Anda di halaman 1dari 11

Ujian Tengah Semester

MATA KULIAH PENDIDIKAN MORAL/KODE ETIK PSIKOLOGI

Disusun Oleh: Ernestine Oktaviana Kelas B FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA 2011 110911110

1a. Tujuan mempelajari kode etik Kode etik dipelajari sebagai landasan dan persiapan untuk terjun ke dunia profesional/kerja dimana nantinya kita akan dihadapkan pada kasuskasus yang menuntut pengambilan keputusan etis. Selain itu, Sarjana Psikologi, Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi dapat dianggap sebagai penentu nasib orang. Tanpa adanya pengetahuan yang cukup akan kode etik, suatu keputusan etis dan penentuan nasib yang sesuai tidak akan dapat dicapai. 1b. Maksud dari Keputusan Etis Keputusan etis merupakan pertimbangan tentang apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang buruk. Sering kali, keputusan etis menyangkut pilihan yang sulit. Pengambilan keputusan etis dipengaruhi oleh norma-norma yang dipertimbangkan dan pengertian tentang situasi, kepercayaan, tabiat dan lingkungan sosial. 1c. Kaitan Kode Etik (Psikologi) dengan Pengambilan Keputusan Etis Kode Etik Psikologi dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan etis. Dalam Kode Etik Psikologi terdapat prinsip-prinsip yang harus diterapkan oleh Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi dalam menjalankan profesinya maupun membuat keputusan etis yang menyangkut profesinya. 1d. Pengambilan keputusan etis oleh individu dengan status mahasiswa pendidikan tinggi psikologi, ilmuwan psikologi dan psikolog Pada dasarnya tidak ada perbedaan pengambilan keputusan etis oleh individu dengan status mahasiswa pendidikan tinggi psikologi, ilmuwan psikologi dan psikolog. Orang-orang yang sedang maupun pernah mempelajari psikologi memegang tanggung jawab yang cukup berat. Masyarakat awam sering kali menganggap bahwa mahasiswa pendidikan tinggi psikologi, ilmuwan psikologi maupun psikolog mengetahui segalanya. Hanya saja, tingkat tanggung jawab yang dimiliki

oleh Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi akan lebih besar dibanding tingkat tanggung jawab Sarjana Psikologi ketika membuat keputusan etis. Oleh karena itu, baik mahasiswa pendidikan tinggi psikologi, ilmuwan psikologi dan psikolog haruslah mengambil keputusan etis dengan benarbenar bijaksana. 2a. Pendapat Cooper mengenai komunikasi, pluralisme sosial dan moralitas universal Komunikasi, menurut Cooper (Cooper, 2004), membutuhkan pengetahuan prosedural yang sama. Pengetahuan prosedural berarti pengetahuan yang melibatkan kemampuan yang pasti yang berada di area ketidaksadaran. Komunikasi melibatkan pemahaman atas emosi perasaan-perasaan orang lain dan kejadian-kejadian yang menyertai kehidupan sehari-hari. Komunikasi juga melibatkan simbol-simbol untuk menyampaikan perasaan. Simbol ini pada awalnya berupa bahasa yang akan diinterpretasikan dan dibagikan pada komunitas untuk menyampaikan pesan. Bahasa adalah bentuk ekspersi pengalaman tubuh yang dirasakan dan dibagikan pada komunitas. Pluralisme sosial dijelaskan oleh Cooper menggunakan suku sebagai contohnya. Orang dari suku A yang sudah mendapat sosialisasi yang baik dari sukunya belum tentu dapat bersosialisasi dengan baik di suku B. Inilah yang dimaksud dengan pluralisme sosial dimana kelompok satu dengan yang lain memiliki aturan sosialisasi yang berbeda-beda. Moralitas universal seperti yang dikutip dari http://www.universalmorality.org/index.html pada 19 April 2011 pukul 21:47:13 GMT diartikan sebagai berikut; Universal Morality is an ongoing attempt to work out the basic principles of a moral system that would apply to every individual member and every sub-group of every advanced civilization in the universe, to every advanced civilization as a whole, and to how all such civilizations should interact with each other.

