Anda di halaman 1dari 7

Bencana massal didefinisikan sebagai suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia, yang

dapat terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya jiwa manusia,kerusakan harta benda dan lingkungan, serta melampaui kemampuan dan sumber daya masyarakat untuk menanggulanginya. Dalam penggolongannya bencana massal dibedakan menjadi 2 tipe. Pertama, Natural Disaster, seperti Tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor dan sejenisnya. Sedangkan yang kedua, dikenal sebagai Man

Made Disaster yang dapat berupa kelalaian manusia itu sendiri seperti: kecelakaan udara,
laut, darat, kebakaran hutan dan sejenisnya serta akibat ulah manusia yang telah direncanakannya seperti pada kasus terorisme.

Identifikasi mayat korban merupakan suatu proses penting yang dapat berguna untuk pendataan tentang subjek korban sehingga kemudian dapat diserahkan kembali kepada keluarga korban. Pemerintah sendiri telah membuat suatu prosedur yakni Disaster Victim Identification atau biasa disebut DVI merupakan suatu prosedur identifikasi yang dilakukan terhadap korban kematian akibat bencana massal ini. Dalam melakukan identifikasi, DVI mengacu pada standar baku International Police Organization (Interpol) yang terdiri dari:

Data primer berupa

1. Profil gigi : bentuk gigi dan rahang merupakan ciri khas tiap orang. Tidak ada profil gigi yang identik pada 2 orang yang berbeda. Hal ini bergantung pula pada tipikal ras. 2. Sidik jari (fingerprint) : sidik jari apda setiap orang memiliki pola yang berbeda dan tidak akan sama. 3. Pemeriksaan DNA : DNA setiap orang juga pasti berbeda.

Data sekunder berupa

1. Visual 2. Fotografi 3. Properti (pakaian, perhiasan, dokumen, dll) 4. Medik antropologi (pemeriksaan fisik secara keseluruhan, dari bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, ciri khas khusus dan bekas luka yang ada di tubuh korban)

Pada korban kematian akibat bencana besar, seringkali ditemukan kesulitan terutama karena penampakan tubuh korban yang sama sekali tidak bisa dikenali secara kasat mata karena sebagian besar tubuhnya telah hancur dan tidak berbentuk.

Dalam keadaan seperti inilah kemudian identifikasi khusus dibutuhkan.

Identification
METODOLOGI IDENTIFIKASI Prinsipnya adalah pemeriksaan identitas seseorang memerlukan berbagai metode dari yang sederhana sampai yang rumit.8,9 a. Metode sederhana 1) Cara visual, dapat bermanfaat bila kondisi mayat masih baik, cara ini mudah karena identitas dikenal melalui penampakan luar baik berupa profil tubuh atau muka. Cara ini tidak dapat diterapkan bila mayat telah busuk, terbakar, mutilasi serta harus mempertimbangkan faktor psikologi keluarga korban (sedang berduka, stress, sedih, dll) 2) Melalui kepemilikan (property) identititas cukup dapat dipercaya terutama bila kepemilikan tersebut (pakaian, perhiasan, surat jati diri) masih melekat pada tubuh korban. 3) Dokumentasi, foto diri, foto keluarga, foto sekolah, KTP atau SIM dan lain sebagainya.

b. Metode ilmiah, antara lain: 1) Sidik jari, 2) Serologi, 3) Odontologi, 4) Antropologi dan 5) Biologi. Cara-cara ini sekarang berkembang dengan pesat berbagai disiplin ilmu ternyata dapat dimanfaatkan untuk identifikasi korban tidak dikenal. Dengan metode ilmiah ini didapatkan akurasi yang sangat tinggi dan juga dapat dipertanggung-jawabkan secara hukum.

Metode ilmiah yang paling mutakhir saat ini adalah DNA Profiling (Sidik DNA). Cara ini mempunyai banyak keunggulan tetapi memerlukan pengetahuan dan sarana yang canggih dan mahal. Dalam melakukan identifikasi selalu diusahakan cara-cara yang mudah dan tidak rumit. Apabila dengan cara yang mudah tidak bisa, baru meningkat ke cara yang lebih rumit. Selanjutnya dalam identifikasi tidak hanya menggunakan satu cara saja, segala cara yang mungkin harus dilakukan, hal ini penting oleh karena semakin banyak kesamaan yang ditemukan akan semakin akurat. Identifikasi tersebut minimal harus menggunakan 2 cara yang digunakan memberikan hasil yang positif (tidak meragukan). Prinsip dari proses identifikasi adalah mudah yaitu dengan membandingkan datadata tersangka korban dengan data dari korban yang tak dikenal, semakin banyak kecocokan semakin tinggi nilainya. Data gigi, sidik jari, atau DNA secara tersendiri sudah dapat digunakan sebagai faktor determinan primer, sedangkan data medis, property dan ciri fisik harus dikombinasikan setidaknya dua jenis untuk dianggap sebagai ciri identitas yang pasti.3,4 Gigi merupakan suatu cara identifikasi yang dapat dipercaya, khususnya bila rekam dan foto gigi pada waktu masih hidup yang pernah dibuat masih tersimpan dengan baik. Pemeriksaan gigi ini menjadi amat penting apabila mayat sudah dalam keadaan membusuk atau rusak, seperti halnya kebakaran. Adapun dalam melaksanakan identifikasi manusia melalui gigi, kita dapatkan 2 kemungkinan: 1) Memperoleh informasi melalui data gigi dan mulut untuk membatasi atau menyempitkan identifikasi. informasi ini dapat diperoleh antara lain mengenai: a. umur b. jenis kelamin c. ras d. golongan darah e. bentuk wajah f. DNA Dengan adanya informasi mengenai perkiraan batas-batas umur korban misalnya, maka pencarian dapat dibatasi pada data-data orang hilang yang berada di sekitar umur korban. Dengan demikian penyidikan akan menjadi lebih terarah. 2) Mencari ciri-ciri yang merupakan tanda khusus pada korban tersebut. Di sini dicatat ciri-ciri yang diharapkan dapat menentukan identifikasi secara lebih akurat dari pada sekedar mencari informasi tentang umur atau jenis kelamin. Ciri-ciri demikian antara lain: misalnya adanya gigi yang dibungkus logam, gigi yang ompong atau patah, lubang pada bagian depan biasanya dapat lebih mudah dikenali oleh kenalan atau teman dekat atau keluarga

