474.352 2.530 2.386.614.162.705 9.272 5.234 1.093.286 2.380.368.275 7.825.678.630 916.000 4.315 4.139 6.078.560 7 8 30.454.

761 7.950 X 1.775.065 CONTOH PENYESUAIAN SBT TAHUN 2012 BERDASARKAN SBT TAHUN 2011 (UNTUK TAHUN PAJAK 2012) WILAYAH III (Nanggroe Aceh Darussalam.10) P1 Tahun 2011) X (1 + 0.950 6. Kepulauan Riau) Tingkat diskonto per tahun (i) sebesar 10% FASE TBM1 TBM2 TBM3 P0 P1 P2 P3 KEGIATAN Pembukaan lahan dan penanaman Pemeliharaan tahun pertama Pemeliharaan tahun kedua Pemeliharaan tahun ketiga Rp Rp Rp Rp SBT TAHUN 2010 9.644.186.208.775.150 Rp SBT TAHUN 2011 10.808 6.208.752.004.10) X (1 + 0.939.10 X 1.10) P3 Tahun 2011) X (1 + 0.328 Rp 6.186.808 Rp SBT TAHUN 2012 11.10) = = = = Rp 10.089 6.065 X 1.500 Rp 5. Departemen Pertanian.752.328 6.604. 2.808 Rp 6.10 = Rp 6. Kalimantan Selatan. SBPK yang telah diterbitkan terakhir oleh Direktorat Jenderal Perkebunan adalah SBPK untuk Tahun 2009 sehingga perhitungan SBT tahun 2011 adalah SBT tahun 2010 dengan tingkat diskonto per tahun (i) 10%.828. .644.372 6.533.480 5.500 5. Kepulauan Riau) Tingkat diskonto per tahun (i) sebesar 10% FASE TBM1 TBM2 TBM3 P0 P1 P2 P3 KEGIATAN Pembukaan lahan dan penanaman Pemeliharaan tahun pertama Pemeliharaan tahun kedua Pemeliharaan tahun ketiga Rp Rp Rp Rp SBT TAHUN 2011 10.208.845 Rp 6.004. Kalimantan Barat.150 x 1.604.328 Rp 6.829. Sumatera Utara.10) X (1 + 0.533.004.950 Rp 6.845 6.10) P2 Tahun 2011) X (1 + 0.004. Riau.10 = Rp11.458.752.10 = = = = Rp10. Kalimantan Barat.10) X (1 + 0.533.10 = Rp 6.280 5.752.761 Rp 6. Riau. Kalimantan Selatan.280 Rp 5.10 = Rp 7. Apabila SBPK pada tahun sebelum Tahun Pajak berjalan diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan.065 Rp Perhitungan: SBT P0 Tahun 2012 SBT P1 Tahun 2012 SBT P2 Tahun 2012 SBT P3 Tahun 2012 = = = = (SBT (SBT (SBT (SBT PO Tahun 2011) X (1 + 0.480 Rp 5.829.10 X 1. maka perhitungan SBT pada fase TBM Tahun Pajak berjalan berdasarkan SBPK tersebut.939.533.328 X 1.808 X 1.10 X 1.208.LAMPIRAN IID Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan CONTOH PENYESUAIAN SBT TAHUN 2011 BERDASARKAN SBT TAHUN 2010 (UNTUK TAHUN PAJAK 2011) WILAYAH III (Nanggroe Aceh Darussalam.458.065 Perhitungan: SBT P0 Tahun 2011 SBT P1 Tahun 2011 SBT P2 Tahun 2011 SBT P3 Tahun 2011 = = = = (SBT (SBT (SBT (SBT P0 P1 P2 P3 Tahun Tahun Tahun Tahun 2010) 2010) 2010) 2010) x (1 + 0.828. Sumatera Utara.372 Catatan: 1.089 Rp 6.10) = = = = Rp Rp Rp Rp 9.950 Rp 6.

Kepulauan Riau) .LAMPIRAN IIE Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan CONTOH PERHITUNGAN STANDAR BIAYA INVESTASI TANAMAN (SIT) KELAPA SAWIT TAHUN 2011 WILAYAH III (Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat. Riau. Sumatera Utara.

