Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Diskursus masyarakat madani memang bukan perkara yang baru lagi


untuk diperbincangkan, seiring dengan perjalanannya terdapat tumpang tindih
konsepsi dengan civil society yang di samarkan oleh para teolog barat. Adapun
konsep masyarakat madani sejatinya diadopsi dari konsep Rasulullah Saw
ketika membangun masyarakat madinah, telah mengalami pereduksian esensi
dan konsep antara konsep civilis society dengan konsep masyarakat madani
dalam perspektif Islam, yang sejatinya sangat kontradiktif.

Disini berupaya menghadirkan peran pendidikan Islam dalam membentuk


masyarakat madani dalam perspektif Al-Qur’an, secara rasional-filosofis
pendidikan Islam adalah bertujuan untuk membentuk al-insan al-kamal atau
manusia paripurna. Beranjak dari konsep ini, pendidikan Islam hendaknya
diarahkan pada dua dimensi, yaitu: pertama, dimensi dialektika horizontal,
kedua, dimensi ketundukan vertikal. Pada dimensi dialektika horizontal
pendidikan hendaknya dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan
konkrit yang terkait dengan diri, sesama manusia dan alam semesta. Untuk itu
akumulasi berbagai pengetahuan, keterampilan dan sikap mental merupakan
bekal utama dalam hubungannya dengan pemahaman tentang kehidupan
konkrit tersebut. Sedangkan pada dimensi kedua, pendidikan sains dan
teknologi, selain menjadi alat untuk memanfaatkan, memelihara dan
melestarikan sumber daya alam, juga hendaknya menjadi jembatan dalam
mencapai hubungan yang abadi dengan Sang Pencipta.1 Hal ini mengambil titik
tolak dari aktualisasi konsep Rasulullah pada masyarakat madinah. Masyarakat

1A.M. Saefuddin, et al, Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi, (Mizan,


Bandung: 1991), hlm, 126. serta Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis,
Teoritis dan Praktis, (Ciputat Pers, Jakarta: 2002), hlm, 79

1
2

madani merupakan konsep yang mengalami proses yang sangat panjang.


Masyarakat madani muncul bersamaan dengan adanya proses modernisasi,
terutama perlu strategi dalam upaya pengembangan konsep masyarakat islam,
dengan pada saat transformasi menuju masyarakat modern. Maka perlu
menghadirkan peranan penting pendidikan yang menjadi konsep dan pondasi
msayarakat Islam yang madani dalam perspektif Islam yaitu, msyarakat Islam
yang humanis, Islam yang moderat, dan masyarakat Islam yang toleran.

Setiap orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera


sebagaimana yang dicita-citakan masyarakat Indonesia, yaitu adil, sejahtera
dan makmur bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk mencapainya berbagai
sistem kenegaraan muncul seperti demokrasi, cita-cita suatu masyarakat tidak
mungkin dicapai tanpa mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini
terlaksana apabila semua bidang pembangunan bergerak secara terpadu yang
menjadikan manusia sebagai subjek. Pengembangan masyarakat sebagai
sebuah kajian keilmuan dapat menyentuh keberadaan manusia yang
berperadaban. Pengembangan masyarakat merupakan sebuah proses yang
dapat merubah watak, sikap dan prilaku masyarakat ke arah pembangunan
yang di cita-citakan.

Islam sebagai sebuah agama menawarkan konsep ajaran yang


komprehensif dan integral, tidak hanya pada persoalan ubudiyah (ibadah)
khusus seperti shalat, puasa dan lainnya, tetapi juga menyangkut kode etik
sosial yang digunakan manusia sebagai perangkat penataan sosial yang
diarahkan pada kemaslahatan manusia itu sendiri. Al-Qur’an dan Hadits adalah
representasi dari ajaran Islam yang komprehensif tersebut, yang di dalamnya
memuat ajaran yang lengkap dalam berbagai aspek.2

Begitu juga dalam hal pendidikan (tarbiyah) dan sosial kemasyarakatan


dalam konteks hablumminannas, karena kita sebagai makhluk sosial kita harus
bisa menjalin hubungan baik dengan masyarakat lain dalam mewujudkan
2Harun Nasution, “Islam Rasional”,( Mizan, Bandung : 1995), hlm. 25
3

masyarakat madani yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman bagi


seluruh umat manusia di alam raya.

Pembentukan masyarakat madani menjadi penting mengingat secara


subtansial bahwa masyarakat madani itu merupakan masyarakat yang
demokratis dan beradab.3 Masyarakat madani diprediski sebagai masyarakat
yang berkembang sesuai dengan potensi budaya, adat istiadat, dan agama.
Demikian pula bangsa Indonesia pada era reformasi ini diarahkan untuk
menuju masyarakat madani, untuk itu kehidupan manusia Indonesia akan
mengalami perubahan yang fundamental yang tentu akan berbeda dengan
kehidupan masayakat pada era orde baru. Kenapa, karena dalam masyarakat
madani yang dicita-citakan, dikatakan akan memungkinkan terwujudnya
kemandirian masyarakat, terwujudnya nilai-nilai tertentu dalam kehidupan
masyarakat, terutama keadilan, persamaan, kebebasan dan kemajemukan
(pluraliseme) , serta taqwa, jujur, dan taat hukum.4

Konsep masyarakat madani merupakan tuntutan baru yang memerlukan


berbagai torobosan di dalam berpikir, penyusunan konsep, serta tindakan-
tindakan. Dengan kata lain, dalam menghadapi perubahan masyarakat dan
zaman, diperlukan suatu paradigma baru di dalam menghadapi tuntutan-
tuntutan yang baru. Karena apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi
dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha yang dijalankan
akan memenuhi kegagalan.

Pendidikan sebagai sarana terbaik yang didisain untuk menciptakan suatu


generasi baru pemuda-pemudi sejak dini yang tidak akan kehilangan ikatan
dengan tradisi mereka sendiri tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara
intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari

3Azyumardi Azra, “Menuju Masyarakat Madani, Gagasan, Fakta dan Tantangan”,


(Bandung Remaja, Rosdakarya, 1999), hlm, 5

4Masykuri Abdillah, “Islam dan Masyarakat Madani”, Koran Harian Kompas: 1999,
Sabtu, 27 Februari.
4

adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia.


Oleh karena itu peran pendidikan sangat diperlukan untuk mempersiapkan
individu dan masyarakat, sehingga memiliki kemampuan dan motivasi serta
berpartisipasi secara aktif dalam meng aktualisasikan masyarakat madani.

Menurut Ibn Khaldun memandang jiwa manusia sebagai sebuah bagian


integral dari realitas lainnya, pandangannya tentang jiwa manusia pada
dasarnya sefaham dengan tiga teori yang berkembang saat ini seperti nativisme
yang beranggapan bahwa anak lahir membawa bakat kesanggupan dan sifat-
sifat serta ketentuan-ketentuan, empirisme yang beranggapan bahwa jiwa
manusia dalam keadaan kosong sejak lahir dan, konvergensi yang beranggapan
bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan
lingkungan.5 Namun terdapat perbedaan yang mendasar dari ketiga teori
tersebut, menurut Ibn Khaldun potensi manusia pada dasarnya adalah baik dan
berakhlaq tauhid. Hanya dasar keimananlah yang sudah dimilikinya.6

Senada dengan ungkapan imam Al-Ghazali bahwa mendidik dalam Islam


bermakna menyiapkan anak untuk dapat menciptakan sejarah yang gemilang
secara dini, hal ini kembali dikutip oleh Hasan Langgulung sebagai berikut :

“Sesungguhnya cara yang digunakan untuk melatih kanak-kanak


merupakan hal yang paling pentig dan utama. Kanak-kana merupakan
amanah dan tanggung jawab ditangan orang tuanya, jiwanya suci murni
merupakan permata mahal yang bersahaja dan bebas dari ukiran dan
gambaran, dan ia bisa menerima setiap ukiran dan cenderung kepada
apa yang dicenderungkan kepadanya”.7

5Ibnu Khaldun,”Muqaddimah” (cet. VI, terjemah oleh Ahmadie Thaha, Jakarta : Pustaka
Firdaus, 2006) hlm. 533

6Ibid, hlm, 553

7Hasan Langgulung, “Pendidikan dan Peradaban Islam, Suatu Analisa Sosio-


Psikologi,” (Pustaka, Al-Husna, Jakarta 1985), hlm, 19
5

Masyarakat madani berawal dari pengkaderan anak-anak yang mengukir


sejarah yang bisa mencipkan peradaban yang gemilang, orang timur di saat itu
dipandang sangat hebat dan lebih maju dari orang barat, sehingga banyak di
antara ilmuan barat yang pergi ke timur untuk memperdalam ilmu pengetahuan
di antaranya ilmu pendidikan yang sangat di butuhkan oleh manusia. Maka jika
diperhatikan dengan seksama bahwa pendidikan memegang peranan penting
dalam perkembangan manusia. Manusia sebagai makhluk hewani juga
mempunyai sifat Al-Hayawaniyah seperti Al-Hissi (rasa), Al-Harakat (gerak),
memerlukan Al-Gizza (makanan) dan Al-Kanni (tempat tinggal), yang bisa
membedakan dengan makhluk lain karena manusia mempunyai akal fikiran.
Sebagaimana ungkapan Ibn Khaldun dalam pembicaraan, yaitu :

“Manusia adalah makhluk berfikir dan itu sebagai pembeda antara dia
dengan binatang, kecakapannya memperoleh penghidupan dalam
kehidupan bersama dan kemampuannya mempelajari tentang Tuhan
yang disembahnya serta wahyu-wahyu yang diterima para rasul-Nya,
sehingga semua binatang tunduk dan berada dalm kekuasaannya.
Melalui kesanggupannya untuk berfikir itulah, Tuhan mengaruniai
manusia keunggulan di atas makhluk-makhluk-Nya yang lain.”8

Dengan potensi itu manusia dapat mencari kebutuhan hidup, dapat


berinteraksi dengan sesamanya untuk tujuan kesejahteraan hidup bersama. Dan
juga dengan potensi itu manusia dapat menerima ilmu pengetahuan dari Allah
yang disampaikan oleh para Nabi kepadanya.9 Setiap manusia diberikan
potensi baik dan buruk, tinggal manusia saja yang memilih dan mengikuti
potensi mana yang mereka pilih, hal ini juga telah di jelaskan dalam Al-Qur’an
surat Asy-Syam ayat 8 :

  

 
8Ibn Khaldun, “Al-Muqaddimah”,..Op.Cit, hlm, 521

9Ibn Khaldun, “Al-Muqaddimah”, (th,1930), hlm, 34


6

Artinya : Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya.10

Berdasarkan ayat tersebut dapat di perhatikan bahwa manusia


mempunyai pemikiran kepada kebaikan dan keburukan, manusia dapat
berkembang dan maju lewat ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan atau
manusia dapat berkembang sesuai dengan potensi yang mereka miliki,
sesungguhnya Allah telah membedakan manusia karena kesanggupannya
berfikir, yang merupakan sumber dari segala kesempurnaan dan puncak
kemuliaan,11 demikian pula bahwa pendidikan dapat melahirkan kebudayaan
yang cemerlang dan masyarakat madani yang adil, makmur dan penuh
ketentraman.

