Anda di halaman 1dari 16

KELANGKAAN BBM Stok BBM Hilang di Pasaran

KETERSEDIAAN bahan bakar minyak (BBM) di beberapa kabupaten/kota di Sulsel, dalam beberapa hari terakhir terus mengalami kelangkaan. Bahkan pada daerah tertentu, antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi pemandangan setiap saat. Bahkan, beberapa SPBU terpaksa harus tutup lebih awal karena stok mereka sudah habis. Habisnya stok BBM di SPBU tertentu ini membuat kalangan masyarakat khawatir dengan hilangnya BBM di sejumlah SPBU. Menurut pengakuan pengelola SPBU, kelangkaan BBM itu disebabkan distribusi dari pihak Pertamina terlambat dan berkurang. Daerah yang dilanda kelangkaan BBM di Sulsel antara lain terjadi di Wajo, Soppeng, dan sejumlah daerah lainnya. Tidak heran, di daerah tersebut antrean pengendara sepeda motor serta pengemudi mobil pada waktu tertentu, tidak bisa dihindarkan utamanya pada saat SPBU baru saja mendapat pasokan dari pihak Pertamina.

Kondisi itu semakin diperparah karena bersamaan datangnya bulan Ramadan, dimana mobilitas masyarakat yang memaksa konsumsi BBM semakin meningkat. Informasi yang diperoleh pihak pengelola SPBU tentang keterlambatan pasokan BBM dari Pertamina itu akibat kapal pengakut BBM dari Kalimantan juga terlambat masuk ke Sulsel. Pengelola SPBU Jalan Andi Malingkaan Sengkang , Syarif mengakui kekosongan BBM jenis premium beberapa pekan terakhir ini, karena pasokan BBM dari Pertamina tidak menentu, bahkan pasokan tidak diperoleh 1-2 hari. "Setiap Sabtu sudah tidak ada pengantaran. Biasanya Minggu sore sudah ada, tapi kadang Senin juga belum datang pasokan," kata Syarif. Kendati mengaku sering kehabisan stok, Syarif berdalih kalau kondisi tersebut bukan berarti stok BBM ke daerah ini terbatas. "Memang agak terlambat pengirimannya, apalagi cepat habis karena pemakaian yang meningkat," tambahnya. Melihat konsumsi BBM yang terus meningkat, dia berharap pasokan BBM ke daerah ini juga mesti di tambah, terlibih lagi konsumsi BBM di daerah ini meningkat drastis pada bulan Ramadan. Tidak jarang SPBU Andi Malingkaan ini sudah kehabisan stok pukul 09.00. Seminggu SPBU ini mendapat pasokan dari Pertamina sebanyak 112 kiloliter. Kondisi serupa terjadi di SPBU Sawerigading. Firdaus, pengelola SPBU Sawerigadung menyebutkan pasokan dari Depo Pertamina terbilang kurang dibanding permintaan masyarakat. Setiap hari, SPBU ini mendapat jatah sebanyak 24 kiloliter per hari. Tidak jauh berbeda dengan daerah tetangga Wajo, Soppeng. Bahkan, kelangkaan BBM beberapa pekan terakhir sudah menjadi

