Anda di halaman 1dari 1

KARAKTERISTIK PERNYATAAN MISI

Deklarasi Sikap Pernyataan misi lebih dari sekedar pernyataan detail-detail spesifik, namun merupakan dekalrasi sikapa atau pandangan. Pernyataan misi mencakup dua alasan: 1. Pernyataan misi yang baik memungkinkan penciptaan dan pertimbangan beragam tujuan dan strategi alternatif tanpa menghambat kreativitas manajemen. 2. Pernyataan misi perlu luas agar dapat secara efektif merekonsiliasi perbedaan dan menarik bagi para pemangku kepentingan (stakeholders). Keseimbangan yang sempurna antar kekhususan dan keumuman sulit untuk dicapai, namun patut diperjuangkan. George Steiner memberikan pandangan mengenai perlunya pernyataan misi yang luas dalam hal cakupannya, bahwa kebanyakan pernyataan misi bisnis diekspresikan dalam abstraksi tingkat tinggi (samar-samar). Sifat samar-samar memberi ruang bagi para manajer lain untuk mengisi detail, memungkinkan modifikasi pola-pola umum, dan memungkinkan fleksibilitas yang lebih untuk beradaptasi dengan lingkungan. Selain itu pernyataan misi yang efektif seharusnya 1. 2. 3. 4. Tidak terlalu panjang (sebaiknya dibawah 250 kata). Harus membangkitkan perasaan dan emosi positif mengenai organisasi. Tak lekang oleh waktu Mencerminkan penilaian mengenai arah dan strategi pertumbuhan masa depan yang didasarkan pada analisis eksternal dan internal yang berpikiran ke depan.

Orientasi Konsumen Sebuah pernyataan misi yang baik mendiskripsikan maksud, konsumen, produk atau jasa, pasar, filosofi, dan teknologi dasar suatu organisasi. Menurut Vern McGinnis, pernyataan misi seharusnya 1. Mendefinisikan organisasi tersebut dan cita-citanya; 2. Cukup spesifik sehingga tidak memasukkan bisnis tertentu sekaligus cukup luas sehingga memungkinkan pertumbuhan yang kreatif; 3. Membedakan sutau organisasi dengan organisasi lain; 4. Berfungsi sebagai kerangka kerja untuk mengevaluasi baik aktivitas masa kini maupun prospektif; dan 5. Diungkapkan secara cukup jelas agar dipahami secara luas di seluruh lapisan organisasi. Pernyataan misi yang baik mencerminkan antisipasi akan konsumen. Alih-alih mengembangkan sebuah produk dan kemudian berusaha mencari pasar, filosofi yang berhasil dalam organisasi adalah mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan kemudian menyediakan produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Yang dibeli dan dianggap bernilai oleh konsumen tidak pernah berupa produk, namun adalah utilitas atau manfaat, yaitu kegunaan suatu produk atau jasa bagi dirinya. Konsumen adalah pondasi sebuah bisnis, dan konsumen pula lah yang mempertahankan eksistensinya.