Anda di halaman 1dari 15

Rabu, 22 April 2009

Stevens Johnson Syndrome


Posted by affdoc_storage on 07:47 1 komentar

BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG Steven johnson merupakan syndrom kelainan kulit pada selaput lendir orifisium mata gebital. Prediksi : nulut, mata, kulit, ginjal, dan anus. Steven johnson tersebut disebabkan oleh beberapa mikroorganisme virus dll. Syndrom ini jarang dijumpai pada usia 3 tahun, kebawah kemudian umurnya bervariasi dari ringan sampai berat. Pada yang berat kesadarannya menurun, penderita dapat soporous sampai koma, mulainya penyakit akut dapat disertai gejala prodiomal berupa demam tinggi, melaise, nyeri kepala, batuk, pilek dan nyeri tenggorokan. Syndrom steven johnson ditemukan oleh dua dokter anak Amerika. A. M. steven dan S.C johnson, 1992 syndrom steven johnson yang bisa disingkat SJS merupakan reaksi alergi yang hebat terhadap obat-obatan. Angka kejadian syndrom steven johnson sebenarnya tidak tinggi hanya sekitar 1-14 per 1 juta penduduk. Syndrom steven johnson dapat timbul sebagai gatal-gatal hebat pada mulanya, diikuti dengan bengkakdan kemerahan pada kulit. Setelah beberapa waktu, bila obat yang menyebabkan tidak dihentikan, serta dapat timbul demam, sariawan padamulut, mata, anus, dan kemaluan serta dapat terjadi luka-luka seperti koreng pada kulit. Namun pada keadaan-keadaan kelainan simtem imom seperti HIV dan AIDS serta lapus angka kejadiannya dapat meningkat secara tajam. Dari data diatas penulis tertarik mengangkat kasus syndrom steven johnson karena syndrom steven johnson sangat berabahaya bahkan dapat menyebabkan kematian. Syndrom tidak menyerang anak dibawah 3 tahun, dan penyebab syndrom steven johnson sendiri sangat bervariasi ada yang dari obat-obatan dan dari alergi yang hebat, dan ciri-ciri penyakit steven johnson sendiri gatal-gatal pada kulit dan badan kemerah-merahan dan syndrom ini bervariasi ada yang berat dan ada yang ringan. ( Support, Edisi November 2008 ) B.TUJUAN 1.Tujuan Umum Untuk memberikan pengalaman nyata tentang Asuhan Keperawatan dengan Kasus Syndrom Steven Johnson

2.Tujuan Khusus Secara khusus '' Asuhan Keperawatan Klien dengan Syndrom Steven Johnson '', ini disusun supaya : a.Perawat dapat mengetahui tentang pengertian, penyebab, klasifikasi, tanda dan gejala, patofisiologi, pathway, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaa, serta komplikasi dari syndrom steven johnson. b.Perawat dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan syndrom steven johnson. c.Perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan tentang syndrom steven johnson pada klien.BAB II TINJAUAN TEORI A.Konsep Dasar 1.Pengertian a.Syndrom Steven Johnson adalah Syndrom yang mengenai kulit, selaput lendir orifisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat. Kelainan pada kulit berupa eritema, vesikel / bula dapat disertai purpura. ( Djuanda, 1993 : 107 ) b.Syndrom Steven Johnson adalah penyakit kulit akut dan berat yang terdiri dari eropsi kulit, kelainan mukosa dan konjungtivitis ( Junadi, 1982 : 480 ) c.Syndrom Steven Johnson adalah syndrom kelainan kulit berupa eritema, vesikel / bula, dapat disertai purpura yang dapat mengenai kulit, selaput lendir yang oritisium dan dengan keadaan omom bervariasi dan baik sampai buruk. ( Mansjoer, A, 2000 : 136 ) d.Jadi syndrom steven johnson adalah suatu syndrom berupa kelainan kulit pada selaput lendir oritisium mata genital.