Dapat diartikan bahwa moralitas universal adalah sistem moral yang dapat diaplikasikan ke semua individu dari berbagai peradaban yang ada di seluruh alam semesta (universe). 2b. Kaitan etika deskriptif dengan perkembangan kognitif moral menurut Cooper Etika deskriptif adalah penggambaran perilaku moral dalam cakupan yang luas seperti adat kebiasaan. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu dalam kebudayaan dan kultur tertentu, dalam suatu periode sejarah. Sifat dari etika deskriptif hanyalah melukiskan dan tidak memberikan penilaian. Etika deskriptif berhubungan erat dengan perkembangan moral kognitif yang dicetuskan oleh Kohlberg. Pengetahuan akan etika deskrptif yang memberi gambaran akan apa yang benar/salah, apa yang harus diperbuat/tidak boleh diperbuat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan moral dalam perkembangan moral kognitif. 3a. Penjelasan konsep Relativisme Kultural, Egosime Psikologis, Egosime Etik Relativisme Kultural Menyimpulkan Rachels dalam Filsafat Moral, relativisme kultural dapat diartikan sebagai perbedaan cara pandang dari berbagai culture/budaya mengenai hal-hal yang menyangkut tindakan moral. Tiap kelompok budaya memiliki pandangan yang objektif atas suatu masalah, yang kadang kala dianggap bertentangan dengan kode moral kelompok budaya lainnya, sehingga tidak ada suatu kebenaran objektif atas moralitas dalam sudut pandang relativisme kultural. (Rachels, 2004) Egoisme Psikologis Teori Egoisme Psikologis berkaitan dengan tindakan-tindakan yang dilakukan atas dasar selfishness (berkutat-diri). Menurut teori ini, setiap tindakan manusia dimotivasikan oleh kepentingan-diri. Egoisme Psikologi menolak perilaku altruistik. Altruisme merupakan pandangan yang dikemukakan oleh Auguste Comte, seorang filsfuf Prancis. Menurut

Comte, altruisme adalah perhatian tanpa pamrih untuk kesejahteraan orang lain. Dalam pandangan Egosime Psikologi yang digali lebih dalam oleh Thomas Hobbes, tidak ada tindakan yang dilakukan tanpa pamrih, karena tindakan-tindakan itu dilakukan karena kita ingin melakukannya dan hal itu membuat kita merasa enak. Egoisme Etis Egoisme Etis merupakan teori normatif, yang merujuk pada bagaimana seharusnya kita bertindak, tanpa memandang bagaimana biasanya kita bertindak. Teori ini mengatakan bahwa seseorang seharusnya melakukan apa yang sesungguhnya paling menguntungkan bagi dirinya. Egoisem Etis adalah pandangan yang radikal bahwa satusatunya tugas adalah membela kepentingan dirinya sendiri, dan hanya ada satu perilaku utama; yakni prinsip kepentingan diri yang merangkum semua tugas dan kewajiban alami seseorang. Bukan berarti tindakan untuk menolong orang lain harus dihindari; bisa saja suatu saat kepentingan kita bertautan dengan kepentingan orang lain sehingga menolong orang lain merupakan cara efektif untuk menguntungkan diri sendiri. 3b. Pengaruh konsep Relativisme Kultural, Egosime Psikologis, Egosime Etik pada ciri/sifat kode etik Kode etik merupakan aturan bagi hal-hal yang menjadi adat/kebiasaan, nilai-nilai yang dianut suatu komunitas tertentu. Kode etik merupakan penunjuk arah moral bagi suatu profesi yang juga menjamin mutu moral suatu profesi di mata masyarakat. Relativisme kultural berkaitan dengan objektivisme budaya, sementara egoisme psikologis berkaitan dengan hal berkutat-diri dan egosime kultural berkaitan dengan teori normatif yang mengatur hal yang seharusnya dilakukan. Ketiga konsep yang bertolak belakang ini menjadi pertimbangan bagi pengambilan keputusan etis; dimana keputusan etis itulah yang mendasari berkembangnya suatu kode etik. 3c. Penyusunan Konsep Etik Psikologi Dunia/Global