Secara alamiah manusia berkembang tahap demi setahap, proses tersebut


berlangsung secara berkesinambungan sejak masa kandungan hingga
meninggal dunia. William Stern seorang tokoh filsapat berpendapat bahwa
pembawaan dan lingkungan juga memiliki pengaruh yang kuat dalam
menentukan perkembangan manusia.12 Pendapat inilah yang hingga sekarang
masih banyak dipercaya sebagai konsep yang diterima baik oleh para pemikir
barat dan Islam, sekilas memang teori ini memiliki kelebihan yang dapat
diterima dibandingkan dengan dua teori terdahulunya yaitu nativisme dan
empirisme. Sejalan dengan itu pendidikan bertujuan mengoptimalkan
pertumbuhan dan perkembangannya, karena itu Ibnu Khaldun meletakkan
pendidikan dalam kerangka peradaban, pendidikan merupakan bagian integral
dari peradaban itu sendiri.

Peradaban sendiri adalah isi pendidikan, peradaban adalah konsekuensi


logis kegiatan manusia. Melalui kemampuan berpikirnya, manusia bukan

10Cordoba, “Al-Qur’an dan Terjemahnya”, Asy-Syams, Ayat, 8

11Ibn Khaldun, “Al-Muqaddimah” (Terjemahan Ahmadie Thaha, 2011), hlm, 521

12Ngalim Purwanto, “Psikologi Pendidikan”, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990)


hlm, 15
7

hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatiannya kepada


berbagai cara memperoleh makna hidup, daya tanggap olah pikir manusia
dibentuk oleh lingkungan dan alam, hingga membentuk suatu sistem.
Kristalisasi sistem itulah yang disebut kebudayaan.13

Oleh sebab itu pendidikan adalah sebuah proses perubahan, pembentukan


generasi penerus, proses mengatasi masalah yang terjadi pada saat ini dan
perencanaan masa yang akan datang, yang dapat menentukan kualitas sebuah
kaum atau bangsa. Pendidikan memiliki arti penting bagi keberadaan suatu
kebudayaan dan membantunya mempertahankan pandangan dunia yang
dimilikinya, dengan adanya pendidikan sebuah bangsa akan tetap eksis,
melalui pendidikan pula warisan budaya, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai atau
norma suatu kelompok sosial tertentu bisa tetap terjaga dan kelangsungan
hidup mereka bisa terjamin.

Pertumbuhan dan perkembangan ilmu pendidikan telah memberikan


sumbangan besar dalam mencerdaskan kehidupan manusia, baik skala
masyarakat maupun skala berbangsa dan bernegara. 14 Pendidikan memiliki
hubungan yang erat dengan intelektualisme yang tugas utamanya adalah
menyediakan suatu forum untuk melakukan suatu analisis dan menyampaikan
hasilnya dengan lugas dan kritis, masa depan Islam secara tidak langsung akan
ditentukan oleh kemampuan umat Islam yang bermulai dari masyarakat.

Sejak kelahirannya, Islam memberikan perhatian khusus terhadap


pendidikan. Ayat-ayat dan hadits serta bukti sejarah telah memberikan sebuah
keyakinan bahwa Islam memiliki perhatian yang tinggi terhadap pendidikan. 15
Serta keutamaan ilmu dalam Islam yang dilakukan oleh beberapa ulama yang

13Warul Walidin, “Konstelasi Pemikiran Pedagogik Ibnu Khaldun”. (Yogyakarta, Suluh


Press, 2003), hlm, 85

14Abuddin Nata “ Studi Islam Komprehensif” (cet I, Kencana 2011), hlm 223

15Ibid, hlm, 223


8

terdahulu antara lain Al-Ghazali, Ibn Maskawaih, Ibn Sina, Al-Biruni, Ibn
Khaldun dan sebagainya.16

Dengan ilmu pengetahuan juga bisa mengangkat darjat dan kemuliaan


seseorang baik secara bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah
ayat 11 :

    ...


  
    
  

Artinya : Allah akan meninggikan darjat orang-orang yang beriman di


antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.17

Berdasarkan ayat di atas bahwa Allah memberikan tempat yang mulia


bagi orang-orang yang berilmu dan beriman, ini sangat jelas bahwa jika suatu
masyarakat bisa terangkat darjatnya bilamana masyarakat tersebut bisa
mendorong dirinya kepada kebaikan sehingga tercapai perubahan-perubahan
positif yang mampu menjadi masyarakat madani, 18 karena salah satu
pembahasan yang paling mencolok dalam Al-Qur’an ialah masalah
masyarakat, bahkan tidak berlebihan jika Al-Qur’an dikatakan sebagai kitab

16Klasifikasi ilmu dipandang penting oleh ilmuwan Muslim, bukan saja untuk men-
getahui lingkup pengetahuan manusia, tetapi juga untuk melihat antar hubungan satu cabang ilmu
dengan yang lainnya. Dalam klasifikasi ilmu itu akan tercermin urut-urutan ilmu dilihat dari segi
kepentingannya. Mulyadhi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam Bunga Rampai Dari Chicago,
(Jakarta :Paramadina, 2000), hlm, 117

17Cordoba, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Al Mujadilah Ayat, 11

18Pada zaman Yunani terdapat negara-negara kota seperti Athena dan Sparta disebut
Sivitas Dei, suatu kota Ilahi dengan peradaban yang tinggi. Masyarakat beradab lawan dari pada
masyarakat komunitas yang masih liar. Adapun masyarakat madani berasal dari bahasa Arab
zaman Rasulullah saw. yang artinya juga sama dengan masyarakat kota yang sudah disentuh oleh
peradaban baru (maju), lawan dari masyarakat madani adalah masyarakat atau komunitas yang
masih mengembara yang disebut badawah atau pedalaman (badui).
9

yang banyak membahas hukum-hukum yang kerkenaan dengan masyarakat.


Pandangan umum pengertian dari masyarakat itu sendiri ialah sekelompok
orang, padanan katanya dalam bahasa ingris community, yang berarti
sekelompok orang.19 Sebagai sebuah masyarakat (community) harus terbuka,
egaliter, dan toleran atas landasan nilai-nilai etika moral transendental yang
bersumber dari wahyu Allah.

Konsep masyarakat madani merupakan penerjemahan atau pengislaman


konsep civil society,20 orang yang pertama kali mengungkapkan istilah ini
adalah Anwar Ibrahim dan dikembangkan di Indonesia oleh Nurcholish
Madjid. Pemaknaan civil society sebagai masyarakat madani merujuk pada
konsep dan bentuk masyarakat Madinah yang dibangun Nabi Muhammad Saw.
Masyarakat Madinah dianggap sebagai legitimasi historis cikal bakal
pembentukan civil society dalam masyarakat muslim modern.

Masyarakat ideal lebih dikenal dengan masyarakat madani (civil society)


yakni masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah setelah Hijrah ke Madinah,
karakteristik masyarakat madani yang dibangun Rasulullah mempunyai
kemiripan dengan masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman suku,
budaya dan agama, maka pola pembangunan masyarakat madani di Indonesia
di masa sekarang bisa bahkan sebaiknya menuju model masyarakat yang
dibangun pada zaman Rasulullah Saw. Meskipun masyarakat madani bukan
merupakan tuntutan baru yang memerlukan berbagai torobosan di dalam
berpikir, penyusunan konsep, serta tindakan-tindakan, dalam menghadapi
perubahan masyarakat dan zaman, diperlukan suatu paradigma baru di dalam
menghadapi tuntutan-tuntutan yang baru, apabila tantangan-tantangan baru

19Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 2015

20Makna Civil Society “Masyarakat Sipil” adalah terjemahan dari civil society. Konsep
civil society lahir dan berkembang dari sejarah pergumulan masyarakat. Cicero adalah orang Barat
yang pertama kali menggunakan kata “societies civilis” dalam filsafat politiknya. Konsep civil
society pertama kali dipahami sebagai negara (state). Secara historis, istilah civil society berakar
dari pemikir Montesque, JJ. Rousseau, John Locke, dan Hubbes. Ketiga orang ini mulai menata
suatu bangunan masyarakat sipil yang mampu mencairkan otoritarian kekuasaan monarchi-absolut
dan ortodoksi gereja.
10

tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha


yang dijalankan akan menemui kegagalan.

Optimisme peranan pendidikan sangat diperlukan dalam menerobos


konsep dasar pembaharuan pendidikan menuju masyarakat madani yang di
idamkan, ini didasarkan pada bahwa manusia mempunyai potensialitas yang
dapat ditumbuh kembangkan melalui pendidikan. Sehingga pendidikan
merupakan salah satu sarana transformasi budaya, yang dapat mengubah
tatanan hidup manusia lebih baik.

Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan dalam Islam mempunyai


posisi yang tinggi dan penting sekali, pendidikan menjadi bagian yang tidak
dapat dipisahkan dari Islam kerana merupakan tuntutan dan kewajiban. Dalam
pandangan Islam mencari ilmu dan mengajarkannya adalah suatu kewajiban
yang sangat mulia, oleh karena itu mencari ilmu adalah suatu kewajiban bagi
setiap muslim.