151 d. SBT TM1 = (SBT TBM3) x (IBT TM1) = Rp6.065 x 0.151 + Rp5.004. SBT TBM3 (P3) = 71% x (SBPK P3) = 71% x Rp 8.714.000 = Rp5.775.065 x 0.8613 = Rp5.950 = Rp16. SBT per ha pada fase TBM untuk Tahun Pajak berjalan.558 = Rp35. dan seterusnya SIT per ha untuk Tahun Pajak berjalan.PENJELASAN CONTOH PERHITUNGAN SIT KELAPA SAWIT TAHUN 2011 WILAYAH III (NAD.758 + Rp6.151 + Rp6.533.9052 = Rp5. Kalimantan Selatan.533.808 + Rp6. IBT yang digunakan sebagai dasar perhitungan SBT pada fase TM. SIT TM1 = (SIT TBM3) + (SBT TM1) = Rp29. (P1) = 71% x (SBPK P1) = 71% x Rp 7.004.752.Fase TM terdiri dari TM1 sampai dengan TM22.458.558 b.208.929 = Rp35.913.499.533. SIT TBM2 = (SIT TBM1) + (SBT TBM2)= Rp16. (7) (8) .208. dan seterusnya SIT per m2 sebagai dasar ketetapan nilai tanaman.881 f.500 x (1+0.086 c.929 d. Perhitungan SBT untuk fase TM sebagai berikut: a. Sumatera Utara.Fase tanaman dikelompokkan menjadi fase TBM dan fase TM.126.939.752.1) = Rp6.000 = Rp5.328 = Rp22. .758 b. SBT TBM2 (P2) = 71% x (SBPK P2) = 71% x Rp 7.065 (2) (3) (4) (5) (6) SBT per ha pada fase TM untuk Tahun Pajak berjalan.808 b. SBT TM3 = (SBT TBM3) x (IBT TM3) = Rp6.533.1)= Rp10.000 = Rp5.065 x 0.688.328 d.086 + Rp 6. SIT TBM1 = (SBT TBM1) = (SBT P0) + (SBT P1) = Rp1 0.626. Perhitungan SBT untuk fase TBM sebagai berikut: a.150 x (1+0.626.961.151 + Rp5. . Kepulauan Riau) KOLOM (1) PENJELASAN . SIT TM2 = (SIT TBM3) + (SBT TM2) = Rp29.215.768.499.412.730 = Rp35. SIT TBM3 = (SIT TBM2) + (SBT P3) = Rp22.966.644.1) = Rp6.961. SBT TM2 = (SBT TBM3) x (IBT TM2) = Rp6.533. Umur tanaman kelapa sawit mulai dari umur 1 tahun sampai dengan umur 25 tahun.499. Riau.215. SBT TBM1 (P0) = 71% x (SBPK P0) = 71% x Rp13.080 g. Kalimantan Barat. TBM2 (kegiatan P2) dan seterusnya.480 x (1+0.913.950. SIT TM3 = (SIT TBM3) + (SBT TM3) = Rp29.709 e.730 c.Fase TBM terdiri dari TBM1 (kegiatan P0 dan kegiatan P1).950 c.365. merupakan nilai tanaman sesuai umurnya.499.1) = Rp6.280 x (1+0.065 = Rp29.000 = Rp9.9514 = Rp6. dihitung dengan cara sebagai berikut: a.966. SPBK per ha yang diterbitkan oleh Ditjen Perkebunan pada tahun sebelum Tahun Pajak berjalan pada fase TBM.

