Anda di halaman 1dari 4

POLA KOMUNIKASI KELUARGA DAN KEPRIBADIAN ANAK Seorang ibu menyampaikan tentang perbedaan perilaku dua anaknya yang

menyolok walaupun mereka sama-sama laki-laki. Dalam aktifitas konsumtif misalnya, anak sulungnya jarang minta dibelikan sesuatu. Andaikanpun dia diajak ke toko atau supermarket, maka ia tidak punya banyak pilihan sehingga pilihan orang tuanya cenderung diterima. Ini berbeda dengan anak bungsunya yang memiliki banyak permintaan dan tawaran-tawaran alternatif yang diajukan kepadanya. Si sulung akan melakukan sesuatu manakala diminta atau disuruh orang tua, sedangkan si bungsu akan cenderung mencari aktifitas sendiri, terlepas dari keinginan orang tua. Contoh di atas adalah kejadian nyata yang banyak ditemukan di masyarakat kita. Bahkan mungkin pada diri atau keluarga anda. Ada perbedaan perilaku, kepribadian, dan konsep pada anak, remaja, bahkan orang tua. Mengapa bisa terjadi? Perkembangan kepribadian dan perilaku anak juga kita sebagai orang dewasa dipengaruhi baik oleh faktor bawaan (genetik) maupun lingkungan (environment). Faktor genetik disebabkan oleh keturunan dan oleh karenanya relatif sulit dimodifikasi. Pada beberapa kasus sampai saat ini, kita harus menerima begitu saja (take it for granted). Berbeda halnya dengan faktor lingkungan. Kita dapat melakukan rekayasa sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan. Faktor lingkungan yang paling dominan dalam membentuk kepribadian dan perilaku manusia adalah keluarga diikuti secara berturut-turut teman bermain atau teman sekerja, lingkungan rumah tangga, televisi dan media massa lainnya. Keluarga menjadi faktor dominan karena secara umum anak sampai menjelang dewasa menghabiskan sebagian besar waktunya dalam keluarga. Faktor keluarga yang mempunyai dampak penting adalah pola komunikasi keluarga (family communication pattern). Pola komunikasi keluarga ini didefinisikan sebagai frekuensi, jenis dan kualitas komunikasi yang terjadi antara anggota keluarga. Frekuensi mengacu pada seberapa sering orang tua berkomunikasi dengan anaknya, jenis mengacu pada bentuk komunikasi apakah orang tua melakukan komunikasi karena dorongan untuk memerintah atau melarang, menanyai sehingga cenderung

dirasakan anak sebagai interogasi, atau memberikan informasi yang diperlukan. Sedangkan kualitas mengacu pada mutu komunikasi tersebut. Pola komunikasi ini dikonseptualisasikan memiliki 2 dimensi. pertama adalah orientasi sosial (socio-oriented communication). Dimensi Dimensi ini

mengukur pola komunikasi vertikal yang berorientasi pada hubungan. Pola ini menekankan kontrol orang tua dan rasa hormat anak kepada orang yang memegang kekuasaan dan kewenangan. Pola ini dimaksudkan untuk membuat kepatuhan anak dan selanjutnya menciptakan hubungan sosial yang selaras (harmoni) dan menyenangkan di dalam rumah. Secara langsung maupun tidak, anak diajari untuk menghindari perselisihan dan menekan perasaannya agar bisa menghindari perdebatan dengan orang yang lebih dewasa atau menghindari menyerang perasaan orang lain. Dimensi kedua adalah dimensi orientasi konsep (concept-oriented communication). Dimensi ini mengukur komunikasi yang berorientasi pada permasalahan (issue-oriented). Orang tua dengan dimensi ini mendorong anak untuk mengembangkan pandangan mereka sendiri tentang dunia dan mendorong anak untuk mengembangkan penilaian tentang suatu masalah secara mandiri. Mereka lebih memperhatikan aspek fungsi dan mendorong anak untuk menimbang semua alternatif sebelum mengambil keputusan serta membiarkan anak berada dalam kontroversi dengan mendiskusikan permasalahan secara terbuka. Dua dimensi diatas membentuk empat tipologi pola komunkasi atas dasar tinggi rendahnya masing-masing dimensi yaitu: laissez-faire (suka-suka), protektif, pluralis dan konsensual. Pola komunikasi laissez-faire muncul karena dimensi orientasi sosial maupun orientasi konsep yang rendah; diantara orang tua anak tidak banyak terjadi komunikasi. Protekif terjadi jika orientasi konsepnya rendah dan orientasi sosialnya tinggi. Kebalikan dari protektif adalah pluralis dimana orientasi konsepnya tinggi sama-sama tinggi. dan orientasi sosialnya rendah. Sedangkan konsensual berkebalikan dengan laissez-faire yaitu baik orientasi konsep maupun orientasi sosial

Anak-anak yang tumbuh di keluarga dengan orientasi sosial tinggi cenderung menjadi anak penurut, pendiam, tidak menyukai perbedaan apalagi konflik, cenderung menyetujui apa kata orang tua, pimpinan atau kelompok, tidak mempunyai banyak pilihan dengan demikian cenderung tidak kreatif. Sebaliknya, anak yang tumbuh di tengah keluarga dengan orientasi konsep tinggi cenderung mandiri, yakin akan gagasan atau pilihannya sendiri, biasa menghadapi perbedaan dan kreatif karena kemampuan imajinatifnya cenderung berkembang lebih baik. Lalu bagaimana dengan kasus dua anak yang disebutkan di muka? Bukankah keluarganya sama? Pola komunikasi keluarga bersifat dinamis, bisa berubah-ubah tergantung pelaku komunikasinya. Bisa jadi keluarga ini ketika membesarkan anak pertamanya mengembangkan pola komunikasi orientasi sosial yang tinggi sehingga menjadi protektif. Atas nama keselamatan, keamanan dan kebaikan anak, orang tua baru ini mengontrol, mengatur, melarang, menyuruh sebagian besar aktifitas anaknya dengan jangan ini jangan itu, harus begini harus begitu, serta menanamkan nilai bahwa anak yang baik adalah anak yang menurut orang tuanya. Kondisinya mungkin berbeda pada anak keduanya. Orang tua sudah berpengalaman membesarkan anaknya yang pertama, mereka juga harus membagi perhatian dengan anaknya yang lebih besar dan urusan rumah tangga yang semakin banyak. Apalagi anak keduanya laki-laki berjenis kelamin sama dengan kakaknya (kebanyakan orang tua menginginkan anak keduanya berjenis kelamin berbeda dengan anak pertamanya). Hal ini memungkinkan tingkat komunikasi orientasi sosial atau tingkat kontrol dan pengawasan cenderung menurun, sementara komunikasi oreintasi konsepnya cenderung naik sehingga ia lebih mandiri dan mampu mengembangkan pilihan-pilihan yang relatif lebih banyak. Maka jangan asal salahkan perilaku dan kepribadian anak, karena orang tua dan keluargalah yang membentuknya sebagian. * Hartono Staff pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang e-mai: hartonoengfe@yahoo.com