Lebih tegas lagi Islam mewajibkan bagi setiap orang muslim dan
muslimat untuk menuntut ilmu seperti dalam hadits Nabi Muhammad Saw :

‫طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة‬

Artinya : Menuntut ilmu itu adalah kewajiban atas setiap orang Islam, baik
laki-laki mahupun perempuan”.21

Pendidikan juga dapat memberikan solusi dan mengatur hubungan


manusia dengan Tuhan, dengan alam dan sesama manusia dalam mewujudkan
kehidupan yang harmonis dan bahagia. Karena manusia sebagai makhluk sosial
pada hakikatnya harus bermasyarakat untuk mencapai kebutuhan hidup, sebab
tidak mungkin manusia bisa hidup dan menghadapi kehidupannya secara
individu. Setiap orang harus tolong menolong dalam mencapai kesempurnaan,
seusuai dengan ungkapan Al-Farabi :
21HR : Ibn Majah, Sunan Ibn Majah.
11

“Manusia secara fitrahnya memerlukan hidup bermasyarakat. Mereka


perlu bermasyarakat untuk mewujudkan dan mencapai kemakmuran di
dunia. Masyarakat yang sempurna ialah masyarakat yang saling tolong-
menolong dalam mencapai kebahagian (Al-Sa‘adah) yang berada di Al-
Madinah Al-Fadilah dan dinamakan masyarakat Fadilah”.22

Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi


nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan
teknologi. Allah Swt telah memberikan gambaran tentang masyarakat madani
dalam surat Saba’ ayat 15 :

   


  
    
   
   
  


Artinya : “Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di


tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan
dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah
olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan
bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang
baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun".23

Meski Al-Qur’an tidak menyebutkan secara langsung bentuk masyarakat


yang ideal atau madani namun tetap memberikan arahan atau petunjuk
mengenai prinsip-prinsip dasar dan pilar-pilar yang terkandung dalam sebuah
masyarakat yang baik. Secara faktual, sebagai cerminan masyarakat yang ideal
kita dapat meneladani perjuangan Nabi Muhammad Rasulullah Saw

22Abu Nasr Muhammad Al-Farabi, “Ara’ Ahli Al-Madinah Al Fadilah”,(Libanon-Beirut,


Dar Al-Masyariq, 2002), hlm, 117

23Cordoba, “Al-Qur’an dan Terjemahnya”, As-Saba’ Ayat, 15


12

mendirikan dan menumbuh kembangkan konsep masyarakat madani di


Madinah,24

Di dalam Piagam Madinah juga tidak disebutkan bentuk Negara, yang


ada hanya aturan-aturan bersama di antara komponen masyarakat Madinah
untuk menjaga keamanan Madinah dari serbuan pihak luar.25 Perbincangan
yang fokus pada konsep Islam mengenai sistem politik dan bentuk
pemerintahan muncul belakangan pada Daulah Umayyah dan Daulah
Abbasiyah.26

Meskipun demikian setidaknya dapat kita uraikan ada dua sejarah


masyarakat madani yang pernah ada semenjak beberapa abad silam, yaitu :

1. Masyarakat Saba’ (kaum saba’), yaitu masyarakat di masa Nabi Sulaiman,


dimana keadaan masyarakatnya saat itu sesuai Al-Qur’an, mendiami suatu
negeri yang baik, subur, dan nyaman. Negeri yang indah itu merupakan
wujud kasih sayang Allah Swt kepada masayarakat saba’. Karena itu Allah
memerintahkan masyarakat saba’ untuk bersyukur kepada Allah yang telah
menyediakan dan memberikan rizki dan kebutuhan hidup mereka

2. Masyarakat Madinah setelah terjadi perjanjian Madinah (piagam madinah)


antara Rasullullah Saw beserta umat Islam dengan penduduk Madinah
yang beragama Yahudi dan beragama Watsani dari kaum Aus dan Khazraj.
Perjanjian Madinah berisi kesepakatan ketiga unsur masyarakat untuk
saling menolong, menciptakan kedamaian dalam kehidupan sosial,
24Negara Madinah, persoalan penyebutan pemerintahan Nabi di Madinah sebagai
Negara atau bukan, dan juga apakah bentuk perjanjian Nabi dengan masyarakat Madinah yang
disebut Shahifah atau Piagam Madinah itu sebagai konstitusi atau bukan masih dalam perdebatan.
Ahmad Baso, Civil Society Versus Masyarakat Madani: “Arkeologi Pemikiran Civil Society
Dalam Islam Indonesia”, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), hlm, 331-351.

25Aksin Wijaya, “Hidup Beragama Dalam Sorotan Piagam Madinah dan UUD 1945”,
(Ponorogo: STAIN Press, 2009), hlm, 23

26Masykuri Abdullah, “Negara Ideal Menurut Islam dan Implementasinya Pada Masa
Kini”, dalam (Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus: Editor) Islam, “Negara dan Civil Society,
Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer”, (Jakarta: Paramadina, 2005), 79.
13

menjadikan Al-Qur’an sebagai konstitusi dan undang-undang, menjadikan


Rasullullah Saw sebagai pemimpin dengan ketaatan penuh terhadap
keputusan-keputusannya, dan memberikan kebebasan bagi penduduknya
untuk memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya.27

Dalam pandangan Ibn Khaldun sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-


Muqaddimah sebagai salah satu karya terbesarnya menjelaskan bahwa ciri-ciri
masyarakat modern itu sudah lama ada sebelum revolusi eropa, pada abad
pertengahan Islam sudah terlebih dahulu lebih maju dari eropa. Ibnu Khaldun
sendiri telah membahas dan memperkenalkan terkait dengan beberapa konsep
penting tentang sosiologi dan kemasyarakatan yang ideal. Namun beliau tidak
hanya menjelaskan tentang sosiologi kemasyarakatan saja akan tetapi beliau
mengemukakan betapa pentingnya masalah pendidikan dalam membangun
masyarakat yang ideal.28

Konsep masyarakat madani adalah sebuah gagasan yang menggambarkan


maasyarakat beradab yang mengacu pada nila-inilai kebajikan dengan
mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip interaksi sosial yang
kondusif bagi peneiptaan tatanan demokratis dalam kehidupan bermasyarakat
dan bernegara. Kita juga harus meneladani sikap kaum Muslim di zaman
Rasulullah yang tidak mendikotomikan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Mereka tidak meninggalkan dunia untuk akhiratnya dan tidak meninggalkan
akhirat untuk dunianya. Mereka bersikap seimbang (tawassuth) dalam
mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat. Jika sikap yang melekat pada

27Islam tidak mengharuskan adanya lembaga bernama negara dalam mendakwahkan


Islam, tetapi Islam juga tidak menolak adanya negara. Karena itu, Islam tidak menetapkan bentuk
negara tertentu. Islam menghargai bentuk negara apapun selama Islam diberi ruang untuk eksis,
apalagi tanpa negara pun, Islam bisa didakwahkan secara kultural, sebagaimana dakwah Nabi di
Makkah dan dakwah melalui para pedagang yang masuk ke Nusantara diantaranya dakwah Sunan
Kalijaga dan Muhammadiyah serta NU di Indonesia.

28Masykuri Abdullah,…op.cit, hlm, 80


14

masyarakat Madinah mampu diteladani umat Islam saat ini, maka kebangkitan
Islam hanya menunggu waktu saja.

Sedangkan menurut Said Aqil Siraj menjelaskan piagam madinah pada


tahun 622 H.29 Piagam ini dari Nabi Muhammad Saw, berlaku bagi kaum
mukminin dan muslimin dari kaum Qurays dan Yasrib serta kelompok-
kelompok yang turut bekerja sama dan berjuang bersama-sama mereka, yang
berbunyi sebagai berikut:

1. Bahwa mereka adalah bangsa yang satu dari umat manusia

2. Golongan migran (kaum muhajirin) kaum Qurays sesuai adat kebiasaan


mereka, saling membahu mebayar diat di kalangan mereka, serta
membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukimin

3. Bani ‘Auf sesuai adat kebiasaan mereka, saling membahu mebayar diat di
kalangan mereka sebagaimana semula, serta setiap kelompok mebayar
tebusan tawanan secara baik dan adil di kalangan mukmin

4. Bani Sa’idah, bani Harits, bani Jusyam, bani Najjar, bani Amr ibn ‘Auf,
bani Nabit, bani ‘Aus sesuai dengan ada kebiasaan mereka, saling
membahu mebayar diat di kalangan mereka sebagaimana semula,serta
setiap kelompok mebayar tebusan tawanan secara baik dan adil di
kalangan mukmin

5. Orang-orang beriman tidak boleh membiarkan orang yang tengh bert


mennggung utng di kalangan mereka, tetapi hendaknya membantu secara
baik penyelesaian diat atau tebusan

6. Seorang beriman tidak diperkenankan membuat persekutuan dengan orang


beriman lain tanpa melalui pemufakatan darinya

29Masyhur Effendi dan Taufani S. Evandri, “ HAM, Dalam Dinamika/Dimensi Hukum,


Politik, Ekonomi, dan Sosial” (Ghalia Indonesia, Bogor : 2010) hlm, 272-273
15

7. Orang-orang beriman berkomitmen pada keimanannya (takwa)harus


menentang orang yang di antara mereka menuntut secara zalim, jahat,
melakukan permusuhan, atau kerusakan di kalangan orang-orang beriman,
kekuatan mereka bersama-sama melawannya, sungguhpun dia anak salah
seorang mereka

8. Orang beriman tidak boleh membunuh orang beriman lainnya karena


membunuh orang kafir, ia juga tidak boleh membantu orang kafir untuk
membunuh orang beriman

9. Perlindungan Allah itu satu, yaitu terhadap tentangga dekat mereka, orang-
orang beriman saling membantu sesame mereka

10. Orang-orang Yahudi beserta pemeluknya berhak mendapatkan


pertolongan dan santunan, sepanjang tidak berbuat zalim atau menentang
komitmen

11. Perdamaian orng-orang berimn adalah satu. Seorang di antara mereka


tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta yang lainnya di dalam
suatu pertempuran (jihad) fi sabilillah, kecuali atas dasar kesamaan dan
keadilan di antara mereka