Prosedur Kerja Pembentukan Basis Data Objek Pajak PBB Sektor Perkebunan 1.LAMPIRAN III Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan PROSEDUR PEMBENTUKAN BASIS DATA OBJEK PAJAK PBB SEKTOR PERKEBUNAN I. 13. 10. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama memerintahkan Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk meneliti SPOP dan LSPOP. 7. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama memerintahkan Penilai untuk melakukan penilaian dan pengisian Formulir Data Masukan (FDM) berdasarkan SPOP. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneliti dan memberikan usulan tindak lanjut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama. II. Proses selesai. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama meneliti dan mempelajari usulan Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan. 2. 8. Operator Console merekam SPOP dan FDM ke dalam aplikasi SISMIOP untuk Sektor Perkebunan. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menandatangani SPOP dan FDM kemudian meneruskannya ke Seksi Pengolahan Data dan Informasi. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi memerintahkan Operator Console untuk melakukan perekaman SPOP dan FDM ke dalam aplikasi SISMIOP untuk Sektor Perkebunan. Penilai melakukan penilaian. . Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menatausahakan dan mengarsipkan SPOP dan FDM. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama memerintahkan Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi untuk melaksanakan penyampaian Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) dan Lampiran Surat Pemberitahuan Objek Pajak (LSPOP). 15. 16. 3. Setelah menerima SPOP dan LSPOP yang telah diisi oleh Wajib Pajak. Gambaran Umum Prosedur operasi ini menguraikan tata cara pembentukan basis data Objek Pajak PBB Sektor Perkebunan yang dilaksanakan untuk mengadministrasikan Objek Pajak PBB Sektor Perkebunan yang baru. kemudian meneruskan SPOP dan FDM ke Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk ditata usahakan dan diarsipkan. 11. 5. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti. Account Representative menyampaikan Surat Penyampaian SPOP dan LSPOP kepada Wajib Pajak. 12. 4. mengisi FDM dan menandatangani SPOP dan FDM serta meneruskan ke Seksi Ekstensifikasi Perpajakan. Account Representative memantau pengembalian SPOP dan LSPOP oleh Wajib Pajak berdasarkan SOP Tata Cara Penerbitan Teguran Pengembalian SPOP. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama menyetujui dan menandatangani Surat Penyampaian SPOP dan LSPOP serta mengembalikan ke Seksi Pengawasan dan Konsultasi. 17. LSPOP dan Lembar Kerja Penilaian/Laporan Penilaian. memaraf konsep Surat Penyampaian SPOP dan LSPOP dan menyampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama. Wajib Pajak mengisi SPOP dan LSPOP dan menyerahkan kembali ke KPP Pratama. 6. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneruskan perintah kepada Account Representative. 9. 14. Account Representative membuat konsep Surat Penyampaian SPOP dan LSPOP.

.

.

Kepala Seksi PDI memerintahkan Operator Console untuk melakukan perekaman FDM ke dalam aplikasi SISMIOP untuk Sektor Perkebunan. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menatausahakan dan mengarsipkan SPOP dan FDM. II. 2. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama memerintahkan Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk melaksanakan pemutakhiran/pemeliharaan basis data Objek Pajak PBB Sektor Perkebunan. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mempelajari. kemudian meneruskan SPOP dan FDM ke Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk ditatausahakan dan diarsipkan. 6. Setelah itu Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan melaporkan dan memberikan usulan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama apakah pemutakhiran data dilaksanakan dengan penyampaian SPOP dan LSPOP kepada Wajib Pajak atau dilaksanakan dengan penilaian kembali berdasarkan data yang sudah ada pada basis data. 7. Operator Console merekam FDM ke dalam aplikasi SISMIOP untuk Sektor Perkebunan. Prosedur kerja dilanjutkan ke angka 4. Prosedur Kerja Pemutakhiran Basis Data Objek Pajak PBB Sektor Perkebunan 1. 8. 3. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama memerintahkan Penilai untuk melakukan penilaian dan pengisian Formulir Data Masukan (FDM) dan membuat salinan/copy SPOP dan LSPOP berdasarkan data pada basis data. 5. b. mengisi dan menandatangani salinan/copy SPOP dan FDM. maka prosedur kerja dilakukan sesuai dengan SOP/Tata Cara Tata Cara Pembentukan Basis Data Objek Pajak PBB Sektor Perkebunan. Proses selesai. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menandatangani salinan/copy SPOP dan FDM. . Apabila diperlukan penyampaian SPOP dan LSPOP kepada Wajib Pajak. kemudian meneruskan ke Seksi Pengolahan Data dan Informasi. 4. melakukan penelitian/analisis untuk mempersiapkan pemutakhiran/pemeliharaan basis data PBB Sektor Perkebunan. 9. Apabila tidak diperlukan penyampaian SPOP dan LSPOP kepada Wajib Pajak. kemudian meneruskan ke Seksi Ekstensifikasi Perpajakan.LAMPIRAN IV Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan PROSEDUR PEMUTAKHIRAN/PEMELIHARAAN BASIS DATA OBJEK PAJAK PBB SEKTOR PERKEBUNAN I. Gambaran Umum Prosedur operasi ini menguraikan tata cara pemutakhiran/pemeliharaan basis data Objek Pajak PBB Sektor Perkebunan. Penilai melakukan penilaian. a. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama meneliti dan mempelajari usulan Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan.