keluhan masyarakat di daerah ini, apalagi pagi menjelang siang, SPBU di daerah ini sudah memasang tanda bahwa stok BBM mereka sudah habis. Ini bisa dilihat di SPBU Takalala dan SPBU Watansoppeng. SPBU Watansoppeng yang satu-satunya beroperasi dalam kota, bahkan langsung di serbu warga begitu pihak pertamina selesai melakukan pengisian SPBU. Setiap hari, SPBU ini biasanya baru buka kembali sekira pukul 13.00, setelah tutup sehari sebelumnya. Tidak hanya mengakibatkan keresahan masyarakat yang antre untuk membeli BBM, masyarakat yang melintas di sekitar SPBU pun dibuat resah. Pasalnya, antrean panjang di SPBU ini mengakibatkan arus lalu lintas macet. Tidak jarang warga bahkan rela menunggu berjam-jam sampai mobil tangki milik Pertamina datang memasok BBM di SPBU. Kami terpaksa harus antre menunggu datangnya mobil tangki untuk pengisian Premium. Pasalnya kita takut di tengah jalan. Kelangkaan ini sudah berlangsung bebarapa pekan, ujar salah satu tukang ojek, Amir. Petugas SPBU Watansoppeng, Syamsul mengakui stok BBM cepat habis karena suplai dari Depo Pertamina Parepare berkurang dari jatah sebelumnya. SPBU pun hanya bisa beroperasi beberapa jam kemudian kehabisan bensin. "Idealnya kami mendapat pasokan hingga 32 ton, namun yang kita dapatkan hanya 8-16 ton per hari," kata Syamsul. Kondisi juga terjadi di SPBU Takalala. Menurut Amir, SPBU ini hanya mendapat jatah BBM 6-18 ton per hari, padahal idealnya harus mencapai 24 ton per hari. "Stok hanya bertahan beberapa jam, kata Amir.

Pelaksana Tugas Humas Pertamina UPms Wilayah VII, Umar Ibnu Hasan yang dikonfirmasi terpisah menegaskan bahwa sejauh ini distribusi BBM ke sejumlah daerah di Sulsel masih tetap lancar. Dia bahkan mengaku belum mendapat laporan dari daerah mengenai adanya kelangkaan BBM di sejumlah daerah seperti Wajo, Soppeng, dan Pangkep. "Bahkan, pada Ramadan ini kita sudah mengantisipasi kebutuhan BBM masyarakat. Sejauh ini kami belum mendapat laporan ada daerah mengalami kelangkaan BBM," kata Umar. Kendati begitu, Pertamina berjanji segera melakukan pengecekan terhadap sejumlah daerah yang disebut-sebut mengalami kelangkaan BBM. "Kita akan cek apa yang menyebabkan terjadi kelangkaan. Karena Distribusi dan stok dari Pertamina selama ini tetap lancar," tambah Umar. (NurlinaAsriadi)

Faktor Faktor Penyebab Kelangkaan BBM

Mengenai penyebab terjadinya kenaikan harga dan kelangkaan BBM, ada tiga faktor penyabab, yaitu: faktor teknis, faktor spekulatif, dan faktor politik ekonomi. Pertama, dari sisi teknis, kelangkaan BBM terjadi karena supply BBM bersubsidi berkurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan lokal dan nasional. Berkurangnya supply BBM disebabkan adanya program konversi minyak tanah ke gas LPG dan terjadinya goncangan harga minyak dunia. Meningkatnya harga minyak dunia sebesar 40% hanya dalam waktu empat bulan, menyebabkan kemampuan finansial Pertamina mengimpor minyak mentah dan BBM menjadi sangat terbatas. Akibatnya Pertamina tidak dapat memenuhi kebutuhan kilang minyaknya yang berdampak pada berkurangnya pasokan BBM. Dalam APBN 2007, alokasi BBM bersubsidi sudah dikurangi pemerintah dari semula 37,9 juta kilo liter pada tahun 2006 menjadi 36,9 juta kilo liter pada tahun ini.

Kedua, faktor spekulatif yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri. Di dalam negeri adanya BBM bersubsidi dan BBM tidak

bersubsidi untuk industri menyebabkan disparitas harga. Misalnya berdasarkan harga yang ditetapkan Pertamina tanggal 15 Desember 2007 untuk wilayah I, harga solar bersubsidi Rp 4.300 per liter sedangkan harga solar non subsidi mencapai Rp 8.235 per liter. Perbedaan harga ini menyebabkan terjadinya pasar gelap BBM. Sehingga sebagian pasokan BBM untuk masyarakat pada tahap distribusi diselewengkan ke industri, apalagi tingkat kenaikan harga BBM non subsidi pada Desember ini mencapai 21% lebih. Jadi kebijakan pemerintah menghapuskan sebagian subsidi memiliki dampak buruk yakni ekonomi gelap.