12. Setiap pasukan yang berperang dalam barisan kita harus saling bekerja
sama

13. Orang beriman mebalas pembunuh orang beriman lain dalam


pertempuran fi sabilillah. Orang-orang beriman yang selalu berkomitmen
pada keimanannya (takwa) berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus

14. Bahwasanya prang musyrik di Madinah di larang melindungi harta dan


jiwa orang musyrik Qurays serta tidak boleh bercampur tangan melawan
orang-orang beriman
16

15. Bahwasanya, siapa saja yang membunuh orang beriman dengn cukup
bukti atas perbuatannya harus di hukum bunuh, kecuali wali si terbunuh
rela (menerima diat). Semua orang beriman harus bersatu dalam
menghukumnya

16. Bahwasanya, tidak diperkenankan bagi orang beriman yang melegitimasi


piagam ini serta beriman kepada Allah dan hari akhir untuk membantu
pembunuh dan member tempat kediaman kepadanya. Siapa yang member
bantuan atau menyediakan tempat tinggal bagai pelanggar itu, akan
mendpat kutukan dn kemurkaan Allah di hari akhirat disertai penolakan
atas penyesalan dan tebusannya

17. Apabila kamu sekalian berselisih tentang suatu perkara, penyelesaiannya


dikembalikan kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw

18. Yahudi bersama-sama orang mukmin saling memikul biaya perperangan

19. Yahudi dan bani ‘Auf sebangsa dengan orang-orang beriman. Bagi
Yahudi agama mereka, bagi muslim juga demikian. Kebebasan semacam
ini juga bagi para pengikut mereka, kecuali bagi yang zalim dan jahat.
Hal demikian yang akan merusak diri dan keluarganya

20. Yahudi dan bani Najjar, Harits, Sa’idah, Jusyam, Aus dan Sa’labah juga
diperlakukan sebagaimana Bani ‘Auf, kecuali mereka yang zalim dan
khianat, maka hukumannya hanya berlaku bagi dirinya serta keluarganya

21. Etnis Jafnah dari Sa’labah dieprlakukan sama dengan Bani Sa’labah

22. Bani Suthaibah diperlakukan sama dengan Bani ‘Auf. Kebaikan itu tidak
sama dengan kejahatan

23. Para pengikut Sa’labah dieperlakukan sama seperti Sa’labah


17

24. Kerabat Yahudi di luar Madinah diperlakukan sama seperti mereka di


Madinah

25. Bahwa tidak seorangpun dibenarkan keluar untuk berperang, kecuali


seizin Nabi Muhammad Saw. Ia tidak boleh dihalangi menuntut balas
atau luka yang dibuat orang lain. Siapa yang berbuat jahat(membunuh)
balasan kejahatan itu menimpa diri dan keluarga, terkecuali ia teraniaya.
Sungguh Allah telah membenarkan ketentuan ini

26. Orang yahudi dan Islam saling membantu menghadapi musuh


masyarakat dalam piagam ini. Mereka saling member I saran/nasehat
serta memenuhi janji lawan. Seseorang tidak menanggung hukuman atas
kesalahan sekutunya, sehingga pembelaan diberikan kepada pihak yang
teraniaya

27. Orang yahudi dan Islam saling memikul biaya dalam perperangan

28. Kota Yatsrib(madinah) merupakan tanah haram (tanah suci yang


dihormati) bagi warga di bawah panji piagam madinah

29. Jaminan hanya bisa diberikan atas izin ahlinya

30. Orang yang mendapatkan jaminan diperlukan seperti diri penjamin,


sepanjang tidak bertindak merugikan dan berkhianat

31. Jika terdapat perselisihan di antara komponen pengikut piagam ini yang
dikhawatirkan menimbulkan bahaya, penyelesaiannya dikembalikan
kepada Allah Swt dan Muhammad Saw. Allah tuhan yang memelihara
piagam madinah

32. Bahwa tidak ada jaminan bagi kaum Qurays Makkah beserta pengikutnya

33. Para pendukung piagam inisaling membantu dalam menghadapi


penyerangan atas tanah Yatsrib (madinah)
18

34. Jika para pendukung piagam ini tidak di ajak damai, kemudian
memenuhi perdamaian serta melaksanakannya, maka perdamaian itu
harus di junjung tinggi. Karena itu, jika orangorang beriman di ajak
damai seperti itu, wajib dipenuhi, terkecuali terhadap orang yang
menyerang agama. Setiap orang wajib menunaikan tugas dan kewajiban
masing-masing

35. Yahudi bani Aus beserta pengikutnya memiliki hak dna kewajiban seperti
komponen lain pendukung piagam ini. Kebaikan itu tidak sama dengan
kejahatan. Setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya. Allah
membenarkan dan memandang baik atas piagam ini

36. Piagam ini tidak diproyeksikan untuk membela orang yang zalim dan
khianat. Semua orang bisa berpergian(keluar rumah) secara aman serta
berdomisili di kota Yatsrib (madinah) secara damai pula. Hal ini
terkecuali bagi mereka yang zalim dan khianat. Allah lah pelindung
orang yang berbuat kebjikan dan takwa.

Masyarakat muslim awal adalah masyarakat yang terbaik (khaira


ummah) karena sifat-sifat yang melekat pada diri mereka, mereka tidak bosan-
bosan menyeru manusia kepada kebaikan dan melarang dari perihal yang
mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 110 :

  


 

 
  
   
  
   
 
 

19

Artinya : “ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar,
dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman,
tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang
fasik.”30

Ayat tersebut menerangkan dari masyarakat yang mempunyai kesadaran


etis sehingga mampu mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap
berlakunya nilai-nilai peradaban yang bersumber kepada Al-Qur’an. Hal ini
sudah pernah di wujudkan oleh Nabi Muhammad Saw selama sepuluh tahun di
kota Madinah, yang adil, terbuka, demokratis berlandaskan taqwa kepada Allah
Swt dan taat pada ajaran-ajaranNya.31

Dalam hal ini, terdapat kata kunci yang bisa menghampiri kita pada
konsep masyarakat madani (civil society), yakni kata “ummah” dan “madinah”.
“Ummah” dalam bahasa arab menunjukan pengertian komunitas keagamaan
tertentu, yaitu komunitas yang mempunyai keyakinan keagamaan yang sama.
Secara umum, seperti disyaratkan Al-Qur’an, “ummah” menunjukan suatu
komunitas yang mempunyai basis solidaritas tertentu atas dasar komitmen
keagamaan, etnis, dan moralitas.32

Konsep “ummah” mengundang konotasi sosial, ketimbang konotasi


politik. Istilah-istilah yang sering dipahami sebagai cita-cita sosial Islam dan
memiliki konotasi politik adalah “khilafah”,“dawlah”, dan “hukumah”. Kata
“ummah” disebut sebanyak 45 kali dalam Al-Qur’am. Baik dalam bentuk
tunggal maupun dalam bentuk jamak. Penyebutan Al-Qur’an dan juga hadis

30Cordoba, “Al-Qur’an dan Terjemahnya”,..hlm, 64

31Akram Dhiyauddin Umari, “Masyarakat Madani Tinjauan Historis Zaman Nabi”,


(Gema Insani Press, Jakarta : 1999), hlm, 68

32M. Din Syamsuddin, Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani, (Logos,
Jakarta: 2002), hlm, 10
20

menunjukan masyarakat madani. Sebagai masyarakat madani, konsep umat


Islam ditegaskan atas dasar solidaritas keagamaan dan merupakan manifestasi
dari keprihatinan moral terhadap eksistensi dan kelestarian masyarakat yang
berorientasi kepada nilai-nilai Islam.33

Perujukan terhadap masyarakat Madinah sebagai tipikal masyarakat ideal


bukan pada peniruan struktur masyarakatnya, tapi pada sifat-sifat yang
menghiasi masyarakat ideal ini. Seperti pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar
yang sejalan dengan petunjuk Allah Swt, maupun persatuan yang kesatuan
yang ditunjuk oleh ayat sebelumnya surat Ali Imran 105.34 Adapun cara
pelaksanaan amar ma‟ruf nahi mungkar yang direstui Ilahi adalah dengan
hikmah, nasehat, dan tutur kata yang baik sebagaimana yang tercermin dalam
Surat An-Nahl 125.35

Dalam rangka membangun masyarakat madani modern, meneladani Nabi


Saw bukan hanya penampilan fisik belaka, tapi sikap yang beliau peragakan
saat berhubungan dengan sesama umat Islam ataupun dengan umat lain, seperti
menjaga persatuan umat Islam, menghormati dan tidak meremehkan kelompok
lain, berlaku adil kepada siapa saja, tidak melakukan pemaksaan agama, dan
sifat-sifat luhur lainnya. Terjadinya pro dan kontra terhadap pengistilahan civi
society dan masyaraka madani merupakan hal yang menarik untuk dibahas
sebagai landasan dalam penlitian ini, hal ini dapat digunakan untuk
menentukan keobyekan konsep masyarakat madani.

Sementara tokoh yang sepakat terhadap padanan civil society dengan


masyarakat madani adalah Nurcholish Madjid, Dawam Raharjo, dan Bachtiar
Efendi serta umumnya pemikir yang mempunyai latar belakang pendidikan ke-
islaman modernitas-sekularis semisal Buya Syafi’i Ma’arif, Komaruddin

33Ibid, hlm, 96

34Cordoba, op.cit, hlm, 63

35Ibid, hlm, 281


21

Hidayat, bahkan Amien Rais dalam pidato pengukuhan guru besarnya yakni
membahas kuasa, tuna-kuasa dan demokratisasi kekuasaan mendukung
terwujudnya masyarakat madani di Indonesia.36

Pilar penegak masyarakat madani adalah institusi-institusi yang menjadi


bagian dari social control yang berfungsi untuk mengkritisi kebijakan-
kebijakan penguasa yang diskriminatif serta mampu memperjuangkan aspirasi
masyarakat yang tertindas dan pilar tersebut yang menjadi prasyarat mutlak
bagi terwujudnya kekuatan masyarakat madani, pilar tersebut adalah lembaga
swadaya masyarakat, hukum, politik dan lembaga pendidikan perguruan tinggi.