.

.. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150/PMK... PERTAMA : Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan untuk wilayah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak........ bahwa dalam rangka menindaklanjuti ketentuan dalam Pasal 3 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan PBB Sektor Perkebunan perlu ditetapkan Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan dengan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.....*) TAHUN .LAMPIRAN V Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan ---------... bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a........................... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3312) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62. KEDUA : Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan sebagaimana dimaksud Diktum Pertama ditetapkan sesuai dengan keadaan per tanggal 1 Januari tahun........ MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK ...*) TENTANG STANDAR INVESTASI TANAMAN SEKTOR PERKEBUNAN UNTUK WILAYAH KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK.............................. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569)...... Menimbang : a..... ....*) tentang Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan Untuk Wilayah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak........... Mengingat : 1.(2)................03/2010 tentang Klasifikasi dan Penetapan Nilai Jual Objek Pajak Sebagai Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan...... 3... b.. *)...... perlu menetapkan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.(1) TENTANG STANDAR INVESTASI TANAMAN SEKTOR PERKEBUNAN UNTUK WILAYAH KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK.....*) TAHUN............. *) Tahun .*) NOMOR........ Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan..kop surat---------KEPUTUSAN KEPALA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK.(2) KEPALA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK............. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68. 2... kekeliruan tersebut akan dibetulkan sebagaimana mestinya..........(2) . KETIGA : Apabila di kemudian hari ternyata diketahui terdapat kekeliruan dalam Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini...(2).*) adalah sebagaimana ditetapkan pada Lampiran Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini......................

....(2) ............(3) pada tanggal.............. ..... Salinan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini disampaikan kepada : 1.......... Direktur Jenderal Pajak. Ditetapkan di.......KEEMPAT : Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini berlaku untuk Tahun Pajak.. 2......................*) .......(4) Kepala Kantor................ .....(5) NIP ..... Para Kepala KPP Pratama di lingkungan Kanwil DJP....(6) Keterangan: *) diisi nama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak bersangkutan...............................

....... ..... Diisi dengan kota tempat Keputusan Kepala Kantor Wilayah diterbitkan... Diisi dengan nama pejabat yang berwenang menandatangani Keputusan Kepala Kantor Wilayah.. Diisi dengan tanggal Keputusan Kepala Kantor Wilayah diterbitkan... Diisi dengan Tahun Pajak.PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR STANDAR INVESTASI TANAMAN SEKTOR PERKEBUNAN UNTUK WILAYAH KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK....*) TAHUN... Diisi dengan NIP pejabat yang berwenang menandatangani Keputusan Kepala Kantor Wilayah.... Angka (1) Angka (2) Angka (3) Angka (4) Angka (5) Angka (6) : : : : : : Diisi dengan nomor Keputusan Kepala Kantor Wilayah yang diterbitkan..........

..........(1) A.*) TAHUN........ STANDAR INVESTASI TANAMAN SEKTOR PERKEBUNAN UNTUK WILAYAH KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK.......................... Tanaman Berumur Panjang JENIS TANAMAN FASE (2) Kelapa Sawit TBM1 TBM2 TBM3 TM1 TM2 TM3 TM4 TM5 TM6 TM7 TM8 TM9 TM10 TM11 TM12 TM13 TM14 TM15 TM16 TM17 TM18 TM19 TM20 TM21 TM22 Karet TBM1 TBM2 TBM3 TBM4 TBM5 TM1 TM2 TM3 TM4 TM5 TM6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UMUR (TAHUN) (3) STANDAR INVESTASI TANAMAN PER M2 (Rp) (4) NO............LAMPIRAN Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak .. *) tentang Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan Untuk Wilayah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.. (1) I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 ..............Tahun ....................