Dalam pengamatan yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga minyak dunia bukan negara eksportir minyak tetapi perusahaan-perusahaan pemilik ladang eksplorasi dan industri pengilangan minyak, serta para broker (spekulan). Sebagai gambaran, meskipun negara-negara OPEC menguasai 2/3 cadangan minyak dunia dan volume ekspor minyak mentahnya 40% dari ekspor dunia, negara-negara OPEC hanya memiliki sarana pengolahan minyak 10% saja. Sedangkan negara-negara maju menguasai 60% industri pengolahan minyak dunia yang mayoritas dimiliki beberapa perusahaan saja seperti Chevron, ExxonMobil, ConocoPhilips, Sheel, Texaco, BP, UNOCAL, dan Hallilburton.

Ketiga, faktor politik ekonomi sangat menentukan penguasaan dan harga minyak dunia. Faktor ini pula yang menyebabkan spekulasi lokal dan internasional, dan supply yang tidak berimbang di tingkat nasional. Di Indonesia sejak Orde Baru pemerintah telah meliberalisasi sektor hulu (upstream) migas sehingga hampir 90% produksi minyak Indonesia dikuasai asing. Paska reformasi, pemerintah dan DPR kebablasan dengan mengeluarkan UU Migas no 22 tahun 2001. Undang-undang yang

draftnya dibuat oleh Amerika melalui lembaga bantuannya USAID dan Bank Pembangunan Asia semakin memantapkan liberalisasi di sektor hulu dan memberikan jalan bagi swasta dan asing berinvestasi dalam bisnis SPBU dan pendristibusian BBM. Liberalisasi sektor hilir (downstream) migas ini mendorong pemerintah untuk menaikan harga BBM dengan cara mengurangi subsidi untuk menarik investor asing.

Pada tahun 2007 undang-undang Penanaman Modal disahkan oleh DPR. Undang-Undang Penanaman Modal tidak membedakan lagi kedudukan investor dalam negeri dengan investor asing dan hampir semua sektor perekonomian dibuka untuk investor asing kecuali sektor-sektor yang tidak memberikan keuntungan. Dengan diundangkannya Undang-Undang Penanaman Modal arus liberalisasi semakin kuat. Liberalisasi khususnya terjadi pada sektor-sektor strategis dan memberikan keuntungan besar seperti sektor hilir migas. Karenanya pemerintah sangat berkepentingan menaikkan harga BBM sehingga margin keuntungan bisnis hilir BBM semakin tinggi. Margin keuntungan yang tinggi inilah yang diharapkan pemerintah dapat memberikan daya tarik besar kepada investor asing. Jadi tidak benar alasan pemerintah mengurangi subsidi untuk menghemat anggaran. Dengan politik ekonomi yang bertumpu pada liberalisasinya Kapitalisme, sesungguhnya pemerintah telah memantapkan konsep laissez faire-nya Adam Smith dalam urusan publik. Konsep ini mengharuskan urusan publik diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar (swasta dan asing) tanpa campur tangan pemerintah. Setiap orang menurut Adam Smith harus diberikan kebebasan berproduksi dan berusaha, bila dibatasi berarti melanggar hak asasi manusia. Konteks politik ekonomi laissez faire yang diterapkan pemerintah, menjadikan pemerintah memandang permasalahan pertumbuhan

ekonomi sebagai permasalahan utama dibandingkan permasalahan kemiskinan, pengangguran, pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, dan pemerataan kesejahteraan. Politik ekonomi ini menempatkan aspek material lebih tinggi dibandingkan aspek kemanusiaan, sehingga tidaklah aneh masalah peningkatan produksi dan distribusi BBM dengan cara menarik investor asing lebih diperhatikan pemerintah dibandingkan masalah mahal dan langkanya harga BBM dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pemerintah lebih memilih menjadi penjaga malam daripada menjadi ibu bagi masyarakat yang senantiasa merawat dan menjaga pemenuhan kebutuhan anak-anaknya. Seorang ibu sangat berkepentingan anak-anaknya tumbuh sehat dan cerdas, memiliki akhlak yang mulia, dan mampu menjadi manusia yang berguna bagi agama. Sementara pemerintah sebagai penjaga malam, pekerjaannya hanya menjaga dan melayani harta para investor. Politik ekonomi Kapitalis ini juga tidak hanya diterapkan di Indonesia, tetapi hampir seluruh dunia, kecuali di Venezuela dan Bolivia. Di kedua negara ini, pemerintah berperan aktif mengelola ladang-ladang migas negara mereka. Sama dengan di Indonesia di negara-negara anggota OPEC dan non OPEC, pemerintah setempat menyerahkan penguasaan ladang-ladang migas kepada para investor asing. Akibatnya meskipun mayoritas eskportir migas adalah negara-negara berkembang, tetapi keuntungan dan penguasaan perdagangan migas ada di tangan perusahaanperusahan multinasional dari Amerika, Inggris, Belanda, dan negara-negara maju lainnya.