Konsep etik psikologi yang bersifat global dapat disusun asalkan masih memperhatikan faktor-faktor budaya yang mempengaruhi kebudayaan dimana kode etik psikologi diterapkan. Dalam hal ini, diharapkan kosep etik psikologi bersifat fleksibel. 4. Kandungan nilai yang dapat dijadikan dasar kajian teoritik Bertens mengenai penerapan etika normatif dalam kehidupan sekelompok manusia sebagai acuan perilaku bagi masyarakat ybs. sehingga dapat memunculkan tema-tema yang patut dikaji dalam lingkup etika normatif. Etika normatif normatif adalah pandangan etis sebagai penilaian tentang perilaku manusia. Etika normatif bersikap preskriptif atau memenerintah. Dengan kata lain, etika normatif menentukan benar/tidaknya tingkah laku atau anggapan moral. Pandangan etis ini mengemukakan argumen-argumen sebagai alasan mengapa suatu tingkah laku disebut baik atau buruk dan mengapa suatu anggapan moral dianggap benar atau salah. 5. Metode yang dikembangkan etika terapan terkait dengan kebijakan publik yang menjadi landasan dalam penyusunan kode etik profesi tertentu. Terdapat empat unsur dalam proses terbentuknya pertimbangan moral, yaitu sikap awal, informasi, norma-norma moral dan logika. Sikap awal Suatu pandangan terhadap masalah moral selalu memiliki landasan pemikiran yang disebut sebagai sikap awal. Sikap awal dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, seperti pendidikan, kebudayaan, agama, pengalaman pribadi, media massa dan watak seseorang. Sikap awal ini dipertahankan tanpa pemikiran lebih panjang sampai adanya peristiwa yang menggugah refleksi. Karena faktor-faktor ini kadang memiliki unsur emosional yang kuat, sikap awal seringnya bersifat subjektif.

Sikap awal yang terusik karena adanya suatu peristiwa akan memunculkan suatu refleksi, sehingga dilakukan pemikiran ulang terhadap sikap awal yang dianut selama ini. Informasi Tergugahnya pemikiran etis menimbulkan keinginan untuk mencari informasi. Informasi yang akurat disediakan oleh para ahli maupun orang-orang yang memahami peristiwa yang bersangkutan secara mendalam, bukan sembarangan orang. Adanya informasi baru akan memberikan suatu perubahan pandangan; dari sikap awal yang masih subjektif ke arah pemikiran yang sesuai dengan keadaan nyata (objektif). Informasi yang diberikan dapat berupa kumpulan data ilmiah yang diberikan berbagai sudut pandang ilmu. Cara pengumpuan data dimana suatu masalah dikaji dari suatu sudut pandang disebut dengan metode multidisipliner. Kumpulan data-data ilmiah inilah yang kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan etis. Norma-norma Moral Norma moral merupakan norma yang sudah diterima oleh masyarakat. Penggunaan norma moral dalam penyusunan kode etik profesi dilakukan dengan menyesuaikan norma masyrakat yang ada agar relevan dengan topik yang dibahas. Norma moral yang diterapkan dalam penyusunan kode etik profesi haruslah norma yang diterima semua orang dan dianggap berlaku untuk kasus yang bersangkutan. Logika Logika memegang peranan penting dalam penyusunan kode etik. Logika dapat memperlihatkan kaitan antara argumentasi mengenai kesimpulan etis dalam masalah moral dengan kesesuaian antara premispremisnya. Dari kesimpulan premis, dapat diketahui apakah premis logis tersebut tahan uji. Logika juga dapat menunjukkan kesalahan penalaran dan inkonsistensi dalam argumentasi.

Penyesuaian sikap awal, informasi, norma-norma moral dan logika dengan pokok permasalahan akan mendasari penyusunan kode etik yang baik. 6. Pokok-pokok pemikiran, prinsip-prinsip umum, prinsip-prinsip khusus dan alasannya dalam bidang terapan dari Kode Etik Psikologi Indonesia. Terdapat lima prinsip umum dalam Kode Etik Psikologi. Tiap prinsip dijelaskan oleh ayat-ayat berupa prinsip-prinsip khusus. Prinisp khusus maupun umum ini harus dijalankan oleh Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi. Pada umumnya, prinsip-prinsip ini dibuat untuk memenuhi tujuan ilmu psikologi untuk mencapai well being. A. Prinsip A: Penghormatan pada Harkat Martabat Manusia Pokok pemikiran prinsip umum Penghormatan pada Harkat Martabat Manusia ini adalah menjunjung tinggi kemanusiaan. Dijelaskan melalaui prinsip-prinsip khusus bahwa dalam setiap penerapan pelayanan psikologi, Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi harus menekankan pada hak asasi manusia, menghormati hak-hak individu dan secara khusus berhati-hati agar hak dan kesejahteraan individu maupun komunitas tetap terlindungi. Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi harus menghormati berbagai macam perbedaan yang ada pada klien-kliennya dan mempertimbangkan faktor-faktor itu pada saat bekerja dengan orang-orang dari kelompok tersebut. Alasan dari diberlakukannya prinsip-prinsip ini dikarenakan Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi akan senantiasa bersinggungan dengan hal-hal yang menyangkut harkat martabat manusia. Bahasan mengenai harkat martabat manusia merupakan hal yang sensitif, yang tidak seharusnya dilanggar oleh siapapun. Maka sangat penting bagi Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi untuk menjunjung tinggi penghormatan terhadap harkat martabat manusia. B. Prinsip B: Integritas dan Sikap Ilmiah