2.Etiologi Penyebab belum diketahui dengan pasti, namun beberapa faktor yang dapat dianggap sebagai penyebab, adalah : a.Alergi obat secara sistemik ( misalnya penisilin, analgetik, anti- peuritik ). Penisilline dan semisintetiknya Sterptomecine sulfonamida Tetrasiklin Anti piretik / analgetik ( dentat, salisil / perazolon, metamizol, metampiron, dan paracetamol ). Kloepromazin Karbamazepin Kirin antipirin Tegretol b.Inspeksi mikroorganisme ( bakteri, virus, jamur, dan parasit ). c.Neoplasma dan faktor endoktrin. d.Faktor fisik ( sinar matahari, radiasi, sinar x ). e.Makanan.

3.Manifestasi Klinis Syndrom ini jarang dijumpai pada usia 8 tahun kebawah. Keadaan umumnya bervariasi dari ringan sampai berat. Pada syndrom ini terlihat adanya trias kelainan, berupa : a.Kelainan kulit. Kelainan kulit terdiri dari eritema, vesikeldan bula. Vesikel dan bulakemudian memecah sehingga terjadi erosi yang luas. Disamping itu juga dapat terjadi purpura, pada bentuk yang berat kelainannya generalisata. b.Kelainan selaput lendir Kelaianan selaput lendir yang tersering ialah pada mukosa mulut ( 100 % ) kemudian disusul oleh kelainan alat dilubang genetol ( 50 % ), sedangkan dilubang hidung dan anus jarang ( masing-masing 8 % dan 4 % ). c.Kelainan mata. Kelainan mata merupakan 80 % diantara semua kasus yang tersering telah konjungtivitis kataralis. Selain itu juga dapat berupa konjungtivitis parulen, peradarahan, alkus korena, iritis dan iridosiklitis. Disamping trias kelainan tersebut dapat pula dapat pula terdapat kelainan lain, misalnya : notritis, dan onikolisis ( http://informasikesehatan40.blogspot.com ) 4.Patofisiologi Patogenesisnya belum jelas, disangka disebabkan oleh reaksi hipersensitif tipe III dan IV. Reaksi tipe III dan IV. Reaksi tipe III terjadi akibat terbentuknya komplek antigen antibody yang mikro presitipasi sehingga terjadi aktifitas sistem komlemen. Akibatnya terjadi akumulasi neutrofil yang kemudian melepaskan leozim dan menyebab kerusakan jaringan pada organ sasaran ( target- organ ). Reaksi hipersensitifitas tipe IV terjadi akibat limfosit T yang tersintesisasi berkontak kembali dengan antigen yang sama kemudian limtokin dilepaskan sebagai reaksi radang. Reaksi hipersensitif tipe III Hal ini terjadi sewaktu komplek antigen antibody yang bersikulasi dalam darah mengendap didalam pembuluh darah atau jaringan sebelah bitir. Antibiotik tidak ditujukan kepada jaringan tersebut, tetapi terperangkap dalam jaringan kapilernya. Pada beberapa kasus antigen asing dapat melekat ke jaringan menyebabkan terbentuknya komplek antigen antibodi ditempat tersebut. Reaksi tipe ini mengaktifkan komplemen dan degranulasi sel mast sehingga terjadi kerusakan jaringan atau kapiler ditempat terjadinya reaksi tersebut. Neutrofil tertarik ke daerah tersebut dan mulai memtagositosis sel-sel yang rusak sehingga terjadi pelepasan enzim-enzim sel, serta penimbunan sisa sel. Hal ini menyebabkan siklus peradangan berlanjut. Reaksi hipersensitif tipe IV Pada reaksi ini diperantarai oleh sel T, terjadi pengaktifan sel T. Penghasil limfokin atau sitotoksik atau suatu antigen sehingga terjadi penghancuran sel-sel yang bersangkutan. Reaksi yang diperantarai oleh sel ini bersifat lambat ( delayed ) memerlukan waktu 14 jam sampai 27 jam untuk terbentuknya. ( http://informasi,kesehatan40.blogspot.com )