............ B............... ................. (2) NIP ..... JENIS TANAMAN (2) STANDAR INVESTASI TANAMAN PER M2 (Rp) (3) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak .... dst................................. (3) Keterangan : *) diisi nama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak bersangkutan..*) ..........12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 III TM7 TM8 TM9 TM10 TM11 TM12 TM13 TM14 TM15 TM16 TM17 TM18 TM19 TM20 TM21 TM22 TM23 TM24 TM25 Teh 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 IV Cengkeh dst......... Tanaman Berumur Pendek NO (1) 1 2 dst......... Tembakau Tebu dst........

. Diisi dengan nama pejabat yang berwenang menandatangani Keputusan Kepala Kantor Wilayah.PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR LAMPIRAN KEPUTUSAN KEPALA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK TENTANG STANDAR INVESTASI TANAMAN SEKTOR PERKEBUNAN Angka (1) Angka (2) Angka (3) : : : Diisi dengan Tahun Pajak. Diisi dengan NIP pejabat yang berwenang menandatangani Keputusan Kepala Kantor Wilayah.

..... MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK .. *).*) NOMOR...... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569)..... Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68........03/2010 tentang Klasifikasi dan Penetapan Nilai Jual Objek Pajak Sebagai Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan............. Menimbang : a................. .... kekeliruan tersebut akan dibetulkan sebagaimana mestinya. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan.*) adalah sebagaimana ditetapkan pada Lampiran Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini......... bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. KETIGA : Apabila di kemudian hari ternyata diketahui terdapat kekeliruan dalam Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini...... bahwa dalam rangka menetapkan Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan PBB Sektor Perkebunan perlu ditetapkan kembali Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan Tahun Pajak 2011 dengan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.kop surat---------KEPUTUSAN KEPALA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK....... Mengingat : 1........*) TENTANG STANDAR INVESTASI TANAMAN SEKTOR PERKEBUNAN UNTUK WILAYAH KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK ...... perlu menetapkan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak...*) tentang Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan Untuk Wilayah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak............ 2...*) TAHUN 2011.... PERTAMA : Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan untuk wilayah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak............ 3......*) TAHUN PAJAK 2011 KEPALA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK.....(1) TENTANG STANDAR INVESTASI TANAMAN SEKTOR PERKEBUNAN UNTUK WILAYAH KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK...*) Tahun Pajak 2011.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3312) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62... b. KEDUA : Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan sebagaimana dimaksud Diktum Pertama ditetapkan sesuai dengan keadaan per tanggal 1 Januari tahun 2011..........LAMPIRAN VI Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan ---------................ Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150/PMK.....

.......Nomor..(6) Keterangan: *) diisi nama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak bersangkutan...................... *) Ditetapkan di ......... ............................ Salinan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini disampaikan kepada : 1............(5) NIP.....tanggal ...... Para Kepala KPP Pratama di lingkungan Kanwil DJP............. KELIMA : Pada saat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini berlaku..............yang terkait dengan Sektor Perkebunan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku..................... 2...................KEEMPAT : Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ini berlaku untuk Tahun Pajak 2011................(4) Kepala Kantor................tentang.. maka Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.............(3) pada tanggal...... ... Direktur Jenderal Pajak.....

PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR KEPUTUSAN KEPALA KANTOR WILAYAH DJP TENTANG SIT Angka (1) Angka (2) Angka (3) Angka (4) Angka (5) Angka (6) : : : : : : Diisi dengan nomor Keputusan Kepala Kantor Wilayah yang diterbitkan. Diisi dengan NIP pejabat yang berwenang menandatangani Keputusan Kepala Kantor Wilayah. Diisi dengan tanggal Keputusan Kepala Kantor Wilayah diterbitkan. Diisi dengan nama pejabat yang berwenang menandatangani Keputusan Kepala Kantor Wilayah. . Diisi dengan Tahun Pajak. Diisi dengan kota tempat Keputusan Kepala Kantor Wilayah diterbitkan.