Institusi pendidikan sebagai sala satu sarana untuk mencari ilmu, karena
sangat pentinganya ilmu sebagai mengangkat darjat manusia itu sendiri dari
keterpurukan dan keterbelakangan. Seharusnya manusia bisa menjadikan ilmu
suatu hal yang sangat berharga dan temeng dalam kehidupan, dengan ilmu
manusia bisa menggapai segala segala-galanya, dengan ilmu manusia bisa
meraih apa yang di cita-citakan, dengan ilmu manusia mampu membentuk
komunitas masyarakat yang tentram, damai dan berkeadilan serta berkemajuan.

Pada saat ini banyak masyarakat mendambakan suatu perubahan dalam


semua aspek kehidupan, kehidupan yang memiliki suatu komunitas
kemandirian aktifitas warga masyarakat yang berkembang sesuai dengan
fotensi budaya, adat istiadat dan agama yang melekat pada diri. Dengan
mewujudkan dan memberlakukan nila-nilai keadilan, kesetaraan, penegakan

36Pandangan kontras yang diwakili oleh Hikam dengan karyanya Demokrasi dan Civil
Society dan tokoh lain yang memiliki latar belakang pendidikan tradisionalis-sekularis. Sedangkan
tokoh pro diwakili oleh Nurcholish Madjid, dalam karyanya Cita-Cita Politik Era Reformasi :
Menuju Masyarakat Madani dan Masyarakat Madani dan Investasi Demokrasi. Dawam Raharjo
dalam karyanya Masyarakat Madani di Indonesia : Sebuah Panjajahan Awal Masyarakat
Madani: Agama Kelas Menengah dan Perubahan Sosial. Bahtiar Effendi dalam karyanya
Wawasan Al-Qur’an Tentang Masyarakat Madani, Menuju Terbentuknya Negara Bangsa yang
Modern. Dan Amien Rais dalam pidato pengukuhan guru besarnya yakni membahas kuasa, tuna –
kuasa, dan demokratisasi kekuasaan yang sangat mendukung terwujudnya masyarakat madani di
Indonesia dan umumnya pemikiran yang memiliki latar belakang pendidikan ke Islaman,
modernis-sekularis seperti Buya Syafi’I Ma’arif kemudian Komaruddin Hidayat dan sebagainya.
Lihat bukunya Nurcholish Madjid, “Masyarakat Tamaddun, Kritik Hermeneutis Masyarakat
Madani.” Cet I, hlm, 80-81
22

hukum dan perlindungan hak manusia. Kondisi masyarakat madani merupakan


konsep yang bersifat universal, sehingga perlu adaptasi dan sosialisasi, apabila
konsep ini di terapkan perlu langkah-langah yang kongkrit dan sistematis yang
dapat merubah paradigm kebiasaan dan pola hidup masyarakat. Sektor
pendidikan memiliki peran penting yang strategis dalam membangun
masyarakat madani, pendidikan senantiasa menjawab kebutuhan dan tantangan
yang muncul dalam masyarakat.

Oleh karena itu peran pendidikan sangat diperlukan untuk


mempersiapkan individu dan masyarakat, sehingga memiliki kemampuan
motovasi serta partisipasi secara aktif dalam mewujudkan masyarakat madani.
Pendidikan merupakan faktor utama dalam membentuk karakter pribadi
manusia itu sendiri menurut ukuran normatif, namun di sisi lain proses
pendidikan tidak hanya terjadi pada institusi-institusi saja namun dipengaruhi
oleh faktor keluarga dan masyarakat luas dimana mereka tinggal atau disebut
juga dengan istilah tripusat pendidikan.37 Peran pendidikan sangat besar dalam
menanamkan nila-nilai mulia suatu masyarakat menuju terwujudkanya
masyarakat madani. Oleh karena itu perlu di kaji apakah pendidikan sekarang
sudah memperhatikan dan mampu membangun serta mewujudkan masyarakat
madani (civil society) yang diharapkan bagi seluruh umat manusia.

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk mebahas


permasalahan tersebut dengan judul : Peran Pendidikan Islam Dalam
Pembentukan Masyarakat Madani Berbasis Al-Qur'an

B. Identifikasi Masalah

Uraian dari latar belakang masalah di atas menjelaskan pandangan


tentang seputar Pemikiran ibn Khaldun mengenai Peranan Pendidikan Islam
37Tujuan pendidikan nasional berdasarkan UUD 1945 berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada tuhan Yme, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yag demoktratis serta bertanggung jawab.
23

dan pola membangun sebuah masyarakat madani menurut perspektif Al-


Qur’an. Berbagai macam karya yang membahas terkait dengan peranan
pemikiran Ibn Khaldun mengenai sosial kemasyarakatan yang mampu
memberikan pengertian yang multiperspektif, holistik dan komprehensif
tentang masyarakat madani yang didukung data ilmiah. Maka dalah penelitian
ini dapat di kemukakan beberapa permasalahan yang teridentifikasi sebagai
berikut :

1. Bagaimana diskursus seputar pendidikan Islam perspektif pemikiran ibnu


Khaldun?

2. Sejauh mana aspek kemasyarakatan bisa mempengaruhi proses pendidikan


Islam?

3. Bagaimana konsep masyarakat madani menurut Al-Qur’an?

4. Bagaimana konsep pendidikan Islam dalam membangun masyarakat


madani?

5. Bagaimana konsep masyarakat madani menurut Al-Qur’an?

6. Bagaimana pendidikan Islam dalam masyarakat madani?

7. Seperti apa karakteristik masyarakat madani?

8. Apakah ada hubungan pendidikan terhadap pembangunan masyarakat


madani?

C. Pembatasan Masalah

Hasil dari identifikasi permasalahan yang sudah di identifikasi


merupakan hal yang menjadi fokus dan kajian penelitian yang menjadi suatu
batasan dalam peran pendidikan Islam dalam pembentukan masyarakat madani
perspektif Al-Qur’an, bagaiman pentingnya pendidikan dalam membangun
24

suatu masyarakat madani, yang adil, makmur dan berkemajuan serta


demokratis. Dari identifikasi masalah yang sudah dikemukakan di atas, maka
penelitian ini dapat dibatasi kepada beberapa masalah, yaitu ; Perdebatan
seputar tentang konsep masyaraat madani menurut para ahli, Langkah-langkah
Strategis Pembentukan Masyarakat Madani dalam Perspektif Al-Qur’an,
Karakteristik Masyarakat Madani dalam Persepektif Al-Qur’an, Aspek-aspek
Kemasyarakatan yang Mempengaruhi Proses Pendidikan Islam, Peran Umat
Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani, Pengembangan Masyarakat
Madani dalam Perspektif Al-Qur’an.

D. Rumusan Masalah

Dari pembatasan masalah di atas, maka peneliti akan menyajikan


permasalahan yang terkait dengan pembahasan mengenai Peran Pendidikan
Islam dalam Membentuk Masyarakat Madani Berbasis Al-Qur’an yang akan
menjadi titik tolak dalam disertasi ini, adapun rumusan masalah yaitu ;
Bagaimana Peran Pendidikan Islam dalam Membentuk Masyarakat Madani
dalam Pandangan Al-Qur’an?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Selain menjawab rumusan masalah, penelitian ini diharapkan


memiliki konstribusi yang tidak hanya bersifat akademik, namun memiliki
implikasi yang luas untuk dijadikan rujukan bagi seluruh akademisi maupun
masyarakat umum. Adapaun tujuan dan manfaat penelitian ini di antara lain:

1. Tujuan Penelitian

Secara akademis penelitian ini bertujuan sebagai berikut ; Untuk


mengetahui kandungan makna Al-Qur’an khususnya yang terkait dengan
Peran Pendidikan dalam membentuk masyarakat madani perspektif Al-
Qur’an.
25

2. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi


pengembangan/peningkatan mutu pendidikan khususnya mengenai Peran
Pendidikan Islam dalam Membentuk Masyarakat Madani Perspektif Al-
Qur’an.

a. Manfaat teoritis, hasil penelitian ini dapat meperkaya khazanah


kelimuan, mengenai peran pendidikan Islam dalam pembentukan
masyarakat madani perspektif Al-Qur’an

b. Manfaat praktis, dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam


rangka penyusunan kebijakan dan operasional pendidikan Islam,
peningkatan mutu, relevansi dan daya saing dengan penguatan tata
kelola dan pencitraan publik dalam pengembangan lembaga dan
sistem pendidikan alternatif.

F. Tinjauan Pustaka dan Penelitian Terdahulu

Sepanjang pengetahuan peneliti, ada beberapa sarjana atau individu yang


telah melakukan kajian dan penelitian tentang peran pendidikan terkait dengan
masyarakat madani, pembahasan tentang masyarakat madani (civil society)
dalam khazanah keilmuan di Indonesia cukup banyak, hal ini cukup logis
karena bagaimanapun juga masyarakat madani (civil society) yang berarti juga
merupakan penguatan masyarakat sipil dalam konteks kehidupan berbangsa
dan bernegara dalam berbagai aspek memang menjadi tuntutan normatif bagi
setiap orang yang memang mempunyai hak-hak individu, kelompok dan
bermasyarakat (negara).

Dalam sejumlah tulisan yang ada itu, peneliti belum menemukaan satu
karya pun yang secara spesifik membahas peran pendidikan Islam dalam
membentuk masyarakat Islam yang madani dalam perspektif Al-Qur’an.
Namun sebagai bahan tinjauan penelitian terdahulu ada beberapa literatur yang
26

peneliti ambil dari berupa disertasi, tesis dan selebihnya berupa jurnal, artikel
atau makalah.