5.Pathway ......................... 6.Komplikasi Komplikasi yang tersering ialah bronkopneumia yang didapati sejumlah 80 % diantara seluruh kasus yang ada. Komplikasi yang lain ialah kehilangan cairan atau darah, gangguan keseimbangan cairan elektrolit dan syoek pada mata dapat terjadi kebutaan karena gangguan laksimasi. ( http://www.google.co.id ) 7.Pemeriksaan Penunjang Tidak didapatkan pemeriksaan laboratorium yang dapat membeku dalam menegakkan diagnosis. a.CBC ( complek blood count ) bisa didapatkan sel darah putih yang normal atau leukositosis non spesifik, peningkatan jumlah leukosit kemungkinan disebabkan karena infusi bakteri. b.Kultur darah, urin dan luka merupakan indikasi bila dicurigai, penyebab infeksi. Tes lainya : Biopsi kulit memperlihatkan luka superiderma Adanya mikrosis sel epidermis Infiltrasi limposit pada daerah ferifaskulator ( http://www.tanyadokter.com )

8.Penatalaksanaan Kortikosteroid Bila keadaan umum baik dan lesi tidak menyeluruh sukup diobati dengan preanisone 30 40 mg sehari. Namun bila keadaan umumnya burukdan lesi menyeluruh harus diobati secara tepat dan cepat. Kartikosteroid merupakan tindakan file-saving dan digunakan deksamate dan intravena dengan dosis permulaan 4 6 x 5 mg sehari. Umumnya masa kritis diatasi dalam beberapa hari. Pasienstevenjohnson berat harus segera dirawat dan berikan deksametason 6x5 mg intravena setelah masa kritisteratasi, kedaan umum membaik, tidak timbul lesi baru, lesi lama mengalami involusi, dosis diturunkan secara cepat, tiap hari diturunkan 5 mg. Setelah dosis mencapai 5 mg sehari, deksametason intravena diganti dengan table kortikosteroid, misalnya prendnisone yang diberikan keesokan harinya dengan

dosis 20 mg sehari, sehari kemudian diturunkan lagi menjadi 10 mg kemudian obat tersebut dihentikan. Lama pengobatan kira-kira 10 hari. Seminggu setelah pemberian kortikosteroid dilakuakn pemeriksaan elektrolit ( K, Na dan CI ) bila ada gangguan harus diatasi, misalnya bila terjadi hipokalemia diberikan KCL 3 x 500 mg / hari dan diet rendah garam bila terjadi hipermatremia. Untuk mengatasi efek katabolik dari kortikosteroid diberikan diet tinggi protein / anabolik seperti nandroklok dekanoat dan nanadrolon fenilpropionat dosis 25-50 mg untuk devasa ( dosis untuk anak tergantung berat badan ). Antibiotik. Untuk mencegah terjadinya infeksi misalnya bronkopneumia yang dapat menyebabkan kematian, dapat di beri antibiotik yang jarang menyebabkan alergi, berspektrom luas dan bersifat sakteriosidal misalnya gentamisin dengan dosis 2 x 80 mg. Infus dan Transfusi darah Pengaturan keseimbangan cairan / elektron dan nutrisi penting karena pasien sukaratau tidak dapat menelan akibat lesi dimulut dan tenggorokan serta kesadaran dapat menurun. Untuk itu dapat diberikan infus misalnya glukosa 5 % dan larutan darrow. Bila terapi tidak memberi perbaikan dalam 2 3 ahri, maka daapt diberikan transfusi darah banyak 300 cc selama 2 hari berturut-turut, terutama pada kasus yang disertai purpura yang luas. Pada kasus dengan purpura yang luas dapat pula ditambahkan vitamin C 500 mg atau 1000 mg intravena sehari dan hemostatik. Tropikal Terapi tropikal untuk lesi dimulut dapat berupa kanalog in orabase. Untuk lesi di kulit yang erosif dapat diberikan sutratulle atau krim sulfa diarine perak. ( http://www.tanyadokter.com ). B.ASUHAN KEPERAWATAN 1.Fokus Pengkajian a.Anamnesa riwayat pengobatan pasien b.Gambaran klinik c.Histopatologi d.Riwayat kesehatan : riwayat laregi, reaksi alergi terhadap makanan, obat serta zat kimia, masalah kulit sebelumnya dan riwayat kanker kulit. e.Pemeriksaan kulit infeksi dan I : Warna, suhu, kelembapan, kekeringan, faktor P : Turgor kulit, adema ( Brunner and Suddarth, 2001 ) 2.Data Fokus DS : Gatal-gatal pada kulit, sulit menelan, pandanganya kabur, aktivitas menurun. DO : Kemerah-merahan, memegangi tenggorokan, gelisah untuk melihat, tampak lemas dalam aktivitas. 3.Prioritas Diagnosa a.Gangguan integritas kulit berdasarkan dengan informasi dermal dan epidermal. b.Gangguan nutrisi < kebutuhan tubuh berdasarkan dengan kesulitan menelan. c.Gangguan persepsi sensori, kurang penglihatan berdasarkan dengan konjungtivitis. d.Gangguan intoleransi aktivitas berdasarkan dengan kelemahan fisik 4.Perencanaan Keperawatan