Kapitalisme di Balik Kembijakan Kenaikan Harga dan Pengurangan Subsidi BBM

Sejak reformasi kita selalu mendengar pernyataan-pernyataan pejabat negara yang begitu membosankan, yakni subsidi terlalu besar sehingga sangat membebani keuangan negara dan menyebabkan kemampuan pemerintah membiayai anggaran publik seperti pendidikan menjadi sangat terbatas. Di samping itu mereka juga mengatakan selama ini yang menikmati subsidi bukan masyarakat dari kalangan menengah ke bawah tetapi orang-orang kaya. Dari sisi tingkat konsumsi BBM memang kalangan menengah atas lebih besar dibandingkan kelangan menengah bawah yang jumlahnya mayoritas di negeri ini. Tetapi permasalahan ini harus dilihat dari dua sisi, pertama menaikkan harga BBM berdampak buruk pada kesejahteraan masyarakat dan dunia usaha. Pada tahun 2005 pemerintah telah menaikkan harga BBM sekitar 50% pada bulan Maret dan lebih dari 100% pada bulan Oktober. Hasilnya menurut Presiden SBY sendiri dalam Pidato Awal Tahun 2007 menyatakan pada tahun 2005 ada 76 ribu rakyat Indonesia yang mengalami busung lapar. Untuk dunia usaha kenaikan harga BBM non subsidi sebesar 21% pada bulan Desember sudah menyebabkan dunia usaha meradang. Usaha kecil dan menengah merupakan kelompok usaha yang pertama kali mengalami pukulan. Padahal kelompok usaha ini menyumbang 98% penyerapan tenaga kerja dari 108,13 juta angkatan kerja tahun 2007. Kemudian pada perusahaan berskala besar, sebagaimana yang dikatakan Sofyan Wanandi (ketua Apindo), mau tidak mau mereka akan menaikkan harga jual pada awal 2008 dan melakukan efisiensi usaha. Efisiensi dilakukan dengan cara pengurangan ship kerja dan PHK. Keadaan ini mencerminkan prospek tahun 2008 sangat suram jika gejolak kenaikan harga BBM tidak dikendalikan dan diturunkan pemerintah. Sebab pendapatan masyarakat turun, pengangguran semakin besar, dan harga-harga barang kebutuhan pokok ikut-ikutan merambat naik. Menurut data BPS awal tahun 2007 pengangguran terbuka mencapai 10,55 juta orang, sementara angkatan kerja baru tahun ini diperkirakan 2,1 juta. Padahal pada tahun 2006, 1% pertumbuhan ekonomi hanya berkolerasi dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 48 ribu orang. Dengan demikian tahun 2008 akan terjadi ledakan kemiskinan yang pada tahun 2006 saja jumlahnya mencapai 128,94 juta orang. Jadi sangat tidak tepat menaikan harga BBM untuk menghemat anggaran dan melindungi kepentingan orang-orang miskin. Masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah harus diproteksi dengan harga BBM yang murah dan pasokan yang lancar.