...................... Tanaman Berumur Panjang JENIS TANAMAN FASE (2) Kelapa Sawit TBM1 TBM2 TBM3 TM1 TM2 TM3 TM4 TM5 TM6 TM7 TM8 TM9 TM10 TM11 TM12 TM13 TM14 TM15 TM16 TM17 TM18 TM19 TM20 TM21 TM22 Karet TBM1 TBM2 TBM3 TBM4 TBM5 TM1 TM2 TM3 TM4 TM5 TM6 TM7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 UMUR (TAHUN) (3) STANDAR INVESTASI TANAMAN PER M2 (Rp) (4) NO........... (1) I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 ........ *) tentang Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan Untuk Wilayah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak..... STANDAR INVESTASI TANAMAN SEKTOR PERKEBUNAN UNTUK WILAYAH KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK.Tahun .......................*) TAHUN 2011 A..LAMPIRAN Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak .......

*) ........................ Tembakau Tebu dst........ .................. dst.13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 III TM8 TM9 TM10 TM11 TM12 TM13 TM14 TM15 TM16 TM17 TM18 TM19 TM20 TM21 TM22 TM23 TM24 TM25 Teh 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 IV Cengkeh dst.................. Tanaman Berumur Pendek NO (1) 1 2 dst..... B........... JENIS TANAMAN (2) STANDAR INVESTASI TANAMAN PER M2 (Rp) (3) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak ........ (3) Keterangan : *) diisi nama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak bersangkutan........................... (2) NIP ....

Diisi dengan nama pejabat yang berwenang menandatangani Keputusan Kepala Kantor Wilayah. Diisi dengan NIP pejabat yang berwenang menandatangani Keputusan Kepala Kantor Wilayah.PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR LAMPIRAN KEPUTUSAN KEPALA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK TENTANG STANDAR INVESTASI TANAMAN SEKTOR PERKEBUNAN Angka (1) Angka (2) Angka (3) : : : Diisi dengan Tahun Pajak. .

11. Prosedur Kerja Penyusunan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan 1. Kabid KEP meneruskan perintah kepada Kepala Seksi Bimbingan Pendataan dan Penilaian (Kasi Bimbingan Pedanil) untuk mengumpulkan data Satuan Biaya Pembangunan Kebun (SBPK) sebagai dasar penyusunan Standar Investasi Tanaman (SIT) Sektor Perkebunan. Penilai membuat konsep SIT dan mengkoordinasikan SIT tersebut kepada Kasi Bimbingan Pedanil. Jika Kabid KEP tidak menyetujui. Kasi Bimbingan Pedanil menerima perintah dan meneruskan perintah kepada Pelaksana Seksi Bimbingan Pendataan dan Penilaian (Seksi Bimbingan Pedanil) untuk mengumpulkan data SBPK. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kakanwil DJP) memerintahkan Kepala Bidang Kerjasama Ekstensifikasi dan Penilaian (Kabid KEP) untuk menyiapkan bahan penyusunan konsep Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan. Setelah berkoordinasi dengan Penilai. menandatangani konsep Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan. 4. 5. 10. Kabid KEP meneliti. . konsep Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan dikembalikan kepala Kabid KEP untuk diperbaiki. menyetujui. memaraf konsep Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan dan menyerahkan kepada Kakanwil DJP. 12. Kasi Bimbingan Pedanil meneliti. konsep Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan dikembalikan kepada Kasi Bimbingan Pedanil untuk diperbaiki. konsep Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan dikembalikan kepada Pelaksana untuk diperbaiki. Kakanwil DJP juga memerintahkan Penilai untuk menyusun dan berkoordinasi dengan Bidang Kerjasama Ekstensifikasi dan Penilaian (Bidang KEP) dalam penyusunan konsep Keputusan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan. Gambaran Umum Prosedur operasi ini menguraikan tata cara penyusunan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan. Kasi Bimbingan Pedanil memerintahkan Pelaksana untuk membuat konsep Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan. Pelaksana Seksi Bimbingan Pedanil membuat konsep Keputusan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan dan menyerahkan kepada Kasi Bimbingan Pedanil. Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan disampaikan Ke KPP Pratama. 7. II. menyetujui. Jika Kasi Bimbingan Pedanil tidak menyetujui. menyetujui.LAMPIRAN VII Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan PROSEDUR PENERBITAN KEPUTUSAN KEPALA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK MENGENAI STANDAR INVESTASI TANAMAN SEKTOR PERKEBUNAN I. memaraf konsep Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mengenai Standar Investasi Tanaman Sektor Perkebunan dan menyerahkan kepada Kabid KEP. 9. Kakanwil DJP meneliti. 2. 3. Data SBPK diserahkan kepada Penilai. Pelaksana Seksi Bimbingan Pedanil melaksanakan tugas mengumpulkan data SBPK untuk setiap jenis tanaman perkebunan yang ada di wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak setempat. Jika Kepala Kantor Wilayah DJP tidak menyetujui. 6. 8.