DX 1 : Gangguan integritas kulit berdasakan dengan inflamasi dermal dan epidermal a.Tujuan : Diharapkan inflamasi dermal dan epidermal berkurang Kriteria hasil : Menunjukkan kulit dan jaringan kulit yang utuh b.Intervensi Observasi kulit setiap hari catat turgor sirkulasi dan sensori serta perubahan lainnya yang terjadi. Kolaborasi dengan tim medis c.Rasional Menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat Untuk mencegah infeksi lebih lanjut DX 2 : Gangguan nutrisi < kebutuhan tubuh berdasarkan denagn kesulitan menelan a.Tujuan : Nafsu makan meningkat Kriteria hasil Menunjukkan berat badan stabil / peningkatan berat badan b.Intervensi : Berikan makanan sedikit tapi sering Kolaborasi dengan tim gizi Hidangkan makanan dalam keadaan hangat c.Rasional : Membantu mencegah distensi gaster / ketidaknyamanan Kalori protein dan vitamin untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik, mempertahankan berat badan dan mendorong regenerasi jaringan. Meningkatkan nafsu makan. DX 3 : Gangguan persepsi sensori : kurang penglihatan berdasarkan dengan konjungtivitis a.Tujuan : Pasien dapat melihat dengan jelas Kriteria hasil : Kooperatif dalam tindakan Menyadari hilangnya penglihatan secara permanen b.Intervensi : Kaji dan catat ketajaman penglihatan Sesuaikan lingkungan dengan kemampuan penglihatan Orientasikan terhadap lingkungan c.Rasional Menentukan kemampuan visual Mengurangi ketergantungan Berikan bahan-bahan bacaan dan tulisan yang besar DX 4 : Gangguan intoleransi aktivitas berdasakan dengan kelemahan fisik a.Tujuan : Aktivitas mulai normal Kriteria hasil : Klien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas b.Intervensi : Kaji respon individu terhadap aktivitas

Libatkan keluarga dalam pemenuhan aktivitas c.Rasional Mengetahui tingkat kemampuan individu dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari Klien mendapat dukungan psikologi dari keluarga ()