Dari sisi beban anggaran, memang kenaikan harga minyak mentah dunia berdampak pada besaran subsidi. Hanya saja opini yang ingin dibentuk pemerintah bahwa beban subsidi merupakan penyebab defisit APBN adalah opini yang salah kaprah. Namun opini pemerintah yang didukung para ekonom liberal selama ini berhasil menyesatkan pandangan publik. Padahal kalau APBN kita cermati, maka akan terungkap pos hutang pemerintahlah yang menjadi penyebab APBN defisit. Dalam APBN 2007, pemerintah dan DPR menganggarkan pinjaman luar negeri sebesar Rp 40,27 trilyun, pinjaman dalam negeri dalam bentuk penerbitan Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp 55,06 trilyun. Jadi total hutang yang akan dipinjam pemerintah mencapai Rp 95,33 trilyun. Sementara itu jumlah cicilan pokok hutang luar negeri yang jatuh tempo mencapai Rp 54,83 trilyun, pembayaran cicilan bunga hutang luar negeri dan hutang obligasi sebesar Rp 85,08 trilyun. Dengan beban pembayaran hutang sebesar Rp 139,91 trilyun, hakikatnya APBN kita tidak menerima pemasukan baik dari pinjaman luar negeri maupun penerbitan SUN. Sebaliknya APBN 2007 tekor sebesar Rp 44,58 trilyun. Fakta pos hutang pemerintah yang membebani anggaran negara tidak pernah diungkap secara luas oleh pemerintah kepada masyarakat. Pemerintah selalu menyalahkan subsidi. Di bagian akhir pengantar dialog, saya berkesimpulan kunci permasalahan kenaikan dan kelangkaan BBM terdapat pada penguasaan sumber-sumber migas dan industri pengolahannya oleh asing baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Sehingga merekalah yang mengendalikan harga dan pasar BBM dunia. Dari sisi konsep permasalahan ini sangat mudah dipecahkan. Dengan mengikuti pandangan Rasulullah saw, maka seharusnya ladang-ladang migas dan industri pengolahannya dikuasai oleh negara sebagai wakil umat atas harta milik umum. Negara-lah yang harus berinvestasi untuk menemukan dan mengeksplorasi ladang migas. Negara juga yang memproduksi BBM dan mendistribusikannya dengan harga murah. Namun konsep yang sederhana ini secara aplikatif sulit dilaksanakan selama pemerintah kita mengadopsi Kapitalisme dan rakyat Indonesia membiarkannya. Karenanya, kerja keras memecahkan permasalahan ini adalah dengan mengingatkan dan memberikan tekanan kuat utamanya oleh masyarakat luas bahwa kebijakan pemerintah yang berkiblat pada Kapitalisme tidak akan pernah memecahkan permasalahan yang dihadapi rakyat. Justru dengan kebijakan Kapitalisnya, pemerintah telah menjadi pelayan kepentingan asing bukan pelayan kepentingan rakyat.

Jalan Keluar Mengatasi Kelangkaan BBM!!!


Antrian panjang kendaraan bermotor di SPBU-SPBU kota besar seperti yang termuat dalam berita-berita media cetak maupun

elektronika adalah kenyataan dari salah satu reaksi dan bentuk dari langkanya BBM. Kelangkaan BBM tidak hanya bagi konsumen premium, akan tetapi juga jenis bahan bakar lain seperti minyak tanah dan solar. Salah satu sebab dari kelangkaan BBM ini adalah kurangnya produk BBM dalam negeri karena penguasaan tekhnologi untuk mengolah minyak dalam negeri rendah. Karena rendahnya penguasaan tekhnologi ini mengakibatkan kita selalu tergantung dengan perusahaan asing, sehingga sebagian besar hasil eksploitasi minyak kita dibawa ke luar negeri. Akibatnya, untuk mencukupi kebutuhan BBM di dalam negeri, kita mengimpor produk minyak jadi dari luar negeri yang harganya sangat mahal, di luar jangkauan kemampuan rakyat untuk membeli BBM tersebut. Oleh sebab liberalisasi BBM yang disahkan lewat UU Migas no 22/2001, akibat dari undang-undang ini pada akhirnya Pertamina kehilangan kontrol dan akses terhadap KPS. Pembelanjaan minyak dari luar negeri kemudian dilandaskan kepada kekuatan anggaran pemerintah yang disuplai kepada Pertamina untuk membeli minyak tersebut. Hal yang juga sangat berpengaruh terhadap kemampuan menyediakan BBM adalah adanya kuota subsidi BBM yang dikucurkan oleh pemerintah dan disyahkan oleh DPR tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kenaikan harga minyak dunia mengakibatkan kemampuan Pertamina untuk menyediakan BBM juga menurun karena tidak didukung oleh keuangan yang memadai. Disamping kemudian dengan naiknya harga minyak di pasar internasional ada kecenderungan dari pemerintah untuk menjual minyak sebanya-banyaknya ke pasaran Internasional untuk mendapatkan keuntungan besar daqn mengabaikan kebutuhan di dalam negeri.