Sebagian besar fokus kajian tentang tokoh-tokoh dan fikiran-fikiran yang


dapat dijumpai dalam beberapa tulisan yang tersebar dalam berbagai karya
literatur ilmiah tentang pemikiran kontemporer Islam, di antara lain sebagai
berikut ;

1. Penelitian saudara Sahrul Reza di Universitas Sains Malaysia, tahun 2008


yang berjudul “Konsep Pendidikan Islam Menurut Pemikiran Ibn
Khaldun: Suatu Kajian Terhadap Elemen-Elemen Kemasyarakatan
Islam”. Dalam penelitianya menjelaskan bahwa Ibn Khaldun bukan saja
seorang ahli filsafat akan tetapi juga pencetus ilmu kemasyarakatan dan
sumbangannya sangat besar dalam berbagai bidang keilmuan sehingga
sampai saat hari ini. Ibn Khaldun cenderung dalam melakukan kajian
tentang masyarakat dan beliau telah meletakkan kaidah-kaidah ilmu ini
sebagai asas awal dalam penulisan sejarah masakini. Beliau
merangkumkan pemikirannya tentang kemasyarakatan dalam bukunya
yaitu : Al-Muqaddimah. Selain dari itu Ibn Khaldun juga telah berhasil
membangunkan teori-teori pendidikan dalam karyanya yang sama. Dalam
Penelitian ini dikhususkan pembahasannya kepada konsep pendidikan
Islam dan elemen-elemen kemasyarakatan berdasarkan pemikiran Ibn
Khaldun. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui konsep
pendidikan Islam menurut pemikiran Ibn Khaldun yang sesuai sehingga
dapat diterapkan dalam masyarakat sekarang, di samping tidak
mengetepikan elemen-elemen kemasyarakatan yang utama berdasarkan
pemikiran beliau. Perhatian akan diberikan kepada aspek-aspek
kemasyarakatan seperti: aspek sejarah, budaya, lingkungan, dan tamadun.
Ibn Khaldun menyarankan supaya pendidikan yang bermartabat dan
bermatlamat tinggi haruslah memerhatikan elemen-elemen
kemasyarakatan dalam proses pembelajaran dan pengajaran, baik manusia
sebagai anggota masyarakat yang cenderung kepada perkembangan dan
27

perubahan serta masyarakat yang selalu siap dengan perbedaan sesama


mereka, karena ini akan menjadi sarana pendukung dalam dunia
pendidikan. Ibn Khaldun hendaklah dapat dijadikan contoh teladan yang
dapat diikuti jejaknya oleh kalangan yang ingin mengembangkan wawasan
pengetahuannya. Apalagi beliau dianggap sebagai salah seorang pengagas
ilmu kemasyarakatan yang hebat.

2. Jurnal saudara Mohd Roslan Mohd Nor Hadhari II Institut Of Islam


Hadhari Malaysia, tahun 2010 yang berjudul “Meneladani Sejarah Umat
Islam Dalam Membentuk Masyarakat Hadhari Yang Gemilang Abad Ke
21” (Taking Lessons of Muslims History in Shaping Excellent Hadhari
Community of the 21st Century). Dalam jurnal ini dapat disimpulkan
bahwa kegemilangan umat Islam sepanjang sejarah ketamadunan,
kejatuhan dan bagaimana ia harus bangkit kembali. Islam pernah di saat
kegemilangannya menguasai pelbagai wilayah termasuk Eropa, Afrika dan
Asia. Kemasukan Islam ke Andalus sebagai contoh, telah membuka ruang
kepada kecemerlangan tamadun Barat hari ini. Banyak ilmu-ilmu hasil
penemuan orang Islam dikembangkan di Barat. Namun sudah hampir satu
abad kejatuhan kerajaan Islam terakhir, Turki Utsmaniyyah, kegemilangan
Islam hanya tersemat pada bahan-bahan bacaan saja tanpa dapat dilihat
dengan fisik. Umat Islam seharusnya belajar dari sejarah lalu untuk
kembali bangkit mencorak kehidupan dunia. Dalam konteks Malaysia,
penulis menganggap dokongan kerajaan untuk membentuk masyarakat
gemilang melalui pendekatan Hadhari harus dilihat sebagai sesuatu yang
positif untuk mengembalikan kegemilangan silam. Jurnal ini merujuk
kepada beberapa penulisan sarjana dalam mewacanakan Hadhari dan ia
mencoba membentuk beberapa gagasan baru sebagai pemerkasaan dalam
memugar kegemilangan umat. Pada umumnya, tamadun manusia telah
wujud semenjak Nabi Adam As diciptakan oleh Allah Swt Perkara utama
yang diberikan kepada Nabi Adam adalah ilmu pengetahuan yang tidak
dapat ditandingi oleh ilmu para malaikat (al-Baqarah 2: 31-32). Ilmu inilah
28

asas kecemerlangan ummah dan paksi kepada kekuatan Islam. Pada zaman
Nabi Muhammad Saw, satu ciri terpenting pembinaan tamadun manusia
yang dicapai ketika itu ialah pembentukan Madinah sebagai pusat ilmu
(Sabri Mohamad Sharif 2008) dan elemen perpaduan antara kaum yang
wujud secara praktikal. Sejarah Islam memperlihatkan Madinah telah
menjadi satu pusat yang penting dalam penyebaran ilmu ke segenap
pelusuk yang boleh dicapai ketika itu. Ini termasuklah ke segenap daerah
al-Jazirah, al-Sham, Iraq, Euthopia dan Mesir. Dari aspek perpaduan, ia
dapat dilihat ketika mana Nabi Muhammad s.a.w membuat satu perjanjian
yang dikenali sebagai Piagam Madinah dalam mendirikan sebuah negara
yang menjadi pelindung kepada rakyat. Piagam yang mengandung 47
Fasal tersebut diiktiraf sebagai model bertulis yang pertama wujud dalam
dunia (Hamidullah 1975). Kandungan piagam tersebut secara ringkas
adalah seperti berikut (Abdul Rahman Abdullah 2007):

a. Kaum Yahudi hendaklah hidup berdamai dengan kaum Muslimin,


kedua belah pihak bebas mengamalkan ajaran masing-masing.

b. Kaum Muslimin dan Yahudi wajib mempertahankan kota Madinah


dari serangan musuh dan bekerjasama melawan sesiapa sahaja yang
memerangi mereka.

c. Perdamaian dengan pihak lain hendaklah mendapat persetujuan


kedua-dua belah pihak.

d. Sesiapa yang tinggal di luar kota Madinah akan dilindungi kecuali


orang yang zalim dan bersalah.

e. Sekiranya timbul perselisihan antara kaum Yahudi dan Muslim maka


penyelesaiannya hendaklah dirujuk kepada Allah (Al-Kitab) dan Rasul
di mana Rasulullah Saw adalah pemimpin umum penduduk Madinah.
29

Berdasarkan kepada sirah ini, dapat disimpulkan bahawa elemen


ilmu merupakan dasar kepada pembinaan masyarakat yang bertamadun.
Manakala perpaduan antara kaum adalah manifestasi daripada kejayaan
negara Islam Madinah dalam memberi perlindungan kepada semua rakyat
tidak kira agama, bangsa mahupun warna kulit. Praktik para anbiya’ ini
menjadi dorongan dan contoh kepada umat Islam untuk terus mencetuskan
tamadun yang gemilang seperti saat penguasaan Islam terhadap wilayah-
wilayah dunia di timur dan barat.

3. Publikasi jurnal saudara Andik Wahyun Muqoyyidin, Al-Banjary Vol. 13


no.I Januari 2014 “ Masyarakat Islam Ideal dalam Konsepsi Filsafat
Pendidikan Islam”. Kesimpulan dalam penemuannya ialah : Kerangka-
kerangka normatif dan teoritis tentang masyarakat Islam ideal seyogyanya
menjadi bahan bagi pengembangan masyarakat ke depan yang diupayakan
pendidikan Islam melalui kajian filsafat pendidikan Islam. Meski
pergulatan wacana keilmuan sepanjang sejarah manusia menunjukkan
bahwa ide tentang masyarakat ideal merupakan wacana yang perennial, hal
tersebut mesti dipahami lahir dari filosofi dan konteks sosio-historis yang
berbeda. Konsepsi masyarakat madani (civil society) harus dicermati
dengan segenap potensi sekaligus keterbatasannya. Hal ini penting di
dalam kerangka memformulasikan teori sekaligus operasionalisasi
pendidikan Islam yang tepat dan relevan dengan kebutuhan umat Islam
pada kondisi masyarakat tersebut. Karenanya upaya rekonstruksi filsafat
pendidikan Islam dengan lebih mengorientasikan penguatan pandangan-
pandangan kemanusiaan baik dari dimensi ontologis, epistemologis
maupun aksiologisnya, merupakan keniscayaan yang mesti menjadi
concern utama para pemerhati dan praktisi pendidikan Islam.

4. Skripsi saudara Istiqomah NIM : 000410001 yang berjudul “ Konsep


Masyarakat Madani dan Implikasinya Bagi Pengembangan Pendidikan
Islam ( Studi Atas Pemikiran Nurcholish Madjid)”. Hasil penemuan dari
peneletian ini menyimpulkan sebagai berikut : dari kaji-kajian yang
30

komprehensif, kritis dan analisis terhadap karakteristik terhadap konsepsi


masyarakat madani menurut Nurcholish Madjid, yakni ; dengan
menggunakan metode content analysis ditemukan makna konsep
masyarakat madani beserta prinsip-prinsip yang signifikan dalam
perspektif ke Indonesiaan. Secara garis besar Nurcholish Madjid
mengemukakan bahwa konsep masyarakat madani serta problematika
yang muncul, maka dapatkan ditarik kesimpulan:

1) Pemikiran filosofis Nurcholish Madjid tentang konsep masyarakat


madani adalah sebuah tipologi masyarakat yang dibangun berdasar
pada keadilan, keterbukaan dan demokratis dengan landasan taqwa
kepada Allah Swt dalam arti semanagt ke-Tuhanan Yang Maha Esa,
ditambah dengan nila-nilai sosial yang luhur, seperti toleransi
(tawassuth), demokrasi, dan pluralism adalah ikatan keadaan (bond of
civility. Masyarakat yang ditawarkan adalah konsep masyarakat yang
mengambil jalan tengah yang perpaduan antara peradaban Barat
dengan khazanah kebudayaan klasik yang dimilki oleh Islam.