BAB III PENUTUP A.KESIMPULAN Syndrom steven johnson merupakan syndrom yang mengenai julit, selaput lendir, di orifisum dan mata dengan keadaan umum bervariasi dan ringan sampai berat. Kelainan pada kulit berupa entema, vesikel atau bula dapat disertai purpura. Beberapa faktor yang dapat dianggap sebagai penyebab, yaitu meliputi alergi obat ( misalnya, penisilin, analgetik, anti peuritik ). Infeksi mikroorganisme ( bakteri, virus, jamur, parasit ). Neoplasma dan faktor endoktrin, faktor fisik, dan makanan. Pada syndrom ini terlihat adanya trias kelainan, berupa : kelainan kulit yang terdiri daribatuk eritema, vesikel dan bula, kelainan selaput lendir di orivisium, dan kelainan mata yang ditemukan konjungtivitis kornea. B.SARAN 1.Bagi Rusah Sakit a.Rumah sakit mampu memberikan pelajaran yang baik pada klien b.Rumah sakit membantu klien dan keluarga dalam membuat keputusan 2.Bagi sesama profesi / perawat a.Perawat selalu melakukan pengawasan 1 x 24 jam pada klien b.Perawat harus mengetahui sejauh mana perkembangan kesehatan klien 3.Bagi keluarga / klien a.Keluarga harus mengawasi dan membatasi aktivitas klien b.Keluarga hasur memberikan nutrisi yang adekuat kepada klien agar kesehatan klien cepat membaik

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN SYNDROM STEVEN JOHNSON ( SSJ )

Pengkajian

1. Biodata Pasien :

Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan nomor register.

2. Biodata Penaggung Jawab :

Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat.

3. Riwayat Kesahatan Pasien :


Riwayat Kesehatan Dahulu Riwayat Kesehatan Sekarang Riwayat Kesehatan Keluarga

4. Kebiasaan Sehari-hari :

Makan dan Minum Eliminasi : BAK dan BAB Personal Hygiene

5. Pemeriksaan Fisik / Head To Toe

Diagnosa Keperawatan 1. 2. 3. 4. 5. Gangguan integritas kulit b.d. inflamasi dermal dan epidermal Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. kesulitan menelan Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d. inflamasi pada kulit Gangguan intoleransi aktivitas b.d. kelemahan fisik Gangguan Persepsi sensori: kurang penglihatan b.d konjungtifitis

Intervensi Keperawatan

1. Gangguan integritas kulit b.d. inflamasi dermal dan epidermal

Kriteria Hasil :

Menunjukkan kulit dan jaringan kulit yang utuh

Intervensi :

Observasi kulit setiap hari catat turgor sirkulasi dan sensori serta perubahan lainnya yang terjadi. Rasional : menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat Gunakan pakaian tipis dan alat tenun yang lembut. Rasional : menurunkan iritasi garis jahitan dan tekanan dari baju, membiarkan insisi terbuka terhadap udara meningkat proses penyembuhan dan menurunkan resiko infeksi Jaga kebersihan alat tenun. Rasional : untuk mencegah infeksi Kolaborasi dengan tim medis. Rasional : untuk mencegah infeksi lebih lanjut

2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. kesulitan menelan

Kriteria Hasil :

Menunjukkan berat badan stabil/peningkatan berat badan

Intervensi :

Kaji kebiasaan makanan yang disukai/tidak disukai. Rasional : memberikan pasien/orang terdekat rasa kontrol, meningkatkan partisipasi dalam perawatan dan dapat memperbaiki pemasukan Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi sering. Rasional : membantu mencegah distensi gaster/ketidaknyamanan Hidangkan makanan dalam keadaan hangat. Rasional : meningkatkan nafsu makan Kerjasama dengan ahli gizi. Rasional : kalori protein dan vitamin untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik, mempertahankan berat badan dan mendorong regenerasi jaringan.

3. Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d. inflamasi pada kulit

Kriteria Hasil :

Melaporkan nyeri berkurang Menunjukkan ekspresi wajah/postur tubuh rileks

Intervensi :

Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi dan intensitasnya. Rasional : nyeri hampir selalu ada pada beberapa derajat beratnya keterlibatan jaringan

Berikan tindakan kenyamanan dasar ex: pijatan pada area yang sakit. Rasional : meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot dan kelelahan umum Pantau TTV. Rasional : metode IV sering digunakan pada awal untuk memaksimalkan efek obat Berikan analgetik sesuai indikasi. Rasional : menghilangkan rasa nyeri

4. Gangguan intoleransi aktivitas b.d. kelemahan fisik

Kriteria Hasil :

Klien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas

Intervensi :

Kaji respon individu terhadap aktivitas. Rasional : mengetahui tingkat kemampuan individu dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari. Bantu klien dalam memenuhi aktivitas sehari-hari dengan tingkat keterbatasan yang dimiliki klien. Rasional : energi yang dikeluarkan lebih optimal Jelaskan pentingnya pembatasan energi. Rasional : energi penting untuk membantu proses metabolisme tubuh Libatkan keluarga dalam pemenuhan aktivitas klien. Rasional : klien mendapat dukungan psikologi dari keluarga

5. Gangguan Persepsi sensori: kurang penglihatan b.d konjungtifitis

Kriteria Hasil :

Kooperatif dalam tindakan Menyadari hilangnya pengelihatan secara permanen

Intervensi :

Kaji dan catat ketajaman pengelihatan Rasional: Menetukan kemampuan visual Kaji deskripsi fungsional apa yang dapat dilihat/tidak. Rasional: Memberikan keakuratan thd pengelihatan dan perawatan. Sesuaikan lingkungan dengan kemampuan pengelihatan. Rasional: Meningkatkan self care dan mengurangi ketergantungan. Kaji jumlah dan tipe rangsangan yang dapat diterima klien. Rasional : Meningkatkan rangsangan pada waktu kemampuan pengelihatan menurun.

Daftar Pustaka 1. Corwin, Elizabeth. J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC. 2. Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC. 3. Hamzah, Mochtar. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

4. Price dan Wilson. 1991. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit Edisi 2. Jakarta: EGC. 5. Tim Penyusun. 1982. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius. 6. Tim Penyusun. 2000. Kapita Selekta Kedokteran 2. Jakarta: Media Aesculapius.

ASUHAN KEPERAWATAN SINDROM STEVENS JHONSEN TINJAUAN TEORI A. Pengertian Sindrom Stevens Johnson merupakan sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir di oritisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat, kelainan pada kulit berupa eritema, vesikel / bula dapat disertai purpura. B. Etilogi Penyebab yang pasti belum diketahui, ada angapan bahwa sindrom ini merupakan eritema multiforme yang berat dan disebut eritema multifome mayor. Salah satu penyebabnya ialah alergi obat secara sistemik. Obat-obatan yang disangka sebagai penyebabnya antara lain : penisilin dan semisintetiknya, streptomisin, sulfonamida, tetrasiklin, antipiretik/analgetik, (misal : derivate salisil / pirazolon, metamizol, metapiron, dan parasetamol) klorpromasin, karbamasepin, kinin antipirin, tegretol, dan jamu. Selain itu dapat juga disebabkan infeksi (bakteri,virus, jamur, parasit) neoplasma, pasca vaksinasi, radiasi dan makanan. C. Patofisiologi Patogenesisnya belum jelas, disangka disebabkan oleh reaksi alergi tipe III dan IV. Reaksi tipe III terjadi akibat terbentuknya kompleks antigen-antibody yang membentuk mikro presitipasi sehingga terjadi aktivasi neutrofil yang kemudian melepaskan lysozim dan menyebabkan kerusakan jaringan dan organ sasaran (target organ). Reaksi tipe IV terjadi akibat lysozim T yang tersensitisasi berkontrak kembali dengan antigen yang sama kemudian lysozim dilepaskan sehingga terjadi reaksi radang. D. Tanda dan Gejala Sindrom ini jarang dijumpai pada usia kurang dari 3 tahun. Keadaan umumnya bervariasi dari ringan sampai berat. Pada yang berat kesadarannya menurun, penderita dapat berespons sampai koma. Mulainya dari penyakit akut dapat disertai gejala prodromal berupa demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan. Pada sindrom ini terlihat adanya trias kelainan berupa :