Prinsip Umum mengenai Integritas dan Sikap Ilmiah ini berkaitan dengan etos kerja Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi yang mana dalam melaksanakan profesinya harus senantiasa mendasarkan pada dasar dan etika ilmiah yang sudah diketahui kebenarannya oleh komunitas psikologi. Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi juga harus menjaga ketepatan, kejujuran, kebenaran dalam keilmuan, pengajaran, pengamalan dan praktik psikologi. Selain itu, Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi tidak mencuri, berbohong, terlibat pemalsuan (fraud), tipuan atau distorsi fakta yang direncanakan dengan sengaja memberikan fakta-fakta yang tidak benar. Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi tetap berupaya untuk menepati janji namun diperkenankan untuk tidak mengungkap fakta secara untuk meminimalkan dampak buruk bagi pengguna jasa atau praktik psikologi. Hal-hal ini berkaitan dengan etika kerja dan kejujuran. Prinsip Integritas dan Sikap Ilmiah ini harus dijunjung tinggi karena Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi memiliki tanggung jawab moral terhadap profesi dan orang-orang yang bersangkutan dengan profesinya. C. Prinsip C: Profesional Prinsip Profesional berkaitan dengan kompetensi Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi dalam melaksanakan profesinya. Prinsip-prinsip khusus pada prinsip Profesional ini menekankan pada keharusan Psikolog dan atau Ilmuwan Psikolog untuk menjunjung tinggi etika profesinalismenya cara. Peningkatan mutu yang berkaitan dengan profesi Psikolog dan atau Ilmuwan Psikolog ini penting karena ilmu Psikologi terus berkembang dan penerapannya meluas ke berbagai bidang. Tanpa kompetensi yang sesuai dan mampu beradaptasi dengan berbagai perkembangan, Psikolog dan atau Ilmuwan Psikolog tidak akan mampu bertahan. D. Prinsip D: Keadilan dengan memenuhi segala kompetensi yang dibutuhkan dan terus meningkatkan kemampuannya melalui berbagai

Prinsip Keadilan ini berkaitan dengan perlindungan terhadap kesejahteraan umat manusia. Prinsip ini penting karena keadilan bukanlah sesuatu yang dapat dipandang sebelah mata dan harus diperjuangkan bagaimanapun caranya. Dalam menjalankan profesinya, Psikolog dan atau Ilmuwan Psikolog tidak boleh membeda-bedakan pihak-pihak yang bekerjasama dengannya. Selain itu, penilaian yang diberikan oleh Psikolog dan atau Ilmuwan Psikolog haruslah objektif dan tidak boleh berpihak pada sisi tertentu. E. Prinsip E: Manfaat Prinsip Manfaat berkaitan dengan tugas Psikolog dan atau Ilmuwan Psikolog untuk mensejahterakan umat manusia. Hal ini berkaitan pula dengan perlindungan hak dan pertimbangan untuk mengurangi resiko dampak buruk tidak mengakibatkan dampak buruk bagi pengguna layanan psikologi serta pihak-pihak lain yang terkait. Selain itu, Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi perlu waspada terhadap kemungkinan adanya faktor-faktor pribadi, keuangan, sosial, organisasi maupun politik yang mengarah pada penyalahgunaan atas pengaruh mereka.

DAFTAR PUSTAKA Bertens, K. (2007). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Cooper, D. E. (2004). Ethics For Professionals In A Multicultural Word. Upper Saddle River, N.J.: Pearson Prentice Hall. Rachels, James. (2004). Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius. Universal Morality. (13 April 2011). Dalam Universal Morality. Diunduh pada 20 April 2011, dari http://www.universalmorality.org/index.html