korban. Di samping ciri-ciri di atas, juga dapat dilakukan pencocokan antara tengkorak korban dengan foto korban semasa hidupnya. Metode yang digunakan dikenal sebagai

Superimposed Technique yaitu untuk membandingkan antara tengkorak korban dengan


foto semasa hidupnya. c. Identifikasi dengan Teknik Superimposisi Superimposisi adalah suatu sistem pemeriksaan untuk menentukan identitas seseorang dengan membandingkan korban semasa hidupnya dengan tengkorak yang ditemukan. Kesulitan dalam menggunakan tehnik ini adalah: 1) Korban tidak pernah membuat foto semasa hidupnya. 2) Foto korban harus baik posisinya maupun kualitasnya. 3) Tengkorak yang ditemukan sudah hancur dan tidak berbentuk lagi. 4) Membutuhkan kamar gelap yang perlu biaya tersendiri. Khusus pada korban bencana massal, telah ditentukan metode identifikasi yang dipakai yaitu: a. Primer/utama 1) gigi geligi 2) sidik jari 3) DNA b. Sekunder/pendukung 1) visual 2) property 3) medik

Terdapat beberapa fase yang ada dalam DVI yakni : 1. Mengamankan tempat kejadian In the scene of incidents atau biasa disebut tempat kejadian peristiwa (TKP). Pada fase ini, dilakukan pembatasan area dengan menggunakan garis batas polisi sehingga area TKP tidak terganggu dan dapat dilakukan labelling pada korban dan dokumentasi untuk kepentingan identifikasi 2. Mengoleksi data post mortem/Collecting post mortem data
Data post mortem adalah data-data hasil pemeriksaan forensik yang dilihat dan ditemukan pada jenazah korban. Kita harus mencatat data data yang didapat pada jenasah selengkap lengkapnya. Mulai dari cici-ciri umum, perkiraan umur, jenis kelamin,

ras. Pertama ambil foto keadaan jenasah secara utuh baik masih menggunakan pakaian atau yang telah dilepas, kemudian lakukan pemeriksaan fisik untuk melihat ciri-ciri fisik khusus yang ada pada tubuh korban. Kemudian ambil sidik jari korban, lakukan pemeriksaan radiologis gunanya yaitu untuk melihat apakah pada jenasah memiliki tanda khusus pada bagian dalam tubuh, sperti pemasangan pen pada patah tulang, dll. Setelah itu identifikasi gigi. Setelah semua itu dilakukan cegah peruban pada jenasah. Pemeriksaan DNA pada Korban juga harus dilakukan untuk membandingkan dengan pihak keluarga korban

3. Mengoleksi data ante-mortem/Collecting ante mortem data


Data ante mortem adalah data-data yang penting dari korban sebelum kejadian atau pada waktu korban masih hidup, termasuk data vital tubuh, data gigi, data sidik jari, dan data kepemilikan yang dipakai atau dibawa. Data ante mortem juga bisa dilakukan

dengan wawancara mengenai riwayat korban pada orang terdekat terutama keluarga.

4. Membandingkan data ante-mortem dengan Post mortem/Reconciliation, pada fase ini, data post mortem dan ante mortem yang telah didapatkan dibandingkan dan dicocokkan. Jika indikator kecocokan sudah dicapai, maka identitas korban akan semakin mudah untuk diketahui. 5. Mengembalikan Jenasah pada pihak keluarga/Returning to the family atau proses pengembalian pada keluarga jika korban telah teridentifikasi, selanjutnya dilakukan perbaikan atau rekonstruksi hingga didapatkan kondisi/kosmetik terbaik untuk kemudian dikembalikan pada keluarganya. Setelah jenasah teridentifikasi maka dibuatkan surat kematian, Surat kematian adalah Surat yang menerangkan bahwa seseorang telah meninggal dunia memuat : identitas, saat kematian, sebab kematian. Kegunaan Surat kematian Pemakaman Pensiun Asuransi Warisan

Hutang piutang Hukum statistik

Dalam pelaksanaannya, identifikasi bukan merupakan perkara yang mudah. Banyak kesulitan yang dialami karena kurangnya sistem informasi dan pengumpulan data yang ada di Indonesia. Dalam hal ini, proses reconciliation menjadi sulit dilakukan karena kurangnya data informasi ante mortem korban. Kesulitan-kesulitan tersebut dikarenakan hal-hal sebagai berikut :

Buruknya pencatatan dan rekam medis, sehingga data data hasil pemeriksaan korban terutamadata primer tidak tersimpan dan tercatat dengan baik.

Masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan tertent secara berkala, dalam kasus ini adalah gigi yang dapat digunakan sebagai data primer, sehingga data ante mortem profil gigi pun sulit didapatkan.

Kurangnya sosialisasi pemerintah untuk mengumpulkan data primer layaknya di luar negeri