2) Impilkasi dari konsep masyarakat madani yang di tawarkan dalam


mengembangkan pendidikan Islam, adalah sebuah model pendidikan
yang berada dalam suasana demokratis, mengakui adanya pluralitas
dan menjunjung tinggi sikap toleransi, kemudian mengembangkan
model pendidikan dengan memadukan unsure-unsur keislaman namun
tidak bisa di lepaskan dari aspek budaya dan sejarah masa klasik Islam
yang dibangun pada masa Nabi Saw dan para sahabat

G. Metodologi Penelitian
31

Untuk mengungkapkan permasalahan penelitian ini, penulis


menggunakan metode kepustakaan (library research),38 yaitu menelaah dan
mempelajari berbagai literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

1. Pendekatan Penelitian

Secara metodologis penelitian ini dilihat dari sumbernya merupakan


penelitian kepustakaan (library research) yang menggunakan pendekatan
kualitatif,39 Adapun tujuan penelitianya adalah penelitian eksploratif yaitu
penelitian yang bertjuan untuk menemukan ide-ide baru yang cukup aktual
dalam kerangka penemuan teori baru, yakni buku-buku yang berkaitan
tentang peran pendidikan dalam membentuk masyarakat madani dalam Al-
Qur’an.40

Dengan demikian penelitian ini termasuk studi tentang pemikiran


yang bersifat filosofis. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan filosofis (philosopycal approach).41 Pendekatan filosofis pada
intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu
yang ada di balik obyek formalnya. Filsafat mencari sesuatu yang
mendasar, asas atau inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriyah.42

Dengan menggunakan pendekatan filosofis seseorang akan dapat


memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya, dan dapat pula
38Pengertian Library Research adalah Suatu cara memperoleh data dengan mempelajari
buku-buku di perpustakaan yang merupakan hasil dari para peneliti terdahulu.

39Noeng Muhajir, “Metodologi Penelitian Kualitatif”, (Rake Sarasin : Yogyakarta,


1992), hlm, 83

40Jujun S. Suria Sumantri, salah satu obyek penelitian itu adalah ide yang merupakan
gagasan manusia Gagasan manusia itu meliputi antara lain filsafat, etika, estetika dan teori ilmiah.
M. Deden Riwan (ed.), “Tradisi Baru Penelitian Agama Islam”, (Cet. Ke-I. Bandung: Nuansa,
2001), hlm, 75-76.

41Imam Suprayogo dan Tobroni, “Metodologi Penelitian Sosial-Agama”. (Cet. Ke-I.


Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm, 45.

42Abuddin Nata, “Metodologi Studi Islam”, ((Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999),
hlm, 42-43
32

menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya. 43 Pendekatan


filosofis juga dapat digunakan untuk mengkaji struktur ide-ide dasar
(fundamental Ideas) yang dirumuskan pemikir.44 Dengan demikian secara
umum dapat diidentifikasi bahwa penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif yang berupaya mengkaji ide-ide atau gagasan pemikiran terkait
konsep masyarakat madani.45

2. Pengolahan dan Analisis Data Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), maka


proses pengolahan datanya juga disesuaikan dengan konstruksi danalur
penelitiian tersebut, dengan menelaah bahan-bahan berupa referensi
pustaka sebagai data utama dalam penelitian ini. Sedangkan analisis data
penelitian menurut Lexy J Moloeng adalah proses menyusun,
mengkategorisasikan data, mencari pola atau tema dengan maksud untuk
memahami maknanya.46 Sedangkan Bogdan dan Bliken menjelaskan
bahwa analisis data melibatkan pengerjaan organisasi data, pemilahan
menjadi satuan-satuan tertentu, sintetis data, pelacakan pola, penemuan
hal-hal yang penting dan dipelajari, dan penentuan apa yang harus
dilakukan kepada orang lain.47 Analisis data dalam penelitian kualitatif
dilakukan sepanjang penelitian itu berlangsung, dan tidak hanya setelah
pengumpulan data.

43Ibid, hlm, 45

44Anton Baker dan Ahmad Charis Zubair, “Metodologi Penelitian Filsafat”, (Yogyakarta
: Kanisius, 1990), hlm, 63-65

45Noeng Muhdjir, ‘’Metodologi Penelitian Kualitatif”, (Yogyakarta: Rake Sarasin,


2002).hlm, 12. Lihat juga Sutrisno Hadi, “Metodologi Research”,( Jilid I, Yogyakarta, Andi Offset,
1987), hlm. 9

46Lexy J Moloeng, “Metode Penelitian Kualitatif”, (Bandung : Remaja Karya, 1989),


hlm. 4-8

47Bogdan, and Bliken, “Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory


and Methods”, (Boston: Allyn and Bacon, 1982), hlm. 52.
33

Pelaksanaan metode deskriptif ini tidak terbatas hanya pada


pengumpulan dan penyusunan data, tapi meliputi analisa, dan interpretasi
tentang arti data itu.48 Dengan begitu analisis data bisa dianggap sebagai
proses pelacakan dan pengaturan secara sistematik bahan-bahan yang
dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan
tersebut agar dapat dipresentasikan kepada orang lain.49

Secara operasional penelitian ini menerapkan beberapa metode


analisis data. Pertama, metode analisis data deskriptif. Penggunaan
metode analisis data deskriptif dimaksudkan untuk menganalisis semua
pemikiran para mufasir tentang masyarakat madani sebagai dasar-dasar
filosofis pendidikan Islam. Kedua, metode analisis data hermeunetik, atau
metode pemahaman dan penafsiran. Hermeunetika pada dasarnya adalah
suatu metode atau cara untuk menafsirkan “simbol”, berupa teks atau
sesuatu yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari arti dan maknanya,
dimana metode hermeunetik ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk
menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa
sekarang.50

Carl Braathen, lebih jauh menjelaskan bahwa hermeunetika adalah


ilmu yang merefleksikan bagaimana satu kataatau satu peristiwa di masa
dan kondisi yang lalu bisa dipahami dan menjadi bermakna secara nyata di
masa kini, di mana di dalamnya sekaligus terkandung aturan-aturan
metodologis untuk diaplikasikan dalam penafsiran dan asumsiasumsi

48Winarno Surakhmad, “Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode Teknik”,


(Bandung: Tarsito, 1990), hlm. 139. lebih jauh analisa data kualitatif dapat mengunakan analisa
domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, analisis tema kultural, lihat Sugiono,
“Memahami Penelitian Kualitatif”, (Bandung: CV Alvabeta, 2007) hlm. 102.

49Imran Arifin, “Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-Ilmu Sosial dan Keagamaan”,


(Malang : Kalimasada, 1996), hlm. 84

50Sudarto, “Metodologi Penelitian Filsafat”, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996),


hlm. 85
34

metodologis dari aktivitas pemahaman.51 Komarudin Hidayat


mengingatkan bahwa hermeunetika sebagai sebuah metode penafsiran,
tidak hanya memandang teks dan berusaha menyelami kandungan makna
literalnya. Lebih dari itu, hermeunetika berusaha menggali makna dengan
mempertimbangkan horizon-horison yang melingkupi teks tersebut.
Horison yang dimaksud adalah horizon teks, horizon pengarang dan
horizon pembaca.52

3. Sumber Data Penelitian

Sumber data pertama yaitu sumber data primer, data primer dalam
disertasi ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki kesamaan tema
seputar peran Pendididkan dalam Membentuk Masyarakat Madani. Ayat-
ayat tersebut ditafsirkan dengan merujuk kepada kitab-kitab tafsir Al-
Qur’an dari latar belakang masa, mazhab dan corak yang berbeda.
Sementara untuk redaksi hadis, penulis mengutamakan mengutipnya dari
Kutub Al-Sittah. Dari beberapa kitab tafsir sebagai representator dari tafsir
masa klasik dan modern. Kitab tafsir klasik yang dijadikan rujukan adalah
kitab tafsir karangan: Al-Thabari (W.310 H), dan Ibnu Katsir (W.774 H).
Untuk kategori tafsir modern yaitu: Al-Maraghi (L.1881 M), Al -Rashid
Ridha, dan Syekh Al-Sya‘rawi. Sedangkan untuk tafsir dari Indonesia,
dipilih tafsir Al-Misbah karangan Muhammad Quraish Shihab dan Tafsir
Al-Azhar karya Hamka.

Sementara untuk rujukan kita hadits kitab Al-Sittah yaitu Imam


Bukhari , Muslim , Tirmidzi , Nasa’i , Abi Daud , Ibnu Majah. Selain
menggunakan literatur hadis dalam bentuk buku, penulis juga
menggunakan Maktabah Al-Syamilah dan Ebook PDF.

51Farid Esack,” Liberation And Pluralism”, (Oxford One World, 1997), hlm. 61

52Komaruddin Hidayat, “Memahami Bahasa Agama”, (Jakarta : Paramadina, 1996),


hlm. 161
35

Sedangkan sumber yang kedua yaitu data sekunder terdiri dari buku-
buku tesis, disertasi, hasil symposium, dokumentasi, seminar terkait
dengan penelitian ini.

H. Sistematika Penulisan

Penelitian ini diklasifikasikan dalam enam bab yang disusun secara


sistematis dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan yaitu sebagai
berikut :

Bab I : Pendahuluan. Bab ini akan menguraikan tentang pendahuluan


yang meliputi. Latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan
masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka,
metodologi penelitian, serta sistematika penulisan.

Bab II : Diskursus Seputar Pendidikan Islam yang meliputi. Konsep


pendidikan Islam ; pengantar pendidikan Islam, defenisi pendidikan Islam.
Sumber pendidikan Islam ; pengertian pendidikan menurut para ahli,
pengertian pendidikan menurut Islam, tujuan dan urgensi pendidikan Islam.
Sumber pendidikan Islam ; Al-Qur’an sebagai sumber utama pendidikan
Islam, Al-Sunnah sebagai sumber kedua pendidikan Islam. Asas-asas
pendidikan Islam ; asas historis dalam pendidikan islam, asas sosiologis
dalam pendidikan Islam, asas geografis dalam pendidikan Islam, asas
psikologis dalam pendidikan Islam, asas ekonomi dalam pendidikan Islam,
asas politik dalam pendidikan Islam, asas budaya dalam pendidikan Islam,
asas aqidah dalam pendidikan Islam, asas akhlaq dalam pendidikan Islam,
asas syari’ah dalam pendidikan Islam, asas ibadah dalam pendidikan Islam.
Karakteristik pendidikan Islam, Metodik pengajaran pendidikan Islam.
Struktur dan jenjang pendidikan Islam ; struktur pendidikan Islam, jenjang
pendidikan Islam.