Kelainan kulit Kelainan selaput lendir di orifisium Kelainan mata

1. Kelainan Kulit Kelainan kulit terdiri atas eritema, papul, vesikel, dan bula. Vesikel dan bula kemudian memecah sehingga terjadi erosi yang luas. Dapat juga disertai purpura. 2. Kelainan Selaput lender di orifisium Kelainan di selaput lendir yang sering ialah pada mukosa mulut, kemudian genital, sedangkan dilubang hidung dan anus jarang ditemukan. Kelainan berupa vesikal dan bula yang cepat memecah hingga menjadi erosi dan ekskoriasi serta krusta kehitaman. Juga dapat terbentuk pescudo membran. Di bibir yang sering tampak adalah krusta berwarna hitam yang tebal. Kelainan di mukosa dapat juga terdapat di faring, traktus respiratorius bagian atas dan esophagus. Stomatitis ini dapat menyeababkan penderita sukar/tidak dapat menelan. Adanya pseudo membran di faring dapat menimbulkan keluhan sukar bernafas. 3. Kelainan Mata Kelainan mata yang sering ialah konjungtivitis, perdarahan, simblefarop, ulkus kornea, iritis dan iridosiklitis. E. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium : Biasanya dijumpai leukositosis atau eosinofilia. Bila disangka penyebabnya infeksi dapat dilakukan kultur darah. Histopatologi : Kelainan berupa infiltrat sel mononuklear, oedema dan ekstravasasi sel darah merah, degenerasi lapisan basalis. Nekrosis sel epidermal dan spongiosis dan edema intrasel di epidermis. Imunologi : Dijumpai deposis IgM dan C3 di pembuluh darah dermal superficial serta terdapat komplek imun yang mengandung IgG, IgM, IgA.

F. Kompikasi Komplikasi yang tersering ialah bronkopneumonia, kehilangan cairan / darah, gangguan keseimbangan elektrolit dan syok. Pada mata dapat terjadi kebutaan karena gangguan lakrimal. G. Penatalaksanaan Pada sindrom Stevens Johnson pengangannya harus tepat dan cepat. Penggunaan obat kostikosteroid merupakan tindakan life-saving. Biasanya digunakan Deksamethason secara

intravena, dengan dosis permulaan 4-6 X 5 mg sehari. Pada umumnya masa kritis dapat diatasi dalam beberapa hari dengan perubahan keadaan umum membaik, tidak timbul lesi baru, sedangkan lesi lama mengalami involusi. Dampak dari terapi kortikosteroid dosis tinggi adalah berkurangnya imunitas, karena itu bila perlu diberikan antibiotic untuk mengatasi infeksi. Pilihan antibiotic hendaknya yang jarang menyebabkan alergi, berspekrum luas dan bersifat bakterisidal. Untuk mengurangi efek samping kortikosteroid diberikan diet yang miskin garam dan tinggi protein. Hal lain yang perlu diperhatikan ialah mengatur kseimbangan cairan, elektrolit dan nutrisi. Bila perlu dapat diberikan infuse berupa Dekstrose 5% dan larutan Darrow. Tetapi topical tidak sepenting terapi sistemik untuk lesi di mulut dapat diberikan kenalog in orabase. Untuk lesi di kulit pada tempat yang erosif dapat diberikan sofratul atau betadin. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian a. Data Subyktif

Klien mengeluh demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan / sulit menelan.

b. Data Obyektif

Kulit eritema, papul, vesikel, bula yang mudah pecah sehingga terjadi erosi yang luas, sering didapatkan purpura. Krusta hitam dan tebal pada bibir atau selaput lendir, stomatitis dan pseudomembran di faring Konjungtiva, perdarahan sembefalon ulkus kornea, iritis dan iridosiklitis.

c. Data Penunjang

Laboratorium : leukositosis atau esosinefilia Histopatologi : infiltrat sel mononuklear, oedema dan ekstravasasi sel darah merah, degenerasi lapisan basalis, nekrosis sel epidermal, spongiosis dan edema intrasel di epidermis. Imunologi : deposis IgM dan C3 serta terdapat komplek imun yang mengandung IgG, IgM, IgA.

B. Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan rasa nyaman, demam, nyeri kepala, tenggorokan s.d adaya bula 2. Gangguan pemenuhan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh s.d sulit menelan 3. Gangguan integritas kulit s.d bula yang mudah pecah

4. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit s.d kurang informasi 5. Potensial terjadi infeksi sekunder s.d efek samping terpasangnya infus dan terapis steroid C. Rencana No Diagnosa Keperawatan Gangguan rasa nyaman, demam, nyeri kepala, tenggorokan s.d adaya bula Perencanaan Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan Tujuan : Klien merasa nyaman dalam waktu 2 x 24 jam Kriteria hasil : Nyeri berkurang / hilang Ekpresi muka rileks 2. Gangguan Tujuan : pemenuhan nutrisi : Kurang dari Kebutuhan nutrisi terpenuhi kebutuhan tubuh s.d selama perawatan sulit menelan Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda dehidrasi Diet yang disediakan habis Hasil elektrolit serum dalam batas normal 3. Gangguan integritas Tujuan : kulit s.d bula yang mudah pecah Kerusakan integritas kulit menunjukan perbaikan dalam waktu 7-10 hari Kriteria hasil : Tidak ada lesi baru Lesi lama mengalami involusi Tidak ada lesi yang infekted

1.

Berikan kompres dingin Berikan pakaian yang tipis dari bahan yang menyerap Hindarkan lesi kulit dari manipulasi dan tekanan Usahakan pasien bias istirahat 7-8 jam sehari. Monitor balance cairan Monitor suhu dan nadi tiap 2 jam Kaji kemampuan klien untuk menelan Berikan diet cair Jelaskan pada klien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi bagi kesembuhan klien Monitoring balance cairan Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi dan gangguan elekrolit K/P kolaborasi untuk pemasangan NGT Kaji tingkat lesi Hindarkan lesi dari manipulasi dan tekanan Berikan diet TKTP Jaga linen dan pakaian tetap kering dan bersih Berikan terapi topical sesuai dengan program

4.

Kurang pengetahuan tentang proses penyakit s.d kurang informasi

Tujuan : Pengetahuan klien/keluarga akan meningkat setelah diberikan penyuluhan kesehatan Kriteria hasil : Klien/keluarga mengerti tentang penyakitnya Klien/keluarga kooperatif dalam perawatan /pengobatan Tujuan :

Kaji tingkat pengetahuan klien/ keluarga tentang penyakitnya Jeslakan proses penyakit dengan bahasa yang sederhana Jelaskan tentang prosedur perawatan dan pengobatan Berikan catatan obat-obat yang harus dihindari oleh klien

5.

Potensial terjadi infeksi sekunder s.d efek samping Tidak terjadi infeksi sekunder terpasangnya infus selama dalam perawatan dan terapis steroid Kriteria hasi : Tidak ada tanda infeksi

Hindari lesi kulit dari kontaminasi Dresing infus dan lesi tiap hari Kaji tanda tanda infeksi lokal maupun sistemik Ganti infus set dan abocatin tiap 3 hari Kolaborasi untuk pemeriksaan Ro thorax dan labortorium