Dalam sistem yang berjalan seperti sekarang ini dapat dipastikan persoalan krisis minyak ini akan laten. Meskipun demikian, Pemerintah harus melakukan pemecahan yang cepat dari persoalan kekurangan pasokan BBM. Oleh karena itu untuk mengatasi persoalan krisis energi ini harus ada solusi yang sifatnya jangka pendek maupun solusi yang bersifat jangka panjang. Untuk secepatnya mengatasi kekurangan suplai BBM ini yang harus dilakukan adalah : 1.Kuota untuk BBM yang telah di tetapkan dalam APBN-P harus dicabut dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. 2.Mengurangi penjualan minyak ke luar negeri untuk diprioritaskan dalam memenuhi kebutuhan minyak di dalam negeri. 3.Melakukan pemberantasan korupsi di Pertamina dan menggunakan keuntungannya untuk mendukung penyediaan BBM di dalam negeri. 4.Mengembalikan kontrol negara melalui Pertamina terhadap produksi,pembelian, penjualan,distribusi dan pembagian hasil produksi minyak. 5.Mengerahkan dengan segera segala kemampuan financial Pemerintah untuk melakukan pembelian BBM. Jika diperlukan untuk mengatasi kekuarangan anggaran Pemerintah harus menyatakan moratorium sepihak dalam pembayaran hutang luar negeri. 6.Sebagai langkah penghematan pemakaian mobil pribadi harus digilir, misalnya dalam minggu ini mobil berplat nomor ganjil yang boleh dipergunakan dan minggu berikutnya mobil berplat genap.Kebijakan ini harus diberlakukan secara nasional. 7.Kontrak pembagian hasil produksi migas harus lah lebih menguntungkan rakyat Indonesia, sehingga bisa mencukupi kebutuhan BBM dalam negeri, baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun cadangan jangka panjang.

8.Melakukan pembatasan kebutuhan minyak dalam negeri dengan mengurangi jumlah import mobil pribadi. Untuk jangka panjang Pemerintah harus merumuskan program yang kongkrit untuk mengamankan kebutuhan migas di dalam negeri, dengan : 1.Melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan yang melakukan eksploitasi dan pengolahan minyak sehingga bisa dikontrol produksi dan distribusinya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat didalam negeri. 2.Kontrak pembagian hasil produksi migas haruslah lebih menguntungkan rakyat Indonesia, sehingga masih bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri. 3.Dilakukan transfer tekhnologi oleh tenaga produktif dalam negeri agar ada kemandirian dalam mensuplai kebutuhan migas di dalam negeri. 4.Melakukan pembatasan kebutuhan minyak dalam negeri dengan mengurangi jumlah import mobil pribadi. 5.Melakukan riset dan pembangunan pengembangan energi alternatif seperti tenaga surya, angin,maupun penggunaan sumber energi lain. Harus disadari bahwa situasi ini adalah situasi krisis, dan diserukan kepada rakyat Indonesia segera datang ke kantor-kantor pemerintah untuk menuntut agar pemerintah segera memberikan jalan keluar yang cepat dan terpadu dalam mengatasi krisis BBM tersebut.

KELANGKAAN BBM
D I S U S U N

Oleh :
Amelia lukita sari Eci permita sari Yulis kaulandari Iin marlina

DINAS PENDIDIKAN NASIONAL SMA NEGERI 4 SEKAYU TAHUN AJARAN 2011/2012