Bab III : Masyarakat Madani Dalam Perspektif Al-Qur’an. Dalam bab ini
menjelaskan tentang ; pengertian masyarakat madani, konsep masyarakat
36

madani, ayat al-qur’an yang berkaitan dengan masyarakat madani, al-hadits


yang berkaitan dengan masyarakat madani. Karakteristik masyarakat madani
dalam perspektif Al-Qur’an, sosio-historis masyarakat Madinah pada zaman
Rasulullah saw, peran umat islam dalam membentuk masyarakat madani.

Bab IV : Membentuk Masyarakat Madani Melalui Pendidikan Dalam


Perspektif Al-Qur’an. Bab ini menjelaskan tentang ; Konsepsi Pendidikan
Islam dalam Membentuk Masyarakat Madani, Tahapan Dalam Membentuk
Masyarakat Madani, Tujuan Kongkrit Dalam Pembentukan Masyarakat
Madani, Urgensi Pendidikan Islam Dalam Membentuk Masyarakat Madani,
Pendidikan dan Masyarakat Madani Dalam Perspektif Al-Qur’an.

Bab V : Strategi Pendidikan Islam Dalam Membentuk Masyarakat


Madani. Bab ini merupakan bab inti yang melihat kepada hasil dari
permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini di antara lain ; Implementasi
Pendididkan Islam dalam Membentuk Masyarakat Madani Perspektif Al-
Qur’an, Etika Pendidikan Islam dalam Masyarakat Madani ; etika ideologi,
etika politik, etika sosial, etika budaya. Manusia dan Masyarakat yang
Unggul Dalam Masyarakat Madani, Masyarakat Madani yang Demoktratis,
Humanis dan Partisipatif

Bab V : Kesimpulan dan Saran. Bab terakhir ini akan menyajikan


kesimpulan berupa jawaban-jawaban berdasarkan uraian dan temuan yang
telah dipaparkan sebelumnya serta saran-saran untuk pengembangan
penelitian lebih lanjut secara konstruktif.
37

DAFTAR OUT LINE PROPOSAL DISERTASI


BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
F. Tinjauan Pustaka dan Penelitian Terdahulu
G. Metode Penelitian
38

H. Sistematika Penulisan
BAB II : DISKURSUS SEPUTAR PENDIDKAN ISLAM
A. Konsep Pendidikan Islam
1. Pengantar Pendidikan Islam
2. Defenisi Pendidikan Islam
a. Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli
b. Pengertian Pendidikan Menurut Islam
c. Tujuan dan Urgensi Pendidikan Islam
B. Sumber Pendidikan Islam
1. Al-Qur’an Sebagai Sumber Utama Pendidikan Islam
2. Al-Sunnah Sebagai Sumber Kedua Pendidikan Islam
C. Asas-Asas Pendidikan Islam
1. Asas Historis dalam Pendidikan Islam
2. Asas Sosiologis dalam Pendidikan Islam
3. Asas Geografis dalam Pendidikan Islam
4. Asas Psikologis dalam Pendidikan Islam
5. Asas Ekonomi dalam Pendidikan Islam
6. Asas Politik dalam Pendidikan Islam
7. Asas Budaya dalam Pendidikan Islam
8. Asas Aqidah dalam Pendidikan Islam
9. Asas Akhlaq dalam Pendidikan Islam
10. Asas Syari’ah dalam Pendidikan Islam
11. Asas Ibadah dalam Pendidikan Islam
D. Karakteristik Pendidikan Islam
E. Metodik Pembelajaran Pendidikan Islam
F. Struktur, Status dan Jenjang Pendidikan Islam
1. Struktur Pendidikan Islam
2. Status Pendidikan Islam
3. Jenjang Pendidikan Islam
BAB III : MASYARAKAT MADANI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
A. Kajian Teoritis Seputar Masyarakat Madani
39

1. Pengertian Masyarakat Madani


2. Konsep Masyarakat Madani
3. Ayat Al-Qur’an yang Berkaitan Dengan
Masyarakat Madani
4. Al-Hadits yang Berkaitan Dengan Masyarakat
Madani
B. Karakteristik Masyarakat Madani Dalam Perspektif Al-Qur’an
C. Sosio-Historis Masyarakat Madinah Pada Zaman Rasulullah Saw
D. Peran Umat Islam dalam Membentuk Masyarakat Madani
BAB IV : MEMBENTUK MASYARAKAT MADANI MELALUI
PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
A. Konsepsi Pendidikan Islam dalam Membentuk Masyarakat Madani
B. Tahapan Dalam Membentuk Masyarakat Madani
C. Tujuan Kongkrit Dalam Pembentukan Masyarakat Madani
D. Urgensi Pendidikan Islam Dalam Membentuk Masyarakat Madani
E. Pendidikan dan Masyarakat Madani Dalam Perspektif Al-Qur’an
F. Nilai-nilai Pendidikan Islam dan Implementasinya dalam
Membentuk Masyarakat Madani
BAB V : STRATEGI PENDIDIKAN ISLAM DALAM MEMBENTUK
MASYARAKAT MADANI
A. Implementasi Pendididkan Islam dalam Membentuk Masyarakat
Madani Perspektif Al-Qur’an
B. Etika Pendidikan Islam dalam Masyarakat Madani
1. Etika Ideologi
2. Etika Politik
3. Etika Sosial
4. Etika Budaya
5. Etika Masyarakat
C. Manusia dan Masyarakat yang Unggul Dalam Masyarakat Madani
D. Masyarakat Madani yang Demoktratis, Humanis dan Partisipatif
BAB VI : PENUTUP
40

A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Al-Khundairi Zainab,” Filsafat Sejarah Ibn Khaldun”. (Terjemahan. Ahmad Rafi’


Usmani, (Bandung : Penerbit Pustaka, 1987)

Abdullah Masykuri, “Negara Ideal Menurut Islam dan Implementasinya Pada


Masa Kini”, dalam (Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus: Editor) Islam,
“Negara dan Civil Society, Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer”,
(Jakarta: Paramadina, 2005)
41

Al-Farabi Abu Nasr Muhammad, “Ara’ Ahli Al-Madinah Al Fadilah”,(Libanon-


Beirut, Dar Al-Masyariq, 2002)

Baso Ahmad, Civil Society Versus Masyarakat Madani: “Arkeologi Pemikiran


Civil Society Dalam Islam Indonesia”, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999)

Effendi Masyhur dan Taufani S. Evandri, “ HAM, Dalam Dinamika/Dimensi


Hukum, Politik, Ekonomi, dan Sosial” (Ghalia Indonesia, Bogor : 2010)

Chamid Nur “Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam”, (Jogjakarta :


Pustaka Pelajar, 2010)

Cordoba, “Al-Qur’an dan Terjemahnya” (Bandung : 2015)

Hadi Sutrisno, “Metodologi Research”, (Jilid I, Yogyakarta, Andi Offset, 1987)

Jum‘ah Lutfi “Tarikh Al-Falasifat Al-Islamiy Fi Al-Masyriq Wa Al-Maghrib,

Khaldun Ibnu “Muqaddimah” (cet. IX, terjemah oleh Ahmadie Thaha, Jakarta :
Pustaka Firdaus, 2011)

________Ibnu,” Muqaddimah” (cet. VI, terjemah oleh Ahmadie Thaha, Jakarta :


Pustaka Firdaus, , 2006)

Kartanegara Mulyadhi, “Mozaik Khazanah Islam Bunga Rampai Dari Chicago”,


(Jakarta :Paramadina, 2000)

Littlejohn Stephen W, “Teori Komunikasi”

Langgulung Hasan “Pendidikan dan Peradaban Islam, Suatu Analisa Sosio-


Psikologi,” (Pustaka, Al-Husna, Jakarta 1985)

Madjid Nurcholish, “Masyarakat Tamaddun, Kritik Hermeneutis Masyarakat


Madani.” Cet I

Mudzhar Atho, ”Pendekatan Studi Islam Dalam Teori dan Praktek”(Yogyakarta:


Pustaka Pelajar, 1992)

Muhdjir Noeng, ‘’Metodologi Penelitian Kualitatif” (Yogyakarta: Rake Sarasin,


2002)

Muhajir Noeng, “Metodologi Penelitian Kualitatif”, (Rake Sarasin, Yogyakarta,


1992)

Nata Abuddin “ Studi Islam Komprehensif” (cet I, Kencana 2011)


42

Nizar, Samsul “Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan


Praktis”, (Ciputat Pers, Jakarta: 2002)

Purwanto Ngalim, “Psikologi Pendidikan”, (Bandung: Remaja Rosda Karya,


1990)

Surakhmad Winarno, “Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode Teknik”,


(Bandung: Tarsito, 1990)

Sugiono, “Memahami Penelitian Kualitatif”, (Bandung: CV Alvabeta, 2007)

Sutopo,” Pengantar Penelitian Kualitataif”, (Surakarta: Pusat Penelitan Sebelas


Maret, tt)

Syamsuddin, M. Din, “Etika Agama dalam Membangun Masyarakat

Madani.” (Jakarta: Logos, 2002.)

Saefuddin,A.M. et al, “Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi”, (Mizan,


Bandung: 1991)

Umari Akram Dhiyauddin, “Masyarakat Madani Tinjauan Historis Zaman


Nabi”, (Gema Insani Press, Jakarta 1999)

Walidin Warul “Konstelasi Pemikiran Pedagogik Ibnu Khaldun”. (Yogyakarta,


Suluh Press, 2003)

Wijaya Aksin, “Hidup Beragama Dalam Sorotan Piagam Madinah dan UUD
1945”, (Ponorogo: STAIN Press, 2009)

Anda mungkin juga menyukai