.

PERHITUNGAN NILAI TANAH II. PERHITUNGAN NILAI BANGUNAN .LAMPIRAN VIII Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan RINCIAN PERHITUNGAN NILAI SEKTOR PERKEBUNAN NOP ALAMAT OP DESA/KEL KECAMATAN KAB/KOTA PROVINSI NAMA WAJIB PAJAK : : : : : : : TAHUN PAJAK : NILAI TANAH PER M2 : NILAI BANGUNAN PER M2 : PBB TERUTANG : I.

........... ... Kepala Kantor Nama NIP ... PERHITUNGAN PBB TERHUTANG LUAS (M2) KELAS NJOP PER M2 2 3 4 JUMLAH NJOP 5 NJOP sebagai Dasar Pengenaan PBB = NJOPTKP (NJOP tidak Kena Pajak) = NJOP untuk penghitungan PBB = NJKP (Nilai Jual Kena Pajak) = PBB yang Terutang = PBB YANG HARUS DIBAYAR (Rp) 40%x 0..........5%x ......OBJEK PAJAK 1 BUMI BANGUNAN III.......

2. 3. II. 9. Pelaksana Seksi Pelayanan meneruskan berkas permohonan ke Kepala Seksi Pelayanan.LAMPIRAN IX Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-149/PJ/2010 Tentang : Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan PROSEDUR PENYELESAIAN PERMOHONAN PENCETAKAN RINCIAN PERHITUNGAN NILAI (RPN) I. Prosedur Kerja Permohonan Pencetakan Rincian Perhitungan Nilai (RPN) 1. Pelaksana Seksi Pelayanan menatausahakan dan menyampaikan RPN ke Wajib Pajak. Wajib Pajak mengajukan Surat Permohonan Pencetakan RPN melalui TPT. . Proses selesai. meneliti kelengkapan dan menerbitkan BPS kemudian meneruskan berkas permohonan ke Pelaksana Seksi Pelayanan. 5. Kepala KPP Pratama meneliti dan menandatangani RPN dan menyerahkan kepada Kepala Seksi PDI. 12. Kepala Seksi Pelayanan meneruskan RPN ke Pelaksana Seksi Pelayanan dan memerintahkan untuk ditatausahakan dan disampaikan ke Wajib Pajak. 11. Kepala Seksi Pelayanan meneruskan berkas permohonan kepada Kepala Seksi PDI. 10. Petugas TPT menerima Surat Permohonan Pencetakan RPN. 7. Kepala Seksi PDI meneruskan RPN ke Kepala Seksi Pelayanan. 8. 6. OC mencetak RPN dan menyerahkan kepada Kepala Seksi PDI. Kepala Seksi PDI meneliti dan memaraf dan meneruskan RPN ke Kepala KPP Pratama. Gambaran Umum Prosedur operasi ini menguraikan tata cara penyelesaian permohonan Wajib Pajak atas pencetakan Rincian Perhitungan Nilai (RPN) Objek Pajak PBB Sektor Perkebunan. Kepala Seksi PDI memerintahkan Operator Console mencetak RPN. 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful